Sepuluh Tahun Aku Membayar Cicilan Rumah Orang Tuaku. Saat Ibu Menyuruhku Membiayai Rumah Baru Adikku, Aku Akhirnya Menolak
Bagian 1
Setiap tanggal dua puluh sembilan, pukul delapan malam, Ibu meneleponku dengan alasan yang hampir selalu sama.
Malam itu bahkan tidak ada salam.
“Cicilan rumah sudah terlambat. Bayar malam ini,” katanya. “Sama transfer Rp180 juta ke Jenna. Rumah barunya sebentar lagi ditempati. Masa ruang tamunya kosong saat keluarga datang?”
Tanganku berhenti di atas touchpad laptop.
Di layar ada kontrak kerja sama senilai puluhan miliar rupiah yang baru selesai diperiksa tim legal perusahaan tempatku bekerja. Sebagai direktur keuangan regional, tugasku memastikan angka sebesar itu tidak bergerak satu rupiah pun tanpa alasan dan dokumen yang jelas.
Anehnya, prinsip yang sama tidak pernah kuterapkan pada keluargaku sendiri.
“Tidak, Bu.”
Di seberang telepon tidak terdengar apa-apa selama beberapa detik.
Lalu Ibu tertawa.
Bukan tawa karena geli. Lebih seperti dia yakin aku sedang mencoba membuat lelucon yang sangat buruk.
“Kamu bilang apa?”
“Aku tidak akan membayar malam ini. Dan aku tidak akan transfer Rp180 juta ke Jenna.”
Nada suaranya langsung berubah.
“Emily, jangan mulai merasa penting cuma karena jabatanmu sekarang bagus.”
Aku memejamkan mata sebentar.
Namaku Emily Pradana. Umurku tiga puluh empat tahun. Sepuluh tahun terakhir, setiap kenaikan gajiku selalu diketahui keluargaku lebih cepat daripada beberapa teman dekatku.
Bukan karena mereka bangga.
Karena setiap kenaikan penghasilan berarti ada permintaan baru.
Waktu usaha percetakan Ayah bangkrut, aku mulai membantu cicilan rumah.
Awalnya hanya beberapa bulan.
Lalu setahun.
Kemudian aku membayar hampir semuanya.
Saat mobil Jenna, adikku, harus diperpanjang kreditnya, Ibu meneleponku.
Saat Jenna mengambil program magister dan mengatakan biaya kuliahnya terlalu berat, aku ikut membayar.
Saat dia menikah tiga tahun lalu, gedung resepsi yang menurut Ibu “harus layak untuk keluarga kita” sebagian besar kubayar.
Ketika dapur rumah orang tuaku direnovasi, Ibu menyebutnya investasi karena “rumah keluarga harus dijaga nilainya”.
AC rusak, aku yang mengganti.
Atap bocor, aku yang membayar.
Kartu kredit Ibu yang katanya hanya dipakai untuk keadaan darurat beberapa kali kulunasi.
Liburan keluarga ke Bali dua tahun lalu bahkan berubah menjadi tagihan kartu kreditku karena Jenna dan suaminya berjanji mengganti bagian mereka tetapi tidak pernah melakukannya.
Selama bertahun-tahun, setiap kali aku keberatan, selalu ada kalimat yang sama dalam bentuk berbeda.
Kamu kan yang paling mampu.
Kamu belum punya anak.
Gajimu paling besar.
Jenna masih membangun rumah tangga.
Ayah dan Ibu sudah tua.
Keluarga harus saling membantu.
Aku tinggal di apartemen sewaan dua kamar di Semarang yang nyaman tetapi sederhana. Mobilku sudah enam tahun. Aku menunda membeli rumah sendiri karena hampir separuh pendapatanku, terutama setelah bonus tahunan, selalu menemukan jalan pulang ke rekening keluargaku.
Dan makin banyak kuberi, makin sedikit yang dianggap sebagai bantuan.
Lama-lama semuanya berubah menjadi kewajiban.
“Bu,” kataku, “aku sudah transfer uang cicilan bulan ini.”
“Kurang.”
“Tidak kurang. Jumlahnya sama seperti yang Ibu minta.”
“Sekarang ada denda keterlambatan.”
“Kenapa terlambat kalau uangnya kukirim tanggal dua puluh?”
Ibu langsung mengabaikan pertanyaanku.
“Jangan hitung-hitungan dengan orang tua.”
“Aku cuma bertanya.”
“Jenna juga butuh bantuan.”
“Rp180 juta untuk furnitur bukan keadaan darurat.”
“Dia punya rumah baru. Ada keluarga suaminya yang akan datang. Kamu mau adikmu dipermalukan?”
Aku bersandar di kursi.
Itulah keahlian Ibu yang paling sulit kulawan.
Setiap permintaan uang selalu dipasang berdampingan dengan rasa malu.
Kalau aku tidak membayar, keluarga malu.
Kalau aku mempertanyakan tagihan, Ayah stres.
Kalau aku menolak Jenna, berarti aku iri karena dia sudah menikah.
Kalau aku menabung untuk diriku sendiri, aku egois.
“Mereka bisa membeli furnitur sesuai kemampuan mereka,” jawabku.
“Kamu tahu berapa besar penghasilanmu dibanding Jenna.”
“Itu tidak membuat penghasilanku jadi miliknya.”
“Dia adikmu.”
“Iya.”
“Jadi bantu.”
“Tidak kali ini.”
Ibu menarik napas keras.
“Setelah semua yang kami lakukan untukmu?”
Kalimat itu masih mampu membuat perutku terasa tidak nyaman, meskipun aku sudah mendengarnya puluhan kali.
Aku tidak merasa orang tuaku tidak pernah berbuat apa-apa untukku. Mereka membesarkanku. Ayah bekerja keras sebelum usahanya gagal. Ibu mengurus rumah dan memastikan aku serta Jenna bisa sekolah dengan baik.
Aku mencintai mereka.
Itulah sebabnya aku terus membayar bahkan lama setelah bantuan itu berhenti terasa sementara.
Tetapi malam itu sesuatu dalam diriku berhenti mencoba mencari pembenaran.
Mungkin karena Rp180 juta terlalu besar untuk disebut bantuan kecil.
Mungkin karena cicilan yang katanya terlambat seharusnya sudah kubayar.
Atau mungkin karena siang tadi aku baru saja duduk bersama tim berisi sembilan orang dan menolak sebuah klausul kontrak yang merugikan perusahaan hanya karena aku tahu persis di mana batas tanggung jawabku.
Lalu malamnya aku pulang dan kembali diperlakukan seolah seluruh rekeningku adalah kas keluarga.
“Tidak lagi, Bu,” kataku.
Suara Ibu meninggi.
“Dasar anak tidak tahu terima kasih.”
Aku diam.
“Kamu pikir karena sekarang kamu direktur, kamu lebih tinggi dari keluarga sendiri?”
“Tidak.”
“Jenna punya suami dan masa depan yang harus dibangun. Kamu dari dulu memang yang bertanggung jawab. Jangan tiba-tiba berubah.”
Kalimat berikutnya keluar begitu mudah dari mulutnya.
Seolah selama ini memang itulah yang dia pikirkan.
“Tahu tempatmu, Emily.”
Aku menatap sebuah bingkai di dinding ruang kerjaku.
Di dalamnya ada sertifikat profesi keuangan yang kudapat setelah bertahun-tahun bekerja sambil belajar malam hari.
Di bawahnya ada foto kecil Kakek bersamaku saat aku masih kuliah.
Untuk pertama kali malam itu, aku hampir tersenyum.
“Aku tahu tempatku.”
Telepon ditutup.
Sepuluh menit kemudian Jenna mengirim pesan WhatsApp.
Ibu bilang kamu sedang ada masalah atau stres berat. Transfer saja malam ini. Jangan bikin semuanya jadi memalukan.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Tidak kujawab.
Pukul sembilan kurang sedikit, Ayah menelepon.
Suaranya lebih pelan daripada Ibu.
“Em.”
“Iya, Yah.”
“Bayar saja dulu.”
“Aku sudah bayar bulan ini.”
“Maksud Ayah, yang diminta Ibu.”
“Termasuk uang Jenna?”
Ayah menghela napas.
“Kalau kamu bisa membantu, kenapa harus dibuat ribut?”
“Karena selalu begitu.”
“Sudahlah. Kamu tahu sendiri bagaimana ibumu kalau sudah marah.”
Aku menatap layar laptop yang mulai redup.
“Ayah pernah bilang ke Ibu supaya berhenti meminta uang kepadaku?”
Tidak ada jawaban langsung.
“Em, jangan bikin persoalan tambah besar.”
“Aku cuma bertanya.”
“Bayar saja dulu. Nanti kita bicara.”
Kalimat itu memutus sesuatu yang selama bertahun-tahun masih kupertahankan.
Bukan rasa sayangku kepada Ayah.
Bukan juga kepada Ibu.
Yang hilang adalah keyakinanku bahwa kalau aku terus mengalah, suatu hari mereka akan sadar sendiri bahwa ini sudah terlalu jauh.
Aku menutup laptop.
Kemudian kubuka lemari kecil di samping meja kerja dan mengeluarkan sebuah map abu-abu yang sudah enam bulan tidak kusentuh.
Aku sebenarnya tahu isi map itu.
Aku hanya memilih tidak memikirkan artinya.
Ada salinan sertifikat tanah.
Ada dokumen pembiayaan rumah.
Ada perjanjian hak tinggal yang dibuat bertahun-tahun lalu.
Ada akta dan surat pengelolaan yang Kakek susun melalui notaris sebelum meninggal.
Ada catatan transfer dariku selama bertahun-tahun.
Dan ada satu hal yang selalu diabaikan orang tuaku karena mereka tinggal di rumah itu begitu lama hingga menganggapnya milik mereka sendiri.
Secara hukum, rumah itu bukan milik mereka.
Kakek membeli rumah tersebut ketika aku masih kuliah. Karena kondisi usaha Ayah saat itu sudah tidak stabil, Kakek mengatur kepemilikan melalui dokumen yang menempatkan hak atas rumah dan pengelolaannya untukku, dengan hak tinggal bagi orang tuaku selama kewajiban pembiayaan dan biaya rumah dipenuhi.
Ketika usiaku tiga puluh tahun, kewenangan penuh untuk mengelola perjanjian itu beralih kepadaku.
Empat tahun lalu.
Aku tidak pernah menggunakannya.
Aku bahkan tidak pernah mengingatkan Ibu tentang itu.
Bagiku, rumah tersebut tetap rumah Ayah dan Ibu selama mereka tinggal di sana dengan baik.
Mungkin aku terlalu lama mengira kasih sayang dan hak hukum adalah dua hal yang tidak akan pernah perlu bertemu.
Malam itu aku membuka lembar demi lembar.
Ada beberapa pemberitahuan keterlambatan yang selama ini hanya kutanggapi dengan transfer tambahan tanpa bertanya terlalu jauh.
Ada jumlah cicilan yang kukirim.
Ada permintaan Ibu.
Ada saldo pembayaran yang ternyata tidak selalu cocok.
Pukul sembilan lewat tiga puluh tujuh menit aku mengambil ponsel.
Aku menelepon pengacara yang selama beberapa tahun menangani dokumen peninggalan Kakek bersama notaris keluarga.
“Pak Hale?”
“Emily? Malam-malam begini ada apa?”
“Saya mau membicarakan rumah yang ditempati orang tua saya.”
Suara di ujung telepon langsung berubah serius.
“Baik.”
Aku melihat lagi pesan Jenna.
Jangan bikin semuanya jadi memalukan.
Kemudian aku membuka pesan terakhir Ibu sebelum dia memblokirku sementara.
Tahu tempatmu.
“Pak Hale,” kataku, “saya siap menjalankan klausul perjanjian hak tinggal itu.”
Dia diam sebentar.
“Emily, kamu yakin?”
Aku menatap tiga kata terakhir dari Ibu sekali lagi.
Tahu tempatmu.

Bagian 2
“Yakin,” jawabku.
Pak Hale tidak mengatakan bahwa besok rumah itu otomatis kembali kepadaku atau orang tuaku harus keluar pagi-pagi.
Justru kalimat pertamanya membuat semuanya terasa lebih nyata.
“Kalau begitu kita mulai dari pelanggarannya dulu. Jangan ambil tindakan sendiri.”
Aku membuka dokumen di meja.
Menurut perjanjian lama itu, Ayah dan Ibu berhak tinggal di rumah selama kewajiban pembayaran yang terkait dengan rumah dijaga dan mereka tidak membuat komitmen atas rumah tersebut kepada pihak lain tanpa persetujuanku.
Pak Hale memintaku mengirim semua pemberitahuan tunggakan enam bulan terakhir.
Aku baru menyadari sesuatu saat mengurutkan tanggal.
Setiap bulan aku mengirim uang antara tanggal delapan belas dan dua puluh.
Tetapi beberapa pemberitahuan keterlambatan muncul setelah tanggal dua puluh lima.
“Pak,” kataku, “kalau uangnya kukirim sebelum jatuh tempo, kenapa pembayarannya tetap terlambat?”
“Itu yang perlu kamu cek.”
Malam itu aku tidak menelepon Ibu lagi.
Aku hanya melakukan tiga hal.
Kuganti kata sandi mobile banking.
Kuhapus rekening Ibu dari daftar transfer terjadwal.
Dan kusimpan seluruh bukti pembayaran ke folder terpisah.
Pagi berikutnya, sebelum berangkat ke kantor, aku menghubungi bank untuk memastikan catatan pembayaran yang memang boleh kuakses sebagai pihak dalam dokumen pembiayaan.
Petugasnya tidak memberi informasi tentang rekening pribadi siapa pun.
Dia hanya mengirim riwayat pembayaran kewajiban rumah atas namaku.
Aku melihat layar cukup lama.
Empat dari enam bulan terakhir terlambat.
Padahal uang dariku tidak pernah terlambat.
Aku lalu mencocokkan nominal itu dengan bukti transfer yang selama ini kukirim ke rekening keluarga yang digunakan Ibu untuk membayar kebutuhan rumah.
Ada selisih.
Bukan sekali.
Berulang.
Aku meminta Pak Hale menyiapkan surat pemberitahuan resmi bahwa kewajiban dalam perjanjian hak tinggal harus dibereskan dalam jangka waktu yang ditentukan. Bukan pengusiran mendadak. Mereka diberi kesempatan memperbaiki tunggakan dan menjelaskan penggunaan dana.
Pukul sepuluh pagi Ibu menelepon dari nomor Ayah.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Saya baru menerima riwayat pembayaran rumah.”
“Terus?”
“Kenapa empat kali terlambat?”
“Karena uang yang kamu kirim kurang.”
“Jumlah yang kukirim sesuai permintaan Ibu.”
“Kebutuhan rumah bukan cuma cicilan.”
“Itu bukan jawabannya.”
Dia langsung meninggikan suara.
“Kamu sekarang memeriksa ibumu sendiri?”
“Aku memeriksa uangku.”
“Kurang ajar.”
Sebelum aku sempat menjawab, Ayah mengambil telepon.
“Emily, jangan lakukan sesuatu yang nanti kamu sesali.”
“Ayah tahu pembayaran rumah terlambat?”
Dia tidak menjawab.
“Ayah?”
“Kami sedang banyak kebutuhan.”
“Uang cicilan dipakai untuk apa?”
Suara Ibu terdengar dari belakang.
“Matikan saja!”
Ayah menutup telepon.
Siangnya Jenna mengirim pesan panjang.
Menurutnya, aku sengaja mempermalukan Ibu hanya karena tidak mau membantu adik sendiri.
Aku membalas singkat.
Kamu menerima uang dari Ibu dalam enam bulan terakhir?
Beberapa menit tidak ada jawaban.
Lalu muncul:
Memangnya kenapa?
Aku meneleponnya.
“Jenna, aku cuma mau tahu. Ada transfer dari Ibu untuk rumahmu?”
“Ya ada. Tapi itu urusan Ibu.”
“Berapa?”
“Kenapa kamu interogasi aku?”
“Karena uang cicilan rumah Ayah dan Ibu terlambat meskipun aku sudah membayarnya.”
Dia diam.
“Berapa, Jen?”
“Aku tidak menghitung.”
“Coba ingat.”
“Sekitar seratus juta lebih.”
Dadaku terasa dingin, tetapi aku tidak membentaknya.
“Untuk apa?”
“Uang muka beberapa pekerjaan rumah. Lemari dapur. Sofa. Lampu. Ada juga pembayaran tukang.”
“Ibu bilang itu uang dari mana?”
“Tabungan keluarga.”
Aku menatap bukti transfer di layar.
“Tabungan keluarga?”
“Iya.”
“Jenna, sebagian uang itu kukirim untuk cicilan rumah.”
Dia kembali diam.
Kali ini lebih lama.
“Aku tidak tahu.”
“Malam tadi Ibu minta Rp180 juta lagi.”
“Dia bilang kamu sudah setuju membantu.”
“Aku tidak pernah setuju.”
Nada Jenna mulai defensif.
“Kalau begitu bicara sama Ibu. Jangan bawa aku.”
“Kamu yang menyuruhku transfer dan berhenti mempermalukan diri.”
“Itu sebelum aku tahu soal cicilan.”
Aku hampir menutup telepon ketika Jenna tiba-tiba berkata, “Tapi satu hal aku tidak mengerti.”
“Apa?”
“Kenapa kamu terus bilang rumah Kakek atau rumah yang kamu urus?”
“Karena memang begitu.”
“Emily, Ibu bilang rumah itu nanti diberikan kepadaku.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Apa?”
“Setelah cicilannya selesai,” katanya. “Ibu dan Ayah sudah bilang dari tahun lalu. Katanya aku yang akan mendapat rumah itu karena kamu sudah punya karier dan bisa beli rumah sendiri.”
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku tidak ingat bagaimana percakapan dengan Jenna berakhir.
Yang kuingat, aku duduk di ruang rapat kosong di kantor dengan ponsel di tangan dan kalimatnya terus berputar di kepalaku.
Ibu bilang rumah itu nanti diberikan kepadaku.
Bukan soal sofa.
Bukan lagi soal Rp180 juta.
Mereka sudah membuat rencana atas rumah yang secara hukum bukan milik mereka.
Aku menelepon Pak Hale sore itu.
“Saya perlu tahu satu hal,” kataku. “Kalau orang tua saya menjanjikan rumah itu kepada Jenna, apakah mereka bisa melakukan sesuatu tanpa saya?”
“Menjanjikan secara lisan dan memindahkan hak adalah dua hal berbeda.”
“Jadi mereka tidak bisa membalik nama?”
“Tidak hanya karena mereka tinggal di sana. Untuk perubahan hak atas tanah tetap ada prosedur dan dokumen yang harus diperiksa. Jangan tanda tangani apa pun yang kamu belum pahami.”
“Itu saja?”
“Dan kalau ada dokumen yang mereka kirim, simpan salinannya.”
Aku mengucapkan terima kasih.
Tidak ada kalimat dramatis.
Tidak ada orang yang mengatakan aku telah menang.
Justru setelah telepon ditutup, aku merasa lebih lelah daripada malam sebelumnya.
Selama sepuluh tahun aku menganggap diriku sedang membantu orang tua mempertahankan rumah.
Ternyata Ibu menganggap setiap rupiah yang kukirim sebagai bukti bahwa aku akan terus melakukan apa pun yang dia minta.
Aku pulang lebih awal.
Untuk pertama kali selama bertahun-tahun, aku membuka mutasi transfer keluarga bukan untuk mencari berapa banyak lagi yang harus kubayar, tetapi untuk mencari pola.
Aku tidak menemukan rahasia besar.
Tidak ada rekening gelap.
Tidak ada jutaan rupiah menghilang ke orang asing.
Yang kutemukan justru lebih sederhana dan, entah kenapa, lebih menyakitkan.
Setiap beberapa bulan, setelah aku mengirim uang dalam jumlah besar, sebagian uang itu bergerak ke Jenna.
Biaya kuliah.
Kredit mobil.
Deposit sewa sebelum dia menikah.
Biaya resepsi.
Renovasi rumah barunya.
Tidak semuanya berasal langsung dari transfer cicilan rumahku. Selama bertahun-tahun aku memang sengaja memberi uang tambahan.
Masalahnya, batas antara “uang untuk rumah Ayah dan Ibu” dan “uang keluarga” sudah hilang di tangan Ibu.
Kalau ada Rp40 juta di rekening keluarga dan Rp20 juta di antaranya seharusnya digunakan membayar kewajiban rumah, Ibu tidak melihat dua jenis uang.
Dia hanya melihat Rp40 juta yang menurutnya boleh dibagi sesuai kebutuhan keluarga.
Dan karena menurutnya aku selalu bisa mengirim lagi, cicilan rumah menjadi tagihan yang paling mudah ditunda.
Malam itu Ayah datang ke apartemenku sendirian.
Aku hampir tidak membuka pintu.
Akhirnya kubiarkan dia masuk.
Dia duduk di kursi dekat meja makan dan memandang sekitar seolah baru sadar apartemenku jauh lebih sederhana daripada rumah yang selama ini kubiayai untuk mereka.
“Kamu benar-benar menghentikan transfer?” tanyanya.
“Iya.”
“Bulan depan juga?”
“Iya.”
Ayah menunduk.
“Kalau cicilan belum selesai?”
“Aku akan membayarnya langsung ke kewajiban rumah kalau memang masih menjadi tanggung jawabku. Tidak lewat rekening Ibu lagi.”
“Itu membuat ibumu merasa kamu tidak percaya padanya.”
“Aku memang tidak percaya padanya soal uang sekarang.”
Ayah mengusap wajah.
Aku duduk di seberangnya.
“Ayah tahu Ibu mengirim uang cicilan ke Jenna?”
“Tidak semuanya.”
“Itu bukan yang kutanya.”
Dia diam.
“Ayah tahu?”
“Beberapa kali.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Karena kalau Ayah bilang, kalian akan bertengkar.”
Aku tertawa kecil, bukan karena lucu.
“Jadi supaya tidak bertengkar, uangku dipakai dulu?”
“Ayah pikir nanti bisa ditutup dari pemasukan lain.”
“Pemasukan apa?”
Ayah tidak menjawab.
Usaha percetakannya belum benar-benar pulih sejak bertahun-tahun lalu. Dia masih menerima pekerjaan kecil, tetapi pendapatannya tidak tetap.
Selama ini aku tahu itu.
Yang tidak kusadari adalah betapa mudahnya keadaan itu membuat Ayah menyerahkan seluruh keputusan keuangan kepada Ibu.
“Ayah,” kataku, “kenapa kalian bilang rumah itu akan diberikan ke Jenna?”
Dia langsung menatapku.
“Ibumu cerita?”
“Jenna.”
Ayah menggeser tubuhnya.
“Itu belum keputusan.”
“Bagaimana bisa disebut belum keputusan kalau Jenna sudah diberi tahu?”
“Ibumu cuma bicara.”
“Rumah itu bukan milik Ibu.”
“Ayah tahu.”
Kalimat itu membuatku lebih marah daripada kalau dia menyangkal.
“Ayah tahu?”
“Em…”
“Ayah tahu dokumennya?”
“Ayah tahu Kakek mengaturnya untukmu.”
“Lalu kenapa diam waktu Ibu menjanjikannya kepada Jenna?”
Dia memandang meja.
“Karena ibumu yakin pada akhirnya kamu tidak akan keberatan.”
Aku tidak mengatakan apa pun.
Ayah melanjutkan dengan sangat pelan.
“Kamu selalu bilang rumah itu rumah kami.”
“Untuk ditinggali.”
“Iya.”
“Bukan untuk diberikan ke orang lain.”
“Ayah paham.”
“Sekarang Ayah paham?”
Dia menerima kalimat itu tanpa membela diri.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang akhirnya membuat seluruh perilaku Ibu terasa masuk akal, meskipun tidak menjadi benar.
Menurut Ibu, Kakek tidak adil.
Jenna masih SMA ketika Kakek mengatur rumah itu.
Aku sudah kuliah dan paling dekat dengannya.
Setelah Kakek meninggal, Ibu mulai merasa rumah tersebut seharusnya menjadi aset keluarga, bukan aset yang kelak sepenuhnya berada di bawah kendaliku.
Selama bertahun-tahun dia tidak mempersoalkannya karena aku terus membayar kebutuhan rumah.
Dalam pikirannya, keadaan itu membuktikan satu hal.
Aku tidak benar-benar berniat menggunakan hakku.
Kemudian Jenna menikah.
Menurut Ibu, Jenna “lebih membutuhkan rumah besar” karena akan punya keluarga sendiri.
Sedangkan aku?
Aku punya pekerjaan bagus.
Aku tinggal sendiri.
Aku tidak punya anak.
Jadi aku dianggap bisa membeli rumah kapan saja.
“Ayah setuju?” tanyaku.
“Tidak sepenuhnya.”
“Setuju atau tidak?”
Ayah terdiam lagi.
Aku mengangguk.
Aku sudah mendapat jawabannya.
Tiga hari kemudian, surat resmi dari Pak Hale sampai ke rumah orang tuaku.
Isinya tidak mengatakan mereka harus keluar besok.
Surat itu menjelaskan tunggakan, kewajiban berdasarkan perjanjian hak tinggal, permintaan agar tidak ada lagi janji atau komitmen mengenai rumah tanpa persetujuan pemilik hak, dan batas waktu untuk menyelesaikan pelanggaran.
Ibu meneleponku sebelas kali.
Aku tidak mengangkat sampai pulang kerja.
Begitu kujawab, dia langsung berkata, “Kamu mengirim pengacara ke orang tuamu sendiri?”
“Aku mengirim surat.”
“Kamu mau mengusir kami?”
“Aku meminta pembayaran rumah dibereskan dan meminta Ibu berhenti memperlakukan rumah itu seolah bisa diberikan ke Jenna.”
“Rumah ini sudah kami tinggali lebih dari dua puluh tahun!”
“Itu tidak mengubah dokumen.”
“Kakekmu membuat semua itu karena dia terlalu memanjakanmu.”
“Aku tidak membuat dokumen itu.”
“Tapi kamu sekarang menggunakannya untuk mengancam kami.”
Aku diam sebentar.
“Bu, selama sepuluh tahun aku membayar karena aku tidak mau Ayah dan Ibu kehilangan tempat tinggal. Tapi Ibu memakai sebagian uang itu untuk Jenna, lalu meneleponku lagi seolah aku yang belum membayar.”
“Kamu menghitung uang dengan keluarga sendiri.”
“Iya. Mulai sekarang iya.”
Dia menarik napas.
“Jenna adikmu.”
“Dan dia sudah menikah. Dia dan suaminya punya penghasilan.”
“Mereka baru mulai.”
“Aku juga pernah baru mulai.”
Ibu langsung memotong.
“Kamu tidak pernah kesulitan seperti Jenna.”
Kalimat itu hampir membuatku kembali ke pola lama.
Aku ingin menjelaskan semua hal yang pernah kutunda.
Aku ingin mengatakan betapa seringnya aku makan sederhana menjelang akhir bulan ketika baru mulai bekerja.
Aku ingin mengingatkan bahwa aku mengambil proyek tambahan, belajar malam hari, pindah kota, dan hidup sendiri.
Tetapi untuk pertama kalinya, aku sadar aku tidak perlu membuktikan bahwa aku pernah menderita supaya uangku dianggap milikku.
“Bu, kita tidak sedang membahas siapa yang hidupnya lebih susah.”
“Kamu iri.”
“Tidak.”
“Kamu memang dari dulu iri karena Jenna…”
Aku menutup mata.
“Kalau Ibu mau bicara soal tunggakan rumah, aku dengarkan. Kalau Ibu mau bicara soal dokumen, aku dengarkan. Kalau cuma mau bilang aku iri, kita berhenti di sini.”
Dia terdiam.
Aku menunggu.
Kemudian telepon ditutup.
Dua hari sesudahnya Jenna datang ke kantorku saat jam makan siang.
Aku tidak suka dia datang tanpa janji, tetapi aku menemuinya di kedai kopi lantai dasar gedung.
Dia terlihat kelelahan.
“Suamiku marah,” katanya setelah duduk.
“Karena apa?”
“Karena aku bilang uang dari Ibu kemungkinan berasal dari transfermu.”
“Dia tidak tahu?”
“Dia pikir itu tabungan Ibu dan Ayah.”
Aku tidak langsung percaya, tetapi aku juga tidak punya alasan untuk menuduh suaminya mengetahui semuanya.
“Berapa tepatnya yang kalian terima?”
Jenna membuka catatan di ponsel.
“Rp137 juta dalam sekitar lima bulan.”
Jumlah itu mendekati selisih yang kutemukan.
“Masih ada?”
“Sebagian sudah dibayar ke vendor.”
“Berapa yang tersisa?”
“Sekitar Rp42 juta.”
“Jangan kirim kepadaku.”
Dia mengernyit.
“Kenapa?”
“Kalau kamu mau mengembalikan, kembalikan ke rekening yang seharusnya untuk kewajiban rumah. Pak Hale akan memberi nomor pembayaran yang benar.”
Jenna mengembuskan napas.
“Aku tidak bisa mengembalikan sisanya sekaligus.”
“Aku juga tidak meminta sekaligus.”
Dia menatapku cukup lama.
“Aku benar-benar tidak tahu itu uang cicilan.”
“Aku percaya kamu tidak tahu semuanya.”
“Tidak semuanya?”
“Kamu tahu Ibu selalu meminta uang dariku.”
Jenna membuka mulut, lalu menutupnya.
Dia tahu.
Selama bertahun-tahun dia selalu tahu siapa yang membayar resepsi, sebagian kuliah, dan mobil.
Mungkin dia tidak tahu setiap detail.
Tetapi dia juga tidak pernah bertanya terlalu banyak selama bantuan terus datang.
“Aku kira kamu tidak keberatan,” katanya.
“Aku juga sering bilang tidak apa-apa.”
“Jadi?”
“Jadi aku ikut membuat kalian terbiasa.”
Itu pertama kali sejak masalah ini dimulai aku mengakui bagian yang memang menjadi tanggung jawabku.
Aku tidak bersalah karena mereka memakai uang tanpa izin.
Tetapi selama bertahun-tahun aku menghindari pertengkaran dengan cara paling mudah.
Aku membayar.
Setiap kali aku membayar setelah protes kecil, aku mengajari mereka bahwa penolakanku tidak berarti apa-apa.
Jenna memainkan sendok kecil di samping cangkirnya.
“Kalau soal rumah?”
“Apa?”
“Ibu benar-benar bilang aku bisa mendapatkannya.”
“Aku tahu.”
“Aku sudah bicara sama suamiku. Kami tidak akan mengambil rumah itu.”
Aku menatapnya.
“Rumah itu memang tidak bisa kalian ambil hanya karena Ibu menjanjikannya.”
“Aku tahu sekarang.”
“Ada bedanya.”
Wajahnya memerah.
“Aku datang bukan untuk bertengkar.”
“Bagus.”
Dia mengangguk pelan.
“Aku akan kembalikan Rp42 juta yang masih ada. Sisanya kami cicil.”
Aku tidak memeluknya.
Aku juga tidak mengatakan semuanya baik-baik saja.
Tetapi ketika dia pergi, ada satu hal yang berubah.
Untuk pertama kalinya, masalah antara kami mulai memiliki angka yang jelas dan tanggung jawab yang jelas.
Bukan sekadar kalimat “keluarga harus membantu”.
Sebulan berikutnya menjadi masa paling sunyi dalam hubunganku dengan Ibu.
Dia hampir tidak berbicara kepadaku.
Ayah beberapa kali menghubungi untuk membahas pembayaran rumah.
Setiap kali ada kewajiban yang memang masih harus dipenuhi dari pihakku, aku membayarnya langsung.
Tidak lagi lewat Ibu.
Setelah transfer pertama dilakukan langsung, aku menerima pesan darinya.
Jadi sekarang ibumu dianggap pencuri?
Aku tidak menjawab.
Dua jam kemudian pesan lain masuk.
Kamu berubah sejak punya jabatan.
Aku tetap tidak menjawab.
Malamnya ada pesan ketiga.
Suatu hari kamu akan tahu rasanya tidak punya keluarga.
Aku membaca kalimat itu lama.
Dulu aku pasti langsung menelepon.
Mungkin menangis.
Mungkin meminta maaf atas sesuatu yang bahkan tidak kulakukan.
Kali ini ponselku kutaruh di meja.
Besok paginya aku tetap pergi bekerja.
Batas waktu dalam surat resmi hampir habis ketika Ayah meminta kami bertemu bertiga di rumah.
Aku datang hari Sabtu pukul sepuluh pagi.
Rumah itu masih sama seperti selama bertahun-tahun.
Pohon mangga kecil di halaman depan.
Pagar hitam yang kubayar pengecatannya dua tahun lalu.
Dapur baru yang dulu membuat Ibu meneleponku hampir setiap hari soal biaya marmer.
Aku masuk menggunakan kunci lama.
Ibu duduk di meja makan.
Di depannya ada beberapa lembar kertas.
Ayah duduk di sampingnya.
Tidak ada Jenna.
Aku lega.
“Aku tidak mau pengacara ikut campur dalam keluarga,” kata Ibu.
“Kalau kita bisa bicara jelas, dia tidak perlu duduk di sini.”
Ibu mendorong beberapa lembar kertas ke arahku.
“Ayahmu sudah hitung. Kami bisa menutup sebagian tunggakan.”
Aku memeriksanya.
Jumlahnya belum penuh, tetapi ada rencana pembayaran.
“Jenna juga mengembalikan sebagian,” kata Ayah.
“Aku tahu.”
Ibu memandangku tajam.
“Kalian sekarang bekerja sama di belakangku?”
“Tidak, Bu.”
“Dia adikmu, tapi kamu membuat dia merasa seperti pencuri.”
“Jenna datang kepadaku sendiri.”
“Karena kamu menakut-nakuti semua orang dengan surat hukum.”
Aku meletakkan kertas.
“Bu, apakah Ibu masih menganggap rumah ini bisa diberikan ke Jenna?”
Suasana langsung berubah.
Ayah menunduk.
Ibu bersandar.
“Kalau suatu hari kami sudah tidak ada, apa salahnya rumah keluarga jatuh ke anak yang punya keluarga?”
“Rumah ini bukan warisan Ibu untuk dibagikan.”
“Kamu selalu kembali ke dokumen.”
“Karena Ibu selalu kembali ke rumah yang bukan milik Ibu.”
Dia memukul meja dengan telapak tangan, tidak terlalu keras tetapi cukup membuat gelas bergetar.
“Kakekmu meninggalkan sesuatu ke kamu. Lalu apa? Kamu mau orang tuamu sujud?”
“Tidak.”
“Kami membesarkanmu!”
“Aku tahu.”
“Kami menyekolahkanmu.”
“Aku tahu.”
“Kalau bukan karena kami, kamu tidak akan punya pekerjaan bagus.”
Aku mengangguk.
“Dan karena itu selama sepuluh tahun aku membantu.”
“Membantu?” katanya tajam. “Sekarang semua itu kamu hitung seperti transaksi bisnis.”
“Aku tidak sedang meminta kembali semua uang sepuluh tahun.”
“Lalu apa yang kamu mau?”
Pertanyaan itu akhirnya datang.
Aku menarik napas.
“Aku mau Ibu berhenti membuat keputusan menggunakan uangku tanpa izin.”
Dia menatapku.
“Aku mau Ibu berhenti menjanjikan rumah ini ke Jenna.”
Tidak ada jawaban.
“Aku mau kalau ada cicilan Rp18 juta, lalu aku kirim Rp18 juta, uang itu dipakai untuk cicilan. Bukan dipindahkan ke kebutuhan lain lalu Ibu meneleponku meminta Rp18 juta lagi.”
“Itu uang keluarga.”
“Tidak.”
“Kamu anak kami.”
“Iya.”
“Jadi apa bedanya?”
“Bedanya, aku yang bekerja untuk mendapatkannya.”
Ibu tertawa pendek.
“Kamu sekarang bicara seperti orang asing.”
Aku melihat Ayah.
“Kalau permintaan sesederhana menggunakan uang sesuai tujuan membuatku dianggap orang asing, aku tidak tahu harus bilang apa.”
Ruangan menjadi sunyi.
Akhirnya Ayah berkata, “Ibumu takut.”
Ibu menoleh kepadanya.
“Tidak perlu bicara untuk saya.”
Tetapi Ayah meneruskan.
“Dia takut kalau rumah ini bukan milik kami, suatu hari kami tidak punya apa-apa.”
Aku memandang Ibu.
Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran dimulai, dia tidak terlihat marah.
Dia terlihat tua.
Bukan lemah.
Bukan tiba-tiba baik.
Hanya seorang perempuan yang selama bertahun-tahun tinggal di rumah besar yang status hukumnya tidak pernah benar-benar dia terima.
Aku bisa memahami rasa takut itu.
Tetapi memahami bukan berarti menyerahkan keputusan kepadanya.
“Bu,” kataku, “kalau Ibu takut kehilangan rumah, kenapa uang cicilannya diberikan ke Jenna?”
Dia tidak menjawab.
“Itu yang tidak masuk akal.”
“Karena dia membutuhkan.”
“Dan Ibu yakin aku akan menutup kekurangannya.”
Ibu memalingkan wajah.
Itulah jawaban paling jujur yang kudapat.
Dia tidak sedang merencanakan kejahatan rumit.
Dia hanya begitu yakin aku selalu akan datang menyelamatkan keadaan sehingga uang untuk kewajiban penting pun terasa aman untuk dipindahkan.
Baginya, aku bukan rekening tanpa dasar.
Aku adalah jaminan bahwa akibat tidak akan pernah sampai kepada mereka.
Aku memasukkan kembali kertas pembayaran ke map.
“Aku sudah memutuskan.”
Ayah menatapku.
“Apa?”
“Aku akan menghentikan perjanjian tinggal setelah masa pemberitahuan selesai.”
Ibu berdiri.
“Kamu mengusir orang tuamu?”
“Aku memberi waktu untuk pindah.”
“Ke mana?”
“Kalian punya pilihan. Rumah lebih kecil. Kontrakan. Atau tinggal sementara dekat tempat usaha Ayah.”
“Kamu benar-benar mau menjual rumah Kakek?”
“Aku belum memutuskan apakah akan menjual atau menyewakannya.”
“Itu rumah keluarga!”
“Tidak lagi.”
Ibu menatapku dengan wajah yang selama ini paling kutakuti.
Campuran marah, kecewa, dan seolah aku telah gagal menjadi anak.
Tanganku dingin di bawah meja.
Tetapi aku tidak mengubah kalimatku.
Ayah bertanya, “Berapa lama?”
“Empat bulan.”
Pak Hale sebelumnya menyarankan agar aku memberi waktu yang masuk akal melebihi batas minimum dalam perjanjian karena mereka sudah tinggal sangat lama.
Empat bulan terasa cukup untuk mencari tempat.
“Aku akan menanggung biaya pindahan,” kataku. “Dan tiga bulan pertama sewa tempat baru kalau memang perlu.”
Ibu tertawa pahit.
“Lihat? Kamu masih ingin mengatur.”
“Tidak. Setelah itu pengeluaran kalian harus disesuaikan dengan pendapatan kalian.”
“Jadi kami harus hidup susah supaya kamu merasa menang?”
“Aku tidak sedang mencoba menang.”
“Lalu kenapa rumah ini harus diambil?”
Aku menatap ruang makan yang sebagian renovasinya kubayar.
“Karena selama rumah ini tetap seperti sekarang, Ibu akan terus menganggap semua yang kubayar adalah kewajiban. Dan aku akan terus dianggap jahat setiap kali berhenti.”
Dia tidak bicara lagi.
Aku pulang sebelum makan siang.
Empat bulan berikutnya tidak berjalan mulus.
Ibu dua kali mengatakan tidak akan pindah.
Sekali dia menelepon Jenna dan mencoba membujuknya agar menekan aku.
Jenna menolak.
Bukan karena hubungan kami tiba-tiba sempurna.
Dia hanya sudah memahami bahwa rumah itu tidak pernah menjadi hak yang bisa dijanjikan kepadanya.
Ayah mulai mencari rumah sewa lebih kecil dekat percetakannya.
Dia juga menjual mobil kedua yang jarang dipakai dan memakai sebagian uangnya untuk melunasi tunggakan.
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku melihat orang tuaku menyesuaikan pengeluaran berdasarkan uang yang benar-benar mereka miliki.
Ternyata mereka bisa.
Yang selama ini tidak pernah perlu mereka lakukan adalah mencoba.
Aku juga berhenti membayar beberapa pengeluaran Jenna.
Dia dan suaminya menyelesaikan renovasi rumah secara bertahap.
Sofa yang katanya harus ada sebelum acara keluarga baru datang dua bulan kemudian.
Tidak ada kehidupan yang hancur karena ruang tamu mereka sempat hanya berisi dua kursi.
Rp95 juta yang sudah terpakai dari dana yang seharusnya tidak diberikan kepadanya disepakati dikembalikan secara cicilan.
Bukan kepadaku sebagai “hukuman”, tetapi untuk membereskan kewajiban yang terganggu akibat pemindahan dana.
Beberapa bulan kemudian, orang tuaku pindah ke rumah sewa satu lantai sekitar lima belas menit dari tempat usaha Ayah.
Hari pindahan adalah hari yang paling kutakuti.
Aku datang pagi-pagi.
Ibu hampir tidak bicara kepadaku.
Ayah mengangkat kardus bersama pekerja pindahan.
Jenna datang sebentar membawa makanan.
Tidak ada pidato.
Tidak ada permintaan maaf besar.
Tidak ada pelukan sambil menangis.
Saat hampir semua barang sudah masuk ke mobil, Ibu berdiri di ruang tamu kosong.
“Puas?” tanyanya.
Dulu pertanyaan itu mungkin akan membuatku membela diri selama setengah jam.
Kali ini aku hanya menjawab, “Tidak, Bu.”
Dia terlihat sedikit terkejut.
“Aku tidak senang Ibu harus pindah.”
“Bohong.”
“Aku lebih suka semua ini tidak pernah terjadi.”
“Kalau begitu batalkan.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Wajahnya mengeras lagi.
Aku meneruskan, “Aku bisa sedih dan tetap tidak membatalkan keputusan.”
Dia tidak menjawab.
Beberapa menit kemudian dia berjalan keluar.
Ayah menjadi orang terakhir yang meninggalkan rumah.
Sebelum masuk mobil, dia menyerahkan kunci kepadaku.
“Maaf Ayah terlalu sering bilang, ‘Kamu tahu sendiri bagaimana ibumu.’”
Aku menggenggam kunci itu.
Dia menatap halaman.
“Ayah pikir diam membuat rumah tenang.”
“Memang tenang.”
Dia tersenyum hambar.
“Tapi ternyata kamu yang bayar harga ketenangannya.”
Aku tidak tahu apakah itu cukup untuk memperbaiki semuanya.
Mungkin tidak.
Tetapi itu pertama kalinya Ayah mengakui bahwa sikap pasifnya juga merupakan pilihan.
Enam bulan kemudian, hubungan keluarga kami masih berbeda.
Aku dan Ibu belum kembali berbicara setiap hari.
Kadang satu minggu berlalu tanpa pesan.
Kalau kami bertemu, ada topik yang masih kami hindari.
Namun dia tidak lagi meminta uang mendadak.
Sekali dia bertanya apakah aku bisa membantu biaya servis mobil Ayah.
Aku bertanya berapa jumlahnya dan apa yang sudah mereka siapkan.
Dia memberikan angka.
Aku membantu sebagian.
Bukan karena takut disebut anak durhaka.
Karena aku memilih membantu.
Perbedaannya kecil dari luar.
Bagiku, itu sangat besar.
Jenna masih mencicil pengembalian dana setiap bulan.
Hubungan kami juga tidak tiba-tiba menjadi dekat.
Tetapi sekarang ketika dia butuh sesuatu, dia bertanya.
Bukan mengirim nomor rekening seolah keputusan sudah dibuat.
Aku akhirnya memutuskan tidak menjual rumah Kakek.
Setelah kewajiban pembiayaan selesai dan dokumennya dibereskan, rumah itu kusewakan kepada sebuah keluarga dengan dua anak yang pindah ke Semarang karena pekerjaan.
Uang sewanya masuk ke rekening terpisah untuk perawatan rumah, pajak, dan tabungan.
Untuk pertama kalinya, aset itu berdiri dengan keuangannya sendiri.
Tanpa transfer dariku ke rekening keluarga setiap tanggal dua puluh sembilan.
Tanpa telepon pukul delapan malam.
Tanpa kalimat bahwa cicilan terlambat dan aku harus menyelesaikannya sekarang juga.
Aku juga mulai menabung untuk tempat tinggalku sendiri.
Bukan rumah besar.
Bukan simbol keberhasilan.
Hanya sesuatu yang sejak bertahun-tahun lalu seharusnya boleh kupikirkan tanpa merasa bersalah.
Suatu sore aku datang ke rumah lama untuk bertemu penyewa baru.
Setelah mereka masuk, aku mengecek pintu depan dan pagar.
Dulu Ibu selalu menyimpan kunci cadangan di bawah pot tanaman dekat teras meskipun berkali-kali kukatakan itu tidak aman.
Pot itu masih ada.
Aku mengangkatnya.
Tidak ada kunci di bawahnya.
Kunci cadangan sekarang tersimpan di kotak pengaman kecil yang hanya bisa diakses sesuai kebutuhan.
Aku meletakkan kembali pot tersebut.
Lalu aku mengunci pintu dengan kunciku sendiri.
Menurutmu, apakah Emily terlalu jauh dengan meminta orang tuanya pindah setelah sepuluh tahun menanggung biaya rumah dan keluarga?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
