Istriku Diam Selama Dua Puluh Tahun soal Perselingkuhanku, Lalu Satu Tahap Seleksi ASN Membuat Semua Catatan Lama Terbuka

Avatar penulis
Cerita 01
30 menit baca 718 tayangan
Istriku Diam Selama Dua Puluh Tahun soal Perselingkuhanku, Lalu Satu Tahap Seleksi ASN Membuat Semua Catatan Lama Terbuka
Indeks

Istriku Diam Selama Dua Puluh Tahun soal Perselingkuhanku, Lalu Satu Tahap Seleksi ASN Membuat Semua Catatan Lama Terbuka

Bagian 1

Selama dua puluh tahun aku menjalani hubungan dengan Maya di belakang Ratih, istriku, dan selama dua puluh tahun itu pula Ratih tidak pernah sekali pun membuat keributan.

Bahkan ketika aku pulang membawa aroma parfum yang bukan miliknya, dia tetap menerima jas dari tanganku, menggantungnya rapi, lalu keesokan pagi pakaian itu sudah bersih seolah malam sebelumnya tidak pernah terjadi apa-apa.

Namaku Hendra Wijaya.

Dulu aku mengira Ratih memang tidak tahu.

Kadang aku punya dugaan lain yang jauh lebih buruk, bahwa sebenarnya dia tahu, tetapi terlalu takut kehilangan kehidupan nyaman yang kuberikan kepadanya.

Pernikahan kami memang tidak dimulai dari cinta besar.

Istriku Diam Selama Dua Puluh Tahun soal Perselingkuhanku, Lalu Satu Tahap Seleksi ASN Membuat Semua Catatan Lama Terbuka

Keluargaku mengenal keluarganya sejak lama. Orang tua kami merasa latar belakang kami seimbang, cara hidup kami cocok, dan bisnis keluargaku membutuhkan rumah tangga yang tenang.

Aku mengikuti saja.

Ratih juga tidak menolak.

Dua puluh dua tahun berlalu dengan cara yang hampir sama. Aku mencari nafkah, Ratih mengurus rumah, dan kami jarang mempertanyakan kehidupan satu sama lain.

Aku menganggapnya kesepakatan yang adil.

Aku baru sadar kemudian bahwa hanya aku yang pernah menyebutnya kesepakatan.

Ratih tidak pernah.

Maya berbeda.

Dia terang, banyak bicara, cepat tertawa, cepat marah, dan selalu punya sesuatu untuk diceritakan.

Aku mengenalnya dua tahun setelah menikah.

Hubungan yang awalnya kukira akan selesai dalam beberapa bulan justru bertahan dua puluh tahun.

Maya melahirkan seorang anak laki-laki, Dimas.

Dimas adalah anakku.

Secara hukum dan dalam dokumen keluarganya, urusan itu dibuat sesederhana mungkin sejak dia lahir. Aku tidak tinggal bersama mereka dan tidak pernah muncul sebagai ayah yang mengantar rapor atau menghadiri acara sekolah.

Namun hampir seluruh biaya hidupnya berasal dariku.

Aku membayar sekolahnya.

Aku membantu Maya membuka usaha kecil.

Aku membelikan kendaraan ketika Dimas mulai kuliah.

Aku juga memastikan mereka tidak pernah kekurangan uang.

Dalam pikiranku, itu cara paling masuk akal untuk membayar sesuatu yang tidak pernah bisa kuberikan, yaitu sebuah keluarga yang utuh.

Tahun itu Dimas berusia dua puluh tiga tahun.

Dia mengikuti seleksi calon ASN untuk posisi auditor di sebuah inspektorat provinsi.

Aku bahkan lebih tegang daripada dia.

Nilai tes dasarnya tinggi.

Tes bidangnya juga bagus.

Wawancara dilewatinya tanpa masalah.

Ketika namanya masuk daftar peserta tahap akhir, Maya menangis di telepon.

“Mungkin ini pertama kalinya aku merasa semua yang kita jalani ada hasilnya,” katanya.

Aku sedang berada di mobil dan baru keluar dari kantor.

“Jangan bicara begitu.”

“Memang begitu, Hen.”

Suaranya mengecil.

“Kalau Dimas sudah punya pekerjaan tetap, aku tidak akan terlalu takut lagi.”

Aku tahu apa yang dia maksud.

Selama ini dia bergantung kepadaku lebih besar daripada yang ingin kami akui.

“Ada verifikasi data dan rekam jejak saja,” kataku. “Dia tidak melakukan apa-apa. Tidak perlu khawatir.”

Maya terdiam sebentar.

“Benar tidak akan ada masalah?”

“Tidak.”

Aku mengatakan itu dengan keyakinan seorang lelaki yang terlalu lama berhasil menghindari akibat dari perbuatannya.

Aku bahkan sudah bertanya kepada seorang kenalan lama yang memahami proses administrasi pemerintahan.

Katanya selama data Dimas benar, dokumennya lengkap, dan tidak ada masalah pidana atau pemalsuan, tahap akhir seharusnya berjalan biasa saja.

Kalimat itu menenangkanku.

Aku hanya mendengar bagian yang ingin kudengar.

Malam sebelum verifikasi akhir dimulai, aku pulang ke rumah.

Ratih sedang duduk di ruang keluarga memakai kacamata baca, memotong daun kering dari beberapa tanaman pot.

Rambutnya sudah mulai dipenuhi uban tipis.

Aku berdiri beberapa detik di dekat pintu dan memandanginya.

Entah kenapa saat itu aku justru merasa kasihan kepadanya.

Pikiran itu sekarang membuatku malu.

Waktu itu aku merasa hidupku lebih luas daripada hidupnya.

Aku punya perusahaan distribusi bahan bangunan yang berkembang, pertemanan luas, perjalanan dinas, makan malam bisnis, Maya, dan seorang anak laki-laki yang diam-diam kubanggakan.

Ratih, menurut pikiranku, hanya punya rumah.

Dia merawat tanaman, membaca, sesekali menemui teman-temannya, lalu menunggu aku pulang.

Aku tidak pernah bertanya apakah itu memang kehidupan yang dia pilih.

“Belum tidur?” tanyaku.

“Belum.”

Dia tetap memotong ujung daun yang menguning.

“Ada beberapa yang harus dipindahkan.”

“Kenapa?”

“Katanya besok angin kencang. Pot yang di balkon sebaiknya masuk.”

Aku mengangguk dan berjalan menuju tangga.

Sebelum naik, dia berkata tanpa melihatku, “Kadang perubahan cuaca datang lebih cepat daripada yang kita kira.”

Aku tidak memikirkannya.

Pukul sebelas malam Maya mengirim pesan.

Dia mengirim gambar dua tangan yang sedang berdoa.

Besok semoga lancar.

Aku membalas:

Pasti.

Setelah itu, seperti yang sudah kulakukan berkali-kali, aku menghapus percakapan kami.

Ketika mengangkat kepala, kulihat Ratih berdiri di dekat meja makan membawa segelas air.

Dia tidak berkata apa-apa.

Aku juga tidak.

Aku tidur nyenyak malam itu.

Malam berikutnya aku sengaja tidak pergi menemui Maya.

Dimas sedang gelisah menunggu proses verifikasi dan Maya ingin menemaninya di rumah.

Aku pulang lebih awal.

Rumah seperti biasa, bersih, tenang, dan berbau sedikit seperti jeruk dari cairan pembersih lantai.

Ratih sedang memasak.

Di meja ada ikan kukus, tumis sayuran, tahu, ayam kecap yang tidak terlalu manis, dan sup bening.

Semua makanan yang kusukai.

Kami makan berhadapan.

Tidak banyak yang dikatakan.

Itulah bentuk pernikahan kami selama bertahun-tahun. Kami bisa duduk satu meja selama setengah jam dan hanya berbicara tentang tagihan listrik atau siapa yang akan datang memperbaiki atap.

Setelah makan, aku duduk menonton berita bisnis.

Ratih membereskan dapur, lalu membuat teh.

Dia membawa teko kecil yang biasanya hanya kami keluarkan saat menerima tamu dekat.

Dia menuangkan teh ke dua cangkir.

Satu diletakkan di depanku.

Satu dibawanya ke sofa seberang.

Aku menoleh.

Itu tidak biasa.

Biasanya setelah makan Ratih membaca di kamar belakang atau mengurus tanamannya.

Aku menaikkan sedikit volume televisi.

Ratih justru duduk semakin tenang.

Beberapa menit kemudian dia berkata, “Hendra.”

“Hmm?”

“Sudah berapa lama kita menikah?”

Aku mengernyit.

“Dua puluh dua tahun.”

“Dua puluh dua tahun.”

Dia mengulanginya pelan.

“Cepat juga.”

Aku mematikan televisi.

“Ada apa?”

Ratih memutar cangkirnya sedikit.

“Kamu masih ingat apa yang dikatakan ayahmu malam setelah kita menikah?”

Aku ingat.

Ayah memanggilku ke ruang kerjanya.

Waktu itu dia masih sehat dan perusahaan keluarga belum sepenuhnya kuserahkan kepadaku.

Dia berkata, “Ratih itu anak baik. Keluarganya mempercayakan dia kepadamu. Kalau kamu sudah menikahinya, jangan mempermalukan dia.”

Aku tidak tahu mengapa setelah lebih dari dua puluh tahun kalimat itu masih tersimpan begitu jelas di kepalaku.

“Sampai sekarang kamu masih ingat?” tanyaku.

Ratih mengangkat bahu kecil.

“Ada perkataan yang sulit dilupakan.”

Aku mulai tidak nyaman.

“Kalau ada yang mau kamu bicarakan, bilang saja.”

Dia menatapku.

Bukan tatapan marah.

Justru itu yang membuatku mulai gelisah.

Aku mengenal kemarahan Maya. Aku tahu suara tinggi, tangisan, pintu dibanting, dan telepon yang dimatikan.

Aku tidak mengenal Ratih yang duduk diam di depanku seperti itu.

Dia minum teh sedikit.

“Katanya inspektur provinsi yang baru itu teliti sekali.”

Tanganku berhenti di atas cangkir.

Ratih melanjutkan dengan nada seolah membicarakan berita yang baru dia baca.

“Kalau ada hubungan antara vendor, pengeluaran perusahaan, rekening pribadi, dan orang yang menerima uang, timnya suka menelusuri sampai sumbernya.”

Aku merasa tengkukku dingin.

Ratih memandang tepat ke mataku.

“Pembukuan perusahaanmu bersih, kan?”

Cangkir di tanganku terlepas.

Teh tumpah ke karpet.

Aku hampir tidak melihatnya.

Yang kulihat hanya wajah Ratih.

Dia tidak pernah bertanya tentang pembukuan PT Wijaya Sarana selama dua puluh tahun kami menikah.

Tidak pernah.

Padahal ada hal yang tidak diketahui bahkan oleh sebagian staf kantor.

Selama bertahun-tahun, beberapa pengeluaran untuk Maya dan Dimas tidak keluar langsung dari rekening pribadiku.

Aku terlalu takut Ratih melihat jumlahnya dalam rekening rumah tangga.

Jadi perlahan aku mulai menggunakan cara yang menurutku lebih aman.

Biaya sewa sebuah ruko milik Maya pernah masuk sebagai biaya pemasaran.

Beberapa pembayaran pendidikan Dimas dibungkus sebagai program pelatihan eksternal.

Ada transfer rutin ke usaha Maya yang dicatat sebagai jasa promosi dan hubungan pelanggan.

Awalnya kecil.

Kemudian menjadi kebiasaan.

Aku selalu mengatakan kepada diriku bahwa perusahaan itu milikku dan uangnya pada akhirnya juga uangku.

Aku tidak pernah memikirkan bagaimana kalimat itu terdengar jika dibaca auditor.

“Dari mana kamu dengar soal inspektur itu?” tanyaku.

Ratih tidak menjawab langsung.

Dia mengambil tisu dan meletakkannya di dekat teh yang tumpah.

“Kenapa kamu panik?”

“Aku tidak panik.”

“Cangkirmu jatuh.”

“Ratih.”

Untuk pertama kalinya malam itu suaraku meninggi.

“Apa yang kamu tahu?”

Dia menatapku cukup lama.

Wajahnya tetap sama seperti dua puluh tahun terakhir.

Tenang.

Hanya sekarang aku mulai memahami bahwa ketenangan bukan berarti tidak tahu.

Bukan berarti tidak terluka.

Dan sama sekali bukan berarti menyerah.

Dua puluh tahun aku mengira Ratih diam karena lemah.

Malam itu aku akhirnya mengerti bahwa dia hanya tidak pernah memilih waktuku.

Dia menunggu waktunya sendiri.

Dan entah bagaimana, tahap akhir seleksi Dimas telah membuat waktu itu tiba.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

“Apa yang kamu tahu?” kuulangi.

Ratih membungkuk sedikit, mengambil cangkir yang jatuh, lalu meletakkannya di atas meja.

“Cukup banyak untuk tahu kamu seharusnya tidak tidur nyenyak malam ini.”

Aku berdiri.

“Jangan bicara berputar-putar.”

Ratih ikut berdiri, tetapi bukan untuk mendekatiku.

Dia membawa teko ke dapur.

“Besok kamu kerja?”

“Tentu.”

“Bagus. Datang lebih pagi.”

Dia berhenti di ambang pintu.

“Periksa sendiri pengeluaran perusahaanmu lima belas tahun terakhir. Terutama yang berhubungan dengan CV Laras Karya.”

Jantungku serasa jatuh.

CV Laras Karya adalah usaha milik Maya.

Tidak besar.

Secara resmi menjual perlengkapan promosi, jasa acara, dan beberapa kebutuhan kantor.

Dalam praktiknya, usaha itu sudah bertahun-tahun menjadi salah satu jalur termudah bagiku untuk mengirim uang.

Aku mengejar Ratih sampai dapur.

“Siapa yang memberimu nama itu?”

“Nama vendor ada di laporan tahunan yang beberapa kali dikirim ke rumah.”

“Kamu membaca laporan perusahaan?”

“Aku bisa membaca, Hendra.”

Jawabannya pendek.

Aku merasa seperti ditampar tanpa ada tangan yang menyentuh wajahku.

“Kamu tahu soal Maya?”

Kali ini dia diam.

“Ratih.”

Dia menatapku.

“Besok pagi kamu akan terlambat kalau terus bertanya tentang hal yang sebenarnya sudah kamu tahu jawabannya.”

Malam itu aku tidak tidur.

Pukul setengah enam pagi aku sudah berada di kantor.

Aku membuka ruang kerja sebelum staf keuangan datang.

Nama CV Laras Karya kucari di sistem.

Puluhan transaksi muncul.

Sebagian membuatku langsung ingat.

Sebagian lagi bahkan sudah kulupakan.

Invoice percetakan.

Biaya event.

Jasa komunikasi.

Pengadaan hadiah pelanggan.

Ada transaksi yang nyata karena Maya memang pernah mengerjakan beberapa pekerjaan kecil.

Namun jumlah yang kubayarkan jauh lebih besar daripada pekerjaan sebenarnya.

Aku membuka arsip tahun ketika Dimas masuk universitas.

Ada pembayaran Rp48 juta untuk “pelatihan manajemen eksternal”.

Aku ingat persis uang itu.

Itu pembayaran uang pangkal Dimas.

Tanganku mulai berkeringat.

Sekitar pukul tujuh, kepala keuangan kami, Sari, masuk dan terkejut melihatku.

“Pak Hendra sudah datang?”

“Sari, semua pembayaran ke Laras Karya, tarik datanya.”

Dia menatap layar di depanku.

“Dari tahun berapa?”

“Semuanya.”

Ekspresinya berubah.

“Pak, arsip lama sebagian harus diambil dari penyimpanan.”

“Ambil.”

Sari tidak bergerak.

“Kenapa?”

Dia menarik napas.

“Karena tiga minggu lalu Bu Ratih juga meminta salinan laporan yang secara resmi memang boleh beliau terima sebagai pihak keluarga pemegang saham lama.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Beliau tidak meminta data rekening atau sesuatu yang rahasia. Hanya laporan perusahaan yang pernah didistribusikan dan dokumen yang namanya juga tercatat dalam arsip keluarga perusahaan.”

Kepalaku berdenyut.

Aku lupa satu hal penting.

Ketika ayahku masih hidup, sebagian kecil saham perusahaan pernah ditempatkan atas nama Ratih sebagai bagian dari restrukturisasi keluarga setelah kami menikah.

Ratih tidak pernah ikut mengelola perusahaan.

Karena itu selama bertahun-tahun aku bertindak seolah fakta tersebut tidak berarti apa-apa.

Ponselku bergetar.

Maya.

Aku tidak mengangkat.

Beberapa detik kemudian pesan masuk.

Hen, ada masalah.

Aku langsung menelepon.

“Apa?”

Suara Maya terdengar tegang.

“Dimas diminta melengkapi klarifikasi data.”

“Data apa?”

“Ada beberapa pembayaran biaya pendidikan lama yang sedang mereka cocokkan karena dia melamar di posisi audit. Mereka meminta penjelasan sumber biaya tertentu dan hubungan keluarga yang dicantumkan dalam berkas.”

Aku menutup mata.

Maya melanjutkan, “Mereka juga menyebut Laras Karya.”

Aku berdiri terlalu cepat sampai kursiku bergeser.

“Jangan jawab apa pun sembarangan.”

“Lalu harus bagaimana?”

“Kasih aku waktu.”

“Dimas sudah bertanya siapa sebenarnya yang membayar beberapa tagihan kuliahnya.”

Aku tidak menjawab.

“Hendra,” kata Maya lebih keras, “dia mulai curiga.”

Setelah telepon ditutup, aku kembali menatap layar.

Puluhan transaksi.

Dua puluh tahun hidupku yang kukira tersimpan rapi ternyata meninggalkan jejak dalam bentuk angka.

Sari berdiri di depan pintu.

“Pak?”

“Apa lagi?”

Dia ragu sebentar.

“Ada satu hal yang sebaiknya Bapak lihat sebelum arsip lainnya keluar.”

Dia meletakkan salinan memo lama di mejaku.

Memo itu berasal dari akuntan internal kami delapan tahun sebelumnya.

Isinya hanya satu paragraf pendek.

Pembayaran kepada CV Laras Karya terlalu sering menggunakan kategori biaya yang berbeda tanpa dokumen pendukung memadai. Disarankan dilakukan rekonsiliasi dan penghentian pembayaran sampai ada kontrak jasa yang jelas.

Di bawah memo itu ada tulisan tanganku sendiri.

Lanjutkan. Saya tanggung jawab.

Aku menatap kalimat tersebut lama sekali.

Itulah pertama kalinya pagi itu aku tidak bisa lagi mengatakan semuanya hanya salah pencatatan.

Aku memang tahu.

Aku yang memerintahkan.

Dan Ratih kemungkinan juga sudah melihat memo itu.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku pulang sebelum makan siang.

Ratih sedang memindahkan dua pot dari balkon ke ruang belakang.

Ketika melihatku, dia hanya bertanya, “Sudah diperiksa?”

Aku berdiri di tengah ruang keluarga.

“Kamu mau apa?”

Dia meletakkan pot perlahan.

“Pertanyaan pertama kamu selalu itu.”

“Apa maksudmu?”

“Dua puluh tahun lalu kamu punya Maya, lalu kamu berpikir bagaimana caranya supaya aku tidak tahu.”

“Ketika punya Dimas, kamu berpikir bagaimana caranya supaya mereka tetap hidup nyaman.”

“Ketika mulai menggunakan uang perusahaan, kamu berpikir bagaimana caranya supaya pembayaran itu tidak terlihat seperti pengeluaran pribadi.”

Dia melepas sarung tangan berkebun.

“Sekarang kamu tahu aku sudah melihat sebagian catatan, yang kamu pikirkan tetap sama. Apa yang Ratih mau?”

Aku membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang terasa aman.

Ratih berjalan ke meja makan.

Di sana sudah ada sebuah map tipis.

Bukan tumpukan bukti setinggi meja.

Bukan foto-foto tersembunyi.

Bukan rekaman rahasia.

Hanya beberapa lembar fotokopi.

Dia menyodorkannya kepadaku.

Halaman pertama adalah ringkasan beberapa pembayaran kepada Laras Karya.

Halaman kedua salinan memo yang baru saja kulihat di kantor.

Halaman ketiga adalah laporan pembagian saham lama yang mencantumkan namanya.

Terakhir, ada fotokopi rekening rumah tangga dari bertahun-tahun sebelumnya.

Beberapa transfer pribadiku ke Maya terlihat sebelum aku mulai memindahkan jalurnya ke perusahaan.

“Kamu tahu sejak kapan?” tanyaku.

“Dua puluh tahun lalu aku tahu ada perempuan lain.”

Aku merasa lututku lemah.

“Sejak awal?”

“Tidak sejak hari pertama.”

Ratih duduk.

“Awalnya aku menemukan bon restoran di saku celanamu. Dua orang, bukan tempat yang biasa dipakai untuk rapat.”

“Lalu ada tagihan hotel.”

Dia tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak mengandung kesenangan.

“Kamu selalu mengira aku tidak mengerti ponsel. Sebelum ponsel menjadi pintar, orang masih punya kertas, Hendra.”

Aku duduk di depannya.

“Kenapa kamu tidak pernah bicara?”

“Karena aku takut.”

Jawaban itu membuatku menatapnya.

Aku mungkin lebih siap mendengar bahwa dia sedang menyusun balas dendam sejak dua puluh tahun lalu.

Ratih justru berkata dia takut.

“Aku baru tiga puluh tahun waktu itu. Pernikahan kita belum lama. Ayahku sakit. Ibumu berkali-kali mengatakan rumah tangga harus dijaga.”

Dia menatap tangannya.

“Aku juga malu.”

“Kamu bisa marah.”

“Aku marah.”

“Kamu tidak pernah menunjukkannya.”

“Karena tidak semua orang marah dengan membanting barang.”

Aku terdiam.

Ratih melanjutkan, “Aku sempat berpikir hubungan kalian akan selesai sendiri. Lalu satu tahun lewat. Tiga tahun. Lima tahun.”

“Ketika aku tahu Maya punya anak, aku sudah tidak lagi menunggu kamu kembali seperti dulu.”

Aku menelan ludah.

“Kamu tahu Dimas anakku?”

“Aku tidak tahu sejak dia lahir.”

“Kapan?”

“Ketika dia sekitar enam tahun.”

“Dari mana?”

“Tagihan sekolah.”

Aku memejamkan mata.

Ratih ternyata tidak perlu menyadap teleponku.

Aku sendiri yang meninggalkan jejak.

“Aku melihat pembayaran rutin dari rekeningmu. Nama penerimanya berbeda-beda, tetapi nomor referensinya sama. Aku penasaran.”

“Aku cek dokumen yang memang ada di rumah.”

“Setelah itu aku berhenti mencari.”

“Kenapa?”

“Karena sudah cukup.”

Dia berkata tanpa meninggikan suara.

“Aku tidak perlu tahu kalian makan di mana setiap Selasa. Aku tidak perlu tahu hadiah apa yang kamu beli pada ulang tahunnya. Mengetahui ada hubungan dan seorang anak sudah cukup untuk memahami rumah tangga kita.”

Aku menunduk.

Selama bertahun-tahun aku membanggakan diriku karena berhasil menyembunyikan detail.

Ternyata Ratih hanya tidak lagi tertarik menggali.

“Kalau sudah tahu semua, kenapa tetap tinggal?”

Ratih menatap ke arah balkon.

“Pertanyaan itu berkali-kali kutanyakan pada diriku sendiri.”

Dia menarik napas.

“Awalnya karena orang tua.”

“Kemudian karena aku belum punya keberanian mengubah hidup.”

“Setelah itu ayahmu sakit dan perusahaan sedang bermasalah. Kamu jarang di rumah, tetapi ketika ada urusan keluarga, semua orang tetap datang kepadaku.”

“Lama-lama aku punya rutinitasku sendiri.”

Dia mengangkat bahu.

“Bukan berarti aku bahagia. Aku cuma berhenti menunggu kebahagiaan datang dari kamu.”

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada makian.

Aku berkata, “Jadi sekarang kamu mau menghancurkan Dimas?”

Tatapan Ratih berubah untuk pertama kalinya.

Bukan marah.

Lebih seperti kecewa karena aku masih memilih jalan pikiran yang sama.

“Dimas tidak berutang apa pun kepadaku.”

“Kalau kamu melaporkan catatan ini ketika verifikasinya sedang berjalan, kariernya bisa gagal.”

“Aku belum melaporkan apa pun kepada tim seleksi.”

Aku menatapnya.

“Belum?”

“Tidak.”

“Lalu bagaimana nama Laras Karya bisa muncul?”

Ratih menggeleng.

“Aku tidak tahu proses mereka secara rinci.”

“Dimas melamar posisi auditor. Wajar kalau dia diminta menjelaskan beberapa hal yang ditemukan dalam verifikasi dokumen. Jangan menjadikan aku penyebab dari catatan yang dibuat oleh tanganmu sendiri.”

Aku ingin menyangkal.

Tidak bisa.

“Terus kenapa kamu bicara tadi malam?”

“Karena aku tahu proses seleksi itu membuatmu gugup.”

“Jadi kamu sengaja memilih waktunya.”

“Ya.”

Akhirnya ada sesuatu yang tegas dalam suaranya.

“Aku memilih saat kamu tidak bisa lagi menganggap semua ini sekadar urusan pribadi.”

Aku menatapnya.

Ratih mengambil map itu lagi.

“Kalau dua puluh tahun ini hanya soal kamu mencintai perempuan lain, mungkin aku akan pergi dengan rasa malu dan selesai.”

“Tapi kamu membawa hubungan itu ke perusahaan.”

“Karyawanmu bekerja untuk gaji mereka. Ada pemasok yang menunggu pembayaran. Ada pajak, laporan, dan tanggung jawab.”

“Kamu memakai perusahaan untuk membiayai kehidupan pribadi lalu menulisnya sebagai biaya usaha.”

Dia mendorong memo lama ke arahku.

“Bahkan ketika orang keuanganmu pernah mengingatkan, kamu menulis sendiri bahwa kamu bertanggung jawab.”

Ruangan terasa semakin sempit.

“Apa maumu?”

Ratih kali ini menjawab.

“Aku mau kita berhenti berpura-pura.”

Dia mengeluarkan selembar kertas lain.

Bukan dokumen perceraian.

Hanya beberapa catatan tulisan tangan.

“Kamu harus memisahkan uang pribadi dari perusahaan mulai hari ini.”

“Semua transaksi Laras Karya diperiksa oleh akuntan yang tidak menerima perintah langsung darimu.”

“Kalau ada pengeluaran pribadi yang dibebankan ke perusahaan, kamu kembalikan sesuai hasil pemeriksaan.”

“Kalau ada laporan pajak atau pembukuan yang harus dikoreksi, lakukan melalui orang yang kompeten.”

Aku mendengarkan.

“Dan?”

“Kita bicara dengan pengacara tentang perpisahan kita.”

Aku menatapnya lama.

“Cerai?”

“Ya.”

“Kamu sudah memutuskan?”

“Sudah.”

“Malam ini?”

“Tidak.”

Dia menatapku.

“Aku memutuskannya tiga tahun lalu.”

Aku merasa seperti baru mendengar pintu ditutup di ruangan lain.

“Tiga tahun?”

Ratih mengangguk.

“Tapi ibuku sakit. Aku merawatnya sampai meninggal.”

“Setelah itu aku membereskan beberapa urusan keluarga.”

“Kemudian aku menunggu laporan perusahaan yang cukup untuk memastikan aku tidak keluar dari pernikahan sambil tetap ikut menanggung masalah yang tidak pernah kubuat.”

Ada logika yang sangat sederhana dalam kalimat itu.

Aku baru mulai mengerti bahwa kesabarannya bukan rencana balas dendam.

Dia sedang menyiapkan dirinya agar tidak jatuh bersamaku.

“Kenapa sekarang?”

“Karena sekarang catatan perusahaan mulai menyentuh kehidupan orang lain.”

Ratih berhenti sebentar.

“Dan karena untuk pertama kalinya kamu mungkin mau melihatnya.”

Aku berdiri, berjalan ke jendela, lalu kembali duduk.

“Kalau aku bereskan semuanya?”

“Kita tetap berpisah.”

“Ratih.”

“Kamu bertanya apa yang kuinginkan. Aku sudah jawab.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak punya posisi tawar.

Aku pergi menemui Maya siang itu.

Begitu pintu rumahnya terbuka, aku tahu dia sudah bertengkar dengan Dimas.

Matanya merah.

Dimas duduk di ruang tamu dengan laptop terbuka dan beberapa dokumen di meja.

Dia berdiri ketika melihatku.

Tidak memanggil Om seperti biasanya.

Tidak memanggil apa pun.

“Hendra datang,” kata Maya.

Dimas menatapku.

“Benar Anda yang membayar kuliah saya?”

Aku belum pernah mendengar dia berbicara kepadaku dengan nada seformal itu.

“Dimas, kita bicara pelan-pelan.”

“Benar atau tidak?”

Aku melihat Maya.

Dia memalingkan wajah.

“Benar.”

Dimas menarik napas panjang.

“Lewat perusahaan?”

Aku tidak langsung menjawab.

Itu sudah menjadi jawaban.

Dimas tertawa pendek tanpa humor.

“Tim verifikasi meminta penjelasan kenapa sebuah perusahaan yang tidak pernah mempekerjakan saya membayar biaya yang berkaitan dengan pendidikan saya.”

Maya buru-buru berkata, “Mama sudah bilang itu bantuan.”

Dimas menatap ibunya.

“Bantuan dari siapa?”

Maya diam.

Dimas kembali kepadaku.

“Kenapa selama ini saya tidak pernah diberi tahu?”

Aku duduk.

“Kami ingin melindungimu.”

“Dari apa?”

Tidak ada jawaban bagus.

Dimas menunjuk dokumen di meja.

“Kalau saya bilang uang itu bantuan pendidikan dari perusahaan, mereka bisa minta dasar programnya.”

“Kalau saya bilang itu bantuan pribadi, kenapa dibayar lewat perusahaan?”

Dia mengusap wajah.

“Kalau saya bohong, saya yang menandatangani pernyataan.”

Aku baru menyadari besarnya masalah dari sudut pandangnya.

Selama ini aku selalu berpikir bagaimana menjamin masa depan Dimas.

Aku tidak pernah berpikir bahwa caraku menjamin masa depannya bisa menjadi hal pertama yang harus dia jelaskan ketika hendak memulai karier.

“Kamu jangan bohong,” kataku.

Maya menoleh tajam.

“Hendra.”

“Dia tidak boleh bohong.”

“Kalau semuanya dijelaskan, bagaimana seleksinya?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu bilang sudah aman.”

“Aku salah.”

Maya berdiri.

“Dua puluh tahun aku tidak pernah meminta kamu meninggalkan Ratih.”

“Aku tidak pernah membuat keributan.”

“Aku membesarkan anakmu tanpa nama kamu di depan orang-orang.”

“Sekarang ketika Dimas tinggal satu langkah lagi, kamu bilang tidak tahu?”

Aku mengerti kemarahannya.

Namun untuk pertama kalinya aku juga mendengar sesuatu yang selama ini selalu kuabaikan.

Maya memang hidup nyaman karena uangku.

Tapi nyaman bukan berarti mudah.

Dia juga menjalani dua puluh tahun menunggu jadwalku.

Menunggu teleponku.

Menunggu aku punya waktu.

Menunggu seorang lelaki yang setiap malam tetap punya alamat rumah lain.

Aku berkata, “Yang harus kita lakukan sekarang adalah memastikan Dimas tidak menandatangani keterangan palsu.”

Maya memukul meja dengan telapak tangannya.

“Kalau dia gagal?”

Dimas berdiri.

“Kalau saya gagal karena saya memilih jujur, itu urusan saya.”

Maya terdiam.

Dimas memandang kami bergantian.

“Tapi kalau saya gagal karena kalian membuat dokumen dan pembayaran yang tidak pernah saya mengerti, itu urusan kalian.”

Dia menutup laptopnya.

“Aku butuh semua catatan pembayaran yang berhubungan denganku.”

Aku mengangguk.

“Besok aku kirim.”

“Bukan yang sudah dirapikan.”

Aku menahan napas.

“Semua.”

“Ya.”

Dimas mengambil tasnya dan berjalan ke kamar.

Sebelum masuk, dia berhenti.

“Hendra.”

Aku menoleh.

“Apakah Anda ayah saya?”

Maya mulai menangis.

Tidak ada lagi alasan untuk berbohong.

“Iya.”

Dimas mengangguk sekali.

Tidak ada adegan dramatis.

Tidak ada pelukan.

Dia hanya masuk kamar dan menutup pintu.

Aku pulang ke kantor.

Sore itu aku memanggil Sari dan akuntan eksternal yang beberapa tahun terakhir membantu audit laporan perusahaan.

Aku tidak memberi mereka cerita tentang pernikahanku.

Aku hanya mengatakan ada pengeluaran pribadi yang mungkin salah dicatat sebagai biaya perusahaan dan semuanya harus diperiksa.

Akuntan kami menatapku beberapa detik sebelum berkata, “Kalau mau diperiksa, Pak, kewenangannya harus jelas. Tidak boleh berhenti hanya karena hasilnya tidak nyaman.”

Aku hampir tersinggung.

Lalu aku ingat memo delapan tahun lalu.

“Periksa semuanya.”

Kami mulai dari Laras Karya.

Dalam dua minggu pertama, jumlah yang ditemukan sudah membuatku tidak bisa makan dengan tenang.

Tidak semua transaksi bermasalah.

Maya memang pernah menyediakan kebutuhan promosi dan membantu acara perusahaan.

Namun banyak nilai invoice dibesarkan.

Beberapa transaksi tidak memiliki pekerjaan yang setara dengan pembayarannya.

Ada pengeluaran sekolah Dimas.

Ada uang muka kendaraan.

Ada sewa ruko.

Ada biaya perjalanan yang sebenarnya perjalanan pribadiku dengan Maya.

Jika ditotal selama bertahun-tahun, nilainya mencapai ratusan juta rupiah.

Aku mampu mengembalikannya.

Tetapi kemampuan membayar tidak mengubah apa yang kulakukan.

Sari menyusun daftar transaksi.

Akuntan membuat rekomendasi koreksi.

Konsultan pajak menjelaskan dokumen mana yang harus diperbaiki dan konsekuensi administrasi yang mungkin muncul.

Aku tidak menyukai satu pun percakapan itu.

Tetapi kali ini aku duduk sampai selesai.

Aku menjual satu mobil yang jarang kupakai dan mencairkan deposito pribadi untuk mulai mengembalikan dana ke perusahaan.

Aku juga menghentikan seluruh pembayaran ke Maya lewat jalur perusahaan.

Ketika kuberitahu, Maya marah.

“Jadi sekarang aku yang harus menanggung semuanya?”

“Aku tetap bertanggung jawab terhadap kewajiban pribadi yang memang menjadi tanggung jawabku.”

“Bedanya apa?”

“Mulai sekarang uangnya keluar dari rekening pribadiku, bukan perusahaan.”

Maya terdiam.

“Kamu berubah karena Ratih?”

“Bukan.”

Aku berhenti.

“Seharusnya ini kulakukan sejak dulu.”

Dia tertawa pahit.

“Sekarang gampang sekali bicara seharusnya.”

Aku tidak menyalahkannya.

Dua hari setelah itu, Dimas mengirimkan klarifikasi kepada tim sesuai dokumen yang bisa dibuktikan.

Dia tidak menyembunyikan bahwa sebagian biaya kuliahnya dibayar oleh perusahaan milikku.

Dia juga menjelaskan bahwa dia tidak pernah bekerja di perusahaan tersebut dan baru mengetahui bentuk pencatatannya setelah diminta klarifikasi.

Tidak ada seorang pun dari kami yang tahu apakah jawaban itu akan membuatnya gagal.

Untuk pertama kalinya sejak proses seleksi dimulai, aku tidak menelepon siapa pun.

Tidak meminta kenalan “membantu”.

Tidak mencoba mencari orang dalam.

Aku hanya menunggu.

Ratih sementara itu menemui pengacara.

Seminggu kemudian, aku ikut datang.

Kami membicarakan pemisahan tempat tinggal, rekening, kewajiban rumah tangga, dan proses perceraian.

Aku ingin mengatakan bahwa rumah itu harus tetap menjadi rumah kami sampai semuanya selesai.

Ratih menolak berdebat.

“Untuk sementara Hendra bisa tinggal di apartemen dekat kantor,” katanya kepada pengacara.

Aku menatapnya.

“Kamu sudah mengatur semuanya?”

“Aku sudah memikirkannya cukup lama.”

“Rumah ini juga rumahku.”

Pengacara belum sempat bicara ketika Ratih menjawab, “Aku tidak sedang menentukan pembagian akhir. Kita ikuti proses yang benar.”

Dia berhenti sebentar.

“Tapi kita tidak perlu tinggal satu atap sambil berpura-pura.”

Aku tidak bisa menyangkal itu.

Dua puluh dua tahun kami sudah hidup seperti dua orang yang berbagi alamat.

Kini bahkan alamat pun mulai dipisahkan.

Aku pindah ke apartemen seminggu kemudian.

Malam pertama di sana terasa aneh.

Tidak ada suara Ratih menutup lemari dapur.

Tidak ada pakaian yang tiba-tiba sudah bersih.

Tidak ada teh.

Tidak ada tanaman di dekat jendela.

Aku membuka lemari dan baru sadar selama ini aku bahkan tidak tahu deterjen mana yang biasa dipakai untuk kemejaku.

Kedengarannya sepele.

Tapi malam itu aku melihat betapa banyak hal yang kusebut “rumah tangga yang stabil” sebenarnya adalah pekerjaan Ratih yang tidak pernah kuperhatikan.

Aku mengirim pesan kepadanya.

Sudah sampai.

Dia membalas singkat.

Baik.

Aku menatap kata itu cukup lama.

Dulu aku mungkin akan menganggapnya dingin.

Sekarang aku tahu Ratih hanya sudah selesai menjalankan peran yang selama bertahun-tahun kubebankan kepadanya.

Sebulan kemudian hasil pemeriksaan internal perusahaan selesai.

Jumlah dana yang harus kukembalikan lebih besar dari perkiraanku.

Ada juga beberapa pencatatan yang harus dikoreksi dan kewajiban tambahan yang harus diselesaikan dengan arahan konsultan pajak.

Tidak ada kehancuran mendadak.

Perusahaanku tidak langsung tutup.

Aku juga tidak dibawa polisi keluar kantor seperti dalam cerita-cerita yang suka dibesar-besarkan orang.

Konsekuensinya justru lebih membosankan dan karena itu terasa lebih nyata.

Ada rapat panjang.

Ada angka yang harus dibayar.

Ada reputasi yang retak di mata staf keuangan.

Ada kewenangan yang harus kulepas sementara dalam persetujuan pembayaran tertentu.

Setelah diskusi dengan pemegang saham lain, semua pembayaran di atas jumlah tertentu diwajibkan melewati dua tingkat persetujuan.

Dulu aku mungkin akan menganggap aturan itu penghinaan.

Sekarang aku tahu alasan aturan itu dibuat adalah aku sendiri.

Sari suatu sore datang membawa dokumen.

“Pak, ini pembayaran terakhir dari rekening pribadi Bapak untuk penggantian tahap pertama.”

Aku menandatangani.

Sari mengambil kertasnya.

Sebelum pergi, dia berkata, “Terima kasih karena kali ini Bapak tidak meminta kami mengubah keterangannya.”

Aku menatapnya.

Kalimat itu terdengar sopan.

Tetapi aku tahu maksudnya.

Selama ini bukan hanya Ratih yang diam.

Orang di kantor juga belajar diam karena aku pemilik dan pimpinan.

Aku membuat terlalu banyak orang menyesuaikan diri dengan kesalahanku.

Dimas akhirnya menerima hasil seleksinya hampir enam minggu setelah malam teh itu.

Aku sedang di kantor ketika namanya muncul.

Dia dinyatakan memenuhi syarat untuk melanjutkan proses pengangkatan.

Aku membaca namanya tiga kali.

Tidak ada catatan bahwa dia bebas karena seseorang “mengurus”.

Tidak ada kemenangan besar untukku.

Justru sebaliknya.

Dimas berhasil melanjutkan karena ketika diminta menjelaskan, dia memberikan dokumen dan keterangan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Aku menelepon.

Dia mengangkat setelah dering keempat.

“Selamat.”

“Terima kasih.”

“Aku bangga sama kamu.”

Di ujung sana sunyi beberapa detik.

Kemudian dia berkata, “Saya senang hasilnya baik.”

Masih “saya”.

Masih ada jarak.

Aku tidak punya hak meminta lebih cepat.

“Dimas.”

“Iya?”

“Kalau suatu hari kamu mau bicara tentang semuanya, aku akan jawab.”

“Aku belum siap.”

“Tidak apa-apa.”

Dia diam lagi.

“Yang paling membuat saya marah bukan soal siapa ayah saya.”

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

“Lalu?”

“Karena kalian mengatur hidup saya seolah saya tidak perlu tahu sesuatu selama kalian merasa itu demi kebaikan saya.”

Aku menunduk.

“Aku mengerti.”

“Belum tentu.”

Dia tidak kasar.

Justru nada datarnya membuatku tahu dia serius.

“Tapi semoga suatu hari mengerti.”

Setelah telepon itu, aku duduk lama di kantor.

Dimas mendapatkan pekerjaan yang selama berbulan-bulan kami impikan.

Anehnya, aku tidak merasa seperti pemenang.

Aku malah merasa baru pertama kali melihat betapa mahalnya cara hidupku selama ini.

Bukan hanya dalam rupiah.

Maya dan aku juga berubah.

Tanpa perusahaan sebagai dompet kedua, banyak percakapan yang selama ini bisa kututup dengan transfer uang tidak bisa lagi diselesaikan dengan cepat.

Dia ingin kepastian mengenai rumah tempat tinggalnya.

Tentang biaya hidup.

Tentang masa depannya setelah Dimas mulai bekerja.

Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya wajar.

Masalahnya, dua puluh tahun aku selalu menjawabnya tanpa membuat keputusan.

“Tenang.”

“Nanti aku urus.”

“Tidak akan ada masalah.”

Kalimat-kalimat itu bekerja selama aku punya cukup uang dan semua orang bersedia menunggu.

Sekarang tidak lagi.

Suatu malam Maya bertanya, “Setelah bercerai, kamu akan menikah denganku?”

Dulu aku sering menghindari pertanyaan itu.

Malam tersebut aku tetap terdiam terlalu lama.

Maya tersenyum pahit.

“Aku sudah tahu.”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Aku tidak bisa mengatakan aku mencintainya dan berharap kalimat itu menyelesaikan dua puluh tahun ketidakpastian.

Maya sudah bukan perempuan muda yang dulu menganggap satu akhir pekan bersamaku cukup.

Dia menatapku.

“Selama ini aku pikir Ratih yang mengambil separuh hidupmu.”

Dia menggeleng pelan.

“Ternyata kamu sendiri yang tidak pernah memberikan seluruh hidupmu kepada siapa pun.”

Aku tidak menjawab.

Beberapa bulan kemudian hubungan kami berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih jujur tetapi juga jauh lebih jauh.

Aku tetap memenuhi tanggung jawab pribadi yang sudah kami sepakati.

Namun Maya tidak lagi menunggu teleponku setiap malam.

Dia mulai mengurus usahanya tanpa kontrak dari perusahaanku.

Untuk pertama kalinya, Laras Karya harus hidup dari pelanggan yang benar-benar membayar jasa mereka.

Pendapatannya turun pada awalnya.

Maya marah kepadaku beberapa kali.

Kemudian dia berhenti meminta bantuanku mencari proyek.

“Aku tidak mau satu hari nanti Dimas melihat usahaku dan bertanya mana yang sebenarnya milikku,” katanya.

Aku tidak tahu apakah itu sindiran atau keputusan.

Mungkin keduanya.

Hubunganku dengan Ratih bahkan lebih sederhana.

Kami hanya berbicara soal proses perceraian dan beberapa urusan perusahaan yang masih menyangkut kepentingannya.

Dia tidak pernah bertanya tentang Maya.

Tidak sekali pun.

Suatu hari aku tidak tahan.

Kami bertemu di rumah untuk memeriksa beberapa dokumen.

Aku berkata, “Kamu tidak ingin tahu apakah aku masih bersama Maya?”

Ratih mengangkat kepala.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena itu sudah bukan keputusan yang memengaruhi hidupku.”

Jawabannya terasa final.

Aku bertanya, “Kamu membenciku?”

Ratih menutup map.

“Aku pernah.”

Aku menunggu.

“Sekarang?”

“Sekarang aku capek membawanya ke mana-mana.”

Dia bangkit mengambil air.

“Jangan salah paham. Itu bukan berarti aku memaafkan semuanya.”

“Aku tahu.”

“Bagus.”

Aku melihat beberapa tanaman di ruang belakang.

“Tanaman yang dulu di balkon masih ada?”

“Masih.”

“Yang daunnya panjang itu?”

Ratih tersenyum tipis.

“Kamu bahkan tidak tahu namanya.”

Aku tertawa kecil, malu.

“Memang tidak.”

“Itu sirih gading.”

Aku menatap tanaman yang selama bertahun-tahun kulihat tanpa pernah benar-benar memperhatikan.

Tumbuhan itu tetap hijau meski dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.

Aku teringat bagaimana dulu aku membandingkan Ratih dengan tanaman yang tidak membutuhkan banyak cahaya.

Aku pikir itu berarti dia mudah diabaikan.

Ternyata aku salah memahami hampir semuanya.

Enam bulan setelah perceraian kami mulai diproses, Ratih pindah sementara ke rumah kecil milik keluarganya yang sudah lama kosong setelah ibunya meninggal.

Dia tidak membeli rumah mewah.

Tidak membuka bisnis besar.

Tidak pergi berlibur keliling dunia.

Dia hanya mengatur tempat itu sesuai keinginannya.

Ruang belakang dijadikan tempat membaca.

Halaman kecil dipenuhi tanaman.

Dia kembali bertemu teman-teman lamanya secara rutin dan sesekali membantu mengelola kegiatan perpustakaan komunitas dekat rumah.

Ketika aku datang mengantar satu dokumen yang membutuhkan tanda tangannya, dia sedang menyiram tanaman.

“Aku bisa kirim lewat kurir sebenarnya,” kataku.

“Lain kali kirim saja.”

Aku mengangguk.

Ratih membaca dokumen sampai selesai sebelum menandatangani.

Dulu dia hampir selalu percaya ketika aku berkata, “Ini cuma formalitas.”

Sekarang tidak ada satu lembar pun yang dia tanda tangani tanpa membaca.

Aku tidak tersinggung.

Aku justru tahu persis siapa yang mengajarinya begitu.

Aku.

Bukan lewat nasihat.

Lewat dua puluh tahun alasan untuk tidak mempercayaiku.

Sebelum pergi, aku berkata, “Ratih.”

Dia menatapku.

“Maaf.”

Dia diam.

Aku menambahkan, “Aku tahu satu kata itu tidak memperbaiki apa-apa.”

Ratih meletakkan pena.

“Memang tidak.”

Aku mengangguk.

“Tapi tetap harus kukatakan.”

“Katakan kalau kamu memang perlu mengatakan.”

Aku hampir bertanya apakah dia suatu hari bisa memaafkanku.

Aku menahan diri.

Selama puluhan tahun aku sudah terlalu sering meminta orang lain memberikan sesuatu agar aku merasa lebih baik.

Kali ini tidak.

Aku hanya berkata, “Terima kasih sudah tidak menyeret Dimas ke dalam pertengkaran kita.”

Ratih menatapku cukup lama.

“Dia anak yang lahir dari keputusan orang dewasa.”

“Bukan dia yang membuat keputusan itu.”

Aku tidak mampu menjawab.

Dia melanjutkan, “Kalau dia melakukan kesalahan sendiri, biarkan dia menanggungnya.”

“Kalau kesalahan itu milikmu, jangan taruh di pundaknya.”

Itulah kalimat terakhir kami hari itu.

Proses perceraian kami tidak selesai dalam satu pertemuan.

Pembagian beberapa kepentingan keuangan juga membutuhkan waktu.

Pemeriksaan dan koreksi di perusahaan berlangsung berbulan-bulan.

Aku masih harus menghadapi beberapa pembayaran tambahan dan perubahan prosedur.

Dimas mulai bekerja.

Hubungan kami belum berubah menjadi hubungan ayah dan anak yang hangat.

Sesekali dia membalas pesanku.

Kadang kami makan bersama.

Dia memanggilku Pak Hendra di depan orang lain dan hanya Hendra ketika kami berdua.

Aku tidak memaksanya.

Maya tetap menjadi bagian dari hidupku, tetapi tidak seperti dulu.

Kami tidak lagi berpura-pura dua puluh tahun bisa diperbaiki hanya karena sekarang aku tidak perlu pulang kepada Ratih.

Ada hari-hari ketika Maya dan aku dekat.

Ada hari-hari ketika dia meminta ruang.

Untuk pertama kalinya aku belajar bahwa konsekuensi tidak selalu berbentuk kehilangan semuanya.

Kadang konsekuensi berarti tetap memiliki banyak hal, tetapi tidak bisa lagi memiliki semuanya dengan cara yang sama.

Hampir setahun setelah malam ketika cangkir tehku jatuh, aku kembali ke rumah lama untuk mengambil beberapa barang terakhir.

Ratih sudah mengosongkan sebagian lemari.

Di rak dekat jendela hanya tersisa satu pot sirih gading yang dulu sering dia pindahkan ketika hujan besar.

Aku mengirim pesan.

Tanaman ini punya kamu?

Dia membalas beberapa menit kemudian.

Kalau kamu mau, rawat saja.

Aku berdiri memegang pot itu.

Aku hampir tertawa.

Selama dua puluh tahun aku mengira diriku matahari dalam kehidupan dua perempuan.

Padahal tanpa diriku, Maya tetap belajar membangun usahanya.

Ratih sudah lama punya kehidupan yang tidak kukenal.

Dimas memulai pekerjaannya dengan memilih mengatakan kebenaran meski takut kehilangan kesempatan.

Yang paling lama tidak bisa berdiri sendiri ternyata aku.

Aku membawa pot itu ke apartemen.

Beberapa daunnya menguning dua minggu kemudian karena terlalu banyak kusiram.

Aku mencari tahu cara merawatnya.

Ternyata tidak sulit.

Cukup cahaya yang wajar.

Air secukupnya.

Jangan membuat akarnya terus terendam hanya karena kita mengira lebih banyak selalu berarti lebih baik.

Suatu sore Dimas datang membawa beberapa dokumen yang ingin dia tanyakan kepadaku.

Sebelum masuk, dia melihat tanaman di dekat jendela.

“Baru pelihara tanaman?”

Aku mengangguk.

“Bekas dari rumah.”

Dia menyentuh satu daun yang mulai tumbuh baru.

“Lumayan sehat.”

“Sekarang.”

Aku membuka pintu lebih lebar.

“Masuk?”

Dimas ragu sebentar.

Lalu masuk.

Aku tidak tahu akan seperti apa hubungan kami lima tahun lagi.

Aku tidak tahu apakah Ratih suatu hari akan benar-benar memaafkanku atau hanya berhenti memikirkanku.

Aku juga tidak tahu apakah aku dan Maya akhirnya akan tinggal bersama atau menyadari bahwa hubungan kami selama ini hanya bisa bertahan karena selalu hidup di sela-sela kehidupan lain.

Tidak semuanya harus selesai hari itu.

Yang sudah selesai adalah kebohongan bahwa aku bisa mempertahankan dua kehidupan tanpa membuat siapa pun membayar harganya.

Setelah Dimas pulang, aku melihat kunci rumah lama yang masih tersimpan di meja.

Pengacara sudah meminta semua kunci cadangan dikembalikan karena pengaturan kepemilikan sementara telah berubah.

Dulu aku mungkin akan menyimpan satu.

Sekadar berjaga-jaga.

Sekadar karena merasa masih berhak.

Keesokan paginya aku memasukkan kunci itu ke dalam amplop dokumen dan menyerahkannya tanpa membuat salinan.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun, aku menutup satu pintu tanpa menyiapkan jalan rahasia untuk masuk kembali.

Menurutmu, apakah Ratih benar memilih menunggu sampai Hendra benar-benar harus menghadapi akibat dari dua puluh tahun kebohongannya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.