Bagian 2
Ketika sampai di rumah sakit, aku langsung diarahkan ke ruang tunggu bedah.
Seorang perempuan sekitar empat puluhan berdiri ketika mendengar namaku. Ia mengenakan kemeja sederhana dan membawa map cokelat tebal.
“Pak Dimas?”
“Iya.”
“Saya Nadia Prasetyo. Saya yang mendampingi Pak Surya beberapa hari terakhir.”
Aku bahkan belum duduk.
“Ayah saya bagaimana?”

“Masih di ruang operasi. Saya belum mendapat kabar baru dari dokter.”
Baru setelah mendengar itu aku menyadari napasku pendek-pendek.
Nadia menunjuk kursi.
“Duduk dulu.”
Aku menurut.
Ia tidak langsung membuka map.
“Pak Surya datang ke kantor saya dua hari lalu membawa beberapa fotokopi dokumen lama. Kondisinya sudah terlihat kurang sehat. Saya sebenarnya menyarankan beliau menyelesaikan pemeriksaan medis dulu.”
“Dokumen adopsi?”
Nadia mengangguk.
“Beliau sudah bilang kepada Anda?”
“Cuma sedikit.”
Seorang perawat kemudian datang membawa kantong berisi dompet Ayah, kunci, ponsel, dan satu amplop putih.
Di bagian depan tertulis dengan tulisan tangannya.
Untuk Dimas. Baca bersama Bu Nadia.
Aku mengenali tulisan itu sejak kecil.
Tanganku terasa dingin saat membuka perekat amplop.
Di dalamnya ada tiga lembar.
Yang pertama adalah surat tulisan tangan Ayah.
Yang kedua fotokopi dokumen lama dengan cap pengadilan yang sudah pudar.
Yang ketiga hasil awal pemeriksaan hubungan biologis dari sebuah laboratorium.
Mataku berhenti pada satu kalimat di surat Ayah.
Dimas, Ibu Ratna dan Ayah memang membesarkanmu sebagai anak kami, tetapi kami bukan orang tua biologismu.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Lalu tiga kali.
“Bu Nadia.”
Suara sendiri terdengar asing di telingaku.
“Ini maksudnya apa?”
Ia menunggu beberapa detik.
“Pak Surya adalah ayah Anda secara hukum dan orang yang mengadopsi Anda ketika masih sangat kecil.”
“Lalu ibu kandung saya?”
Nadia membuka satu dokumen.
“Namanya Laras Pradani.”
Nama belakangnya membuatku menoleh.
“Pradani?”
“Adik kandung Pak Surya.”
Aku tidak mampu bicara.
Ayahku adalah pamanku.
Ibu kandungku adalah adik perempuan yang sepanjang hidupku bahkan tidak pernah kudengar namanya.
Nadia tidak mencoba mengisi keheningan.
Akhirnya aku bertanya, “Kenapa baru sekarang?”
“Sebagian jawabannya ada di surat beliau. Sebagian lagi saya rasa sebaiknya Anda dengar langsung dari Pak Surya kalau beliau sudah sadar.”
Aku membaca surat itu.
Laras melahirkanku ketika masih sangat muda. Ayah biologisku pergi bahkan sebelum kelahiranku dan tidak pernah kembali.
Beberapa bulan setelah aku lahir, Laras meninggal akibat komplikasi kesehatan yang terus memburuk sejak persalinan.
Surya dan istrinya, Ratna, kemudian mengurus pengangkatan anak.
Mereka membesarkanku sebagai anak sendiri.
Ratna meninggal ketika aku tujuh belas tahun.
Tidak pernah sekali pun sebelum meninggal ia mengatakan bahwa aku bukan anak yang dilahirkannya.
Aku menutup mata.
Kenangan kecil datang tanpa diminta.
Ibu menungguku di depan sekolah membawa payung.
Ayah mengajariku naik motor.
Ibu memarahiku karena pulang terlambat.
Ayah tidur di kursi rumah sakit ketika aku terkena demam berdarah.
Tidak ada satu pun kenangan itu berubah.
Tapi seluruh peta hidupku mendadak memiliki satu ruangan tersembunyi.
“Apa hubungannya semua ini dengan dokumen hukum?” tanyaku.
Nadia menjelaskan bahwa ada sebidang tanah lama yang dulu merupakan bagian harta keluarga nenekku. Surya menerima bagiannya sendiri puluhan tahun lalu.
Sebagian dari bagian itu sudah dijual bertahun-tahun kemudian.
Tanah terakhir yang menjadi bagiannya adalah tanah yang ia jual untuk membantu uang muka rumahku.
Namun bagian Laras tidak pernah diselesaikan dengan baik karena ketika Laras meninggal, status ahli warisnya tidak segera dibereskan.
Sekarang beberapa anggota keluarga yang masih hidup ingin menyelesaikan kepemilikan tanah tersebut.
Bukan tanah raksasa.
Bukan warisan miliaran yang bisa membuat hidup berubah dalam semalam.
Nilai bagian yang mungkin menjadi hakku diperkirakan sekitar Rp300 juta sampai Rp400 juta, tergantung hasil pengukuran, penyelesaian dokumen, dan kesepakatan antar pihak.
“Pak Surya tidak bisa begitu saja menyerahkan uang atau tanah itu kepada Anda,” kata Nadia. “Beliau perlu menunjukkan rangkaian dokumen yang benar. Makanya beliau mencari salinan resmi dokumen pengangkatan anak, dokumen keluarga lama, dan pemeriksaan hubungan biologis sebagai pendukung.”
Aku menatap hasil laboratorium.
“Jadi tes ini untuk menunjukkan bahwa Ayah adalah saudara kandung ibu biologis saya?”
“Betul. Tapi ini hanya salah satu bagian. Bukan satu-satunya dasar.”
Aku mengangguk perlahan.
Lalu pertanyaan yang sejak tadi mengganjal kembali muncul.
“Kenapa Ayah melarang saya memberi tahu Rani?”
Wajah Nadia berubah sedikit.
Ia tidak terlihat ingin menjawab.
“Bu Nadia.”
“Pak Surya meminta saya hanya menunjukkan sesuatu kepada Anda setelah Anda mengetahui soal adopsi.”
Ia mengambil satu lembar dari map.
Bukan dokumen hukum.
Tangkapan layar percakapan WhatsApp.
Nama pengirimnya membuat tengkukku dingin.
Rani.
Pesan pertama dikirim hampir dua bulan lalu.
Pak, saya sudah menemukan salinan surat adopsi itu. Dimas belum tahu.
Di bawahnya, jawaban Ayah.
Jangan sembunyikan terlalu lama. Saya sendiri yang akan bicara setelah semua saya pastikan.
Pesan Rani berikutnya lebih panjang.
Tolong jangan sekarang. Kami sedang membicarakan rumah dan rencana keuangan. Kalau Dimas tahu soal tanah Laras sebelum semuanya selesai, dia pasti mengubah semua rencana lagi karena merasa harus mengikuti Bapak.
Aku berhenti membaca.
“Apa ini?”
Nadia tidak menjawab untuk Rani.
Ia hanya menggeser kertas sedikit lebih dekat.
Ada satu pesan terakhir dari Ayah.
Bukan saya yang membuat Dimas berubah pikiran. Dan bukan hak kamu menentukan kapan dia boleh tahu siapa ibunya.
Di bawahnya, Rani menjawab.
Saya cuma sedang menjaga rumah tangga saya sendiri.
Aku menatap kertas itu lama sekali.
Kini aku memahami kenapa ekspresi Ayah berubah ketika Rani berkata kami bukan bank.
Rani bukan sekadar tidak tahu untuk apa uang itu.
Ia tahu jauh lebih banyak daripada yang pernah dikatakannya kepadaku.
Dan ia tahu Rp15 juta yang diminta Ayah kemungkinan akan dipakai untuk membuktikan kebenaran yang selama dua bulan ia berusaha tunda.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku masih memegang kertas itu ketika ponselku bergetar.
Rani menelepon.
Nama istriku muncul di layar beberapa kali sebelum akhirnya kuangkat.
“Kamu di mana?” tanyanya.
“Rumah sakit.”
Ia terdiam.
“Rumah sakit?”
“Ayah masuk operasi.”
“Astaga. Kenapa kamu tidak bilang?”
“Aku baru tahu.”
“Operasi apa?”
Aku menjelaskan singkat.
Nada suaranya langsung berubah.
“Dim, aku ke sana sekarang.”
“Jangan.”
Keheningan di seberang telepon terasa lebih panjang daripada seharusnya.
“Maksudmu?”
“Aku bilang jangan datang dulu.”
“Kenapa?”
Aku melihat kembali tangkapan layar di tanganku.
“Karena ada beberapa hal yang harus aku pahami sebelum bertemu kamu.”
Rani bernapas pelan.
“Hal apa?”
Aku hampir mengatakan semuanya.
Hampir.
Lalu teringat pesan Ayah.
Bukan karena aku ingin membalas Rani dengan menyembunyikan sesuatu.
Aku hanya tidak ingin percakapan terbesar dalam hidupku terjadi lewat telepon ketika Ayah masih berada di meja operasi.
“Nanti kita bicara.”
“Dimas.”
“Aku akan menghubungi kamu.”
Aku menutup telepon.
Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun pernikahan kami, aku mematikan ponsel setelah bicara dengan istriku.
Hampir dua jam kemudian dokter keluar.
Operasi Ayah berhasil.
Aneurisma itu ditemukan sebelum pecah.
Ia masih harus dipantau ketat beberapa hari, tetapi dokter mengatakan bagian paling berbahaya sudah dilewati.
Aku duduk dan menundukkan kepala.
Baru saat itu tanganku mulai gemetar.
Rahasia adopsi, tanah, Rani, semua mendadak terasa kecil dibanding kemungkinan kehilangan Ayah pagi itu.
Nadia duduk beberapa kursi dariku.
“Pak Surya sangat takut tidak sempat mengatakan semuanya.”
“Ayah seharusnya memberitahuku sejak dulu.”
“Iya.”
Aku menoleh.
Aku tidak menyangka seorang advokat yang dibayar Ayah akan mengatakannya sejelas itu.
Nadia melanjutkan.
“Dan saya rasa beliau juga tahu itu.”
Aku membaca kembali surat Ayah sampai selesai.
Ia tidak mencoba membenarkan dirinya.
Tidak ada kalimat panjang tentang bagaimana ia melindungiku.
Tidak ada alasan bahwa aku terlalu kecil, terlalu muda, terlalu sibuk, atau belum siap.
Di bagian akhir ia menulis:
Setiap tahun saya pikir tahun depan saya akan bicara. Lalu kamu sekolah. Ibumu sakit. Kamu kuliah. Kamu menikah. Makin lama saya menunggu, makin berat mengaku bahwa saya sudah menunggu terlalu lama.
Saya takut kamu marah karena saya berbohong.
Tapi yang lebih saya takutkan adalah kamu mengetahui semuanya dari orang lain setelah saya tidak ada.
Saya minta maaf.
Aku melipat surat itu.
Untuk beberapa jam, tidak ada lagi yang bisa kulakukan.
Ayah belum sadar.
Aku pulang menjelang malam hanya untuk mandi dan mengambil pakaian.
Rani menungguku di ruang keluarga.
Ia langsung berdiri ketika aku masuk.
“Bagaimana Ayah?”
“Operasinya berhasil.”
Wajahnya tampak lega.
“Syukurlah.”
Aku melepas sepatu.
Tidak ada yang bicara beberapa detik.
Lalu Rani bertanya, “Kenapa kamu melarang aku datang?”
Aku berjalan ke ruang kerja, membuka tas, dan mengeluarkan salinan tangkapan layar.
Kutaruh di atas meja.
Rani berhenti bergerak.
Wajahnya berubah bahkan sebelum ia mengambil kertas itu.
“Kapan kamu tahu aku diadopsi?”
Ia menatapku.
“Dim.”
“Kapan?”
“Sekitar dua bulan lalu.”
Aku sudah mengetahui jawabannya.
Tetap saja mendengarnya langsung terasa berbeda.
“Bagaimana?”
Rani duduk perlahan.
Beberapa bulan sebelumnya ia sedang mencari salinan dokumen rumah karena kami sempat membicarakan kemungkinan pindah lebih dekat ke tempat kerja barunya.
Di salah satu map lama, ia menemukan fotokopi putusan pengangkatan anak yang tercampur dengan dokumen pembayaran rumah.
Nama Surya dan Ratna tercantum sebagai orang tua angkat.
Namaku ada di bawahnya.
“Aku pikir awalnya itu dokumen orang lain,” katanya.
“Kamu menelepon Ayah.”
“Iya.”
“Kenapa bukan aku?”
“Aku panik.”
“Dua bulan, Ran.”
“Aku tahu.”
“Dua bulan bukan panik.”
Ia menunduk.
“Aku cuma ingin memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Apakah itu benar.”
“Dan setelah Ayah bilang benar?”
Ia tidak langsung menjawab.
Aku mendorong kertas itu ke arahnya.
“Kamu sudah tahu soal tanah Laras.”
Rani menutup mata sebentar.
“Iya.”
Aku berdiri di seberang meja.
“Kenapa kamu tidak mengatakan apa pun?”
“Karena waktu itu kita sedang bicara soal pindah rumah.”
Aku tertawa pendek tanpa merasa lucu.
“Apa hubungannya?”
“Kamu tahu.”
“Tidak. Jelaskan.”
Rani akhirnya menatapku.
“Setiap keputusan besar kita selalu ada Ayahmu di tengahnya.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Ia melanjutkan sebelum aku menyela.
“Waktu beli rumah, uang dari Ayahmu. Waktu kita mau renovasi dapur, kamu tanya pendapat Ayahmu. Waktu aku usul pindah, kamu bilang rumah ini punya nilai emosional karena Ayahmu menjual tanahnya untuk membantu kita.”
“Aku tidak pernah bilang Ayah yang menentukan.”
“Tidak perlu. Kamu sendiri yang membuat semua keputusan selalu berputar ke sana.”
Ada kemarahan dalam suaranya.
Tapi di bawah kemarahan itu ada sesuatu yang baru kusadari selama ini tidak pernah kami bicarakan dengan benar.
Rasa menjadi orang kedua.
Aku duduk.
“Kalau kamu merasa seperti itu, kamu bisa bilang.”
“Aku sudah bilang.”
“Tidak pernah seperti ini.”
“Karena kalau aku mengkritik Ayahmu sedikit saja, kamu langsung menutup diri.”
Aku ingin membantah.
Lalu teringat beberapa pertengkaran lama.
Ada bagian dari ucapan Rani yang benar.
Ayah memang sangat penting bagiku.
Kadang-kadang aku terlalu cepat menganggap keberatan Rani sebagai serangan kepada orang yang membesarkanku.
Tapi fakta bahwa keluhannya punya dasar tidak membuat apa yang ia lakukan menjadi benar.
“Jadi karena itu kamu menyembunyikan siapa ibu kandungku?”
Wajah Rani melemah.
“Aku pikir kalau kamu tahu saat itu, semua rencana kita berhenti.”
“Rencana apa?”
“Kita sudah hampir sepakat mempertimbangkan pindah.”
“Mempertimbangkan.”
“Iya.”
“Itu bukan keputusan.”
“Aku tahu.”
“Dan tanah itu juga belum tentu selesai dalam waktu dekat.”
“Aku tahu sekarang.”
Aku menatapnya.
“Tidak. Kamu tahu dari awal bahwa bukan kamu yang berhak menentukan kapan aku menerima informasi tentang hidupku sendiri.”
Rani diam.
Aku mengambil salinan pesan.
“Yang paling membuatku sulit memahami bukan soal rumah. Bukan tanah. Bahkan bukan uang.”
Aku mengetuk kertas pelan.
“Kamu meminta Ayah menunda mengatakan siapa ibuku karena kamu takut aku mengambil keputusan yang tidak kamu inginkan.”
Rani mulai menangis.
Aku tidak meninggikan suara.
Justru setelah melihat air matanya, kemarahanku terasa lebih berat, bukan lebih ringan.
“Aku tidak mau kehilangan kendali atas hidup kita sendiri,” katanya.
“Jadi kamu mengambil kendali atas hidupku.”
Ia tidak menjawab.
Aku bertanya satu hal lagi.
“Di dapur tiga hari lalu, ketika Ayah minta Rp15 juta, kamu tahu kemungkinan uang itu untuk dokumen ini?”
Rani menunduk.
Itu jawaban sebelum jawaban.
“Aku menduga.”
“Kamu tahu dia sedang mencoba memastikan kebenaran.”
“Iya.”
“Dan kamu tetap bilang dia cari kerja tambahan.”
“Aku kesal.”
“Ayah enam puluh tiga tahun, Ran.”
“Aku tahu.”
“Dia bekerja sejak sebelum kita lahir.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kalau kamu benar-benar ingat itu saat bicara, kamu tidak akan memperlakukannya seperti tadi.”
Rani mengusap wajah.
“Aku salah.”
Kalimat itu tidak membuatku lega.
Malam itu aku tidur di ruang kerja.
Besok paginya aku kembali ke rumah sakit sebelum Rani bangun.
Ayah sadar menjelang siang.
Wajahnya pucat. Selang masih terpasang di beberapa tempat, dan suaranya sangat kecil.
Begitu melihatku, ia menggerakkan tangannya.
Aku mendekat.
“Amplopnya sudah kamu baca?”
“Sudah.”
Matanya langsung basah.
“Ayah minta maaf.”
Aku menarik kursi.
“Kenapa Ayah tidak pernah cerita tentang Laras?”
Ia memandang langit-langit.
Butuh beberapa saat sampai jawabannya keluar.
“Ibumu, Ratna, takut kamu merasa kami mengambil tempat ibu kandungmu.”
“Ibu tidak pernah mengambil tempat siapa pun.”
Ayah memejamkan mata.
“Saya tahu sekarang.”
Aku memegang tangannya.
“Ayah juga tidak.”
Ia menoleh.
“Aku masih marah karena Ayah menyembunyikannya.”
“Saya pantas dimarahi.”
“Tapi jangan pernah berpikir dokumen itu membuat Ayah bukan ayahku.”
Bibirnya bergetar.
Aku melanjutkan sebelum suaraku ikut berubah.
“Orang yang bangun jam lima pagi untuk membawaku sekolah itu Ayah. Yang jual motor supaya aku kuliah juga Ayah. Yang duduk semalaman di rumah sakit waktu aku demam berdarah juga Ayah.”
Ia mencengkeram tanganku pelan.
“Hubungan darah cuma menjelaskan dari mana aku lahir. Itu tidak menghapus siapa yang membesarkanku.”
Untuk pertama kalinya sejak operasi, Ayah menangis.
Tidak lama.
Hanya beberapa detik sebelum ia memalingkan wajah dan mengatakan ia lelah.
Aku duduk sampai ia tertidur.
Beberapa hari berikutnya hidupku mengecil menjadi rumah sakit, kantor, lalu rumah sakit lagi.
Aku tidak membicarakan tanah dengan Ayah.
Dokumen bisa menunggu.
Nadia juga tidak mendorong apa pun.
Ia hanya meminta izin menyimpan salinan berkas yang diperlukan dan mengatakan prosesnya bisa berlangsung berbulan-bulan.
Itu justru membuat semuanya terasa lebih nyata.
Tidak ada koper uang.
Tidak ada tanah yang mendadak berpindah nama.
Tidak ada seseorang yang datang menyerahkan cek.
Hanya dokumen lama, keluarga yang harus duduk bersama, dan pekerjaan administratif yang tertunda puluhan tahun.
Sementara itu, masalahku dengan Rani tidak bisa dimasukkan ke dalam map lalu ditinggalkan.
Tiga hari setelah Ayah dipindahkan dari ruang perawatan intensif, aku meminta Rani duduk denganku.
“Aku ingin kita pisahkan dulu uang darurat.”
Ia menatapku.
“Kamu pikir aku akan mengambil uang?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Terus?”
“Aku tidak nyaman lagi menyimpan semua uang tunai di rumah tanpa pencatatan. Mulai sekarang sebagian masuk rekening. Pengeluaran besar kita catat dan kita setujui bersama.”
Rani tersenyum pahit.
“Sekarang kamu tidak percaya padaku.”
“Memang.”
Aku tidak mengatakan itu untuk menyakitinya.
Aku hanya tidak ingin berbohong.
Rani terdiam lama.
Aku melanjutkan.
“Dokumen rumah juga akan kusimpan di tempat yang lebih aman. Bukan karena aku mau menjual diam-diam atau melakukan sesuatu tanpa kamu.”
“Karena kamu takut aku menyentuhnya?”
“Karena kamu pernah mencari dokumen itu tanpa memberitahuku tujuanmu.”
“Aku cuma mencari salinan.”
“Dan dari sana kamu menemukan sesuatu tentang hidupku lalu menyimpannya dua bulan.”
Ia tidak membantah.
“Aku juga menghentikan pembicaraan soal pindah rumah.”
Wajahnya menegang.
“Jadi semua keputusan sekarang kamu ambil sendiri?”
“Bukan.”
Aku menarik kursi mendekat.
“Tidak mengambil keputusan juga keputusan sementara. Aku tidak akan menjual, menjaminkan, atau mengubah apa pun tentang rumah selama kita belum tahu apakah pernikahan kita masih bisa dijalankan dengan jujur.”
Itulah pertama kalinya aku mengatakan masalah sebenarnya dengan suara keras.
Bukan tanah.
Bukan adopsi.
Pernikahan kami.
Rani menatapku cukup lama.
“Kamu mau cerai?”
“Aku belum tahu.”
Wajahnya runtuh sedikit.
Aku tetap duduk.
“Aku tidak mau mengambil keputusan sebesar itu ketika Ayah baru keluar dari operasi dan aku masih marah. Tapi aku juga tidak akan berpura-pura semuanya normal.”
Dua minggu kemudian Ayah pulang.
Aku menyewa perawat harian untuk beberapa jam setiap pagi selama masa pemulihan awal. Ayah protes soal biaya.
Aku mengingatkannya bahwa tiga hari sebelumnya ia hampir mati.
Untuk sekali itu ia tidak banyak melawan.
Rani tidak ikut ketika aku menjemputnya.
Itu keputusanku.
Aku belum siap menempatkan mereka dalam satu mobil sambil berpura-pura baik-baik saja.
Seminggu kemudian justru Rani yang meminta bertemu Ayah.
“Aku mau minta maaf.”
“Aku tidak bisa menjamin Ayah mau.”
“Aku tahu.”
Aku meneleponnya.
Ayah diam beberapa detik sebelum berkata, “Kalau dia ingin datang, datang saja.”
Pertemuan mereka jauh lebih sunyi daripada yang kubayangkan.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada ceramah.
Rani duduk di sofa sementara Ayah berada di kursi dengan bantal menyangga punggungnya.
“Pak,” kata Rani, “saya minta maaf soal hari itu.”
Ayah mengangguk kecil.
Rani melanjutkan.
“Dan bukan cuma soal uang.”
Aku melihat Ayah menatapnya.
“Saya tahu soal Dimas lebih dulu. Saya seharusnya bilang.”
Ayah tidak menyelamatkannya dari kalimat berikutnya.
“Saya takut kalau Dimas tahu soal tanah dan keluarganya, rencana kami berubah. Saya merasa Bapak terlalu besar pengaruhnya dalam rumah tangga kami.”
Ayah menghela napas.
“Kalau saya terlalu ikut campur, kamu seharusnya bicara dengan Dimas.”
“Iya.”
“Bukan menyimpan rahasia tentang hidupnya.”
“Iya, Pak.”
Ayah mengangguk.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada kalimat, “Sudahlah, keluarga harus saling memaafkan.”
Ayah hanya berkata, “Saya menerima kamu datang meminta maaf. Soal kepercayaan, itu bukan sesuatu yang bisa saya putuskan untuk Dimas.”
Aku menghargainya karena tidak mencoba menentukan apa yang harus kulakukan.
Dua bulan berikutnya Rani tinggal sementara bersama ibunya.
Itu bukan hukuman.
Kami berdua sepakat jarak diperlukan karena setiap percakapan di rumah selalu berakhir pada rasa bersalah, pembelaan, atau ketakutan.
Kami tetap bertemu seminggu sekali.
Kadang di rumah.
Kadang di kedai kopi dekat kantorku.
Rani berhenti meminta agar pembicaraan rumah dilanjutkan.
Ia juga menyerahkan semua salinan dokumen yang pernah ia foto dari map lama.
Tidak ada bukti bahwa ia memalsukan tanda tangan, mengajukan pinjaman, atau memindahkan uang.
Aku memastikan hal itu sendiri melalui dokumen dan rekening yang memang berhak kuakses.
Kesalahannya lebih sederhana.
Dan justru karena sederhana, terasa lebih dekat.
Ia takut kehilangan kendali.
Lalu ia mengambil hakku untuk mengetahui sesuatu agar keadaan bergerak ke arah yang ia inginkan.
Bagi banyak orang, mungkin tidak sebesar perselingkuhan.
Bagiku, itu cukup besar untuk membuatku mempertanyakan apakah aku bisa tidur di sebelahnya tanpa bertanya apa lagi yang sedang disimpan dariku.
Empat bulan setelah operasi Ayah, urusan tanah belum selesai.
Nadia memberi tahu bahwa beberapa dokumen lama sudah ditemukan, tetapi masih ada proses verifikasi dan pembicaraan dengan anggota keluarga lain.
Perkiraan bagian yang mungkin kuterima juga turun setelah pengukuran ulang dan biaya penyelesaian diperhitungkan.
Aku tidak kecewa.
Aneh rasanya menyadari bahwa uang adalah bagian yang paling tidak penting dari semuanya.
Aku justru meminta Nadia satu hal.
“Kalau nanti hak saya memang jelas, saya tidak mau keputusan soal tanah dibuat sebelum Ayah memahami semua dokumennya juga.”
Ia mengangguk.
“Itu bisa diatur.”
Ayah mendengar dan langsung protes.
“Itu hak kamu.”
“Aku tahu.”
“Tidak perlu pikirkan Ayah.”
“Aku juga tahu.”
Ia menggeleng.
“Keras kepala.”
Aku tertawa.
“Belajar dari siapa?”
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, suasana terasa ringan.
Masalah dengan Rani jauh lebih pelan.
Suatu malam, hampir lima bulan setelah ia pindah sementara, kami duduk di meja makan rumahku.
Rani memandang kursi kosong di sampingnya.
“Aku dulu benar-benar merasa rumah ini bukan rumahku,” katanya.
Aku menunggu.
“Bukan karena nama di sertifikat. Karena setiap kali melihat rumah ini, aku tahu sebagian besar uang mukanya dari Ayahmu. Aku merasa kalau aku meminta sesuatu yang bertentangan dengan keinginanmu soal Ayah, aku selalu akan terlihat seperti orang tidak tahu berterima kasih.”
Aku tidak menyangkalnya.
“Mungkin aku juga membuatmu merasa begitu.”
Ia menatapku.
“Tapi itu tidak membenarkan yang kulakukan.”
“Tidak.”
“Aku tahu.”
Beberapa detik kami hanya mendengar suara kipas dapur.
Rani lalu berkata, “Kalau kamu memutuskan tidak bisa melanjutkan, aku akan terima.”
Aku menatap wajah perempuan yang sudah hidup bersamaku sembilan tahun.
Aku masih menyayanginya.
Itulah bagian paling menyulitkan.
Kalau rasa sayang menghilang, keputusan mungkin jauh lebih sederhana.
“Aku belum siap tinggal bersama lagi,” kataku.
Matanya memerah, tapi ia mengangguk.
“Baik.”
“Tapi aku juga belum ingin mengakhiri semuanya sekarang.”
Ia menatapku lagi.
“Aku bersedia melihat apakah kepercayaan bisa dibangun lagi. Bukan dengan janji. Dengan waktu.”
Rani mengangguk.
“Kalau butuh setahun?”
“Berarti setahun.”
“Kalau akhirnya tetap tidak bisa?”
“Berarti kita jujur soal itu juga.”
Tidak romantis.
Tidak dramatis.
Tapi untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, percakapan kami tidak terasa seperti salah satu pihak sedang mencoba menang.
Enam bulan setelah Ayah datang ke dapur meminta Rp15 juta, ia sudah cukup kuat untuk berjalan sendiri ke rumahku.
Suatu pagi ia datang membawa sebuah map.
“Ini salinan dokumen yang sudah selesai.”
Aku membukanya.
Di dalam ada dokumen pengangkatan anak, salinan catatan keluarga lama, serta satu foto perempuan muda yang belum pernah kulihat.
Rambutnya panjang.
Senyumnya mirip milikku.
“Laras?”
Ayah mengangguk.
“Ibumu.”
Aku memegang foto itu lama.
“Ayah punya foto lain?”
“Banyak.”
“Kenapa baru kasih satu?”
Ia tersenyum tipis.
“Kalau saya bawa semuanya, kamu tidak kerja hari ini.”
Aku tertawa.
Ia berdiri hendak pulang.
Sebelum keluar, Ayah berhenti di dekat pintu.
“Dim.”
“Ya?”
“Terima kasih sudah tidak membuat saya kehilangan anak hanya karena kamu tahu saya bukan ayah kandungmu.”
Aku menatapnya.
“Kita sudah membahas ini.”
“Saya tahu.”
Aku mengambil kunci rumah dari meja.
“Ayah tetap Ayah. Jangan bikin aku jelaskan lagi.”
Ia tersenyum.
Saat pintu tertutup, aku melihat map di tanganku.
Dulu dokumen-dokumen keluarga disimpan bercampur dalam satu lemari yang hampir tidak pernah kami periksa.
Sekarang aku memasukkan semuanya ke dalam kotak dokumen baru, menguncinya, lalu meletakkan satu kunci di gantungan kunciku sendiri.
Bukan karena aku ingin menyembunyikan sesuatu.
Justru karena setelah semua yang terjadi, aku akhirnya mengerti bahwa kepercayaan bukan berarti setiap pintu dibiarkan terbuka.
Kepercayaan berarti orang yang memegang kunci tahu kapan harus mengetuk.
Menurutmu, apakah Dimas sebaiknya tetap memberi Rani kesempatan membangun kembali kepercayaan setelah ia menyembunyikan rahasia sebesar itu?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
