SUAMIKU MENDORONG PERUTKU YANG HAMIL 8 BULAN KE MEJA KASIR HANYA KARENA SELIMUT BAYI RP219 RIBU—TAPI MANAGER TOKO TAHU RAHASIA YANG JAUH LEBIH BESAR
Suamiku mendorong tubuhku hingga perutku yang sedang hamil delapan bulan membentur meja kasir hanya karena aku ingin membeli selimut bayi seharga Rp219 ribu.
Saat aku jatuh sambil memegangi perut, dia membentak,
“Dasar perempuan serakah! Kita tidak akan membuang uangku untuk barang bayi yang tidak penting!”
Namun senyum angkuhnya langsung lenyap ketika manager supermarket berjalan mendekat dan berdiri di antara kami.
Beberapa menit kemudian, terungkap sesuatu tentang suamiku yang jauh lebih buruk daripada yang pernah kubayangkan.

Tepi meja kasir yang dingin menghantam bagian bawah tulang rusukku.
Selama satu detik, aku bahkan tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Lalu rasa nyeri menjalar dari sisi perut hingga ke pinggang.
Aku spontan memeluk perutku yang sudah sangat besar.
Delapan bulan.
Hanya tinggal beberapa minggu lagi sebelum putri pertama kami lahir.
Selimut bayi kecil berwarna krem itu masih tergeletak di samping mesin pemindai kasir.
Harganya hanya Rp219 ribu.
Itulah satu-satunya alasan yang dibutuhkan Arga untuk berhenti berpura-pura menjadi suami baik di depan orang lain.
“Dasar bodoh dan egois,” desisnya.
Suaranya sengaja direndahkan.
Tenang.
Terkendali.
Seolah-olah kalau dia tidak berteriak, apa yang baru saja dilakukannya kepadaku tidak akan terlihat buruk.
“Kamu selalu menghamburkan uangku.”
Aku perlahan merosot ke lantai supermarket.
Gaun hamilku tersangkut pada sudut rak kecil di dekat kasir. Satu tanganku menopang tubuh, sementara tangan satunya terus berada di bawah perut.
Lampu putih terang di supermarket Pondok Indah itu membuat semuanya terlihat terlalu jelas.
Meja kasir.
Mesin EDC.
Selimut bayi krem.
Kemeja polo mahal Arga yang masih terlihat rapi.
Dan wajah para pengunjung yang baru saja melihat suamiku mendorong istrinya yang sedang hamil besar.
Arga adalah tipe laki-laki yang mudah dipercaya orang.
Usianya tiga puluh delapan tahun.
Jabatannya direktur regional sebuah perusahaan distribusi besar di Jakarta.
Dia selalu berpakaian rapi, mengendarai mobil mahal, berbicara sopan kepada orang yang dianggap penting, dan tahu kapan harus tersenyum.
Di acara keluarga, dia selalu menjadi orang pertama yang membantu orang tua berdiri dari kursi.
Di kantor, orang mengenalnya sebagai atasan yang tegas tetapi ramah.
Bahkan Mama pernah berkata kepadaku,
“Laras, kamu beruntung sekali dapat suami seperti Arga.”
Mereka tidak tahu bahwa Arga mempunyai dua wajah.
Dia tahu kapan harus menurunkan suara sehingga penghinaan terdengar seperti nasihat.
Dia tahu bagaimana membuatku merasa bersalah setiap kali membeli sesuatu.
Dan dia sangat pandai memastikan tidak ada orang lain yang melihat sisi dirinya yang sebenarnya.
Sampai sore itu.
Sekarang dia berdiri di depanku sambil merapikan ujung kemejanya.
Seolah-olah akulah yang mempermalukannya.
“Berdiri,” katanya tajam.
Aku menatapnya.
“Aku sakit…”
“Jangan bikin drama.”
Beberapa orang berdiri tidak jauh dari kami.
Seorang ibu di antrean sebelah menutup mulut dengan tangannya.
Kasir perempuan yang mungkin baru berusia dua puluhan terlihat pucat.
Seorang pria di belakang antrean sempat mengangkat ponselnya, tetapi menurunkannya lagi ketika Arga menoleh.
Aku mengenal tatapan itu.
Arga juga melihatnya.
Dan anehnya, dia sama sekali tidak terlihat menyesal.
Yang membuatnya marah justru kenyataan bahwa aku jatuh di tempat yang bisa dilihat banyak orang.
Rasa kencang tiba-tiba menjalar di perutku.
Aku menarik napas pendek.
Tanganku gemetar saat mengusap bagian depan gaun hamilku.
Aku hanya memikirkan satu hal.
Bayiku.
“Ayo, Sayang…”
Bisikku hampir tanpa suara.
“Gerak sedikit untuk Mama.”
Beberapa detik terasa sangat panjang.
Lalu aku merasakan gerakan kecil dari dalam.
Air mataku hampir jatuh karena lega.
Arga membungkuk.
Tangannya terulur seolah hendak menarik lenganku.
Aku langsung menjauh.
“Jangan sentuh aku.”
Wajahnya berubah.
“Jangan mempermalukan aku di depan umum, Laras.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Mempermalukan dia?
Aku yang terduduk di lantai.
Aku yang sedang hamil delapan bulan.
Aku yang baru saja didorongnya.
Tapi di kepalanya, tetap saja dia korbannya.
Arga mengulurkan tangannya lagi.
Kali ini gerakannya jauh lebih kasar.
Aku refleks menutup mata.
Namun tangannya tidak pernah sampai kepadaku.
Sebuah bayangan besar muncul di lantai.
Kemudian terdengar suara langkah sepatu berhenti tepat di antara tubuhku dan Arga.
“Pak.”
Suara itu berat dan tenang.
“Jangan sentuh Ibu itu lagi.”
Aku membuka mata.
Seorang pria bertubuh besar berdiri di antara kami.
Aku mengenalnya sebagai Bima, manager supermarket itu.
Usianya mungkin awal empat puluhan. Tubuhnya tinggi dan kokoh. Seragam manager yang dipakainya tampak sedikit sempit di bagian bahu.
Namun bukan ukuran tubuhnya yang membuat Arga berhenti.
Melainkan ekspresinya.
Bima menatap Arga tanpa rasa takut sedikit pun.
Arga mundur setengah langkah.
Lalu, seperti biasa, dia segera memakai wajah publiknya.
Senyum tipis.
Nada profesional.
Bahasa yang sopan.
“Pak, ini urusan keluarga saya.”
Bima tidak bergerak.
Arga melanjutkan,
“Istri saya sedang emosional karena kehamilan. Dia tadi kehilangan keseimbangan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
Baru beberapa detik sebelumnya puluhan orang melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Tetapi Arga mampu berbohong tanpa berkedip.
“Dia terpeleset,” katanya.
Bima menatapku sebentar, lalu kembali menatap Arga.
“Saya melihat sendiri apa yang terjadi.”
Kalimat itu membuat wajah Arga membeku.
“Maaf?”
“Saya melihat Bapak mendorong beliau.”
Arga tertawa pendek.
Tawa yang selalu digunakannya ketika ingin membuat orang lain merasa bodoh.
“Mungkin Bapak salah melihat.”
“Saya tidak salah.”
Sekarang beberapa pengunjung mulai mendekat.
Kasir yang tadi ketakutan juga mengangguk kecil.
“Saya juga lihat, Pak.”
Seorang perempuan dari antrean sebelah berkata,
“Saya lihat juga.”
Arga menoleh cepat.
Situasi mulai lepas dari kendalinya.
Dan Arga paling membenci kehilangan kendali.
Dia menunjuk Bima.
“Anda tahu saya siapa?”
Bima tidak menjawab.
“Saya direktur regional di Pratama Distribusi Nusantara. Perusahaan kami memasok barang ke beberapa cabang jaringan supermarket ini.”
Itu memang gaya Arga.
Kalau senyum tidak berhasil, dia menggunakan jabatan.
Kalau jabatan tidak berhasil, dia menggunakan uang.
Kalau uang tidak berhasil…
Aku tahu apa yang biasanya datang setelahnya.
Ancaman.
Arga mendekat setengah langkah.
“Saya bisa membuat Anda kehilangan pekerjaan hanya dengan satu telepon.”
Bima tetap tenang.
“Silakan.”
Arga seperti tidak percaya.
“Apa?”
“Tapi sebelum menelepon kantor pusat, sebaiknya Bapak menunggu polisi datang.”
Wajah Arga langsung berubah.
“Polisi?”
Bima menoleh ke kasir.
“Rani, hubungi 112. Sampaikan ada perempuan hamil yang membutuhkan bantuan medis dan ada dugaan kekerasan dengan beberapa saksi.”
Kasir itu segera meraih telepon.
Untuk pertama kalinya sore itu, aku melihat sesuatu muncul di mata suamiku.
Bukan rasa bersalah.
Bukan kekhawatiran terhadapku.
Ketakutan.
“Tidak perlu polisi,” katanya cepat.
Bima menatapnya.
“Kenapa?”
“Aku akan membawa istriku ke rumah sakit.”
“Bapak tidak akan membawanya ke mana pun sebelum petugas datang.”
“Jangan ikut campur!”
Suara Arga akhirnya meninggi.
Topengnya mulai retak.
Beberapa orang sekarang mengangkat ponsel.
Dia tidak mungkin mengintimidasi semua orang sekaligus.
Aku melihat Arga menghitung situasi di kepalanya.
Saksi.
CCTV.
Polisi.
Rumah sakit.
Semua hal yang selama ini selalu dia pastikan tidak pernah muncul bersamaan.
Aku mulai memahami sesuatu.
Ketakutannya terlalu besar untuk sekadar persoalan karena mendorongku.
Ada hal lain.
Sesuatu yang tidak kuketahui.
Kemudian seorang pria tua dari antrean lain tiba-tiba berkata,
“Pak Bima…”
Semua orang menoleh.
Pria itu menunjuk Arga.
“Saya kenal orang ini.”
Wajah Arga kehilangan warna.
Bima menatap pria tersebut.
“Kenal dari mana, Pak?”
Pria tua itu mengeluarkan kacamata dari saku kemejanya, memakainya, lalu menatap Arga lebih lama.
“Aku pernah melihat fotonya.”
Arga memotong cepat.
“Anda salah orang.”
Tetapi pria itu menggeleng.
“Tidak.”
Dia merogoh ponselnya.
Tangannya bergerak cepat membuka sesuatu.
Lalu dia mengangkat layar.
“Wajahnya sama.”
Aku tidak bisa melihat apa yang ada di layar.
Namun aku bisa melihat ekspresi suamiku.
Arga yang selama sembilan tahun pernikahan kami selalu punya jawaban untuk semuanya…
tiba-tiba diam.
“Foto apa?” tanyaku.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Bima mengambil satu langkah mendekati pria tua itu.
Kemudian matanya turun ke layar ponsel.
Aku melihat ekspresinya berubah.
Dia menatap Arga.
Lalu kembali melihat layar.
“Pak Arga,” katanya perlahan.
“Sepertinya polisi memang perlu datang.”
“Apa yang kalian lihat?” tanyaku lagi.
Arga tiba-tiba bergerak hendak mengambil ponsel pria itu.
Bima langsung menghadang.
“Jangan.”
“Berikan ponsel itu!”
“Pak Arga!”
Untuk pertama kalinya, suara Bima terdengar keras.
Semua orang terdiam.
Lalu pria tua itu mengatakan sesuatu yang membuat tubuhku terasa lebih dingin daripada lantai tempat aku duduk.
“Ibu…”
Dia menatapku dengan wajah iba.
“Suami Ibu bukan cuma punya masalah karena kejadian hari ini.”
Aku menahan napas.
“Maksud Bapak apa?”
Dia memutar layar ponselnya agar aku bisa melihatnya.
Di sana ada foto Arga.
Foto suamiku.
Tetapi foto itu bukan dari perusahaan.
Bukan dari media sosial.
Di bawah fotonya terdapat sebuah pengumuman lama yang dibagikan dalam grup komunitas bisnis Jakarta.
Dan tepat ketika aku mencoba membaca tulisan kecil di bawah nama suamiku…
terdengar sirene mendekat dari luar supermarket.
Arga menatap pintu masuk.
Kemudian menatapku.
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun aku melihat dirinya yang sebenarnya.
Bukan suami sempurna.
Bukan direktur sukses.
Bukan pria terhormat yang dikenal keluarga kami.
Melainkan seseorang yang sangat takut rahasianya akhirnya terbuka.
Dan ketika polisi masuk beberapa menit kemudian, aku belum tahu bahwa selimut bayi seharga Rp219 ribu itu akan menjadi benda kecil yang membongkar kebohongan yang telah Arga sembunyikan dariku selama bertahun-tahun.
Rahasia tentang pekerjaannya.
Tentang uang kami.
Tentang perempuan yang beberapa kali meneleponnya tengah malam.
Dan yang paling mengejutkan…
rahasia tentang bayi yang sedang kukandung.
IBUKU TERNYATA IKUT MENJEBAKKU—TAPI SATU RAHASIA TENTANG ANAKKU MENGUBAH SEMUANYA
Aku membaca tanggal di surat kuasa itu tiga kali.
Tiga hari sebelum transfer pertama.
Artinya, apartemenku sudah menjadi bagian dari rencana bahkan sebelum uang Rp38 miliar mulai menghilang.
Tanganku gemetar.
—Ayah yakin Ibu terlibat?
Hendra tidak langsung menjawab.
Dia mengambil ponselnya, membuka sebuah foto, lalu menyerahkannya kepadaku.
Foto itu berasal dari kamera keamanan sebuah kantor notaris di Menteng.
Tanggalnya sama dengan tanggal surat kuasa.
Ibuku, Ratna Prameswari, terlihat masuk ke gedung pukul 10.17 pagi.
Tujuh menit kemudian, Arga menyusul.
Aku menatap layar tanpa berkedip.
—Mereka saling kenal?
—Lebih lama daripada yang kamu kira.
Aku menoleh tajam.
Ayah membuka map lain.
Di dalamnya ada salinan rekening koran.
Beberapa transfer kecil dari perusahaan Arga kepada rekening ibuku.
Rp25 juta.
Rp40 juta.
Rp75 juta.
Jumlahnya tidak besar jika dibandingkan dengan Rp38 miliar.
Tapi transfer itu sudah berlangsung hampir dua tahun.
—Untuk apa?
—Itulah yang harus kita cari tahu.
Aku menutup mata.
Selama ini aku mengira pengkhianatan terbesar dalam hidupku adalah melihat Arga berdiri bersama perempuan lain ketika aku dijatuhi hukuman.
Ternyata aku salah.
Pengkhianatan paling kejam tidak selalu datang dari orang yang tidur di sebelah kita.
Kadang datang dari orang yang mengajari kita memanggil kata “Ibu”.
Dua hari berikutnya aku tinggal di rumah Hendra di Kebayoran Baru.
Secara hukum, situasiku masih rumit.
Pengacaranya, Maya Kusuma, mengingatkanku berkali-kali.
—Jangan menghubungi Arga. Jangan menghubungi ibumu. Jangan melakukan apa pun yang bisa dianggap mengintimidasi saksi.
—Dimas bagaimana?
Maya terdiam.
Itulah satu-satunya pertanyaan yang membuatku kehilangan ketenangan.
Putraku berusia enam tahun.
Sejak aku ditahan, Arga membawanya tinggal di rumah ibuku di Pondok Indah.
Ironis.
Dua orang yang paling ingin kutemui adalah dua orang yang sekarang tidak boleh kudekati.
Pada malam ketiga, Hendra masuk ke ruang kerja membawa sebuah amplop.
—Kami menemukan notaris yang namanya tercantum dalam transaksi apartemenmu.
Aku langsung berdiri.
—Dia mengaku memalsukan dokumen?
—Tidak.
Ayah meletakkan amplop di meja.
—Dia bilang kamu datang sendiri.
Aku tertawa karena terdengar mustahil.
—Aku tidak pernah datang.
—Dia punya rekaman.
Darahku seperti berhenti mengalir.
Maya membuka laptop.
Rekaman CCTV muncul.
Seorang perempuan masuk ke kantor notaris.
Tinggi badannya hampir sama denganku.
Rambutnya sama.
Dia mengenakan masker dan kacamata besar.
Bahkan tas yang dibawanya mirip dengan tasku.
Perempuan itu duduk di depan meja.
Menyerahkan KTP atas namaku.
Lalu menandatangani dokumen.
Aku mendekat ke layar.
—Itu bukan aku.
Maya menghentikan video.
—Kami tahu.
—Bagaimana?
Dia memperbesar tangan perempuan itu.
Ada cincin batu hijau di jari manisnya.
Aku mengenal cincin itu.
Aku melihatnya hampir setiap Lebaran sejak kecil.
Milik ibuku.
Aku duduk perlahan.
Hendra berkata:
—Sekarang kita punya bukti visual. Tapi belum cukup untuk membuktikan seluruh konspirasi.
Aku menatap cincin itu.
Lalu tiba-tiba teringat sesuatu.
—Tunggu.
Aku berlari menuju kamar tempat barang-barang pribadiku disimpan.
Di dalam koper kecil yang dikembalikan setelah penahananku ada beberapa dokumen, pakaian, dan sebuah buku catatan.
Aku membalik halamannya sampai menemukan catatan tanggal.
Enam bulan sebelumnya.
“Dimas — dokter gigi — 15.30.”
Di bawahnya ada tulisan kecil.
“Mama jemput dari sekolah.”
Aku kembali menemui Maya.
—Ibuku punya fotokopi KTP-ku sejak enam bulan lalu. Katanya diperlukan untuk mengurus asuransi Dimas.
Maya menatap Hendra.
Potongan-potongannya mulai menyatu.
Tapi kami masih belum tahu mengapa.
Jawabannya datang dari orang yang paling tidak kami duga.
Raka.
Perempuan yang berdiri di samping suamiku ketika aku dijatuhi hukuman.
Pukul dua dini hari, Maya menerima pesan.
“Saya punya bukti tentang Arga. Saya mau bicara dengan Nadira. Sendiri.”
Maya tidak mengizinkan pertemuan sendirian.
Kami bertemu keesokan harinya di kantor pengacara.
Ketika Raka masuk, aku hampir tidak mengenalinya.
Tidak ada gaun mahal.
Tidak ada riasan sempurna.
Dia mengenakan jeans, kemeja putih, dan wajahnya pucat.
Aku tidak berdiri menyambutnya.
—Kalau kamu datang untuk meminta maaf karena tidur dengan suamiku, simpan saja.
Raka menelan ludah.
—Saya tidak tidur dengan suami Mbak.
Aku tertawa pendek.
—Aku melihat tangannya di pinggangmu.
—Karena dia ingin semua orang melihat itu.
Ruangan mendadak sunyi.
Raka mengeluarkan ponsel.
—Saya bekerja sebagai staf administrasi di salah satu vendor yang dibuat Arga.
Aku menatapnya.
—Vendor palsu?
Dia mengangguk.
—Awalnya saya tidak tahu. Saya pikir perusahaannya sungguhan. Setelah beberapa bulan saya mulai curiga. Tidak ada barang, tidak ada gudang, tapi transaksi miliaran rupiah terus masuk.
—Kenapa kamu tidak melapor?
Air matanya mulai memenuhi mata.
—Karena Arga tahu adik saya punya utang pinjaman online. Dia membayarnya, lalu menggunakan itu untuk mengancam saya.
Aku masih belum percaya.
Raka membuka rekaman suara.
Suara Arga terdengar jelas.
“Kalau Nadira masuk penjara, semua orang harus percaya kita punya hubungan. Motifnya jadi sederhana. Istri yang korup, suami yang selingkuh. Orang suka cerita sederhana.”
Aku membeku.
Raka menatapku.
—Dia sengaja membuat Mbak membenci saya.
—Kenapa?
—Supaya Mbak tidak pernah berpikir saya adalah saksi.
Aku tidak tahu apakah harus marah atau merasa malu.
Lalu Raka mengatakan sesuatu yang jauh lebih penting.
—Tapi Arga bukan orang yang merencanakan semuanya.
Hendra berdiri.
—Siapa?
Raka menatapku.
—Ibu Mbak.
Aku tidak percaya sampai Raka menunjukkan percakapan mereka.
Nama Ratna tidak tertulis.
Kontaknya disimpan sebagai “R”.
Namun foto profil lama yang tersimpan dalam cadangan data menunjukkan gelang giok yang kukenal sejak kecil.
Pesan pertama dikirim hampir dua tahun sebelumnya.
“Kalau Nadira kehilangan posisinya, akses ke dana itu bisa kita ambil.”
Pesan berikutnya lebih buruk.
“Pastikan semua jejak mengarah kepadanya.”
Aku berhenti membaca.
—Kenapa ibuku melakukan ini?
Raka menggeleng.
—Saya tidak tahu. Tapi saya pernah mendengar mereka bertengkar soal Pak Hendra.
Ayahku yang sejak tadi diam akhirnya duduk.
Wajahnya berubah.
—Aku tahu alasannya.
Aku menatapnya.
Hendra mengembuskan napas panjang.
—Tiga tahun lalu aku membuat surat wasiat baru.
Aku tidak mengerti.
—Apa hubungannya?
—Sebagian besar aset pribadiku akan masuk ke yayasan. Tapi saham perusahaan keluarga yang masih kumiliki akan diwariskan kepadamu.
Aku terdiam.
—Berapa nilainya?
Ayah tidak langsung menjawab.
—Jauh lebih besar daripada Rp38 miliar.
Saat itulah semuanya menjadi jelas.
Ibuku bukan menginginkan apartemenku.
Bukan pula Rp38 miliar.
Itu hanya umpan.
Yang dia inginkan adalah membuatku menjadi terpidana kasus keuangan.
Dengan reputasiku hancur dan kemungkinan bertahun-tahun berada di penjara, dia berharap bisa memaksaku menyerahkan kendali atas aset dan hak-hakku.
Tapi ada satu masalah.
—Bagaimana Ibu tahu isi surat wasiat?
Hendra memandang lantai.
—Karena pengacara lama yang menyusunnya adalah sepupunya.
Polisi bergerak setelah menerima bukti tambahan.
Rekaman.
Transfer.
CCTV.
Metadata komputer.
Dan kesaksian Raka.
Namun aku meminta satu hal kepada Maya.
Aku ingin Dimas dikeluarkan dari rumah ibuku sebelum penangkapan dilakukan.
Pada Jumat sore, keputusan sementara pengadilan memberi hak pengasuhan kepadaku selama penyelidikan terhadap Arga berlangsung.
Aku menunggu di rumah Hendra.
Ketika mobil berhenti di depan, aku berdiri di teras.
Pintu terbuka.
Dimas turun.
Dia membawa ransel dinosaurus biru.
Begitu melihatku, dia tidak langsung berlari.
Dia hanya berdiri.
Aku berjongkok.
—Mama.
Bibirnya bergetar.
—Kata Papa, Mama pergi karena Mama lebih suka uang daripada Dimas.
Aku merasa sesuatu di dalam dadaku pecah.
—Tidak.
Aku membuka kedua tangan.
—Mama tidak pernah memilih apa pun daripada kamu.
Barulah dia berlari.
Tubuh kecilnya menghantam dadaku.
Aku memeluknya begitu erat sampai tanganku sakit.
Dan untuk pertama kalinya sejak palu hakim diketuk, aku menangis.
Bukan karena Arga.
Bukan karena ibuku.
Karena anakku masih mengenali pelukanku.
Arga ditangkap malam itu.
Ibuku tidak.
Dia menghilang.
Polisi menemukan mobilnya di Bandara Soekarno-Hatta, tapi namanya tidak tercatat keluar dari Indonesia.
Selama tiga hari tidak ada kabar.
Sampai Dimas mengatakan sesuatu ketika kami sedang sarapan.
—Mama, Oma bilang kalau rumah besar sudah jadi milik Dimas, kita akan pindah ke Bandung.
Sendokku berhenti.
—Rumah apa?
—Rumah yang ada pohon mangganya.
Aku menatap Hendra.
Dia langsung memahami.
Rumah lama keluarga ibuku di Lembang.
Polisi menemukannya sore itu.
Ibuku tidak melawan.
Ketika dibawa keluar, dia hanya meminta satu hal.
—Aku mau bicara dengan Nadira.
Aku hampir menolak.
Tapi akhirnya aku datang.
Bukan sebagai anak yang ingin meminta penjelasan.
Sebagai perempuan yang ingin menutup pintu masa lalunya.
Kami bertemu di ruang pemeriksaan.
Ibuku terlihat jauh lebih tua.
—Kenapa? —tanyaku.
Dia tersenyum pahit.
—Karena seluruh hidupmu selalu lebih mudah daripada hidupku.
Aku hampir tertawa.
—Aku baru saja hampir dipenjara sepuluh tahun karena Ibu.
—Kamu punya Hendra.
—Aku hampir tidak pernah punya dia!
Ibuku memukul meja.
—Tapi dia selalu menganggapmu anaknya!
Ruangan sunyi.
Akhirnya kebenaran yang sebenarnya keluar.
Hendra meninggalkan ibuku ketika aku masih bayi.
Bukan karena tidak menginginkanku.
Hubungan mereka memang tidak pernah menjadi pernikahan, dan keluarga Hendra menolak ibuku.
Selama bertahun-tahun Hendra mengirim uang untuk kebutuhanku.
Ibuku menyimpan sebagian besar uang itu.
Kemudian ketika aku dewasa dan mulai berhubungan kembali dengan ayahku, dia merasa sesuatu sedang diambil darinya.
Bukan uang.
Kendali.
—Aku membesarkanmu —katanya.— Lalu suatu hari dia datang dan kamu memandangnya seolah dia penyelamat.
Aku menatap perempuan yang selama puluhan tahun kupanggil Mama.
—Jadi Ibu menghancurkan hidupku?
Dia tidak menjawab.
Dan diamnya adalah jawaban paling jujur yang pernah diberikannya.
Empat bulan kemudian, pengadilan memerintahkan pemeriksaan ulang menyeluruh terhadap kasusku.
Ahli forensik digital menemukan bahwa laptop kantor yang dikaitkan denganku telah diakses dari jarak jauh.
Log autentikasi dimanipulasi.
Tanda tangan digital digunakan melalui perangkat yang bukan milikku.
Kesaksian Raka menghubungkan Arga dengan vendor fiktif.
Rekaman CCTV dan dokumen perbankan menghubungkan ibuku dengan pemalsuan surat kuasa.
Vonisku dibatalkan.
Namaku dipulihkan.
Arga akhirnya didakwa atas serangkaian tindak pidana terkait penggelapan, pemalsuan dokumen, manipulasi bukti elektronik, dan pencucian uang.
Ibuku juga harus menghadapi proses hukum atas perannya.
Aku tidak datang ketika putusan terhadap Arga dibacakan.
Aku tidak membutuhkannya.
Balas dendam terbaik ternyata bukan melihat orang yang menghancurkanmu ikut hancur.
Melainkan menyadari hidupmu tidak lagi berputar di sekitar mereka.
Tapi masih ada satu kejutan terakhir.
Enam bulan setelah semuanya selesai, Hendra memanggilku ke kantornya.
Di meja ada dokumen tebal.
—Kalau ini soal warisan, aku tidak mau.
Dia tersenyum tipis.
—Baca dulu.
Aku membacanya.
Lalu berhenti pada halaman ketiga.
Saham yang selama ini kukira akan diwariskan kepadaku ternyata sudah dialihkan.
Bukan kepadaku.
Kepada sebuah yayasan pendidikan atas nama Dimas.
Aku menatap Ayah.
—Kenapa?
—Karena aku belajar sesuatu dari semua ini.
Dia mengetuk dokumen dengan jarinya.
—Uang yang terlalu besar bisa membuat orang lupa siapa keluarganya.
Aku hampir tersenyum.
—Lalu kenapa atas nama Dimas?
—Bukan milik Dimas.
Aku kembali membaca.
Yayasan itu akan memberikan beasiswa kepada anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah.
Nama Dimas hanya menjadi nama program utamanya.
Aku terdiam.
Ayah melanjutkan.
—Aku tidak ingin cucuku tumbuh dengan keyakinan bahwa suatu hari dia akan menerima kekayaan besar hanya karena lahir di keluarga tertentu.
Untuk pertama kalinya aku benar-benar memahami lelaki di depanku.
Dia memang terlambat menjadi ayah.
Tapi mungkin dia sedang mencoba agar tidak terlambat menjadi kakek.
Aku menandatangani dokumen sebagai salah satu pengawas yayasan.
Bukan sebagai pewaris.
Dan anehnya, aku merasa jauh lebih kaya.
Setahun kemudian, aku tidak kembali menjadi direktur keuangan.
Aku membuka firma konsultasi kecil bersama Maya dan Raka untuk membantu perusahaan membangun sistem pengendalian internal dan mendeteksi penyalahgunaan akses keuangan.
Ya.
Raka.
Perempuan yang dulu kukira adalah selingkuhan suamiku kini duduk dua meja dariku setiap Senin sampai Jumat.
Hidup memang memiliki selera humor yang aneh.
Suatu sore, ketika kami hendak pulang, Dimas masuk sambil membawa sebuah gambar dari sekolah.
Ada tiga orang di dalamnya.
Aku.
Dimas.
Dan seorang lelaki tua dengan tongkat.
—Ini siapa? —tanyaku meski sudah tahu.
—Kakek.
—Kenapa Mama paling besar?
Dimas mengangkat bahu.
—Kata Bu Guru, gambar orang yang paling bikin kita merasa aman harus dibuat paling besar.
Aku tidak bisa menjawab.
Aku hanya memeluknya.
Malam itu, setelah Dimas tidur, aku membuka kotak kecil berisi barang-barang lama.
Di dalamnya masih ada salinan surat kuasa palsu yang hampir membuatku kehilangan apartemen.
Aku memandang tanda tangan palsuku beberapa detik.
Dulu aku menyimpannya sebagai bukti.
Sekarang aku menyadari aku tidak membutuhkannya lagi.
Aku memasukkannya ke mesin penghancur kertas.
Lembar itu berubah menjadi potongan-potongan kecil.
Nama.
Tanda tangan.
Kebohongan.
Semuanya hilang.
Aku berdiri di depan jendela apartemen baruku dan memandang lampu Jakarta.
Dulu Arga pernah mengatakan kepadaku:
“Nikmati sepuluh tahunmu di penjara.”
Dia salah.
Aku memang kehilangan sesuatu.
Tapi bukan sepuluh tahun.
Aku kehilangan seorang suami yang tidak pernah benar-benar mencintaiku.
Aku kehilangan kepercayaan kepada seorang ibu yang menganggap cinta sebagai kepemilikan.
Dan aku kehilangan keyakinan bahwa keluarga selalu berarti orang-orang yang memiliki darah yang sama.
Sebagai gantinya, aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih penting.
Namaku kembali.
Anakku kembali.
Hidupku kembali.
Dan akhirnya aku mengerti satu hal:
Arga mengira dia menjebakku demi Rp38 miliar.
Ibuku mengira dia bisa menghancurkanku demi warisan yang bahkan belum menjadi milikku.
Keduanya gagal karena terlalu sibuk menghitung uang sampai tidak menyadari sesuatu yang paling sederhana.
Aku tidak pernah membutuhkan kekayaan Hendra Pratama untuk bangkit.
Aku hanya membutuhkan satu orang yang bersedia percaya bahwa aku tidak bersalah.
Orang pertama itu adalah seorang petugas tua bernama Bambang Santoso.
Karena itu, pada hari peresmian program beasiswa pertama yayasan, aku meminta Hendra mengundang seseorang secara khusus.
Pak Bambang datang dengan seragam terbaiknya.
Dia berdiri canggung di belakang ruangan seolah merasa tidak pantas berada di sana.
Aku menghampirinya bersama Dimas.
—Masih ingat saya, Pak?
Dia tersenyum.
—Sulit melupakan orang yang menyelipkan kertas ke tangan saya saat diborgol.
Aku tertawa sambil menahan air mata.
Dimas menatapnya penasaran.
Aku berjongkok di samping putraku.
—Dimas, kenalkan. Ini orang yang membantu Mama pulang.
Pak Bambang buru-buru menggeleng.
—Saya cuma menelepon satu nomor.
Aku menatapnya.
—Kadang satu telepon cukup untuk mengubah seluruh hidup seseorang.
Dia terdiam.
Kemudian Dimas mengulurkan tangan kecilnya.
—Terima kasih sudah menelepon Kakek.
Pak Bambang menjabatnya.
Aku memandang mereka dan akhirnya memahami bagian paling aneh dari seluruh kisahku.
Orang yang pernah tidur di sampingku selama tujuh tahun berusaha mengirimku ke penjara.
Perempuan yang melahirkanku membantu menjebakku.
Perempuan yang kukira selingkuhan suamiku justru menjadi saksi yang membersihkan namaku.
Dan seorang petugas yang sama sekali tidak mengenalku menjadi orang pertama yang membuka jalan agar aku bisa pulang kepada anakku.
Ternyata keluarga bukan selalu orang yang berdiri paling dekat ketika hidup kita mudah.
Kadang keluarga adalah mereka yang memilih berdiri di samping kita ketika seluruh dunia sudah memutuskan bahwa kita bersalah.
Aku menggenggam tangan Dimas.
Dan kali ini, ketika kami berjalan keluar bersama-sama, tidak ada borgol di pergelangan tanganku.
Tidak ada hakim yang menentukan ke mana aku harus pergi.
Tidak ada Arga.
Tidak ada kebohongan.
Hanya matahari sore Jakarta di depan kami.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hidupku benar-benar menjadi milikku sendiri.
TAMAT.
