Aku Pulang Tiga Jam Lebih Awal dan Baru Tahu Istriku Selama Enam Bulan Hanya Makan Sisa Keluargaku

Avatar penulis
Cerita 01
24 menit baca 1,552 tayangan
Aku Pulang Tiga Jam Lebih Awal dan Baru Tahu Istriku Selama Enam Bulan Hanya Makan Sisa Keluargaku
Indeks

Bagian 2

Aku berdiri di gang samping rumah hampir satu menit sebelum akhirnya masuk melalui pintu depan.

Televisi masih menyala.

Ibu menoleh.

“Katanya mau jalan?”

Aku tidak menjawab.

Aku langsung menuju dapur.

Mira sedang mengangkat mangkuknya lagi ketika melihatku.

Wajahnya berubah.

“Arga?”

Aku mengambil mangkuk dari tangannya.

“Nanti.”

“Aku belum selesai.”

“Aku tahu.”

Ibu muncul di ambang dapur.

Aku Pulang Tiga Jam Lebih Awal dan Baru Tahu Istriku Selama Enam Bulan Hanya Makan Sisa Keluargaku

“Ada apa?”

Aku meletakkan mangkuk itu di meja.

Kemudian kutatap isinya.

“Ini yang Ibu maksud dengan bagian untuk Mira?”

Tidak ada yang menjawab.

Rani ikut datang dari ruang keluarga. Ayah masih duduk di sofa, tapi volume televisi tiba-tiba dikecilkan.

Ibu lebih dulu berkata, “Masih ada nasi. Ada sayur. Itu namanya tidak disisakan?”

“Tadi ada tujuh lauk.”

“Kamu mau Ibu simpan semua lauk sampai malam?”

“Untukku Ibu biasa simpan.”

Ibu langsung diam.

Mira menyentuh lenganku.

“Sudah, Ga. Aku makan apa saja.”

Aku menoleh kepadanya.

Kalimat itu seharusnya menenangkan.

Justru semakin membuatku tidak tenang.

“Sudah berapa lama?”

Mira tidak menjawab.

“Mir.”

Dia memandang Ibu, lalu Rani, baru kembali menatapku.

“Hampir enam bulan.”

Aku merasa rahangku mengeras.

Ibu langsung menyela.

“Jangan dibuat seolah-olah dia tidak pernah makan di rumah. Kalau ada lauk, ya dimakan.”

“Lauk yang mana, Bu?”

“Kok kamu jadi menghitung lauk?”

“Karena aku baru lihat sendiri.”

Ibu menarik napas.

“Mira pulang malam. Orang serumah tidak mungkin menunggu. Lagipula dia sudah besar. Kalau kurang, bisa beli sendiri.”

Aku menunjuk mangkuk di meja.

“Aku juga pulang lebih malam dari dia. Kenapa untukku selalu ada daging atau ikan?”

Ibu tidak menjawab pertanyaan itu.

Dia malah berkata, “Kamu baru sekali pulang cepat, sudah merasa tahu semuanya.”

Aku menatap Mira.

“Masuk kamar dulu.”

Dia ragu.

“Kita bicara berdua.”

Kami masuk ke kamar dan menutup pintu.

Untuk beberapa saat Mira cuma berdiri di samping lemari.

Aku duduk di ujung tempat tidur.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Dia menurunkan tas dari bahunya.

“Awalnya memang tidak seperti itu.”

Menurut Mira, semuanya mulai berubah setelah dia dipindahkan ke tim baru di kantornya enam bulan lalu.

Jam pulangnya mundur satu sampai satu setengah jam.

Minggu pertama, masih ada lauk yang sengaja disimpan.

Minggu berikutnya, tinggal sayur dan telur.

Lama-lama, makanan yang tersisa hanya apa yang kebetulan tidak habis.

“Pernah tanya Ibu?”

“Pernah.”

“Apa jawabannya?”

Mira duduk di kursi meja rias.

“Ibu bilang Bapak harus makan bagus karena lambungnya. Rani masih muda dan perlu makan cukup. Kamu kerja sampai malam, jadi harus disisakan juga.”

“Lalu kamu?”

Dia tersenyum kecil, tapi matanya tidak ikut tersenyum.

“Katanya aku punya gaji sendiri.”

Aku menunduk.

Mira melanjutkan dengan suara pelan.

“Waktu itu aku pikir mungkin Ibu benar. Kita tinggal di rumah mereka. Aku tidak mau bikin masalah cuma karena makanan.”

“Cuma karena makanan?”

Dia diam.

Aku langsung menyesal mengulang kalimat itu.

Karena jelas ini tidak pernah sekadar makanan.

Aku bertanya, “Kamu tetap kasih uang belanja ke Ibu?”

Mira menatapku.

“Kamu tahu?”

“Aku tahu kamu pernah bilang mau ikut bantu. Aku tidak tahu masih rutin.”

Dia mengambil ponselnya.

Setelah membuka aplikasi bank, dia menunjukkan riwayat transfer.

Rp1,5 juta.

Setiap awal bulan.

Enam kali.

Semua ke rekening Ibu.

Aku sendiri mentransfer Rp4 juta setiap bulan untuk kebutuhan rumah. Selain itu, listrik dan internet kubayar terpisah.

Aku menatap enam transaksi itu lama.

“Kenapa sebanyak ini?”

“Ibu yang bilang jumlah segitu cukup supaya aku tidak merasa cuma numpang.”

Kalimat terakhir itu membuatku mengangkat kepala.

“Numpang?”

Mira membuka WhatsApp.

Dia tidak mencari jauh.

Percakapan itu masih ada.

Pesan Ibu enam bulan lalu berbunyi:

“Mira, mulai bulan ini kalau bisa bantu uang dapur Rp1,5 juta, ya. Biar adil. Kamu juga makan di rumah.”

Di bawahnya, Mira menjawab:

“Iya, Bu.”

Beberapa hari kemudian ada pesan lain.

“Tidak usah bilang Arga soal uang dapur. Dia sudah banyak pikiran di kantor. Ibu bicara sama kamu sebagai sesama perempuan saja.”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Bukan karena jumlah uangnya.

Bukan pula karena aku tidak mau Mira membantu rumah.

Yang membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan adalah empat kata di akhir pesan pertama.

Kamu juga makan di rumah.

Enam bulan.

Rp9 juta.

Dan setiap malam, perempuan yang membayar uang dapur itu berdiri di samping kompor, mencampur nasi sisa dengan sambal supaya cukup untuk makan malam.

Aku mengembalikan ponselnya.

“Mulai bulan depan jangan transfer lagi.”

Mira langsung menggeleng.

“Nanti Ibu bilang aku mengadu.”

“Aku tidak bilang kamu mengadu.”

“Ga…”

“Aku melihat sendiri.”

Aku berdiri dan mengambil kotak ceri yang sejak tadi masih berada di kantong kertas.

Kutaruh di meja.

Mira menatap kotak itu.

“Kamu beli?”

“Iya.”

Dia menatapku lama.

Lalu bertanya pelan, “Kamu pulang cepat memang mau kasih ini?”

Aku mengangguk.

Mira membuka tutup kotaknya, mengambil satu buah, tapi tidak langsung memakannya.

“Aku sebenarnya sudah beberapa kali mau cerita.”

“Kenapa tidak jadi?”

Dia memutar tangkai ceri dengan ujung jari.

“Ibu pernah bilang, kalau aku mempermasalahkan hal kecil seperti makanan, nanti kamu akan merasa harus memilih antara istri dan orang tua.”

Aku tidak menjawab.

Mira melanjutkan.

“Aku tidak mau jadi alasan kamu bertengkar dengan keluargamu.”

Dari luar kamar terdengar suara Ibu memanggilku.

“Arga, keluar sebentar. Ibu mau bicara.”

Aku menatap pintu.

Saat itulah aku sadar, selama enam bulan bukan hanya Mira yang takut membuatku harus memilih.

Semua orang di rumah ini sudah memilih lebih dulu.

Hanya aku yang tidak pernah melihatnya.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku keluar kamar.

Ibu sudah menunggu di ruang makan.

Rani duduk di salah satu kursi sambil menyilangkan tangan. Ayah masih di sofa, tapi televisi sudah dimatikan.

Ibu menunjuk kursi di depannya.

“Duduk.”

Aku tetap berdiri.

“Kalau soal Mira, bicara saja.”

Ibu menarik wajah.

“Kamu jangan langsung panas. Ibu tidak pernah melarang istrimu makan.”

“Aku juga tidak bilang Ibu melarang.”

“Lalu kenapa sikapmu begini?”

Aku mengambil mangkuk bekas makan Mira dari dapur dan meletakkannya di atas meja.

“Nasi setengah mangkuk, buncis, telur kering. Itu yang tersisa setelah tujuh lauk habis.”

Rani mendecakkan lidah.

“Ya ampun, Kak. Cuma soal makan sampai dibesar-besarkan.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kamu tadi makan udang berapa?”

Rani mengerutkan kening.

“Apa hubungannya?”

“Tidak ada. Aku cuma mau tahu kenapa hal yang kamu anggap kecil selalu jatuh ke orang lain.”

“Arga,” tegur Ibu.

Aku kembali menatapnya.

“Aku kasih Ibu Rp4 juta setiap bulan. Mira kasih Rp1,5 juta. Listrik dan internet aku bayar. Kenapa istri yang ikut membayar justru dapat sisa?”

Wajah Ibu berubah ketika aku menyebut transfer Mira.

Dia tahu aku sudah melihat percakapan mereka.

“Itu uang belanja.”

“Benar.”

“Jadi?”

“Jadi orang yang ikut membayar uang belanja mestinya tidak diperlakukan seperti orang yang kebetulan boleh makan kalau ada sisa.”

Ibu menepuk meja perlahan.

“Kamu tidak tahu bagaimana rasanya mengurus rumah. Mira pulang malam, tidak pernah bantu masak sore. Rani masih bisa bantu. Ibu yang belanja, Ibu yang masak. Kalau lauk habis, ya habis.”

Aku hampir menjawab cepat, tetapi suara Mira teringat di kepalaku.

Aku tidak ingin pertengkaran ini berubah menjadi teriakan tanpa arah.

Aku bertanya lebih pelan, “Kalau begitu kenapa lauk untukku tidak pernah habis?”

Ibu diam.

Aku mengulang.

“Aku pulang jam sembilan. Kadang setengah sepuluh. Tapi selalu ada kotak makanan buatku.”

Ayah akhirnya bicara dari sofa.

“Ibumu memang biasa menyimpan.”

“Kenapa tidak menyimpan satu porsi untuk Mira?”

Ayah mengusap lututnya.

“Itu urusan dapur. Ayah tidak ikut.”

Kalimat itu membuatku memandangnya cukup lama.

Enam bulan dia duduk di meja yang sama.

Enam bulan dia melihat Mira pulang setelah semua orang selesai makan.

Enam bulan dia tahu satu kotak makanan disimpan untukku.

Tapi katanya dia tidak ikut.

“Yah,” kataku, “diam juga keputusan.”

Ayah tidak membalas.

Ibu berdiri.

“Sekarang kamu mau apa? Gara-gara satu mangkuk nasi kamu mau menuduh Ibu menyiksa istrimu?”

“Aku tidak pakai kata itu.”

“Lalu?”

“Aku mau tahu kenapa.”

Ibu menarik kursinya kembali dan duduk.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya tidak lagi defensif. Dia terlihat kesal sekaligus lelah.

“Karena sejak pindah bagian di kantornya, Mira makin sering pulang malam.”

“Aku tahu.”

“Perempuan sudah menikah, tinggal dengan mertua, pulang hampir jam delapan setiap hari. Tetangga saja beberapa kali tanya.”

Aku menahan napas.

“Terus?”

“Ibu tidak suka.”

“Kenapa tidak bilang ke aku?”

“Kamu selalu sibuk.”

“Kenapa tidak bilang ke Mira baik-baik?”

“Ibu sudah bilang.”

Dari belakangku terdengar suara Mira.

Dia berdiri di pintu kamar.

“Kapan, Bu?”

Ibu menoleh.

“Jangan bilang Ibu tidak pernah bicara.”

“Yang Ibu bilang ke saya waktu itu, ‘Kalau memilih kerja, jangan harap rumah mengikuti jadwalmu.’”

Ibu mengangkat dagu.

“Ya itu.”

Mira memegang lengannya sendiri.

“Saya kira maksud Ibu soal jam makan. Saya tidak pernah minta semua orang menunggu.”

“Lalu masalahnya apa?”

Mira terdiam beberapa detik.

Aku membiarkannya menjawab sendiri.

“Masalahnya, Bu, kalau untuk Arga bisa disimpan, kenapa untuk saya tidak?”

Tidak ada jawaban.

Ibu memalingkan wajah.

Mira melanjutkan.

“Saya pulang malam bukan karena jalan-jalan. Saya kerja. Uang dapur juga saya transfer setiap bulan karena Ibu bilang supaya saya tidak cuma menumpang.”

“Ibu tidak pernah bilang kamu numpang.”

Mira membuka ponselnya.

“Ibu bilang supaya saya tidak merasa cuma numpang.”

Ibu tidak melihat layar.

“Apa bedanya?”

Mira menarik napas.

“Buat saya, banyak.”

Rani menyela.

“Mbak Mira juga bisa pesan makanan sendiri. Sekarang ada aplikasi.”

Aku langsung menatapnya.

“Kamu kalau tiap malam cuma dapat nasi sama sambal, kamu mau?”

Rani mengangkat bahu.

“Kalau aku punya gaji, aku beli sendiri.”

“Jadi uang yang Mira transfer ke rumah buat apa?”

Rani tidak menjawab.

Aku melihat satu per satu wajah orang di depanku.

Lalu baru kusadari sesuatu yang selama ini begitu sederhana sampai tidak pernah kupikirkan.

Di rumah itu, semua orang menganggap penghasilanku sebagai bagian keluarga.

Uang Mira juga diterima sebagai bagian keluarga.

Tapi ketika tiba waktunya menentukan siapa yang harus didahulukan, Mira tiba-tiba bukan keluarga.

Aku berkata kepada Ibu, “Mulai bulan depan Mira tidak transfer uang dapur lagi.”

Wajah Ibu langsung menegang.

“Karena sekarang dia mengadu ke kamu?”

“Bukan.”

Aku menunjuk diriku sendiri.

“Karena aku pulang cepat dan melihat sendiri.”

“Arga…”

“Aku tetap bantu Ayah dan Ibu. Jumlahnya kita bicarakan. Tapi uang Mira bukan lagi urusan rumah ini.”

Ibu tertawa pendek, tidak percaya.

“Baru dua tahun menikah sudah mulai pisah-pisahkan uang.”

“Aku bukan memisahkan karena dia istri. Aku memisahkan karena selama ini sistemnya tidak jelas.”

“Apa yang tidak jelas?”

Aku menunjuk mangkuk di meja lagi.

“Itu.”

Malam itu tidak ada solusi ajaib.

Ibu tidak langsung minta maaf.

Ayah tidak tiba-tiba membelaku.

Rani malah masuk kamar dengan wajah kesal setelah mengatakan aku terlalu membela istri.

Dan Mira, setelah semua orang berhenti bicara, justru bertanya kepadaku, “Kamu yakin tidak menyesal ngomong begitu?”

Aku sedang duduk di lantai kamar, bersandar ke sisi tempat tidur.

“Kenapa aku harus menyesal?”

“Karena itu Ibumu.”

“Dan kamu istriku.”

Dia diam.

Aku menambahkan, “Bukan berarti setiap masalah aku harus melawan Ibu. Tapi bukan berarti setiap kali Ibu salah aku harus pura-pura tidak lihat.”

Mira duduk di tepi tempat tidur.

“Aku juga salah.”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

“Aku terlalu lama diam.”

Aku menggeleng.

“Aku yang tinggal serumah denganmu dan tidak tahu kamu makan apa selama enam bulan.”

Dia tidak membantah.

Itu lebih menyakitkan daripada kalau dia menghiburku.

Selama ini aku memang terlalu mudah menerima segala sesuatu yang membuat hidupku nyaman.

Kalau aku pulang malam dan ada makanan, aku makan.

Kalau bajuku sudah dicuci, aku pakai.

Kalau Mira bilang baik-baik saja, aku percaya.

Aku menganggap tidak adanya keluhan sebagai bukti bahwa tidak ada masalah.

Padahal kadang orang berhenti mengeluh karena sudah tidak yakin ada yang akan mendengar.

Malam itu kami bicara sampai hampir pukul satu.

Tidak hanya soal makanan.

Mira bercerita bahwa dalam beberapa bulan terakhir, dia sengaja makan siang lebih banyak di kantor karena tahu makan malam di rumah belum tentu cukup.

Kadang dia membeli roti sebelum pulang, lalu memakannya di halte supaya tidak kelihatan membawa makanan masuk.

“Aku takut Ibu mengira aku tidak menghargai masakannya,” katanya.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

“Kenapa sampai roti saja harus dimakan di luar?”

“Karena pernah sekali aku bawa nasi ayam.”

“Lalu?”

“Ibu bilang, ‘Kalau memang tidak cocok makan di rumah, lain kali uang dapurnya tidak usah setengah-setengah.’”

Aku mengangkat kepala.

“Setengah-setengah?”

Mira mengangguk.

Aku mengambil ponsel dan membuka mutasi rekeningku sendiri.

Setiap awal bulan ada Rp4 juta yang kukirim kepada Ibu.

Lalu kulihat pembayaran listrik, internet, dan sebagian belanja bulanan yang tetap sering kubayar dari rekeningku.

Aku tidak merasa dirampok.

Aku juga tidak ingin menghitung semua rupiah yang pernah kuberikan kepada orang tuaku.

Mereka membesarkanku.

Ayah sudah pensiun.

Aku memang berniat membantu.

Yang menggangguku adalah semua keputusan tentang uang itu berjalan di atas asumsi bahwa Mira akan selalu menyesuaikan diri.

Aku berkata, “Kita pindah.”

Mira langsung menatapku.

“Jangan karena emosi.”

“Bukan malam ini.”

“Aku serius.”

“Aku juga.”

Kami sebenarnya sudah menabung untuk uang muka rumah, tetapi belum cukup. Selama ini aku sengaja bertahan di rumah orang tua agar tabungan kami lebih cepat terkumpul.

Tiba-tiba hitungan itu terasa berbeda.

Menabung lebih banyak tidak lagi otomatis berarti keputusan yang lebih baik kalau harga yang dibayar adalah Mira harus mengecilkan dirinya sendiri setiap hari.

“Kita cari kontrakan,” kataku. “Kecil tidak apa-apa.”

Mira masih ragu.

“Kalau Ibu makin marah?”

“Ibu boleh marah.”

“Kamu gampang bilang begitu sekarang.”

“Aku tahu.”

Aku mengusap wajah.

“Aku mungkin nanti takut. Mungkin aku merasa bersalah. Tapi kita tidak bisa tinggal di sini hanya supaya semua orang selain kita nyaman.”

Mira menatapku cukup lama.

“Jangan pindah cuma untuk membuktikan kamu membela aku.”

“Aku pindah karena kita harus punya rumah tangga sendiri.”

Itu pertama kalinya malam itu dia mengangguk tanpa mencoba melindungi perasaanku.

Dua hari berikutnya terasa dingin.

Ibu tetap masak, tetapi tidak banyak bicara denganku.

Yang aneh, tiba-tiba setiap malam ada satu kotak makanan khusus untuk Mira.

Hari pertama, nasi, ikan, dan sayur.

Hari kedua, ayam kecap dan sup.

Mira tidak menyentuhnya.

Bukan karena ingin menghukum Ibu.

Dia masih makan, tapi membeli makan malam di dekat kantornya sebelum pulang.

Ibu melihat kotak yang tidak tersentuh dan semakin tersinggung.

“Sekarang sudah disisakan malah tidak mau makan.”

Mira hanya berkata, “Saya sudah makan, Bu.”

Ibu menatapku seolah menunggu aku memarahi istriku.

Aku tidak melakukannya.

Sabtu pagi, Mira dan aku melihat tiga kontrakan.

Yang pertama terlalu lembap.

Yang kedua terlalu jauh dari kantor kami.

Yang ketiga berada sekitar dua puluh menit dari kantor Mira dan tiga puluh menit dari kantorku kalau lalu lintas normal.

Rumahnya kecil.

Dua kamar.

Dapur sempit.

Halaman depan cuma cukup untuk satu motor dan beberapa pot tanaman.

Sewa setahun Rp27 juta.

Kami berdiri di ruang tengah yang masih kosong.

Mira mengetuk dinding dekat jendela.

“Catnya jelek.”

“Bisa dicat.”

“Dapurnya sempit.”

“Kita cuma dua orang.”

Dia berjalan ke dapur.

Ada meja kecil menempel ke dinding.

“Kalau dua orang berdiri di sini bareng, pasti saling senggol.”

“Bagus. Jadi kalau kamu makan berdiri, aku langsung tahu.”

Mira menoleh.

Aku tidak bermaksud bercanda.

Tapi dia tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak Kamis malam.

Kami membayar tanda jadi hari itu.

Bukan dari uang Mira.

Bukan dari uangku sendiri.

Kami membuka tabungan bersama dan memutuskan menggunakannya setelah menghitung ulang kebutuhan tiga bulan ke depan.

Ketika pulang, Ibu sedang menyapu ruang keluarga.

Aku memberitahunya.

“Kami dapat kontrakan.”

Sapu berhenti.

“Kami siapa?”

“Aku sama Mira.”

Ibu menatapku.

“Jadi benar mau keluar?”

“Iya.”

“Karena makanan?”

“Karena kami sudah menikah dua tahun dan ternyata banyak hal di rumah ini yang tidak pernah kami bicarakan dengan benar.”

Ibu menaruh sapu di dinding.

“Jangan diputar-putar. Ini gara-gara istrimu.”

Mira yang baru masuk dari teras berhenti.

Aku berkata, “Bukan.”

“Kalau tidak ada dia, kamu tidak akan keluar.”

“Kalau tidak menikah, memang aku tidak punya rumah tangga sendiri.”

“Kamu tahu maksud Ibu.”

“Aku tahu. Dan aku tetap bilang bukan Mira yang menyuruh.”

Ibu menatap Mira.

“Kamu puas sekarang?”

Mira tidak sempat menjawab.

Aku berdiri di antara mereka, bukan untuk dramatis, hanya supaya Ibu menatapku saat berbicara.

“Bu, jangan tanya dia.”

“Kenapa? Dia yang…”

“Aku yang putuskan.”

“Dia mengadu.”

“Aku melihat sendiri.”

“Dia tunjukkan chat.”

“Setelah aku tanya.”

“Dia tunjukkan transfer.”

“Setelah aku tanya.”

Ibu terdiam.

Aku melanjutkan.

“Kalau Ibu mau marah karena aku pindah, marah ke aku. Jangan bikin seolah-olah Mira membawa aku pergi dari keluarga.”

Ayah keluar dari kamar dan duduk di sofa.

“Kamu sudah pikir matang?”

“Sudah.”

“Kamu tetap bantu rumah?”

Pertanyaan itu membuat Ibu menoleh cepat kepada Ayah.

Aku sudah menduganya akan muncul.

“Iya. Aku tetap bantu.”

Ibu mengembuskan napas pelan.

“Tuh. Kamu sendiri bilang keluarga tetap tanggung jawab.”

“Aku setuju.”

“Terus apa yang berubah?”

“Mulai bulan depan aku transfer Rp2,5 juta untuk kebutuhan Ayah dan Ibu. Listrik rumah nanti kita hitung lagi. Kalau ada kebutuhan besar, bilang sebelum dibayar.”

Ibu menatapku tajam.

“Dulu empat juta.”

“Karena dulu aku dan Mira makan di sini.”

“Rani bagaimana?”

Aku menoleh kepada adikku yang baru keluar kamar.

“Rani sudah kerja.”

Rani langsung membalas, “Gajiku belum besar.”

“Aku tahu. Tapi aku tidak akan membayar uang makan satu rumah seolah aku masih tinggal di sini.”

Ibu berkata, “Kamu berubah sekali.”

Aku menahan diri untuk tidak membalas dengan kalimat yang akan memperpanjang pertengkaran.

“Aku cuma mulai menghitung apa yang selama ini tidak pernah kubicarakan.”

Malam berikutnya grup WhatsApp keluarga ramai.

Tanteku bertanya kenapa aku tega meninggalkan orang tua.

Seorang sepupu menulis bahwa menantu seharusnya bisa menyesuaikan diri.

Aku tahu dari mana cerita itu berasal karena tidak ada seorang pun yang menyinggung soal enam bulan makanan sisa.

Versi yang beredar hanya satu.

Mira merasa tidak cocok tinggal dengan mertua, lalu mengajakku pindah.

Aku menulis satu pesan.

“Aku dan Mira pindah karena itu keputusan kami berdua. Ayah dan Ibu tetap akan kubantu. Tidak perlu menyalahkan siapa pun.”

Setelah itu aku keluar dari percakapan sampai malam.

Aku tidak mengirim foto makanan.

Tidak membagikan chat Ibu.

Tidak menjelaskan transaksi bank.

Bukan karena aku ingin menutupi sesuatu, tetapi karena aku tidak butuh sidang keluarga untuk memutuskan di mana aku tinggal bersama istriku.

Dua minggu kemudian kami pindah.

Barang kami tidak banyak.

Satu lemari pakaian.

Kasur.

Meja kerja Mira.

Beberapa kardus buku.

Rice cooker.

Peralatan dapur yang sebagian besar dibeli Mira setelah menikah.

Ketika aku mengangkat kardus terakhir ke mobil sewaan, Ayah keluar membawa satu tas plastik.

“Ini punya kalian.”

Di dalamnya ada beberapa wadah makanan dan dua cangkir.

Aku menerimanya.

“Terima kasih, Yah.”

Ayah berdiri di teras.

Dia tampak ingin bicara.

Aku menunggu.

“Ayah sebenarnya tahu.”

Aku tidak langsung memahami.

“Tahu apa?”

“Kalau Mira sering makan belakangan.”

Aku diam.

“Ayah pikir itu urusan Ibumu sama Mira.”

“Selama enam bulan?”

Ayah mengangguk pelan.

Aku menatap jalan di depan rumah.

“Kenapa Ayah tidak pernah bilang apa-apa?”

“Ayah tidak mau bikin ribut.”

Aku tertawa pendek tanpa rasa lucu.

“Tidak ribut buat Ayah.”

Dia mengerutkan kening.

“Maksudmu?”

“Karena yang menanggung bukan Ayah.”

Wajahnya berubah.

Aku tidak melanjutkan.

Sebelum masuk mobil, Ayah berkata, “Jangan lama-lama marah sama Ibumu.”

“Aku tidak pindah karena mau menghukum Ibu.”

“Lalu?”

“Karena aku tidak mau menunggu sampai ada masalah lain baru belajar batas.”

Di kontrakan baru, malam pertama kami makan mi rebus dan telur.

Belum ada meja makan.

Kami duduk di lantai dengan kardus sebagai alas.

Tidak ada tujuh lauk.

Tidak ada sop iga.

Tidak ada udang.

Mira menghabiskan satu mangkuk penuh.

Ketika dia berdiri untuk mencuci piring, aku berkata, “Besok beli meja.”

“Kenapa?”

“Aku tidak mau lihat kamu makan berdiri lagi.”

Dia menatapku beberapa detik.

Kemudian mengambil mangkukku juga dan membawanya ke wastafel.

“Kalau begitu besok jangan pilih yang mahal.”

Pelan-pelan hidup kami berubah.

Bukan menjadi sempurna.

Pindah rumah tidak otomatis membuat semua rasa kesal hilang.

Mira beberapa kali masih mengatakan, “Tidak usah beli, mahal,” untuk hal-hal kecil yang sebenarnya mampu kami beli.

Aku juga beberapa kali masih hampir menelepon Ibu untuk menanyakan keputusan rumah tangga sebelum berdiskusi dengan Mira.

Kebiasaan lama tidak hilang karena satu pertengkaran.

Kami mulai membuat aturan sederhana.

Kalau ada uang yang mau diberikan kepada keluarga lebih dari jumlah rutin, kami bicara dulu.

Kalau salah satu dari kami merasa tidak nyaman dengan sesuatu, kami tidak menunggu enam bulan.

Dan kalau Mira pulang terlambat, dia tidak perlu minta maaf karena pekerjaannya.

Sebulan setelah kami pindah, Ibu menelepon.

Aku sedang di kantor.

“Arga, minggu ini pulang makan.”

“Sabtu bisa.”

“Bawa Mira.”

Aku diam sebentar.

“Ibu yang ajak?”

“Ya.”

“Nanti aku tanya dia.”

Ibu terdengar tidak senang.

“Kenapa harus tanya? Dia istrimu.”

“Justru karena dia istriku.”

Telepon hening.

Akhirnya Ibu berkata, “Ya sudah. Tanya.”

Mira tidak mau datang Sabtu itu.

Aku pergi sendiri.

Rani keluar dengan teman-temannya. Ayah membaca koran di teras.

Di meja makan cuma ada tiga piring.

Ibu memasak ayam kecap dan sayur asem.

Setelah makan, dia mengeluarkan sebuah amplop.

“Apa ini?”

“Uang.”

Aku membuka.

Rp3 juta.

Aku langsung mengembalikannya.

“Buat apa?”

“Untuk Mira.”

“Kenapa?”

Ibu menatap meja.

“Uang dapurnya.”

Aku tidak mengambil amplop itu.

“Totalnya sembilan juta.”

“Ibu tahu.”

“Kalau Ibu mau mengembalikan karena merasa bersalah, bicara langsung sama Mira.”

“Apa semuanya harus lewat dia sekarang?”

Aku menatap Ibu.

“Kalau uangnya milik dia, iya.”

Ibu akhirnya menghela napas.

“Ibu belum ada sembilan juta sekaligus.”

“Aku tidak minta Ibu bayar hari ini.”

“Tapi kamu mempermasalahkan uangnya.”

“Bukan.”

Ibu menatapku.

“Terus apa?”

Aku memikirkan jawaban cukup lama.

“Aku mempermasalahkan Ibu meminta dia ikut bayar karena katanya dia juga makan di rumah. Tapi setelah uangnya diterima, Ibu memperlakukan makanannya sebagai sesuatu yang tidak penting.”

Ibu diam.

Aku melanjutkan.

“Kalau Mira tidak kasih uang sekalipun, tetap tidak benar memperlakukan dia begitu. Tapi karena Ibu minta uangnya, semuanya jadi lebih jelas.”

Ibu mengusap tepi amplop dengan jari.

“Dulu Ibu juga menantu.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Waktu tinggal sama nenekmu, Ibu harus bangun paling pagi. Masak. Bersih-bersih. Kalau pulang dari pasar terlambat, makan ya seadanya.”

Aku akhirnya memahami sedikit.

Bukan membenarkan.

Memahami.

Ibu tidak merasa sedang menciptakan perlakuan baru.

Dia merasa sedang meneruskan sesuatu yang pernah dia alami.

“Kata siapa Mira harus mengalami yang sama?”

Ibu menatapku.

“Dulu tidak ada yang membela Ibu.”

“Aku sedih Ibu pernah ngalamin itu.”

Dia tampak terkejut.

“Tapi bukan berarti sekarang Mira harus ikut.”

Ibu menunduk lagi.

Untuk pertama kalinya sejak masalah ini mulai, dia tidak mencoba membela diri.

Beberapa menit kemudian dia berkata, “Ibu memang sengaja tidak menyimpan lauk bagus buat dia.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi itulah kalimat yang selama ini tidak pernah keluar.

“Kenapa?”

“Ibu kesal.”

“Karena dia pulang malam?”

“Karena dia seperti tidak butuh rumah ini.”

Aku hampir membantah.

Ibu mengangkat tangan.

“Dengar dulu.”

Aku diam.

“Ibu masak. Rani bantu. Ayah ada di rumah. Kamu pulang malam tapi setidaknya kamu anak Ibu. Mira pulang malam, makan, tidur. Pagi berangkat lagi. Ibu merasa rumah ini cuma tempat singgah buat dia.”

“Dia kerja.”

“Ibu tahu sekarang.”

“Dari dulu juga Ibu tahu.”

Ibu mengangguk kecil.

“Iya.”

Dia menatap amplop di tangannya.

“Mungkin Ibu cuma tidak suka kenyataan bahwa dia punya hidup yang tidak berputar di rumah ini.”

Aku tidak menyangka Ibu akan berkata seperti itu.

Tidak ada alasan besar.

Tidak ada rahasia.

Hanya rasa berhak yang dibiarkan terlalu lama.

“Aku bisa bawa amplopnya ke Mira,” kataku. “Tapi soal ketemu, keputusan tetap dia.”

Ibu menyerahkan amplop itu.

“Bilang Ibu mau bicara.”

Aku membawanya pulang.

Mira tidak langsung menerima uang itu.

“Kenapa cuma tiga juta?”

“Katanya belum bisa sekaligus.”

“Aku bukan menagih.”

“Aku tahu.”

Dia meletakkan amplop di meja.

“Dia bilang apa?”

Aku menceritakan semuanya.

Termasuk pengakuan Ibu bahwa dia memang sengaja tidak menyimpan lauk bagus.

Mira duduk diam.

Aku menunggu.

Akhirnya dia berkata, “Aku lebih lega dengar dia mengaku daripada dengar seratus alasan.”

“Dia mau ketemu.”

“Belum sekarang.”

“Oke.”

Dua bulan berlalu.

Ibu mengirim Rp1 juta setiap bulan ke rekening Mira.

Tidak ada pesan panjang.

Hanya bukti transfer dan tulisan pendek.

“Cicilan uang dapur.”

Mira tidak pernah meminta.

Tapi dia juga tidak mengembalikannya.

“Biar jelas,” katanya.

Hubungan mereka belum akrab.

Kadang Ibu mengirim pesan menanyakan kabar.

Mira membalas seperlunya.

Aku tidak memaksa.

Suatu Minggu sore, Ayah dan Ibu datang ke kontrakan kami untuk pertama kali.

Ibu membawa buah.

Bukan makanan matang.

Mungkin dia takut apa pun yang dibawa akan terasa seperti pesan tersembunyi.

Dia berdiri cukup lama di ruang tengah sambil melihat rumah kecil kami.

“Panas juga.”

Aku menyalakan kipas.

“Makanya murah.”

Mira membuat teh.

Kami duduk.

Pembicaraan awal sangat kaku.

Tentang pekerjaan.

Tentang harga kebutuhan.

Tentang Rani yang sedang mencari posisi baru di kantornya.

Lalu, ketika Ayah keluar sebentar untuk menerima telepon, Ibu menatap Mira.

“Mira.”

“Iya, Bu?”

Ibu memegang cangkir dengan kedua tangan.

“Ibu mau minta maaf.”

Mira tidak langsung menjawab.

“Ibu bukan cuma lalai menyisakan makanan.”

Suara Ibu terdengar lebih kecil daripada biasanya.

“Ibu memang sengaja.”

Mira mengangguk.

“Arga sudah bilang.”

“Ibu merasa kamu harus lebih menyesuaikan diri karena tinggal di rumah kami.”

Mira menatapnya.

“Saya berusaha, Bu.”

“Ibu tahu.”

“Waktu itu Ibu tidak merasa begitu.”

“Iya.”

Ibu tidak mencari alasan lain.

“Aku…” Dia berhenti dan memperbaiki ucapannya. “Ibu salah.”

Mira menunduk ke tehnya.

Beberapa saat kemudian dia berkata, “Saya bisa memaafkan, Bu. Tapi saya belum bisa pura-pura seperti tidak pernah terjadi.”

Ibu mengangguk.

“Ibu mengerti.”

“Saya juga tidak mau kembali tinggal bersama.”

“Ibu tidak minta.”

“Kalau suatu hari nanti ada masalah antara saya dan Arga, saya tidak mau uang atau makanan dipakai untuk membuat saya merasa saya bukan keluarga.”

Ibu menarik napas.

“Iya.”

Tidak ada pelukan.

Tidak ada tangisan bersama.

Tidak ada musik yang tiba-tiba membuat semua luka terasa selesai.

Mereka melanjutkan minum teh.

Anehnya, itu justru terasa lebih jujur daripada permintaan maaf yang terlalu indah.

Setelah Ibu dan Ayah pulang, Mira menutup pintu.

Aku sedang membereskan gelas.

“Gimana?”

Dia mengangkat bahu.

“Lumayan.”

“Masih marah?”

“Sedikit.”

Aku tersenyum.

“Boleh.”

Dia menatapku.

“Kamu?”

“Aku?”

“Masih merasa bersalah?”

Aku berhenti mengelap meja.

“Masih.”

Mira duduk.

“Kamu tidak perlu terus-terusan menghukum diri.”

“Aku tidak.”

“Kadang kelihatan.”

Aku duduk di depannya.

“Aku cuma masih ingat malam itu.”

“Aku juga.”

Aku menatap tangannya.

“Aku pernah berpikir aku suami yang cukup baik karena aku tidak selingkuh, tidak kasar, kerja, kasih uang.”

Mira tersenyum tipis.

“Standarnya rendah sekali.”

Aku tertawa.

“Iya.”

Kemudian aku berkata, “Ternyata tinggal serumah sama seseorang tidak berarti otomatis tahu bagaimana dia hidup.”

Mira tidak memberi jawaban besar.

Dia hanya mengulurkan tangan dan mengambil kain lap dari tanganku.

“Kalau sudah selesai merenung, bantu buang sampah.”

Empat bulan setelah kami pindah, cicilan dari Ibu selesai.

Rp9 juta kembali ke rekening Mira.

Hari itu Mira mengirim satu pesan singkat.

“Sudah saya terima semua, Bu. Terima kasih sudah menyelesaikannya.”

Ibu menjawab:

“Iya. Terima kasih juga sudah mau bicara waktu kemarin.”

Tidak lebih.

Hubungan mereka belum menjadi hubungan ibu dan anak.

Mungkin tidak akan pernah.

Tapi setidaknya tidak lagi berdiri di atas kepura-puraan.

Rani juga mulai berubah sedikit.

Bukan karena mendapat hukuman.

Dia tetap tinggal bersama orang tua kami.

Tetapi sejak aku tidak lagi menanggung sebagian besar pengeluaran rumah, dia mulai membayar sebagian belanja sendiri.

Suatu malam dia menelepon.

“Kak.”

“Apa?”

“Dulu aku memang keterlaluan ya?”

Aku tidak menjawab cepat.

“Bagian mana?”

“Yang bilang cuma soal makan.”

Aku duduk di sofa.

“Kenapa tiba-tiba tanya?”

“Sekarang aku yang sering pulang paling malam.”

Aku hampir tertawa, tapi tidak jadi.

“Terus?”

“Ibu sisakan makanan buat aku.”

“Bagus.”

“Makanya aku jadi kepikiran.”

Aku menunggu.

Rani berkata, “Kalau gampang buat Ibu menyimpan untuk aku, berarti sebenarnya dulu juga gampang menyimpan buat Mbak Mira.”

“Ya.”

Dia diam.

“Maafin aku, Kak.”

“Bilang ke Mira.”

“Oh.”

“Bukan aku yang makan sisa enam bulan.”

Beberapa hari kemudian Mira menunjukkan ponselnya kepadaku.

Rani mengirim pesan.

Tidak panjang.

Tidak dramatis.

Dia minta maaf karena ikut menganggap perlakuan itu wajar.

Mira membalas:

“Makasih sudah bilang langsung.”

Cukup.

Kami tidak pernah kembali tinggal di rumah orang tuaku.

Setahun kemudian, tabungan untuk rumah memang tidak bertambah secepat rencana awal.

Kami harus membayar sewa, listrik, air, dan semua kebutuhan sendiri.

Tapi angka di rekening bukan satu-satunya hal yang berubah.

Mira berhenti makan roti diam-diam sebelum pulang.

Aku berhenti menganggap semua keputusan keluarga harus disetujui Ibu.

Kami masih membantu orang tuaku.

Masih berkunjung.

Masih makan bersama sesekali.

Bedanya, setelah selesai, kami pulang ke rumah kami sendiri.

Pada suatu Jumat malam, aku pulang lebih dulu.

Tidak ada rapat yang dibatalkan.

Tidak ada kejutan.

Aku memang sengaja mengatur pekerjaan supaya setidaknya satu hari dalam seminggu aku bisa tiba sebelum Mira.

Aku memasak sop sederhana, menumis sayur, dan membeli ayam panggang dari warung karena kemampuan memasakku belum cukup untuk tiga lauk sekaligus.

Pukul 19.37, terdengar suara kunci.

Mira masuk sambil meletakkan tas di kursi.

Dia melihat meja.

Dua piring.

Dua mangkuk.

Dua gelas.

Di tengahnya ada satu kotak kecil ceri.

Mira mengambil satu buah.

Dia melihat label harga yang masih tertempel.

“Kamu beli yang mahal lagi.”

Aku mengambil satu juga.

“Kali ini jangan dikembalikan ke rak.”

Dia duduk.

Aku baru membuka tutup panci setelah dia menarik kursinya mendekat ke meja.

Dan malam itu, tidak ada satu pun dari kami yang makan sambil berdiri di dapur.

Menurutmu, apakah Arga benar memilih pindah rumah daripada tetap tinggal bersama orang tuanya setelah mengetahui perlakuan terhadap Mira?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.