Seorang gadis yatim piatu yang hidup di jalanan mendekati meja seorang pengusaha kaya dan berbisik, “Pak… boleh belikan saya roti? Saya belum makan sejak dua hari lalu.”
Setelah kehilangan kedua orang tuanya dan tak ada kerabat yang bersedia merawatnya, gadis kecil itu bertahan hidup sendirian di jalanan Jakarta.
Pria itu awalnya hanya meminta pelayan membawakan makanan untuknya…
Sampai sebuah map berisi dokumen lama mengungkap siapa sebenarnya ayah gadis itu—dan mengapa selama berbulan-bulan ada begitu banyak orang yang diam-diam mencarinya.
BAGIAN 1
—Pak… boleh belikan saya satu roti? Saya belum makan sejak kemarin lusa.
Raka Mahendra mengangkat wajah dari dokumen kontrak yang hampir dua minggu terakhir membuatnya sulit tidur.
Siang itu ia duduk sendirian di sebuah restoran mewah di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Dua calon investor yang seharusnya bertemu dengannya terlambat hampir tiga puluh menit.
Di atas meja terbentang puluhan halaman kontrak bernilai miliaran rupiah, sebuah laptop tipis, dan sebuah pena mahal yang mungkin harganya lebih tinggi daripada seluruh barang yang dimiliki gadis kecil yang kini berdiri di samping mejanya.
Usianya mungkin delapan tahun.
Ia mengenakan hoodie abu-abu yang terlalu besar untuk tubuhnya, celana panjang kusam, serta sepatu olahraga yang bagian solnya hampir terlepas.
Rambut hitamnya diikat seadanya menggunakan karet yang sudah longgar.
Namun ada satu hal yang langsung membuat Raka merasa tidak nyaman.
Gadis itu tidak menangis.
Tidak merengek.
Tidak berusaha membuat wajah memelas.
Ia hanya berdiri diam sambil menatap keranjang roti di atas meja.
Seorang petugas keamanan restoran segera mendekat.
—Maaf, Pak Raka. Anak ini masuk dari luar. Saya keluarkan sekarang.
Petugas itu baru hendak memegang bahu si gadis ketika Raka mengangkat tangan.
—Jangan sentuh dia.
Petugas keamanan berhenti.
Raka menunjuk kursi kosong di depannya.
—Duduk.
Gadis kecil itu justru mundur setengah langkah.
—Saya cuma minta roti, Pak.
—Dan saya ingin kamu makan sesuatu yang benar.
Gadis itu menatap Raka beberapa detik, seolah sedang mencoba menentukan apakah pria asing di depannya bisa dipercaya.
Akhirnya ia duduk perlahan.
Raka memanggil pelayan.
—Tolong bawakan nasi, sup ayam, ayam panggang, sayur, air putih, dan roti. Jangan pedas.
Pelayan mengangguk.
Ketika makanan datang, gadis kecil itu tidak langsung menyentuhnya.
Ia menatap piring.
Kemudian mendekatkan wajah dan mencium aroma makanan pelan-pelan.
Seolah ia takut makanan itu akan tiba-tiba diambil kembali.
—Makan saja —kata Raka.
Barulah tangan kecilnya meraih sendok.
Ia makan cepat.
Sangat cepat.
Namun anehnya, ia tetap berusaha menjaga sopan santun. Setiap kali nasi hampir jatuh dari sendok, ia segera membersihkannya. Ia bahkan meletakkan sendok dengan hati-hati setiap kali minum.
Raka memperhatikannya.
—Siapa namamu?
Gadis itu menelan makanannya terlebih dahulu.
—Alya.
—Alya siapa?
—Alya Prameswari.
—Umur berapa?
—Delapan tahun.
Ia berhenti sebentar.
—Bulan November nanti sembilan.
Raka mengangguk.
—Kamu tinggal di mana, Alya?
Tangan gadis kecil itu berhenti.
Tatapannya turun ke piring.
—Tidak punya rumah.
Raka menegakkan tubuh.
—Orang tuamu?
Alya tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian, suaranya terdengar jauh lebih kecil.
—Sudah meninggal.
—Keduanya?
Alya mengangguk.
—Kecelakaan.
Raka terdiam.
Menurut cerita Alya, hampir setahun sebelumnya ayah dan ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil ketika sedang dalam perjalanan menuju Bandung.
Setelah itu Alya sempat tinggal bersama seorang tetangga lama keluarganya di Bekasi.
Ia memiliki seorang nenek dari pihak ibu.
Namun orang-orang mengatakan neneknya sedang sakit keras dan tidak mampu merawat seorang anak kecil.
Beberapa bulan kemudian, keluarga tetangga itu mengalami masalah keuangan.
Mereka tidak bisa terus menanggung kebutuhan Alya.
Seseorang kemudian menghubungi petugas sosial.
Ketika Alya mendengar bahwa dirinya akan dibawa ke sebuah panti atau rumah perlindungan anak, ia panik.
Malam sebelum petugas datang, Alya kabur.
Sejak saat itu, hampir dua bulan ia hidup berpindah-pindah.
Kadang tidur di sekitar terminal.
Kadang di sudut parkiran gedung.
Kadang menumpang di kamar kosong sebuah rumah petak yang belum direnovasi.
Jika beruntung, pedagang kaki lima memberinya nasi sisa.
Jika tidak, ia hanya minum air.
Raka perlahan bersandar di kursinya.
Pagi tadi, ia baru saja menghabiskan hampir satu jam berdebat dengan direktur keuangan perusahaannya hanya karena sebuah proyek berpotensi membuat mereka kehilangan hampir Rp8 miliar.
Saat itu angka tersebut terasa seperti masalah terbesar dalam hidupnya.
Sekarang, di hadapannya duduk seorang anak delapan tahun yang hanya meminta sepotong roti karena sudah dua hari tidak makan.
—Kamu tidak boleh kembali ke jalan.
Alya mengangkat wajah.
Tatapannya langsung berubah waspada.
—Semua orang bilang begitu kalau melihat saya seperti ini.
Raka terdiam.
—Setelah itu mereka pergi.
Kalimat itu mengenai sesuatu dalam diri Raka yang bahkan tidak ia sadari masih ada.
—Saya tidak sedang menjanjikan sesuatu yang indah.
Alya menatapnya.
—Kalau begitu Bapak janji apa?
Untuk pertama kalinya sejak percakapan mereka dimulai, Raka tidak langsung memiliki jawaban.
Ia, seorang pengusaha yang terbiasa menjawab pertanyaan investor dalam hitungan detik, justru membutuhkan waktu lama untuk menjawab pertanyaan seorang anak delapan tahun.
Akhirnya ia berkata,
—Saya janji malam ini kamu tidak akan tidur di lantai atau di pinggir jalan.
Alya tidak tersenyum.
Namun matanya mulai berkaca-kaca.
Raka segera menelepon Daniel, asistennya.
Ia meminta timnya mencari informasi tentang laporan anak hilang bernama Alya Prameswari, sekaligus memastikan identitas dan latar belakang keluarganya.
Raka juga menghubungi pihak berwenang dan meminta prosedur resmi dilakukan agar Alya tidak sekadar dibawa pergi tanpa penjelasan.
Untuk sementara, Alya dibawa ke apartemen Raka di kawasan Kuningan.
Bukan berdua dengannya.
Raka meminta Bu Ratna, perempuan berusia lima puluhan yang sudah bekerja bersama keluarganya selama bertahun-tahun, datang dan menemani Alya.
Malam itu Bu Ratna membelikan pakaian sederhana, sandal, sikat gigi, dan beberapa kebutuhan lain.
Setelah mandi, Alya keluar dari kamar mandi mengenakan kaus putih milik Raka yang ukurannya begitu besar hingga hampir menutupi lututnya.
Bu Ratna tertawa kecil.
—Besok kita belikan baju yang pas, ya.
Alya tersenyum tipis.
Namun sebelum masuk ke kamar tamu, ia berhenti di depan Raka.
—Pak?
—Ya?
—Besok saya disuruh pergi?
Raka menatap anak itu cukup lama.
—Tidak.
Alya memegang ujung kaus besarnya.
—Orang dewasa sering berubah pikiran setelah tidur.
Raka hampir tersenyum, tetapi tidak jadi.
—Kalau begitu, besok pagi kamu tanyakan lagi kepada saya.
—Bapak akan jawab sama?
—Ya.
Alya akhirnya masuk ke kamar.
Pintu tertutup.
Raka berdiri sendirian di lorong.
Entah mengapa apartemen yang selama bertahun-tahun terasa normal baginya malam itu tiba-tiba terlihat terlalu besar.
Terlalu sunyi.
Dan terlalu kosong.
Ia mengambil ponselnya.
—Daniel.
—Ya, Pak.
—Cari semuanya tentang Alya Prameswari. Delapan tahun. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan sekitar setahun lalu. Saya mau tahu keluarganya, sekolahnya, laporan polisi, catatan rumah sakit, siapa pun yang pernah mencoba mencari dia.
Daniel terdiam.
—Semuanya?
—Semuanya.
—Baik, Pak.
Raka hampir menutup telepon ketika menambahkan,
—Dan Daniel…
—Ya?
—Jangan hanya cari ibunya.
Raka memandang ke arah pintu kamar Alya.
—Cari tahu siapa ayahnya sebenarnya.
Keesokan paginya, tepat pukul tujuh, bel apartemen berbunyi.
Raka baru selesai membuat kopi ketika Daniel masuk.
Namun pagi itu asistennya terlihat berbeda.
Biasanya Daniel datang sambil membawa laptop dan langsung membicarakan pekerjaan.
Sekarang ia hanya membawa sebuah map cokelat tebal yang dipeluk erat di depan dada.
Wajahnya pucat.
—Pak Raka…
Raka meletakkan cangkirnya.
—Kamu menemukan sesuatu?
Daniel tidak langsung menjawab.
Ia berjalan menuju meja makan dan meletakkan map itu perlahan.
—Saya menemukan ayah Alya.
Raka menarik kursi.
—Siapa dia?
Daniel membuka map.
Di dalamnya ada salinan akta kelahiran, laporan kecelakaan, beberapa dokumen perusahaan, dan lembaran dari sebuah kantor notaris di Jakarta.
Namun Daniel tidak menyerahkan dokumen-dokumen itu terlebih dahulu.
Ia mengambil sebuah FOTO lama.
Foto seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun sedang berdiri sambil menggendong Alya yang saat itu mungkin masih berusia tiga atau empat tahun.
Daniel membalik foto itu.
Di belakangnya terdapat tulisan tangan dan sebuah nama.
Kemudian ia mendorong foto tersebut perlahan ke arah Raka.
Begitu melihat wajah pria di dalam foto, tangan Raka yang memegang cangkir langsung berhenti.
Warna wajahnya berubah.
—Tidak mungkin…
Daniel menatap atasannya.
—Saya memeriksa datanya tiga kali, Pak.
Raka mengambil foto itu dengan kedua tangan.
Ia mengenal pria tersebut.
Bukan sekadar mengenal.
Pria dalam foto itu adalah seseorang yang namanya pernah mengguncang dunia bisnis Jakarta bertahun-tahun lalu.
Seseorang yang meninggalkan aset bernilai ratusan miliar rupiah.
Dan yang jauh lebih mengejutkan…
sebelum meninggal, pria itu telah meninggalkan sebuah dokumen rahasia di hadapan notaris.
Dokumen yang menyatakan bahwa jika sesuatu terjadi padanya, seluruh hak atas aset tertentu harus diberikan kepada satu orang.
Putrinya.
Alya Prameswari.
Daniel mengeluarkan lembar berikutnya dari map.
—Ada satu masalah lagi, Pak.
Raka mengangkat mata.
—Apa?
Daniel menarik napas panjang.
—Alya bukan sekadar anak hilang.
—Maksudmu?
—Selama hampir setahun ada beberapa pihak yang mencarinya.
Daniel menunjuk dokumen di atas meja.
—Dan saya rasa sebagian dari mereka tidak ingin menemukannya untuk membawanya pulang.
Raka menatap pintu kamar tempat Alya masih tertidur.
Kemudian kembali melihat FOTO di tangannya.
Baru saat itulah ia menyadari sesuatu yang membuat tengkuknya terasa dingin.
Pertemuan mereka di restoran kemarin mungkin bukan sebuah kebetulan.
Dan gadis kecil yang hanya meminta sepotong roti itu ternyata membawa rahasia yang nilainya bisa membuat orang dewasa melakukan apa saja.
BAGIAN 2
Raka menatap foto itu cukup lama sampai kopi di samping tangannya tak lagi mengeluarkan uap.
Pria yang menggendong Alya di dalam foto bernama Aditya Prameswara.
Dan Raka mengenalnya.
Bahkan terlalu mengenalnya.
Lima belas tahun lalu, ketika Raka masih seorang pemuda berusia dua puluh tujuh tahun yang hanya memiliki sebuah kantor kecil dengan tiga karyawan, Aditya adalah orang pertama yang berani mempercayainya.
Saat bank menolak pinjaman Raka, investor menertawakan rencana bisnisnya, dan bahkan beberapa kerabat menyuruhnya mencari pekerjaan tetap, Aditya datang membawa satu kalimat sederhana.
—Kalau semua orang hanya mau berinvestasi setelah seseorang berhasil, lalu siapa yang menolongnya sebelum berhasil?
Aditya memberinya modal.
Bukan karena Raka punya nama.
Bukan karena Raka punya koneksi.
Tetapi karena ia percaya kepadanya.
Dari modal itulah perusahaan Raka berkembang menjadi Mahendra Group.
Bertahun-tahun kemudian, hubungan mereka merenggang karena kesibukan. Aditya membangun perusahaan teknologi logistik, sementara Raka masuk ke bisnis properti.
Mereka masih sesekali bertukar pesan.
Lalu setahun lalu Raka mendengar kabar bahwa Aditya dan istrinya, Maya, meninggal dalam kecelakaan di Tol Cipularang.
Raka menghadiri pemakamannya.
Tetapi ia tidak pernah tahu mereka memiliki seorang putri.
—Kenapa tidak ada yang pernah menyebut Alya? —tanya Raka.
Daniel membuka dokumen lain.
—Karena secara administratif, situasinya rumit. Setelah kecelakaan, pengasuhan sementara Alya diberikan kepada seorang kerabat dari pihak ibunya. Tapi beberapa minggu kemudian muncul sengketa.
—Sengketa apa?
Daniel mengeluarkan salinan akta notaris.
—Warisan.
Nilainya membuat Raka terdiam.
Aditya meninggalkan kepemilikan saham, tanah, investasi, dan beberapa aset perusahaan yang jika dihitung seluruhnya bernilai lebih dari Rp430 miliar.
Namun bukan angka itu yang membuat semuanya menjadi berbahaya.
Dalam surat wasiatnya, Aditya menyatakan bahwa sebagian besar aset tersebut tidak boleh jatuh kepada keluarga besar atau pengurus perusahaan.
Aset itu dimasukkan ke dalam sebuah perwalian untuk Alya.
Sampai Alya dewasa, seorang wali independen harus mengawasinya.
—Siapa walinya?
Daniel tidak menjawab.
Ia hanya mendorong halaman terakhir ke arah Raka.
Raka membacanya.
Kemudian membacanya sekali lagi.
Namanya sendiri tercetak di sana.
Raka Mahendra.
Raka berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
—Ini tidak masuk akal.
—Dokumennya sah.
—Aditya tidak pernah memberi tahu saya.
—Sepertinya memang sengaja.
Raka melihat tanggal dokumen itu.
Dibuat enam bulan sebelum kecelakaan.
Di bawah namanya terdapat satu catatan tulisan tangan Aditya yang dilegalisasi notaris:
“Jika saya dan Maya tidak bisa lagi menjaga Alya, saya memilih seseorang yang pernah menerima pertolongan ketika tidak punya apa-apa. Saya berharap dia masih ingat bagaimana rasanya membutuhkan seseorang.”
Raka tidak berkata apa-apa.
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada angka Rp430 miliar.
Pada saat itulah terdengar suara kecil dari belakang.
—Pak Raka?
Raka dan Daniel menoleh.
Alya berdiri di ujung lorong dengan piyama baru yang dibelikan Bu Ratna.
Matanya tertuju pada foto di tangan Raka.
Wajah gadis itu seketika berubah.
—Ayah…
Ia berlari.
Raka berlutut dan menyerahkan foto itu.
Alya memeluknya ke dada.
Untuk pertama kalinya sejak Raka bertemu dengannya, anak itu menangis keras.
Bukan tangisan kecil yang ditahan.
Tubuhnya gemetar.
—Saya kira fotonya hilang…
Raka membiarkannya menangis.
Beberapa menit kemudian Alya berkata sesuatu yang membuat Daniel dan Raka saling berpandangan.
—Nenek bilang kalau ada orang bertanya tentang Ayah, saya tidak boleh bilang apa-apa.
—Nenekmu?
Alya mengangguk.
—Nenek Sari.
—Bukankah nenekmu sakit?
Alya menggeleng.
—Nenek memang sakit, tapi masih bisa jalan.
Raka merasakan ada sesuatu yang salah.
—Siapa yang bilang Nenek tidak bisa merawatmu?
Alya berpikir.
—Om Hendra.
Nama itu ada di dalam dokumen.
Hendra Prameswara.
Adik Aditya.
Dan orang yang akan memperoleh kendali sementara atas beberapa aset perusahaan jika ahli waris utama tidak dapat ditemukan.
Raka langsung mengerti.
—Daniel, cari Nenek Sari.
Mereka menemukannya sore itu.
Bukan di rumah sakit.
Bukan pula di rumah keluarga.
Sari Wulandari tinggal di sebuah rumah kecil di Bogor bersama seorang perawat.
Perempuan berusia enam puluh delapan tahun itu memang memiliki masalah jantung, tetapi pikirannya masih sangat jernih.
Begitu melihat Alya turun dari mobil, tongkatnya terlepas dari tangan.
—Alya!
Gadis kecil itu berlari.
—Nenek!
Mereka berpelukan di halaman.
Sari menangis sambil mencium kepala cucunya berulang kali.
—Nenek cari kamu ke mana-mana…
Alya terisak.
—Katanya Nenek tidak mau saya.
Sari membeku.
—Siapa bilang?
—Om Hendra.
Wajah perempuan tua itu berubah.
Malam itu, di ruang tamu sederhana, kebenaran mulai terbuka.
Setelah kematian Aditya dan Maya, Hendra menawarkan diri membantu mengurus dokumen keluarga.
Ia mengatakan kepada Sari bahwa kondisi jantungnya membuat pengadilan kemungkinan tidak akan mengizinkannya merawat Alya.
Kepada Alya, ia mengatakan hal sebaliknya.
Bahwa neneknya terlalu sakit dan tidak ingin dibebani seorang anak.
Lalu Hendra menempatkan Alya bersama keluarga kenalan untuk sementara.
Namun ketika proses pencarian wali resmi mulai mendekati nama Raka, Alya tiba-tiba menghilang.
—Saya pikir dia diculik —kata Sari.
Raka menoleh kepada Alya.
—Kamu bilang kamu kabur sendiri.
—Iya.
—Kenapa?
Alya menunduk.
—Saya dengar Om Hendra bicara lewat telepon.
Ruangan menjadi sunyi.
—Dia bilang apa?
—Saya tidak ingat semuanya.
Alya mencoba mengingat.
—Dia bilang… kalau saya dibawa petugas, “semuanya selesai”. Terus dia bilang seseorang harus membawa saya ke luar Jakarta sebelum orang bernama Raka menemukan saya.
Daniel menatap Raka.
Jadi benar.
Pertemuan di restoran itu memang kebetulan.
Tetapi orang yang dicari Alya tanpa ia sadari adalah pria yang akhirnya ditemuinya saat meminta roti.
Raka menggenggam tangannya sendiri.
—Kenapa kamu tidak bilang dari awal?
Alya menjawab polos.
—Saya tidak tahu nama lengkap Bapak.
Untuk pertama kalinya dalam situasi setegang itu, Bu Ratna hampir tertawa sambil menangis.
Namun Raka belum merasa lega.
—Kenapa Aditya memilih saya?
Sari memandangnya lama.
—Karena dia tahu keluarganya sendiri akan bertengkar soal uang.
Kemudian perempuan tua itu berdiri perlahan.
Ia masuk ke kamar.
Beberapa menit kemudian ia kembali membawa sebuah kotak kayu kecil.
—Aditya menitipkan ini kepada saya.
Di dalamnya terdapat sebuah amplop.
Pada bagian depan tertulis:
Untuk Raka. Hanya dibuka jika Alya sudah bersamamu.
Tangan Raka bergetar ketika membuka surat itu.
Tulisan tangan sahabat lamanya memenuhi dua halaman.
Aditya menulis bahwa beberapa tahun terakhir ia mulai menyadari konflik internal di perusahaannya.
Tetapi ia tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.
Ia tidak meminta Raka menjaga kekayaannya.
Ia meminta Raka menjaga anaknya.
Di bagian akhir ada kalimat:
“Kalau suatu hari Alya datang kepadamu dalam keadaan tidak punya apa-apa, jangan beri dia dunia. Beri dia rumah. Dunia bisa dibelinya sendiri ketika dewasa.”
Raka menutup mata.
Ia tidak mampu membaca kalimat berikutnya selama beberapa detik.
Sari melanjutkan untuknya.
—Aditya selalu bilang satu hal tentangmu. Kamu tahu apa?
Raka menggeleng.
—Katanya, “Raka mungkin lupa membalas pesan, tapi dia tidak pernah lupa orang yang pernah menolongnya.”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Raka.
BAGIAN 3
Tiga hari kemudian, Hendra Prameswara datang ke apartemen Raka.
Ia tidak datang sendiri.
Dua pengacara menemaninya.
Hendra mengenakan setelan mahal dan ekspresi seseorang yang masih percaya bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan dokumen.
—Alya adalah keponakan saya.
Raka duduk tenang.
—Benar.
—Kamu tidak berhak menahannya.
—Saya juga tidak berniat menahannya.
Hendra tampak sedikit lega.
Sampai Raka melanjutkan.
—Karena Alya bukan barang.
Di ruangan itu hadir pula Sari, perwakilan pendamping anak, pengacara independen, serta petugas yang menangani laporan hilangnya Alya.
Wajah Hendra berubah.
Raka mendorong beberapa dokumen ke tengah meja.
—Kami menemukan sesuatu yang menarik.
Catatan transfer.
Pesan elektronik.
Dokumen perubahan struktur kepemilikan.
Dan pembayaran kepada keluarga yang sempat menampung Alya.
Hendra langsung berdiri.
—Ini fitnah.
—Mungkin.
Raka menatapnya.
—Karena itu biarkan pihak berwenang yang memeriksanya.
Namun kejutan terbesar datang dari Alya.
Gadis itu masuk ditemani Bu Ratna sambil membawa tas sekolah lamanya.
—Alya, kamu tidak perlu berada di sini —kata Raka lembut.
—Tapi saya punya sesuatu.
Ia membuka lapisan kain kecil di bagian dalam tas.
Dari sana ia mengeluarkan sebuah benda mungil yang dibungkus plastik.
Kartu memori.
Semua orang terdiam.
—Ayah yang taruh.
Sari menutup mulut.
—Kapan?
—Sebelum Ayah pergi terakhir kali.
Alya mengingatnya dengan jelas.
Malam sebelum perjalanan ke Bandung, Aditya menjahit kartu memori itu ke dalam tas anaknya.
Ia mengatakan:
“Kalau suatu hari ada orang yang bilang Ayah orang jahat, kasih ini ke Nenek.”
Alya tidak pernah mengerti.
Setelah kecelakaan, tas itu menjadi satu-satunya barang yang selalu dibawanya.
Isi kartu memori tersebut mengubah semuanya.
Bukan rekaman dramatis.
Bukan pengakuan rahasia seperti dalam film.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih kuat.
Salinan audit internal.
Dokumen keuangan.
Percakapan bisnis.
Bukti bahwa Hendra bersama dua eksekutif perusahaan telah mengalihkan dana perusahaan ke sejumlah rekening dan perusahaan cangkang.
Aditya telah mengetahuinya.
Ia sedang mempersiapkan laporan resmi beberapa hari sebelum meninggal.
Namun penyelidikan terhadap kecelakaan itu tidak langsung menyimpulkan adanya tindak kejahatan. Raka menolak membuat tuduhan tanpa bukti.
Yang bisa dibuktikan adalah penipuan keuangan dan upaya Hendra menyembunyikan keberadaan ahli waris demi mempertahankan kendali atas aset.
Untuk pertama kalinya, Hendra kehilangan ketenangannya.
Ia memandang Alya.
—Kamu tidak mengerti apa yang kamu lakukan.
Alya langsung mundur.
Raka berdiri di depannya.
—Dia memang anak kecil.
Tatapan Raka berubah dingin.
—Tapi justru orang-orang dewasa di sekelilingnya yang seharusnya mengerti apa yang mereka lakukan.
Hendra dibawa untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Kasus itu kemudian berjalan melalui jalur hukum selama berbulan-bulan.
Namun bagi Raka, persoalan terpenting bukan Rp430 miliar.
Bukan perusahaan.
Bukan pula Hendra.
Melainkan pertanyaan sederhana.
Alya akan tinggal dengan siapa?
Sari mencintainya.
Tetapi kondisi kesehatannya memang membuatnya sulit menjadi pengasuh utama seorang anak.
Raka adalah wali yang ditunjuk Aditya.
Namun menjadi wali di atas kertas berbeda dengan menjadi keluarga.
Suatu malam, sekitar dua bulan setelah semuanya terjadi, Raka menemukan Alya duduk di balkon apartemennya.
—Belum tidur?
—Belum ngantuk.
Raka duduk di sampingnya.
Alya kini sudah kembali sekolah.
Rambutnya rapi.
Sepatunya tidak lagi rusak.
Tubuhnya mulai sehat.
Tetapi kebiasaan dari jalanan belum sepenuhnya hilang.
Bu Ratna beberapa kali menemukan roti disembunyikan di laci kamar Alya.
Raka pernah bertanya mengapa.
Jawabannya sederhana:
—Takut besok tidak ada makanan.
Sejak itu Raka selalu memastikan ada keranjang kecil berisi roti di dapur.
Tidak pernah kosong.
Malam itu Alya tiba-tiba bertanya:
—Pak Raka.
—Hmm?
—Kalau uang Ayah saya habis, saya masih boleh tinggal di sini?
Raka menoleh.
Pertanyaan itu membuat dadanya sesak.
—Kenapa kamu berpikir begitu?
—Karena dulu orang-orang baik kalau ada uangnya.
Raka tidak langsung menjawab.
Ia berlutut di depan Alya.
—Dengarkan saya.
Alya menatapnya.
—Uang ayahmu bukan alasan kamu ada di rumah ini.
—Terus apa?
Raka tersenyum kecil.
—Karena kamu datang meminta roti di hari yang tepat.
Alya mengernyit.
—Kalau saya datang besok?
—Tetap saya kasih makan.
—Lusa?
—Tetap.
—Kalau saya datang waktu Bapak lagi rapat?
Raka tertawa.
—Saya suruh semua orang menunggu.
Alya akhirnya tertawa juga.
Lalu perlahan ia memeluk Raka.
Pelukan pertama yang ia berikan tanpa rasa takut.
Enam bulan kemudian, proses perwalian Raka disahkan dengan pengawasan hukum yang ketat.
Sari tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan Alya.
Setiap akhir pekan, mereka pergi ke Bogor.
Tidak ada yang berusaha menggantikan ayah atau ibunya.
Raka justru memasang foto Aditya dan Maya di kamar Alya.
—Kamu tidak harus melupakan mereka supaya bisa punya keluarga baru —katanya.
Tetapi masih ada satu rahasia terakhir.
Pada ulang tahun Alya yang kesembilan, Sari menyerahkan sebuah kotak kecil.
—Ini dari ayahmu.
Di dalamnya tidak ada perhiasan.
Tidak ada kunci brankas.
Hanya sebuah video lama.
Mereka memutarnya bersama.
Aditya muncul di layar sambil duduk di ruang kerjanya.
Alya yang masih kecil terdengar tertawa di belakang kamera.
Kemudian Aditya berkata:
“Kalau kamu menonton ini, mungkin aku tidak bisa menemanimu tumbuh dewasa.”
Alya langsung menggenggam tangan Raka.
Aditya melanjutkan.
“Alya, Ayah meninggalkan beberapa hal untukmu. Tapi jangan pernah mengukur hidupmu dari jumlah uang yang kamu punya.”
Lalu Aditya tersenyum.
“Dan kalau Om Raka ada di sebelahmu sekarang, tanya apakah dia masih ingat warung nasi kecil di belakang kampus.”
Raka membeku.
Sari tersenyum.
Video berlanjut.
“Raka, kamu mungkin mengira dulu aku yang menyelamatkan perusahaanmu dengan memberi modal.”
Aditya tertawa kecil.
“Tapi kamu salah.”
Raka menatap layar.
“Bertahun-tahun sebelum itu, ketika kita masih mahasiswa, aku pernah tidak punya uang untuk makan selama tiga hari. Kamu sendiri cuma punya uang cukup untuk satu porsi nasi. Tapi kamu membaginya menjadi dua.”
Raka menundukkan kepala.
Ia bahkan hampir lupa kejadian itu.
“Jadi modal yang kuberikan kepadamu bukan pertolongan.”
Aditya tersenyum ke kamera.
“Itu hanya pembayaran utang makan siang yang sedikit terlambat.”
Raka tertawa sambil menangis.
Namun kalimat terakhir membuat seluruh ruangan hening.
“Kalau suatu hari anakku datang kepadamu dalam keadaan lapar, tolong lakukan untuknya apa yang dulu kamu lakukan untukku.”
Video berhenti.
Alya memandang Raka.
Kemudian ke foto ayahnya.
Lalu ia mulai menangis.
—Jadi Ayah sudah tahu?
Raka mengusap air matanya sendiri.
—Ayahmu tahu saya tidak akan membiarkan kamu kelaparan.
Alya memeluknya erat.
Dan saat itulah Raka akhirnya memahami sesuatu.
Dua puluh tahun sebelumnya, ia pernah membagi satu porsi nasi dengan seorang mahasiswa kelaparan tanpa mengharapkan apa pun.
Ia lupa tentang hari itu.
Aditya tidak.
Kebaikan kecil tersebut kembali kepadanya dalam bentuk modal yang mengubah hidupnya.
Kemudian, bertahun-tahun setelah itu, kebaikan yang sama kembali sekali lagi.
Kali ini dalam bentuk seorang gadis kecil dengan sepatu rusak yang berdiri di samping meja restoran dan meminta sepotong roti.
Dua tahun kemudian, Raka dan Alya kembali ke restoran di Sudirman tempat mereka pertama kali bertemu.
Mereka duduk di meja yang sama.
Pelayan meletakkan keranjang roti di depan mereka.
Alya mengambil satu.
Namun sebelum memakannya, ia melihat seorang anak laki-laki kecil di luar kaca restoran sedang memandangi makanan.
Alya terdiam.
Lalu membawa rotinya keluar.
Beberapa menit kemudian ia kembali tanpa roti.
—Kamu berikan kepadanya? —tanya Raka.
Alya mengangguk.
—Dia bilang belum makan dari pagi.
Raka tersenyum.
—Kenapa tidak ajak masuk?
Alya berhenti.
Kemudian matanya membesar.
—Boleh?
Raka berdiri dan membuka pintu.
—Tentu.
Anak itu dibawa masuk.
Alya duduk di sampingnya dan memanggil pelayan.
—Mbak, boleh pesan nasi, sup ayam, sama roti? Jangan pedas.
Raka terdiam.
Itu hampir persis seperti pesanannya pada hari pertama mereka bertemu.
Alya menoleh kepadanya.
—Pak Raka, kenapa senyum?
—Tidak apa-apa.
Raka memandang foto kecil Aditya yang kini selalu disimpan Alya di dompetnya.
Ia akhirnya memahami warisan terbesar sahabatnya.
Bukan Rp430 miliar.
Bukan saham.
Bukan tanah.
Bukan perusahaan.
Melainkan sebuah kebiasaan sederhana yang berpindah dari satu manusia kepada manusia lain.
Ketika seseorang datang kepadamu dalam keadaan lapar, jangan tanyakan dulu apa yang bisa ia berikan kembali.
Beri dia makan.
Karena dua puluh tahun kemudian, mungkin orang itu akan menyelamatkan hidup seseorang yang paling kamu cintai.
Dan Alya, gadis kecil yang dulu mengira dirinya tidak memiliki rumah, akhirnya mengetahui satu hal yang tidak pernah bisa dibeli oleh seluruh warisan ayahnya:
Rumah bukanlah tempat di mana namamu tertulis pada sertifikat.
Rumah adalah tempat di mana kamu bisa bertanya,
“Besok saya masih boleh tinggal di sini?”
dan seseorang menjawab,
“Besok, lusa, dan selama kamu masih ingin pulang.”

