Sembilan Tahun Setelah Kami Bercerai, Aku Bertemu Mantan Istriku dan Tiga Anak Lelaki yang Memanggilku “Om”
Bagian 1
“Selamat malam, Om.”
Tiga anak laki-laki berdiri di depanku dan mengucapkannya hampir bersamaan.
Aku tidak langsung menjawab.
Mereka sebaya, mengenakan seragam sekolah yang sama, membawa tas dengan model serupa, dan memiliki wajah yang begitu mirip sehingga siapa pun akan tahu mereka kembar tiga.
Lalu aku melihat perempuan yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka.
Ratih Wulandari.
Mantan istriku.
Perempuan yang terakhir kulihat tepat sembilan tahun lalu.
Tanganku yang terbiasa menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah tiba-tiba gemetar.
Karena satu perhitungan sederhana mulai bergerak sendiri di kepalaku.
Kami bercerai sembilan tahun lalu.
Kalau ketiga anak itu berusia sekitar delapan tahun, berarti saat Ratih mengandung mereka, ada kemungkinan kami masih menjadi suami istri.
Malam itu seharusnya hanya menjadi jamuan bisnis biasa di sebuah hotel bintang lima di Surabaya.
Aku datang sebagai Direktur Utama PT Arunika Energi Nusantara, perusahaan komponen penyimpanan energi yang baru beberapa tahun sebelumnya mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia.
Orang-orang bergantian menyalamiku.
“Pak Hendra, selamat untuk kontrak barunya.”
“Ekspansi pabriknya jadi tahun ini?”
“Kapan-kapan kami mau belajar dari Arunika.”
Aku tersenyum, menjawab seperlunya.
Sembilan tahun lalu aku bukan siapa-siapa.
Aku hanya Hendra Pratama, teknisi dengan gaji sekitar Rp5 juta sebulan yang terlalu berani bermimpi membangun perusahaan sendiri.
Lalu di sudut ballroom aku melihat seorang pelayan membawa baki berisi gelas.
Aku hanya perlu satu pandangan.
Ratih tampak jauh lebih kurus dibandingkan perempuan dalam ingatanku. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya terlihat lelah. Di balik seragam hotel, tampak ujung kardigan abu-abu yang warnanya sudah memudar.
Aku pernah membayangkan pertemuan kami kembali.
Kupikir mungkin dia sudah menikah lagi.
Punya rumah sendiri.
Punya suami yang lebih pandai melindunginya daripada aku.
Aku bahkan berharap begitu.
Yang tak pernah kubayangkan adalah melihatnya bekerja membawa baki di tempat orang-orang memanggilku Pak Direktur.
Lalu muncul tiga anak laki-laki itu.
Dan seluruh masa lalu yang selama ini kupaksa diam tiba-tiba bangun lagi.
Aku mengenal Ratih tak lama setelah kami selesai kuliah.
Pernikahan kami sederhana sekali.
Tidak ada gedung.
Tidak ada gaun mahal.
Kami hanya mengurus semuanya sesuai kemampuan, mengundang keluarga terdekat, lalu memulai hidup di kamar kontrakan sekitar dua belas meter persegi di Surabaya.
Kalau kasur sudah digelar, ruang untuk berjalan tinggal sedikit.
Dapur sempit.
Kamar mandi di belakang.
Saat hujan deras, ada bagian jendela yang harus kami ganjal dengan kain.
Tapi setiap aku pulang lembur, lampu kamar selalu menyala.
Ratih biasanya menoleh dari dapur.
“Sudah pulang?”
Cuma itu.
Namun selama bertahun-tahun, kalimat sederhana itu adalah pengertian paling dekat yang kupunya tentang rumah.
Dia bekerja sebagai asisten peneliti di sebuah lembaga riset bahan industri. Gajinya tidak jauh berbeda denganku.
Kami menghitung semua pengeluaran.
Kontrakan.
Listrik.
Makan.
Transportasi.
Sesekali makan di luar saja harus melihat sisa saldo.
Suatu malam aku berkata kepadanya, “Nanti aku belikan rumah yang lebih besar.”
Ratih tertawa.
“Buat apa besar-besar?”
“Biar kamu tidak terus tinggal sesempit ini.”
Dia menatapku sebentar.
“Aku cuma mau kamu sehat dan pulang dengan selamat.”
Tiga tahun setelah menikah, aku memutuskan keluar dari pekerjaan.
Industri baterai dan sistem penyimpanan energi mulai berkembang. Aku melihat peluang yang rasanya tidak akan datang dua kali.
Ratih mendengarkan seluruh penjelasanku.
Besok paginya dia meletakkan kartu ATM di meja.
“Ambil.”
“Apa ini?”
“Tabungan kita.”
Jumlahnya Rp85 juta.
Semua uang yang berhasil kami kumpulkan selama bertahun-tahun.
Aku langsung menolaknya.
“Kalau gagal?”
“Ya cari lagi.”
“Ratih, ini semua yang kita punya.”
Dia mendorong kartu itu kembali.
“Kalau memang ini yang mau kamu kerjakan, coba.”
Aku masih diam.
Ratih tersenyum kecil.
“Kalau habis, paling kita miskin lagi. Memangnya sekarang kita kaya?”
Aku memeluknya lama sekali hari itu.
Dengan uang itulah aku menyewa bengkel kecil di kawasan industri Sidoarjo dan membeli beberapa peralatan bekas.
Enam bulan pertama hampir menghancurkanku.
Produk jadi, tapi tak ada yang percaya.
Aku keliling membawa contoh.
Sebagian calon pembeli menolak sebelum melihat.
Ada yang berkata, “Kalau perusahaan Bapak tutup enam bulan lagi, siapa yang tanggung garansinya?”
Mereka tidak salah.
Rp85 juta habis.
Aku mulai berutang kepada pemasok.
Ratih tidak pernah menyalahkanku.
Senin sampai Jumat dia bekerja.
Malam hari dia membantu administrasi.
Akhir pekan dia menemaniku mendatangi calon pelanggan meski berbicara dengan orang asing bukan keahliannya.
Dia menghafal spesifikasi produk agar bisa membantuku menjelaskan.
Aku pikir cobaan terbesar kami adalah uang.
Ternyata bukan.
Yang paling lama melukai Ratih adalah ibuku sendiri.
Ibuku, Sulastri, tidak pernah benar-benar menyukai Ratih.
Menurut Ibu, anak laki-lakinya selalu pantas mendapat lebih baik, meskipun anak laki-lakinya sendiri waktu itu tinggal di kontrakan sempit dan punya utang.
Ketika tiga tahun pernikahan kami belum menghasilkan anak, ucapan Ibu semakin kasar.
“Sekolah tinggi-tinggi buat apa kalau rumah saja kosong?”
Kadang lebih buruk.
Ratih jarang menceritakannya kepadaku.
Aku tahu mereka tidak akur, tapi aku selalu menganggapnya persoalan yang masih bisa ditunda.
Saat perusahaan sedang hampir bangkrut, pikiranku penuh dengan pesanan, utang, dan biaya produksi.
Aku berkata pada diri sendiri:
Sebentar lagi.
Kalau perusahaan mulai stabil, aku akan membawa Ratih pindah jauh dari Ibu.
Masalahnya, Ratih sudah terlalu lama menunggu “sebentar lagi”.
Ibu memintanya berhenti bekerja.
Ratih menolak.
Kemudian Ibu meminta kartu ATM tempat gajinya masuk.
Ratih menolak lagi.
“Kalau sudah menikah, kenapa uang masih kamu pegang sendiri?” kata Ibu.
Ratih menjawab, “Karena itu penghasilanku, Bu. Kebutuhan rumah tetap saya bayar.”
Bagi Ibu, jawaban itu dianggap pembangkangan.
Puncaknya terjadi saat aku pergi ke luar kota mencari calon pembeli.
Ibu mengusir Ratih dari rumah.
Ratih tidak meneleponku.
Ketika aku pulang, dia sudah duduk di meja dengan mata bengkak dan berkas perceraian yang kemudian kami gunakan dalam proses resmi.
“Hendra,” katanya.
“Kita berpisah saja.”
Aku panik.
Aku menjanjikan rumah terpisah.
Aku berjanji bicara dengan Ibu.
Aku meminta satu kesempatan.
Ratih hanya menggeleng.
“Aku sudah terlalu capek.”
Dia tidak mau kehilangan pekerjaannya.
Tidak mau menyerahkan seluruh penghasilannya.
Tidak mau setiap pulang harus bertanya-tanya apakah suatu hari Ibu akan kembali menunjuk pintu dan menyuruhnya pergi.
Aku ingin mengatakan bahwa aku bisa memperbaiki semuanya.
Tapi aku tahu dia sudah mendengar janji itu dalam berbagai bentuk selama tiga tahun.
Pada akhirnya aku menandatangani berkas.
Setelah proses perceraian selesai dan pencatatannya diurus, kami berpisah tanpa harta berarti untuk diperebutkan.
Perusahaanku saat itu bahkan lebih dekat kepada utang daripada keuntungan.
Ratih pergi.
Aku tidak mengejarnya.
Itu menjadi keputusan yang terus menghantuiku.
Setelah perceraian, aku hampir tinggal di bengkel.
Aku bekerja sampai tertidur di kursi.
Kemudian datang pesanan pertama.
Kecil sekali.
Disusul pesanan kedua.
Lalu pelanggan mulai merekomendasikan produk kami.
Bengkel kecil itu tumbuh menjadi pabrik.
Pabrik menjadi perusahaan.
Sembilan tahun kemudian, Arunika memiliki beberapa fasilitas produksi, ribuan karyawan, dan nilai perusahaan yang tidak pernah berani kubayangkan ketika masih menghitung uang kontrakan bersama Ratih.
Aku membeli rumah besar.
Mobil bagus.
Tidak lagi mengecek harga sebelum membeli kemeja.
Tetapi ketika pulang malam dan mendengar gema langkah kakiku sendiri di rumah yang terlalu luas, kadang aku tetap teringat suara Ratih:
“Sudah pulang?”
Aku tidak pernah mencarinya.
Kupikir dia pantas memulai hidup tanpa gangguan dariku.
Sampai malam ini.
Aku meletakkan gelas dan berjalan ke arahnya.
“Ratih.”
Tangannya yang memegang baki sedikit bergerak.
Dia berbalik perlahan.
Untuk sesaat aku melihat keterkejutan di wajahnya.
Lalu hilang.
“Pak Hendra.”
Sapaan itu terasa lebih menyakitkan daripada seharusnya.
“Saya tidak menyangka bertemu Bapak di sini.”
Aku hampir tertawa mendengar kata “Bapak”, tapi tidak ada yang lucu.
“Kenapa kamu bekerja di sini?”
Ratih tidak langsung menjawab.
Karena pada saat yang sama tiga anak laki-laki tadi berjalan mendekat.
Mataku berpindah kepada mereka.
Ratih langsung menarik ketiganya lebih dekat.
“Anak-anak saya.”
Dia menunduk.
“Sapa Om.”
“Selamat malam, Om.”
Aku menatap mereka.
Tiga wajah serupa.
Tiga anak lelaki.
Sembilan tahun.
Aku mulai menghitung lagi.
Kalau Ratih mengandung setelah kami berpisah, tentu ada ayah lain.
Tapi kalau usia mereka sedikit lebih tua dari dugaanku…
Aku mengangkat kepala.
Ratih menghindari pandanganku.
Gerakan kecil itu membuat dadaku terasa semakin berat.
“Ratih.”
Dia tetap diam.
Aku menatap ketiga anak itu sekali lagi.
Aku pernah duduk menghadapi kreditor ketika perusahaanku hampir tutup.
Pernah mempertaruhkan seluruh kapasitas produksi dalam kontrak yang bisa menjatuhkan perusahaan.
Namun aku tidak pernah setakut ini untuk menanyakan sesuatu.
“Ketiga anak ini…”
Aku menelan ludah.
“Berapa umur mereka?”

Bagian 2
Ratih memandangku lama sebelum menjawab.
“Delapan tahun empat bulan.”
Aku merasa suara ballroom di belakang kami mendadak terdengar jauh.
Delapan tahun empat bulan.
Aku tidak perlu membuka kalender.
Kami bercerai sembilan tahun lalu.
Ketiga anak itu lahir sekitar delapan bulan setelah perceraian kami.
“Ratih.”
Aku berusaha menjaga suara tetap rendah.
“Kapan kamu tahu kamu hamil?”
Ketiga anak itu melihat kami bergantian.
Ratih langsung berkata, “Kita jangan bicara di sini.”
Dia meminta izin kepada supervisornya, lalu membawa kami ke koridor dekat ruang karyawan yang lebih tenang. Anak-anak duduk di bangku tidak jauh dari sana, masih dalam jarak pandangnya.
Ratih berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam.
“Delapan belas hari setelah kita berpisah.”
Aku tidak mampu menjawab.
Delapan belas hari.
Berarti saat dia duduk di hadapanku meminta perceraian, dia kemungkinan sudah hamil tanpa mengetahuinya.
“Dan kamu tidak pernah bilang.”
Ratih menunduk.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Aku takut.”
Jawaban itu membuat sesuatu dalam diriku naik.
“Takut apa? Aku ayah mereka kalau memang…”
Aku berhenti.
Belum ada kepastian.
Ratih mengangguk kecil.
“Kamu berhak marah.”
“Ini bukan soal aku berhak marah.”
Aku menunjuk ke arah bangku tempat ketiga anak itu duduk.
“Mereka delapan tahun, Ratih.”
“Aku tahu.”
“Delapan tahun aku bahkan tidak tahu mereka ada.”
Ratih menarik napas.
“Aku tahu aku salah soal itu.”
Tidak ada pembelaan besar.
Tidak ada alasan yang dibungkus agar terdengar benar.
Justru karena itu kemarahanku sulit mendapatkan tempat.
Dia menjelaskan bahwa ketika hasil pemeriksaan pertama menunjukkan kehamilan, hidupnya masih kacau.
Dia tinggal sementara dengan seorang teman.
Kontrak kerjanya tidak pasti.
Hubungan kami sudah selesai.
Dan yang paling membuatnya gentar adalah membayangkan harus kembali berhadapan dengan keluarga yang baru saja membuatnya merasa tidak punya tempat.
“Aku tidak percaya kalau saat itu aku datang membawa kabar kehamilan, keadaan akan berubah,” katanya.
“Aku takut Ibumu akan menganggap anak-anak sebagai alasan supaya aku kembali. Aku juga takut kamu akan merasa harus memilih karena rasa bersalah.”
Aku menatapnya.
“Seharusnya itu tetap menjadi pilihanku.”
“Iya.”
Ratih tidak membantah.
“Itulah bagian yang paling sering kupikirkan.”
Aku berjalan dua langkah, lalu kembali.
“Kamu tidak pernah mencoba menghubungiku?”
“Pernah.”
Dadaku menegang.
Ratih melanjutkan, “Dua kali saat aku baru tahu. Kamu tidak mengangkat. Aku menulis pesan panjang, tapi tidak kukirim.”
Aku hampir menjawab bahwa dua panggilan telepon bukan usaha yang cukup untuk menyembunyikan tiga anak selama delapan tahun.
Namun saat melihat wajahnya, aku tahu dia pun memahami itu.
“Aku pengecut,” katanya pelan. “Setelah beberapa bulan berlalu, rasanya makin sulit. Setelah satu tahun, aku malu. Setelah tiga tahun, aku merasa sudah terlambat. Begitu terus.”
Aku menatap ketiga anak lelaki itu.
Mereka berbicara pelan di bangku.
Yang duduk di tengah sedang merapikan tali sepatu saudaranya.
“Nama mereka?”
“Raka, Rafi, dan Rafa.”
Aku mengulang ketiga nama itu dalam hati.
“Kenapa kamu sampai bekerja sebagai pelayan?”
Ratih tersenyum tipis.
“Ini kerja tambahan.”
Setelah kehamilan kembar tiga yang membutuhkan banyak istirahat, dia kehilangan kesempatan memperpanjang kontrak riset.
Beberapa tahun kemudian dia kembali bekerja sebagai staf administrasi laboratorium kecil, tetapi pendapatannya pas-pasan. Malam atau akhir pekan tertentu dia mengambil shift katering hotel untuk menambah biaya sekolah.
“Siapa yang menjaga mereka?”
“Biasanya tetanggaku. Malam ini mendadak tidak bisa, jadi supervisor mengizinkan mereka menunggu di ruang staf.”
Aku mengusap wajah.
“Kamu membesarkan tiga anak sendirian sambil kerja dua tempat?”
“Aku tidak sendirian setiap hari. Ada teman. Ada tetangga. Kadang kakakku datang.”
“Tapi ayah mereka tidak ada.”
Ratih akhirnya menatap mataku.
“Karena aku tidak memberitahunya.”
Kalimat itu tidak menghapus delapan tahun.
Namun untuk pertama kalinya malam itu, aku mendengar Ratih tidak sedang mencoba menjadikan dirinya satu-satunya korban.
Aku pun tidak bisa melakukan hal yang sama.
Pernikahan kami runtuh karena saat dia membutuhkan suami yang berdiri di sampingnya, aku terus berkata pada diriku sendiri bahwa persoalan itu bisa diselesaikan nanti.
Sekarang ada tiga anak yang ikut menanggung keputusan kami berdua.
“Aku perlu tahu pasti,” kataku.
Ratih mengangguk.
“Aku sudah menduga kamu akan bilang begitu.”
Dia membuka tasnya dan mengeluarkan map tipis yang tampaknya sudah lama disimpan.
Di dalamnya ada salinan catatan pemeriksaan kehamilan pertamanya.
Tanggalnya delapan belas hari setelah perceraian kami tercatat.
Usia kandungan yang tertulis membuat tengkukku dingin.
Tujuh minggu dua hari.
Aku membaca angka itu dua kali.
Ratih berkata pelan, “Kalau kamu mau tes DNA, aku setuju.”
Aku menatapnya.
“Tapi kalau hasilnya memang menunjukkan mereka anakmu, jangan datang ke kehidupan mereka sebagai Direktur Utama Arunika.”
Dia melihat tiga anak kami.
“Datanglah sebagai ayah.”
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku tidak langsung menjawab.
Selama beberapa menit, kata “ayah” terasa lebih berat daripada semua jabatan yang pernah kuterima.
Aku bisa mengelola ribuan pekerja.
Bisa membaca laporan keuangan ratusan halaman.
Bisa memutuskan investasi pabrik senilai ratusan miliar.
Tetapi aku bahkan tidak tahu makanan kesukaan tiga anak yang mungkin darah dagingku sendiri.
Aku kembali melihat Raka, Rafi, dan Rafa.
Salah satu dari mereka menyadari aku memperhatikan lalu tersenyum canggung.
Aku membalas senyum itu.
“Baik,” kataku kepada Ratih.
“Kita lakukan tesnya.”
Kami tidak membicarakan uang malam itu.
Aku sempat ingin mengatakan aku bisa menyelesaikan semua kesulitan hidupnya.
Rumah.
Sekolah.
Pekerjaan.
Apa pun.
Tapi kalimat Ratih menghentikanku sebelum sempat keluar.
Datanglah sebagai ayah.
Bukan sebagai Direktur Utama.
Untuk pertama kalinya aku sadar uang adalah alat paling mudah yang kupunya.
Dan mungkin justru karena itu aku harus berhati-hati agar tidak menggunakannya untuk membeli jalan pintas menuju hubungan yang belum pernah kubangun.
Sebelum pulang aku meminta nomor telepon Ratih.
Dia memberikannya.
Kemudian aku berjongkok di depan ketiga anak.
“Aku Hendra.”
Raka yang tampaknya paling berani berkata, “Kami tahu, Om. Tadi orang-orang panggil Om Pak Hendra terus.”
Aku tertawa kecil.
“Begitu, ya.”
Rafi bertanya, “Om bos hotel ini?”
“Bukan.”
“Bos pabrik?”
Aku memandang Ratih.
Dia segera tahu dari mana pertanyaan itu berasal.
“Mereka suka lihat truk,” katanya.
Aku menjawab, “Kurang lebih.”
Rafa, yang dari tadi paling diam, memperhatikanku dengan serius.
“Kok Om kenal Ibu?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Ratih menyelamatkanku.
“Dulu Om Hendra teman lama Ibu.”
Aku tidak memprotes.
Malam itu, itu memang satu-satunya jawaban yang masih aman untuk mereka.
Dua hari kemudian kami pergi ke laboratorium untuk tes paternitas.
Aku menyuruh sekretarisku membatalkan dua rapat pagi tanpa menjelaskan alasan.
Biasanya perubahan mendadak seperti itu membuat seluruh jadwalku kacau.
Hari itu aku tidak peduli.
Ratih membawa ketiga anak sendiri.
Aku tiba lebih dulu.
Ketika melihat mereka turun dari mobil daring di depan gedung, refleks pertamaku adalah menawarkan sopir dan mobil.
Aku menahan diri.
Belum saatnya.
Proses pengambilan sampel sederhana.
Justru menunggu hasilnya yang terasa panjang.
Selama hampir seminggu aku tidak bisa bekerja dengan benar.
Aku membaca laporan produksi, lalu sadar pikiranku tidak menangkap satu paragraf pun.
Saat ada tiga nama anak dalam pikiranku, angka-angka penjualan yang biasanya membuatku fokus terasa kehilangan daya.
Pada Jumat pagi Ratih menelepon.
“Hasilnya sudah keluar.”
Aku berdiri dari kursi.
“Bagaimana?”
“Lebih baik kita baca bersama.”
Kami bertemu siang itu.
Ratih menyerahkan dokumen kepadaku.
Aku melihat kalimat kesimpulannya.
Probabilitas hubungan biologis sebagai ayah lebih dari 99,99 persen.
Aku duduk.
Membaca lagi.
Tidak ada ruang tersisa untuk dugaan.
Raka anakku.
Rafi anakku.
Rafa anakku.
Tiga anak laki-laki yang dua malam sebelumnya memanggilku Om adalah ketiga putraku.
Aku menekan ujung dokumen dengan jari agar kertas tidak bergerak.
“Aku ayah mereka.”
Ratih mengangguk.
“Iya.”
Aku menatapnya.
“Delapan tahun.”
“Iya.”
Aku ingin marah.
Sebagian diriku memang marah.
Ratih tidak punya hak mengambil seluruh keputusan itu sendirian.
Aku kehilangan kelahiran mereka.
Langkah pertama mereka.
Hari pertama sekolah.
Demam pertama.
Ulang tahun pertama sampai kedelapan.
Tidak ada cara mengembalikan semua itu.
Tapi aku juga tidak bisa berdiri sebagai laki-laki yang sepenuhnya tidak bersalah.
Kalau sembilan tahun lalu aku benar-benar melindungi Ratih ketika masih menjadi suaminya, mungkin dia tidak akan menganggap pergi sejauh mungkin sebagai satu-satunya cara untuk merasa aman.
Kami berdua membuat keputusan buruk.
Bedanya, keputusan itu sudah berubah menjadi delapan tahun kehidupan tiga anak.
“Aku ingin terlibat,” kataku.
Ratih diam.
“Bukan cuma bayar sesuatu.”
Aku melanjutkan, “Aku ingin kenal mereka. Kalau mereka mau.”
“Kita harus pelan-pelan.”
“Aku tahu.”
“Kamu tidak bisa muncul besok dan bilang kamu ayah mereka.”
“Aku tahu.”
“Kamu juga jangan membuat mereka merasa harus menyukaimu karena kamu bisa membelikan apa saja.”
Aku mengangguk.
“Kalau aku mulai melakukan itu, hentikan aku.”
Ratih hampir tersenyum.
Itu pertama kalinya aku melihat sedikit wajah perempuan yang kukenal dulu.
Kami sepakat bertemu dengan konselor keluarga anak sebelum memberitahu mereka.
Bukan karena ada yang salah dengan mereka, tetapi karena kami membutuhkan cara yang tidak membuat dunia ketiga anak itu mendadak terbalik.
Saran yang kami terima sederhana.
Jangan membuat pengumuman dramatis.
Jangan menyalahkan satu sama lain.
Jangan meminta anak memilih.
Berikan informasi sesuai umur.
Jawab pertanyaan dengan jujur.
Yang paling penting, jangan menjanjikan kehadiran kalau tidak bisa menepatinya.
Bagian terakhir itu menamparku paling keras.
Sembilan tahun lalu masalahku bukan kekurangan janji.
Masalahku adalah terlalu banyak mengatakan “nanti”.
Aku tidak mau mengulanginya.
Seminggu kemudian kami duduk di ruang tamu rumah kontrakan Ratih.
Rumah itu kecil, bersih, dan penuh barang yang jelas dipakai sehari-hari.
Tiga tas sekolah tergantung berjajar.
Ada jadwal pelajaran ditempel di kulkas.
Di meja sudut ada tiga botol minum dengan nama masing-masing.
Aku melihat kehidupan delapan tahun yang sama sekali tidak menyertakanku.
Ratih memulai pembicaraan.
“Raka, Rafi, Rafa, Ibu mau cerita sesuatu tentang Om Hendra.”
Rafi langsung berkata, “Om pabrik?”
Aku menahan senyum.
Ratih mengangguk.
“Dulu, sebelum kalian lahir, Ibu pernah menikah.”
Ketiga wajah itu berubah serius.
Raka bertanya, “Sama Om Hendra?”
“Iya.”
Sunyi.
Rafa melihatku.
“Terus?”
Aku merasa telapak tanganku berkeringat.
Ratih melanjutkan, “Kami berpisah sebelum Ibu tahu sedang mengandung kalian.”
Raka tampaknya mulai memahami lebih cepat.
Matanya beralih kepadaku.
“Berarti…”
Aku tidak membiarkan Ratih menjawab sendirian.
“Berarti aku ayah kandung kalian.”
Tidak ada musik.
Tidak ada pelukan mendadak.
Rafi hanya membuka mulut sedikit.
Rafa menatap lantai.
Raka bertanya pertanyaan yang selama ini paling kutakuti.
“Kalau Ayah, kenapa baru datang sekarang?”
Ayah.
Dia mengucapkan kata itu untuk pertama kali, tapi bukan sebagai panggilan hangat.
Lebih seperti sebuah posisi yang sedang diperiksa.
Aku menatapnya.
“Karena aku baru tahu kalian ada.”
Raka langsung melihat ibunya.
Ratih berkata, “Ibu yang tidak memberitahu.”
“Kenapa?”
Ratih menarik napas.
“Karena waktu itu Ibu marah, takut, dan membuat keputusan yang Ibu pikir bisa Ibu tanggung sendiri.”
“Jadi Ibu bohong?”
“Tidak semua hal yang tidak dikatakan adalah bohong,” jawab Ratih, lalu berhenti. “Tapi Ibu memang menyembunyikan sesuatu yang sangat penting. Itu salah.”
Aku memandangnya.
Tidak mudah mengaku seperti itu di depan anak sendiri.
Rafi bertanya kepadaku, “Om… eh… harus panggil apa?”
“Kalian boleh panggil Om Hendra dulu kalau lebih nyaman.”
Dia mengangguk cepat, jelas lega.
Rafa bertanya, “Om Hendra marah sama Ibu?”
Pertanyaan itu membuat kami berdua diam.
“Ada hal yang membuat aku marah,” jawabku. “Tapi itu urusan orang dewasa. Kalian tidak perlu memilih siapa yang benar.”
Ratih melihatku sebentar.
Malam itu tidak ada yang memanggilku Ayah lagi.
Anehnya, aku tidak kecewa.
Aku datang ke kehidupan mereka terlambat delapan tahun.
Aku tidak berhak meminta satu kata sebagai hadiah selamat datang.
Aku mulai dari hal kecil.
Hari Sabtu berikutnya aku menemani mereka makan siang.
Bukan di restoran hotel.
Bukan tempat mahal.
Mereka memilih kedai bakso dekat rumah karena katanya porsinya besar.
Rafi menumpahkan kuah.
Raka protes karena Rafa mengambil dua pangsit.
Rafa membantah bahwa Raka sebelumnya mengambil baksonya.
Aku hanya duduk memperhatikan perdebatan itu dan merasa lebih gugup daripada ketika menghadapi rapat pemegang saham.
Minggu berikutnya mereka ingin melihat pabrik.
Aku membawa mereka ke fasilitas produksi pada hari Sabtu ketika aktivitas lebih ringan.
Mereka diwajibkan memakai perlengkapan keselamatan.
Rafi bertanya hampir setiap tiga meter.
“Ini buat apa?”
“Kalau yang itu?”
“Kenapa mesinnya bunyi?”
Raka ingin tahu bagaimana baterai menyimpan energi.
Rafa lebih tertarik pada forklift.
Ketika salah satu manajer berjalan mendekat dan berkata, “Selamat pagi, Pak Direktur,” ketiganya langsung menatapku.
Rafi berbisik, “Ternyata benar bos.”
Aku tertawa.
Saat pulang, mereka masih memanggilku Om Hendra.
Aku tidak mempermasalahkannya.
Masalah uang baru kami bicarakan setelah beberapa minggu.
Aku meminta Ratih mencatat kebutuhan sekolah, kesehatan, makan, dan pengeluaran tetap anak.
Dia tampak tidak nyaman.
“Aku tidak mau kamu menganggap semuanya bisa dibereskan dengan transfer.”
“Aku juga tidak mau.”
“Selama delapan tahun aku membayar sendiri.”
“Aku tahu.”
“Jadi jangan tiba-tiba mengatur karena kamu merasa sekarang punya hak.”
Aku menahan jawaban cepat.
Dulu aku mungkin akan tersinggung.
Sekarang aku mengerti ketakutannya.
Ratih membangun sistem hidupnya sendiri selama hampir sembilan tahun.
Aku tidak bisa masuk sambil membawa uang lalu mengambil kemudi.
“Aku tidak akan mengatur,” kataku. “Tapi biaya untuk mereka sekarang juga tanggung jawabku.”
Kami berkonsultasi secara terpisah agar semuanya jelas.
Akhirnya kami membuat kesepakatan tertulis tentang biaya bulanan, pendidikan, kesehatan, dan tabungan untuk kebutuhan jangka panjang ketiga anak.
Aku juga meminta pengacaraku menjelaskan langkah administrasi apa yang diperlukan untuk memastikan status dan hak ketiga anak tercatat dengan benar.
Untuk urusan Ratih, aku mengambil pendekatan berbeda.
Suatu sore aku menyerahkan dokumen berisi perhitungan sederhana.
“Ini apa?”
“Catatan modal awal perusahaan.”
Ratih membaca angka di halaman pertama.
Rp85 juta.
Dia langsung menutup map.
“Hendra.”
“Dengar dulu.”
“Itu tabungan kita.”
“Dan kamu memberikan semuanya supaya aku bisa memulai.”
“Setengahnya juga uangmu.”
“Benar. Tapi setelah itu kamu ikut jualan, bantu administrasi, dan menanggung rumah ketika perusahaan belum menghasilkan apa-apa.”
Ratih menggeleng.
“Jangan beli rasa bersalah.”
“Aku tidak sedang membeli apa pun.”
Aku menatapnya.
“Waktu kita bercerai, perusahaan cuma punya mesin bekas dan utang. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak akan berpura-pura seluruh nilai perusahaan hari ini adalah sesuatu yang otomatis menjadi hakmu.”
Dia menunggu.
“Tapi aku juga tidak mau berpura-pura perusahaan itu lahir tanpa kontribusimu.”
Aku menawarkan pembayaran yang sudah dihitung berdasarkan kontribusi awal dan beberapa biaya yang bisa kami dokumentasikan, bukan sebagian fantastis dari nilai perusahaan sekarang.
Jumlahnya tetap besar bagi Ratih, tetapi bukan angka absurd yang mengubah hidup menjadi dongeng dalam satu malam.
Aku juga memintanya membawa penasihat sendiri sebelum menyetujui apa pun.
Ratih membutuhkan hampir satu bulan sebelum akhirnya menerima sebagian.
Sebagian lainnya dia menolak.
“Aku terima yang memang bisa dijelaskan,” katanya. “Yang lain simpan.”
“Kamu yakin?”
“Iya.”
Kemudian dia menatapku.
“Aku tidak ingin setiap kali melihat saldo, aku bertanya apakah itu uang atau permintaan maaf.”
Aku mengangguk.
“Aku mengerti.”
Satu percakapan lain masih menungguku.
Ibu.
Selama bertahun-tahun aku menghindari membongkar apa yang terjadi dalam pernikahanku karena lebih mudah mengatakan semuanya sudah lewat.
Sekarang masa lalu itu memiliki tiga nama.
Raka.
Rafi.
Rafa.
Aku datang ke rumah Ibu pada suatu Minggu siang.
Dia terkejut melihatku sendirian.
“Ada apa?”
“Aku bertemu Ratih.”
Ekspresi wajahnya langsung berubah.
“Buat apa masih urus dia?”
Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto ketiga anak yang diambil saat kunjungan ke pabrik.
Ibu menatap layar.
“Anak siapa?”
“Anakku.”
Ibu diam.
Aku hampir tidak pernah melihatnya kehilangan kata-kata.
Kemudian pertanyaan keluar bertubi-tubi.
“Tiga-tiganya?”
“Kenapa baru bilang?”
“Kenapa Ratih sembunyikan?”
“Apa dia sekarang mau uang?”
Aku mematikan layar.
“Berhenti.”
Ibu langsung tersinggung.
“Lho, Ibu cuma tanya.”
“Dia tidak datang meminta apa pun.”
“Kalau begitu kenapa baru muncul setelah kamu sukses?”
“Aku yang melihat dia.”
Ibu terdiam.
Aku melanjutkan, “Ratih salah karena tidak memberitahuku soal anak-anak. Dia sendiri mengakuinya.”
“Nah, kan.”
“Tapi jangan pakai kesalahannya untuk menghapus apa yang Ibu lakukan dulu.”
Wajah Ibu menegang.
“Sudah sembilan tahun masih mau bahas itu?”
“Iya.”
“Dia kan sudah bukan istrimu.”
“Tapi alasan dia pergi salah satunya karena rumah yang seharusnya menjadi rumah kami dibuat seperti tempat di mana dia bisa diusir kapan saja.”
Ibu mulai membela diri.
Katanya dia hanya ingin menantu menghormati keluarga.
Katanya Ratih keras kepala.
Katanya perempuan yang sudah menikah seharusnya lebih mendahulukan rumah.
Aku mendengarkan.
Dulu aku mendengar semua itu lalu memilih diam karena menganggap melawan Ibu akan menciptakan masalah lebih besar.
Kali ini tidak.
“Ibu pernah menyuruh dia keluar ketika aku tidak ada.”
“Waktu itu Ibu emosi.”
“Ibu pernah minta kartu gajinya.”
“Untuk keluarga.”
“Ibu menghina dia karena belum punya anak.”
Ibu berhenti.
Aku menunjuk foto di layar.
“Ternyata saat pernikahan kami selesai, dia sedang mengandung tiga anak.”
Untuk pertama kalinya, Ibu menunduk.
Aku tidak merasa menang.
Tidak ada kepuasan melihat perempuan yang membesarkanku kehilangan jawaban.
Yang ada hanya rasa lelah karena percakapan yang seharusnya kulakukan sembilan tahun lalu baru terjadi sekarang.
“Ibu boleh mengenal mereka,” kataku. “Tapi bukan sekarang.”
Ibu langsung mengangkat kepala.
“Kenapa?”
“Karena mereka baru mengenalku.”
“Mereka cucu Ibu.”
“Mereka juga anak Ratih.”
Kalimat itu membuat wajah Ibu mengeras lagi.
Aku tetap melanjutkan.
“Kalau suatu hari Ratih dan anak-anak siap, kita atur. Tapi Ibu tidak datang ke rumah mereka sendiri. Tidak menelepon sekolah. Tidak menekan mereka. Dan kalau Ibu masih mau menyalahkan Ratih di depan anak-anak, pertemuan itu tidak akan terjadi.”
“Hendra, kamu mengancam Ibu?”
“Tidak.”
Aku berdiri.
“Aku akhirnya memberi batas yang seharusnya sudah kuberi sejak dulu.”
Hubunganku dengan Ibu menjadi dingin beberapa minggu.
Aku tidak memaksanya berubah.
Dia juga tidak langsung meminta maaf.
Mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tahu bahwa kemarahannya tidak otomatis membuatku mengalah.
Sementara itu, hubunganku dengan anak-anak tumbuh perlahan.
Rafi adalah yang pertama berhenti memanggilku Om.
Itu terjadi tanpa upacara.
Aku sedang menunggunya selesai latihan futsal ketika dia berlari keluar sambil membawa botol minum.
“Ayah, tadi aku hampir gol!”
Dia terus bicara tanpa sadar.
Aku membeku.
Rafi sendiri baru menyadari beberapa detik kemudian.
Wajahnya memerah.
Aku tidak memeluknya.
Tidak membuat momen itu lebih besar daripada yang dia inginkan.
Aku hanya bertanya, “Hampir gol itu masuk atau tidak?”
“Ya… tidak.”
“Berarti minggu depan coba lagi.”
Dia tertawa.
Sejak hari itu, dia memanggilku Ayah.
Rafa mengikuti beberapa minggu kemudian.
Raka paling lama.
Dia anak yang paling banyak berpikir.
Suatu malam setelah makan, dia bertanya, “Ayah dulu sayang Ibu?”
Aku melihat Ratih yang sedang membawa piring ke dapur.
“Iya.”
“Sekarang?”
Aku hampir tersedak.
Ratih menoleh tajam.
“Raka.”
“Aku cuma tanya.”
Aku memikirkan jawabannya.
“Sekarang aku masih sangat peduli sama Ibu kalian.”
Raka terlihat tidak puas.
“Tapi beda?”
“Hubungan orang dewasa bisa rumit.”
Dia mengangkat alis.
“Kata Bu Guru kalau tidak tahu jawabannya, orang dewasa bilang rumit.”
Ratih tertawa dari dapur.
Aku ikut tertawa.
Raka akhirnya memanggilku Ayah dua bulan kemudian ketika dia sakit dan aku membawanya ke klinik karena Ratih sedang terjebak di tempat kerja.
Bukan penyakit serius.
Hanya demam dan radang tenggorokan.
Saat menunggu obat dia bersandar di kursi.
“Ayah.”
“Iya?”
“Nanti jangan bilang Ibu aku nangis waktu disuntik.”
Aku menoleh.
“Bukannya tadi kamu bilang tidak nangis?”
“Itu maksudnya.”
“Baik.”
Malam itu aku pulang ke rumah dan duduk lama di ruang tamu.
Rumah besar yang selama bertahun-tahun terasa kosong mendadak dipenuhi tiga suara di kepalaku.
Beberapa bulan kemudian Ibu akhirnya meminta bertemu Ratih.
Bukan cucu-cucunya dulu.
Ratih.
Aku menyampaikan permintaan itu tanpa tekanan.
“Kalau kamu tidak mau, bilang tidak.”
Ratih terdiam cukup lama.
“Aku mau dengar apa yang ingin dia katakan.”
Pertemuan dilakukan di sebuah kafe kecil.
Aku duduk di meja lain.
Mereka bicara hampir satu jam.
Ibu tidak berubah menjadi orang lain dalam satu sore.
Dia masih beberapa kali mencoba menjelaskan tindakannya.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Dia mengakui bahwa mengusir Ratih adalah kesalahan.
Dia juga mengakui tidak punya hak meminta penghasilan Ratih atau terus mempermalukannya soal anak.
Ratih tidak langsung memaafkan.
Dia berkata, “Saya dengar permintaan maaf Ibu. Tapi saya perlu waktu.”
Ibu mengangguk.
Itu cukup.
Pertemuan pertama Ibu dengan anak-anak baru terjadi dua bulan kemudian.
Di tempat umum.
Aku dan Ratih ada di sana.
Ibu membawa tiga kotak hadiah besar.
Aku langsung melihat Ratih.
Ratih menatapku balik.
Kami sama-sama tahu masalah berikutnya.
Aku mendekati Ibu.
“Tiga-tiganya harus sama nilainya.”
Ibu mengerutkan kening.
“Memang sama.”
“Bagus.”
Raka mendengar dan bertanya, “Kalau beda kenapa?”
Aku menjawab, “Nanti ribut.”
Rafi berkata, “Tanpa hadiah juga kami ribut.”
Untuk pertama kalinya sejak datang, Ibu tertawa.
Tidak semua luka keluarga membutuhkan akhir berupa semua orang kembali seperti dulu.
Kadang yang lebih sehat adalah hubungan baru dengan jarak, aturan, dan ekspektasi yang berbeda.
Ratih dan aku juga tidak langsung kembali bersama.
Bahkan selama berbulan-bulan, kami hanya menjadi dua orang tua yang belajar mengatur jadwal.
Hari sekolah.
Akhir pekan.
Acara kelas.
Dokter.
Liburan.
Aku membeli rumah yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka, tetapi tidak meminta mereka pindah kepadaku.
Rumah itu jauh lebih sederhana daripada rumah utamaku.
Tiga kamar anak.
Sebuah ruang belajar.
Dapur yang benar-benar kupakai.
Pada akhir pekan pertama mereka menginap, Rafi membuka kulkas dan berkata, “Ayah cuma punya air, telur, sama susu?”
“Ada buah.”
“Itu bukan makanan.”
Ratih tertawa ketika mendengar ceritanya.
Minggu berikutnya dia mengirim daftar belanja.
Aku mengikuti hampir semuanya.
Hampir.
Aku membeli terlalu banyak es krim.
Ratih mengirim pesan:
Tiga anak bukan berarti tiga freezer.
Aku tertawa sendiri membaca itu.
Perlahan, percakapan kami tidak lagi hanya tentang anak.
Kadang dia bertanya soal pabrik.
Aku bertanya soal laboratorium.
Dia akhirnya berhenti mengambil terlalu banyak shift hotel setelah beban biaya anak tidak lagi sepenuhnya ada di pundaknya.
Beberapa bulan kemudian dia menerima posisi tetap di sebuah perusahaan pengujian material.
Hari pertama kerja, dia mengirim foto kartu identitas pegawai.
Aku membalas:
Selamat.
Dia menjawab:
Terima kasih. Jangan kirim bunga satu kantor.
Aku batal memesan bunga.
Enam bulan setelah pertemuan pertama kami, Ratih dan aku makan malam berdua.
Bukan kencan.
Setidaknya itu yang kami sepakati sebelum berangkat.
Kami duduk di sebuah restoran kecil yang dulu pernah kami kunjungi saat masih menikah karena harga makanannya murah.
Tempatnya sudah direnovasi.
Menu berubah.
Pemiliknya berbeda.
“Kamu masih ingat?” tanyaku.
Ratih mengangguk.
“Dulu kita pesan satu minuman berdua supaya hemat.”
“Aku pikir itu romantis.”
“Itu karena kamu pelit.”
“Aku miskin.”
“Dua-duanya bisa benar.”
Aku tertawa.
Lalu kami diam.
Beberapa kenangan terasa hangat.
Sebagian lainnya tetap menyakitkan.
“Aku minta maaf,” kataku.
Ratih memandangku.
“Untuk apa?”
“Karena dulu aku terus bilang nanti.”
Aku tidak membuat pidato.
Tidak mengatakan aku sudah berubah.
Tidak meminta dia kembali.
“Aku tahu aku sedang bangun perusahaan. Tapi kamu waktu itu istriku. Seharusnya aku tidak membuatmu menunggu sampai semua masalah selesai baru merasa layak dibela.”
Ratih menunduk.
“Aku juga minta maaf karena anak-anak.”
Aku mengangguk.
“Aku belum sepenuhnya bisa menerima delapan tahun yang hilang.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku sedang berusaha supaya tidak memakai itu untuk menghukum delapan tahun berikutnya.”
Matanya memerah sedikit.
Kami tidak membicarakan rujuk malam itu.
Namun sejak makan malam tersebut, sesuatu berubah.
Bukan kembali ke pernikahan lama.
Justru sebaliknya.
Kami mulai mengenal siapa diri kami sekarang.
Ratih tidak lagi perempuan dua puluhan yang selalu mengalah agar rumah tetap tenang.
Aku bukan lagi laki-laki yang menganggap bekerja tanpa henti sama dengan memenuhi seluruh tanggung jawab.
Setahun setelah tes DNA, kami masih tinggal terpisah.
Anak-anak sudah terbiasa berpindah antara rumah Ratih dan rumahku pada akhir pekan.
Perusahaan tetap sibuk, tapi aku mengubah satu kebiasaan.
Dulu hampir tidak ada urusan pribadi yang bisa mengalahkan jadwal kerja.
Sekarang kalender kantorku memiliki blok yang tidak boleh diganggu.
Pertemuan orang tua murid.
Pertandingan futsal.
Kunjungan dokter.
Hari ulang tahun.
Tidak semua bisa kuhadiri.
Ketika tidak bisa, aku mengatakan sejak awal.
Tidak lagi berkata, “Nanti Ayah usahakan,” jika sebenarnya aku tahu tidak mungkin.
Raka menyadarinya.
Suatu hari dia berkata, “Ayah sekarang kalau bilang datang, biasanya datang.”
Aku tidak tahu apakah itu pujian atau laporan statistik.
Tetapi kalimat itu lebih berarti bagiku daripada penghargaan bisnis mana pun.
Hubunganku dengan Ratih juga semakin dekat.
Pelan.
Kadang mundur.
Pernah kami bertengkar karena aku tanpa bicara lebih dulu mendaftarkan ketiga anak pada program liburan sekolah yang menurutku bagus.
Ratih marah.
“Kamu kembali memutuskan sendiri.”
Aku hampir berkata bahwa aku hanya ingin memberi mereka pengalaman.
Kemudian aku sadar inti masalahnya bukan program itu.
Aku meminta penyelenggara menahan pendaftaran.
Malamnya aku datang.
“Kamu benar.”
Ratih tampak masih kesal.
“Besok kita pilih bersama.”
Itu percakapan lima menit.
Tetapi sembilan tahun lalu mungkin aku membutuhkan lima hari untuk menyadari hal yang sama.
Ratih melihat perubahan bukan dari kata-kataku, tetapi dari hal-hal kecil seperti itu.
Setahun enam bulan setelah kami bertemu kembali di hotel, aku mengajaknya berjalan setelah mengantar anak-anak sekolah.
Kami berhenti di depan kontrakan lama kami.
Bangunannya masih ada.
Catnya berbeda.
Warung di samping sudah menjadi toko pulsa.
Aku menunjuk jendela di lantai dua.
“Dulu yang bocor sebelah sana, kan?”
Ratih tertawa.
“Kamu bilang mau perbaiki.”
“Aku perbaiki.”
“Setelah tiga bulan.”
“Konsisten.”
Dia menoleh kepadaku.
“Apa yang mau kamu bicarakan, Hendra?”
Aku tidak mengeluarkan cincin.
Tidak berlutut.
Aku sudah belajar bahwa kejutan besar bukan selalu cara terbaik untuk membicarakan keputusan besar.
“Aku ingin mencoba lagi.”
Ratih diam.
“Bukan kembali ke pernikahan kita yang dulu,” lanjutku. “Kalau yang itu, kita sudah tahu kenapa gagal.”
Aku menatapnya.
“Aku ingin membangun sesuatu yang baru. Kalau kamu juga mau.”
Ratih tidak langsung menjawab.
Beberapa kendaraan lewat.
Suara pedagang terdengar dari ujung jalan.
Akhirnya dia berkata, “Aku tidak akan tinggal dengan Ibumu.”
“Aku juga tidak mau.”
“Aku tetap bekerja.”
“Harus.”
“Aku tidak menyerahkan rekeningku.”
“Aku bahkan tidak ingin PIN-nya.”
“Kalau kita bertengkar, jangan kabur ke kantor tiga hari.”
Aku mengangguk.
“Kalau aku lakukan, datang ke pabrik dan tarik aku keluar.”
Dia tersenyum.
Kemudian wajahnya serius lagi.
“Aku belum bisa menjanjikan menikah.”
“Aku tidak meminta jawaban hari ini.”
“Berapa lama kamu mau menunggu?”
Aku melihat kontrakan kecil tempat sembilan tahun lalu aku pernah berjanji memberinya rumah besar.
“Kali ini bukan soal menunggu.”
Aku berkata, “Kita lihat apakah kita benar-benar bisa melakukannya dengan benar.”
Ratih mengangguk.
“Itu lebih masuk akal.”
Enam bulan kemudian kami memutuskan menikah lagi.
Tidak ada pesta mewah.
Padahal kali ini aku mampu menyewa ballroom terbesar di kota.
Raka, Rafi, dan Rafa justru ingin acara kecil.
Ratih setuju.
Aku juga.
Kami mengurus seluruh proses secara resmi sesuai persyaratan yang berlaku, lalu mengadakan makan siang sederhana bersama keluarga dan beberapa teman dekat.
Ibu datang sebagai tamu.
Bukan orang yang mengatur acara.
Dia bahkan bertanya kepada Ratih sebelum mengundang dua kerabat tambahan.
Ratih mengizinkan satu.
Yang satu lagi tidak.
Ibu tidak protes.
Kemajuan kadang memang sesederhana itu.
Malam setelah acara, kami pulang ke rumah yang akan kami tinggali bersama.
Bukan rumah besarku yang lama.
Ratih tidak menyukainya.
Katanya terlalu dingin.
Aku menjualnya beberapa bulan sebelumnya dan membeli rumah yang cukup luas untuk lima orang, tetapi tidak sampai membuat kami harus berteriak dari ruang makan untuk mencari satu sama lain.
Ketiga anak langsung berlari ke kamar.
Suara mereka memenuhi lantai atas.
Ratih berdiri di dapur sambil membuka beberapa kotak makanan dari acara siang tadi.
Aku meletakkan kunci mobil di meja.
Beberapa detik aku hanya memandang punggungnya.
Dia menoleh.
“Apa?”
Aku tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Ratih mengangkat alis.
Lalu dia membuka kulkas.
“Kamu sudah beli susu anak-anak?”
“Sudah.”
“Roti?”
“Sudah.”
“Telur?”
“Sudah.”
Dia memeriksa sendiri.
“Kali ini benar.”
Dari lantai atas terdengar Rafi berteriak bahwa Rafa mengambil chargernya.
Raka ikut berteriak menyuruh mereka diam.
Ratih menutup pintu kulkas.
Kemudian dia melihatku dan berkata kalimat yang sudah sembilan tahun tidak kudengar dari rumah yang sama.
“Sudah pulang?”
Aku tidak menjawab dengan janji.
Aku hanya meletakkan tas kerja, mengunci pintu, lalu berjalan ke dapur.
“Sudah.”
Menurutmu, apakah Ratih dan Hendra layak mencoba menikah lagi setelah keduanya benar-benar mengakui kesalahan dan mengubah cara hidup mereka?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
