Suamiku Membawa Perempuan Hamil ke Rumah dan Menyuruhku Pindah Kamar, Pagi Berikutnya Dua Belas Orang Datang
Bagian 1
“Kamar utama harus sudah kosong sebelum malam. Nadia tidak terbiasa tidur di kamar tamu.”
Arman Wijaya mengucapkannya sambil melepas jas, seolah perempuan yang menggandeng lengannya bukan perempuan lain yang sedang mengandung anaknya, dan aku bukan istrinya yang sudah tujuh tahun tinggal bersamanya.
Nadia Prameswari, dua puluh tujuh tahun, meletakkan koper putih di tengah ruang keluarga. Tangannya mengusap perut yang belum terlalu besar.
“Kak Laras, maaf merepotkan. Dokter bilang aku harus banyak istirahat. Kamar yang menghadap selatan katanya lebih nyaman.”
Aku tidak langsung menjawab.
Mataku berhenti pada tangan kirinya.
Di jari manisnya terpasang cincin giok hijau tua milik mendiang nenek Arman.
Aku mengenal cincin itu dengan sangat baik.
Tujuh tahun lalu, ketika baru beberapa bulan menjadi menantu keluarga Wijaya, aku pernah dimarahi Ibu Ratna hampir tiga bulan hanya karena tanpa sengaja memindahkan kotak kayu tempat cincin itu disimpan saat membersihkan lemari.
Waktu itu beliau berkata, “Cincin itu hanya diberikan kepada perempuan yang dianggap sebagai nyonya rumah keluarga Wijaya.”
Sekarang cincin tersebut berada di tangan perempuan yang dibawa pulang suamiku.
“Dari mana kamu mendapatkan cincin itu?” tanyaku.
Nadia spontan menutup tangan kirinya dengan tangan kanan.
Arman menjawab lebih dulu.
“Aku yang kasih.”
Aku menatapnya.
“Kamu tahu arti cincin itu?”
“Laras, jangan mulai.”
“Aku cuma bertanya.”
Arman menarik napas panjang.
“Cuma cincin lama. Jangan dibesar-besarkan.”
Aku hampir tertawa.
Tujuh tahun tinggal bersama keluarga ini ternyata cukup untuk membuat arti sebuah benda berubah hanya karena Arman membutuhkan alasan yang nyaman.
Dulu aku dilarang menyentuh kotaknya.
Hari ini perempuan lain boleh memakainya.
Nadia mendekat sedikit kepada Arman.
“Kalau memang bikin Kak Laras tidak nyaman, aku bisa tinggal di hotel saja.”
“Tidak perlu.”
Arman langsung memotongnya.
Kemudian ia menatapku.
“Laras, jangan bikin suasana tambah buruk. Tolong kosongkan kamar.”
“Barang-barangku?”
“Pindahkan ke kamar timur.”
Aku memandang ke arah tangga.
“Kamar timur itu dulu kamar asisten rumah tangga.”
“Cuma sementara.”
Nada Arman mulai terdengar kesal.
“Nadia sedang hamil. Apa susahnya mengalah sedikit?”
Ruangan itu menjadi sangat sunyi.
Bu Yati, yang sudah bekerja di rumah ini sejak sebelum aku menikah, berdiri dekat meja makan dengan mata memerah. Ia menunduk ketika pandangan kami bertemu.
Aku kembali melihat Nadia.
Hamil.
Akhirnya tiga bulan terakhir masuk akal.
Arman berkali-kali mengatakan ada proyek besar di Jakarta. Kadang ia tidak pulang tiga atau empat malam. Kalau aku menelepon terlalu larut, jawabannya selalu sama.
Rapat.
Makan malam dengan klien.
Presentasi pagi.
Aku percaya karena selama tujuh tahun, pekerjaan memang sering membawanya keluar kota.
Rupanya aku hanya diberi potongan kebenaran yang cukup agar tidak bertanya lebih jauh.
“Baik,” kataku.
Arman mengerutkan dahi.
“Apa?”
“Aku akan mengosongkannya.”
Bahkan Nadia terlihat terkejut.
Mungkin mereka sudah menyiapkan diri untuk pertengkaran.
Mungkin Arman berharap aku menangis supaya ia bisa mengatakan aku membuat perempuan hamil stres.
Aku tidak memberi mereka kesempatan itu.
Aku naik ke lantai dua.
Tapi aku tidak menyentuh pakaian.
Aku membuka lemari kecil di ruang kerja, memasukkan kode pada brankas, lalu mengambil sebuah map hitam yang sudah tujuh tahun hampir tidak pernah kubuka.
Di bagian paling belakang ada kartu nama dengan satu nomor telepon.
Aku menelepon.
Seorang lelaki menjawab setelah dua dering.
“Selamat sore.”
“Pak Hendro?”
Ada jeda singkat.
“Bu Laras?”
“Aku ingin mengaktifkan Pasal Tujuh.”
Kali ini jedanya lebih lama.
“Apakah Ibu yakin?”
Aku memandang foto pernikahan kami yang masih tergantung di dinding.
Arman tersenyum dalam foto itu dengan tangan melingkari pinggangku.
Saat itu aku percaya rumah tangga bisa bertahan selama dua orang sama-sama menjaga batas.
Ternyata aku baru mengetahui satu batas setelah seseorang menginjaknya.
“Yakin.”
“Perlu kami beri tahu Pak Arman terlebih dahulu?”
“Tidak.”
“Baik. Kapan Ibu ingin proses awalnya dijalankan?”
“Besok pagi. Jam sembilan.”
Pak Hendro menarik napas pelan.
“Dipahami.”
Aku menutup brankas.
Malam itu Nadia tidur di kamar pernikahanku.
Sekitar pukul delapan, Ibu Ratna datang dari rumah lamanya di kawasan Darmo.
Begitu melihatku duduk di ruang keluarga, ia langsung mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari tas lalu melemparkannya ke atas meja.
“Kalau kamu sudah tahu semuanya, tandatangani saja.”
Aku mengambil lembar pertama.
Perjanjian perceraian.
Arman duduk di sofa seberang. Sejak ibunya datang, ia hampir tidak melihatku.
“Apartemen di Jakarta Selatan untukmu,” katanya. “Ditambah Rp6 miliar. Jumlah itu cukup untuk hidup dengan nyaman.”
Aku membalik halaman perlahan.
“Rumah ini?”
Ibu Ratna tertawa pendek.
“Kamu masih bertanya soal rumah?”
Tangannya menunjuk sekeliling rumah besar di tepi danau kawasan Surabaya Barat yang selama bertahun-tahun disebut semua orang sebagai rumah keluarga Wijaya.
“Ini aset keluarga kami. Kamu masuk ke keluarga Wijaya tanpa membawa apa-apa. Masa mau keluar masih ingin mengambil rumah?”
Aku mengangkat wajah.
“Benarkah rumah ini aset keluarga Wijaya?”
Tawa Ibu Ratna berhenti.
Hanya sepersekian detik.
Tapi aku melihatnya.
Arman pun melihat perubahan itu.
Tangannya menghantam meja.
“Laras!”
“Aku cuma bertanya kepada Ibu.”
“Jangan bicara seolah kamu punya hak atas semua yang ada di sini.”
Aku menatap dokumen di tanganku.
Satu kalimat di halaman ketiga meminta aku melepaskan seluruh tuntutan atas kepemilikan, pengelolaan, maupun manfaat ekonomi yang berhubungan dengan perusahaan dan aset keluarga Wijaya.
Aku menaruh kertas itu kembali.
“Aku tidak akan tanda tangan malam ini.”
Ibu Ratna langsung berdiri.
“Untuk apa ditunda?”
Dari lantai atas terdengar langkah kaki.
Nadia turun mengenakan piyama sutra warna krem milikku.
Aku mengenalinya karena pakaian itu hadiah ulang tahun dari adikku.
“Arman, jangan marah,” katanya sambil mendekat. “Kalau Kak Laras merasa uangnya kurang, tambah saja.”
Aku melihat piyama itu beberapa detik.
Kemudian aku bertanya, “Kamu suka kamarnya?”
Nadia tampak tidak menyangka.
“Iya. Bagus sekali.”
“Tidurlah dengan nyenyak malam ini.”
Aku bangkit.
Ketika melewatinya, aku berhenti sebentar.
“Mungkin ini malam terakhir kamu tidur di sana.”
Ibu Ratna membentak.
“Maksudmu apa?”
Aku tidak menjawab.
Aku tidur di kamar timur malam itu.
Bukan karena Arman menyuruhku.
Aku hanya tidak ingin menghabiskan malam dengan berdebat sebelum semua dokumen berada di meja.
Pukul delapan lima puluh delapan keesokan paginya, bel pagar berbunyi.
Bu Yati keluar.
Kurang dari satu menit kemudian ia kembali dengan wajah bingung.
“Bu Laras… di luar ada banyak orang.”
Arman yang sedang minum kopi mengerutkan dahi.
“Siapa?”
“Entahlah, Pak. Mereka pakai jas semua.”
Arman berjalan ke halaman.
Aku mengikutinya.
Di luar pagar berdiri dua belas orang mengenakan setelan gelap dalam dua baris. Tiga sedan hitam berhenti di sepanjang jalan.
Lelaki yang berdiri paling depan berusia sekitar lima puluhan. Kacamata berbingkai tipis terpasang di wajahnya. Di tangan kirinya ada tas dokumen kulit yang sudah kukenal.
Begitu melihatnya, wajah Ibu Ratna langsung berubah.
“Pak… Hendro?”
Arman menoleh tajam kepada ibunya.
“Ibu kenal dia?”
Ibu Ratna tidak menjawab.
Pak Hendro masuk setelah Bu Yati membuka pagar.
Ia berjalan langsung kepadaku dan mengangguk sopan.
“Bu Laras, dua belas orang yang dibutuhkan sudah hadir sesuai permintaan.”
Nadia memegang lengan Arman.
“Untuk apa mereka datang?”
Sebelum aku menjawab, Pak Hendro membuka tasnya.
Ia mengeluarkan satu bundel dokumen bermeterai dan beberapa salinan akta, lalu menatap papan logam bertuliskan “Kediaman Wijaya” yang tergantung di dekat pintu utama.
“Sebelum kami menjalankan instruksi Bu Laras,” katanya, “ada satu hal yang harus dipastikan.”
Arman mendekat.
“Bapak sedang berdiri di rumah keluarga saya. Kalau punya urusan, langsung katakan.”
Pak Hendro memandang Arman cukup lama.
Kemudian ia menoleh kepadaku.
“Bu Laras, apakah Ibu ingin menjelaskan sendiri kepada Pak Arman siapa pemilik rumah ini, tiga puluh satu persen saham PT Wijaya Sentosa Abadi, dan lahan industri yang selama ini dikelola keluarga Wijaya?”
Gelas di tangan Ibu Ratna jatuh ke lantai.
Pecahannya menyebar di atas batu teras.
Arman membeku.
“Tiga puluh satu persen saham apa?”
Pak Hendro menarik lembar pertama dari map.
Namun tepat ketika ia hendak membaca nama yang tercantum pada dokumen kepemilikan, Ibu Ratna maju dengan wajah pucat.
“Jangan dibaca!”
Semua orang diam.
Aku menatapnya.
Selama tujuh tahun menjadi menantunya, baru sekali itu aku melihat perempuan yang biasanya selalu berbicara dengan penuh keyakinan tampak benar-benar takut.
Pak Hendro menghentikan tangannya.
Arman bergantian melihat ibunya dan aku.
“Ibu… sebenarnya apa yang selama ini Ibu sembunyikan dariku?”
Ibu Ratna mundur satu langkah.
Bibirnya kehilangan warna.
Pada saat itulah orang kedua belas yang sejak tadi berdiri paling belakang masuk melewati pagar sambil membawa sebuah kotak kayu tua yang masih memiliki segel kantor notaris.
Ia meletakkannya di meja teras tepat di depan Arman.
“Pak Arman,” katanya, “sebelum melihat dokumen aset, mungkin Bapak perlu mengetahui apa yang disimpan di dalam kotak ini selama tujuh tahun terakhir.”

Bagian 2
Arman menatap kotak kayu itu.
“Apa ini?”
Pak Hendro tidak langsung membukanya.
“Kotak ini dititipkan kepada kantor kami tujuh tahun lalu oleh mendiang ayah Bapak, Pak Surya Wijaya.”
Arman menoleh cepat kepada ibunya.
“Ayah?”
Ibu Ratna memegang sandaran kursi.
Pak Hendro memutus segel setelah menunjukkan berita acara penitipan kepada kami.
Di dalamnya bukan uang.
Bukan perhiasan.
Hanya tiga map dokumen dan satu amplop dengan tulisan tangan.
Nama Arman tertulis di bagian depan.
Ia mengambil amplop itu.
“Kenapa Ayah menitipkan surat kepada pengacara Laras?”
“Pak Surya bukan menitipkannya kepada saya sebagai pengacara Bu Laras,” jawab Pak Hendro. “Waktu itu saya menangani kesepakatan antara keluarga Wijaya dan keluarga Wening.”
Wening adalah nama keluargaku.
Arman mengangkat wajah.
Pak Hendro melanjutkan dengan tenang.
“Tujuh tahun lalu, PT Wijaya Sentosa Abadi mengalami masalah arus kas setelah ekspansi gudang dan pembelian mesin. Beberapa pinjaman jatuh tempo hampir bersamaan.”
Aku sudah mengetahui bagian itu.
Arman ternyata tidak.
“Perusahaan mendapat dana penyelamatan dari almarhum ayah Bu Laras,” lanjut Pak Hendro. “Sebagai bagian dari restrukturisasi, tiga puluh satu persen saham dialihkan secara sah kepada Bu Laras sebelum pernikahan. Bukan diberikan setelah menikah.”
Arman menggeleng.
“Tidak mungkin.”
Pak Hendro mengeluarkan salinan akta.
“Nama pemegang saham tercatat di sini.”
Arman merebut dokumen itu.
Tangannya berhenti pada satu baris.
Namaku.
“Rumah ini?” tanyanya.
“Dibeli oleh keluarga Wening.”
“Bohong.”
“SHM terdaftar atas nama Bu Laras. Pembelian dilakukan sebelum pernikahan.”
Arman menatapku seolah baru mengenalku pagi itu.
Pak Hendro membuka dokumen lain.
“Sedangkan lahan industri yang selama ini digunakan sebagai pusat distribusi perusahaan berada di bawah badan usaha yang saham pengendalinya dimiliki Bu Laras. Keluarga Wijaya memperoleh hak penggunaan berdasarkan perjanjian.”
Nadia perlahan melepaskan tangannya dari lengan Arman.
Aku tidak merasa menang.
Yang kurasakan justru lelah.
Tujuh tahun ternyata cukup lama untuk melihat orang-orang menganggap sebuah izin sebagai hak milik.
Arman memandang ibunya.
“Ibu tahu?”
Ibu Ratna menutup mata.
“Dulu perusahaan sedang sulit.”
“Jawab pertanyaanku.”
“Ibu tahu.”
Arman berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
“Selama tujuh tahun?”
“Bapakmu yang minta dirahasiakan.”
“Kenapa?”
Kali ini aku menjawab.
“Karena ayahmu tidak ingin orang menganggap keluarganya diselamatkan calon menantunya.”
Arman menatapku.
“Kamu juga setuju menyembunyikannya?”
“Ayahmu meminta waktu. Aku menghormatinya.”
“Lalu Pasal Tujuh itu apa?”
Pak Hendro membuka map hitam yang kubawa kemarin.
“Setelah menikah, Bu Laras memberikan kuasa terbatas kepada Pak Arman untuk mewakili hak suara atas sebagian saham dan membantu pengelolaan beberapa aset agar perusahaan tidak terganggu. Pasal Tujuh mengatur bahwa kuasa tersebut dapat dicabut oleh Bu Laras kapan saja jika hubungan kepercayaan berakhir atau aset digunakan di luar kesepakatan.”
Wajah Arman berubah.
“Kamu mencabut kuasaku?”
“Mulai kemarin.”
“Itu bisa mengacaukan perusahaan.”
“Aku belum mengambil perusahaanmu.”
Aku menunjuk dokumen.
“Aku cuma berhenti memberikan suaramu hak atas namaku.”
Ibu Ratna segera mendekat.
“Laras, masalah rumah tangga jangan dicampur dengan perusahaan.”
Aku memandangnya.
“Tadi malam Ibu meminta aku menandatangani dokumen yang memasukkan sahamku sebagai aset keluarga Wijaya.”
Ia langsung diam.
Pak Hendro meminta salah satu anggota tim menyerahkan salinan dokumen perceraian yang mereka bawa.
“Dan bagian ini,” katanya, “berpotensi menimbulkan perselisihan karena meminta Bu Laras melepaskan klaim atas aset yang secara administratif memang tercatat sebagai miliknya.”
Arman memijat pelipis.
“Aku tidak menyusun detail perjanjiannya.”
“Siapa?”
“Ibu memberikannya kepada konsultan.”
Ibu Ratna memotong.
“Semua itu untuk menyelesaikan masalah dengan cepat.”
Aku mengangguk pelan.
“Itulah masalahnya.”
Nadia tiba-tiba bicara.
“Arman, kamu bilang rumah ini akan menjadi rumah kita setelah perceraian.”
Tidak ada yang menjawab.
Ia melanjutkan.
“Kamu juga bilang Kak Laras tidak punya hubungan dengan perusahaan.”
Arman memandangnya.
“Sekarang bukan waktunya.”
“Aku cuma ingin tahu.”
Nadia melepas cincin giok dari jarinya.
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke rumah itu, senyum kecilnya menghilang.
“Kamu bilang ibumu sudah setuju semuanya.”
Ibu Ratna segera mengambil cincin itu dari tangannya.
“Jangan ikut campur.”
Pak Hendro menutup map.
“Bu Laras, sesuai instruksi Pasal Tujuh, hari ini kami hanya melakukan pemberitahuan pencabutan kuasa, pengamanan dokumen yang menjadi hak Ibu, serta pencatatan kondisi aset. Tidak ada penyitaan dan tidak ada pengambilalihan perusahaan.”
Arman menatapku.
“Jadi dua belas orang ini kamu bawa hanya untuk mempermalukanku?”
“Tidak.”
Aku menunjuk rumah.
“Karena tadi malam aku sudah tahu kalau aku datang sendirian membawa dokumen, tidak ada satu pun dari kalian yang akan percaya.”
Pak Hendro hendak memasukkan berkas kembali ketika seorang stafnya mendekat.
“Bu Laras, ada satu hal lain.”
Ia menyerahkan salinan halaman terakhir dokumen perceraian.
“Apartemen Jakarta yang ditawarkan kepada Ibu bukan milik pribadi Pak Arman. Unit itu tercatat sebagai aset investasi perusahaan dan masih menjadi bagian dari fasilitas kredit.”
Aku melihat Arman.
Semalam ia menyebutnya seolah sedang memberikan sesuatu miliknya kepadaku.
Pak Hendro berkata, “Jadi sebelum Ibu menandatangani apa pun, sebaiknya seluruh daftar aset diverifikasi.”
Arman berdiri tanpa berkata-kata.
Aku menutup dokumen.
Untuk pertama kalinya sejak Nadia masuk membawa koper putih, pertanyaannya bukan lagi apakah pernikahanku akan berakhir.
Pertanyaannya adalah berapa banyak keputusan tentang hidupku yang selama ini dibuat orang lain dengan memakai sesuatu yang sebenarnya bukan milik mereka.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku meminta semua orang masuk ke ruang kerja.
Bukan ruang keluarga.
Bukan kamar utama.
Ruang kerja adalah tempat yang paling sedikit memiliki kenangan tentang pernikahan kami dan paling banyak menyimpan dokumen.
Arman tidak ikut.
Ia berdiri di teras bersama ibunya hampir sepuluh menit sebelum akhirnya masuk seorang diri.
Nadia kembali ke lantai atas.
Aku tidak tahu apakah ia menelepon seseorang atau mengemasi kopernya.
Saat itu aku sudah tidak peduli.
Pak Hendro dan timnya memeriksa dokumen yang memang berada dalam lingkup kuasa mereka. Mereka tidak membuka lemari Arman, tidak mengambil komputer perusahaan, dan tidak menyentuh barang pribadi siapa pun.
Aku sengaja memastikan itu.
Aku tidak ingin pagi itu berubah menjadi pertunjukan perebutan kekuasaan.
Aku hanya ingin batas kepemilikan kembali terlihat.
Salah satu staf menyusun tiga daftar.
Aset yang tercatat atas namaku.
Aset perusahaan.
Aset keluarga Wijaya.
Selama bertahun-tahun, tiga daftar itu diperlakukan seolah hanya satu daftar.
Di situlah masalah sebenarnya tumbuh.
Arman akhirnya duduk di seberang meja.
“Kamu tahu semua ini sejak awal?”
“Sebagian besar.”
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Aku menatapnya.
“Aku pernah mencoba.”
“Kapan?”
“Tahun kedua pernikahan kita, ketika kamu bilang ingin menjadikan rumah ini jaminan untuk ekspansi.”
Arman terdiam.
Aku masih mengingat percakapan itu.
Waktu itu ia pulang larut malam, membuka laptop di meja makan, lalu menjelaskan rencana ekspansi perusahaan ke Jawa Tengah. Ia mengatakan rumah bisa digunakan untuk memperkuat pengajuan pembiayaan.
Aku menolak.
Ia marah.
Aku bilang rumah itu tidak bisa ia jadikan jaminan tanpa persetujuanku.
Saat itu Arman menganggap maksudku karena aku istrinya.
Ia tidak pernah bertanya lebih jauh.
“Aku bilang jelas bahwa kamu tidak boleh mengambil keputusan soal rumah tanpa aku.”
“Kamu tidak pernah bilang sertifikatnya atas namamu.”
“Kamu juga tidak pernah bertanya kenapa aku punya hak menghentikan keputusanmu.”
Ia mengusap wajah.
“Mungkin aku pikir itu cuma karena kamu istriku.”
“Itu masalahnya, Man. Kamu pikir kalau aku istrimu, semua milikku otomatis menjadi bagian dari sesuatu yang boleh kamu atur.”
Ia hendak menjawab, tapi Pak Hendro meminta izin berbicara.
“Pak Arman, agar tidak terjadi salah paham, kepemilikan saham dan aset ini bukan konsekuensi perceraian. Dokumen-dokumen tersebut sudah ada sebelum perkawinan.”
Arman menoleh kepadanya.
“Jadi kalau kami tidak bercerai sekalipun, semuanya tetap milik Laras?”
“Status dasarnya tidak berubah.”
Arman tertawa pendek tanpa humor.
“Hebat.”
Aku mengetahui nada itu.
Nada yang biasa muncul ketika ia merasa dipermalukan.
Dulu aku selalu berusaha menurunkannya.
Memberi waktu.
Mengubah topik.
Mengajaknya bicara saat sudah tenang.
Pagi itu aku tidak melakukannya.
Aku meminta Pak Hendro melanjutkan.
Pemberitahuan pencabutan kuasa atas hak suara ditandatangani.
Salinan dikirim kepada sekretaris perusahaan.
Aku menunjuk seorang profesional independen untuk mewakiliku dalam rapat pemegang saham sampai aku memutuskan apa yang akan kulakukan dengan saham itu.
Aku juga membatalkan kuasa Arman untuk menandatangani dokumen terkait tanah dan rumah atas namaku.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Arman membaca setiap halaman.
“Kamu sudah merencanakan ini?”
“Aku merencanakannya tadi malam.”
“Cepat sekali.”
“Tujuh tahun memberi kepercayaan. Satu malam cukup untuk mencabutnya.”
Ibu Ratna yang sejak tadi berdiri dekat pintu akhirnya masuk.
“Kamu mau menghancurkan perusahaan yang dibangun suamiku?”
Aku memandangnya.
“Tidak.”
“Kalau Arman kehilangan hak suara dari saham itu, beberapa keputusan perusahaan akan terhambat.”
“Kalau perusahaan hanya bisa berjalan dengan menganggap saham orang lain sebagai miliknya, berarti sejak awal ada yang harus diperbaiki.”
“Bapakmu membantu kami karena kamu menikah dengan Arman.”
Aku menggeleng.
“Ayahku membantu sebelum kami menikah.”
“Karena kalian akan menjadi keluarga.”
“Benar.”
Aku mencondongkan badan sedikit.
“Tapi bantuan keluarga bukan berarti kepemilikanku hilang.”
Ibu Ratna menatapku lama.
Kemudian ia duduk.
Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, suaranya menurun.
“Kamu tidak tahu bagaimana keadaan kami waktu itu.”
“Aku tahu.”
“Tidak semuanya.”
Ia memandang Arman.
“Ayahmu hampir kehilangan perusahaan.”
Arman tidak bergerak.
“Kenapa aku tidak diberi tahu?”
“Karena Bapakmu malu.”
Ibu Ratna memegang ujung tasnya.
“Dia membangun usaha itu lebih dari dua puluh tahun. Ketika ekspansi gagal, utang menumpuk. Ada supplier yang berhenti memberi barang. Bank meminta tambahan jaminan. Dia tidak mau kamu pulang dari Singapura hanya untuk melihat semuanya berantakan.”
Arman menatap meja.
Tujuh tahun lalu, ia memang baru kembali setelah hampir dua tahun bekerja di luar negeri.
“Ayah Laras datang membantu,” lanjut Ibu Ratna. “Bukan cuma uang. Dia bantu mencari investor baru, merapikan utang, dan membeli beberapa aset yang terpaksa dilepas perusahaan.”
“Termasuk rumah ini?”
Ibu Ratna mengangguk pelan.
“Rumah ini waktu itu hampir dijual.”
Aku baru mengetahui bagian terakhir itu.
Ayah hanya pernah mengatakan ia membeli rumah dari perusahaan yang sedang membutuhkan likuiditas.
Ibu Ratna melanjutkan.
“Pak Hendra membeli rumahnya melalui transaksi resmi, lalu sertifikat disiapkan untuk Laras. Bapakmu meminta kami tetap boleh tinggal di sini selama keadaan belum stabil.”
Arman memandang papan nama yang terlihat dari jendela.
“Kediaman Wijaya.”
Ibu Ratna menutup mata sebentar.
“Bapakmu minta tulisan itu tidak dicopot.”
“Dan Laras setuju?”
“Dia tidak pernah mempersoalkannya.”
Arman menatapku.
Aku mengangkat bahu kecil.
“Waktu itu papan nama bukan masalah.”
“Tapi sekarang?”
“Sekarang aku tahu ternyata papan itu membuat kalian lupa membaca sertifikat.”
Tidak ada yang menjawab.
Pak Hendro membuka satu dokumen dari kotak kayu.
“Ini pernyataan mendiang Pak Surya.”
Arman mengambilnya.
Aku tidak membaca dari bahunya.
Surat itu ditujukan kepadanya.
Aku sudah pernah melihat salinannya tujuh tahun lalu, tapi tidak pernah membaca bagian pribadi.
Arman membaca cukup lama.
Sesekali rahangnya mengeras.
Ketika selesai, ia menaruhnya perlahan.
“Ayah menulis bahwa kalau suatu hari keluarga kita berselisih dengan Laras soal aset, surat ini harus dibuka.”
Ibu Ratna menunduk.
“Ayah juga menulis Ibu mengetahui semuanya.”
Ibu Ratna tidak menyangkal.
“Ayah meminta aku tidak memperlakukan rumah, saham, dan tanah itu sebagai warisan keluarga.”
Tangannya mengepal.
“Ibu tahu.”
“Lalu tadi malam Ibu menyuruh Laras menandatangani pelepasan hak.”
Ibu Ratna menatapku.
“Aku takut.”
Kalimat itu mengejutkanku.
Bukan karena membuat tindakannya bisa diterima.
Tapi karena selama tujuh tahun ia hampir tidak pernah mengakui rasa takut.
“Takut apa?” tanya Arman.
“Kalau Laras pergi, aku takut saham itu pergi. Aku takut tanah itu tidak bisa lagi kita gunakan. Aku takut orang mengetahui selama ini perusahaan kita tidak sebesar yang mereka bayangkan.”
Arman tertawa getir.
“Jadi Ibu menyuruh istriku menyerahkan miliknya supaya tetangga dan relasi bisnis tetap mengira kita kaya?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Ibu Ratna tidak menjawab.
Aku menutup map.
“Pak Hendro, cukup untuk pagi ini.”
Ia mengangguk.
Timnya mengumpulkan salinan dokumen dan menyerahkan satu set kepadaku.
Sebelum pergi, Pak Hendro mengatakan sesuatu yang justru paling menenangkanku.
“Bu Laras, tidak perlu mengambil semua keputusan hari ini.”
Aku mengangguk.
Itulah yang kubutuhkan.
Bukan orang yang datang untuk menyelamatkanku.
Hanya seseorang yang memastikan aku punya ruang untuk membuat keputusan sendiri.
Setelah mereka pergi, rumah terasa jauh lebih besar.
Dua belas orang tadi memenuhi halaman.
Sekarang hanya ada aku, Arman, ibunya, Nadia, dan Bu Yati yang memilih tetap berada di dapur.
Arman menutup pintu ruang kerja.
“Kita perlu bicara berdua.”
Ibu Ratna hendak ikut.
Arman menoleh.
“Ibu, tolong.”
Ia akhirnya keluar.
Arman duduk.
Aku tetap berdiri.
“Aku salah soal Nadia,” katanya.
Aku menunggu.
“Aku tidak akan membela apa yang kulakukan.”
Aku masih menunggu.
“Tapi kita sudah tujuh tahun menikah.”
“Ya.”
“Apa semuanya harus selesai karena ini?”
Aku hampir bertanya apakah ia benar-benar hanya melihat satu kesalahan.
Sebaliknya aku berkata, “Kapan hubunganmu dengan Nadia dimulai?”
Ia mengalihkan pandangan.
“Sekitar lima bulan lalu.”
“Dia hamil berapa bulan?”
“Hampir tiga.”
Aku mengangguk.
“Jadi bukan satu malam.”
“Tidak.”
“Kamu memberinya cincin keluarga.”
Arman menatap meja.
“Ibu bilang cincin itu nanti memang harus diberikan kepada perempuan yang…”
Ia berhenti.
Aku menyelesaikan kalimatnya dalam kepala.
Yang menjadi nyonya rumah berikutnya.
“Kamu memberinya kamar kita.”
“Aku pikir kamu akan pindah sementara.”
“Ke kamar bekas asisten rumah tangga.”
“Aku tahu itu terdengar buruk.”
“Bukan terdengar.”
Aku menatapnya.
“Itu memang buruk.”
Arman terdiam.
Aku bertanya lagi.
“Nadia tahu kita belum sepakat bercerai?”
Ia tidak menjawab.
“Man.”
“Dia tahu kita masih menikah.”
“Dia tahu aku belum tahu tentang dia?”
Jeda yang lebih panjang.
“Iya.”
Aku mengangguk sekali.
Itu cukup.
Aku tidak membutuhkan detail tentang hotel, pesan, atau perjalanan mereka.
Tidak ada satu pun detail tambahan yang akan mengubah apa yang sudah kutahu.
“Kenapa dibawa ke sini?”
Arman berdiri.
“Nadia takut tinggal sendiri. Kehamilannya sempat bermasalah ringan. Dokter menyuruh dia istirahat.”
“Kenapa rumah ini?”
“Aku pikir cepat atau lambat kamu akan tahu.”
“Itu bukan jawaban.”
Ia berjalan ke jendela.
“Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.”
“Jadi kamu memilih membawanya masuk dan menyuruhku keluar dari kamar?”
“Aku panik.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
“Panikmu rapi sekali. Ada koper. Ada cincin. Ada dokumen perceraian. Ada angka Rp6 miliar. Bahkan kamar sudah dipilih.”
Arman tidak bisa menjawab.
Aku mengambil dokumen perceraian dari meja.
“Siapa yang memilih angka enam miliar?”
“Ibu dan aku.”
“Dan apartemen perusahaan?”
“Aku kira nantinya bisa dialihkan.”
“Kamu menawarkan sesuatu yang bahkan belum menjadi milikmu.”
“Aku akan menyelesaikannya.”
“Seperti rumah ini?”
Ia menatapku.
Aku meletakkan dokumen.
“Kamu bahkan tidak tahu rumah ini milik siapa ketika kamu menyuruhku pindah kamar.”
Wajah Arman menegang.
Mungkin kalimat itu akhirnya mengenai bagian yang tidak bisa ia bantah.
Bukan soal perselingkuhan saja.
Bukan soal Nadia saja.
Tujuh tahun hidup bersamanya telah membuat Arman yakin bahwa ruang, waktu, dan aset di sekelilingku bisa dipindahkan sesuai kebutuhan keluarganya.
Sampai pagi itu ia baru mengetahui bahwa beberapa hal ternyata memiliki nama pemilik.
“Apa yang kamu mau?” tanyanya.
“Aku mau Nadia keluar dari rumah ini hari ini.”
Arman menatapku tajam.
“Dia hamil.”
“Aku tahu.”
“Dia mau tinggal di mana?”
“Aku tidak menentukan itu.”
“Laras.”
“Dia bisa ke hotel, apartemen sewa, rumah keluarganya, atau tempat lain yang kalian pilih.”
Aku menjaga suaraku tetap rendah.
“Aku tidak akan mengusir perempuan hamil ke jalan. Tapi aku juga tidak akan menyediakan kamar pernikahanku untuk hubungan kalian.”
Arman berjalan mondar-mandir.
“Dan aku?”
“Kamu pilih sendiri.”
“Maksudmu?”
“Kalau kamu ingin pergi bersamanya, pergi.”
“Kalau aku tetap di sini?”
Aku diam beberapa detik.
Rumah itu memang atas namaku.
Tapi Arman adalah suamiku dan telah tinggal di sana bertahun-tahun. Aku tidak ingin membuat langkah kasar yang kemudian berubah menjadi sengketa lain.
“Kita akan atur secara tertulis sambil proses perceraian berjalan. Tapi kamar utama bukan lagi kamar kalian.”
“Kalian?”
“Aku melihat Nadia memakai piyamaku di tangga tadi malam.”
Arman menutup mata.
“Aku tidak tahu soal itu.”
“Aku tidak peduli.”
Kalimat itu keluar lebih mudah daripada yang kuduga.
Bukan karena aku tidak terluka.
Justru karena ada terlalu banyak hal yang sudah cukup jelas.
Arman keluar dari ruang kerja tanpa menjawab.
Sekitar satu jam kemudian aku mendengar roda koper di lantai atas.
Nadia turun dengan koper putihnya.
Piyamaku sudah diganti.
Ia berhenti beberapa meter dariku.
“Boleh bicara?”
Aku mengangguk.
Arman tidak berada di ruangan.
Nadia memegang gagang koper dengan kedua tangan.
“Aku tahu Kak Laras membenciku.”
“Aku bahkan belum punya tenaga untuk itu.”
Ia menelan ludah.
“Arman bilang kalian sudah lama punya masalah.”
“Setiap pernikahan punya masalah.”
“Katanya kalian cuma tinggal serumah karena keluarga.”
“Itu yang kamu percaya?”
Ia menunduk.
“Sebagian.”
“Bagian lainnya?”
Nadia tidak menjawab.
Aku tidak memaksanya.
Ia sudah mengetahui kami masih tidur di kamar yang sama sampai tiga bulan lalu.
Ia memakai cincin keluarga.
Ia datang ke rumahku.
Apa pun yang ia yakini, ia tetap membuat pilihan.
“Aku tidak minta maaf supaya semuanya selesai,” katanya kemudian. “Aku cuma ingin bilang… aku tidak tahu soal rumah dan perusahaan.”
“Aku percaya bagian itu.”
Nadia terlihat lega sebentar.
“Tapi kamu tahu soal aku,” lanjutku.
Wajahnya berubah lagi.
“Aku tahu.”
“Itu cukup.”
Ia mengangguk.
Kemudian membawa kopernya keluar.
Aku tidak bertanya ke mana ia pergi.
Arman menyusul dua puluh menit kemudian dengan satu tas pakaian.
Sebelum melewati pintu, ia berhenti.
“Aku akan tinggal di apartemen dekat kantor beberapa hari.”
Aku tidak menjawab.
“Laras.”
“Apa?”
“Jangan lakukan apa-apa terhadap perusahaan sebelum kita bicara lagi.”
“Aku sudah menunjuk wakil untuk sahamku.”
“Selain itu.”
“Aku tidak punya rencana menjatuhkan perusahaan.”
Ia menatapku, mungkin berusaha mencari apakah aku sedang merencanakan balas dendam.
Aku tidak sedang.
Kalau PT Wijaya Sentosa Abadi jatuh, ratusan karyawan bisa kehilangan pekerjaan.
Supplier kecil bisa terkena dampak.
Aku tidak ingin membakar gedung hanya karena pemilik salah satu ruangannya menyakitiku.
“Aku cuma tidak akan lagi membiarkan kamu memakai hak suaraku,” kataku.
Arman mengangguk pelan.
Kemudian pergi.
Ibu Ratna bertahan sampai sore.
Ia mondar-mandir di ruang keluarga, beberapa kali menelepon seseorang.
Menjelang pukul lima, ia masuk ke ruang kerja sambil membawa kotak cincin.
Cincin giok sudah kembali di dalamnya.
“Nadia mengembalikannya.”
Aku tidak menyentuh kotak itu.
“Bawa saja ke rumah Ibu.”
“Kamu tidak mau?”
“Itu milik keluarga Wijaya.”
Ibu Ratna memandangku.
“Dulu Ibu pernah bilang cincin ini untuk nyonya rumah.”
“Aku ingat.”
“Sekarang…”
Ia berhenti.
Aku menggeser kotak itu kembali kepadanya.
“Masalah kita bukan cincin.”
Tangannya perlahan mengambil kotak.
“Laras, Ibu melakukan banyak hal karena takut keluarga ini kehilangan semuanya.”
“Aku tahu.”
“Bukan berarti Ibu membenarkan Arman.”
“Tapi Ibu menyiapkan surat perceraian.”
Ia tidak membantah.
Aku membuka halaman ketiga dan menunjuk bagian pelepasan hak.
“Ibu tahu saham itu milikku.”
“Iya.”
“Ibu tahu rumah ini atas namaku.”
“Iya.”
“Ibu tetap meminta aku menandatangani ini.”
Ibu Ratna menarik napas berat.
“Ibu berharap kamu memilih pergi tanpa memperpanjang masalah.”
“Aku memang akan pergi dari pernikahan ini.”
Ia menatapku.
“Tapi bukan dengan meninggalkan sesuatu hanya karena Ibu menyebutnya milik keluarga.”
Kami diam cukup lama.
Akhirnya Ibu Ratna berkata, “Kalau kamu tidak memberikan kuasa suara lagi kepada Arman, perusahaan akan kesulitan mengambil keputusan tertentu.”
“Itu urusan pemegang saham untuk dibicarakan lewat rapat.”
“Dulu kamu selalu membantu.”
“Dulu aku percaya keputusan atas namaku tidak akan dipakai untuk menghapusku dari hidupku sendiri.”
Ibu Ratna memegang tasnya lebih erat.
“Apakah tidak ada jalan lain untuk pernikahan kalian?”
“Aku belum memutuskan semua detail hidupku.”
Aku memandang tangga.
“Tapi aku sudah tahu aku tidak akan tinggal dalam pernikahan yang menganggap perempuan lain bisa dibawa ke kamar kami sementara aku diminta pindah ke kamar belakang.”
Ia menunduk.
Kali itu ia tidak mengatakan “demi keluarga”.
Tidak mengatakan aku harus mengalah.
Tidak mengatakan Arman hanya khilaf.
Ia hanya membawa kotak cincin dan pulang.
Malam pertama sendirian di rumah itu terasa aneh.
Aku tidak masuk kamar utama.
Aku tidur lagi di kamar timur.
Tapi sekarang pintunya kukunci dari dalam karena aku memilih berada di sana.
Perbedaan kecil itu terasa besar.
Dua hari berikutnya kuhabiskan untuk sesuatu yang selama bertahun-tahun selalu kutunda.
Membaca.
Semua.
Aku meminta salinan daftar pemegang saham, laporan pembagian dividen, perjanjian penggunaan tanah, dan korespondensi yang menjadi hakku sebagai pemegang saham.
Bukan untuk mencari skandal.
Aku hanya ingin mengetahui apa yang selama ini disetujui menggunakan kuasaku.
Hasilnya tidak menunjukkan perusahaan kosong atau dicuri Arman.
Sebagian besar keputusan bisnis memang masuk akal.
Itu membuat keadaan terasa lebih nyata sekaligus lebih rumit.
Arman bukan penjahat di setiap bagian hidupnya.
Ia menjalankan perusahaan dengan cukup baik.
Membayar karyawan.
Menjaga kontrak.
Membantu ibunya.
Mendukung beberapa program keluarga.
Ia juga berselingkuh, berbohong selama berbulan-bulan, memberikan simbol keluarga kepada perempuan lain, dan menganggap rumahku tersedia untuk hidup barunya.
Seseorang tidak perlu buruk dalam segala hal untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa kita terima.
Pada hari ketiga, aku menemukan satu hal yang membuatku meminta pertemuan resmi.
Bukan transaksi rahasia.
Bukan rekening tersembunyi.
Melainkan rancangan keputusan ekspansi yang membutuhkan persetujuan saham yang selama ini diwakili Arman.
Perusahaan hendak mengambil fasilitas pembiayaan baru dengan menggunakan hak jangka panjang atas lahan distribusi sebagai bagian dari struktur jaminan dan kerja sama.
Lahan itu terkait dengan badan usaha milikku.
Dokumen belum ditandatangani.
Tapi prosesnya sudah berjalan cukup jauh.
Aku menelepon Arman.
“Kita perlu bicara soal rencana ekspansi.”
Ia datang malam itu.
Bukan sebagai suami yang pulang.
Ia mengetuk pintu.
Aku membiarkannya masuk.
Kami duduk di ruang kerja bersama seorang konsultan perusahaan dan wakil yang kutunjuk untuk sahamku.
Arman tampak tidak suka ada orang lain.
“Tidak bisa kita bicara berdua?”
“Kalau soal pernikahan, bisa.”
Aku menunjuk dokumen.
“Kalau soal saham dan tanah, tidak lagi.”
Ia menatapku beberapa detik lalu duduk.
Kami membahas rencana selama hampir dua jam.
Ternyata perusahaan memang membutuhkan fasilitas baru karena kontrak distribusi besar akan dimulai tahun berikutnya.
Rencananya bukan penipuan.
Namun Arman mengakui satu hal.
Ia sudah berasumsi aku akan menyetujui penggunaan lahan karena selama ini aku selalu memberikan kuasa.
“Kenapa tidak pernah bicara langsung?” tanyaku.
“Karena keputusan seperti ini selama bertahun-tahun aku yang tangani.”
“Atas namamu?”
“Atas nama perusahaan.”
“Bagian lahan ini bukan milik perusahaan.”
Ia diam.
Konsultan tidak ikut campur.
Akhirnya Arman berkata, “Aku terbiasa menganggap kamu akan setuju.”
“Aku juga terbiasa setuju karena aku percaya kamu.”
Itulah pertama kalinya sejak semua terjadi kami berbicara tanpa Nadia, tanpa ibunya, dan tanpa suara keras.
Aku tidak menolak ekspansi mentah-mentah.
Aku meminta penilaian independen, perjanjian penggunaan yang baru, batas tanggung jawab yang jelas, dan kompensasi wajar bagi pemilik aset.
Arman terlihat terkejut.
“Kamu tetap mempertimbangkannya?”
“Aku tidak sedang menghukum perusahaan.”
“Setelah semua yang kulakukan?”
“Perusahaan bukan kamu.”
Kalimat itu membuatnya diam lama.
Seminggu kemudian ia menelepon dan meminta bertemu lagi.
Kali ini soal pernikahan.
Kami bertemu di sebuah kafe yang jauh dari kantor dan rumah.
Arman terlihat lebih kurus.
Ia tidak memulai dengan meminta maaf.
Ia menaruh satu map di meja.
“Aku sudah menyewa tempat tinggal sendiri.”
Aku membukanya sekilas.
Kontrak apartemen satu tahun.
“Kenapa menunjukkan ini kepadaku?”
“Supaya kamu tahu aku tidak tinggal dengan Nadia.”
Aku menutup map.
“Itu pilihanmu.”
“Hubunganku dengan dia sudah selesai.”
Aku menatapnya.
“Dia sedang hamil anakmu.”
“Aku tetap akan bertanggung jawab sebagai ayah.”
“Bagus.”
“Tapi aku tidak akan menikah dengannya.”
Aku tidak tahu apakah ia berharap informasi itu membuatku lega.
Tidak.
“Kenapa berakhir?”
Arman menatap gelasnya.
“Banyak hal yang kukatakan kepadanya tidak benar.”
“Seperti rumah?”
“Seperti keadaan pernikahan kita.”
Aku diam.
“Aku membuat seolah-olah kita sudah sepakat berpisah,” lanjutnya. “Aku bilang kamu tinggal bersamaku hanya karena urusan keluarga.”
“Kita masih merencanakan liburan ulang tahun pernikahan dua minggu sebelum kamu membawanya pulang.”
“Aku tahu.”
Ia menunduk.
“Aku berbohong kepada semua orang agar pilihanku terlihat masuk akal.”
Itu mungkin kalimat paling jujur yang pernah keluar dari mulutnya sejak masalah ini dimulai.
“Aku ingin memperbaiki semuanya,” katanya.
“Apa maksud semuanya?”
“Pernikahan kita.”
Aku tidak langsung menjawab.
Arman melanjutkan.
“Aku ikut konseling sendiri. Aku sudah berhenti meminta Ibu menghubungimu. Aku juga tidak akan meminta kembali kuasa saham itu.”
Aku percaya ia memang mulai memahami akibat perbuatannya.
Tapi memahami tidak selalu berarti hubungan harus dilanjutkan.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa percaya kamu lagi,” kataku.
“Kasih aku waktu.”
“Aku sudah memberi tujuh tahun.”
“Laras.”
“Aku tidak bilang tujuh tahun kita semuanya buruk.”
Aku memilih kata-kataku.
“Justru karena banyak bagian yang baik, aku bertahan cukup lama untuk percaya kamu tidak akan melakukan sesuatu seperti ini.”
Matanya memerah, tapi ia tidak menyela.
“Aku mungkin bisa memaafkanmu suatu hari.”
Ia mengangkat wajah.
“Tapi memaafkan bukan berarti aku harus tetap menjadi istrimu.”
Arman menelan ludah.
“Apa keputusanmu?”
“Aku akan melanjutkan perceraian.”
Ia memejamkan mata.
Aku membiarkannya duduk dengan kalimat itu.
Tidak ada musik.
Tidak ada ibu yang masuk.
Tidak ada orang yang bertepuk tangan.
Seorang pelayan lewat membawa pesanan meja lain.
Dua mahasiswa tertawa di pojok ruangan.
Dunia tidak berhenti hanya karena pernikahan kami berakhir.
Beberapa menit kemudian Arman bertanya, “Kapan kamu memutuskan?”
“Bukan ketika mengetahui rumah itu milikku.”
Ia menatapku.
“Bukan juga ketika dua belas orang datang.”
“Lalu?”
“Ketika aku bertanya kenapa kamu membawa Nadia ke rumah.”
Aku mengingat jawabannya.
Panik.
Tidak tahu cara mengatakan.
“Aku sadar kalau saat terdesak, pilihanmu bukan bicara kepadaku.”
Aku menatapnya.
“Kamu membuat keputusan besar, mengatur kamar, mengatur uang, menyiapkan surat cerai, lalu berharap aku menyesuaikan diri.”
Arman mengangguk perlahan.
Ia tidak membantah lagi.
Proses perceraian kami tidak selesai dalam satu minggu.
Ada dokumen.
Ada pertemuan.
Ada pembicaraan tentang barang pribadi dan kewajiban masing-masing.
Pengacara menangani hal-hal yang memang membutuhkan prosedur.
Aku tidak mengambil aset perusahaan.
Arman tidak lagi menuntut sahamku.
Kami menyepakati bahwa kepemilikan yang sudah ada sebelum perkawinan tetap diperlakukan sesuai dokumen masing-masing, sementara hal-hal yang memang diperoleh dan menjadi urusan bersama diselesaikan terpisah.
Nadia melahirkan beberapa bulan kemudian.
Aku mengetahuinya dari Arman karena ada satu dokumen administrasi yang membutuhkan perubahan jadwal pertemuan.
Ia hanya mengatakan bayinya sehat.
Aku menjawab, “Syukurlah.”
Tidak lebih.
Anak itu tidak bertanggung jawab atas apa pun yang dilakukan orang dewasa.
Aku tidak pernah bertemu Nadia lagi.
Dari apa yang Arman katakan kemudian, mereka tidak kembali menjadi pasangan.
Namun Arman rutin memberikan dukungan untuk anaknya dan mengatur waktu bertemu melalui kesepakatan mereka sendiri.
Aku tidak bertanya detailnya.
Hubunganku dengan Ibu Ratna berubah lebih pelik.
Tiga bulan pertama kami hampir tidak berbicara.
Kemudian suatu sore ia menelepon.
Bukan untuk menyuruhku kembali.
Bukan untuk membahas perusahaan.
“Ada beberapa barangmu masih di rumah lama,” katanya. “Foto-foto sebelum menikah. Ibu baru menemukannya.”
Aku datang seminggu kemudian.
Rumah di Darmo lebih kecil daripada rumah yang kutinggali, tapi sebenarnya lebih terasa seperti rumah keluarga Wijaya.
Foto mendiang Pak Surya masih memenuhi dinding.
Di ruang makan ada lemari kayu yang sudah digunakan sejak Arman kecil.
Ibu Ratna memberiku satu kotak.
Di dalamnya ada foto kuliah, beberapa buku, dan surat lama dari ayahku.
“Kamu bisa memeriksa dulu,” katanya.
Aku duduk.
Ia tidak pergi.
Setelah beberapa menit, Ibu Ratna berkata, “Ibu seharusnya memberitahu Arman sejak awal.”
Aku tidak menjawab.
“Bapaknya yang meminta rahasia itu. Setelah dia meninggal, Ibu terus mempertahankannya.”
“Kenapa?”
“Awalnya karena janji.”
Ia menatap foto suaminya.
“Lama-lama karena gengsi.”
Itu terdengar lebih jujur.
“Semakin lama semua orang menyebut rumah itu rumah Wijaya, semakin mudah Ibu ikut percaya.”
Aku mengangguk.
“Lalu ketika Arman bilang ingin menceraikanmu, Ibu takut semuanya terbuka.”
“Jadi Ibu mencoba membuatku menyerahkan hak.”
“Iya.”
Tidak ada alasan panjang setelahnya.
Tidak ada “tapi”.
Hanya iya.
Anehnya, satu kata itu lebih berarti daripada semua pembelaannya sebelumnya.
“Aku tidak bisa menganggap itu tidak pernah terjadi,” kataku.
“Ibu tahu.”
“Aku juga tidak akan mengembalikan kuasa saham kepada Arman hanya karena kita pernah keluarga.”
“Ibu mengerti.”
Aku melihatnya.
“Benar?”
Ia mengangguk.
“Sekarang Ibu mengerti.”
Aku tidak memeluknya.
Ia tidak menangis meminta maaf.
Kami minum teh sekitar dua puluh menit sebelum aku pulang.
Hubungan kami tidak kembali seperti dulu.
Tapi setidaknya sejak hari itu, ia tidak pernah lagi menghubungiku untuk mengatakan apa yang harus kulakukan dengan rumah, saham, atau tanah.
Enam bulan setelah pagi dua belas orang datang, banyak hal masih belum sepenuhnya rapi.
Perceraian kami sudah memasuki tahap akhir.
Perusahaan tetap berjalan.
Rencana ekspansi tidak dibatalkan, tapi diperkecil setelah penilaian ulang menunjukkan perusahaan akan terlalu terbebani jika mengambil pembiayaan sebesar rencana awal.
Lahan milikku tetap digunakan melalui perjanjian baru.
Ada biaya penggunaan yang jelas.
Ada masa berlaku.
Ada hak dan kewajiban kedua pihak.
Arman tetap memimpin perusahaan.
Aku tetap memiliki tiga puluh satu persen saham.
Bedanya, sekarang setiap keputusan atas saham itu benar-benar datang kepadaku.
Kadang aku setuju.
Kadang aku menolak.
Kadang aku meminta perubahan.
Tidak ada pertengkaran keluarga dalam rapat.
Kalau Arman tidak setuju, ia bicara sebagai direktur.
Aku menjawab sebagai pemegang saham.
Aneh, tapi justru lebih sehat daripada tujuh tahun ketika peran suami, istri, anak, menantu, pemilik, dan pengelola bercampur menjadi satu.
Rumah besar di Surabaya Barat juga berubah.
Bukan menjadi istana baru.
Aku tidak merenovasi seluruhnya.
Aku hanya mengganti beberapa hal.
Kasur kamar utama diganti.
Piyama krem itu kubuang.
Bukan karena Nadia pernah memakainya.
Aku hanya tidak ingin melihatnya lagi.
Kamar timur yang dulu dipakai asisten rumah tangga kuubah menjadi ruang baca kecil.
Bu Yati masih bekerja denganku, walaupun sekarang ia pulang ke rumahnya sendiri setiap sore karena anaknya sudah menikah dan memiliki bayi.
Suatu Sabtu pagi, seorang tukang datang membawa tangga.
Ia berdiri di depan pintu utama dan menunjuk papan logam yang sudah tergantung di sana bertahun-tahun.
“Bu, benar yang ini dilepas?”
Aku keluar membawa kopi.
Tulisan “Kediaman Wijaya” berkilau terkena matahari.
Selama tujuh tahun aku berjalan melewati papan itu setiap hari tanpa memikirkan apa pun.
Benda sederhana.
Hanya nama.
Tapi rupanya nama yang diulang cukup lama bisa membuat orang merasa memiliki sesuatu.
“Lepas saja, Pak.”
“Diganti tulisan apa?”
Aku memandang dinding kosong di bawahnya.
“Tidak usah diganti.”
Tukang itu membuka empat baut.
Papan logam turun.
Bekasnya meninggalkan empat lubang kecil pada dinding.
Ia bertanya apakah harus langsung ditambal.
“Nanti saja.”
Setelah ia pergi, aku berdiri beberapa menit di halaman.
Rumah itu tidak berubah ukuran.
Danau di belakang masih sama.
Pintu yang sama.
Tangga yang sama.
Tidak ada yang terasa seperti kemenangan besar.
Hanya lebih jelas.
Aku masuk, menutup pintu, lalu memasukkan kuncinya ke sakuku sendiri.
Menurutmu, apakah Laras benar melanjutkan perceraian meski Arman mulai berubah dan bertanggung jawab atas akibat pilihannya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
