Aku Kembali ke Dealer untuk Mengambil Foto Anakku—Lalu Menemukan Manajerku Sedang Menghapus Penjualanku dari Sistem

Avatar penulis
Cerita 04
23 menit baca 850 tayangan
Aku Kembali ke Dealer untuk Mengambil Foto Anakku—Lalu Menemukan Manajerku Sedang Menghapus Penjualanku dari Sistem
Indeks

Aku Kembali ke Dealer untuk Mengambil Foto Anakku—Lalu Menemukan Manajerku Sedang Menghapus Penjualanku dari Sistem

Aku kembali ke dealer hanya untuk mengambil foto anakku yang tertinggal di meja kerja.

Namun ketika sampai di sana, aku melihat atasanku sedang bersulang dengan beberapa staf sambil menghapus transaksi penjualanku dari sistem.

Lalu aku mendengar dia berkata,

“Dia sudah memanipulasi pembagian pelanggan. Besok kita pecat dia.”

Aku tidak menangis.

Aku tidak masuk dan membuat keributan.

Aku hanya mengeluarkan ponsel, menyalakan kamera, lalu merekam semuanya dalam diam.

Tetapi ketika aku melihat layar komputer di mejanya, darahku seperti berhenti mengalir.

Ada tujuh belas panggilan ke dealer lain.

Dan semuanya berkaitan dengan namaku.

BAGIAN 1 — Pria dengan Sepatu Lumpur yang Ditertawakan Semua Orang

Ketika Pak Harun Santoso memasuki sebuah dealer mobil besar di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, tiga orang sales langsung saling melirik sambil menahan tawa.

Pak Harun membawa sebuah kotak pendingin ikan di satu tangan dan tas lusuh di tangan lainnya.

Celana panjangnya sederhana.

Sepatunya masih sedikit berlumpur.

Topi kain yang dikenakannya terlihat sudah bertahun-tahun dipakai.

Di tengah showroom berlantai mengilap, dipenuhi mobil baru dan orang-orang berpenampilan rapi, kehadirannya terasa sangat mencolok.

Hanya satu orang yang berdiri menyambutnya.

Aku.

Namaku Nadira Prameswari.

“Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”

Sebelum Pak Harun menjawab, suara atasanku terdengar dari meja bagian belakang.

Namanya Rudi Hartono, kepala cabang dealer itu.

Dengan suara cukup keras agar seluruh ruangan mendengar, dia berkata,

“Kalau bapak itu sampai beli mobil hari ini, besok saya ikut dia jualan ikan di Muara Angke.”

Beberapa orang tertawa.

Tidak keras.

Tetapi cukup untuk membuat suasana menjadi tidak nyaman.

Aku pura-pura tidak mendengarnya.

Pak Harun juga tidak bereaksi.

Usianya sekitar enam puluh empat tahun. Kulit tangannya gelap dan kasar, seperti seseorang yang sudah menghabiskan sebagian besar hidupnya bekerja di bawah matahari.

“Ada mobil yang cocok buat angkut barang, Mbak?” tanyanya.

“Tentu, Pak.”

Aku membawanya melihat sebuah kendaraan niaga ringan.

Aku tidak langsung membicarakan harga.

Aku bertanya lebih dulu.

Barang apa yang biasa dia bawa?

Berapa kilometer perjalanan setiap hari?

Apakah mobil akan dipakai masuk pasar?

Berapa berat muatan rata-rata?

Apakah dia memerlukan ruang untuk kotak pendingin?

Pak Harun menjawab satu per satu.

Dia bercerita bahwa sejak muda dirinya bekerja sebagai pemasok ikan. Setiap dini hari dia pergi ke tempat pelelangan, kemudian mengirim barang ke restoran, warung seafood, dan beberapa pasar di Jakarta.

Mobil lamanya sudah sering bermasalah.

Mesinnya cepat panas.

Biaya perawatan semakin besar.

Aku mendengarkan.

Aku menjelaskan kapasitas muatan, konsumsi bahan bakar, garansi, biaya servis, sampai pilihan kredit untuk usaha kecil.

Hampir empat puluh menit kami berbicara.

Pak Harun akhirnya menutup brosur yang dipegangnya.

“Saya pikir-pikir dulu, Mbak.”

Aku tersenyum.

“Tidak masalah, Pak. Ini kartu nama saya. Kalau ada pertanyaan, silakan hubungi kapan saja.”

Aku tidak mengejarnya.

Tidak memaksa meminta uang muka.

Tidak mengatakan bahwa promo akan “habis hari ini” seperti trik yang sering digunakan beberapa sales.

Pak Harun mengangguk.

“Terima kasih. Kamu sabar.”

“Sudah tugas saya, Pak.”

Dia berjalan keluar.

Saat itu aku tidak tahu bahwa beberapa meter dari pintu dealer, Pak Harun berhenti di dekat mobil lamanya.

Dia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari tasnya.

Kemudian menulis satu nama.

Nadira Prameswari.

Lima menit setelah Pak Harun pergi, Rudi memanggilku ke ruangannya.

Begitu pintu tertutup, dia langsung melempar pulpen ke atas meja.

“Kamu baru saja membuang empat puluh menit.”

Aku menatapnya.

“Tidak ada pelanggan lain yang menunggu saya selama itu, Pak.”

“Bukan itu masalahnya.”

“Lalu apa?”

Rudi bersandar di kursinya.

“Belajar membaca orang, Nadira.”

Aku diam.

Dia menunjuk ke arah pintu showroom.

“Orang seperti tadi datang cuma untuk lihat-lihat. Sepatunya saja seperti habis masuk tambak.”

Aku mulai memahami arah pembicaraan itu.

“Bapak belum tahu kemampuan finansialnya.”

Rudi tertawa kecil.

“Saya sudah lima belas tahun di bisnis ini. Saya tahu mana orang yang bisa beli mobil dan mana yang cuma ingin merasakan AC showroom.”

Aku menahan napas.

“Kalau dia masuk sebagai pelanggan, tugas saya melayaninya.”

Wajah Rudi berubah.

“Jangan mengajari saya cara menjalankan cabang ini.”

“Saya tidak bermaksud begitu.”

“Bagus.”

Dia mencondongkan tubuh.

“Karena di sini kita bekerja untuk menjual mobil. Bukan membuka kegiatan sosial.”

Tanganku mengepal di bawah meja.

Aku sangat ingin membalas.

Tetapi bayangan anakku langsung muncul di kepala.

Namanya Rafa.

Usianya tujuh tahun.

Aku membesarkannya sendiri sejak pernikahanku berakhir tiga tahun sebelumnya.

Gaji pokokku tidak besar.

Komisi penjualanlah yang membayar cicilan rumah kontrakan, sekolah Rafa, listrik, kebutuhan sehari-hari, dan tabungan darurat yang hampir tidak pernah bertambah.

Aku tidak punya kemewahan untuk melempar surat pengunduran diri ke wajah Rudi.

Jadi aku hanya berkata,

“Saya mengerti, Pak.”

Aku pikir persoalan selesai di sana.

Ternyata aku salah.

Dua hari kemudian, laporan komisi bulanan keluar.

Angkaku berkurang hampir dua puluh persen.

Aku langsung menemui bagian administrasi.

“Mbak Sinta, ini kenapa?”

Dia terlihat canggung.

“Perintah Pak Rudi.”

“Alasannya?”

Sinta menurunkan suara.

“Evaluasi produktivitas.”

Aku merasa tengkukku panas.

Dua puluh persen mungkin terdengar kecil bagi Rudi.

Bagiku, itu berarti harus menghitung ulang semuanya.

Uang les Rafa mungkin harus dihentikan.

Belanja bulanan harus dipangkas.

Rencana memperbaiki motor harus ditunda lagi.

Malam itu aku duduk di meja makan setelah Rafa tidur.

Di depanku ada kalkulator, buku pengeluaran, dan secangkir kopi yang sudah dingin.

Aku menghitung angka yang sama tiga kali.

Hasilnya tetap sama.

Aku harus menghemat hampir semua hal yang bukan kebutuhan pokok.

Tetapi hukuman Rudi tidak berhenti pada komisi.

Perlahan-lahan, dia mulai mengatur siapa mendapat pelanggan tertentu.

Setiap ada pengusaha berpakaian mahal masuk, Rudi langsung memanggil sales kesayangannya.

Kalau ada keluarga yang datang dengan mobil mewah, mereka diarahkan kepada Dian atau Bayu.

Kalau seseorang datang meminta kendaraan perusahaan, Rudi sendiri yang menentukan siapa menanganinya.

Lalu siapa yang diberikan kepadaku?

Pensiunan.

Pasangan muda yang mencari mobil bekas.

Orang-orang yang mengaku “baru survei”.

Pengemudi ojek online yang bertanya soal cicilan.

Pemilik warung.

Pedagang pasar.

Orang-orang yang datang memakai sandal.

Rudi mungkin mengira aku tidak sadar.

Aku sadar.

Semua orang sadar.

Dian bahkan mulai berani bercanda ketika aku berjalan melewati mejanya.

“Dir, ada calon pelanggan kamu tuh.”

Aku menoleh.

Seorang pria tua sedang membaca brosur mobil bekas.

Dian tersenyum sinis.

“Kelihatannya cocok sama segmen kamu.”

Beberapa orang tertawa.

Aku tidak menjawab.

Sebaliknya, malam-malamku mulai berubah.

Setelah Rafa tidur, aku membuka laptop.

Aku mempelajari pembiayaan kendaraan untuk UMKM.

Kontrak pembelian armada.

Skema diskon kuantitas.

Perawatan kendaraan komersial.

Pajak perusahaan.

Asuransi kendaraan operasional.

Bahkan aku membuat tabel sendiri untuk membandingkan biaya operasional beberapa model.

Kalau Rudi bisa mengambil pelanggan dariku, dia tidak bisa mengambil apa yang sudah kupelajari.

Tiga minggu kemudian, sesuatu terjadi.

Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun datang mengenakan kemeja putih sederhana.

Dia memperkenalkan diri sebagai pemilik perusahaan distribusi makanan.

Dia membutuhkan enam kendaraan sekaligus.

Begitu mendengar kata “enam”, Rudi hampir berlari dari ruangannya.

Dia bahkan tidak membiarkanku mendekat.

“Bayu!”

Bayu langsung berdiri.

“Tangani Pak Dedi.”

Aku hanya melihat dari meja.

Mereka berbicara hampir satu jam.

Tetapi dari ekspresi calon pelanggan itu, aku tahu ada yang tidak beres.

Beberapa kali dia mengernyit.

Bayu membuka dokumen.

Menutupnya lagi.

Pergi bertanya kepada administrasi.

Kembali.

Kemudian pergi bertanya kepada Rudi.

Saat Pak Dedi menanyakan jadwal pengiriman enam unit sekaligus, Bayu tidak dapat memberi jawaban pasti.

Saat ditanya tentang harga khusus pembelian armada, dia memberikan angka yang berbeda dari brosur perusahaan.

Lalu ketika calon pelanggan menanyakan program servis untuk kendaraan operasional, Bayu malah menawarkan paket aksesoris.

Aku hampir tidak percaya.

Semua hal yang kutekuni selama tiga minggu terakhir justru tidak dipahami oleh orang yang diberi kesempatan terbesar.

Akhirnya Pak Dedi berdiri.

“Baik. Saya pertimbangkan dulu. Saya mau bandingkan dengan dealer lain.”

Dia pergi.

Enam mobil.

Hilang.

Senin berikutnya, Rudi mengadakan briefing.

Semua staf berdiri di tengah showroom.

Wajahnya keras.

“Kita kehilangan satu transaksi besar minggu lalu.”

Tidak ada yang bicara.

“Enam unit.”

Dia berjalan perlahan di depan kami.

“Dan tahu kenapa?”

Aku melirik Bayu.

Anehnya, Rudi bahkan tidak melihatnya.

Sebaliknya, pandangannya berhenti padaku.

“Karena sebagian dari kita belum paham prioritas.”

Aku mengernyit.

“Kalau waktu dan energi tim habis untuk melayani jenis pelanggan yang salah, peluang nyata bisa terlewat.”

Aku hampir tertawa karena tidak percaya.

Dia sedang menyalahkanku.

Untuk pelanggan yang bahkan tidak boleh kutangani.

Rudi melanjutkan,

“Sales hebat harus tahu siapa yang pantas dikejar.”

Ruangan sunyi.

Sampai sebuah suara terdengar dari belakang.

Pak Bowo, sales paling senior di cabang kami, mengangkat kepala.

Usianya hampir lima puluh delapan tahun dan dia sudah bekerja di industri otomotif jauh sebelum Rudi menjadi manajer.

“Pak Rudi.”

Rudi berhenti.

“Apa?”

Pak Bowo menatapnya.

“Mungkin justru masalah kita adalah cuma Nadira yang memperlakukan semua orang seperti pelanggan sungguhan.”

Ruangan mendadak terasa membeku.

Tidak ada yang berani bergerak.

Wajah Rudi berubah.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi aku melihatnya.

Dan saat itulah aku memahami sesuatu.

Ini bukan lagi soal performaku.

Bukan soal empat puluh menit yang kuhabiskan bersama seorang pedagang ikan.

Bukan pula soal angka penjualan.

Rudi sedang berusaha mengecilkanku.

Mengisolasi aku.

Membuat catatan pekerjaanku terlihat buruk.

Dan mungkin akhirnya membuatku pergi.

Pertanyaannya hanya satu.

Kenapa?

Aku mendapatkan jawabannya beberapa hari kemudian.

Malam itu aku sudah pulang dan hampir sampai rumah ketika Rafa menelepon dari tempat ibuku.

“Bunda.”

“Iya, Sayang?”

“Foto aku yang di meja Bunda masih di kantor, ya?”

Aku terdiam.

Foto itu adalah foto Rafa saat pertama kali mengenakan seragam sekolah.

Satu-satunya foto yang selalu kupasang di meja kerja.

Aku memang lupa membawanya pulang.

“Bunda ambil sekarang.”

Aku memutar kendaraan dan kembali menuju Kelapa Gading.

Saat sampai, lampu showroom bagian depan sudah dimatikan.

Tetapi ada cahaya dari ruang belakang.

Aku menggunakan kartu akses staf dan masuk.

Lalu terdengar suara tawa.

Suara gelas beradu.

Aku berjalan mendekat.

Rudi berada di ruangannya bersama Bayu dan Dian.

Ada minuman ringan di atas meja.

Mereka tampak sedang merayakan sesuatu.

Kemudian aku mendengar Rudi berkata,

“Besok HR tinggal menerima laporan.”

Dian bertanya,

“Alasannya cukup kuat?”

Rudi tertawa.

“Sudah saya buat seolah-olah dia memanipulasi pembagian pelanggan.”

Tubuhku membeku.

“Kalau audit?” tanya Bayu.

“Tenang.”

Rudi memutar layar komputernya.

“Saya hapus transaksi yang masih terhubung dengan ID sales dia. Setelah itu angka performanya kelihatan makin buruk.”

Aku hampir membuka pintu.

Hampir.

Tetapi sesuatu menahanku.

Aku mengeluarkan ponsel.

Menyalakan kamera.

Dan mulai merekam.

Tanpa suara.

Tanpa menangis.

Tanpa memberi mereka kesempatan menghapus apa pun.

Beberapa menit kemudian mereka meninggalkan ruangan untuk mengambil sesuatu dari pantry.

Aku masuk.

Tanganku gemetar ketika melihat monitor Rudi.

Di layar terbuka sistem internal dealer.

Namaku ada di sana.

Beberapa transaksi yang pernah kutangani sudah dipindahkan ke ID sales lain.

Tetapi bukan itu yang membuat jantungku hampir berhenti.

Di sudut layar ada catatan aktivitas telepon kantor.

Aku membukanya.

Satu.

Dua.

Lima.

Sepuluh.

Tujuh belas panggilan.

Semua dilakukan Rudi dalam beberapa minggu terakhir.

Ke dealer-dealer mobil lain di Jakarta, Bekasi, Tangerang, bahkan Bogor.

Di samping beberapa nomor terdapat catatan singkat.

NADIRA PRAMESWARI — REFERENSI KARYAWAN.

Tanganku menjadi dingin.

Dia bukan hanya sedang mencoba memecatku.

Rudi sudah menelepon perusahaan-perusahaan lain menggunakan namaku.

Dia sedang memastikan bahwa setelah keluar dari tempat ini…

aku tidak akan bisa bekerja di dealer mana pun lagi.

BAGIAN 2 — Tujuh Belas Telepon Itu Bukan Sekadar Upaya Memecatku

Aku berdiri di depan komputer Rudi sambil menahan napas.

Tujuh belas panggilan.

Tujuh belas dealer.

Dan namaku ada di setiap catatan.

Aku tahu aku tidak punya banyak waktu.

Rudi dan yang lain bisa kembali kapan saja.

Jadi aku tidak menyentuh terlalu banyak hal.

Aku hanya memotret layar.

Satu foto.

Dua.

Tiga.

Lalu satu video pendek yang memperlihatkan daftar panggilan, tanggal, durasi, dan catatan “referensi karyawan”.

Setelah itu aku menutup jendela persis seperti semula.

Aku mengambil foto Rafa dari mejaku.

Kemudian pergi.

Sepanjang perjalanan pulang, tanganku terus dingin.

Aku tidak menelepon siapa pun.

Tidak HR.

Tidak Pak Bowo.

Tidak juga ibuku.

Karena untuk pertama kalinya aku sadar bahwa aku tidak tahu seberapa jauh Rudi sudah menanam kebohongannya.

Kalau aku menelepon HR malam itu, dia mungkin akan lebih dulu menghapus bukti.

Kalau aku mengonfrontasinya, dia bisa mengubah cerita.

Aku butuh sesuatu yang lebih kuat.

Aku butuh orang yang memahami sistem.

Malam itu, setelah memastikan Rafa tidur, aku membuka laptop.

Aku menyalin semua foto dan video ke tiga tempat berbeda.

Laptop.

Flashdisk.

Penyimpanan cloud.

Lalu aku menulis kronologi.

Tanggal pertama kali Pak Harun datang.

Pemotongan komisi.

Pelanggan yang dialihkan.

Transaksi enam kendaraan.

Briefing.

Rekaman malam itu.

Dan tujuh belas panggilan.

Aku baru selesai hampir tengah malam ketika sebuah pesan masuk.

Nomor tidak dikenal.

Mbak Nadira? Saya Harun. Yang pernah datang lihat mobil niaga. Masih ingat?

Aku menatap layar lama.

Kemudian membalas.

Tentu, Pak. Ada yang bisa saya bantu?

Jawabannya datang cepat.

Besok saya mau datang lagi. Tapi saya cuma mau bicara dengan Mbak.

Aku hampir tertawa pahit.

Di hari aku mungkin akan dipecat, pelanggan yang dianggap “tidak mampu membeli velg” justru kembali.

Aku membalas:

Baik, Pak. Saya tunggu.

Keesokan paginya, ketika aku tiba di kantor, meja HR cabang sudah kosong.

Rudi sudah menungguku.

“Ke ruangan saya.”

Nada suaranya datar.

Di dalam sudah ada Dian, Bayu, dan seorang staf administrasi.

Di meja terdapat sebuah map.

Rudi menyilangkan tangan.

“Nadira, kami menemukan pelanggaran serius.”

Aku duduk.

“Apa pelanggarannya?”

“Kamu mengubah pembagian pelanggan dan mencatat beberapa prospek sebagai milikmu tanpa persetujuan.”

Aku hampir kagum melihat betapa mudahnya dia berbohong.

“Buktinya?”

Rudi mendorong map ke arahku.

Ada beberapa cetakan log sistem.

Namaku tercantum.

Beberapa transaksi terlihat seolah-olah masuk dari akun pribadiku.

Padahal aku tahu persis sebagian bukan milikku.

Rudi berkata,

“Kamu diberhentikan efektif hari ini.”

Dian menunduk.

Bayu pura-pura sibuk dengan ponsel.

Aku membuka map perlahan.

Kemudian mengeluarkan satu lembar.

“Kalau begitu saya ingin salinan resmi semua dokumen ini.”

Rudi mengangkat alis.

“Buat apa?”

“Untuk catatan saya.”

“Kamu tidak berhak membawa dokumen internal.”

“Kalau dipakai sebagai dasar pemecatan saya, saya berhak tahu apa tuduhannya.”

Nada suaranya berubah.

“Nadira, jangan buat ini sulit.”

Aku menatapnya lurus.

“Yang membuatnya sulit bukan saya.”

Ruangan sunyi.

Lalu Rudi tersenyum.

Senyum orang yang yakin dirinya sudah menang.

“Baik. Pulang saja. HR pusat akan kirim surat resmi.”

Aku berdiri.

Saat itulah pintu showroom terbuka.

Pak Harun masuk.

Kali ini dia tidak membawa kotak ikan.

Dia mengenakan kemeja batik sederhana, celana hitam, dan sepatu kulit tua.

Di belakangnya berjalan dua pria dan seorang perempuan membawa map.

Rudi langsung berubah ramah.

“Selamat pagi, Pak. Silakan. Ada yang bisa kami bantu?”

Pak Harun tidak melihatnya.

Dia langsung berjalan ke arahku.

“Mbak Nadira.”

Aku menahan napas.

“Pak Harun.”

Dia melihat kotak kecil berisi barang pribadiku di tangan.

“Kamu mau ke mana?”

Sebelum aku menjawab, Rudi menyela.

“Maaf, Pak. Nadira sudah tidak bekerja di sini.”

Pak Harun akhirnya menoleh.

“Kenapa?”

“Masalah integritas.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan.

Pak Harun menatap Rudi beberapa detik.

Lalu berkata tenang,

“Kalau begitu saya juga tidak jadi beli di sini.”

Rudi sedikit panik.

“Pak, kami punya sales lain yang sangat berpengalaman.”

“Saya tidak datang mencari sales lain.”

Rudi tersenyum kaku.

“Bapak mau beli satu unit, ya? Kami tetap bisa bantu.”

Pak Harun menoleh kepada perempuan di belakangnya.

Perempuan itu membuka map.

Kemudian menyerahkan sebuah dokumen kepada Rudi.

“Apa ini?” tanya Rudi.

Pak Harun menjawab,

“Daftar kebutuhan kendaraan perusahaan kami.”

Rudi membacanya.

Wajahnya berubah.

Aku ikut melirik.

Bukan satu kendaraan.

Bukan enam.

Tiga puluh dua kendaraan niaga.

Aku bahkan sempat mengira salah baca.

Rudi menelan ludah.

Pak Harun berkata,

“Saya memang jual ikan.”

Dia menunjuk dirinya sendiri.

“Sudah empat puluh tahun.”

Lalu tersenyum tipis.

“Tapi sekarang usaha saya mengirim hasil laut ke lebih dari seratus restoran, hotel, dan pasar di Jabodetabek.”

Aku menatapnya.

Dia melanjutkan,

“Anak saya mengelola distribusi. Tahun ini kami buka dua gudang baru. Kami butuh kendaraan.”

Rudi langsung berusaha tertawa.

“Wah, tentu saja, Pak. Kami sangat senang bisa—”

“Belum selesai.”

Pak Harun memotong.

Semua orang diam.

“Dua bulan terakhir saya mendatangi enam dealer.”

Dia memandang staf satu per satu.

“Saya sengaja datang seperti biasa. Pakai pakaian kerja. Tidak bawa sopir. Tidak memperkenalkan perusahaan.”

Kemudian pandangannya jatuh padaku.

“Saya ingin tahu bagaimana orang memperlakukan saya ketika mereka mengira saya tidak punya uang.”

Tenggorokanku terasa tercekat.

“Lima tempat gagal.”

Dia menunjukku.

“Cuma satu orang yang bertanya apa kebutuhan usaha saya, bukan berapa mahal jam tangan saya.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Rudi mencoba masuk lagi.

“Pak Harun, kami tentu bisa mempertimbangkan kembali keputusan internal terkait Nadira.”

Aku melihat wajah Pak Harun berubah dingin.

“Tidak perlu.”

“Pak—”

“Saya tidak mempercayakan tiga puluh dua kendaraan kepada perusahaan yang menghukum orang karena menghormati pelanggan.”

Saat itulah aku melihat pintu showroom terbuka lagi.

Seorang pria berkacamata masuk bersama dua orang lain.

Aku mengenalnya.

Pak Surya Mahendra, direktur regional perusahaan dealer kami.

Aku pernah melihatnya hanya dua kali.

Wajah Rudi langsung pucat.

“Pak Surya?”

Pak Surya berjalan masuk.

“Rudi.”

Hanya satu kata.

Tetapi suasana mendadak berubah.

Di belakangnya ada kepala HR regional dan seorang staf audit internal.

Jantungku berdetak cepat.

Rudi tampak kebingungan.

“Pak, ini sebenarnya ada kesalahpahaman.”

Pak Surya menatapku.

“Bu Nadira, Anda membawa bukti?”

Aku membeku.

“Bukti?”

Dia mengangguk.

“Pak Harun menelepon saya tadi pagi.”

Aku menoleh kepada Pak Harun.

Dia hanya berkata,

“Saya punya kenalan lama.”

Pak Surya melanjutkan,

“Beliau bilang seorang sales yang hendak menangani pembelian armadanya baru saja diberhentikan dalam keadaan janggal.”

Rudi langsung menyela.

“Pak, pemecatan itu karena manipulasi sistem.”

Pak Surya menatapnya.

“Bagus.”

Rudi tampak lega.

Sampai Pak Surya menambahkan,

“Karena itu tim audit datang untuk memeriksa log server.”

Wajah Rudi benar-benar kehilangan warna.

Audit server.

Bukan komputer lokal.

Bukan catatan yang bisa dihapus.

Semua perubahan akun akan tetap terlihat.

Aku membuka tas.

“Pak, saya juga punya sesuatu.”

Aku menyerahkan ponsel.

Rekaman malam sebelumnya diputar.

Suara Rudi terdengar jelas.

Saya hapus transaksi yang masih terhubung dengan ID sales dia. Setelah itu angka performanya kelihatan makin buruk.

Tidak ada yang bergerak.

Video berlanjut.

Kemudian muncul percakapan soal laporan palsu ke HR.

Dian mulai menangis.

Bayu menatap lantai.

Rudi justru menunjukku.

“Dia merekam secara ilegal!”

Pak Surya tidak bereaksi.

Dia menyerahkan ponsel kepada kepala audit.

“Periksa.”

Lalu aku menunjukkan foto tujuh belas panggilan.

Saat melihatnya, Pak Surya mengerutkan dahi.

“Untuk apa Anda menelepon dealer lain?”

Rudi diam.

“Jawab.”

Rudi akhirnya berkata,

“Saya cuma memberi referensi.”

“Referensi apa?”

Tidak ada jawaban.

Aku merasa marahku yang selama ini kutahan mulai naik.

“Dia ingin membuat saya tidak bisa bekerja di tempat lain.”

Rudi menatapku tajam.

“Jangan sok jadi korban.”

Pak Bowo, yang sejak tadi berdiri dekat meja sales, akhirnya maju.

“Saya dengar sendiri Pak Rudi pernah bilang, ‘Kalau dia keluar, pastikan dia tidak diterima kompetitor.’”

Rudi memutar badan.

“Bowo!”

Pak Bowo mengangkat dagu.

“Saya terlalu tua untuk ikut diam melihat orang dihancurkan.”

Pak Surya menoleh kepada audit.

“Tarik seluruh log perubahan tiga bulan.”

Rudi menyandarkan tubuh ke meja.

Untuk pertama kalinya, dia terlihat takut.

Namun yang ditemukan audit dua jam kemudian jauh lebih buruk daripada dugaan kami.

Bukan cuma transaksiku yang dipindahkan.

Ada komisi tiga sales lain yang pernah dialihkan selama setahun terakhir.

Diskon pelanggan dimanipulasi agar sebagian bonus masuk ke akun staf favorit.

Bahkan transaksi enam kendaraan milik Pak Dedi ternyata sebenarnya sempat dikirim ke emailku lebih dulu karena dia meminta konsultasi dengan “sales perempuan yang paham fleet”.

Rudi menghapus permintaan itu dan menyerahkannya kepada Bayu.

Pak Dedi bukan pergi karena penawaran kami terlalu mahal.

Dia pergi karena orang yang ia minta tidak pernah diizinkan menemuinya.

Dan tujuh belas telepon itu?

Audit menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan.

Rudi bukan hanya menjelek-jelekkan namaku.

Dia mengatakan kepada beberapa dealer bahwa aku pernah melakukan penggelapan uang pelanggan.

Tuduhan yang sepenuhnya palsu.

Tanganku gemetar ketika mendengarnya.

Bukan karena takut.

Karena aku membayangkan Rafa.

Kalau aku dipecat hari itu tanpa bukti, aku mungkin akan mengirim puluhan lamaran.

Tidak ada yang menjawab.

Aku mungkin akan berpikir aku tidak cukup baik.

Aku mungkin akan menyalahkan diriku sendiri.

Sementara seorang pria duduk nyaman di kantornya setelah menghancurkan namaku.

Pak Surya berdiri.

“Rudi Hartono, mulai saat ini Anda dinonaktifkan dari jabatan sambil menunggu pemeriksaan lanjutan.”

Rudi langsung meledak.

“Karena satu sales?”

Pak Surya menatapnya datar.

“Bukan.”

Dia menunjuk dokumen audit.

“Karena Anda memalsukan data, menyalahgunakan wewenang, merusak reputasi karyawan, dan hampir membuat perusahaan kehilangan transaksi besar.”

Rudi kemudian melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

Dia menatapku.

“Semua ini gara-gara kamu.”

Aku menatapnya kembali.

“Tidak.”

Suaraku sangat tenang.

“Semua ini gara-gara Bapak yakin orang kecil tidak akan berani melawan.”

BAGIAN 3 — Orang yang Paling Tidak Kuduga Justru Mengetuk Pintu Rumahku

Tiga hari kemudian, Rudi resmi diberhentikan.

Perusahaan mengeluarkan surat koreksi kepada semua dealer yang pernah menerima “referensi” tentangku.

HR regional juga memberiku dokumen tertulis yang menyatakan seluruh tuduhan telah terbukti palsu.

Dian mendapat surat peringatan keras karena ikut dalam pengubahan beberapa data.

Bayu dicabut dari program promosi dan dipindahkan ke cabang lain setelah mengakui bahwa dia tahu sebagian transaksi dialihkan secara tidak sah.

Pak Bowo tetap bekerja.

Aku?

Pak Surya memanggilku.

“Kami ingin Anda kembali.”

Aku terdiam.

Dia melanjutkan,

“Komisi yang dipotong akan dibayar penuh. Ditambah kompensasi.”

Aku mengangguk pelan.

“Terima kasih.”

“Dan ada satu hal lagi.”

Dia mendorong sebuah surat ke arahku.

“Posisi supervisor sales kosong.”

Aku menatapnya.

“Kami ingin Anda mengisinya.”

Aku hampir tertawa.

Tiga hari sebelumnya aku diusir dengan kotak barang.

Sekarang mereka menawarkanku meja Rudi.

Tetapi anehnya, aku tidak langsung merasa senang.

Aku teringat malam-malam menghitung uang.

Komentar Dian.

Pelanggan yang dinilai dari pakaian.

Pak Harun yang ditertawakan.

Aku bertanya,

“Kalau saya terima, saya boleh mengubah sistem pembagian pelanggan?”

Pak Surya mengangkat alis.

“Seperti apa?”

“Tidak ada lagi pembagian berdasarkan penampilan.”

Dia diam.

Aku melanjutkan,

“Setiap pelanggan masuk lewat antrean digital. Sales bergiliran. Kecuali pelanggan meminta sales tertentu.”

Pak Surya tersenyum tipis.

“Masuk akal.”

“Dan evaluasi sales tidak hanya berdasarkan jumlah transaksi.”

“Apa lagi?”

“Kepuasan pelanggan. Repeat order. Penanganan komplain.”

Dia bersandar.

“Anda sudah memikirkan ini lama?”

“Sejak saya dihukum karena melayani orang memakai sepatu berlumpur.”

Pak Surya tertawa kecil.

Aku menerima posisi itu.

Transaksi Pak Harun akhirnya berjalan.

Tiga puluh dua unit.

Tetapi dia membuat satu syarat.

Semua administrasi pembelian harus mencantumkan aku sebagai account lead.

Komisiku dari transaksi itu lebih besar daripada penghasilanku selama beberapa bulan.

Saat uangnya masuk, hal pertama yang kulakukan bukan membeli mobil.

Aku melunasi tunggakan les Rafa.

Kemudian mengganti laptop tuaku.

Setelah itu aku mengajak ibu dan Rafa makan di restoran sederhana.

Rafa makan ayam goreng sambil terus tersenyum.

“Bunda sekarang bos?”

Aku tertawa.

“Bukan bos.”

“Katanya Bunda punya meja lebih besar.”

“Itu bukan berarti bos.”

Dia berpikir sebentar.

“Berarti Bunda setengah bos.”

Ibuku tertawa sampai hampir tersedak.

Aku melihat mereka.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku makan tanpa menghitung harga setiap menu di kepala.

Aku kira ceritaku selesai di situ.

Ternyata belum.

Dua bulan kemudian, pada Sabtu pagi, bel rumah berbunyi.

Aku sedang mencuci pakaian.

Rafa berlari ke pintu.

“Bunda, ada orang!”

Aku keluar.

Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di luar.

Aku tidak mengenalnya.

Dia tampak gugup.

“Bu Nadira?”

“Iya.”

“Nama saya Mira.”

Aku menunggu.

Dia menarik napas.

“Saya istri Rudi.”

Aku membeku.

Rafa sedang berdiri di belakangku.

Aku meminta dia masuk ke kamar.

Setelah itu aku keluar dan menutup pintu.

“Ada apa, Bu?”

Mira menatap lantai.

“Saya tidak datang minta Anda mencabut laporan.”

Aku sedikit terkejut.

Dia melanjutkan,

“Saya justru mau memberikan sesuatu.”

Dia menyerahkan sebuah amplop.

Di dalamnya ada beberapa cetakan email.

Aku membaca baris pertama.

Lalu baris berikutnya.

Aku hampir tidak percaya.

Email-email itu dikirim Rudi sekitar enam bulan sebelum Pak Harun datang.

Kepada salah satu direktur dealer pesaing.

Isinya membicarakan rencana pindah kerja.

Bukan sekadar pindah.

Rudi menawarkan membawa database calon pelanggan dan beberapa staf berprestasi.

Tetapi ada satu nama yang berkali-kali disebut.

Namaku.

Nadira punya angka retensi pelanggan paling tinggi. Sulit dikendalikan karena terlalu independen. Kalau saya pindah, dia harus dibuat keluar dulu atau reputasinya dihancurkan.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Mira berkata pelan,

“Saya menemukan ini setelah dia dipecat.”

Aku menatapnya.

“Kenapa Ibu memberikannya kepada saya?”

Matanya mulai merah.

“Karena selama ini saya pikir suami saya kehilangan pekerjaan karena Anda.”

Dia berhenti.

“Ternyata dia kehilangan pekerjaan karena dirinya sendiri.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Dan saya punya anak perempuan.”

Suaranya pecah.

“Usianya dua puluh dua. Baru mulai kerja.”

Dia menelan ludah.

“Saya membayangkan kalau suatu hari ada atasan yang melakukan ini kepada anak saya.”

Aku menatap perempuan itu cukup lama.

Ada bagian dalam diriku yang ingin marah.

Dia adalah istri orang yang hampir menghancurkan hidupku.

Tetapi dia bukan Rudi.

Aku menerima dokumen itu.

“Terima kasih.”

Mira mengangguk.

Sebelum pergi dia berkata,

“Dia tidak pernah membenci Anda karena Anda buruk.”

Aku mengerutkan dahi.

“Dia takut pada Anda karena Anda bagus.”

Aku berdiri diam setelah mobilnya pergi.

Kalimat itu terus terngiang.

Selama berbulan-bulan aku mengira aku dihukum karena terlalu lunak.

Terlalu baik kepada pelanggan.

Kurang agresif.

Kurang pandai bermain politik.

Ternyata kenyataannya justru kebalikannya.

Rudi tidak ingin aku gagal.

Dia takut aku berhasil cukup besar hingga orang lain melihat kelemahannya.

Enam bulan kemudian, cabang kami menjadi salah satu cabang dengan pertumbuhan penjualan fleet terbaik di wilayah Jakarta.

Tetapi pencapaian yang paling kubanggakan justru sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Di pintu masuk showroom, aku memasang sebuah aturan baru untuk semua sales.

Bukan tulisan besar.

Hanya standar pelayanan yang harus dipahami semua staf.

Siapa pun yang masuk adalah pelanggan.

Tidak peduli datang dengan mobil mewah atau angkot.

Memakai jas atau sandal.

Membeli hari itu atau hanya bertanya.

Suatu siang, aku melihat seorang pemuda masuk.

Kaosnya sederhana.

Celananya terkena debu.

Dia terlihat gugup.

Seorang sales baru bernama Dimas langsung berdiri.

“Selamat siang, Mas. Silakan. Lagi cari kendaraan untuk apa?”

Aku tersenyum dari mejaku.

Pak Bowo yang kebetulan berdiri di sampingku berbisik,

“Lumayan juga aturan baru kamu.”

“Takut kehilangan pelanggan?”

Dia tertawa.

“Takut kehilangan manusia.”

Kami tertawa kecil.

Beberapa menit kemudian, ponselku berbunyi.

Pesan dari Pak Harun.

Ada foto armada kendaraan barunya berjejer di gudang.

Di bawahnya dia menulis:

Semua jalan baik dimulai dari orang yang tidak menertawakan sepatu kotor.

Aku membaca pesan itu sambil tersenyum.

Lalu aku melihat foto Rafa yang sekarang terpajang di meja baruku.

Foto yang malam itu membuatku kembali ke dealer.

Kalau foto itu tidak tertinggal, mungkin aku tidak akan kembali.

Kalau aku tidak kembali, aku tidak akan merekam percakapan Rudi.

Kalau aku tidak melihat tujuh belas panggilan itu, mungkin aku akan dipecat keesokan paginya tanpa pernah tahu mengapa semua pintu pekerjaan tertutup.

Hal kecil.

Sebuah foto anak berusia tujuh tahun.

Ternyata itulah yang menyelamatkan karierku.

Malamnya, saat aku menjemput Rafa, dia menunjukkan gambar dari sekolah.

Gambar seorang perempuan berdiri di samping mobil.

Di atas kepalanya ada mahkota besar.

Aku tertawa.

“Ini siapa?”

“Bunda.”

“Kenapa pakai mahkota?”

Rafa menjawab santai,

“Karena kata Nenek, Bunda menang lawan bos jahat.”

Aku tertawa lebih keras.

Kemudian memeluknya.

“Bunda nggak menang karena melawan orang.”

“Terus karena apa?”

Aku berpikir sebentar.

“Karena Bunda tidak ikut menjadi seperti dia.”

Rafa mungkin belum benar-benar memahami.

Dia hanya mengangguk.

Tetapi aku memahami sesuatu malam itu.

Balas dendam terbaik bukan selalu melihat orang yang merendahkanmu jatuh.

Kadang balas dendam terbaik adalah tetap menjadi orang yang dulu mereka anggap terlalu lemah.

Tetap jujur.

Tetap belajar.

Tetap menghormati orang lain.

Sampai suatu hari, semua hal yang mereka kira kelemahanmu justru menjadi alasan mengapa kamu berdiri lebih tinggi daripada mereka.

Dan mengenai Rudi?

Beberapa bulan kemudian aku mendengar dia mencoba melamar ke beberapa perusahaan otomotif.

Ironisnya, kali ini tidak ada satu pun telepon palsu yang menghalangi namanya.

Tidak ada yang memfitnah.

Tidak ada yang menghapus datanya.

Perusahaan-perusahaan itu hanya meminta referensi resmi dari mantan tempat kerjanya.

Dan untuk pertama kalinya, Rudi harus menghadapi reputasi yang benar-benar dia bangun sendiri.

Tanpa bantuan siapa pun.

Tanpa sabotase.

Tanpa kebohongan.

Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Dan aku tidak pernah merasa perlu.

Karena hidupku akhirnya terlalu penuh dengan hal-hal baik untuk terus menyediakan tempat bagi seseorang yang pernah mencoba menghancurkannya.

Aku punya pekerjaan yang kuhargai.

Tim yang mulai kubentuk dengan caraku sendiri.

Seorang ibu yang selalu menyambutku pulang.

Dan seorang anak kecil yang masih yakin meja lebih besar berarti ibunya adalah “setengah bos”.

Ternyata itu lebih dari cukup.


TAMAT

Cerita ini merupakan karya fiksi untuk tujuan hiburan.