Bagian 2
Tanganku masih memegang ponsel ketika Bu Rini mengeluarkan kotak beludru berwarna cokelat dari bagian belakang lemari.
Kotak itu berisi kalung emas yang jarang kupakai.
Dimas menerimanya.
Ia membuka kotak tersebut, mengangkat kalungku, lalu memeriksa liontinnya.
Aku merasa mual bukan karena benda itu berada di tangannya, melainkan karena gerakannya begitu tenang.
Tidak ada keraguan.
Tidak ada rasa bersalah.
Seolah-olah dia sedang memeriksa barang miliknya sendiri.
Suara Bu Rini terdengar lebih jelas.
“Yang ini cukup?”
Dimas mengangguk.
“Mestinya. Yang dua gelang kemarin sudah diperpanjang dulu. Kalau ini masuk, kita punya waktu lagi.”
Aku membaca kalimat itu di kepalaku dua kali.
Dua gelang kemarin.

Gelangku.
Jadi Dimas bukan hanya tahu siapa yang mengambilnya.
Dia ikut merencanakannya.
Bu Rini menurunkan suara.
“Kalau Lani cari lagi bagaimana?”
Dimas memasukkan kalungku ke saku celananya.
“Bilang saja mungkin dia pindahkan. Kemarin juga dia mulai ragu sendiri.”
Aku tidak bergerak.
Ada kalimat yang menyakitkan karena keras.
Ada juga kalimat yang menyakitkan karena diucapkan sangat biasa.
Dimas tahu aku mulai meragukan ingatanku.
Dia tahu aku sempat bertanya apakah mungkin aku sendiri yang salah menyimpan gelang.
Dan ternyata keraguanku bukan kecelakaan.
Itulah jawaban yang sengaja mereka dorong ke kepalaku.
Bu Rini menutup laci.
“Jangan lama-lama. Takut dia pulang.”
“Jam segini dia tidak pernah pulang.”
Kemudian keduanya keluar.
Rekaman berhenti mendeteksi gerakan beberapa menit setelah pintu terbuka kembali.
Aku langsung mengunduh seluruh rekaman ke ponsel dan mengirim salinannya ke email pribadiku.
Aku bahkan tidak menunggu jam makan siang.
Aku mengatakan kepada atasanku bahwa ada urusan keluarga dan meminta izin pulang lebih awal.
Sepanjang perjalanan, aku tidak menelepon Dimas.
Aku takut kalau mendengar suaranya, aku akan mengatakan semuanya sebelum tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Saat tiba di rumah, Bu Rini sedang menonton televisi.
Dia menatapku sebentar.
“Tumben pulang?”
“Pusing sedikit.”
Dia mengangguk tanpa bertanya lebih jauh.
Aku naik ke kamar.
Kalungku benar-benar hilang.
Aku duduk di depan lemari beberapa menit, lalu teringat sesuatu.
Selama bertahun-tahun, Dimas menyimpan dokumen keluarga dalam satu map besar di lemari meja kerja. Isinya fotokopi KTP, dokumen kendaraan, slip asuransi, kuitansi pajak, dan kertas-kertas lama yang sering dia suruh aku carikan ketika dibutuhkan.
Aku membuka map itu.
Tidak ada yang aneh di bagian depan.
Sampai aku menemukan amplop cokelat tipis terselip di belakang dokumen lama.
Di dalamnya ada beberapa lembar bukti gadai.
Namanya bergantian antara Dimas dan Bu Rini.
Aku tidak mengerti seluruh detailnya, tapi deskripsi barangnya cukup jelas.
Gelang emas.
Cincin emas.
Kalung emas.
Beberapa transaksi sudah lama lunas.
Beberapa diperpanjang.
Ada pula sebuah buku kecil dengan sampul biru yang penuh angka tulisan tangan.
Aku membuka halaman terakhir lebih dulu.
Di sana terdapat tanggal bulan lalu, jumlah pembayaran, dan satu catatan pendek:
“Gelang L, 2 buah.”
Tanganku mulai gemetar.
Aku membalik halaman ke belakang.
Catatan semacam itu terus muncul.
Bukan hanya selama satu atau dua tahun.
Ada tanggal ketika aku baru menikah.
Ada tanggal sebelum aku menikah.
Semakin jauh kubalik, tulisan tangannya semakin pudar.
Halaman pertama yang masih terbaca bertanggal 2016.
Sepuluh tahun sebelumnya.
Di bawah tanggal itu tertulis:
“Emas Ibu. Untuk utang Dimas.”
Aku duduk di lantai dengan buku itu di pangkuanku.
Jadi sebelum aku menjadi istrinya, pola ini sudah ada.
Awalnya mereka menggunakan emas Bu Rini.
Setelah aku masuk ke keluarga itu, barang-barangku ikut dianggap persediaan berikutnya.
Lalu ponselku bergetar.
Pesan dari Dimas.
“Kamu pulang cepat? Ibu bilang kamu ada di rumah.”
Aku tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian pesan kedua masuk.
“Lan?”
Aku menatap buku kecil di tanganku, kemudian kembali melihat baris pertama bertanggal sepuluh tahun lalu.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku tidak lagi bertanya apakah aku terlalu curiga.
Aku mulai bertanya berapa banyak dari kehidupan rumah tanggaku yang sebenarnya dibangun di atas sesuatu yang sengaja tidak pernah diberitahukan kepadaku.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku memotret setiap halaman buku itu.
Bukan karena aku sudah punya rencana hebat.
Saat itu pikiranku justru berantakan.
Aku hanya tahu satu hal: setelah tujuh tahun dibuat meragukan apa yang kulihat dan kuingat, aku tidak mau lagi bergantung pada ingatan saja.
Setelah selesai, buku dan amplop itu kukembalikan ke posisi semula.
Kemudian aku membuka aplikasi bank.
Gajiku selama ini masuk ke rekening pribadiku, tetapi aku dan Dimas memiliki satu rekening bersama untuk kebutuhan rumah.
Setiap awal bulan kami mentransfer jumlah yang sudah disepakati.
Aku biasanya tidak memeriksa transaksi kecil satu per satu karena pembayaran listrik, belanja bulanan, pajak, dan kebutuhan Bu Rini memang dibayar dari rekening itu.
Kali ini aku melihat beberapa bulan terakhir dengan lebih teliti.
Ada transfer rutin ke rekening Bu Rini yang jumlahnya lebih besar daripada uang belanja yang selama ini kuketahui.
Rp2,8 juta.
Rp3,2 juta.
Rp2,5 juta.
Kadang dua kali dalam satu bulan.
Keterangan transfernya sederhana.
“Rumah.”
Aku selalu mengira itu untuk kebutuhan rumah.
Ternyata kata itu terlalu luas.
Aku mengambil kalkulator.
Dalam setahun terakhir saja, jumlah yang ditransfer di luar kebutuhan yang kami sepakati hampir Rp31 juta.
Aku belum tahu apakah semuanya digunakan untuk gadai.
Tapi aku sudah tahu cukup banyak untuk berhenti menganggap masalah ini hanya tentang perhiasan.
Malam itu Dimas pulang pukul tujuh kurang sedikit.
Dia menemukan aku sedang duduk di meja makan bersama Bu Rini.
Aku sengaja tidak menunggu di kamar.
Aku tidak ingin percakapan ini terjadi di ruangan tempat mereka baru saja mengambil barangku.
“Katanya kamu sakit?” tanyanya.
“Aku sudah lebih baik.”
Dia menarik kursi.
Aku menatapnya.
“Kalungku kamu bawa ke mana?”
Wajahnya berubah.
Hanya sebentar.
Tapi aku melihatnya.
Bu Rini langsung menyela.
“Kalung apa lagi?”
Aku tidak menjawab ibu mertuaku.
Mataku tetap pada Dimas.
“Kalung yang siang tadi kamu ambil dari lemari setelah Ibu mencarinya.”
Dimas membeku.
“Apa maksudmu?”
Aku meletakkan ponsel di atas meja.
Lalu aku memutar rekaman.
Tidak semuanya.
Hanya bagian ketika Bu Rini memberikan kotak kepadanya.
Ketika suamiku mengatakan dua gelang sebelumnya sudah “diperpanjang”.
Ketika dia menyuruh ibunya mengatakan bahwa mungkin aku sendiri yang memindahkan barang-barang itu.
Aku menghentikan video.
Tidak ada yang bicara.
Suara televisi dari ruang tengah tiba-tiba terdengar sangat keras.
Bu Rini yang pertama bereaksi.
“Kamu pasang kamera?”
Nada suaranya bukan malu.
Bukan juga meminta maaf.
Dia terdengar tersinggung.
Aku hampir tertawa mendengarnya.
“Iya.”
“Diam-diam?”
“Di kamar saya sendiri, diarahkan ke lemari saya, karena barang saya hilang.”
“Ini rumah Ibu.”
Aku mengangguk.
“Rumah Ibu. Kalung dan gelangnya bukan.”
Dimas mengusap wajah.
“Lan, dengarkan dulu.”
“Silakan.”
Dia menatap ibunya.
Bu Rini menundukkan kepala, tetapi aku bisa melihat rahangnya menegang.
Dimas menarik napas panjang.
“Itu bukan seperti yang kamu pikir.”
Aku menahan diri agar tidak langsung membalas.
“Kalau begitu jelaskan.”
Dia diam cukup lama sampai aku akhirnya berkata, “Mulai dari dua gelangku.”
Dimas mengakui gelang itu digadaikan sekitar tiga minggu sebelumnya.
Bukan dijual, katanya berkali-kali, seolah perbedaan itu akan membuat semuanya lebih mudah diterima.
Dia berencana menebusnya.
Kalung yang diambil siang itu hendak digunakan untuk mendapatkan uang tambahan agar pinjaman lain tidak jatuh tempo.
Aku bertanya utang apa.
Dimas kembali diam.
Bu Rini akhirnya ikut bicara.
“Itu urusan lama.”
“Sepuluh tahun?”
Kali ini mereka berdua menatapku.
Aku tahu buku itu memang berarti sesuatu.
Dimas menelan ludah.
“Kamu buka mapku?”
“Aku tahu cukup banyak.”
Tidak perlu memberitahu mereka foto apa saja yang sudah kusimpan.
Dimas kemudian menceritakan sesuatu yang tidak pernah sekali pun dia katakan selama tujuh tahun pernikahan kami.
Sepuluh tahun sebelumnya, ketika usianya dua puluh lima, dia pernah membuka usaha jual-beli aksesori dan telepon bekas bersama seorang teman.
Dimas memasukkan uang tabungan sendiri dan mengambil pinjaman untuk modal.
Usahanya hanya bertahan sekitar satu tahun.
Temannya keluar.
Beberapa barang tidak terjual.
Ada piutang yang tidak tertagih.
Dimas tersisa dengan utang yang jauh lebih besar daripada penghasilannya saat itu.
Bu Rini membantu.
Awalnya dengan sukarela.
Ia menggadaikan beberapa gelang dan cincin miliknya sendiri.
Dimas membayar angsuran sebisanya.
Namun daripada mengakui kerugian dan menyelesaikan semuanya secara terbuka, mereka terus menutup satu kewajiban dengan uang dari tempat lain.
Pinjaman baru membayar pinjaman lama.
Barang ditebus, kemudian beberapa bulan kemudian digadaikan lagi.
Ketika Dimas mulai mendapat gaji tetap, sebagian utang berkurang.
Tetapi tidak pernah benar-benar selesai.
“Waktu kita mau menikah, kenapa kamu tidak bilang?” tanyaku.
Dimas menatap meja.
“Aku takut kamu batal.”
Jawaban itu terasa lebih buruk daripada alasan apa pun yang kubayangkan.
Aku mengangguk pelan.
“Jadi kamu memang sengaja tidak bilang.”
“Aku pikir bisa selesai sebelum kita menikah.”
“Tapi tidak selesai.”
Dia tidak menjawab.
“Setelah menikah?”
Dimas berkata biaya rumah tangga meningkat.
Lalu ada kebutuhan lain.
Kemudian ia menggunakan kartu kredit untuk menutup beberapa pembayaran.
Ketika semuanya mulai mendesak, Bu Rini kembali menyarankan agar menggunakan emas sebagai jaminan sementara.
“Emas Ibu sendiri?” tanyaku.
Awalnya iya.
Setelah beberapa tahun, emas Bu Rini semakin sedikit.
Kemudian mereka mulai menggunakan milikku.
Aku menatap ibu mertuaku.
“Tanpa bilang.”
Bu Rini akhirnya mengangkat wajah.
“Kamu kan menantu sendiri. Bukan orang luar.”
Aku tidak langsung menjawab.
Kalimat itu menjelaskan lebih banyak daripada yang mungkin dia sadari.
Bagiku, menjadi keluarga berarti orang saling bicara sebelum mengambil sesuatu.
Bagi Bu Rini, menjadi keluarga berarti batas kepemilikan bisa menjadi kabur ketika keluarganya sedang membutuhkan sesuatu.
“Kalau saya memang keluarga,” kataku, “kenapa saya tidak diberi tahu tentang utangnya?”
Bu Rini membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Dimas berkata, “Ibu cuma membantu aku.”
“Dengan mengambil barangku?”
“Aku yang salah.”
“Lalu kenapa Ibu yang masuk lemari?”
Dimas tidak punya jawaban cepat.
Akhirnya dia mengaku Bu Rini lebih sering berada di rumah, jadi dia tahu kapan kamar kosong dan tahu di mana aku menyimpan perhiasan.
Aku tertawa pendek tanpa rasa lucu sedikit pun.
Jadi kebiasaan ibu mertuaku “memeriksa apakah ada barang yang kurang” ternyata memang ada hubungannya dengan barang.
Hanya bukan untuk memastikan barang kami lengkap.
Aku bertanya jumlah utangnya sekarang.
Dimas menyebut angka sekitar Rp96 juta.
Aku menatapnya beberapa detik.
“Itu semua?”
Dia menjawab terlalu cepat.
“Iya.”
Aku mengambil ponsel.
“Coba buka semua aplikasi bank dan kartu kreditmu.”
Wajahnya berubah lagi.
“Lan, jangan seperti ini.”
“Aku baru tahu suamiku sudah menyembunyikan utang sejak sebelum kami menikah, mengambil emasku, lalu menyuruh ibunya membuatku mengira aku lupa. Jadi iya, aku akan seperti ini.”
Dimas tidak mau membuka semuanya.
Dia bilang rekening pribadinya adalah privasi.
Aneh sekali mendengar kata privasi dari seseorang yang baru saja ikut mengambil barang dari lemariku.
Tapi aku tidak mengambil ponselnya.
Aku tidak memaksa.
Aku hanya berkata, “Kalau begitu aku tidak percaya angka Rp96 juta.”
Dimas mencoba menjelaskan bahwa sebagian utang sudah beres.
Aku memotong.
“Besok aku tidak akan mentransfer uang lagi ke rekening bersama sampai kita tahu uangnya ke mana.”
“Listrik? Belanja rumah?”
“Aku tetap bayar bagianku langsung. Tapi uangku tidak akan lewat rekening yang dipakai untuk hal yang tidak pernah diberitahukan kepadaku.”
Bu Rini langsung bereaksi.
“Kalau suami istri uang dipisah begitu, rumah tangga mau jadi apa?”
Aku menoleh kepadanya.
“Selama ini uang kami terlihat bersama, Bu. Informasinya yang ternyata tidak.”
Dimas mulai marah.
Bukan berteriak, tapi nadanya meninggi.
Dia mengatakan aku memperbesar masalah.
Dia mengatakan emas itu akan dikembalikan.
Dia mengatakan dia tidak pernah berniat membuatku rugi.
Aku mendengarkan sampai selesai.
Lalu aku bertanya satu hal.
“Kalau kameranya tidak ada, kapan kamu mau bilang?”
Dia diam.
Aku bertanya lagi.
“Setelah kalungku digadai? Setelah semua emasku habis? Atau kalau suatu hari utangnya benar-benar lunas, kamu akan menganggap aku tidak perlu tahu?”
Tidak ada jawaban.
Malam itu aku tidak tidur sekamar dengan Dimas.
Aku mengunci pintu kamar tamu.
Sebelum tidur, aku memindahkan sisa perhiasan, dokumen pribadi, buku tabungan, dan sertifikat investasi kecil milikku ke tas kerja.
Keesokan paginya aku membawanya ke kantor.
Aku juga mengganti PIN dan kata sandi mobile banking rekening pribadiku.
Bukan karena Dimas pernah terbukti mengaksesnya.
Aku hanya tidak mau lagi bergantung pada asumsi bahwa seseorang tidak akan melakukannya.
Siang harinya, aku menghubungi bank dan meminta agar gajiku tetap hanya masuk ke rekening pribadi.
Aku juga mencatat saldo rekening bersama saat itu.
Aku tidak menarik semuanya.
Ada uang Dimas di sana juga.
Aku hanya berhenti menambah uang baru sebelum kami menyepakati apa yang boleh dibayar dari rekening tersebut.
Sepulang kerja, Dimas sudah menungguku.
Kali ini Bu Rini tidak duduk bersama kami.
“Aku mau beresin ini,” katanya.
Aku meletakkan tas.
“Bagaimana?”
“Aku tebus gelang sama kalungmu.”
“Dengan uang dari mana?”
Dia diam beberapa detik.
“Bonus akhir tahun nanti.”
“Jatuh temponya sebelum itu.”
“Aku cari cara.”
Aku menatapnya.
“Nah. Kalimat itu yang membuat masalah ini sepuluh tahun.”
Dia mengernyit.
Aku melanjutkan.
“Selalu cari cara supaya hari ini lewat. Gadai barang. Pinjam lagi. Pindahkan uang. Tutup satu lubang. Besok cari lubang lain. Kamu tidak pernah benar-benar berhenti.”
Dimas tidak membantah.
Aku meminta satu hal yang sangat sederhana.
Bukan permintaan maaf.
Bukan janji.
Daftar lengkap.
Semua utang.
Semua kartu kredit.
Semua barang yang masih digadai.
Semua cicilan.
Semua uang rekening bersama yang digunakan untuk membayar kewajibannya.
“Aku perlu waktu,” katanya.
“Kamu punya sampai besok malam.”
“Kalau ada yang lupa?”
“Cari.”
Dia kesal mendengar nada suaraku.
Aku sendiri terkejut karena aku bisa mengucapkannya tanpa berteriak.
Mungkin karena aku sudah melewati bagian paling membingungkan.
Aku tidak lagi berusaha menentukan apakah aku berhak marah.
Sekarang aku hanya mengumpulkan fakta.
Besok malam Dimas memberikan tiga lembar kertas.
Utangnya ternyata bukan Rp96 juta.
Total kewajiban yang masih berjalan hampir Rp147 juta.
Sebagian memang sisa lama.
Sebagian muncul dalam beberapa tahun terakhir karena dia memakai kredit untuk mempertahankan pembayaran sebelumnya.
Ada dua barang emasku yang masih tergadai.
Dua gelang.
Kalung yang diambil pada hari kamera merekam mereka ternyata belum sempat digadaikan karena aku pulang lebih cepat.
Kalung itu dikembalikan kepadaku malam itu.
Aku memeriksa kotaknya tanpa berkata apa-apa.
Satu dari dua gelang masih bisa ditebus.
Gelang lainnya sudah melewati masa yang seharusnya dan menurut Dimas tidak lagi dapat ia ambil kembali melalui transaksi lama.
Itulah saat pertama dia akhirnya terlihat benar-benar malu.
“Aku ganti,” katanya.
Aku menutup kotak.
“Bukan cuma gelang yang hilang.”
Dimas mengangguk.
Aku tidak perlu menjelaskan.
Kami sama-sama tahu apa yang kumaksud.
Dalam tiga hari berikutnya, aku meminta bukti pembayaran dan mencocokkannya dengan mutasi rekening bersama yang bisa kulihat sendiri.
Aku tidak berusaha menyelidiki setiap rupiah selama tujuh tahun.
Aku hanya perlu memahami pola.
Dan polanya sudah jelas.
Selama hampir dua tahun terakhir, setidaknya Rp43 juta dari rekening yang kupikir digunakan untuk rumah ternyata ikut menutup pembayaran utang Dimas.
Tidak semuanya berasal dariku, tetapi sebagian jelas berasal dari kontribusi bulananku.
Dia tidak pernah meminta persetujuan.
Ia hanya memasukkan pembayaran itu ke dalam kategori “kebutuhan rumah”.
Saat kutunjukkan angkanya, Dimas berkata, “Aku juga pakai uang gajiku.”
“Aku tidak bilang kamu tidak pakai uangmu.”
“Terus?”
“Masalahnya kamu pakai uang yang aku masukkan untuk kebutuhan yang sudah kita sepakati, lalu kamu menyembunyikan tujuan sebenarnya.”
Dia mengusap wajah.
“Aku malu, Lan.”
Aku percaya dia malu.
Justru itu salah satu hal paling menyedihkan dari semuanya.
Aku tidak sedang berhadapan dengan penjahat yang tidak punya perasaan.
Aku sedang berhadapan dengan suamiku, seseorang yang merasa malu begitu lama hingga memilih berbohong, dan setiap kebohongan membuat kebohongan berikutnya terasa lebih mudah.
Malam itu dia meminta satu kesempatan.
“Aku bisa berubah.”
Aku tidak menjawab langsung.
“Tujuh tahun lalu, kalau kamu bilang kamu punya utang sebesar itu, mungkin aku tetap menikahimu.”
Dia menatapku.
Aku sendiri baru menyadari kebenaran kalimat itu ketika mengucapkannya.
“Aku mungkin marah. Aku mungkin minta kita menunda pesta atau tinggal terpisah dari Ibu. Kita mungkin harus hidup lebih hemat. Tapi setidaknya aku menikah dengan tahu siapa yang aku nikahi.”
Dimas menunduk.
“Kamu tidak memberi aku kesempatan memilih. Itu yang paling sulit aku terima.”
Dia menangis malam itu.
Aku juga.
Namun air mata tidak mengubah faktanya.
Dua minggu setelah rekaman kamera itu, aku memutuskan keluar dari rumah Bu Rini.
Aku menyewa apartemen kecil dekat kantorku.
Tidak mewah.
Ruang tamunya menyatu dengan dapur, dan kamar tidurnya jauh lebih sempit daripada kamar di rumah tiga lantai itu.
Tapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tahu tidak ada orang yang akan membuka lemari ketika aku pergi bekerja.
Dimas ingin ikut.
Aku menolak.
“Bukan sekarang.”
“Berapa lama?”
“Aku tidak tahu.”
Dia terlihat terpukul.
Aku tetap pergi.
Aku membawa barang milikku saja.
Tidak ada televisi ruang tengah.
Tidak ada perabot milik keluarganya.
Tidak ada uang dari rekening bersama yang bukan bagianku.
Aku bahkan membuat daftar kecil supaya tidak ada percakapan lain tentang siapa mengambil apa.
Bu Rini tidak berbicara denganku selama hampir sebulan.
Di grup keluarga, ia hanya menulis seperlunya.
Aku mendengar dari Dimas bahwa dia menganggap keputusanku pindah terlalu berlebihan.
Aku tidak menjawab melalui orang lain.
Kalau Bu Rini ingin bicara, dia tahu nomor teleponku.
Akhirnya dia menelepon.
“Lani, apa tidak bisa diselesaikan baik-baik?”
“Kita sedang menyelesaikannya, Bu.”
“Maksud Ibu, kamu pulang.”
“Saya belum mau.”
Dia diam.
Kemudian berkata, “Dimas sekarang stres.”
Aku hampir otomatis merasa bersalah.
Dulu kalimat seperti itu cukup untuk membuatku mengalah.
Aku akan memikirkan apakah aku terlalu keras.
Apakah aku membuat suami menderita.
Apakah sebagai istri aku seharusnya membantu.
Kali ini aku hanya bertanya, “Waktu saya mencari gelang dan mengira saya sendiri yang lupa, Ibu tahu gelang itu ada di mana?”
Dia tidak menjawab.
“Itu yang saya butuh waktu untuk terima.”
Bu Rini akhirnya menangis.
Ia berkata awalnya ia memang hanya ingin membantu anaknya.
Dia menganggap Dimas akan menebus semuanya.
Setiap kali satu masalah tertutup, ia yakin itu akan menjadi yang terakhir.
“Aku juga salah,” katanya pelan.
Itulah permintaan maaf pertama yang benar-benar terdengar seperti pengakuan.
Bukan pembelaan.
Bukan “tapi kamu juga”.
Namun aku tidak langsung pulang.
Memaafkan seseorang dan memberi mereka akses lagi adalah dua hal yang berbeda.
Aku mulai berkonsultasi dengan seorang advokat mengenai kondisi keuanganku dan pilihan jika aku memutuskan berpisah secara resmi.
Aku tidak meminta advokat itu “menghancurkan” Dimas atau mengambil rumah keluarganya.
Aku hanya ingin tahu dokumen mana yang harus kusimpan, kewajiban mana yang menjadi tanggung jawabku, dan bagaimana memastikan aku tidak menandatangani sesuatu yang berhubungan dengan utang yang tidak kuketahui.
Aku juga memeriksa laporan kredit atas namaku sendiri melalui kanal resmi.
Tidak ada pinjaman yang dibuat menggunakan identitasku tanpa sepengetahuanku.
Itu sedikit melegakan.
Setidaknya Dimas tidak pernah memakai namaku untuk mengambil kredit.
Tetapi kelegaan kecil itu tidak menghapus yang lain.
Sebulan kemudian, Dimas menebus gelang yang masih bisa diambil dari tempat gadai.
Dia mengajakku datang bersamanya.
Aku ikut.
Bukan untuk mengawasi setiap gerakannya.
Aku ingin melihat sendiri gelang itu kembali.
Saat petugas menyerahkan barang tersebut setelah proses selesai, Dimas tidak menyentuhnya.
Dia membiarkan aku menerimanya.
Di perjalanan pulang, dia berkata, “Yang satu lagi aku akan ganti.”
Aku mengangguk.
“Pakai uangmu sendiri.”
“Iya.”
“Jangan pinjam dari Ibu.”
“Iya.”
“Jangan ambil utang baru.”
Dia menatap lurus ke depan.
“Iya.”
Tiga bulan setelah aku pindah, Dimas menjual motor keduanya, sebuah motor lama yang sebenarnya jarang dipakai.
Sebagian uangnya digunakan mengganti nilai gelang yang sudah tidak bisa ditebus.
Sebagian lagi masuk ke pembayaran utangnya.
Aku tidak meminta dia menjual motor itu.
Untuk pertama kalinya, dia sendiri memilih kehilangan sesuatu miliknya untuk membereskan masalah yang selama ini ia tutup menggunakan milik orang lain.
Aku menghargai perubahan itu.
Tapi menghargai bukan berarti otomatis memperbaiki pernikahan.
Dimas beberapa kali datang ke apartemen.
Kami makan malam.
Kami berbicara lebih tenang daripada sebelumnya.
Dia mulai menunjukkan bukti pembayaran utang tanpa diminta.
Dia juga berhenti meminta uang kepada ibunya.
Bu Rini, menurutnya, tidak lagi memegang dokumen keuangan Dimas.
Pada bulan keempat, Dimas kembali meminta aku pulang.
Aku melihat wajahnya cukup lama sebelum menjawab.
“Aku percaya kamu sedang berusaha.”
Dia tampak berharap.
“Tapi?”
“Aku tidak tahu apakah aku masih bisa hidup di rumah itu dan tidak bertanya-tanya siapa yang masuk ke kamar saat aku pergi.”
“Kita bisa pindah.”
“Bukan cuma rumahnya.”
Dia diam.
Aku melanjutkan.
“Aku bisa melihat kamu berubah soal uang. Tapi aku juga harus melihat apakah aku bisa mempercayaimu lagi sebagai suami.”
Dimas menunduk.
“Aku tunggu.”
Aku tidak meminta dia menunggu.
Aku juga tidak menjanjikan kami akan kembali bersama.
Enam bulan setelah hari kamera itu merekam mereka, aku akhirnya mengambil keputusan.
Aku mengajukan proses perceraian.
Tidak ada pertengkaran besar.
Tidak ada adegan keluarga berkumpul.
Tidak ada orang yang pingsan atau berteriak.
Aku hanya duduk bersama Dimas di sebuah kedai kopi yang tenang dan mengatakan bahwa aku sudah memikirkannya berbulan-bulan.
Dimas memandangku lama.
“Aku sudah berubah, Lan.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa?”
Aku mengaduk teh yang sudah hampir dingin.
“Karena berubah setelah ketahuan tidak menghapus tujuh tahun ketika aku tidak diberi pilihan.”
Dia menutup mata sebentar.
“Aku benar-benar sayang kamu.”
“Aku juga pernah sangat sayang kamu.”
“Pernah?”
Aku tidak menjawab kata itu.
Aku hanya berkata, “Aku tidak mau menghabiskan lima tahun ke depan memeriksa lemari, rekening, dan setiap penjelasanmu.”
Dimas menangis.
Aku pun tidak pulang dalam keadaan menang.
Tidak ada rasa seperti memenangkan pertandingan.
Yang ada justru kesedihan karena seseorang bisa benar-benar menyesal dan tetap tidak mendapatkan kembali apa yang ia rusak.
Proses perceraian kami tidak selesai dalam satu hari.
Utang Dimas juga tidak hilang seketika.
Dia masih membayarnya.
Bu Rini masih tinggal di rumah tiga lantai itu.
Aku masih sesekali bertemu mereka karena ada urusan yang perlu diselesaikan.
Hubunganku dengan Bu Rini menjadi sopan, tetapi tidak dekat.
Suatu hari dia mengembalikan satu cincin kecil milikku yang ternyata pernah ia simpan bersama barang-barang pribadinya.
“Aku takut kamu pikir Ibu ambil ini juga,” katanya.
Aku menerima cincin itu.
“Terima kasih sudah mengembalikan.”
Dia mengangguk.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada pengampunan besar.
Hanya dua orang yang sama-sama tahu hubungan mereka tidak akan kembali seperti dulu.
Beberapa bulan kemudian, kehidupanku mulai terasa biasa lagi.
Aku masih bekerja di kantor yang sama.
Apartemenku masih kecil.
Aku belum membeli rumah.
Aku juga tidak tiba-tiba menjadi jauh lebih kaya karena berpisah.
Justru beberapa bulan pertama cukup berat karena sekarang aku membayar sewa dan seluruh kebutuhan sendiri.
Namun satu hal berubah.
Aku tahu ke mana uangku pergi.
Aku tahu siapa yang memegang kunciku.
Aku tahu apa yang ada di dalam lemariku.
Dimas sesekali mengirim kabar pembayaran cicilannya.
Aku tidak lagi memeriksanya satu per satu.
Utang itu sekarang menjadi tanggung jawab yang ia hadapi sendiri.
Terakhir kali kami bertemu untuk menandatangani beberapa dokumen proses perpisahan, dia mengeluarkan sebuah amplop.
Di dalamnya ada kuitansi pembelian gelang emas baru dengan nilai setara gelang ibuku yang hilang.
“Aku tahu ini bukan gelang yang sama,” katanya. “Tapi aku pernah bilang akan menggantinya.”
Aku menerima amplop itu.
“Terima kasih.”
Dia menatapku.
“Kalau aku jujur dari awal, menurutmu kita masih bersama?”
Aku berpikir cukup lama.
“Mungkin.”
Jawaban itu membuat wajahnya berubah.
Tapi aku tidak ingin berbohong untuk menghiburnya.
“Mungkin kita tetap menikah. Mungkin juga tidak. Tapi paling tidak waktu itu aku punya hak memilih.”
Dimas mengangguk.
Tidak ada lagi yang perlu kami katakan.
Malam itu aku pulang ke apartemen membawa gelang baru di dalam tas.
Aku tidak langsung memakainya.
Aku memasukkannya ke dalam kotak bersama kalung yang dulu hampir digadaikan.
Kemudian aku menutup lemari.
Kali ini tidak ada kamera tersembunyi di sudut kamar.
Tidak ada notifikasi gerakan.
Tidak ada orang lain yang memiliki kunci.
Aku memutar kunci lemari sekali, menarik pintunya untuk memastikan sudah terkunci, lalu menyimpan kunci itu di tempat yang hanya aku ketahui.
Menurutmu, apakah Lani seharusnya tetap memberi Dimas kesempatan setelah ia benar-benar mulai memperbaiki kesalahannya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
