“Pak, istri Anda sudah mengalami kekerasan selama hampir tiga jam. Kondisinya sangat serius, ada banyak tulang yang retak dan tanda-tanda pendarahan internal. Kalau tidak segera dibawa ke rumah sakit, nyawanya bisa terancam,” ujar kepala keamanan kepada suamiku.
Suamiku hanya meletakkan gelas minumannya di atas meja.
“Bawa dia ke ruang bawah tanah. Jangan panggil dokter.”
Aku tidak memohon.
Aku juga tidak menangis di hadapannya.
Sebaliknya, aku meminta seseorang mengambil sebuah medali perak tua yang kusembunyikan di dalam koperku.
Karena suamiku sama sekali tidak tahu siapa yang akan datang ketika medali itu akhirnya diperlihatkan kepada orang yang tepat.

“Jangan hubungi dokter. Kunci dia di bawah sampai dia mengerti bahwa dia harus menjauh dari Vanessa.”
Itulah yang dikatakan suamiku, Raka Mahendra, setelah kepala keamanan rumah kami memberi tahu bahwa kondisiku membutuhkan pertolongan medis segera.
Raka bahkan tidak melepaskan gelas dari tangannya.
Di seberangnya, Selina Wijaya memasang ekspresi seolah-olah sangat terkejut.
“Raka, jangan begitu. Bagaimanapun juga, Nadira masih istrimu.”
Raka tertawa pendek tanpa sedikit pun kehangatan.
“Istri? Kalau begitu, seharusnya dia tahu bagaimana bersikap sebagai seorang istri.”
Namaku Nadira Prameswari.
Sementara mereka menikmati makan malam di ruang makan megah rumah kami di Pondok Indah, Jakarta Selatan, aku terbaring di lantai dingin sebuah ruangan penyimpanan di bagian bawah rumah.
Tubuhku terasa seperti tidak lagi menjadi milikku.
Setiap kali menarik napas, rasa sakit menjalar dari dada hingga bahu.
Kesalahanku menurut Raka?
Aku dituduh mendorong Selina dari tangga.
Namun kenyataannya jauh berbeda.
Sore itu Selina masuk ke kamar tidurku membawa nampan berisi teh.
Aku sedang membuka beberapa dokumen lama milik keluargaku ketika dia muncul tanpa mengetuk.
“Keluar dari kamarku,” kataku.
Selina tidak bergerak.
Sebaliknya, matanya turun ke dokumen yang sedang kupegang.
Aku segera menutup map itu.
“Aku bilang keluar.”
Selina tersenyum.
Lalu terdengar langkah kaki Raka dari koridor.
Pada detik itulah Selina melakukan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.
Dia mundur.
Sengaja.
Tumitnya mencapai anak tangga pertama.
Kemudian dia menjatuhkan tubuhnya sendiri.
“AAAA!”
Jeritannya menggema ke seluruh rumah tepat ketika Raka muncul di ujung koridor.
Selina tergeletak di bawah tangga.
Aku berdiri beberapa meter darinya dengan wajah pucat.
“Nadira mendorongku…” katanya sambil menangis.
Aku terpaku.
“Apa?”
Raka menatapku.
“Aku tidak menyentuhnya.”
Selina menangis semakin keras.
“Aku hanya ingin bicara baik-baik dengannya…”
“Raka, dengarkan aku,” kataku. “Aku bahkan tidak mendekatinya.”
Namun Raka tidak meminta penjelasan.
Dia tidak memeriksa kamera keamanan.
Dia bahkan tidak bertanya kepada staf rumah.
Dia hanya memberikan satu perintah kepada petugas keamanan.
“Beri dia pelajaran.”
“Aku tidak menyentuh Selina!” teriakku.
Raka menatapku tanpa emosi.
“Lanjutkan.”
Setelah beberapa saat, aku berhenti mencoba meyakinkannya.
Karena akhirnya aku memahami sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Raka tidak sedang mencari kebenaran.
Dia sudah memutuskan siapa yang ingin dia percaya bahkan sebelum kejadian itu terjadi.
Beberapa jam kemudian, pintu berat ruangan itu terbuka perlahan.
Seorang pria masuk.
Namanya Dimas Santoso, kepala keamanan keluarga Mahendra.
Dia membawa kotak P3K dan beberapa obat yang disembunyikan di balik jaketnya.
“Ibu Nadira.”
Dimas berlutut di sampingku.
Wajahnya terlihat tegang.
“Saya tidak bisa memanggil ambulans tanpa Pak Raka mengetahuinya.”
Aku menatapnya.
“Kalau begitu lakukan satu hal lain untukku.”
Dimas terdiam.
“Di kamar utama ada koper kulit tua berwarna cokelat.”
“Koper milik keluarga Prameswari?”
Aku mengangguk.
“Bagian bawahnya palsu. Tekan sudut sebelah kiri, nanti terbuka.”
Dimas memperhatikanku dengan bingung.
“Di dalamnya ada medali perak kecil.”
Aku menarik napas perlahan untuk menahan sakit.
“Aku ingin kamu membawanya ke sebuah toko penjahit tua bernama Surya Tailor di kawasan Pasar Baru.”
Dimas semakin bingung.
“Toko jahit?”
“Cari seorang pria bernama Pak Surya.”
“Lalu?”
“Berikan medali itu kepadanya.”
Aku berhenti sejenak.
“Katakan persis seperti ini.”
Dimas menundukkan kepala agar dapat mendengar dengan jelas.
Aku berbisik:
“Nadira masih hidup, dan waktunya telah tiba.”
Wajah Dimas langsung kehilangan warna.
Dia mengenali kalimat itu.
Atau mungkin dia mengenali medali yang kumaksud.
Aku tidak tahu.
Yang jelas, tangannya tiba-tiba gemetar.
“Ibu… sebenarnya keluarga Prameswari itu siapa?”
Aku memejamkan mata.
“Kamu akan segera mengetahuinya.”
Dulu, keluargaku bukan keluarga biasa.
Ayahku, Surya Prameswari, membangun Prameswari Group, perusahaan yang mengembangkan kawasan industri, pergudangan, dan pusat logistik di berbagai wilayah Jawa.
Bekasi.
Karawang.
Cikarang.
Semarang.
Surabaya.
Selama puluhan tahun, nama Prameswari dikenal di dunia bisnis.
Namun tiga tahun lalu, semuanya runtuh.
Enam lembaga keuangan menghentikan fasilitas kredit perusahaan kami hampir secara bersamaan.
Bukan bertahap.
Bukan dalam hitungan bulan.
Dalam waktu kurang dari seminggu.
Proyek berhenti.
Investor panik.
Mitra menarik diri.
Utang jatuh tempo.
Prameswari Group yang dibangun ayahku selama lebih dari tiga puluh tahun mulai ambruk seperti bangunan yang fondasinya dicabut sekaligus.
Saat itu kedua orang tuaku sedang berada di Singapura untuk menghadiri pertemuan bisnis.
Mereka segera kembali ke Indonesia menggunakan pesawat pribadi untuk menangani krisis.
Pesawat itu tidak pernah tiba dengan selamat.
Pesawat mengalami kecelakaan sebelum mencapai Jakarta.
Ayah dan ibuku meninggal bersama beberapa orang lainnya.
Nama kakakku, Ardi Prameswari, juga tercatat dalam daftar penumpang.
Sejak hari itu, semua orang menganggap aku sebagai satu-satunya anggota keluarga Prameswari yang tersisa.
Aku kehilangan orang tua.
Kakak.
Perusahaan.
Dan hampir seluruh kekayaan keluargaku.
Saat itulah Raka menjadi satu-satunya tempatku bersandar.
Dia memelukku ketika aku menangis.
Dia menemaniku menghadapi pengacara.
Dia berjanji akan melindungiku.
Aku percaya kepadanya.
Beberapa bulan kemudian, perusahaan milik keluarga Mahendra mulai membeli beberapa aset bekas Prameswari Group.
Gudang.
Tanah industri.
Lahan strategis.
Bahkan sebuah kompleks logistik di Cikarang yang dahulu ayahku bersumpah tidak akan pernah dijual.
Harga pembeliannya sangat rendah dibandingkan nilai sebenarnya.
Aku melihat semua itu.
Namun aku tidak pernah berani menghubungkan titik-titiknya.
Karena menerima kemungkinan bahwa suamiku mengetahui sesuatu tentang kehancuran keluargaku jauh lebih menakutkan daripada berpura-pura semuanya hanya kebetulan.
Sampai malam ini.
Pintu ruangan kembali terbuka.
Aku berharap Dimas kembali membawa medali.
Namun yang muncul adalah Selina.
Sendirian.
Dia mengenakan mantel krem mahal yang terlihat sempurna.
Sepatunya berhenti beberapa sentimeter dari tanganku.
Selina lalu berjongkok.
“Kasihan sekali kamu, Nadira.”
Aku tidak menjawab.
Dia tersenyum.
“Kamu tahu apa yang paling menyedihkan?”
Aku menatapnya.
“Kamu masih berpikir Raka menghancurkan hidupmu karena aku.”
Tubuhku mendadak kaku.
Selina mendekat.
“Padahal cerita ini dimulai jauh sebelum aku masuk ke rumah ini.”
“Apa maksudmu?”
Senyumnya melebar.
“Prameswari Group tidak bangkrut karena nasib buruk.”
Jantungku berdetak keras.
Selina berbicara pelan, seolah menikmati setiap kata.
“Fasilitas kredit perusahaan keluargamu tidak tiba-tiba menghilang.”
Dia berhenti.
“Kami yang membuatnya menghilang.”
Aku menahan napas.
“Siapa ‘kami’?”
Selina tertawa kecil.
“Masih belum mengerti?”
Aku mencoba bangkit, tetapi rasa sakit memaksaku tetap bersandar ke dinding.
“Siapa?”
Selina menatapku lurus.
“Orang-orang yang tahu bahwa ayahmu tidak akan pernah menjual aset-aset strategis Prameswari Group selama dia masih memegang kendali.”
Aku merasa darahku membeku.
“Raka?”
Selina tidak menjawab langsung.
Namun tatapan matanya sudah cukup.
Aku teringat kembali semua pembelian yang dilakukan perusahaan keluarga Mahendra setelah kematian orang tuaku.
Tanah Cikarang.
Gudang Bekasi.
Kawasan industri Karawang.
Semuanya.
“Tidak…” bisikku.
Selina mendekat ke telingaku.
“Dan kecelakaan pesawat itu?”
Aku menatapnya.
“Jangan.”
“Itu juga tidak sesederhana yang selama ini kamu percaya.”
Napas seolah berhenti di tenggorokanku.
“Apa yang baru saja kamu katakan?”
Selina berdiri kembali.
“Orang tuamu terlalu keras kepala. Mereka akan membongkar semuanya kalau berhasil kembali ke Jakarta.”
Mataku mulai panas.
“Dan Ardi?”
Untuk pertama kalinya, senyum Selina berubah.
Bukan lagi mengejek.
Melainkan puas.
“Kakakmu juga dianggap masalah.”
Aku menatapnya dengan tidak percaya.
“Dia kakakku.”
“Aku tahu.”
“Dia meninggal bersama mereka.”
Selina merapikan lengan mantelnya.
“Setidaknya, itulah yang tercatat dalam laporan resmi.”
Aku membeku.
Kalimat itu terasa berbeda.
“Apa maksudmu?”
Selina tersenyum lagi.
Namun kali ini dia tidak menjawab.
Dia berjalan menuju pintu.
“Selina!”
Tangannya sudah menyentuh gagang.
“Kenapa aku masih hidup?”
Selina berhenti.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian dia menoleh.
“Itulah satu-satunya bagian yang sampai sekarang juga tidak kumengerti.”
Pintu terbuka.
“Seseorang seharusnya memastikan keluarga Prameswari benar-benar berakhir malam itu.”
Dia keluar.
Pintu kembali tertutup.
Aku sendirian dalam kegelapan.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak menangisi kematian keluargaku.
Aku mulai mempertanyakannya.
Mengapa enam lembaga keuangan bertindak hampir bersamaan?
Mengapa perusahaan Raka mampu membeli aset kami begitu cepat?
Mengapa Selina mengetahui begitu banyak detail?
Dan yang paling menggangguku…
Mengapa dia mengatakan Ardi “dianggap masalah” alih-alih mengatakan Ardi meninggal?
Aku menutup mata.
Lalu aku teringat medali perak itu.
Hadiah dari ayah ketika aku berusia delapan belas tahun.
Saat memberikannya, ayah pernah mengatakan sesuatu yang dulu kuanggap hanya pesan sentimental.
“Kalau suatu hari semua orang yang kamu percaya ternyata bukan orang yang kamu kira, bawa ini kepada Surya.”
Aku tertawa saat itu.
“Pak Surya si penjahit?”
Ayah tidak tertawa.
“Jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena kamu tahu pekerjaannya, Nadira.”
Aku akhirnya mengerti.
Medali itu bukan kenang-kenangan.
Itu adalah kunci.
Aku menggertakkan gigi menahan rasa sakit dan mengulang kalimat yang tadi kusampaikan kepada Dimas.
Sekali.
Dua kali.
Lalu berkali-kali.
Nadira masih hidup, dan waktunya telah tiba.
Karena Selina baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Dia mengira keluarga Prameswari telah musnah.
Dia mengira aku tidak memiliki siapa-siapa.
Dia mengira sebuah toko jahit tua di Pasar Baru hanyalah toko jahit biasa.
Dan yang paling fatal…
Dia tidak tahu bahwa tiga tahun sebelum pesawat keluargaku jatuh, ayahku telah membangun sebuah rencana darurat yang hanya boleh diaktifkan jika seseorang mencoba menghancurkan keluarga kami dari dalam.
Malam itu, beberapa kilometer dari Pondok Indah, Dimas memasuki Surya Tailor dan meletakkan medali perak itu di atas meja.
Seorang lelaki tua berkacamata mengambilnya.
Tangannya berhenti bergerak.
Dimas kemudian menyampaikan pesanku.
“Nadira masih hidup, dan waktunya telah tiba.”
Lelaki tua itu menatap medali tersebut cukup lama.
Kemudian dia mengunci pintu toko.
Menutup tirai.
Mengambil sebuah telepon lama dari dalam laci yang selama bertahun-tahun tidak pernah disentuhnya.
Dia menekan satu nomor.
Ketika seseorang menjawab, Pak Surya hanya mengucapkan enam kata:
“Tuan Ardi, adik Anda masih hidup.”
Di ujung telepon…
seorang pria yang secara resmi telah meninggal tiga tahun lalu membuka matanya.
Ardi Prameswari masih hidup.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dia akhirnya pulang.
BAGIAN 2
Ardi Prameswari sudah mati selama tiga tahun.
Setidaknya, itulah yang dipercaya semua orang.
Namanya tercantum dalam daftar penumpang. Foto hitam-putihnya pernah berdiri di samping foto ayah dan ibu kami saat pemakaman. Bahkan aku sendiri pernah meletakkan bunga di depan batu nisan yang bertuliskan namanya.
Namun malam itu, Ardi berdiri di depan sebuah rumah sederhana di Jakarta Selatan, menatap layar ponselnya setelah menerima telepon dari Pak Surya.
“Nadira masih hidup.”
Empat kata itu cukup untuk menghancurkan tiga tahun persembunyiannya.
“Di mana dia?”
“Rumah keluarga Mahendra.”
Ardi memejamkan mata.
“Raka?”
“Ya.”
“Siapa yang mengirim medali?”
“Dimas Santoso. Kepala keamanan rumah itu.”
Ardi langsung mengambil jaketnya.
Pak Surya berbicara cepat.
“Ardi, dengarkan. Kalau kamu muncul sekarang, semua orang akan tahu kamu masih hidup.”
“Aku tidak peduli.”
“Kita menunggu tiga tahun untuk mendapatkan bukti.”
“Dan kalau aku menunggu satu malam lagi, mungkin besok aku tidak punya adik untuk diselamatkan.”
Telepon terputus.
Di rumah Pondok Indah, aku tidak tahu semua itu sedang terjadi.
Aku hanya tahu rasa sakit semakin parah.
Beberapa menit kemudian pintu terbuka.
Raka masuk.
Sendirian.
Dia menyalakan lampu.
“Nadira.”
Aku tidak menjawab.
Dia berjongkok beberapa langkah dariku.
“Selina bilang kamu mengancamnya.”
Aku hampir tertawa.
Namun bahkan tertawa terasa menyakitkan.
“Selina juga bilang keluargaku dihancurkan dengan sengaja.”
Untuk pertama kalinya, wajah Raka berubah.
Hanya sepersekian detik.
Tetapi aku melihatnya.
Ketakutan.
“Dia mengatakan apa?”
“Dia bilang kehancuran Prameswari Group direncanakan.”
Raka berdiri.
“Dia sedang mencoba membuatmu takut.”
“Dia juga bicara tentang pesawat.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Aku menatap suamiku.
“Lihat mataku, Raka.”
Dia tidak mau.
“Lihat aku!”
Akhirnya dia menatapku.
“Apakah kamu terlibat?”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat.
“Apakah kamu tahu sesuatu tentang kematian keluargaku?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa perusahaanmu membeli tanah kami beberapa bulan setelah mereka meninggal?”
Raka mengepalkan rahangnya.
“Itu bisnis.”
“Dengan harga seperempat nilai pasar?”
“Perusahaanmu bangkrut.”
“Karena seseorang membuatnya bangkrut.”
Dia terdiam.
Aku akhirnya memahami sesuatu.
Raka memang menyembunyikan rahasia.
Tetapi ada sesuatu di wajahnya yang tidak cocok dengan gambaran yang diberikan Selina.
Bukan rasa bersalah seorang pembunuh.
Lebih seperti ketakutan seorang pengecut.
“Kamu tahu,” bisikku.
Raka menunduk.
“Kamu tahu sesuatu.”
Dia berjalan menuju pintu.
“Raka!”
Tangannya berhenti pada gagang pintu.
“Aku mencintaimu,” katanya pelan.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Jangan berani mengatakan itu kepadaku sekarang.”
“Aku benar-benar pernah mencintaimu.”
“Pernah?”
Raka menutup matanya.
Kemudian dia pergi.
Dan saat itulah aku menyadari bahwa kebenaran mungkin jauh lebih buruk daripada yang kubayangkan.
Sekitar empat puluh menit kemudian, suara kendaraan terdengar dari luar.
Bukan satu.
Beberapa.
Selina yang sedang berdiri di ruang makan berjalan menuju jendela.
Tiga mobil hitam berhenti di depan rumah.
Raka langsung bangkit.
“Apa ini?”
Nathan—atau dalam kehidupan barunya, Dimas Santoso—berdiri dekat pintu.
Dia tidak menjawab.
Bel berbunyi.
Raka memberi isyarat kepada dua petugas keamanan.
“Jangan buka.”
Namun Dimas justru melangkah maju.
Lalu membuka pintu.
Seorang pria tinggi berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di luar.
Rambutnya lebih pendek daripada dulu.
Ada bekas luka kecil di dekat alis kanannya.
Wajahnya tampak lebih tua.
Lebih keras.
Tetapi tidak mungkin aku melupakan wajah itu.
Meskipun tiga tahun telah berlalu.
Meskipun aku pernah melihat peti matinya.
Meskipun aku pernah menangis di makamnya.
Ardi masuk.
Selina menjatuhkan gelasnya.
Raka mundur satu langkah.
Wajahnya berubah pucat.
“Tidak mungkin.”
Ardi menatapnya.
“Sudah lama, Raka.”
Selina berbisik:
“Kamu sudah mati.”
Ardi tersenyum tipis.
“Itu memang rencananya.”
Ketika Ardi turun ke ruangan tempatku dikurung, aku sempat mengira rasa sakit membuatku berhalusinasi.
Dia berdiri di ambang pintu.
“Nadira.”
Aku menatapnya.
Tidak mampu bicara.
“Nad… ini aku.”
Air mataku langsung mengalir.
“Mas?”
Ardi berlutut.
Aku mengangkat tangan dengan gemetar dan menyentuh wajahnya.
Hangat.
Nyata.
Aku menamparnya.
Tidak keras.
Tubuhku bahkan tidak memiliki tenaga.
Tetapi aku menamparnya lagi.
“Kamu hidup.”
“Iya.”
“Kamu hidup!”
Aku mulai menangis.
Ardi memelukku dengan sangat hati-hati.
“Maaf.”
Aku memukul dadanya.
“Tiga tahun!”
“Aku tahu.”
“Aku menguburmu!”
“Aku tahu.”
“Aku sendirian!”
Suaraku pecah.
“Ayah pergi. Ibu pergi. Kamu pergi. Aku pikir semuanya sudah hilang.”
Ardi tidak membela diri.
Dia hanya memelukku.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam kecelakaan itu, aku menangis bukan karena kehilangan kakakku.
Aku menangis karena mendapatkannya kembali.
Aku segera dibawa ke rumah sakit.
Dua hari kemudian, setelah kondisiku stabil, Ardi akhirnya menceritakan semuanya.
Dia seharusnya ikut penerbangan bersama orang tua kami.
Tetapi beberapa jam sebelum keberangkatan, ayah menerima sebuah pesan anonim.
Pesan itu hanya berbunyi:
Jangan biarkan Ardi naik pesawat.
Ayah menganggapnya ancaman.
Diam-diam dia meminta Ardi menggunakan penerbangan komersial berbeda.
Namun nama Ardi tetap dibiarkan dalam daftar perjalanan awal.
Pesawat orang tua kami kemudian mengalami kecelakaan.
Saat itu Ardi langsung memahami bahwa pesan tersebut bukan ancaman.
Itu peringatan.
“Kenapa kamu tidak pulang kepadaku?”
Ardi menatap lantai.
“Karena dua hari setelah kecelakaan, seseorang mencoba masuk ke tempatku menginap.”
“Siapa?”
“Aku tidak tahu. Tapi Pak Surya membawaku pergi malam itu.”
Ayah ternyata telah membangun sebuah jaringan perlindungan rahasia setelah menemukan transaksi mencurigakan di perusahaan.
Pak Surya bukan sekadar penjahit.
Dulu dia adalah kepala audit internal pertama Prameswari Group dan sahabat ayah sejak muda.
Setelah pensiun, dia membuka toko jahit.
Namun ayah tetap mempercayainya lebih dari hampir semua orang di perusahaan.
Medali perak itu merupakan tanda autentikasi.
Hanya tiga buah yang pernah dibuat.
Satu untuk ayah.
Satu untuk Ardi.
Dan satu untukku.
“Kenapa kamu membiarkanku tinggal bersama Raka?”
Pertanyaan itu membuat Ardi terdiam.
“Aku tidak tahu Raka terlibat.”
“Terlibat seberapa jauh?”
Ardi mengeluarkan sebuah USB hitam.
“Tidak sejauh yang kamu pikirkan.”
Tiga hari kemudian, Raka datang ke rumah sakit didampingi pengacaranya.
Aku menolak menemuinya.
Namun Ardi berkata:
“Kamu perlu mendengar ini.”
Raka masuk.
Dia terlihat seperti tidak tidur selama beberapa hari.
Aku tidak melihat suamiku lagi ketika memandangnya.
Aku melihat seorang pria yang pernah kupercaya.
Itu lebih menyakitkan.
“Bicaralah,” kataku.
Raka duduk.
“Dua bulan sebelum perusahaan keluargamu runtuh, ayahku memberi tahu bahwa ada kesempatan mengambil alih beberapa aset Prameswari.”
“Ayahmu?”
Raka mengangguk.
Hendra Mahendra.
Pendiri Mahendra Properti.
Pria yang selama ini kukenal sebagai mertua yang tenang dan hampir tidak pernah mencampuri rumah tangga kami.
“Ayahku mengatakan Prameswari Group memiliki masalah internal dan bank-bank akan menarik kredit.”
“Kamu tidak bertanya bagaimana dia tahu?”
“Aku bertanya.”
“Lalu?”
“Dia bilang punya sumber di perbankan.”
Aku tertawa pahit.
“Dan kamu percaya?”
“Aku ingin percaya.”
Itulah kelemahan terbesar Raka.
Bukan karena dia tidak tahu.
Tetapi karena dia sengaja memilih untuk tidak tahu selama ketidaktahuan itu menguntungkannya.
“Setelah kecelakaan?”
Raka menunduk.
“Ayah menyuruhku membeli aset.”
“Dan kamu melakukannya.”
“Iya.”
“Lalu menikahiku.”
Raka mengangkat wajah.
“Itu bukan bagian dari rencana.”
“Jangan.”
“Aku sudah mengenalmu sebelum semua itu.”
“Namun kamu tidak pernah memberitahuku.”
“Aku takut kehilanganmu.”
Aku menatapnya lama.
“Jadi kamu membiarkanku kehilangan kebenaran.”
Raka menangis.
Aku belum pernah melihatnya menangis sebelumnya.
Tetapi air mata tidak mengubah apa pun.
Terutama setelah apa yang dia lakukan kepadaku malam itu.
“Ada satu hal lagi,” katanya.
Raka mengeluarkan ponsel.
“Selina bukan kekasihku.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
“Dia tidak pernah datang ke rumah ini karena aku.”
Kemudian dia menyebutkan nama yang membuat Ardi langsung berdiri.
“Dia bekerja untuk ayahku.”
Hendra Mahendra ditangkap dua hari kemudian.
Bukan hanya karena kesaksian Raka.
Selama tiga tahun, Ardi dan Pak Surya telah mengumpulkan dokumen.
Transfer.
Perusahaan cangkang.
Komunikasi dengan orang dalam.
Rekaman transaksi.
Bukti menunjukkan bahwa Hendra bersama beberapa mitra bisnis telah merancang tekanan finansial terhadap Prameswari Group agar aset strategisnya bisa dibeli murah.
Namun satu pertanyaan masih tersisa.
Pesawat.
Tidak ada bukti bahwa Hendra menyebabkan kecelakaan itu.
Sampai Selina menghilang.
Polisi menemukan apartemennya kosong.
Paspor hilang.
Ponsel dibuang.
Seolah dia sudah mempersiapkan pelarian.
Tetapi Selina membuat satu kesalahan.
Dia kembali ke Pondok Indah untuk mengambil sesuatu.
Sebuah map yang disembunyikan di belakang lemari anggur.
Dimas melihatnya melalui kamera keamanan.
Polisi menangkap Selina sebelum dia sempat meninggalkan rumah.
Di dalam map itu ditemukan dokumen lama.
Namun bukan dokumen tentang sabotase pesawat.
Melainkan laporan teknis.
Pesawat orang tuaku ternyata sudah memiliki masalah mekanis yang terdeteksi sebelum penerbangan.
Seorang teknisi merekomendasikan agar penerbangan dibatalkan.
Rekomendasi itu diabaikan setelah seseorang dari perusahaan charter menekan agar pesawat tetap terbang.
Siapa orang itu?
Bukan Hendra.
Bukan Raka.
Nama yang muncul adalah Bagas Prameswari.
Adik kandung ayahku.
Pamanku sendiri.
Aku merasa seolah kehilangan keluarga untuk kedua kalinya.
“Om Bagas?”
Ardi mengangguk.
Bagas selama bertahun-tahun menjadi direktur operasional Prameswari Group.
Dia mengetahui seluruh proyek.
Seluruh utang.
Seluruh kelemahan.
Dan yang paling penting, dia membenci kenyataan bahwa ayah memilih Ardi sebagai penerus perusahaan.
Bagas adalah orang yang memberikan data internal kepada kelompok Hendra.
Dia membantu menciptakan krisis likuiditas.
Tetapi ketika ayah menemukan indikasi pengkhianatan dan bergegas pulang, Bagas panik.
Dia mengetahui masalah teknis pesawat.
Dia tidak menciptakannya.
Namun dia memastikan peringatan itu tidak menghentikan penerbangan.
Dia membiarkan kakaknya sendiri terbang menggunakan pesawat yang seharusnya tidak meninggalkan landasan.
Selina mengetahui sebagian cerita.
Lalu melebih-lebihkannya untuk menerorku.
Dan satu detail terakhir membuat semuanya menjadi lebih menyakitkan.
Orang yang mengirim pesan anonim kepada ayah agar Ardi tidak naik pesawat…
adalah Bagas.
“Kenapa dia menyelamatkanmu?” tanyaku.
Ardi menatapku.
“Karena dia masih paman kita.”
Aku tidak memahami.
“Dia bersedia mengkhianati Ayah tetapi menyelamatkanmu?”
“Manusia tidak selalu jahat dalam setiap bagian dirinya, Nad.”
Bagas menginginkan kekuasaan.
Dia mengkhianati ayah.
Tetapi pada detik terakhir, dia tidak sanggup membiarkan keponakannya ikut mati.
Satu tindakan baik tidak menghapus kejahatannya.
Namun satu kejahatan juga tidak membuat kenyataan menjadi sederhana.
Bagas akhirnya menyerahkan diri setelah mengetahui Ardi masih hidup.
Enam bulan kemudian, aku berdiri di depan makam orang tuaku.
Ardi berdiri di sampingku.
Tidak ada lagi batu nisan untuk dirinya.
Kami telah memindahkannya.
“Marah?” tanyanya.
“Sama kamu?”
“Iya.”
Aku mengangguk.
“Masih.”
Dia tersenyum.
“Wajar.”
“Tapi aku juga senang kamu ada di sini.”
Aku menggenggam tangannya.
Ardi menggenggam balik.
Prameswari Group tidak kembali seperti dahulu.
Kami tidak menginginkannya.
Sebagian aset berhasil dikembalikan melalui proses hukum. Sebagian lainnya tidak.
Aku menjual beberapa aset yang berhasil dipulihkan dan menggunakan sebagian dananya untuk membangun yayasan atas nama ayah dan ibu.
Ardi memilih hidup lebih tenang.
Dia tidak mau lagi menjadi pewaris kerajaan bisnis.
Sedangkan Raka?
Aku menceraikannya.
Dia bekerja sama dengan penyidik dan memberikan bukti terhadap ayahnya sendiri.
Hal itu meringankan sebagian masalah hukumnya.
Namun tidak menghapus apa yang dilakukannya kepadaku.
Sebelum sidang perceraian terakhir, dia bertanya:
“Apakah suatu hari kamu bisa memaafkanku?”
Aku menjawab jujur.
“Mungkin.”
Matanya terangkat.
“Tapi memaafkan bukan berarti aku harus kembali.”
Dia menangis.
Aku tidak.
“Aku harap kamu menjadi manusia yang lebih baik setelah ini, Raka. Tapi kamu tidak akan berlatih menjadi manusia yang lebih baik dengan menggunakan hidupku sebagai tempat percobaan.”
Itulah terakhir kalinya kami berbicara.
Setahun kemudian, pada suatu sore, aku kembali ke Pasar Baru.
Surya Tailor masih berdiri di tempat yang sama.
Pak Surya sedang menjahit ketika aku masuk.
Dia mengangkat wajah dan tersenyum.
“Nona Nadira.”
Aku meletakkan medali perak di meja.
“Saya ingin mengembalikan ini.”
Pak Surya menggeleng.
“Itu milik Anda.”
“Saya tidak membutuhkannya lagi.”
Dia mengambil medali tersebut.
Lalu membaliknya.
“Apa Anda pernah memperhatikan bagian belakangnya?”
Aku mengernyit.
“Sering.”
“Belum cukup dekat.”
Dia memberikan kaca pembesar.
Aku melihat permukaan logam tua itu.
Ada ukiran sangat kecil yang hampir tidak terlihat.
Bukan kode.
Bukan nomor rekening.
Bukan nama perusahaan.
Hanya sebuah kalimat.
Tulisan tangan ayah yang diukir ke logam:
Kalau kamu sampai membutuhkan medali ini, berarti Ayah gagal melindungimu. Maafkan Ayah. Jangan selamatkan perusahaan. Selamatkan dirimu dan keluargamu.
Aku tidak mampu bicara.
Selama bertahun-tahun, kupikir ayah membangun sistem rahasia itu untuk menyelamatkan kerajaan bisnisnya.
Ternyata bukan.
Prameswari Group tidak pernah menjadi warisan terpentingnya.
Kami yang menjadi warisannya.
Aku menutup tangan di sekitar medali itu dan menangis.
Pak Surya tidak mengatakan apa-apa.
Beberapa saat kemudian pintu toko terbuka.
Ardi masuk membawa dua cangkir kopi.
“Kamu belum selesai?”
Aku cepat-cepat menghapus air mata.
“Kamu tahu tulisan ini ada?”
Ardi melihat medali.
Kemudian tersenyum.
“Tahu.”
“Kenapa tidak pernah bilang?”
“Karena Ayah menulis pesan berbeda di medaliku.”
“Apa?”
Ardi mengeluarkan medali miliknya.
Aku membaliknya.
Di sana tertulis:
Kalau suatu hari adikmu datang membawa medalinya, jangan cari siapa yang harus kamu balas. Bawa dia pulang.
Aku menatap Ardi.
Dia menatapku.
Lalu kami tertawa sambil menangis.
Selama tiga tahun, Ardi mengira tugas terakhir yang diberikan ayah adalah membongkar konspirasi.
Aku mengira medali itu adalah senjata terakhir keluarga Prameswari.
Kami berdua salah.
Pesan terakhir ayah tidak pernah tentang balas dendam.
Tidak tentang perusahaan.
Tidak tentang tanah.
Tidak tentang uang.
Hanya tentang kami.
Aku memeluk kakakku di tengah toko jahit kecil itu.
Dan akhirnya aku memahami arti kalimat yang selama ini menjadi kode keluarga kami.
Nadira masih hidup, dan waktunya telah tiba.
Bukan waktunya menghancurkan musuh.
Bukan waktunya merebut kembali kerajaan.
Melainkan waktunya berhenti hidup sebagai korban dari masa lalu.
Aku keluar dari toko bersama Ardi.
Jakarta sore itu ramai seperti biasa.
Klakson terdengar.
Orang-orang bergegas pulang.
Pedagang mulai menyalakan lampu.
Tidak ada iring-iringan mobil mewah.
Tidak ada rumah besar yang menungguku.
Tidak ada lagi suami kaya.
Tidak ada kerajaan bisnis seperti dahulu.
Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
aku tidak merasa kehilangan apa pun.
Ardi berjalan di sampingku.
Aku menggenggam medali pemberian ayah.
Dan akhirnya aku pulang.
Bukan ke rumah keluarga Mahendra.
Bukan ke kejayaan keluarga Prameswari.
Aku pulang kepada hidupku sendiri.
TAMAT.
