MENANTUKU MENGUSIR PUTRIKU TANPA ALAS KAKI DAN MENGHINAKU SEBAGAI “PETANI KAMPUNG” — BEBERAPA JAM KEMUDIAN, DIA MEMBUKA PINTU RUMAHNYA DAN MELIHAT AKU DATANG BERSAMA AYAHNYA SENDIRI, MEMBAWA BUKTI YANG MENGHANCURKAN SEMUA KEBOHONGANNYA
Menantuku membuat putriku pulang dalam keadaan babak belur, mengusirnya ke jalan tanpa alas kaki, lalu tertawa sambil berkata bahwa tidak seorang pun akan mempercayainya karena ayahnya hanyalah “petani kampung yang tidak punya siapa-siapa.”
Beberapa jam kemudian, Arga membuka pintu rumah mewahnya.
Dia mengira istrinya akan kembali sambil menangis dan meminta maaf.
Namun yang berdiri di depan pintunya adalah aku.
Di tanganku ada tongkat bisbol tua yang selama bertahun-tahun tersimpan di gudang.

Dan beberapa langkah di belakang Arga, berdiri ayahnya sendiri dengan sebuah amplop tebal berisi bukti bahwa putriku bukanlah perempuan pertama yang pernah menjadi korban perilaku Arga.
Namaku Hendra Pratama.
Selama hampir dua puluh tahun, aku hanyalah seorang peternak sapi dan pemilik kebun kecil di pinggiran Bogor, Jawa Barat.
Aku bangun sebelum matahari terbit.
Memberi makan ternak.
Memperbaiki pagar.
Mengangkut rumput.
Sesekali pergi ke pasar ternak.
Aku bukan orang yang suka berbicara keras.
Aku juga tidak suka memamerkan apa yang kumiliki.
Karena itu, bagi orang seperti Arga Wijaya, aku terlihat seperti lelaki desa biasa yang tidak punya pengaruh.
Arga membuat satu kesalahan besar.
Dia mengira diam berarti lemah.
Pukul dua lewat tujuh belas menit dini hari, anjingku mulai menggonggong tanpa henti di depan rumah.
Awalnya kukira ada orang lewat di jalan kecil depan kebun.
Namun gonggongannya berbeda.
Aku bangun, menyalakan lampu teras, lalu membuka pintu.
Darahku seolah berhenti mengalir.
Putriku, Nadira, terbaring di teras.
Tanpa alas kaki.
Wajahnya penuh memar.
Satu matanya membengkak hingga hampir tertutup.
Bibirnya pecah.
Gaun rumah yang dikenakannya kusut dan kotor.
Setiap kali menarik napas, tangannya langsung memegangi sisi tubuhnya karena kesakitan.
“Nadira…”
Aku berlutut.
Matanya yang masih bisa terbuka perlahan menatapku.
“Bapak…”
Hanya satu kata itu.
Dan aku merasa seperti kembali melihatnya ketika masih berumur lima tahun, berlari ke arahku setiap kali lututnya terluka setelah jatuh dari sepeda.
Aku mengangkat tubuh putriku dan membawanya masuk.
Dia terus berbisik.
“Maaf, Pak…”
“Sudah.”
“Maaf…”
“Jangan minta maaf.”
Aku membaringkannya di sofa ruang keluarga.
Tanganku gemetar ketika menghubungi Dokter Budi, seorang dokter keluarga yang tinggal tidak jauh dari rumah kami dan sudah mengenal Nadira sejak kecil.
Dia datang tidak sampai setengah jam kemudian.
Setelah memeriksa Nadira, ekspresi wajahnya berubah serius.
Dia menyuruhku menyiapkan mobil karena Nadira harus diperiksa lebih lanjut di rumah sakit.
Namun sebelum obat pereda nyeri membuatnya tertidur, Nadira tiba-tiba meraih pergelangan tanganku.
“Bapak…”
“Iya.”
“Arga bilang… tidak akan ada yang percaya padaku.”
Aku menatapnya.
Air mata mengalir dari sudut mata yang tidak membengkak.
“Dia bilang aku boleh lari pulang ke bapakku yang cuma petani kampung.”
Nadira menarik napas pendek.
“Katanya Bapak bukan siapa-siapa.”
Aku tidak menjawab.
Ada sesuatu di dalam diriku yang tiba-tiba menjadi sangat tenang.
Terlalu tenang.
Aku menunggu sampai Nadira tertidur.
Dokter Budi tetap berada di sampingnya.
Aku masuk ke kamar.
Di belakang lemari tua, ada tongkat bisbol kayu yang dulu sering kugunakan bermain dengan Nadira dan adiknya ketika mereka masih kecil.
Aku mengambilnya.
Bukan karena aku ingin menggunakannya.
Aku hanya ingin Arga memahami satu hal ketika melihat wajahku malam itu.
Aku tidak datang untuk meminta belas kasihan.
Rumah Arga berada di kawasan perumahan mewah di Sentul City, berdiri di bagian atas bukit dengan halaman luas, pagar tinggi, dan lampu taman yang menyala terang di tengah malam.
Sebagian uang muka rumah itu berasal dariku.
Tidak banyak orang yang mengetahuinya.
Ketika Nadira menikah, aku memberikan sejumlah tabungan yang kukumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil menjual tanah dan ternak.
Aku tidak pernah meminta namaku dicantumkan.
Aku hanya ingin anakku memiliki rumah yang baik.
Arga rupanya menganggap kebaikanku sebagai kebodohan.
Aku menekan bel.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.
Arga berdiri di sana mengenakan jubah tidur mahal.
Ketika melihatku, dia tersenyum.
Senyuman mengejek.
“Wah.”
Dia menyandarkan bahunya ke kusen pintu.
“Nadira kirim Bapak ke sini untuk memohon?”
Aku mengangkat tongkat bisbol itu sedikit.
Senyumnya langsung menghilang.
“Bukan.”
Aku maju satu langkah.
“Aku datang untuk mendengar pengakuanmu.”
Wajahnya berubah.
“Apa maksud Bapak?”
“Kau tahu maksudku.”
Arga menghela napas dan memutar mata.
“Kalau Nadira cerita macam-macam, jangan langsung percaya. Dia sedang emosional.”
“Emosional?”
“Suami istri bertengkar itu biasa.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Putriku datang ke rumahku tanpa alas kaki dan hampir tidak bisa bernapas.”
Arga tertawa kecil.
“Dia memang suka melebih-lebihkan.”
Tanganku mencengkeram tongkat itu semakin erat.
Lalu terdengar suara dari dalam rumah.
“Hendra.”
Aku mengenal suara itu.
Seorang lelaki tua muncul dari balik ruang keluarga.
Surya Wijaya.
Ayah Arga.
Seorang pengusaha yang selama puluhan tahun membangun perusahaan distribusi besar di Jakarta.
“Taruh tongkat itu,” katanya.
Arga langsung kembali percaya diri.
Dia tersenyum dan menunjuk ayahnya.
“Lihat?”
“Bahkan Ayah tahu Bapak sudah kelewatan.”
“Orang seperti Bapak tidak mengerti bagaimana menyelesaikan masalah keluarga seperti ini.”
Namun ada sesuatu yang aneh.
Surya tidak melihatku.
Dia menatap putranya sendiri.
Wajah lelaki tua itu pucat.
Kemudian Surya berjalan menuju meja ruang tamu.
Di tangannya ada sebuah amplop cokelat tebal.
Dia meletakkannya perlahan.
“Buka.”
Arga mengerutkan kening.
“Apa ini?”
Surya membalik amplop tersebut.
Sejumlah foto jatuh ke atas meja.
Aku tidak bergerak.
Ada foto wajah perempuan dengan memar.
Salinan laporan rumah sakit.
Dokumen pengaduan.
Rekaman percakapan yang dicetak.
Dan beberapa berkas dengan nama perempuan berbeda.
Satu.
Dua.
Tiga.
Tiga perempuan.
Wajah Arga langsung kehilangan warna.
“Apa ini?”
Suara Surya bergetar.
“Hal-hal yang selama enam tahun terakhir Ayah sembunyikan demi melindungimu.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Aku menoleh ke arah Surya.
“Kau tahu?”
Surya menundukkan kepala.
Tidak berani menatapku.
“Aku tahu sebagian.”
“Sebagian?”
“Aku selalu berpikir Arga bisa berubah.”
Tanganku kembali mencengkeram tongkat kayu itu.
Surya mengusap wajahnya.
“Perempuan pertama membuat laporan enam tahun lalu.”
“Keluarga kami menyelesaikannya.”
“Yang kedua terjadi dua tahun kemudian.”
“Aku kembali turun tangan.”
“Yang ketiga…”
Dia berhenti.
“Aku menyuruh pengacara perusahaan membereskan semuanya.”
Aku menatapnya lama.
“Kau melindungi anakmu.”
Surya mengangguk perlahan.
“Aku melindungi anakku.”
Aku mendekatinya satu langkah.
“Dan karena kau melindungi anakmu…”
Suaraku tetap rendah.
“…anakku hampir kehilangan nyawanya malam ini.”
Surya menutup mata.
“Aku tahu.”
Arga tiba-tiba mengambil beberapa dokumen dari meja.
“Omong kosong!”
Dia melemparkannya kembali.
“Mereka semua perempuan gila yang mencari uang!”
Surya menatap putranya.
Untuk pertama kalinya malam itu, ada rasa jijik di matanya.
“Aku mengatakan kalimat yang sama selama enam tahun.”
Arga terdiam.
Surya melanjutkan.
“Aku menyalahkan mereka.”
“Aku membayar pengacara.”
“Aku menekan orang-orang supaya diam.”
“Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa darah dagingku tidak mungkin seperti itu.”
Kemudian Surya menunjuk ke arah pintu.
“Tapi malam ini aku melihat rekaman kamera keamanan rumah ini.”
Arga membeku.
Aku menatapnya.
Surya berkata pelan.
“Aku melihat semuanya.”
Tiba-tiba cahaya terang menyapu jendela ruang tamu.
Satu mobil.
Kemudian dua.
Kemudian tiga.
Arga menoleh cepat ke luar.
Beberapa kendaraan polisi sedang naik menuju rumahnya.
Wajahnya berubah.
“Ayah…”
Surya tidak menjawab.
“Ayah, apa yang Ayah lakukan?”
Tidak ada jawaban.
Arga menatapku.
Aku berkata pelan,
“Aku percaya pada Nadira.”
Arga tertawa gugup.
“Percaya?”
Dia menunjuk dirinya sendiri.
“Ini hanya perkataan dia melawan perkataanku.”
“Aku punya pengacara.”
“Aku punya saksi.”
“Aku bisa bilang dia jatuh.”
“Tidak ada yang bisa membuktikan—”
Sebuah mobil lain berhenti di depan rumah.
Pintunya terbuka.
Aku menoleh.
Nadira turun dengan hati-hati.
Dokter Budi berjalan di sampingnya.
Aku terkejut.
“Nadira?”
Dia seharusnya berada di rumah sakit.
Tetapi putriku berdiri di sana dengan selimut tipis menutupi bahunya.
Wajahnya masih bengkak.
Langkahnya masih lemah.
Namun tatapan matanya berbeda.
Dia tidak lagi terlihat seperti perempuan yang datang ke terasku sambil meminta maaf.
Ada sesuatu yang telah kembali ke dalam dirinya.
Keberanian.
Di tangannya ada sebuah ponsel.
Arga secara refleks meraba saku jubahnya.
Kosong.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenal lelaki itu…
Aku melihat ketakutan sungguhan di wajahnya.
“Nadira…”
Nadira berjalan mendekat.
Dia mengangkat ponsel tersebut.
Ponsel milik suaminya.
Arga mundur satu langkah.
“Dari mana kamu dapat itu?”
Nadira menatapnya lurus.
Kemudian dia berkata dengan suara tenang,
“Seharusnya kamu menghapus video-videonya, Arga.”
Wajah Arga seketika pucat.
Surya menatap putranya.
Aku menatap ponsel di tangan Nadira.
Polisi mulai memasuki halaman.
Namun tidak seorang pun di ruangan itu tahu bahwa apa yang tersimpan di dalam ponsel tersebut jauh lebih besar daripada tiga laporan yang selama bertahun-tahun disembunyikan keluarga Wijaya.
Karena ketika Nadira membuka folder rahasia di ponsel suaminya…
kami akhirnya mengetahui alasan sebenarnya mengapa tiga perempuan sebelum dirinya memilih diam.
Dan bukti itu bukan hanya akan menghancurkan kehidupan Arga.
Bukti itu juga bisa menyeret seseorang yang selama ini berdiri sangat dekat dengannya.
Seseorang yang bahkan belum kami curigai.
BAGIAN 2
Ruangan itu membeku.
Arga menatap ponsel di tangan Nadira seperti menatap bom yang baru saja kehilangan pengamannya.
“Apa yang kamu buka?”
Nadira tidak menjawab.
Dia hanya memegang ponsel itu lebih erat.
Dua polisi masuk lebih dulu bersama seorang penyidik perempuan bernama Kompol Ratih Sari.
Ratih melihat wajah Nadira, lalu Arga, lalu dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja.
“Pak Arga Wijaya?”
Arga menarik napas.
“Saya akan bicara setelah pengacara saya datang.”
Ratih mengangguk tenang.
“Itu hak Anda.”
Lalu dia menoleh pada Nadira.
“Ibu Nadira, ponselnya jangan disentuh lagi.”
Nadira menyerahkannya.
Arga langsung berkata,
“Itu ponsel saya. Dia mengambil tanpa izin.”
Ratih menerima ponsel itu dengan sarung tangan.
“Masalah kepemilikan bisa dibicarakan nanti.”
Tatapan Ratih menjadi dingin.
“Sekarang kami lebih tertarik pada isinya.”
Arga tertawa pendek.
Terlalu cepat.
Terlalu keras.
“Apa? Video pertengkaran suami istri?”
Nadira memandangnya.
“Kamu masih mau menyebutnya pertengkaran?”
Arga menoleh padanya.
“Nadira, berhenti membuat semuanya lebih buruk.”
Aku hampir bergerak maju.
Tetapi tangan Surya menahan lenganku.
Aku menoleh.
Ayah Arga itu menggeleng pelan.
Untuk pertama kalinya, aku mengerti apa yang dia maksud.
Malam ini bukan tentang amarahku.
Bukan tentang tongkat kayu di tanganku.
Ini tentang membiarkan Arga menghancurkan dirinya sendiri dengan kebenaran.
Ratih meminta salah satu petugas memotret seluruh isi ruangan.
Dokumen.
Amplop.
Laptop Surya.
Ponsel.
CCTV.
Semuanya.
Kemudian dia bertanya pada Nadira,
“Apa yang Anda lihat di ponsel itu?”
Nadira duduk perlahan.
Dokter Budi membantunya.
Tangannya masih gemetar.
Namun suaranya tidak.
“Ada folder tersembunyi.”
Ratih mencatat.
“Namanya?”
“Archive.”
Arga mendadak berkata,
“Itu folder pekerjaan.”
Nadira menatapnya.
“Benarkah?”
Dia lalu menoleh kembali pada Ratih.
“Di dalamnya ada video.”
“Video apa?”
Nadira berhenti beberapa detik.
Aku melihat rahangnya mengeras.
“Video perempuan.”
Ruangan menjadi sunyi lagi.
“Ada rekaman mereka saat menangis.”
“Ada rekaman pertengkaran.”
“Ada foto luka.”
“Ada rekaman Arga memaksa mereka meminta maaf di depan kamera.”
Surya menutup wajahnya.
Nadira melanjutkan.
“Dan ada satu folder lain.”
Ratih bertanya,
“Isinya?”
“Transfer bank.”
Arga langsung menoleh pada ayahnya.
Aku melihat perubahan kecil itu.
Seketika.
Seperti seseorang yang baru sadar bahwa pintu belakang juga sudah terkunci.
Ratih menangkapnya.
“Transfer ke siapa?”
Nadira menjawab,
“Ke beberapa nama yang sama dengan nama perempuan di laporan milik Pak Surya.”
Surya mengangkat kepala.
“Apa?”
Nadira menatapnya.
“Bukan dari rekening Arga.”
“Lalu?”
Nadira menarik napas.
“Dari rekening perusahaan.”
Wajah Surya berubah.
“Apa maksudmu?”
Arga berdiri tiba-tiba.
“Itu omong kosong!”
Petugas langsung bergerak mendekat.
Ratih mengangkat telapak tangannya.
“Silakan duduk, Pak Arga.”
“Ayah, jangan percaya dia!”
Surya masih menatap Nadira.
“Rekening perusahaan yang mana?”
Nadira menjawab pelan,
“Wijaya Distribusi Utama.”
Surya seperti kehilangan tenaga.
Dia duduk.
Arga mulai bicara cepat.
“Itu bukan seperti yang kalian pikirkan.”
Ratih menatapnya.
“Padahal tadi Bapak tidak mau bicara tanpa pengacara.”
Arga menutup mulut.
Ratih kembali pada Nadira.
“Bagaimana Anda tahu itu rekening perusahaan?”
“Aku pernah membantu memeriksa laporan pajak keluarga setelah kami menikah.”
Arga menggeram,
“Kamu tidak punya hak menyentuh urusan bisnisku.”
Nadira menatapnya.
“Urusan bisnis?”
Dia tersenyum tipis.
“Jadi sekarang kamu mengaku transfer itu memang ada?”
Arga terdiam.
Aku memandang putriku.
Di tengah wajah bengkak dan tubuh yang masih sakit, pikirannya tetap bekerja.
Dan anehnya, pada saat itu aku merasa malu.
Bukan pada Nadira.
Pada diriku sendiri.
Karena selama bertahun-tahun aku selalu berpikir tugasku sebagai ayah adalah melindunginya.
Malam itu aku baru sadar bahwa kadang tugas seorang ayah adalah memberi ruang agar anaknya bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Ratih meminta Nadira menjelaskan lebih jauh.
Nadira berkata,
“Aku hanya melihat beberapa menit sebelum datang ke sini.”
“Ada spreadsheet.”
“Nama perempuan.”
“Tanggal.”
“Jumlah pembayaran.”
“Dan satu kolom bertuliskan ‘resolved’.”
Surya berdiri.
“Tidak mungkin.”
Nadira menatapnya.
“Pak Surya, saya juga melihat nama perusahaan hukum yang selama ini Anda gunakan.”
Surya mundur satu langkah.
Arga segera berkata,
“Lihat? Dia sedang mencoba menyeret Ayah!”
Tetapi Nadira justru berkata,
“Saya tidak bilang Pak Surya membuat daftar itu.”
“Apa bedanya?”
“Karena nama Pak Surya juga ada di sana.”
Semua mata tertuju pada Nadira.
Surya tampak tidak mengerti.
“Namaku?”
Nadira mengangguk.
“Di bawah bagian approval.”
Surya memejamkan mata.
Arga tersenyum.
Itu senyum pertama yang muncul kembali di wajahnya.
“Sudah kubilang.”
Dia menunjuk ayahnya.
“Dia tahu semuanya.”
Aku menatap Surya.
Namun Nadira belum selesai.
“Tapi ada masalah.”
Arga berhenti tersenyum.
Nadira berkata,
“Beberapa approval menggunakan tanda tangan digital yang tanggalnya tidak cocok.”
Ratih mengernyit.
“Tidak cocok bagaimana?”
Nadira menjawab,
“Ada persetujuan yang dibuat saat Pak Surya sedang dirawat karena serangan jantung dua tahun lalu.”
Surya menatapnya tajam.
“Apa?”
“Ada juga approval saat beliau berada di Singapura.”
Surya berbisik,
“Saya memang di sana.”
Nadira mengangguk.
“Jadi kemungkinan tanda tangannya disalin.”
Aku melihat Arga.
Wajahnya memucat.
Ratih tidak mengatakan apa-apa.
Dia hanya mencatat.
Kemudian satu kalimat Surya membuat segalanya berubah.
“Arga punya akses ke token perusahaan.”
Arga membentak,
“Ayah!”
Surya menatap putranya.
Matanya mulai merah.
“Kau punya akses karena aku percaya padamu.”
Arga berdiri.
“Kalian semua gila.”
“Kau memakai tanda tanganku?”
Tidak ada jawaban.
“Arga!”
“Aku cuma menyelesaikan masalah!”
Surya terdiam.
Arga baru sadar apa yang telah keluar dari mulutnya.
Ratih menatapnya.
“Masalah apa yang Anda selesaikan?”
Arga melihat sekeliling.
“Aku tidak bilang apa-apa.”
Tetapi semuanya sudah terlambat.
Pemeriksaan resmi berlangsung hingga menjelang pagi.
Aku menemani Nadira ke rumah sakit.
Arga dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Surya ikut ke kantor polisi secara sukarela.
Sementara itu, tim penyidik menyita beberapa perangkat elektronik dari rumah Arga.
Namun kejutan sebenarnya baru muncul dua hari kemudian.
Nadira sedang dirawat di rumah sakit Bogor ketika Ratih datang membawa kabar.
Aku sedang duduk di samping ranjangnya, mengupas jeruk.
Ratih menutup pintu.
“Pak Hendra, Bu Nadira, kami menemukan sesuatu.”
Nadira menegakkan tubuh.
“Apa?”
Ratih duduk.
“Folder di ponsel Pak Arga berisi lebih dari yang Anda lihat.”
Aku meletakkan pisau kecil di meja.
“Berapa banyak perempuan?”
Ratih diam sebentar.
“Tujuh.”
Nadira menutup mata.
Tujuh.
Bukan tiga.
Tujuh.
Ratih melanjutkan.
“Tapi itu belum semuanya.”
“Ada catatan pembayaran perusahaan senilai miliaran rupiah selama enam tahun.”
“Untuk membayar kompensasi?”
“Sebagian.”
“Sebagian lagi?”
Ratih memandang Nadira.
“Untuk membayar orang-orang yang membantu membuat laporan hilang.”
Darahku terasa dingin.
“Polisi?”
Ratih tidak langsung menjawab.
“Kami sedang menyelidiki beberapa nama.”
Aku memahami maksudnya.
Korupsi.
Penghilangan bukti.
Pemalsuan dokumen.
Arga tidak hanya menyakiti perempuan.
Dia telah membangun sistem agar mereka tidak pernah bisa melawan.
Nadira bertanya,
“Apakah Pak Surya terlibat?”
Ratih menghela napas.
“Beliau mengakui bahwa tiga kasus pertama memang dia ketahui.”
Nadira menunduk.
“Tapi?”
“Beliau mengira uang penyelesaian berasal dari rekening pribadinya.”
Aku menatap Ratih.
“Arga memakai perusahaan?”
“Ya.”
“Dan memalsukan persetujuan ayahnya?”
“Indikasinya kuat.”
Aku hampir merasa kasihan pada Surya.
Hampir.
Karena fakta bahwa Arga menipu ayahnya tidak menghapus satu kenyataan.
Surya pernah memilih diam.
Tiga kali.
Dan akibat diam itulah Arga belajar bahwa dia bisa melakukan apa saja.
Ratih berdiri.
“Satu hal lagi.”
Nadira menatapnya.
“Video terakhir.”
“Apa?”
“Video malam ketika Arga menyerang Anda.”
Nadira menegang.
“Itu bukan direkam oleh ponsel Arga.”
Aku mengernyit.
“Lalu?”
Ratih menjawab,
“Kamera rumah.”
“Tapi Pak Surya bilang dia sudah melihat CCTV.”
“Benar.”
Ratih menarik napas.
“Tapi ada kamera kedua.”
Nadira tampak bingung.
“Aku tidak tahu ada kamera kedua.”
Ratih berkata,
“Kamera tersembunyi di ruang keluarga.”
“Siapa yang memasangnya?”
Ratih menatap Nadira.
“Pembantu rumah tangga Anda.”
Aku dan Nadira saling menatap.
“Mbak Siti?”
Ratih mengangguk.
Nama lengkapnya Siti Rahmawati.
Dia sudah bekerja di rumah Nadira hampir empat tahun.
Perempuan berusia empat puluh tiga tahun asal Cianjur.
Pendiam.
Rajin.
Jarang ikut urusan majikan.
Aku pernah bertemu dengannya berkali-kali.
Tidak pernah sekalipun terpikir olehku bahwa dia sedang mengumpulkan bukti.
Ternyata Siti telah melihat terlalu banyak.
Bukan hanya yang terjadi pada Nadira.
Arga sering membawa perempuan lain ke rumah ketika Nadira sedang keluar kota.
Beberapa datang dengan sukarela.
Beberapa pulang sambil menangis.
Siti pernah mencoba bicara pada Nadira.
Tapi Arga mengetahui.
Dia mengancam akan membuat anak Siti kehilangan beasiswa sekolah.
Setelah itu Siti diam.
Namun dia memasang kamera kecil.
Bukan untuk memeras.
Bukan untuk mengintip.
Dia menyimpan rekaman untuk hari ketika seseorang akhirnya berani melawan.
Ratih mengatakan,
“Siti menyerahkan semua rekaman tadi pagi.”
Nadira bertanya,
“Kenapa sekarang?”
Ratih menatapnya.
“Karena dia melihat Anda pulang tanpa alas kaki.”
Nadira menangis.
Bukan tangis keras.
Air matanya turun begitu saja.
Aku meraih tangannya.
Ratih melanjutkan,
“Dia berkata, ‘Kalau saya diam lagi, berarti saya ikut membiarkan.’”
Itulah kalimat yang kemudian tidak pernah kulupakan.
Tiga bulan berikutnya mengubah hidup semua orang.
Kasus Arga menjadi besar.
Bukan karena nama keluarganya.
Bukan karena kekayaan.
Tetapi karena jumlah bukti.
Tujuh perempuan akhirnya memberikan keterangan.
Dua sebelumnya telah pindah kota.
Satu tinggal di luar negeri.
Salah satunya datang ke kantor polisi sambil membawa map tua yang telah dia simpan enam tahun.
Ketika Nadira bertemu mereka untuk pertama kali, dia tidak tahu harus berkata apa.
Mereka duduk melingkar di ruang konsultasi.
Tidak ada musik.
Tidak ada kamera.
Tidak ada pidato dramatis.
Hanya delapan perempuan yang memiliki satu kesamaan.
Mereka pernah dibuat percaya bahwa mereka sendirian.
Perempuan pertama bernama Maya.
Dia menatap Nadira dan berkata,
“Aku minta maaf.”
Nadira mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena dulu aku menerima uang dan pergi.”
Nadira menggeleng.
“Mbak Maya tidak berutang maaf pada saya.”
Maya menangis.
“Aku berpikir kalau aku melapor sampai selesai, mungkin dia tidak akan melakukan ini pada orang lain.”
Nadira menggenggam tangannya.
“Yang salah bukan Mbak.”
Aku berdiri di luar ruangan ketika mendengar percakapan itu.
Dan aku sadar betapa berbahayanya rasa malu.
Orang jahat sering tidak membutuhkan penjara untuk membungkam korbannya.
Mereka hanya perlu membuat korban merasa bahwa semua itu adalah kesalahannya sendiri.
Surya datang ke rumahku enam bulan setelah malam itu.
Tidak ada sopir.
Tidak ada mobil mewah.
Dia datang sendiri dengan kendaraan tua.
Aku sedang memperbaiki pagar.
Dia berdiri beberapa meter dariku.
“Hendra.”
Aku terus bekerja.
“Apa?”
“Aku ingin bicara.”
“Kau sedang bicara.”
Dia menunduk.
“Aku menjual sahamku.”
Aku berhenti.
“Kenapa memberitahuku?”
“Sebagian uangnya akan masuk ke dana bantuan hukum untuk korban kekerasan.”
Aku memandangnya.
“Kalau kau datang untuk meminta pengampunan dariku, kau salah alamat.”
“Aku tahu.”
Dia mengangguk.
“Aku tidak datang untuk itu.”
Surya menarik sebuah amplop.
Aku langsung mengernyit.
“Aku tidak mau uangmu.”
“Bukan uang.”
Dia menyerahkannya.
Di dalam ada surat.
Tulisan tangan.
Ditujukan kepada Nadira.
“Apa?”
“Pengakuanku.”
“Semua kasus yang kututupi.”
“Semua nama pengacara.”
“Semua pembayaran yang aku setujui.”
“Kenapa?”
Surya memandang ladang di belakang rumahku.
“Karena anakku menjadi monster bukan karena aku tidak tahu siapa dia.”
Dia menatapku.
“Dia menjadi monster karena setiap kali aku melihat siapa dia sebenarnya, aku membayar agar dunia pura-pura tidak melihat.”
Aku tidak menjawab.
Surya menelan ludah.
“Aku selalu bilang aku melindungi keluarga.”
“Padahal aku cuma melindungi nama keluarga.”
Dia tersenyum getir.
“Sekarang nama itu tidak berarti apa-apa.”
Untuk pertama kalinya aku tidak melihat pengusaha kaya di depanku.
Aku melihat seorang ayah tua yang akhirnya sadar bahwa cinta tanpa batas bisa berubah menjadi izin untuk menghancurkan orang lain.
Sidang berlangsung hampir setahun.
Aku tidak akan menceritakan semua detailnya.
Yang penting, Arga tidak bisa lagi bersembunyi di balik uang.
Bukti digital.
Rekaman CCTV.
Kesaksian para korban.
Pemalsuan dokumen.
Penyelewengan dana perusahaan.
Semuanya saling mengunci.
Dia dijatuhi hukuman berat.
Beberapa orang lain yang membantu menutupi perbuatannya juga diperiksa dan diproses.
Surya tidak lolos dari konsekuensi.
Dia memang bukan pelaku utama.
Tetapi perannya dalam tiga kasus awal tetap diperhitungkan.
Dia kehilangan jabatan.
Sebagian besar reputasinya.
Dan hampir semua hubungan sosial yang dulu dia banggakan.
Namun ada satu hal yang paling mengejutkanku.
Ketika hakim memberi kesempatan pada Nadira untuk membacakan pernyataan korban, putriku berdiri.
Aku duduk di baris belakang.
Tanganku berkeringat.
Aku pikir Nadira akan bicara tentang malam dia pulang ke rumah.
Tentang luka.
Tentang penghinaan.
Ternyata tidak.
Dia menatap Arga.
Lalu berkata,
“Aku tidak datang untuk memastikan kamu menderita.”
Arga menatapnya.
“Aku datang supaya setelah hari ini, tidak ada perempuan lain yang harus berlari pulang tanpa alas kaki karena takut pada kamu.”
Ruangan hening.
“Kamu pernah bilang ayahku bukan siapa-siapa.”
Nadira menoleh kepadaku.
Aku menahan napas.
“Dan selama beberapa tahun aku juga percaya kekuasaan seperti milikmu lebih penting daripada kehidupan sederhana seperti milik Bapak.”
Dia tersenyum tipis.
“Ternyata aku salah.”
Arga menundukkan kepala.
Nadira melanjutkan,
“Bapak tidak menyelamatkanku dengan uang.”
“Bapak tidak menyelamatkanku dengan jabatan.”
“Dia menyelamatkanku karena ketika semua orang lain mungkin bertanya ‘apa yang kamu lakukan sampai suamimu marah?’, Bapak cuma berkata satu hal.”
Suara Nadira bergetar.
“Jangan minta maaf.”
Aku menunduk.
Aku tidak ingin orang melihat air mataku.
Dua tahun kemudian, rumah mewah di Sentul itu dijual.
Aku tidak pernah kembali ke sana.
Nadira juga tidak.
Dia memilih tinggal di sebuah rumah sederhana dekat Bogor.
Tidak besar.
Tapi memiliki halaman.
Dan yang paling penting, semua pintunya terasa aman.
Dia kembali bekerja.
Pelan-pelan.
Kemudian dia mendirikan sebuah lembaga kecil bersama Maya, Siti, dan dua perempuan lain.
Namanya Rumah Pulang.
Tempat bagi perempuan yang perlu bantuan hukum sementara, tempat tinggal darurat, atau sekadar seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Suatu sore aku datang membawa sayuran dari kebun.
Di depan kantor kecil mereka ada beberapa perempuan sedang duduk sambil minum teh.
Nadira keluar.
“Bapak.”
“Aku bawa cabai.”
Dia tertawa.
“Hanya Bapak yang datang ke pusat bantuan hukum bawa cabai satu karung.”
“Mahal sekarang.”
“Bapak…”
Aku tertawa.
Dia memelukku.
Kemudian seorang perempuan muda keluar dari pintu.
Wajahnya penuh kecemasan.
Dia melihat Nadira.
“Mbak, saya takut pulang.”
Nadira melepaskan pelukannya dariku.
Lalu dia berjalan ke arah perempuan itu.
Aku berdiri beberapa meter jauhnya.
Nadira berkata,
“Tidak apa-apa.”
Perempuan itu menangis.
“Saya bodoh sekali.”
Nadira menggeleng.
“Jangan bilang begitu.”
“Saya harusnya sadar dari awal.”
Nadira memegang tangannya.
Dan kemudian aku mendengar putriku mengatakan kalimat yang pernah kukatakan padanya di malam paling buruk dalam hidup kami.
“Jangan minta maaf.”
Aku menoleh ke halaman.
Entah kenapa, aku tersenyum.
Malam ketika Nadira datang ke rumahku, aku mengira kisah kami dimulai dengan seorang ayah yang harus menyelamatkan putrinya.
Aku salah.
Ternyata kisah itu adalah tentang seorang perempuan yang perlahan belajar menyelamatkan dirinya sendiri.
Dan kemudian menggunakan luka yang pernah hampir menghancurkannya untuk membuka pintu bagi orang lain.
Arga pernah menyebutku hanya petani kampung.
Mungkin dia benar.
Aku memang petani.
Aku masih bangun sebelum matahari.
Masih memperbaiki pagar.
Masih memberi makan sapi.
Masih memakai sepatu bot yang sama sampai solnya habis.
Tapi sekarang aku tahu satu hal.
Kekuatan tidak selalu tinggal di rumah besar.
Tidak selalu memakai jas mahal.
Tidak selalu punya nama keluarga terkenal.
Kadang kekuatan adalah rumah kecil dengan lampu teras menyala pukul dua pagi.
Kadang kekuatan adalah seorang ayah yang membuka pintu tanpa bertanya terlalu banyak.
Dan kadang kekuatan adalah seorang perempuan yang suatu malam pulang dengan kaki telanjang…
lalu beberapa tahun kemudian berdiri di depan pintu yang sama untuk memastikan perempuan lain tidak perlu pulang sendirian.
TAMAT.
