Janda 22 Tahun Itu Menolak Menikah Lagi demi Empat Adik Suaminya, 25 Tahun Kemudian Desa Akhirnya Mengerti Alasannya

Avatar penulis
Cerita 01
17 menit baca 967 tayangan
Janda 22 Tahun Itu Menolak Menikah Lagi demi Empat Adik Suaminya, 25 Tahun Kemudian Desa Akhirnya Mengerti Alasannya
Indeks

Bagian 2

“Dua puluh lima tahun lalu, setelah Mas Hadi dimakamkan, sebenarnya kami hampir tidak tinggal bersama lagi.”

Halaman mendadak sunyi.

Dimas tidak melihat siapa pun selain Lestari.

“Malam itu ada keluarga yang membicarakan kami akan tinggal di mana. Waktu itu aku delapan tahun. Aku tidak paham soal uang, warisan, atau siapa yang sanggup menanggung siapa. Yang aku tahu cuma satu. Aku akan dipisahkan dari Kak Bayu, Kak Intan, dan Kak Sari.”

Lestari menunduk.

Ia masih ingat malam itu, tetapi tidak pernah membicarakannya lagi.

Dimas melanjutkan.

“Mbak Lestari sebenarnya bisa pulang. Tidak ada anak yang mengikatnya di rumah ini. Tidak ada orang yang boleh menyalahkan kalau dia memilih hidup baru.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi Mbak bilang kami tetap di sini.”

Janda 22 Tahun Itu Menolak Menikah Lagi demi Empat Adik Suaminya, 25 Tahun Kemudian Desa Akhirnya Mengerti Alasannya

Beberapa orang tua di halaman mulai saling memandang.

“Orang sering bilang Mbak bodoh karena tidak menikah lagi,” kata Dimas. “Saya juga pernah mendengar orang mengatakan suatu hari kami akan lupa setelah berhasil.”

Suara Dimas makin berat.

“Kami tidak lupa.”

Bayu maju satu langkah.

“Waktu saya kuliah, orang mengira beasiswa dan kerja sambilan cukup. Tidak. Bulan-bulan pertama, Mbak masih kirim uang dari hasil sawah dan jahitan.”

Intan menyambung, “Waktu saya hampir berhenti karena biaya praktik, Mbak menjual dua gelang yang tersisa dari pernikahannya.”

Lestari langsung menoleh.

“Tidak usah semua diceritakan.”

Intan tersenyum sambil menangis.

“Justru harus, Mbak. Karena selama ini Mbak selalu bilang tidak usah.”

Sari kemudian mengangkat sebuah buku tipis dengan sampul kusam.

Lestari mengenalinya.

Buku catatan belanja lama.

“Ini kami temukan waktu memperbaiki lemari dapur,” kata Sari. “Isinya bukan daftar pengorbanan Mbak. Isinya cuma pengeluaran rumah. Tapi dari situ kami baru benar-benar paham.”

Ia membuka salah satu halaman.

“Bayu, uang sekolah. Intan, buku. Sari, seragam. Dimas, obat.”

Sari menutupnya lagi.

“Nama Mbak hampir tidak pernah ada.”

Lestari menghela napas.

“Memangnya harus beli apa?”

Dimas tertawa kecil, lalu mengusap matanya.

“Begitu terus jawabannya.”

Beberapa orang di halaman ikut tersenyum.

Namun Dimas belum selesai.

Ia memberi isyarat kepada Bayu, lalu Bayu mengambil sebuah map dari dalam rumah.

Lestari langsung mengerutkan kening.

“Itu apa?”

Bayu duduk di hadapannya.

“Bukan hadiah yang tiba-tiba jadi milik Mbak hari ini. Kami tidak mau membuat sesuatu yang tidak jelas.”

Ia membuka map tersebut.

Rumah dan pekarangan lama itu merupakan peninggalan orang tua Hadi dan adik-adiknya. Selama bertahun-tahun urusan administrasinya dibenahi sedikit demi sedikit ketika semua saudara sudah dewasa.

Keempat adik telah membicarakan satu keputusan selama berbulan-bulan.

Mereka ingin menghibahkan bagian hak mereka atas rumah dan pekarangan yang ditempati Lestari kepada perempuan itu, melalui proses resmi.

“Semua sudah bicara?” tanya Lestari.

“Sudah.”

“Pasangan kalian?”

“Sudah tahu,” jawab Intan.

“Jangan sampai nanti ada yang merasa saya mengambil hak anak-anak kalian.”

Bayu menggeleng.

“Tidak ada yang diambil. Ini keputusan kami.”

Dimas menatapnya.

“Kami bisa membeli rumah lain, Mbak. Tapi rumah ini ada karena Mbak menjaga kami tetap bersama di dalamnya.”

Suara dari bagian belakang kerumunan tiba-tiba terdengar.

“Rumah orang tua kok diberikan ke menantu?”

Beberapa orang menoleh.

Yang berbicara adalah Bu Rini, adik sepupu mendiang ayah Hadi, salah satu orang tua keluarga yang sejak dulu sangat memikirkan agar tanah peninggalan tidak keluar dari garis keluarga.

Ia tidak berteriak.

Namun kalimatnya cukup keras untuk didengar semua orang.

“Saya bukan bilang Lestari tidak berjasa,” lanjut Bu Rini. “Jasanya besar. Tapi kalau rumah keluarga dialihkan begitu, nanti anak cucu bagaimana?”

Bayu tampak ingin menjawab, tetapi Lestari mengangkat tangan.

“Sebentar.”

Semua diam.

Lestari menatap map di pangkuan Bayu, lalu keempat adiknya.

Ia tahu mereka berniat baik.

Namun ia juga tahu hadiah yang diberikan karena rasa bersalah bisa berubah menjadi beban baru.

“Saya tidak tinggal di sini dua puluh lima tahun untuk mendapat rumah,” katanya.

Dimas langsung menggeleng.

“Kami tahu.”

“Dengar dulu.”

Lestari berdiri.

“Kalau kalian melakukan ini karena merasa punya utang kepada saya, saya tidak mau.”

Wajah Dimas berubah.

“Tapi kalau kalian benar-benar sudah memikirkan hak pasangan kalian, anak-anak kalian, dan tidak ada yang terpaksa, baru kita bicara.”

Ia memandang Bu Rini.

“Dan saya juga tidak mau urusan ini selesai dengan orang kampung saling bicara di belakang.”

Lalu Lestari menatap Bayu.

“Besok kita periksa semuanya dengan orang yang memang paham. Bukan karena saya mau merebut rumah ini.”

Ia meletakkan tangan di atas map.

“Saya cuma tidak mau dua puluh lima tahun kita hidup sebagai keluarga, lalu gara-gara satu sertifikat malah saling curiga.”

Dimas memandang kakak-kakaknya.

Hari itu mereka bermaksud memberi Lestari kejutan.

Sebaliknya, perempuan yang selama ini mereka kira hanya akan mengangguk menerima keputusan mereka justru menetapkan syaratnya sendiri.

Dan keesokan paginya, untuk pertama kalinya dalam dua puluh lima tahun, Lestari ikut duduk bersama keempat adiknya untuk membicarakan secara resmi siapa yang berhak atas rumah yang selama ini ia sebut rumah mereka.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Pagi berikutnya, Lestari sudah bangun sebelum pukul lima.

Kebiasaan itu tidak pernah hilang meskipun sekarang tidak ada lagi empat anak yang harus dibangunkan sekolah.

Ia menyapu halaman, memasak air, kemudian membuka pintu kamar depan yang semalam dipakai Sari dan keluarganya.

Di meja makan, map dari Bayu masih tergeletak.

Lestari tidak menyentuhnya.

Ia justru mengambil buku catatan lama yang kemarin diperlihatkan Sari.

Sampulnya sudah terkelupas di sudut.

Ketika dibuka, tulisan tangannya sendiri memenuhi hampir setiap halaman.

Beras.

Minyak.

Listrik.

Uang sekolah.

Benang.

Obat.

Ongkos Bayu.

Buku Intan.

Sepatu Sari.

Seragam Dimas.

Lestari tersenyum tipis melihat satu catatan kecil dari dua puluh tahun lalu.

“Dimas pecahkan kaca jendela.”

Di sampingnya ada angka biaya mengganti kaca.

Tidak jauh dari sana ada tulisan lain.

“Dimas janji tidak main bola dekat rumah.”

Janji itu hanya bertahan empat hari.

Lestari menutup buku.

“Apa yang Mbak lihat?”

Suara Dimas membuatnya menoleh.

Pria itu berdiri di pintu dapur dengan rambut belum rapi.

“Kamu dulu mahal sekali dipelihara.”

Dimas tertawa.

“Kalau dihitung bunga, saya bangkrut.”

“Makanya jangan dihitung.”

Dimas duduk di seberangnya.

Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara.

Lalu ia berkata, “Mbak marah soal rumah?”

“Tidak.”

“Kecewa?”

“Tidak juga.”

“Terus?”

Lestari menatap wajahnya.

Di kepalanya kadang Dimas masih anak delapan tahun yang berlari tanpa sandal.

Sulit menerima bahwa sekarang laki-laki di depannya memiliki usaha, pegawai, istri, dan dua anak.

“Saya takut kalian melakukan sesuatu karena rasa bersalah.”

Dimas mengerutkan kening.

“Rasa bersalah karena apa?”

“Karena merasa saya kehilangan hidup.”

Dimas diam.

Lestari melanjutkan, “Saya yang memutuskan tinggal.”

“Tapi karena kami.”

“Karena keadaan.”

“Sama saja.”

“Tidak.”

Lestari menggeleng.

“Kalian tidak pernah meminta kakak kalian meninggal. Kalian juga tidak meminta orang tua kalian pergi duluan. Waktu itu kalian anak-anak.”

Dimas menunduk.

“Mbak juga masih dua puluh dua.”

“Iya.”

“Jadi siapa yang menjaga Mbak waktu itu?”

Pertanyaan itu membuat Lestari tidak langsung menjawab.

Dimas menatap meja.

“Kami selalu bilang Mbak membesarkan kami. Tapi baru belakangan saya berpikir, waktu Mas Hadi meninggal, Mbak juga hampir seumur anak saya sekarang.”

Lestari tersenyum kecil.

“Jangan terlalu dipikirkan pagi-pagi. Nanti pusing.”

“Saya serius.”

“Saya tahu.”

Lestari meraih cangkir.

“Dulu saya tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Besok ada uang sekolah, ya cari uang. Atap bocor, ya taruh ember. Ada anak demam, ya bawa berobat. Kalau semua dipikir sampai dua puluh lima tahun ke depan, mungkin saya juga takut.”

Dimas memandangnya lama.

“Mbak pernah menyesal?”

Itu bukan pertama kali ada orang menanyakan hal semacam itu.

Tetapi biasanya pertanyaannya berbunyi, “Tidak menyesal tidak menikah lagi?”

Dimas bertanya tentang semuanya.

Lestari membutuhkan waktu sebelum menjawab.

“Pernah capek.”

Dimas menunggu.

“Pernah iri lihat orang lain punya hidup lebih ringan.”

Ia tersenyum tipis.

“Pernah marah juga kalau kalian susah diatur.”

Dimas ikut tersenyum.

“Terutama saya?”

“Terutama kamu.”

“Tapi menyesal?”

Lestari menggeleng.

“Tidak.”

Jawaban itu sederhana.

Tidak dibuat untuk menghibur siapa pun.

Dimas terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi suara Bayu dari ruang depan memotong mereka.

“Sudah siap? Kita berangkat setelah sarapan.”

Hari itu mereka tidak membawa seluruh keluarga.

Hanya Lestari dan empat adik Hadi.

Bayu telah membuat janji dengan PPAT yang sebelumnya membantu mereka membereskan dokumen tanah keluarga. Mereka datang bukan untuk melakukan perubahan dalam sekejap, melainkan untuk memahami posisi masing-masing dan memastikan tidak ada keputusan yang dibuat karena salah paham.

Dokumen lama diperiksa.

Penjelasannya ternyata lebih sederhana daripada yang dibayangkan Lestari.

Bagian-bagian yang menjadi hak masing-masing ahli waris sudah dicatat melalui proses sebelumnya. Kalau Bayu, Intan, Sari, dan Dimas ingin mengalihkan bagian mereka, ada prosedur yang harus ditempuh dan dokumen yang harus dilengkapi.

Tidak ada kertas yang langsung mengubah semuanya hanya karena ditandatangani pagi itu.

Lestari justru lega mendengarnya.

“Jadi jangan terburu-buru,” katanya saat mereka keluar.

Dimas tertawa.

“Dari dulu kalau soal kami, Mbak selalu bilang jangan lambat. Sekarang malah jangan buru-buru.”

“Beda urusan.”

Mereka mampir makan siang sebelum pulang.

Di sana Bayu akhirnya mengeluarkan hal yang sejak pagi dipendamnya.

“Mbak, kami sudah sepakat.”

Lestari mengangkat alis.

“Sepakat apa lagi?”

“Rumah dan halaman utama untuk Mbak.”

“Bayu…”

“Dengar dulu.”

Sekarang giliran Bayu mengangkat tangan.

“Tanah sawah dan bagian lain tetap menjadi urusan kami masing-masing sesuai hak yang ada. Kami tidak menyerahkan semuanya.”

Intan mengangguk.

“Kami juga sudah membicarakan ini dengan pasangan masing-masing sejak lama.”

Sari menambahkan, “Anak-anak kami tahu.”

“Dimas bahkan bikin rapat keluarga,” kata Bayu.

Dimas memasang wajah tidak bersalah.

“Biar jelas.”

Lestari masih belum menjawab.

Bayu melanjutkan, “Ini bukan pembayaran.”

“Kalian kemarin bicara seperti membayar utang.”

“Itu salah kami.”

Bayu menarik napas.

“Mungkin kami terlalu lama merasa harus membalas sesuatu yang memang tidak mungkin dibalas.”

Ia mengetuk meja pelan.

“Kalau kami menghitung berapa uang yang Mbak keluarkan, kami bisa mengganti uang. Tapi bagaimana menghitung orang yang setiap malam menunggu kami pulang? Bagaimana menghitung keputusan Mbak supaya kami tidak dipisah?”

Lestari memalingkan wajah sejenak.

Bayu jarang bicara sepanjang itu.

“Rumah itu berbeda,” katanya. “Mbak sudah tinggal di sana dua puluh tujuh tahun sejak menikah dengan Mas Hadi. Dua puluh lima tahunnya tanpa Mas Hadi.”

Intan menyambung, “Tidak masuk akal kalau sampai tua nanti Mbak masih harus merasa tempat tinggal Mbak tergantung izin kami.”

Kalimat itu membuat Lestari kembali memandang mereka.

Itulah pertama kalinya ia melihat rencana mereka bukan sebagai hadiah.

Melainkan sebagai kepastian.

Selama ini ia tidak pernah takut keempat adiknya mengusirnya.

Tidak satu pun dari mereka pernah menunjukkan niat seperti itu.

Namun kehidupan berubah.

Orang menikah.

Punya anak.

Meninggal.

Meninggalkan urusan kepada generasi berikutnya.

Hubungan yang jelas hari ini bisa menjadi kabur dua puluh tahun kemudian kalau semuanya hanya bergantung pada rasa sungkan dan ucapan.

Lestari melihat Dimas.

“Kalian betul-betul tidak keberatan?”

“Tidak.”

“Kalau suatu hari kalian menyesal?”

Dimas menjawab, “Kalau suatu hari kami berubah pikiran soal sesuatu yang sudah kami putuskan dengan sadar, itu masalah kami. Jangan Mbak hidup tanpa kepastian hanya untuk menjaga kemungkinan kami menjadi orang yang tidak tahu malu.”

Sari tertawa.

“Bahasanya kasar.”

“Tapi benar.”

Lestari akhirnya tertawa juga.

Namun pembicaraan belum selesai.

Sepulang dari sana, Bu Rini menunggu di rumah.

Ia datang sendirian.

Wajahnya terlihat canggung.

“Saya mau bicara sebentar.”

Bayu berdiri, tetapi Lestari berkata, “Biar saya.”

Mereka duduk di teras.

Bu Rini memulai dengan kalimat yang sama seperti kemarin.

“Saya tidak pernah bilang kamu tidak berjasa.”

“Saya tahu.”

“Saya cuma takut tanah keluarga habis.”

“Yang dibicarakan rumah dan pekarangannya, Bu. Bukan seluruh tanah.”

Bu Rini mengangguk.

“Dulu orang tua mereka membangun itu susah payah.”

“Saya juga tahu.”

“Kalau nanti…”

Bu Rini berhenti.

Lestari menunggu.

Perempuan yang usianya lebih tua itu akhirnya berkata, “Saya mungkin terlalu ikut campur.”

Lestari tidak langsung membantah.

Bu Rini menghela napas.

“Dulu waktu Hadi meninggal, saya termasuk yang bilang kamu sebaiknya pulang.”

Lestari masih ingat.

“Tante juga pernah bilang Dimas bisa ikut keluarga Tante.”

“Iya.”

“Dan Sari ikut orang lain.”

Bu Rini menunduk.

“Waktu itu kami pikir itu paling masuk akal.”

“Saya tahu.”

“Kalau kamu ikut saran kami, mungkin mereka tetap tumbuh baik.”

“Mungkin.”

“Tapi tidak bersama.”

Lestari mengucapkan kalimat itu tanpa nada menyalahkan.

Bu Rini menatap halaman.

“Dimas kemarin bilang dia masih ingat malam orang-orang membicarakan siapa akan membawa siapa.”

“Iya.”

“Saya tidak pernah berpikir anak umur delapan tahun menyimpan itu.”

Lestari juga tidak.

Selama bertahun-tahun, ia mengira Dimas sudah terlalu kecil untuk mengingat detail malam tersebut.

Ternyata anak-anak sering mengingat hal yang orang dewasa kira lewat begitu saja.

Bu Rini memandangnya.

“Kenapa dulu kamu tidak bilang pada kami bahwa kamu takut mereka dipisahkan?”

Lestari tersenyum tipis.

“Kalau saya bilang, apakah keputusan keluarga akan berubah?”

Bu Rini tidak menjawab.

“Lagi pula waktu itu saya juga tidak punya rencana,” lanjut Lestari. “Saya cuma tahu besok pagi mereka harus sarapan dan sekolah.”

“Dan kamu melakukan itu dua puluh lima tahun.”

“Ya karena besok pagi datang terus.”

Untuk pertama kalinya sejak perdebatan soal rumah dimulai, Bu Rini tertawa kecil.

Kemudian wajahnya serius lagi.

“Kalau kamu menerima rumah itu, saya tidak akan bicara lagi.”

Lestari menggeleng.

“Bukan soal Tante boleh bicara atau tidak.”

“Lalu?”

“Saya cuma ingin Tante tahu, saya juga tidak mau hak orang lain hilang.”

Lestari menunjuk rumah di belakang mereka.

“Saya tidak menjaga mereka supaya suatu hari semua milik mereka jadi milik saya.”

Bu Rini mengangguk perlahan.

“Saya paham.”

Sebelum pulang, ia berdiri cukup lama di dekat tangga teras.

“Dulu banyak yang bilang kamu bodoh.”

Lestari tersenyum.

“Sampai sekarang mungkin masih ada.”

“Saya pernah berpikir begitu.”

“Saya tahu.”

Bu Rini menatapnya.

“Sekarang saya rasa yang kami lihat cuma apa yang kamu korbankan. Kami tidak pernah bertanya apa yang kamu pilih.”

Kalimat itu tinggal di kepala Lestari setelah perempuan tersebut pulang.

Malamnya, empat adik Hadi kembali berkumpul di ruang depan.

Tidak ada tetangga.

Tidak ada kursi berderet.

Tidak ada pidato.

Hanya lima orang yang dulu pernah tinggal di rumah yang sama ketika hampir tidak punya apa-apa.

Lestari membawa teh.

Bayu membuka map.

“Sebelum lanjut, kami mau Mbak bilang sendiri apa yang Mbak mau.”

Dimas mengangguk.

“Jangan jawab berdasarkan apa yang bikin kami senang.”

Lestari duduk.

Ia memandang satu per satu.

Dulu ketika ada keputusan sulit, ia yang menentukan.

Bayu harus tetap kuliah.

Intan tidak boleh berhenti sekolah.

Sari harus menyelesaikan pendidikan.

Dimas harus mengembalikan sepeda tetangga sebelum magrib.

Sekarang keempatnya menunggu keputusan darinya.

“Saya mau rumah ini tetap jadi tempat kalian bisa pulang,” katanya.

Dimas langsung menjawab, “Itu gampang.”

“Belum selesai.”

Ia menatap Dimas.

“Kebiasaan memotong omongan masih belum hilang.”

Sari tertawa.

Lestari melanjutkan.

“Kalau proses rumah dan pekarangan memang bisa dilakukan tanpa mengambil hak lain, tanpa ada pasangan atau anak kalian yang dirugikan, saya bersedia.”

Wajah Dimas langsung berubah lega.

“Tapi.”

Empat orang itu serempak diam.

“Saya tidak mau kalian menganggap setelah itu urusan selesai.”

Bayu mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

“Kalian punya keluarga sendiri. Jangan karena merasa punya utang pada saya, kalian mengorbankan rumah tangga kalian.”

Intan hendak bicara, tetapi Lestari mengangkat tangan.

“Dengarkan.”

Ia jarang berbicara lama.

Karena itu semuanya benar-benar diam.

“Bayu, dulu kamu kirim uang terlalu banyak sampai saya kembalikan. Intan diam-diam bayar tagihan. Sari setiap libur mau datang membantu sampai suamimu pernah pulang sendiri. Dimas paling parah, apa saja mau dibelikan.”

Dimas tersenyum malu.

“Saya tidak butuh empat orang dewasa merasa harus membayar masa kecil seumur hidup.”

Tidak ada yang bercanda lagi.

“Dulu saya ingin kalian bisa berdiri sendiri. Sekarang kalian sudah bisa. Jadi berdirilah di rumah kalian masing-masing.”

Sari mulai menangis.

“Mbak…”

“Kalau mau datang, datang karena kangen. Kalau mau membantu, tanya dulu saya perlu atau tidak.”

Lestari menunjuk map.

“Dan kalau rumah ini nanti memang menjadi tanggung jawab saya, kalian tidak perlu setiap ada genteng bocor langsung kirim uang.”

Dimas berbisik, “Kalau atapnya benar-benar ambruk bagaimana?”

“Baru telepon.”

Mereka semua tertawa.

Suasana yang sejak kemarin berat akhirnya sedikit mengendur.

Beberapa bulan berikutnya diisi urusan yang tidak dramatis.

Ada dokumen yang harus dilengkapi.

Ada tanda tangan.

Ada pemeriksaan data.

Ada waktu menunggu.

Lestari tetap tinggal di rumah lama selama semuanya berjalan.

Ia masih menjahit, meski tidak sebanyak dahulu. Ia juga tidak lagi mengambil pekerjaan sawah seberat dulu karena lututnya mulai sering sakit.

Dimas beberapa kali mencoba mengirim tukang tanpa memberi tahu.

Pertama kali, Lestari menyuruh tukangnya pulang.

“Kenapa tukangnya dipulangkan?” Dimas menelepon.

“Karena pintu dapur saya belum rusak.”

“Katanya seret.”

“Masih bisa dibuka.”

“Mbak…”

“Kalau kamu ingin ganti sesuatu di rumah saya, tanya dulu.”

Dimas diam.

Dua detik kemudian ia tertawa.

“Sudah mulai merasa rumah sendiri, ya?”

Lestari menatap pintu dapur.

“Belum selesai prosesnya.”

“Tapi perintahnya sudah keluar.”

“Memangnya dari dulu saya tidak suka memerintah kamu?”

“Benar juga.”

Hubungan mereka tidak berubah menjadi lebih jauh setelah batas itu dibuat.

Anehnya, justru menjadi lebih ringan.

Bayu berhenti mengirim uang dalam jumlah besar tanpa bertanya.

Intan masih membayar biaya pemeriksaan kesehatan Lestari, tetapi sekarang mereka membicarakannya dulu.

Sari datang menginap ketika benar-benar punya waktu, bukan karena merasa wajib.

Dimas masih paling sulit diatur.

Namun setidaknya sekarang ia mengirim pesan sebelum mengirim barang.

Enam bulan kemudian, urusan rumah dan pekarangan utama selesai sesuai proses yang mereka jalani.

Hari Lestari menerima dokumen yang sudah diperbarui, tidak ada acara besar.

Tidak ada satu kampung.

Tidak ada pidato.

Hanya Bayu, Intan, Sari, Dimas, dan keluarga mereka yang berkumpul untuk makan siang.

Lestari menyimpan dokumen itu di lemari kayu dalam kamarnya.

Dimas berdiri di belakangnya.

“Tidak mau dibingkai?”

Lestari menoleh.

“Memangnya sertifikat foto keluarga?”

“Biar kelihatan.”

“Untuk apa?”

“Biar orang tahu.”

Lestari menutup lemari.

“Orang tidak perlu tahu semua.”

Dimas bersandar di kusen pintu.

“Dulu Mbak juga begitu. Semua disimpan sendiri.”

“Ini beda.”

“Sedikit.”

Lestari tidak membantah.

Sore itu, setelah semua cucu berlarian di halaman, Bayu membawa sebuah kotak kecil.

“Ini dari kami semua.”

Lestari langsung curiga.

“Apa lagi?”

“Murah.”

“Kalau kamu bilang murah biasanya tidak murah.”

“Benar-benar murah.”

Ketika dibuka, isinya hanya sebuah gantungan kunci kayu.

Tidak ada emas.

Tidak ada perhiasan.

Di satu sisi tertulis nama Lestari.

Di sisi lain ada lima nama kecil.

Hadi.

Bayu.

Intan.

Sari.

Dimas.

Lestari mengusap tulisan itu dengan ibu jari.

“Kenapa nama Hadi ikut?”

Sari menjawab, “Karena awalnya rumah ini juga rumah Mas.”

Tidak ada seorang pun bicara beberapa saat.

Foto Hadi masih tergantung di ruang depan.

Lestari tidak lagi menangis setiap kali melihatnya.

Dua puluh lima tahun terlalu panjang untuk hidup hanya dalam kesedihan.

Ia pernah marah kepada keadaan.

Pernah kesepian.

Pernah bertanya seperti apa hidupnya kalau memilih jalan lain.

Namun ia juga melihat Bayu yang kini mengajari cucunya memperbaiki kipas rusak.

Intan sedang menegur Dimas karena terlalu banyak memberi anak-anak makanan manis.

Sari membantu membereskan piring.

Dimas masih berbicara paling keras seperti ketika kecil.

Tidak ada satu pun dari mereka menjadi miliknya.

Mereka bukan anak kandungnya.

Mereka tidak pernah menggantikan anak yang tidak sempat ia miliki bersama Hadi.

Lestari juga tidak pernah meminta mereka melakukan itu.

Mereka tumbuh menjadi hubungan yang lain.

Hubungan yang dibangun lewat ribuan pagi biasa.

Lewat uang sekolah.

Lewat sepatu rusak.

Lewat atap bocor.

Lewat omelan.

Lewat keberangkatan ke terminal.

Lewat uang yang dikembalikan.

Lewat telepon yang kadang membuat kesal.

Dan lewat keputusan sederhana seorang perempuan berusia dua puluh dua tahun yang suatu malam berkata empat anak itu tetap tinggal di rumah mereka.

Beberapa minggu kemudian, seorang tetangga lama menghampiri Lestari saat ia sedang menyapu halaman.

Perempuan itu dulu termasuk orang yang paling sering mengatakan Lestari menyia-nyiakan masa muda.

“Sekarang rumahnya benar-benar sudah beres urusannya?”

Lestari mengangguk.

“Sudah.”

Tetangganya tersenyum canggung.

“Anak-anak itu hebat juga.”

“Mereka memang anak baik.”

“Dulu saya kira kalau sudah berhasil mereka akan lupa.”

Lestari berhenti menyapu.

“Mereka dulu anak-anak, Bu. Tidak adil kalau dari kecil sudah kita curigai akan jadi orang buruk.”

Tetangganya menunduk malu.

“Benar.”

Setelah beberapa detik, ia bertanya, “Kalau boleh tahu, dulu kamu benar-benar tidak takut? Empat anak. Kamu sendiri masih muda.”

Lestari memikirkan pertanyaan itu.

“Tentu takut.”

“Terus kenapa tetap tinggal?”

Lestari memandang ke dalam rumah.

Di dekat pintu ada lima pasang sandal tamu yang tertinggal dari akhir pekan sebelumnya. Dimas selalu lupa membawa pulang sandal anaknya.

“Waktu itu saya tidak sedang memutuskan hidup dua puluh lima tahun,” katanya.

“Saya cuma memutuskan apa yang harus dilakukan besok pagi.”

Tetangganya menunggu.

“Besok paginya mereka harus tetap bangun di rumah yang sama.”

Lestari kembali menyapu.

“Itu saja.”

Sore semakin turun.

Setelah tetangganya pulang, Lestari menutup pintu depan.

Dulu kunci rumah itu selalu diselipkan di atas kusen agar anak-anak bisa masuk kalau ia masih bekerja di sawah.

Ketika mereka mulai dewasa, satu per satu dibuatkan kunci sendiri.

Sekarang semuanya sudah mempunyai rumah masing-masing.

Lestari memasukkan kunci ke lubangnya lalu memutarnya.

Dari dalam rumah terdengar teleponnya berbunyi.

Nama Dimas muncul di layar.

Ia mengangkat.

“Mbak, sandal anak saya masih di sana?”

Lestari melihat sepasang sandal kecil di dekat pintu dan menggeleng sambil tersenyum.

“Dua puluh lima tahun sudah besar, tetap saja ada barangmu yang tertinggal di rumah.”

Menurutmu, apakah keputusan Lestari menerima rumah itu sudah tepat setelah memastikan hak semua anggota keluarga tetap terlindungi?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.