SUAMIKU MENDORONG PERUTKU YANG HAMIL 8 BULAN KE MEJA KASIR HANYA KARENA SELIMUT BAYI RP219 RIBU—TAPI MANAGER TOKO TAHU RAHASIA YANG JAUH LEBIH BESAR

Avatar penulis
Cerita 04
23 menit baca 880 tayangan
SUAMIKU MENDORONG PERUTKU YANG HAMIL 8 BULAN KE MEJA KASIR HANYA KARENA SELIMUT BAYI RP219 RIBU—TAPI MANAGER TOKO TAHU RAHASIA YANG JAUH LEBIH BESAR
Indeks

SUAMIKU MENDORONG PERUTKU YANG HAMIL 8 BULAN KE MEJA KASIR HANYA KARENA SELIMUT BAYI RP219 RIBU—TAPI MANAGER TOKO TAHU RAHASIA YANG JAUH LEBIH BESAR

Suamiku mendorong tubuhku hingga perutku yang sedang hamil delapan bulan membentur meja kasir hanya karena aku ingin membeli selimut bayi seharga Rp219 ribu.

Saat aku jatuh sambil memegangi perut, dia membentak,

“Dasar perempuan serakah! Kita tidak akan membuang uangku untuk barang bayi yang tidak penting!”

Namun senyum angkuhnya langsung lenyap ketika manager supermarket berjalan mendekat dan berdiri di antara kami.

Beberapa menit kemudian, terungkap sesuatu tentang suamiku yang jauh lebih buruk daripada yang pernah kubayangkan.

SUAMIKU MENDORONG PERUTKU YANG HAMIL 8 BULAN KE MEJA KASIR HANYA KARENA SELIMUT BAYI RP219 RIBU—TAPI MANAGER TOKO TAHU RAHASIA YANG JAUH LEBIH BESAR

Tepi meja kasir yang dingin menghantam bagian bawah tulang rusukku.

Selama satu detik, aku bahkan tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.

Lalu rasa nyeri menjalar dari sisi perut hingga ke pinggang.

Aku spontan memeluk perutku yang sudah sangat besar.

Delapan bulan.

Hanya tinggal beberapa minggu lagi sebelum putri pertama kami lahir.

Selimut bayi kecil berwarna krem itu masih tergeletak di samping mesin pemindai kasir.

Harganya hanya Rp219 ribu.

Itulah satu-satunya alasan yang dibutuhkan Arga untuk berhenti berpura-pura menjadi suami baik di depan orang lain.

“Dasar bodoh dan egois,” desisnya.

Suaranya sengaja direndahkan.

Tenang.

Terkendali.

Seolah-olah kalau dia tidak berteriak, apa yang baru saja dilakukannya kepadaku tidak akan terlihat buruk.

“Kamu selalu menghamburkan uangku.”

Aku perlahan merosot ke lantai supermarket.

Gaun hamilku tersangkut pada sudut rak kecil di dekat kasir. Satu tanganku menopang tubuh, sementara tangan satunya terus berada di bawah perut.

Lampu putih terang di supermarket Pondok Indah itu membuat semuanya terlihat terlalu jelas.

Meja kasir.

Mesin EDC.

Selimut bayi krem.

Kemeja polo mahal Arga yang masih terlihat rapi.

Dan wajah para pengunjung yang baru saja melihat suamiku mendorong istrinya yang sedang hamil besar.

Arga adalah tipe laki-laki yang mudah dipercaya orang.

Usianya tiga puluh delapan tahun.

Jabatannya direktur regional sebuah perusahaan distribusi besar di Jakarta.

Dia selalu berpakaian rapi, mengendarai mobil mahal, berbicara sopan kepada orang yang dianggap penting, dan tahu kapan harus tersenyum.

Di acara keluarga, dia selalu menjadi orang pertama yang membantu orang tua berdiri dari kursi.

Di kantor, orang mengenalnya sebagai atasan yang tegas tetapi ramah.

Bahkan Mama pernah berkata kepadaku,

“Laras, kamu beruntung sekali dapat suami seperti Arga.”

Mereka tidak tahu bahwa Arga mempunyai dua wajah.

Dia tahu kapan harus menurunkan suara sehingga penghinaan terdengar seperti nasihat.

Dia tahu bagaimana membuatku merasa bersalah setiap kali membeli sesuatu.

Dan dia sangat pandai memastikan tidak ada orang lain yang melihat sisi dirinya yang sebenarnya.

Sampai sore itu.

Sekarang dia berdiri di depanku sambil merapikan ujung kemejanya.

Seolah-olah akulah yang mempermalukannya.

“Berdiri,” katanya tajam.

Aku menatapnya.

“Aku sakit…”

“Jangan bikin drama.”

Beberapa orang berdiri tidak jauh dari kami.

Seorang ibu di antrean sebelah menutup mulut dengan tangannya.

Kasir perempuan yang mungkin baru berusia dua puluhan terlihat pucat.

Seorang pria di belakang antrean sempat mengangkat ponselnya, tetapi menurunkannya lagi ketika Arga menoleh.

Aku mengenal tatapan itu.

Arga juga melihatnya.

Dan anehnya, dia sama sekali tidak terlihat menyesal.

Yang membuatnya marah justru kenyataan bahwa aku jatuh di tempat yang bisa dilihat banyak orang.

Rasa kencang tiba-tiba menjalar di perutku.

Aku menarik napas pendek.

Tanganku gemetar saat mengusap bagian depan gaun hamilku.

Aku hanya memikirkan satu hal.

Bayiku.

“Ayo, Sayang…”

Bisikku hampir tanpa suara.

“Gerak sedikit untuk Mama.”

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Lalu aku merasakan gerakan kecil dari dalam.

Air mataku hampir jatuh karena lega.

Arga membungkuk.

Tangannya terulur seolah hendak menarik lenganku.

Aku langsung menjauh.

“Jangan sentuh aku.”

Wajahnya berubah.

“Jangan mempermalukan aku di depan umum, Laras.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Mempermalukan dia?

Aku yang terduduk di lantai.

Aku yang sedang hamil delapan bulan.

Aku yang baru saja didorongnya.

Tapi di kepalanya, tetap saja dia korbannya.

Arga mengulurkan tangannya lagi.

Kali ini gerakannya jauh lebih kasar.

Aku refleks menutup mata.

Namun tangannya tidak pernah sampai kepadaku.

Sebuah bayangan besar muncul di lantai.

Kemudian terdengar suara langkah sepatu berhenti tepat di antara tubuhku dan Arga.

“Pak.”

Suara itu berat dan tenang.

“Jangan sentuh Ibu itu lagi.”

Aku membuka mata.

Seorang pria bertubuh besar berdiri di antara kami.

Aku mengenalnya sebagai Bima, manager supermarket itu.

Usianya mungkin awal empat puluhan. Tubuhnya tinggi dan kokoh. Seragam manager yang dipakainya tampak sedikit sempit di bagian bahu.

Namun bukan ukuran tubuhnya yang membuat Arga berhenti.

Melainkan ekspresinya.

Bima menatap Arga tanpa rasa takut sedikit pun.

Arga mundur setengah langkah.

Lalu, seperti biasa, dia segera memakai wajah publiknya.

Senyum tipis.

Nada profesional.

Bahasa yang sopan.

“Pak, ini urusan keluarga saya.”

Bima tidak bergerak.

Arga melanjutkan,

“Istri saya sedang emosional karena kehamilan. Dia tadi kehilangan keseimbangan.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Baru beberapa detik sebelumnya puluhan orang melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Tetapi Arga mampu berbohong tanpa berkedip.

“Dia terpeleset,” katanya.

Bima menatapku sebentar, lalu kembali menatap Arga.

“Saya melihat sendiri apa yang terjadi.”

Kalimat itu membuat wajah Arga membeku.

“Maaf?”

“Saya melihat Bapak mendorong beliau.”

Arga tertawa pendek.

Tawa yang selalu digunakannya ketika ingin membuat orang lain merasa bodoh.

“Mungkin Bapak salah melihat.”

“Saya tidak salah.”

Sekarang beberapa pengunjung mulai mendekat.

Kasir yang tadi ketakutan juga mengangguk kecil.

“Saya juga lihat, Pak.”

Seorang perempuan dari antrean sebelah berkata,

“Saya lihat juga.”

Arga menoleh cepat.

Situasi mulai lepas dari kendalinya.

Dan Arga paling membenci kehilangan kendali.

Dia menunjuk Bima.

“Anda tahu saya siapa?”

Bima tidak menjawab.

“Saya direktur regional di Pratama Distribusi Nusantara. Perusahaan kami memasok barang ke beberapa cabang jaringan supermarket ini.”

Itu memang gaya Arga.

Kalau senyum tidak berhasil, dia menggunakan jabatan.

Kalau jabatan tidak berhasil, dia menggunakan uang.

Kalau uang tidak berhasil…

Aku tahu apa yang biasanya datang setelahnya.

Ancaman.

Arga mendekat setengah langkah.

“Saya bisa membuat Anda kehilangan pekerjaan hanya dengan satu telepon.”

Bima tetap tenang.

“Silakan.”

Arga seperti tidak percaya.

“Apa?”

“Tapi sebelum menelepon kantor pusat, sebaiknya Bapak menunggu polisi datang.”

Wajah Arga langsung berubah.

“Polisi?”

Bima menoleh ke kasir.

“Rani, hubungi 112. Sampaikan ada perempuan hamil yang membutuhkan bantuan medis dan ada dugaan kekerasan dengan beberapa saksi.”

Kasir itu segera meraih telepon.

Untuk pertama kalinya sore itu, aku melihat sesuatu muncul di mata suamiku.

Bukan rasa bersalah.

Bukan kekhawatiran terhadapku.

Ketakutan.

“Tidak perlu polisi,” katanya cepat.

Bima menatapnya.

“Kenapa?”

“Aku akan membawa istriku ke rumah sakit.”

“Bapak tidak akan membawanya ke mana pun sebelum petugas datang.”

“Jangan ikut campur!”

Suara Arga akhirnya meninggi.

Topengnya mulai retak.

Beberapa orang sekarang mengangkat ponsel.

Dia tidak mungkin mengintimidasi semua orang sekaligus.

Aku melihat Arga menghitung situasi di kepalanya.

Saksi.

CCTV.

Polisi.

Rumah sakit.

Semua hal yang selama ini selalu dia pastikan tidak pernah muncul bersamaan.

Aku mulai memahami sesuatu.

Ketakutannya terlalu besar untuk sekadar persoalan karena mendorongku.

Ada hal lain.

Sesuatu yang tidak kuketahui.

Kemudian seorang pria tua dari antrean lain tiba-tiba berkata,

“Pak Bima…”

Semua orang menoleh.

Pria itu menunjuk Arga.

“Saya kenal orang ini.”

Wajah Arga kehilangan warna.

Bima menatap pria tersebut.

“Kenal dari mana, Pak?”

Pria tua itu mengeluarkan kacamata dari saku kemejanya, memakainya, lalu menatap Arga lebih lama.

“Aku pernah melihat fotonya.”

Arga memotong cepat.

“Anda salah orang.”

Tetapi pria itu menggeleng.

“Tidak.”

Dia merogoh ponselnya.

Tangannya bergerak cepat membuka sesuatu.

Lalu dia mengangkat layar.

“Wajahnya sama.”

Aku tidak bisa melihat apa yang ada di layar.

Namun aku bisa melihat ekspresi suamiku.

Arga yang selama sembilan tahun pernikahan kami selalu punya jawaban untuk semuanya…

tiba-tiba diam.

“Foto apa?” tanyaku.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Bima mengambil satu langkah mendekati pria tua itu.

Kemudian matanya turun ke layar ponsel.

Aku melihat ekspresinya berubah.

Dia menatap Arga.

Lalu kembali melihat layar.

“Pak Arga,” katanya perlahan.

“Sepertinya polisi memang perlu datang.”

“Apa yang kalian lihat?” tanyaku lagi.

Arga tiba-tiba bergerak hendak mengambil ponsel pria itu.

Bima langsung menghadang.

“Jangan.”

“Berikan ponsel itu!”

“Pak Arga!”

Untuk pertama kalinya, suara Bima terdengar keras.

Semua orang terdiam.

Lalu pria tua itu mengatakan sesuatu yang membuat tubuhku terasa lebih dingin daripada lantai tempat aku duduk.

“Ibu…”

Dia menatapku dengan wajah iba.

“Suami Ibu bukan cuma punya masalah karena kejadian hari ini.”

Aku menahan napas.

“Maksud Bapak apa?”

Dia memutar layar ponselnya agar aku bisa melihatnya.

Di sana ada foto Arga.

Foto suamiku.

Tetapi foto itu bukan dari perusahaan.

Bukan dari media sosial.

Di bawah fotonya terdapat sebuah pengumuman lama yang dibagikan dalam grup komunitas bisnis Jakarta.

Dan tepat ketika aku mencoba membaca tulisan kecil di bawah nama suamiku…

terdengar sirene mendekat dari luar supermarket.

Arga menatap pintu masuk.

Kemudian menatapku.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun aku melihat dirinya yang sebenarnya.

Bukan suami sempurna.

Bukan direktur sukses.

Bukan pria terhormat yang dikenal keluarga kami.

Melainkan seseorang yang sangat takut rahasianya akhirnya terbuka.

Dan ketika polisi masuk beberapa menit kemudian, aku belum tahu bahwa selimut bayi seharga Rp219 ribu itu akan menjadi benda kecil yang membongkar kebohongan yang telah Arga sembunyikan dariku selama bertahun-tahun.

Rahasia tentang pekerjaannya.

Tentang uang kami.

Tentang perempuan yang beberapa kali meneleponnya tengah malam.

Dan yang paling mengejutkan…

rahasia tentang bayi yang sedang kukandung.

Sirene terdengar semakin dekat.

Suara itu memantul di antara rak-rak supermarket, bercampur dengan bunyi roda troli, suara pendingin ruangan, dan bisikan orang-orang yang kini tidak lagi berpura-pura tidak melihat.

Aku masih duduk di lantai.

Tanganku tetap menempel di perut.

Bayiku bergerak sekali lagi.

Kecil.

Namun cukup untuk membuatku bertahan.

Arga berdiri sekitar tiga meter dariku, tetapi rasanya seperti aku sedang melihat orang asing.

Wajahnya pucat.

Bibirnya kering.

Matanya terus berpindah dari pintu masuk, ke ponsel pria tua itu, lalu kepadaku.

“Laras,” katanya akhirnya.

Nada suaranya berubah.

Lembut.

Hampir memohon.

“Ayo kita selesaikan ini di rumah.”

Aku menatapnya.

Mungkin beberapa tahun lalu, kalimat itu akan berhasil.

Mungkin aku akan merasa bersalah.

Mungkin aku akan berpikir bahwa sebagai istri, aku seharusnya menjaga nama baik keluarga.

Tapi ada sesuatu yang mati dalam diriku sore itu.

Bukan cintaku.

Cinta rupanya bisa mati jauh lebih lambat daripada harga diri.

Yang mati adalah ketakutanku kepadanya.

“Aku tidak mau pulang bersamamu.”

Arga mengepalkan rahang.

“Jangan bodoh.”

Bima langsung melangkah lebih dekat.

“Pak.”

Satu kata.

Cukup untuk membuat Arga berhenti.

Dua petugas polisi masuk beberapa saat kemudian bersama tim medis.

Seorang paramedis perempuan segera berjongkok di sampingku.

“Bu, nama Ibu siapa?”

“Laras.”

“Usia kehamilan?”

“Delapan bulan.”

“Ada pendarahan?”

Aku menggeleng.

“Belum.”

“Bayinya masih terasa bergerak?”

“Iya.”

Dia memeriksa tekanan darahku, lalu meminta aku tidak berdiri sendiri.

Sementara itu, petugas lain berbicara dengan Bima, kasir, dan beberapa saksi.

Arga mencoba menyela berkali-kali.

“Saya suaminya.”

“Kami tahu, Pak.”

“Saya yang akan mendampingi istri saya.”

Petugas itu menatapnya datar.

“Untuk sementara, Bapak jangan mendekati korban.”

Korban.

Kata itu membuat tengkukku dingin.

Selama bertahun-tahun Arga memaksaku percaya bahwa semua yang terjadi di rumah kami hanyalah masalah pernikahan biasa.

Suara tinggi.

Kontrol uang.

Ancaman.

Membanting pintu.

Mengambil kartu ATM-ku.

Memeriksa ponselku.

Memaksaku berhenti bekerja setelah hamil.

Semua itu katanya normal.

Katanya aku terlalu sensitif.

Katanya semua suami pasti marah kalau istrinya boros.

Tapi sore itu, untuk pertama kalinya, seseorang memberi nama pada apa yang sebenarnya terjadi.

Aku adalah korban.

Dan Arga adalah orang yang membuatku takut di rumah sendiri.

Pria tua tadi mendekati salah satu polisi.

“Pak, saya rasa ini mungkin penting.”

Dia menyerahkan ponselnya.

Arga langsung bereaksi.

“Itu fitnah.”

Polisi mengangkat tangan.

“Bapak tenang dulu.”

“Itu berita lama yang tidak pernah terbukti!”

Aku menatap Arga.

Berita lama?

Jadi dia memang tahu.

“Arga.”

Dia tidak menoleh kepadaku.

“Arga, berita apa?”

Dia tetap diam.

Petugas melihat layar beberapa detik.

Kemudian bertanya kepada pria tua tadi,

“Bapak dapat ini dari mana?”

“Grup asosiasi distributor, sekitar dua tahun lalu. Ada masalah dana vendor fiktif di sebuah perusahaan logistik.”

Aku merasa darah di wajahku menghilang.

Vendor fiktif.

Dua tahun lalu.

Pada masa yang sama ketika Arga tiba-tiba mengatakan bahwa kami harus menjual apartemen kecil milikku di Tebet karena perusahaannya sedang “restrukturisasi”.

Aku menatap suamiku.

“Dana apa?”

Arga akhirnya memandangku.

“Itu bukan urusanmu.”

Kalimat itu keluar begitu alami.

Begitu terbiasa.

Seolah-olah meskipun dikelilingi polisi, paramedis, saksi, dan kamera CCTV, dia masih merasa berhak menentukan apa yang boleh kuketahui.

Aku hampir tertawa.

“Bukan urusanku?”

Aku menatap perutku.

“Semua uang tabunganku habis karena kamu.”

“Laras, jangan mulai.”

“Apartemenku dijual karena kamu.”

“Aku bilang jangan mulai.”

“Kamu bilang perusahaanmu hampir bangkrut.”

Arga berteriak,

“Diam!”

Seluruh area kasir membeku.

Dan anehnya, justru setelah dia berteriak itulah aku menjadi benar-benar tenang.

Karena semua orang akhirnya melihatnya.

Bukan versiku.

Bukan ceritaku.

Bukan tuduhanku.

Mereka melihatnya sendiri.

Paramedis menyentuh bahuku.

“Bu Laras, kita harus ke rumah sakit sekarang.”

Aku mengangguk.

Ketika mereka mulai membawaku dengan kursi roda, aku menoleh kepada Bima.

“Pak…”

Dia mendekat.

“Terima kasih.”

Bima hanya berkata,

“Yang penting Ibu dan bayinya aman.”

Kemudian matanya jatuh pada selimut bayi krem yang masih tertinggal di meja kasir.

Dia mengambilnya.

Saat aku dibawa melewati pintu, Bima meletakkan selimut itu di pangkuanku.

“Bawa ini.”

Aku menatap label harganya.

Rp219.000.

Tiba-tiba aku menangis.

Bukan karena selimut itu mahal.

Bukan karena murah.

Tapi karena untuk pertama kalinya hari itu, seseorang memperlakukanku seperti aku layak memiliki sesuatu tanpa harus meminta izin.


Di rumah sakit, dokter mengatakan bayiku baik-baik saja.

Aku mengalami memar pada bagian samping tubuh dan kontraksi akibat stres, tetapi tidak ada tanda-tanda persalinan prematur.

Aku menangis saat mendengar detak jantung bayiku melalui monitor.

Dug.

Dug.

Dug.

Suara paling indah yang pernah kudengar.

Mama datang sekitar satu jam kemudian.

Begitu masuk kamar, dia langsung memelukku.

Namun setelah memastikan aku selamat, pertanyaan pertamanya membuat dadaku kembali sesak.

“Arga bagaimana?”

Aku diam.

Mama menatapku bingung.

“Maksud Mama… apakah dia ditahan?”

“Aku tidak tahu.”

“Laras, bagaimanapun dia suamimu.”

Aku melepaskan tangannya dari bahuku.

“Mama lihat memarku?”

Mama langsung terdiam.

“Dia mendorongku, Ma.”

“Mama tahu.”

“Aku hamil delapan bulan.”

“Mama tahu.”

“Lalu kenapa Mama masih bertanya tentang dia?”

Mama duduk perlahan.

Aku melihat sesuatu di wajahnya.

Rasa bersalah.

Dan ketakutan.

“Karena…”

Dia menelan ludah.

“Arga menelepon Mama beberapa minggu lalu.”

Aku menatapnya.

“Untuk apa?”

Mama membuka tas tangannya.

Tangannya gemetar saat mengeluarkan amplop cokelat kecil.

“Dia bilang kalau kamu mulai menuduhnya macam-macam, Mama jangan percaya.”

Dadaku mengencang.

“Maksudnya?”

“Dia bilang kamu stres karena kehamilan. Katanya kamu sering lupa. Katanya kadang-kadang kamu mengatakan sesuatu yang tidak terjadi.”

Aku menutup mata.

Tentu saja.

Arga sudah mempersiapkan semuanya.

Dia tidak hanya mengendalikan hidupku.

Dia sedang membangun cerita di mana aku terlihat tidak waras.

Mama menyerahkan amplop itu.

Di dalamnya ada beberapa fotokopi surat.

Aku membaca bagian atas.

Surat konsultasi psikologis.

Namaku tertulis di sana.

Tetapi aku tidak pernah bertemu psikolog tersebut.

“Apa ini?”

Mama menggeleng.

“Mama tidak tahu.”

Aku membaca lebih teliti.

Dokumen itu menyebut aku memiliki gangguan emosi berat dan berisiko membuat keputusan impulsif.

Tanda tangannya bukan milikku.

“Ini palsu.”

Mama mulai menangis.

“Arga bilang dokternya kenal dia.”

Aku menatap tanggalnya.

Tiga bulan lalu.

Lalu sebuah pikiran muncul.

“Kenapa dia butuh surat seperti ini?”

Kami saling memandang.

Dan jawabannya datang bukan dari kami.

Melainkan dari seorang perempuan yang berdiri di pintu.

Namanya Maya Santoso.

Pengacara.

Sahabat lama kuliahku yang sudah hampir setahun jarang kutemui karena Arga selalu menemukan alasan kenapa aku “tidak perlu terlalu dekat dengan teman yang terlalu ikut campur.”

Mama rupanya menelepon Maya dari perjalanan menuju rumah sakit.

Begitu membaca dokumen itu, wajah Maya berubah.

“Laras.”

“Apa?”

“Ini bukan cuma untuk membuat keluargamu tidak percaya.”

Dia menarik kursi.

“Dokumen semacam ini bisa dipakai dalam permohonan tertentu untuk menunjukkan bahwa seseorang dianggap tidak cakap mengelola keputusan finansial.”

Aku merasa dingin.

“Keputusan finansial apa?”

Maya menatapku tajam.

“Berapa banyak aset atas namamu?”

Aku hampir menjawab tidak ada.

Karena selama ini aku selalu merasa Arga lebih kaya dariku.

Kemudian aku teringat satu hal.

Warisan dari Papa.

Papa meninggal enam tahun lalu.

Dia meninggalkan sebidang tanah di Depok, apartemen kecil di Tebet yang sudah dijual, dan saham keluarga dalam perusahaan percetakan lama milik kakekku.

Saham itu tidak pernah kuurus.

Menurut Arga, nilainya hampir tidak ada.

“Perusahaan Papa.”

Maya bertanya cepat,

“Namanya?”

“Sentosa Grafika.”

Maya langsung mengeluarkan ponselnya.

Aku melihat dia mencari sesuatu.

Kemudian wajahnya perlahan berubah.

“Laras.”

“Apa?”

“Kamu bilang saham ini tidak bernilai?”

“Arga bilang perusahaannya hampir mati.”

Maya menatap layar.

“Perusahaan ini baru saja menjual lahan industrinya di Bekasi enam bulan lalu.”

Aku tidak bernapas.

“Berapa?”

Dia menunjukkan angka.

Rp47 miliar.

Aku menatap layar cukup lama sampai angka itu terasa tidak nyata.

“Itu nilai perusahaan?”

“Nilai transaksinya.”

“Lalu saham Papa?”

“Kalau data kepemilikan terakhir yang tercatat benar…”

Maya menatapku.

“Kamu punya tiga puluh dua persen.”

Ruangan menjadi sunyi.

Mama memegang mulut.

Aku hanya bisa mendengar monitor detak jantung bayiku.

Tiga puluh dua persen.

Arga selama bertahun-tahun menyebut saham itu sampah.

Tidak berguna.

Tidak menghasilkan.

Dia bahkan pernah berkata kalau perusahaan itu ditutup, aku mungkin justru harus membayar utang.

Maya berdiri.

“Aku akan cek semuanya.”

Aku menangkap tangannya.

“Tunggu.”

Dia menatapku.

“Aku rasa aku tahu kenapa Arga sangat ingin aku dianggap tidak stabil.”


Keesokan paginya, polisi datang ke rumah sakit.

Arga belum ditahan secara permanen untuk kejadian di supermarket, tetapi penyelidikan dibuka setelah rekaman CCTV diamankan.

Namun ada hal lain.

Nama Arga ternyata memang muncul dalam laporan audit internal perusahaan tempatnya bekerja dua tahun sebelumnya.

Dia diduga membuat jaringan vendor fiktif untuk mengalihkan dana perusahaan.

Kasus itu tidak pernah maju karena salah satu saksi utama mencabut keterangannya.

Tapi sekarang penyelidik menemukan sesuatu yang lebih menarik.

Beberapa rekening vendor tersebut berhubungan dengan rekening yang pernah menerima uang dari penjualan apartemenku.

Aku menatap polisi itu.

“Jadi uang apartemen saya tidak dipakai untuk menolong perusahaan?”

“Sepertinya tidak.”

“Dipakai untuk apa?”

“Sebagian masuk ke rekening perusahaan cangkang.”

Aku menutup mata.

Rumah.

Tabungan.

Perhiasan dari Mama.

Semua yang Arga bilang perlu dikorbankan demi keluarga.

Ternyata bukan untuk keluarga.

Maya kemudian menemukan lapisan yang lebih buruk.

Enam bulan sebelumnya, Arga diam-diam mengajukan perubahan kuasa pengelolaan atas saham warisanku.

Dokumen itu menggunakan tanda tanganku.

Tapi aku tidak pernah menandatanganinya.

Di situlah surat psikologis palsu tadi punya fungsi.

Arga sedang mempersiapkan dasar untuk menyatakan bahwa aku tidak sanggup mengurus aset sendiri.

Kalau rencananya berhasil, kendali atas saham senilai miliaran rupiah bisa berpindah.

Dan aku bahkan tidak akan sadar sampai semuanya selesai.

Namun ada satu pertanyaan yang terus menghantuiku.

Perempuan tengah malam.

Siapa dia?

Aku menemukan jawabannya tiga hari kemudian.

Dia datang ke rumah sakit.

Namanya Rena.

Usianya sekitar tiga puluh tahun.

Wajahnya pucat ketika berdiri di pintu kamarku.

Aku langsung mengenal suaranya.

Aku pernah mendengarnya melalui speaker ponsel Arga.

“Maaf…”

Aku menegang.

“Kamu siapa?”

Rena menelan ludah.

“Saya bekerja di bagian keuangan perusahaan suami Anda.”

Aku tidak menjawab.

“Saya orang yang menelepon malam-malam.”

Mama berdiri dari kursi.

Maya tetap duduk, tetapi matanya mengawasi.

Rena mengeluarkan flashdisk.

“Saya punya sesuatu.”

Aku menatap benda itu.

“Kenapa baru sekarang?”

Air mata memenuhi matanya.

“Karena saya pengecut.”

Dia kemudian menceritakan semuanya.

Rena bukan kekasih Arga.

Dia staf keuangan yang mengetahui transaksi vendor fiktif dua tahun lalu.

Arga mengancam akan membuatnya ikut terseret kalau dia bicara.

Saksi utama yang mencabut laporan waktu itu adalah kakak Rena.

Arga membayar utang keluarganya dengan syarat mereka diam.

Namun beberapa bulan terakhir Rena tahu bahwa Arga menyiapkan kejahatan baru.

Kali ini targetnya bukan perusahaan.

Targetnya aku.

Dalam flashdisk itu ada email.

Instruksi transfer.

Rekaman rapat.

Dan satu file audio.

Maya membuka file itu.

Suara Arga memenuhi kamar.

Jernih.

Dingin.

“Begitu Laras melahirkan, dia akan lebih mudah ditekan.”

Kemudian suara laki-laki lain berkata,

“Kalau dia menolak tanda tangan?”

Arga menjawab,

“Makanya surat mental itu disiapkan.”

Aku menggenggam selimut.

Suara itu melanjutkan.

“Dan kalau tetap gagal?”

Arga tertawa kecil.

“Kita buat seolah-olah dia tidak mampu mengurus anak. Setelah itu semua keputusan bisa saya pegang.”

Aku berhenti bernapas.

Bukan cuma uang.

Dia ingin mengambil bayiku juga.

Tapi kemudian ada kalimat berikutnya.

Kalimat yang membuatku hampir tidak bisa bergerak.

“Kamu yakin anak itu milikmu?”

Arga menjawab,

“Tidak penting.”

Ruangan membeku.

Suara dalam rekaman melanjutkan,

“Maksudmu?”

Arga tertawa lagi.

“Yang penting Laras percaya saya ayahnya sampai semua dokumen selesai.”

Aku merasa dunia seperti miring.

Mama memegang lenganku.

Maya mematikan audio.

Aku tidak tahu berapa lama aku diam.

Akhirnya aku berkata,

“Putar lagi.”

“Laras…”

“Putar.”

Aku mendengarnya dua kali lagi.

Tetap sama.

Tidak penting.

Yang penting Laras percaya saya ayahnya.

Aku menatap Rena.

“Apa maksudnya?”

Rena menangis.

“Saya tidak tahu.”

Dan justru itulah rahasia terbesar yang selama ini disembunyikan Arga.

Bukan bahwa bayiku bukan anaknya.

Melainkan bahwa Arga sendiri ternyata mandul.

Aku mengetahuinya setelah penyidik menemukan dokumen pemeriksaan lama dalam laptopnya.

Tiga tahun sebelum aku hamil, Arga pernah menjalani pemeriksaan fertilitas secara diam-diam.

Hasilnya menunjukkan kemungkinan alami untuk memiliki anak sangat kecil.

Dia tidak pernah memberitahuku.

Namun aku tidak pernah berselingkuh.

Aku tahu itu.

Jadi bagaimana mungkin?

Jawabannya datang dari masa lalu yang bahkan hampir kulupakan.

Dua tahun sebelumnya, Arga pernah membujukku menjalani program fertilitas karena kami lama tidak memiliki anak.

Dia mengatakan klinik hanya melakukan “penguatan hormon sederhana”.

Aku percaya.

Ternyata diam-diam dia telah menyetujui penggunaan donor.

Tanpa persetujuanku yang sah.

Maya hampir tidak percaya saat menemukan salinan dokumennya.

Tanda tanganku dipalsukan.

Aku hamil melalui prosedur yang tidak pernah dijelaskan secara jujur kepadaku.

Arga tahu sejak awal bahwa bayi ini secara biologis bukan anaknya.

Namun selama kehamilan, dia menggunakan bayi itu sebagai alat.

Untuk mengikatku.

Untuk membuatku berhenti bekerja.

Untuk mengisolasi aku.

Dan akhirnya, kalau aku melawan, dia berencana menggunakan status biologis itu untuk membuatku merasa bahwa aku tidak akan bisa mempertahankan hak apa pun.

Selama dua malam aku menangis tanpa suara.

Bukan karena aku membenci bayi dalam kandunganku.

Justru sebaliknya.

Aku memeluk perutku dan berkata,

“Kamu tetap anak Mama.”

Dan untuk pertama kalinya aku sadar bahwa keluarga tidak selalu ditentukan oleh darah.

Kadang keluarga ditentukan oleh siapa yang memilih untuk melindungimu ketika orang lain menganggapmu sebagai alat.


Arga akhirnya ditahan setelah penyidik menggabungkan bukti penganiayaan, dugaan pemalsuan dokumen, manipulasi keuangan, dan kasus lama perusahaan.

Proses hukumnya panjang.

Tidak dramatis seperti film.

Tidak ada hakim yang langsung memukul palu dan mengirimnya pergi dalam lima menit.

Ada pemeriksaan.

Saksi.

Audit.

Dokumen.

Persidangan.

Berbulan-bulan.

Namun kali ini Arga tidak bisa mengendalikan semua orang.

CCTV supermarket ada.

Rekaman Rena ada.

Dokumen palsu ada.

Jejak transaksi ada.

Dan yang paling penting…

Aku akhirnya bicara.

Aku berhenti melindungi reputasi pria yang tidak pernah melindungiku.

Dua bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan.

Namanya Kayla Sentosa.

Bukan Kayla Pratama.

Aku memberinya nama keluarga Papa.

Ketika bidan menyerahkannya kepadaku untuk pertama kali, aku menangis begitu keras sampai Mama ikut menangis.

Kayla sangat kecil.

Hidungnya mungil.

Tangannya menggenggam ujung jariku.

Aku membungkusnya dengan selimut krem yang kubeli sore itu.

Selimut Rp219 ribu.

Benda yang dulu disebut Arga “barang bayi tidak berguna”.

Benda yang justru menjadi awal dari kebebasanku.

Bima datang menjenguk beberapa hari kemudian bersama istrinya.

Dia membawa bunga sederhana dan berdiri kikuk di pintu kamar.

Aku tersenyum.

“Pak Bima.”

“Jangan panggil Pak terus, Bu.”

“Kalau begitu jangan panggil saya Bu.”

Kami tertawa.

Aku mengangkat Kayla sedikit.

“Ini anak yang selimutnya bikin supermarket heboh.”

Bima tertawa kecil.

Lalu dia berkata sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

“Bukan selimutnya yang membuat semuanya terbongkar, Laras.”

Aku menatapnya.

“Lalu?”

“Karena hari itu akhirnya ada orang yang tidak memalingkan wajah.”

Aku diam.

Dia benar.

Banyak hal buruk bisa bertahan bertahun-tahun bukan karena tidak terlihat.

Tapi karena orang memilih tidak melihat.


Setahun kemudian, aku berdiri di depan gedung lama Sentosa Grafika.

Perusahaan Papa ternyata tidak mati.

Tidak seperti yang dikatakan Arga.

Dengan bantuan auditor dan pengacara, aku mengambil kembali kendali atas seluruh hak yang seharusnya menjadi milikku.

Aku tidak menjadi miliarder seperti di cerita dongeng.

Sebagian besar hasil penjualan aset perusahaan sudah digunakan untuk membayar kewajiban lama dan membeli aset baru.

Namun bagianku tetap cukup besar untuk membuatku dan Kayla aman.

Lebih dari cukup.

Aku juga kembali bekerja.

Bukan karena aku membutuhkan uang.

Tapi karena aku ingin Kayla tumbuh melihat ibunya punya kehidupan sendiri.

Rena bekerja bersamaku sekarang.

Bukan sebagai bawahan.

Sebagai kepala keuangan baru setelah kasus hukumnya selesai dan namanya dibersihkan.

Mama juga berubah.

Dia tidak pernah lagi berkata,

“Bagaimanapun dia suamimu.”

Suatu sore, saat Kayla belajar berjalan di ruang tamu, Mama tiba-tiba berkata,

“Maaf.”

Aku menoleh.

“Untuk apa?”

“Karena dulu Mama terlalu percaya pada penampilan orang.”

Aku melihat Kayla jatuh kecil di karpet, lalu tertawa dan berdiri lagi.

“Mama tidak sendirian.”

Mama menatapku.

“Kalau dulu Mama lebih cepat percaya sama kamu…”

Aku memegang tangannya.

“Kita tidak bisa kembali.”

Lalu aku menunjuk Kayla.

“Tapi kita bisa berhenti mengulangi kesalahan yang sama.”


Ada satu hal terakhir yang baru kutemukan hampir dua tahun setelah kejadian di supermarket.

Saat proses hukum Arga hampir selesai, Maya menerima salinan dokumen dari klinik fertilitas.

Ada catatan tambahan yang sebelumnya tidak diberikan.

Identitas donor memang dirahasiakan.

Tetapi ada informasi medis tertentu yang membuatku berhenti membaca.

Golongan darah.

Riwayat keluarga.

Dan satu kode internal.

Aku mengenal kode itu.

Karena bertahun-tahun lalu, sebelum Papa meninggal, adikku Dimas pernah mendaftar sebagai donor untuk membantu program medis saat kuliah.

Aku langsung meneleponnya.

Awalnya dia tertawa.

Lalu diam.

Kami menjalani pemeriksaan lanjutan melalui jalur resmi.

Hasilnya membuat kami semua menangis.

Donor yang digunakan dalam prosedurku ternyata berasal dari sampel Dimas.

Adikku sendiri.

Bukan karena dia tahu.

Bukan karena ada rencana keluarga.

Data klinik menunjukkan terjadi kesalahan administrasi dan pemilihan donor yang seharusnya tidak mungkin lolos karena hubungan keluarga.

Artinya, secara biologis, Kayla memiliki hubungan darah dengan keluargaku sendiri.

Bukan seperti yang kurencanakan.

Bukan dengan cara yang seharusnya.

Dan tentu saja tidak menghapus pelanggaran yang dilakukan Arga serta klinik.

Tapi ketika aku memberi tahu Dimas, dia duduk lama sekali sambil menatap Kayla yang sedang bermain balok.

Kemudian dia menangis.

“Jadi…”

Dia tertawa di tengah air mata.

“Secara genetik aku…?”

Aku memotong,

“Jangan macam-macam. Kamu tetap Om Dimas.”

Dia tertawa lebih keras.

Kayla menatap kami, bingung.

Lalu ikut tertawa tanpa tahu apa pun.

Saat itu aku menyadari sesuatu.

Selama bertahun-tahun Arga menggunakan fakta, uang, darah, dan dokumen untuk menentukan siapa yang punya kuasa.

Tapi pada akhirnya, hidupku tidak diselamatkan oleh siapa yang secara biologis berhubungan denganku.

Hidupku diselamatkan oleh orang-orang yang memilih berdiri di sisiku.

Bima yang tidak menundukkan kepala.

Kasir yang berani menjadi saksi.

Rena yang akhirnya membuka suara.

Maya yang mengejar setiap dokumen.

Mama yang belajar mengakui kesalahannya.

Dan bayi kecil yang bergerak di dalam perutku pada saat aku merasa dunia sedang runtuh.

Sekarang selimut krem itu sudah terlalu kecil untuk Kayla.

Aku menyimpannya dalam kotak kayu di lemari kamarnya.

Masih ada label harga lama di sudut kain.

Rp219.000.

Suatu hari nanti, kalau Kayla sudah cukup besar, mungkin aku akan menunjukkan selimut itu kepadanya.

Dan aku akan berkata,

“Ini bukan selimut mahal.”

“Ini bahkan bukan benda paling indah yang Mama punya.”

“Tapi benda kecil inilah yang ada di sana pada hari Mama akhirnya berhenti takut.”

Aku tidak tahu apakah dia akan memahami semuanya.

Mungkin dia akan tertawa.

Mungkin dia akan bertanya kenapa aku menyimpan kain tua.

Tapi aku tahu satu hal.

Aku tidak akan pernah mengajarinya bahwa cinta berarti bertahan pada penghinaan.

Aku tidak akan mengajarinya bahwa pernikahan berarti menutup mata.

Dan aku tidak akan pernah mengatakan bahwa seseorang boleh menyakiti kita hanya karena dia keluarga.

Karena hari itu, di lantai sebuah supermarket, aku kehilangan suami yang selama bertahun-tahun kukira harus kupertahankan.

Namun aku mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih penting.

Diriku sendiri.

Dan ketika Kayla berlari ke arahku sambil memanggil,

“Mama!”

aku selalu teringat detak jantung kecil yang kudengar di rumah sakit.

Dug.

Dug.

Dug.

Suara yang mengatakan kepadaku bahkan sebelum aku siap mempercayainya:

hidup kami belum berakhir.

Hidup kami baru saja dimulai.