Bagian 3 — Setelah Ia Kehilangan Rumah, Jabatan, dan Perempuan yang Dibela Mati-matian, Aku Kembali ke Meja Gambar dan Membangun Hidup yang Tak Bisa Ia Hancurkan

Avatar penulis
Cerita 02
18 menit baca 1,319 tayangan
Bagian 3 — Setelah Ia Kehilangan Rumah, Jabatan, dan Perempuan yang Dibela Mati-matian, Aku Kembali ke Meja Gambar dan Membangun Hidup yang Tak Bisa Ia Hancurkan
Indeks

Bagian 3 — Setelah Ia Kehilangan Rumah, Jabatan, dan Perempuan yang Dibela Mati-matian, Aku Kembali ke Meja Gambar dan Membangun Hidup yang Tak Bisa Ia Hancurkan

Malam setelah Maya menelepon, aku tidak langsung tidur.

Aku duduk di meja makan rumah Ibu sampai hampir pukul dua pagi.

Laptop terbuka di depanku.

Di sebelahnya ada teh yang sudah dingin.

Rekaman suara Arga kuputar sekali lagi.

Bukan karena aku menikmati mendengar suamiku mengatakan dia akan membuatku keluar tanpa apa-apa.

Aku hanya ingin memastikan satu hal.

Bahwa setelah ini aku tidak akan lagi membiarkan rasa kasihan menghapus ingatanku.

Selama bertahun-tahun aku punya kebiasaan buruk.

Setiap kali Arga menyakitiku, aku selalu mengingat sisi baiknya.

Aku mengingat bagaimana dia dulu menungguku selesai studio sampai tengah malam saat kuliah.

Aku mengingat sepeda motor tua yang kami gunakan berboncengan menerobos hujan.

Aku mengingat ketika uang kami tinggal Rp47.000 dan kami makan mi instan sambil tertawa karena belum mampu membeli meja makan.

Kenangan-kenangan itu selalu muncul setiap kali hubungan kami hampir runtuh.

Lalu aku memaafkan.

Lagi.

Dan lagi.

Masalahnya, kenangan yang baik tidak pernah membatalkan perlakuan buruk hari ini.

Seseorang pernah mencintaimu bukan berarti dia berhak menghancurkanmu sekarang.

Pukul 06.20 pagi, Ibu keluar dari kamar.

Beliau menemukan aku masih duduk di meja.

“Kamu belum tidur?”

Aku menggeleng.

Ibu melihat wajahku.

Kemudian duduk tanpa bertanya apa pun.

Itulah kebiasaan Ibu sejak aku kecil.

Beliau tidak pernah memaksaku bicara.

Setelah beberapa menit, aku justru membuka mulut.

“Bu.”

“Hmm?”

“Kalau Ayah masih hidup, Ayah pasti kecewa sama Dira, ya?”

Ibu mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Karena uang peninggalan Ayah ikut dipakai membangun rumah dan usaha Arga.”

Ibu langsung menjawab,

“Bapakmu meninggalkan uang supaya hidup anaknya lebih baik. Bukan supaya uangnya tidak pernah salah dipakai.”

Aku menunduk.

“Tapi aku bodoh.”

“Tidak.”

Ibu menatapku lurus.

“Kamu percaya pada suamimu. Salah memilih orang untuk dipercaya bukan berarti kamu harus menghabiskan sisa hidup untuk menghukum dirimu sendiri.”

Kalimat itu membuat tenggorokanku panas.

Aku tidak menangis.

Aku hanya menggenggam tangan Ibu.

Hari itu juga aku menemui Bu Ratih.

Kami tidak menggunakan rekaman Maya sembarangan.

Bu Ratih menegaskan bahwa semua bukti harus diproses sesuai jalur hukum dan relevansinya harus dinilai secara tepat.

Bagiku, yang paling penting bukan skandal perselingkuhan.

Ada persoalan yang jauh lebih serius:

tanda tanganku.

Dua dokumen pembiayaan.

Dan risiko miliaran rupiah yang pernah diletakkan atas namaku tanpa sepengetahuanku.

Pihak pemberi fasilitas kredit kemudian melakukan pemeriksaan internal.

Aku diminta memberikan contoh tanda tangan.

Dokumen perjalanan.

Bukti bahwa pada tanggal tertentu aku berada di luar kota.

Keterangan terkait prosedur penandatanganan.

Aku datang setiap kali dipanggil.

Tidak berteriak.

Tidak membuat unggahan media sosial.

Tidak menyebarkan foto Arga dan Maya kepada siapa pun.

Aku tidak membutuhkan keramaian internet.

Aku membutuhkan fakta.

Dan fakta jauh lebih berbahaya daripada gosip.

Dua minggu kemudian Arga menelepon.

Aku sedang berada di kantor Dinda, memeriksa maket proyek baru.

Nama Arga muncul di layar.

Aku membiarkannya berdering sampai berhenti.

Dia menelepon lagi.

Lalu lagi.

Pada panggilan keempat, aku menjawab.

“Ada apa?”

“Nadira, kamu lapor ke bank?”

“Aku diminta mengklarifikasi dokumen yang memakai namaku.”

“Kamu tahu akibatnya?”

“Aku tahu.”

“Fasilitas kredit perusahaan ditahan.”

“Itu urusan perusahaan.”

“Nadira!”

Suara Arga meledak.

Beberapa orang di kantor Dinda menoleh.

Aku berdiri lalu berjalan ke balkon.

“Kamu sedang berusaha menjatuhkan aku?”

Aku melihat lalu lintas Jakarta di bawah.

Dulu suara marah Arga bisa membuat tanganku gemetar.

Kini tidak lagi.

“Aku sedang memastikan namaku tidak dipakai untuk utang yang tidak pernah kusetujui.”

“Semua itu dilakukan demi perusahaan!”

“Lalu kenapa apartemen untuk Maya masuk di dalamnya?”

Dia diam.

Aku melanjutkan.

“Kalau memang semuanya sah, tidak perlu takut diperiksa.”

“Nadira, perusahaan ini sumber hidup kita!”

“Bukan lagi sumber hidupku.”

Kalimat itu membuatnya diam cukup lama.

Kemudian suaranya berubah.

Lebih pelan.

Lebih manipulatif.

“Aku tahu kamu marah karena Maya.”

“Aku tidak sedang bicara tentang Maya.”

“Aku bisa mengakhiri semuanya dengan dia.”

“Silakan.”

“Kita bisa mulai lagi.”

Aku memejamkan mata sesaat.

Enam bulan sebelumnya, mungkin aku akan menangis mendengar kalimat itu.

Sekarang aku hanya merasa lelah.

“Arga.”

“Apa?”

“Bukan Maya alasan aku pergi.”

Dia tidak menjawab.

“Aku pergi karena selama bertahun-tahun kamu membuatku percaya bahwa nilai diriku bergantung pada apakah kamu masih mau menjadi suamiku atau tidak.”

Aku menarik napas.

“Dan sekarang aku sudah tidak percaya itu lagi.”

Aku memutus panggilan.

Dinda sedang berdiri di belakang pintu balkon.

Dia mengangkat dua gelas kopi.

“Latte?”

Aku mengambil satu.

“Terima kasih.”

Dia bersandar di pagar.

“Masih mau balik?”

“Tidak.”

“Bagus.”

Aku tertawa.

Dinda menatapku.

“Aku serius, Dir.”

“Aku juga serius.”

“Karena kamu tahu bagian paling menyedihkan dari enam tahun terakhir?”

“Apa?”

“Kamu mengira kamu tidak berkembang.”

Aku mengerutkan kening.

Dinda menunjuk layar laptop yang terlihat dari balik kaca.

Di sana terpampang desain ruang publik yang baru saja kupresentasikan.

“Padahal baru tiga bulan balik kerja, konsep kamu sudah dipilih klien mengalahkan dua konsultan lain.”

Aku tersenyum kecil.

“Aku beruntung.”

“Jangan mulai lagi.”

“Apa?”

“Kalau pekerjaan Arga berhasil, kamu selalu bilang dia hebat. Kalau pekerjaanmu berhasil, kamu bilang beruntung.”

Aku terdiam.

Dinda benar.

Aku telah begitu lama mengecilkan diri sendiri sampai kebiasaan itu tetap tinggal bahkan setelah aku meninggalkan rumah.

Hari itu aku mengambil keputusan sederhana.

Aku tidak akan melakukannya lagi.

Masalah di perusahaan Arga membesar satu bulan kemudian.

Bukan karena aku.

Melainkan karena pemeriksaan dokumen pembiayaan membuka persoalan lain.

Ternyata beberapa transaksi perusahaan menggunakan mekanisme persetujuan internal yang bermasalah.

Komisaris dan investor mulai meminta penjelasan.

Mereka tidak suka risiko.

Terutama risiko yang muncul dari keputusan pribadi direktur utama.

Namaku masih tercatat sebagai salah satu pemegang saham dengan porsi sekitar 18 persen setelah beberapa kali perubahan struktur modal.

Aku sendiri terkejut.

Selama ini Arga selalu mengatakan kepemilikanku “tinggal formalitas”.

Ternyata formalitas itu memberiku hak atas informasi tertentu sesuai kapasitas kepemilikanku.

Untuk pertama kalinya aku meminta laporan yang seharusnya memang bisa kuakses melalui prosedur perusahaan.

Arga marah luar biasa.

Dia datang ke rumah Ibu tanpa memberi tahu.

Saat itu hari Minggu sore.

Aku sedang membantu Ibu memindahkan pot tanaman ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar.

Arga turun.

Wajahnya tampak jauh lebih kurus.

Kemejanya kusut.

Aku hampir tidak pernah melihatnya seperti itu.

Biasanya bahkan untuk membeli kopi dia bisa tampil seolah hendak bertemu investor.

Ibu melihatnya.

“Dira?”

“Biar aku.”

Aku keluar pagar.

Arga langsung bicara.

“Kamu mau ambil perusahaan?”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

“Jangan bohong.”

“Aku cuma meminta penjelasan atas kepemilikan dan transaksi yang melibatkan kepentinganku.”

“Perusahaan itu aku yang bangun!”

Kali ini aku tertawa.

“Benarkah?”

Dia terdiam.

Aku mendekat satu langkah.

“Siapa yang membuat desain showroom pertama?”

Rahangnya mengeras.

“Siapa yang membuat katalog koleksi pertama?”

“Nadira—”

“Siapa yang menemani kamu survei vendor kayu sampai Jepara saat kamu bahkan belum mampu bayar hotel bagus?”

“Jangan membawa masa lalu.”

“Siapa yang memasukkan modal awal ketika rekening perusahaan hampir kosong?”

Dia diam lagi.

Aku mengangguk.

“Benar. Ayahku.”

“Aku sudah mengembalikan uang itu!”

“Sebagian.”

“Apa maumu?”

“Aku ingin apa yang memang menjadi hakku. Tidak lebih.”

“Aku bisa beli saham kamu.”

“Ajukan lewat prosedur yang benar.”

Wajahnya memerah.

“Nadira, sejak kapan kamu jadi seperti ini?”

Pertanyaan itu dulu membuatku bingung.

Kali ini tidak.

“Sejak aku berhenti takut padamu.”

Arga memandangku beberapa detik.

Lalu matanya melunak.

Atau berpura-pura melunak.

“Dir…”

Nada itu.

Nada lama.

Nada yang dulu dia gunakan ketika memanggilku dari jok motor sambil tersenyum.

“Enam tahun itu bukan sebentar.”

“Benar.”

“Kita punya banyak kenangan.”

“Benar.”

“Kamu benar-benar mau membuang semuanya?”

Aku menatapnya lama.

“Akulah yang selama ini mempertahankan semuanya.”

Aku menunjuk dirinya.

“Kamu yang setiap beberapa bulan melempar kata cerai setiap kali aku tidak menurut.”

Arga menunduk.

“Aku mengaku salah.”

Aku sempat terkejut.

Selama bertahun-tahun, kalimat itu nyaris tidak pernah keluar dari mulutnya.

Kemudian dia berkata,

“Aku terbawa emosi.”

“Tujuh belas kali?”

Dia terdiam.

“Soal Maya…”

Aku langsung memotong.

“Tidak perlu.”

“Aku akan putus dengan dia.”

“Itu urusanmu.”

“Apartemennya bisa dijual.”

“Urusanmu juga.”

“Nadira, aku minta kesempatan.”

Aku tersenyum tipis.

Akhirnya aku memahami sesuatu.

Arga baru meminta kesempatan ketika konsekuensi mulai datang kepadanya.

Bukan ketika aku menangis.

Bukan ketika aku memohon.

Bukan ketika aku mengatakan berkali-kali bahwa ancaman cerai membuatku merasa tidak aman.

Dia baru takut kehilangan pernikahan setelah kehilangan kendali.

“Pulanglah.”

“Nadira…”

“Proses pengadilan tetap jalan.”

Wajahnya berubah keras lagi.

Hanya butuh beberapa detik.

Topeng penyesalan itu jatuh.

“Kamu akan menyesal.”

Aku mengangguk.

“Mungkin.”

Aku membuka pagar.

“Tapi kalau menyesal karena pergi, itu tanggung jawabku.”

Aku menatapnya.

“Lebih baik daripada menyesal karena tinggal.”

Aku masuk dan menutup pagar.

Sementara itu hubungannya dengan Maya juga mulai runtuh.

Aku tidak mengetahuinya dari gosip.

Maya sendiri yang mengirim satu pesan beberapa minggu kemudian.

Saya sudah resign.

Aku tidak membalas.

Lima menit kemudian pesan lain masuk.

Saya juga sudah keluar dari apartemen. Saya tidak minta Mbak memaafkan saya. Saya cuma mau bilang saya akan memberikan keterangan kalau memang dibutuhkan melalui jalur resmi.

Kali ini aku membalas.

Sampaikan melalui kuasa hukum.

Hanya itu.

Aku tidak ingin berteman dengannya.

Aku juga tidak tertarik menjadi perempuan yang memaki perempuan lain sementara laki-laki yang membuat janji palsu lolos tanpa tanggung jawab.

Maya bersalah karena masuk ke hubungan orang lain.

Arga bersalah karena mengkhianati perkawinannya.

Keduanya punya tanggung jawab masing-masing.

Tetapi hidupku tidak perlu terus berputar di sekitar mereka.

Aku punya sesuatu yang lebih penting.

Pekerjaanku.

Dinda menawarkan agar aku bergabung sebagai associate di firmanya.

Aku menolak.

Bukan karena tidak tertarik.

Aku ingin mencoba berdiri sendiri.

Kami akhirnya membuat kesepakatan berbeda.

Aku akan menjadi konsultan independen untuk beberapa proyeknya.

Aku menyewa ruang kerja kecil di lantai dua sebuah bangunan di Cipete.

Luasnya hanya 38 meter persegi.

Tidak mewah.

Ada dua meja.

Satu rak material.

Satu printer besar bekas.

Dan jendela yang menghadap pohon ketapang.

Pada hari pertama masuk, aku berdiri sendirian di tengah ruangan.

Baunya campuran cat baru dan kayu.

Aku menaruh telapak tangan di atas meja.

Lalu menangis.

Sekali lagi.

Namun tangisan kali ini bukan karena seorang laki-laki.

Aku menangis karena setelah enam tahun, namaku kembali berada di pintu.

NADIRA PRAMESWARI — LANDSCAPE & SPATIAL DESIGN

Aku memotretnya dan mengirimkannya kepada Ibu.

Balasan beliau cuma satu.

Ayahmu pasti bangga.

Aku menangis lebih keras.

Proses perceraian berjalan.

Tidak cepat.

Tidak dramatis seperti sinetron.

Ada dokumen.

Ada jadwal.

Ada mediasi yang gagal.

Ada pertemuan pengacara.

Ada pembahasan harta bersama dan aset yang asal-usul dananya harus ditelusuri.

Melelahkan.

Namun setiap tahap membuatku semakin paham mengapa bertahun-tahun Arga suka membuatku takut dengan kata perceraian.

Dia mengandalkan ketidaktahuanku.

Dia mengira kalau ancaman itu benar-benar terjadi, aku akan lumpuh.

Yang terjadi justru sebaliknya.

Setelah memahami prosesnya, aku tidak takut lagi.

Untuk rumah, bukti aliran dana menunjukkan bagian awal pembelian berasal dari dana peninggalan ayahku, sementara cicilan berikutnya dibayar selama perkawinan.

Pembagiannya tidak sesederhana “rumah milik suami” seperti yang selalu Arga katakan.

Ada komponen yang harus diperhitungkan.

Kami akhirnya mencapai penyelesaian melalui kesepakatan yang dituangkan secara formal.

Aku mempertahankan rumah itu dengan memperhitungkan bagian Arga secara wajar terhadap harta yang memang menjadi bagiannya.

Sebagai gantinya, beberapa aset lain menjadi bagian Arga.

Bukan kemenangan mutlak.

Bukan pula cerita tentang aku merampas semuanya.

Aku hanya berhenti membiarkan dia memutuskan sendirian apa yang boleh menjadi milikku.

Perkara dokumen pembiayaan diproses terpisah sesuai temuan dan mekanisme hukum yang berlaku.

Aku tidak akan menceritakan detailnya.

Yang penting bagiku, namaku tidak lagi dianggap menyetujui sesuatu hanya karena ada gambar tanda tangan di selembar kertas.

Perusahaan juga mengalami perubahan besar.

Para pemegang saham menggelar evaluasi manajemen.

Arga tidak langsung kehilangan seluruh perusahaan seperti penjahat dalam drama televisi.

Realitas jauh lebih rumit.

Namun posisinya sebagai direktur utama dipertanyakan.

Keputusan-keputusan yang diambil tanpa tata kelola memadai membuat kepercayaan investor turun.

Akhirnya dia tidak lagi memegang kendali operasional sebesar sebelumnya.

Seorang profesional eksternal masuk untuk menangani restrukturisasi.

Ketika kabar itu sampai kepadaku, Dinda bersorak.

Aku justru hanya berkata,

“Semoga perusahaannya selamat.”

Dinda menatapku aneh.

“Kamu masih kasihan?”

“Bukan.”

Aku menunjuk laptop.

“Banyak karyawan yang tidak tahu apa-apa.”

Itulah perbedaan antara diriku dulu dan sekarang.

Dulu aku mengira untuk menang, Arga harus hancur total.

Sekarang tidak.

Aku tidak perlu melihat orang lain jatuh ke jurang agar bisa merasa sedang berdiri tinggi.

Cukup pastikan dia tidak lagi berdiri di atas leherku.

Sidang terakhir berlangsung pada pagi yang mendung.

Aku mengenakan blus biru tua dan celana hitam.

Tidak ada pakaian khusus.

Tidak ada riasan berlebihan.

Sebelum berangkat, Ibu membuatkan nasi goreng.

Aku hanya mampu makan beberapa sendok.

“Kamu gugup?” tanya beliau.

“Sedikit.”

Ibu duduk di depanku.

“Takut berubah pikiran?”

Aku menggeleng.

“Takut sedih.”

Ibu tersenyum tipis.

“Sedih itu tidak sama dengan salah.”

Aku menatap beliau.

Ibu melanjutkan,

“Kamu bisa sedih kehilangan enam tahun hidupmu dan tetap tahu keputusanmu benar.”

Kalimat itu menemaniku sepanjang perjalanan.

Di pengadilan, Arga sudah datang.

Dia duduk sendirian.

Tidak ada Maya.

Tidak ada asistennya.

Tidak ada pengacara perusahaan yang dulu berjalan dua langkah di belakangnya.

Hanya Arga.

Ketika melihatku, dia berdiri.

“Nadira.”

Aku mengangguk.

“Arga.”

Kami duduk berjauhan.

Proses hari itu tidak lama.

Ketika akhirnya keluar dari ruang sidang, aku merasa aneh.

Tidak bahagia.

Tidak hancur.

Hanya ringan.

Seolah-olah selama bertahun-tahun ada tas sangat berat menggantung di bahuku dan baru hari itu seseorang melepas talinya.

Di tangga depan gedung, Arga memanggilku.

“Nadira.”

Aku berhenti.

Dia berjalan mendekat.

Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin.

Untuk sesaat aku melihat pemuda yang dulu pernah menjemputku di kampus dengan motor tua.

Pemuda yang pernah membelikanku es teh menggunakan uang terakhirnya.

Pemuda yang dulu membuatku percaya kami akan tumbuh tua bersama.

Hatiku sakit.

Namun tidak semua rasa sakit adalah tanda kita harus kembali.

Kadang rasa sakit hanya bukti bahwa sesuatu pernah berarti.

Arga memasukkan kedua tangan ke saku.

“Aku dengar studio kamu dapat proyek baru.”

Aku terkejut.

“Dari mana?”

“Dimas.”

Dimas adalah salah satu teman kuliah kami.

Aku mengangguk.

“Proyek taman rumah sakit.”

“Selamat.”

“Terima kasih.”

Kami diam.

Kemudian Arga berkata,

“Aku sudah menjual apartemen itu.”

Aku tidak menjawab.

“Maya juga sudah pergi.”

Tetap tidak kujawab.

“Aku sekarang tinggal di apartemen kecil dekat kantor.”

Aku menatapnya.

“Kenapa kamu memberitahuku?”

Arga tersenyum pahit.

“Mungkin aku ingin kamu tahu bahwa semua yang kamu bilang dulu benar.”

Aku tidak menyangka.

Dia memandang tangga di bawah.

“Aku terlalu yakin kamu tidak akan pergi.”

Angin bertiup melewati kami.

“Setiap kali bilang cerai, sebenarnya aku tidak benar-benar mau cerai.”

“Aku tahu.”

Dia menoleh cepat.

“Kamu tahu?”

“Justru itu masalahnya.”

Arga terdiam.

Aku melanjutkan.

“Kamu menggunakan sesuatu yang paling menakutkan bagiku sebagai alat supaya aku menurut.”

Dia menunduk.

“Aku pikir… kalau kamu takut kehilangan aku, berarti kamu masih sayang.”

Aku tersenyum sedih.

“Arga, orang yang mencintaimu bukan berarti harus hidup ketakutan.”

Dia mengusap wajahnya.

“Aku terlambat mengerti.”

“Ya.”

Jawabanku sederhana.

Tidak kejam.

Tidak menghibur.

Hanya benar.

Beberapa saat kemudian dia bertanya,

“Kalau waktu bisa diputar…”

Aku langsung menggeleng.

“Jangan.”

Dia menatapku.

“Kita tidak hidup di dunia seperti itu.”

Arga tertawa pendek.

“Masih sama. Kamu selalu realistis.”

“Dulu kamu suka itu.”

“Aku masih suka.”

Aku tidak menjawab.

Dia mengambil napas panjang.

“Nadira, setelah ini…”

Dia berhenti.

Seolah sedang mencari keberanian.

“Bisakah kita setidaknya tetap berteman?”

Aku melihat wajah laki-laki yang pernah menjadi pusat seluruh hidupku.

Enam tahun aku bangun lebih pagi karena dia.

Mengatur jadwal karena dia.

Memilih menu karena dia.

Menolak pekerjaan karena dia.

Menyesuaikan pertemanan karena dia.

Mengabaikan sakit hati karena dia.

Bahkan selama beberapa tahun aku menilai diriku sendiri melalui tatapannya.

Kalau Arga puas, aku merasa berguna.

Kalau Arga kecewa, aku merasa gagal.

Itulah sebabnya jawabanku kali ini sangat mudah.

“Tidak.”

Wajahnya menegang.

“Aku tidak membencimu.”

Aku melanjutkan.

“Tapi aku tidak mau membawa hubungan lama masuk ke hidup baruku hanya karena kita takut benar-benar berpisah.”

“Aku cuma ingin sesekali tahu kabarmu.”

“Kamu akan tahu kalau memang dunia mempertemukan kita.”

“Nadira…”

Aku tersenyum.

“Arga, selama bertahun-tahun kamu menyuruhku belajar hidup tanpa bergantung kepadamu.”

Aku mengambil satu langkah mundur.

“Sekarang aku sudah bisa.”

Aku berbalik.

Lalu mendengar dia bertanya dari belakang,

“Kamu tidak menyesal?”

Aku berhenti sesaat.

Tidak menoleh.

“Pasti ada hal-hal yang akan kurindukan.”

Aku menatap langit yang mulai cerah.

“Tapi rindu bukan alasan untuk kembali minum sesuatu yang pernah meracunimu.”

Setelah itu aku berjalan pergi.

Enam bulan setelah perceraian selesai, hidupku berubah lebih banyak daripada yang kubayangkan.

Studio kecilku memiliki empat orang.

Dua arsitek junior.

Satu drafter.

Satu admin.

Kami belum menjadi firma besar.

Belum punya kantor mewah.

Namun ada satu hal yang selalu kulakukan setiap kali menerima anggota tim baru.

Aku memperkenalkan nama mereka saat presentasi.

Jika desain dibuat oleh junior, nama mereka tercantum.

Jika seseorang lembur menyelesaikan gambar, kontribusinya diakui.

Aku tidak ingin membangun tempat kerja dengan cara yang dulu dilakukan Arga kepadaku.

Suatu sore kami memenangkan proyek ruang terbuka untuk sebuah klinik ibu dan anak di Bekasi.

Nilainya bukan proyek terbesar.

Namun konsep kami terpilih karena mempertahankan beberapa pohon lama dan membuat jalur teduh untuk pasien anak.

Setelah menerima email konfirmasi, timku berteriak.

Aku ikut tertawa.

Dinda datang malamnya membawa dua kotak martabak.

“Kamu traktir.”

“Kenapa aku?”

“Direktur studio.”

“Aku bukan direktur.”

“Owner?”

“Lebih buruk.”

Kami tertawa.

Ibu juga datang.

Beliau berdiri lama melihat maket.

“Yang ini kamu gambar?”

“Tim.”

Ibu menunjuk area taman.

“Kalau Bapakmu masih hidup, pasti dipotret dari sepuluh sudut lalu dikirim ke grup keluarga.”

Aku tertawa.

Mata kami sama-sama berkaca.

Kemudian Ibu mengeluarkan sesuatu dari tas.

Celemek lama.

Warnanya krem.

Aku mengenalnya.

Celemek yang kupakai malam ketika Arga mengucapkan ancaman cerai ketujuh belas.

“Aku menemukan ini waktu membereskan rumah.”

Aku menerimanya.

Untuk beberapa detik dadaku terasa penuh.

Dinda memperhatikan.

“Mau dibuang?”

Aku menggeleng.

Aku membawa celemek itu ke pantry studio.

Menggantungnya di dekat lemari.

“Buat apa?” tanya Dinda.

Aku tersenyum.

“Pengingat.”

“Pengingat mantan?”

“Bukan.”

Aku menatap kain sederhana itu.

“Pengingat tentang malam ketika aku akhirnya percaya pada diriku sendiri.”

Setahun kemudian, aku menerima satu email dari panitia kompetisi desain nasional.

Proyek ruang publik yang kukerjakan bersama tim masuk tiga besar kategori revitalisasi kawasan.

Aku harus mempresentasikannya di Bandung.

Kota tempat dulu semuanya bermula.

Ketika namaku dipanggil ke panggung, tanganku tetap dingin seperti saat masih mahasiswa.

Namun kali ini aku tidak berjalan sebagai istri siapa pun.

Tidak sebagai perempuan yang “membantu suaminya”.

Tidak sebagai orang di belakang layar.

Di layar besar tertulis:

NADIRA PRAMESWARI STUDIO

Di bawahnya terdapat nama seluruh anggota tim.

Kami tidak memenangkan juara pertama.

Kami mendapat juara dua.

Anehnya aku sangat bahagia.

Setelah acara, Dinda memaksaku berfoto sambil membawa sertifikat.

Saat itulah dari kejauhan aku melihat seseorang.

Arga.

Dia berdiri dekat pintu ballroom.

Aku tidak tahu kenapa dia ada di sana sampai kemudian melihat salah satu mantan relasinya.

Mungkin menghadiri acara bisnis lain di hotel yang sama.

Pandangan kami bertemu.

Dia mengangguk.

Aku mengangguk kembali.

Tidak ada musik dramatis.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada adegan dia berlari mengejarku.

Kami hanya dua orang yang pernah saling mencintai dan akhirnya berjalan ke arah berbeda.

Beberapa menit kemudian ponselku berbunyi.

Pesan dari nomor Arga.

Selamat. Kamu akhirnya kembali jadi Nadira yang dulu.

Aku membaca cukup lama.

Lalu mengetik.

Bukan.

Aku berhenti sebentar.

Kemudian menambahkan:

Aku bukan kembali menjadi Nadira yang dulu. Aku menjadi Nadira yang baru.

Aku mengirimnya.

Arga hanya membalas satu kata.

Benar.

Itulah percakapan terakhir kami.

Aku tidak memblokir nomornya.

Tidak juga menyimpannya kembali.

Aku tidak perlu membenci seseorang untuk selesai dengannya.

Malam itu setelah pulang ke hotel, aku berdiri di balkon.

Lampu Bandung menyala di kejauhan.

Aku teringat diriku enam atau tujuh tahun lalu.

Perempuan yang mengira pernikahan yang bertahan adalah pernikahan yang berhasil.

Sekarang aku tahu itu tidak selalu benar.

Ada rumah tangga yang bertahan karena cinta.

Ada yang bertahan karena tanggung jawab.

Namun ada pula yang bertahan karena satu orang terus-menerus takut pergi.

Aku pernah menjadi orang itu.

Aku bertahan bukan hanya karena mencintai Arga.

Aku bertahan karena takut dianggap gagal.

Takut tidak punya pekerjaan.

Takut hidup sendiri.

Takut orang bertanya.

Takut Ibu kecewa.

Takut memulai dari nol.

Ternyata nol tidak semenakutkan yang kubayangkan.

Nol adalah meja kosong.

Dan meja kosong bisa digambar ulang.

Aku memang kehilangan pernikahan.

Namun perlahan aku mendapatkan banyak hal kembali.

Pekerjaanku.

Teman-temanku.

Kepercayaan diriku.

Hak untuk mengambil keputusan tanpa menebak-nebak suasana hati seseorang.

Hak untuk pulang terlambat karena presentasi tanpa dituduh mengabaikan kewajiban.

Hak menggunakan uang hasil kerjaku tanpa meminta izin.

Hak mengatakan tidak.

Hak mengakui bahwa aku marah.

Dan yang paling penting…

hak untuk hidup tanpa ancaman bahwa cinta akan ditarik setiap kali aku tidak patuh.

Beberapa orang pernah bertanya apakah aku masih percaya pada pernikahan.

Jawabanku selalu sama.

Ya.

Aku masih percaya pada cinta.

Aku hanya tidak lagi percaya bahwa cinta harus dibuktikan dengan seberapa banyak rasa sakit yang sanggup kita tahan.

Jika suatu hari aku mencintai seseorang lagi, aku ingin berdiri di sampingnya.

Bukan di belakangnya.

Bukan di bawahnya.

Dan aku ingin dia berdiri di sampingku juga.

Pagi berikutnya, aku bangun sebelum alarm.

Kubuka tirai.

Langit Bandung berwarna pucat.

Aku membuat kopi.

Membuka laptop.

Di sana sudah menunggu gambar kerja proyek berikutnya.

Aku duduk.

Mengambil stylus.

Lalu mulai menggambar.

Tidak ada Arga.

Tidak ada Maya.

Tidak ada ancaman cerai.

Tidak ada seorang pun yang mengatakan hidupku akan runtuh jika dia pergi.

Hanya ada aku.

Sebuah halaman kosong.

Dan garis pertama dari sesuatu yang baru.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, masa depan tidak terasa seperti sesuatu yang harus kutakuti.

Ia terasa seperti sebuah rancangan yang belum selesai.

Dan kali ini…

akulah yang memegang pensilnya.