Bagian 3 — Mereka Mengira Aku Cuma Istri yang Menumpang Nama Besar Suami, Sampai Dokumen Rumah, Jabatan Proyek, dan Rekaman Audit Diletakkan Bersamaan di Meja
Aku mengambil lembar transaksi dari tangan auditor.
CV Sumber Jaya Mandiri.
Tiga pembayaran.
Rp620 juta.
Rp540 juta.
Rp700 juta.
Total Rp1,86 miliar.
Keterangan pekerjaan tertulis sebagai jasa pengadaan material kemasan industri dan perbaikan lantai gudang.
Aku mengangkat kepala.
“Dimas.”
Dia tidak menjawab.
“CV ini milik Ari?”
Beberapa detik kemudian dia berkata,
“Memangnya kenapa kalau iya?”
Jawaban itu justru membuat semuanya lebih jelas.
Aku meletakkan dokumen.
“Kenapa tidak ada deklarasi hubungan keluarga?”
Dimas menarik napas.
“Karena tidak penting. Ari memang bisa mengerjakan.”
Auditor di sampingku langsung membuka dokumen lain.
“Masalahnya bukan hanya hubungan keluarga, Pak.”
Dimas menatapnya tajam.
Perempuan itu tetap profesional.
“Harga yang disetujui rata-rata tiga puluh dua persen lebih tinggi dari penawaran pembanding.”
Bu Sulastri tiba-tiba bersuara.
“Apa maksudnya? Ari itu anak baik. Dia kerja bener.”
Tidak ada yang menjawab beliau.
Auditor melanjutkan.
“Selain itu, dari tiga pekerjaan, satu pekerjaan perbaikan lantai belum selesai tetapi sudah dibayar seratus persen.”
Aku menatap Dimas.
“Kenapa?”
“Proyek butuh cepat.”
“Kenapa pembayarannya penuh?”
“Karena aku percaya vendor.”
Aku tertawa pendek.
“Vendor atau sepupumu?”
Dimas menghantam meja dengan telapak tangan.
“Jangan bicara seolah aku maling!”
Naya menangis dari kamar.
Refleks aku langsung berdiri.
Namun salah satu perawat bayi yang tadi sudah kuminta datang ternyata baru saja masuk bersama Mbak Sari, pengurus rumah yang dulu beberapa kali membantu keluargaku.
Mbak Sari mendekat.
“Bu Laras, saya pegang Naya dulu.”
Aku sempat menatap Dimas.
Dia tidak bergerak.
Anaknya menangis.
Tetapi dia lebih sibuk mempertahankan harga dirinya.
Saat itulah sesuatu yang selama ini terus kuusahakan untuk pertahankan di dalam hati benar-benar selesai.
Aku duduk kembali.
“Tidak ada yang menyebutmu maling.”
Aku menunjuk dokumen.
“Karena audit belum selesai.”
“Tapi mulai malam ini kamu dinonaktifkan sementara dari seluruh kewenangan proyek sampai pemeriksaan selesai.”
Dimas tertawa sinis.
“Kamu mau menghancurkan karier suami sendiri hanya karena masalah dengan Ibu?”
Pak Bowo yang sejak tadi diam akhirnya bicara.
“Pak Dimas, keputusan ini bukan karena perkara rumah tangga.”
Dimas menoleh.
Pak Bowo melanjutkan dengan tenang.
“Setiap pimpinan proyek wajib melaporkan benturan kepentingan. Bapak menyetujui vendor milik kerabat tanpa disclosure.”
“Ini masalah tata kelola.”
Bu Sulastri berdiri.
“Saya tidak mengerti bahasa kalian. Ari cuma dikasih kerjaan sama saudaranya sendiri. Memangnya salah bantu keluarga?”
Aku menatap beliau.
“Kalau uangnya uang pribadi Dimas, tidak ada masalah.”
“Tapi itu uang perusahaan.”
Beliau mendengus.
“Perusahaan juga nanti punya kalian berdua.”
Aku akhirnya memahami dari mana keyakinan Dimas berasal.
Bertahun-tahun, aku terlalu banyak diam.
Setiap kali Dimas mendapat promosi, aku membiarkan keluarganya mengira itu murni hasil perjuangannya sendiri.
Memang benar Dimas bekerja.
Dia bukan orang bodoh.
Saat pertama kali masuk perusahaan, performanya bagus.
Karena itu aku memberi kepercayaan lebih besar.
Ketika proyek gudang regional dibuka, aku mendukung namanya.
Aku bahkan menolak dua kandidat senior lain karena menganggap Dimas pantas mendapat kesempatan.
Kesalahan terbesarku bukan mencintainya.
Kesalahanku adalah mengira kasih sayang bisa menggantikan batas yang sehat.
Aku berkata,
“Bu, saya jelaskan sekali saja.”
“PT Mahendra Nusantara didirikan ayah saya dua puluh tujuh tahun lalu.”
“Empat tahun lalu, setelah Ayah mengalami stroke dan mundur dari operasional, saya mengambil alih pengendalian perusahaan.”
“Dimas masuk dua bulan sesudah itu.”
Wajah Bu Sulastri perlahan berubah.
Beliau menoleh kepada anaknya.
“Mas?”
Dimas memalingkan wajah.
Aku melanjutkan.
“Dia memang bekerja keras.”
“Saya tidak pernah menyangkal.”
“Tapi dia tidak membangun perusahaan itu dari nol.”
“Dia karyawan yang kemudian saya angkat menjadi kepala proyek.”
Bu Sulastri masih mencoba membantah.
“Tapi Dimas bilang semua proyek besar sekarang dia yang pegang.”
“Memang.”
“Karena saya yang memberikan kewenangan.”
Beliau terdiam.
Aku mengambil satu map lain yang dibawa Pak Bowo.
Bukan dokumen kantor.
Akta rumah.
Aku meletakkannya di meja.
“Dan soal rumah ini.”
Dimas sudah tahu apa yang akan kukatakan.
Bu Sulastri belum.
“Rumah ini saya beli tiga tahun sebelum menikah dengan Dimas.”
“Pembayaran lunas dari rekening saya.”
“Nama di sertifikat adalah nama saya.”
Bu Sulastri memandang lembar itu cukup lama.
Kemudian berkata dengan suara lebih kecil,
“Mas bilang rumah ini dibeli setelah proyek pertamanya sukses.”
Aku menoleh kepada Dimas.
Kali ini dia benar-benar tidak bisa menatapku.
Ternyata bukan hanya membiarkan keluarganya salah paham.
Dia memang secara aktif menciptakan cerita lain.
Aku bertanya,
“Kamu bilang begitu?”
Dimas akhirnya menjawab.
“Memangnya harus aku bilang rumah istriku?”
Aku terdiam.
Dia melanjutkan dengan nada kesal.
“Setiap ketemu keluarga, mereka selalu tanya aku sudah punya apa.”
“Aku capek dianggap numpang istri.”
“Jadi kamu bilang rumah ini milikmu.”
“Aku cuma tidak menjelaskan detailnya.”
Aku mengangguk perlahan.
“Pantas.”
Pantas Bu Sulastri merasa bisa menyuruhku mengambil mi dari tempat sampah.
Pantas beliau mengatakan aku hanya perempuan beruntung yang menikahi anaknya.
Pantas beliau berkali-kali mengingatkanku agar tidak menghabiskan uang “hasil kerja Dimas”.
Selama ini, Dimas tidak sekadar menerima pujian.
Dia membangun citra dirinya dengan menghapus kontribusiku.
Bu Sulastri mendekatinya.
“Jadi renovasi rumah Ibu tahun lalu?”
Dimas tidak menjawab.
Aku menjawab untuknya.
“Saya yang bayar.”
Beliau menatapku.
“Mobil yang Dimas kasih Ibu?”
“Uang muka dari rekening pribadi saya. Cicilan sisanya memang Dimas yang bayar.”
“Biaya operasi mata Ibu?”
“Saya.”
Wajahnya memerah.
Mungkin karena malu.
Mungkin karena marah.
Sulit dibedakan.
Beberapa saat kemudian beliau malah berkata,
“Kalau memang kamu punya banyak uang, kenapa soal mi saja dipermasalahkan?”
Ruangan seketika sunyi.
Aku benar-benar memandangnya beberapa detik karena ingin memastikan aku tidak salah dengar.
Beliau mengulang,
“Kamu kaya. Tinggal pesan makanan.”
“Kenapa harus bikin anak saya malu?”
Aku tersenyum tipis.
“Karena masalahnya memang bukan harga mi.”
“Masalahnya Ibu datang dengan alasan merawat saya.”
“Lalu selama saya belum bisa berdiri lama, Ibu sengaja menyembunyikan lauk, makan enak sendiri, menyimpan makanan untuk Dimas, dan memberi saya mi instan.”
“Saya tidak pernah meminta Ibu menjadi pembantu.”
“Saya bahkan sejak awal ingin membayar tenaga profesional.”
“Tapi kalian berdua yang menolak.”
Bu Sulastri membalas cepat.
“Karena boros!”
“Saya membayarnya dengan uang saya.”
Beliau diam.
Aku melanjutkan.
“Ibu boleh tidak menyukai saya.”
“Ibu boleh merasa saya terlalu dimanja.”
“Ibu bahkan boleh menolak datang.”
“Tapi jangan datang ke rumah saya, berpura-pura menolong, lalu ketika kelakuan Ibu dipertanyakan, menangis supaya anak Ibu menghukum saya.”
Suaraku tidak tinggi.
Justru itu membuat Bu Sulastri semakin tidak nyaman.
Dimas masuk di antara kami.
“Cukup.”
Aku memandangnya.
Dia berkata,
“Masalah Ibu selesai sampai sini.”
Aku hampir tidak percaya.
“Kamu yang menentukan?”
“Dia sudah minta maaf.”
“Dia tidak meminta maaf.”
Aku menunjuk ibunya.
“Dia berlutut agar kamu melihatnya sebagai korban.”
Bu Sulastri langsung mulai menangis lagi.
“Ya Allah… ternyata apa pun yang Ibu lakukan selalu salah.”
Dimas menatapku tajam.
“Nah, lihat!”
Aku tertawa.
“Lihat apa?”
“Kamu bikin Ibu nangis lagi.”
Aku menarik napas.
Lalu bertanya sesuatu yang seharusnya kutanyakan jauh lebih awal.
“Dimas, kalau suatu hari Naya sudah menikah, baru melahirkan, sedang kesakitan, lalu keluarga suaminya memperlakukannya seperti ini… kamu akan menyuruh Naya minta maaf juga?”
Dia membeku.
Aku menunggu.
Dia tidak menjawab.
Aku mengangguk.
“Itu jawabanmu.”
Dia membantah cepat.
“Jangan bawa anak kita.”
“Kenapa tidak?”
“Karena berbeda!”
“Bedanya apa?”
“Karena Ibu bukan orang jahat!”
Aku menatapnya lama.
Kemudian berkata,
“Orang tidak harus menjadi penjahat untuk melakukan sesuatu yang salah.”
“Dan orang yang kamu cintai tetap bisa bersalah.”
“Itulah bagian yang tidak pernah bisa kamu terima.”
Dimas mengacak rambutnya frustrasi.
“Aku cuma membela orang yang melahirkan dan membesarkan aku.”
“Dan aku baru melahirkan anakmu delapan hari lalu.”
Kalimat itu membuat ruangan hening total.
Bahkan Bu Sulastri tidak langsung menangis.
Aku melihat wajah Dimas.
Tidak ada jawaban yang keluar.
Aku tidak membutuhkannya lagi.
Aku menoleh kepada Pak Bowo.
“Dokumen perceraian mulai disiapkan besok.”
Dimas langsung menegang.
“Laras.”
“Aku serius.”
“Kita baru punya anak.”
“Justru karena baru punya anak.”
Aku melihat ke arah kamar Naya.
“Aku tidak mau dia tumbuh melihat ibunya dihina lalu percaya itu normal.”
Dimas berjalan mendekat.
“Kita bisa bicara setelah emosi reda.”
“Aku sudah bicara delapan hari.”
“Kamu yang tidak mendengar.”
Dia terdiam.
Pak Bowo memberikan ruang.
Tim kantor pindah ke ruang kerja untuk menyelesaikan penonaktifan akses sementara Dimas.
Aku meminta Mbak Sari menyiapkan kamar tamu untuk dua perawat malam.
Satu perawat tambahan datang keesokan paginya.
Aku juga menyewa dua ART secara bergantian untuk urusan rumah.
Semua yang dari awal ingin kulakukan akhirnya kulakukan tanpa meminta izin.
Malam itu, Bu Sulastri tidak langsung pergi.
Beliau masuk ke kamar tamu.
Dimas duduk sendirian di ruang makan.
Sekitar pukul sebelas, dia datang ke kamarku.
Aku sedang menyusui Naya.
Dia berdiri di ambang pintu.
“Laras.”
Aku tidak menjawab.
“Aku minta maaf soal kamera.”
Tetap diam.
“Aku terbawa emosi.”
Aku menepuk pelan punggung Naya.
Dimas melanjutkan.
“Aku tidak seharusnya lempar gelas.”
“Benar.”
Dia tampak sedikit lega karena akhirnya aku menjawab.
“Aku juga tidak seharusnya ngomong suruh kamu keluar.”
“Benar.”
“Tapi perceraian itu keterlaluan.”
Aku menatapnya.
“Nah.”
Wajahnya berubah.
“Apa?”
“Kamu meminta maaf untuk dua tindakan.”
“Tapi kamu masih menganggap konsekuensinya berlebihan.”
“Aku emosi karena lihat Ibu menangis.”
“Besok kalau dia menangis lagi?”
Dimas tidak menjawab.
“Kalau lima tahun lagi dia menangis karena aku melarangnya mengatur pendidikan Naya?”
Diam.
“Kalau sepuluh tahun lagi dia menangis karena aku tidak memberikan uang?”
Diam.
“Kalau suatu hari kamu melihat sendiri dia salah, lalu dia berlutut lagi?”
Aku menatap mata suamiku.
“Kamu sudah menunjukkan pilihanmu tadi.”
Dimas duduk di kursi dekat pintu.
Untuk pertama kalinya, suaranya mengecil.
“Aku tidak tahu caranya tidak merasa bersalah pada Ibu.”
Aku mengerti.
Sungguh.
Masa kecil Dimas memang tidak mudah.
Ayahnya meninggal ketika dia SMP.
Ibunya berjualan nasi bungkus.
Dimas sering bercerita bagaimana Bu Sulastri menahan lapar supaya anak-anaknya bisa sekolah.
Rasa terima kasih seorang anak tidak salah.
Yang salah adalah ketika rasa terima kasih berubah menjadi utang abadi, lalu semua orang di sekitar anak itu diwajibkan ikut membayarnya.
Aku berkata,
“Kamu boleh mencintai ibumu seumur hidup.”
“Tapi aku tidak wajib menjadi tumbal untuk membuktikan kamu anak berbakti.”
Dimas menunduk.
Malam itu dia tidur di ruang kerja.
Pagi berikutnya, audit proyek berjalan.
Aku sengaja tidak ikut campur detail.
Aku meminta tim audit bekerja independen.
Tiga hari kemudian, hasil awal keluar.
Vendor milik Ari memang menerima pembayaran di atas nilai pasar.
Bukti lebih buruk muncul dari percakapan internal.
Dimas meminta staf pengadaan memasukkan CV milik sepupunya ke daftar kandidat setelah tender awal hampir selesai.
Dia juga mengarahkan agar spesifikasi dibuat sesuai barang yang bisa disediakan Ari.
Tidak ada bukti uang masuk ke rekening pribadi Dimas.
Jadi dia bukan mencuri uang perusahaan untuk dirinya sendiri.
Namun pelanggaran konflik kepentingan dan manipulasi proses pengadaan tetap serius.
Salah satu staf bahkan menyimpan pesan suara Dimas.
“Bantu dulu vendor ini. Orang sendiri. Selisih sedikit jangan ribut.”
Ketika rekaman itu diputar dalam rapat komite audit, aku menutup mata beberapa detik.
Kalimat yang sama.
Orang sendiri.
Selama ini mungkin itulah prinsip hidup Dimas.
Kalau orang sendiri, kesalahan bisa dikecilkan.
Kalau ibunya, tangisan lebih penting daripada fakta.
Kalau sepupunya, harga lebih mahal sedikit tidak masalah.
Kalau istrinya…
istri harus mengerti.
Dimas akhirnya dicopot dari proyek.
Komite disiplin memutuskan kontrak manajerialnya tidak diperpanjang dan dia diberhentikan setelah proses serah terima selesai.
Keputusan itu bukan kutandatangani sendiri.
Aku bahkan tidak hadir dalam voting akhir.
Aku tidak ingin kelak dia mengatakan aku memecatnya karena perceraian.
Empat dari lima anggota komite menyetujui pemberhentian.
Satu abstain.
Selesai.
Ari diwajibkan mengembalikan pembayaran pekerjaan yang tidak sesuai progres dan kontraknya dihentikan.
Perusahaan kemudian mengambil langkah hukum perdata atas selisih yang belum dapat dipertanggungjawabkan.
Ketika Bu Sulastri mendengar kabar itu, beliau datang kepadaku.
Bukan meminta maaf.
Beliau marah.
“Kamu puas sekarang?”
Saat itu aku sedang duduk di taman belakang sambil menggendong Naya.
Aku meminta perawat membawa Naya masuk.
Baru setelah bayiku tidak lagi mendengar, aku menjawab.
“Tidak.”
“Anak saya kehilangan pekerjaan!”
“Karena keputusan komite.”
“Kalau kamu tidak mulai audit, semua ini tidak terjadi.”
Aku menatapnya.
“Kalau Dimas tidak melakukan pelanggaran, audit tidak akan menemukan apa pun.”
Bu Sulastri menunjuk wajahku.
“Perempuan seperti kamu memang tidak punya hati.”
Aku tidak marah.
Anehnya, aku justru merasa sangat tenang.
“Ibu benar.”
Beliau terdiam.
“Apa?”
“Kalau arti punya hati menurut Ibu adalah terus menutup mata demi keluarga, saya memang tidak bisa.”
Beliau menangis.
Namun kali ini tidak ada Dimas yang berlari membelanya.
Karena Dimas sendiri sedang membereskan meja kerjanya di kantor.
Bu Sulastri akhirnya pulang ke Semarang.
Sebelum pergi, beliau masih mengatakan sesuatu kepada Mbak Sari yang kemudian disampaikan kepadaku.
“Lihat saja. Beberapa bulan lagi Laras pasti minta Dimas kembali. Perempuan punya bayi sendirian tidak gampang.”
Beliau benar tentang satu hal.
Tidak gampang.
Malam-malamku tetap berat.
Naya kadang menangis dua jam tanpa sebab yang jelas.
Aku pernah tertidur sambil duduk karena terlalu lelah.
ASI sempat turun ketika aku stres.
Luka operasi sempat terasa nyeri lagi.
Namun sekarang aku punya bantuan yang benar-benar membantu.
Perawat malam menjaga Naya setelah menyusu agar aku bisa tidur.
Perawat pagi membantu memandikan bayi.
ART mengurus rumah.
Ahli gizi menyiapkan menu pemulihan.
Dan untuk pertama kalinya sejak pulang dari rumah sakit, aku makan makanan hangat tanpa merasa harus berterima kasih karena seseorang bersedia memberikannya kepadaku.
Sop ikan.
Sayur bayam.
Ayam kukus.
Buah.
Makanan sederhana.
Namun setiap suapan terasa seperti mengembalikan bagian diriku yang hilang.
Dimas pindah ke apartemen sewaan dekat kantornya sebelum resmi berhenti.
Dia beberapa kali meminta bertemu.
Aku menolak selama dua minggu.
Bukan untuk menghukumnya.
Aku memang belum siap.
Setelah tubuhku lebih pulih, kami bertemu dengan mediator keluarga.
Dimas terlihat jauh lebih kurus.
Dia langsung berkata,
“Aku tidak akan minta kamu membatalkan perceraian hari ini.”
Aku diam.
“Aku cuma mau bilang satu hal.”
Dia mengeluarkan ponsel.
“Aku mulai terapi.”
Aku sedikit terkejut.
Dimas tertawa hambar.
“Ternyata istilahnya enmeshment.”
Aku tahu istilah itu.
Keterikatan keluarga dengan batas yang sangat kabur.
Dia melanjutkan.
“Selama ini setiap Ibu kecewa, aku merasa aku anak durhaka.”
“Kalau Ibu marah, aku merasa harus memperbaikinya.”
“Kalau orang lain bertentangan sama Ibu, refleksku selalu mencari kesalahan orang itu.”
Dia menatapku.
“Aku baru sadar aku bukan membela Ibu.”
“Aku sedang melindungi diriku sendiri dari rasa bersalah.”
Aku mendengarkan.
Tidak memaafkan.
Tidak juga menyela.
Dimas mengusap wajahnya.
“Aku juga minta maaf soal pekerjaan.”
“Aku pikir membantu Ari itu cuma membantu keluarga.”
“Aku tahu aturan konflik kepentingan, tapi aku merasa… selama proyek tetap jalan, tidak apa-apa.”
“Sekarang aku mengerti kenapa kamu marah.”
Aku menjawab,
“Aku tidak marah karena kamu kehilangan pekerjaan.”
“Aku kecewa karena kamu tahu aturan lalu memilih merasa hubungan keluarga lebih tinggi daripada aturan.”
Dia mengangguk.
“Aku tahu.”
Lalu dia menatap tanganku.
“Laras, apakah benar-benar tidak ada kesempatan?”
Aku memandang lelaki yang pernah sangat kucintai.
Perasaan itu tidak hilang seperti sakelar dimatikan.
Justru itulah yang membuat keputusan sulit.
Kalau aku tidak mencintainya, mungkin aku bisa pergi tanpa menangis.
Aku berkata,
“Aku tidak tahu Dimas versi lima tahun lagi akan seperti apa.”
“Tapi aku tahu Dimas yang berdiri di ruang makan malam itu.”
“Kamu merusak kamera supaya tidak perlu melihat fakta.”
“Kamu mengancam mengusir aku delapan hari setelah aku melahirkan.”
“Dan setelah rekaman diputar, kamu masih marah kepadaku karena ibumu berlutut.”
Air mata Dimas jatuh.
Aku melanjutkan,
“Aku bisa memaafkan.”
“Tapi memaafkan tidak berarti aku wajib kembali.”
Dia menunduk.
Beberapa bulan kemudian, perceraian kami selesai melalui mediasi.
Karena sejak sebelum menikah kami sudah membuat perjanjian perkawinan mengenai aset usaha dan properti, pemisahan harta tidak menjadi pertengkaran panjang.
Rumah tetap milikku.
Saham perusahaan tetap milikku.
Aset pribadi Dimas tetap miliknya.
Kami mencapai kesepakatan mengenai Naya.
Naya tinggal bersamaku.
Dimas mendapat jadwal rutin untuk bertemu anaknya.
Aku tidak pernah memakai Naya untuk menghukum dia.
Karena seburuk apa pun dia menjadi suami pada malam itu, dia tetap memiliki kesempatan untuk belajar menjadi ayah yang lebih baik.
Awalnya aku takut Bu Sulastri akan terus ikut campur.
Ternyata Dimas sendiri yang menetapkan batas.
Pertama kali ibunya ingin ikut datang saat jadwal kunjungan Naya, Dimas meneleponku lebih dulu.
“Kalau kamu tidak nyaman, aku akan datang sendiri.”
Aku menjawab,
“Datang sendiri.”
“Baik.”
Tidak ada drama.
Tidak ada tangisan lewat speaker.
Tidak ada ancaman.
Enam bulan berlalu.
Suatu sore, Dimas datang menjemput Naya untuk berjalan-jalan di taman bersama pengasuh.
Sebelum pergi, dia menyerahkan sebuah kotak kecil.
“Apa ini?”
“Bukan untuk kamu.”
Aku membukanya.
Di dalamnya ada buku tabungan pendidikan atas nama Naya.
Dimas berkata,
“Aku sudah dapat kerja baru.”
Setelah keluar dari perusahaan keluargaku, dia bergabung dengan perusahaan konstruksi menengah.
Jabatannya jauh lebih rendah daripada sebelumnya.
Gajinya juga lebih kecil.
Namun kali ini dia mendapat pekerjaan tanpa rekomendasi dariku.
Aku mengangguk.
“Selamat.”
Dia tersenyum.
“Terima kasih.”
Saat hendak keluar, dia berhenti.
“Laras.”
Aku menatapnya.
“Ibu juga terapi sekarang.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Dimas melanjutkan,
“Aku tidak menyuruhmu bertemu beliau.”
“Aku cuma ingin kamu tahu.”
Aku mengangguk.
“Semoga bermanfaat.”
Dia pergi.
Hubunganku dengan Bu Sulastri tidak pernah kembali seperti dulu.
Dan aku tidak berusaha membuatnya kembali.
Ada hubungan yang tidak harus diperbaiki menjadi dekat.
Cukup dibuat sehat dengan jarak.
Setahun kemudian, pada ulang tahun pertama Naya, aku mengadakan acara sederhana di rumah.
Tidak ada pesta besar.
Hanya keluarga dekat dan beberapa sahabat.
Ayahku yang kesehatannya sudah jauh membaik datang dari Yogyakarta.
Dia menggendong Naya begitu lama sampai tangannya pegal.
Saat makan malam, Mbak Sari membawa sepiring mi goreng dari dapur.
Aku tiba-tiba berhenti mengunyah.
Semua orang mengira aku kenapa-kenapa.
Lalu aku malah tertawa.
Sahabatku bertanya,
“Kenapa?”
Aku menatap mi itu.
“Tidak apa-apa.”
Aku mengambil sedikit ke piring.
Setahun lalu, semangkuk mi instan membuat rumah tanggaku pecah.
Namun akhirnya aku memahami sesuatu.
Bukan mi yang menghancurkan pernikahanku.
Bukan pula ibu mertua.
Pernikahanku selesai ketika suamiku diberikan kesempatan melihat kebenaran, tetapi memilih menghancurkan kameranya.
Karena terkadang masalah terbesar dalam sebuah keluarga bukan bahwa seseorang melakukan kesalahan.
Melainkan ada orang lain yang bersedia menghancurkan apa pun agar kesalahan itu tidak pernah disebut kesalahan.
Aku tidak menyesal pernah menikah dengan Dimas.
Dari pernikahan itu aku mendapatkan Naya.
Aku juga mendapatkan pelajaran yang sebelumnya tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku.
Berbakti tidak sama dengan membenarkan semuanya.
Mengalah tidak selalu berarti dewasa.
Menjaga rumah tangga tidak berarti seorang perempuan harus terus menelan penghinaan agar rumah itu terlihat utuh dari luar.
Dan bantuan yang disertai penghinaan bukanlah bantuan.
Hari ini aku masih menjalankan perusahaan.
Masih pulang terlambat sesekali.
Masih sering terbangun tengah malam ketika Naya demam atau bermimpi buruk.
Hidupku tidak menjadi sempurna hanya karena aku meninggalkan pernikahan yang salah.
Namun rumah ini sekarang tenang.
Tidak ada lagi orang yang menimbang seberapa lezat makanan yang pantas kudapat berdasarkan siapa yang sedang berada di rumah.
Tidak ada lagi tangisan yang digunakan sebagai senjata.
Tidak ada lagi ancaman,
“Kalau tidak menurut, keluar.”
Karena sekarang aku tahu sesuatu yang dulu terlalu lama kulupakan.
Aku tidak membutuhkan izin siapa pun untuk merasa aman di rumahku sendiri.
Dan suatu hari nanti, ketika Naya cukup besar untuk memahami cerita ini, aku tidak akan mengajarinya untuk selalu menang dalam pertengkaran.
Aku hanya akan mengajarinya satu hal:
Kalau seseorang memintamu menutup mata demi menjaga kedamaian, lihatlah lebih jelas.
Sebab kedamaian yang hanya bisa dipertahankan dengan mengorbankan harga dirimu bukanlah kedamaian.
Itu hanya ketakutan yang dipelihara terlalu lama.
Dan aku sudah selesai hidup seperti itu.

