Aku berpura-pura pergi ke Singapura lalu diam-diam kembali untuk mengawasi kamera dan menangkap perempuan yang selama ini mengurus kedua putriku. Namun, aku justru melihat tunanganku tersenyum sambil menyembunyikan kalung milik mendiang istriku ke dalam koper pembantu rumah tangga kami, sementara kedua putriku menangis dan memeluk perempuan itu.
Tunanganku berkata dingin, “Kamu cuma pembantu di rumah ini, bukan ibu mereka.”
Aku tidak berteriak.
Aku membuka pintu sambil membawa rekaman videonya.
Lalu putriku berbisik kepadaku bahwa semua itu selalu terjadi setiap kali aku pergi.
BAGIAN 1
Raka Pratama berpura-pura naik pesawat menuju Singapura karena ia bertekad membuktikan bahwa perempuan yang selama ini menjaga kedua putrinya adalah seorang pencuri.
Namun, apa yang akhirnya ia temukan jauh lebih mengerikan.
Ancaman sebenarnya bukanlah perempuan yang bekerja di rumahnya.
Ancaman itu justru tidur di bawah atap yang sama dengannya.
Di usia 42 tahun, Raka memimpin sebuah perusahaan properti besar dengan proyek di Jakarta, Surabaya, dan Bali.
Ia tinggal bersama dua putrinya, Alya yang berusia 7 tahun dan Kirana yang berusia 6 tahun, di sebuah rumah mewah di Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Dari luar, kehidupan mereka tampak sempurna.
Rumah luas dengan taman yang selalu terawat.
Mobil mewah di garasi.
Sekolah terbaik untuk kedua anaknya.
Namun sejak istrinya, Maya, meninggal dunia 3 tahun lalu, rumah itu terasa terlalu sunyi.
Raka mencoba mengisi kekosongan tersebut dengan bekerja.
Ia pergi pagi-pagi sekali.
Pulang setelah anak-anak tidur.
Alya dan Kirana perlahan belajar untuk tidak lagi bertanya kapan ayah mereka pulang.
Mereka juga berhenti kecewa setiap kali Raka membatalkan makan malam keluarga karena rapat mendadak.
Raka selalu meyakinkan dirinya bahwa ia sudah menjadi ayah yang baik.
Ia membayar sekolah terbaik.
Memberikan les musik.
Memastikan rekening pendidikan mereka aman.
Menyediakan rumah tanpa kekhawatiran soal uang.
Namun ada satu hal yang tidak ia sadari.
Anak-anak tidak hanya membutuhkan semua itu.
Mereka membutuhkan seseorang yang benar-benar hadir.
Dan orang itu adalah Nadira Wulandari.
Nadira mulai bekerja di rumah Raka 2 tahun sebelumnya sebagai asisten rumah tangga.
Awalnya tugasnya sederhana.
Membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan sesekali memasak jika diperlukan.
Namun perlahan, tanpa pernah diminta, Nadira mulai membantu mengurus Alya dan Kirana.
Setiap pagi, dialah yang mengepang rambut Kirana sebelum berangkat sekolah.
Ketika Alya terbangun karena mimpi buruk, Nadira duduk di samping tempat tidurnya dan membacakan cerita sampai anak itu kembali tertidur.
Ketika Kirana demam, Nadira yang beberapa kali terbangun pada malam hari untuk memeriksa suhu tubuhnya.
Ia tidak pernah meminta bayaran tambahan untuk semua itu.
Raka menganggapnya sebagai bentuk loyalitas seorang pegawai.
Namun kedua putrinya melihat Nadira dengan cara berbeda.
Bagi mereka, Nadira adalah orang yang selalu ada.
Dan rupanya hal itulah yang membuat tunangan Raka, Selina Mahendra, tidak nyaman.
Selama beberapa minggu terakhir, Selina terus menanamkan kecurigaan dalam pikiran Raka.
“Kamu tidak sadar bagaimana perempuan itu memanipulasimu?” katanya suatu malam.
Raka mengernyit.
“Siapa?”
“Nadira.”
Raka hampir tertawa.
“Nadira sudah bekerja di sini 2 tahun.”
“Itulah masalahnya.”
Selina meletakkan gelasnya di meja.
“Anak-anakmu terlalu dekat dengannya. Kadang aku merasa mereka lebih mendengarkan dia daripada aku.”
“Mereka masih kecil.”
“Bukan cuma itu.”
Selina mendekat.
“Ada barang-barang yang hilang.”
Pertama, ia mengatakan sebuah bros mahal miliknya menghilang.
Beberapa hari kemudian, sepasang anting tidak ditemukan.
Anehnya, barang-barang itu kemudian muncul kembali di laci lain.
Selina terus mengingatkan Raka.
“Sekarang mungkin cuma perhiasan kecil. Suatu hari nanti kamu akan mendapat kejutan yang jauh lebih besar.”
Raka tidak ingin mempercayainya.
Namun kecurigaan adalah sesuatu yang aneh.
Begitu masuk ke dalam kepala, ia sulit dikeluarkan.
Akhirnya Raka mengambil keputusan.
Ia mengumumkan akan melakukan perjalanan bisnis selama 4 hari ke Singapura.
Pagi itu, ia mengenakan setelan kerja seperti biasa.
Sebuah koper sudah menunggu di depan rumah.
Alya memeluknya.
“Empat hari?”
“Empat hari saja.”
“Janji?”
Raka tersenyum dan mencium keningnya.
“Janji.”
Kirana ikut memeluk pinggang ayahnya.
Dari belakang mereka, Nadira berdiri sambil membawa kotak bekal anak-anak.
Selina juga ada di sana.
Ia tersenyum manis.
“Hati-hati di jalan.”
Raka masuk ke mobil.
Sopir memasukkan koper ke bagasi.
Mobil meninggalkan Pondok Indah menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Namun nama Raka Pratama tidak pernah tercatat sebagai penumpang penerbangan mana pun pagi itu.
Sekitar 40 menit kemudian, sebuah mobil lain membawanya kembali.
Raka masuk melalui pintu servis di bagian belakang rumah bersama Damar, kepala keamanannya.
Beberapa bulan sebelumnya, setelah terjadi percobaan pencurian di kompleks perumahan mereka, Raka telah memasang kamera keamanan tambahan di area-area umum rumah.
Ia dan Damar masuk ke sebuah ruangan kecil yang terhubung dengan sistem CCTV.
Monitor menyala.
Ruang keluarga.
Dapur.
Koridor.
Teras belakang.
Raka duduk di depan layar.
“Aku ingin tahu apa yang terjadi ketika mereka mengira aku tidak ada di rumah.”
Damar hanya mengangguk.
Pada awalnya, tidak terjadi apa-apa.
Nadira membereskan dapur.
Alya duduk mengerjakan gambar untuk tugas sekolah.
Kirana bermain dengan bonekanya di karpet ruang keluarga.
Semuanya terlihat normal.
Kemudian Selina muncul.
Dan senyum manis yang tadi ia tunjukkan saat mengantar Raka pergi sudah menghilang.
“Sekarang cukup bermainnya,” katanya.
Alya menoleh.
“Tapi Tante Selina, aku belum selesai.”
“Aku bilang bereskan.”
Kirana memeluk bonekanya.
“Nadira bilang kami boleh main 20 menit setelah selesai belajar.”
Selina langsung menoleh kepada Nadira.
Tatapannya berubah dingin.
“Kamu yang bilang?”
Nadira menjawab tenang.
“Mereka sudah menyelesaikan tugas sekolah, Bu. Saya pikir tidak apa-apa kalau—”
“Kamu tidak dibayar untuk berpikir.”
Raka membeku di depan monitor.
Nadira terdiam.
Selina melangkah mendekatinya.
“Kamu harus ingat posisi kamu di rumah ini.”
Alya langsung menundukkan kepala.
Gerakan kecil itu membuat Raka merasa tidak nyaman.
Bukan karena putrinya takut.
Melainkan karena reaksinya terlihat terlalu terbiasa.
Seolah-olah Alya sudah berkali-kali menyaksikan adegan yang sama.
Selina melanjutkan dengan suara rendah.
“Kamu cuma pembantu di rumah ini, Nadira.”
Ia menunjuk ke arah Alya dan Kirana.
“Bukan ibu mereka.”
Kirana segera berdiri dan memeluk Nadira.
“Jangan marahi Nadira.”
Selina menarik napas kesal.
Raka merasakan sesuatu menghantam dadanya.
Rasa malu.
Selama ini ia begitu sibuk mencurigai Nadira sampai tidak pernah bertanya mengapa kedua putrinya terlihat gugup setiap kali Selina datang.
Namun kejadian berikutnya jauh lebih buruk.
Selina meninggalkan ruang keluarga.
Raka mengikuti pergerakannya melalui kamera.
Koridor.
Tangga.
Kamar utama.
Selina masuk ke kamar Raka.
Ia berjalan menuju lemari.
Kemudian membuka sebuah kotak perhiasan yang sudah bertahun-tahun hampir tidak pernah disentuh.
Raka langsung berdiri.
“Tidak…”
Kotak itu milik Maya.
Mendiang istrinya.
Di dalamnya masih tersimpan beberapa perhiasan yang sengaja Raka pertahankan untuk diberikan kepada Alya dan Kirana ketika mereka dewasa.
Selina membuka kotak tersebut.
Tangannya berhenti pada sebuah kalung berlian.
Raka mengenalinya seketika.
Maya mengenakan kalung itu pada ulang tahun pernikahan terakhir mereka.
Bahkan Raka sendiri hampir tidak pernah menyentuhnya.
Selina mengambil kalung tersebut.
Membungkusnya dengan saputangan kecil.
Lalu tersenyum.
Raka menatap layar tanpa berkedip.
Selina melihat ke arah koridor.
Memastikan tidak ada siapa pun.
Kemudian ia keluar dari kamar utama.
Namun ia tidak membawa kalung itu ke kamarnya sendiri.
Ia berjalan menuruni tangga.
Melewati dapur.
Kemudian masuk ke koridor belakang.
Raka mulai memahami ke mana Selina pergi.
“Tidak mungkin…”
Selina berhenti tepat di depan kamar kecil milik Nadira.
Ia membuka pintunya.
Masuk.
Di sudut kamar terdapat sebuah koper sederhana milik Nadira.
Selina berjongkok.
Membuka koper itu.
Lalu menyelipkan kalung milik Maya di antara pakaian Nadira.
Damar menoleh kepada Raka.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Mereka tidak perlu mengatakan apa-apa.
Semuanya terekam dengan jelas.
Saat itulah Raka akhirnya memahami kenyataan yang sebenarnya.
Perjalanan palsu yang ia rancang untuk membuktikan bahwa Nadira adalah seorang pencuri ternyata tidak pernah memburu pencuri yang sebenarnya.
Ia justru sedang menyaksikan perempuan yang akan dinikahinya menjebak seorang wanita tak bersalah.
Namun Raka belum tahu satu hal.
Kalung itu bukan rahasia terbesar Selina.
Karena ketika ia akhirnya membuka pintu dan menghadapkan Selina pada rekaman CCTV tersebut, Alya memegang tangan ayahnya erat-erat.
Tubuh kecilnya gemetar.
Lalu putrinya berbisik,
“Ayah… Selina selalu seperti ini kalau Ayah pergi.”
Raka menatap putrinya.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya,
“Selalu seperti ini maksudnya apa?”
Alya mulai menangis.
Jawaban yang keluar dari mulut putrinya beberapa detik kemudian membuat Raka sadar bahwa kalung itu hanyalah awal dari semuanya.
BAGIAN 2
“Ayah… Selina selalu seperti ini kalau Ayah pergi.”
Kalimat Alya membuat tangan Raka yang sudah berada di gagang pintu mendadak berhenti.
Ia menoleh.
Putrinya yang berusia 7 tahun berdiri di samping Nadira dengan wajah pucat. Kedua tangannya menggenggam ujung baju perempuan itu seolah takut seseorang akan memisahkan mereka.
Raka berjongkok.
“Alya, lihat Ayah.”
Anak itu perlahan mengangkat wajah.
“Selalu seperti ini maksudnya apa?”
Alya tidak langsung menjawab.
Ia justru melihat ke arah Selina.
Dan tatapan itu membuat dada Raka terasa sesak.
Itu bukan tatapan anak kecil kepada calon ibu tirinya.
Itu tatapan seseorang yang sedang memastikan apakah aman untuk berbicara.
Nadira berlutut di sampingnya.
“Tidak apa-apa, Alya. Ayahmu ada di sini.”
Barulah Alya berbisik.
“Kalau Ayah pergi, Tante Selina sering marah.”
“Marah bagaimana?”
“Dia bilang kami jangan terlalu dekat sama Nadira.”
Kirana yang sejak tadi diam tiba-tiba menyela.
“Tante Selina juga pernah membuang gambar Mama.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Raka menatap putri bungsunya.
“Gambar Mama?”
Kirana mengangguk.
“Aku gambar Mama pakai gaun biru. Tante Selina bilang Mama sudah meninggal, jadi tidak perlu digambar lagi.”
Wajah Raka berubah.
Selina segera maju.
“Mereka anak-anak, Raka. Kamu tidak mungkin percaya semua yang—”
“Diam.”
Hanya satu kata.
Namun untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Selina benar-benar terdiam.
Raka berdiri.
Ia mengambil tablet dari tangan Damar.
Kemudian memutar rekaman CCTV yang baru saja mereka lihat.
Di layar terlihat jelas Selina memasuki kamar utama.
Membuka kotak perhiasan Maya.
Mengambil kalung.
Masuk ke kamar Nadira.
Lalu menyembunyikannya di dalam koper.
Wajah Selina kehilangan warna.
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan.”
“Aku hanya ingin menguji dia.”
Raka menatapnya seolah tidak mengenali perempuan di hadapannya.
“Menguji Nadira dengan menaruh kalung mendiang istriku di kopernya?”
“Aku curiga dia mencuri.”
“Jadi kamu menjebaknya?”
Selina mulai panik.
“Aku melakukan ini untuk melindungi kamu!”
“Dari siapa?”
Raka menunjuk Nadira.
“Dari perempuan yang membacakan cerita untuk anak-anakku ketika aku terlalu sibuk untuk pulang?”
Selina menggigit bibir.
“Aku akan menjadi istrimu. Aku berhak tahu siapa yang tinggal di rumah ini.”
“Dan kamu pikir itu memberimu hak membuka kotak perhiasan Maya?”
Nama itu membuat ekspresi Selina berubah.
Hanya sesaat.
Namun Raka melihatnya.
Bukan rasa bersalah.
Melainkan kebencian.
Dan pada detik itu, ia memahami bahwa masalah ini jauh lebih dalam daripada sekadar kecemburuan terhadap seorang asisten rumah tangga.
“Kenapa kamu begitu membenci Maya?”
Selina membeku.
“Aku tidak membencinya.”
“Jangan bohong lagi.”
Raka mendekat.
“Kamu membuang gambar yang dibuat Kirana. Kamu melarang anak-anak membicarakan ibu mereka. Dan sekarang kamu menggunakan perhiasannya untuk menjebak Nadira.”
Selina tidak menjawab.
Namun Nadira tiba-tiba berkata pelan.
“Pak Raka…”
Raka menoleh.
Ada sesuatu dalam ekspresi Nadira.
Keraguan.
Ketakutan.
Dan rasa bersalah.
“Ada hal lain yang harus Bapak lihat.”
Selina langsung menatapnya.
“Nadira, jangan.”
Dua kata itu cukup.
Raka menoleh tajam kepada tunangannya.
“Kamu tahu apa yang dia maksud?”
Nadira berdiri.
“Saya minta maaf karena tidak memberitahu Bapak lebih cepat.”
“Memberitahu apa?”
Nadira berjalan menuju kamarnya.
Beberapa menit kemudian ia kembali membawa sebuah ponsel lama.
Layarnya retak di sudut.
“Saya menyimpan ini karena saya takut tidak ada yang percaya.”
Ia membuka sebuah folder.
Ada beberapa rekaman suara.
Tanggalnya tersebar selama hampir 4 bulan.
Nadira menekan salah satunya.
Suara Selina terdengar.
“Kalau kalian cerita ke ayah kalian, Nadira yang akan aku pecat. Kalian mau itu?”
Kemudian terdengar suara Kirana menangis.
Rekaman lain.
“Berhenti menyebut Mama kalian di depan aku. Aku akan tinggal di rumah ini setelah menikah dengan ayah kalian.”
Rekaman berikutnya lebih buruk.
“Kalian harus mulai belajar memanggil aku Mama.”
Raka menutup mata.
Tangannya gemetar.
Bukan karena marah saja.
Karena malu.
Ia berada di rumah yang sama.
Ia adalah ayah mereka.
Namun orang lain yang harus merekam semua itu untuk melindungi anak-anaknya.
“Kenapa kamu tidak bilang padaku?” tanyanya kepada Nadira.
Nadira menunduk.
“Saya pernah mencoba.”
Raka mengerutkan kening.
“Kapan?”
“Dua bulan lalu.”
Ia mengingatkan Raka tentang sebuah malam ketika Nadira menunggunya di ruang kerja.
Saat itu Raka baru pulang hampir tengah malam setelah rapat dengan investor.
Nadira mengatakan ingin membicarakan sesuatu tentang anak-anak.
Namun Raka hanya menjawab bahwa ia sangat lelah.
Besok saja.
Besok itu tidak pernah datang.
Raka mengingatnya.
Dengan sangat jelas.
Dan rasa bersalah yang muncul kali ini lebih menyakitkan daripada kemarahannya terhadap Selina.
Ia menatap kedua putrinya.
“Ayah minta maaf.”
Alya langsung menggeleng.
Tapi Raka melanjutkan.
“Ayah seharusnya mendengarkan.”
Ia berlutut di depan mereka.
“Ayah pikir bekerja keras berarti menjaga kalian. Tapi ternyata Ayah terlalu sibuk menyediakan semuanya sampai lupa memberikan hal yang paling kalian butuhkan.”
“Apa?” tanya Kirana polos.
Raka menahan air mata.
“Ayah.”
Kirana langsung memeluknya.
Alya menyusul.
Untuk beberapa saat, tidak ada perusahaan.
Tidak ada rumah mewah.
Tidak ada rencana pernikahan.
Hanya seorang ayah berusia 42 tahun yang akhirnya menyadari bahwa kedua putrinya tidak pernah membutuhkan hidup yang sempurna.
Mereka hanya membutuhkan dirinya hadir.
Namun Selina belum selesai.
“Kamu akan menyesali ini.”
Raka berdiri.
Selina mengambil tasnya.
“Kamu pikir Nadira sesuci itu?”
Nadira menatapnya.
Selina tertawa kecil.
“Tanyakan kenapa dia sebenarnya bekerja di rumah ini.”
Raka terdiam.
Nadira memucat.
Selina melihat reaksinya dan tersenyum.
“Nah.”
“Apa maksudmu?” tanya Raka.
“Nadira tidak datang ke rumah ini secara kebetulan.”
“Nadira?”
Perempuan itu tidak menjawab.
Selina berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, ia menoleh.
“Tanyakan nama lengkap ibunya.”
Lalu ia pergi.
Pintu tertutup.
Raka menatap Nadira.
Untuk pertama kalinya malam itu, perempuan yang selama ini terlihat begitu tenang tampak benar-benar takut.
“Nadira?”
Ia menarik napas panjang.
“Nama ibu saya Sri Wahyuni.”
Raka tidak mengerti.
Lalu Damar, yang sejak tadi berdiri diam, tiba-tiba menatapnya.
“Pak…”
“Apa?”
“Sri Wahyuni.”
Damar berpikir beberapa detik.
“Bukankah itu nama pengasuh almarhumah Bu Maya waktu kecil?”
Raka merasa udara di ruangan itu berubah.
Ia menatap Nadira.
Perempuan itu mulai menangis.
Dan akhirnya rahasia yang selama 2 tahun disimpannya terbuka.
Sri Wahyuni memang pernah bekerja untuk keluarga Maya.
Bukan beberapa bulan.
Hampir 18 tahun.
Ia datang ketika Maya masih berusia 5 tahun dan tinggal bersama keluarga itu sampai Maya kuliah.
Bagi Maya, Sri bukan sekadar pekerja rumah tangga.
Ia adalah perempuan yang merawatnya ketika ibunya sendiri sibuk mengurus bisnis keluarga.
Namun setelah Maya menikah dengan Raka, hubungan mereka perlahan terputus.
Bertahun-tahun kemudian, Sri jatuh sakit.
Saat itulah Nadira mengetahui sesuatu yang tidak pernah diceritakan ibunya.
Maya masih menghubungi Sri secara diam-diam.
Setiap beberapa bulan, Maya mengirim uang untuk biaya pengobatan.
Bukan melalui perusahaan.
Bukan melalui Raka.
Dari rekening pribadinya.
“Kenapa Maya tidak pernah cerita?” tanya Raka.
Nadira menghapus air matanya.
“Karena Ibu Maya tahu Mama saya tidak mau dianggap meminta belas kasihan.”
Setelah Maya meninggal, transfer itu berhenti.
Sri baru mengetahui kabar kematiannya beberapa bulan kemudian.
Sebelum meninggal dunia karena komplikasi penyakitnya sendiri, Sri memberikan sebuah amplop kepada Nadira.
Di dalamnya terdapat foto lama Maya ketika berusia 10 tahun.
Dan sebuah surat.
“Mama meminta saya mencari Bapak.”
“Kenapa?”
“Bukan untuk meminta uang.”
Nadira masuk kembali ke kamarnya.
Kali ini ia membawa sebuah kotak kecil yang terlihat sudah tua.
Dari dalamnya, ia mengambil amplop berwarna krem.
Di bagian depan tertulis satu nama.
Raka.
Tulisan tangan itu membuat lutut Raka hampir kehilangan tenaga.
Ia mengenalinya.
Maya.
“Dari mana kamu dapat ini?”
“Ibu Maya menitipkannya kepada Mama saya sekitar sebulan sebelum kecelakaan.”
Raka menatap Nadira tidak percaya.
“Dua tahun kamu punya surat dari istriku dan tidak memberikannya?”
“Saya mencoba.”
“Kapan?”
“Hari pertama saya bekerja.”
Nadira menangis.
“Tapi waktu itu Bapak bahkan tidak mau mendengar nama Bu Maya. Foto-fotonya disimpan. Kamarnya diubah. Setiap anak-anak membicarakan beliau, Bapak pergi.”
Raka tidak bisa menyangkalnya.
Itu benar.
Ia begitu takut menghadapi kesedihan sampai mengira menghindarinya adalah cara bertahan hidup.
Nadira melanjutkan.
“Lalu saya melihat Alya dan Kirana.”
Suaranya bergetar.
“Mereka kehilangan ibu mereka. Tapi sebenarnya mereka juga perlahan kehilangan ayahnya.”
Raka menunduk.
“Saya memutuskan tinggal sebentar. Saya pikir setelah keadaan membaik, saya akan memberikan surat itu.”
“Kenapa tidak pernah?”
“Karena tidak pernah terasa seperti waktu yang tepat.”
Raka membuka amplop.
Di dalamnya hanya ada dua lembar kertas.
Ia mulai membaca.
Maya menulis surat itu sebelum melakukan perjalanan kerja ke Surabaya.
Bukan karena ia tahu akan meninggal.
Bukan surat wasiat.
Hanya sebuah surat dari seorang istri yang merasa suaminya semakin tenggelam dalam pekerjaan.
Maya menulis tentang Alya.
Tentang Kirana.
Tentang ketakutannya bahwa suatu hari Raka akan merasa uang bisa menggantikan kehadiran.
Kemudian ada satu paragraf yang membuat Raka berhenti.
Air matanya jatuh ke kertas.
Maya menulis bahwa jika suatu hari sesuatu terjadi padanya, Raka tidak boleh mengubah rumah mereka menjadi museum kesedihan.
Ia boleh mencintai lagi.
Boleh menikah lagi.
Boleh bahagia lagi.
Namun ada satu syarat.
Jangan pernah memilih perempuan yang ingin menggantikan aku di hati anak-anak. Pilihlah seseorang yang cukup baik untuk membiarkan mereka tetap mencintaiku.
Raka menutup mulut.
Alya mendekat.
“Ayah kenapa?”
Raka tidak mampu menjawab.
Ia hanya memeluk putrinya.
Selama ini ia mengira mempertahankan kalung, foto, dan barang-barang Maya berarti menjaga kenangannya.
Ternyata Maya tidak pernah meminta itu.
Ia hanya meminta agar anak-anak mereka diizinkan tetap mencintainya.
Dan justru itulah yang hampir dirampas Selina.
Pernikahan dibatalkan keesokan paginya.
Tidak ada drama di media sosial.
Tidak ada pengumuman panjang.
Raka hanya menghubungi keluarga dan vendor.
Selesai.
Namun urusan kalung tidak berhenti di sana.
Damar menyerahkan salinan rekaman CCTV kepada pengacara keluarga.
Setelah diperiksa lebih jauh, mereka menemukan pola lain.
Bros dan anting yang sebelumnya “hilang” ternyata juga pernah dipindahkan Selina sendiri.
Kamera lama di lorong menunjukkan sebagian kejadian.
Selina telah membangun cerita selama berbulan-bulan.
Tujuannya sederhana.
Membuat Raka memecat Nadira sebelum pernikahan.
Sebab Nadira adalah satu-satunya orang dewasa di rumah itu yang selalu berada dekat dengan anak-anak.
Dan Selina tahu anak-anak mempercayainya.
Raka memilih menyelesaikan persoalan tersebut melalui jalur hukum dan memutus seluruh akses Selina ke rumah serta keluarganya.
Namun perubahan terbesar tidak terjadi pada Selina.
Terjadi pada Raka.
Ia mengurangi perjalanan bisnis.
Menunjuk direktur operasional untuk menangani sebagian tanggung jawab hariannya.
Setiap Rabu malam menjadi malam keluarga.
Tanpa rapat.
Tanpa laptop.
Tanpa telepon di meja makan.
Awalnya Raka bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Kirana mengajarinya bermain permainan kartu yang aturannya berubah setiap 5 menit.
Alya memaksanya belajar mengepang rambut.
Hasil pertama sangat buruk sampai ketiganya tertawa hampir 10 menit.
Dan untuk pertama kalinya sejak Maya meninggal, suara tawa memenuhi rumah itu tanpa membuat Raka merasa bersalah.
Enam bulan kemudian, Nadira datang ke ruang kerja membawa sebuah amplop.
“Saya mau mengundurkan diri.”
Raka terkejut.
“Kenapa?”
Nadira tersenyum.
“Saya diterima kuliah lagi.”
Sebelum ibunya sakit, Nadira ternyata pernah kuliah pendidikan anak usia dini di Yogyakarta.
Ia berhenti pada semester kelima untuk bekerja dan membantu biaya pengobatan.
Sekarang ia ingin menyelesaikannya.
Raka terdiam cukup lama.
Kemudian tersenyum.
“Kapan mulai?”
“Bulan depan.”
Malam itu, ketika Nadira memberi tahu anak-anak, Kirana langsung menangis.
“Berarti Nadira pergi?”
“Saya tetap bisa datang.”
“Setiap hari?”
Nadira tertawa sambil mengusap rambutnya.
“Tidak setiap hari.”
Kirana semakin menangis.
Namun Alya justru pergi ke kamarnya.
Beberapa menit kemudian ia kembali membawa sebuah kotak kecil.
Ia menyerahkannya kepada Nadira.
Di dalamnya terdapat kalung Maya.
Nadira langsung mundur.
“Tidak. Ini milik kalian.”
Alya mengangguk.
“Aku tahu.”
Ia mengambil kalung itu dan memasangkannya sebentar di leher Nadira.
“Kata Ayah, Mama dulu mau kalung ini diberikan ke aku kalau aku sudah besar.”
Raka yang berdiri di dekat pintu mulai berkaca-kaca.
Alya melanjutkan.
“Jadi aku tidak kasih ke Nadira.”
Nadira tersenyum bingung.
“Aku cuma mau lihat.”
“Lihat apa?”
Alya memandang kalung itu.
Kemudian memandang Nadira.
“Apakah Mama akan marah kalau orang yang menjaga kami memakainya sebentar.”
Nadira tidak mampu menahan tangis.
Raka mendekat.
Ia berlutut di depan putrinya.
“Menurutmu Mama marah?”
Alya menggeleng.
“Enggak.”
“Kenapa?”
Anak itu tersenyum.
“Karena Nadira tidak pernah mencoba jadi Mama.”
Kalimat sederhana itu membuat semua orang terdiam.
Itulah perbedaan yang selama ini tidak dipahami Raka.
Selina ingin menghapus Maya agar bisa mengambil tempatnya.
Nadira justru menjaga tempat Maya tetap ada.
Ia tidak pernah meminta dipanggil Mama.
Tidak pernah mencoba menggantikan siapa pun.
Ia hanya memastikan dua anak kecil tidak merasa sendirian.
Nadira melepas kalung tersebut dan mengembalikannya kepada Alya.
“Simpan baik-baik.”
Alya memeluknya.
“Buat nanti?”
“Buat nanti.”
Tiga tahun berlalu.
Pada suatu Minggu pagi, Raka duduk di halaman belakang rumah Pondok Indah sambil memegang secangkir kopi.
Kirana berlari mengejar kucing.
Alya, sekarang berusia 10 tahun, sedang membaca buku di bawah pohon.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Nadira turun.
Bukan lagi mengenakan pakaian kerja.
Ia membawa tas dan sebuah map.
“Bu Guru datang!” teriak Kirana.
Nadira tertawa.
Setelah menyelesaikan kuliahnya, ia bekerja di sebuah sekolah dasar swasta di Jakarta.
Raka pernah menawarkan membayar seluruh biaya pendidikannya.
Nadira menolak.
Akhirnya mereka membuat kesepakatan.
Raka memberikan pinjaman pendidikan tanpa bunga.
Nadira mencicilnya setelah bekerja.
Bukan karena Raka membutuhkan uang itu.
Namun karena ia memahami sesuatu yang dahulu tidak ia pahami.
Menolong seseorang tidak selalu berarti mengambil alih hidupnya.
Kadang menolong berarti memberinya kesempatan untuk berdiri dengan kakinya sendiri.
Nadira berjalan menuju halaman.
Di tangannya ada sebuah undangan.
“Apa ini?” tanya Raka.
“Wisuda murid pertama saya.”
Raka tersenyum.
Lalu Nadira menyerahkan sebuah amplop lain.
Amplop kecil.
Di dalamnya terdapat cicilan terakhir pinjaman pendidikan.
Dan secarik kertas.
Raka membaca tulisan di sana.
Lunas. Terima kasih sudah percaya kepada saya ketika akhirnya Bapak belajar percaya lagi.
Raka tertawa kecil.
“Harus sekali pakai kata ‘akhirnya’?”
“Harus.”
Mereka tertawa.
Dari dalam rumah, Kirana tiba-tiba berteriak.
“Ayah!”
“Apa?”
“Hari ini Minggu!”
Raka melihat jam tangannya.
Kemudian tersenyum.
Dulu hari Minggu pagi adalah waktu untuk membaca laporan perusahaan.
Sekarang ada aturan lain.
Sarapan bersama.
Ia berdiri.
Saat hendak masuk, matanya berhenti pada sebuah foto keluarga di rak dekat pintu.
Foto lama.
Maya berdiri di tengah sambil menggendong Kirana yang masih bayi.
Raka memegang tangan Alya kecil.
Bertahun-tahun lalu, melihat foto itu selalu terasa seperti membuka luka.
Sekarang berbeda.
Ia tersenyum.
Bukan karena sudah melupakan Maya.
Justru karena akhirnya ia mengerti pesan terakhir istrinya.
Maya tidak meminta dirinya berhenti hidup setelah kepergiannya.
Ia hanya berharap Raka tidak terlalu sibuk mengejar masa depan sampai kehilangan orang-orang yang masih ada di sampingnya.
Raka menatap halaman.
Alya.
Kirana.
Nadira.
Kemudian kembali menatap foto Maya.
“Tenang saja,” bisiknya.
“Aku akhirnya pulang.”
Lucunya, Raka tidak pernah benar-benar pindah ke mana pun.
Alamatnya masih sama.
Rumahnya masih berdiri di tempat yang sama di Pondok Indah.
Namun selama bertahun-tahun, pikirannya selalu berada di kantor, bandara, ruang rapat, hotel, dan proyek berikutnya.
Ia pulang setiap malam.
Tetapi ia tidak pernah benar-benar hadir.
Dan pada akhirnya, perempuan yang pernah ia curigai sebagai pencuri justru menjadi orang yang mengembalikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kalung berlian.
Bukan uang.
Bukan perhiasan.
Bukan kenangan tentang Maya.
Nadira mengembalikan seorang ayah kepada kedua putrinya.
Dan kalung yang Selina gunakan untuk menghancurkan keluarga itu akhirnya menjadi benda yang menyelamatkannya.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Alya sudah cukup dewasa untuk memakai kalung milik ibunya, ia tidak mengingatnya sebagai perhiasan mahal.
Ia mengingat satu malam ketika kebohongan akhirnya terbongkar.
Malam ketika ayahnya berhenti mencari pencuri di dalam rumah.
Dan menyadari bahwa selama ini, hal paling berharga yang hampir hilang bukanlah berlian.
Melainkan kepercayaan kedua putrinya.
SELESAI
Cerita ini adalah karya fiksi yang dibuat untuk tujuan hiburan.

