KAKAKKU MELEMPAR SEPATU KE ISTRIKU YANG HAMIL 7 BULAN KARENA DUDUK DI “KURSINYA” — IBU MALAH MENYURUH ISTRIKU DUDUK DI LANTAI, JADI BESOKNYA AKU MENJUAL RUMAH YANG MEREKA KIRA MILIK MEREKA
Kakak perempuanku melempar sepatu ke arah istriku yang sedang hamil tujuh bulan hanya karena istriku duduk di “kursi miliknya” di rumah orang tuaku.
Ayah malah tertawa.
“Ah, hormon orang hamil. Jangan dibesar-besarkan.”
Lalu Ibu menatap istriku dan berkata dengan santai,
“Nadira, lain kali mungkin kamu duduk saja di lantai. Kamu kan tahu bagaimana sifat Rani.”
Nadira tidak membalas.

Dia hanya mengambil cardigan dan tasnya.
Aku mengambil kunci mobil.
Lalu ponselku.
Di depan mereka semua, aku menelepon agen properti yang selama ini mengurus beberapa investasiku.
“Pak Arief? Rumah di Sentul itu. Tolong mulai proses penjualannya.”
Dia terdiam beberapa detik.
“Rumah yang sekarang ditempati keluarga Mas?”
“Ya.”
“Kapan mau dipasarkan?”
“Besok pagi.”
Ketika papan DIJUAL akhirnya berdiri di halaman rumah pada Senin pagi, keluargaku baru menyadari satu hal yang sudah mereka lupakan selama bertahun-tahun.
Rumah itu bukan milik mereka.
Rumah itu milikku.
Namaku Hendra Pratama.
Usiaku tiga puluh delapan tahun. Aku mengelola tiga restoran yang cukup ramai di Jakarta, Bogor, dan Tangerang.
Bekerja di dunia restoran membuat kesabaranku terlatih.
Aku pernah menghadapi koki yang menghilang lima menit sebelum jam makan malam.
Pelanggan yang marah karena meja favoritnya sudah ditempati.
Supplier yang terlambat mengirim bahan saat restoran penuh.
Karyawan yang tiba-tiba mengundurkan diri menjelang Lebaran.
Aku pikir aku sudah cukup sabar menghadapi manusia.
Ternyata keluargaku sendiri yang akhirnya membuat kesabaranku habis.
Semua bermula pada Sabtu sore.
Nadira dan aku datang ke rumah orang tuaku di Sentul City untuk makan malam keluarga.
Usia kandungan Nadira sudah memasuki tujuh bulan.
Perutnya semakin besar. Punggungnya sering sakit jika terlalu lama berdiri. Dokter bahkan sudah memintanya lebih banyak beristirahat karena beberapa minggu sebelumnya tekanan darahnya sempat naik.
Kami datang membawa buah, kue kesukaan Ibu, dan beberapa bahan makanan dari restoran.
Begitu masuk, aku langsung melihat kakakku, Rani.
Umurnya tiga puluh dua tahun.
Sudah sebelas tahun dia tinggal bersama Ayah dan Ibu.
Tidak bekerja tetap.
Tidak membayar listrik.
Tidak membayar air.
Tidak membayar iuran lingkungan.
Tidak pernah membeli beras sendiri.
Namun entah bagaimana, menurut orang tuaku, Rani adalah anak yang “sedang mencari jalan hidupnya.”
Sebelas tahun mencari jalan hidup.
Hebat juga.
Dalam sebelas tahun itu, Rani sudah mencoba setidaknya enam “bisnis.”
Pernah menjual skincare secara online selama dua bulan.
Pernah ingin membuka kedai kopi, tetapi berhenti setelah tahu harus bangun pagi.
Pernah menjadi reseller pakaian.
Pernah membuat akun konsultasi “healing”.
Pernah mengaku ingin menjadi content creator.
Terakhir, dia sedang merintis bisnis hampers premium.
Modalnya?
Dari Ibu.
Barang yang tidak laku?
Disimpan di gudang rumah.
Utang supplier?
Biasanya Ayah meneleponku.
Sementara itu, aku adalah anak yang mereka hubungi ketika AC rusak.
Atap bocor.
Pompa air mati.
Pajak rumah jatuh tempo.
Mobil Ayah harus masuk bengkel.
Atau Rani “butuh modal sedikit.”
Di keluargaku, Rani adalah anak emas.
Aku adalah nomor layanan pelanggan.
Hari itu, setelah hampir satu jam membantu Ibu di dapur, Nadira terlihat lelah.
Aku menyuruhnya beristirahat.
Di ruang keluarga ada beberapa tempat duduk.
Sofa panjang ditempati Ayah.
Sofa kecil penuh dengan tas belanja Rani.
Ada satu kursi recliner besar dekat jendela.
Kosong.
Nadira duduk di sana.
Dia bahkan baru sempat menyandarkan punggung selama mungkin tiga menit ketika Rani masuk dari dapur.
Rani berhenti.
Menatap Nadira.
Kemudian menatap kursi itu.
“Kenapa kamu duduk di situ?”
Nada suaranya membuatku langsung menoleh.
Nadira tampak bingung.
“Punggungku agak sakit. Aku cuma mau duduk sebentar.”
“Itu kursiku.”
Nadira tersenyum kecil, mungkin mengira Rani bercanda.
“Oh. Maaf. Aku sebentar saja.”
Tetapi Rani tidak tersenyum.
“Aku bilang itu kursiku.”
Aku meletakkan gelas.
“Ran, ada banyak kursi lain.”
Dia menoleh kepadaku.
“Ini bukan urusanmu, Hendra.”
Aku hampir tertawa.
Rumah itu secara hukum milikku, tetapi ternyata kursinya bukan urusanku.
Nadira perlahan mencoba berdiri.
Aku langsung menghampirinya.
“Tidak usah. Duduk saja.”
Rani mendengus.
Kemudian sesuatu terjadi yang sampai sekarang masih sulit kupercaya.
Dia duduk di ujung sofa.
Melepas salah satu sepatunya.
Lalu melemparkannya ke arah Nadira.
Bukan menjatuhkan.
Bukan melempar pelan sebagai candaan.
Dia benar-benar melemparkannya.
Sepatu itu melayang melewati meja dan mengenai sisi lengan Nadira sebelum jatuh ke lantai.
Ruangan langsung sunyi.
Aku menatap Rani.
Nadira menatap sepatu itu.
Aku menunggu.
Menunggu Ayah berdiri.
Menunggu Ibu memarahi Rani.
Menunggu seseorang berkata,
“Kamu sudah gila? Dia sedang hamil!”
Yang terdengar justru tawa Ayah.
Ayah terkekeh sambil menonton televisi.
“Sudahlah. Hormon orang hamil memang bikin sensitif.”
Aku menatapnya.
“Ayah serius?”
Ayah mengangkat bahu.
“Kan cuma sepatu.”
Kemudian Ibu keluar dari dapur.
Dia melihat Rani.
Melihat sepatu di lantai.
Melihat Nadira yang wajahnya sudah pucat.
Dan kalimat yang keluar dari mulutnya adalah kalimat yang mengubah hubungan keluarga kami selamanya.
“Nadira, Sayang, lain kali mungkin kamu duduk saja di lantai kalau kursi Rani sedang kosong. Kamu tahu sendiri dia tidak suka kursinya dipakai orang.”
Aku tidak langsung menjawab.
Karena kalau aku membuka mulut saat itu, aku tahu sesuatu yang buruk akan keluar.
Aku melihat Nadira.
Matanya tidak berkaca-kaca.
Itu justru lebih buruk.
Dia hanya terlihat lelah.
Sangat lelah.
Bukan karena kehamilan.
Tetapi karena akhirnya memahami bahwa di rumah itu, perasaannya tidak pernah dianggap penting.
Nadira bangkit perlahan.
Dia mengambil tas dan cardigan-nya.
“Hendra, kita pulang.”
Hanya itu.
Aku mengambil kunci mobil.
Ayah masih menonton televisi.
Ibu kembali ke dapur.
Rani mengambil sepatunya, memasangnya lagi, kemudian duduk di recliner seperti seorang ratu yang baru berhasil mempertahankan takhtanya.
Saat hampir sampai di pintu, Rani berkata,
“Jangan drama, deh.”
Aku berhenti.
Menoleh.
Untuk sesaat aku ingin mengatakan semuanya.
Sebelas tahun.
Semua uang yang sudah kukeluarkan.
Semua tagihan yang kubayar.
Semua penghinaan yang selama ini kutelan.
Tetapi kemudian aku menyadari satu hal.
Tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang merasa berhak atas semuanya.
Jadi aku hanya berkata,
“Selamat menikmati kursimu.”
Aku dan Nadira keluar.
Begitu masuk ke dalam mobil, Nadira memalingkan wajah ke jendela.
Aku menggenggam tangannya.
“Maaf.”
Dia menggeleng.
“Kamu tidak melempar sepatunya.”
“Seharusnya aku menghentikan semua ini sejak lama.”
Nadira diam beberapa saat.
Kemudian berkata,
“Aku tidak mau anak kita nanti tumbuh melihat orang memperlakukan ibunya seperti itu.”
Kalimat itu jauh lebih keras daripada teriakan.
Karena dia benar.
Selama bertahun-tahun, aku menganggap perilaku keluargaku hanya sebagai kebiasaan menyebalkan.
Aku selalu berkata pada diriku sendiri:
Ayah memang begitu.
Ibu selalu membela Rani.
Rani memang manja.
Tidak usah diperpanjang.
Tetapi sesuatu yang dibiarkan terlalu lama akhirnya berubah menjadi izin.
Dan aku sadar bahwa diamku selama ini telah membuat mereka percaya bahwa semua yang kulakukan memang kewajibanku.
Ada satu fakta yang tampaknya sudah benar-benar dilupakan keluargaku.
Lima tahun sebelumnya, Ayah hampir kehilangan rumah itu.
Bisnis kecilnya bangkrut.
Pinjaman menumpuk.
Ada tunggakan pajak.
Rumah hampir dilelang bank.
Ibu meneleponku sambil menangis.
Aku datang.
Aku melunasi sisa pinjaman, membereskan beberapa utang, dan mengambil alih kepemilikan rumah secara resmi agar rumah tidak disita.
Saat itu nilainya sekitar Rp3,4 miliar.
Aku tidak pernah meminta uang sewa.
Aku membiarkan Ayah dan Ibu tetap tinggal di sana.
Bahkan Rani ikut tinggal.
Gratis.
Selama lima tahun.
Awalnya mereka selalu berkata,
“Terima kasih, Nak.”
Setahun kemudian berubah menjadi,
“Rumah keluarga.”
Dua tahun kemudian menjadi,
“Rumah kami.”
Setelah lima tahun, tampaknya mereka benar-benar lupa nama siapa yang tercantum di sertifikat.
Aku membuka kontak di ponsel.
Mencari nama seseorang.
Arief Santoso – Properti.
Dia agen yang membantuku membeli dua ruko dan menjual salah satu apartemen investasiku.
Telepon diangkat pada dering kedua.
“Mas Hendra?”
“Pak Arief, saya mau jual satu properti.”
“Yang mana?”
“Rumah di Sentul. Yang ditempati keluarga saya.”
Ada jeda.
Arief tahu sejarah rumah itu.
Dia bahkan membantu proses balik nama lima tahun lalu.
“Saya masih punya datanya,” katanya. “Ada masalah?”
Aku melihat melalui kaca spion.
Dari kejauhan, lampu rumah orang tuaku masih terlihat.
Di balik jendela ruang keluarga, aku bisa melihat Ayah membungkuk mengambil sesuatu dari lantai.
Sepatu Rani.
Dia menyerahkannya kepada Rani.
Lalu menepuk bahu putrinya dengan lembut.
Seolah-olah Rani adalah korban.
“Pasarkan rumah itu,” kataku.
“Harga pasar?”
“Harga pasar.”
“Kapan?”
“Secepatnya.”
Arief terdiam lagi.
“Penghuninya sudah tahu?”
“Belum.”
Aku mendengar dia menarik napas.
“Saya bisa datang besok pagi untuk foto bagian luar. Hari Senin papan dijual bisa dipasang.”
“Pasang dua.”
Arief tertawa kecil.
“Kenapa dua?”
“Karena saya punya firasat papan pertama tidak akan bertahan lama.”
Kali ini Arief benar-benar tertawa.
Kemudian suaranya kembali profesional.
“Baik. Senin pagi.”
Aku menutup telepon.
Nadira menatapku.
“Kamu serius?”
“Sangat serius.”
“Mereka akan marah.”
Aku menyalakan mesin mobil.
“Mereka tadi menyuruh istriku yang hamil tujuh bulan duduk di lantai supaya kakakku bisa mempertahankan kursi favoritnya.”
Aku menatapnya.
“Menurutmu aku masih peduli kalau mereka marah?”
Untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah itu, Nadira tersenyum.
Kecil.
Namun cukup untuk membuatku yakin aku mengambil keputusan yang benar.
Minggu berlalu tanpa telepon.
Tidak ada permintaan maaf.
Tidak ada pesan dari Ibu.
Tidak ada telepon dari Ayah.
Tidak ada WhatsApp dari Rani.
Dalam pikiran mereka, pasti aku yang sedang ngambek dan sebentar lagi akan kembali seperti biasa.
Mereka salah.
Senin pagi, pukul delapan lewat sedikit, Arief mengirimiku sebuah foto.
Sebuah papan besar berdiri di halaman depan rumah.
DIJUAL.
Aku sedang berada di restoran ketika teleponku mulai bergetar.
IBU.
Aku membiarkannya berdering.
Berhenti.
Berdering lagi.
Lalu Ayah.
Kemudian Rani.
Kemudian Ibu lagi.
Dalam waktu dua puluh menit, ada tujuh belas panggilan tak terjawab.
Lalu masuk pesan WhatsApp dari Rani.
HENDRA, APA-APAAN INI?!
Pesan kedua.
ADA ORANG PASANG PAPAN DIJUAL DI DEPAN RUMAH KITA!
Pesan ketiga.
CEPAT TELEPON AKU!
Aku sedang membaca pesan keempat ketika Pak Arief menelepon.
Aku mengangkatnya.
“Ya, Pak?”
Suara Arief terdengar seperti orang yang sedang berusaha keras menahan tawa.
“Mas Hendra, sesuai dugaan.”
“Apa?”
“Papan pertama baru berdiri dua belas menit.”
“Lalu?”
“Kakak Mas mencabutnya dan melemparkannya ke selokan.”
Aku bersandar di kursi.
“Untung kita punya papan kedua.”
“Sudah saya pasang.”
Aku tersenyum.
Namun Arief belum selesai.
“Oh iya, Mas.”
“Apa?”
“Sepertinya keluarga Mas baru saja menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan daripada papan dijual.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
Arief menurunkan suaranya.
“Tadi ayah Mas meminta saya pergi karena katanya beliau pemilik rumah.”
“Lalu?”
“Saya menunjukkan salinan dokumen kepemilikan.”
Dadaku terasa ringan.
Arief melanjutkan,
“Wajah beliau langsung berubah.”
Aku menatap layar ponsel.
Saat itu panggilan lain masuk.
AYAH.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku mengangkatnya.
Aku belum sempat mengatakan halo ketika teriakannya meledak dari speaker.
“HENDRA! KAMU SUDAH GILA?!”
Aku menjauhkan ponsel sedikit dari telinga.
“Ada apa, Yah?”
“JANGAN PURA-PURA TIDAK TAHU! Kenapa ada papan DIJUAL di rumah ini?!”
Aku menatap foto rumah yang baru saja dikirim Pak Arief.
Lalu aku menjawab dengan tenang,
“Karena rumah itu memang sedang dijual.”
Ayah terdiam.
Kemudian suaranya turun, jauh lebih pelan.
“Hendra… ini rumah keluarga kita.”
Aku menatap kosong ke depan.
Lima tahun.
Mereka akhirnya ingat kata “keluarga”.
Sayangnya, terlambat.
Aku berkata,
“Bukan, Yah.”
“Ini rumah saya.”
Dan untuk pertama kalinya sejak aku menjadi anak yang selalu membereskan kekacauan mereka, tidak ada seorang pun di ujung telepon yang tahu harus berkata apa.
Telepon dari Ayah berakhir tanpa kata-kata.
Bukan karena dia menerima keputusanku.
Tetapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia sedang mencoba memahami kenyataan yang selama bertahun-tahun sengaja dia abaikan.
Rumah itu memang bukan miliknya.
Aku memutus panggilan.
Belum sampai tiga puluh detik, ponselku kembali bergetar.
Ibu.
Lalu Rani.
Lalu Ibu lagi.
Aku menaruh ponsel di meja kantor restoran dan kembali memeriksa laporan stok.
Lima menit kemudian, salah satu manajerku, Dimas, mengetuk pintu.
“Mas Hendra?”
“Ya?”
Dia menunjuk ke luar.
“Sepertinya ada keluarga Mas.”
Aku mengangkat kepala.
Dari kaca kantor lantai dua, aku bisa melihat Ibu dan Rani berdiri di depan meja resepsionis restoran.
Rani mengenakan sandal rumah.
Rambutnya masih diikat asal.
Ibu tampak seperti baru keluar rumah terburu-buru.
Aku menghela napas.
“Minta mereka naik.”
Beberapa menit kemudian, pintu kantorku terbuka.
Rani masuk lebih dulu.
“Kamu keterlaluan!”
Aku bahkan belum sempat berdiri.
Ibu langsung menyusul.
“Hendra, kita bicara baik-baik.”
Aku menunjuk dua kursi.
“Duduk.”
Rani tidak duduk.
Dia berdiri dengan tangan bersilang.
“Kamu benar-benar mau mengusir Ayah dan Ibu dari rumah mereka cuma gara-gara sepatu?”
Aku menatapnya.
“Bukan gara-gara sepatu.”
“Oh, jadi sekarang kamu mau drama?”
Aku tertawa kecil.
“Lucu sekali dengar kata drama dari orang yang melempar sepatu ke perempuan hamil karena kursi.”
Wajahnya memerah.
“Itu refleks!”
“Refleks?”
“Dia tahu itu kursiku!”
Ibu buru-buru menyela.
“Hendra, Rani memang salah, tapi jangan dibesar-besarkan.”
Aku memandang Ibu.
Kalimat itu.
Lagi.
Jangan dibesar-besarkan.
Aku sudah mendengarnya sepanjang hidupku.
Ketika Rani merusak laptopku saat SMA karena aku tidak meminjamkan motor.
Jangan dibesar-besarkan.
Ketika dia mengambil uang dari dompetku dan mengaku itu hanya pinjaman.
Jangan dibesar-besarkan.
Ketika dia memaki Nadira saat acara pertunangan karena gaun Nadira “terlalu bagus”.
Jangan dibesar-besarkan.
Ketika dia meminta modal Rp80 juta lalu berhenti bisnis tiga bulan kemudian.
Jangan dibesar-besarkan.
Aku menyandarkan punggung ke kursi.
“Bu, tahu tidak apa yang paling melelahkan?”
Ibu menatapku.
“Setiap kali Rani melakukan sesuatu, semua orang harus menyesuaikan diri supaya dia tidak marah.”
“Hendra…”
“Kalau dia malas, kami harus memahami. Kalau dia gagal, kami harus membantu. Kalau dia kasar, kami harus memaklumi. Kalau dia salah, orang lain yang diminta mengalah.”
Rani memutar mata.
“Ya ampun.”
Aku menoleh padanya.
“Dan sekarang, istri saya hamil tujuh bulan dilempar sepatu, lalu Ibu menyuruh dia duduk di lantai.”
Ibu mulai berkaca-kaca.
“Aku tidak bermaksud begitu.”
“Tapi Ibu mengatakannya.”
Ruangan menjadi sunyi.
Untuk pertama kalinya, Rani duduk.
Namun bukan karena mulai merasa bersalah.
Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah map plastik.
Kemudian melemparkannya ke mejaku.
“Ayah bilang rumah itu rumah keluarga. Kamu tidak bisa jual sembarangan.”
Aku membuka map.
Fotokopi dokumen lama.
Sertifikat sebelum rumah dialihkan kepadaku.
Aku hampir tersenyum.
“Ini dokumen lima tahun lalu.”
“Nama Ayah ada di situ.”
“Dulu.”
“Kamu kan cuma bantu bayar utang.”
“Dan rumah dipindahkan secara sah ke nama saya.”
Ibu mengerutkan kening.
“Dipindahkan?”
Aku melihatnya.
Wajahnya tampak benar-benar bingung.
“Bu, Ibu hadir waktu tanda tangan.”
“Ayah bilang itu cuma formalitas supaya bank tidak menyita.”
Aku terdiam.
Sekarang aku mengerti.
Ayah rupanya tidak pernah menjelaskan semuanya kepada Ibu.
Aku menutup map.
“Secara hukum, rumah itu milik saya.”
Rani berdiri lagi.
“Kalau begitu kembalikan.”
“Kenapa?”
“Karena itu hak keluarga.”
“Beli dari saya.”
Dia tertawa sinis.
“Dengan uang apa?”
Aku tidak menjawab.
Karena kalimat itu menjelaskan semuanya.
Sebelas tahun tinggal gratis.
Sebelas tahun tanpa pekerjaan tetap.
Namun masih merasa berhak mendapat rumah miliaran rupiah.
Ibu perlahan duduk.
“Hendra, kalau rumah dijual, kami tinggal di mana?”
Aku menatap wajahnya.
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada kemarahan Rani.
Karena Ibu bukan orang jahat.
Dia hanya terlalu lama membiarkan satu anak menguasai seluruh keluarga.
“Aku tidak akan membiarkan Ibu dan Ayah terlantar.”
Rani langsung menyela.
“Nah!”
Aku mengangkat tangan.
“Tapi Rani bukan tanggung jawab saya.”
Ekspresinya berubah.
“Apa maksudmu?”
“Aku akan carikan rumah yang lebih kecil untuk Ayah dan Ibu.”
“Dan aku?”
“Kamu cari tempat tinggal sendiri.”
Rani tertawa seolah baru mendengar lelucon paling absurd.
“Kamu serius?”
“Serius.”
“Aku keluarga kamu!”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Umurmu tiga puluh dua.”
Wajahnya membeku.
“Aku belum punya pekerjaan tetap.”
“Bukan salah saya.”
“Aku sedang membangun bisnis.”
“Bisnis hampers yang supplier-nya menelepon Ayah karena invoice belum dibayar?”
Rani langsung menoleh pada Ibu.
Ibu terdiam.
Aku baru sadar.
Ibu belum tahu soal itu.
Aku membuka laptop.
“Ada Rp47 juta utang supplier atas nama usaha Rani.”
Ibu menatap putrinya.
“Empat puluh tujuh juta?”
Rani memucat.
“Itu biasa dalam bisnis.”
“Dari mana kamu tahu?” tanyaku. “Kamu tidak pernah membayar bisnis apa pun pakai uang sendiri.”
“Hendra!”
Suara Ibu kali ini bukan kepadaku.
Kepada Rani.
“Apa benar?”
Rani mengambil tasnya.
“Aku tidak perlu diinterogasi.”
Dia berbalik menuju pintu.
Sebelum keluar, dia menunjukku.
“Kamu akan menyesal.”
Aku menatapnya.
“Yang saya sesali cuma satu.”
Dia berhenti.
“Tidak melakukan ini lima tahun lalu.”
Pintu dibanting.
Ibu masih duduk.
Tangannya gemetar.
Aku menuangkan air.
Dia tidak langsung meminumnya.
“Hendra…”
“Ya?”
“Berapa banyak utang Rani yang sudah kamu bayar?”
Aku tidak menjawab.
Ibu menatapku lebih lama.
“Hendra.”
Aku membuka sebuah folder di komputer.
Aku sebenarnya tidak pernah berniat menunjukkan ini.
Semua transaksi selama sebelas tahun.
Transfer modal.
Tagihan kartu kredit.
Bengkel.
Pajak.
Tagihan rumah.
Biaya kursus yang tidak pernah diselesaikan Rani.
Modal bisnis.
Utang supplier.
Bahkan cicilan ponsel.
Aku putar layar ke arah Ibu.
Dia membaca angka terakhir.
Rp926.400.000.
Wajahnya kosong.
“Hampir satu miliar?”
“Kurang lebih.”
“Untuk Rani?”
“Sebagian besar.”
Bibir Ibu bergetar.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Aku hampir tertawa.
“Karena setiap kali saya mulai bicara, Ibu bilang saya lebih mampu.”
Dia menunduk.
Aku tidak merasa menang.
Aneh.
Selama bertahun-tahun aku membayangkan momen seperti ini.
Momen ketika Ibu akhirnya melihat semuanya.
Aku pikir rasanya akan memuaskan.
Ternyata tidak.
Yang kurasakan justru sedih.
Karena seorang ibu baru menyadari bahwa selama bertahun-tahun dia telah mengajari satu anak untuk memberi dan satu anak untuk mengambil.
Ibu pulang tanpa bicara banyak.
Malam itu, Ayah tidak menelepon.
Rani juga tidak.
Hari Selasa, Pak Arief mengirim kabar.
Ada tiga calon pembeli.
Salah satunya serius.
Pasangan suami istri dari Jakarta yang ingin pindah ke Sentul bersama dua anak mereka.
Mereka menawar Rp5,8 miliar.
Aku tidak langsung menerima.
Bukan karena ragu menjual.
Tapi karena aku ingin semuanya dilakukan dengan benar.
Aku memberi keluargaku enam puluh hari untuk pindah.
Tidak perlu sewa.
Tidak perlu biaya apa pun.
Aku bahkan menawarkan bantuan pindahan.
Yang tidak kukatakan kepada Rani adalah aku sudah menyewa sebuah rumah sederhana untuk Ayah dan Ibu di Bogor selama dua tahun.
Dua kamar.
Tidak sebesar rumah lama.
Tapi nyaman.
Dekat rumah sakit.
Dekat pasar.
Ada halaman kecil untuk tanaman Ibu.
Aku membayar dua tahun di muka.
Namun hanya nama Ayah dan Ibu yang boleh tinggal di sana.
Tidak Rani.
Aku meminta kontrak itu dibuat jelas.
Pada hari Kamis, Ayah akhirnya datang menemuiku.
Sendirian.
Kami bertemu di restoran cabang Bogor.
Dia terlihat lebih tua.
Entah kenapa baru hari itu aku menyadarinya.
Rambutnya hampir seluruhnya putih.
Dia duduk di depanku tanpa memesan apa pun.
“Hendra.”
“Ya, Yah?”
“Kamu marah sama Ayah?”
Aku menghela napas.
“Marah.”
Dia mengangguk.
“Karena Sabtu?”
“Bukan cuma Sabtu.”
Dia menatap meja.
“Ayah pikir kamu tidak keberatan membantu.”
“Dulu tidak.”
“Terus?”
“Ayah mulai menganggapnya kewajiban.”
Dia tidak membantah.
Aku menunggu.
Lalu dia mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.
“Ayah takut sama Rani.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
Dia tertawa pendek.
Bukan tawa senang.
Tawa malu.
“Aneh ya? Bapak takut sama anak sendiri.”
Aku diam.
“Sejak dia kuliah gagal, dia berubah. Marah sedikit-sedikit. Kalau dilarang, dia mengancam pergi. Ibumu selalu takut dia melakukan sesuatu yang bodoh.”
Dadaku mengencang.
“Jadi semua orang mengalah?”
“Akhirnya begitu.”
“Termasuk saat dia melempar sepatu ke Nadira?”
Ayah menutup mata.
“Itu salah Ayah.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Untuk pertama kalinya, aku mendengar ayahku mengatakan kalimat itu.
Bukan alasan.
Bukan pembelaan.
Bukan “tapi”.
Itu salah Ayah.
Dia membuka mata.
“Ayah tertawa karena… Ayah tidak tahu harus bereaksi bagaimana.”
“Itu bukan alasan.”
“Ayah tahu.”
Dia mengangguk.
“Dan waktu melihat wajah Nadira saat pergi…”
Suaranya serak.
“Ayah malu.”
Aku menatapnya.
“Sudah minta maaf?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Takut dia tidak mau menerima.”
Aku berkata pelan,
“Permintaan maaf bukan transaksi, Yah. Kita minta maaf karena kita salah. Bukan karena yakin akan dimaafkan.”
Ayah menatapku lama.
Kemudian mengangguk.
Sebelum pergi, aku memberinya alamat rumah baru.
Dia membacanya.
“Apa ini?”
“Tempat tinggal Ayah dan Ibu setelah pindah.”
Dia menatapku lagi.
“Kamu sudah siapkan?”
“Dua tahun.”
Matanya langsung merah.
“Hendra…”
“Jangan salah paham. Saya tetap jual rumah.”
Dia mengangguk cepat.
“Iya.”
“Dan Rani tidak ikut.”
Kali ini Ayah diam cukup lama.
Lalu untuk pertama kalinya dalam hidupku dia berkata,
“Mungkin memang harus begitu.”
Aku hampir tidak percaya.
Dua minggu kemudian, keadaan meledak.
Rani menemukan kontrak rumah baru.
Dia datang ke rumahku malam-malam.
Nadira sedang duduk di ruang makan melipat pakaian bayi.
Aku yang membuka pintu.
Rani langsung masuk tanpa izin.
“Kamu mengusir aku?”
“Keluar dulu.”
“Aku mau bicara!”
“Nadira ada di sini.”
“Aku tidak peduli!”
Aku berdiri di depannya.
“Justru itu masalahmu.”
Rani menunjuk ke arah Nadira.
“Semua ini gara-gara dia!”
Nadira berdiri pelan.
Aku langsung menahan tangan.
Namun Nadira berkata,
“Tidak, Hendra.”
Dia menatap Rani.
“Aku mau dengar.”
Rani tertawa sinis.
“Sejak kamu masuk keluarga ini, Hendra berubah.”
Nadira tetap tenang.
“Tidak. Dia cuma mulai melihat.”
“Kamu merebut adikku.”
Nadira menggeleng.
“Aku tidak pernah meminta rumah orang tuamu dijual.”
“Tapi kamu senang!”
“Tidak.”
Rani terdiam sesaat.
Nadira melanjutkan.
“Aku sedih.”
Untuk pertama kalinya, nada suara Rani turun.
“Sedih?”
“Aku sedih karena suamiku sampai harus menjual rumah supaya keluarganya akhirnya menghormati batas.”
Ruangan hening.
Nadira meletakkan pakaian bayi yang dia pegang.
“Rani, aku tidak pernah membenci kamu.”
“Kamu bohong.”
“Aku bahkan sering menyuruh Hendra membantu kamu.”
Aku menatap Nadira.
Aku tidak tahu itu.
Dia melanjutkan,
“Waktu bisnis skincare kamu gagal, aku yang bilang padanya jangan minta uangnya kembali.”
Rani membeku.
“Waktu kamu minta kamera untuk jadi content creator, aku yang bilang beli saja kalau memang itu bisa membantu.”
Rani menatapku.
Aku mengangguk.
Itu benar.
Nadira menahan napas.
“Tapi ketika kamu melempar sepatu ke arahku saat aku hamil tujuh bulan, yang paling menyakitkan bukan sepatunya.”
Rani tidak bergerak.
“Yang menyakitkan adalah melihat semua orang menganggap itu normal.”
Rani membuka mulut.
Tidak ada kata keluar.
Kemudian Nadira mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan.
“Aku tidak mau anakku lahir di keluarga yang mengajarinya bahwa cinta berarti membiarkan orang menyakiti kita.”
Mata Rani tiba-tiba berkaca-kaca.
Aku belum pernah melihatnya menangis karena sesuatu selain dirinya sendiri.
Namun dia segera menghapus air matanya.
“Kalian semua benci aku.”
Nadira menggeleng.
“Tidak.”
“Terus?”
“Kami berhenti menyelamatkanmu dari setiap akibat keputusanmu.”
Rani menatap lantai.
Lalu pergi.
Tanpa membanting pintu.
Itu pertama kalinya.
Sebulan kemudian, rumah resmi terjual.
Harga akhirnya Rp5,95 miliar.
Hari penandatanganan berlangsung di kantor notaris di Bogor.
Ayah dan Ibu sudah pindah seminggu sebelumnya.
Aku membantu.
Nadira ikut memilihkan tirai untuk rumah baru mereka.
Hubungan belum pulih.
Tapi setidaknya ada usaha.
Rani?
Dia menghilang selama hampir tiga minggu.
Tidak membalas pesan siapa pun.
Aku pikir dia tinggal di rumah teman.
Ternyata tidak.
Aku baru tahu ketika sebuah nomor asing menelepon.
“Pak Hendra?”
“Ya?”
“Saya Fajar, pemilik sebuah bakery kecil di Bogor.”
Aku bingung.
“Ada apa?”
“Saudari Anda, Rani, bekerja di sini.”
Aku langsung berdiri.
“Apa dia kenapa-kenapa?”
“Oh tidak. Bukan begitu.”
Dia tertawa kecil.
“Saya cuma mau memastikan nomor kontak daruratnya.”
Aku bahkan tidak langsung memahami kalimat itu.
“Rani… bekerja?”
“Sudah hampir dua minggu.”
Aku duduk kembali.
Fajar melanjutkan,
“Dia mulai dari bagian packing. Datang jam enam pagi.”
Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
Rani.
Jam enam pagi.
Dua hal yang selama ini hampir mustahil berada dalam satu kalimat.
Tiga bulan berlalu.
Nadira melahirkan seorang bayi perempuan sehat.
Kami menamainya Aluna.
Ayah datang ke rumah sakit membawa bunga.
Dia berdiri di depan Nadira dengan gugup.
Lalu berkata,
“Nadira, Ayah minta maaf.”
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada alasan.
Nadira tersenyum lemah.
“Saya terima permintaan maafnya, Yah.”
Ibu menangis ketika menggendong cucunya.
Namun orang yang tidak datang adalah Rani.
Aku tidak bertanya.
Mungkin dia belum siap.
Malam kedua setelah kami pulang dari rumah sakit, bel rumah berbunyi.
Aku membuka pintu.
Rani berdiri di sana.
Dia memakai seragam bakery.
Di tangannya ada sebuah kotak kardus sederhana.
“Aku boleh masuk?”
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu mengangguk.
Dia masuk dengan langkah kaku.
Nadira sedang duduk di sofa sambil menggendong Aluna.
Rani berhenti beberapa meter darinya.
“Aku…”
Dia menelan ludah.
“Aku tidak tahu harus bilang apa.”
Nadira tidak memaksanya.
Rani menyerahkan kotak itu.
“Aku beli ini pakai gajiku.”
Di dalamnya ada selimut bayi.
Warnanya putih dengan motif bunga kecil.
Tidak mahal.
Mungkin bahkan jauh lebih murah daripada barang-barang yang dulu kubelikan untuk Rani.
Tapi entah kenapa, hadiah itu terasa jauh lebih berharga.
Rani menatap Nadira.
“Aku minta maaf.”
Nadira diam.
Rani mulai menangis.
“Aku tahu aku keterlaluan.”
Dia menarik napas.
“Waktu kalian berhenti bantu aku, aku pikir kalian jahat.”
Aku menatapnya.
“Tapi ternyata aku cuma… tidak tahu bagaimana hidup tanpa ada orang yang membereskan semuanya.”
Ruangan hening.
“Aku marah sama semua orang karena lebih mudah daripada mengakui aku malu sama hidupku sendiri.”
Aku belum pernah mendengar Rani bicara seperti itu.
Dia menatap bayi di pelukan Nadira.
“Aku tidak berharap kamu maafin aku sekarang.”
Nadira memandangnya lama.
Kemudian berkata,
“Dekat sini.”
Rani seperti tidak percaya.
Dia duduk perlahan.
Nadira memindahkan Aluna sedikit.
“Pegang kepalanya.”
Tangan Rani gemetar saat menerima bayi itu.
Begitu Aluna berada di lengannya, wajah kakakku berubah.
Semua kesombongan.
Semua kemarahan.
Semua sikap defensif.
Menghilang.
Dia hanya terlihat seperti seorang perempuan tiga puluh dua tahun yang akhirnya sadar betapa banyak waktu yang sudah dia buang.
Aluna membuka mata.
Jari kecilnya menggenggam telunjuk Rani.
Rani menangis tanpa suara.
Aku berdiri beberapa langkah dari mereka.
Dan saat itu aku menyadari sesuatu.
Aku dulu berpikir menjual rumah itu adalah hukuman.
Ternyata bukan.
Rumah itu adalah sesuatu yang membuat keluargaku berhenti bergerak.
Ayah dan Ibu menggunakannya untuk mempertahankan kebiasaan lama.
Rani menggunakannya sebagai tempat bersembunyi dari hidup.
Aku menggunakannya sebagai alasan untuk terus menjadi penyelamat.
Menjualnya tidak menghancurkan keluarga kami.
Justru untuk pertama kalinya, kami dipaksa membangun keluarga tanpa rumah itu.
Enam bulan kemudian, Rani masih bekerja di bakery.
Dia pindah ke kamar kos kecil dekat tempat kerja.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia membayar listrik sendiri.
Dia bahkan mulai membuat hampers lagi.
Namun kali ini dengan modal dari tabungannya sendiri.
Kecil.
Tidak mewah.
Tapi nyata.
Suatu Minggu sore, kami makan bersama di rumah Ayah dan Ibu.
Rumah baru mereka memang lebih kecil.
Namun terasa anehnya lebih hangat.
Ibu menanam cabai dan tomat di halaman.
Ayah sekarang sering membantu tetangga memperbaiki motor.
Aluna tidur di gendongan Nadira.
Dan Rani duduk di sebuah kursi plastik sederhana dekat jendela.
Aku melihat kursi itu.
Kemudian melihat Rani.
Dia menyadari tatapanku.
“Apa?”
Aku menunjuk kursinya.
“Tidak takut ada yang duduk di kursimu?”
Semua orang langsung diam.
Rani menatapku.
Lalu menatap kursinya.
Aku pikir dia akan tersinggung.
Sebaliknya, dia berdiri.
Menarik kursi itu ke arah Nadira.
“Kalau mau, kamu duduk sini.”
Nadira tertawa.
“Aku sudah punya kursi.”
Rani mengangkat bahu.
“Ya sudah.”
Lalu dia duduk di lantai.
Semua orang terdiam dua detik.
Kemudian Ayah tertawa.
Kali ini bukan karena seseorang disakiti.
Ibu ikut tertawa.
Nadira menutup mulut sambil tersenyum.
Bahkan aku tidak bisa menahan diri.
Rani menatap kami semua dari lantai.
“Apa? Lantainya adem.”
Dan untuk pertama kalinya, kalimat tentang duduk di lantai tidak terdengar seperti penghinaan.
Hanya lelucon keluarga.
Aku memandang Nadira.
Dia menatapku sambil tersenyum.
Di pelukannya, Aluna masih tidur nyenyak.
Pada akhirnya, aku memang menjual rumah senilai hampir enam miliar rupiah.
Tapi yang benar-benar hilang dari keluarga kami bukanlah rumah.
Yang hilang adalah keyakinan bahwa mencintai seseorang berarti terus membiarkannya melakukan apa saja tanpa konsekuensi.
Dan yang kami dapatkan sebagai gantinya ternyata jauh lebih berharga.
Seorang ayah yang akhirnya berani mengakui kesalahan.
Seorang ibu yang belajar bahwa melindungi anak tidak sama dengan memanjakannya.
Seorang kakak yang akhirnya mulai berdiri di atas kakinya sendiri.
Seorang istri yang tahu suaminya akan memilih keluarganya ketika benar-benar dibutuhkan.
Dan seorang bayi perempuan yang tidak akan tumbuh melihat ibunya disuruh duduk di lantai agar orang lain tetap merasa seperti ratu.
Kadang-kadang keluarga tidak hancur ketika kita menetapkan batas.
Kadang-kadang justru batas itulah yang menyelamatkan mereka.
