Putriku menarik lenganku tepat sebelum aku berangkat ke Surabaya dan berbisik, “Ayah, kalau Ayah pergi, Tante Beatriz akan memasukkan tetesan itu lagi ke jusku.”
Di dapur, istriku tersenyum sambil memegang cangkir, sementara putriku diam-diam menyembunyikan foto mendiang ibunya.
Istriku menatapnya dan berkata dingin,
“Kalau kamu tidak mau minum, foto-foto ibumu akan kubuang.”
Aku tidak berteriak.
Aku membatalkan penerbanganku.
Dan malam itu, melalui kamera tersembunyi, aku melihat sebuah botol yang jauh lebih kuat diletakkan di atas meja.
BAGIAN 1
“Ayah, kalau Ayah pergi hari ini, Selina akan memasukkan tetesan itu lagi ke jusku.”
Raka Pratama langsung berhenti di dekat pintu rumahnya di Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Koper kecilnya sudah siap.
Kurang dari tiga jam lagi, ia seharusnya terbang ke Surabaya untuk menyelesaikan sebuah transaksi penting bagi perusahaan properti yang dipimpinnya.
Namun putrinya yang berusia enam tahun, Alya, memeluk pinggangnya begitu erat sampai Raka hampir tidak bisa melangkah.
Raka menunduk.
“Tetesan apa, Sayang?”
Alya tidak langsung menjawab.
Matanya bergerak pelan ke arah dapur.
Seolah-olah memastikan seseorang tidak sedang mendengarkan.
Lalu ia berbisik,
“Katanya vitamin.”
Raka berjongkok agar wajah mereka sejajar.
“Terus?”
Alya menggigit bibir.
“Setelah minum itu, tanganku gemetar. Jantungku berdetak cepat sekali. Aku tidak bisa tidur.”
Raka merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.
Alya melanjutkan dengan suara yang semakin kecil.
“Terus Selina merekam aku kalau aku menangis.”
Raka membeku.
Selina Mahendra adalah istrinya.
Mereka baru menikah sebelas bulan.
Selina masuk ke kehidupan Raka hampir dua tahun setelah Maya, ibu kandung Alya, meninggal karena penyakit yang berkembang sangat cepat.
Kepergian Maya menghancurkan Raka.
Namun yang paling membuatnya khawatir adalah Alya.
Selama berbulan-bulan setelah pemakaman, gadis kecil itu tidur sambil memeluk foto ibunya.
Ia sering terbangun malam-malam dan bertanya kapan Mama pulang.
Karena itulah Raka sangat berhati-hati ketika mulai membuka hatinya kepada perempuan lain.
Lalu Selina datang.
Cantik.
Tenang.
Penuh perhatian.
Ia tampak memahami bahwa Alya membutuhkan waktu.
Ia tidak pernah memaksa Alya memanggilnya “Mama”.
Setidaknya, tidak di depan Raka.
Selina bahkan selalu bersedia menjaga Alya ketika pekerjaan memaksa Raka pergi ke luar kota.
Selama ini, Raka menganggapnya sebagai bukti bahwa ia telah memilih perempuan yang tepat.
Sekarang putrinya berdiri di depannya dengan wajah ketakutan.
“Kenapa dia merekammu?” tanya Raka.
Alya menunduk.
“Katanya supaya Ayah tahu kalau aku punya masalah.”
“Masalah apa?”
Alya mengangkat bahu kecilnya.
“Katanya aku suka marah dan bikin cerita.”
Raka mengepalkan tangan.
Ia hampir berdiri dan masuk ke dapur saat itu juga.
Namun Alya buru-buru menarik lengannya.
“Jangan bilang Selina!”
Raka terdiam.
“Kenapa?”
Mata Alya mulai berkaca-kaca.
“Dia bilang kalau kalian bertengkar gara-gara aku, Ayah akan capek sama aku.”
Raka merasa napasnya tercekat.
Alya menatapnya dengan ketakutan yang terlalu besar untuk anak berusia enam tahun.
“Terus aku akan dikirim tinggal sama orang yang tidak kukenal.”
Untuk beberapa detik, Raka tidak mampu berkata apa-apa.
Ia hanya memegang kedua bahu putrinya.
“Alya.”
“Iya?”
“Ayah tidak akan pernah membuang kamu.”
“Tapi Selina bilang—”
“Dengarkan Ayah.”
Raka menatap tepat ke mata anaknya.
“Kamu adalah putri Ayah. Tidak ada siapa pun yang bisa mengubah itu.”
Alya menahan tangis.
Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuat darah Raka terasa dingin.
“Ada Om juga yang datang kalau Ayah pergi.”
“Om siapa?”
“Namanya Dimas.”
Raka mengernyit.
Ia tidak mengenal seorang pun bernama Dimas yang seharusnya datang ke rumah ketika dirinya tidak ada.
“Apa yang dia lakukan?”
“Aku tidak tahu.”
Alya berpikir sejenak.
“Tapi kemarin aku dengar dia bicara sama Selina.”
“Mereka bilang apa?”
Alya kembali menoleh ke arah dapur.
“Mereka bilang kalau aku mengalami satu kali lagi… apa ya…”
“Krisis?”
Alya mengangguk cepat.
“Iya. Krisis.”
Jantung Raka berdegup semakin keras.
“Lalu?”
“Mereka bilang Ayah akhirnya akan menjual rumah Mama di Bogor.”
Kali ini Raka benar-benar membeku.
Rumah itu bukan rumah biasa.
Sebelum meninggal, Maya mewarisi sebuah rumah dan tanah cukup luas dari orang tuanya di Sentul, Bogor.
Nilainya sekarang sudah mencapai puluhan miliar rupiah.
Dalam surat wasiat yang dibuat Maya, kepemilikan rumah tersebut dialihkan kepada Alya.
Raka hanya menjadi wali sampai putrinya cukup umur.
Selina mengetahui hal itu.
Namun Raka tidak pernah membayangkan ia memiliki alasan untuk mempersoalkannya.
Sebelum Raka sempat bertanya lebih jauh, terdengar langkah kaki mendekat.
Selina muncul dari dapur sambil membawa sebuah cangkir.
Ia mengenakan pakaian rumah yang elegan dan tersenyum seperti biasa.
“Wah.”
Ia memandang Alya.
“Masih mencoba membuat Ayah tidak jadi pergi?”
Alya langsung bersembunyi di belakang Raka.
Perubahan itu sangat kecil.
Namun sekarang Raka melihatnya.
Selama ini ia selalu menganggap Alya hanya membutuhkan waktu untuk menerima ibu tirinya.
Kini ia menyadari kemungkinan yang jauh lebih buruk.
Anaknya bukan menjaga jarak.
Anaknya takut.
Raka memaksakan senyum.
“Dia cuma sedang manja.”
Selina tersenyum.
“Memang. Akhir-akhir ini makin manja.”
Tangannya mengusap kepala Alya.
Gadis kecil itu langsung menegang.
Raka melihat semuanya.
Namun ia tidak bereaksi.
Belum.
Ia berdiri, mengambil kopernya, lalu mencium kening Alya.
“Ayah berangkat dulu.”
Wajah Alya langsung pucat.
Raka memeluknya dan berbisik sangat pelan di telinganya.
“Percaya sama Ayah.”
Kemudian ia mencium pipi Selina.
“Besok malam aku pulang.”
Selina tersenyum lebar.
“Hati-hati.”
Raka keluar rumah.
Begitu mobil yang menjemputnya bergerak meninggalkan halaman, sopir bertanya,
“Langsung ke Bandara Soekarno-Hatta, Pak?”
Raka menatap rumahnya melalui kaca belakang.
Selina berdiri di dekat pintu.
Melambaikan tangan.
Raka membalas lambaian itu.
Setelah mobil berbelok dan rumahnya tidak lagi terlihat, wajahnya berubah.
“Tidak ke bandara.”
Sopir melihatnya melalui kaca spion.
“Pak?”
“Turunkan saya dua jalan dari sini.”
Raka segera membuka ponsel.
Penerbangannya ke Surabaya dibatalkan.
Kemudian ia menelepon satu orang yang paling dipercaya di perusahaannya.
Arif Nugroho.
Kepala keamanan perusahaan yang pernah bekerja bertahun-tahun menangani pengamanan korporasi dan investigasi internal.
“Pak Raka?”
“Arif, saya butuh bantuan.”
Nada suara Arif langsung berubah serius.
“Apa yang terjadi?”
Raka memandang keluar jendela.
“Saya belum tahu.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi saya takut seseorang sedang melakukan sesuatu kepada anak saya.”
Kurang dari satu jam kemudian mereka bertemu.
Raka menceritakan semuanya.
Tentang tetesan.
Tentang rekaman.
Tentang ancaman membuang foto Maya.
Tentang seorang pria bernama Dimas.
Dan tentang rumah Alya di Sentul.
Arif tidak langsung membuat kesimpulan.
“Pak, jangan konfrontasi siapa pun dulu.”
“Saya ingin masuk sekarang juga.”
“Kalau mereka memang melakukan sesuatu, kita butuh bukti.”
Raka menatapnya.
“Caranya?”
“Kita pasang kamera hanya di area umum rumah. Ruang keluarga, dapur, ruang makan, dan koridor.”
Raka mengangguk.
Kesempatan datang ketika Selina membawa Alya keluar rumah.
Raka dan Arif bergerak cepat.
Beberapa kamera kecil dipasang hanya di area umum.
Tidak ada kamera di kamar tidur ataupun kamar mandi.
Setelah semuanya selesai, Raka pergi ke sebuah hotel tidak jauh dari rumahnya.
Ia duduk di depan laptop.
Menunggu.
Tangannya terus mengepal dan terbuka.
Berjam-jam terasa seperti berhari-hari.
Kemudian, selepas tengah hari, pintu rumah terbuka.
Selina masuk bersama Alya.
Raka langsung menegakkan tubuh.
Di layar, Alya meletakkan tas kecilnya.
Selina berjalan di belakangnya.
Begitu pintu tertutup, senyum di wajah Selina menghilang.
“Apa yang kamu bilang ke ayahmu tadi?”
Alya berhenti.
“Tidak ada.”
“Lihat Tante.”
Alya perlahan menoleh.
“Tidak ada.”
Selina menatapnya beberapa detik.
Kemudian berjalan menuju dapur.
Raka menahan napas.
Selina membuka sebuah lemari bagian atas.
Tangannya masuk jauh ke belakang beberapa wadah.
Lalu ia mengeluarkan sebuah botol kecil tanpa label.
Tubuh Raka langsung menegang.
Selina mengambil segelas jus jeruk dari kulkas.
Ia membuka botol.
Satu tetes.
Dua.
Tiga.
Empat.
Raka merasa mual.
Alya melihat gelas itu dan langsung mundur.
“Tidak mau.”
Selina menatapnya.
“Apa?”
“Aku tidak mau minum.”
Selina meletakkan gelas.
Kemudian berjalan ke sebuah rak di ruang keluarga.
Di sana ada beberapa foto lama.
Salah satunya foto Maya sedang menggendong Alya ketika masih bayi.
Selina mengambil foto itu.
Ia kembali ke dapur.
“Kalau tidak diminum…”
Ia mengangkat bingkai foto tersebut.
“…ini masuk tempat sampah.”
Alya mulai menangis.
“Jangan foto Mama.”
“Minum.”
Alya menggeleng.
Selina bergerak menuju tempat sampah.
“Jangan!”
Alya mengambil gelas.
Tangannya gemetar bahkan sebelum meminumnya.
Raka berdiri dari kursinya.
Arif, yang berada di sampingnya, langsung berkata,
“Tunggu.”
“Itu anak saya.”
“Saya tahu.”
“Dia sedang memberinya sesuatu!”
“Kita sudah punya bukti. Tapi kita perlu tahu apa isi botol itu dan siapa pria yang disebut Alya.”
Raka hampir tidak bisa menahan diri.
Di layar, Alya meminum jus itu sambil menangis.
Selina tersenyum tipis.
Sekitar beberapa puluh menit kemudian, perubahan mulai terlihat.
Alya gelisah.
Tangannya gemetar.
Ia mondar-mandir.
Napasnya menjadi cepat.
Kemudian ia mulai menangis.
Selina tidak menenangkannya.
Ia justru mengambil ponsel.
Kamera dinyalakan.
“Alya.”
Gadis kecil itu menutup wajah.
“Lihat sini.”
“Tidak mau…”
“Bilang ke Ayah kenapa kamu bikin masalah lagi.”
“Aku tidak bikin masalah!”
“Terus kenapa kamu seperti ini?”
“Aku tidak tahu!”
Selina terus merekam.
Alya semakin panik.
Ia mencoba menyingkirkan ponsel dari wajahnya.
Selina justru tersenyum.
“Bagus.”
Raka menatap layar dengan mata memerah.
Sekarang semuanya mulai masuk akal.
Video-video yang beberapa bulan terakhir dikirim Selina kepadanya ketika ia sedang bepergian.
Video Alya menangis.
Video Alya gemetar.
Video Alya berteriak bahwa ia tidak bisa tidur.
Selina selalu mengirimnya dengan pesan yang sama.
“Aku khawatir kondisi emosional Alya semakin buruk.”
Bahkan dua bulan sebelumnya, Selina pernah menyarankan agar Raka mempertimbangkan konsultasi serius tentang kondisi psikologis Alya dan kemungkinan mengatur ulang pengelolaan aset putrinya agar “tidak menjadi beban di masa depan”.
Saat itu Raka mengira Selina hanya khawatir.
Sekarang ia mulai memahami.
Mungkin semua “masalah” itu sengaja diciptakan.
Malam tiba.
Alya akhirnya tertidur di sofa karena kelelahan.
Tidak lama kemudian bel rumah berbunyi.
Selina bangkit cepat.
Ia merapikan rambut sebelum membuka pintu.
Seorang pria masuk.
Usianya sekitar akhir tiga puluhan.
Kemeja mahal.
Jam tangan mewah.
Raka tidak mengenalnya.
Namun Alya benar.
Selina memanggilnya Dimas.
Yang terjadi berikutnya menghancurkan sisa keraguan Raka.
Begitu pintu tertutup, Dimas menarik pinggang Selina dan menciumnya.
Raka tidak bergerak.
Perselingkuhan itu menyakitkan.
Namun pada saat itu, rasa sakit tersebut bahkan bukan hal terpenting.
Dimas membawa sebuah tas kerja.
Mereka duduk di meja makan.
Ia mengeluarkan beberapa dokumen.
Selina membuka sebotol wine.
“Dia berangkat?”
“Sudah.”
“Surabaya?”
Selina tertawa kecil.
“Harusnya.”
Dimas membuka salah satu dokumen.
“Kita butuh sedikit lagi.”
Selina menatapnya.
“Berapa?”
“Dua kejadian.”
Dimas menunjuk lembaran di atas meja.
“Kalau ada dua episode lagi yang terdokumentasi, ditambah laporan konsultasi yang sudah kita siapkan, Raka akan percaya kondisi anaknya semakin buruk.”
Selina menyesap minuman.
“Dia terlalu protektif.”
“Justru itu kelemahannya.”
Dimas tersenyum.
“Kalau dia percaya aset Alya harus dikelola demi biaya perawatan jangka panjang, dia akan tanda tangan.”
Raka menatap layar tanpa berkedip.
Selina bertanya,
“Dan rumah Sentul?”
“Begitu struktur pengelolaannya berubah, kita punya jalan.”
Dimas kembali memasukkan beberapa kertas.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari tasnya.
Botol itu berbeda.
Lebih besar.
Ada label obat yang sebagian sengaja dilepas.
Ia meletakkannya di tengah meja.
Selina menatap botol tersebut.
“Ini apa?”
Dimas merendahkan suaranya.
“Lebih kuat.”
Selina tampak ragu untuk pertama kalinya.
“Seberapa kuat?”
Dimas menatap ke arah ruang keluarga, memastikan Alya masih tidur.
“Cukup supaya kejadian berikutnya terlihat jauh lebih serius.”
Selina menggigit bibir.
“Jangan sampai masuk rumah sakit.”
“Tenang.”
Dimas menyandarkan tubuhnya.
“Dua kejadian lagi.”
Ia mengetuk dokumen dengan jarinya.
“Setelah itu, Raka akan menandatangani apa pun yang kita letakkan di depannya.”
Di kamar hotel, Raka merasa seluruh tubuhnya membeku.
Arif menatapnya.
Sekarang mereka sama-sama mengerti.
Mereka tidak sedang mencoba membuktikan bahwa Alya memiliki gangguan.
Mereka sedang menciptakan gejalanya.
Sedikit demi sedikit.
Lalu merekam akibatnya.
Membentuk sebuah cerita palsu tentang seorang anak yang dianggap tidak stabil.
Dan rumah peninggalan Maya senilai puluhan miliar rupiah ternyata hanyalah bagian pertama dari rencana mereka.
Namun saat Raka memperbesar gambar botol yang baru diletakkan Dimas di atas meja, Arif tiba-tiba berdiri.
Wajahnya berubah.
“Pak Raka…”
“Apa?”
Arif menunjuk label kecil yang masih tersisa pada botol itu.
“Jangan tunggu sampai besok.”
Raka menatapnya.
“Kenapa?”
Arif tidak langsung menjawab.
Ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
Lalu menatap Raka dengan wajah tegang.
“Karena kalau itu benar-benar obat yang saya pikirkan…”
Ia berhenti.
“…anak Bapak mungkin tidak punya kesempatan kedua kalau mereka memberikannya malam ini.”
Raka langsung meraih kunci mobil.
Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah pagi tadi, ia tidak lagi berniat hanya mengumpulkan bukti.
Ia akan pulang.
Tapi ia belum tahu bahwa ketika membuka pintu rumahnya malam itu, orang pertama yang akan membantunya bukan Arif.
Melainkan seseorang dari masa lalu Maya yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia tahu masih mengawasi keselamatan Alya.
BAGIAN 2
Raka tidak ingat bagaimana ia turun dari kamar hotel.
Ia hanya ingat suara napasnya sendiri.
Cepat.
Berat.
Dan kalimat Arif yang terus berputar di kepalanya.
“Kalau itu benar-benar obat yang saya pikirkan, anak Bapak mungkin tidak punya kesempatan kedua.”
Lift terasa terlalu lambat.
Begitu pintunya terbuka, Raka hampir berlari menuju parkiran.
Arif menyusul sambil berbicara lewat telepon.
“Jangan kirim tim berseragam dulu. Kita belum tahu apakah pria itu masih di sana. Hubungi dokter jaga dan polisi, tapi jangan masuk sebelum saya beri lokasi tepatnya.”
Raka membuka pintu mobil.
“Aku tidak akan menunggu polisi.”
Arif menahan lengannya.
“Pak Raka, dengarkan saya.”
“Itu anak saya.”
“Justru karena itu.”
Raka menatapnya tajam.
Arif tidak mundur.
“Kalau Bapak masuk dengan emosi, mereka bisa menghancurkan bukti. Lebih buruk, mereka bisa memindahkan Alya.”
Kalimat terakhir membuat Raka diam.
Arif membuka layar tablet.
Kamera rumah masih aktif.
Di ruang makan, Dimas dan Selina sedang berbicara.
Botol itu masih berada di atas meja.
Alya tidur di sofa ruang keluarga.
Kemudian Selina berdiri.
Ia mengambil gelas kosong.
Raka mencengkeram kemudi.
“Dia mau melakukan apa?”
Arif memperbesar tampilan.
Selina berjalan ke dapur.
Dimas mengambil botol yang lebih kuat itu.
Lalu suara baru terdengar dari kamera.
Bel rumah.
Selina membeku.
Dimas langsung memasukkan botol ke saku.
Mereka saling berpandangan.
Bel berbunyi lagi.
“Siapa malam-malam begini?” bisik Selina.
Dimas bergerak ke dekat pintu, tetapi Selina mengangkat tangan.
“Biar aku.”
Raka mencondongkan tubuh ke layar.
Selina membuka pintu hanya sedikit.
Dari sudut kamera, wajah tamu tidak terlihat.
Namun suara seorang perempuan terdengar.
“Saya mau bertemu Alya.”
Selina langsung menegang.
“Maaf, Anda siapa?”
Perempuan itu menjawab dengan sangat tenang.
“Seseorang yang seharusnya datang sejak lama.”
Selina mencoba menutup pintu.
Sebuah tangan menahannya.
Bukan dengan kasar.
Namun tegas.
Kemudian perempuan itu melangkah masuk.
Raka berhenti bernapas.
Usianya mungkin awal lima puluhan.
Rambutnya mulai beruban.
Ia memakai blus krem sederhana dan membawa tas kulit lama.
Namun bukan wajah perempuan itu yang membuat Raka membeku.
Melainkan liontin kecil di lehernya.
Liontin berbentuk daun.
Raka mengenalnya.
Maya memiliki liontin yang sama.
Ia menoleh kepada Arif.
“Kamu tahu siapa dia?”
Arif menggeleng.
Di layar, Selina berkata,
“Saya akan panggil satpam.”
Perempuan itu tidak terlihat takut.
“Silakan.”
Dimas muncul dari belakang.
“Bu, sebaiknya keluar.”
Perempuan itu menatap Dimas lama.
Kemudian ekspresinya berubah.
“Kamu.”
Dimas memucat.
Untuk pertama kalinya sejak mereka mengawasi rumah itu, pria itu kehilangan ketenangannya.
Selina menoleh.
“Kalian saling kenal?”
Dimas tidak menjawab.
Perempuan itu melangkah maju.
“Dimas Kurniawan.”
Suara perempuan itu bergetar.
“Lima tahun lalu, kamu masih bekerja di kantor notaris di Bogor.”
Raka menatap Arif.
Arif langsung membuka ponselnya.
Selina bertanya tajam,
“Siapa sebenarnya Anda?”
Perempuan itu menatap foto Maya di rak.
Matanya berkaca-kaca.
“Nama saya Ratih Wibowo.”
Ia menarik napas.
“Saya kakak kandung Maya.”
Raka merasa seluruh dunia berhenti.
“Kakak?”
Ia hampir tidak bersuara.
Selama delapan tahun menikah dengan Maya, Raka tidak pernah mendengar nama Ratih.
Maya selalu mengatakan bahwa ia anak tunggal.
Bahkan orang tua Maya, sebelum meninggal, tidak pernah menyebut anak lain.
Raka menatap layar seolah perempuan itu bisa menjawab pertanyaannya.
Di rumah, Selina tertawa kecil.
“Kakak Maya? Itu tidak masuk akal.”
Ratih membuka tasnya.
“Saya tahu.”
Ia mengeluarkan beberapa lembar foto lama.
Satu foto memperlihatkan dua gadis remaja berdiri di depan rumah yang sekarang menjadi milik Alya di Sentul.
Salah satunya Maya.
Yang lain Ratih.
Wajah mereka tidak identik.
Namun mata mereka sama.
Selina mengambil napas pendek.
Ratih melanjutkan.
“Bertahun-tahun lalu, saya pergi dari keluarga karena pertengkaran besar dengan ayah kami. Kami tidak pernah berdamai.”
Ia menatap foto Maya.
“Maya tetap menghubungi saya diam-diam.”
Raka merasakan tenggorokannya mengeras.
“Kenapa Maya tidak pernah cerita?”
Arif memandangnya.
“Mungkin ada alasan.”
Di layar, Dimas bergerak mundur perlahan.
Ratih melihatnya.
“Jangan pergi.”
Dimas berhenti.
Ratih berkata,
“Karena kamu alasan saya datang.”
Wajah Dimas berubah.
Selina mulai terlihat khawatir.
Ratih mengeluarkan map tipis.
“Maya menghubungi saya beberapa minggu sebelum meninggal.”
Raka menutup mata sejenak.
Maya sakit begitu cepat.
Diagnosis.
Rumah sakit.
Kemoterapi.
Kemudian semuanya berakhir kurang dari lima bulan.
Pada minggu-minggu terakhir, Maya sering terlihat cemas.
Raka mengira ia hanya takut meninggalkan Alya.
Sekarang ia tidak yakin lagi.
Ratih melanjutkan,
“Maya bilang seseorang mulai menanyakan aset keluarga.”
Selina menatap Dimas.
“Siapa?”
Ratih tidak menjawabnya.
Ia menatap langsung ke arah Dimas.
“Kamu.”
Dimas tertawa kaku.
“Itu fitnah.”
“Dulu kamu bekerja sebagai staf administrasi di kantor notaris yang menangani dokumen warisan orang tua kami.”
Ratih mengeluarkan sebuah fotokopi.
“Kamu tahu nilai tanah Sentul.”
Dimas membalas,
“Ribuan orang bisa tahu nilai tanah itu.”
“Tapi tidak ribuan orang punya salinan lama tanda tangan Maya.”
Dimas langsung diam.
Raka menatap layar.
Arif berbisik,
“Ini lebih besar dari yang kita pikirkan.”
Ratih berkata lagi,
“Setelah Maya meninggal, kamu menghilang dari kantor notaris.”
Selina menoleh kepada Dimas.
“Kamu bilang bekerja di konsultan properti.”
Dimas membentak,
“Diam.”
Itulah kesalahan pertama yang ia buat.
Selina memandangnya seakan baru menyadari bahwa dirinya mungkin bukan pasangan dalam rencana itu.
Mungkin hanya alat.
Ratih melanjutkan,
“Maya tahu ada seseorang yang mencoba membuat dokumen pengalihan aset palsu. Dia tidak punya cukup bukti saat itu.”
Ratih meremas map.
“Jadi dia meninggalkan sesuatu kepada saya.”
“Bohong,” kata Dimas.
Ratih menatapnya.
“Kalau bohong, kenapa kamu takut?”
Dimas bergerak cepat.
Ia mencoba merebut map.
Ratih mundur.
Selina berteriak.
Suara itu membangunkan Alya.
Gadis kecil itu duduk di sofa dengan bingung.
“Tante Ratih?”
Semua orang membeku.
Raka merasakan dadanya seperti dipukul.
Alya mengenal perempuan itu.
Ratih langsung menoleh.
Wajahnya runtuh.
“Alya.”
Gadis kecil itu berlari.
Ratih berlutut dan Alya memeluknya.
Raka menatap layar tanpa mampu berkata.
Alya menangis.
“Tante datang.”
“Iya, Sayang.”
“Kok lama?”
Ratih memejamkan mata sambil memeluk keponakannya.
“Maaf.”
Raka berbisik,
“Mereka pernah bertemu.”
Arif mengangguk pelan.
Di rumah, Selina tidak percaya.
“Kamu mengenalnya?”
Alya mengangguk.
“Tante Ratih dulu datang waktu Mama masih sakit.”
Ratih membelai rambutnya.
“Diam-diam,” katanya.
Raka merasakan air mata memenuhi matanya.
Maya menyembunyikan bagian hidupnya sendiri dari Raka.
Namun bukan karena ia tidak percaya.
Mungkin karena ia berusaha melindungi semua orang dari sesuatu.
Ratih berdiri sambil tetap memegang Alya.
Kemudian ia menatap Selina.
“Sekarang saya tanya. Apa yang kalian berikan kepada anak ini?”
Selina pucat.
“Saya tidak tahu apa maksud Anda.”
Ratih menatap meja makan.
“Botolnya mana?”
Dimas bergerak menuju pintu.
Saat itulah Arif berkata,
“Sekarang.”
Mereka sudah hampir sampai.
Mobil berhenti di depan rumah.
Dua kendaraan lain menyusul dari arah belakang.
Raka bahkan tidak menunggu pintu mobil terbuka penuh.
Ia berlari masuk.
“ALYA!”
Suara itu menggema di seluruh rumah.
Alya menoleh.
“Ayah!”
Gadis kecil itu melepaskan tangan Ratih dan berlari.
Raka jatuh berlutut.
Ia memeluk putrinya sekuat mungkin.
“Ayah pulang.”
Alya menangis keras.
“Ayah jangan pergi lagi.”
Raka mencium rambutnya.
“Ayah di sini.”
Selina berdiri beberapa meter dari mereka.
Wajahnya kehilangan warna.
“Raka?”
Raka mengangkat kepala.
Tatapan yang ia berikan membuat Selina terdiam.
Dimas mencoba berjalan ke pintu belakang.
Arif dan dua petugas yang baru masuk menghentikannya.
“Jangan bergerak.”
Dimas mengangkat tangan.
“Saya tidak melakukan apa-apa.”
Arif menunjuk sakunya.
“Keluarkan isinya.”
Dimas menolak.
Petugas mendekat.
Beberapa detik kemudian, botol itu ditemukan.
Raka berdiri dengan Alya di pelukannya.
Ia menatap Selina.
“Berapa kali?”
Selina mulai menangis.
“Raka, dengar dulu.”
“Berapa kali kamu memberikan itu kepada anak saya?”
“Saya tidak tahu isinya.”
“Berapa kali?”
Selina gemetar.
“Dimas bilang itu hanya membuatnya lebih gelisah.”
Raka merasa ingin menghancurkan seluruh ruangan.
Namun Alya berada di pelukannya.
Ia merasakan tubuh kecil itu.
Dan ia sadar satu hal.
Putrinya tidak membutuhkan ayah yang marah.
Ia membutuhkan ayah yang tetap berdiri.
Raka menatap Selina.
“Kamu memaksa anak enam tahun minum sesuatu yang tidak kamu ketahui.”
Selina menangis.
“Aku terjebak.”
“Tidak.”
Ratih berbicara dari belakang.
“Kamu memilih.”
Selina menoleh tajam.
Ratih tidak mundur.
Dimas tiba-tiba berkata,
“Dia tahu semuanya.”
Selina membeku.
Dimas tersenyum pahit.
“Jangan berpura-pura jadi korban sekarang.”
“Diam!”
“Kamu yang pertama kali bilang anak itu bisa dipakai.”
Raka menatap Selina.
Selina menggeleng keras.
“Tidak.”
Dimas tertawa.
“Kamu pikir aku akan jatuh sendirian?”
Ia menunjuk Selina.
“Dia yang menghubungi saya.”
Selina berteriak,
“Bohong!”
Arif menyela.
“Semua pembicaraan kalian tadi terekam.”
Ruangan langsung sunyi.
Selina berhenti.
Raka menatapnya.
Tidak ada lagi yang perlu dikatakan.
Beberapa saat kemudian, dokter yang dipanggil Arif tiba.
Alya diperiksa.
Dokter meminta agar ia segera dibawa ke rumah sakit untuk observasi dan pemeriksaan lebih lanjut terhadap zat yang mungkin sudah diberikan kepadanya.
Sebelum berangkat, Alya menarik tangan Raka.
“Ayah?”
“Iya?”
“Foto Mama?”
Raka menatap rak.
Foto Maya masih ada.
Ia mengambilnya.
Lalu menyerahkannya kepada Alya.
“Bawa.”
Alya memeluk bingkai itu di dada.
Di rumah sakit, Raka duduk di samping tempat tidur Alya sampai lewat tengah malam.
Ratih duduk di seberang.
Selama berjam-jam, mereka hampir tidak berbicara.
Akhirnya Raka bertanya,
“Kenapa Maya tidak pernah memberitahuku tentangmu?”
Ratih menatap jendela.
“Karena saya membuat kesalahan.”
Ia menghela napas.
“Waktu muda, saya kabur dari rumah. Saya menikah dengan orang yang tidak disetujui ayah. Hubungan kami putus total.”
“Kemudian?”
“Suami saya meninggal beberapa tahun kemudian.”
Ratih tersenyum sedih.
“Saya malu pulang.”
“Maya tetap menghubungi Anda?”
“Selalu.”
Ratih membuka ponselnya.
Ada foto-foto lama.
Maya bersama Ratih.
Maya sedang hamil Alya.
Ratih menggendong Alya ketika masih bayi.
Raka merasa dunia yang ia kenal berubah sedikit demi sedikit.
Ratih berkata,
“Maya ingin mempertemukan kita.”
“Kenapa tidak pernah terjadi?”
Ratih menunduk.
“Karena saya pengecut.”
Keheningan panjang.
“Kemudian Maya sakit.”
Ratih menghapus air matanya.
“Dia menelepon saya dan bilang, kalau sesuatu terjadi kepadanya, saya harus mengawasi Alya dari jauh.”
“Dari jauh?”
“Maya takut keberadaan saya akan membuka lagi konflik warisan keluarga.”
Ratih memandang Raka.
“Dan ternyata ketakutannya benar.”
Ia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari tas.
“Inilah yang ditinggalkan Maya.”
Raka menatap benda itu.
“Apa isinya?”
“Rekaman.”
Mereka membuka laptop.
Di dalamnya hanya ada beberapa file.
Salah satunya video.
Tanggalnya dibuat sekitar tiga minggu sebelum Maya meninggal.
Raka menekan tombol putar.
Wajah Maya muncul.
Kurus.
Pucat.
Namun masih tersenyum.
Raka langsung menutup mulut.
Sudah bertahun-tahun ia tidak mendengar suara istrinya seperti ini.
Maya menatap kamera.
“Kalau kamu melihat ini, mungkin aku sudah tidak ada.”
Raka menahan napas.
“Aku tidak tahu siapa yang akan menonton lebih dulu. Ratih… atau Raka.”
Maya tersenyum kecil.
“Kalau kalian berdua ada di ruangan yang sama, berarti setidaknya satu doaku terkabul.”
Ratih mulai menangis.
Maya melanjutkan.
“Raka, maaf karena tidak pernah cerita tentang Kak Ratih.”
Raka menutup mata.
“Aku malu pada sejarah keluargaku. Dan aku takut menambah bebanmu saat hidup kita sudah cukup rumit.”
Maya mengambil napas.
“Tapi ada hal lain.”
Wajahnya menjadi serius.
“Beberapa bulan terakhir, ada orang yang mencoba mendapatkan informasi tentang tanah Sentul. Aku tidak tahu siapa dalangnya.”
“Kalau suatu hari ada orang yang mencoba memakai kondisi Alya untuk mengubah hak atas aset itu…”
Raka dan Ratih saling menatap.
“…jangan fokus pada rumahnya.”
Raka mengernyit.
Video berlanjut.
“Karena rumah itu bukan warisan terbesar Alya.”
Ratih ikut terlihat bingung.
Maya tersenyum lemah.
“Ayah tidak pernah memberi tahu kalian semuanya.”
Ia mengambil satu map.
“Tanah di belakang rumah Sentul masih atas nama yayasan keluarga.”
Raka membeku.
Maya melanjutkan,
“Sebelum meninggal, Ayah mengubah tujuan aset itu.”
“Tiga hektare tanah tidak boleh dijual.”
Ratih menutup mulut.
Maya berkata,
“Tanah itu akan dipakai untuk membangun rumah singgah bagi anak-anak yang kehilangan orang tua atau berasal dari keluarga yang tidak mampu.”
Air mata Raka jatuh.
“Dan Alya hanya menjadi penerima amanah saat dewasa.”
Maya tersenyum.
“Nilainya mungkin besar. Tapi itu bukan uangnya.”
“Itu tanggung jawabnya.”
Raka menatap layar.
Semua yang dilakukan Selina dan Dimas.
Semua ancaman.
Semua manipulasi.
Mereka bahkan tidak mengerti aset yang mereka kejar.
Maya melanjutkan.
“Kalau suatu hari Alya bertanya apa yang kutinggalkan untuknya, jangan bilang rumah.”
“Bilang…”
Maya berhenti.
Matanya berkaca-kaca.
“…Mama meninggalkan tempat di mana anak-anak lain boleh merasa mereka masih punya rumah.”
Alya ternyata sudah bangun.
Ia berdiri di pintu kamar rumah sakit.
Raka cepat-cepat menghapus air mata.
“Alya?”
Gadis kecil itu berjalan mendekat.
“Itu Mama?”
Raka mengangguk.
Alya memanjat ke tempat tidur.
“Putar lagi.”
Mereka memutar bagian akhir.
Maya tersenyum dari layar.
“Dan kalau Alya yang menonton ini suatu hari…”
Alya langsung memegang tangan Raka.
“…Mama mau kamu tahu satu hal.”
“Kamu tidak pernah menjadi beban.”
Alya mulai menangis.
“Tidak pernah.”
“Kalau ada orang yang membuatmu merasa harus berubah supaya dicintai, menjauhlah.”
“Orang yang mencintaimu tidak akan membuatmu takut kehilangan cinta mereka.”
Raka menunduk.
Alya menangis tanpa suara.
Maya tersenyum.
“Dan tolong jaga Ayah.”
“Dia terlihat kuat, tapi kadang dia lebih keras kepala daripada kamu.”
Alya tertawa kecil di antara tangis.
Raka ikut tersenyum.
Video berakhir.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya sejak Maya meninggal, Raka tidak merasa seolah dirinya baru saja kehilangan istrinya lagi.
Ia merasa seperti Maya baru saja pulang sebentar.
Beberapa bulan kemudian, proses hukum terhadap Dimas dan Selina berjalan.
Rekaman kamera, botol, dokumen, pesan elektronik, serta keterangan Ratih menjadi bagian penting dalam penyelidikan.
Raka tidak pernah mengajak Alya membicarakan detailnya.
Ia hanya menjelaskan satu hal.
“Selina tidak tinggal bersama kita lagi.”
Alya bertanya,
“Karena dia jahat?”
Raka berpikir sejenak.
“Karena dia membuat pilihan yang menyakiti orang lain.”
“Dia akan kembali?”
“Tidak.”
Alya diam.
Kemudian bertanya,
“Tante Ratih boleh tinggal dekat kita?”
Raka menoleh kepada Ratih yang sedang menyusun piring di dapur.
Ratih pura-pura tidak mendengar.
Raka tersenyum.
“Kalau Tante Ratih mau.”
Ratih langsung menjawab dari dapur,
“Saya dengar itu.”
Alya tertawa.
Setahun kemudian, mereka berdiri di Sentul.
Rumah lama Maya sudah direnovasi.
Namun sebagian besar bentuknya dipertahankan.
Di belakangnya, pembangunan rumah singgah akhirnya dimulai.
Namanya dipilih Alya sendiri.
“Rumah Maya.”
Bukan karena rumah itu milik ibunya.
Namun karena, menurut Alya,
“Mama bilang semua anak harus punya tempat merasa pulang.”
Pada hari peletakan batu pertama, Raka berdiri bersama Alya dan Ratih.
Alya membawa foto Maya.
Tidak lagi menyembunyikannya.
Tidak lagi takut seseorang akan membuangnya.
Seorang wartawan lokal bertanya kepada Alya,
“Nanti kalau besar, kamu mau mengelola tempat ini?”
Alya berpikir serius.
“Aku belum tahu.”
Semua orang tertawa kecil.
Kemudian Alya menambahkan,
“Tapi aku mau ada banyak jus.”
Raka langsung menegang sesaat.
Ratih juga terdiam.
Alya melihat ekspresi mereka.
Lalu tersenyum nakal.
“Jus yang tidak pakai tetesan.”
Raka tertawa.
Ratih tertawa sambil menangis.
Dan Alya ikut tertawa paling keras.
Malamnya, setelah semua tamu pulang, Raka dan Alya duduk di teras rumah lama itu.
Langit Sentul mulai gelap.
Alya menyandarkan kepala di lengan ayahnya.
“Ayah.”
“Iya?”
“Waktu itu Ayah pura-pura pergi ke Surabaya, kan?”
Raka tersenyum.
“Iya.”
“Berarti Ayah bohong.”
Raka terdiam.
“Sedikit.”
Alya mengangguk serius.
“Tidak boleh bohong.”
“Benar.”
“Walaupun buat nangkap orang jahat?”
Raka hampir tertawa.
“Itu rumit.”
Alya berpikir.
Kemudian berkata,
“Kalau gitu, lain kali bilang saja.”
“Bilang apa?”
“Bilang Ayah mau menyelamatkan aku.”
Raka tidak mampu menjawab.
Ia hanya memeluk putrinya.
Alya memandang taman.
“Ayah?”
“Iya?”
“Dulu aku takut kalau Ayah pergi, Ayah tidak akan percaya aku.”
Raka menutup mata.
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada apa pun yang dilakukan Selina.
“Maaf.”
Alya menatapnya.
“Sekarang aku sudah tidak takut.”
“Kenapa?”
Gadis kecil itu tersenyum.
“Karena waktu aku bilang sesuatu, Ayah pulang.”
Raka mencium keningnya.
Saat itu ia akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan oleh bisnis, uang, rumah mahal, atau semua kesuksesan yang ia banggakan.
Anak kecil tidak selalu membutuhkan orang dewasa yang punya semua jawaban.
Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang percaya ketika mereka berkata,
“Aku takut.”
Dan seseorang yang benar-benar pulang ketika mereka memanggil.
Di dinding ruang keluarga, foto Maya kini berdiri di tempat paling terang.
Di sampingnya ada foto baru.
Raka.
Alya.
Dan Ratih.
Bukan untuk menggantikan siapa pun.
Bukan keluarga yang sempurna.
Namun keluarga yang akhirnya berhenti menyimpan rahasia.
Dan di bawah foto itu, Alya meletakkan secarik kertas kecil yang ia tulis sendiri dengan pensil warna.
Raka tidak pernah memindahkannya.
Hanya ada satu kalimat.
“Mama tidak pergi. Mama meninggalkan jalan supaya kami bisa menemukan satu sama lain.”
Cerita ini adalah karya fiksi yang dibuat untuk tujuan hiburan.
SELESAI

