Suamiku Menginap Semalam dengan Teman Masa Kecilnya, Lalu Keluarganya Memintaku Minta Maaf karena Membongkar Kebohongannya

Avatar penulis
Cerita 01
33 menit baca 338 tayangan
Suamiku Menginap Semalam dengan Teman Masa Kecilnya, Lalu Keluarganya Memintaku Minta Maaf karena Membongkar Kebohongannya
Indeks

Suamiku Menginap Semalam dengan Teman Masa Kecilnya, Lalu Keluarganya Memintaku Minta Maaf karena Membongkar Kebohongannya

Bagian 1

Pesan lokasi dari suamiku masuk pukul 23.17.

Hotel Cendana Grand.

Tidak sampai satu menit kemudian, Arga mengirim pesan lagi.

Aku kebanyakan minum. Anak-anak akhirnya ambil kamar di sini buat istirahat. Kayaknya malam ini aku nggak pulang. Kamu kunci pintu lalu tidur dulu, ya.

Aku duduk di ruang keluarga sambil membaca dua pesan itu berkali-kali.

Hujan belum berhenti sejak sore. Air mengalir di kaca jendela, membuat lampu kompleks di luar tampak kabur.

Beberapa menit sebelumnya Arga masih meneleponku.

Dari seberang terdengar musik, suara orang tertawa, dan denting gelas. Katanya dia sedang reuni kecil dengan teman-teman lama.

“Sudah lama nggak ketemu,” katanya. “Ngobrolnya kebablasan.”

Dia memintaku tidak menunggu.

Sebelum menutup telepon, dia tertawa kecil.

“Istriku memang paling pengertian.”

Lalu, “Sayang kamu.”

Aku hanya menjawab, “Iya.”

Sekarang dia mengirim alamat hotel dengan penjelasan yang begitu rapi sampai rasanya tak menyisakan celah.

Teman lama.

Kebanyakan minum.

Anak-anak menginap bersama.

Tidak pulang.

Dulu mungkin aku langsung mengunci pintu, mematikan lampu, lalu tidur.

Entah mengapa malam itu aku teringat bagaimana Arga berdiri di depan cermin sebelum berangkat.

Dia memakai kemeja biru tua yang kusetrika sore tadi. Kancing mansetnya hadiah dariku. Blazer yang dibawanya juga kubelikan saat ulang tahunnya tahun lalu.

Sebelum keluar, dia sempat berbalik.

“Menurut kamu aku oke?”

Aku melihatnya dari kepala sampai kaki.

“Ganteng.”

Dia tersenyum puas, mencium keningku, lalu pergi.

Saat itu aku benar-benar percaya dia hanya akan bertemu teman lama.

Sekarang aku ingin tahu satu hal.

Laki-laki yang berdandan serapi itu, tengah malam tidak pulang, sebenarnya sedang bersama siapa?

Aku tidak menelepon untuk menuduh.

Tidak pula mengirim pertanyaan panjang.

Aku hanya mengambil jaket, kunci mobil, lalu keluar.

Dari rumah kami di Bandung Utara menuju Hotel Cendana Grand sekitar empat puluh menit dalam kondisi hujan.

Aku menyetir pelan.

Aku berhenti saat lampu merah, tidak menyalip sembarangan, bahkan sempat mampir ke SPBU karena indikator bensin hampir menyentuh garis terakhir.

Aku tidak merasa sedang pergi memergoki suami.

Aku hanya ingin memastikan satu hal.

Apakah Arga berbohong kepadaku?

Kalau iya, seberapa jauh kebohongan itu?

Hampir tengah malam ketika aku masuk ke area parkir bawah tanah hotel.

Lobi masih terang.

Aku menghampiri meja resepsionis. Seorang perempuan muda langsung berdiri dan tersenyum.

“Selamat malam, Bu. Ada yang bisa kami bantu?”

“Saya mencari seseorang.”

“Apakah Ibu punya nomor kamarnya?”

“Tidak.”

Aku menyebut nama lengkap suamiku.

“Arga Wiratama. Dia suami saya. Katanya malam ini menginap setelah minum bersama teman-temannya.”

Senyum resepsionis itu sedikit berubah, tetapi dia tetap profesional.

“Mohon maaf, Bu. Kami tidak dapat memberikan informasi tamu tanpa izin.”

Aku mengangguk.

“Itu memang seharusnya begitu.”

Aku tidak ingin membuat pegawai malam hari kehilangan pekerjaan hanya karena masalah rumah tanggaku.

Aku membuka tas dan mengeluarkan kartu akses khusus.

Tiga tahun lalu, saat studio desain interior milikku menangani salah satu proyek renovasi ruang acara hotel ini, pihak manajemen memberikan kartu akses cadangan untuk area suite agar aku bisa melakukan pengecekan pekerjaan.

Setelah proyek selesai, salah seorang pemilik meminta aku menyimpannya karena masih ada pekerjaan lanjutan.

Kartu itu kemudian terlupakan di bagian terdalam dompetku.

Malam itu baru pertama kali aku menggunakannya lagi.

Resepsionis memeriksa kartu tersebut.

“Nama Ibu?”

“Nadia Prameswari.”

Dia mengetik sesuatu.

Tidak sampai satu menit, manajer malam datang.

“Bu Nadia.”

Dia mengenal namaku dari proyek sebelumnya.

“Ada yang bisa saya bantu?”

Aku menjelaskan singkat. Aku tidak meminta nomor kamar. Aku hanya ingin memastikan Arga memang datang bersama kelompok yang dia sebutkan.

Manajer membawaku ke ruangan keamanan.

Di sana terdapat beberapa layar CCTV.

Petugas keamanan menghentikan makan malamnya ketika kami masuk.

“Kira-kira jam berapa tamunya datang?” tanyanya.

Aku melihat ponsel.

“Setelah sebelas lewat lima.”

Rekaman diputar mundur.

Beberapa menit kemudian aku melihat Arga.

Tidak mungkin salah.

Kemeja biru tua yang kulihat sore tadi masih dikenakannya. Kancing manset hadiah dariku memantulkan cahaya lobi.

Dia memang tampak habis minum.

Tetapi jelas tidak mabuk sampai kehilangan kesadaran.

Dia bahkan cukup sadar untuk menopang perempuan di sebelahnya.

Tidak ada teman-teman laki-laki.

Tidak ada rombongan reuni.

Hanya dua orang.

Arga.

Dan Vania Larasati.

Teman masa kecilnya.

Perempuan yang selama tiga tahun pernikahan kami selalu dijelaskan Arga dengan satu kalimat yang sama setiap kali aku merasa kedekatan mereka melewati batas.

“Aku sama Vania dari kecil bareng.”

“Dia sudah kayak adikku sendiri.”

Di layar, sang “adik” mengenakan gaun rajut putih dan berjalan sambil menempel pada tubuh Arga.

Lengan Arga melingkari pinggangnya.

Tangannya yang lain membawa tas Vania.

Aku berdiri tanpa bicara.

Mereka masuk ke lift.

Masih berdua.

Vania mengatakan sesuatu sambil mendongak.

Arga menunduk mendengarkan.

Kemudian Arga mengangkat tangan dan menyelipkan rambut Vania yang menempel di pipinya ke belakang telinga.

Gerakannya terlalu akrab untuk disebut canggung.

Lalu Vania berjinjit.

Dia mencium Arga.

Tidak lama.

Tapi sangat jelas.

Arga tidak menghindar.

Tidak mendorong.

Dia bahkan tidak tampak terkejut.

Pintu lift terbuka dan mereka berjalan keluar.

Rekaman lain menunjukkan Arga menuju meja resepsionis, menyerahkan identitasnya, kemudian menerima satu kartu kamar.

Satu.

Bukan dua.

Aku merasa itu sudah cukup.

Manajer di sampingku akhirnya bertanya hati-hati, “Ibu ingin kami mendampingi naik?”

“Untuk apa?”

Dia diam.

Aku pun tahu bagaimana percakapan di depan pintu kamar nanti mungkin berjalan.

Arga akan terkejut melihatku.

Vania mungkin menangis.

Lalu akan keluar alasan.

Vania mabuk.

Vania sakit.

Kamar lain habis.

Arga tidak mungkin meninggalkan teman masa kecilnya sendirian.

Kalau aku terus bertanya, aku akan disebut curiga berlebihan.

Besok keluarga Arga akan bilang laki-laki yang sedang bersosialisasi kadang harus membantu teman.

Keluargaku mungkin mengingatkan bahwa pernikahan tidak boleh dihancurkan karena satu malam.

Satu orang meminta aku memaklumi.

Yang lain menyuruhku menjaga nama keluarga.

Pada akhirnya semua orang punya alasan.

Dan aku yang diminta menelan semuanya.

Aku tidak menginginkan percakapan itu.

Aku menunjuk layar.

“Bisa tolong buatkan salinan bagian ini?”

“Bisa, Bu. Besok pagi kami akan menyiapkan…”

“Tidak besok.”

Di layar, Arga sedang meletakkan blazernya di bahu Vania.

Blazer yang kubelikan.

“Saya butuh malam ini.”

Aku tidak naik ke kamar.

Setelah mendapatkan rekaman yang kubutuhkan, aku kembali ke lobi dan memilih sofa yang menghadap langsung ke lift.

Aku ingin melihat kapan Arga turun.

Aku ingin melihat seperti apa penampilannya.

Manajer membawakan air hangat.

Kemudian gelas lain.

Lalu satu lagi.

Baru setelah gelas ketiga aku sadar hampir tidak ada yang kuminum.

Pukul dua pagi, petugas resepsionis berganti.

Perempuan yang tadi melayaniku pulang sambil menatap ke arahku sebelum berjalan keluar.

Pukul empat, seorang petugas kebersihan mendorong troli melewati sofa.

Setelah beberapa kali melirik, akhirnya dia bertanya, “Ibu sedang menunggu seseorang?”

Aku menunduk.

Cincin pernikahan masih melingkar di jari manisku.

Tiga tahun sebelumnya Arga memasangkannya di depan keluarga kami.

Aku memandangnya sebentar.

“Bukan.”

“Saya sedang menunggu jawaban.”

Perempuan itu mengikuti arah pandangku ke cincin.

Dia tidak bertanya lagi.

Pukul tujuh lewat dua puluh, lift berbunyi.

Aku mengangkat kepala.

Pintu terbuka.

Arga keluar lebih dahulu.

Rambutnya berantakan. Dua kancing teratas kemejanya terbuka. Blazernya tersampir di lengan.

Vania berjalan di belakang.

Tanpa riasan.

Mengenakan sandal hotel.

Sepatu haknya dibawa dengan satu tangan.

Melihat mereka, aku tahu menunggu semalaman tidak sia-sia.

Semua alasan yang tadi sempat kupikirkan untuk membela Arga tidak lagi diperlukan.

Vania melihatku lebih dulu.

Langkahnya berhenti.

Arga mengikuti pandangannya dan wajahnya membeku.

“Nadia?”

Reaksi pertama suamiku bukan rasa bersalah.

Melainkan terkejut.

Seolah-olah aku yang tidak seharusnya berada di hotel itu.

“Kamu ngapain di sini?”

Aku tidak menjawab.

Aku mengangkat ponsel.

Klik.

Satu foto.

Arga langsung berjalan cepat.

“Kamu motret apa?”

Tangannya hendak meraih ponselku.

Aku mundur.

“Suamiku keluar dari hotel pagi-pagi bersama perempuan lain.”

Wajah Vania berubah.

“Kak Nadia, ini salah paham.”

“Aku semalam kebanyakan minum. Arga cuma mengantar. Lambungku kambuh, jadi dia tinggal sebentar memastikan aku nggak apa-apa.”

“Kalian satu kamar?”

Dia terdiam.

Lalu menjawab, “Kamarnya penuh.”

Resepsionis yang baru selesai shift malam tanpa sengaja mengangkat kepala.

Dia menatap Vania sesaat, lalu kembali menunduk.

Aku hampir tertawa.

Arga pasti melihatnya juga karena rahangnya mengeras.

“Nadia, ini hotel. Kita ngomong di rumah.”

“Kenapa?”

“Kamu bikin malu diri sendiri.”

Aku mengangguk.

“Memang memalukan.”

“Suamiku bilang reuni dengan teman-temannya, lalu menginap sendirian bersama teman masa kecilnya dalam satu kamar.”

Aku melihat Arga.

“Bagian mana yang menurutmu membuatku terlihat bagus?”

“Nggak ada apa-apa antara aku sama Vania.”

“Kalau memang nggak ada, kenapa kamu panik?”

Mata Vania mulai berair.

“Arga, maaf. Aku sudah bilang aku bisa pulang sendiri.”

Dia menutup wajah.

“Kamu yang khawatir aku kenapa-kenapa.”

Kemudian dia menatapku.

“Maaf kalau gara-gara aku Kak Nadia jadi salah paham lagi.”

Arga langsung membelanya.

“Kamu dengar sendiri, kan?”

“Lambung Vania memang bermasalah. Aku nggak cerita karena aku tahu kamu gampang berpikir macam-macam soal dia.”

Aku menatapnya.

“Kamu tidak cerita karena takut aku salah paham?”

“Atau karena kamu memang tidak mau aku tahu?”

“Nadia.”

Nada suaranya berubah.

“Harus banget ngomong seperti itu?”

Aku tidak menjawab.

Aku membuka foto yang baru kuambil.

Lalu mengirimkannya.

Pertama ke grup keluarga Arga.

Berikutnya ke grup keluargaku.

Kemudian grup kecil teman-teman yang dulu menjadi pendamping pernikahan kami.

Terakhir ke grup kerja tempat beberapa rekan dekat Arga berada.

Foto yang sama.

Tanpa tulisan apa pun.

Arga melihat layar ponselku.

Wajahnya langsung pucat.

“Nadia!”

“Kamu gila?”

Aku mengunci layar.

“Nggak.”

“Sepertinya baru sekarang aku benar-benar sadar.”

Dia mencengkeram pergelangan tanganku.

“Hapus. Tarik pesannya.”

Aku melepaskan tangannya.

“Sudah terlambat.”

Ponsel mulai bergetar tanpa henti.

Pesan.

Notifikasi.

Panggilan.

Orang pertama yang menelepon adalah ibu Arga.

Aku mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara.

“Nadia!”

Suara Ibu Ratna terdengar memenuhi lobi.

“Kamu kirim apa ke grup keluarga?”

“Hapus sekarang!”

“Kamu belum cukup bikin keluarga Wiratama malu?”

Aku menatap Arga.

“Bu.”

“Tadi malam anak Ibu menginap di hotel.”

“Perempuan yang bersamanya bukan istrinya.”

Di seberang sana hening beberapa detik.

Kemudian Ibu Ratna berkata, “Terus kenapa?”

“Laki-laki keluar sama teman, ada perempuan mabuk lalu dibantu. Memangnya dosa membantu teman?”

“Kamu jadi istri sudah tiga tahun. Masa hal begini saja tidak bisa mengerti?”

Vania mulai terisak.

“Tante, maaf. Ini salah Vania.”

“Aku malah bikin semua orang repot.”

Suara Ibu Ratna langsung melembut.

“Vania?”

“Kamu jangan nangis.”

“Tante kenal kamu sejak kecil. Tante tahu kamu anaknya bagaimana.”

Aku tertawa kecil.

Arga menatap tajam.

“Matikan.”

Aku mengabaikannya.

“Bagus kalau Ibu merasa sudah mengenal Vania.”

“Mulai hari ini, mungkin Ibu juga perlu mengenal anak Ibu sedikit lebih baik.”

“Nadia!”

Nada Ibu Ratna kembali tinggi.

“Kamu jangan lupa selama tiga tahun menikah kamu hidup dengan siapa.”

“Kalau bukan karena Arga, studio kecilmu itu mungkin sudah tutup dari dulu!”

Kali ini Arga merebut ponselku dan mematikan panggilan.

“Apa sebenarnya yang kamu mau?”

Aku menjawab tanpa perlu berpikir lama.

“Cerai.”

Tangisan Vania berhenti.

Arga menatapku beberapa detik.

Kemudian dia tertawa seperti baru mendengar hal paling tidak masuk akal di dunia.

“Cuma karena semalam?”

“Iya.”

“Nadia.”

Wajahnya dingin.

“Jangan sampai nanti kamu menyesal.”

Aku menunduk ke cincin.

Lalu melepaskannya.

Tiga tahun pernikahan berubah menjadi lingkaran logam kecil di telapak tanganku.

Aku meletakkannya di meja kaca.

Bunyinya ringan.

“Aku sudah pikirkan.”

Aku menatap Arga.

“Belum tentu aku yang akan menyesal.”

Pukul sepuluh pagi aku datang ke rumah orang tua Arga di daerah Setiabudi.

Pintunya sudah terbuka.

Begitu masuk, aku sadar satu hal.

Aku mengira mereka memanggilku untuk membicarakan perceraian.

Ternyata bukan.

Aku dipanggil untuk diadili.

Ibu Ratna duduk di sofa tengah dengan wajah tegang.

Pak Surya, ayah Arga, duduk di sebelahnya dengan tongkat di dekat kaki.

Arga sudah berganti pakaian.

Dan Vania masih duduk di sebelah suamiku.

Matanya sembap.

Aku meletakkan tas.

Ibu Ratna langsung memukul meja dengan telapak tangan.

“Kamu masih berani datang?”

Aku menarik kursi.

“Bukankah Ibu yang menyuruh saya datang untuk membicarakan perceraian?”

“Perceraian apa!”

“Gara-gara fotomu pagi ini, Arga baru masuk kantor sudah dipanggil atasannya.”

“Vania juga jadi bahan omongan.”

“Sebelum bicara apa pun, kamu minta maaf dulu pada mereka.”

Aku menoleh kepada Arga.

“Kamu juga merasa aku harus minta maaf?”

Dia diam cukup lama.

Kemudian mengalihkan mata.

“Yang kamu lakukan pagi tadi memang keterlaluan.”

Aku mengangguk.

“Jadi kamu bohong pada istrimu.”

“Mengantar teman masa kecilmu ke hotel.”

“Menginap satu kamar.”

“Itu tidak keterlaluan.”

“Tapi aku memperlihatkan foto kalian keluar bersama, itu keterlaluan.”

Vania langsung berdiri.

“Kak Nadia, aku sudah menjelaskan berkali-kali.”

“Aku sakit.”

“Arga cuma menjagaku.”

“Kenapa Kak Nadia harus membuat hubungan kami seolah kotor?”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu benar-benar sakit, kamu punya banyak pilihan.”

“Telepon orang tuamu.”

“Pulang pakai taksi.”

“Pergi ke IGD.”

“Atau ambil kamar sendiri.”

Aku berhenti sejenak.

“Tapi yang kamu pilih suamiku.”

Wajah Vania memucat.

“Sudah!”

Ibu Ratna memotong.

“Jangan menekan orang seperti itu.”

“Vania kami kenal dari kecil.”

“Dia tahu batas, tidak seperti kamu yang sedikit-sedikit mempermalukan keluarga.”

Aku hampir tersenyum.

“Tahu batas?”

“Orang yang tahu batas mencium suami orang di lift tengah malam?”

Ruangan mendadak sunyi.

Arga berdiri.

“Nadia!”

Air mata Vania langsung jatuh.

“Sudahlah, Arga.”

“Kak Nadia memang tidak pernah suka aku.”

“Aku pergi saja.”

Dia berbalik, tetapi Arga memegang pergelangan tangannya.

“Duduk.”

Setelah itu Arga menatapku.

Untuk pertama kalinya selama tiga tahun menikah, aku melihat rasa jengkel yang begitu jelas di mata suamiku.

“Kamu mau bikin keributan sampai kapan?”

“Hari ini Vania masih harus mengambil hasil pemeriksaan ulang Papa.”

“Kamu bikin dia menangis begini, puas?”

Aku tidak menjawab.

Aku menatap Pak Surya.

Mungkin dia juga sadar keadaan sudah terlalu jauh.

Dia berdeham.

“Nadia.”

“Semalam Arga memang salah.”

“Papa tidak membelanya.”

“Tapi urusan rumah tangga seharusnya diselesaikan di dalam rumah.”

“Kamu menyebarkan foto ke mana-mana. Apa manfaatnya selain membuka aib sendiri?”

Aku bertanya, “Kalau begitu Papa ingin menyelesaikannya bagaimana?”

Dia berpikir sebentar.

“Pertama, kamu minta maaf kepada Vania.”

“Setelah itu masalah ini selesai.”

“Lalu soal cerai?”

Alis Pak Surya langsung berkerut.

“Tidak usah dibahas lagi.”

Aku diam.

Kulihat satu per satu wajah di ruangan itu.

Ibu Ratna menunggu aku menunduk.

Pak Surya merasa dengan mengakui bahwa Arga “sedikit salah”, dia sudah bersikap adil.

Vania masih duduk rapat di samping suamiku.

Sementara Arga, sejak aku masuk sampai sekarang, belum mengucapkan satu kata maaf kepadaku.

Saat itulah aku benar-benar mengerti.

Tak seorang pun di rumah itu peduli bagaimana rasanya aku duduk semalaman di lobi hotel.

Mereka tidak peduli apakah pernikahanku masih mempunyai kepercayaan yang bisa diselamatkan.

Yang mereka pikirkan adalah berapa banyak orang sudah melihat foto.

Apa kata atasan Arga.

Apa kata orang tentang Vania.

Bagaimana nama keluarga bisa terlihat baik lagi.

Sedangkan aku?

Aku hanya perlu minta maaf.

Diam.

Lalu kembali menjadi istri yang “pengertian”.

Aku berdiri dan mengambil tas.

“Kalau begitu, sepertinya saya memang datang ke tempat yang salah hari ini.”

Suamiku Menginap Semalam dengan Teman Masa Kecilnya, Lalu Keluarganya Memintaku Minta Maaf karena Membongkar Kebohongannya

Bagian 2

Aku baru mencapai teras ketika Arga menyusul.

“Nadia.”

Aku terus berjalan menuju mobil.

Dia berdiri di depanku sebelum aku sempat membuka pintu.

“Jangan seperti anak kecil.”

Aku menatapnya.

“Geser.”

“Kita belum selesai bicara.”

“Yang kalian bicarakan di dalam tadi bukan soal pernikahan kita. Kalian cuma ingin aku memperbaiki nama kalian.”

Arga mengusap wajah.

Dia tampak lelah.

“Nggak semuanya harus dihancurkan gara-gara satu malam.”

“Kalau cuma satu malam, jawab satu pertanyaan.”

Aku menatapnya lurus.

“Kenapa kamu bilang pergi dengan teman-teman laki-lakimu kalau sejak awal akhirnya kamu berdua dengan Vania?”

Dia tidak menjawab segera.

“Aku memang awalnya ketemu beberapa orang.”

“Lalu?”

“Yang lain pulang lebih dulu.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Karena aku tahu kamu sensitif soal Vania.”

Kalimat itu membuatku lebih tenang daripada marah.

“Jadi karena aku tidak nyaman, kamu memilih menyembunyikannya.”

“Nadia, jangan dipelintir.”

“Aku nggak memelintir apa pun.”

Aku membuka pintu mobil.

“Tadi malam kamu yang menyusun ceritanya.”

Arga menahan pintu.

“Tidak terjadi apa-apa di kamar.”

Aku menoleh.

“Di lift dia mencium kamu.”

“Dia mabuk.”

“Kamu tidak mabuk sampai tidak tahu harus menjauh.”

Dia terdiam.

Aku melihat jawabannya dari situ.

“Apakah kamu akan menceritakan ciuman itu kalau aku tidak datang?”

Rahangnya menegang.

“Nadia…”

“Ya atau tidak?”

Dia tidak menjawab.

Aku masuk mobil dan menutup pintu.

Aku tidak langsung pulang.

Aku pergi ke studio kecil milikku di daerah Dago.

Studio itu bukan perusahaan besar. Kami hanya delapan orang, mengerjakan interior rumah, kafe, kantor kecil, dan beberapa proyek hotel.

Ketika aku masuk, dua staf sudah berada di sana.

Aku meminta mereka meneruskan pekerjaan seperti biasa.

Lalu aku masuk ruanganku dan mengunci pintu.

Hal pertama yang kulakukan bukan menangis.

Aku membuka laptop.

Aku mengganti password email bisnis.

Password penyimpanan dokumen.

PIN aplikasi pembayaran operasional.

Kemudian aku memastikan seluruh persetujuan pengeluaran studio kembali hanya melalui aku dan kepala administrasi.

Arga memang tidak pernah menjadi pemilik studio.

Tetapi sebagai suami dia tahu terlalu banyak password karena selama ini aku tidak pernah menganggapnya sebagai orang yang harus kubatasi.

Setelah itu aku memeriksa rekening rumah tangga kami.

Aku tidak mengambil uang bersama.

Aku hanya mencatat saldonya, mengunduh mutasi beberapa bulan terakhir, lalu memindahkan penghasilan pribadiku berikutnya agar tidak lagi otomatis masuk ke rekening itu.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku memisahkan sesuatu sebelum orang lain meminta izin untuk menggunakannya.

Siang itu aku menghubungi seorang advokat keluarga yang direkomendasikan klien lama.

Aku tidak meminta dia “menghancurkan” Arga.

Aku hanya ingin tahu dokumen apa yang harus kusiapkan bila aku benar-benar mengajukan perceraian dan bagaimana sebaiknya urusan rumah, rekening bersama, serta studionya dicatat agar tidak berubah menjadi kekacauan.

Dia memintaku menyimpan salinan buku nikah, dokumen keuangan, bukti kepemilikan aset yang memang terkait denganku, dan tidak menandatangani apa pun dalam keadaan emosional.

Sederhana.

Justru kesederhanaan itu membuat keputusanku terasa nyata.

Sekitar pukul empat sore, Arga datang ke studio.

Aku tidak memintanya masuk ke ruang kerja.

Kami bicara di ruang pertemuan kecil.

Dia duduk di seberangku.

“Aku minta maaf sudah bohong soal siapa yang ada di hotel.”

Akhirnya.

Satu permintaan maaf.

Tetapi terlambat beberapa jam, setelah seluruh keluarganya gagal membuatku mundur.

“Kenapa bohong?”

“Aku tahu kamu akan keberatan kalau tahu aku sama Vania.”

“Berarti kamu tahu itu melewati batas.”

“Nggak seperti itu.”

Dia menunduk.

“Papa beberapa bulan ini sering kontrol. Vania banyak bantu Mama. Kami jadi sering komunikasi.”

“Aku tahu dia membantu Papa.”

“Bukan itu yang kutanyakan.”

Arga mengembuskan napas panjang.

“Dia teman lama. Aku nyaman cerita sama dia.”

Tentang itu aku belum tahu.

“Kamu cerita apa?”

“Macam-macam.”

“Pekerjaan.”

“Keluarga.”

“Termasuk aku?”

Dia tidak segera menjawab.

Aku sudah mendapatkan jawabannya lagi.

Ponselku bergetar di meja.

Pesan WhatsApp masuk dari Vania.

Aku sempat ingin mengabaikannya.

Kemudian kulihat dua baris pertama.

【Kak Nadia, aku tidak mau terus jadi alasan kalian bertengkar.】

【Tapi Arga sudah lama cerita kalau pernikahan kalian memang sedang tidak baik-baik saja.】

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu mengangkat kepala.

“Katamu, pernikahan kita sedang tidak baik-baik saja?”

Wajah Arga berubah.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Arga menatap layar ponselku dari seberang meja.

Untuk beberapa detik, dia tidak bicara.

Aku memutar ponsel agar dia bisa membaca seluruh pesan Vania.

Tidak panjang.

Vania mengatakan bahwa dia tidak pernah berniat merusak rumah tangga kami. Menurutnya, selama beberapa bulan terakhir Arga sering bercerita bahwa kami semakin jauh, bahwa aku lebih banyak memikirkan studio daripada keluarga, dan bahwa hubungan kami “tinggal berjalan karena kebiasaan”.

Kalimat terakhir itulah yang paling lama kupandangi.

Tinggal berjalan karena kebiasaan.

Aku meletakkan ponsel.

“Kapan kamu mulai merasa seperti itu?”

“Nadia…”

“Jangan jawab dengan namaku.”

Aku tidak meninggikan suara.

“Aku cuma ingin tahu kapan suamiku memutuskan pernikahan kami buruk, lalu menceritakannya kepada perempuan yang berkali-kali kubilang membuatku tidak nyaman.”

Arga menyandarkan tubuh.

“Aku nggak pernah bilang pernikahan kita buruk.”

Aku mendorong ponsel sedikit ke arahnya.

“Vania bohong?”

“Dia menyederhanakan.”

“Kalau begitu jelaskan yang lengkap.”

Arga mengusap tengkuk.

“Beberapa bulan terakhir aku merasa kita memang jauh.”

“Kenapa tidak bicara kepadaku?”

“Aku pernah.”

“Kapan?”

“Kamu sering pulang malam.”

“Aku tanya kapan.”

Dia terdiam.

Aku mengingat enam bulan terakhir.

Memang studio sedang sibuk. Ada dua proyek besar yang jadwalnya bertabrakan. Beberapa kali aku pulang pukul sembilan malam.

Tetapi aku selalu memberi tahu Arga.

Aku juga berkali-kali bertanya apakah dia keberatan.

Jawabannya selalu sama.

“Nggak apa-apa. Fokus saja.”

Kadang dia bahkan memesankan makan untukku.

Sekarang rupanya ada versi lain dari pernikahan kami yang hidup di luar rumah.

Versi yang dibagikan kepada Vania.

“Waktu aku tanya apakah pekerjaan mengganggu kita,” kataku, “kamu bilang tidak.”

“Aku nggak mau menambah bebanmu.”

“Tapi kamu mau menambah Vania.”

Dia menatapku tajam.

“Jangan sengaja bikin semuanya terdengar kotor.”

“Aku bahkan belum bicara soal hubungan fisik.”

Aku menunjuk ponsel.

“Aku bicara soal kamu membawa keluhan tentang istrimu kepada perempuan yang batas hubungannya sudah pernah kita perdebatkan.”

Arga membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Aku melanjutkan.

“Kalau kamu cerita ke teman laki-lakimu bahwa kita sedang bermasalah, mungkin aku tetap kesal karena kamu tidak bicara kepadaku dulu.”

“Tapi Vania bukan teman yang netral.”

“Kamu tahu itu.”

“Kamu tahu aku pernah meminta kamu menjaga jarak.”

“Dan tadi malam, setelah semua cerita itu, dia mencium kamu.”

Ruangan terasa terlalu sempit.

Arga berdiri dan berjalan ke jendela.

“Aku tidak tidur dengan dia.”

Aku tidak menjawab.

Dia berbalik.

“Serius.”

“Kami tidak melakukan itu.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Dia tidur di tempat tidur.”

“Aku di sofa.”

“Setelah dia mencium kamu di lift?”

Wajah Arga mengeras.

Dia memandang meja cukup lama.

“Ada satu hal lagi.”

Dadaku tidak berdebar seperti di hotel.

Aku justru merasa sangat diam.

“Apa?”

“Di kamar dia minta maaf soal ciuman di lift.”

“Terus?”

“Kami ngomong.”

“Terus?”

Arga menarik napas.

“Dia mencium aku lagi.”

Aku tidak bergerak.

“Kali ini kamu mabuk?”

“Tidak.”

“Kamu mendorong dia?”

Dia menggeleng sangat kecil.

“Aku membalas.”

Itulah pertama kalinya Arga akhirnya mengatakan sesuatu tanpa mencari pintu keluar.

“Setelah itu aku berhenti. Aku bilang ini salah.”

“Lalu kamu tetap menginap?”

“Dia masih tidak enak badan.”

Aku tertawa pelan, bukan karena lucu.

“Lihat betapa cepatnya kamu kembali ke alasan lama.”

“Nadia, aku baru saja jujur.”

“Setelah aku datang ke hotel, mendapatkan CCTV, duduk tujuh jam di lobi, bertengkar dengan keluargamu, menemukan pesan Vania, lalu bertanya berkali-kali.”

Aku mengambil ponselku.

“Jangan sebut itu kejujuran seolah kamu memberikannya dengan sukarela.”

Arga kembali duduk.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, wajahnya tidak lagi marah.

Hanya lelah.

“Apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau mempertimbangkan lagi?”

“Aku belum tahu.”

“Jangan ajukan cerai dulu.”

“Aku juga belum mengatakan aku akan mengajukan hari ini.”

Ada sedikit harapan muncul di wajahnya.

Aku mematikannya sebelum dia salah mengerti.

“Aku bilang di hotel bahwa aku ingin cerai.”

“Keinginan itu belum berubah.”

“Aku cuma tidak akan membuat keputusan soal uang dan dokumen sambil kurang tidur.”

Arga mengangguk perlahan.

“Aku bisa tinggal di rumah Papa sementara.”

“Ya.”

Dia menatapku.

“Serius kamu menyuruh aku keluar?”

“Rumah itu bukan cuma tempat tidur.”

“Kalau kita tinggal di bawah atap yang sama sementara aku mencoba memahami semuanya, setiap percakapan akan berubah jadi tekanan.”

Aku membuka pintu ruang pertemuan.

“Ambil pakaianmu secukupnya malam ini.”

“Nadia.”

Aku berhenti.

“Aku nggak mau kehilangan kamu karena Vania.”

Kalimat itu mungkin seharusnya terdengar romantis.

Bagiku justru aneh.

“Kalau kamu tidak mau kehilangan aku,” kataku, “seharusnya aku yang kamujak bicara saat kamu merasa pernikahan kita bermasalah.”

Bukan Vania.

Aku tidak mengucapkan bagian terakhir.

Dia sudah tahu.

Malam itu Arga mengambil dua koper dari rumah.

Aku berada di ruang keluarga saat dia memasukkan pakaian.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada barang pecah.

Dia bahkan beberapa kali berhenti seperti hendak mengatakan sesuatu.

Aku tidak membantunya mengepak.

Ketika dia selesai, dia meletakkan kunci rumah di meja.

“Aku masih boleh masuk kalau perlu barang?”

“Hubungi aku dulu.”

Tatapannya turun ke kunci.

Dulu dia bisa pulang kapan saja.

Sekarang dia harus meminta izin.

Perubahan kecil, tetapi nyata.

Setelah mobilnya pergi, aku mengganti kode kunci digital pintu.

Bukan untuk menghukumnya.

Aku hanya tidak ingin orang yang sedang berpisah tempat tinggal masuk tanpa sepengetahuanku.

Keesokan paginya, Ibu Ratna menelepon sebelas kali.

Aku tidak mengangkat.

Siang hari dia mengirim pesan.

【Nadia, Arga pulang ke sini dengan dua koper. Kamu puas sekarang?】

Aku membaca tanpa membalas.

Lima menit kemudian datang pesan berikutnya.

【Masalah rumah tangga jangan dibawa ke pekerjaan. Kamu harus mengirim klarifikasi ke grup Arga supaya atasannya tahu tidak ada perselingkuhan.】

Aku menatap kalimat itu cukup lama.

Aku memang menyesali satu hal.

Mengirim foto ke grup kerja Arga adalah keputusan spontan yang tidak menyelesaikan apa pun.

Aku marah, lelah, dan ingin semua orang melihat bahwa aku tidak berhalusinasi.

Tapi tempat kerja bukan ruang sidang pernikahanku.

Sore itu aku mengirim satu pesan singkat ke grup tersebut.

【Maaf karena kemarin saya membawa persoalan pribadi ke grup ini. Masalah keluarga kami sedang kami tangani sendiri, dan saya tidak akan membahasnya lebih lanjut di sini.】

Tidak ada penarikan fakta.

Tidak ada cerita bahwa semuanya hanya salah paham.

Tidak ada permintaan agar orang membela aku.

Setelah mengirimnya, aku keluar dari grup.

Kepada grup keluarga, aku tidak menulis apa pun.

Malam berikutnya Pak Surya yang menelepon.

Aku hampir tidak mengangkat, tetapi akhirnya menjawab.

“Nadia.”

Nada bicaranya berbeda dari sehari sebelumnya.

Lebih pelan.

“Papa dengar Arga sudah cerita soal ciuman itu.”

Aku diam.

“Papa tidak tahu sebelumnya.”

“Baik.”

“Vania juga tadi datang.”

Aku menunggu.

“Dia bilang akan menjaga jarak dulu.”

Aku menutup mata sebentar.

Kalimat “menjaga jarak dulu” terasa terlambat, tetapi setidaknya Pak Surya tidak lagi meminta aku minta maaf.

“Nadia,” katanya, “Papa tetap berharap kalian tidak buru-buru.”

“Saya juga tidak buru-buru, Pa.”

“Lalu kenapa Arga harus keluar rumah?”

“Supaya saya bisa berpikir tanpa setiap hari diminta memaafkan sebelum saya selesai memahami apa yang harus dimaafkan.”

Dia diam cukup lama.

“Apa Papa boleh bertanya sesuatu?”

“Silakan.”

“Kalau Arga benar-benar berubah, masih ada kemungkinan?”

Aku melihat meja makan.

Kursi Arga kosong.

Aku tidak tahu.

Dan untuk pertama kalinya aku tidak merasa wajib memberikan jawaban yang menenangkan keluarga suamiku.

“Saya belum bisa menjawab.”

“Baik.”

Sebelum menutup telepon, Pak Surya berkata, “Soal kemarin, Papa terlalu memikirkan omongan orang.”

Itu bukan permintaan maaf yang sempurna.

Tetapi setidaknya dia mengakui apa yang sebenarnya terjadi.

Ibu Ratna membutuhkan waktu lebih lama.

Tiga hari kemudian, dia datang ke studio tanpa membuat janji.

Resepsionis memberitahuku sebelum mengizinkannya masuk.

Aku meminta agar kami bertemu di ruang tamu depan, bukan ruang kerjaku.

Ibu Ratna duduk dengan tas di pangkuan.

“Akhir-akhir ini kamu jadi sulit sekali ditemui.”

“Saya bekerja, Bu.”

“Dulu kalau Mama datang…”

“Dulu kita tidak sedang dalam masalah seperti sekarang.”

Dia langsung terdiam.

Aku duduk di seberangnya.

“Nadia, Mama tidak datang untuk bertengkar.”

“Baik.”

“Mama cuma ingin kamu berpikir panjang.”

“Saya sedang melakukannya.”

“Arga tidak pernah punya perempuan lain.”

“Vania bukan orang lain bagi keluarga kita.”

Aku menatapnya.

“Mungkin justru itu masalahnya.”

Ibu Ratna mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

“Semua orang terlalu terbiasa menganggap Vania keluarga sampai lupa dia tetap perempuan lain dalam pernikahan saya.”

Wajah Ibu Ratna mengeras.

“Kamu masih saja mencurigai.”

“Saya tidak sedang membicarakan dugaan.”

“Dia mencium Arga dua kali. Yang kedua dibalas.”

Ibu Ratna terdiam.

Aku tahu Arga mungkin belum menceritakan bagian kedua.

“Arga sendiri yang bilang.”

Tangannya bergerak di atas tas.

“Mungkin anak itu khilaf.”

“Bisa jadi.”

“Mungkin cuma sekali.”

“Dua kali.”

“Maksud Mama…”

Aku mengangkat tangan pelan.

“Saya tahu maksud Ibu.”

“Ibu ingin memastikan ada penjelasan yang membuat saya bisa pulang ke keadaan semula.”

“Tapi saya tidak hidup di dalam penjelasan Ibu.”

“Saya yang harus tidur di sebelah Arga setelah ini.”

“Saya yang nanti mendengar ponselnya berbunyi dan bertanya dia sedang bicara dengan siapa.”

“Saya yang harus memutuskan apakah setiap kali dia terlambat saya bisa percaya.”

Ibu Ratna tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya sejak aku menikah dengan Arga, kami duduk berhadapan tanpa dia bisa menyelesaikan ketidaknyamanannya dengan satu kalimat, “demi keluarga”.

Kemudian dia berkata, “Kalau kamu cerai, semua orang akan kena dampaknya.”

“Tentu.”

“Arga.”

“Ibu dan Papa.”

“Vania.”

“Orang tuamu.”

“Studio kamu juga bisa kena omongan.”

Aku mengangguk.

“Itu sebabnya saya tidak membuat keputusan berdasarkan omongan orang.”

“Kalau begitu berdasarkan apa?”

“Berdasarkan apakah saya masih bisa hidup dengan suami saya tanpa berubah menjadi orang yang setiap hari memeriksa telepon dan lokasinya.”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan.

“Saya tidak mau menjadi istri seperti itu.”

“Dan saya juga tidak mau menyuruh Arga hidup bertahun-tahun dengan istri yang sudah tidak percaya padanya.”

Ibu Ratna menatapku.

“Jadi kamu sudah tidak mencintai dia?”

Pertanyaan itu akhirnya menyentuh bagian yang selama beberapa hari sengaja kuhindari.

“Ada perbedaan antara masih mencintai seseorang dan masih bisa menikah dengannya.”

Matanya berubah.

Kali ini dia tidak punya jawaban cepat.

Sebelum pulang, Ibu Ratna berkata, “Mama tetap tidak setuju kalian cerai.”

“Saya tahu.”

“Tapi Mama tidak akan datang ke kantor lagi.”

“Terima kasih.”

Dia berdiri.

Di pintu dia berhenti.

“Nadia.”

Aku menoleh.

“Studio ini memang kamu yang bangun sendiri?”

Pertanyaan itu membuatku nyaris tersenyum.

“Maksud Ibu?”

“Arga dulu bilang pernah membantu modal.”

“Dia membantu Rp40 juta ketika ada proyek yang pembayarannya terlambat.”

Aku membuka laci meja kecil dan mengambil salinan catatan transfer yang sudah kusiapkan untuk advokat.

“Dua bulan kemudian saya kembalikan penuh.”

Ibu Ratna melihat kertas itu.

Wajahnya sedikit berubah.

Mungkin selama bertahun-tahun dia benar-benar percaya versi bahwa anaknya menopang hidupku.

Aku tidak menyodorkan dokumen itu untuk mempermalukannya.

Aku hanya meletakkannya kembali.

“Saya tidak bilang Arga tidak pernah membantu saya.”

“Kami suami istri. Kami memang saling membantu.”

“Tapi bantuan tidak berarti salah satu orang kemudian memiliki hidup orang lainnya.”

Ibu Ratna pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Seminggu setelah malam hotel, aku dan Arga bertemu lagi.

Bukan di rumah orang tuanya.

Bukan di rumah kami.

Kami memilih sebuah kafe yang sepi pada sore hari.

Arga terlihat lebih kurus.

Aku tidak tahu apakah itu karena stres atau karena selama seminggu Ibu Ratna terus memasak makanan yang tidak dia sukai.

Dulu aku mungkin akan bertanya.

Sekarang aku hanya menunggu.

“Aku sudah menghentikan komunikasi pribadi dengan Vania,” katanya.

“Kalau soal Papa, Mama yang urus.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

“Aku juga bicara langsung dengan Vania.”

“Aku bilang apa yang kami lakukan salah.”

Aku mengaduk teh.

“Apa dia setuju?”

“Iya.”

“Kamu tidak perlu melaporkan setiap percakapan kalian kepadaku.”

Arga tampak bingung.

“Aku kira kamu perlu tahu.”

“Yang perlu aku tahu adalah apakah kamu memahami masalahnya.”

“Aku paham.”

“Coba jelaskan.”

Dia tersenyum pahit.

“Ini ujian?”

“Bukan.”

“Aku sudah tiga tahun mendengar kamu mengatakan aku terlalu sensitif soal Vania.”

“Aku ingin tahu apa yang sekarang kamu pahami.”

Arga melihat ke luar jendela.

“Aku membuat hubungan dengan Vania punya ruang yang seharusnya menjadi ruang kita.”

Aku tidak bergerak.

Dia melanjutkan.

“Waktu aku kesal sama kamu, aku cerita ke dia.”

“Waktu kamu protes karena kami terlalu dekat, aku malah cerita protesmu ke dia.”

“Jadi setiap kali kamu bilang tidak nyaman, aku dan dia justru punya bahan baru untuk merasa kamu tidak mengerti persahabatan kami.”

Aku belum pernah mendengarnya bicara seterang itu.

“Aku pikir karena kami sudah kenal dari kecil, semuanya otomatis aman.”

“Padahal bukan asal hubungan itu yang menentukan batas.”

“Yang menentukan adalah apa yang kami lakukan setelah aku menikah.”

Aku menurunkan sendok.

“Terus kenapa malam itu kamu bohong?”

“Karena aku tahu kalau aku bilang Vania ikut, kamu akan tidak suka.”

“Nah.”

Dia mengangguk.

“Dan sekarang aku sadar itu artinya sebenarnya aku sudah tahu ada masalah.”

“Aku cuma lebih mudah menyalahkan reaksimu daripada mengubah caraku.”

Kami diam.

Di luar, orang-orang lewat membawa tas belanja dan payung.

Tidak ada musik dramatis.

Tidak ada satu kalimat yang bisa memperbaiki semuanya.

Arga berkata, “Aku mulai konseling sendiri.”

Aku menatapnya.

“Aku nggak bilang supaya kamu terkesan.”

“Aku cuma… selama ini aku pikir aku pria yang baik karena aku nggak pernah selingkuh.”

Dia menghela napas.

“Ternyata aku pakai definisi yang sempit banget untuk membela diri.”

Aku mengangguk.

Itu memang benar.

Dia menatapku.

“Masih ada kesempatan?”

Aku tidak langsung menjawab.

Selama seminggu, aku sudah memikirkan pertanyaan itu hampir setiap malam.

Aku membayangkan Arga kembali ke rumah.

Aku membayangkan ponselnya berbunyi.

Aku membayangkan dia pergi makan malam dengan teman.

Aku membayangkan diriku bertanya siapa saja yang hadir, jam berapa pulang, apakah Vania ada di sana.

Lalu aku membayangkan aku membuka lokasi ponselnya bukan karena ingin tahu apakah dia sudah hampir sampai rumah, melainkan untuk memastikan dia tidak berbohong.

Aku tidak menyukai perempuan yang kulihat dalam bayangan itu.

Bukan karena dia lemah.

Karena dia lelah.

“Aku percaya kamu mungkin bisa berubah,” kataku.

Harapan muncul di wajahnya.

“Tapi?”

“Aku tidak tahu apakah perubahanmu akan membuat kepercayaanku kembali.”

“Nadia, beri aku waktu.”

“Waktu bukan masalahnya.”

“Aku bisa menunggu enam bulan.”

“Setahun.”

“Tapi selama aku menunggu, apa yang harus kulakukan setiap kali aku ragu?”

Dia terdiam.

“Aku tidak mau menjadi petugas keamanan dalam pernikahanku sendiri.”

Arga menunduk.

“Aku bisa kasih akses ponsel.”

“Aku tidak mau.”

“Lokasi selalu aktif.”

“Aku juga tidak mau.”

“Terus apa yang bisa aku lakukan?”

Pertanyaan itu terdengar putus asa.

Aku menatapnya.

“Mungkin tidak semua kesalahan punya cara untuk dikembalikan ke keadaan sebelum kesalahan itu terjadi.”

Wajahnya pelan-pelan berubah.

Aku melanjutkan sebelum keberanianku hilang.

“Aku akan melanjutkan proses perceraian.”

Arga tidak bicara.

Tangannya yang berada di atas meja mengepal.

Beberapa detik kemudian dia bertanya, “Jadi semua yang aku lakukan minggu ini tidak ada artinya?”

“Ada.”

“Kalau perubahanmu sungguh-sungguh, itu akan berarti untuk hidupmu setelah ini.”

“Dan untuk hubunganmu dengan siapa pun nanti.”

Dia tertawa hambar.

“Hebat.”

“Aku memperbaiki diri supaya perempuan berikutnya dapat versi terbaikku?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Terdengar begitu.”

Aku membiarkan kemarahannya lewat.

Dia berhak kecewa.

Aku juga tidak perlu mengubah keputusan hanya supaya dia tidak kecewa.

Setelah beberapa saat, Arga bertanya lebih pelan, “Apa kamu benar-benar sudah selesai?”

Aku memikirkan tiga tahun kami.

Tidak semuanya buruk.

Ada pagi ketika dia membuat kopi karena aku lembur semalaman.

Ada hari ketika dia duduk menungguku di rumah sakit saat ibuku operasi.

Ada perjalanan pendek ke Yogyakarta yang sampai sekarang masih kusimpan fotonya.

Ada tawa.

Ada kebiasaan kecil.

Ada bagian dari hidupku yang benar-benar dibangun bersamanya.

Itulah yang membuat keputusan ini menyakitkan.

Kalau semuanya buruk, meninggalkan pernikahan jauh lebih mudah.

“Aku tidak menyesal pernah menikah denganmu,” kataku.

Mata Arga memerah.

“Tapi aku juga tidak ingin menggunakan kenangan baik sebagai alasan untuk bertahan di sesuatu yang sekarang tidak bisa kujalani dengan tenang.”

Dia menutup wajah dengan kedua tangan sebentar.

Ketika membukanya lagi, dia berkata, “Aku benci keputusanmu.”

“Aku tahu.”

“Tapi aku tahu kenapa kamu mengambilnya.”

Itu percakapan terakhir kami sebagai pasangan yang masih mencoba menentukan apakah pernikahan bisa diselamatkan.

Setelah itu, kami mulai membicarakan hal-hal yang jauh kurang dramatis, tetapi justru menentukan kehidupan sebenarnya.

Dokumen.

Barang pribadi.

Rekening.

Pembayaran rumah.

Kendaraan.

Barang yang kami beli bersama.

Aku tidak mengambil semuanya.

Arga juga tidak.

Kami mencatat mana yang harus dibicarakan dalam proses resmi dan mana yang bisa disepakati tanpa memperpanjang konflik.

Studio tetap kujalankan seperti biasa.

Arga tidak pernah tercatat sebagai pemilik dan tidak mencoba mengganggu operasionalnya.

Rekening bersama kami pertahankan sementara hanya untuk kewajiban yang memang masih berjalan, dengan setiap transaksi dicatat.

Penghasilan masing-masing tidak lagi masuk ke sana.

Aku juga meminta staf studionya untuk tidak membicarakan perceraian kami kepada klien.

Tidak ada gunanya mengubah masalah keluarga menjadi kampanye untuk menentukan siapa orang baik dan siapa orang jahat.

Vania mengirim satu pesan terakhir beberapa hari kemudian.

Dia tidak meminta aku memaafkannya.

Tidak juga membela diri panjang.

【Kak Nadia, aku sudah terlalu lama menerima kedekatan yang seharusnya aku hentikan sendiri. Aku minta maaf. Aku tidak akan menghubungi Arga lagi selain jika benar-benar ada urusan keluarga yang tidak bisa dihindari.】

Aku membacanya.

Lalu menjawab dua kata.

【Saya mengerti.】

Bukan “aku memaafkan”.

Bukan pula “aku membencimu”.

Aku memang belum tahu perasaanku terhadapnya.

Setidaknya aku tidak lagi perlu menghabiskan energi menentukan apakah air matanya tulus.

Itu bukan tugasku.

Sebulan kemudian proses perceraian kami masih berjalan.

Tidak ada kejadian besar.

Arga tidak tiba-tiba kehilangan pekerjaan.

Vania tidak dihukum kehidupan dengan cara spektakuler.

Ibu Ratna juga tidak datang bersujud meminta maaf.

Kenyataannya jauh lebih biasa.

Dan mungkin justru karena itu lebih berat.

Arga tetap bekerja.

Dia datang ketika ada dokumen yang perlu dibicarakan.

Sesekali dia masih mencoba mengingatkan tentang sesuatu yang dulu kami lakukan bersama, lalu berhenti sendiri.

Ibu Ratna berhenti menelepon setiap hari.

Suatu sore dia mengirim makanan melalui kurir tanpa pesan apa pun.

Aku tidak tahu apakah itu bentuk damai atau hanya kebiasaan seorang ibu yang masih belum menerima bahwa menantunya akan menjadi mantan menantu.

Pak Surya mengirim pesan setiap beberapa minggu menanyakan apakah aku sehat.

Aku selalu menjawab sopan.

Hubungan kami berubah.

Tidak putus sepenuhnya.

Tetapi tidak lagi seperti dulu.

Dua bulan kemudian, aku bertemu Arga untuk menyerahkan beberapa dokumen.

Dia tampak lebih tenang.

“Papa tanya kamu,” katanya.

“Beliau sehat?”

“Lumayan.”

Aku mengangguk.

Arga memasukkan dokumen ke map.

Sebelum pergi, dia berkata, “Aku masih konseling.”

Aku menatapnya.

“Bagus.”

“Aku baru sadar ada banyak hal yang dulu kupikir normal.”

“Contohnya?”

“Waktu Mama membela aku, aku merasa itu memang tugas keluarga.”

“Sekarang aku lihat sebenarnya selama ini aku sering membiarkan kamu sendirian menghadapi mereka.”

Aku tidak menjawab.

Dia tersenyum kecil.

“Tenang. Aku tidak sedang meminta kesempatan lagi.”

Aku sedikit terkejut.

“Aku cuma ingin bilang… sekarang aku mengerti kenapa pagi itu di rumah Papa kamu kelihatan seperti tidak mengenal aku.”

Aku mengingat tatapannya saat dia memegang tangan Vania dan memintanya duduk.

“Aku juga waktu itu merasa tidak mengenalmu.”

“Ya.”

Dia melihat cincin yang sudah tidak ada di jariku.

“Aku dulu benar-benar yakin kamu tidak akan pergi.”

“Kenapa?”

“Karena kamu selalu berusaha memperbaiki semuanya.”

Aku menatapnya cukup lama.

“Itu bukan jaminan seseorang akan terus bertahan.”

“Aku tahu sekarang.”

Tidak ada kemenangan dalam percakapan itu.

Aneh, tapi aku merasa lega.

Bukan karena Arga menyesal.

Bukan karena akhirnya dia mengakui kesalahannya.

Melainkan karena kami bisa berbicara tanpa ada lagi usaha memaksa orang lain kembali menjadi versi lama.

Beberapa bulan kemudian aku pindah dari rumah yang dulu kami tinggali bersama.

Bukan karena rumah itu penuh kenangan buruk.

Justru terlalu banyak kenangan baik bercampur dengan satu malam yang mengubah cara pandangku.

Aku memilih menyewa apartemen kecil lebih dekat ke studio sementara urusan aset kami diselesaikan.

Tidak mewah.

Ruang tamunya bahkan lebih sempit daripada ruang makan rumah lama.

Pada minggu pertama, aku masih beberapa kali mengambil dua cangkir ketika hendak membuat kopi.

Kemudian menyadari hanya ada satu orang.

Aku tidak menangis setiap kali itu terjadi.

Kadang aku hanya mengembalikan satu cangkir ke rak.

Hari-hariku kembali biasa.

Bangun.

Bekerja.

Bertemu klien.

Memeriksa gambar.

Pulang.

Makan malam.

Sesekali ibuku datang.

Kadang teman lama mengajakku keluar.

Aku tidak tiba-tiba merasa bebas luar biasa.

Ada hari ketika aku merindukan Arga.

Ada malam ketika aku hampir membuka percakapan lama kami.

Aku tidak malu mengakuinya kepada diriku sendiri.

Seseorang tidak berhenti penting hanya karena kita memutuskan tidak bisa lagi hidup bersamanya.

Yang berubah adalah apa yang kita lakukan dengan perasaan itu.

Aku tidak kembali.

Enam bulan setelah malam di Hotel Cendana Grand, aku datang ke sana lagi.

Bukan untuk Arga.

Studio kami mendapat proyek kecil memperbarui sebuah ruang pertemuan.

Manajer yang dulu menemaniku ke ruang CCTV masih bekerja di sana.

Dia mengenaliku.

“Bu Nadia.”

“Sudah lama.”

Aku tersenyum.

“Iya.”

Tatapannya sebentar turun ke tanganku yang tidak lagi memakai cincin, tetapi dia cukup sopan untuk tidak bertanya.

Kami membicarakan pekerjaan.

Ukuran ruangan.

Material.

Anggaran.

Jadwal pengerjaan.

Hal-hal biasa.

Ketika pertemuan selesai, aku berjalan melewati lobi.

Sofa tempat aku menunggu semalaman masih berada di tempat yang hampir sama.

Aku sempat berhenti.

Dulu aku duduk di sana sambil menunggu satu jawaban.

Kupikir jawabannya adalah apakah suamiku tidur dengan perempuan lain.

Ternyata pertanyaan sebenarnya jauh lebih besar.

Apakah aku bisa menerima pernikahan di mana pasanganku berbohong karena merasa reaksiku lebih merepotkan daripada tindakannya sendiri?

Apakah aku bisa hidup dengan keluarga yang pertama-tama mempertanyakan caraku membongkar kebohongan, bukan kebohongan itu sendiri?

Dan setelah semua orang berhenti berteriak, apakah aku masih ingin kembali?

Sekarang aku sudah tahu jawabannya.

Aku keluar dari hotel.

Hujan tidak turun.

Di parkiran aku membuka mobil, lalu ponselku berbunyi.

Pesan dari Arga.

【Dokumen yang kemarin sudah kutandatangani. Besok kukirim lewat kurir.】

Tidak ada “sayang”.

Tidak ada “kamu sudah makan?”

Tidak ada upaya membuka percakapan lama.

Aku membalas.

【Baik. Terima kasih.】

Lalu aku memasukkan ponsel ke tas.

Malam itu di apartemen, sebelum tidur, aku memeriksa pintu depan seperti biasa.

Kode kunci yang sekarang hanya diketahui aku dan satu anggota keluargaku menyala sebentar di bawah jariku.

Aku masuk.

Pintu tertutup.

Kali ini aku sendiri yang menguncinya.

Menurutmu, apakah Nadia tepat memilih bercerai meski Arga akhirnya mengaku salah dan mulai berubah?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.