Baru Selesai Menguburkan Suamiku, Aku Menerima Pesan “Aku Belum Mati” dan Sejak Itu Keluarganya Mulai Memburuku

Avatar penulis
Cerita 01
18 menit baca 355 tayangan
Baru Selesai Menguburkan Suamiku, Aku Menerima Pesan “Aku Belum Mati” dan Sejak Itu Keluarganya Mulai Memburuku
Indeks

Bagian 2

Seno langsung berlari ke pintu samping.

Dua petugas mengejarnya.

Lestari tidak bergerak. Dia hanya memandangku dengan wajah yang untuk pertama kalinya kehilangan ketenangan.

Seorang petugas melepaskan ikatan di tanganku.

Nadia masuk beberapa detik kemudian bersama seorang polisi perempuan.

Begitu melihatnya, aku baru mengerti bagaimana mereka menemukanku.

Nadia sudah mencariku sejak aku tidak pulang dari minimarket. Dia melihat rekaman CCTV parkiran, melapor ke polisi, lalu menerima sinyal darurat dari cincinku melalui akun keamanan milik Arga.

“Bu Ratih, Anda luka?”

Aku menggeleng.

“Hanya tangan.”

Polisi membawa kami keluar.

Baru Selesai Menguburkan Suamiku, Aku Menerima Pesan “Aku Belum Mati” dan Sejak Itu Keluarganya Mulai Memburuku

Di halaman gudang, Seno sudah diborgol. Salah satu anak buahnya juga tertangkap. Yang lain ditemukan tidak jauh dari sungai.

Lestari akhirnya bicara.

“Ini salah paham.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Namun seorang penyidik memintaku tidak berdebat.

Aku dibawa untuk diperiksa dan dimintai keterangan.

Di situlah masalah pertama muncul.

Aku tidak bisa mengatakan seluruh kebenaran.

Kalau aku memberitahu bahwa Arga masih hidup dan keberadaannya diketahui terlalu banyak orang, aku takut orang yang belum tertangkap akan mencarinya.

Tetapi setelah Lestari ditahan sementara terkait penculikan dan ancaman, aku juga tahu kami tidak bisa terus menyembunyikan Arga.

Nadia menghubungi Pak Suroso.

Pagi harinya, Arga dipindahkan ke rumah sakit dengan pengamanan dan identitasnya dikonfirmasi.

Berita bahwa laki-laki yang baru saja dinyatakan hilang dan dianggap meninggal ternyata masih hidup menyebar cepat di keluarga.

Raka datang ke rumah sakit sebelum siang.

Dia berdiri di depan ranjang kakaknya dengan wajah pucat.

“Mas?”

Arga hanya memandangnya.

Raka menangis.

“Aku benar-benar kira Mas sudah meninggal.”

Aku mengamati suaranya.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidak tahu apakah aku sedang melihat orang bersalah atau seorang adik yang benar-benar tidak mengerti apa-apa.

Arga bertanya satu hal.

“Kamu tahu Ibu bertemu Pak Damar setelah kecelakaanku?”

Raka mengusap wajah.

“Aku tahu mereka sering ketemu.”

“Untuk apa?”

“Masalah penjualan gudang.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Gudang mana?”

“Gudang Bekasi dan tanah Cikarang.”

Arga menatapku.

Dua aset itulah yang beberapa kali ingin dibeli Damar.

Raka buru-buru berkata, “Ibu bilang setelah Mas meninggal, keluarga perlu menjual beberapa aset supaya usaha tidak kacau.”

“Aku belum mati sehari, dia sudah membicarakan penjualan?”

Raka tidak menjawab.

Aku meminta Nadia mengambil tas kerjaku.

Di dalamnya ada salinan foto buku catatan Arga serta rekaman percakapanku dengan Bram.

Arga mendengarkan rekaman itu sampai selesai.

“Bram juga ikut.”

“Sepertinya begitu.”

Polisi belum bisa menyimpulkan soal kecelakaan Arga hanya dari buku itu. Catatan pribadi bukan bukti tunggal yang cukup.

Tetapi buku tersebut memberi mereka titik untuk memeriksa aliran uang yang berkaitan dengan transaksi perusahaan yang secara sah dapat diakses Arga sebagai direktur.

Sorenya, Bram meneleponku.

Aku tidak mengangkat.

Dia mengirim pesan.

“Bu Ratih, sebaiknya kita selesaikan masalah keluarga tanpa memperbesar keadaan.”

Aku menunjukkan pesan itu kepada penyidik.

Malamnya, Raka datang lagi.

Kali ini tanpa menangis.

Dia membawa satu amplop.

“Aku menemukan ini di lemari Ibu.”

Arga tidak langsung mengambilnya.

“Kenapa kamu membawanya?”

“Karena ada namaku di dalam.”

Isi amplop itu adalah rancangan pembagian hasil penjualan dua gudang dan tanah Cikarang.

Damar mendapat hak pembelian dengan harga jauh di bawah penilaian terakhir.

Lestari menerima pembayaran terpisah melalui sebuah perusahaan.

Bram tercantum sebagai pihak yang akan mengurus dokumen.

Nama Raka ada di bagian penerima keuntungan.

Raka duduk lemas.

“Aku tidak pernah lihat ini sebelumnya.”

Arga menatapnya lama.

“Kalau kamu bohong sekarang, aku tidak akan melindungimu.”

“Aku tahu Ibu mau menjual aset,” jawab Raka. “Aku bahkan setuju karena dia bilang perusahaan punya utang. Tapi aku tidak tahu soal kecelakaan Mas. Aku bersumpah.”

Lalu dia mengeluarkan ponselnya.

“Ada satu hal lagi.”

Dia membuka percakapan WhatsApp dengan Lestari.

Tiga hari sebelum kecelakaan, Lestari menulis:

“Kalau urusan Arga sudah selesai, semua bisa jalan.”

Raka membalas:

“Maksud Ibu dia setuju jual?”

Tidak ada jawaban.

Satu kalimat itu tidak membuktikan pembunuhan.

Namun tiba-tiba semua bagian yang sebelumnya terpisah mulai menunjuk ke arah yang sama.

Arga menutup mata.

Kemudian dia berkata kepadaku, “Ratih, besok jangan pulang ke rumah itu.”

“Aku juga tidak berniat pulang.”

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku sadar rumah besar keluarga Pradana bukan lagi tempat yang aman.

Dan pagi berikutnya, polisi memberi tahu kami bahwa Damar Santoso tidak ada di rumahnya.

Mobilnya ditemukan di sebuah hotel dekat bandara.

Paspor dan beberapa dokumen perusahaan miliknya sudah tidak ada.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Damar belum tentu melarikan diri ke luar negeri.

Penyidik mengingatkan kami berkali-kali agar tidak membuat kesimpulan sendiri.

Namun satu fakta jelas.

Sejak Lestari ditangkap di gudang, Damar berhenti menjawab telepon.

Aku dan Arga tidak kembali ke rumah Pondok Indah.

Selama beberapa hari pertama setelah keluar dari rumah sakit, kami tinggal di apartemen sewaan yang alamatnya hanya diketahui Nadia, Pak Suroso, polisi yang menangani perkara, serta keluarga dekatku.

Arga masih berjalan pelan.

Lukanya mulai membaik, tetapi setiap kali mendengar suara rem kendaraan terlalu keras dari jalan, bahunya menegang.

Aku tidak bertanya.

Ada banyak hal yang belum bisa kami bicarakan.

Setelah hampir kehilangan seseorang, orang sering mengira rasa syukur akan menghapus semua ketakutan.

Tidak begitu.

Aku bersyukur Arga hidup.

Pada saat yang sama, aku marah karena selama berbulan-bulan dia menyelidiki kematian ayahnya tanpa mengatakan kepadaku betapa besar bahayanya.

Suatu malam aku menaruh makan malam di meja lalu bertanya, “Kapan kamu pertama kali curiga Ayahmu diracuni?”

Arga berhenti makan.

“Sekitar delapan bulan lalu.”

Aku menatapnya.

“Delapan bulan?”

“Aku belum punya bukti.”

“Itu bukan yang kutanya.”

Dia meletakkan sendok.

“Aku takut melibatkanmu.”

“Dan sekarang aku diculik.”

Arga menunduk.

Aku tidak berteriak.

Justru karena aku bicara pelan, dia tahu aku sangat marah.

“Kamu pikir dengan merahasiakan bahaya, aku jadi aman?”

“Aku salah.”

“Kalau kita mau keluar dari semua ini sebagai suami istri, jangan pernah lagi membuat keputusan seperti itu sendirian.”

Arga mengangguk.

Tidak ada pidato.

Tidak ada pelukan dramatis.

Kami menyelesaikan makan malam dalam diam.

Namun sejak malam itu, setiap dokumen yang dia terima, setiap perkembangan dari polisi, dan setiap keputusan tentang perusahaan dibicarakan denganku.

Itu batas pertama yang kutetapkan setelah semua yang terjadi.

Bukan terhadap Lestari.

Terhadap suamiku sendiri.

Karena aku mulai memahami sesuatu.

Masalah keluarga kami bukan hanya kejahatan besar yang dilakukan beberapa orang.

Masalah itu tumbuh bertahun-tahun dari kebiasaan menyimpan rahasia, menganggap seseorang berhak memutuskan untuk orang lain, dan membiarkan satu anggota keluarga mengontrol informasi karena semua orang takut membuat keributan.

Lestari hanya membawa kebiasaan itu sampai batas yang mengerikan.

Sementara penyidikan penculikan berjalan, Arga menghubungi kantor pusat perusahaan.

Usaha keluarga Pradana sebenarnya tidak sebesar yang sering dibayangkan orang setelah melihat rumah mereka.

Mereka memiliki bisnis distribusi bahan bangunan, tiga gudang, beberapa kendaraan operasional, dan lahan yang nilainya meningkat tajam setelah kawasan industri berkembang.

Hendra membangunnya selama puluhan tahun.

Setelah Hendra meninggal, saham perusahaan dibagi berdasarkan dokumen yang sudah dibuat sebelumnya.

Arga memegang bagian terbesar sekaligus menjadi direktur.

Lestari dan Raka memiliki bagian lebih kecil.

Masalahnya, selama Arga dianggap meninggal, Lestari mencoba bergerak cepat.

Dia mengatakan kepada beberapa pegawai senior bahwa untuk sementara keputusan bisnis akan melewati dirinya dan Bram.

Untungnya, tidak ada penjualan aset yang sempat selesai.

Arga mengadakan rapat melalui video bersama manajer keuangan dan kepala operasional.

“Aku belum minta siapa pun memilih pihak,” katanya. “Aku cuma minta satu hal. Mulai hari ini, tidak ada pembayaran besar, perubahan data rekening, atau proses penjualan aset tanpa prosedur tertulis sesuai kewenangan perusahaan.”

Dia juga menonaktifkan akses administratif yang sebelumnya digunakan Lestari untuk beberapa urusan kantor.

Bukan rekening pribadinya.

Bukan saham miliknya.

Hanya akses perusahaan yang tidak lagi layak dia pegang setelah ditemukan konflik kepentingan dan transaksi yang sedang diperiksa.

Aku melihat perbedaannya.

Arga tidak mencoba merebut semuanya.

Dia hanya berhenti membiarkan hubungan keluarga menggantikan aturan.

Dua hari kemudian, manajer keuangan membawa catatan yang membuat penyidikan berkembang.

Selama hampir satu tahun, ada pembayaran berulang dari salah satu perusahaan pemasok yang dikendalikan Damar kepada tiga perusahaan kecil.

Salah satunya berhubungan dengan kerabat seorang pegawai lama milik Damar.

Dari sana, polisi menemukan jalur pembayaran menuju beberapa orang, termasuk Seno.

Tidak semua transaksi berarti kejahatan.

Namun tanggalnya penting.

Salah satu pembayaran kepada pihak yang berhubungan dengan Seno terjadi dua hari sebelum kecelakaan Arga.

Pembayaran lain muncul beberapa minggu sebelum Hendra jatuh sakit dan meninggal.

Untuk kematian Hendra, bukti masih jauh lebih rumit.

Sudah dua tahun berlalu.

Tidak ada satu buku catatan yang bisa tiba-tiba membuktikan seseorang diracun.

Polisi memeriksa rekam medis lama, orang-orang yang berada di rumah saat Hendra sakit, serta transaksi yang berkaitan dengan hari-hari terakhirnya.

Kami harus menerima bahwa bagian itu mungkin membutuhkan waktu lama.

Namun untuk percobaan terhadap Arga, polisi mendapat perkembangan yang jauh lebih konkret.

Seno mulai bicara.

Bukan karena tiba-tiba menyesal.

Karena dia menyadari orang-orang yang membayar dirinya sudah berusaha menghilang dan mungkin akan membiarkannya menanggung semuanya.

Menurut keterangan yang kemudian disampaikan kepada Arga melalui penyidik, Seno menerima uang untuk mengatur agar mobil Arga mengalami kerusakan pada jalur yang sudah diperkirakan.

Dia tidak menyentuh mobil sendiri.

Seorang montir yang punya hubungan dengan kelompoknya menerima uang untuk mengubah komponen tertentu sebelum perjalanan Arga.

Polisi lalu memeriksa bengkel yang pernah menangani mobil itu.

Ada rekaman administrasi kunjungan.

Ada transaksi pembayaran.

Ada seorang pegawai yang mengaku melihat orang di luar daftar pelanggan datang ke area servis setelah jam kerja.

Tidak ada satu bukti sempurna.

Tetapi ketika semuanya diletakkan berdampingan, ceritanya tidak lagi bergantung pada dugaan Arga.

Nama Damar semakin sering muncul.

Nama Lestari juga muncul.

Bram mulai menjaga jarak.

Dia menyerahkan diri untuk diperiksa melalui pengacaranya sendiri dan mengklaim tidak pernah mengetahui rencana mencelakai siapa pun.

Menurut Bram, dia hanya diminta membantu mempercepat pengurusan aset setelah Arga dianggap meninggal.

Aku tidak tahu seberapa banyak yang dia katakan benar.

Namun rekaman percakapannya denganku menjadi masalah tersendiri.

Dalam rekaman itu, dia bukan hanya meminta tanda tangan.

Dia memberi tekanan ketika aku menolak.

Polisi juga menemukan komunikasi antara Bram dan Lestari mengenai rancangan kuasa yang sudah dipersiapkan bahkan sebelum pencarian Arga dihentikan.

Itu tidak otomatis membuktikan Bram mengetahui rencana pembunuhan.

Tapi cukup untuk membuat ceritanya bahwa dia hanya “membantu janda yang sedang berduka” terdengar semakin sulit dipercaya.

Suatu sore, Raka datang ke apartemen.

Aku sempat tidak ingin membukakan pintu.

Arga berkata, “Aku mau dengar dia.”

Aku membiarkan Raka masuk.

Dia terlihat seperti tidak tidur beberapa malam.

“Aku sudah dimintai keterangan lagi,” katanya.

Arga menunjuk kursi.

Raka duduk.

Untuk beberapa menit tidak ada yang bicara.

Akhirnya Raka berkata, “Mas masih percaya aku tidak tahu soal kecelakaan?”

Arga menjawab, “Aku belum tahu apa yang harus kupercaya.”

Raka mengangguk kecil.

“Aku juga tidak tahu apakah aku pantas minta dipercaya.”

Kemudian dia mulai menceritakan hal-hal yang selama ini dia anggap biasa.

Setelah ayah mereka meninggal, Lestari sering mengatakan Arga terlalu menguasai perusahaan.

Menurutnya, Hendra selalu lebih percaya pada anak pertama.

Lestari terus menanamkan gagasan bahwa Raka hanya akan mendapat “sisa” kalau tidak mulai memperjuangkan haknya.

“Aku marah sama Mas,” kata Raka. “Aku pikir Mas memang sengaja menahan penjualan aset karena tidak mau aku dapat uang.”

“Kenapa tidak bicara langsung denganku?”

Raka tertawa pendek tanpa kegembiraan.

“Karena Ibu selalu bilang percuma.”

Arga diam.

“Aku setuju saat Ibu bilang dua gudang harus dijual,” lanjut Raka. “Dia bilang hasilnya bisa dipakai membayar utang dan sebagian jadi modal usaha baru buatku.”

“Kamu pernah periksa utangnya?”

Raka menggeleng.

“Tidak.”

“Jadi kamu setuju menjual aset perusahaan karena Ibu bilang kita butuh uang?”

“Iya.”

Arga menghela napas.

“Dan itu yang membuatku paling marah padamu.”

Raka menatap kakaknya.

“Bukan karena kamu mau uang. Tapi karena kamu membiarkan orang lain membuatmu percaya bahwa satu-satunya cara mendapat bagian adalah berharap aku tidak menghalangi lagi.”

Raka memejamkan mata.

“Ibu bilang Mas tidak akan pernah memberi aku ruang.”

“Dan kamu percaya?”

“Aku ingin percaya.”

Kalimat itu membuat ruangan sunyi.

Bukan karena mengejutkan.

Karena jujur.

Kadang seseorang tidak tertipu karena kebohongannya sempurna.

Dia tertipu karena kebohongan itu mengatakan sesuatu yang sudah ingin dia dengar.

Raka ingin percaya kakaknya egois.

Dengan begitu, dia tidak perlu bertanya mengapa pada umur tiga puluh tahun dia masih menunggu ibunya menentukan masa depannya.

“Aku tidak terlibat dalam kecelakaan Mas,” katanya. “Tapi aku juga tidak bisa bilang aku sama sekali tidak ikut membuat semua ini mungkin.”

Arga tidak memaafkannya saat itu.

Dia hanya berkata, “Kalau polisi minta keterangan, bilang semua yang kamu tahu. Jangan lindungi Ibu. Jangan lindungi aku. Jangan lindungi perusahaan.”

Raka mengangguk.

Sebelum pulang, dia menyerahkan kunci rumah Pondok Indah yang selama ini dipegangnya.

“Untuk apa?”

“Aku mau tinggal di tempat lain dulu.”

“Itu rumah Ibu juga.”

“Aku tahu. Aku bukan menyerahkan kepemilikannya. Aku cuma tidak mau keluar-masuk dan mengambil barang seolah tidak terjadi apa-apa.”

Aku melihat wajah Arga sedikit berubah.

Bukan lunak.

Hanya tidak lagi sekeras sebelumnya.

Perubahan yang sebenarnya sering terlihat begitu.

Kecil.

Tidak menyelesaikan apa pun.

Tetapi menunjukkan seseorang akhirnya memahami bahwa kata maaf tanpa tindakan hanya menambah suara di ruangan.

Seminggu kemudian, Damar ditemukan.

Dia belum keluar dari Indonesia.

Polisi menahannya di sebuah rumah sewaan di Jawa Tengah setelah melacak kendaraan yang digunakan salah satu orang dekatnya.

Ketika berita itu sampai kepada kami, aku tidak merasakan kemenangan.

Aku justru duduk di ujung tempat tidur dan memandangi cincin kawinku.

Selama beberapa hari aku membayangkan saat orang-orang itu ditangkap akan terasa seperti pintu besar terbuka dan semua ketakutan keluar sekaligus.

Ternyata tidak.

Aku tetap memeriksa kaca spion ketika naik mobil.

Aku tetap menelepon ibuku dua kali sehari.

Aku tetap terbangun ketika Arga bergerak terlalu cepat di sampingku.

Tubuh manusia tidak membaca berita penangkapan lalu berkata, baiklah, sekarang aman.

Arga duduk di sampingku.

“Damar ditahan.”

“Aku tahu.”

“Kamu tidak kelihatan lega.”

“Aku lega.”

Aku memutar cincin itu satu kali.

“Cuma belum selesai.”

Dia tidak berkata, “Semua akan baik-baik saja.”

Untungnya.

Aku sedang tidak membutuhkan janji yang tidak bisa dia pastikan.

Aku membutuhkan dia duduk di situ.

Jadi dia duduk.

Beberapa hari berikutnya diisi pemeriksaan, dokumen, dan rapat.

Aku mulai lelah mendengar kata aset, rekening, transaksi, surat kuasa, dan penyidikan.

Namun ada satu urusan yang harus kuselesaikan sendiri.

Aku kembali ke rumah Pondok Indah bersama polisi untuk mengambil barang-barang pribadiku dan Arga.

Rumah itu jauh lebih sepi.

Bunga-bunga pemakaman sudah dibuang.

Foto besar Arga masih berdiri di ruang tengah.

Aku berhenti di depannya.

Di foto itu dia tersenyum.

Suamiku berdiri dua meter di belakangku, hidup, dengan bekas luka masih terlihat di pelipis.

“Aneh ya,” katanya.

Aku mengangguk.

“Aku benci foto itu.”

Arga hendak menurunkannya.

“Jangan.”

Dia menatapku.

“Biar aku.”

Aku mengangkat bingkainya sendiri dan membawanya ke ruang penyimpanan.

Bukan karena aku ingin melupakan hari itu.

Aku hanya tidak ingin rumah kami, di mana pun nanti kami tinggal, menyimpan potret seorang suami yang hampir berhasil dibuat menjadi orang mati.

Di kamar, aku membuka lemari.

Pakaian Lestari masih ada.

Kosmetiknya masih tertata.

Tidak semuanya milik kami.

Rumah itu secara hukum adalah salah satu harta keluarga yang kepemilikannya tidak bisa diperlakukan seolah hanya milik Arga.

Karena itu kami tidak mengganti semua kunci atau mengusir barangnya.

Kami hanya mengambil milik kami dan pergi.

Sebelum keluar, aku berhenti di ruang kerja Arga.

Buku bersampul kain abu-abu tidak lagi ada di rak.

Sudah menjadi bagian dari barang bukti yang diperiksa.

Rak kosong itu tampak sangat biasa.

Padahal dari sanalah semua mulai berubah.

Di luar rumah, Raka menunggu.

Dia datang untuk mengambil beberapa pakaian.

Arga menyerahkan kunci cadangan.

“Kalau kamu perlu masuk, kabari pengelola rumah.”

Raka menerima.

“Mas…”

Arga menunggu.

“Kalau semua ini selesai, kita masih bisa jadi saudara?”

Arga tidak menjawab cepat.

“Aku tidak tahu.”

Raka menunduk.

“Tapi kalau kamu benar-benar mau memperbaiki sesuatu,” lanjut Arga, “mulai dari hidupmu sendiri. Jangan tunggu Ibu, jangan tunggu aku.”

Raka mengangguk.

Itu saja.

Beberapa minggu setelahnya, perkara mulai bergerak lebih jelas.

Lestari tetap membantah memerintahkan kecelakaan Arga.

Dia mengakui memerintahkan orang membawa aku ke gudang, tetapi melalui pengacaranya dia menyebutnya sebagai usaha “membawa anggota keluarga untuk bicara”.

Tidak ada satu pun dari kami yang menganggap penjelasan itu masuk akal.

Terutama setelah ancaman terhadap ibuku tercatat dalam keteranganku dan diperkuat beberapa hal lain dalam penyidikan.

Seno memberikan keterangan lebih rinci mengenai komunikasi dengan Damar.

Damar membantah banyak bagiannya.

Proses hukum belum selesai dan kami tahu hasil akhirnya akan ditentukan lewat prosedur yang panjang, bukan satu adegan dramatis.

Untuk pertama kalinya, aku justru merasa nyaman dengan lambatnya proses itu.

Aku tidak ingin kebenaran bergantung pada siapa yang paling keras berbicara.

Aku ingin dokumen diperiksa.

Orang ditanya satu per satu.

Rekening ditelusuri sesuai kewenangan.

Kesaksian dibandingkan.

Aku sudah terlalu lama hidup di tengah keluarga yang menyelesaikan sesuatu melalui bisikan di ruang makan.

Sekarang aku ingin semuanya berada di tempat yang seharusnya.

Tentang kematian Hendra, perkembangan paling sulit datang dua bulan kemudian.

Polisi menemukan bahwa beberapa minggu sebelum meninggal, Hendra sempat mengeluh kepada Pak Suroso bahwa minuman yang biasa disiapkan di rumah beberapa kali terasa aneh.

Pak Suroso tidak pernah menganggapnya penting.

Dokter yang menangani Hendra saat itu mencatat beberapa gejala yang kini dianggap perlu diperiksa ulang.

Namun tanpa bukti fisik yang memadai, penyidik tidak pernah menjanjikan kepada kami bahwa perkara itu akan menghasilkan kesimpulan yang sama kuatnya dengan kasus Arga.

Arga kecewa.

Aku tahu dia ingin sebuah jawaban pasti.

Suatu malam dia berkata, “Kalau aku tidak bisa membuktikan apa yang terjadi pada Ayah, rasanya aku gagal.”

“Kamu bukan penyidik.”

“Aku anaknya.”

“Justru karena itu kamu tidak boleh memikul semuanya sendiri.”

Dia menatap meja.

“Aku terlambat.”

“Untuk apa?”

“Melihat siapa Lestari sebenarnya.”

Aku duduk di seberangnya.

“Waktu ayahmu meninggal, kamu sedang kehilangan orang tua. Jangan ubah semua kesedihan itu menjadi bukti bahwa kamu seharusnya lebih pintar dari semua orang.”

Dia diam cukup lama.

Lalu dia mengangguk.

Kami tidak pernah mendapat jawaban yang rapi untuk semua hal.

Dan ternyata hidup masih bisa berjalan meski satu bagian cerita tidak menutup sempurna.

Yang kami dapat adalah sesuatu yang lebih penting.

Kebenaran tentang apa yang terjadi pada Arga.

Kebenaran tentang upaya mengambil kendali atas aset setelah dia dianggap meninggal.

Kebenaran tentang orang-orang yang menggunakan rasa duka sebagai kesempatan.

Kebenaran tentang bagaimana keluarga kami selama bertahun-tahun membiarkan Lestari menjadi pusat informasi sampai hampir tidak ada yang berani memeriksa ucapannya.

Tiga bulan setelah malam di gudang, aku dan Arga pindah ke rumah yang jauh lebih kecil.

Bukan karena kami kehilangan rumah.

Kami hanya tidak ingin kembali ke Pondok Indah.

Rumah baru kami memiliki dua kamar tidur, halaman sempit, dan dapur yang kalau dua orang berdiri bersamaan harus saling bergeser.

Aku menyukainya.

Tidak ada pegawai perusahaan keluar-masuk.

Tidak ada rapat keluarga mendadak.

Tidak ada lemari berisi dokumen yang semua orang merasa berhak membuka.

Untuk sementara, Nadia tetap bekerja dengan Arga. Namun tugasnya dipersempit dan sistem perusahaan diperbaiki supaya tidak ada satu orang pun memegang akses terlalu banyak hanya karena dianggap “orang kepercayaan”.

Arga juga menunjuk auditor eksternal untuk memeriksa beberapa transaksi lama.

Raka tidak lagi menerima uang rutin di luar pembagian resmi yang menjadi haknya.

Dia menyewa kamar dekat tempat kerja barunya dan mulai bekerja di perusahaan distribusi lain.

Bukan perusahaan keluarga.

Suatu hari dia mengirim foto kartu pegawai kepada Arga.

Tidak ada pesan panjang.

Hanya:

“Aku mulai Senin.”

Arga membalas:

“Kerja yang benar.”

Aku tersenyum ketika membacanya.

Hubungan mereka belum pulih.

Tetapi setidaknya mereka sudah berhenti berpura-pura hubungan yang rusak bisa diperbaiki dengan makan malam keluarga dan kalimat “sudahlah, kita saudara”.

Lestari tidak pernah meminta maaf kepadaku.

Setidaknya tidak selama masa yang kuceritakan ini.

Melalui pengacaranya, dia pernah menyampaikan bahwa dirinya sedang berada di bawah tekanan dan hanya ingin melindungi masa depan Raka.

Aku membaca kalimat itu satu kali.

Lalu menyimpan suratnya bersama dokumen perkara.

Aku tidak membalas.

Menjadi seorang ibu tidak membuat seseorang berhak menghancurkan anak orang lain demi anaknya sendiri.

Dan melindungi keluarga tidak pernah membutuhkan penculikan seorang menantu di gudang.

Aku tidak membutuhkan pengakuannya supaya tahu apa yang harus kulakukan.

Aku hanya membutuhkan jarak.

Arga pernah bertanya apakah suatu hari nanti, kalau proses hukum sudah selesai, aku bersedia duduk satu ruangan dengan Lestari jika Raka meminta.

Aku menjawab jujur.

“Aku tidak tahu.”

Dia mengangguk.

Tidak memaksa.

Dulu kami mungkin akan mencari jawaban yang membuat semua orang nyaman.

Sekarang kami belajar bahwa beberapa keputusan boleh menunggu sampai orang yang terluka benar-benar siap.

Enam bulan setelah pemakaman kosong itu, pagi kami jauh lebih biasa.

Aku bangun lebih dulu.

Arga sedang menyeduh kopi di dapur.

Aku bersandar di pintu sambil melihatnya.

“Apa?”

“Tidak apa-apa.”

“Kamu menatap.”

“Dulu waktu semua orang bilang kamu sudah mati, aku paling ingat kamu bikin kopi.”

Dia diam sebentar.

Kemudian mendorong satu cangkir ke arahku.

“Berarti sekarang aku harus bikin setiap pagi?”

“Jangan besar kepala.”

Dia tertawa.

Suara itu sederhana.

Tidak ada polisi.

Tidak ada dokumen.

Tidak ada orang mengejar kami.

Hanya suara sendok mengenai sisi cangkir.

Sebelum pergi bekerja, Arga mengambil kunci mobil dari meja.

Aku melihat tangannya berhenti.

Selama beberapa bulan dia selalu memilih naik bersama sopir.

Hari itu dia memegang kunci cukup lama.

“Mau aku antar?” tanyaku.

Dia menggeleng.

“Aku mau coba sendiri.”

Aku tidak mengatakan dia harus berani.

Aku juga tidak mengatakan jangan takut.

Aku hanya mengambil tas dan berjalan bersamanya ke luar.

Dia membuka pintu mobil.

Memeriksa rem.

Duduk.

Menyalakan mesin.

Aku berdiri di halaman ketika mobil bergerak perlahan keluar.

Sebelum gerbang menutup, Arga menurunkan kaca dan mengangkat tangan.

Aku membalas.

Kemudian aku kembali ke dalam.

Di meja dekat pintu, kunci rumah tidak lagi diletakkan di mangkuk besar yang dulu dipakai seluruh keluarga.

Ada dua kunci.

Satu milikku.

Satu milik Arga.

Aku mengambil kunciku, mengunci pintu dari dalam, lalu memulai hari.

Menurutmu, setelah semua yang terjadi, apakah Ratih benar menjaga jarak dari Lestari meski hubungan Arga dan Raka perlahan membaik?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.