Saat Aku Melahirkan, Suamiku Merayakan Ulang Tahun Perempuan Lain dan Menjanjikan Apartemenku, Lalu Ayahku Menunggunya di Ruang VIP
Bagian 1
“Bu Laras, keluarga Ibu belum datang? Sebentar lagi kita masuk ruang bersalin.”
Aku berbaring di atas ranjang dorong sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, satu tangan menahan perut yang mengeras, tangan lainnya menggenggam ponsel sampai ujung jariku terasa kaku.
Di layar masih terbuka sebuah video yang baru dikirim nomor tak dikenal.
Hotel Arunika, lantai tiga puluh delapan.
Suamiku, Adrian Wibawa, berdiri di depan meja panjang yang dihiasi bunga putih. Di belakangnya ada kue ulang tahun tiga tingkat dan tulisan besar:
“Untuk Nadia, perempuan yang pantas selalu dirayakan.”
Adrian berusia tiga puluh dua tahun. Sejak ayahnya meninggal, semua orang di keluarga Wibawa menyebutnya calon penerus PT Wibawa Graha, perusahaan properti yang dibangun keluarganya selama puluhan tahun.
Dalam video itu, Adrian sedang memasangkan kalung berlian ke leher Nadia Kencana.
Nadia bukan saudara.
Bukan klien biasa.
Dia manajer pengembangan bisnis yang selama satu tahun terakhir namanya terlalu sering muncul dalam percakapan Adrian, bahkan pada malam-malam ketika suamiku mengaku terlalu sibuk untuk makan malam bersamaku.
Hari itu adalah ulang tahun Nadia.
Hari itu juga anak pertama kami akan lahir.
Tiga menit sebelum video masuk, aku sudah menelepon Adrian untuk ketujuh belas kalinya.
Baru pada panggilan terakhir dia mengangkat.
“Adrian,” kataku sambil menahan kontraksi. “Dokter bilang sebentar lagi masuk. Ada beberapa dokumen yang harus dibicarakan.”
Di seberang terdengar suara gelas beradu dan orang tertawa.
“Laras, kamu sudah dewasa. Masa apa-apa harus aku yang urus?”
Aku sempat mengira dia belum memahami perkataanku.
“Aku mau melahirkan.”
“Aku tahu.”
“Terus kamu di mana?”
Ada jeda dua detik.
“Menjamu relasi.”
Lalu sebuah suara perempuan terdengar jelas.
“Adrian, semuanya nunggu kamu potong kue.”
Aku langsung mengenali suara itu.
Nadia.
“Relasi?” tanyaku. “Nadia yang kamu maksud?”
Nada Adrian berubah.
“Jangan bikin masalah hari ini.”
Telepon diputus.
Aku menatap layar sampai nama Adrian menghilang.
Perawat yang berdiri di sampingku pura-pura memeriksa selang infus. Aku tahu dia mendengar sebagian percakapan itu, tetapi dia cukup baik untuk tidak bertanya.
Belum sempat aku meletakkan ponsel, Ibu Ratna, ibu mertuaku, menelepon.
Untuk satu detik aku merasa lega.
Setidaknya ada seseorang dari keluarga Wibawa yang ingat cucunya akan lahir.
Aku salah.
“Laras, jangan telepon Adrian terus.”
Aku sampai tidak langsung menjawab.
“Ibu tahu dia di mana?”
“Tahu.”
Jawaban itu terdengar begitu biasa.
“Dia sedang bersama Nadia.”
“Iya. Nadia baru membantu perusahaan mendapatkan kerja sama besar. Adrian membuat acara ulang tahun untuk dia. Memangnya kenapa?”
Aku memejamkan mata.
“Hari ini saya melahirkan, Bu.”
“Perempuan melahirkan itu bukan cuma kamu.”
Kontraksi datang lagi. Aku menekan telapak tangan ke sisi ranjang.
Ibu Ratna meneruskan, “Kamu sudah enam tahun masuk keluarga ini. Harusnya sudah paham pekerjaan Adrian. Jangan karena cemburu, kamu bikin dia malu di depan orang-orang perusahaan.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Air mata justru mengalir ke pelipisku.
Enam tahun.
Enam tahun aku belajar duduk diam ketika acara keluarga Wibawa membicarakan ayahku sebagai “pedagang Semarang yang usahanya jatuh”.
Enam tahun pula aku membiarkan mereka menganggap keluargaku beruntung karena Adrian mau menikah denganku.
Ayah tidak pernah membantah.
Kalau aku bertanya, dia hanya bilang, “Orang mau berpikir apa, biarkan. Yang penting kamu tahu kamu hidup dari keputusanmu sendiri.”
Hari itu, untuk pertama kalinya, kalimatnya terasa memiliki arti lain.
“Bu Laras.”
Seorang perawat datang lebih cepat.
“Kita harus masuk sekarang.”
Aku mematikan telepon.
Tepat sebelum pintu ruang bersalin menutup, sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul.
“Mau tahu hadiah apa yang disiapkan suamimu untuk Nadia?”
Di bawahnya ada foto dokumen.
Judul pada halaman pertama membuat rasa sakit di perutku seolah berpindah ke dada.
PERJANJIAN PENGALIHAN HAK UNIT APARTEMEN ARUNA RESIDENCE.
Unit 31A.
Aku mengenal alamat itu.
Tiga tahun lalu Adrian berdiri di balkon apartemen tersebut, memegang pinggangku, lalu berkata jika kami punya anak, unit itu bisa menjadi miliknya suatu hari nanti.
“Biar dia punya pegangan,” katanya waktu itu.
Aku bahkan masih ingat jawabanku.
“Bukan milik dia sekarang?”
Adrian tertawa.
“Ya milik keluarga juga.”
Aku tidak pernah mempertanyakan maksudnya.
Karena sertifikat apartemen itu disimpan oleh ayahku sejak sebelum aku menikah.
Namaku tercantum sebagai pemilik.
Aku menatap foto dokumen itu sampai perawat mengambil ponsel dari tanganku dan menaruhnya ke dalam tas.
“Bu, sekarang fokus dulu.”
Tiga jam kemudian putraku lahir.
Tangis pertamanya kecil, kemudian semakin keras.
Aku memandangi wajahnya dari atas bantal, terlalu lelah untuk menangis lagi.
Adrian tidak ada di sana.
Belakangan aku baru mengetahui bahwa pada saat aku memegang tangan mungil anak kami untuk pertama kalinya, pesta Nadia justru sedang mencapai bagian paling ramai.
Nadia mengenakan gaun putih.
Tangannya melingkar di lengan Adrian ketika beberapa tamu perusahaan mulai menggoda mereka.
“Pak Adrian perhatian sekali sama Bu Nadia. Orang yang tidak tahu bisa mengira ini acara tunangan.”
Nadia tersenyum sambil menunduk.
“Jangan begitu. Pak Adrian kan sudah menikah.”
Adrian tidak menyangkal apa pun.
Dia mengambil sebuah kotak beludru dari meja.
“Hadiah ulang tahun.”
Nadia membukanya.
Di dalamnya ada sebuah kunci dengan gantungan logam bertuliskan 31A.
Aruna Residence.
“Adrian…”
“Senang?”
Wajah Nadia berubah cerah.
“Tapi Mbak Laras…”
Adrian mengernyit.
“Hari ini jangan bahas dia.”
Nadia menggenggam kunci itu.
Beberapa menit kemudian, manajer hotel masuk.
“Pak Adrian.”
“Ada apa?”
“Ada tamu di VIP Room 1 yang ingin bertemu Bu Nadia.”
Nadia menunjuk dirinya sendiri.
“Saya?”
“Iya, Bu. Beliau bilang ada hadiah ulang tahun lain yang ingin diberikan langsung.”
Adrian menatap manajer itu.
“Siapa?”
Manajer tersebut tampak tidak nyaman.
“Beliau meminta saya tidak menyebutkan namanya.”
Nadia malah tertawa.
“Mungkin relasi Papa.”
Dia mengambil tas tangannya.
“Aku sebentar.”
Lima menit kemudian, Nadia membuka pintu VIP Room 1.
Senyumnya hilang sebelum pintu menutup sempurna.
Tidak ada kue.
Tidak ada bunga.
Tidak ada tamu yang sedang merayakan ulang tahun.
Hanya sebuah meja kayu panjang.
Tiga map hitam tertata di atasnya.
Di kursi paling ujung duduk seorang laki-laki berusia enam puluhan yang sedang menuangkan teh ke cangkir kecil.
Rambutnya sudah banyak beruban.
Kemejanya sederhana.
Tidak ada jam mahal atau jas mencolok.
Namun manajer hotel berdiri beberapa langkah di belakangnya dan tidak berani menyela.
Cangkir di tangan Nadia terlepas ke karpet.
“Pak… Hendra?”
Laki-laki itu mengangkat kepala.
Hendra Maheswari.
Ayahku.
Orang yang selama enam tahun dianggap keluarga Wibawa sebagai pengusaha gagal yang kembali menjalankan usaha kecil di Semarang.
Ayah menaruh teko.
“Selamat ulang tahun, Nadia.”
Nadia mundur.
“Bapak ngapain di sini?”
Ayah tidak menjawab.
Dia mendorong map pertama.
“Duduk.”
“Saya tidak mengerti.”
“Tidak mengerti?”
Tatapan Ayah turun ke kunci apartemen yang masih berada dalam genggaman Nadia.
“Kalau begitu kita mulai dari apartemen yang baru diberikan menantu saya kepada kamu.”
Wajah Nadia langsung pucat.
Saat itulah pintu terbuka.
Adrian masuk dengan langkah cepat.
“Om Hendra?”
Dia melihat Ayah, kemudian tiga map di atas meja.
“Om sedang apa di sini?”
Ayah tidak langsung menatapnya.
Dia membuka map kedua.
Beberapa lembar dokumen diletakkan di meja.
Salinan akta perkawinan orang tua Adrian.
Bukti transfer lama.
Dan sebuah foto yang warnanya sudah mulai pudar.
Adrian mengambil foto itu.
Tubuhnya berhenti bergerak.
Di dalam foto berdiri ayahnya yang masih muda, Ibu Ratna, dan ayahku.
Tanggal di sudut foto menunjukkan dua puluh delapan tahun lalu.
“Foto ini…” Adrian memandang Ayah. “Om dapat dari mana?”
Baru saat itu Ayah menatapnya.
“Adrian.”
Suaranya tidak keras.
“Anak saya baru melahirkan anak kamu. Sementara kamu memakai aset atas namanya untuk memberi hadiah kepada perempuan lain.”
Nadia menoleh tajam.
“Atas nama Mbak Laras? Tidak mungkin. Adrian bilang unit itu aset perusahaan.”
Ayah membuka map terakhir.
“Kamu yakin?”
Tidak ada yang menjawab.
Adrian bergerak ingin mengambil dokumen itu, tetapi Ayah menahan halaman pertama dengan telapak tangannya.
“Jangan buru-buru.”
Dia menatap Adrian.
“Sebelum membaca ini, sebaiknya telepon ibumu.”
“Kenapa?”
“Karena apa yang terjadi dua puluh delapan tahun lalu dimulai dari dia dan ayahmu.”
Pada saat yang sama, ponsel Adrian berdering.
Nama Ibu Ratna muncul.
Adrian mengangkat.
“Ma?”
Suara ibu mertuaku terdengar cukup keras sampai Nadia bisa mendengarnya.
“Adrian! Kamu di mana?”
“Hotel.”
“Tolong jawab Ibu. Hendra Maheswari ada di sana?”
Adrian menatap Ayah.
“Kok Ibu tahu?”
Tidak ada jawaban beberapa detik.
Lalu suara Ibu Ratna berubah panik.
“Jangan biarkan dia membuka map ketiga!”
Adrian perlahan menurunkan ponsel.
Ayah memandangnya, kemudian meletakkan satu jari di tepi halaman.
“Berarti ibumu masih ingat.”
Dia mulai membuka map itu.
Dan ketika baris pertama dokumen di dalamnya terlihat, wajah Adrian berubah sepenuhnya.

Bagian 2
Baris pertama itu berbunyi:
AKTA PENGAKUAN UTANG DAN PENYELESAIAN KEWAJIBAN USAHA.
Nama di bawahnya bukan namaku.
Bukan juga nama Adrian.
Tertulis nama almarhum ayah Adrian dan Ratna Wibawa sebagai pihak yang menerima dana dari Hendra Maheswari.
Tanggalnya dua puluh delapan tahun lalu.
“Apa ini?” tanya Adrian.
Ayah mendorong akta itu mendekat.
“Baca.”
Pada akhir 1990-an, usaha konstruksi kecil milik keluarga Wibawa nyaris berhenti. Beberapa proyek mereka tertunda, pemasok menagih, sementara kredit baru sulit diperoleh.
Ayahku menjual satu gudang dan sebidang tanah miliknya untuk memberikan modal darurat.
Bukan hadiah.
Ada perjanjian.
Jika keluarga Wibawa tidak mampu mengembalikan seluruh dana dalam jangka yang disepakati, sebagian aset dari proyek yang kemudian dibangun menggunakan dana tersebut akan digunakan sebagai penyelesaian kewajiban.
Adrian membaca tanpa berkedip.
“Kenapa saya tidak pernah tahu?”
Ayah menatapnya.
“Tanya ibumu.”
Pintu kembali terbuka sekitar dua puluh menit kemudian.
Ibu Ratna datang dengan wajah tegang.
Begitu melihat dokumen, dia langsung berkata, “Itu sudah lama selesai.”
“Betul,” jawab Ayah.
“Kalau sudah selesai, kenapa dibawa lagi?”
“Karena kamu rupanya lupa bagaimana selesainya.”
Ayah membuka satu dokumen tambahan.
Sembilan tahun sebelumnya, keluarga Wibawa akhirnya menyelesaikan sisa kewajiban lama itu melalui beberapa aset yang sudah disepakati.
Salah satunya unit 31A Aruna Residence.
Tiga bulan sebelum aku menikah dengan Adrian, proses pengalihannya selesai.
Bukan ke perusahaan ayahku.
Bukan ke Ayah.
Ke namaku.
Aku baru tahu seluruh cerita itu pada malam yang sama setelah kondisiku stabil dan Ayah menelepon dari hotel.
Selama bertahun-tahun, aku memang tahu apartemen tersebut atas namaku.
Yang tidak kutahu adalah asal-usulnya.
Aku mengira Ayah membelinya sebagai hadiah pernikahan.
Ternyata dia sengaja tidak pernah menceritakan bahwa unit itu berasal dari penyelesaian utang keluarga Wibawa.
“Ayah kenapa diam?” tanyaku melalui telepon.
“Karena itu utang mereka kepada Ayah, bukan utang kamu. Setelah selesai, selesai.”
Aku menatap bayi yang tertidur di sampingku.
“Adrian tahu unitnya atas namaku.”
Ayah terdiam.
Aku langsung mengerti.
“Dia tahu, ya?”
“Dia tahu sertifikatnya atas nama kamu. Yang Ayah belum tahu adalah kenapa dia berani menjanjikannya kepada orang lain.”
Di VIP Room, Adrian mencoba memberi penjelasan.
“Unit itu memang atas nama Laras, tapi sejak dulu dipakai keluarga. Saya pikir secara praktik itu aset keluarga.”
Ayah menggeleng.
“Kalau milik keluarga, kenapa nama Laras yang tercantum?”
“Itu pengaturan lama.”
“Pengaturan apa?”
Adrian tidak menjawab.
Ibu Ratna akhirnya menyela.
“Hendra, jangan dibuat seperti Adrian mencuri. Laras istrinya.”
Ayah menoleh kepadanya.
“Menikah tidak membuat nama pemilik di dokumen hilang.”
Nadia duduk diam.
Kunci apartemen masih di meja.
“Aku tidak tahu begini,” katanya kepada Adrian.
Adrian menjawab cepat, “Aku sudah bilang semuanya bisa diurus.”
Kalimat itu membuat Ayah berhenti.
“Diurus bagaimana?”
Adrian tidak menjawab.
Ayah lalu membuka map pertama, dokumen pengalihan yang sebelumnya dikirim kepadaku.
Pada bagian pihak yang menyerahkan hak, tercantum PT Wibawa Graha.
Masalahnya sederhana.
Perusahaan itu bukan pemilik unit 31A.
Mereka sedang berusaha mengalihkan sesuatu yang tidak tercatat sebagai milik mereka.
Dokumen tersebut belum menjadi pengalihan hak yang sah, tetapi cukup menunjukkan apa yang sedang direncanakan.
Ayah menunjuk satu catatan pada lampirannya.
“Ini apa?”
Adrian menunduk.
Ibu Ratna justru lebih cepat mengambil dokumen tersebut.
Di sana tertulis bahwa dokumen tambahan dari pemilik terdaftar akan dilengkapi setelah proses awal.
Aku menerima foto halaman itu dari Ayah beberapa menit kemudian.
Di bawah kalimat tersebut ada tulisan tangan Adrian.
Setelah Laras pulang dari rumah sakit.
Aku membacanya dua kali.
Lalu tiga kali.
Jadi ini bukan hanya hadiah simbolis berupa sebuah kunci.
Adrian memang berniat membuatku menandatangani sesuatu setelah melahirkan.
Aku meneleponnya.
Kali ini dia mengangkat pada dering pertama.
“Laras.”
“Apa yang mau kamu suruh aku tanda tangani setelah keluar dari rumah sakit?”
Dia diam.
“Jawab.”
“Bukan seperti yang kamu pikir.”
“Nama dokumennya apa?”
“Laras, kamu baru melahirkan. Jangan bahas ini sekarang.”
Aku melihat anak kami.
Sejak pagi, Adrian tidak pernah menanyakan bagaimana kondisinya.
Namun soal apartemen, dia ingin aku menunggu.
“Kalau aku tidak melihat dokumen itu, kamu akan menjelaskan unitnya mau diberikan ke Nadia?”
Tidak ada jawaban.
Aku berkata, “Adrian, jawab satu pertanyaan saja. Setelah aku pulang dari rumah sakit, kamu mau bilang apa supaya aku mau tanda tangan?”
Untuk pertama kalinya suaranya terdengar benar-benar goyah.
“Ibu bilang kita cukup bilang itu dokumen administrasi pajak apartemen.”
Aku menutup mata.
Jadi bukan hanya Adrian.
Ibu Ratna sudah tahu rencananya.
Lalu Adrian menambahkan kalimat yang membuatku duduk tegak di ranjang.
“Laras, dengar dulu. Ibu melakukan ini karena ada satu hal tentang Nadia yang kamu belum tahu.”
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
“Apa tentang Nadia?”
Adrian tidak langsung menjawab.
Di belakang suaranya terdengar pintu dibuka, lalu suara Ibu Ratna memanggil namanya.
Aku berkata, “Kalau kamu memutus telepon, besok jangan datang membawa alasan.”
Dia mengembuskan napas.
“Nadia bukan sekadar pegawai.”
“Aku sudah tahu.”
“Bukan itu maksudku.”
Aku menunggu.
“Nadia membawa investor untuk proyek Sentra Cendana. Kalau kesepakatan itu gagal, arus kas perusahaan bisa bermasalah.”
Aku hampir tertawa.
“Jadi kamu memberikan apartemenku untuk mempertahankan seorang pegawai?”
“Bukan begitu.”
“Kalau begitu bagaimana?”
Adrian menjelaskan dengan kalimat yang berputar-putar.
Nadia sudah setahun menangani negosiasi dengan sebuah grup investasi lokal. Beberapa bulan terakhir, hubungan kerjanya dengan Adrian menjadi terlalu dekat.
Pada awalnya mereka makan malam selepas rapat.
Kemudian Adrian mulai mengantar Nadia pulang.
Setelah itu muncul perjalanan kerja yang tidak pernah dia ceritakan dengan jelas kepadaku.
Aku tidak membutuhkan penjelasan tentang detail hubungan mereka.
Satu hal sudah cukup.
“Pernah ada hubungan antara kamu dan Nadia yang kamu sembunyikan dariku?”
Lama sekali dia diam.
“Pernah.”
Aku menatap langit-langit ruang rawat.
Tidak ada suara dramatis.
Tidak ada piring pecah.
Hanya mesin pendingin udara dan suara napas kecil anakku.
“Masih?”
“Sudah tidak seperti dulu.”
Kalimat itu lebih buruk daripada jawaban ya.
“Berapa lama?”
“Beberapa bulan.”
“Dan hari ini kamu merayakan ulang tahunnya di hotel?”
“Karena urusan proyek juga.”
“Dengan kalung?”
Adrian tidak menjawab.
“Dengan apartemen?”
“Laras…”
Aku memutus telepon.
Tanganku gemetar, tetapi aku tidak menelepon lagi.
Sekitar setengah jam kemudian Ayah datang ke rumah sakit.
Tidak ada rombongan.
Tidak ada pengacara berjalan di belakangnya.
Dia datang membawa tas kain berisi pakaian bayi yang sebelumnya sudah kutitipkan di rumahnya.
Begitu masuk, Ayah mencuci tangan, lalu berdiri di samping tempat tidur.
“Boleh lihat cucu Ayah?”
Aku mengangguk.
Ayah tidak langsung mengangkat bayiku.
Dia hanya membungkuk sedikit, melihat wajahnya, kemudian tersenyum.
“Mirip kamu waktu baru lahir.”
Aku menoleh ke jendela.
“Ayah sudah tahu Adrian dengan Nadia?”
“Tidak.”
“Terus kenapa Ayah ada di hotel?”
Ayah menarik kursi.
“Tiga hari lalu seseorang dari bagian legal perusahaan menghubungi notaris yang dulu mengurus unit Aruna. Mereka meminta salinan riwayat dokumen dan menanyakan prosedur kalau unit itu ingin dialihkan.”
“Notaris bilang ke Ayah?”
“Dia menghubungi Ayah karena dulu Ayah pihak dalam penyelesaian utangnya. Tapi dia tidak memberikan dokumen pribadi orang lain. Dia cuma menanyakan apakah memang ada perubahan yang Ayah ketahui.”
Ayah kemudian meneleponku.
Aku tidak mengangkat karena sedang pemeriksaan.
Setelah itu dia menelepon Adrian.
Adrian mengatakan semuanya urusan internal keluarga.
Jawaban itu justru membuat Ayah pergi ke Jakarta.
“Nomor yang mengirim foto ke aku?”
“Ayah.”
Aku menatapnya.
“Ayah pakai nomor baru?”
“Nomor kantor.”
“Kenapa tidak bilang langsung?”
“Ayah sudah coba telepon kamu dua kali. Tidak masuk.”
Aku mengecek ponsel.
Memang ada dua panggilan tidak terjawab saat pemeriksaan.
Untuk pertama kalinya sejak siang, satu bagian kecil dari kekacauan itu terasa masuk akal.
“Ayah tahu pesta Nadia dari mana?”
“Adrian sendiri bilang dia ada acara perusahaan di Arunika waktu Ayah telepon. Ayah cuma tanya resepsionis apakah acara PT Wibawa Graha ada di sana.”
Ayah tahu nama Nadia dari salinan draft pengalihan.
Dia meminta bertemu Nadia karena namanya tercantum sebagai calon penerima.
“Kenapa hotel memberi Ayah VIP Room?”
Ayah mengangkat bahu.
“Bayar sewa ruangan.”
Aku menatapnya cukup lama.
Ayah tersenyum tipis.
“Jangan lihat Ayah begitu. Ayah memang pernah bangkrut, bukan berarti sekarang tidak mampu sewa ruangan dua jam.”
Aku akhirnya tertawa kecil.
Kemudian aku menangis lagi.
Ayah tidak menyuruhku berhenti.
Dia hanya duduk di sana.
Setelah beberapa menit aku bertanya, “Kenapa keluarga Adrian bilang Ayah dulu bangkrut setelah minta bantuan mereka?”
Wajah Ayah berubah.
“Ayah tidak pernah minta bantuan keluarga Wibawa.”
“Jadi cerita itu dari siapa?”
“Ratna.”
Barulah aku memahami kenapa map ketiga begitu menakutkan bagi ibu mertuaku.
Selama bertahun-tahun dia membalik cerita.
Memang benar usaha Ayah pernah gagal.
Namun itu terjadi hampir dua puluh tahun setelah dia memberikan dana kepada keluarga Wibawa.
Kegagalan usahanya sama sekali tidak berkaitan dengan mereka.
Ketika aku menikah dengan Adrian, Ibu Ratna hanya mengambil satu fakta, bahwa usaha Ayah pernah jatuh, lalu membuatnya terdengar seolah keluarga Wibawa menerima kami karena kasihan.
“Ayah tidak marah?”
“Dulu?”
“Iya.”
“Tentu marah.”
“Kenapa diam?”
Ayah melihat cucunya.
“Kamu bilang kamu mencintai Adrian. Ayah pikir selama dia memperlakukan kamu baik, omongan ibunya tidak perlu Ayah jadikan perang keluarga.”
Aku meremas ujung selimut.
“Berarti Ayah salah.”
Dia mengangguk pelan.
“Ayah terlalu lama menganggap diam itu sama dengan menjaga kamu.”
Itu adalah satu-satunya kali malam itu Ayah mengakui kesalahannya.
Tidak ada kalimat bahwa dia akan menghancurkan keluarga Wibawa.
Tidak ada ancaman mengambil perusahaan.
Ayah bahkan berkata dia tidak tertarik membuka kembali urusan utang lama karena penyelesaiannya sudah selesai bertahun-tahun lalu.
“Yang Ayah mau cuma satu. Jangan biarkan orang memindahkan sesuatu atas nama kamu tanpa kamu mengerti apa yang kamu tanda tangani.”
Aku mengangguk.
Keesokan paginya, sebelum Adrian datang, aku menelepon pengelola Aruna Residence.
Aku menggunakan namaku sendiri sebagai pemilik.
Aku meminta seluruh akses tamu untuk unit 31A ditangguhkan sampai ada instruksi tertulis dariku.
Petugas memverifikasi identitasku dan berkata ada dua kartu akses tambahan yang sebelumnya dibuat atas permintaan Adrian.
Aku terdiam.
“Untuk siapa?”
“Satu atas nama Pak Adrian. Satu lagi pengajuan tamu jangka panjang atas nama Nadia Kencana, tapi belum kami aktifkan karena masih menunggu persetujuan pemilik.”
“Batalkan pengajuan Nadia.”
“Baik, Bu.”
“Dan akses Adrian?”
Aku menatap pintu ruang rawat.
Enam tahun pernikahan tidak hilang hanya karena aku marah satu malam.
Ada bagian dalam diriku yang masih mencari alasan untuk tidak membuat keputusan terlalu cepat.
“Aksesnya blokir sementara.”
“Baik.”
Setelah telepon selesai, aku merasa sedih karena tindakan sekecil itu terasa begitu besar.
Selama menikah, Adrian selalu memegang kunci rumah, akses rekening kebutuhan rumah tangga, dokumen asuransi, bahkan jadwal kontrol kehamilanku.
Aku pernah menganggap itu bentuk kebersamaan.
Sekarang aku mulai memahami perbedaan antara berbagi dan menyerahkan seluruh kendali.
Adrian datang menjelang pukul sepuluh.
Dia membawa bunga.
Bukan bunga kesukaanku.
Bunga yang sama dengan dekorasi ulang tahun Nadia.
Begitu melihatnya, aku berkata, “Taruh di luar.”
Adrian berhenti.
“Ini untuk kamu.”
“Taruh di luar.”
Dia menyerahkannya kepada perawat.
Lalu dia melihat bayi kami.
Wajahnya berubah.
Untuk beberapa detik, aku melihat laki-laki yang enam tahun lalu menikah denganku.
Dia mendekat.
“Boleh aku gendong?”
Aku tidak melarang.
Adrian mencuci tangan lalu menerima anak kami dari perawat.
Tangannya kaku.
Matanya berkaca-kaca.
“Namanya jadi Rafi?” tanyanya.
Itu nama yang kami sepakati dua bulan sebelumnya.
“Iya.”
“Hai, Rafi.”
Suara Adrian pecah.
Aku membiarkannya berdiri beberapa menit.
Kemudian aku berkata, “Sekarang kita bicara.”
Dia mengembalikan bayi kepada perawat.
Aku tidak membahas Nadia terlebih dulu.
Aku bertanya tentang apartemen.
“Sejak kapan kamu merencanakan memberikan unit 31A?”
“Sekitar tiga minggu.”
“Kamu tahu sertifikat atas namaku?”
“Tahu.”
“Kamu tahu aku tidak pernah menyetujui pengalihan?”
“Iya.”
“Terus kenapa ada dokumen?”
Adrian menarik kursi.
“Nadia bilang dia mau keluar dari perusahaan.”
“Karena?”
“Dia merasa posisinya tidak jelas.”
Aku menatapnya.
“Posisi pekerjaan?”
Dia tidak menjawab.
“Nah.”
Adrian mengusap wajah.
“Aku panik. Proyek Sentra Cendana baru masuk tahap penting. Kalau Nadia pergi, ada risiko investor ikut mundur.”
“Jadi kamu membeli kesetiaannya?”
“Bukan membeli.”
“Kalau bukan, kenapa hadiahnya apartemen?”
Adrian menatap lantai.
Jawabannya akhirnya sederhana.
Karena Nadia meminta kepastian.
Bukan kepastian hubungan.
Kepastian bahwa setelah semua yang dia lakukan membantu Adrian dan perusahaan, dia tidak akan ditinggalkan begitu saja.
“Aku cuma ingin dia tetap sampai proyek selesai.”
“Dengan asetku.”
“Aku pikir nanti kita bisa ganti dengan unit perusahaan yang lain.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu boleh mengambil milikku hari ini karena menurutmu bisa diganti nanti?”
“Tidak begitu.”
“Adrian, tiap kali kamu bilang ‘tidak begitu’, setelahnya justru lebih buruk.”
Dia terdiam.
Aku lalu bertanya tentang perselingkuhan.
Kali ini tidak ada tempat untuk berputar.
Hubungan mereka dimulai tujuh bulan sebelumnya.
Adrian mengaku pernah menginap bersama Nadia setelah perjalanan kerja ke Surabaya.
Tidak ada hubungan rahasia bertahun-tahun.
Tidak ada anak tersembunyi.
Tidak ada pernikahan kedua.
Hanya serangkaian keputusan buruk yang terus dibiarkan menjadi semakin buruk karena tidak ada yang memaksanya berhenti.
“Kenapa tidak selesai setelah pertama kali?”
Adrian mengangkat wajah.
“Aku tidak tahu.”
“Coba pikir.”
Dia diam cukup lama.
“Aku suka cara Nadia melihat aku.”
“Maksudnya?”
“Di rumah semuanya seperti sudah ditentukan. Perusahaan, Ibu, rapat, kamu hamil… semua orang butuh sesuatu dariku.”
Aku hampir tidak percaya.
“Aku hamil anakmu dan itu masuk daftar orang yang membebani kamu?”
“Bukan begitu maksudku.”
“Tapi itu yang kamu katakan.”
Adrian menarik napas.
“Dengan Nadia aku tidak perlu memikirkan itu.”
Aku mengangguk.
Akhirnya ada jawaban yang jujur.
Bukan karena aku kurang cantik.
Bukan karena Nadia memiliki rahasia luar biasa.
Bukan karena pernikahan kami dipaksa.
Adrian hanya menemukan tempat di mana dia bisa melupakan tanggung jawab, lalu memilih kembali ke tempat itu berkali-kali.
“Itu cukup,” kataku.
“Apa?”
“Aku tidak perlu penjelasan lain.”
Adrian langsung panik.
“Laras, jangan ambil keputusan sekarang. Kamu baru melahirkan.”
“Justru karena baru melahirkan aku tidak akan mengambil keputusan final hari ini.”
Dia tampak sedikit lega.
Aku meneruskan, “Tapi mulai hari ini kita pisah dulu.”
Wajahnya berubah.
“Maksud kamu?”
“Kamu pulang ke rumah ibumu.”
“Itu rumah kita.”
“Rumah itu juga atas namaku dan kamu.”
“Laras…”
“Aku tidak mengusir kamu dari hak milikmu. Aku minta kamu tinggal sementara di rumah ibumu sampai aku pulang dan bisa bicara tanpa kondisi seperti ini.”
Dia mengusap tengkuk.
“Rafi bagaimana?”
“Kamu ayahnya. Kamu boleh datang sesuai waktu yang kita sepakati.”
“Aku mau ada di rumah.”
“Kemarin aku juga mau kamu ada di rumah sakit.”
Dia tidak punya jawaban.
Sebelum pergi, Adrian meminta satu kesempatan.
Aku berkata aku belum tahu.
Itu bukan permainan.
Aku benar-benar belum tahu.
Siang itu Ibu Ratna datang.
Dia masuk tanpa mengetuk, membawa tas dan ekspresi orang yang sudah menyiapkan pidato sepanjang perjalanan.
“Laras, Ibu mau menjelaskan.”
Aku sedang menyusui.
Aku menutupi tubuh dengan kain dan berkata, “Tunggu lima menit.”
Ibu Ratna terlihat tidak senang, tetapi duduk.
Setelah Rafi selesai dan perawat membawanya untuk pemeriksaan, barulah aku menatap ibu mertuaku.
“Ibu tahu soal Nadia?”
Dia langsung berkata, “Hubungan mereka sudah berakhir.”
“Bukan pertanyaan saya.”
Ratna menahan napas.
“Tahu.”
“Sejak kapan?”
“Sekitar dua bulan.”
“Terus Ibu tidak pernah bilang ke saya?”
“Ibu sudah bicara sama Adrian.”
“Dan hasilnya Ibu ikut membantu menyiapkan dokumen apartemen saya.”
Nada Ratna meninggi.
“Jangan bilang membantu. Ibu cuma mencari jalan keluar agar Nadia tidak mengacaukan proyek.”
“Dengan memberikan apartemen saya?”
“Itu kan tetap aset keluarga.”
Aku menggeleng.
“Bukan.”
“Laras, setelah menikah jangan sedikit-sedikit bilang milik saya, milik kamu.”
“Kalau begitu kenapa Ibu tidak memberikan apartemen Ibu?”
Dia berhenti.
Aku melanjutkan, “Atau salah satu unit milik perusahaan yang benar-benar tercatat atas nama perusahaan.”
“Tidak sesederhana itu.”
“Kenapa?”
Karena unit perusahaan sedang menjadi bagian dari beberapa fasilitas pembiayaan dan proyek berjalan.
Aku memahami jawabannya.
Mereka memilih apartemenku justru karena lebih mudah.
Tidak terikat urusan perusahaan.
Tidak ada kredit.
Tidak ada beban proyek.
Hanya ada satu hambatan.
Aku.
Karena itu rencananya menunggu sampai aku pulang dari rumah sakit.
Saat lelah.
Saat mengurus bayi.
Saat mungkin tidak membaca semua halaman.
“Ibu sungguh mau bilang itu dokumen pajak?”
Ratna menatap ke samping.
“Kami tetap akan jelaskan nanti.”
“Kapan?”
Tidak ada jawaban.
“Setelah saya tanda tangan?”
Ratna akhirnya berkata, “Kalau proyek gagal, ratusan orang bisa terdampak. Kamu harus lihat masalah lebih besar.”
Aku berdiri pelan.
Tubuhku masih sakit.
Aku tidak perlu berteriak.
“Kalau perusahaan bergantung pada satu pegawai sampai harus diberi apartemen pribadi milik istri direktur, berarti masalah perusahaannya bukan saya.”
Ratna berdiri juga.
“Kamu sekarang merasa menang karena ayahmu datang bawa dokumen lama?”
“Tidak.”
“Kalau bukan, kenapa semua urusan dua puluh delapan tahun lalu dibuka?”
“Karena Ibu panik.”
Ratna menatapku.
Aku tidak berniat mempermalukannya, tetapi aku ingin satu jawaban.
“Kenapa selama enam tahun Ibu bilang ayah saya dulu datang meminta bantuan keluarga Wibawa?”
Wajah Ratna mengeras.
“Itu cerita lama.”
“Yang tidak benar.”
“Ayahmu juga pernah bangkrut.”
“Dua puluh tahun setelah membantu keluarga Ibu.”
Dia tidak menjawab.
Aku berkata, “Saya tidak akan membicarakan utang lama itu ke keluarga besar atau ke orang perusahaan. Itu sudah selesai. Tapi mulai sekarang jangan pakai cerita palsu itu untuk merendahkan ayah saya.”
Ratna mengambil tasnya.
Sebelum keluar dia berkata, “Kalau kamu bercerai karena masalah ini, yang rugi Rafi.”
Aku memandangnya.
“Yang membuat masalah ini bukan keputusan saya nanti, Bu.”
Dia pergi.
Dua hari kemudian aku pulang dari rumah sakit.
Bukan ke rumah besar tempat aku dan Adrian tinggal.
Aku pulang ke apartemen kecil milik Ayah di Jakarta untuk sementara.
Adrian marah ketika tahu.
Dia menelepon empat kali.
Aku menjawab panggilan kelima.
“Kenapa tidak pulang?”
“Aku butuh tempat yang tenang.”
“Aku sudah keluar dari rumah.”
“Aku tahu.”
“Berarti kamu bisa pulang.”
“Aku belum siap.”
Ada jeda.
“Nadia sudah aku keluarkan dari proyek.”
Aku menutup mata.
“Kenapa?”
“Karena kamu.”
“Jangan.”
“Apa?”
“Jangan jadikan aku alasan keputusan perusahaan. Kalau dia memang harus keluar karena hubungan kalian menimbulkan konflik kepentingan, urus secara profesional. Kalau dia tetap dibutuhkan, perusahaan juga harus punya cara profesional.”
Adrian terdengar kebingungan.
Mungkin karena selama bertahun-tahun, setiap masalah rumah tangga kami diselesaikan dengan cara paling praktis menurut keluarga Wibawa.
Bayar.
Pindahkan.
Diamkan.
Minta aku mengerti.
Kali ini aku tidak mau menjadi alasan baru untuk menutupi masalah lama.
Aku juga tidak menghubungi Nadia.
Tiga hari kemudian, dia yang menghubungiku.
Pesannya singkat.
“Mbak Laras, saya ingin mengembalikan kunci.”
Aku menjawab agar dia menyerahkannya ke pengelola gedung.
Dia meminta bertemu lima menit.
Aku ragu, tetapi akhirnya setuju bertemu di lobi Aruna Residence. Ayah menemaniku sampai gedung, lalu menunggu di kafe sebelah.
Nadia datang tanpa dandanan acara.
Tidak ada gaun putih.
Tidak ada kalung berlian.
Dia meletakkan kunci di meja.
“Maaf.”
Aku melihat kunci itu.
“Untuk apa?”
Dia terdiam.
“Kalau minta maaf karena apartemen, saya mau tahu satu hal. Kamu tahu unit itu akan diberikan tanpa persetujuan saya?”
“Adrian bilang unit itu atas nama Mbak hanya karena pengaturan keluarga.”
“Dan kamu percaya?”
“Awalnya.”
“Setelah dia bilang jangan menyebut nama saya di pesta?”
Nadia menunduk.
Itu jawabannya.
“Aku tahu kalian menikah,” katanya. “Aku tidak akan pura-pura tidak tahu.”
Aku mengangguk.
Setidaknya dia tidak mencoba mengubah dirinya menjadi korban penuh.
“Kenapa kamu minta apartemen?”
“Aku tidak minta apartemen itu secara spesifik.”
Menurut Nadia, setelah mereka bertengkar soal hubungan, dia bilang ingin keluar dari perusahaan dan memutus hubungan dengan Adrian.
Adrian kemudian menawarkan unit 31A sebagai bentuk “jaminan” bahwa dia tidak akan begitu saja melepaskan Nadia setelah proyek selesai.
“Seharusnya aku menolak.”
“Iya.”
“Aku pikir kalau dia berani memberi, berarti memang hak dia.”
“Sekarang kamu tahu bukan.”
Nadia mengangguk.
Dia lalu mengeluarkan kalung dari tas.
“Aku juga mau mengembalikan ini.”
“Itu bukan milik saya.”
“Tapi dibeli Adrian.”
“Berarti kembalikan ke Adrian.”
Aku tidak menyentuh kotaknya.
Pertemuan kami selesai kurang dari sepuluh menit.
Tidak ada pertengkaran.
Aku tidak menyiram minuman.
Dia juga tidak berlutut meminta maaf.
Aku hanya melihat seorang perempuan yang tahu laki-laki itu menikah dan tetap memilih hubungan yang seharusnya tidak dia masuki.
Kesalahannya nyata.
Tapi pernikahanku bukan tanggung jawab Nadia.
Adrian yang membuat janji kepadaku.
Setelah Nadia pergi, aku naik ke unit 31A.
Sudah lebih dari setahun aku tidak datang.
Tidak ada barang Nadia di dalamnya.
Tidak ada pakaian tersembunyi.
Tidak ada foto rahasia.
Apartemen itu masih kosong seperti terakhir kali kami tinggalkan.
Yang berubah hanya satu hal.
Di meja ruang makan ada brosur renovasi.
Di bagian atas tertulis:
Kamar utama untuk N.K.
Aku berdiri lama di sana.
Mereka bahkan sudah membicarakan renovasi.
Aku memotretnya, bukan untuk disebarkan, melainkan untuk kusimpan bersama dokumen lain.
Lalu aku pergi ke kantor pengelola.
Aku mengembalikan dua kartu akses lama dan meminta kartu baru diterbitkan.
Seminggu berikutnya kuhabiskan untuk hal yang jauh lebih membosankan daripada balas dendam.
Dan justru hal-hal membosankan itu yang membuatku kembali merasa memegang hidupku sendiri.
Aku mengecek rekening bersama kami.
Aku memisahkan tabungan pribadiku ke rekening yang hanya bisa kuakses sendiri.
Aku mengganti PIN mobile banking.
Aku menyimpan dokumen apartemen, dokumen pernikahan, dan salinan aset pribadiku dalam satu map.
Aku berkonsultasi dengan notaris yang dulu menangani unit 31A untuk memastikan status dokumennya.
Jawabannya jelas.
Namaku tetap tercatat sebagai pemilik.
Tidak pernah ada pengalihan hak yang selesai.
Dokumen yang dibuat Adrian dan perusahaan tidak cukup untuk mengubah kepemilikan tanpa proses dan persetujuanku.
Aku juga berbicara dengan seorang advokat keluarga.
Bukan untuk membuat Adrian ditangkap.
Bukan karena polisi akan menyelesaikan masalah pernikahan kami.
Aku hanya ingin tahu pilihan yang kumiliki jika memutuskan berpisah lebih lama atau mengajukan perceraian.
Advokat itu tidak menyuruhku melakukan apa pun.
Dia hanya menjelaskan pilihan.
Untuk pertama kalinya, aku menyukai percakapan dengan seorang profesional yang tidak mengatakan apa yang “seharusnya” kulakukan sebagai istri.
Dua minggu setelah Rafi lahir, aku bertemu Adrian lagi.
Kami duduk di ruang makan apartemen Ayah.
Rafi tidur di kamar bersama pengasuh yang kubayar sendiri untuk beberapa jam.
Adrian terlihat lebih kurus.
“Aku sudah bicara sama dewan direksi,” katanya.
“Terus?”
“Nadia dipindahkan dari tim yang langsung melapor ke aku. Dia masih bantu transisi proyek sampai akhir bulan, setelah itu kontraknya selesai.”
Aku mengangguk.
“Itu keputusan perusahaan?”
“Iya.”
“Bagus.”
Adrian tampak kecewa karena aku tidak memuji usahanya.
“Aku juga sudah mengembalikan biaya pesta yang sempat dibebankan ke anggaran relasi.”
Aku mengangkat kepala.
Aku bahkan belum tahu biaya pesta sempat dimasukkan sebagai urusan perusahaan.
“Berapa?”
“Rp86 juta.”
“Dan kalung?”
“Uang pribadi.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
“Laras, aku melakukan semua yang kamu minta.”
“Aku tidak pernah minta kamu mengeluarkan Nadia.”
Dia menatapku.
“Aku minta kamu jujur.”
“Aku sedang jujur.”
“Sekarang.”
Adrian terdiam.
“Selama tujuh bulan sebelumnya tidak.”
Dia meletakkan kedua tangan di meja.
“Aku salah.”
Aku menunggu.
“Aku selingkuh. Aku berbohong. Aku menganggap apartemenmu seperti sesuatu yang bisa aku pakai karena kita menikah. Aku juga membiarkan Ibu membuat rencana supaya kamu tanda tangan tanpa tahu seluruh maksudnya.”
Aku tidak menyangka dia akan mengucapkannya sejelas itu.
Mungkin dua minggu tinggal sendirian memberinya waktu.
Mungkin kehilangan akses ke rumah dan anak membuat semuanya terasa nyata.
Namun pengakuan bukan perbaikan.
“Kamu masih mau mempertahankan pernikahan?” tanyaku.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena aku cinta kamu.”
Aku menatapnya.
“Itu jawaban paling mudah.”
Adrian menunduk.
Beberapa detik kemudian dia berkata, “Karena aku tidak mau Rafi tumbuh tanpa aku.”
“Itu soal menjadi ayah. Aku tanya soal menjadi suami.”
Dia kembali diam.
Lalu dia berkata sesuatu yang lebih masuk akal.
“Karena selama ini aku berpikir selama aku pulang, bayar semua kebutuhan, dan tidak meninggalkan keluarga, aku masih suami yang baik. Bahkan waktu selingkuh, aku masih membohongi diri sendiri begitu.”
Aku tidak menyela.
“Aku pikir masalah terbesar adalah jangan sampai kamu tahu. Sekarang aku sadar masalahnya sudah terjadi bahkan sebelum kamu tahu.”
Aku memainkan ujung gelas.
“Adrian, aku tidak tahu apakah aku bisa percaya lagi.”
“Aku bisa tunggu.”
“Aku juga tidak mau kamu menunggu sambil menganggap nanti semuanya pasti kembali normal.”
Dia menatapku.
“Aku sedang mempertimbangkan perceraian.”
Wajahnya langsung pucat.
Namun dia tidak marah.
“Aku mengerti.”
“Kamu benar-benar mengerti?”
“Tidak sepenuhnya. Tapi aku tahu aku tidak bisa minta kamu putuskan berdasarkan apa yang aku mau.”
Itu pertama kalinya sejak semua ini dimulai aku mendengar dia mengatakan sesuatu tanpa mencoba mengarahkan hasil.
Kami sepakat pisah rumah selama tiga bulan.
Adrian boleh melihat Rafi beberapa kali seminggu.
Pada awalnya aku selalu ada.
Sebulan kemudian, setelah melihat dia mulai belajar mengganti popok, menghangatkan ASI perah, dan datang tepat waktu tanpa membawa ibunya, aku mulai memberinya waktu bersama Rafi tanpa terus berdiri di sampingnya.
Ibu Ratna tidak menyukai batas itu.
Dia beberapa kali meminta datang kapan saja karena Rafi cucunya.
Aku mengatakan kunjungan harus dikabarkan dulu.
Suatu sore dia datang tanpa memberi tahu.
Aku tidak membuka pintu.
Teleponku langsung berdering.
“Laras, Ibu di depan.”
“Saya tahu.”
“Buka.”
“Rafi sedang tidur.”
“Ibu cuma mau lihat sebentar.”
“Besok jam empat boleh.”
“Kamu sekarang mau mengatur kapan nenek boleh lihat cucunya?”
“Iya.”
Ratna terdiam.
Dulu pertanyaan seperti itu cukup membuatku merasa bersalah.
Hari itu tidak.
Aku tidak membenci ibu mertuaku.
Aku juga tidak bermaksud memutus hubungan Rafi dengan neneknya.
Aku hanya tidak ingin pola lama masuk lagi melalui pintu berbeda.
Setelah sekitar lima menit, Ratna pulang.
Besoknya dia datang jam empat.
Tidak ada perang.
Hanya sebuah aturan baru.
Dua bulan setelah kelahiran Rafi, Ayah kembali ke Semarang.
Sebelum berangkat dia menyerahkan map hitam yang pertama kali kulihat di foto.
“Ini salinan semua dokumen unit Aruna.”
“Ayah simpan saja.”
“Sekarang milikmu, kamu yang simpan.”
Aku menerima map itu.
“Ayah tidak takut saya kehilangan?”
“Bikin salinan digital.”
Aku tersenyum.
Di pintu, aku bertanya sesuatu yang selama beberapa minggu menggangguku.
“Kalau waktu itu Ayah tidak datang ke hotel, apa yang terjadi?”
Ayah berpikir.
“Mungkin kamu tetap akan tahu.”
“Bagaimana?”
“Namamu pemilik. Kalau benar-benar mau dialihkan, cepat atau lambat mereka butuh kamu.”
“Tapi mungkin saat itu saya sudah tanda tangan.”
“Makanya sekarang baca.”
Aku mengangguk.
Ayah mengangkat tas.
Kemudian dia menambahkan, “Laras, jangan bertahan karena Ayah ingin kamu bertahan. Jangan juga cerai karena Ayah sedang marah. Pilih yang nanti kamu sendiri bisa jalani.”
Setelah Ayah pergi, aku duduk lama dengan map hitam itu.
Aku berharap seseorang bisa mengatakan jawaban paling benar.
Tidak ada.
Tiga bulan masa pisah hampir selesai ketika Adrian mengajakku bertemu.
Kami memilih sebuah kedai kopi dekat rumah.
Dia datang sendiri.
“Aku tidak mau minta kamu kembali hari ini,” katanya.
Aku cukup terkejut sampai tersenyum kecil.
“Bagus.”
“Aku cuma mau bilang keputusan apa pun yang kamu ambil, aku akan tetap bertanggung jawab sama Rafi.”
“Baik.”
“Dan soal unit Aruna, bagian legal perusahaan sudah mencabut seluruh dokumen yang pernah dibuat. Aku punya surat konfirmasinya kalau kamu mau.”
“Kirimi salinan.”
“Nanti aku kirim.”
Kami duduk beberapa detik.
“Aku mulai konseling,” katanya kemudian.
Aku tidak menjawab.
“Aku bukan bilang itu supaya kamu kasihan.”
“Terus kenapa bilang?”
“Karena dulu aku selalu merasa masalah datang dari orang lain. Ibu terlalu mengatur. Kamu terlalu fokus ke kehamilan. Kantor terlalu berat. Nadia terlalu dekat. Aku pakai semua itu supaya tidak perlu melihat keputusan yang aku buat sendiri.”
Aku mendengarkan.
Perubahannya belum cukup untuk menghapus apa yang terjadi.
Tapi aku bisa melihat setidaknya Adrian mulai berhenti menggunakan orang lain sebagai alasan.
“Aku tetap mau cerai,” kataku.
Dia membeku.
Aku sudah mengambil keputusan itu dua hari sebelumnya setelah lama menimbang.
Bukan saat marah.
Bukan saat melihat video ulang tahun.
Bukan saat pertama tahu soal perselingkuhan.
Justru keputusan itu datang pada malam yang tenang ketika Rafi tertidur di dadaku dan aku membayangkan kembali ke rumah yang sama.
Aku menyadari satu hal sederhana.
Aku mungkin suatu hari bisa memaafkan Adrian sebagai manusia.
Aku bahkan percaya dia mungkin bisa menjadi ayah yang baik.
Tetapi aku tidak lagi ingin membangun rumah tangga sebagai istrinya.
Adrian menatap meja cukup lama.
“Karena Nadia?”
“Karena kamu.”
Dia mengangguk pelan.
Air matanya turun, tetapi dia tidak memegang tanganku.
“Kalau itu keputusanmu…”
“Prosesnya kita urus baik-baik.”
“Aku tidak akan mempersulit.”
“Terima kasih.”
Dia menghapus wajah dengan telapak tangan.
“Aku berharap tiga bulan ini bisa memperbaiki semuanya.”
“Tidak sia-sia.”
Dia menatapku.
“Kenapa?”
“Karena sekarang kamu punya hubungan dengan anakmu yang tidak tergantung pada aku. Dan aku bisa bicara sama kamu tanpa takut semua keputusan harus lewat ibumu.”
Adrian tertawa pahit.
“Itu standar yang rendah.”
“Iya.”
Dia mengangguk.
“Memang.”
Proses perceraian kami tidak selesai dalam satu hari.
Ada dokumen.
Ada pembicaraan tentang pengasuhan Rafi.
Ada aset bersama yang harus didata.
Ada beberapa pertemuan yang melelahkan.
Tidak ada kemenangan dramatis di ruang sidang.
Adrian tidak kehilangan perusahaan.
Ibu Ratna tidak jatuh miskin.
Nadia juga tidak mengalami “karma” yang tiba-tiba.
Hidup tidak bekerja seperti itu.
PT Wibawa Graha tetap berjalan.
Proyek Sentra Cendana tidak runtuh hanya karena Nadia keluar dari tim.
Ternyata perusahaan yang selama ini disebut begitu bergantung kepadanya tetap bisa melakukan transisi ketika para direkturnya benar-benar menjalankan tugas.
Adrian tetap bekerja di sana, tetapi dewan direksi memperketat aturan konflik kepentingan dan penggunaan aset dalam transaksi internal setelah dokumen Aruna diperiksa.
Aku tidak tahu apakah itu membuat Adrian malu.
Aku tidak bertanya.
Enam bulan setelah Rafi lahir, aku pindah ke rumah yang lebih dekat dengan Ayah setiap kali dia datang dari Semarang.
Bukan rumah baru mewah.
Rumah lama yang memang sudah kumiliki sebelum menikah, lalu selama beberapa tahun kusewakan.
Aku memperbaiki kamar belakang menjadi kamar Rafi.
Adrian datang dua kali seminggu dan mengambil Rafi beberapa jam pada akhir pekan sesuai kesepakatan.
Hubungannya dengan Ibu Ratna juga berubah.
Dia masih menyayangi ibunya.
Aku tidak pernah meminta dia memutus hubungan.
Namun aku beberapa kali mendengar Adrian berkata sendiri, “Ma, itu keputusan aku.”
Kalimat yang seharusnya sudah dia katakan bertahun-tahun lalu.
Suatu sore Ibu Ratna datang membawa makanan untuk Rafi.
Sebelum masuk, dia mengirim pesan lebih dulu.
Aku membukakan pintu.
Dia meletakkan tas di meja.
“Laras.”
“Iya, Bu?”
Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu, lalu mengurungkan.
Beberapa menit kemudian dia berkata, “Tentang ayahmu dulu… Ibu memang salah cerita.”
Aku menunggu.
“Ibu malu.”
“Karena keluarga Wibawa pernah ditolong Ayah?”
Ratna mengangguk.
“Waktu kamu menikah dengan Adrian, banyak saudara bilang keluarga kita yang menolong keluarga kamu. Ibu membiarkannya. Lama-lama Ibu ikut mengatakan hal yang sama.”
Aku tidak memberinya jalan mudah.
“Dan Ibu tahu itu tidak benar.”
“Iya.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih sudah mengaku.”
Dia tampak menunggu aku mengatakan semuanya sudah tidak masalah.
Aku tidak mengatakannya.
Sebagai gantinya aku mengambil piring kecil untuk makanan yang dia bawa.
Kadang-kadang perdamaian bukan pelukan.
Kadang-kadang hanya dua orang yang berhenti menambahkan kebohongan baru pada luka lama.
Unit 31A Aruna Residence akhirnya tidak kujual.
Aku juga tidak memberikannya kepada siapa pun.
Sementara itu kusewakan melalui pengelola resmi.
Hasil sewanya masuk ke rekening terpisah yang nantinya akan kupakai untuk pendidikan Rafi.
Bukan karena Adrian pernah bilang unit itu akan menjadi milik anak kami.
Sekarang keputusan itu datang dariku.
Beberapa waktu kemudian pengelola gedung mengirim dua kartu akses baru.
Aku menyimpan satu di dompet.
Satu lagi kumasukkan ke dalam laci dokumen yang kukunci sendiri.
Kunci lama yang pernah diberikan Adrian kepada Nadia sudah tidak bisa membuka apa pun.
Menurutmu, apakah Laras benar memilih perceraian meski Adrian akhirnya mengakui kesalahan dan mulai berubah?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
