Ayah Kandung Maya Berdiri Marah Saat Ia Memilih Satpam Tua Mengantarkannya ke Pelaminan, Lalu Maya Mengambil Mikrofon

Avatar penulis
Cerita 01
17 menit baca 716 tayangan
Ayah Kandung Maya Berdiri Marah Saat Ia Memilih Satpam Tua Mengantarkannya ke Pelaminan, Lalu Maya Mengambil Mikrofon
Indeks

Bagian 2

Pak Damar tidak menjawab.

Maya menarik napas, lalu memandang para tamu.

“Pak Hadi tidak pernah menggantikan Ayah saya,” katanya. “Dan saya tidak pernah meminta beliau menjadi ayah saya.”

Ruangan begitu sunyi hingga suara pendingin udara terdengar jelas.

Maya menatap Pak Damar lagi.

“Ayah membayar sekolah saya. Ayah bekerja keras supaya saya tidak kekurangan. Saya tidak pernah menyangkal itu.”

Wajah Pak Damar sedikit melunak.

Ayah Kandung Maya Berdiri Marah Saat Ia Memilih Satpam Tua Mengantarkannya ke Pelaminan, Lalu Maya Mengambil Mikrofon

“Tapi ada banyak hari ketika saya menunggu Ayah dan Ayah tidak datang.”

Pak Damar membuka mulut, namun Maya meneruskan.

“Saya tidak mengatakan ini untuk menghitung kesalahan Ayah.”

Ia menoleh kepada Pak Hadi.

“Orang ini yang duduk menemani saya di pos satpam ketika hujan. Orang ini yang memperbaiki sepeda saya. Orang ini yang datang ke kelulusan karena Ayah terlambat. Orang ini yang selama bertahun-tahun tidak pernah meminta apa pun dari saya.”

Pak Hadi menunduk.

“Maya, sudah.”

Maya menggeleng.

“Belum, Pak.”

Ia kembali menghadap para tamu.

“Waktu saya bilang ingin beliau mengantar saya masuk, Pak Hadi justru menolak. Berkali-kali. Katanya, beliau tidak mau mengambil hak ayah saya.”

Beberapa kerabat yang sebelumnya tampak tidak nyaman mulai memandang Pak Hadi dengan cara berbeda.

Maya melanjutkan, “Jadi kalau hari ini ada yang merasa tempatnya diambil, itu bukan karena Pak Hadi merebutnya.”

Pak Damar menegang.

Maya berhenti sejenak.

“Aku cuma ingin satu hari dalam hidupku mengakui seseorang yang sudah hadir di banyak hari lain ketika aku membutuhkannya.”

Kini Maya kembali memakai “aku”.

Bukan karena lupa sedang berbicara di depan tamu.

Melainkan karena kalimat berikutnya memang ditujukan kepada ayahnya.

“Ayah pernah bilang kerja keras Ayah semuanya untuk aku.”

Pak Damar mengangguk tipis.

“Aku percaya.”

Maya menahan napas.

“Tapi waktu seorang anak masih kecil, dia tidak mengerti cicilan, target kerja, atau rapat. Dia cuma tahu siapa yang datang ketika dia menunggu.”

Pak Damar menurunkan pandangan.

Untuk pertama kalinya sejak berdiri, kemarahannya seperti kehilangan tempat berpijak.

Namun rasa malu belum hilang.

“Jadi semua yang Ayah lakukan tidak ada artinya?”

“Bukan begitu.”

“Lalu apa?”

Maya tidak langsung menjawab.

Arga akhirnya turun satu langkah dari pelaminan, tetapi tetap tidak mendekat.

Maya berkata, “Artinya uang tidak bisa menggantikan kehadiran. Dan kehadiran Pak Hadi juga tidak menghapus semua yang Ayah lakukan.”

Pak Damar tertawa pendek tanpa humor.

“Enak sekali kamu bilang begitu sekarang.”

Ia memandang sekitar.

“Semua orang akan pulang mengingat bahwa ayah kandung pengantin perempuan tidak mengantarnya masuk.”

“Kalau Ayah duduk sekarang,” kata Maya, “mereka juga akan mengingat bahwa Ayah memilih tetap berada di sini.”

Pak Damar terdiam.

Kalimat itu justru membuatnya tampak lebih terpukul.

Pak Hadi kemudian maju satu langkah.

“Pak Damar.”

Maya menoleh cepat.

Pak Hadi bicara dengan suara rendah.

“Saya minta maaf kalau kehadiran saya membuat Bapak merasa direndahkan.”

Pak Damar menatapnya.

“Tapi saya tidak pernah menganggap Maya anak saya.”

Pak Hadi tersenyum tipis.

“Dia anak Bapak.”

Lalu ia menambahkan, “Saya cuma kebetulan ada waktu dia butuh orang dewasa di dekatnya.”

Kalimat itu sederhana.

Namun justru itulah yang membuat Pak Damar menunduk lama.

Akhirnya ia kembali ke kursinya tanpa mengatakan apa-apa.

Maya berdiri beberapa detik, masih memegang mikrofon.

Ia tidak tahu apakah itu berarti ayahnya menerima.

Setidaknya ayahnya tidak pergi.

Maya mengembalikan mikrofon.

Pak Hadi mengulurkan lengannya lagi.

“Masih mau lanjut?”

Maya mengangguk.

Mereka mulai berjalan.

Tidak ada tepuk tangan besar.

Tidak ada sorak berlebihan.

Hanya musik yang kembali dimainkan perlahan dan para tamu yang kali ini diam dengan cara berbeda.

Ketika sampai di depan, Pak Hadi menyerahkan tangan Maya kepada Arga.

Tangannya gemetar.

“Jaga baik-baik.”

Arga mengangguk.

“Saya akan berusaha, Pak.”

Pak Hadi segera mundur.

Sebelum acara dilanjutkan, Maya menoleh ke barisan depan.

Pak Damar masih duduk.

Tatapan mereka bertemu.

Ayahnya tidak tersenyum, tetapi ia juga tidak lagi terlihat marah.

Setelah akad dan rangkaian acara selesai, para tamu mulai bergerak menuju area makan.

Pak Damar tidak mendekati Maya.

Ia juga tidak mengucapkan selamat kepada Pak Hadi.

Namun ketika Maya sedang berbicara dengan seorang kerabat, ia melihat ayahnya berdiri sendirian dekat meja hadiah.

Di tangannya ada sebuah amplop kecil.

Maya mengenali tulisan di depannya.

Tulisan itu tulisan tangan Pak Hadi.

Pak Damar menatap amplop tersebut lama, lalu akhirnya membukanya.

Di dalamnya hanya ada selembar kertas dan foto lama.

Foto Maya kecil sedang belajar naik sepeda.

Di belakangnya, Pak Hadi berlari sambil memegang jok.

Pada bagian belakang foto, tertulis satu kalimat:

“Pak Damar, saya menyimpan ini karena dulu Maya bilang ingin menunjukkannya kepada Ayah saat Ayah tidak sibuk.”

Pak Damar duduk perlahan di kursi terdekat.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Pak Damar membaca kalimat di belakang foto itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Tangannya tetap memegang foto, tetapi tatapannya sudah tidak benar-benar tertuju pada gambar.

Ia sedang mencoba mengingat hari itu.

Maya mungkin berusia delapan atau sembilan tahun.

Saat itu Pak Damar sedang mengejar promosi di tempat kerja. Ada target besar. Ada banyak lembur.

Ia mengingat pernah menerima telepon dari Maya.

“Ayah, aku sudah bisa naik sepeda.”

Pak Damar bahkan masih ingat jawabannya.

“Hebat. Nanti tunjukkan ke Ayah.”

Nanti.

Kata itu rupanya menjadi salah satu kata yang paling sering ia berikan kepada anaknya.

Nanti Ayah lihat.

Nanti Ayah datang.

Nanti kita bicara.

Nanti Ayah ganti.

Nanti kalau pekerjaan sudah selesai.

Masalahnya, pekerjaan selalu punya sesuatu yang berikutnya.

Pak Damar memasukkan foto kembali ke amplop ketika mendengar langkah mendekat.

Maya berdiri beberapa meter darinya.

Gaun pengantinnya sedikit terangkat di bagian depan karena ia berjalan cepat.

“Yah.”

Pak Damar tidak menjawab.

Maya duduk di kursi sebelahnya.

Beberapa detik mereka hanya mendengar suara tamu dan denting alat makan dari kejauhan.

“Ayah mau pulang?” tanya Maya.

Pak Damar menggeleng.

“Ayah cuma mau duduk.”

Maya mengangguk.

Ia tidak memaksakan percakapan.

Justru Pak Damar yang akhirnya menyerahkan foto itu.

“Kapan ini?”

Maya melihatnya.

“Sore waktu aku pertama kali bisa naik sepeda tanpa roda tambahan.”

“Kamu masih ingat?”

Maya tersenyum kecil.

“Ingat.”

“Kenapa fotonya ada sama Pak Hadi?”

“Karena kameranya punya beliau.”

Pak Damar menatap anaknya.

“Kamu benar-benar pernah bilang mau menunjukkan itu ke Ayah?”

Maya kembali melihat foto.

“Iya.”

“Kenapa tidak pernah?”

Maya mengangkat bahu.

“Ayah pulang malam.”

“Hari berikutnya?”

“Aku lupa.”

Jawaban itu sangat biasa.

Tidak ada tuduhan di dalamnya.

Anehnya, justru itu yang membuat dada Pak Damar terasa paling berat.

Anak kecil tidak selalu menyimpan daftar kekecewaan.

Kadang ia hanya berhenti meminta.

Pak Damar memasukkan foto ke amplop.

“Ayah marah tadi.”

“Aku tahu.”

“Ayah merasa kamu sengaja melakukan itu supaya semua orang tahu Ayah gagal.”

Maya menatap tangannya.

“Aku tidak pernah bilang Ayah gagal.”

“Tapi Ayah memang banyak tidak ada.”

Maya diam.

Pak Damar tertawa pelan, pahit.

“Sekarang baru Ayah sadar kamu bahkan tidak menyangkalnya.”

Maya menoleh.

“Aku takut kalau aku menyangkal, kita cuma akan kembali pura-pura.”

Pak Damar menatap lantai.

Beberapa tahun terakhir hubungan mereka sebenarnya terlihat baik.

Mereka menelepon saat ulang tahun.

Maya datang ketika ada acara keluarga.

Pak Damar membantu saat Maya membutuhkan sesuatu.

Mereka makan bersama sesekali.

Tidak ada pertengkaran besar.

Karena mereka hampir tidak pernah membicarakan hal yang sulit.

Pak Damar menyebutnya hubungan yang baik.

Maya menyebutnya hubungan yang aman.

Ada perbedaan besar antara keduanya.

“Ayah pikir,” kata Pak Damar perlahan, “kalau Ayah memenuhi semua kebutuhanmu, itu berarti Ayah sudah jadi ayah yang baik.”

Maya tidak menjawab cepat.

“Banyak hal yang Ayah lakukan memang baik.”

“Bukan jawaban yang enak didengar.”

“Karena aku tidak mau bohong.”

Pak Damar mengangguk.

Mereka terdiam lagi.

Dari kejauhan, seorang kerabat memanggil Maya untuk berfoto.

Maya memberi isyarat sebentar.

Pak Damar bertanya, “Kenapa kamu tidak pernah bilang semua ini sebelumnya?”

Maya tersenyum tipis.

“Pernah.”

Pak Damar mengerutkan kening.

“Kapan?”

“Waktu SMP aku minta Ayah datang ambil rapor.”

Pak Damar mencoba mengingat.

“Ayah kirim sopir.”

“Iya.”

Maya melanjutkan, “Waktu SMA aku bilang ingin Ayah datang ke pentas sekolah.”

“Ayah ada perjalanan dinas.”

“Iya.”

“Waktu kuliah?”

“Aku berhenti minta.”

Pak Damar menelan ludah.

Maya berdiri.

“Aku harus balik ke tamu.”

Pak Damar memanggilnya sebelum pergi.

“Maya.”

Maya berbalik.

“Ayah belum tahu harus bilang apa.”

“Tidak apa-apa.”

“Ayah juga belum bisa langsung mengerti semuanya hari ini.”

Maya mengangguk.

“Aku juga tidak minta.”

Pak Damar memegang amplop itu lebih erat.

“Tapi Ayah tidak akan pulang.”

Maya menatapnya beberapa detik.

Kemudian untuk pertama kalinya hari itu, senyumnya benar-benar terlihat.

“Terima kasih.”

Pak Damar tetap berada di gedung sampai acara selesai.

Ia ikut foto keluarga.

Tidak seperti rencana awal, ia tidak berdiri di samping Maya dalam setiap foto.

Beberapa kali tempat itu ditempati Pak Hadi.

Pak Damar tidak memprotes.

Namun jarak antara kedua lelaki itu masih ada.

Mereka belum bicara lagi.

Saat acara hampir selesai dan Pak Hadi hendak pulang lebih dulu, Maya melihat Pak Damar memperhatikannya dari jauh.

Pak Hadi sudah mengganti sepatu kulitnya dengan sandal yang dibawa dari rumah karena kakinya sakit.

Ia membawa jas tua itu di lengannya.

Pak Damar akhirnya berjalan mendekat.

Maya ingin ikut, tetapi Arga menahan tangannya.

“Biar mereka bicara sendiri.”

Maya berhenti.

Dari tempatnya berdiri, ia tidak bisa mendengar kalimat pertama Pak Damar.

Namun ia melihat Pak Hadi menggeleng berkali-kali.

Pak Damar lalu menunjukkan amplop.

Keduanya bicara cukup lama.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada air mata dramatis.

Pada akhirnya mereka hanya berjabat tangan.

Pak Hadi pergi.

Pak Damar kembali ke arah Maya.

“Ayah sudah bicara sama Pak Hadi.”

Maya menunggu.

“Ayah minta nomor teleponnya.”

“Untuk apa?”

Pak Damar memasukkan ponselnya ke saku.

“Belum tahu.”

Itu adalah jawaban paling jujur yang ia berikan sepanjang hari.

Beberapa hari setelah pernikahan, Maya dan Arga mulai kembali ke rutinitas.

Mereka tinggal di rumah kecil yang sudah mereka sewa beberapa bulan sebelum menikah.

Maya masih menerima pesan-pesan tentang pernikahan dari keluarga.

Sebagian memuji.

Sebagian menyindir.

Seorang tante bahkan menulis di grup keluarga bahwa “bagaimanapun ayah kandung tetap harus dihormati”.

Maya membaca pesan itu cukup lama.

Dulu, ia mungkin akan menjelaskan panjang lebar.

Kali ini ia hanya menjawab:

“Aku menghormati Ayah. Keputusan di pernikahanku bukan untuk menghapus beliau.”

Setelah itu Maya meletakkan ponsel dan tidak melanjutkan perdebatan.

Pak Damar tidak ikut membela Maya di grup.

Namun ia juga tidak menghubunginya untuk meminta Maya meminta maaf kepada keluarga besar seperti yang biasa terjadi setelah konflik.

Tiga hari kemudian, justru sebuah pesan pribadi masuk.

“Ayah boleh datang besok?”

Maya membaca pesan itu dua kali.

Ia menunjukkan kepada Arga.

“Kamu mau?”

Maya berpikir sebentar.

“Mau.”

Keesokan sore Pak Damar datang membawa dua kotak makanan.

Tidak ada acara khusus.

Mereka makan bertiga di meja kecil.

Obrolan awalnya kaku.

Pak Damar bertanya tentang pekerjaan Arga.

Lalu tentang tagihan rumah.

Lalu tentang rencana bulan madu yang masih ditunda karena Maya dan Arga memilih menabung.

Semua topiknya aman.

Ketika piring hampir kosong, Pak Damar akhirnya mengeluarkan amplop foto dari tasnya.

“Ayah ketemu Pak Hadi kemarin.”

Maya menatapnya.

“Ke rumahnya?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Pak Damar terdiam sebentar.

“Ayah mau dengar cerita tentang kamu.”

Maya hampir tertawa karena merasa pertanyaan itu aneh.

“Ayah bisa tanya aku.”

“Ayah tahu.”

Pak Damar mengusap tepi gelas.

“Tapi Ayah juga ingin tahu apa saja yang Ayah lewatkan.”

Ruangan menjadi sunyi.

Pak Damar kemudian bercerita bahwa kunjungannya hanya berlangsung sekitar satu jam.

Pak Hadi tidak banyak bicara tentang dirinya sendiri.

Ia malah mengeluarkan sebuah kotak plastik berisi beberapa foto lama.

Ada foto Maya memakai seragam SD sambil memegang piala lomba menggambar.

Ada foto Maya duduk di pos satpam sambil mengerjakan pekerjaan rumah.

Ada foto saat ulang tahunnya yang kesepuluh, ketika Pak Hadi dan dua petugas keamanan lain membelikannya kue kecil karena Pak Damar terlambat pulang.

Pak Damar berhenti ketika menceritakan foto terakhir.

Maya ingat hari itu.

Ia juga ingat Pak Damar pulang hampir tengah malam membawa boneka besar.

Saat itu Maya senang.

Ia memeluk boneka itu.

Ia tidak pernah menganggap hadiah tersebut tidak berarti.

Namun sore sebelumnya ia sudah meniup lilin bersama tiga orang dewasa yang sebenarnya tidak punya kewajiban merayakan ulang tahunnya.

“Ayah tanya Pak Hadi kenapa dia melakukan semua itu,” kata Pak Damar.

“Beliau jawab apa?”

Pak Damar menatap Maya.

“Katanya karena kamu sering sendirian.”

Maya tidak bergerak.

Pak Damar menundukkan kepala.

“Ayah tidak suka dengar kalimat itu.”

Arga yang sejak tadi diam ikut menunduk.

“Tapi setelah Ayah marah sebentar, Ayah sadar Ayah tidak suka bukan karena itu bohong.”

Pak Damar mengambil napas.

“Ayah tidak suka karena benar.”

Tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba menghiburnya.

Pak Damar tampaknya memang tidak sedang meminta dihibur.

Ia sedang belajar duduk bersama sebuah kenyataan yang selama ini terlalu mudah ditutup dengan kalimat, “Ayah bekerja untuk keluarga.”

Kalimat itu benar.

Namun kebenaran yang satu tidak otomatis menghapus kebenaran lain.

Pak Damar pernah bekerja sangat keras untuk Maya.

Pak Damar juga sering tidak hadir.

Keduanya bisa benar bersamaan.

“Ayah bukan datang untuk minta kamu bilang semua sudah selesai,” katanya.

Maya menatap ayahnya.

“Ayah cuma ingin tanya satu hal.”

“Apa?”

“Kalau Ayah mau memperbaiki hubungan kita, mulai dari mana?”

Maya menarik napas.

Pertanyaan itu jauh lebih sulit daripada permintaan maaf.

Kalau Pak Damar hanya berkata maaf, Maya bisa menjawab tidak apa-apa.

Lalu mereka kembali seperti dulu.

Namun meminta tahu harus mulai dari mana berarti sesuatu harus benar-benar berubah.

Maya berpikir cukup lama.

“Mulai dari jangan menawarkan uang setiap kali kita sedang bicara tentang sesuatu yang lain.”

Pak Damar tersentak kecil.

“Maksudmu?”

“Setiap aku cerita ada masalah, Ayah sering langsung tanya butuh berapa.”

Pak Damar tertawa malu.

“Karena itu yang Ayah tahu.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

“Kadang aku cuma ingin Ayah dengar sampai selesai.”

Pak Damar mengangguk pelan.

“Oke.”

Maya menambahkan, “Dan kalau Ayah janji datang, datang. Kalau memang tidak bisa, bilang dari awal. Jangan suruh aku menunggu berjam-jam.”

Pak Damar mengangguk lagi.

“Masih ada?”

Maya memandangnya.

“Ayah benar-benar mau daftar lengkap?”

Untuk pertama kalinya mereka bertiga tertawa.

Bukan karena masalah selesai.

Hanya karena ruangan akhirnya terasa sedikit lebih ringan.

Sejak hari itu, tidak terjadi perubahan ajaib.

Pak Damar masih beberapa kali kembali ke kebiasaan lamanya.

Suatu malam Maya bercerita tentang masalah kecil di tempat kerja.

Belum sampai dua menit, Pak Damar berkata, “Kalau perlu modal tambahan, Ayah bisa…”

Maya langsung memotong.

“Yah.”

Pak Damar berhenti.

“Oh.”

Maya menunggu.

Pak Damar menghela napas.

“Lanjut. Ayah dengar.”

Itu terasa sepele.

Namun bagi Maya, justru hal-hal sepele itulah yang sejak kecil selalu hilang.

Pak Damar juga mulai menghubungi Pak Hadi.

Awalnya hubungan mereka kaku.

Pak Damar pernah mengajak Pak Hadi makan di restoran yang cukup mahal.

Pak Hadi menolak.

“Kalau mau ngobrol, warung dekat rumah saya juga ada.”

Akhirnya mereka bertemu di sana.

Pak Damar mulai mendengar cerita-cerita yang tidak pernah ia tahu.

Ia tahu Maya dulu takut petir sampai kelas lima SD.

Ia tahu Maya pernah menangis karena nilai matematikanya jelek tetapi tidak berani mengatakan kepada ayahnya.

Ia tahu Maya pernah menabung uang jajan tiga bulan untuk membeli hadiah ulang tahun untuk dirinya, sebuah dompet yang bahkan Pak Damar sudah lupa dari mana asalnya.

Setelah mendengar cerita itu, Pak Damar pulang dan mencari dompet lama tersebut.

Dompet itu masih ada di laci.

Warnanya sudah kusam.

Untuk pertama kalinya ia sadar benda kecil itu mungkin jauh lebih berharga daripada yang pernah ia pahami.

Hubungan Pak Damar dan Pak Hadi tidak berubah menjadi persahabatan erat.

Mereka tetap dua lelaki dari dunia berbeda.

Pak Damar terbiasa bekerja dengan angka, jadwal, dan target.

Pak Hadi terbiasa dengan orang-orang yang datang dan pergi melewati pos jaga.

Namun ada satu hal yang akhirnya mereka sepakati tanpa perlu mengatakannya.

Mereka sama-sama menyayangi Maya dengan cara masing-masing.

Beberapa bulan kemudian, Pak Hadi berhenti bekerja karena tubuhnya sudah tidak kuat menjalani jadwal panjang.

Maya baru tahu setelah datang berkunjung dan melihat seragam satpamnya tergantung di balik pintu.

“Kenapa Bapak tidak bilang?”

Pak Hadi mengangkat bahu.

“Memangnya kenapa?”

“Maya kira Bapak masih kerja.”

“Sudah tua.”

Maya langsung bertanya apakah keuangannya cukup.

Pak Hadi tertawa.

“Jangan mulai seperti ayahmu.”

Maya ikut tertawa.

Pak Hadi memiliki sedikit tabungan dan tinggal di rumah miliknya sendiri yang sederhana. Anak laki-lakinya yang tinggal di kota lain juga membantu seperlunya.

Ia tidak membutuhkan Maya untuk menyelamatkannya.

Maya hanya memastikan nomor teleponnya aktif dan berjanji akan lebih sering datang.

Namun seminggu kemudian Pak Damar menelepon.

“Kamu sudah tahu Pak Hadi berhenti?”

“Sudah.”

“Dia bilang apa?”

“Katanya baik-baik saja.”

Pak Damar mendengus.

“Dia selalu bilang begitu.”

Maya tersenyum.

“Kok Ayah tahu?”

Pak Damar diam sebentar.

“Kemarin Ayah ke sana.”

Maya benar-benar tidak menyangka.

“Ngapain?”

“Bawain buah.”

“Pak Hadi mau terima?”

“Buahnya mau. Uangnya tidak.”

Maya tertawa.

Pak Damar juga tertawa.

Mereka kemudian bicara hampir dua puluh menit tanpa membahas uang sama sekali.

Setelah telepon berakhir, Maya baru menyadari sesuatu.

Dulu percakapan dengan ayahnya hampir selalu terasa seperti laporan.

Kerja bagaimana?

Sehat?

Butuh apa?

Kapan pulang?

Sekarang percakapan mereka mulai punya ruang kosong.

Pak Damar kadang bercerita tentang tanaman yang gagal tumbuh di rumahnya.

Maya mengeluh soal Arga yang selalu lupa menaruh kaus kaki di keranjang cucian.

Kadang tidak ada masalah penting.

Mereka tetap menelepon.

Ketika hampir setahun pernikahan Maya dan Arga berlalu, mereka mengadakan makan siang kecil di rumah.

Tidak ada dekorasi.

Tidak ada keluarga besar.

Hanya Maya, Arga, Pak Damar, dan Pak Hadi.

Pak Hadi datang memakai kemeja sederhana.

Pak Damar datang membawa buah.

Maya memasak bersama Arga.

Saat makan, Pak Damar tiba-tiba mengeluarkan foto pernikahan dari sebuah amplop.

Foto itu memperlihatkan Maya berjalan menuju pelaminan sambil menggandeng Pak Hadi.

Maya menatap ayahnya, menunggu.

Pak Damar berkata, “Ayah cetak dua.”

Ia memberikan satu kepada Pak Hadi.

Pak Hadi terdiam.

“Pak, saya…”

“Ambil saja.”

Pak Hadi menerima foto itu dengan kedua tangan.

Pak Damar lalu menyerahkan salinan lain kepada Maya.

“Ayah mau kamu punya juga.”

Maya melihat foto itu.

Hampir setahun lalu, foto yang sama mungkin akan membuat Pak Damar marah.

Sekarang ia sendiri yang mencetaknya.

Pak Damar mengusap tengkuk.

“Ayah tetap sedih bukan Ayah yang jalan sama kamu hari itu.”

Maya mengangkat wajah.

“Tapi sekarang Ayah mengerti kenapa.”

Maya tidak menjawab.

Pak Damar tersenyum tipis.

“Dan ternyata mengerti tidak membuat Ayah kehilangan tempat.”

Maya menaruh foto di atas meja.

“Memang tidak pernah.”

Pak Damar mengangguk.

Itulah bagian yang paling lama ia pahami.

Kasih sayang bukan kursi tunggal yang harus diperebutkan.

Pak Hadi hadir dalam kehidupan Maya tidak karena Pak Damar secara resmi menyerahkan perannya.

Ia hadir karena bertahun-tahun ada ruang kosong yang seseorang pilih untuk isi.

Mengakui Pak Hadi tidak menghapus Pak Damar.

Yang mengubah hubungan Maya dan ayahnya justru saat Pak Damar berhenti menganggap rasa terima kasih kepada orang lain sebagai penghinaan kepadanya.

Setelah makan, Pak Hadi hendak pulang.

Maya mengantarnya sampai depan.

Pak Damar ikut berdiri.

Pak Hadi mengenakan sandal lalu mengambil tasnya.

“Tidak usah antar jauh-jauh.”

Pak Damar meraih kunci mobil.

“Saya sekalian keluar.”

Pak Hadi langsung menolak.

“Saya bisa naik angkot.”

Pak Damar menghela napas.

“Pak Hadi.”

“Apa?”

“Sekali-sekali jangan keras kepala.”

Pak Hadi menatapnya.

“Bapak juga.”

Maya tertawa.

Akhirnya keduanya berjalan bersama menuju mobil.

Maya berdiri di ambang pintu rumah sambil melihat mereka.

Pak Damar membukakan pintu mobil untuk Pak Hadi.

Pak Hadi mengomel karena merasa diperlakukan seperti orang tua renta.

Pak Damar membalas sesuatu yang tidak terdengar.

Maya tidak mengejar mereka.

Ia hanya masuk kembali ke rumah.

Di ruang tengah, foto pernikahan tadi masih tergeletak di meja.

Maya mengambilnya dan memasukkannya ke dalam sebuah bingkai.

Bukan untuk mengingat siapa yang tidak berjalan bersamanya hari itu.

Melainkan untuk mengingat bahwa akhirnya, setelah bertahun-tahun, dua lelaki penting dalam hidupnya berhenti berebut tempat dan mulai memahami mengapa mereka masing-masing ada di sana.

Maya menaruh bingkai itu di rak dekat pintu.

Sore itu, ketika Pak Damar kembali setelah mengantar Pak Hadi, ia melihat foto tersebut.

Ia berhenti sebentar.

Lalu tanpa berkata apa-apa, ia mengambil kunci cadangan rumah Maya yang dulu sering ia taruh sembarangan di atas meja dan menggantungnya di tempat yang sudah disediakan Maya.

Setelah itu ia duduk dan menunggu anaknya selesai membuat teh.

Kali ini, ia tidak terburu-buru pergi ke mana pun.

Menurutmu, apakah keputusan Maya memberi tempat terhormat kepada Pak Hadi di hari pernikahannya tetap adil bagi ayah kandungnya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.