Aku pulang dan mendapati suamiku menghukum putriku yang baru berusia delapan tahun karena menuduhnya merobek gaun seharga Rp160 juta milik selingkuhannya. “Bayar gaun itu atau keluar dari rumah ini!” bentaknya. Aku membawa putriku yang menangis ke kamar. Di sana, ia berbisik, “Mama, Tante itu sendiri yang merobeknya.” Aku tidak berdebat dengan suamiku. Aku hanya memeluk putriku, mengambil ponsel, lalu menelepon kelima kakak laki-lakiku. Suamiku sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mereka datang.

Avatar penulis
Cerita 04
21 menit baca 1,235 tayangan
Aku pulang dan mendapati suamiku menghukum putriku yang baru berusia delapan tahun karena menuduhnya merobek gaun seharga Rp160 juta milik selingkuhannya. “Bayar gaun itu atau keluar dari rumah ini!” bentaknya. Aku membawa putriku yang menangis ke kamar. Di sana, ia berbisik, “Mama, Tante itu sendiri yang merobeknya.” Aku tidak berdebat dengan suamiku. Aku hanya memeluk putriku, mengambil ponsel, lalu menelepon kelima kakak laki-lakiku. Suamiku sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mereka datang.
Indeks

Aku pulang dan mendapati suamiku menghukum putriku yang baru berusia delapan tahun karena menuduhnya merobek gaun seharga Rp160 juta milik selingkuhannya. “Bayar gaun itu atau keluar dari rumah ini!” bentaknya. Aku membawa putriku yang menangis ke kamar. Di sana, ia berbisik, “Mama, Tante itu sendiri yang merobeknya.” Aku tidak berdebat dengan suamiku. Aku hanya memeluk putriku, mengambil ponsel, lalu menelepon kelima kakak laki-lakiku. Suamiku sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mereka datang.

Hal pertama yang kudengar ketika membuka pintu rumah kami di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, adalah jeritan putriku yang berusia delapan tahun.

“Aku tidak melakukannya!”

Lalu terdengar suara suamiku.

“Kalau begitu, ibumu yang harus mengganti Rp160 juta! Kalau tidak mampu, kalian berdua keluar dari rumah ini!”

Kunci mobil terlepas dari tanganku.

Aku berdiri membeku di dekat pintu masuk.

Aku pulang dan mendapati suamiku menghukum putriku yang baru berusia delapan tahun karena menuduhnya merobek gaun seharga Rp160 juta milik selingkuhannya. “Bayar gaun itu atau keluar dari rumah ini!” bentaknya. Aku membawa putriku yang menangis ke kamar. Di sana, ia berbisik, “Mama, Tante itu sendiri yang merobeknya.” Aku tidak berdebat dengan suamiku. Aku hanya memeluk putriku, mengambil ponsel, lalu menelepon kelima kakak laki-lakiku. Suamiku sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mereka datang.

Putriku, Alya, berdiri di samping meja dapur sambil menangis begitu keras hingga napasnya tersengal-sengal. Kedua tangan kecilnya mencengkeram rok seragam sekolahnya.

Di hadapannya berdiri suamiku, Arga Pratama.

Wajah Arga merah karena marah.

Namun bukan keberadaan Arga yang membuat darahku terasa dingin.

Melainkan perempuan yang berdiri di sampingnya.

Cynthia.

Perempuan yang selama tiga bulan terakhir kucurigai memiliki hubungan dengan suamiku.

Aku hanya tidak pernah membayangkan suatu hari akan pulang dan menemukan perempuan itu berdiri santai di dapur rumahku sambil memegang segelas minuman, seolah-olah dialah pemilik rumah ini.

Di atas kitchen island tergeletak sebuah gaun malam berwarna perak.

Kainnya berkilau di bawah lampu.

Salah satu sisinya robek panjang dari bagian pinggang hingga mendekati paha.

Arga menunjuk gaun itu.

“Lihat apa yang dilakukan anakmu, Nadira!”

Aku menatapnya.

Anakmu.

Bukan anak kita.

Hanya satu kata kecil.

Namun setelah sebelas tahun menikah, kata itu terasa seperti pintu yang tiba-tiba terbuka dan memperlihatkan siapa sebenarnya laki-laki yang selama ini tidur di sampingku.

“Gaun itu harganya hampir Rp160 juta,” lanjut Arga. “Alya harus belajar bahwa setiap tindakan punya konsekuensi.”

Cynthia menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Anak-anak kadang melakukan hal seperti ini karena cemburu,” katanya tenang. “Mungkin dia melihatku berada di sini, lalu marah.”

Alya langsung menatapku.

Tatapan seorang anak yang tidak sedang meminta pembelaan.

Ia meminta ibunya percaya kepadanya.

Aku berjalan melewati Arga tanpa mengatakan apa pun.

Lalu aku berlutut di depan Alya.

Tangannya gemetar ketika kugenggam.

“Ayo ikut Mama ke atas.”

“Nadira.”

Aku tidak menoleh.

“Nadira, aku sedang bicara denganmu!”

“Aku dengar.”

Hanya itu jawabanku.

Entah mengapa, ketenanganku justru membuat ekspresi Arga berubah.

Selama bertahun-tahun, setiap pertengkaran kami selalu berakhir dengan cara yang sama.

Arga meninggikan suara.

Aku mencoba menjelaskan.

Arga semakin marah.

Aku akhirnya mengalah demi menjaga rumah tangga tetap tenang.

Mungkin karena itulah ia mengira malam itu juga akan sama.

Ia salah.

Aku membawa Alya ke kamarnya, menutup pintu, lalu menguncinya.

Begitu kami hanya berdua, Alya langsung memeluk pinggangku.

Tubuh kecilnya bergetar.

Aku duduk di tepi tempat tidur dan memeluknya sampai napasnya perlahan kembali normal.

Beberapa menit kemudian, Alya berbisik di bahuku.

“Mama…”

“Iya, Sayang?”

“Aku tidak merobek gaunnya.”

“Aku percaya.”

Alya terdiam.

Kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuat tubuhku menegang.

“Dia sendiri yang merobeknya.”

Aku menarik tubuh Alya sedikit menjauh agar bisa melihat wajahnya.

“Siapa?”

“Tante Cynthia.”

Alya menceritakan semuanya.

Sepulang sekolah, ia turun ke dapur untuk mengambil jus dari kulkas.

Saat itulah ia melihat Cynthia berdiri di dekat meja dapur.

Gaun perak itu terbentang di atas meja.

Di tangan Cynthia ada gunting kecil.

Alya melihat perempuan itu memasukkan ujung gunting ke bagian jahitan samping gaunnya.

Lalu—

Sret.

Cynthia merobek jahitan itu semakin panjang dengan tangannya sendiri.

Alya terkejut dan tanpa sadar menjatuhkan botol minumnya.

Cynthia menoleh.

Mereka saling menatap.

Kemudian perempuan itu berjalan menghampiri Alya.

Ia mencengkeram pergelangan tangan putriku.

“Jangan bilang siapa-siapa.”

Tak lama kemudian Arga pulang.

Dan semuanya berubah.

Cynthia mulai menangis.

Ia mengatakan Alya membenci dirinya dan sengaja merusak gaun mahal yang baru dibelinya.

Arga bahkan tidak bertanya kepada putrinya apa yang sebenarnya terjadi.

Ia langsung percaya.

Alya menunduk.

Air matanya kembali jatuh.

“Papa bilang kalau aku terus berbohong…”

Ia berhenti.

Aku mengusap rambutnya.

“Papa bilang apa?”

Bibir Alya bergetar.

“Papa bilang aku akan dikirim pergi.”

Aku tidak tahu apakah Arga benar-benar berniat melakukannya.

Dan pada saat itu, aku sudah tidak peduli.

Karena ada kalimat tertentu yang tidak boleh diucapkan seorang ayah kepada anak delapan tahun hanya untuk membuat selingkuhannya merasa menang.

Aku mengecup kening Alya.

“Dengar Mama.”

Ia menatapku.

“Kamu tidak akan pergi ke mana-mana.”

“Tapi Papa—”

“Tidak ada yang akan mengambilmu dari Mama.”

Dari lantai bawah terdengar suara Arga.

“Nadira!”

Kemudian lebih keras.

“Kalau kamu tidak mau mengganti gaun itu, mulai kemasi barang kalian!”

Aku menatap pintu kamar.

Aneh.

Aku tidak merasa marah lagi.

Aku justru merasa sangat tenang.

Aku meraih tas tangan yang tadi kubawa ke kamar.

Mengeluarkan ponsel.

Lalu membuka grup keluarga yang hampir tidak pernah kugunakan untuk urusan rumah tanggaku.

Nama grup itu sederhana.

Enam Bersaudara.

Aku adalah anak bungsu.

Dan satu-satunya perempuan.

Aku memiliki lima kakak laki-laki.

Selama bertahun-tahun, Arga suka bercanda tentang mereka.

Ia menyebut mereka “pasukan Nadira”.

Menurut Arga, keluargaku hanyalah keluarga sederhana yang terlalu protektif terhadap anak perempuan satu-satunya.

Ia tahu kakak sulungku, Daniel, seorang pengacara.

Yang tidak pernah ia ketahui adalah Daniel telah menjadi partner di firma hukum yang menangani beberapa kontrak perusahaan Arga.

Ia tahu kakak keduaku, Bagas, bekerja di dunia perbankan.

Yang tidak diketahuinya adalah divisi Bagas ikut menangani fasilitas kredit terbesar yang digunakan perusahaan Arga untuk ekspansi.

Kakak ketigaku, Ethan, menurut Arga hanya “orang IT”.

Padahal Ethan adalah konsultan keamanan digital yang sebulan sebelumnya membantuku mengamankan salinan beberapa dokumen setelah aku mulai curiga terhadap transaksi keuangan suamiku.

Kakak keempatku, Rizky, bekerja di bidang konstruksi dan properti.

Arga tidak pernah tertarik mengetahui bahwa perusahaan Rizky terlibat dalam pengelolaan beberapa aset keluarga kami.

Dan kakak kelimaku, Lukman, bekerja sebagai auditor di sebuah lembaga pemerintah.

Aku tidak pernah menjelaskan pekerjaannya secara detail.

Arga juga tidak pernah bertanya.

Itulah kelemahan terbesar suamiku.

Ia hanya tertarik kepada seseorang jika menurutnya orang itu bisa memberinya keuntungan.

Selama sebelas tahun, ia menganggap keluargaku tidak penting.

Malam itu, kesalahan tersebut akhirnya datang menagih harga.

Aku mengetik satu pesan.

Aku butuh kalian berlima malam ini. Bawa semua yang kita bicarakan bulan lalu.

Pesanku terkirim.

Tidak sampai satu menit, Daniel membalas.

Kamu yakin?

Aku tidak langsung menjawab.

Mataku jatuh pada pergelangan tangan Alya.

Ada bekas kemerahan di kulitnya.

Bekas jari seseorang.

Aku memotretnya.

Lalu mengirim foto itu ke grup.

Setelah itu aku mengetik satu kata.

Yakin.

Tanda sedang mengetik muncul hampir bersamaan.

Bagas:

Aku berangkat.

Ethan:

Semua salinan sudah aman.

Rizky:

Dua puluh menit.

Lukman hanya menulis:

Jangan tanda tangani apa pun sebelum kami sampai.

Aku mematikan layar ponsel.

Alya menatapku dengan mata sembap.

“Om Daniel akan datang?”

“Semua om-mu akan datang.”

Untuk pertama kalinya malam itu, wajah putriku sedikit berubah.

Bukan tersenyum.

Namun rasa takut di matanya mulai berkurang.

Dari bawah terdengar tawa Cynthia.

Kemudian suara Arga.

Mereka mungkin mengira aku sedang menangis sambil mengemasi koper.

Mungkin mereka membayangkan beberapa jam lagi aku akan berdiri di depan pintu bersama putriku, memohon agar diizinkan tetap tinggal.

Mereka tidak tahu bahwa sebulan sebelumnya, ketika aku pertama kali menemukan bukti perselingkuhan Arga, aku tidak langsung menghadapinya.

Aku menelepon Daniel.

Daniel menyuruhku tidak melakukan apa pun.

Lalu satu demi satu, kelima kakakku mulai membantuku memeriksa sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani kupertanyakan.

Rumah ini.

Saham perusahaan Arga.

Pinjaman bisnisnya.

Rekening bersama kami.

Dokumen kepemilikan.

Dan sebuah perusahaan lama atas nama ayahku yang selama ini Arga kira sudah tidak aktif.

Apa yang kami temukan jauh lebih besar daripada perselingkuhan.

Jauh lebih besar daripada gaun Rp160 juta.

Malam ini seharusnya belum menjadi malam untuk membuka semuanya.

Kami masih menunggu satu dokumen terakhir.

Namun Arga baru saja melakukan satu kesalahan yang membuatku berhenti menunggu.

Ia melibatkan putriku.

Aku berdiri.

“Mama mau turun sebentar.”

Alya langsung memegang tanganku.

“Jangan tinggalin aku.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Kemudian mengambil cardigan-nya.

“Kalau begitu, kita turun bersama.”

Kami berjalan menuruni tangga sambil bergandengan tangan.

Arga sedang duduk di ruang keluarga bersama Cynthia.

Dua koper kosong sudah diletakkan di dekat tangga.

Ia benar-benar menyiapkannya untuk kami.

Ketika melihatku, Arga menunjuk koper tersebut.

“Bagus. Kemasi barang kalian.”

Aku duduk di sofa seberangnya.

Alya duduk rapat di sampingku.

Aku merangkul bahunya.

“Tidak.”

Arga mengernyit.

“Apa?”

“Aku bilang tidak.”

Cynthia terkekeh kecil.

Arga berdiri.

“Nadira, jangan membuat ini lebih sulit.”

Aku melihat jam dinding.

“Seharusnya tidak lama.”

“Tidak lama untuk apa?”

Aku tidak menjawab.

Lima menit kemudian, bel rumah berbunyi.

Arga menatapku.

Bel berbunyi lagi.

Aku tidak bergerak.

Akhirnya Arga berjalan menuju pintu dan membukanya.

Wajahnya berubah.

Daniel berdiri paling depan.

Di belakangnya ada Bagas, Ethan, Rizky, dan Lukman.

Kelima kakakku datang hampir bersamaan.

Tidak ada yang berteriak.

Tidak ada yang mengancam.

Daniel hanya membawa sebuah map hitam tebal.

Bagas membawa laptop.

Ethan membawa sebuah flashdisk kecil.

Rizky memegang salinan dokumen properti.

Dan Lukman membawa sebuah amplop cokelat tersegel.

Daniel menatap Arga.

“Selamat malam.”

Arga mencoba tertawa.

“Apa-apaan ini? Nadira memanggil seluruh keluarganya cuma gara-gara masalah anak kecil?”

Daniel masuk.

“Bukan.”

Ia meletakkan map hitam di atas meja.

Lalu menatap adik iparnya selama beberapa detik.

“Kami datang karena masalah Rp160 juta itu ternyata adalah masalah paling kecil yang akan kamu hadapi malam ini.”

Senyum Arga perlahan menghilang.

Cynthia meletakkan gelasnya.

Dan aku menyadari sesuatu.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Arga terlihat benar-benar takut.

Namun bahkan saat itu…

ia masih belum tahu apa yang ada di dalam map hitam tersebut.

Dan ketika Daniel membukanya, aku akhirnya memahami mengapa sebulan lalu kakakku berkata kepadaku:

“Nadira, kalau semua ini benar, Arga bukan cuma akan kehilangan rumah tangganya.”

Aku menggenggam tangan Alya lebih erat.

Karena halaman pertama di dalam map itu memuat sebuah nama perusahaan yang sangat kukenal.

Namaku sendiri tercantum sebagai pemilik mayoritas.

Dan Arga sama sekali tidak mengetahuinya.

Daniel membalik halaman pertama di dalam map hitam itu dan mendorongnya perlahan ke tengah meja.

Arga menatap dokumen tersebut.

Lalu menatapku.

Kemudian kembali menatap dokumen itu.

“Apa ini?”

Tidak ada yang menjawab selama beberapa detik.

Aku bisa melihat matanya bergerak membaca baris demi baris.

Nama perusahaan.

Nomor akta.

Persentase kepemilikan saham.

Dan akhirnya—

namaku.

Nadira Prameswari — 61%.

Wajah Arga kehilangan warna.

“Ini tidak mungkin.”

Daniel menarik kursi dan duduk dengan tenang.

“Bagian mana yang tidak mungkin?”

“Perusahaan itu milikku.”

“Bukan.”

“Aku yang membangunnya!”

“Kamu yang menjalankannya,” jawab Daniel. “Itu berbeda.”

Cynthia yang sejak tadi berdiri di dekat sofa perlahan mendekat.

“Aku tidak mengerti.”

Arga langsung menoleh kepadanya.

“Diam.”

Nada suaranya membuat Cynthia membeku.

Daniel membuka halaman berikutnya.

“Dua belas tahun lalu, sebelum kamu menikahi Nadira, kamu mendirikan PT Arunika Prima dengan modal awal yang sangat kecil.”

Arga tidak menjawab.

“Delapan bulan kemudian perusahaanmu hampir bangkrut.”

Aku masih mengingat masa itu.

Kami baru bertunangan.

Arga bekerja dari pagi sampai tengah malam. Ia sering datang ke rumah orang tuaku dengan mata merah karena kurang tidur.

Aku mencintainya.

Dan ayahku menyukainya.

Ayah melihat sesuatu dalam diri Arga yang saat itu juga kulihat.

Ambisi.

Keberanian.

Keinginan untuk membangun sesuatu.

Ketika Arga membutuhkan modal, ayahku masuk sebagai investor melalui perusahaan keluarga kami.

Aku tahu ayah membantu.

Namun aku tidak pernah tahu seberapa besar.

Daniel melanjutkan.

“Bapak memasukkan modal melalui PT Prameswari Investama dengan syarat tertentu. Kalau Arga gagal mengembalikan investasi sesuai jadwal, saham preferen akan dikonversi menjadi saham biasa.”

Arga menggeleng.

“Utang itu sudah dibayar.”

“Sebagian.”

“Sudah lunas!”

Bagas membuka laptopnya.

“Tidak.”

Kini kakak keduaku yang berbicara.

Ia memutar layar laptop menghadap Arga.

“Ada restrukturisasi utang tujuh tahun lalu. Lalu restrukturisasi kedua empat tahun lalu. Kamu menandatanganinya sendiri.”

“Aku tidak pernah—”

Bagas mengetuk layar.

“Tanda tangan digitalmu. Verifikasi biometrik. Nomor perangkat. Semuanya ada.”

Ruangan menjadi sunyi.

Aku menatap dokumen itu dengan perasaan aneh.

Selama sebelas tahun menikah, Arga selalu mengatakan bahwa aku beruntung menikah dengannya.

Bahwa rumah besar kami ada karena kerja kerasnya.

Bahwa kehidupan nyaman Alya berasal dari uangnya.

Bahwa aku bisa berhenti bekerja setelah melahirkan karena kemurahan hatinya.

Sedikit demi sedikit, aku mempercayainya.

Aku lupa siapa diriku sebelum menjadi istrinya.

Ternyata ada satu orang yang tidak pernah lupa.

Ayahku.

Sebelum meninggal enam tahun lalu, ia telah memindahkan seluruh kepemilikan investasinya kepadaku.

Bukan kepada Daniel.

Bukan kepada kelima anak laki-lakinya.

Kepadaku.

Putri bungsunya.

Daniel menatapku.

“Ayah tidak pernah memberitahumu karena dia ingin pernikahanmu menjadi pernikahan, bukan hubungan antara pemegang saham dan direktur.”

Dadaku terasa sesak.

“Kenapa kalian juga tidak memberitahuku?”

Daniel terdiam.

Kali ini Luke—Lukman—yang menjawab.

“Karena itu permintaan Ayah.”

Aku menatap kelima kakakku.

“Apa?”

Daniel menarik napas.

“Ayah meninggalkan surat.”

Jantungku seperti berhenti sesaat.

“Surat?”

Daniel mengangguk.

“Tapi nanti. Ada yang harus diselesaikan dulu.”

Arga menghantam telapak tangannya ke meja.

“Cukup!”

Alya tersentak.

Kelima kakakku langsung menoleh kepadanya.

Aku merangkul putriku.

Daniel tidak meninggikan suara.

“Jangan lakukan itu lagi di depan Alya.”

Arga menatap kami semua.

Lalu sesuatu dalam dirinya berubah.

Kemarahan menghilang.

Digantikan perhitungan.

Aku mengenal ekspresi itu.

Itulah wajah yang selalu ia gunakan ketika sedang bernegosiasi.

“Nadira,” katanya lebih lembut. “Kita bisa membicarakan ini berdua.”

Aku hampir tertawa.

Satu jam sebelumnya, ia menyuruhku dan anak kami keluar.

Sekarang ia ingin bicara berdua.

“Aku rasa tidak.”

“Ini pernikahan kita.”

“Cynthia ada di dapur kita ketika kamu mengatakan itu.”

Cynthia menunduk.

Arga mengabaikannya.

“Aku melakukan kesalahan.”

“Yang mana?”

Ia terdiam.

Aku melanjutkan.

“Berselingkuh? Membawa selingkuhanmu ke rumah? Membiarkan dia menuduh anak kita? Mengancam akan mengusir Alya? Atau mencoba menyembunyikan kondisi perusahaan dariku?”

Arga menatap Ethan.

“Apa yang dia ceritakan kepada kalian?”

Ethan mengeluarkan flashdisk.

“Tidak sebanyak yang diceritakan komputer kantormu.”

Arga membeku.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak meretas apa pun,” kata Ethan cepat. “Nadira memberiku salinan dokumen dari laptop keluarga yang memang dia punya akses sah. Yang menarik bukan perselingkuhanmu.”

Ia meletakkan flashdisk di meja.

“Yang menarik adalah tujuh belas transfer.”

Aku menatap Ethan.

Ini bagian yang bahkan belum mereka ceritakan kepadaku.

“Transfer apa?”

Arga langsung menyela.

“Tidak ada.”

Ethan menatapku.

“Tujuh belas transfer selama dua tahun terakhir. Total sekitar Rp11,8 miliar.”

Aku merasa udara di ruangan itu berubah.

“Ke mana?”

“Perusahaan konsultan bernama CV Cakrawala Media.”

Cynthia tiba-tiba menjatuhkan gelasnya.

Suara pecahan kaca membuat semua orang menoleh.

Wajah perempuan itu pucat.

Daniel memandangnya.

“Sepertinya Mbak Cynthia mengenal nama itu.”

Arga berdiri.

“Dia tidak tahu apa-apa.”

Namun Cynthia justru mundur darinya.

“Aku… aku pikir itu uangmu.”

Tidak ada yang berbicara.

Cynthia menatap Arga.

“Kamu bilang perusahaan itu milikmu.”

“Cynthia, diam.”

“Kamu bilang pembayaran itu bonus.”

“Diam!”

Cynthia mulai menangis.

Namun kali ini tangisnya berbeda.

Bukan tangisan teatrikal seperti yang diceritakan Alya.

Ia benar-benar ketakutan.

“Aku tidak tahu uang itu dari perusahaan.”

Daniel menatapnya.

“CV Cakrawala Media atas nama Anda.”

Aku menoleh tajam.

Cynthia menutup mulutnya.

Arga berdiri di antara kami seperti seseorang yang baru menyadari semua pintu keluar telah tertutup.

Ternyata selama hampir dua tahun, Arga mengalihkan uang perusahaan melalui kontrak konsultasi palsu.

Sebagian masuk ke perusahaan milik Cynthia.

Sebagian digunakan untuk menyewa apartemen mewah di Kuningan.

Sebagian lagi untuk membeli mobil yang selama ini Arga katakan sebagai “kendaraan operasional”.

Dan sebuah transfer terbesar dilakukan tiga minggu sebelumnya.

Rp3,2 miliar.

Bagas menunjukkan catatannya.

“Transfer terakhir ini yang membuat bank meminta klarifikasi.”

Arga menatapnya.

“Jadi kamu yang menahan pencairan kreditku?”

“Bukan aku secara pribadi. Sistem kepatuhan bank.”

“Tapi kamu bisa memperbaikinya.”

Bagas menggeleng.

“Tidak.”

“Bagas, kita keluarga.”

Kakakku menatapnya tanpa ekspresi.

“Keluarga yang tadi kamu usir dari rumah?”

Arga tidak punya jawaban.

Kemudian Rizky membuka dokumen yang dibawanya.

“Dan soal rumah ini…”

Arga memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang menyerupai kepanikan.

Aku menatap Rizky.

“Ada apa dengan rumah?”

“Tanahnya milik Nadira.”

Aku tertawa kecil karena mengira ia bercanda.

Ternyata tidak.

Rumah Pondok Indah yang selama bertahun-tahun disebut Arga sebagai “rumahnya” dibangun di atas tanah yang dibeli ayahku beberapa bulan sebelum pernikahan kami.

Bangunan memang dibayar dari rekening bersama.

Namun sertifikat tanah tidak pernah berpindah.

Namaku tercantum sebagai pemilik.

Aku menatap dua koper kosong di dekat tangga.

Ironis sekali.

Arga tadi menyuruhku keluar dari rumah yang berdiri di atas tanah milikku sendiri.

Cynthia juga melihat koper itu.

Kemudian ia menatap Arga.

“Kamu bilang rumah ini atas namamu.”

Arga membentaknya.

“Bisakah kamu berhenti bicara?”

Cynthia menatapnya beberapa detik.

Lalu tertawa.

Pendek.

Pahit.

“Jadi selama ini kamu bohong kepadaku juga?”

Aku seharusnya membenci perempuan itu.

Dan memang, sebagian diriku membencinya.

Namun saat melihat wajahnya malam itu, aku menyadari sesuatu.

Cynthia bukan pemenang.

Ia hanya perempuan lain yang mempercayai kebohongan Arga.

Tetapi itu tidak membuat apa yang dilakukannya kepada Alya bisa dimaafkan.

Aku menatapnya.

“Kenapa gaunnya?”

Ia tidak menjawab.

“Kenapa kamu merobek gaunmu sendiri?”

Cynthia menatap Alya.

Putriku langsung merapat kepadaku.

“Aku ingin Arga membuktikan bahwa dia akan memilihku.”

Kalimat itu begitu absurd hingga tak seorang pun langsung merespons.

Cynthia menangis.

“Dia selalu bilang akan meninggalkanmu. Tapi setiap kali aku meminta kepastian, dia bilang belum waktunya. Hari ini aku melihat Alya menatapku seperti… seperti aku orang asing yang tidak seharusnya berada di rumah ini.”

“Karena memang begitu,” kataku.

Cynthia menunduk.

“Aku marah. Aku merobek gaunnya. Aku pikir kalau Alya dituduh, Arga akan membelaku.”

“Dan dia melakukannya.”

Cynthia mengangguk pelan.

“Aku tidak menyangka dia akan mengancam mengusir anaknya sendiri.”

Aku menahan emosiku.

“Namun kamu tetap diam.”

Air mata mengalir di wajahnya.

“Iya.”

Tidak ada alasan yang bisa memperbaiki itu.

Aku mengeluarkan ponsel.

“Aku merekam pengakuanmu.”

Cynthia mengangkat kepala.

Arga langsung maju.

“Nadira—”

Daniel berdiri di antara kami.

Aku menghentikan rekaman.

“Aku tidak ingin balas dendam, Cynthia. Aku hanya ingin tidak ada seorang pun yang suatu hari mengatakan Alya berbohong.”

Cynthia menatap putriku.

“Alya…”

Alya tidak menjawab.

Dan aku tidak memaksanya.

Anak delapan tahun tidak berkewajiban memberikan pengampunan hanya karena orang dewasa akhirnya merasa bersalah.

Malam itu berakhir tanpa adegan dramatis seperti yang mungkin dibayangkan Arga.

Kelima kakakku tidak menyentuhnya.

Tidak ada perkelahian.

Tidak ada ancaman.

Justru itulah yang membuat semuanya lebih berat.

Daniel memberikan pemberitahuan resmi bahwa Arga akan dinonaktifkan sementara dari jabatan direktur utama sambil menunggu rapat pemegang saham.

Bagas menjelaskan bahwa fasilitas kredit perusahaan dibekukan sampai audit selesai.

Lukman menegaskan bahwa jika ditemukan pelanggaran hukum, hubungan keluarga tidak akan mengubah proses apa pun.

Dan aku?

Aku menunjuk dua koper kosong yang tadi disiapkan Arga untukku.

“Kamu benar tentang satu hal.”

Arga menatapku.

“Seseorang harus mengemasi barang malam ini.”

Wajahnya runtuh.

“Nadira…”

“Bukan aku.”


Tiga bulan berikutnya adalah periode paling melelahkan dalam hidupku.

Aku mengajukan gugatan cerai.

Audit menemukan transaksi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Arga dicopot dari posisi direktur.

Namun aku tidak mengambil alih perusahaan.

Itu mengejutkan semua orang.

Bahkan Daniel.

Aku menunjuk manajemen profesional dan meminta audit independen menyelesaikan semuanya.

Aku tidak ingin hidupku berubah dari “istri Arga” menjadi “perempuan yang menghancurkan Arga”.

Aku hanya ingin kembali menjadi Nadira.

Cynthia mengembalikan sebagian uang yang masih dapat dikembalikan dan memberikan keterangan lengkap mengenai transfer yang diterimanya.

Ia juga mengirim surat permintaan maaf kepada Alya.

Aku menyimpannya.

Aku tidak pernah memaksa Alya membacanya.

Suatu hari, mungkin.

Atau mungkin tidak pernah.

Itu hak Alya.

Arga pindah ke apartemen kecil.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia harus menghadapi konsekuensi tanpa seseorang membersihkan kekacauan di belakangnya.

Namun kejutan terbesar justru datang enam bulan kemudian.

Hari itu adalah ulang tahun Alya yang kesembilan.

Kami mengadakan acara kecil di rumah.

Tidak ada ballroom.

Tidak ada dekorasi mahal.

Hanya keluarga, nasi tumpeng, kue cokelat kesukaan Alya, dan kelima omnya yang berdebat tentang siapa yang memberikan hadiah terbaik.

Setelah Alya tertidur, Daniel memanggilku ke ruang kerja.

Ia membawa sebuah amplop.

Amplop yang sama yang dibawa Lukman malam itu.

“Aku rasa sekarang waktunya.”

Tanganku langsung dingin.

“Surat Ayah?”

Daniel mengangguk.

Aku membukanya.

Tulisan tangan ayahku memenuhi dua halaman.

Aku mengenali setiap lengkung hurufnya.

Aku membaca perlahan.

Ayah menulis surat itu beberapa bulan sebelum meninggal.

Ia menjelaskan saham.

Tanah.

Perusahaan investasi.

Namun di halaman kedua, aku menemukan sesuatu yang tidak kuduga.

Nadira, kalau suatu hari kamu membaca ini, mungkin berarti sesuatu dalam hidupmu membuatmu merasa kecil.

Aku berhenti.

Mataku mulai kabur.

Aku melanjutkan.

Aku memberikan bagian ini kepadamu bukan karena kamu anak perempuan satu-satunya, dan bukan karena kakak-kakakmu tidak membutuhkannya. Mereka semua setuju.

Aku menatap Daniel.

“Kalian tahu?”

Ia tersenyum.

“Semua.”

Aku kembali membaca.

Kakak-kakakmu meminta agar bagian terbesar diberikan kepadamu.

Tanganku gemetar.

Ternyata setelah ibu meninggal, ayah pernah mengumpulkan kelima kakakku.

Ia bertanya bagaimana aset keluarga seharusnya dibagi.

Aku mengira mereka akan menerima bagian masing-masing.

Namun Daniel dan empat kakakku sepakat menyisihkan investasi perusahaan untukku.

Mengapa?

Jawabannya ada pada kalimat terakhir.

Karena ketika kamu berusia delapan tahun, lima kakakmu berjanji kepada ibumu bahwa mereka akan selalu memastikan adik perempuan mereka memiliki sebuah pintu yang bisa dibuka ketika dunia menutup semua pintu lainnya.

Aku tidak bisa melanjutkan membaca.

Aku menangis.

Bukan karena Arga.

Bukan karena perusahaan.

Bukan karena uang.

Aku menangis karena tiba-tiba teringat sesuatu yang sudah hampir tiga puluh tahun kulupakan.

Aku berusia delapan tahun ketika ibu meninggal.

Usia yang sama dengan Alya malam ketika semuanya terjadi.

Setelah pemakaman ibu, aku ketakutan tidur sendirian.

Setiap malam salah satu kakakku tidur di lantai kamarku.

Daniel hari Senin.

Bagas Selasa.

Ethan Rabu.

Rizky Kamis.

Lukman Jumat.

Akhir pekan mereka berebut karena biasanya Ayah membelikan sarapan untuk siapa pun yang menemaniku.

Aku menutup surat itu dan menangis di bahu Daniel seperti anak kecil.

“Kenapa kalian tidak pernah bilang?”

Daniel tertawa pelan sambil mengusap kepalaku.

“Karena kalau kami bilang, kamu pasti menolak.”

“Itu memang milik kalian juga.”

“Bukan.”

Ia menunjuk surat di tanganku.

“Itu pintumu.”

Aku menangis lebih keras.

Kemudian terdengar suara kecil dari pintu.

“Mama?”

Aku menoleh.

Alya berdiri di sana sambil memeluk bonekanya.

Aku segera menghapus air mata.

“Kok belum tidur?”

“Aku dengar Mama menangis.”

Ia berjalan mendekat lalu memelukku.

Persis seperti aku memeluknya enam bulan sebelumnya.

“Jangan sedih, Ma.”

Aku mencium rambutnya.

“Mama tidak sedih.”

“Terus kenapa menangis?”

Aku melihat Daniel.

Lalu surat Ayah.

Dan akhirnya memahami sesuatu yang selama ini salah kupahami.

Aku pikir malam ketika aku menelepon lima kakakku adalah malam mereka menyelamatkanku.

Ternyata bukan.

Mereka hanya datang untuk mengingatkanku bahwa aku selalu memiliki pilihan.

Aku yang menyelamatkan diriku sendiri.

Dan aku yang menyelamatkan putriku dari tumbuh besar dengan keyakinan bahwa cinta berarti menerima penghinaan.

Aku mengusap pipi Alya.

“Karena Mama baru ingat sesuatu.”

“Apa?”

“Kalau keluarga itu bukan orang yang membuat kita takut kehilangan rumah.”

Alya mengerutkan dahi.

“Terus keluarga itu apa?”

Aku tersenyum.

“Orang yang membuat kita tahu kita selalu punya tempat untuk pulang.”

Daniel diam-diam mengusap matanya.

Dari luar ruang kerja terdengar suara Bagas.

“Daniel! Jangan makan sisa kue Alya!”

“Aku bahkan belum menyentuhnya!”

“Bohong!”

Ethan berteriak dari dapur.

“Aku lihat dia bawa piring!”

Lalu Rizky dan Lukman ikut berdebat.

Alya tertawa.

Aku juga.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, rumah itu terdengar seperti rumah lagi.


Setahun kemudian, aku berdiri di dapur yang sama.

Kitchen island tempat gaun perak itu pernah tergeletak masih ada.

Namun banyak hal telah berubah.

Foto pernikahanku dengan Arga sudah tidak tergantung di dinding.

Sebagai gantinya, ada sebuah foto besar.

Aku.

Alya.

Ayah.

Dan kelima kakakku.

Foto lama yang diambil bertahun-tahun lalu.

Alya sedang mengerjakan PR ketika bel berbunyi.

Aku membuka pintu.

Arga berdiri di sana.

Ia terlihat berbeda.

Lebih kurus.

Lebih tua.

Kesombongan yang dulu selalu memenuhi wajahnya telah hilang.

“Aku datang untuk Alya.”

Hari itu memang jadwal kunjungannya.

Aku memanggil putriku.

Alya turun membawa tas kecil.

Arga berjongkok.

“Hai.”

“Hai, Papa.”

Hubungan mereka belum pulih sepenuhnya.

Mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Namun Arga mengikuti konseling keluarga dan tidak pernah lagi menyalahkan Alya atas malam itu.

Sebelum pergi, ia menatapku.

“Nadira.”

“Ya?”

“Aku baru mengerti sesuatu.”

Aku menunggu.

“Aku kehilangan perusahaan karena keserakahanku.”

Ia menelan ludah.

“Aku kehilangan uang karena kebohonganku.”

Lalu ia melihat Alya.

“Tapi kehilangan kepercayaan anakku… ternyata itu yang paling mahal.”

Aku tidak menjawab.

Beberapa pelajaran memang tidak membutuhkan jawaban.

Arga menggandeng Alya menuju mobil.

Namun sebelum masuk, Alya tiba-tiba berlari kembali.

Ia memelukku.

“Nanti malam aku pulang, kan?”

Aku berjongkok.

“Tentu.”

“Janji?”

“Janji.”

Alya tersenyum dan berlari kembali kepada ayahnya.

Aku berdiri di depan pintu sampai mobil mereka menghilang.

Kemudian ponselku berbunyi.

Grup Enam Bersaudara.

Daniel:

Alya sudah berangkat?

Aku menjawab:

Sudah.

Bagas:

Kalau Arga telat lima menit mengantar pulang, telepon.

Ethan:

Tiga menit.

Rizky:

Dua.

Lukman:

Kalian semua berlebihan.

Beberapa detik kemudian Lukman mengirim pesan lagi.

Satu menit.

Aku tertawa sendirian.

Lalu mengetik:

Tenang. Aku bisa mengurusnya.

Daniel membalas hampir seketika.

Kami tahu.

Aku menatap dua kata itu lama sekali.

Mungkin itulah bagian yang paling penting.

Kelima kakakku tidak pernah datang karena menganggapku lemah.

Mereka datang karena mereka tahu aku cukup kuat untuk memilih sendiri—dan mereka ingin memastikan aku tidak perlu memilih sendirian.

Aku memandang rumah yang dulu kupikir hampir dirampas dariku.

Ternyata rumah bukanlah hal yang berhasil kuselamatkan malam itu.

Perusahaan juga bukan.

Bahkan pernikahanku bukan.

Yang kuselamatkan adalah sesuatu yang jauh lebih penting.

Seorang anak perempuan berusia delapan tahun melihat ibunya berdiri di sisinya ketika seluruh dunia di ruangan itu mengatakan bahwa ia berbohong.

Dan mungkin dua puluh atau tiga puluh tahun dari sekarang, ketika seseorang mencoba membuat Alya merasa kecil, tidak berharga, atau mudah dibuang…

ia akan mengingat malam itu.

Ia akan ingat tangan ibunya menggenggam tangannya.

Ia akan ingat lima pamannya berdiri di ruang keluarga tanpa perlu mengangkat satu kepalan pun.

Dan ia akan tahu satu hal yang membutuhkan waktu hampir empat puluh tahun untuk kupelajari:

Cinta yang sehat tidak membuatmu takut kehilangan tempatmu.

Cinta yang sehat mengingatkanmu bahwa kamu selalu berhak memiliki tempat di mana suaramu dipercaya.

Aku menutup pintu rumah.

Bukan untuk mengurung diriku di dalam.

Melainkan karena akhirnya aku tahu—

rumah itu memang milikku.

Dan kali ini, aku tidak sedang berbicara tentang sertifikat tanah.