Enam Tahun Aku Tak Pernah Masuk Apartemen dari Mantan Suamiku, Lalu Seorang Anak Kecil Memanggilku Mama…

Avatar penulis
Cerita 01
48 menit baca 357 tayangan
Enam Tahun Aku Tak Pernah Masuk Apartemen dari Mantan Suamiku, Lalu Seorang Anak Kecil Memanggilku Mama…
Indeks

Enam Tahun Aku Tak Pernah Masuk Apartemen dari Mantan Suamiku, Lalu Seorang Anak Kecil Memanggilku Mama

Bagian 1

Hari aku berpisah dari Arman Mahendra, dia melemparkan sebuah kunci apartemen ke arahku dan berkata, “Ambil. Setelah ini jangan datang lagi cuma untuk mengurus hal-hal yang sudah selesai.”

Sudut gantungan kuncinya mengenai pipiku. Tidak sampai melukai, tetapi cukup membuatku memutuskan satu hal: selama hidup, aku tidak akan menginjakkan kaki di tempat yang dia berikan dengan cara seperti itu.

Namaku Ratri Prameswari.

Enam tahun lalu, aku dan Arman mengakhiri rumah tangga yang sudah terlalu lama dipenuhi pertengkaran tentang uang, keputusan sepihak, dan kebiasaannya menganggap bahwa kalau niatnya baik, dia tidak perlu meminta persetujuanku.

Apartemen itu sebenarnya sudah tercatat atas namaku.

Enam Tahun Aku Tak Pernah Masuk Apartemen dari Mantan Suamiku, Lalu Seorang Anak Kecil Memanggilku Mama…

Dibeli ketika kami masih menikah, lalu menjadi bagian yang diberikan kepadaku ketika kami membereskan urusan harta setelah berpisah.

Aku menyimpan salinan dokumennya, menerima kuncinya, lalu tidak pernah datang.

Aku terlalu marah.

Sebagai gantinya, aku bekerja seperti orang yang dikejar utang.

Aku pindah ke rumah kontrakan kecil, mengumpulkan uang muka, lalu mengambil KPR rumah sederhana di Cimahi. Tidak besar, tidak mewah, tetapi cicilannya kubayar dari gajiku sendiri.

Aku ingin setiap sudut rumah itu mengingatkanku bahwa aku bisa hidup tanpa Arman.

Selama enam tahun, aku berhasil.

Sampai perusahaan tempatku bekerja melakukan pengurangan karyawan.

Namaku masuk daftar.

Pesangon yang kuterima cukup untuk beberapa bulan, tetapi KPR tidak mengenal rasa iba. Ada listrik, kebutuhan sehari-hari, asuransi, dan tagihan yang tetap datang meskipun penghasilan tetapku berhenti.

Pada minggu ketiga setelah kehilangan pekerjaan, aku membuka map lama di lemari.

Di sana aku melihat salinan dokumen apartemen itu.

Unit dua kamar di pusat Bandung.

Lokasinya bagus.

Nilainya pasti sudah naik.

Aku menatap dokumen itu hampir lima menit sebelum akhirnya mengeluarkan kunci yang selama bertahun-tahun kusimpan di kotak kecil paling belakang.

Aku berkata pada diriku sendiri bahwa menjual apartemen itu bukan berarti aku kalah.

Itu memang milikku.

Kalau aset itu bisa membantuku melewati masa sulit, membiarkannya kosong hanya karena gengsi justru bodoh.

Dua hari kemudian aku berdiri di depan pintunya.

Aku sudah membayangkan bau ruangan tertutup, lantai berdebu, keran berkarat, atau mungkin furnitur lama yang harus dibuang.

Kuncinya masih masuk dengan sempurna.

Aku memutarnya.

Terdengar bunyi klik.

Pintu terbuka.

Aku langsung tahu ada sesuatu yang salah.

Bukan bau debu yang menyambutku.

Ada aroma susu, sabun anak-anak, dan sedikit bau cairan pembersih.

Di dekat pintu tersusun dua pasang sandal. Satu sandal perempuan dewasa, satu lagi sandal kecil warna kuning dengan gambar kelinci.

Ruang tamunya juga jauh dari kosong.

Ada karpet bermain warna merah muda.

Balok susun berserakan di lantai.

Di ujung sofa tergeletak boneka beruang dengan pita yang sudah agak kusut.

Aku berdiri tanpa bergerak.

Amarah datang lebih cepat daripada pikiran jernih.

Arman.

Nama itu langsung muncul di kepalaku.

Selama enam tahun aku tidak pernah masuk ke sini, tetapi bukan berarti dia boleh menggunakan apartemen atas namaku sesuka hati.

Aku baru saja hendak mengambil ponsel ketika sebuah pintu kamar terbuka.

Seorang anak perempuan keluar sambil mengucek mata.

Usianya mungkin empat atau lima tahun. Rambutnya agak berantakan karena tidur. Dia mengenakan piyama bergambar stroberi dan berjalan pelan sambil menyeret ujung selimut kecil.

Begitu melihatku, langkahnya berhenti.

Aku juga membeku.

Kami saling menatap.

Wajah anak itu berubah dalam hitungan detik.

Kebingungan di matanya hilang, digantikan kegembiraan yang begitu tulus sampai aku malah merasa takut.

“Mama pulang?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku bahkan sempat melihat ke belakang, seolah mungkin ada perempuan lain yang berdiri di belakangku.

Tidak ada siapa-siapa.

Anak itu melihatku.

Dan dia baru saja memanggilku Mama.

“Naya!”

Suara perempuan terdengar dari kamar.

Seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan bergegas keluar dengan celemek masih terikat di pinggang.

Begitu melihatku, dia menghentikan langkah.

Wajahnya berubah pucat.

Matanya berpindah dari wajahku ke kunci yang masih kugenggam.

“Maaf,” katanya cepat. “Ibu siapa? Kok bisa masuk?”

Aku menatapnya.

“Seharusnya saya yang bertanya.”

Perempuan itu langsung menarik anak bernama Naya ke belakang tubuhnya.

“Naya, masuk kamar dulu.”

Anak itu menolak.

Dia malah mengintip dari samping pinggang perempuan tersebut dan menatapku tanpa berkedip.

“Mama.”

Kali ini suaranya lebih pelan.

Perempuan di depanku terlihat semakin panik.

“Naya salah orang. Ibu ini bukan siapa-siapa. Ayo masuk.”

Kemudian dia menatapku lagi.

“Maaf, Bu. Mungkin salah unit. Sebaiknya Ibu keluar dulu.”

Dia mencoba mendekat ke pintu.

Aku bergeser menghalanginya.

“Ini unit saya.”

Tangannya berhenti.

“Apa?”

“Nama saya Ratri Prameswari.”

Aku membuka tas dan mengeluarkan salinan dokumen kepemilikan yang kubawa karena tadinya aku berniat mengecek kondisi unit sebelum menghubungi agen properti.

Kutaruh kertas itu di atas meja.

“Silakan lihat sendiri.”

Perempuan itu tidak langsung menyentuhnya.

Matanya jatuh pada namaku.

Bibirnya terbuka sedikit.

Tangannya mulai gemetar.

Aku sudah tidak perlu bertanya apakah dia mengenal nama itu.

“Siapa Ibu?” tanyaku.

“Wati.”

“Bu Wati bekerja untuk siapa?”

Dia tidak menjawab.

Aku menunjuk anak yang masih berdiri di belakangnya.

“Dan anak ini siapa?”

Bu Wati menelan ludah.

Aku sudah punya dugaan buruk sendiri.

Arman menikah lagi.

Mungkin setelah kami berpisah.

Mungkin sebelumnya.

Aku bahkan tidak tahu.

Kami tidak punya alasan untuk mengikuti kehidupan masing-masing setelah perceraian selesai.

Tetapi kalau dia punya istri dan anak baru, mengapa mereka tinggal di apartemenku?

Dan yang jauh lebih mengganggu, mengapa anak itu mengenal wajahku?

“Naya,” kataku pelan.

Anak itu langsung maju setengah langkah.

Bu Wati berusaha menahannya, tetapi Naya melepaskan tangan.

Dia mendekat sampai hanya berjarak satu meter dariku.

“Mama marah?”

Aku berjongkok agar posisi wajah kami sejajar.

“Aku bukan Mama kamu.”

Wajahnya langsung berubah.

“Bukan?”

“Namaku Tante Ratri.”

Dia menggeleng keras.

“Papa bilang Mama namanya Ratri.”

Aku menatapnya.

Tengkukku terasa dingin.

“Apa?”

“Papa kasih lihat foto.”

Naya mengangkat kedua tangannya, membuat gerakan seperti memegang ponsel.

“Foto Mama waktu rambutnya panjang.”

Aku pernah berambut panjang.

Enam tahun lalu.

“Papa bilang Mama kerja jauh,” lanjutnya. “Kalau Naya sudah besar, Mama pulang.”

Aku berdiri terlalu cepat sampai lututku hampir mengenai meja.

Bu Wati langsung menundukkan wajah.

Sekarang aku tidak sekadar marah.

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Arman menunjukkan fotoku kepada seorang anak kecil.

Mengajarinya memanggilku Mama.

Membiarkannya tinggal di apartemen atas namaku.

Dan perempuan di depanku jelas tahu sesuatu.

“Bu Wati.”

Dia perlahan mengangkat kepala.

“Telepon Arman.”

“Bu Ratri…”

“Sekarang.”

“Saya bisa jelaskan sedikit…”

“Saya tidak ingin penjelasan sedikit.”

Aku menunjuk telepon di tangannya.

“Telepon dia dan bilang saya ada di sini.”

Bu Wati masih ragu.

Aku mengambil ponselku sendiri.

“Kalau Ibu tidak mau, saya bisa hubungi pengelola gedung sekarang dan menanyakan sejak kapan unit saya ditempati tanpa sepengetahuan saya.”

Baru setelah itu dia bergerak.

Bu Wati membawa ponselnya ke balkon.

Dia mungkin mengira pintu kaca cukup untuk membuatku tidak mendengar.

Ternyata tidak.

“Pak…”

Suaranya bergetar.

“Pak Arman, ini gawat.”

Dia menoleh ke arahku.

Aku tidak berpura-pura tidak memperhatikan.

“Bu Ratri datang.”

Hening beberapa detik.

“Iya. Sekarang.”

Hening lagi.

Bu Wati memejamkan mata.

“Beliau bawa dokumen apartemen.”

Entah apa yang dikatakan Arman di ujung sana, tetapi Bu Wati semakin pucat.

“Naya sudah keluar kamar.”

Dia menurunkan suaranya.

“Sudah panggil Mama.”

Jantungku berdegup keras.

Bu Wati mendengarkan lagi.

Lalu dia berkata kalimat yang membuat seluruh kemarahanku berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin.

“Iya, Pak.”

“Saya sudah coba.”

Dia menatapku dari balik pintu kaca.

“Tapi sepertinya Bu Ratri sudah tahu semuanya.”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

“Aku belum tahu apa-apa.”

Aku sengaja mengucapkannya cukup keras agar Bu Wati mendengar.

Perempuan itu menutup telepon beberapa detik kemudian dan masuk kembali.

“Pak Arman sedang menuju ke sini.”

“Bagus.”

Naya masih berdiri di dekat sofa.

Wajahnya murung setelah aku mengatakan aku bukan ibunya.

Aku tidak ingin melampiaskan kemarahanku kepada anak lima tahun yang jelas tidak memahami apa pun, jadi aku duduk agak jauh dan menunggu.

Empat puluh menit kemudian, pintu terbuka.

Arman masuk tanpa mengetuk.

Enam tahun tidak bertemu membuat wajahnya berubah. Ada garis lebih tegas di sekitar matanya dan beberapa helai rambut putih dekat pelipis.

Dia berhenti ketika melihatku.

“Ratri.”

Aku langsung bertanya, “Anak siapa?”

Arman melihat Naya.

“Naya, masuk dulu sama Bu Wati.”

“Aku mau Mama.”

Wajah Arman menegang.

Aku berdiri.

“Jangan sebut aku begitu lagi di depannya sebelum kamu menjelaskan.”

Bu Wati membawa Naya ke kamar. Kali ini anak itu menurut, meskipun berkali-kali menoleh ke arahku.

Setelah pintu tertutup, aku menatap Arman.

“Mulai dari anak itu.”

Dia menarik napas.

“Naya anakku.”

“Dengan siapa?”

“Namanya Dina.”

Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku.

“Kapan?”

“Setelah kita resmi bercerai.”

Aku diam.

Arman kemudian menjelaskan tanpa banyak hiasan.

Sekitar setahun setelah perceraian kami, dia menikah lagi. Pernikahan itu hanya bertahan kurang dari dua tahun. Naya lahir di tengah hubungan yang sudah mulai berantakan.

Ketika Naya belum genap setahun, Dina pergi dari rumah.

Perceraian kedua menyusul.

Hak pengasuhan sehari-hari berada pada Arman, sementara hubungan Dina dengan anaknya hampir tidak ada.

“Jadi kamu tidak berselingkuh waktu kita menikah?” tanyaku.

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya sejak masuk, suaranya terdengar tegas.

“Aku banyak salah sama kamu. Tapi yang itu tidak.”

Aku menunjuk kamar Naya.

“Kalau begitu mengapa anakmu memanggilku Mama?”

Arman tidak menjawab.

Aku tertawa pendek tanpa rasa lucu sedikit pun.

“Ini bagian yang tadi membuat Bu Wati takut aku tahu semuanya, kan?”

“Awalnya cuma kesalahan.”

“Kesalahan?”

“Waktu Naya sekitar tiga tahun, dia lihat foto lama di dompetku.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Kamu masih simpan fotoku?”

“Foto itu sudah ada di sana bertahun-tahun.”

“Lanjut.”

“Naya bertanya siapa. Aku bilang namamu Ratri.”

Arman mengusap wajah.

“Dia lalu bertanya apakah kamu mamanya.”

“Kemudian kamu bilang iya.”

Dia tidak membantah.

“Kenapa?”

“Aku bodoh.”

“Itu bukan jawaban.”

Arman memandang ke arah pintu kamar.

“Setiap kali anak-anak di sekolah bicara soal ibu mereka, dia pulang bertanya. Dina tidak menelepon. Tidak datang. Aku sudah berkali-kali bilang akan menjelaskan kalau Naya lebih besar.”

“Jadi supaya hidupmu gampang, kamu mengambil wajahku.”

“Ratri…”

“Kamu bisa bilang ibunya tidak tinggal bersama kalian. Kamu bisa meminta bantuan orang yang paham cara menjelaskan perceraian kepada anak. Tapi kamu memilih foto mantan istrimu.”

Arman menunduk.

Aku menunjuk lantai.

“Dan apartemen ini?”

“Setelah Dina pergi, aku butuh tempat dekat kantor dan sekolah Naya. Unit ini kosong.”

“Karena aku tidak pernah datang.”

“Iya.”

“Kamu punya nomor teleponku.”

Dia diam.

“Kamu punya emailku.”

Tetap diam.

“Kamu bahkan tahu alamatku waktu pengurusan perceraian selesai.”

“Aku membayar iuran pengelolaan, listrik, dan semua biaya unit.”

“Itu tidak membuat apartemen ini menjadi milikmu.”

“Aku tahu.”

Tiga kata itu justru membuatku makin marah.

Kalau dia tidak tahu, aku masih bisa menyebutnya ceroboh.

Tapi Arman tahu.

Dia hanya berasumsi aku tidak akan pernah datang.

“Aku mau jual apartemen ini,” kataku.

Arman langsung menatapku.

“Naya baru mulai semester.”

“Itu bukan urusanku.”

“Aku cuma minta waktu.”

“Aku akan memberi waktu yang wajar untuk kalian pindah. Tapi jangan bicara seolah aku mengusir anakmu dari rumahnya. Ini bukan rumahnya. Kamu yang membuat dia percaya begitu.”

Arman memejamkan mata sebentar.

“Satu bulan.”

“Aku belum bilang berapa lama.”

“Ratri.”

“Aku akan cek dokumen dan bicara dengan pengelola dulu.”

Saat itulah Bu Wati keluar dari kamar.

Dia tampak ragu, lalu berjalan ke meja kecil dekat televisi dan mengambil sebuah map plastik.

“Bu Ratri…”

Arman menoleh cepat.

“Bu Wati, jangan.”

Perempuan itu berhenti.

Aku mengulurkan tangan.

“Berikan.”

Arman berdiri di antara kami.

“Tidak perlu.”

Aku memandangnya.

“Geser.”

Entah karena mengenali nada suaraku dari enam tahun lalu atau karena sadar dia tidak punya hak menghentikanku di rumah atas namaku sendiri, akhirnya dia mundur.

Bu Wati menyerahkan map.

Di dalamnya ada salinan formulir sekolah Naya, kuitansi, jadwal pemeriksaan anak, dan beberapa kertas dari tempat les.

Aku membalik lembar demi lembar.

Lalu menemukan satu formulir pendaftaran kegiatan sekolah.

Di bagian data keluarga tertulis:

Ayah: Arman Mahendra.

Ibu: Ratri Prameswari.

Aku membaca nama itu dua kali.

Nomor telepon di bawahnya bahkan nomor lamaku yang masih aktif.

Aku mengangkat kertas tersebut.

“Ini juga kesalahan?”

Arman tidak menjawab.

Di kolom hubungan dengan peserta, namaku tercetak jelas.

Bukan sekadar foto yang ditunjukkan kepada seorang anak di rumah.

Selama hampir dua tahun, Arman sudah menggunakan namaku sebagai ibu Naya di lingkungan sekolah.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku meletakkan formulir itu perlahan di atas meja.

“Berapa banyak orang yang mengenalku sebagai ibu Naya?”

Arman menarik kursi tetapi tidak duduk.

“Tidak banyak.”

“Itu bukan angka.”

“Wali kelasnya. Bagian administrasi. Mungkin beberapa orang tua murid.”

Aku menatapnya lama.

“Mungkin?”

“Aku jarang datang ke acara sekolah.”

“Lalu kalau Naya sakit di sekolah dan mereka menelepon nomor itu?”

Arman tidak menjawab.

Aku menunjuk nomor teleponku.

“Kamu tahu nomor ini masih kupakai.”

“Aku selalu memasukkan nomorku sebagai kontak utama.”

“Pertanyaanku bukan itu.”

Dia menarik napas berat.

“Aku pikir tidak akan pernah sampai menghubungimu.”

Kalimat itu terdengar sangat akrab.

Enam tahun lalu, pola yang sama menghancurkan pernikahan kami.

Arman selalu merasa cukup dengan memikirkan kemungkinan terbaik.

Dia meminjam uang keluarga untuk membantu kakaknya tanpa bicara denganku karena yakin uang itu akan kembali sebelum aku tahu.

Dia menjanjikan kamar kosong di rumah kami kepada sepupunya selama beberapa bulan karena yakin aku “pasti tidak keberatan”.

Dia membeli apartemen ini atas namaku sebagai investasi tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu, lalu marah ketika aku mempertanyakan cicilan dan biaya yang harus kami tanggung.

Setiap keputusannya punya alasan.

Setiap alasannya terdengar masuk akal kalau hanya dia yang berhak menentukan.

Dulu aku selalu terjebak dalam perdebatan tentang niat.

Sekarang aku tidak tertarik.

“Kamu harus menghapus namaku dari semua data Naya.”

“Akan kulakukan.”

“Bukan nanti.”

“Iya.”

“Besok.”

Arman mengangguk.

“Dan kamu tidak boleh lagi menunjukkan fotoku kepada Naya sebagai ibunya.”

Dia kembali melihat ke kamar.

“Ratri, soal itu kita perlu pelan-pelan.”

Aku hampir tertawa.

“Kita?”

“Maksudku aku.”

“Bagus. Karena memang itu urusanmu.”

“Dia sudah percaya hampir dua tahun.”

“Karena kamu mengajarinya.”

“Aku tahu.”

“Kalau kamu tahu, jangan minta aku mempertahankan kebohonganmu supaya kamu tidak perlu menghadapi akibatnya.”

Pintu kamar terbuka.

Naya berdiri di sana.

Aku tidak tahu berapa lama dia mendengar.

Bu Wati berada di belakangnya dengan wajah cemas.

Naya memandang Arman.

“Papa bohong?”

Tidak ada satu pun orang dewasa di ruangan itu yang langsung bergerak.

Arman akhirnya berjongkok.

“Naya, sini.”

Anak itu tidak mendekat.

“Papa bilang Tante Ratri Mama.”

Arman menutup mata sebentar.

Aku bisa melihat godaan untuk menciptakan satu kebohongan kecil lagi.

Mungkin mengatakan dia salah bicara.

Mungkin mengatakan aku adalah “Mama yang lain”.

Mungkin membuat semuanya kabur agar anak itu berhenti menangis.

Aku berkata pelan, “Jangan.”

Arman menatapku.

“Kalau kamu bohong lagi sekarang, nanti dia cuma harus mendengar kebenaran dua kali.”

Wajahnya berubah.

Kemudian dia memandang Naya.

“Iya. Papa salah.”

Naya mulai menangis.

Bukan menangis keras.

Justru itu yang membuatnya lebih sulit dilihat.

Air matanya turun satu per satu sementara dia berdiri diam memegang ujung piyama.

“Mama enggak mau Naya?”

Aku merasakan sesuatu menekan dada.

Aku bukan ibunya.

Aku juga tidak ingin menjadi orang yang mengambil kesalahan seorang laki-laki dewasa lalu membungkusnya dengan kalimat manis yang akan membuat anak ini semakin bingung.

Aku berjongkok.

“Naya.”

Dia menatapku.

“Namaku Tante Ratri.”

Bibirnya bergetar.

“Jadi Mama enggak pulang?”

Aku memilih kata-kataku hati-hati.

“Aku memang bukan Mama Naya dari awal.”

Dia menangis semakin deras.

Aku melanjutkan sebelum Arman menyela.

“Tapi Naya tidak salah apa-apa.”

Anak itu mengusap pipinya dengan kedua tangan.

“Papa yang salah?”

Aku melirik Arman.

Dia mengangguk.

“Iya.”

“Kenapa?”

Pertanyaan paling sederhana justru membuat orang dewasa kesulitan menjawab.

Arman duduk di lantai.

“Karena Papa takut bilang hal yang sebenarnya.”

Naya menatapnya.

“Kenapa takut?”

“Papa takut Naya sedih.”

“Tapi sekarang Naya sedih.”

Ruangan menjadi sunyi.

Aku melihat Arman menundukkan kepala.

Untuk sekali ini, dia tidak mencoba menjelaskan diri.

Bu Wati membawa Naya kembali ke kamar beberapa menit kemudian karena anak itu tidak berhenti menangis.

Sebelum masuk, Naya menoleh kepadaku.

“Tante Ratri pergi?”

“Iya.”

“Balik lagi?”

Aku tidak tahu jawabannya.

Jadi aku tidak membuat janji.

“Aku belum tahu.”

Dia tampak kecewa, tetapi mengangguk.

Hari itu aku tidak jadi membicarakan penjualan lebih jauh.

Aku membawa pulang map yang berisi dokumen apartemen milikku sendiri dan memotret formulir yang mencantumkan namaku.

Malamnya, untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, aku tidak bisa tidur bukan karena tagihan.

Aku terus memikirkan wajah Naya.

Itu membuatku kesal kepada diri sendiri.

Aku tidak mengenal anak itu.

Semua kekacauan ini dibuat Arman.

Aku tidak punya kewajiban memperbaikinya.

Namun menjelang pukul dua dini hari aku menyadari satu hal penting.

Rasa kasihan kepada Naya tidak boleh membuatku menyerahkan kembali batas yang baru saja kuambil.

Dua hal bisa benar bersamaan.

Aku bisa merasa kasihan pada anak itu.

Dan tetap menjual apartemenku.

Pagi berikutnya aku menghubungi pengelola gedung.

Aku tidak meminta informasi rekening atau dokumen pribadi Arman. Aku hanya menjelaskan bahwa aku pemilik unit dan ingin memeriksa data penghuni serta prosedur perubahan akses.

Aku datang membawa identitas dan dokumen yang diperlukan.

Dari pencatatan mereka, Arman memang sudah tinggal di unit itu bersama seorang anak dan seorang pengasuh selama hampir empat tahun.

Semua biaya pengelolaan dibayar tepat waktu.

Data penghuni dibuat berdasarkan formulir yang dia serahkan.

Saat kutanya mengapa aku tidak pernah dihubungi, petugas menjelaskan bahwa ketika data penghuni masuk, Arman menunjukkan salinan dokumen lama yang memperlihatkan hubungan kami sebelumnya serta menyatakan bahwa pemilik mengetahui penggunaan unit.

Aku menatap formulirnya.

Di kolom persetujuan pemilik tidak ada tanda tanganku.

Hanya ada catatan: pasangan pemilik.

Padahal ketika formulir itu dibuat, kami sudah lama bercerai.

Aku meminta salinannya.

Setelah itu aku menemui seorang advokat yang pernah membantu teman sekantorku dalam sengketa sewa.

Aku tidak datang untuk meminta Arman ditangkap.

Aku hanya ingin tahu posisi yang sebenarnya sebelum membuat keputusan.

Dia memeriksa dokumen kepemilikan, formulir pengelola gedung, dan beberapa bukti pembayaran.

“Kalau tujuan Ibu menjual unit,” katanya, “hal pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan penghuninya keluar melalui pemberitahuan yang jelas. Jangan membuat tindakan mendadak seperti mematikan listrik atau mengganti akses saat mereka masih tinggal di dalam.”

“Apartemennya atas nama saya.”

“Betul. Tapi menyelesaikannya secara tertib akan lebih aman.”

Aku mengangguk.

Itulah yang kuinginkan.

Bukan balas dendam.

Aku cuma ingin hidupku kembali berada di bawah keputusan yang kubuat sendiri.

Sore harinya aku mengirim pesan kepada Arman.

Aku memberinya waktu tiga puluh hari untuk pindah.

Aku juga meminta seluruh penggunaan namaku dalam data Naya dihentikan dalam tujuh hari, termasuk sekolah, tempat les, klinik, dan kontak darurat lain yang memang mencantumkanku.

Lima menit kemudian dia menelepon.

Aku tidak mengangkat.

Dia menelepon lagi.

Kali ketiga baru kujawab.

“Tiga puluh hari?” katanya.

“Ya.”

“Aku bisa pindah. Tapi mencari tempat yang dekat sekolah dalam tiga puluh hari tidak gampang.”

“Aku tidak menyuruhmu tinggal dekat sekolah itu empat tahun lalu.”

“Ratri.”

“Arman, jangan mulai.”

Dia diam.

Aku melanjutkan.

“Aku juga tidak menuntut uang sewa empat tahun. Aku tidak menyuruhmu mengganti kenaikan nilai unit yang tertunda. Aku hanya ingin unit kosong dan namaku berhenti kamu pakai.”

“Aku membayar semua biaya apartemen.”

“Dan kamu tinggal di sana.”

Dia tidak menjawab.

“Tiga puluh hari cukup wajar.”

“Bagaimana dengan Naya?”

Pertanyaan itu membuatku kesal.

Bukan kepada Naya.

Kepada cara Arman meletakkannya di antara kami.

“Apa maksudmu?”

“Dia terus bertanya tentang kamu.”

“Jelaskan kebenarannya.”

“Dia lima tahun.”

“Justru itu. Jangan tunggu sampai dia sepuluh dan punya versi kebohongan yang lebih panjang.”

“Aku sudah bicara dengan wali kelasnya.”

“Bagus.”

“Mereka menyarankan aku mencari konselor anak.”

Aku terdiam sebentar.

Itu lebih bertanggung jawab daripada yang kuduga.

“Lakukan.”

Arman menarik napas.

“Dia minta ketemu kamu lagi.”

“Tidak.”

Jawabanku cepat.

Arman diam cukup lama.

“Baik.”

Aku menutup telepon.

Setelah itu aku merasa bersalah hampir sepanjang malam.

Tetapi aku tidak mengubah keputusan.

Selama dua minggu berikutnya aku sibuk mengirim lamaran pekerjaan dan menyelesaikan proses administrasi apartemen.

Arman mengirim bukti bahwa namaku sudah dihapus dari data sekolah.

Dua hari kemudian dia mengirim foto formulir baru dari tempat les.

Hari berikutnya, catatan klinik.

Aku tidak memujinya.

Dia memang seharusnya melakukan itu.

Aku hanya membalas, “Sudah diterima.”

Pada hari keenam belas, sebuah nomor sekolah meneleponku.

Aku langsung menegang.

Ternyata wali kelas Naya.

“Bu Ratri, maaf menghubungi. Nomor Ibu sudah dihapus dari data resmi. Saya menelepon karena Pak Arman memberi tahu bahwa Ibu mengetahui situasinya.”

Aku hampir memotong pembicaraan.

Namun perempuan itu melanjutkan.

“Saya tidak akan membahas data pribadi anak. Saya cuma ingin menyampaikan bahwa Naya sekarang sudah tahu Ibu bukan ibunya.”

Aku menutup mata.

“Baik.”

“Dia beberapa kali bertanya apakah seseorang boleh berhenti jadi keluarga karena marah.”

Kalimat itu membuat tanganku yang memegang ponsel mengencang.

“Apa yang ayahnya bilang?”

“Pak Arman sedang berusaha menjelaskan.”

Aku terdiam.

Kemudian kutanya, “Kenapa Ibu menelepon saya?”

“Karena Naya menggambar sesuatu untuk Ibu dan terus meminta ayahnya menyerahkan. Pak Arman bilang dia tidak mau mengganggu Ibu lagi tanpa izin.”

Itu setidaknya menunjukkan dia mulai belajar.

Aku akhirnya berkata, “Boleh titipkan ke ayahnya. Soal bertemu, saya belum bisa janji.”

Malam itu Arman mengirim foto selembar kertas.

Gambar tiga orang.

Seorang anak kecil di tengah.

Seorang laki-laki di kiri.

Seorang perempuan di kanan.

Bagian atas gambar diberi tulisan dengan huruf besar yang tidak rata:

PAPA – NAYA – TANTE RATRI.

Aku menatap tulisan terakhir cukup lama.

Bukan MAMA.

Tante Ratri.

Untuk alasan yang tidak ingin kuanalisis terlalu jauh, aku menyimpan fotonya.

Hari kedua puluh tiga aku kembali ke apartemen untuk bertemu calon agen properti.

Arman sedang bekerja.

Bu Wati yang membuka pintu.

Naya berada di meja makan menggambar.

Begitu melihatku, dia langsung turun dari kursi.

“Tante Ratri!”

Dia hampir berlari, lalu mendadak berhenti dua meter dariku.

Sepertinya ada seseorang yang sudah mengajarinya untuk tidak sembarang memeluk orang.

Aku tersenyum tipis.

“Halo.”

“Kata Papa apartemennya punya Tante.”

“Iya.”

“Terus Papa pinjam lama?”

Aku menatap Bu Wati.

Perempuan itu terlihat ingin menghilang ke dapur.

“Kurang lebih begitu.”

“Papa enggak izin?”

Anak lima tahun ternyata bisa langsung menuju inti masalah tanpa memerlukan delapan paragraf pembelaan.

“Tidak.”

Naya berpikir sebentar.

“Makanya Tante marah?”

“Iya.”

“Papa bilang kalau pakai barang orang harus izin.”

Aku hampir tertawa.

“Betul.”

“Papa sendiri enggak izin.”

“Betul juga.”

Naya mengerutkan hidung.

“Papa aneh.”

Kali ini aku benar-benar tertawa kecil.

Bu Wati ikut tersenyum canggung.

Aku masuk untuk memeriksa balkon dan dua kamar bersama agen.

Selama itu Naya tidak mengganggu.

Dia cuma sesekali mengintip.

Setelah agen pergi, aku melihat beberapa kardus sudah tersusun di ruang makan.

“Kalian sudah dapat tempat?”

Bu Wati mengangguk.

“Pak Arman sewa rumah kecil dekat sekolah. Minggu depan pindahan.”

Aku mengangguk.

Tidak ada rasa kemenangan.

Cuma lega.

Sebelum aku pulang, Naya datang membawa kertas gambar.

“Ini buat Tante.”

Gambarnya cuma sebuah apartemen dengan empat jendela, satu matahari terlalu besar, dan seorang perempuan berdiri di depan pintu.

“Yang ini siapa?”

“Tante.”

“Kenapa sendirian?”

“Karena ini rumah Tante.”

Aku menatap gambar itu.

“Aku boleh bawa?”

Naya mengangguk cepat.

Hari terakhir kepindahan mereka jatuh pada hari Sabtu.

Aku datang karena perlu menerima kunci dan memeriksa kondisi unit.

Sebagian besar barang sudah dibawa.

Arman berdiri di ruang tamu dengan dua koper terakhir.

Untuk pertama kalinya apartemen itu hampir terlihat seperti unit yang selama ini kubayangkan.

Kosong.

Hanya saja sekarang aku tahu ruangan ini pernah dipenuhi suara seorang anak.

Arman menyerahkan satu set kunci.

“Kunci pintu utama, kotak surat, gudang kecil di basement.”

Aku menghitungnya.

“Kartu akses?”

Dia memberikan dua kartu.

“Bu Wati punya satu lagi. Dia sedang turun membawa barang.”

Aku mengangguk.

Beberapa saat kami berdiri tanpa bicara.

Lalu Arman berkata, “Aku minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Aku tahu kalimat itu tidak memperbaiki semuanya.”

“Memang tidak.”

“Aku seharusnya menghubungimu sebelum tinggal di sini.”

“Iya.”

“Aku juga tidak punya hak memakai namamu untuk Naya.”

Aku tidak menjawab.

Dia melanjutkan.

“Waktu dia mulai bertanya tentang ibunya, aku panik. Dina tidak pernah datang. Aku malu menjelaskan bahwa aku gagal mempertahankan pernikahan kedua setelah pernikahan kita juga gagal.”

Aku mengangkat alis.

“Jadi kamu mengambil mantan istri pertama sebagai solusi?”

“Kalau diucapkan begitu, kedengarannya lebih buruk.”

“Karena memang buruk.”

Arman mengangguk.

Tidak membela diri.

Itu baru.

“Aku masih punya fotomu,” katanya. “Naya melihatnya. Waktu dia bertanya apakah itu mamanya, aku cuma perlu bilang tidak.”

“Tapi kamu bilang iya.”

“Iya.”

“Kenapa fotoku masih kamu simpan?”

Arman tidak langsung menjawab.

Aku sudah siap menghentikannya kalau percakapan berubah menjadi pengakuan romantis yang tidak perlu.

Namun dia berkata, “Karena aku belum pernah benar-benar membereskan hidupku setelah kita selesai.”

Jawaban itu justru terdengar lebih masuk akal.

“Bukan berarti aku menunggu kamu,” lanjutnya. “Aku menikah lagi. Aku punya anak. Aku cuma terus menyimpan benda lama, keputusan lama, dan kebiasaan lama. Apartemen ini juga salah satunya.”

Aku melihat sekeliling.

“Sekarang kamu harus membereskannya.”

“Iya.”

“Naya bagaimana?”

Arman menatap ke arah kamar kosong.

“Masih bertanya tentang Dina. Konselornya menyarankan supaya aku jawab sesuai usianya dan berhenti membuat cerita tambahan.”

“Bagus.”

“Aku sudah menghubungi Dina lewat jalur yang biasa dipakai untuk urusan anak. Aku tidak tahu apakah dia mau terlibat lebih banyak.”

Itu bukan urusanku.

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar bisa menerima bahwa sesuatu yang menyangkut Arman tidak otomatis menjadi urusanku hanya karena aku mengetahuinya.

“Naya mungkin akan tetap bertanya tentang kamu.”

Aku menatapnya.

“Aku tidak mau jadi ibunya.”

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak mau kamu menjadikanku alat untuk menutupi keputusanmu.”

“Aku tahu.”

“Tapi…”

Aku berhenti.

Arman menunggu.

Aku menatap gambar yang semalam kumasukkan ke dalam tas.

“Aku tidak keberatan kalau dia mengenalku sebagai Tante Ratri.”

Arman tidak langsung merespons.

“Aku tidak menjanjikan kunjungan rutin. Tidak ada jadwal. Tidak ada peran orang tua.”

“Iya.”

“Kalau suatu hari dia mengirim gambar, kamu boleh kirim fotonya.”

Wajah Arman sedikit berubah.

Bukan lega berlebihan.

Hanya seperti seseorang yang baru diberi sesuatu yang tidak dia rasa berhak minta.

“Terima kasih.”

“Aku melakukan itu untuk Naya.”

“Aku tahu.”

Beberapa menit kemudian Bu Wati datang bersama Naya.

Anak itu membawa ransel kuning.

Begitu melihatku, dia tersenyum.

“Tante Ratri, kita pindah.”

“Aku dengar.”

“Rumah baru ada pohon mangga.”

“Bagus.”

“Papa sudah izin sama orang yang punya rumah.”

Aku menatap Arman.

Dia memalingkan wajah sambil tertawa kecil.

“Bagus sekali,” kataku kepada Naya. “Memang harus begitu.”

Naya mengangguk sangat serius.

Sebelum pergi, dia memeluk pinggangku.

Kali ini aku tidak menghindar.

Aku hanya menepuk punggungnya pelan.

“Dadah, Tante.”

“Dadah, Naya.”

Setelah mereka pergi, aku berdiri sendirian di ruang tamu.

Aku mengira akan merasa aneh.

Ternyata yang kurasakan justru tenang.

Dalam tiga minggu berikutnya, agen mulai membawa beberapa calon pembeli.

Aku tidak menjual unit kepada penawar pertama.

Karena kebutuhan uang cukup mendesak, godaannya besar, tetapi aku belajar sesuatu dari enam tahun terakhir.

Keputusan yang dibuat karena panik sering terasa praktis pada hari pertama dan mahal sesudahnya.

Akhirnya aku mendapat penawaran yang masuk akal.

Proses penjualan tidak selesai dalam sehari.

Ada pemeriksaan dokumen, pembayaran pajak dan biaya yang relevan, proses melalui pihak yang berwenang, serta beberapa tahap administrasi yang harus kulalui.

Aku tidak keberatan.

Untuk pertama kali, setiap langkah dilakukan dengan sepengetahuanku.

Dua bulan kemudian transaksi selesai.

Uangnya tidak membuatku mendadak kaya.

Sebagian kupakai untuk memperkuat dana darurat.

Sebagian lagi kubayarkan untuk mengurangi beban pokok KPR rumahku.

Sisanya kusimpan sambil mencari pekerjaan baru.

Aku tidak membeli mobil baru.

Tidak pindah ke rumah besar.

Tidak membuka usaha yang tiba-tiba sukses dalam sebulan.

Aku hanya mendapat ruang untuk bernapas.

Dan ternyata itu sudah banyak.

Tiga minggu setelah penjualan, aku diterima bekerja kontrak di sebuah perusahaan distribusi. Gajinya sedikit lebih rendah dari pekerjaan lamaku, tetapi jam kerjanya lebih teratur.

Aku menerimanya.

Sementara itu, Arman tidak menelepon tanpa alasan.

Sesekali dia mengirim foto gambar Naya.

Satu gambar memperlihatkan pohon mangga di rumah barunya.

Satu lagi gambar tiga orang.

Kali ini ada tulisan:

PAPA, NAYA, BU WATI.

Di pojok kanan bawah, ada seorang perempuan kecil jauh dari mereka.

TANTE RATRI.

Aku membalas dengan satu kalimat.

“Gambarnya bagus.”

Beberapa bulan kemudian aku bertemu Naya sekali.

Bukan karena Arman mengatur reuni.

Aku sedang membeli buku di pusat perbelanjaan ketika seseorang memanggil namaku dari belakang.

“Tante Ratri!”

Naya berlari kecil ke arahku.

Arman mengikuti beberapa langkah di belakang sambil membawa dua kantong belanja.

Dia berhenti ketika melihatku.

“Maaf. Dia lihat duluan.”

“Tidak apa-apa.”

Naya menunjukkan buku gambar yang baru dibelinya.

Kemudian dia berkata, “Tante tahu? Naya punya Mama Dina.”

Aku menatap Arman sebentar.

Wajahnya tegang, mungkin khawatir dengan reaksiku.

Aku kembali memandang Naya.

“Iya?”

“Papa bilang Mama Dina tinggal jauh dan belum bisa sering ketemu.”

“Begitu.”

“Naya sedih.”

Aku mengangguk.

“Boleh sedih.”

“Tapi Papa enggak boleh bohong lagi.”

Aku menahan senyum.

“Papa bilang begitu?”

“Naya yang bilang.”

Arman menghela napas.

“Dia sekarang jadi polisi di rumah.”

“Bagus,” kataku.

Naya tertawa.

Kami bicara tidak sampai sepuluh menit.

Sebelum berpisah, dia memelukku lagi.

Tidak memanggilku Mama.

Tidak bertanya kapan aku pulang.

Hanya berkata, “Dadah, Tante Ratri.”

Dan anehnya, justru itu terdengar jauh lebih hangat daripada panggilan Mama pertama yang pernah membuatku membeku di apartemen.

Malam itu aku pulang ke rumahku sendiri.

Rumah kecil yang dulu kubeli dengan KPR saat aku ingin membuktikan sesuatu kepada dunia.

Sekarang aku tidak merasa harus membuktikan apa pun.

Aku memasukkan kunci ke pintu, masuk, lalu menguncinya dari dalam.

Di lemari dekat ruang makan ada map baru berisi dokumen rumah, kontrak kerja, dan bukti penjualan apartemen.

Tidak ada lagi kunci lama dari Arman.

Tidak ada lagi unit yang kubiarkan selama enam tahun hanya karena aku tidak sanggup menyentuh kenangan buruk.

Beberapa hal memang tidak selesai ketika kita membuang kuncinya ke dalam laci.

Kadang kita harus kembali, membuka pintunya sendiri, melihat apa yang sudah terjadi di baliknya, lalu memutuskan apa yang masih boleh ikut bersama kita.

Aku mematikan lampu ruang tamu.

Di pintu kulkas, gambar pemberian Naya masih menempel dengan magnet kecil.

Di bawah tulisan TANTE RATRI, anak itu menggambar sebuah pintu.

Pintunya tertutup rapi.

Dan kali ini, akulah yang memegang kuncinya.

Menurutmu, apakah Ratri benar memberi batas yang tepat kepada Arman tanpa menghukum Naya atas kesalahan ayahnya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.

Enam Tahun Aku Tak Pernah Masuk Apartemen dari Mantan Suamiku, Lalu Seorang Anak Kecil Memanggilku Mama

Bagian 1

Hari aku berpisah dari Arman Mahendra, dia melemparkan sebuah kunci apartemen ke arahku dan berkata, “Ambil. Setelah ini jangan datang lagi cuma untuk mengurus hal-hal yang sudah selesai.”

Sudut gantungan kuncinya mengenai pipiku. Tidak sampai melukai, tetapi cukup membuatku memutuskan satu hal: selama hidup, aku tidak akan menginjakkan kaki di tempat yang dia berikan dengan cara seperti itu.

Namaku Ratri Prameswari.

Enam tahun lalu, aku dan Arman mengakhiri rumah tangga yang sudah terlalu lama dipenuhi pertengkaran tentang uang, keputusan sepihak, dan kebiasaannya menganggap bahwa kalau niatnya baik, dia tidak perlu meminta persetujuanku.

Apartemen itu sebenarnya sudah tercatat atas namaku.

Dibeli ketika kami masih menikah, lalu menjadi bagian yang diberikan kepadaku ketika kami membereskan urusan harta setelah berpisah.

Aku menyimpan salinan dokumennya, menerima kuncinya, lalu tidak pernah datang.

Aku terlalu marah.

Sebagai gantinya, aku bekerja seperti orang yang dikejar utang.

Aku pindah ke rumah kontrakan kecil, mengumpulkan uang muka, lalu mengambil KPR rumah sederhana di Cimahi. Tidak besar, tidak mewah, tetapi cicilannya kubayar dari gajiku sendiri.

Aku ingin setiap sudut rumah itu mengingatkanku bahwa aku bisa hidup tanpa Arman.

Selama enam tahun, aku berhasil.

Sampai perusahaan tempatku bekerja melakukan pengurangan karyawan.

Namaku masuk daftar.

Pesangon yang kuterima cukup untuk beberapa bulan, tetapi KPR tidak mengenal rasa iba. Ada listrik, kebutuhan sehari-hari, asuransi, dan tagihan yang tetap datang meskipun penghasilan tetapku berhenti.

Pada minggu ketiga setelah kehilangan pekerjaan, aku membuka map lama di lemari.

Di sana aku melihat salinan dokumen apartemen itu.

Unit dua kamar di pusat Bandung.

Lokasinya bagus.

Nilainya pasti sudah naik.

Aku menatap dokumen itu hampir lima menit sebelum akhirnya mengeluarkan kunci yang selama bertahun-tahun kusimpan di kotak kecil paling belakang.

Aku berkata pada diriku sendiri bahwa menjual apartemen itu bukan berarti aku kalah.

Itu memang milikku.

Kalau aset itu bisa membantuku melewati masa sulit, membiarkannya kosong hanya karena gengsi justru bodoh.

Dua hari kemudian aku berdiri di depan pintunya.

Aku sudah membayangkan bau ruangan tertutup, lantai berdebu, keran berkarat, atau mungkin furnitur lama yang harus dibuang.

Kuncinya masih masuk dengan sempurna.

Aku memutarnya.

Terdengar bunyi klik.

Pintu terbuka.

Aku langsung tahu ada sesuatu yang salah.

Bukan bau debu yang menyambutku.

Ada aroma susu, sabun anak-anak, dan sedikit bau cairan pembersih.

Di dekat pintu tersusun dua pasang sandal. Satu sandal perempuan dewasa, satu lagi sandal kecil warna kuning dengan gambar kelinci.

Ruang tamunya juga jauh dari kosong.

Ada karpet bermain warna merah muda.

Balok susun berserakan di lantai.

Di ujung sofa tergeletak boneka beruang dengan pita yang sudah agak kusut.

Aku berdiri tanpa bergerak.

Amarah datang lebih cepat daripada pikiran jernih.

Arman.

Nama itu langsung muncul di kepalaku.

Selama enam tahun aku tidak pernah masuk ke sini, tetapi bukan berarti dia boleh menggunakan apartemen atas namaku sesuka hati.

Aku baru saja hendak mengambil ponsel ketika sebuah pintu kamar terbuka.

Seorang anak perempuan keluar sambil mengucek mata.

Usianya mungkin empat atau lima tahun. Rambutnya agak berantakan karena tidur. Dia mengenakan piyama bergambar stroberi dan berjalan pelan sambil menyeret ujung selimut kecil.

Begitu melihatku, langkahnya berhenti.

Aku juga membeku.

Kami saling menatap.

Wajah anak itu berubah dalam hitungan detik.

Kebingungan di matanya hilang, digantikan kegembiraan yang begitu tulus sampai aku malah merasa takut.

“Mama pulang?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku bahkan sempat melihat ke belakang, seolah mungkin ada perempuan lain yang berdiri di belakangku.

Tidak ada siapa-siapa.

Anak itu melihatku.

Dan dia baru saja memanggilku Mama.

“Naya!”

Suara perempuan terdengar dari kamar.

Seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan bergegas keluar dengan celemek masih terikat di pinggang.

Begitu melihatku, dia menghentikan langkah.

Wajahnya berubah pucat.

Matanya berpindah dari wajahku ke kunci yang masih kugenggam.

“Maaf,” katanya cepat. “Ibu siapa? Kok bisa masuk?”

Aku menatapnya.

“Seharusnya saya yang bertanya.”

Perempuan itu langsung menarik anak bernama Naya ke belakang tubuhnya.

“Naya, masuk kamar dulu.”

Anak itu menolak.

Dia malah mengintip dari samping pinggang perempuan tersebut dan menatapku tanpa berkedip.

“Mama.”

Kali ini suaranya lebih pelan.

Perempuan di depanku terlihat semakin panik.

“Naya salah orang. Ibu ini bukan siapa-siapa. Ayo masuk.”

Kemudian dia menatapku lagi.

“Maaf, Bu. Mungkin salah unit. Sebaiknya Ibu keluar dulu.”

Dia mencoba mendekat ke pintu.

Aku bergeser menghalanginya.

“Ini unit saya.”

Tangannya berhenti.

“Apa?”

“Nama saya Ratri Prameswari.”

Aku membuka tas dan mengeluarkan salinan dokumen kepemilikan yang kubawa karena tadinya aku berniat mengecek kondisi unit sebelum menghubungi agen properti.

Kutaruh kertas itu di atas meja.

“Silakan lihat sendiri.”

Perempuan itu tidak langsung menyentuhnya.

Matanya jatuh pada namaku.

Bibirnya terbuka sedikit.

Tangannya mulai gemetar.

Aku sudah tidak perlu bertanya apakah dia mengenal nama itu.

“Siapa Ibu?” tanyaku.

“Wati.”

“Bu Wati bekerja untuk siapa?”

Dia tidak menjawab.

Aku menunjuk anak yang masih berdiri di belakangnya.

“Dan anak ini siapa?”

Bu Wati menelan ludah.

Aku sudah punya dugaan buruk sendiri.

Arman menikah lagi.

Mungkin setelah kami berpisah.

Mungkin sebelumnya.

Aku bahkan tidak tahu.

Kami tidak punya alasan untuk mengikuti kehidupan masing-masing setelah perceraian selesai.

Tetapi kalau dia punya istri dan anak baru, mengapa mereka tinggal di apartemenku?

Dan yang jauh lebih mengganggu, mengapa anak itu mengenal wajahku?

“Naya,” kataku pelan.

Anak itu langsung maju setengah langkah.

Bu Wati berusaha menahannya, tetapi Naya melepaskan tangan.

Dia mendekat sampai hanya berjarak satu meter dariku.

“Mama marah?”

Aku berjongkok agar posisi wajah kami sejajar.

“Aku bukan Mama kamu.”

Wajahnya langsung berubah.

“Bukan?”

“Namaku Tante Ratri.”

Dia menggeleng keras.

“Papa bilang Mama namanya Ratri.”

Aku menatapnya.

Tengkukku terasa dingin.

“Apa?”

“Papa kasih lihat foto.”

Naya mengangkat kedua tangannya, membuat gerakan seperti memegang ponsel.

“Foto Mama waktu rambutnya panjang.”

Aku pernah berambut panjang.

Enam tahun lalu.

“Papa bilang Mama kerja jauh,” lanjutnya. “Kalau Naya sudah besar, Mama pulang.”

Aku berdiri terlalu cepat sampai lututku hampir mengenai meja.

Bu Wati langsung menundukkan wajah.

Sekarang aku tidak sekadar marah.

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Arman menunjukkan fotoku kepada seorang anak kecil.

Mengajarinya memanggilku Mama.

Membiarkannya tinggal di apartemen atas namaku.

Dan perempuan di depanku jelas tahu sesuatu.

“Bu Wati.”

Dia perlahan mengangkat kepala.

“Telepon Arman.”

“Bu Ratri…”

“Sekarang.”

“Saya bisa jelaskan sedikit…”

“Saya tidak ingin penjelasan sedikit.”

Aku menunjuk telepon di tangannya.

“Telepon dia dan bilang saya ada di sini.”

Bu Wati masih ragu.

Aku mengambil ponselku sendiri.

“Kalau Ibu tidak mau, saya bisa hubungi pengelola gedung sekarang dan menanyakan sejak kapan unit saya ditempati tanpa sepengetahuan saya.”

Baru setelah itu dia bergerak.

Bu Wati membawa ponselnya ke balkon.

Dia mungkin mengira pintu kaca cukup untuk membuatku tidak mendengar.

Ternyata tidak.

“Pak…”

Suaranya bergetar.

“Pak Arman, ini gawat.”

Dia menoleh ke arahku.

Aku tidak berpura-pura tidak memperhatikan.

“Bu Ratri datang.”

Hening beberapa detik.

“Iya. Sekarang.”

Hening lagi.

Bu Wati memejamkan mata.

“Beliau bawa dokumen apartemen.”

Entah apa yang dikatakan Arman di ujung sana, tetapi Bu Wati semakin pucat.

“Naya sudah keluar kamar.”

Dia menurunkan suaranya.

“Sudah panggil Mama.”

Jantungku berdegup keras.

Bu Wati mendengarkan lagi.

Lalu dia berkata kalimat yang membuat seluruh kemarahanku berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin.

“Iya, Pak.”

“Saya sudah coba.”

Dia menatapku dari balik pintu kaca.

“Tapi sepertinya Bu Ratri sudah tahu semuanya.”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

“Aku belum tahu apa-apa.”

Aku sengaja mengucapkannya cukup keras agar Bu Wati mendengar.

Perempuan itu menutup telepon beberapa detik kemudian dan masuk kembali.

“Pak Arman sedang menuju ke sini.”

“Bagus.”

Naya masih berdiri di dekat sofa.

Wajahnya murung setelah aku mengatakan aku bukan ibunya.

Aku tidak ingin melampiaskan kemarahanku kepada anak lima tahun yang jelas tidak memahami apa pun, jadi aku duduk agak jauh dan menunggu.

Empat puluh menit kemudian, pintu terbuka.

Arman masuk tanpa mengetuk.

Enam tahun tidak bertemu membuat wajahnya berubah. Ada garis lebih tegas di sekitar matanya dan beberapa helai rambut putih dekat pelipis.

Dia berhenti ketika melihatku.

“Ratri.”

Aku langsung bertanya, “Anak siapa?”

Arman melihat Naya.

“Naya, masuk dulu sama Bu Wati.”

“Aku mau Mama.”

Wajah Arman menegang.

Aku berdiri.

“Jangan sebut aku begitu lagi di depannya sebelum kamu menjelaskan.”

Bu Wati membawa Naya ke kamar. Kali ini anak itu menurut, meskipun berkali-kali menoleh ke arahku.

Setelah pintu tertutup, aku menatap Arman.

“Mulai dari anak itu.”

Dia menarik napas.

“Naya anakku.”

“Dengan siapa?”

“Namanya Dina.”

Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku.

“Kapan?”

“Setelah kita resmi bercerai.”

Aku diam.

Arman kemudian menjelaskan tanpa banyak hiasan.

Sekitar setahun setelah perceraian kami, dia menikah lagi. Pernikahan itu hanya bertahan kurang dari dua tahun. Naya lahir di tengah hubungan yang sudah mulai berantakan.

Ketika Naya belum genap setahun, Dina pergi dari rumah.

Perceraian kedua menyusul.

Hak pengasuhan sehari-hari berada pada Arman, sementara hubungan Dina dengan anaknya hampir tidak ada.

“Jadi kamu tidak berselingkuh waktu kita menikah?” tanyaku.

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya sejak masuk, suaranya terdengar tegas.

“Aku banyak salah sama kamu. Tapi yang itu tidak.”

Aku menunjuk kamar Naya.

“Kalau begitu mengapa anakmu memanggilku Mama?”

Arman tidak menjawab.

Aku tertawa pendek tanpa rasa lucu sedikit pun.

“Ini bagian yang tadi membuat Bu Wati takut aku tahu semuanya, kan?”

“Awalnya cuma kesalahan.”

“Kesalahan?”

“Waktu Naya sekitar tiga tahun, dia lihat foto lama di dompetku.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Kamu masih simpan fotoku?”

“Foto itu sudah ada di sana bertahun-tahun.”

“Lanjut.”

“Naya bertanya siapa. Aku bilang namamu Ratri.”

Arman mengusap wajah.

“Dia lalu bertanya apakah kamu mamanya.”

“Kemudian kamu bilang iya.”

Dia tidak membantah.

“Kenapa?”

“Aku bodoh.”

“Itu bukan jawaban.”

Arman memandang ke arah pintu kamar.

“Setiap kali anak-anak di sekolah bicara soal ibu mereka, dia pulang bertanya. Dina tidak menelepon. Tidak datang. Aku sudah berkali-kali bilang akan menjelaskan kalau Naya lebih besar.”

“Jadi supaya hidupmu gampang, kamu mengambil wajahku.”

“Ratri…”

“Kamu bisa bilang ibunya tidak tinggal bersama kalian. Kamu bisa meminta bantuan orang yang paham cara menjelaskan perceraian kepada anak. Tapi kamu memilih foto mantan istrimu.”

Arman menunduk.

Aku menunjuk lantai.

“Dan apartemen ini?”

“Setelah Dina pergi, aku butuh tempat dekat kantor dan sekolah Naya. Unit ini kosong.”

“Karena aku tidak pernah datang.”

“Iya.”

“Kamu punya nomor teleponku.”

Dia diam.

“Kamu punya emailku.”

Tetap diam.

“Kamu bahkan tahu alamatku waktu pengurusan perceraian selesai.”

“Aku membayar iuran pengelolaan, listrik, dan semua biaya unit.”

“Itu tidak membuat apartemen ini menjadi milikmu.”

“Aku tahu.”

Tiga kata itu justru membuatku makin marah.

Kalau dia tidak tahu, aku masih bisa menyebutnya ceroboh.

Tapi Arman tahu.

Dia hanya berasumsi aku tidak akan pernah datang.

“Aku mau jual apartemen ini,” kataku.

Arman langsung menatapku.

“Naya baru mulai semester.”

“Itu bukan urusanku.”

“Aku cuma minta waktu.”

“Aku akan memberi waktu yang wajar untuk kalian pindah. Tapi jangan bicara seolah aku mengusir anakmu dari rumahnya. Ini bukan rumahnya. Kamu yang membuat dia percaya begitu.”

Arman memejamkan mata sebentar.

“Satu bulan.”

“Aku belum bilang berapa lama.”

“Ratri.”

“Aku akan cek dokumen dan bicara dengan pengelola dulu.”

Saat itulah Bu Wati keluar dari kamar.

Dia tampak ragu, lalu berjalan ke meja kecil dekat televisi dan mengambil sebuah map plastik.

“Bu Ratri…”

Arman menoleh cepat.

“Bu Wati, jangan.”

Perempuan itu berhenti.

Aku mengulurkan tangan.

“Berikan.”

Arman berdiri di antara kami.

“Tidak perlu.”

Aku memandangnya.

“Geser.”

Entah karena mengenali nada suaraku dari enam tahun lalu atau karena sadar dia tidak punya hak menghentikanku di rumah atas namaku sendiri, akhirnya dia mundur.

Bu Wati menyerahkan map.

Di dalamnya ada salinan formulir sekolah Naya, kuitansi, jadwal pemeriksaan anak, dan beberapa kertas dari tempat les.

Aku membalik lembar demi lembar.

Lalu menemukan satu formulir pendaftaran kegiatan sekolah.

Di bagian data keluarga tertulis:

Ayah: Arman Mahendra.

Ibu: Ratri Prameswari.

Aku membaca nama itu dua kali.

Nomor telepon di bawahnya bahkan nomor lamaku yang masih aktif.

Aku mengangkat kertas tersebut.

“Ini juga kesalahan?”

Arman tidak menjawab.

Di kolom hubungan dengan peserta, namaku tercetak jelas.

Bukan sekadar foto yang ditunjukkan kepada seorang anak di rumah.

Selama hampir dua tahun, Arman sudah menggunakan namaku sebagai ibu Naya di lingkungan sekolah.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku meletakkan formulir itu perlahan di atas meja.

“Berapa banyak orang yang mengenalku sebagai ibu Naya?”

Arman menarik kursi tetapi tidak duduk.

“Tidak banyak.”

“Itu bukan angka.”

“Wali kelasnya. Bagian administrasi. Mungkin beberapa orang tua murid.”

Aku menatapnya lama.

“Mungkin?”

“Aku jarang datang ke acara sekolah.”

“Lalu kalau Naya sakit di sekolah dan mereka menelepon nomor itu?”

Arman tidak menjawab.

Aku menunjuk nomor teleponku.

“Kamu tahu nomor ini masih kupakai.”

“Aku selalu memasukkan nomorku sebagai kontak utama.”

“Pertanyaanku bukan itu.”

Dia menarik napas berat.

“Aku pikir tidak akan pernah sampai menghubungimu.”

Kalimat itu terdengar sangat akrab.

Enam tahun lalu, pola yang sama menghancurkan pernikahan kami.

Arman selalu merasa cukup dengan memikirkan kemungkinan terbaik.

Dia meminjam uang keluarga untuk membantu kakaknya tanpa bicara denganku karena yakin uang itu akan kembali sebelum aku tahu.

Dia menjanjikan kamar kosong di rumah kami kepada sepupunya selama beberapa bulan karena yakin aku “pasti tidak keberatan”.

Dia membeli apartemen ini atas namaku sebagai investasi tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu, lalu marah ketika aku mempertanyakan cicilan dan biaya yang harus kami tanggung.

Setiap keputusannya punya alasan.

Setiap alasannya terdengar masuk akal kalau hanya dia yang berhak menentukan.

Dulu aku selalu terjebak dalam perdebatan tentang niat.

Sekarang aku tidak tertarik.

“Kamu harus menghapus namaku dari semua data Naya.”

“Akan kulakukan.”

“Bukan nanti.”

“Iya.”

“Besok.”

Arman mengangguk.

“Dan kamu tidak boleh lagi menunjukkan fotoku kepada Naya sebagai ibunya.”

Dia kembali melihat ke kamar.

“Ratri, soal itu kita perlu pelan-pelan.”

Aku hampir tertawa.

“Kita?”

“Maksudku aku.”

“Bagus. Karena memang itu urusanmu.”

“Dia sudah percaya hampir dua tahun.”

“Karena kamu mengajarinya.”

“Aku tahu.”

“Kalau kamu tahu, jangan minta aku mempertahankan kebohonganmu supaya kamu tidak perlu menghadapi akibatnya.”

Pintu kamar terbuka.

Naya berdiri di sana.

Aku tidak tahu berapa lama dia mendengar.

Bu Wati berada di belakangnya dengan wajah cemas.

Naya memandang Arman.

“Papa bohong?”

Tidak ada satu pun orang dewasa di ruangan itu yang langsung bergerak.

Arman akhirnya berjongkok.

“Naya, sini.”

Anak itu tidak mendekat.

“Papa bilang Tante Ratri Mama.”

Arman menutup mata sebentar.

Aku bisa melihat godaan untuk menciptakan satu kebohongan kecil lagi.

Mungkin mengatakan dia salah bicara.

Mungkin mengatakan aku adalah “Mama yang lain”.

Mungkin membuat semuanya kabur agar anak itu berhenti menangis.

Aku berkata pelan, “Jangan.”

Arman menatapku.

“Kalau kamu bohong lagi sekarang, nanti dia cuma harus mendengar kebenaran dua kali.”

Wajahnya berubah.

Kemudian dia memandang Naya.

“Iya. Papa salah.”

Naya mulai menangis.

Bukan menangis keras.

Justru itu yang membuatnya lebih sulit dilihat.

Air matanya turun satu per satu sementara dia berdiri diam memegang ujung piyama.

“Mama enggak mau Naya?”

Aku merasakan sesuatu menekan dada.

Aku bukan ibunya.

Aku juga tidak ingin menjadi orang yang mengambil kesalahan seorang laki-laki dewasa lalu membungkusnya dengan kalimat manis yang akan membuat anak ini semakin bingung.

Aku berjongkok.

“Naya.”

Dia menatapku.

“Namaku Tante Ratri.”

Bibirnya bergetar.

“Jadi Mama enggak pulang?”

Aku memilih kata-kataku hati-hati.

“Aku memang bukan Mama Naya dari awal.”

Dia menangis semakin deras.

Aku melanjutkan sebelum Arman menyela.

“Tapi Naya tidak salah apa-apa.”

Anak itu mengusap pipinya dengan kedua tangan.

“Papa yang salah?”

Aku melirik Arman.

Dia mengangguk.

“Iya.”

“Kenapa?”

Pertanyaan paling sederhana justru membuat orang dewasa kesulitan menjawab.

Arman duduk di lantai.

“Karena Papa takut bilang hal yang sebenarnya.”

Naya menatapnya.

“Kenapa takut?”

“Papa takut Naya sedih.”

“Tapi sekarang Naya sedih.”

Ruangan menjadi sunyi.

Aku melihat Arman menundukkan kepala.

Untuk sekali ini, dia tidak mencoba menjelaskan diri.

Bu Wati membawa Naya kembali ke kamar beberapa menit kemudian karena anak itu tidak berhenti menangis.

Sebelum masuk, Naya menoleh kepadaku.

“Tante Ratri pergi?”

“Iya.”

“Balik lagi?”

Aku tidak tahu jawabannya.

Jadi aku tidak membuat janji.

“Aku belum tahu.”

Dia tampak kecewa, tetapi mengangguk.

Hari itu aku tidak jadi membicarakan penjualan lebih jauh.

Aku membawa pulang map yang berisi dokumen apartemen milikku sendiri dan memotret formulir yang mencantumkan namaku.

Malamnya, untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, aku tidak bisa tidur bukan karena tagihan.

Aku terus memikirkan wajah Naya.

Itu membuatku kesal kepada diri sendiri.

Aku tidak mengenal anak itu.

Semua kekacauan ini dibuat Arman.

Aku tidak punya kewajiban memperbaikinya.

Namun menjelang pukul dua dini hari aku menyadari satu hal penting.

Rasa kasihan kepada Naya tidak boleh membuatku menyerahkan kembali batas yang baru saja kuambil.

Dua hal bisa benar bersamaan.

Aku bisa merasa kasihan pada anak itu.

Dan tetap menjual apartemenku.

Pagi berikutnya aku menghubungi pengelola gedung.

Aku tidak meminta informasi rekening atau dokumen pribadi Arman. Aku hanya menjelaskan bahwa aku pemilik unit dan ingin memeriksa data penghuni serta prosedur perubahan akses.

Aku datang membawa identitas dan dokumen yang diperlukan.

Dari pencatatan mereka, Arman memang sudah tinggal di unit itu bersama seorang anak dan seorang pengasuh selama hampir empat tahun.

Semua biaya pengelolaan dibayar tepat waktu.

Data penghuni dibuat berdasarkan formulir yang dia serahkan.

Saat kutanya mengapa aku tidak pernah dihubungi, petugas menjelaskan bahwa ketika data penghuni masuk, Arman menunjukkan salinan dokumen lama yang memperlihatkan hubungan kami sebelumnya serta menyatakan bahwa pemilik mengetahui penggunaan unit.

Aku menatap formulirnya.

Di kolom persetujuan pemilik tidak ada tanda tanganku.

Hanya ada catatan: pasangan pemilik.

Padahal ketika formulir itu dibuat, kami sudah lama bercerai.

Aku meminta salinannya.

Setelah itu aku menemui seorang advokat yang pernah membantu teman sekantorku dalam sengketa sewa.

Aku tidak datang untuk meminta Arman ditangkap.

Aku hanya ingin tahu posisi yang sebenarnya sebelum membuat keputusan.

Dia memeriksa dokumen kepemilikan, formulir pengelola gedung, dan beberapa bukti pembayaran.

“Kalau tujuan Ibu menjual unit,” katanya, “hal pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan penghuninya keluar melalui pemberitahuan yang jelas. Jangan membuat tindakan mendadak seperti mematikan listrik atau mengganti akses saat mereka masih tinggal di dalam.”

“Apartemennya atas nama saya.”

“Betul. Tapi menyelesaikannya secara tertib akan lebih aman.”

Aku mengangguk.

Itulah yang kuinginkan.

Bukan balas dendam.

Aku cuma ingin hidupku kembali berada di bawah keputusan yang kubuat sendiri.

Sore harinya aku mengirim pesan kepada Arman.

Aku memberinya waktu tiga puluh hari untuk pindah.

Aku juga meminta seluruh penggunaan namaku dalam data Naya dihentikan dalam tujuh hari, termasuk sekolah, tempat les, klinik, dan kontak darurat lain yang memang mencantumkanku.

Lima menit kemudian dia menelepon.

Aku tidak mengangkat.

Dia menelepon lagi.

Kali ketiga baru kujawab.

“Tiga puluh hari?” katanya.

“Ya.”

“Aku bisa pindah. Tapi mencari tempat yang dekat sekolah dalam tiga puluh hari tidak gampang.”

“Aku tidak menyuruhmu tinggal dekat sekolah itu empat tahun lalu.”

“Ratri.”

“Arman, jangan mulai.”

Dia diam.

Aku melanjutkan.

“Aku juga tidak menuntut uang sewa empat tahun. Aku tidak menyuruhmu mengganti kenaikan nilai unit yang tertunda. Aku hanya ingin unit kosong dan namaku berhenti kamu pakai.”

“Aku membayar semua biaya apartemen.”

“Dan kamu tinggal di sana.”

Dia tidak menjawab.

“Tiga puluh hari cukup wajar.”

“Bagaimana dengan Naya?”

Pertanyaan itu membuatku kesal.

Bukan kepada Naya.

Kepada cara Arman meletakkannya di antara kami.

“Apa maksudmu?”

“Dia terus bertanya tentang kamu.”

“Jelaskan kebenarannya.”

“Dia lima tahun.”

“Justru itu. Jangan tunggu sampai dia sepuluh dan punya versi kebohongan yang lebih panjang.”

“Aku sudah bicara dengan wali kelasnya.”

“Bagus.”

“Mereka menyarankan aku mencari konselor anak.”

Aku terdiam sebentar.

Itu lebih bertanggung jawab daripada yang kuduga.

“Lakukan.”

Arman menarik napas.

“Dia minta ketemu kamu lagi.”

“Tidak.”

Jawabanku cepat.

Arman diam cukup lama.

“Baik.”

Aku menutup telepon.

Setelah itu aku merasa bersalah hampir sepanjang malam.

Tetapi aku tidak mengubah keputusan.

Selama dua minggu berikutnya aku sibuk mengirim lamaran pekerjaan dan menyelesaikan proses administrasi apartemen.

Arman mengirim bukti bahwa namaku sudah dihapus dari data sekolah.

Dua hari kemudian dia mengirim foto formulir baru dari tempat les.

Hari berikutnya, catatan klinik.

Aku tidak memujinya.

Dia memang seharusnya melakukan itu.

Aku hanya membalas, “Sudah diterima.”

Pada hari keenam belas, sebuah nomor sekolah meneleponku.

Aku langsung menegang.

Ternyata wali kelas Naya.

“Bu Ratri, maaf menghubungi. Nomor Ibu sudah dihapus dari data resmi. Saya menelepon karena Pak Arman memberi tahu bahwa Ibu mengetahui situasinya.”

Aku hampir memotong pembicaraan.

Namun perempuan itu melanjutkan.

“Saya tidak akan membahas data pribadi anak. Saya cuma ingin menyampaikan bahwa Naya sekarang sudah tahu Ibu bukan ibunya.”

Aku menutup mata.

“Baik.”

“Dia beberapa kali bertanya apakah seseorang boleh berhenti jadi keluarga karena marah.”

Kalimat itu membuat tanganku yang memegang ponsel mengencang.

“Apa yang ayahnya bilang?”

“Pak Arman sedang berusaha menjelaskan.”

Aku terdiam.

Kemudian kutanya, “Kenapa Ibu menelepon saya?”

“Karena Naya menggambar sesuatu untuk Ibu dan terus meminta ayahnya menyerahkan. Pak Arman bilang dia tidak mau mengganggu Ibu lagi tanpa izin.”

Itu setidaknya menunjukkan dia mulai belajar.

Aku akhirnya berkata, “Boleh titipkan ke ayahnya. Soal bertemu, saya belum bisa janji.”

Malam itu Arman mengirim foto selembar kertas.

Gambar tiga orang.

Seorang anak kecil di tengah.

Seorang laki-laki di kiri.

Seorang perempuan di kanan.

Bagian atas gambar diberi tulisan dengan huruf besar yang tidak rata:

PAPA – NAYA – TANTE RATRI.

Aku menatap tulisan terakhir cukup lama.

Bukan MAMA.

Tante Ratri.

Untuk alasan yang tidak ingin kuanalisis terlalu jauh, aku menyimpan fotonya.

Hari kedua puluh tiga aku kembali ke apartemen untuk bertemu calon agen properti.

Arman sedang bekerja.

Bu Wati yang membuka pintu.

Naya berada di meja makan menggambar.

Begitu melihatku, dia langsung turun dari kursi.

“Tante Ratri!”

Dia hampir berlari, lalu mendadak berhenti dua meter dariku.

Sepertinya ada seseorang yang sudah mengajarinya untuk tidak sembarang memeluk orang.

Aku tersenyum tipis.

“Halo.”

“Kata Papa apartemennya punya Tante.”

“Iya.”

“Terus Papa pinjam lama?”

Aku menatap Bu Wati.

Perempuan itu terlihat ingin menghilang ke dapur.

“Kurang lebih begitu.”

“Papa enggak izin?”

Anak lima tahun ternyata bisa langsung menuju inti masalah tanpa memerlukan delapan paragraf pembelaan.

“Tidak.”

Naya berpikir sebentar.

“Makanya Tante marah?”

“Iya.”

“Papa bilang kalau pakai barang orang harus izin.”

Aku hampir tertawa.

“Betul.”

“Papa sendiri enggak izin.”

“Betul juga.”

Naya mengerutkan hidung.

“Papa aneh.”

Kali ini aku benar-benar tertawa kecil.

Bu Wati ikut tersenyum canggung.

Aku masuk untuk memeriksa balkon dan dua kamar bersama agen.

Selama itu Naya tidak mengganggu.

Dia cuma sesekali mengintip.

Setelah agen pergi, aku melihat beberapa kardus sudah tersusun di ruang makan.

“Kalian sudah dapat tempat?”

Bu Wati mengangguk.

“Pak Arman sewa rumah kecil dekat sekolah. Minggu depan pindahan.”

Aku mengangguk.

Tidak ada rasa kemenangan.

Cuma lega.

Sebelum aku pulang, Naya datang membawa kertas gambar.

“Ini buat Tante.”

Gambarnya cuma sebuah apartemen dengan empat jendela, satu matahari terlalu besar, dan seorang perempuan berdiri di depan pintu.

“Yang ini siapa?”

“Tante.”

“Kenapa sendirian?”

“Karena ini rumah Tante.”

Aku menatap gambar itu.

“Aku boleh bawa?”

Naya mengangguk cepat.

Hari terakhir kepindahan mereka jatuh pada hari Sabtu.

Aku datang karena perlu menerima kunci dan memeriksa kondisi unit.

Sebagian besar barang sudah dibawa.

Arman berdiri di ruang tamu dengan dua koper terakhir.

Untuk pertama kalinya apartemen itu hampir terlihat seperti unit yang selama ini kubayangkan.

Kosong.

Hanya saja sekarang aku tahu ruangan ini pernah dipenuhi suara seorang anak.

Arman menyerahkan satu set kunci.

“Kunci pintu utama, kotak surat, gudang kecil di basement.”

Aku menghitungnya.

“Kartu akses?”

Dia memberikan dua kartu.

“Bu Wati punya satu lagi. Dia sedang turun membawa barang.”

Aku mengangguk.

Beberapa saat kami berdiri tanpa bicara.

Lalu Arman berkata, “Aku minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Aku tahu kalimat itu tidak memperbaiki semuanya.”

“Memang tidak.”

“Aku seharusnya menghubungimu sebelum tinggal di sini.”

“Iya.”

“Aku juga tidak punya hak memakai namamu untuk Naya.”

Aku tidak menjawab.

Dia melanjutkan.

“Waktu dia mulai bertanya tentang ibunya, aku panik. Dina tidak pernah datang. Aku malu menjelaskan bahwa aku gagal mempertahankan pernikahan kedua setelah pernikahan kita juga gagal.”

Aku mengangkat alis.

“Jadi kamu mengambil mantan istri pertama sebagai solusi?”

“Kalau diucapkan begitu, kedengarannya lebih buruk.”

“Karena memang buruk.”

Arman mengangguk.

Tidak membela diri.

Itu baru.

“Aku masih punya fotomu,” katanya. “Naya melihatnya. Waktu dia bertanya apakah itu mamanya, aku cuma perlu bilang tidak.”

“Tapi kamu bilang iya.”

“Iya.”

“Kenapa fotoku masih kamu simpan?”

Arman tidak langsung menjawab.

Aku sudah siap menghentikannya kalau percakapan berubah menjadi pengakuan romantis yang tidak perlu.

Namun dia berkata, “Karena aku belum pernah benar-benar membereskan hidupku setelah kita selesai.”

Jawaban itu justru terdengar lebih masuk akal.

“Bukan berarti aku menunggu kamu,” lanjutnya. “Aku menikah lagi. Aku punya anak. Aku cuma terus menyimpan benda lama, keputusan lama, dan kebiasaan lama. Apartemen ini juga salah satunya.”

Aku melihat sekeliling.

“Sekarang kamu harus membereskannya.”

“Iya.”

“Naya bagaimana?”

Arman menatap ke arah kamar kosong.

“Masih bertanya tentang Dina. Konselornya menyarankan supaya aku jawab sesuai usianya dan berhenti membuat cerita tambahan.”

“Bagus.”

“Aku sudah menghubungi Dina lewat jalur yang biasa dipakai untuk urusan anak. Aku tidak tahu apakah dia mau terlibat lebih banyak.”

Itu bukan urusanku.

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar bisa menerima bahwa sesuatu yang menyangkut Arman tidak otomatis menjadi urusanku hanya karena aku mengetahuinya.

“Naya mungkin akan tetap bertanya tentang kamu.”

Aku menatapnya.

“Aku tidak mau jadi ibunya.”

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak mau kamu menjadikanku alat untuk menutupi keputusanmu.”

“Aku tahu.”

“Tapi…”

Aku berhenti.

Arman menunggu.

Aku menatap gambar yang semalam kumasukkan ke dalam tas.

“Aku tidak keberatan kalau dia mengenalku sebagai Tante Ratri.”

Arman tidak langsung merespons.

“Aku tidak menjanjikan kunjungan rutin. Tidak ada jadwal. Tidak ada peran orang tua.”

“Iya.”

“Kalau suatu hari dia mengirim gambar, kamu boleh kirim fotonya.”

Wajah Arman sedikit berubah.

Bukan lega berlebihan.

Hanya seperti seseorang yang baru diberi sesuatu yang tidak dia rasa berhak minta.

“Terima kasih.”

“Aku melakukan itu untuk Naya.”

“Aku tahu.”

Beberapa menit kemudian Bu Wati datang bersama Naya.

Anak itu membawa ransel kuning.

Begitu melihatku, dia tersenyum.

“Tante Ratri, kita pindah.”

“Aku dengar.”

“Rumah baru ada pohon mangga.”

“Bagus.”

“Papa sudah izin sama orang yang punya rumah.”

Aku menatap Arman.

Dia memalingkan wajah sambil tertawa kecil.

“Bagus sekali,” kataku kepada Naya. “Memang harus begitu.”

Naya mengangguk sangat serius.

Sebelum pergi, dia memeluk pinggangku.

Kali ini aku tidak menghindar.

Aku hanya menepuk punggungnya pelan.

“Dadah, Tante.”

“Dadah, Naya.”

Setelah mereka pergi, aku berdiri sendirian di ruang tamu.

Aku mengira akan merasa aneh.

Ternyata yang kurasakan justru tenang.

Dalam tiga minggu berikutnya, agen mulai membawa beberapa calon pembeli.

Aku tidak menjual unit kepada penawar pertama.

Karena kebutuhan uang cukup mendesak, godaannya besar, tetapi aku belajar sesuatu dari enam tahun terakhir.

Keputusan yang dibuat karena panik sering terasa praktis pada hari pertama dan mahal sesudahnya.

Akhirnya aku mendapat penawaran yang masuk akal.

Proses penjualan tidak selesai dalam sehari.

Ada pemeriksaan dokumen, pembayaran pajak dan biaya yang relevan, proses melalui pihak yang berwenang, serta beberapa tahap administrasi yang harus kulalui.

Aku tidak keberatan.

Untuk pertama kali, setiap langkah dilakukan dengan sepengetahuanku.

Dua bulan kemudian transaksi selesai.

Uangnya tidak membuatku mendadak kaya.

Sebagian kupakai untuk memperkuat dana darurat.

Sebagian lagi kubayarkan untuk mengurangi beban pokok KPR rumahku.

Sisanya kusimpan sambil mencari pekerjaan baru.

Aku tidak membeli mobil baru.

Tidak pindah ke rumah besar.

Tidak membuka usaha yang tiba-tiba sukses dalam sebulan.

Aku hanya mendapat ruang untuk bernapas.

Dan ternyata itu sudah banyak.

Tiga minggu setelah penjualan, aku diterima bekerja kontrak di sebuah perusahaan distribusi. Gajinya sedikit lebih rendah dari pekerjaan lamaku, tetapi jam kerjanya lebih teratur.

Aku menerimanya.

Sementara itu, Arman tidak menelepon tanpa alasan.

Sesekali dia mengirim foto gambar Naya.

Satu gambar memperlihatkan pohon mangga di rumah barunya.

Satu lagi gambar tiga orang.

Kali ini ada tulisan:

PAPA, NAYA, BU WATI.

Di pojok kanan bawah, ada seorang perempuan kecil jauh dari mereka.

TANTE RATRI.

Aku membalas dengan satu kalimat.

“Gambarnya bagus.”

Beberapa bulan kemudian aku bertemu Naya sekali.

Bukan karena Arman mengatur reuni.

Aku sedang membeli buku di pusat perbelanjaan ketika seseorang memanggil namaku dari belakang.

“Tante Ratri!”

Naya berlari kecil ke arahku.

Arman mengikuti beberapa langkah di belakang sambil membawa dua kantong belanja.

Dia berhenti ketika melihatku.

“Maaf. Dia lihat duluan.”

“Tidak apa-apa.”

Naya menunjukkan buku gambar yang baru dibelinya.

Kemudian dia berkata, “Tante tahu? Naya punya Mama Dina.”

Aku menatap Arman sebentar.

Wajahnya tegang, mungkin khawatir dengan reaksiku.

Aku kembali memandang Naya.

“Iya?”

“Papa bilang Mama Dina tinggal jauh dan belum bisa sering ketemu.”

“Begitu.”

“Naya sedih.”

Aku mengangguk.

“Boleh sedih.”

“Tapi Papa enggak boleh bohong lagi.”

Aku menahan senyum.

“Papa bilang begitu?”

“Naya yang bilang.”

Arman menghela napas.

“Dia sekarang jadi polisi di rumah.”

“Bagus,” kataku.

Naya tertawa.

Kami bicara tidak sampai sepuluh menit.

Sebelum berpisah, dia memelukku lagi.

Tidak memanggilku Mama.

Tidak bertanya kapan aku pulang.

Hanya berkata, “Dadah, Tante Ratri.”

Dan anehnya, justru itu terdengar jauh lebih hangat daripada panggilan Mama pertama yang pernah membuatku membeku di apartemen.

Malam itu aku pulang ke rumahku sendiri.

Rumah kecil yang dulu kubeli dengan KPR saat aku ingin membuktikan sesuatu kepada dunia.

Sekarang aku tidak merasa harus membuktikan apa pun.

Aku memasukkan kunci ke pintu, masuk, lalu menguncinya dari dalam.

Di lemari dekat ruang makan ada map baru berisi dokumen rumah, kontrak kerja, dan bukti penjualan apartemen.

Tidak ada lagi kunci lama dari Arman.

Tidak ada lagi unit yang kubiarkan selama enam tahun hanya karena aku tidak sanggup menyentuh kenangan buruk.

Beberapa hal memang tidak selesai ketika kita membuang kuncinya ke dalam laci.

Kadang kita harus kembali, membuka pintunya sendiri, melihat apa yang sudah terjadi di baliknya, lalu memutuskan apa yang masih boleh ikut bersama kita.

Aku mematikan lampu ruang tamu.

Di pintu kulkas, gambar pemberian Naya masih menempel dengan magnet kecil.

Di bawah tulisan TANTE RATRI, anak itu menggambar sebuah pintu.

Pintunya tertutup rapi.

Dan kali ini, akulah yang memegang kuncinya.

Menurutmu, apakah Ratri benar memberi batas yang tepat kepada Arman tanpa menghukum Naya atas kesalahan ayahnya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.