Ibuku Menganggapku Mati bagi Keluarga Karena Aku Menolak Membayar Rp39 Juta untuk BMW Adikku

Avatar penulis
Cerita 01
29 menit baca 415 tayangan
Ibuku Menganggapku Mati bagi Keluarga Karena Aku Menolak Membayar Rp39 Juta untuk BMW Adikku
Indeks

Ibuku Menganggapku Mati bagi Keluarga Karena Aku Menolak Membayar Rp39 Juta untuk BMW Adikku

Bagian 1

Saat Ibu berkata aku boleh membayar tagihan BMW adikku atau dianggap “sudah mati bagi keluarga”, sesuatu di dalam diriku akhirnya berhenti berusaha menyenangkan mereka.

Aku tidak berteriak.

Aku juga tidak menangis.

Aku hanya menatap tiga orang di meja makan itu dan sadar bahwa selama bertahun-tahun, mereka tidak melihatku sebagai anak atau kakak. Setidaknya tidak ketika ada tagihan yang harus dibayar.

Malam itu kami sedang makan bersama di rumah orang tuaku di Tangerang Selatan. Rumah yang juga masih kutinggali sejak beberapa tahun terakhir karena kantorku menerapkan sistem kerja campuran dan orang tuaku berkali-kali mengatakan lebih masuk akal kalau aku tetap di rumah daripada membuang uang untuk sewa apartemen.

Aku memang tinggal di sana.

Tapi aku membayar listrik, internet, sebagian belanja bulanan, dan hampir semua perbaikan kecil yang muncul.

Karena itu, ketika Ibu tiba-tiba menepukkan telapak tangannya ke meja sampai sendok di samping piring bergetar, aku langsung tahu pembicaraan malam itu bukan tentang makan malam.

Di tengah meja ada selembar kertas.

Invoice bengkel.

Di bagian bawah tercetak angka Rp39.800.000.

BMW seri lama milik adikku, Celine, mengalami masalah transmisi.

Celine yang berusia dua puluh dua tahun duduk tepat di seberangku dengan mata basah. Maskaranya sedikit luntur, dan ekspresi wajahnya sudah sangat kukenal.

Wajah yang selalu muncul beberapa menit sebelum seseorang diminta membereskan masalahnya.

Ayah mendorong invoice itu ke arahku.

“Kamu bayar ini, Maya.”

Aku menatap angka di kertas, lalu menatap Ayah.

“Aku?”

“Celine butuh mobil buat magang. Bengkelnya minta mobil segera diperbaiki.”

Aku masih diam.

Ayah melanjutkan, “Penghasilanmu bagus. Kerjamu di perusahaan teknologi. Adikmu belum punya uang sebanyak kamu.”

Nada suaranya terdengar seolah keputusan sudah dibuat sebelum aku duduk di meja.

“Jadi ini tanggung jawabmu.”

Kata itu membuatku hampir tertawa.

Tanggung jawab.

Aku memandang Celine.

“Bukannya minggu lalu kamu baru dari Bali?”

Wajahnya berubah.

Perjalanan itu bukan rahasia. Celine sendiri mengunggah foto hotel, beach club, makan malam, dan spa ke media sosial.

Celine mengusap pipinya.

“Aku sudah pesan dari lama.”

“Berapa yang kamu habiskan?”

Ibu langsung menyela.

“Maya, jangan hitung-hitungan sama adik sendiri.”

“Aku cuma bertanya.”

Celine memalingkan wajah.

Aku tahu jawabannya tidak akan keluar, jadi aku melanjutkan.

“Dia tahu mobilnya sudah dua kali masuk bengkel dalam tiga bulan terakhir. Mekaniknya juga sudah bilang transmisinya perlu diperiksa lebih serius.”

“Itu bukan berarti aku tahu bakal rusak sekarang,” kata Celine.

“Benar. Tapi itu berarti kamu tahu ada risiko pengeluaran besar.”

Celine mendengus.

“Kamu gampang ngomong begitu karena kamu punya uang.”

Kalimat itu.

Aku sudah mendengarnya dalam begitu banyak bentuk sampai aku bisa menebak apa yang akan datang sesudahnya.

Kamu punya uang.

Gajimu lebih besar.

Kamu belum menikah.

Kamu belum punya anak.

Kamu kan kakaknya.

Untuk keluarga sendiri masa dihitung.

Aku bekerja hampir sembilan tahun untuk mencapai posisi yang kumiliki sekarang. Aku menerima proyek yang tidak diinginkan orang lain, beberapa kali bekerja sampai larut malam, dan menolak banyak pengeluaran karena ingin punya tabungan yang cukup untuk membeli tempat tinggal sendiri.

Tapi setiap kali Celine melakukan kesalahan, tabunganku mendadak dianggap solusi bersama.

Aku menatap Ayah.

“Ini sudah ketiga kalinya tahun ini.”

Tidak ada yang menjawab.

“Januari aku bayar tunggakan kartu kreditnya.”

Celine segera berkata, “Aku sudah bilang akan ganti.”

“Belum ada yang diganti.”

Aku menoleh kepada Ibu.

“April aku bantu bayar cicilan mobil karena Celine bilang uang magangnya terlambat. Sekarang hampir empat puluh juta lagi.”

“Itu adikmu,” kata Ibu.

“Aku tahu.”

“Kalau bukan kamu yang membantu, siapa?”

Aku meletakkan sendok.

“Celine sendiri.”

Hening.

Celine menatapku seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang sangat kejam.

Aku berkata, “Dia punya pekerjaan magang. Dia masih tinggal di rumah. Kalau mobil itu terlalu mahal untuk dia pelihara, mungkin dia memang belum mampu punya BMW.”

“Jangan sok menggurui aku!” suaranya naik.

“Aku tidak menggurui. Aku sedang menjelaskan kenapa aku tidak akan membayar.”

Wajah Ibu langsung menegang.

“Tidak akan?”

“Tidak.”

Ayah bersandar ke kursinya.

“Maya, jangan bikin masalah dari hal sederhana.”

“Hampir empat puluh juta bukan hal sederhana.”

“Buat kamu bukan uang yang membuat hidupmu berubah.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Justru kalimat itulah masalahnya.

Mereka selalu menilai apa yang boleh mereka minta berdasarkan jumlah uang yang menurut mereka masih tersisa di rekeningku.

Tidak pernah berdasarkan apakah permintaannya masuk akal.

Ibu menarik napas.

“Setelah semua yang kami lakukan untuk membesarkanmu, kamu sekarang berhitung seperti ini?”

Aku sudah tahu arah percakapannya.

Biaya sekolah.

Makanan sejak kecil.

Atap tempat aku tinggal.

Semua hal yang seharusnya diberikan orang tua kepada anak mendadak berubah menjadi utang yang bisa ditagih puluhan tahun kemudian.

“Aku berterima kasih untuk semuanya,” kataku. “Tapi itu tidak membuatku bertanggung jawab atas keputusan keuangan Celine.”

Ibu menatapku lama.

Lalu ia berkata pelan, “Baik.”

Nada suaranya justru membuat ruangan semakin dingin.

Ia menunjuk invoice.

“Ini pilihan terakhirmu.”

Beberapa kerabat yang ikut makan malam tidak lagi menyentuh makanan mereka. Tante Mira, adik Ibu, duduk dua kursi dari Ayah dan hanya menundukkan wajah.

Ibu berkata, “Transfer Rp39.800.000 ke Celine malam ini.”

Aku menatapnya.

“Kalau tidak?”

“Kamu kemasi barangmu. Keluar dari rumah ini.”

Celine berhenti menangis.

Ibu mencondongkan tubuh.

“Dan mulai malam ini, anggap kamu sudah mati bagi keluarga ini.”

Tidak ada yang bergerak.

Aku bisa mendengar suara pendingin ruangan dari ruang tengah.

Selama beberapa detik, aku menunggu rasa takut datang.

Biasanya aku takut ketika Ibu menggunakan kata-kata seperti itu.

Takut dicap anak durhaka.

Takut keluarga besar membicarakanku.

Takut tidak diundang pada acara keluarga.

Takut Ayah tidak menelepon saat sakit.

Takut Celine benar-benar membenciku.

Tapi malam itu yang muncul justru sesuatu yang sangat tenang.

Aku akhirnya memahami aturan permainan mereka.

Selama aku menurut, aku keluarga.

Kalau aku berkata tidak, status itu bisa dicabut.

Aku memandang Celine, lalu Ayah dan Ibu.

Mereka menungguku mengambil ponsel.

Aku malah mendorong kursi ke belakang.

Kaki kursi bergesek keras dengan lantai.

Ibu mengernyit.

“Mau apa kamu?”

Aku berdiri.

“Kalau begitu aku keluar.”

Wajahnya berubah.

“Apa?”

“Aku tidak bayar tagihannya. Kalau syarat menjadi keluarga kalian adalah setiap masalah Celine harus kubayar, aku keluar.”

Ayah ikut berdiri.

“Jangan kurang ajar. Duduk.”

“Tidak.”

“Maya.”

Aku menatapnya.

Ayah berkata, “Kalau kamu keluar sekarang, jangan datang lagi besok sambil menangis minta pulang.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

Entah mengapa jawaban sederhana itu membuat Ayah kehilangan kata-kata.

Celine menatapku dengan mulut sedikit terbuka.

Aku berjalan menuju lorong.

Suara Ibu mengejarku.

“Kamu egois!”

Aku mengambil tas kerja dan jaket dari gantungan.

“Kamu meninggalkan adikmu saat dia butuh bantuan!”

Tanganku sudah memegang gagang pintu ketika Ibu berkata lebih keras, “Nanti kalau susah, jangan cari kami!”

Aku berhenti setengah detik.

Di belakangku ada rumah yang kukenal sejak remaja, kamar dengan lemari penuh barangku, meja makan tempat kami merayakan ulang tahun, dan orang-orang yang selama bertahun-tahun kucoba buat bangga.

Di depanku aku bahkan belum tahu akan tidur di mana.

Aku membuka pintu.

Udara malam masuk.

Lalu aku melangkah keluar.

Aku tidak menoleh.

Beberapa menit kemudian mobilku sudah melaju meninggalkan kompleks.

Tanganku memegang kemudi lebih erat daripada biasanya.

Kalimat-kalimat mereka masih terngiang.

Egois.

Tidak tahu balas budi.

Mati bagi keluarga.

Aku baru saja kehilangan keluargaku karena menolak membayar Rp39,8 juta.

Atau mungkin tagihan itu hanya menjadi alasan terakhir yang kubutuhkan untuk berhenti membayar harga yang jauh lebih mahal.

Aku belum tahu jawabannya.

Yang kutahu hanya satu.

Aku harus mencari tempat tidur.

Aku sedang mempertimbangkan hotel atau menghubungi Rani, teman sekantorku, ketika ponsel yang terpasang di dudukan dashboard bergetar.

Sebuah notifikasi muncul.

Aku hampir mengabaikannya.

Lalu aku melihat ikon aplikasinya.

Aplikasi mobile banking lama.

Rekening yang kubuka ketika masih kuliah dan sudah bertahun-tahun tidak kupakai untuk transaksi sehari-hari.

Aku bahkan hampir lupa aplikasi itu masih terpasang.

Notifikasi itu menyebutkan pencairan deposito otomatis.

Aku menepi ke area parkir sebuah minimarket.

Aku mengambil ponsel, membuka aplikasi, dan memasukkan verifikasi.

Ketika halaman rekening muncul, aku diam.

Saldo yang tertera adalah Rp487.620.430.

Aku membaca angka itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Hampir setengah miliar rupiah.

Aku tidak pernah menaruh uang sebanyak itu di rekening tersebut.

Aku membuka rincian transaksi terbaru.

Ada pencairan deposito lama yang selama ini diperpanjang otomatis.

Di bawah jumlahnya terdapat keterangan sumber dana awal.

Aku mengenali nama itu dalam satu detik.

Sulastri Hadipranoto.

Nenekku yang meninggal enam tahun lalu.

Di bawah namanya ada catatan lama yang membuat jariku berhenti bergerak.

Untuk tempat tinggal Maya. Jangan dipakai untuk kebutuhan keluarga lain.

Ibuku Menganggapku Mati bagi Keluarga Karena Aku Menolak Membayar Rp39 Juta untuk BMW Adikku

Bagian 2

Aku duduk di dalam mobil hampir dua puluh menit tanpa menyalakan mesin.

Aku tidak takut pada jumlah uang itu.

Aku takut pada kalimat di bawahnya.

Nenek meninggal ketika aku berusia dua puluh lima tahun. Selama hidupnya, ia memang beberapa kali memberiku uang ulang tahun atau uang untuk membeli buku, tetapi tidak pernah sekalipun ia mengatakan telah menyiapkan ratusan juta untukku.

Setidaknya bukan kepadaku.

Aku membuka riwayat rekening.

Rekening itu kubuat ketika berusia dua puluh satu tahun setelah Nenek memintaku membuka rekening terpisah. Saat itu ia mentransfer Rp10 juta sebagai hadiah kelulusan dan menyuruhku tidak mencampurnya dengan uang bulanan.

Setelah beberapa tahun, aku berhenti menggunakannya.

Sekarang ada sesuatu yang tidak pernah kuketahui.

Beberapa transfer besar masuk dari rekening Nenek sebelum ia meninggal.

Rp75 juta.

Rp100 juta.

Rp80 juta.

Kemudian sisanya ditempatkan dalam deposito berjangka dan terus diperpanjang otomatis.

Aku langsung mengganti PIN dan kata sandi aplikasi, lalu memastikan email serta nomor telepon yang terdaftar masih milikku.

Setelah itu baru aku menelepon Rani.

“Aku boleh numpang malam ini?”

Dia tidak menanyakan panjang lebar.

“Datang saja.”

Aku tiba di apartemennya hampir pukul sepuluh. Setelah mendengar versi singkat tentang makan malam, Rani hanya berkata, “Jangan ambil keputusan soal uang malam ini. Besok ke bank dulu.”

Itu nasihat paling masuk akal yang kudengar hari itu.

Pagi berikutnya aku mengambil cuti setengah hari dan datang ke kantor cabang bank dengan KTP serta buku rekening lama yang kebetulan kusimpan di tas dokumen kantor.

Petugas memastikan rekening dan deposito memang atas namaku.

Tidak ada pengguna tambahan.

Tidak ada surat kuasa aktif.

Tidak ada penarikan mencurigakan.

Aku meminta riwayat transaksi yang dapat kuakses secara resmi.

Transfer awal memang berasal dari Nenek.

Artinya uang itu nyata.

Bukan kesalahan aplikasi.

Saat keluar dari bank, ponselku dipenuhi panggilan dari Ibu dan Ayah.

Celine mengirim tujuh pesan.

Yang pertama berbunyi:

Kak, serius kamu nggak pulang?

Pesan terakhir berbeda.

Ayah bilang kalau kamu terus begini jangan harap masih dianggap keluarga.

Aku tidak membalas.

Aku malah menelepon satu orang yang semalam duduk di meja makan dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Tante Mira.

Begitu aku menyebut nama Nenek dan rekening itu, ia terdiam cukup lama.

“Tante,” kataku, “Ibu tahu soal uang ini?”

Suara di seberang terdengar pelan.

“Kamu benar-benar tidak pernah diberi tahu?”

Jantungku berdetak lebih keras.

“Diberi tahu apa?”

Tante Mira menarik napas.

“Nenek menjual sebidang tanah kecil miliknya di Garut beberapa tahun sebelum meninggal. Sebagian uangnya diberikan kepada Ibu dan Tante. Sebagian lagi dia pisahkan untuk kamu dan Celine.”

Aku berhenti berjalan.

“Untuk kami berdua?”

“Iya.”

“Berapa bagian Celine?”

“Hampir sama.”

Aku menatap lalu lintas di depan bank tanpa benar-benar melihatnya.

“Di mana uang Celine?”

Tante Mira tidak langsung menjawab.

“Aku tidak tahu persis ke mana semuanya dipakai. Waktu itu Celine masih sekolah, jadi orang tuamu yang mengatur. Tapi setelah dia dewasa, Nenek pernah marah karena sebagian uangnya sudah digunakan.”

“Digunakan untuk apa?”

“Sekolah, katanya. Mobil juga.”

Aku teringat BMW di meja makan.

Tante Mira melanjutkan, “Nenek kemudian memastikan uangmu tidak disentuh. Dia bilang kamu akan membutuhkannya kalau suatu hari mau punya tempat tinggal sendiri.”

Aku menggenggam ponsel.

“Kenapa Tante tidak pernah bilang?”

“Karena kupikir kamu tahu.”

Jawaban itu terasa lebih menyakitkan daripada angka apa pun.

Aku menutup telepon beberapa menit kemudian.

Belum sampai sepuluh detik, sebuah pesan dari Ibu masuk.

Pulang malam ini. Kita selesaikan sebagai keluarga.

Lalu pesan kedua.

Dan jangan mulai membahas uang Nenek dengan orang lain. Itu urusan keluarga.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Aku belum pernah mengatakan kepada Ibu bahwa aku menemukan rekening Nenek.

Namun Ibu sudah tahu apa yang sedang kubicarakan.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku tidak langsung pulang.

Dulu, satu pesan seperti itu cukup membuatku masuk mobil.

Kali ini aku menaruh ponsel di meja apartemen Rani dan menyelesaikan pekerjaan yang masih harus kukirim siang itu.

Aku perlu beberapa jam untuk membedakan antara marah dan berpikir.

Menjelang sore, Ibu menelepon lagi.

Aku menjawab.

“Maya, pulang.”

“Aku belum mau pulang.”

“Berapa lama kamu mau mempermalukan keluarga?”

Aku hampir menjawab spontan, tetapi menahan diri.

“Aku cuma mau tanya satu hal. Ibu tahu soal rekening dari Nenek?”

Hening.

Hanya beberapa detik, tetapi cukup.

“Ibu tahu ada uang yang diberikan Nenek kepadamu.”

“Berapa lama?”

“Maya, itu bukan pembicaraan telepon.”

“Berapa lama, Bu?”

Nada suara Ibu berubah.

“Sejak awal.”

Aku duduk lebih tegak.

“Kenapa aku tidak pernah diberi tahu?”

“Kamu sudah tahu rekening itu ada.”

“Aku tahu rekeningnya. Aku pikir isinya hadiah kelulusan Rp10 juta. Aku tidak tahu Nenek mentransfer ratusan juta.”

Ibu mendesah.

“Makanya Ibu bilang pulang. Hal seperti ini kalau dibicarakan lewat telepon malah jadi salah paham.”

“Tidak ada yang salah paham dari angka di rekening.”

“Kamu mulai lagi.”

“Aku cuma bertanya.”

Lalu Ibu mengatakan kalimat yang akhirnya membuat pola selama bertahun-tahun terlihat sangat jelas.

“Nenek memang selalu lebih percaya kamu bisa menjaga uang daripada adikmu.”

Aku tidak menjawab.

Ibu meneruskan, “Celine masih muda. Dia butuh lebih banyak bantuan. Kamu sejak dulu sudah mandiri.”

“Jadi karena aku lebih hati-hati, tugasku membayar kesalahan dia?”

“Jangan dipelintir begitu.”

“Itu yang terjadi.”

Suara Ayah terdengar samar di belakang.

Ibu kemudian berkata, “Datang malam ini. Jangan bawa orang lain. Kita bicara.”

Aku tidak menyukai bagian “jangan bawa orang lain”, tapi aku juga sadar ada barang-barang pentingku di rumah.

KTP cadangan, ijazah, beberapa dokumen kerja lama, dan dokumen pajak masih tersimpan di lemari kamar.

“Aku datang ambil barang,” kataku.

“Sekalian kita selesaikan.”

Aku tidak berjanji.

Sebelum berangkat, aku memindahkan sebagian besar barang penting dari rekening lama itu ke deposito baru atas namaku sendiri dengan instruksi yang sudah kubicarakan dengan bank. Aku tidak membuat keputusan investasi besar.

Aku hanya memastikan tidak ada orang lain yang memegang ponsel, dokumen, atau informasi yang dibutuhkan untuk mengaksesnya.

Lalu aku mengganti kata sandi email utama.

Selama ini aku sering merasa tindakan semacam itu berlebihan.

Sekarang tidak lagi.

Aku tiba di rumah sekitar pukul tujuh malam.

Mobil Celine masih ada di garasi, BMW putih yang menjadi pusat pertengkaran kami terparkir di samping mobil Ayah.

Aku masuk menggunakan kunci sendiri.

Ibu sudah menunggu di ruang keluarga.

Ayah duduk di sofa.

Celine ada di kursi tunggal dekat jendela.

Tidak ada makan malam di meja.

Tidak ada kerabat.

Hanya kami berempat.

Ayah menunjuk kursi kosong.

“Duduk.”

Aku meletakkan tas di samping kaki dan duduk.

Ayah langsung berkata, “Pertama, kemarin kita semua sedang emosi.”

Aku menunggu.

“Tidak seharusnya pembicaraan keluarga sampai seperti itu.”

Itu bukan permintaan maaf.

Tapi setidaknya berbeda dari kemarin.

Ibu menyilangkan tangan.

“Kamu juga keterlaluan.”

Tentu saja.

Aku berkata, “Aku datang bukan untuk mengulang pertengkaran.”

“Bagus,” jawab Ayah. “Berarti kita bisa bicara dewasa.”

Celine menatap ponselnya.

Aku mengeluarkan salinan transaksi yang diberikan bank dan menaruhnya di meja.

“Aku mau tahu soal uang Nenek.”

Wajah Ibu langsung berubah.

Ayah melirik kertas itu.

“Kamu sudah ke bank?”

“Iya.”

“Kamu tidak perlu melakukan semua itu.”

“Justru perlu.”

Aku menyebutkan jumlah transfer yang kulihat.

Lalu aku bertanya, “Kenapa selama enam tahun setelah Nenek meninggal tidak satu pun dari kalian mengatakan ada uang sebanyak itu atas namaku?”

Ayah mengusap dagunya.

“Itu uangmu. Tidak ada yang mengambil.”

“Itu bukan jawaban.”

“Kami tidak mengambilnya.”

“Aku tahu. Bank sudah memastikan.”

Ibu menyela, “Lalu masalahnya apa?”

Aku benar-benar menatapnya.

“Masalahnya adalah kalian tahu Nenek memberikan uang untuk membantuku membeli tempat tinggal. Selama bertahun-tahun kalian tetap mengatakan aku harus menunda pindah karena keluarga membutuhkan bantuanku. Pada saat yang sama, setiap Celine punya masalah keuangan, kalian datang kepadaku.”

Ibu menatap ke samping.

“Apa hubungannya?”

“Aku ingin tahu kenapa aku tidak pernah diberi tahu.”

Celine akhirnya mengangkat wajah.

“Memangnya penting?”

Aku menoleh kepadanya.

“Kalau itu uang atas namamu, kamu tidak mau tahu?”

Dia tidak menjawab.

Aku kemudian bertanya sesuatu yang sudah menggangguku sejak pembicaraan dengan Tante Mira.

“Bagian Celine dari Nenek ke mana?”

Celine menegang.

Ayah berkata cepat, “Tidak perlu bawa dia.”

“Ini langsung berhubungan dengan alasan kalian meminta aku membayar mobilnya.”

“Aku bilang jangan bawa adikmu.”

Aku tidak menaikkan suara.

“Ayah meminta hampir empat puluh juta untuk BMW yang katanya Celine tidak mampu bayar. Kalau Nenek juga memberikan dana kepadanya, aku ingin tahu kenapa tanggung jawab itu pindah kepadaku.”

Celine memandang Ayah.

“Ayah?”

Ekspresinya membuatku sadar mungkin dia sendiri tidak tahu semua rinciannya.

Ibu berkata, “Uang Celine dipakai untuk kebutuhan Celine.”

“Berapa?”

“Macam-macam.”

“Berapa?”

“Maya!”

Aku tidak bergeser.

Ayah akhirnya berkata, “Sebagian untuk biaya sekolahnya.”

“Itu masuk akal. Sisanya?”

Ibu menjawab, “Uang muka mobil.”

Celine memandangnya.

“BMW ini?”

Ibu mengangguk.

Aku melihat wajah Celine berubah.

“Katanya uang muka mobil dibantu dari tabungan Ayah.”

“Ya sama saja,” kata Ibu. “Uang keluarga.”

Aku hampir menyela, tetapi Celine lebih dulu bicara.

“Berapa uang dari Nenek yang dipakai buat mobil?”

Ibu semakin tidak nyaman.

“Sudah lama sekali. Ibu tidak hafal angka.”

“Aku tanya berapa.”

Nada Celine berbeda dari biasanya.

Ayah berkata, “Sekitar seratus dua puluh juta.”

Celine menurunkan ponsel.

“Seratus dua puluh?”

“Mobilmu mahal.”

“Aku tahu mobilku mahal.”

“Lalu?”

Celine menggeleng.

“Aku kira itu uang Ayah.”

Ayah mulai kehilangan kesabaran.

“Memangnya bedanya apa? Uang itu memang diberikan untuk kebutuhanmu.”

Untuk pertama kali sejak aku datang, aku dan Celine saling memandang bukan sebagai dua orang yang sedang bertengkar.

Kami sama-sama sedang mencoba memahami versi keluarga yang selama ini diberikan kepada kami.

Aku bertanya, “Sisanya?”

Ibu berkata, “Beberapa dipakai untuk kuliah. Laptop. Biaya lain.”

Celine mengerutkan dahi.

“Bukannya biaya kuliah dibayar dari rekening pendidikan?”

Ayah menatapnya.

“Kamu mau sekarang hitung semua biaya yang kami keluarkan untukmu?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Celine terdiam.

Aku melihat pola yang sama mulai diarahkan kepadanya.

Begitu seseorang meminta rincian, percakapan dipindahkan ke soal rasa terima kasih.

Aku berkata, “Tidak ada yang bilang Ayah dan Ibu tidak pernah membantu kami. Yang kami tanyakan cuma uang Nenek dipakai ke mana.”

Ibu tertawa pendek tanpa senyum.

“Sekarang kalian kompak menyidang orang tua?”

“Tidak.”

Aku mengambil kembali kertas di meja.

“Aku cuma ingin tahu fakta sebelum memutuskan apa yang akan kulakukan.”

“Akan melakukan apa?” tanya Ayah.

“Pindah.”

Ibu langsung menatapku.

“Karena pertengkaran satu malam?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Karena kemarin Ibu membuatnya sangat sederhana. Kalau aku tidak membayar masalah Celine, aku bukan keluarga.”

“Ibu sedang marah.”

“Aku tahu.”

“Orang kalau marah bisa bicara sembarangan.”

“Benar.”

Ibu tampak sedikit lega.

Aku melanjutkan, “Tapi masalahnya aku percaya Ibu memang menganggap aku wajib membayar.”

Kelegaan itu hilang.

“Kamu kakaknya.”

“Itu bukan jawaban.”

“Jadi sekarang kalau adikmu kesulitan kamu tutup mata?”

“Dia tidak kesulitan membeli makan atau berobat.”

Aku menunjuk ke arah garasi.

“Kita bicara tentang BMW yang terlalu mahal untuk penghasilannya setelah dia menghabiskan uang untuk liburan.”

Celine membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

Biasanya dia akan membela diri.

Kali ini tidak.

Ibu berkata, “Kamu selalu melihat adikmu dari kesalahannya.”

Aku memandang Celine.

“Tidak. Aku cuma berhenti membayar kesalahannya.”

Ruangan kembali sunyi.

Aku bangkit.

“Aku ambil barang malam ini.”

Ayah ikut berdiri.

“Kamu mau tinggal di mana?”

“Untuk sementara di tempat teman. Minggu ini aku cari apartemen sewa.”

“Kamu punya rumah.”

“Aku tahu.”

“Lalu buat apa buang uang?”

Dulu argumen itu sangat efektif.

Aku selalu kembali menghitung biaya sewa dan merasa bersalah.

Sekarang aku berkata, “Karena aku ingin tempat di mana statusku sebagai penghuni tidak bergantung pada apakah aku mau mentransfer uang kepada orang lain.”

Ayah menatapku cukup lama.

Ia tidak membanting meja.

Tidak berteriak.

Justru wajahnya tampak lelah.

“Maya, keluarga itu tidak selalu rapi.”

“Aku juga tidak minta rapi.”

Aku mengambil tas.

“Aku cuma tidak mau setiap kata ‘tidak’ berakhir dengan ancaman.”

Aku masuk ke kamar.

Semua masih seperti kemarin.

Laptop lama ada di meja.

Beberapa foto keluarga masih berdiri di rak.

Aku mengeluarkan koper, lalu mulai mengambil dokumen terlebih dahulu.

Ijazah.

Akta lahir.

Dokumen pajak.

Surat kerja.

Berkas kendaraan.

Aku memotret isi beberapa map sebelum memasukkannya ke tas.

Baru setelah itu aku mengambil pakaian untuk beberapa hari.

Saat sedang menutup koper, Celine berdiri di ambang pintu.

Dia tidak masuk.

“Kak.”

Aku menoleh.

“BMW itu bukan salahmu.”

Aku hampir tertawa karena pernyataannya terdengar sangat terlambat.

Tapi wajahnya serius.

Aku berkata, “Aku tahu.”

Dia masuk satu langkah.

“Aku memang harusnya nggak ke Bali.”

Aku melipat satu kemeja.

“Ke Bali bukan masalah utama.”

“Aku tahu.”

Dia memandang lemari.

“Aku nggak tahu soal uang Nenek.”

“Aku juga.”

“Aku pikir kamu memang punya jauh lebih banyak uang daripada aku.”

“Aku punya penghasilan lebih besar.”

“Itu maksudku.”

“Bukan alasan aku harus membayar semua.”

Dia mengangguk tipis.

Untuk pertama kali, aku melihat sesuatu yang jarang ada pada wajah adikku ketika uang dibicarakan.

Malu.

Bukan malu karena tidak mendapatkan apa yang dia mau.

Malu karena mulai memahami bagaimana dia mendapatkannya selama ini.

“Ayah sama Ibu selalu bilang kamu nggak keberatan,” katanya.

Aku berhenti.

“Setiap kali?”

“Ya. Kalau aku bilang nggak usah minta Kak Maya, Ibu bilang kamu senang bisa bantu.”

Aku menatapnya.

Itu menjelaskan lebih banyak daripada yang ingin kuakui.

Aku memang sering berkata iya.

Tapi biasanya setelah dua atau tiga panggilan, pesan panjang, dan kalimat bahwa Celine akan terkena masalah kalau aku tidak membantu.

“Kadang aku keberatan,” kataku.

Dia menunduk.

“Aku nggak pernah benar-benar tanya.”

“Tidak.”

Dia mengangguk lagi.

Lalu ia berkata, “Aku akan cari cara bayar bengkel.”

“Bagus.”

“Kakak nggak mau bantu sama sekali?”

Pertanyaan itu membuatku hampir tersenyum.

Setidaknya dia bertanya, bukan menganggap.

“Aku bisa bantu cari bengkel kedua untuk minta pendapat. Tapi tagihannya bukan tanggung jawabku.”

Celine berpikir sejenak.

“Oke.”

Satu kata.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada bentakan.

Rasanya hampir asing.

Aku membawa dua tas keluar kamar.

Sebelum pergi, aku meletakkan kunci rumah di atas meja ruang keluarga.

Ibu melihatnya.

“Kamu serius?”

“Iya.”

“Kamu nggak perlu kasih kunci.”

“Aku lebih nyaman begitu.”

“Maya.”

Aku menatapnya.

Untuk sesaat wajah Ibu melembut.

“Jangan bikin jarak terlalu jauh karena uang.”

Aku memandangnya cukup lama.

“Jaraknya bukan mulai dari uang, Bu.”

Aku tidak menjelaskan lebih jauh.

Aku pergi malam itu.

Tiga hari berikutnya jauh lebih tenang daripada yang kubayangkan.

Bukan berarti mudah.

Ada saat-saat ketika aku membuka ponsel dan ingin menghubungi Ibu hanya karena biasanya aku memberitahunya kalau akan pulang terlambat.

Ada pagi ketika aku secara refleks berpikir harus membelikan kopi favorit Ayah saat pulang.

Kebiasaan keluarga ternyata tidak langsung mati hanya karena seseorang berkata kau mati bagi mereka.

Aku mulai melihat beberapa apartemen kecil di sekitar Bintaro dan Tangerang Selatan.

Bukan unit mewah.

Aku tidak ingin menggunakan uang Nenek secara impulsif hanya karena baru menemukannya.

Setelah menghitung biaya dan jarak ke kantor, aku menyewa unit satu kamar untuk enam bulan.

Aku membeli kasur, meja kerja sederhana, dua kursi, dan rak kecil.

Uang Nenek tetap sebagian besar tersimpan.

Untuk pertama kali, aku ingin membuat keputusan keuangan besar tanpa ada suara dari meja makan yang ikut menentukan.

Sementara itu, Celine benar-benar mulai mencari solusi untuk mobilnya.

Dia membawa BMW ke bengkel spesialis kedua.

Hasil pemeriksaannya tidak menghapus masalah, tetapi biaya perbaikannya bisa ditekan menjadi sekitar Rp31 juta dengan komponen yang sesuai dan pekerjaan dilakukan bertahap.

Jumlah itu masih besar.

Celine meneleponku.

“Aku mungkin jual beberapa barang.”

“Barang apa?”

“Tas sama jam.”

Aku tahu beberapa barang itu dibelinya sendiri.

Aku tidak berkata dia harus melakukannya.

Aku juga tidak menawarkan uang.

“Aku juga tanya tempat magang apakah bulan depan bisa lebih sering WFH,” katanya. “Kalau nggak, aku bisa naik taksi online beberapa hari.”

“Itu keputusanmu.”

Dia tertawa kecil.

“Kak, susah banget ya ngomong sama orang yang sekarang jawabannya selalu ‘keputusanmu’.”

“Aku lagi latihan.”

Untuk pertama kalinya setelah pertengkaran, kami tertawa.

Tidak lama.

Tapi cukup.

Masalah dengan orang tua kami lebih rumit.

Ayah mengirim pesan bahwa ia ingin bicara empat mata.

Aku setuju bertemu di sebuah kedai kopi dekat kantor, bukan di rumah.

Ia datang tepat waktu.

Kelihatannya lebih tua daripada minggu sebelumnya.

Setelah memesan kopi, Ayah langsung berkata, “Ibumu masih marah.”

“Aku tahu.”

“Dia juga merasa kamu mempermalukannya di depan Mira.”

“Tante Mira sudah berada di meja saat Ibu bilang aku mati bagi keluarga.”

Ayah tidak menjawab.

Aku tidak mencoba menang.

Aku hanya menunggu.

Beberapa saat kemudian dia berkata, “Soal uang Nenek, Ayah harus jelaskan.”

Aku menaruh ponsel di meja.

Ayah bercerita bahwa beberapa tahun sebelum meninggal, Nenek menjual tanah warisan keluarganya. Ia memberikan sebagian kepada kedua putrinya, lalu menyiapkan dana untukku dan Celine.

Karena saat itu Celine belum cukup dewasa mengelola jumlah sebesar itu, orang tuaku mengatur penggunaannya.

Sebagian memang untuk sekolah.

Sebagian untuk laptop.

Sebagian untuk uang muka BMW setelah Celine diterima kuliah.

Ada juga pengeluaran yang Ayah sendiri mengakui seharusnya tidak diambil dari dana tersebut.

“Berapa yang tersisa?” tanyaku.

Ayah menunduk.

“Tidak banyak.”

“Celine tahu?”

“Sekarang dia tahu.”

Aku menghela napas.

“Kenapa uangku berbeda?”

“Nenek keras kepala.”

Aku menatapnya.

Ayah mengoreksi, “Dia tegas.”

“Nah.”

Ayah mengabaikan itu.

“Nenek bilang bagianmu harus tetap di rekeningmu. Waktu dia mulai sakit, dia meminta deposito itu diperpanjang otomatis.”

“Dan kalian tahu?”

“Iya.”

“Kenapa tidak bilang?”

Ayah mengaduk kopi yang sebenarnya tidak diberi gula.

“Awalnya kami pikir Nenek sendiri sudah bicara.”

“Setelah beliau meninggal?”

Ayah diam.

“Itu enam tahun lalu.”

“Ayah tahu.”

“Jadi kenapa?”

Ia akhirnya menatapku.

“Karena kondisi keluarga berubah.”

Aku menunggu.

“Ayah mulai mengurangi pekerjaan. Celine kuliah. Kamu punya karier bagus. Kamu juga tinggal di rumah.”

“Jadi?”

“Kami pikir uang itu lebih baik dibiarkan. Kalau kamu tahu ada hampir setengah miliar untuk rumah, mungkin kamu langsung pindah.”

Aku nyaris tidak percaya.

“Ayah sengaja tidak bilang karena ingin aku tetap tinggal?”

“Bukan sesederhana itu.”

“Tapi itu salah satu alasannya.”

Ayah tidak membantah.

Aku memikirkan dua tahun terakhir.

Setiap kali aku mengatakan ingin menyewa apartemen dekat kantor, Ibu menyebutnya pemborosan.

Ayah mengatakan rumah mereka selalu rumahku.

Celine mengatakan ia senang ada aku di rumah.

Aku mengira itu bentuk kasih sayang.

Mungkin sebagian memang kasih sayang.

Tapi ternyata ada bagian lain.

Aku membayar banyak pengeluaran rumah.

Aku mudah dimintai bantuan.

Aku tersedia.

Dan kalau aku pindah, semua itu berubah.

Ayah berkata, “Kami tidak mengambil uangmu.”

“Aku tidak menuduh Ayah mencuri.”

“Lalu kenapa kamu memperlakukan kami seperti melakukan kejahatan?”

“Aku tidak.”

Aku mencondongkan badan sedikit.

“Yang membuatku marah bukan karena uang itu masih ada. Yang membuatku marah karena kalian sengaja menahan informasi supaya aku membuat keputusan berdasarkan keadaan yang tidak lengkap.”

Ayah menggeleng.

“Kamu terlalu melihat semuanya seperti pekerjaan. Data, informasi, keputusan.”

“Mungkin.”

Aku menatapnya.

“Tapi kalau Nenek meninggalkan pesan khusus supaya uang itu dipakai untuk tempat tinggalku, bukankah seharusnya aku tahu?”

Ayah tidak menjawab.

Aku melanjutkan, “Selama bertahun-tahun aku kira belum cukup aman untuk pindah. Aku menabung sambil terus membayar hal-hal lain. Ternyata ada uang yang memang disiapkan untuk tujuan itu.”

Ayah bersandar.

“Kalau sekarang kamu sudah tahu, ya gunakan.”

Aku tersenyum tipis.

“Itu bukan permintaan maaf.”

Wajahnya menegang.

“Apa yang kamu mau dari Ayah?”

Aku berpikir sebelum menjawab.

“Tidak banyak.”

Aku menghitung dengan jari.

“Jangan lagi minta aku membayar kebutuhan Celine tanpa dia bicara langsung denganku.”

Ayah diam.

“Jangan menjanjikan bantuanku kepada keluarga lain sebelum bertanya.”

Ia mengerutkan dahi, tetapi tidak memotong.

“Dan jangan gunakan kata keluar dari keluarga atau durhaka setiap kali aku berkata tidak.”

Ayah mengembuskan napas panjang.

“Keluarga bukan perusahaan yang bisa pakai aturan tertulis.”

“Aku juga tidak meminta kontrak.”

“Cara bicaramu terdengar seperti itu.”

“Karena cara lama tidak bekerja.”

Ayah menatap meja cukup lama.

Kemudian ia berkata, “Soal malam itu, Ayah salah.”

Aku tidak bergerak.

“Menyuruhmu bayar seperti itu juga salah.”

Itu pertama kalinya dalam hidupku aku mendengar Ayah mengakui sesuatu tanpa menambahkan kata “tapi” setelahnya.

Aku mengangguk.

“Terima kasih.”

“Jangan harap Ibumu secepat ini.”

“Aku tidak bisa mengatur Ibu.”

“Dulu kamu selalu berusaha.”

Aku menatapnya.

“Mungkin itu masalahnya.”

Kami berpisah tanpa pelukan.

Aneh, tapi aku merasa pertemuan itu lebih berguna daripada seratus adegan saling menangis.

Aku tidak membutuhkan Ayah berlutut.

Aku membutuhkan kenyataan bahwa untuk pertama kalinya dia tahu aku bisa pergi ketika batas dilewati.

Dengan Ibu, prosesnya lebih lama.

Selama hampir tiga minggu dia hanya mengirim pesan-pesan pendek.

Sudah makan?

Kapan ambil barang sisanya?

Celine bilang apartemenmu dekat.

Tidak ada pembicaraan tentang malam itu.

Aku tetap menjawab seperlunya.

Lalu suatu Minggu sore, Ibu datang ke apartemenku.

Celine sebelumnya mengirim pesan memberi tahu bahwa Ibu ingin datang.

Aku tidak melarang.

Ketika membuka pintu, Ibu berdiri membawa dua kotak plastik makanan.

“Boleh masuk?”

Aku bergeser.

Dia melihat sekeliling.

Apartemenku kecil.

Ruang tamu menyatu dengan meja kerja dan dapur mini.

Belum ada dekorasi selain satu tanaman yang kubeli karena Rani mengatakan ruangan itu terlihat terlalu mirip kantor.

Ibu meletakkan makanan di meja.

“Cuma begini?”

Aku tertawa kecil.

“Baru juga tiga minggu.”

“Kamar satu?”

“Iya.”

“Padahal kalau mau pakai uang Nenek, bisa cari yang lebih bagus.”

Kalimat itu dulu mungkin akan memicu pertengkaran.

Aku hanya berkata, “Aku belum mau beli.”

Ibu mengangguk.

Kami duduk.

Beberapa menit ia berbicara tentang hal-hal tidak penting.

Harga buah.

Tetangga baru.

Celine yang sekarang lebih sering naik kendaraan umum ke tempat magang.

Lalu Ibu melihat meja kerjaku.

“Celine mau jual BMW.”

Aku menoleh.

“Dia bilang begitu?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Katanya cicilan dan perbaikannya terlalu berat.”

Aku mengangguk.

Menurutku itu keputusan yang masuk akal.

Ibu tidak.

“Sayang sekali. Mobil bagus.”

Aku tidak menjawab.

Ibu mengusap tutup kotak makanan.

“Ayahmu bilang dia sudah bicara sama kamu.”

“Iya.”

“Dia bilang Ibu harus minta maaf.”

Aku hampir tersenyum.

“Itu keputusan Ibu.”

Dia langsung menatapku.

“Kalian sekarang sama semua ngomong begitu.”

Aku tertawa.

Kali ini dia juga hampir tersenyum.

Lalu ekspresinya kembali serius.

“Ibu memang marah malam itu.”

“Aku tahu.”

“Bukan berarti Ibu benar-benar berharap kamu hilang dari keluarga.”

“Aku juga tahu.”

“Terus kenapa sampai pindah?”

Pertanyaan itu terdengar tulus.

Aku berpikir cukup lama agar jawabanku tidak berubah menjadi pidato.

“Karena kalau aku langsung pulang, semuanya akan kembali seperti sebelumnya.”

Ibu menatapku.

“Aku akan tetap diminta bayar. Kalau menolak, aku akan dibilang pelit. Lalu akhirnya aku transfer karena capek.”

“Ibu nggak selalu begitu.”

“Tidak selalu.”

Aku mengakuinya.

“Tapi cukup sering.”

Ibu menunduk.

Aku melanjutkan, “Aku juga ikut membuatnya jadi kebiasaan. Aku terlalu sering bilang iya padahal sebenarnya keberatan.”

Dia tidak membantah.

“Kenapa tidak ngomong?”

“Karena setiap kali mulai ngomong, jawabannya keluarga harus saling bantu.”

“Itu kan benar.”

“Benar.”

Aku menatapnya.

“Tapi membantu dan wajib membayar bukan hal yang sama.”

Ibu terdiam.

Aku tidak tahu apakah dia sepenuhnya setuju.

Mungkin tidak.

Tapi untuk pertama kalinya aku tidak merasa harus memaksanya setuju agar batas yang kubuat menjadi sah.

Beberapa menit kemudian Ibu berkata, “Soal uang Nenek, Ibu memang sengaja tidak bilang lagi setelah Nenek meninggal.”

Aku menunggu.

“Ibu pikir kalau kamu tahu, kamu makin ingin hidup sendiri.”

“Dan ternyata benar.”

Dia mendengus.

“Makanya.”

Kami sama-sama diam.

Lalu ia berkata, “Ibu takut rumah jadi sepi.”

Itu bukan pembenaran.

Tapi itu alasan manusia.

Dan anehnya, alasan itu jauh lebih mudah kuterima daripada kalimat tentang kewajiban anak.

“Kalau Ibu bilang begitu dari dulu, mungkin kita bisa bicara.”

“Ibu pikir anak sendiri nggak perlu dijelaskan begitu.”

“Mungkin justru anak sendiri perlu.”

Ibu tidak menjawab.

Sebelum pulang, dia berdiri di depan pintu dan berkata, “Ibu minta maaf karena bilang kamu mati bagi keluarga.”

Aku menatapnya.

“Terima kasih.”

“Jangan disimpan terus.”

“Aku tidak simpan buat menyerang Ibu.”

“Bagus.”

“Tapi aku juga tidak mau pura-pura tidak pernah terjadi.”

Ibu mengangguk tipis.

Tidak sempurna.

Tapi cukup jujur.

Dua bulan setelah makan malam itu, Celine menjual BMW-nya.

Setelah melunasi sisa cicilan dan biaya terkait, uang yang tersisa tidak banyak, tetapi cukup untuk membeli mobil bekas yang lebih sederhana dengan tambahan tabungannya sendiri.

Dia tidak meminta uang dariku.

Suatu sore dia mengirim foto mobil barunya.

Nggak keren, tapi transmisinya sehat.

Aku menjawab:

Kemajuan besar.

Dia mengirim emoji marah, lalu tertawa.

Hubungan kami tidak tiba-tiba menjadi sempurna.

Kadang dia masih meminta bantuan.

Kadang aku membantu.

Kadang aku menolak.

Perbedaannya sederhana.

Sekarang “tidak” benar-benar berarti tidak.

Tidak ada lagi tiga panggilan dari Ibu setelahnya.

Tidak ada lagi Ayah menelepon untuk menjelaskan mengapa penghasilanku lebih besar.

Dan Celine mulai bertanya sebelum membuat asumsi.

Tentang uang Nenek, aku akhirnya mendapat salinan surat lama dari Tante Mira yang memang ditulis Nenek untuk kami, bukan sebagai dokumen hukum, melainkan catatan pribadi yang ia simpan bersama berkas keluarga.

Untuk Celine, ia menulis agar uangnya dipakai belajar dan memulai hidup.

Untukku, ia menulis bahwa aku terlalu sering menunda keinginanku karena khawatir merepotkan orang lain.

Karena itu ia ingin aku punya sesuatu yang tidak perlu kuminta dari siapa pun.

Aku membaca bagian itu berkali-kali.

Bukan karena jumlah uangnya.

Karena Nenek rupanya melihat sesuatu yang bahkan saat itu belum bisa kulihat pada diriku sendiri.

Enam bulan kemudian, aku masih tinggal di apartemen sewa yang sama.

Aku belum membeli penthouse.

Aku tidak berhenti bekerja.

Aku tidak berubah menjadi orang kaya yang mendadak bebas dari semua masalah.

Aku hanya mulai mencari unit apartemen kecil yang mungkin bisa kubeli tahun berikutnya dengan sebagian uang Nenek sebagai uang muka besar, sementara sisanya tetap kusimpan.

Aku juga masih makan bersama keluargaku sesekali.

Makan malam pertama setelah aku pindah terasa canggung.

Ibu bahkan sempat bertanya apakah aku mau membawa pulang lauk.

Aku bilang iya.

Ayah membicarakan pekerjaannya.

Celine mengeluh soal atasannya.

Tidak ada yang membicarakan uang.

Sampai paman kami menyebut anaknya sedang mencari modal untuk usaha kecil.

Aku otomatis menegang.

Dulu, titik seperti itu biasanya diikuti Ibu berkata, “Coba bicara sama Maya.”

Kali ini Ibu hanya menjawab, “Kalau mau pinjam atau minta bantuan, bicara langsung sama Maya. Biar dia sendiri yang jawab.”

Aku menoleh kepadanya.

Ibu tidak melihatku.

Dia sibuk mengambil sayur.

Perubahan besar kadang datang dengan suara sangat kecil.

Aku tidak menganggap semua masalah selesai.

Ayah dan Ibu masih punya kebiasaan lama.

Aku juga.

Kadang rasa bersalah masih muncul ketika aku membeli sesuatu untuk diriku sendiri.

Kadang aku masih ingin menjelaskan panjang lebar kenapa aku tidak bisa membantu, seolah satu kata “tidak” membutuhkan laporan keuangan.

Tapi sekarang aku berhenti sebelum melakukannya.

Aku mempertimbangkan permintaan.

Kalau masuk akal dan aku memang ingin membantu, aku membantu.

Kalau tidak, aku menolak.

Dan dunia tidak runtuh.

Hubunganku dengan Celine justru menjadi lebih jujur setelah aku berhenti menjadi penyelamatnya.

Beberapa bulan kemudian dia mendapat pekerjaan tetap setelah masa magangnya selesai.

Gaji pertamanya belum besar.

Dia mengirim Rp1 juta kepadaku tanpa pemberitahuan.

Aku langsung menelepon.

“Ini apa?”

“Utang kartu kredit Januari.”

Aku tertawa.

“Celine, utangmu lebih banyak dari itu.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

“Ya dicicil.”

Aku terdiam sebentar.

“Kamu nggak perlu buru-buru.”

“Aku bukan buru-buru.”

Dia terdengar sedikit kesal.

“Aku cuma nggak mau Kakak nanti bilang aku nggak pernah bayar.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Waktu makan malam kamu bilang.”

Aku tertawa lagi.

“Ya sudah.”

Bulan berikutnya dia mengirim jumlah yang sama.

Tidak selalu tepat tanggal.

Kadang lebih kecil.

Tapi dia tetap mengirim.

Aku tidak tahu apakah dia akan mengganti semuanya.

Anehnya, itu tidak lagi menjadi hal terpenting.

Yang penting adalah dia mulai memandang keputusan keuangannya sebagai tanggung jawabnya sendiri.

Suatu Minggu malam, hampir setahun setelah pertengkaran itu, aku pulang dari rumah orang tuaku ke apartemen.

Sebelum masuk, aku berdiri sebentar di lorong sambil mencari kunci di tas.

Aku teringat malam ketika Ibu menyuruhku keluar.

Saat itu aku mengira aku sedang kehilangan rumah.

Ternyata aku hanya sedang kehilangan tempat di mana aku tidak pernah benar-benar boleh berkata tidak.

Aku membuka pintu apartemen.

Di meja dekat pintu ada map berisi dokumen rekening Nenek dan beberapa brosur apartemen yang sedang kupertimbangkan.

Aku memasukkan map itu ke laci.

Lalu aku menutup laci, meletakkan kunci di tempatnya, dan mengunci pintu dari dalam.

Menurutmu, apakah Maya masih seharusnya membantu keluarganya secara finansial setelah mereka belajar menghormati batas yang ia buat?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.