Setelah Bonusku Dipotong dan Prestasiku Diberikan kepada Bawahanku, Mantan Kantorku Baru Tahu Aku Pindah ke Pihak Klien
Bagian 1
Pukul delapan lewat sedikit pada hari kerja pertama setelah libur panjang, mantan atasanku menelepon dan langsung membentakku sebelum aku sempat mengucapkan selamat pagi.
“Ratih, kamu lihat jam tidak? Proyek Arunika tinggal serah terima. Kalau sampai bermasalah, siapa yang bertanggung jawab? Cepat ke kantor!”
Nada Pak Gunawan persis seperti tujuh tahun sebelumnya. Seolah-olah aku masih pegawainya yang akan membuka laptop setiap kali namaku dipanggil.
Ia menutup telepon tanpa menunggu jawaban.
Kurang dari dua menit kemudian, Bu Rina dari bagian SDM menelepon.
“Ratih, kamu belum berangkat? Pak Gunawan sudah marah sekali. Biasanya kamu yang paling bisa diandalkan. Kalau kamu kecewa soal bonus akhir tahun, jangan sampai pekerjaan ditinggalkan begitu.”
Aku melihat kemeja yang sudah kusiapkan di kursi.
Hari itu aku memang akan berangkat bekerja.

Hanya saja bukan ke PT Cakrawala Solusi lagi.
“Bu, saya bukan meninggalkan pekerjaan,” jawabku. “Saya sudah mengundurkan diri sebelum libur. Proses administrasinya juga selesai.”
Hening sebentar.
Nada Bu Rina berubah jauh lebih lembut.
“Soal pengunduran diri itu, Ibu tahu. Pak Gunawan juga sudah baca suratnya. Tapi waktu itu semua orang sibuk mau libur. Belum sempat dibicarakan baik-baik. Sekarang kita ketemu dulu, ya?”
“Untuk membicarakan apa?”
“Ya kondisi supaya kamu tetap di sini.”
Ia terdengar lebih bersemangat.
“Pak Gunawan setuju menaikkan gajimu Rp1 juta per bulan. Coba kamu pikir. Setahun tambah Rp12 juta. Di kondisi sekarang, belum tentu pindah perusahaan langsung dapat kenaikan seperti itu.”
Aku hampir tertawa.
Bukan karena Rp1 juta tidak berarti.
Namun tujuh tahun bekerja di sana membuatku tahu persis berapa harga yang sebenarnya mereka berikan pada pekerjaanku.
Di divisi kami, beberapa orang bisa pulang tepat waktu hampir setiap hari. Mereka jarang mengikuti proyek sampai tahap akhir. Bonus mereka tahun lalu rata-rata belasan juta rupiah.
Sementara itu, aku menangani beberapa klien besar sekaligus.
Proyek terakhirku dengan Arunika Group bernilai sekitar Rp18 miliar. Aku mengikuti prosesnya sejak pembahasan kebutuhan, penyusunan proposal, negosiasi, revisi desain, sampai implementasi.
Berbulan-bulan aku melakukan pekerjaan yang seharusnya dibagi kepada tiga orang.
Aku sering menjadi orang terakhir yang mematikan lampu ruang kerja.
Ketika ada perubahan mendadak dari klien, aku yang membuka kembali file setelah makan malam.
Ketika vendor terlambat, aku yang menelepon satu per satu.
Ketika tim lain bingung menjawab pertanyaan teknis, mereka mencari aku.
Tetapi pada acara evaluasi akhir tahun, proyek-proyek yang paling berhasil tiba-tiba disebut sebagai pencapaian Nita Lestari.
Nita dulu masuk sebagai staf magang.
Aku yang mengajarinya menghadapi klien.
Aku yang menunjukkan cara membaca risiko proyek sebelum masalah muncul.
Aku pula yang beberapa kali memperbaiki pekerjaannya tanpa mempermalukannya di depan tim.
Di panggung acara akhir tahun, Nita menerima penghargaan karyawan terbaik.
Bonusnya Rp75 juta.
Ia juga menerima sebuah ponsel baru keluaran terbaru dari perusahaan.
Bonusku?
Rp500.000.
Jumlah itu bahkan lebih menyakitkan daripada tidak mendapatkan apa-apa.
Aku menarik kursi dan duduk.
“Bu Rina, saya mau tanya satu hal. Kenapa bonus saya hanya Rp500 ribu?”
Bu Rina diam beberapa detik.
“Ratih, perusahaan punya pertimbangan sendiri.”
“Pertimbangannya apa?”
“Kamu memang banyak bekerja. Itu kami akui. Tapi penilaian kan bukan hanya angka proyek.”
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan.
“Kamu terlalu fokus pada pekerjaan sendiri. Jarang ikut kegiatan tim. Waktu gathering tidak datang. Acara makan malam divisi juga beberapa kali tidak hadir. Komunikasi dengan teman-teman kurang.”
Aku menatap meja.
Gathering yang dimaksud dilaksanakan hari Sabtu ketika aku sedang menyelesaikan revisi proposal yang diminta Pak Gunawan untuk dikirim Senin pagi.
Makan malam divisi pada Jumat malam kulewatkan karena Sabtu pagi aku harus bertemu tim Arunika.
Pernah juga mereka karaoke setelah jam kerja. Aku tidak ikut karena keesokan harinya ada presentasi dan Pak Gunawan sendiri menyuruhku memastikan tidak ada satu angka pun yang salah.
Saat aku bekerja, mereka berfoto bersama.
Kemudian foto-foto itu masuk ke grup WhatsApp dengan tulisan tentang kekompakan dan keluarga besar kantor.
Ternyata itulah yang mereka sebut kontribusi tim.
“Ada alasan lain?” tanyaku.
Bu Rina menarik napas.
“Pak Gunawan juga pernah bilang ada beberapa klien yang kurang puas dengan proyekmu.”
“Klien mana?”
“Ya… beberapa.”
“Masalahnya apa?”
“Ibu tidak pegang detail.”
“Kapan keluhannya masuk?”
“Ratih, jangan terlalu memperdebatkan kata per kata.”
Aku bersandar.
Jadi tidak ada nama klien.
Tidak ada tanggal.
Tidak ada laporan.
Hanya ada kalimat bahwa konon seseorang pernah tidak puas.
Cukup untuk menjelaskan kenapa pekerjaan setahun dihargai Rp500 ribu.
“Baik, Bu. Saya sudah paham.”
“Nah, bagus. Jadi kamu datang saja dulu. Kita bicara sama Pak Gunawan.”
“Bukan begitu maksud saya. Saya paham bahwa keputusan saya keluar sudah benar.”
Nada suaranya langsung meninggi.
“Ratih, jangan keras kepala. Ibu sedang membantu kamu.”
“Tujuh tahun saya tidak pernah mangkir tanpa alasan. Hampir tidak pernah menolak lembur. Sebelum keluar pun semua file yang diwajibkan sudah saya serahkan. Kalau ada pertanyaan tentang materi serah terima, saya masih bisa menjelaskan sesuai kewajiban. Tapi saya tidak kembali sebagai pegawai.”
“Ratih Prameswari!”
Aku menjauhkan ponsel sedikit dari telinga.
“Kamu ini kenapa sikapnya jadi begini? Kami masih mau membicarakan kenaikan gaji, kamu malah…”
Aku menutup telepon.
Aku tidak ingin hari pertama di tempat baru dimulai dengan pertengkaran dari kantor yang sudah kutinggalkan.
Belum lima menit, ponselku bergetar lagi.
Nita.
Panggilan WhatsApp-nya kutolak.
Pesan langsung masuk berturut-turut.
“Kak, kok tidak angkat?”
“Pak Gunawan marah banget.”
“Proyek Arunika harus dibereskan. Kak Ratih kan biasanya paling bertanggung jawab.”
“Jangan bikin keadaan makin susah, Kak.”
Aku membaca semuanya tanpa menjawab.
Lalu masuk satu pesan panjang.
Nita menulis bahwa ia memahami kekecewaanku soal bonus. Katanya, kondisi perusahaan tahun lalu memang tidak mudah.
Ia juga mengatakan Pak Gunawan sebenarnya menghargai aku.
Kalimat berikutnya membuatku berhenti menggulir layar.
“Kalau Kak Ratih keluar cuma gara-gara bonus, nanti orang bisa salah menilai. Perusahaan juga sudah membina Kakak bertahun-tahun. Pergi begitu saja tidak merasa tidak enak?”
Aku membaca bagian terakhir dua kali.
Tidak merasa tidak enak.
Dari semua orang di kantor itu, Nita memilih berbicara tentang rasa tahu diri.
Aku akhirnya membalas.
“Waktu aku sakit tiga hari, siapa yang menyalin file klien dari folder kerjaku tanpa bilang? Siapa yang memakai konsep presentasiku di rapat dan membawanya seolah-olah ide sendiri? Sebelum penilaian akhir tahun, siapa yang mengajak satu divisi minum bersama dan sengaja tidak mengabariku? Jangan bicara soal rasa tidak enak kepadaku.”
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
“Kak, membahas hal begitu sekarang juga tidak mengubah apa-apa.”
Kemudian muncul pesan kedua.
“Kakak pikir setelah keluar dari Cakrawala gampang cari tempat lain? Sekarang lulusan S2 saja banyak yang kesulitan cari kerja. Kakak S1, sudah 30 tahun, pengalaman paling besar juga dapat dari fasilitas perusahaan.”
Pesan ketiga lebih jelas.
“Bu Rina bilang kalau Kakak tetap tidak mau kembali, Pak Gunawan bisa bicara ke orang-orang di industri. Nanti perusahaan lain juga mikir dua kali mau menerima Kakak.”
Aku menatap layar cukup lama.
Mereka bukan lagi sedang membujuk.
Mereka sedang mengancam.
Nita mengirim satu pesan terakhir.
“Kak? Jawab dong. Semua lagi nunggu.”
Aku membalas dengan satu emoji.
🙂
Lalu kublokir nomornya.
Aku mandi, merapikan rambut, mengenakan kemeja yang sudah disetrika malam sebelumnya, lalu mengambil tas kerja.
Perusahaan tempatku mulai bekerja hari itu adalah Arunika Group.
Klien dari proyek Rp18 miliar yang selama berbulan-bulan kutangani atas nama Cakrawala.
Aku sudah beberapa kali berhubungan dengan Pak Surya, kepala divisi yang menangani proyek tersebut. Ia tipe orang yang bicara langsung pada masalah dan jarang memanggil orang di luar jam kerja jika tidak penting.
Beberapa hari sebelum aku mengajukan pengunduran diri, ia pernah mengirim pesan pribadi.
“Bu Ratih, saya tidak tahu situasi internal tempat Ibu bekerja, jadi saya tidak ingin ikut campur. Tapi kalau suatu saat Ibu mencari kesempatan baru, hubungi saya. Kami sedang membutuhkan orang yang paham proyek dari sisi teknis dan bisnis.”
Aku menghubunginya setelah keputusan bonus keluar.
Tidak ada janji fantastis.
Aku tetap melalui wawancara.
Membahas tanggung jawab.
Membahas kisaran gaji.
Membahas konflik kepentingan karena Arunika masih mempunyai kontrak dengan Cakrawala.
Justru karena itu, aku merasa lebih tenang.
Mereka merekrutku bukan karena kasihan.
Mereka tahu pekerjaan yang pernah kulakukan.
Ketika aku sampai di kantor Arunika, petugas resepsionis mengenaliku dari beberapa rapat sebelumnya.
“Bu Ratih, Pak Surya sudah menunggu.”
Aku mengetuk pintu kantornya.
Pak Surya menunjuk kursi di depannya.
“Selamat bergabung. Tapi sebelum urusan orientasi selesai, ada satu hal yang perlu saya bicarakan.”
Aku otomatis duduk lebih tegak.
“Silakan, Pak.”
“Proyek Cakrawala.”
Tanganku berhenti di atas tas.
“Proyek yang sebelum libur itu sudah masuk tahap akhir?”
“Iya. Hari ini kami jadwalkan pemeriksaan untuk proses serah terima.”
Ia memutar monitor sedikit, menunjukkan jadwal yang sudah disusun tim.
“Awalnya saya mau kirim Dimas dari quality assurance. Tapi saya pikir lagi. Dari pihak kami, orang yang paling memahami sejarah proyek itu sekarang justru kamu. Dari pihak mereka, selama ini orang yang paling memahami detailnya juga kamu.”
Aku sudah tahu arah pembicaraan itu.
Pak Surya menatapku.
“Saya ingin kamu ikut ke Cakrawala pagi ini sebagai perwakilan Arunika.”
Aku tidak langsung menjawab.
Teringat hari ketika Pak Gunawan menerima surat pengunduran diriku tanpa benar-benar membaca isinya.
Teringat Nita berdiri di panggung membawa penghargaan untuk pekerjaan yang sebagian besar kukerjakan.
Teringat alasan bahwa Rp500 ribu adalah penilaian “menyeluruh” terhadap kontribusiku.
Dan pagi itu, orang-orang yang sama masih menyuruhku kembali seolah-olah aku hanya sedang ngambek.
Aku mengangguk.
“Baik, Pak. Saya ikut.”
Pak Surya mengangkat alis sedikit.
“Kamu yakin tidak ada masalah secara pribadi?”
“Kalau saya membawa masalah pribadi ke pemeriksaan proyek, seharusnya Bapak tidak menugaskan saya lagi setelah hari ini.”
Ia tersenyum tipis.
“Jawaban yang saya harapkan.”
Setelah itu aku menyelesaikan administrasi karyawan baru.
Petugas SDM menyerahkan laptop, akses sistem, lalu sebuah kartu identitas.
Aku membaliknya.
Di bawah namaku tercetak jelas:
RATIH PRAMESWARI
PROJECT DIRECTOR
ARUNIKA GROUP
Aku memasukkan kartu itu ke tempatnya, menggantungnya di leher, lalu mengambil map proyek Cakrawala.
Pagi tadi mereka mengancam tidak akan ada perusahaan di industri ini yang berani menerimaku.
Sekarang tugasku justru kembali ke sana.
Bukan sebagai pegawai mereka.
Sebagai pihak yang akan memeriksa apakah pekerjaan mereka layak diterima.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Aku datang ke Cakrawala bersama Dimas dari tim quality assurance Arunika.
Satpam di lobi masih mengenaliku.
“Bu Ratih? Baru datang, Bu? Pak Gunawan dari tadi mencari.”
Ia baru melihat kartu di leherku ketika aku menyerahkan identitas untuk dicatat sebagai tamu.
Ekspresinya berubah.
Aku tidak menjelaskan apa pun.
Di lantai sembilan, pintu ruang rapat sudah terbuka. Tiga mantan rekan kerjaku duduk di dalam. Nita berada di depan laptop, sementara Pak Gunawan berjalan bolak-balik sambil menelepon seseorang.
Begitu melihatku, ia mematikan telepon.
“Nah! Akhirnya datang juga.”
Lalu matanya turun ke kartu identitasku.
Langkahnya berhenti.
Dimas memperkenalkan diri lebih dulu.
“Selamat pagi. Saya Dimas dari QA Arunika. Ini Bu Ratih Prameswari, Project Director kami. Kami datang untuk pemeriksaan tahap akhir sesuai jadwal.”
Tidak ada yang menjawab beberapa detik.
Nita yang pertama bergerak.
“Kak Ratih… kerja di Arunika?”
“Mulai hari ini.”
Pak Gunawan menatapku seolah sedang memastikan aku tidak sedang bercanda.
“Sejak kapan?”
“Prosesnya sebelum libur.”
“Kamu tidak bilang.”
Aku hampir menjawab bahwa perusahaan juga tidak pernah bertanya akan ke mana aku pergi.
Namun itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kami pagi itu.
Aku membuka map.
“Kita mulai saja, Pak. Jadwal pemeriksaan sampai siang.”
Wajah Pak Gunawan mengeras.
Ia duduk.
Tahap awal berjalan relatif tenang.
Tim Cakrawala mempresentasikan daftar pekerjaan yang disebut sudah selesai. Nita memimpin paparan. Beberapa slide sangat kukenal karena struktur dasarnya berasal dari file yang pernah kubuat.
Aku tidak mempersoalkan itu.
Materi tersebut memang dibuat ketika aku masih bekerja di Cakrawala.
Masalah baru muncul ketika kami mulai memeriksa hasil implementasi.
Dimas menemukan dua fungsi yang tidak sesuai dokumen kebutuhan.
Aku menemukan satu bagian konfigurasi yang menggunakan versi sebelum revisi terakhir.
“Ini kenapa masih memakai parameter lama?” tanyaku.
Nita menggulir file dengan cepat.
“Seharusnya tidak.”
“Dokumen perubahan tanggal 18 Desember sudah disetujui kedua pihak.”
“Iya, Kak. Saya tahu.”
“Kalau tahu, kenapa hasil akhirnya memakai versi tanggal 6?”
Ruangan sunyi.
Seorang staf teknis di sebelah Nita berkata pelan, “File yang kami terima untuk pengerjaan terakhir itu versi tanggal 6.”
Nita langsung menoleh.
“Bukan, kan sudah ada update.”
“Update-nya ada di folder, tapi tidak ada instruksi mengganti file produksi.”
Pak Gunawan menyela.
“Sudah. Tidak usah membahas proses internal di depan klien. Ini tinggal diperbaiki.”
Aku melihat catatan di depanku.
“Boleh diperbaiki. Tapi hari ini belum bisa dinyatakan selesai.”
Pak Gunawan memandangku tajam.
“Ratih, ini bukan masalah besar.”
“Ada tiga poin yang belum sesuai spesifikasi kontrak.”
“Kamu paham proyek ini. Hal seperti ini bisa dibereskan sambil jalan.”
“Betul. Karena saya paham, saya juga tahu tiga poin itu memengaruhi hasil akhir.”
Ia menekan bibirnya.
“Jangan campurkan urusan pribadi dengan pekerjaan.”
Dimas yang sejak tadi mengetik hasil pemeriksaan berhenti sebentar.
Aku tetap melihat Pak Gunawan.
“Kalau Bapak merasa catatan saya tidak objektif, kita cocokkan satu per satu dengan dokumen yang ditandatangani kedua perusahaan.”
Aku mendorong salinan persyaratan ke tengah meja.
“Kalau hasilnya sudah sesuai, saya tandatangani. Kalau belum, saya tulis belum.”
Tidak ada yang bisa diperdebatkan dari kalimat itu.
Kami melanjutkan pemeriksaan.
Masalah keempat muncul menjelang siang.
Sebuah skenario pengujian penting tidak pernah dijalankan setelah perubahan terakhir.
Nita bersikeras bahwa pengujian sudah dilakukan.
Dimas meminta hasilnya.
Ia membuka beberapa folder.
Tidak ada.
Pak Gunawan mulai kehilangan kesabaran.
“Nita, laporannya mana?”
Nita menjawab cepat, “Mungkin tersimpan di laptop lama Kak Ratih.”
Aku menatapnya.
“Laptop kantor sudah saya serahkan sebelum keluar dan seluruh folder proyek sudah disalin ke server.”
“Bisa jadi belum semua.”
Aku membuka daftar serah terima dari map.
Di sana tercatat folder, tanggal salinan, dan penerima.
Nama penerimanya adalah Nita Lestari.
Aku meletakkan dokumen itu di depan kami.
“Kamu tanda tangan menerima seluruh folder pada tanggal 27.”
Nita tidak menyentuh kertasnya.
Wajahnya pucat.
Dimas memecah keheningan.
“Jadi kita catat pengujian ulang diperlukan sebelum acceptance.”
Pak Gunawan mengembuskan napas kasar.
“Kalau begitu kapan pembayaran tahap akhir bisa diproses?”
Dimas menjawab, “Setelah temuan ditutup dan diverifikasi.”
Pak Gunawan menoleh kepadaku lagi.
Aku tahu apa yang ada di pikirannya.
Pembayaran terakhir tidak kecil.
Setiap hari keterlambatan juga berarti timnya harus tetap bekerja.
Kemarin, mungkin ia masih menganggap proyek ini akan selesai dengan satu tanda tangan.
Sekarang tanda tangan itu berada di sisi meja yang tidak lagi bisa ia perintah.
Setelah rapat selesai, Dimas keluar lebih dulu untuk menelepon kantor.
Aku sedang memasukkan dokumen ketika Pak Gunawan berkata pelan, “Ratih, tinggal sebentar.”
Nita masih di ruangan.
Ia menambahkan, “Berdua.”
Nita keluar tanpa menatapku.
Pak Gunawan menutup pintu.
“Kita bicara sebagai orang yang sudah kerja bersama tujuh tahun.”
Aku tidak duduk lagi.
“Silakan.”
Ia menatap kartu identitasku.
“Berapa Arunika bayar kamu?”
“Itu urusan saya dengan perusahaan sekarang.”
“Kalau soal uang, kita bisa bicara.”
Aku menunggunya melanjutkan.
“Aku naikkan gajimu. Jabatan juga bisa kita atur. Kamu kembali bantu bereskan proyek ini. Setelah itu kita bahas semuanya.”
Pagi tadi tawarannya Rp1 juta.
Sekarang jabatan ikut masuk.
Aku bertanya, “Kembali sebagai apa?”
Ia terdiam.
Lalu menjawab, “Kita cari posisi yang cocok.”
Aku mengangguk kecil.
“Artinya belum ada.”
Wajahnya berubah.
“Ratih, jangan cari menang.”
“Saya tidak sedang mencari menang, Pak.”
Aku mengangkat map.
“Saya sudah bekerja di tempat lain.”
Saat aku membuka pintu, Pak Gunawan berkata dari belakang.
“Kalau proyek ini terlambat, kamu juga tahu siapa yang paling bisa menyelamatkannya.”
Aku berhenti sebentar.
Untuk pertama kalinya hari itu aku menoleh.
“Saya tahu.”
Kemudian aku melihat Nita berdiri beberapa meter dari pintu dengan ponsel di tangannya dan mata merah.
Di sebelahnya ada kepala tim teknis yang memegang satu lembar hasil cetak.
Ia mendekat kepadaku.
“Bu Ratih, kami baru menemukan satu hal.”
Ia memberikan kertas itu.
Di bagian bawah tercetak riwayat perubahan file proyek.
Versi produksi terakhir ternyata diubah tiga hari setelah aku resmi menyerahkan pekerjaan.
Nama pengguna yang melakukan perubahan itu tercantum jelas.
NITA LESTARI.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku membaca riwayat perubahan itu sekali, lalu mengembalikannya kepada kepala tim teknis.
Nita segera berkata, “Kak, aku bisa jelaskan.”
Aku menatap jam.
Pukul dua belas lewat sepuluh.
Aku sudah melewati jam makan siang pada hari pertama bekerja.
Dulu aku mungkin akan tetap berdiri di sana, membantu mereka mencari kesalahan, membuka semua file, lalu mengorbankan waktu sampai masalah selesai.
Kebiasaan tujuh tahun memang tidak hilang hanya karena sebuah kartu identitas baru menggantung di leher.
Tanganku bahkan sempat ingin mengambil kertas itu lagi.
Aku menahannya.
“Jelaskan ke Pak Gunawan dulu,” kataku. “Kalau berkaitan dengan temuan pemeriksaan, kirim penjelasan resminya ke Arunika.”
Nita mengerjapkan mata.
“Kakak tidak mau dengar?”
“Sekarang saya pihak klien. Kalau saya menerima penjelasan penting secara pribadi, justru nanti prosesnya tidak jelas.”
Kepala tim teknis mengangguk pelan.
Pak Gunawan keluar dari ruang rapat.
“Ada apa?”
Nita buru-buru mengambil kertas itu.
“Pak, sebenarnya waktu itu saya cuma…”
Ia berhenti.
Aku tidak menunggu.
Dimas sudah berdiri di ujung koridor.
Kami kembali ke Arunika.
Di perjalanan, ia tidak bertanya soal hubungan lamaku dengan orang-orang tadi. Ia hanya membuka catatan di tablet.
“Empat temuan utama,” katanya. “Dua bisa diperbaiki cepat. Dua lainnya perlu pengujian ulang.”
“Ya.”
“Menurutmu berapa lama?”
Aku berpikir sebentar.
“Kalau tim mereka benar-benar mengerjakan sesuai prosedur, tiga sampai lima hari kerja. Kalau masih saling mencari siapa yang salah, bisa jauh lebih lama.”
Dimas tertawa kecil.
“Itu bukan istilah QA, tapi cukup akurat.”
Setibanya di kantor, aku menyerahkan laporan awal kepada Pak Surya.
Ia membacanya tanpa banyak ekspresi.
“Temuan ini serius?”
“Tidak sampai proyek gagal total. Tapi cukup untuk menunda acceptance.”
“Bisa diselesaikan?”
“Bisa.”
Ia mengangguk.
“Baik. Itu yang penting.”
Aku sempat menunggu pertanyaan tentang bagaimana reaksi mantan kantorku.
Pak Surya tidak menanyakannya.
Justru hal itu membuatku sadar betapa terbiasanya aku dulu bekerja di lingkungan yang mengubah hampir semua hal menjadi urusan personal.
Di Arunika, temuan proyek adalah temuan proyek.
Tidak ada pembicaraan soal siapa ikut karaoke.
Tidak ada ukuran loyalitas berdasarkan makan malam bersama.
Tidak ada kalimat bahwa seseorang harus merasa berutang budi karena pernah diberikan pekerjaan.
Setelah makan siang terlambat, aku kembali ke meja dan mulai membaca dokumen untuk proyek lain yang kelak menjadi tanggung jawabku.
Sekitar pukul empat sore, sebuah email masuk dari Cakrawala.
Subjeknya:
Penjelasan Awal Temuan Proyek Arunika.
Pengirimnya Nita.
Pak Gunawan dan beberapa orang lain masuk dalam tembusan.
Aku membacanya perlahan.
Nita mengakui mengubah file konfigurasi tiga hari setelah serah terima dariku.
Alasannya, ia menerima permintaan internal untuk “menyederhanakan implementasi” karena tim teknis mengejar target sebelum libur.
Ia mengira perubahan itu tidak akan memengaruhi kebutuhan utama.
Namun ia tidak meminta persetujuan pihak Arunika.
Ia juga tidak menjalankan ulang seluruh skenario pengujian setelah perubahan.
Kalimat terakhir berbunyi:
“Kami akan melakukan perbaikan sesuai catatan dan mengirim jadwal tindak lanjut paling lambat besok pagi.”
Aku meneruskan email itu kepada Dimas dan Pak Surya dengan satu catatan singkat:
“Penjelasan vendor sudah diterima. Saya sarankan kita meminta jadwal corrective action dan bukti pengujian ulang untuk empat temuan sebelum pemeriksaan berikutnya.”
Tidak ada tambahan tentang Nita.
Tidak ada kalimat bahwa akhirnya kebohongannya terbongkar.
Tidak ada permintaan agar ia dihukum.
Karena masalah kami sekarang bukan siapa yang menerima piala pada pesta akhir tahun.
Masalahnya adalah apakah Cakrawala memenuhi kontraknya.
Malam itu, untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku pulang ketika pekerjaanku hari itu selesai.
Bukan ketika semua orang lain sudah pulang.
Bukan ketika gedung hampir kosong.
Bukan setelah memastikan pekerjaan tiga orang selesai sekaligus.
Pukul enam kurang sedikit aku sudah berada di lift.
Ponselku bergetar.
Nomor tak dikenal.
Aku hampir mengabaikannya, tetapi pesan berikutnya menyebut nama Bu Rina.
“Ratih, ini Ibu. Nomor Ibu mungkin terblokir di WA. Bisa bicara sebentar?”
Aku sebenarnya hanya memblokir Nita.
Namun aku tidak membalas sampai tiba di rumah.
Setelah makan malam, aku memutuskan menelepon.
Bu Rina langsung menjawab.
“Ratih, akhirnya.”
“Ada apa, Bu?”
“Kamu benar sudah masuk Arunika?”
“Benar.”
“Kenapa tidak bilang waktu kita bicara pagi?”
Pertanyaan itu membuatku heran.
“Karena Ibu menelepon untuk menyuruh saya kembali bekerja, bukan bertanya kabar.”
Ia diam.
Kemudian suaranya turun.
“Ibu dengar siang tadi ada masalah saat pemeriksaan.”
“Ada beberapa temuan.”
“Pak Gunawan sedang sangat tertekan. Pembayaran terakhir proyek itu penting untuk arus kas perusahaan.”
Aku tidak menjawab.
“Ratih, kalau kamu bisa bantu sedikit…”
“Saya sudah membantu sesuai posisi saya sekarang.”
“Bukan begitu maksud Ibu. Kamu kan hafal proyek itu. Bantu Nita memahami bagian yang belum beres. Tidak perlu resmi. Malam ini video call satu dua jam juga bisa.”
Aku memejamkan mata sebentar.
Bahkan setelah aku resmi bekerja di perusahaan lain, mereka masih menganggap waktuku tersedia jika Cakrawala membutuhkannya.
“Bu Rina, saya tidak bisa.”
“Kok tidak bisa? Itu kan pekerjaan yang dulu kamu pegang.”
“Dulu.”
“Jangan perhitungan begitu, Ratih. Bagaimanapun juga…”
Aku memotongnya sebelum kalimat tentang tujuh tahun bersama keluar.
“Kalau Cakrawala membutuhkan konsultasi teknis dari Arunika, kirim pertanyaan melalui jalur proyek. Kalau membutuhkan saya sebagai mantan pegawai untuk bekerja malam tanpa kontrak dan tanpa penugasan, jawabannya tidak.”
Nada Bu Rina berubah.
“Kamu sekarang merasa sudah di pihak klien jadi bisa begitu?”
Aku menatap layar laptop yang belum kubuka sejak pulang.
Aneh sekali.
Dulu kalimat seperti itu bisa membuatku merasa bersalah sampai berjam-jam.
Malam itu tidak.
“Saya bersikap begini karena sekarang saya tahu pekerjaan punya batas.”
Aku menutup telepon setelah mengucapkan selamat malam.
Keesokan paginya, Cakrawala mengirim jadwal perbaikan.
Lima hari.
Mereka menunjuk kepala tim teknis sebagai penanggung jawab pelaksanaan. Nita tetap terlibat, tetapi semua perubahan harus ditinjau dua orang sebelum dikirim untuk pengujian.
Aku melihat nama-nama dalam jadwal itu tanpa komentar.
Hari kedua di Arunika berjalan padat. Aku mulai masuk ke rapat proyek lain dan mengenal anggota timku.
Menjelang sore, Pak Surya memanggilku.
“Cakrawala minta pertemuan tambahan besok.”
“Soal corrective action?”
“Sebagian.”
Ia menyerahkan ponselnya.
Ada email dari Pak Gunawan.
Selain membahas perbaikan, ia meminta waktu “untuk meluruskan beberapa persoalan mengenai perpindahan personel yang berpotensi memengaruhi hubungan kerja sama.”
Aku membaca kalimat itu sekali.
“Apakah perpindahan saya melanggar kontrak?”
“Tidak.”
“Saya membawa data mereka?”
“Tidak.”
“Saya mengajak pegawai mereka pindah?”
“Sejauh yang saya tahu, tidak.”
“Berarti tidak ada yang perlu diluruskan dari sisi saya.”
Pak Surya mengangguk.
“Saya juga berpikir begitu. Besok kita tetap dengarkan karena mereka vendor aktif. Tapi pembicaraannya tetap urusan profesional.”
Pertemuan berlangsung pukul sepuluh pagi.
Pak Gunawan datang bersama Bu Rina.
Nita tidak ikut.
Bu Rina tersenyum kepadaku seolah percakapan malam sebelumnya tidak pernah terjadi.
Kami membahas progres perbaikan lebih dulu.
Setelah sekitar empat puluh menit, Pak Gunawan menutup dokumen teknis.
“Kalau boleh, saya ingin membicarakan Ratih sebentar.”
Pak Surya bersandar.
“Silakan.”
Pak Gunawan menatapku.
“Ratih keluar dalam waktu yang kurang ideal bagi kami. Ia memegang proyek strategis, lalu langsung bekerja di perusahaan klien yang proyeknya sedang berjalan. Saya kira Pak Surya bisa memahami kenapa situasi ini kurang nyaman.”
Pak Surya tidak buru-buru menjawab.
Ia bertanya kepadaku, “Proses pengunduran dirimu bagaimana?”
“Saya mengajukan surat resmi. Menyelesaikan masa dan prosedur yang diwajibkan. Serah terima tercatat. Tidak membawa file perusahaan.”
Bu Rina ikut bicara.
“Benar, secara administrasi selesai. Hanya saja waktu itu kami mengira masih bisa membicarakan agar Ratih tetap bekerja.”
Aku menoleh kepadanya.
“Surat saya disetujui.”
“Iya, tapi kondisi sebelum libur kan sibuk.”
Pak Surya bertanya, “Apakah ada kewajiban yang belum diselesaikan Ratih?”
Bu Rina diam sebentar.
“Secara dokumen… tidak.”
“Apakah ada data Cakrawala yang ia bawa ke sini?”
“Sejauh ini kami tidak punya bukti.”
Pak Surya menutup pulpennya.
“Kalau begitu saya tidak melihat masalah ketenagakerjaan yang harus dibahas dalam rapat proyek.”
Pak Gunawan mengerutkan dahi.
“Masalahnya bukan cuma administrasi. Ratih tahu banyak hal tentang perusahaan kami.”
Aku akhirnya bicara.
“Pak Gunawan, selama tujuh tahun saya bekerja, saya juga tahu data banyak klien. Tidak pernah saya gunakan untuk kepentingan pribadi. Kenapa sekarang integritas saya dipertanyakan justru setelah saya keluar?”
“Jangan dibalik.”
“Saya tidak membalik apa pun. Saya hanya meminta satu tuduhan yang spesifik.”
Ia menatapku, tetapi tidak menjawab.
Aku melanjutkan.
“Kalau Cakrawala punya bukti saya melanggar kewajiban kerahasiaan, silakan sampaikan secara resmi. Saya akan jawab secara resmi juga. Kalau tidak, saya minta pekerjaan saya di Arunika tidak dikaitkan dengan ketidaknyamanan karena saya memilih keluar.”
Bu Rina mencoba menurunkan suasana.
“Ratih, Pak Gunawan bukan menuduh.”
“Kalau begitu lebih baik kita kembali ke proyek.”
Pak Surya membuka dokumen berikutnya.
Percakapan selesai di sana.
Aku keluar dari ruangan tanpa merasa menang.
Yang kurasakan justru lelah.
Selama bertahun-tahun aku selalu mencoba mendapatkan pengakuan dari orang yang tidak berniat memberikannya.
Aku ingin mereka mengatakan bahwa aku bekerja keras.
Aku ingin mereka mengakui bonus Rp500 ribu itu tidak masuk akal.
Aku ingin Pak Gunawan mengakui proyek Arunika memang sebagian besar berdiri di atas pekerjaanku.
Aku bahkan pernah membayangkan Nita datang dan meminta maaf.
Sekarang ketika kesempatan untuk berdebat terbuka, aku justru tidak ingin menghabiskan tenaga di sana.
Aku tidak membutuhkan pengakuan mereka untuk membuktikan bahwa tujuh tahun itu nyata.
Tiga hari kemudian, Cakrawala mengirim hasil perbaikan pertama.
Dua temuan selesai.
Dua lainnya belum.
Pada salah satu skenario pengujian, hasilnya masih meleset dari kebutuhan.
Dimas menandainya.
Aku memeriksa ulang.
“Akar masalahnya konfigurasi yang kemarin?”
“Sebagian. Tapi ada satu modul yang perlu dikembalikan ke rancangan sebelum perubahan.”
Aku mengenali bagian itu.
Dulu aku pernah memperingatkan bahwa jalan pintas pada modul tersebut akan menimbulkan masalah ketika volume penggunaan naik.
Catatannya ada di dokumen desain.
Kami meminta Cakrawala memperbaikinya.
Sore hari, Nita mengirim pesan kepadaku melalui email resmi.
Bukan WhatsApp.
“Bu Ratih, bolehkah saya memastikan maksud catatan pada halaman 47 dokumen desain? Apakah rekomendasinya kembali ke konfigurasi awal atau menyesuaikan parameter baru?”
Bahasanya formal.
Aku membalas dengan cara yang sama.
Aku menjelaskan maksud catatan dalam tiga paragraf singkat dan menyalin Dimas.
Tidak lebih.
Beberapa jam kemudian, Nita membalas.
“Sudah jelas. Terima kasih.”
Itulah pertama kalinya kami berkomunikasi lagi setelah aku memblokirnya.
Tidak ada “Kak”.
Tidak ada pembicaraan tentang umurku.
Tidak ada ancaman bahwa aku tidak akan diterima perusahaan lain.
Hanya pekerjaan.
Anehnya, bentuk hubungan seperti itu jauh lebih mudah.
Dua hari kemudian, semua perbaikan selesai.
Kami melakukan pengujian ulang di kantor Cakrawala.
Kali ini Nita tidak memimpin sendirian. Kepala tim teknis memegang daftar perubahan, sementara setiap hasil pengujian langsung disimpan di folder proyek bersama.
Pemeriksaan memakan hampir empat jam.
Pada akhir sesi, Dimas menutup laptop.
“Semua temuan sudah ditutup.”
Aku memeriksa checklist terakhir.
Sesuai.
Tidak ada alasan menunda lagi.
Aku menandatangani bagian rekomendasi acceptance dari tim proyek Arunika.
Pak Gunawan memperhatikanku dari seberang meja.
Mungkin ia mengira aku akan mencari masalah tambahan.
Aku tidak melakukannya.
Kalau pekerjaan selesai sesuai kontrak, tugas kami adalah menerimanya.
Setelah dokumen terakhir dipindai, orang-orang mulai meninggalkan ruangan.
Nita mendekat.
“Kak Ratih.”
Aku menoleh.
Ia tampak ragu beberapa detik.
“Boleh bicara sebentar?”
Aku melihat Dimas yang sedang merapikan kabel.
“Di sini saja.”
Nita mengangguk.
“Waktu perubahan file itu… memang aku yang lakukan.”
“Aku tahu.”
“Aku pikir bisa lebih cepat.”
Aku tidak menjawab.
Ia menarik kursi tetapi tidak duduk.
“Pak Gunawan waktu itu bilang proyek harus kelihatan selesai sebelum libur. Tim teknis bilang kalau tetap pakai rancangan terakhir, butuh tambahan waktu.”
“Lalu kamu ubah?”
“Iya.”
“Tanpa konfirmasi ke klien?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Ia menunduk.
“Karena aku takut dibilang tidak mampu.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti alasan yang dibuat-buat.
Mungkin karena untuk pertama kalinya ia tidak sedang mencoba membuat dirinya terlihat hebat.
“Aku baru dapat penghargaan,” lanjutnya. “Semua orang bilang aku harus bisa menggantikan Kakak. Aku juga sudah telanjur bilang ke Pak Gunawan semuanya aman.”
Aku memandangnya.
“Aku tidak pernah meminta kamu menggantikanku.”
“Aku tahu.”
“Dan masalah kita bukan karena kamu kurang mampu.”
Ia mengangkat kepala.
“Lalu karena apa?”
“Karena setiap kali kamu tidak tahu sesuatu, kamu lebih memilih terlihat tahu daripada bertanya.”
Wajahnya menegang.
Aku melanjutkan sebelum ia membela diri.
“Waktu masih jadi staf baru, kalau kamu bertanya aku selalu menjawab. Tapi semakin dekat penilaian akhir tahun, kamu mulai mengambil file tanpa bilang, memakai ide orang lain, dan menerima pujian untuk pekerjaan yang bukan sepenuhnya kamu kerjakan.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
Aku tidak ingin melihatnya menangis.
Bukan karena kasihan berlebihan.
Aku hanya tidak ingin percakapan ini berubah menjadi adegan permintaan maaf yang menyelesaikan semuanya dalam lima menit.
Nita berkata pelan, “Aku salah.”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Ia terlihat terkejut karena aku tidak langsung mengatakan tidak apa-apa.
“Aku minta maaf.”
“Baik.”
“Kakak masih marah?”
Aku memikirkan pertanyaan itu.
“Dulu sangat.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku hanya tidak mau bekerja seperti dulu lagi.”
Ia mengusap bawah matanya.
“Aku dengar kantor sedang meninjau ulang pembagian tugas.”
“Itu urusan internal Cakrawala.”
“Bonusku juga kemungkinan diperiksa.”
Aku menatapnya.
“Kalau ada keputusan soal bonusmu, itu bukan karena aku minta.”
“Aku tahu.”
Untuk beberapa detik kami hanya berdiri.
Lalu Nita bertanya, “Kak, kalau dulu aku tidak mengambil kredit pekerjaan Kakak, apa Kakak tetap akan keluar?”
Pertanyaan itu lebih sulit.
“Mungkin tidak secepat itu.”
Ia menelan ludah.
“Tapi aku rasa suatu hari tetap keluar.”
“Karena aku?”
“Bukan hanya kamu.”
Aku melihat melalui kaca ruang rapat ke kantor yang pernah menjadi tempatku menghabiskan sebagian besar usia dua puluhanku.
“Aku terlalu lama membiarkan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab sistem berubah menjadi tanggung jawab pribadi. Selama aku terus menutup semua kekurangan, orang-orang mengira semuanya memang baik-baik saja.”
Nita tidak menjawab.
Aku mengambil tasku.
“Semoga setelah ini kamu kerja lebih hati-hati.”
Ia mengangguk.
Aku pergi.
Sebulan setelah proyek dinyatakan selesai, aku mendengar sedikit kabar tentang Cakrawala dari mantan rekan yang masih sesekali menghubungiku.
Pak Gunawan tidak dipecat.
Nita juga tidak kehilangan pekerjaannya.
Hidup ternyata tidak bekerja seperti cerita balas dendam.
Yang berubah jauh lebih biasa.
Dan justru karena itu terasa lebih nyata.
Setelah proyek Arunika hampir membuat pembayaran tahap akhir tertunda, manajemen Cakrawala mewajibkan perubahan teknis memiliki persetujuan tertulis dan pemeriksaan kedua.
Pekerjaan yang dulu sering dilempar kepadaku mulai dibagi kepada beberapa orang.
Pak Gunawan tidak lagi boleh menetapkan satu orang memegang terlalu banyak proyek tanpa backup.
Nita dipindahkan dari posisi koordinator sementara dan kembali bekerja sebagai anggota tim selama masa evaluasi.
Bonus yang sudah dibayarkan tidak diminta kembali.
Penghargaan karyawan terbaik pun tetap ada di tangannya.
Ketika mendengar itu, aku ternyata tidak merasa kesal seperti yang kubayangkan.
Piala itu sudah tidak penting.
Yang lebih penting adalah aku tidak lagi harus bekerja sampai tengah malam agar sistem yang buruk terlihat berhasil.
Di Arunika, bulan-bulan pertamaku juga tidak selalu mudah.
Jabatan baru berarti tanggung jawab baru.
Ada rapat yang menegangkan.
Ada anggota tim yang tidak setuju denganku.
Pernah juga proposal yang kususun ditolak dan harus direvisi hampir dari awal.
Bedanya, ketika ada masalah, orang membicarakan masalahnya.
Bukan status pernikahanku.
Bukan karena aku tidak ikut makan malam.
Bukan jumlah foto yang kuunggah bersama rekan kerja.
Tiga bulan kemudian, aku memimpin evaluasi sebuah proyek baru.
Seorang anggota tim muda bernama Maya datang ke mejaku hampir pukul enam sore.
“Bu Ratih, saya masih punya dua bagian yang belum selesai. Kalau Ibu mau pulang dulu, saya lanjut malam.”
Aku melihat jam.
Dulu aku pasti akan menarik kursi.
“Bagian mana?”
Ia menunjukkan daftar pekerjaan.
Aku memeriksa sebentar.
Tidak ada yang harus dikirim malam itu.
“Besok lanjut.”
“Tapi saya bisa selesaikan malam ini.”
“Bisa bukan berarti harus.”
Maya tampak ragu.
“Tidak masalah, Bu?”
“Tidak.”
Aku menutup laptop.
“Kalau deadline masih besok sore, jangan membuat malam ini seolah-olah dunia akan berakhir.”
Ia tertawa kecil.
Kami keluar dari kantor hampir bersamaan.
Beberapa hari sesudahnya, Bu Rina mengirim email.
Bukan telepon.
Ia meminta alamat untuk mengirim dokumen pajak dan surat pengalaman kerja final yang sebelumnya belum sempat kukumpulkan.
Di bagian akhir ada satu kalimat.
“Terima kasih atas kontribusi selama tujuh tahun di Cakrawala.”
Tidak ada permintaan maaf soal bonus.
Tidak ada pengakuan bahwa mereka salah.
Tidak ada penjelasan mengenai ancaman bahwa aku akan sulit mendapat pekerjaan.
Aku membaca kalimat itu, lalu menyimpan dokumennya ke folder pribadi.
Cukup.
Aku tidak perlu memaksa masa lalu menjadi lebih rapi daripada kenyataannya.
Enam bulan setelah aku pindah, proyek Arunika yang dulu membuatku kembali menginjakkan kaki ke mantan kantor sudah lama selesai.
Cakrawala masih menjadi salah satu vendor.
Hubungan kedua perusahaan tetap berjalan.
Aku bahkan beberapa kali menerima email dari Nita tentang pekerjaan.
Semuanya formal.
Kadang ia bertanya.
Kadang aku mengoreksi.
Kadang justru ia yang menemukan detail yang terlewat oleh tim kami.
Kami tidak menjadi sahabat.
Aku juga tidak membutuhkannya.
Suatu sore, setelah rapat terakhir selesai, Pak Surya memanggilku sebelum pulang.
“Ratih.”
Aku berhenti di pintu.
“Ya, Pak?”
“Besok jangan masuk terlalu pagi. Pertemuan pertama jam sepuluh.”
Aku tertawa.
“Baik.”
“Maksud saya serius. Sistem melihat kamu beberapa kali login sebelum jam tujuh.”
Aku mengangguk.
Kebiasaan lama memang keras kepala.
Malam itu aku tiba di apartemen sebelum gelap.
Kutaruh tas di meja, lalu mengeluarkan kartu identitas yang harus kuganti karena lapisan plastiknya mulai tergores.
Kartu lama masih mencantumkan tanggal hari pertama aku bergabung.
Aku teringat pagi ketika Pak Gunawan menelepon dan menyuruhku segera datang.
Ia benar dalam satu hal.
Hari itu aku memang datang ke kantornya.
Hanya saja ia tidak pernah membayangkan aku akan masuk melalui pintu depan sebagai tamu, memakai kartu perusahaan klien, lalu duduk di sisi meja yang berbeda.
Aku memasukkan kartu lama ke laci bersama dokumen pengunduran diri dan surat pengalaman kerja.
Kemudian kututup lacinya.
Laptop kantor tetap berada di dalam tas.
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku tidak merasa perlu membukanya lagi setelah sampai rumah.
Menurutmu, apakah Ratih seharusnya memaafkan Nita sepenuhnya, atau cukup menjaga hubungan profesional setelah kepercayaan mereka rusak?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
Setelah Bonusku Dipotong dan Prestasiku Diberikan kepada Bawahanku, Mantan Kantorku Baru Tahu Aku Pindah ke Pihak Klien
Bagian 1
Pukul delapan lewat sedikit pada hari kerja pertama setelah libur panjang, mantan atasanku menelepon dan langsung membentakku sebelum aku sempat mengucapkan selamat pagi.
“Ratih, kamu lihat jam tidak? Proyek Arunika tinggal serah terima. Kalau sampai bermasalah, siapa yang bertanggung jawab? Cepat ke kantor!”
Nada Pak Gunawan persis seperti tujuh tahun sebelumnya. Seolah-olah aku masih pegawainya yang akan membuka laptop setiap kali namaku dipanggil.
Ia menutup telepon tanpa menunggu jawaban.
Kurang dari dua menit kemudian, Bu Rina dari bagian SDM menelepon.
“Ratih, kamu belum berangkat? Pak Gunawan sudah marah sekali. Biasanya kamu yang paling bisa diandalkan. Kalau kamu kecewa soal bonus akhir tahun, jangan sampai pekerjaan ditinggalkan begitu.”
Aku melihat kemeja yang sudah kusiapkan di kursi.
Hari itu aku memang akan berangkat bekerja.
Hanya saja bukan ke PT Cakrawala Solusi lagi.
“Bu, saya bukan meninggalkan pekerjaan,” jawabku. “Saya sudah mengundurkan diri sebelum libur. Proses administrasinya juga selesai.”
Hening sebentar.
Nada Bu Rina berubah jauh lebih lembut.
“Soal pengunduran diri itu, Ibu tahu. Pak Gunawan juga sudah baca suratnya. Tapi waktu itu semua orang sibuk mau libur. Belum sempat dibicarakan baik-baik. Sekarang kita ketemu dulu, ya?”
“Untuk membicarakan apa?”
“Ya kondisi supaya kamu tetap di sini.”
Ia terdengar lebih bersemangat.
“Pak Gunawan setuju menaikkan gajimu Rp1 juta per bulan. Coba kamu pikir. Setahun tambah Rp12 juta. Di kondisi sekarang, belum tentu pindah perusahaan langsung dapat kenaikan seperti itu.”
Aku hampir tertawa.
Bukan karena Rp1 juta tidak berarti.
Namun tujuh tahun bekerja di sana membuatku tahu persis berapa harga yang sebenarnya mereka berikan pada pekerjaanku.
Di divisi kami, beberapa orang bisa pulang tepat waktu hampir setiap hari. Mereka jarang mengikuti proyek sampai tahap akhir. Bonus mereka tahun lalu rata-rata belasan juta rupiah.
Sementara itu, aku menangani beberapa klien besar sekaligus.
Proyek terakhirku dengan Arunika Group bernilai sekitar Rp18 miliar. Aku mengikuti prosesnya sejak pembahasan kebutuhan, penyusunan proposal, negosiasi, revisi desain, sampai implementasi.
Berbulan-bulan aku melakukan pekerjaan yang seharusnya dibagi kepada tiga orang.
Aku sering menjadi orang terakhir yang mematikan lampu ruang kerja.
Ketika ada perubahan mendadak dari klien, aku yang membuka kembali file setelah makan malam.
Ketika vendor terlambat, aku yang menelepon satu per satu.
Ketika tim lain bingung menjawab pertanyaan teknis, mereka mencari aku.
Tetapi pada acara evaluasi akhir tahun, proyek-proyek yang paling berhasil tiba-tiba disebut sebagai pencapaian Nita Lestari.
Nita dulu masuk sebagai staf magang.
Aku yang mengajarinya menghadapi klien.
Aku yang menunjukkan cara membaca risiko proyek sebelum masalah muncul.
Aku pula yang beberapa kali memperbaiki pekerjaannya tanpa mempermalukannya di depan tim.
Di panggung acara akhir tahun, Nita menerima penghargaan karyawan terbaik.
Bonusnya Rp75 juta.
Ia juga menerima sebuah ponsel baru keluaran terbaru dari perusahaan.
Bonusku?
Rp500.000.
Jumlah itu bahkan lebih menyakitkan daripada tidak mendapatkan apa-apa.
Aku menarik kursi dan duduk.
“Bu Rina, saya mau tanya satu hal. Kenapa bonus saya hanya Rp500 ribu?”
Bu Rina diam beberapa detik.
“Ratih, perusahaan punya pertimbangan sendiri.”
“Pertimbangannya apa?”
“Kamu memang banyak bekerja. Itu kami akui. Tapi penilaian kan bukan hanya angka proyek.”
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan.
“Kamu terlalu fokus pada pekerjaan sendiri. Jarang ikut kegiatan tim. Waktu gathering tidak datang. Acara makan malam divisi juga beberapa kali tidak hadir. Komunikasi dengan teman-teman kurang.”
Aku menatap meja.
Gathering yang dimaksud dilaksanakan hari Sabtu ketika aku sedang menyelesaikan revisi proposal yang diminta Pak Gunawan untuk dikirim Senin pagi.
Makan malam divisi pada Jumat malam kulewatkan karena Sabtu pagi aku harus bertemu tim Arunika.
Pernah juga mereka karaoke setelah jam kerja. Aku tidak ikut karena keesokan harinya ada presentasi dan Pak Gunawan sendiri menyuruhku memastikan tidak ada satu angka pun yang salah.
Saat aku bekerja, mereka berfoto bersama.
Kemudian foto-foto itu masuk ke grup WhatsApp dengan tulisan tentang kekompakan dan keluarga besar kantor.
Ternyata itulah yang mereka sebut kontribusi tim.
“Ada alasan lain?” tanyaku.
Bu Rina menarik napas.
“Pak Gunawan juga pernah bilang ada beberapa klien yang kurang puas dengan proyekmu.”
“Klien mana?”
“Ya… beberapa.”
“Masalahnya apa?”
“Ibu tidak pegang detail.”
“Kapan keluhannya masuk?”
“Ratih, jangan terlalu memperdebatkan kata per kata.”
Aku bersandar.
Jadi tidak ada nama klien.
Tidak ada tanggal.
Tidak ada laporan.
Hanya ada kalimat bahwa konon seseorang pernah tidak puas.
Cukup untuk menjelaskan kenapa pekerjaan setahun dihargai Rp500 ribu.
“Baik, Bu. Saya sudah paham.”
“Nah, bagus. Jadi kamu datang saja dulu. Kita bicara sama Pak Gunawan.”
“Bukan begitu maksud saya. Saya paham bahwa keputusan saya keluar sudah benar.”
Nada suaranya langsung meninggi.
“Ratih, jangan keras kepala. Ibu sedang membantu kamu.”
“Tujuh tahun saya tidak pernah mangkir tanpa alasan. Hampir tidak pernah menolak lembur. Sebelum keluar pun semua file yang diwajibkan sudah saya serahkan. Kalau ada pertanyaan tentang materi serah terima, saya masih bisa menjelaskan sesuai kewajiban. Tapi saya tidak kembali sebagai pegawai.”
“Ratih Prameswari!”
Aku menjauhkan ponsel sedikit dari telinga.
“Kamu ini kenapa sikapnya jadi begini? Kami masih mau membicarakan kenaikan gaji, kamu malah…”
Aku menutup telepon.
Aku tidak ingin hari pertama di tempat baru dimulai dengan pertengkaran dari kantor yang sudah kutinggalkan.
Belum lima menit, ponselku bergetar lagi.
Nita.
Panggilan WhatsApp-nya kutolak.
Pesan langsung masuk berturut-turut.
“Kak, kok tidak angkat?”
“Pak Gunawan marah banget.”
“Proyek Arunika harus dibereskan. Kak Ratih kan biasanya paling bertanggung jawab.”
“Jangan bikin keadaan makin susah, Kak.”
Aku membaca semuanya tanpa menjawab.
Lalu masuk satu pesan panjang.
Nita menulis bahwa ia memahami kekecewaanku soal bonus. Katanya, kondisi perusahaan tahun lalu memang tidak mudah.
Ia juga mengatakan Pak Gunawan sebenarnya menghargai aku.
Kalimat berikutnya membuatku berhenti menggulir layar.
“Kalau Kak Ratih keluar cuma gara-gara bonus, nanti orang bisa salah menilai. Perusahaan juga sudah membina Kakak bertahun-tahun. Pergi begitu saja tidak merasa tidak enak?”
Aku membaca bagian terakhir dua kali.
Tidak merasa tidak enak.
Dari semua orang di kantor itu, Nita memilih berbicara tentang rasa tahu diri.
Aku akhirnya membalas.
“Waktu aku sakit tiga hari, siapa yang menyalin file klien dari folder kerjaku tanpa bilang? Siapa yang memakai konsep presentasiku di rapat dan membawanya seolah-olah ide sendiri? Sebelum penilaian akhir tahun, siapa yang mengajak satu divisi minum bersama dan sengaja tidak mengabariku? Jangan bicara soal rasa tidak enak kepadaku.”
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
“Kak, membahas hal begitu sekarang juga tidak mengubah apa-apa.”
Kemudian muncul pesan kedua.
“Kakak pikir setelah keluar dari Cakrawala gampang cari tempat lain? Sekarang lulusan S2 saja banyak yang kesulitan cari kerja. Kakak S1, sudah 30 tahun, pengalaman paling besar juga dapat dari fasilitas perusahaan.”
Pesan ketiga lebih jelas.
“Bu Rina bilang kalau Kakak tetap tidak mau kembali, Pak Gunawan bisa bicara ke orang-orang di industri. Nanti perusahaan lain juga mikir dua kali mau menerima Kakak.”
Aku menatap layar cukup lama.
Mereka bukan lagi sedang membujuk.
Mereka sedang mengancam.
Nita mengirim satu pesan terakhir.
“Kak? Jawab dong. Semua lagi nunggu.”
Aku membalas dengan satu emoji.
🙂
Lalu kublokir nomornya.
Aku mandi, merapikan rambut, mengenakan kemeja yang sudah disetrika malam sebelumnya, lalu mengambil tas kerja.
Perusahaan tempatku mulai bekerja hari itu adalah Arunika Group.
Klien dari proyek Rp18 miliar yang selama berbulan-bulan kutangani atas nama Cakrawala.
Aku sudah beberapa kali berhubungan dengan Pak Surya, kepala divisi yang menangani proyek tersebut. Ia tipe orang yang bicara langsung pada masalah dan jarang memanggil orang di luar jam kerja jika tidak penting.
Beberapa hari sebelum aku mengajukan pengunduran diri, ia pernah mengirim pesan pribadi.
“Bu Ratih, saya tidak tahu situasi internal tempat Ibu bekerja, jadi saya tidak ingin ikut campur. Tapi kalau suatu saat Ibu mencari kesempatan baru, hubungi saya. Kami sedang membutuhkan orang yang paham proyek dari sisi teknis dan bisnis.”
Aku menghubunginya setelah keputusan bonus keluar.
Tidak ada janji fantastis.
Aku tetap melalui wawancara.
Membahas tanggung jawab.
Membahas kisaran gaji.
Membahas konflik kepentingan karena Arunika masih mempunyai kontrak dengan Cakrawala.
Justru karena itu, aku merasa lebih tenang.
Mereka merekrutku bukan karena kasihan.
Mereka tahu pekerjaan yang pernah kulakukan.
Ketika aku sampai di kantor Arunika, petugas resepsionis mengenaliku dari beberapa rapat sebelumnya.
“Bu Ratih, Pak Surya sudah menunggu.”
Aku mengetuk pintu kantornya.
Pak Surya menunjuk kursi di depannya.
“Selamat bergabung. Tapi sebelum urusan orientasi selesai, ada satu hal yang perlu saya bicarakan.”
Aku otomatis duduk lebih tegak.
“Silakan, Pak.”
“Proyek Cakrawala.”
Tanganku berhenti di atas tas.
“Proyek yang sebelum libur itu sudah masuk tahap akhir?”
“Iya. Hari ini kami jadwalkan pemeriksaan untuk proses serah terima.”
Ia memutar monitor sedikit, menunjukkan jadwal yang sudah disusun tim.
“Awalnya saya mau kirim Dimas dari quality assurance. Tapi saya pikir lagi. Dari pihak kami, orang yang paling memahami sejarah proyek itu sekarang justru kamu. Dari pihak mereka, selama ini orang yang paling memahami detailnya juga kamu.”
Aku sudah tahu arah pembicaraan itu.
Pak Surya menatapku.
“Saya ingin kamu ikut ke Cakrawala pagi ini sebagai perwakilan Arunika.”
Aku tidak langsung menjawab.
Teringat hari ketika Pak Gunawan menerima surat pengunduran diriku tanpa benar-benar membaca isinya.
Teringat Nita berdiri di panggung membawa penghargaan untuk pekerjaan yang sebagian besar kukerjakan.
Teringat alasan bahwa Rp500 ribu adalah penilaian “menyeluruh” terhadap kontribusiku.
Dan pagi itu, orang-orang yang sama masih menyuruhku kembali seolah-olah aku hanya sedang ngambek.
Aku mengangguk.
“Baik, Pak. Saya ikut.”
Pak Surya mengangkat alis sedikit.
“Kamu yakin tidak ada masalah secara pribadi?”
“Kalau saya membawa masalah pribadi ke pemeriksaan proyek, seharusnya Bapak tidak menugaskan saya lagi setelah hari ini.”
Ia tersenyum tipis.
“Jawaban yang saya harapkan.”
Setelah itu aku menyelesaikan administrasi karyawan baru.
Petugas SDM menyerahkan laptop, akses sistem, lalu sebuah kartu identitas.
Aku membaliknya.
Di bawah namaku tercetak jelas:
RATIH PRAMESWARI
PROJECT DIRECTOR
ARUNIKA GROUP
Aku memasukkan kartu itu ke tempatnya, menggantungnya di leher, lalu mengambil map proyek Cakrawala.
Pagi tadi mereka mengancam tidak akan ada perusahaan di industri ini yang berani menerimaku.
Sekarang tugasku justru kembali ke sana.
Bukan sebagai pegawai mereka.
Sebagai pihak yang akan memeriksa apakah pekerjaan mereka layak diterima.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Aku datang ke Cakrawala bersama Dimas dari tim quality assurance Arunika.
Satpam di lobi masih mengenaliku.
“Bu Ratih? Baru datang, Bu? Pak Gunawan dari tadi mencari.”
Ia baru melihat kartu di leherku ketika aku menyerahkan identitas untuk dicatat sebagai tamu.
Ekspresinya berubah.
Aku tidak menjelaskan apa pun.
Di lantai sembilan, pintu ruang rapat sudah terbuka. Tiga mantan rekan kerjaku duduk di dalam. Nita berada di depan laptop, sementara Pak Gunawan berjalan bolak-balik sambil menelepon seseorang.
Begitu melihatku, ia mematikan telepon.
“Nah! Akhirnya datang juga.”
Lalu matanya turun ke kartu identitasku.
Langkahnya berhenti.
Dimas memperkenalkan diri lebih dulu.
“Selamat pagi. Saya Dimas dari QA Arunika. Ini Bu Ratih Prameswari, Project Director kami. Kami datang untuk pemeriksaan tahap akhir sesuai jadwal.”
Tidak ada yang menjawab beberapa detik.
Nita yang pertama bergerak.
“Kak Ratih… kerja di Arunika?”
“Mulai hari ini.”
Pak Gunawan menatapku seolah sedang memastikan aku tidak sedang bercanda.
“Sejak kapan?”
“Prosesnya sebelum libur.”
“Kamu tidak bilang.”
Aku hampir menjawab bahwa perusahaan juga tidak pernah bertanya akan ke mana aku pergi.
Namun itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kami pagi itu.
Aku membuka map.
“Kita mulai saja, Pak. Jadwal pemeriksaan sampai siang.”
Wajah Pak Gunawan mengeras.
Ia duduk.
Tahap awal berjalan relatif tenang.
Tim Cakrawala mempresentasikan daftar pekerjaan yang disebut sudah selesai. Nita memimpin paparan. Beberapa slide sangat kukenal karena struktur dasarnya berasal dari file yang pernah kubuat.
Aku tidak mempersoalkan itu.
Materi tersebut memang dibuat ketika aku masih bekerja di Cakrawala.
Masalah baru muncul ketika kami mulai memeriksa hasil implementasi.
Dimas menemukan dua fungsi yang tidak sesuai dokumen kebutuhan.
Aku menemukan satu bagian konfigurasi yang menggunakan versi sebelum revisi terakhir.
“Ini kenapa masih memakai parameter lama?” tanyaku.
Nita menggulir file dengan cepat.
“Seharusnya tidak.”
“Dokumen perubahan tanggal 18 Desember sudah disetujui kedua pihak.”
“Iya, Kak. Saya tahu.”
“Kalau tahu, kenapa hasil akhirnya memakai versi tanggal 6?”
Ruangan sunyi.
Seorang staf teknis di sebelah Nita berkata pelan, “File yang kami terima untuk pengerjaan terakhir itu versi tanggal 6.”
Nita langsung menoleh.
“Bukan, kan sudah ada update.”
“Update-nya ada di folder, tapi tidak ada instruksi mengganti file produksi.”
Pak Gunawan menyela.
“Sudah. Tidak usah membahas proses internal di depan klien. Ini tinggal diperbaiki.”
Aku melihat catatan di depanku.
“Boleh diperbaiki. Tapi hari ini belum bisa dinyatakan selesai.”
Pak Gunawan memandangku tajam.
“Ratih, ini bukan masalah besar.”
“Ada tiga poin yang belum sesuai spesifikasi kontrak.”
“Kamu paham proyek ini. Hal seperti ini bisa dibereskan sambil jalan.”
“Betul. Karena saya paham, saya juga tahu tiga poin itu memengaruhi hasil akhir.”
Ia menekan bibirnya.
“Jangan campurkan urusan pribadi dengan pekerjaan.”
Dimas yang sejak tadi mengetik hasil pemeriksaan berhenti sebentar.
Aku tetap melihat Pak Gunawan.
“Kalau Bapak merasa catatan saya tidak objektif, kita cocokkan satu per satu dengan dokumen yang ditandatangani kedua perusahaan.”
Aku mendorong salinan persyaratan ke tengah meja.
“Kalau hasilnya sudah sesuai, saya tandatangani. Kalau belum, saya tulis belum.”
Tidak ada yang bisa diperdebatkan dari kalimat itu.
Kami melanjutkan pemeriksaan.
Masalah keempat muncul menjelang siang.
Sebuah skenario pengujian penting tidak pernah dijalankan setelah perubahan terakhir.
Nita bersikeras bahwa pengujian sudah dilakukan.
Dimas meminta hasilnya.
Ia membuka beberapa folder.
Tidak ada.
Pak Gunawan mulai kehilangan kesabaran.
“Nita, laporannya mana?”
Nita menjawab cepat, “Mungkin tersimpan di laptop lama Kak Ratih.”
Aku menatapnya.
“Laptop kantor sudah saya serahkan sebelum keluar dan seluruh folder proyek sudah disalin ke server.”
“Bisa jadi belum semua.”
Aku membuka daftar serah terima dari map.
Di sana tercatat folder, tanggal salinan, dan penerima.
Nama penerimanya adalah Nita Lestari.
Aku meletakkan dokumen itu di depan kami.
“Kamu tanda tangan menerima seluruh folder pada tanggal 27.”
Nita tidak menyentuh kertasnya.
Wajahnya pucat.
Dimas memecah keheningan.
“Jadi kita catat pengujian ulang diperlukan sebelum acceptance.”
Pak Gunawan mengembuskan napas kasar.
“Kalau begitu kapan pembayaran tahap akhir bisa diproses?”
Dimas menjawab, “Setelah temuan ditutup dan diverifikasi.”
Pak Gunawan menoleh kepadaku lagi.
Aku tahu apa yang ada di pikirannya.
Pembayaran terakhir tidak kecil.
Setiap hari keterlambatan juga berarti timnya harus tetap bekerja.
Kemarin, mungkin ia masih menganggap proyek ini akan selesai dengan satu tanda tangan.
Sekarang tanda tangan itu berada di sisi meja yang tidak lagi bisa ia perintah.
Setelah rapat selesai, Dimas keluar lebih dulu untuk menelepon kantor.
Aku sedang memasukkan dokumen ketika Pak Gunawan berkata pelan, “Ratih, tinggal sebentar.”
Nita masih di ruangan.
Ia menambahkan, “Berdua.”
Nita keluar tanpa menatapku.
Pak Gunawan menutup pintu.
“Kita bicara sebagai orang yang sudah kerja bersama tujuh tahun.”
Aku tidak duduk lagi.
“Silakan.”
Ia menatap kartu identitasku.
“Berapa Arunika bayar kamu?”
“Itu urusan saya dengan perusahaan sekarang.”
“Kalau soal uang, kita bisa bicara.”
Aku menunggunya melanjutkan.
“Aku naikkan gajimu. Jabatan juga bisa kita atur. Kamu kembali bantu bereskan proyek ini. Setelah itu kita bahas semuanya.”
Pagi tadi tawarannya Rp1 juta.
Sekarang jabatan ikut masuk.
Aku bertanya, “Kembali sebagai apa?”
Ia terdiam.
Lalu menjawab, “Kita cari posisi yang cocok.”
Aku mengangguk kecil.
“Artinya belum ada.”
Wajahnya berubah.
“Ratih, jangan cari menang.”
“Saya tidak sedang mencari menang, Pak.”
Aku mengangkat map.
“Saya sudah bekerja di tempat lain.”
Saat aku membuka pintu, Pak Gunawan berkata dari belakang.
“Kalau proyek ini terlambat, kamu juga tahu siapa yang paling bisa menyelamatkannya.”
Aku berhenti sebentar.
Untuk pertama kalinya hari itu aku menoleh.
“Saya tahu.”
Kemudian aku melihat Nita berdiri beberapa meter dari pintu dengan ponsel di tangannya dan mata merah.
Di sebelahnya ada kepala tim teknis yang memegang satu lembar hasil cetak.
Ia mendekat kepadaku.
“Bu Ratih, kami baru menemukan satu hal.”
Ia memberikan kertas itu.
Di bagian bawah tercetak riwayat perubahan file proyek.
Versi produksi terakhir ternyata diubah tiga hari setelah aku resmi menyerahkan pekerjaan.
Nama pengguna yang melakukan perubahan itu tercantum jelas.
NITA LESTARI.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku membaca riwayat perubahan itu sekali, lalu mengembalikannya kepada kepala tim teknis.
Nita segera berkata, “Kak, aku bisa jelaskan.”
Aku menatap jam.
Pukul dua belas lewat sepuluh.
Aku sudah melewati jam makan siang pada hari pertama bekerja.
Dulu aku mungkin akan tetap berdiri di sana, membantu mereka mencari kesalahan, membuka semua file, lalu mengorbankan waktu sampai masalah selesai.
Kebiasaan tujuh tahun memang tidak hilang hanya karena sebuah kartu identitas baru menggantung di leher.
Tanganku bahkan sempat ingin mengambil kertas itu lagi.
Aku menahannya.
“Jelaskan ke Pak Gunawan dulu,” kataku. “Kalau berkaitan dengan temuan pemeriksaan, kirim penjelasan resminya ke Arunika.”
Nita mengerjapkan mata.
“Kakak tidak mau dengar?”
“Sekarang saya pihak klien. Kalau saya menerima penjelasan penting secara pribadi, justru nanti prosesnya tidak jelas.”
Kepala tim teknis mengangguk pelan.
Pak Gunawan keluar dari ruang rapat.
“Ada apa?”
Nita buru-buru mengambil kertas itu.
“Pak, sebenarnya waktu itu saya cuma…”
Ia berhenti.
Aku tidak menunggu.
Dimas sudah berdiri di ujung koridor.
Kami kembali ke Arunika.
Di perjalanan, ia tidak bertanya soal hubungan lamaku dengan orang-orang tadi. Ia hanya membuka catatan di tablet.
“Empat temuan utama,” katanya. “Dua bisa diperbaiki cepat. Dua lainnya perlu pengujian ulang.”
“Ya.”
“Menurutmu berapa lama?”
Aku berpikir sebentar.
“Kalau tim mereka benar-benar mengerjakan sesuai prosedur, tiga sampai lima hari kerja. Kalau masih saling mencari siapa yang salah, bisa jauh lebih lama.”
Dimas tertawa kecil.
“Itu bukan istilah QA, tapi cukup akurat.”
Setibanya di kantor, aku menyerahkan laporan awal kepada Pak Surya.
Ia membacanya tanpa banyak ekspresi.
“Temuan ini serius?”
“Tidak sampai proyek gagal total. Tapi cukup untuk menunda acceptance.”
“Bisa diselesaikan?”
“Bisa.”
Ia mengangguk.
“Baik. Itu yang penting.”
Aku sempat menunggu pertanyaan tentang bagaimana reaksi mantan kantorku.
Pak Surya tidak menanyakannya.
Justru hal itu membuatku sadar betapa terbiasanya aku dulu bekerja di lingkungan yang mengubah hampir semua hal menjadi urusan personal.
Di Arunika, temuan proyek adalah temuan proyek.
Tidak ada pembicaraan soal siapa ikut karaoke.
Tidak ada ukuran loyalitas berdasarkan makan malam bersama.
Tidak ada kalimat bahwa seseorang harus merasa berutang budi karena pernah diberikan pekerjaan.
Setelah makan siang terlambat, aku kembali ke meja dan mulai membaca dokumen untuk proyek lain yang kelak menjadi tanggung jawabku.
Sekitar pukul empat sore, sebuah email masuk dari Cakrawala.
Subjeknya:
Penjelasan Awal Temuan Proyek Arunika.
Pengirimnya Nita.
Pak Gunawan dan beberapa orang lain masuk dalam tembusan.
Aku membacanya perlahan.
Nita mengakui mengubah file konfigurasi tiga hari setelah serah terima dariku.
Alasannya, ia menerima permintaan internal untuk “menyederhanakan implementasi” karena tim teknis mengejar target sebelum libur.
Ia mengira perubahan itu tidak akan memengaruhi kebutuhan utama.
Namun ia tidak meminta persetujuan pihak Arunika.
Ia juga tidak menjalankan ulang seluruh skenario pengujian setelah perubahan.
Kalimat terakhir berbunyi:
“Kami akan melakukan perbaikan sesuai catatan dan mengirim jadwal tindak lanjut paling lambat besok pagi.”
Aku meneruskan email itu kepada Dimas dan Pak Surya dengan satu catatan singkat:
“Penjelasan vendor sudah diterima. Saya sarankan kita meminta jadwal corrective action dan bukti pengujian ulang untuk empat temuan sebelum pemeriksaan berikutnya.”
Tidak ada tambahan tentang Nita.
Tidak ada kalimat bahwa akhirnya kebohongannya terbongkar.
Tidak ada permintaan agar ia dihukum.
Karena masalah kami sekarang bukan siapa yang menerima piala pada pesta akhir tahun.
Masalahnya adalah apakah Cakrawala memenuhi kontraknya.
Malam itu, untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku pulang ketika pekerjaanku hari itu selesai.
Bukan ketika semua orang lain sudah pulang.
Bukan ketika gedung hampir kosong.
Bukan setelah memastikan pekerjaan tiga orang selesai sekaligus.
Pukul enam kurang sedikit aku sudah berada di lift.
Ponselku bergetar.
Nomor tak dikenal.
Aku hampir mengabaikannya, tetapi pesan berikutnya menyebut nama Bu Rina.
“Ratih, ini Ibu. Nomor Ibu mungkin terblokir di WA. Bisa bicara sebentar?”
Aku sebenarnya hanya memblokir Nita.
Namun aku tidak membalas sampai tiba di rumah.
Setelah makan malam, aku memutuskan menelepon.
Bu Rina langsung menjawab.
“Ratih, akhirnya.”
“Ada apa, Bu?”
“Kamu benar sudah masuk Arunika?”
“Benar.”
“Kenapa tidak bilang waktu kita bicara pagi?”
Pertanyaan itu membuatku heran.
“Karena Ibu menelepon untuk menyuruh saya kembali bekerja, bukan bertanya kabar.”
Ia diam.
Kemudian suaranya turun.
“Ibu dengar siang tadi ada masalah saat pemeriksaan.”
“Ada beberapa temuan.”
“Pak Gunawan sedang sangat tertekan. Pembayaran terakhir proyek itu penting untuk arus kas perusahaan.”
Aku tidak menjawab.
“Ratih, kalau kamu bisa bantu sedikit…”
“Saya sudah membantu sesuai posisi saya sekarang.”
“Bukan begitu maksud Ibu. Kamu kan hafal proyek itu. Bantu Nita memahami bagian yang belum beres. Tidak perlu resmi. Malam ini video call satu dua jam juga bisa.”
Aku memejamkan mata sebentar.
Bahkan setelah aku resmi bekerja di perusahaan lain, mereka masih menganggap waktuku tersedia jika Cakrawala membutuhkannya.
“Bu Rina, saya tidak bisa.”
“Kok tidak bisa? Itu kan pekerjaan yang dulu kamu pegang.”
“Dulu.”
“Jangan perhitungan begitu, Ratih. Bagaimanapun juga…”
Aku memotongnya sebelum kalimat tentang tujuh tahun bersama keluar.
“Kalau Cakrawala membutuhkan konsultasi teknis dari Arunika, kirim pertanyaan melalui jalur proyek. Kalau membutuhkan saya sebagai mantan pegawai untuk bekerja malam tanpa kontrak dan tanpa penugasan, jawabannya tidak.”
Nada Bu Rina berubah.
“Kamu sekarang merasa sudah di pihak klien jadi bisa begitu?”
Aku menatap layar laptop yang belum kubuka sejak pulang.
Aneh sekali.
Dulu kalimat seperti itu bisa membuatku merasa bersalah sampai berjam-jam.
Malam itu tidak.
“Saya bersikap begini karena sekarang saya tahu pekerjaan punya batas.”
Aku menutup telepon setelah mengucapkan selamat malam.
Keesokan paginya, Cakrawala mengirim jadwal perbaikan.
Lima hari.
Mereka menunjuk kepala tim teknis sebagai penanggung jawab pelaksanaan. Nita tetap terlibat, tetapi semua perubahan harus ditinjau dua orang sebelum dikirim untuk pengujian.
Aku melihat nama-nama dalam jadwal itu tanpa komentar.
Hari kedua di Arunika berjalan padat. Aku mulai masuk ke rapat proyek lain dan mengenal anggota timku.
Menjelang sore, Pak Surya memanggilku.
“Cakrawala minta pertemuan tambahan besok.”
“Soal corrective action?”
“Sebagian.”
Ia menyerahkan ponselnya.
Ada email dari Pak Gunawan.
Selain membahas perbaikan, ia meminta waktu “untuk meluruskan beberapa persoalan mengenai perpindahan personel yang berpotensi memengaruhi hubungan kerja sama.”
Aku membaca kalimat itu sekali.
“Apakah perpindahan saya melanggar kontrak?”
“Tidak.”
“Saya membawa data mereka?”
“Tidak.”
“Saya mengajak pegawai mereka pindah?”
“Sejauh yang saya tahu, tidak.”
“Berarti tidak ada yang perlu diluruskan dari sisi saya.”
Pak Surya mengangguk.
“Saya juga berpikir begitu. Besok kita tetap dengarkan karena mereka vendor aktif. Tapi pembicaraannya tetap urusan profesional.”
Pertemuan berlangsung pukul sepuluh pagi.
Pak Gunawan datang bersama Bu Rina.
Nita tidak ikut.
Bu Rina tersenyum kepadaku seolah percakapan malam sebelumnya tidak pernah terjadi.
Kami membahas progres perbaikan lebih dulu.
Setelah sekitar empat puluh menit, Pak Gunawan menutup dokumen teknis.
“Kalau boleh, saya ingin membicarakan Ratih sebentar.”
Pak Surya bersandar.
“Silakan.”
Pak Gunawan menatapku.
“Ratih keluar dalam waktu yang kurang ideal bagi kami. Ia memegang proyek strategis, lalu langsung bekerja di perusahaan klien yang proyeknya sedang berjalan. Saya kira Pak Surya bisa memahami kenapa situasi ini kurang nyaman.”
Pak Surya tidak buru-buru menjawab.
Ia bertanya kepadaku, “Proses pengunduran dirimu bagaimana?”
“Saya mengajukan surat resmi. Menyelesaikan masa dan prosedur yang diwajibkan. Serah terima tercatat. Tidak membawa file perusahaan.”
Bu Rina ikut bicara.
“Benar, secara administrasi selesai. Hanya saja waktu itu kami mengira masih bisa membicarakan agar Ratih tetap bekerja.”
Aku menoleh kepadanya.
“Surat saya disetujui.”
“Iya, tapi kondisi sebelum libur kan sibuk.”
Pak Surya bertanya, “Apakah ada kewajiban yang belum diselesaikan Ratih?”
Bu Rina diam sebentar.
“Secara dokumen… tidak.”
“Apakah ada data Cakrawala yang ia bawa ke sini?”
“Sejauh ini kami tidak punya bukti.”
Pak Surya menutup pulpennya.
“Kalau begitu saya tidak melihat masalah ketenagakerjaan yang harus dibahas dalam rapat proyek.”
Pak Gunawan mengerutkan dahi.
“Masalahnya bukan cuma administrasi. Ratih tahu banyak hal tentang perusahaan kami.”
Aku akhirnya bicara.
“Pak Gunawan, selama tujuh tahun saya bekerja, saya juga tahu data banyak klien. Tidak pernah saya gunakan untuk kepentingan pribadi. Kenapa sekarang integritas saya dipertanyakan justru setelah saya keluar?”
“Jangan dibalik.”
“Saya tidak membalik apa pun. Saya hanya meminta satu tuduhan yang spesifik.”
Ia menatapku, tetapi tidak menjawab.
Aku melanjutkan.
“Kalau Cakrawala punya bukti saya melanggar kewajiban kerahasiaan, silakan sampaikan secara resmi. Saya akan jawab secara resmi juga. Kalau tidak, saya minta pekerjaan saya di Arunika tidak dikaitkan dengan ketidaknyamanan karena saya memilih keluar.”
Bu Rina mencoba menurunkan suasana.
“Ratih, Pak Gunawan bukan menuduh.”
“Kalau begitu lebih baik kita kembali ke proyek.”
Pak Surya membuka dokumen berikutnya.
Percakapan selesai di sana.
Aku keluar dari ruangan tanpa merasa menang.
Yang kurasakan justru lelah.
Selama bertahun-tahun aku selalu mencoba mendapatkan pengakuan dari orang yang tidak berniat memberikannya.
Aku ingin mereka mengatakan bahwa aku bekerja keras.
Aku ingin mereka mengakui bonus Rp500 ribu itu tidak masuk akal.
Aku ingin Pak Gunawan mengakui proyek Arunika memang sebagian besar berdiri di atas pekerjaanku.
Aku bahkan pernah membayangkan Nita datang dan meminta maaf.
Sekarang ketika kesempatan untuk berdebat terbuka, aku justru tidak ingin menghabiskan tenaga di sana.
Aku tidak membutuhkan pengakuan mereka untuk membuktikan bahwa tujuh tahun itu nyata.
Tiga hari kemudian, Cakrawala mengirim hasil perbaikan pertama.
Dua temuan selesai.
Dua lainnya belum.
Pada salah satu skenario pengujian, hasilnya masih meleset dari kebutuhan.
Dimas menandainya.
Aku memeriksa ulang.
“Akar masalahnya konfigurasi yang kemarin?”
“Sebagian. Tapi ada satu modul yang perlu dikembalikan ke rancangan sebelum perubahan.”
Aku mengenali bagian itu.
Dulu aku pernah memperingatkan bahwa jalan pintas pada modul tersebut akan menimbulkan masalah ketika volume penggunaan naik.
Catatannya ada di dokumen desain.
Kami meminta Cakrawala memperbaikinya.
Sore hari, Nita mengirim pesan kepadaku melalui email resmi.
Bukan WhatsApp.
“Bu Ratih, bolehkah saya memastikan maksud catatan pada halaman 47 dokumen desain? Apakah rekomendasinya kembali ke konfigurasi awal atau menyesuaikan parameter baru?”
Bahasanya formal.
Aku membalas dengan cara yang sama.
Aku menjelaskan maksud catatan dalam tiga paragraf singkat dan menyalin Dimas.
Tidak lebih.
Beberapa jam kemudian, Nita membalas.
“Sudah jelas. Terima kasih.”
Itulah pertama kalinya kami berkomunikasi lagi setelah aku memblokirnya.
Tidak ada “Kak”.
Tidak ada pembicaraan tentang umurku.
Tidak ada ancaman bahwa aku tidak akan diterima perusahaan lain.
Hanya pekerjaan.
Anehnya, bentuk hubungan seperti itu jauh lebih mudah.
Dua hari kemudian, semua perbaikan selesai.
Kami melakukan pengujian ulang di kantor Cakrawala.
Kali ini Nita tidak memimpin sendirian. Kepala tim teknis memegang daftar perubahan, sementara setiap hasil pengujian langsung disimpan di folder proyek bersama.
Pemeriksaan memakan hampir empat jam.
Pada akhir sesi, Dimas menutup laptop.
“Semua temuan sudah ditutup.”
Aku memeriksa checklist terakhir.
Sesuai.
Tidak ada alasan menunda lagi.
Aku menandatangani bagian rekomendasi acceptance dari tim proyek Arunika.
Pak Gunawan memperhatikanku dari seberang meja.
Mungkin ia mengira aku akan mencari masalah tambahan.
Aku tidak melakukannya.
Kalau pekerjaan selesai sesuai kontrak, tugas kami adalah menerimanya.
Setelah dokumen terakhir dipindai, orang-orang mulai meninggalkan ruangan.
Nita mendekat.
“Kak Ratih.”
Aku menoleh.
Ia tampak ragu beberapa detik.
“Boleh bicara sebentar?”
Aku melihat Dimas yang sedang merapikan kabel.
“Di sini saja.”
Nita mengangguk.
“Waktu perubahan file itu… memang aku yang lakukan.”
“Aku tahu.”
“Aku pikir bisa lebih cepat.”
Aku tidak menjawab.
Ia menarik kursi tetapi tidak duduk.
“Pak Gunawan waktu itu bilang proyek harus kelihatan selesai sebelum libur. Tim teknis bilang kalau tetap pakai rancangan terakhir, butuh tambahan waktu.”
“Lalu kamu ubah?”
“Iya.”
“Tanpa konfirmasi ke klien?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Ia menunduk.
“Karena aku takut dibilang tidak mampu.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti alasan yang dibuat-buat.
Mungkin karena untuk pertama kalinya ia tidak sedang mencoba membuat dirinya terlihat hebat.
“Aku baru dapat penghargaan,” lanjutnya. “Semua orang bilang aku harus bisa menggantikan Kakak. Aku juga sudah telanjur bilang ke Pak Gunawan semuanya aman.”
Aku memandangnya.
“Aku tidak pernah meminta kamu menggantikanku.”
“Aku tahu.”
“Dan masalah kita bukan karena kamu kurang mampu.”
Ia mengangkat kepala.
“Lalu karena apa?”
“Karena setiap kali kamu tidak tahu sesuatu, kamu lebih memilih terlihat tahu daripada bertanya.”
Wajahnya menegang.
Aku melanjutkan sebelum ia membela diri.
“Waktu masih jadi staf baru, kalau kamu bertanya aku selalu menjawab. Tapi semakin dekat penilaian akhir tahun, kamu mulai mengambil file tanpa bilang, memakai ide orang lain, dan menerima pujian untuk pekerjaan yang bukan sepenuhnya kamu kerjakan.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
Aku tidak ingin melihatnya menangis.
Bukan karena kasihan berlebihan.
Aku hanya tidak ingin percakapan ini berubah menjadi adegan permintaan maaf yang menyelesaikan semuanya dalam lima menit.
Nita berkata pelan, “Aku salah.”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Ia terlihat terkejut karena aku tidak langsung mengatakan tidak apa-apa.
“Aku minta maaf.”
“Baik.”
“Kakak masih marah?”
Aku memikirkan pertanyaan itu.
“Dulu sangat.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku hanya tidak mau bekerja seperti dulu lagi.”
Ia mengusap bawah matanya.
“Aku dengar kantor sedang meninjau ulang pembagian tugas.”
“Itu urusan internal Cakrawala.”
“Bonusku juga kemungkinan diperiksa.”
Aku menatapnya.
“Kalau ada keputusan soal bonusmu, itu bukan karena aku minta.”
“Aku tahu.”
Untuk beberapa detik kami hanya berdiri.
Lalu Nita bertanya, “Kak, kalau dulu aku tidak mengambil kredit pekerjaan Kakak, apa Kakak tetap akan keluar?”
Pertanyaan itu lebih sulit.
“Mungkin tidak secepat itu.”
Ia menelan ludah.
“Tapi aku rasa suatu hari tetap keluar.”
“Karena aku?”
“Bukan hanya kamu.”
Aku melihat melalui kaca ruang rapat ke kantor yang pernah menjadi tempatku menghabiskan sebagian besar usia dua puluhanku.
“Aku terlalu lama membiarkan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab sistem berubah menjadi tanggung jawab pribadi. Selama aku terus menutup semua kekurangan, orang-orang mengira semuanya memang baik-baik saja.”
Nita tidak menjawab.
Aku mengambil tasku.
“Semoga setelah ini kamu kerja lebih hati-hati.”
Ia mengangguk.
Aku pergi.
Sebulan setelah proyek dinyatakan selesai, aku mendengar sedikit kabar tentang Cakrawala dari mantan rekan yang masih sesekali menghubungiku.
Pak Gunawan tidak dipecat.
Nita juga tidak kehilangan pekerjaannya.
Hidup ternyata tidak bekerja seperti cerita balas dendam.
Yang berubah jauh lebih biasa.
Dan justru karena itu terasa lebih nyata.
Setelah proyek Arunika hampir membuat pembayaran tahap akhir tertunda, manajemen Cakrawala mewajibkan perubahan teknis memiliki persetujuan tertulis dan pemeriksaan kedua.
Pekerjaan yang dulu sering dilempar kepadaku mulai dibagi kepada beberapa orang.
Pak Gunawan tidak lagi boleh menetapkan satu orang memegang terlalu banyak proyek tanpa backup.
Nita dipindahkan dari posisi koordinator sementara dan kembali bekerja sebagai anggota tim selama masa evaluasi.
Bonus yang sudah dibayarkan tidak diminta kembali.
Penghargaan karyawan terbaik pun tetap ada di tangannya.
Ketika mendengar itu, aku ternyata tidak merasa kesal seperti yang kubayangkan.
Piala itu sudah tidak penting.
Yang lebih penting adalah aku tidak lagi harus bekerja sampai tengah malam agar sistem yang buruk terlihat berhasil.
Di Arunika, bulan-bulan pertamaku juga tidak selalu mudah.
Jabatan baru berarti tanggung jawab baru.
Ada rapat yang menegangkan.
Ada anggota tim yang tidak setuju denganku.
Pernah juga proposal yang kususun ditolak dan harus direvisi hampir dari awal.
Bedanya, ketika ada masalah, orang membicarakan masalahnya.
Bukan status pernikahanku.
Bukan karena aku tidak ikut makan malam.
Bukan jumlah foto yang kuunggah bersama rekan kerja.
Tiga bulan kemudian, aku memimpin evaluasi sebuah proyek baru.
Seorang anggota tim muda bernama Maya datang ke mejaku hampir pukul enam sore.
“Bu Ratih, saya masih punya dua bagian yang belum selesai. Kalau Ibu mau pulang dulu, saya lanjut malam.”
Aku melihat jam.
Dulu aku pasti akan menarik kursi.
“Bagian mana?”
Ia menunjukkan daftar pekerjaan.
Aku memeriksa sebentar.
Tidak ada yang harus dikirim malam itu.
“Besok lanjut.”
“Tapi saya bisa selesaikan malam ini.”
“Bisa bukan berarti harus.”
Maya tampak ragu.
“Tidak masalah, Bu?”
“Tidak.”
Aku menutup laptop.
“Kalau deadline masih besok sore, jangan membuat malam ini seolah-olah dunia akan berakhir.”
Ia tertawa kecil.
Kami keluar dari kantor hampir bersamaan.
Beberapa hari sesudahnya, Bu Rina mengirim email.
Bukan telepon.
Ia meminta alamat untuk mengirim dokumen pajak dan surat pengalaman kerja final yang sebelumnya belum sempat kukumpulkan.
Di bagian akhir ada satu kalimat.
“Terima kasih atas kontribusi selama tujuh tahun di Cakrawala.”
Tidak ada permintaan maaf soal bonus.
Tidak ada pengakuan bahwa mereka salah.
Tidak ada penjelasan mengenai ancaman bahwa aku akan sulit mendapat pekerjaan.
Aku membaca kalimat itu, lalu menyimpan dokumennya ke folder pribadi.
Cukup.
Aku tidak perlu memaksa masa lalu menjadi lebih rapi daripada kenyataannya.
Enam bulan setelah aku pindah, proyek Arunika yang dulu membuatku kembali menginjakkan kaki ke mantan kantor sudah lama selesai.
Cakrawala masih menjadi salah satu vendor.
Hubungan kedua perusahaan tetap berjalan.
Aku bahkan beberapa kali menerima email dari Nita tentang pekerjaan.
Semuanya formal.
Kadang ia bertanya.
Kadang aku mengoreksi.
Kadang justru ia yang menemukan detail yang terlewat oleh tim kami.
Kami tidak menjadi sahabat.
Aku juga tidak membutuhkannya.
Suatu sore, setelah rapat terakhir selesai, Pak Surya memanggilku sebelum pulang.
“Ratih.”
Aku berhenti di pintu.
“Ya, Pak?”
“Besok jangan masuk terlalu pagi. Pertemuan pertama jam sepuluh.”
Aku tertawa.
“Baik.”
“Maksud saya serius. Sistem melihat kamu beberapa kali login sebelum jam tujuh.”
Aku mengangguk.
Kebiasaan lama memang keras kepala.
Malam itu aku tiba di apartemen sebelum gelap.
Kutaruh tas di meja, lalu mengeluarkan kartu identitas yang harus kuganti karena lapisan plastiknya mulai tergores.
Kartu lama masih mencantumkan tanggal hari pertama aku bergabung.
Aku teringat pagi ketika Pak Gunawan menelepon dan menyuruhku segera datang.
Ia benar dalam satu hal.
Hari itu aku memang datang ke kantornya.
Hanya saja ia tidak pernah membayangkan aku akan masuk melalui pintu depan sebagai tamu, memakai kartu perusahaan klien, lalu duduk di sisi meja yang berbeda.
Aku memasukkan kartu lama ke laci bersama dokumen pengunduran diri dan surat pengalaman kerja.
Kemudian kututup lacinya.
Laptop kantor tetap berada di dalam tas.
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku tidak merasa perlu membukanya lagi setelah sampai rumah.
Menurutmu, apakah Ratih seharusnya memaafkan Nita sepenuhnya, atau cukup menjaga hubungan profesional setelah kepercayaan mereka rusak?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
