Ibu Mertuaku Menamparku di Depan Meja Leluhur dan Memaksaku Cerai, Lalu Sesepuh Keluarga Merebut Bayi Suamiku
Bagian 1
Tamparan ketiga dari Ibu Lina mendarat di pipiku tepat di depan meja leluhur keluarga Gani.
“Sudah tiga tahun masuk keluarga ini, satu cucu laki-laki pun tidak bisa kamu berikan. Masih berani berlutut di depan leluhur?”
Mulutku terasa asin. Aku tidak menyentuh pipiku.
Di ruang sembahyang keluarga di rumah tua keluarga Gani di Surabaya, lebih dari tiga puluh kerabat duduk di kedua sisi ruangan. Beberapa menunduk. Beberapa menatapku terang-terangan.
Tak seorang pun berdiri.
Di depanku, foto-foto leluhur dan papan nama keluarga tersusun rapi di belakang meja panjang. Asap dupa tipis naik ke langit-langit.
Ibu Lina Gani melemparkan setumpuk kertas ke lantai.
“Cerai.”
Ujung kertas itu berhenti tepat di depan lututku.
“Tanda tangani. Setelah itu keluar dari rumah keluarga kami. Aku tidak mau anak sulungku terus hidup dengan perempuan yang tidak bisa memberinya keturunan.”
Tanganku mengambil lembar pertama.
Namaku tertulis lengkap.
Nama suamiku, Dimas Gani, berada di bawahnya.
Rumah yang kami tempati di kawasan Surabaya Barat disebut sebagai aset yang akan tetap dikuasai Dimas. Kepentinganku dalam usaha distribusi makanan yang kami bangun bersama juga seolah tidak pernah ada.
Ada kalimat yang meminta aku menyatakan tidak akan menuntut aset lain setelah perceraian.
Tiga tahun pernikahan diringkas menjadi beberapa halaman.
Anehnya, bukan bagian tentang rumah atau uang yang paling membuat tanganku dingin.
Melainkan tangisan bayi dari belakangku.
Aku menoleh.
Dimas berdiri beberapa meter dariku.
Suamiku berusia tiga puluh tiga tahun, mengenakan kemeja putih yang dulu kubelikan untuk ulang tahunnya. Di lengannya ada bayi laki-laki yang bahkan belum genap satu bulan.
Di sampingnya berdiri Melisa Hartanto.
Sekretaris pribadi Dimas.
Perempuan yang selama dua tahun selalu memanggilku, “Bu Nadira,” dengan sopan setiap kali aku datang ke kantor.
Melisa menyentuh lengan Dimas.
“Mas, bayinya menangis.”
Dimas langsung menunduk dan menggoyangkan tubuh kecil itu perlahan.
Aku pernah melihat Dimas memegang kontrak senilai miliaran rupiah dengan wajah setenang batu.
Aku pernah melihatnya menghadapi kreditur ketika usaha kami hampir tidak sanggup membayar tagihan gudang.
Namun aku belum pernah melihat kelembutan di wajahnya seperti saat menatap bayi itu.
Aku tertawa kecil.
Suara itu bahkan terdengar asing di telingaku sendiri.
“Jadi ini alasan kamu memaksaku bercerai?”
Dimas mengangkat kepala.
Ia tidak menyangkal.
“Melisa sudah melahirkan anak laki-laki.”
“Untukmu?”
“Untuk keluarga ini.”
Jawabannya membuat ruangan terasa lebih sempit.
Aku menunjuk diriku sendiri.
“Lalu aku apa?”
Dimas mengembuskan napas.
“Nadira, sudah tiga tahun.”
“Terus?”
“Kamu mau aku menunggu sampai kapan?”
Ibu Lina memukul permukaan meja dengan telapak tangannya.
“Sudah.”
Ia menatapku.
“Hari ini kita berkumpul bukan untuk mendengar kamu berdebat. Kamu harus minta maaf kepada leluhur karena membuat keluarga menunggu keturunan dari anak sulung selama tiga tahun.”
Aku mengangkat wajah.
“Aku tidak punya kesalahan untuk dimintakan maaf.”
Beberapa orang langsung berbisik.
Wajah Ibu Lina berubah.
“Tidak salah?”
Ia memberi isyarat kepada pengurus rumah keluarga. Seorang pria tua bernama Pak Surya menyerahkan sebuah map kepadanya.
Ibu Lina menarik satu lembar dan melemparkannya ke arahku.
“Baca.”
Kertas itu jatuh terbalik.
Aku membaliknya.
Ada namaku.
Ada kop sebuah rumah sakit swasta.
Ada nomor pemeriksaan.
Dan di bagian bawah, ada kesimpulan yang membuat jari-jariku gemetar.
Peluang kehamilan alami sangat rendah.
Aku membacanya sekali.
Lalu sekali lagi.
“Aku tidak pernah menerima hasil ini.”
Dimas mengerutkan kening.
“Jangan mulai.”
Aku menatapnya.
“Pemeriksaan tahun lalu?”
“Ya.”
“Dokternya bilang kondisiku baik.”
Ibu Lina mendengus.
“Masih mau berbohong?”
Aku mengangkat kertas itu.
“Aku tidak pernah melihat lembar ini sebelumnya.”
“Karena kamu sengaja tidak mau menerimanya,” kata Dimas. “Ibu yang mengurus hasil lanjutan.”
Aku menoleh cepat kepada ibu mertuaku.
Ia tidak mengalihkan pandangan.
Setahun lalu, setelah hampir dua tahun kami belum memiliki anak, Ibu Lina yang terus mendesak kami melakukan pemeriksaan.
Aku menurut.
Dimas selalu punya alasan untuk menunda pemeriksaannya sendiri.
Rapat.
Perjalanan kerja.
Demam.
Jadwal dokter tidak cocok.
Aku yang akhirnya pergi lebih dulu.
Dokter menjelaskan tidak menemukan masalah besar dari pemeriksaanku dan menyarankan pemeriksaan pasangan dilakukan sebelum kesimpulan apa pun dibuat.
Aku masih ingat karena malam itu aku pulang dengan perasaan sedikit lebih tenang.
Ternyata ada kertas lain yang sekarang dipakai untuk menghukumku.
“Turunkan kepala.”
Suara Ibu Lina menarikku kembali ke ruangan.
“Apa?”
“Berlutut sudah. Tinggal bersujud tiga kali dan minta maaf.”
Aku melihat ke sekeliling.
Tante yang biasa memintaku membantu biaya sekolah anaknya menundukkan kepala.
Sepupu Dimas yang pernah kupinjamkan mobil pura-pura sibuk dengan ponselnya.
Selama tiga tahun aku menjadi menantu di keluarga ini, aku selalu datang paling pagi setiap acara keluarga.
Ketika ayah Dimas dirawat dua bulan sebelum meninggal, aku yang bergantian tidur di kursi rumah sakit.
Ketika perusahaan Dimas kekurangan modal, aku menjual apartemen kecil peninggalan ibuku.
Rp940 juta dari penjualan itu masuk ke rekening usaha.
Saat itu Dimas memegang tanganku dan berkata kami sedang membangun masa depan bersama.
Sekarang masa depan itu digendongnya di depan perempuan lain.
Dimas maju satu langkah.
“Sujud tiga kali. Setelah itu tanda tangani.”
“Kalau aku tidak mau?”
Rahangnya mengeras.
“Jangan buat semuanya lebih buruk.”
“Lebih buruk untuk siapa?”
“Nadira.”
Ia menurunkan suaranya.
“Kalau masalah ini masuk proses panjang, kamu belum tentu mendapat apa yang kamu pikir milikmu.”
Itu bukan jawaban.
Itu ancaman.
Melisa akhirnya berbicara.
“Bu Nadira, saya tidak ingin mempermalukan Ibu.”
Aku menatapnya.
Ia melanjutkan dengan suara lembut.
“Saya juga sebenarnya tidak menuntut status apa pun. Tapi anak saya membutuhkan pengakuan dari ayahnya dan keluarganya.”
Saat tangannya menyentuh bahu Dimas, lengan bajunya bergeser.
Sebuah gelang giok muncul di pergelangan tangannya.
Aku berhenti bernapas selama satu detik.
Aku mengenal gelang itu.
Nenek Dimas memberikannya kepadaku pada hari pernikahan kami.
Bukan karena harganya.
Nenek berkata gelang itu selama puluhan tahun diberikan kepada istri anak laki-laki tertua di keluarga mereka.
Aku menatap tangan Melisa.
“Dari mana kamu dapat gelang itu?”
Melisa langsung menarik tangannya.
Ibu Lina menjawab.
“Aku yang memberikannya.”
Aku menoleh kepadanya.
“Itu diberikan Nenek kepadaku.”
“Benda keluarga harus tetap berada di keluarga.”
“Jadi Ibu mengambilnya dari lemari kamarku?”
“Kamu sudah bukan orang yang pantas memakainya.”
Aku baru ingat dua minggu sebelumnya Ibu Lina memang datang ke rumah ketika aku berada di kantor.
Katanya ia ingin mengambil album foto lama milik Dimas.
Aku tidak pernah memeriksa kotak perhiasanku setelah itu.
Aku tertawa kecil lagi.
Kali ini tak ada yang menghentikanku.
Dimas tampak kesal.
“Kamu kenapa?”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya melihat tiga orang di depanku.
Suami yang berselingkuh.
Perempuan yang melahirkan bayi yang ia akui sebagai anaknya.
Dan ibu mertua yang mengambil barang dari kamar tidurku lalu memberikannya kepada perempuan itu.
Akhirnya aku menurunkan tubuhku.
Kedua lututku menyentuh lantai.
Ruangan langsung diam.
Wajah Dimas sedikit melunak, seolah ia mengira aku akhirnya menyerah.
“Begitu lebih baik,” kata Ibu Lina.
Aku menempelkan kedua telapak tangan ke lantai.
Bukan karena aku merasa bersalah.
Aku hanya tidak tahu lagi apakah berdiri atau berlutut akan mengubah apa pun.
Saat dahiku tinggal beberapa sentimeter dari lantai, sebuah suara tua memotong keheningan.
“Tunggu.”
Semua kepala menoleh.
Pak Hendrik Gani berdiri dari kursinya.
Usianya tujuh puluh enam tahun dan ia adalah kerabat tertua yang masih hidup dari generasi ayah mertua.
Sejak aku menikah, aku hanya beberapa kali berbicara dengannya.
Ia berjalan perlahan menggunakan tongkat.
Bukan ke arahku.
Ia mendekati Dimas.
Tatapannya berhenti pada bayi di lengan suamiku.
Lama sekali.
Ibu Lina terlihat tidak nyaman.
“Pak Hendrik, ini urusan rumah tangga Dimas.”
“Berikan bayinya.”
Dimas mundur setengah langkah.
“Untuk apa?”
“Berikan ke saya.”
Nada suara lelaki tua itu berubah.
Dimas akhirnya menyerahkan bayi tersebut.
Pak Hendrik membuka sedikit kain yang membungkus tubuh bayi, melihat wajahnya, telinga kecilnya, lalu gelang identitas kelahiran yang masih disimpan Melisa di dalam tas perlengkapan bayi dan baru saja dikeluarkannya untuk menunjukkan nama.
Wajah Pak Hendrik semakin tegang.
Tangannya yang memegang tongkat mulai bergetar.
“Tidak mungkin.”
Melisa maju.
“Pak, hati-hati.”
Pak Hendrik mendongak kepada Dimas.
“Anak ini tidak mungkin langsung kamu nyatakan sebagai keturunan keluarga Gani.”
Dimas langsung meninggikan suara.
“Maksud Pak Hendrik apa?”
Pak Hendrik tidak menjawab.
Ia mengembalikan bayi kepada Melisa lalu menoleh kepada Pak Surya.
“Kunci pintu depan.”
Ruangan gaduh.
“Tidak ada yang pulang dulu.”
Ia menunjuk lemari kayu tua di bawah susunan dokumen keluarga.
“Buka laci paling bawah. Ambil buku silsilah lama dan kotak merah.”
Ibu Lina langsung berdiri.
“Jangan dibuka.”
Aku menoleh kepadanya.
Untuk pertama kali sejak aku mengenal perempuan itu, wajahnya benar-benar pucat.
Pak Hendrik menatapnya.
“Lina, apa yang kamu takutkan?”
Pak Surya memasukkan kunci kecil ke gembok lemari.
Bunyi logam terdengar jelas dalam ruangan yang mendadak sunyi.
Kotak merah itu dikeluarkan.
Pak Surya membuka tutupnya.
Ia membaca lembar pertama.
Tubuhnya membeku.
“Pak Hendrik…”
Ia melihat Dimas.
Lalu bayi di pelukan Melisa.
Kemudian menatap kembali dokumen itu.
“Kenapa di sini tertulis bahwa…”

Bagian 2
“Baca sampai selesai.”
Suara Pak Hendrik rendah, tetapi tak seorang pun berani menyela.
Pak Surya menyerahkan dokumen itu kepadanya.
Pak Hendrik tidak membacanya keras-keras. Ia justru berjalan ke arah Dimas dan menyodorkannya.
“Ini hasil pemeriksaanmu dua belas tahun lalu.”
Dimas tidak segera mengambilnya.
“Apa hubungannya?”
“Baca.”
Dimas meraih kertas itu.
Aku melihat matanya bergerak dari atas ke bawah.
Wajahnya berubah.
Ibu Lina mendekat.
“Itu pemeriksaan lama. Tidak relevan lagi.”
Pak Hendrik menoleh tajam.
“Kalau tidak relevan, kenapa kamu melarang kotaknya dibuka?”
Tidak ada jawaban.
Pak Hendrik menjelaskan bahwa dua belas tahun sebelumnya, setelah Dimas menjalani perawatan akibat komplikasi infeksi yang dialaminya saat kuliah, mendiang ayahnya meminta pemeriksaan kesuburan.
Pak Hendrik ikut mengantar karena saat itu ayah Dimas sedang sakit.
Hasil yang disimpan dalam kotak menunjukkan tidak ditemukan sel sperma pada pemeriksaan tersebut.
Dokter menyarankan evaluasi lanjutan.
Aku menatap Dimas.
“Kamu pernah tahu?”
Dimas menggeleng cepat.
“Ibu bilang pemeriksaan kedua normal.”
Semua mata pindah kepada Ibu Lina.
Ia mengatupkan bibir.
Pak Hendrik membuka kotak lagi.
“Di sini tidak ada hasil kedua.”
“Karena disimpan di tempat lain,” jawab Ibu Lina.
“Di mana?”
“Sudah lama sekali. Saya tidak ingat.”
Pak Hendrik tertawa hambar.
“Dokumen Nadira dari tahun lalu bisa kamu simpan. Pemeriksaan anakmu sendiri malah hilang?”
Ibu Lina hendak menjawab, tetapi aku lebih dulu bangkit dari lantai.
Aku mengambil kertas pemeriksaanku yang tadi dilemparkan kepadaku.
“Aku mau salinannya.”
Ibu Lina menatapku.
“Untuk apa?”
“Karena ada namaku di sini.”
Aku melipatnya dan memasukkannya ke tas.
Dimas meraih lenganku.
“Jangan buat masalah baru.”
Aku menarik tanganku.
“Masalah baru?”
Aku menunjuk Melisa dan bayi itu.
“Yang baru berdiri di sebelahmu, Dimas.”
Suara bisik-bisik langsung memenuhi ruangan.
Melisa memeluk bayinya lebih erat.
“Pemeriksaan dua belas tahun lalu tidak membuktikan apa-apa.”
“Benar,” kataku.
Aku menatapnya.
“Karena itu yang harus dilakukan bukan bersujud. Yang harus dilakukan pemeriksaan.”
Dimas memandangku seolah aku baru saja menamparnya.
“Kamu menuduh Melisa?”
“Aku tidak menuduh siapa pun.”
Aku menunjuk dokumen lama.
“Aku cuma tidak akan membiarkan kalian memakai hasil pemeriksaanku untuk menghukumku sementara hasil pemeriksaanmu sendiri disembunyikan.”
Ibu Lina tiba-tiba berkata, “Cukup. Bayi itu jelas anak Dimas.”
Pak Hendrik menatapnya.
“Kalau jelas, tes tidak akan mengubah apa pun.”
Melisa langsung menggeleng.
“Anak saya baru lahir. Saya tidak mau dia dijadikan bahan tontonan keluarga.”
Aku hampir menjawab, tetapi berhenti.
Ia benar tentang satu hal.
Bayi itu tidak melakukan kesalahan apa pun.
“Tidak perlu dilakukan di depan siapa pun,” kataku. “Dan anak itu tidak perlu dipermalukan.”
Aku mengambil dokumen perceraian dari lantai.
Dimas menatap tanganku.
“Kamu tanda tangan?”
Aku merobek bukan kertasnya, tetapi lembar kecil tempat pena ditempelkan.
“Tidak hari ini.”
Wajahnya mengeras.
“Nadira.”
“Aku akan membaca semuanya dengan orang yang mengerti.”
Ibu Lina mendesis.
“Kamu mau bawa urusan keluarga ke pengacara?”
“Aku mau tahu apa yang sedang kalian minta aku lepaskan.”
Aku kemudian menatap Dimas.
“Dan besok aku akan meminta salinan lengkap catatan pemeriksaanku sendiri.”
Untuk pertama kalinya sejak acara itu dimulai, tak seorang pun memerintahku berlutut.
Aku pulang ke rumah malam itu sendirian.
Dimas tidak ikut.
Ia memilih mengantar Melisa dan bayi tersebut.
Aku tidak tidur.
Pagi berikutnya aku menghubungi rumah sakit yang namanya tercetak pada dokumen yang diberikan Ibu Lina.
Karena catatan itu atas namaku sendiri, bagian rekam medis menjelaskan prosedur untuk mendapatkan salinan.
Siang hari aku datang dengan identitas lengkap.
Aku menunggu hampir satu jam.
Seorang petugas akhirnya menyerahkan berkas pemeriksaanku.
Aku membacanya di kursi koridor.
Tidak ada kalimat yang menyatakan peluang kehamilan alamiku sangat rendah.
Tidak ada.
Dokter memang menulis bahwa evaluasi pasangan disarankan sebelum kesimpulan kesuburan dibuat.
Aku membuka foto dokumen yang dilempar Ibu Lina kemarin.
Nomor pemeriksaannya sama.
Nama dokternya sama.
Tetapi kesimpulannya berbeda.
Aku meminta petugas memastikan.
Ia membandingkannya dan berkata hati-hati, “Ibu, kalimat pada foto ini tidak sesuai dengan salinan rekam medis kami.”
Tanganku berhenti pada layar.
Saat itulah ponselku bergetar.
Pesan dari Dimas.
Aku membuka foto yang dikirimkannya.
Ia berdiri di sebuah laboratorium.
Di bawah foto itu hanya ada satu kalimat.
Hasil pemeriksaanku keluar. Tidak ditemukan sperma pada sampel pertama. Dokter meminta pemeriksaan kedua.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku membaca pesan Dimas berkali-kali.
Dua belas tahun lalu, hasilnya sama.
Hari ini, hasil pertamanya kembali menunjukkan hal yang sama.
Namun aku tidak merasa menang.
Tidak ada bagian dari situasi itu yang terasa seperti kemenangan.
Ada seorang bayi berusia beberapa minggu yang sedang diperebutkan statusnya oleh orang dewasa.
Ada pernikahan tiga tahun yang ternyata dibangun di atas kebohongan, ketakutan, dan terlalu banyak keputusan yang dibuat tanpa sepengetahuanku.
Dan ada satu lembar hasil pemeriksaanku yang sudah diubah oleh seseorang.
Aku menyimpan foto dokumen itu ke penyimpanan pribadiku.
Kemudian aku memotret seluruh salinan rekam medis yang baru kuambil.
Aku tidak menelepon Dimas.
Yang pertama kulakukan justru pergi ke kantor kecil seorang advokat yang direkomendasikan teman lamaku.
Namanya Ratna Wirawan.
Aku tidak meminta Ratna membuat Dimas miskin.
Aku juga tidak datang membawa rencana balas dendam.
Aku hanya menaruh tiga hal di mejanya.
Draft perceraian.
Bukti transfer Rp940 juta dari hasil penjualan apartemen peninggalan ibuku ke rekening perusahaan.
Dan salinan dokumen medis yang berbeda.
Ratna membacanya satu per satu.
“Pertama,” katanya, “jangan tanda tangani apa pun yang belum kamu pahami.”
Aku mengangguk.
“Kedua, pisahkan persoalannya.”
Ia menunjuk dokumen perceraian.
“Pernikahan satu masalah.”
Kemudian bukti transfer.
“Harta dan kepentingan usaha masalah lain.”
Terakhir, dua hasil medis.
“Kalau ini benar-benar sudah diubah, itu masalah yang berbeda lagi. Jangan campur semuanya dalam satu pertengkaran keluarga.”
Aku duduk diam.
Selama tiga tahun, setiap persoalan di keluarga Gani selalu diselesaikan dengan satu kalimat.
Demi keluarga.
Kalau Ibu Lina meminta kami membayar tagihan kerabat, demi keluarga.
Kalau Dimas membatalkan liburan karena harus mengurus bisnis sepupunya, demi keluarga.
Kalau aku diminta menjual apartemen agar perusahaan selamat, katanya kami sedang menjaga masa depan keluarga.
Anehnya, ketika tiba waktunya menentukan apakah aku masih dianggap bagian keluarga, semua pengorbananku mendadak tidak dihitung.
Ratna meminta dokumen perusahaan yang memang secara sah bisa kuakses.
Aku masih tercatat sebagai salah satu pemegang saham minoritas di PT Gani Sentosa Distribusi.
Aku bukan sekadar “istri pemilik perusahaan” seperti yang berkali-kali dikatakan Ibu Lina kepada kerabat.
Saat perusahaan didirikan ulang tiga tahun sebelumnya untuk menerima investor baru, sebagian saham memang tercatat atas namaku.
Aku juga masih menjabat komisaris.
Aku pulang dari kantor Ratna dengan satu keputusan sederhana.
Aku tidak akan menyerahkan apa pun hanya karena mereka membuatku malu.
Malamnya, Dimas pulang.
Ia masuk tanpa mengetuk karena rumah itu masih rumah kami berdua.
Ia terlihat seperti tidak tidur.
“Aku mau bicara.”
Aku sedang duduk di meja makan dengan laptop terbuka.
“Bicara.”
Ia menarik kursi.
“Ibu tidak pernah bilang hasil pemeriksaanmu diubah.”
Aku menatapnya.
“Kamu tahu sudah diubah?”
“Aku baru lihat yang asli setelah kamu kirim fotonya tadi.”
Aku memang mengirimkannya beberapa jam sebelumnya tanpa komentar.
“Dan?”
Dimas mengusap wajah.
“Aku tanya Ibu.”
“Apa jawabannya?”
“Ibu bilang dokter pernah menjelaskan kemungkinanmu sulit hamil.”
“Dokter mana?”
Dimas diam.
“Nama.”
“Nadira…”
“Kalau memang ada dokter yang bilang begitu, sebut namanya.”
Ia menatap meja.
Aku sudah mendapat jawabanku.
“Pemeriksaan kedua kapan?” tanyaku.
“Lusa.”
“Bagus.”
Ia tiba-tiba mengangkat kepala.
“Kamu tidak mau tanya soal Melisa?”
“Aku mau.”
“Terus?”
“Aku menunggu kamu yang memikirkan pertanyaannya.”
Dimas memandangku lama.
“Aku yakin bayi itu anakku.”
“Itu hakmu.”
“Kamu sengaja bicara seperti ini karena ingin melihat aku panik?”
Aku menutup laptop.
“Dimas, dua hari lalu kamu berdiri di depan tiga puluh orang sambil menggendong bayi dari perempuan lain dan memintaku berlutut karena tubuhku dianggap gagal.”
Ia mengatupkan rahang.
“Aku sekarang tahu hasil pemeriksaanku mungkin berbeda dari yang selama ini kupikir.”
“Bukan itu masalah utamanya.”
“Lalu apa?”
Aku hampir tertawa.
“Kamu masih harus bertanya?”
Ia berdiri dan berjalan beberapa langkah.
“Hubunganku dengan Melisa memang salah.”
“Memang.”
“Tapi semuanya sudah terjadi.”
“Benar.”
“Aku akan bertanggung jawab kalau bayi itu anakku.”
Aku menatapnya.
“Dan kalau bukan?”
Dimas berhenti.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban.
Aku melanjutkan, “Apakah perselingkuhannya ikut hilang kalau tesnya negatif?”
Ia menatapku.
Tidak.
Kami berdua tahu jawabannya.
Aku mengambil kunci kamar kerja dari atas meja.
“Mulai malam ini dokumen pribadiku dan dokumen perusahaan yang menjadi tanggung jawabku akan kusimpan sendiri.”
“Nadira, kamu curiga aku akan mengambilnya?”
“Aku pernah punya gelang di lemari kamar. Ibumu mengambilnya tanpa izin.”
“Itu cuma gelang.”
“Karena bukan milikmu, gampang sekali menyebutnya cuma gelang.”
Aku masuk ke kamar kerja dan mengunci lemari dokumen.
Dimas tidak mencoba menghentikanku.
Dua hari kemudian, hasil pemeriksaan kedua keluar.
Dimas meneleponku dari parkiran laboratorium.
“Masih sama.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Dokter menyarankan konsultasi lebih lanjut.”
“Lakukan.”
“Nadira.”
“Ya?”
“Melisa tidak mau tes.”
Aku memandang jendela kantor.
“Masalah itu antara kamu dan dia.”
“Kamu tidak peduli?”
“Aku peduli pada anak yang sekarang berada di tengah kekacauan kalian. Tapi aku tidak akan mengambil alih masalah yang kalian buat.”
Malam itu Ibu Lina datang ke rumah.
Dimas berada di kantor.
Aku membuka pintu, tetapi tidak mempersilahkannya masuk jauh.
“Aku mau bicara.”
“Silakan.”
Ia melihat ruang tamu.
“Di sini?”
“Ya.”
Wajahnya langsung menegang.
Dulu aku pasti membuatkan teh.
Kali ini aku menunggu.
Ia mengeluarkan gelang giok dari tasnya.
“Aku kembalikan.”
Aku melihatnya.
“Kenapa?”
“Jangan kekanak-kanakan.”
“Ibu datang mengembalikan karena merasa salah atau karena situasinya berubah?”
“Nadira.”
Aku tidak mengambil gelang itu.
Ibu Lina akhirnya meletakkannya di meja dekat pintu.
“Dimas sedang kacau.”
“Dia punya keluarga.”
“Kamu istrinya.”
Dua kata itu hampir membuatku tertawa.
“Tiga hari lalu Ibu bilang aku tidak pantas menjadi menantu.”
“Kita semua sedang emosi.”
“Ibu menampar saya tiga kali.”
Ia terdiam.
“Memaksa saya bersujud.”
“Nadira…”
“Memberikan barang saya kepada perempuan yang melahirkan anak dari suami saya.”
“Aku mengira…”
“Ibu juga memberikan hasil pemeriksaan yang berbeda dari catatan rumah sakit.”
Wajahnya berubah.
Aku berdiri sedikit lebih tegak.
“Siapa yang mengubahnya?”
“Aku tidak tahu apa yang kamu maksud.”
Aku mengambil salinan asli dari map yang sudah kusiapkan.
Ibu Lina tidak menyentuhnya.
“Rumah sakit sudah mengonfirmasi bahwa kalimat di dokumen Ibu tidak ada dalam rekam medis saya.”
Ia memandangku beberapa detik.
Lalu bahunya turun.
“Dokternya memang tidak menulis itu.”
Aku tidak bergerak.
Akhirnya.
Satu kalimat jujur.
“Siapa yang menulis?”
“Aku meminta orang mengetik ulang salinannya.”
Aku merasa jari-jariku dingin.
“Kenapa?”
Ia duduk tanpa diminta.
Untuk pertama kali, suaranya tidak terdengar seperti perintah.
“Karena Dimas tidak mau diperiksa lagi.”
“Jadi Ibu membuat saya yang terlihat bermasalah.”
“Aku ingin dia mau punya anak.”
Aku menatapnya karena jawabannya bahkan tidak masuk akal.
“Ibu tahu hasil lamanya?”
Ia mengangguk pelan.
“Suamiku dulu bilang jangan pernah memberitahu orang lain. Dimas pernah menjalani pengobatan setelah pemeriksaan itu. Ada dokter yang bilang kemungkinan kondisinya bisa berubah.”
“Apakah ada hasil yang membuktikan sudah berubah?”
Tidak ada jawaban.
“Selama ini Ibu tahu kemungkinan masalahnya ada pada Dimas?”
“Aku tidak tahu pasti.”
“Tapi Ibu tetap mengubah hasil saya.”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
Ia menekan bibir.
“Dimas anak laki-laki tertua. Sejak ayahnya meninggal, semua orang selalu bertanya soal penerus keluarga.”
“Apa itu membuat memalsukan kertas atas nama saya menjadi benar?”
“Jangan sebut memalsukan.”
“Lalu sebut apa?”
Ia tidak bisa menjawab.
Aku duduk berhadapan dengannya.
“Ketika Melisa hamil, Ibu langsung percaya?”
“Aku ingin percaya.”
“Karena anaknya laki-laki?”
Matanya berkaca-kaca, tetapi aku tidak merasa perlu menyelamatkannya dari pertanyaan itu.
“Aku pikir mungkin pengobatan Dimas dulu berhasil.”
“Jadi daripada memastikan dulu, Ibu mengambil gelang saya, membawa bayi itu ke depan seluruh keluarga, dan menjadikan saya orang yang harus minta maaf.”
“Aku salah.”
Itu pertama kalinya aku mendengar Ibu Lina mengatakan dua kata tersebut.
Namun dua kata tidak mengembalikan tiga tahun.
Tidak menghapus perselingkuhan.
Tidak mengembalikan martabat yang dipertontonkan di depan kerabat.
Dan tidak membuatku tiba-tiba ingin mempertahankan pernikahan.
Aku berdiri.
“Ibu sudah selesai?”
Ia menatapku.
“Kamu mau meninggalkan Dimas saat dia sedang seperti ini?”
Aku membuka pintu.
“Dia meninggalkan pernikahan kami sebelum hasil laboratorium itu keluar.”
Ibu Lina masih berdiri di tempatnya.
Aku melanjutkan dengan suara tenang.
“Dan jangan masuk rumah ini lagi tanpa menghubungi saya atau Dimas terlebih dahulu.”
“Nadira…”
“Saya serius.”
Ia akhirnya mengambil tasnya.
Gelang giok tetap berada di meja.
Aku tidak mengejarnya.
Tiga hari kemudian Dimas menyetujui tes paternitas.
Bukan karena aku memaksa.
Aku bahkan tidak hadir ketika keputusan itu dibuat.
Menurut Dimas, Melisa awalnya terus menolak.
Ia mengatakan tes tersebut merendahkan dirinya.
Kemudian Dimas menunjukkan dua hasil pemeriksaan terbarunya dan mengatakan ia tidak bersedia mencantumkan namanya dalam pengurusan dokumen anak sebagai ayah biologis tanpa kepastian.
Mereka akhirnya sepakat menggunakan laboratorium yang dipilih bersama.
Aku hanya mengetahui itu karena Dimas memberitahuku.
“Berapa lama hasilnya?” tanyaku.
“Beberapa hari.”
“Baik.”
“Kamu tidak punya pertanyaan lain?”
“Tidak.”
Dimas menatapku dari seberang meja makan.
Sejak kejadian di rumah keluarga, ia tidur di kamar tamu.
Kami masih berada dalam satu rumah karena urusan kepemilikan dan dokumen belum selesai.
Namun hampir tidak ada lagi kehidupan pernikahan di dalamnya.
“Nadira.”
Aku menunggu.
“Kalau bayi itu ternyata bukan anakku…”
Aku tahu ke mana kalimat itu menuju.
Aku menghentikannya.
“Jangan.”
“Aku cuma mau bertanya.”
“Jangan menjadikan hasil tes anak itu sebagai ukuran apakah pernikahan kita bisa diselamatkan.”
Ia memandangku.
“Aku membuat kesalahan.”
“Kamu membuat rangkaian keputusan.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Dimas terdiam.
Aku melanjutkan.
“Kamu mendekati Melisa. Kamu menyembunyikannya. Kamu membawa dia dan bayinya ke acara keluarga. Kamu membiarkan ibumu menamparku. Kamu meminta aku bersujud. Kamu menyerahkan dokumen yang membuatku melepaskan semuanya.”
“Aku tidak tahu dokumen medis itu diubah.”
“Aku percaya kamu tidak tahu bagian itu.”
Ia tampak sedikit lega.
“Tapi kamu tahu kamu berselingkuh.”
Kelegaan itu hilang.
“Kamu tahu kamu meminta aku menanggung malu agar hidupmu lebih mudah.”
Tidak ada lagi yang kami bicarakan malam itu.
Hasil tes paternitas datang lima hari kemudian.
Dimas meneleponku pukul sembilan pagi.
Aku sedang berada di kantor.
Suaranya serak.
“Bukan.”
Aku tidak perlu bertanya apa maksudnya.
“Sudah dikonfirmasi?”
“Ya.”
Aku memejamkan mata beberapa detik.
Bukan karena senang.
Aku justru memikirkan bayi itu.
“Apa Melisa bersama kamu?”
“Tidak.”
“Dia tahu hasilnya?”
“Tahu.”
“Jangan melakukan sesuatu yang membuat keadaan anak itu lebih buruk.”
Dimas terdengar tersinggung.
“Kamu pikir aku akan melakukan apa?”
“Aku tidak tahu. Karena itu aku bilang jangan.”
Satu jam kemudian ia datang ke kantor.
Ia tidak masuk ke ruanganku.
Resepsionis menelepon dan mengatakan Dimas menunggu di lobi.
Aku turun.
Wajahnya pucat.
“Aku mau bicara.”
“Kita bisa bicara di sini.”
“Melisa mengaku.”
Aku menatapnya.
“Katanya sebelum hubungan kami dimulai, dia memang masih berhubungan dengan seseorang yang sebelumnya dekat dengannya.”
Aku tidak menanyakan nama.
Tidak ada gunanya.
“Dia tahu ada kemungkinan?”
Dimas mengangguk.
“Kenapa dia bilang anak itu anakmu?”
“Dia bilang karena waktu itu dia benar-benar percaya aku ayahnya.”
Aku tidak menjawab.
Mungkin benar.
Mungkin tidak.
Itu urusan yang harus mereka selesaikan.
Dimas menatapku.
“Aku kehilangan semuanya.”
Kalimat itu membuatku akhirnya marah.
Bukan marah besar.
Bukan ingin berteriak.
Justru jenis marah yang membuat suaraku menjadi sangat tenang.
“Kamu belum kehilangan semuanya.”
Ia mengernyit.
“Kamu masih punya rumah.”
Aku menghitung dengan jari.
“Pekerjaan.”
“Perusahaan.”
“Ibumu.”
“Kerabatmu.”
“Kesempatan memperbaiki hubunganmu dengan orang-orang yang kamu sakiti.”
Aku menatap matanya.
“Jangan menyebut dirimu kehilangan semuanya hanya karena dua perempuan yang kamu perlakukan seenaknya sekarang tidak mengikuti rencana yang kamu buat.”
Dimas menunduk.
Untuk beberapa detik kami hanya mendengar suara pintu otomatis lobi.
“Aku minta maaf.”
Aku mengangguk.
“Aku dengar.”
“Cuma itu?”
“Apa yang kamu harapkan?”
“Aku tidak tahu.”
“Itu masalahnya, Dimas. Selama ini kamu selalu berharap orang lain membereskan akibat dari keputusanmu.”
Ia duduk di kursi lobi.
Aku tetap berdiri.
“Aku mau memperbaiki semuanya.”
“Mulailah dari yang bisa diperbaiki.”
“Apa?”
“Jangan ganggu Melisa soal siapa ayah biologis anak itu dengan cara yang merugikan bayinya. Selesaikan kewajibanmu yang memang ada terhadap Melisa sebagai pegawai dan sebagai orang yang kamu libatkan dalam hubungan ini dengan benar.”
Ia mengangguk.
“Lalu?”
“Jelaskan kepada keluarga bahwa aku bukan penyebab kita tidak punya anak.”
Wajahnya berubah.
Aku melanjutkan.
“Bukan karena aku membutuhkan mereka meminta maaf.”
Aku teringat tiga puluh pasang mata yang melihatku berlutut.
“Tapi karena kamu membiarkan mereka percaya sesuatu yang sekarang kamu tahu salah.”
“Baik.”
“Dan jangan menekan aku soal perceraian atau aset.”
Dimas menatapku.
“Kamu tetap mau cerai?”
“Ya.”
Jawabanku keluar tanpa gemetar.
Dulu aku membayangkan kalau suatu hari mengatakan kata itu, aku pasti akan menangis.
Ternyata tidak.
Dimas menggosok kedua telapak tangannya.
“Tidak ada kesempatan?”
“Aku tidak bisa menjawab untuk lima tahun lagi.”
Ia mengangkat kepala.
“Tapi aku bisa menjawab untuk sekarang.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak mau menjadi istrimu lagi.”
Ia menunduk.
Aku kembali ke atas.
Seminggu kemudian keluarga Gani berkumpul lagi.
Bukan untuk upacara.
Bukan di ruang leluhur.
Hanya pertemuan keluarga di ruang makan besar rumah lama.
Aku sebenarnya tidak ingin datang.
Pak Hendrik meneleponku sendiri.
“Nadira, kamu tidak wajib hadir,” katanya. “Tapi Dimas akan menjelaskan sendiri apa yang terjadi. Saya pikir kamu berhak mendengar.”
Aku datang ditemani Ratna.
Bukan agar Ratna mengancam siapa pun.
Aku hanya tidak ingin kembali ke rumah itu sendirian.
Kali ini tidak ada kursi khusus untukku di tengah ruangan.
Tidak ada yang menyuruhku berlutut.
Dimas berdiri.
Ia membawa salinan hasil pemeriksaannya sendiri.
“Hasil pemeriksaan Nadira yang ditunjukkan pada pertemuan sebelumnya tidak sesuai dengan rekam medis rumah sakit.”
Beberapa kerabat langsung saling memandang.
Ibu Lina duduk diam.
Dimas melanjutkan.
“Aku juga sudah menjalani dua pemeriksaan. Hasilnya menunjukkan masalah kesuburan ada padaku.”
Ia berhenti.
Aku melihat betapa sulitnya baginya mengatakan kalimat berikutnya.
“Tes paternitas menunjukkan bayi Melisa bukan anak biologisku.”
Ruangan mulai berisik.
Pak Hendrik mengetukkan tongkat ke lantai.
Semua diam.
Dimas tidak menyalahkan Melisa.
Ia hanya mengatakan hubungan tersebut adalah kesalahannya dan persoalan mengenai asal-usul bayi tidak mengubah fakta bahwa ia sudah berselingkuh.
Kemudian ia menatapku.
“Aku juga salah karena meminta Nadira meminta maaf atas sesuatu yang tidak pernah menjadi kesalahannya.”
Aku tidak merasa lega.
Tetapi setidaknya, kali ini kebenaran disebut dengan nama yang benar.
Ibu Lina berdiri.
Semua orang menoleh.
Ia tidak mendekat kepadaku.
Mungkin akhirnya ia memahami aku tidak membutuhkan pertunjukan penyesalan.
“Nadira,” katanya, “saya sudah mempermalukan kamu.”
Aku diam.
“Saya meminta maaf.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih sudah mengatakannya.”
Itu saja.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada tangisan bersama.
Tidak ada keluarga yang tiba-tiba kembali harmonis.
Dan menurutku, memang tidak seharusnya demikian.
Sebelum meninggalkan rumah lama, Pak Hendrik menghampiriku.
“Kotak merah itu seharusnya dibuka bertahun-tahun lalu.”
Aku menggeleng.
“Yang seharusnya terjadi adalah orang bicara jujur, Pak.”
Ia tersenyum tipis.
“Kamu benar.”
Proses perceraian berjalan beberapa bulan.
Tidak cepat.
Tidak juga indah.
Rumah yang kami tempati termasuk persoalan yang harus dibicarakan secara terpisah bersama kuasa hukum.
Aku tidak mendapat semua yang kuinginkan.
Dimas juga tidak.
Namun draft pertama yang hendak memaksaku pergi tanpa apa pun tidak pernah ditandatangani.
Soal perusahaan bahkan lebih jelas.
Saham yang memang terdaftar atas namaku tetap menjadi milikku sampai ada transaksi yang sah.
Aku memilih tidak menjualnya kepada Dimas saat itu.
Sebaliknya kami menyusun aturan kerja yang jauh lebih formal.
Aku tidak lagi datang ke kantor sebagai “istri Dimas”.
Aku datang sebagai pemegang saham dan komisaris.
Dimas tidak lagi bisa menjanjikan keputusan tentang bagianku tanpa persetujuanku.
Hubungan kami berubah menjadi sesuatu yang kaku tetapi setidaknya jelas.
Ibu Lina tidak pernah lagi datang ke rumah tanpa memberi tahu.
Beberapa minggu setelah pertemuan keluarga, ia mengirim pesan.
Bukan permintaan agar aku kembali.
Hanya satu kalimat.
Gelang itu tetap milikmu. Saya tidak akan mengambil barangmu lagi.
Aku tidak menjawab malam itu.
Keesokan paginya aku memasukkan gelang tersebut ke dalam kotak kecil.
Aku tidak memakainya.
Aku juga tidak membuangnya.
Benda itu bukan lagi simbol bahwa aku diterima keluarga Gani.
Bagiku, itu hanya barang yang pernah diberikan seseorang kepadaku dan kemudian diambil tanpa izin.
Melisa mengundurkan diri dari perusahaan sekitar sebulan kemudian.
Aku tidak ikut campur prosesnya.
Dimas mengatakan ia membayar seluruh hak kerjanya sesuai ketentuan perusahaan.
Mengenai ayah biologis bayinya, aku tidak pernah menanyakan lagi.
Anak itu tidak punya utang apa pun kepada keluarga kami.
Enam bulan setelah hari ketika aku dipaksa berlutut, keputusan kami untuk berpisah sudah tidak lagi diperdebatkan.
Ada beberapa proses administratif yang masih berjalan.
Namun aku sudah pindah ke apartemen sewaan yang lebih kecil dekat kantor.
Dimas tetap tinggal di rumah lama kami sementara persoalan aset diselesaikan.
Hubungan kami tidak berubah menjadi persahabatan.
Kadang ia mengirim pesan tentang perusahaan.
Kadang tentang dokumen.
Sekali, ia menulis cukup panjang.
Ia mengatakan sedang menjalani konseling sendiri dan akhirnya memahami bahwa selama bertahun-tahun ia selalu menghindari hal yang membuatnya malu.
Masalah kesuburan.
Tekanan ibunya.
Kegagalan usaha.
Ketakutannya dianggap bukan penerus keluarga yang cukup baik.
Aku membaca semuanya.
Kemudian menjawab:
Semoga kamu benar-benar menyelesaikannya untuk dirimu sendiri.
Aku tidak menambahkan apa pun.
Dua bulan kemudian, pada rapat perusahaan pertama tahun itu, aku tiba lebih pagi.
Aku membuka lemari dokumen di ruang kerjaku.
Di dalamnya ada bukti transfer dari penjualan apartemen ibuku, akta perusahaan, salinan saham, dan seluruh dokumen yang dulu hampir kulepaskan karena seseorang menaruh pena di depan tanganku dan menyuruhku segera menandatangani.
Aku mengambil satu map yang dibutuhkan.
Kemudian mengunci lemari.
Di gantungan kunciku masih ada sebuah kunci lama.
Kunci rumah keluarga Gani.
Sudah berbulan-bulan aku tidak menggunakannya.
Setelah rapat, aku memasukkannya ke amplop dan mengirimkannya melalui Ratna kepada Dimas bersama dokumen serah-terima yang diperlukan.
Malamnya aku pulang ke apartemenku.
Aku menaruh tas di meja.
Memeriksa kunci pintu.
Lalu memutarnya dari dalam.
Kali ini, tidak ada orang lain yang memegang kunci cadangannya.
Menurutmu, setelah semua yang terjadi, apakah Nadira seharusnya tetap memberi Dimas kesempatan mempertahankan pernikahan mereka?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
