Sekretaris Suamiku Mengusirku dari Lift karena Mengira Aku Anak Magang — Sampai Aku Melihat Jam di Tangannya

Avatar penulis
Cerita 04
22 menit baca 205 tayangan
Sekretaris Suamiku Mengusirku dari Lift karena Mengira Aku Anak Magang — Sampai Aku Melihat Jam di Tangannya
Indeks

Sekretaris Suamiku Mengusirku dari Lift karena Mengira Aku Anak Magang — Sampai Aku Melihat Jam di Tangannya

Sekretaris suamiku mengusirku dari lift karena mengira aku anak magang. Aku hampir mengatakan bahwa akulah CEO baru perusahaan itu… sampai aku melihat benda yang melingkar di pergelangan tangannya.

Sekretaris Suamiku Mengusirku dari Lift karena Mengira Aku Anak Magang — Sampai Aku Melihat Jam di Tangannya

Hari pertamaku sebagai Direktur Utama Grup Mahendra, Selina Wijaya menatapku dari ujung kepala sampai kaki, lalu menghalangi pintu lift eksekutif dengan lengannya.

“Anak magang pakai lift servis.”

Dia tidak tahu siapa aku.

Dan aku memutuskan untuk tidak memberitahunya.

Karena di pergelangan tangannya ada sebuah jam tangan putih edisi terbatas.

Jam yang sama persis dengan yang kupilih sebagai hadiah ulang tahun untuk ibu mertuaku.

Hanya ada 10 buah di seluruh dunia.

Sebulan sebelumnya, saat aku sedang menyelesaikan negosiasi besar di Surabaya, aku meminta suamiku, Arga Mahendra, membelikannya atas namaku.

“Tolong urus jam itu, ya. Mama pasti suka.”

Arga menjawab ringan.

“Serahkan saja padaku.”

Sekarang jam itu justru melingkar manis di pergelangan tangan sekretarisnya.

Pagi itu aku tiba di kantor pusat Grup Mahendra di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, mengenakan gaun biru tua sederhana, sepatu datar, dan tas tanpa logo merek terkenal.

Selama 6 tahun terakhir, aku memimpin berbagai proyek perusahaan di Surabaya, Makassar, dan Balikpapan.

Aku tidak pernah merasa perlu memakai pakaian mahal hanya untuk menunjukkan berapa besar penghasilanku.

Selina rupanya punya pandangan berbeda.

“Kamu tidak dengar?” katanya lagi. “Lift ini khusus direksi dan manajemen senior.”

“Aku dengar dengan jelas.”

“Kalau begitu, pakai lift sebelah.”

Seorang karyawan perempuan yang berdiri tak jauh dariku mendekat dan berbisik pelan.

“Lebih baik ikuti saja, Mbak. Jangan cari masalah dengan Bu Selina.”

Aku memandang ke arah lift servis di ujung koridor.

“Lift itu sampai lantai berapa?”

“Lantai 58.”

“Kalau karyawan yang bekerja di lantai 63?”

Perempuan itu menundukkan pandangan.

“Kami naik tangga dari lantai 58.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Lima lantai? Setiap hari?”

Selina tertawa kecil.

“Kalau naik lima lantai saja sudah dianggap berat, mungkin mereka memang tidak pantas bekerja di gedung ini.”

Kalimat itu membuatku jauh lebih marah daripada penghinaan yang dia tujukan kepadaku.

Tiga hari sebelumnya, dewan komisaris telah menyetujui pengangkatanku sebagai Direktur Utama Grup Mahendra.

Pengumuman resmi akan dilakukan pukul 10 pagi.

Arga tahu aku akan kembali bekerja di kantor pusat hari itu.

Namun dia belum tahu bahwa dewan telah memutuskan menyerahkan kendali operasional perusahaan sepenuhnya kepadaku.

Arga tetap menjabat sebagai Presiden Komisaris.

Tetapi operasional, audit internal, sumber daya manusia, kepatuhan, serta seluruh keputusan strategis harian perusahaan akan berada di bawah kewenanganku.

Selina kembali menghadang pintu lift.

“Aku bilang untuk terakhir kali. Jangan kotori lift eksekutif dengan sepatu dari luar.”

Aku menatap sepatuku.

Lalu menatap wajahnya.

Tanpa menjawab, aku menekan tombol lift.

Pintu terbuka.

Aku langsung masuk.

Selina ikut masuk di belakangku dengan wajah merah karena marah.

“Kamu baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam kariermu.”

Aku menoleh.

“Karier yang mana?”

“Program magangmu.”

Dia menyilangkan tangan.

“Aku akan memastikan kamu dikeluarkan sebelum makan siang.”

Aku hampir tertawa.

“Sejak kapan sekretaris Presiden Komisaris menentukan siapa yang boleh tetap bekerja di perusahaan?”

Selina mengangkat dagunya.

“Semua orang yang ingin bekerja dekat dengan Pak Arga harus melewatiku lebih dulu.”

Cara dia mengatakannya aneh.

Bukan seperti seorang sekretaris.

Lebih seperti pemilik perusahaan.

Ketika lift tiba di lantai eksekutif, beberapa orang langsung memperhatikan kami.

Selina berjalan keluar lebih dulu dan mulai menceritakan versinya dengan suara cukup keras agar semua orang mendengar.

Dalam waktu kurang dari dua menit, aku mendengar beberapa komentar yang membuat tubuhku terasa dingin.

“Pak Arga paling percaya sama Bu Selina.”

“Dia tangan kanan Pak Arga.”

“Jangan pernah cari masalah dengannya.”

“Kalau Bu Selina sudah tidak suka seseorang, orang itu biasanya tidak bertahan lama.”

Seorang perempuan dari bagian administrasi bahkan mendekatiku.

“Mbak, mending minta maaf sebelum Pak Arga selesai rapat.”

“Kenapa?”

Dia melirik Selina sebelum menjawab.

“Bu Selina punya koneksi ke mana-mana. Kalau dia mau, bukan cuma pekerjaan di sini yang hilang. Bisa-bisa perusahaan lain di Jakarta juga enggan menerima Mbak.”

Aku tidak langsung menjawab.

Saat itulah cahaya dari jendela besar di koridor jatuh tepat ke pergelangan tangan Selina.

Aku melihat jam itu lagi.

Keramik putih.

Berlian kecil mengelilingi permukaannya.

Dan tepat di bawah angka enam ada ornamen bulan sabit kecil berwarna perak.

Tidak mungkin salah.

Itu jam yang kupilih sendiri.

Aku bahkan masih ingat bagaimana aku menghabiskan hampir satu jam bersama staf butik untuk memastikan ukiran kecil di bagian belakangnya.

Aku menunjuk pergelangan tangannya.

“Jamnya bagus.”

Selina tersenyum puas.

“Tentu.”

“Belinya di mana?”

Senyumnya berubah.

Bukan lagi sekadar bangga.

Ada sesuatu yang hampir seperti kemenangan di wajahnya.

“Aku tidak membelinya.”

Aku diam.

Selina menyentuh jam itu perlahan.

“Arga yang memberikannya kepadaku.”

Untuk sesaat, suara di sekelilingku seperti menghilang.

Sepuluh tahun pernikahan kami melintas begitu saja di kepalaku.

Makan malam dengan klien yang mendadak diperpanjang hingga tengah malam.

Perjalanan bisnis yang jadwalnya berubah tanpa pemberitahuan.

Konferensi akhir pekan.

Panggilan telepon yang selalu dijawab Arga di balkon.

Ponselnya yang belakangan hampir selalu diletakkan dengan layar menghadap meja.

Dan setiap kali aku bertanya terlalu banyak, jawabannya selalu sama.

“Kamu terlalu banyak berpikir, Nadira.”

Aku tidak pernah memeriksa ponselnya.

Tidak pernah mengikutinya.

Tidak pernah ingin menjadi istri yang mencurigai setiap hal kecil.

Karena kupikir pernikahan tanpa kepercayaan tidak akan bertahan.

Sekarang aku mulai bertanya-tanya apakah kepercayaan itu justru telah membuatku terlihat bodoh.

Selina rupanya mengira diamku adalah tanda kecemburuan.

Dia mendekat.

“Oh…”

Tatapannya berubah seolah baru memahami sesuatu.

“Sekarang aku tahu.”

“Tahu apa?”

“Kamu ingin menarik perhatian Pak Arga.”

Aku nyaris tidak percaya mendengarnya.

Selina melanjutkan.

“Kamu memanggil beliau ‘Arga’ seolah kalian dekat. Kamu melanggar aturan, memaksa naik lift eksekutif, lalu sekarang terus melihat hadiah darinya.”

Dia mendekat lagi dan berbisik cukup keras sehingga beberapa orang di sekitar kami masih bisa mendengar.

“Apa berikutnya? Kamu mau menggoda dia?”

Seseorang di belakang kami tertawa kecil.

Aku menatap wajah Selina tanpa ekspresi.

Dia justru semakin percaya diri.

Matanya memeriksa pakaian sederhana yang kukenakan.

Lalu tas tanpa merek di tanganku.

Kemudian sepatu datarku.

“Maksudku…”

Dia tersenyum sinis.

“Coba lihat dirimu.”

Beberapa karyawan mulai saling berpandangan.

Selina merapikan rambutnya.

“Kamu benar-benar merasa kamu tipe perempuan yang disukai Pak Arga?”

Aku masih diam.

Lalu dia mengangkat pergelangan tangannya, sengaja memperlihatkan jam putih itu.

“Aku sudah lama bersama Arga.”

Bersama.

Bukan bekerja bersama.

Bukan menjadi sekretarisnya.

Bersama Arga.

Aku menatapnya beberapa detik.

“Apa maksudmu?”

Selina tersenyum tipis.

“Kamu masih terlalu muda untuk mengerti bagaimana hubungan orang-orang di level atas bekerja.”

Aku hampir mengatakan bahwa usiaku bahkan lebih tua dua tahun darinya.

Namun sebelum sempat menjawab, pintu besar ruang rapat terbuka.

Seluruh koridor mendadak hening.

Empat orang direktur keluar lebih dulu.

Di belakang mereka muncul Arga.

Suamiku.

Pria yang sudah sepuluh tahun tidur di sampingku.

Pria yang tadi pagi mengirim pesan singkat:

Semoga hari pertamamu kembali di kantor berjalan lancar. Makan malam nanti?

Dia mengenakan setelan abu-abu gelap dan sedang berbicara dengan Direktur Keuangan ketika matanya menangkap Selina.

Nada suaranya langsung berubah lebih lembut.

“Sel…”

Dia berjalan mendekat.

“Ada apa? Siapa yang bikin kamu marah?”

Sel.

Panggilan yang terlalu akrab.

Selina langsung memasang wajah seolah-olah dia adalah korban.

“Nggak ada yang penting.”

Kemudian dia menunjuk ke arahku.

“Cuma anak magang baru yang tidak tahu aturan.”

Aku menatap suamiku.

Wajah Arga membeku.

Namun Selina tidak melihatnya.

Dia terlalu sibuk menikmati perhatian semua orang.

“Dia memaksa naik lift eksekutif,” lanjut Selina. “Sudah aku suruh turun, tapi malah menantangku. Dia juga memanggil nama Bapak dengan sangat tidak sopan.”

Arga tidak berkata apa-apa.

Selina melangkah dua kali.

Lalu berdiri tepat di samping suamiku.

Begitu dekat sampai bahu mereka hampir bersentuhan.

Dengan penuh keyakinan bahwa karierku akan berakhir dalam beberapa detik, Selina menyilangkan tangan dan berkata,

“Pak Arga, saya rasa anak magang seperti ini sebaiknya langsung dikeluarkan saja.”

Aku melihat jam putih di pergelangan tangannya sekali lagi.

Kemudian aku menatap Arga.

Dan tersenyum.

Karena tepat pada saat itu, pintu lift di belakang kami terbuka.

Ketua Dewan Komisaris keluar bersama Kepala Divisi Legal dan Direktur SDM.

Mereka langsung berjalan ke arahku.

Selina masih tersenyum puas.

Sampai Ketua Dewan berhenti tepat di depanku dan berkata,

“Selamat pagi, Ibu Nadira Prameswari.”

Selina perlahan menoleh.

Ketua Dewan tersenyum lebar.

“Selamat atas hari pertama Anda sebagai Direktur Utama Grup Mahendra.”

Wajah Selina kehilangan seluruh warnanya.

Tapi aku tidak melihatnya.

Aku hanya menatap suamiku.

Lalu menunjuk jam di pergelangan tangan sekretarisnya.

“Arga…”

Aku berkata pelan.

“Aku cuma punya satu pertanyaan sebelum rapat dimulai.”

Suamiku menelan ludah.

Aku tersenyum.

“Kenapa hadiah ulang tahun untuk ibumu ada di tangan sekretarismu?”

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya selama lebih dari sepuluh tahun…

Arga Mahendra—pria yang selalu punya jawaban untuk segalanya—tidak mampu mengucapkan satu kata pun.

──────────────────────

Tulis JAM kalau ingin membaca kelanjutannya.

Karena ternyata alasan jam itu berada di tangan Selina jauh lebih mengejutkan daripada perselingkuhan.

Dan apa yang kutemukan dalam audit perusahaan beberapa jam kemudian membuat seluruh keluarga Mahendra hampir kehilangan segalanya.

BAGIAN 2

Tidak ada seorang pun di koridor lantai 63 yang berani bergerak.

Selina Wijaya masih berdiri di samping Arga dengan pergelangan tangan terangkat sedikit, seolah beberapa detik sebelumnya jam putih itu adalah simbol kemenangan.

Sekarang benda itu justru terlihat seperti barang bukti.

Aku menunggu.

Arga menatapku, lalu jam itu, kemudian Ketua Dewan Komisaris yang berdiri beberapa langkah di belakangku.

“Nadira, kita bisa membicarakan ini nanti.”

Aku tersenyum tipis.

“Kenapa nanti?”

“Nadira…”

“Pertanyaanku sederhana. Jam itu aku beli untuk Mama. Aku mentransfer uangnya. Aku memilih modelnya. Bahkan aku yang meminta ukiran di bagian belakangnya.”

Wajah Selina berubah.

“Ukiran?”

Aku menatapnya.

“Jadi kamu belum pernah melihat bagian belakangnya?”

Tangannya refleks menutupi jam tersebut.

Aku melanjutkan.

“Di sana tertulis: Untuk Mama, terima kasih sudah menerima Nadira sebagai anak sendiri.”

Selina langsung memandang Arga.

Dan ekspresi itulah yang membuatku memahami sesuatu.

Dia tidak tahu.

Kalau Arga benar-benar memberikannya sebagai hadiah romantis, setidaknya dia pasti sudah melihat ukiran itu.

“Arga bilang jam ini hadiah khusus untuk saya,” katanya.

Aku mengangguk.

“Aku percaya.”

Arga menoleh tajam.

“Nadira.”

“Aku bilang aku percaya Selina.”

Kali ini semua orang terlihat bingung.

Termasuk Selina sendiri.

Aku menatap suamiku.

“Yang belum aku percaya adalah kamu.”

Ketua Dewan berdeham.

“Mungkin persoalan pribadi sebaiknya—”

“Ini bukan lagi persoalan pribadi.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Bu Ratih.”

Direktur SDM yang berdiri di belakang Ketua Dewan langsung maju.

“Ya, Bu Nadira.”

“Mulai saat ini, akses sistem milik Pak Arga dan Bu Selina dibekukan sementara.”

Arga langsung menatapku.

“Kamu serius?”

“Sangat.”

“Kamu baru lima menit menjadi Direktur Utama.”

“Benar. Dan lima menit pertama itu sudah cukup untuk melihat budaya perusahaan yang rusak.”

Aku menunjuk lift.

“Karyawan dipaksa naik lima lantai lewat tangga sementara lift eksekutif kosong.”

Kemudian aku menunjuk Selina.

“Seorang sekretaris bisa mengancam karier orang hanya karena tidak menyukainya.”

Lalu aku memandang Arga.

“Dan Presiden Komisaris membiarkannya.”

Arga menarik napas panjang.

“Kamu sedang mencampur masalah rumah tangga dengan perusahaan.”

“Kalau begitu audit akan membuktikan aku salah.”

Aku berjalan menuju ruang rapat.

Sebelum masuk, aku berhenti.

“Pak Surya.”

Kepala Divisi Legal mengangguk.

“Tolong ikut saya.”

Lalu aku menoleh kepada Direktur Keuangan.

“Pak Hendro juga.”

Terakhir, aku memandang Selina.

“Dan kamu.”

Selina membeku.

“Saya?”

“Bukankah kamu bilang semua orang yang ingin bekerja dekat dengan Arga harus melewatimu?”

Aku membuka pintu ruang rapat.

“Sekarang giliranku melewatimu.”


Dua jam kemudian, aku mulai berharap persoalannya benar-benar hanya perselingkuhan.

Perselingkuhan akan menghancurkan pernikahanku.

Tetapi apa yang muncul di layar laptop di ruang rapat berpotensi menghancurkan perusahaan yang dibangun keluarga Mahendra selama lebih dari tiga puluh tahun.

Pak Hendro menampilkan daftar pembayaran.

“Ada 17 vendor yang menurut sistem menerima pembayaran selama 14 bulan terakhir.”

“Total?”

“Sekitar Rp46,8 miliar.”

Aku menatap angka itu.

“Apa masalahnya?”

Pak Hendro memperbesar beberapa dokumen.

“Alamat kantor mereka.”

Tujuh perusahaan memiliki alamat yang sama.

Sebuah ruko di Bekasi.

Empat lainnya menggunakan alamat sebuah rumah kosong di Tangerang.

Sisanya memiliki nomor telepon yang sudah tidak aktif.

Aku menatap Arga.

Dia duduk di ujung meja dengan wajah tegang.

“Kamu tahu soal ini?”

“Tidak.”

Pak Hendro berkata hati-hati,

“Sebagian besar persetujuan menggunakan otorisasi kantor Presiden Komisaris.”

Arga berdiri.

“Itu mustahil.”

“Duduk.”

“Nadira, aku tidak pernah menyetujui pembayaran itu!”

“Kalau begitu duduk dan bantu kami mencari siapa yang melakukannya.”

Untuk pertama kalinya hari itu, dia menurut.

Selina duduk di seberangku.

Wajahnya pucat.

Tangannya berada di bawah meja.

“Taruh ponselmu di atas meja,” kataku.

Dia menatapku.

“Saya tidak melakukan apa-apa.”

“Aku tidak menuduhmu.”

Perlahan dia meletakkan ponselnya.

Pak Surya kemudian menunjukkan dokumen lain.

“Bu Nadira, ada sesuatu yang lebih serius.”

Sebuah perusahaan bernama PT Langit Timur Konsultan menerima pembayaran Rp12,4 miliar.

Pemilik resminya seorang perempuan bernama:

Maya Wijaya.

Aku menoleh kepada Selina.

“Siapa Maya?”

Tidak ada jawaban.

“Selina.”

Dia menelan ludah.

“Ibu saya.”

Ruangan langsung hening.

Arga berdiri lagi.

“Kamu bilang perusahaan ibumu sudah tutup.”

Selina menatapnya.

“Memang.”

“Lalu kenapa perusahaan itu menerima dua belas miliar dari Grup Mahendra?”

“Aku tidak tahu!”

Untuk pertama kalinya dia tidak memanggilnya Pak Arga.

Aku menangkap perubahan kecil itu.

Namun ada sesuatu yang lebih menarik.

Arga terlihat benar-benar terkejut.

Bukan akting.

Aku sudah hidup dengannya sepuluh tahun.

Aku tahu bagaimana dia berbohong.

Saat berbohong, Arga biasanya terlalu tenang.

Sekarang tangannya gemetar.

Aku menatap Pak Hendro.

“Siapa yang memasukkan vendor-vendor ini?”

Dia membuka log sistem.

Kemudian wajahnya berubah.

“Bu…”

“Apa?”

“Sebagian menggunakan akun Bu Selina.”

Selina langsung berdiri.

“Tidak mungkin!”

“Tapi sebagian lainnya…”

Pak Hendro berhenti.

“Lanjutkan.”

“Memakai akun Anda.”

Aku merasa udara meninggalkan paru-paruku.

“Akun siapa?”

Pak Hendro menatapku.

“Akun Direktur Utama regional milik Ibu Nadira.”

Arga menoleh kepadaku.

Selina justru tersenyum kecil.

Sangat kecil.

Tapi aku melihatnya.

Dan pada detik itu aku tahu.

Ini jebakan.

Bukan hanya untuk Arga.

Untukku juga.


Aku meminta seluruh ruangan dikosongkan kecuali Legal, Audit Internal, dan Direktur Keuangan.

Arga menolak pergi.

“Aku tidak akan meninggalkanmu menghadapi ini sendiri.”

Aku menatapnya lama.

Aneh.

Beberapa jam sebelumnya aku ingin menamparnya.

Sekarang aku bahkan tidak tahu apakah dia musuhku atau korban berikutnya.

“Kalau mau tinggal,” kataku, “jawab semuanya dengan jujur.”

Dia mengangguk.

Aku menunjuk jam tangan Selina yang kini berada di atas meja sebagai barang yang kami minta dia tinggalkan sementara.

“Kenapa kamu memberikan jam itu?”

Arga memejamkan mata.

Kemudian dia berkata,

“Karena Selina memintanya.”

Aku tertawa pendek.

“Tentu saja.”

“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Kalimat favorit semua suami yang tertangkap.”

“Nadira, dengarkan.”

Dia menarik kursinya lebih dekat.

“Tiga minggu lalu Selina menunjukkan beberapa dokumen kepadaku. Dia bilang ada transaksi mencurigakan menggunakan akunmu.”

Aku diam.

“Dia bilang kalau informasi itu sampai ke dewan sebelum kita tahu apa yang sebenarnya terjadi, pengangkatanmu sebagai Direktur Utama bisa dibatalkan.”

“Kenapa kamu tidak meneleponku?”

“Karena kamu sedang di Surabaya menutup negosiasi terbesar tahun ini.”

“Itu bukan jawaban.”

Arga menunduk.

“Karena aku bodoh.”

Setidaknya itu terdengar jujur.

“Lanjutkan.”

“Selina bilang dia bisa mencari sumber transaksi itu diam-diam. Seminggu kemudian dia meminta jam tersebut.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Dan kamu memberikannya?”

“Dia bilang hanya meminjamnya.”

“Untuk apa?”

Arga tampak malu.

“Dia bilang perlu terlihat seperti seseorang yang sangat dekat dengan keluarga Mahendra saat bertemu sumber internal.”

Aku hampir tertawa.

“Itu alasan paling bodoh yang pernah kudengar.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu percaya?”

“Waktu itu iya.”

Aku menatap pria yang sudah sepuluh tahun menjadi suamiku.

Mungkin pengkhianatan tidak selalu berbentuk perselingkuhan.

Kadang pengkhianatan adalah memilih mempercayai orang lain ketika seharusnya kau mempercayai pasanganmu sendiri.

Dan entah kenapa, itu terasa sama sakitnya.


Pukul tiga sore, audit menemukan sesuatu.

Setiap transaksi mencurigakan yang menggunakan akunku dilakukan saat aku berada di luar Jakarta.

Surabaya.

Makassar.

Balikpapan.

Bahkan dua transaksi terjadi ketika aku sedang berada dalam penerbangan.

“Ada duplikasi token autentikasi,” kata Kepala IT.

“Bisa dilakukan siapa?”

“Seseorang yang pernah memiliki akses fisik ke laptop dan ponsel kantor Ibu.”

Aku langsung teringat sesuatu.

Enam bulan lalu.

Laptopku pernah dikirim ke Jakarta untuk pembaruan keamanan.

Orang yang mengatur pengiriman itu adalah sekretariat Presiden Komisaris.

Dan orang yang menandatangani penerimaannya?

Selina Wijaya.

Aku berdiri.

“Panggil dia kembali.”

Tetapi Selina sudah tidak berada di gedung.

Ponselnya tertinggal.

Tasnya tertinggal.

Jam putih itu juga tertinggal.

Dia menghilang.


Malamnya aku tidak pulang bersama Arga.

Aku tinggal di kantor sampai hampir pukul sebelas.

Tim audit menemukan aliran dana Rp46,8 miliar itu berakhir di tiga rekening berbeda.

Dua rekening sudah hampir kosong.

Tetapi rekening ketiga mengejutkan kami.

Pemiliknya bukan Selina.

Bukan ibunya.

Bukan Arga.

Namanya membuatku berdiri dari kursi.

Ratna Mahendra.

Ibu mertuaku.

Perempuan yang seharusnya menerima jam putih itu.

Tanganku menjadi dingin.

“Berapa?”

“Rp18,2 miliar.”

Aku menatap layar.

Kemudian ponselku berbunyi.

Mama Ratna menelepon.

Aku menjawab.

“Mama?”

Suara perempuan berusia 67 tahun itu terdengar tenang.

“Nadira, datang ke rumah Mama.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Kenapa?”

“Karena kamu sudah menemukan rekening itu, kan?”

Aku membeku.

“Mama tahu?”

“Aku tahu lebih banyak daripada yang kamu pikirkan.”


Rumah Mama Ratna di Menteng masih sama seperti sepuluh tahun lalu.

Tidak besar untuk ukuran keluarga Mahendra.

Tidak penuh kemewahan.

Dia selalu berkata rumah yang terlalu besar membuat orang sulit mendengar satu sama lain.

Ketika aku tiba, Arga sudah ada di sana.

Dan di sofa ruang tengah duduk seseorang yang tidak kuduga.

Selina.

Aku berhenti di pintu.

Arga berdiri.

“Nadira, jangan—”

“Apa dia lakukan di sini?”

Mama Ratna keluar dari ruang kerja.

“Duduklah.”

“Mama, Rp18 miliar uang perusahaan masuk ke rekening Mama.”

“Aku tahu.”

“Dan Selina kabur dari kantor lalu datang ke sini.”

“Aku yang menyuruhnya.”

Aku benar-benar tidak mengerti.

Mama Ratna mengambil sebuah map cokelat.

Lalu meletakkannya di meja.

“Buka.”

Di dalamnya ada dokumen lama.

Laporan bank.

Akta perusahaan.

Surat perjanjian.

Dan sebuah foto yang diambil sekitar 28 tahun lalu.

Mama Ratna masih muda.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan.

Aku mengenali wajah itu.

Mirip Selina.

“Maya Wijaya?” tanyaku.

Mama mengangguk.

“Dulu Maya adalah sahabat Mama.”

Selina menunduk.

Mama melanjutkan.

“Ketika ayah Arga membangun Grup Mahendra, Maya memberikan hampir seluruh tabungannya untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.”

Arga tampak terkejut.

“Ayah tidak pernah cerita.”

“Karena setelah perusahaan berhasil, ayahmu mengkhianatinya.”

Bukan perselingkuhan.

Saham.

Ayah Arga berjanji memberikan Maya 12 persen kepemilikan.

Tetapi perjanjian itu tidak pernah didaftarkan.

Maya kehilangan haknya.

Bertahun-tahun kemudian, dia meninggal dalam kondisi ekonomi yang buruk.

Selina tumbuh dengan keyakinan bahwa keluarga Mahendra mencuri masa depan ibunya.

Aku memandang Selina.

“Jadi kamu mencuri uang perusahaan?”

Air matanya jatuh.

“Awalnya saya cuma ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milik ibu saya.”

“Empat puluh enam miliar?”

Dia menggeleng.

“Tidak.”

Mama Ratna menyela.

“Di situlah masalah sebenarnya.”

Dia mengeluarkan dokumen lain.

“Selina hanya memindahkan Rp12,4 miliar.”

Aku menatapnya.

“Lalu sisanya?”

Mama Ratna menunjuk rekeningnya sendiri.

“Rp18,2 miliar sengaja Mama pindahkan.”

Arga berdiri.

“Mama!”

“Untuk memancing orang yang selama ini mencuri dari perusahaan.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku akhirnya memahami.

“Ada pencuri lain.”

Mama mengangguk.

“Sudah hampir tiga tahun.”

“Siapa?”

Dia menatap Arga.

Suamiku langsung pucat.

“Bukan Arga,” katanya.

Kemudian dia menatapku.

“Paman Arga.”

Bambang Mahendra.

Wakil Ketua Dewan Komisaris.

Orang yang justru paling keras mendukung pengangkatanku menjadi Direktur Utama.

Ternyata bukan karena dia percaya kepadaku.

Dia membutuhkan namaku berada di posisi tertinggi saat semuanya terbongkar.

Agar seluruh transaksi palsu dapat diarahkan kepadaku.

Selina menemukan sebagian skema itu beberapa bulan lalu.

Tetapi bukannya melapor, dia mencoba mengambil bagian yang dianggap sebagai hak ibunya.

Bambang mengetahuinya.

Lalu memanfaatkannya.

Dia membuat transaksi lain menggunakan akun Selina dan akunku.

Satu skandal.

Dua kambing hitam.

Dan ketika audit dilakukan, aku dan Selina akan terlihat seperti bekerja sama.

“Ada buktinya?” tanyaku.

Mama Ratna tersenyum tipis.

“Jam itu.”

Aku menoleh.

“Jam?”

“Balikkan.”

Aku mengambil jam putih tersebut.

Di bagian belakang memang ada ukiran yang kupesan.

Tetapi ada satu titik kecil yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Mama berkata,

“Bukan hiasan.”

Selina berbisik,

“Perekam suara.”

Aku menatapnya.

Ternyata ketika Selina meminta jam itu dari Arga, bukan karena ingin terlihat kaya.

Dia sudah mengetahui Bambang akan menemuinya.

Dia membutuhkan sesuatu yang tidak akan diperiksa.

Jam itu merekam pertemuan mereka.

Dan suara Bambang terekam jelas mengatakan bahwa Nadira Prameswari akan menjadi orang yang menanggung seluruh kesalahan setelah resmi menjadi Direktur Utama.

Aku menutup mata.

Jadi benda yang kupikir menjadi bukti perselingkuhan suamiku…

justru menjadi benda yang menyelamatkanku.


Tiga bulan kemudian, Bambang Mahendra resmi diberhentikan dari seluruh jabatan perusahaan dan kasusnya diserahkan kepada pihak berwenang bersama bukti audit serta rekaman yang ada.

Dana yang masih dapat dibekukan dikembalikan kepada perusahaan.

Kasus klaim keluarga Maya diselesaikan secara terpisah melalui jalur hukum.

Selina juga tidak bebas dari tanggung jawab.

Dia mengakui bahwa dia memindahkan dana tanpa izin dan menyalahgunakan akses perusahaan.

Aku tidak melindunginya.

Tetapi aku juga tidak membiarkan sejarah keluarganya dikubur lagi.

Tim hukum melakukan pemeriksaan independen terhadap perjanjian lama antara Maya dan pendiri Grup Mahendra.

Ternyata klaim Maya memang memiliki dasar.

Pada akhirnya, keluarga Mahendra memberikan penyelesaian yang sah kepada ahli warisnya.

Bukan sebagai hadiah.

Bukan karena kasihan.

Tetapi karena itu memang hak yang seharusnya diselesaikan puluhan tahun lalu.

Hari terakhir Selina datang ke kantor, dia tidak memakai pakaian mahal.

Tidak ada jam putih.

Tidak ada sikap angkuh.

Dia berdiri di depan mejaku.

“Saya minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Untuk yang mana?”

Dia menunduk.

“Semua.”

Aku menghela napas.

“Aku bisa memahami kenapa kamu marah kepada keluarga Mahendra.”

Dia mengangkat wajah.

“Tapi?”

“Tapi luka tidak memberi kita hak untuk melukai orang yang tidak membuat luka itu.”

Air matanya jatuh.

“Saya tahu.”

Sebelum pergi, dia berhenti di pintu.

“Bu Nadira…”

“Ya?”

“Arga tidak pernah berselingkuh dengan saya.”

Aku tersenyum tipis.

“Itu urusanku dengan Arga.”

Dia mengangguk.

Lalu pergi.

Dan anehnya, aku tidak membencinya.

Aku hanya berharap suatu hari dia belajar bahwa mendapatkan keadilan dan membalas dendam adalah dua hal yang sangat berbeda.


Masalahku dengan Arga jauh lebih sulit.

Dia tidur di kamar tamu selama hampir dua bulan.

Bukan karena aku mengusirnya.

Dia sendiri yang memilih.

Suatu malam aku menemukannya duduk di dapur dengan dua cangkir teh.

“Aku tidak selingkuh,” katanya.

“Aku tahu.”

“Tapi aku tetap mengkhianatimu.”

Aku terdiam.

Dia melanjutkan.

“Aku percaya pada Selina ketika dia menunjukkan transaksi atas namamu. Aku mencoba menyelesaikannya diam-diam karena kupikir aku sedang melindungimu.”

“Padahal kamu sedang melindungi dirimu sendiri dari percakapan yang sulit.”

Arga mengangguk.

“Kamu benar.”

Itulah pertama kalinya dalam sepuluh tahun pernikahan kami dia tidak mencoba menjelaskan dirinya sampai terlihat benar.

“Aku tidak butuh suami yang menyelamatkanku diam-diam, Ga.”

“Aku tahu.”

“Aku butuh pasangan yang berbicara denganku.”

Dia menatap meja.

“Aku sedang belajar.”

Aku tidak langsung memaafkannya.

Karena cinta tidak menghapus konsekuensi.

Tetapi kami mulai kembali berbicara.

Benar-benar berbicara.

Tanpa ponsel.

Tanpa pekerjaan.

Tanpa kalimat, “Kamu terlalu banyak berpikir.”

Dan perlahan aku menyadari sesuatu.

Pernikahan kami tidak hampir hancur karena Selina.

Pernikahan kami hampir hancur karena selama bertahun-tahun kami terlalu sibuk menjaga perusahaan sampai lupa menjaga kepercayaan.


Enam bulan setelah hari pertamaku sebagai Direktur Utama, aku berdiri di lobi yang sama.

Lift eksekutif masih ada.

Tetapi aturan penggunaannya sudah berubah.

Tidak ada lagi lift yang hanya boleh digunakan berdasarkan jabatan.

Kalau ada ruang, siapa pun boleh masuk.

Aku juga meminta fasilitas gedung diperbaiki agar tidak ada karyawan yang harus naik lima lantai lewat tangga hanya karena seseorang merasa jabatan menentukan siapa yang pantas naik lift.

Pagi itu seorang anak magang baru berdiri ragu-ragu di depan lift.

Ketika pintu terbuka, dia melihatku lalu mundur.

“Silakan, Bu.”

Aku menahan pintunya.

“Kamu mau ke lantai berapa?”

“Enam puluh tiga.”

“Masuk.”

Dia terlihat panik.

“Tapi ini lift eksekutif.”

Aku tersenyum.

“Sekarang cuma lift.”

Dia masuk.

Ketika pintu hampir tertutup, seseorang berlari dari lobi.

“Tahan!”

Aku menekan tombol.

Arga masuk sambil terengah.

Anak magang itu langsung berdiri kaku ketika mengenalinya.

Arga tersenyum.

“Tenang saja. Saya juga numpang.”

Aku hampir tertawa.

Di pergelangan tanganku tidak ada jam putih itu.

Jam tersebut akhirnya kuberikan kepada orang yang sejak awal memang seharusnya menerimanya.

Mama Ratna.

Seminggu sebelumnya dia meneleponku sambil tertawa.

“Nadira, Mama baru lihat ukirannya.”

“Bagus?”

“Bagus. Tapi Mama mau komplain.”

“Kenapa?”

“Kamu tulis terima kasih karena Mama menerima kamu sebagai anak.”

Aku tersenyum.

“Memangnya salah?”

Suara Mama berubah lembut.

“Kamu salah memahami satu hal.”

“Apa?”

“Mama tidak pernah menerima kamu sebagai anak karena kamu menikah dengan Arga.”

Aku diam.

“Mama menerima kamu sebagai anak karena kamu memang sudah menjadi anak Mama.”

Aku tidak bisa menjawab selama beberapa detik.

Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan menghadapi audit, pengkhianatan, sidang dewan, dan rahasia keluarga, aku menangis.

Bukan karena kehilangan sesuatu.

Tetapi karena akhirnya aku tahu apa yang masih kumiliki.

Pintu lift terbuka di lantai 63.

Anak magang itu keluar lebih dulu.

Arga menunggu di sampingku.

“Kopi setelah rapat?” tanyanya.

Aku menatapnya.

Dulu aku mungkin akan langsung menjawab iya.

Sekarang aku tersenyum.

“Kalau rapatmu selesai tepat waktu.”

Dia tertawa.

“Baik, Bu Direktur Utama.”

Aku berjalan keluar.

Enam bulan lalu aku memasuki gedung ini dengan keyakinan bahwa sebuah jam tangan telah membuktikan suamiku berselingkuh.

Ternyata aku salah.

Jam itu membuktikan sesuatu yang jauh lebih besar.

Bahwa rahasia keluarga bisa bertahan puluhan tahun.

Bahwa orang baik bisa membuat keputusan buruk.

Bahwa orang yang terluka bisa berubah menjadi orang yang melukai.

Dan bahwa kepercayaan bukan sesuatu yang kita berikan sekali lalu berharap akan bertahan selamanya.

Kepercayaan harus dipilih kembali.

Setiap hari.

Aku berhenti di depan ruang Direktur Utama.

Di pintunya tidak tertulis nama keluarga Mahendra.

Hanya namaku.

NADIRA PRAMESWARI

Aku menyentuh gagang pintu.

Lalu mendengar anak magang tadi berkata kepada temannya di belakangku,

“Itu Bu Nadira?”

“Iya.”

“Direktur Utama?”

“Iya.”

“Tadi beliau satu lift sama aku.”

Aku tersenyum tanpa menoleh.

Enam bulan lalu, seseorang mengusirku dari lift karena mengira aku bukan siapa-siapa.

Hari ini, aku memimpin perusahaan itu.

Tetapi kemenangan terbesarku bukanlah jabatan.

Bukan ruang kerja.

Bukan pula berhasil membersihkan nama keluarga.

Kemenangan terbesarku adalah aku tidak berubah menjadi Selina.

Aku tidak menggunakan kekuasaan untuk membuat orang lain merasa kecil hanya karena suatu hari seseorang pernah membuatku merasa kecil.

Aku membuka pintu ruang kerjaku.

Di atas meja ada sebuah foto.

Aku, Arga, dan Mama Ratna.

Di sampingnya ada secarik catatan tulisan tangan dari Mama:

“Kekuasaan menunjukkan siapa dirimu ketika tidak ada lagi orang yang berani mengatakan tidak.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Kemudian menyimpannya di laci paling atas.

Karena akhirnya aku mengerti.

Hari pertamaku sebagai Direktur Utama memang dimulai dengan sebuah penghinaan di depan lift.

Namun enam bulan kemudian, aku menyadari bahwa Selina tanpa sengaja memberiku pelajaran kepemimpinan pertama yang paling penting.

Aku tidak pernah ingin menjadi orang paling ditakuti di gedung itu.

Aku ingin menjadi orang yang membuat siapa pun—direktur, petugas kebersihan, sopir, sekretaris, ataupun anak magang—tidak perlu merasa rendah hanya untuk bisa berdiri di sampingku.

Dan setiap kali aku melihat pintu lift terbuka, aku selalu teringat pagi itu.

Jam putih.

Wajah pucat Arga.

Senyum kemenangan Selina.

Dan satu pertanyaan sederhana yang hampir menghancurkan keluargaku:

Kenapa hadiah untuk ibumu ada di tangan sekretarismu?

Sekarang aku sudah tahu jawabannya.

Ternyata jam itu tidak pernah menjadi bukti bahwa pernikahanku telah berakhir.

Jam itu adalah bukti bahwa kebohongan berusia hampir tiga puluh tahun akhirnya kehabisan waktu.