Suamiku Kepala Bagian Kandungan Menyuruh Rumah Sakit Menahan Persalinanku, Lalu Aku Melihat Wanita yang Mereka Panggil Istrinya

Avatar penulis
Cerita 01
26 menit baca 631 tayangan
Suamiku Kepala Bagian Kandungan Menyuruh Rumah Sakit Menahan Persalinanku, Lalu Aku Melihat Wanita yang Mereka Panggil Istrinya
Indeks

Suamiku Kepala Bagian Kandungan Menyuruh Rumah Sakit Menahan Persalinanku, Lalu Aku Melihat Wanita yang Mereka Panggil Istrinya

Bagian 1

Ketubanku pecah saat usia kandunganku baru delapan bulan, tetapi orang pertama yang membuatku takut bukan dokter jaga.

Melainkan suamiku sendiri.

Selama tiga tahun menikah dengan Arman Pratama, seorang dokter kandungan yang cukup dikenal di kota kami, aku selalu menuruti satu aturan aneh darinya: setiap kontrol kehamilan, aku harus pergi ke rumah sakit lain yang jaraknya hampir tiga puluh kilometer dari rumah.

“Di tempatku terlalu banyak orang kenal aku, Ratih,” katanya setiap kali aku protes. “Nanti jadi bahan omongan. Lebih nyaman kalau kita pisahkan urusan rumah dan pekerjaan.”

Awalnya alasan itu terdengar masuk akal.

Lama-lama aku mulai merasa ada yang ganjil.

Suamiku Kepala Bagian Kandungan Menyuruh Rumah Sakit Menahan Persalinanku, Lalu Aku Melihat Wanita yang Mereka Panggil Istrinya

Saat mualku begitu parah sampai aku tak sanggup mencium bau minyak goreng, Arman tetap berangkat pagi-pagi dan pulang setelah aku tidur. Ketika aku memintanya menemaniku sekali saja, dia menjawab bahwa tangannya lebih dibutuhkan pasien daripada menunggu istrinya diperiksa.

Aku menerima semuanya.

Kupikir beginilah rasanya menikah dengan dokter yang pekerjaannya menyangkut nyawa orang.

Tiga hari sebelum libur panjang akhir tahun, rasa nyeri muncul tiba-tiba ketika aku sedang merapikan pakaian bayi.

Belum sempat aku berdiri, air mengalir di kakiku.

Tetanggaku yang mendengar aku berteriak langsung membawaku ke rumah sakit terdekat.

Dan rumah sakit terdekat itu adalah tempat Arman bekerja.

Ruang IGD penuh.

Petugas bertanya tentang usia kandungan, keluhan, riwayat pemeriksaan, lalu nama dokter keluarga.

Aku menahan kontraksi dan akhirnya berkata, “Suami saya bekerja di sini. Dokter Arman Pratama. Kepala bagian kebidanan dan kandungan.”

Perawat di depanku berhenti menulis.

Dia menatapku dari atas ke bawah.

“Dokter Arman?”

“Iya. Tolong panggil dia.”

Ekspresinya berubah.

Bukan terkejut.

Lebih mirip jijik.

“Bu, saya tidak tahu hubungan Ibu dengan Dokter Arman seperti apa, tapi sebaiknya jangan membuat masalah di rumah sakit.”

Aku mengira dia salah dengar.

“Saya istrinya.”

Perawat itu mengembuskan napas pendek.

“Dokter Arman itu terkenal sayang sekali sama istrinya. Beliau sekarang malah sedang menemani Bu Citra kontrol kehamilan.”

Aku membeku.

“Bu siapa?”

“Bu Citra.”

Perawat di sebelahnya ikut menoleh.

“Mereka sudah lima tahun bersama. Semua orang di sini tahu.”

Lima tahun.

Aku dan Arman baru menikah tiga tahun.

Aku baru hendak meminta mereka menjelaskan ketika pintu ruang pemeriksaan di ujung koridor terbuka.

Arman keluar.

Tangannya menyangga lengan seorang perempuan cantik dengan gaun hamil longgar berwarna krem. Perempuan itu berjalan perlahan, satu tangannya memegang perut yang mulai membesar.

Beberapa pegawai menyapa mereka sambil tersenyum.

“Pak Dokter memang suami teladan.”

“Sudah bertahun-tahun masih mesra saja.”

Citra tertawa kecil.

Arman menunduk mendekat kepadanya, mengatakan sesuatu yang tidak kudengar.

Nyeri di perutku datang lagi.

Kali ini lebih kuat.

Aku sampai hampir jatuh dari kursi roda.

“Arman!”

Dia menoleh.

Wajahnya kehilangan warna selama sepersekian detik.

Lalu kembali datar.

Aku tidak sempat memikirkan apa pun selain rasa sakit.

Kuraih ujung celananya ketika dia mendekat.

“Aku mau melahirkan.”

Aku mencengkeram kain itu sekuat tenaga.

“Tolong aku.”

Arman melirik orang-orang di sekitar kami.

Bukan ke perutku.

Bukan ke wajahku.

Ke orang-orang.

Aku langsung memahami apa yang paling ditakutinya.

“Kalau terjadi sesuatu padaku,” kataku terbata, “keluargaku tidak akan diam.”

Dia membungkuk sedikit agar hanya aku yang mendengar.

“Keluarga apa?”

Nada suaranya dingin.

“Kamu bilang sendiri sejak dulu kamu hampir tidak punya siapa-siapa di sini.”

“Aku…”

“Aku sudah lihat hasil pemeriksaanmu yang terakhir. Tidak ada masalah besar.”

“Itu pemeriksaan beberapa hari lalu!”

Arman mencabut celananya dari genggamanku.

“Hari ini Citra sedang tidak baik kondisinya. Jangan bikin keributan.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Aku tidak bisa mengatur kapan anak ini lahir.”

Dia malah berkata, “Tahan dulu.”

Dua kata itu membuatku lupa bernapas.

Seolah persalinan adalah batuk yang bisa kutunda karena orang lain sedang ingin tenang.

Citra berdiri beberapa meter dari kami.

Aku tidak tahu seberapa banyak yang dia dengar.

Arman segera kembali kepadanya.

“Tidak apa-apa.”

Suara yang dipakainya berbeda dari suara yang baru saja ia gunakan kepadaku.

Lembut.

“Sudah agak enakan? Mau makan apa nanti? Aku masak di rumah.”

Aku menatap punggungnya.

Tiga tahun menikah, aku bahkan tidak tahu Arman mau memasak.

Dia selalu bilang tangannya dipakai untuk pekerjaan penting, bukan memegang bawang, minyak, atau panci.

Saat aku hamil dan tak tahan berdiri lama pun dia tidak pernah masuk dapur.

Arman berjalan pergi bersama Citra.

Aku memanggilnya sekali lagi.

Dia tidak menoleh.

Kontraksi berikutnya membuat suaraku berubah menjadi jeritan.

“Tolong…”

Seorang perawat muda yang sedari tadi berdiri dekat pintu tampak gelisah.

“Bu, sebaiknya pasien diperiksa dulu. Ketubannya sudah pecah.”

Perawat yang sebelumnya mengejekku langsung menyela.

“Pak Arman sudah lihat riwayatnya.”

“Tapi…”

“Kalau beliau bilang belum perlu, ya belum perlu.”

Perawat muda itu diam, tetapi wajahnya jelas tidak tenang.

Aku berusaha menjelaskan.

“Saya bukan selingkuhannya.”

Tanganku gemetar saat membuka galeri ponsel.

Kutemukan foto pernikahan kami.

Bukan foto pesta mewah. Hanya aku dan Arman berdiri berdampingan pada hari pernikahan kami, dengan dokumen resmi yang kemudian kami tandatangani.

“Lihat. Saya istrinya.”

Perawat itu memandang layar sebentar, kemudian tertawa kecil.

“Sekarang foto seperti itu gampang diedit.”

“Saya punya dokumennya.”

“Lalu kenapa tidak ada seorang pun di rumah sakit ini yang tahu?”

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada ejekannya.

Karena aku sendiri tidak tahu jawabannya.

Selama ini Arman selalu berkata menjaga privasi adalah bagian dari profesionalitas.

Sekarang aku baru sadar yang disembunyikannya bukan pekerjaannya.

Aku.

“Saya perlu pertolongan,” kataku. “Kalau tidak percaya soal pernikahan saya, tidak apa-apa. Tapi bayi saya…”

Ponselku diambil seseorang dari tanganku.

Sebelum sempat kuraih kembali, benda itu dilempar ke tempat sampah di samping meja.

Aku memaksa berdiri.

“Jangan sentuh barang saya.”

Nyeri membuat lututku goyah.

Seseorang mendorong pundakku agar aku duduk kembali.

Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh.

Tamparan mengenai pipiku ketika aku mencoba bangun.

“Jangan bikin keributan.”

Aku memegang sisi wajahku, benar-benar tidak percaya ini terjadi di rumah sakit.

Perawat muda tadi melangkah maju.

“Sudah. Jangan begitu.”

Namun suara yang lebih senior segera memotongnya.

“Pak Arman sudah memberi instruksi. Kita cuma menjalankan.”

Kemudian aku mendengar kalimat yang membuat seluruh tubuhku dingin.

“Bawa ke ruang tindakan. Kasih obat supaya kontraksinya ditekan dulu. Jangan sampai melahirkan sebelum Pak Arman kembali.”

Aku mulai meronta ketika dua orang memegang lenganku.

“Tidak!”

Aku mencoba menarik diri.

“Saya tidak setuju!”

Tak ada yang benar-benar mendengarkan.

Aku dibawa melewati koridor menuju sebuah ruangan di bagian dalam.

“Panggil dokter lain. Saya mau diperiksa dokter lain.”

Salah satu dari mereka berkata, “Jangan menyulitkan kami.”

“Justru kalian yang sedang membuat masalah!”

Pintu ditutup.

Beberapa orang menyiapkan alat dan obat.

Tanganku ditahan ketika aku berusaha bangun dari ranjang.

Aku bisa merasakan gerakan bayiku.

Aku mulai menangis bukan karena malu atau marah, tetapi karena ketakutan yang jauh lebih sederhana.

Aku takut anakku tidak selamat.

“Jangan berikan apa pun sebelum dokter lain memeriksa saya.”

Tak ada jawaban.

Ketika suntikan pertama diberikan untuk menekan kontraksi tanpa penjelasan yang layak kepadaku, aku menjerit dan mencoba menarik tubuh menjauh.

Rasa sakit semakin kuat.

Aku melihat perawat muda yang tadi membelaku berdiri di dekat pintu.

Wajahnya pucat.

“Tolong,” kataku kepadanya. “Kalau kamu tahu ini salah, hentikan.”

Dia menelan ludah.

Sebelum sempat menjawab, seorang dokter senior datang.

“Ada apa ribut-ribut?”

Mereka menjelaskan bahwa aku mengaku sebagai istri Arman dan terus menuntut tindakan dihentikan.

Aku langsung berkata, “Telepon dia.”

Mereka saling memandang.

“Telepon Arman sekarang.”

Akhirnya seseorang menghubunginya dengan pengeras suara.

Tiga dering.

“Ada apa?” suara Arman terdengar kesal.

Dokter itu menjelaskan keadaan secara singkat, termasuk bahwa aku terus mengatakan keluarga akan datang jika mereka tidak berhenti.

Aku meminta ponsel itu.

“Arman!”

Suaraku nyaris habis.

“Ini anakmu juga. Suruh mereka hentikan.”

Hening sesaat.

Kemudian dia tertawa pendek.

“Ratih, cukup.”

“Suruh mereka berhenti!”

“Keluarga yang mana?”

Aku memejamkan mata.

Selama tiga tahun, aku memang tidak pernah mempertemukan Arman dengan keluargaku.

Aku mengatakan Ayah, Ibu, dan kakakku tinggal di luar negeri.

Itu tidak sepenuhnya benar.

Aku sengaja menghilangkan bagian terpentingnya.

Keluargaku bukan keluarga yang bisa kuajak makan malam lalu kuperkenalkan kepada suami.

Sejak kecil aku tahu Ayah dan kakakku pernah membunuh orang dalam perseteruan lama.

Aku juga tahu Ibu bukan orang yang akan berdiri diam jika salah satu anaknya disakiti.

Mereka pernah hidup di dunia yang membuat kekerasan dianggap sebagai cara tercepat menyelesaikan masalah.

Aku satu-satunya yang berusaha keluar.

Itulah sebabnya aku menjauh.

Bukan karena aku tidak punya keluarga.

Aku justru punya keluarga yang selama bertahun-tahun berusaha kujauhkan dari hidup baruku.

“Aku tidak pernah mengenalkan mereka karena aku tidak mau kamu takut,” kataku.

Arman mengembuskan napas.

“Sudah tiga tahun kita menikah dan tidak pernah sekali pun mereka meneleponku. Sekarang tiba-tiba kamu punya keluarga berbahaya?”

“Karena aku meminta mereka tidak ikut campur!”

“Cukup.”

Nada suaranya berubah tegas.

“Kalian lanjutkan saja. Dia cuma menakut-nakuti.”

“Arman!”

“Tahan persalinannya sampai aku kembali. Kalau ada masalah, saya yang bertanggung jawab.”

Sambungan terputus.

Aku menatap layar ponsel yang telah gelap.

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku berhenti berharap Arman akan sadar.

Tanganku bergerak perlahan ke ibu jari kanan.

Ada benda kecil yang ditanam keluargaku di sana sebelum aku meninggalkan rumah bertahun-tahun lalu.

Bukan sesuatu yang pernah kubanggakan.

Sebuah pemancar darurat sederhana yang terhubung pada sistem pelacak keluarga.

Ayah hanya memberiku satu pesan ketika memasangnya.

“Kalau suatu hari kamu menekannya, berarti kamu tidak bisa pulang sendiri.”

Selama bertahun-tahun aku tidak pernah menyentuhnya.

Saat suntikan kedua diberikan dan rasa sakit kembali menjalar di tubuhku, aku menekan titik kecil itu sampai lampu indikator tipis di bawah kulit berkedip sekali.

Sinyal terkirim.

Aku menatap pintu ruangan.

Arman telah mengatakan dia akan menanggung semua akibatnya.

Untuk pertama kalinya, aku memutuskan membiarkannya membuktikan kata-kata itu.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Aku tidak tahu berapa lama berlalu setelah sinyal itu terkirim.

Dua puluh menit?

Empat puluh?

Rasa sakit membuat waktu berantakan.

Aku hanya tahu perawat muda yang tadi membelaku beberapa kali memeriksa monitor lalu menatapku dengan wajah semakin cemas.

Akhirnya dia berkata kepada dokter di ruangan itu, “Denyut bayi berubah. Kita harus panggil dokter jaga lain.”

“Pak Arman sudah memberi instruksi.”

“Pasien ketubannya sudah pecah dan belum diperiksa lengkap.”

Tidak ada yang menjawab.

Perawat itu akhirnya keluar.

Aku tidak tahu ke mana dia pergi.

Sekitar satu jam kemudian, keributan terdengar dari luar.

Bukan suara orang berteriak.

Suara langkah cepat, beberapa suara lelaki, kemudian seseorang berkata dengan sangat jelas, “Kami keluarga Ratih. Kami meminta dokter penanggung jawab keluar sekarang.”

Tubuhku langsung menegang.

Aku mengenali suara itu.

Kakakku.

Raka.

Pintu terbuka.

Raka masuk lebih dulu, disusul Ibu dan Ayah.

Sudah hampir empat tahun aku tidak melihat mereka bersama-sama.

Raka jauh lebih kurus dari yang kuingat, tetapi cara dia melihat orang tidak berubah.

Tatapannya berhenti pada tanganku yang ditahan, kemudian pada perutku.

Rahangnya mengeras.

“Siapa yang melakukan ini?”

Aku langsung berkata, “Jangan.”

Dia menatapku.

“Ratih.”

“Jangan sentuh siapa pun.”

Raka tidak menjawab.

Ayah malah melangkah ke arah dokter.

Aku memanggilnya.

“Ayah.”

Dia berhenti.

“Kalau Ayah datang untuk menolongku, keluarkan aku dari sini. Jangan buat masalah lain.”

Wajah Ayah berubah.

Mungkin baru saat itu dia sadar bahwa anak perempuan yang dulu selalu takut membantahnya sekarang sedang memberi perintah.

Ibu mendekatiku dan menggenggam tanganku.

“Kami bawa kamu ke rumah sakit lain.”

Dokter mencoba mengatakan mereka tidak bisa memindahkanku tanpa prosedur.

Raka mengeluarkan map.

“Kami sudah bicara dengan dokter jaga di rumah sakit rujukan dan ambulans sudah di bawah. Kalian tulis keadaan pasien sekarang, obat apa yang sudah diberikan, jam pemberiannya, dan nama orang yang memberi instruksi.”

Tidak ada ancaman.

Itu justru membuat ruangan lebih sunyi.

Perawat muda yang tadi pergi muncul bersama dokter jaga lain yang lebih senior.

Dokter itu memeriksaku singkat lalu ekspresinya langsung serius.

“Pasien harus ditangani sekarang.”

Aku dipindahkan.

Dalam perjalanan menuju ambulans, aku melihat Arman berlari masuk dari pintu utama.

Dia membeku ketika melihat keluargaku.

Mungkin untuk pertama kalinya dia memahami bahwa aku tidak sedang mengarang cerita.

“Ratih!”

Aku tidak menjawab.

Dia mendekati brankar.

Raka bergerak satu langkah, tetapi aku langsung mengangkat tangan.

“Jangan.”

Aku menatap Arman.

“Kamu bilang tadi kalau ada apa-apa kamu yang tanggung.”

Wajahnya pucat.

“Aku tidak tahu kondisimu seburuk ini.”

“Karena kamu tidak memeriksaku.”

“Aku lihat laporanmu.”

“Laporan tiga hari lalu.”

Dia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Aku berkata, “Aku mau pergi.”

“Ratih, dengar dulu.”

“Bukan sekarang.”

Pintu ambulans ditutup.

Di rumah sakit rujukan, dokter tidak menjanjikan apa pun sebelum pemeriksaan selesai.

Itulah pertama kalinya hari itu seseorang berbicara kepadaku sebagai pasien, bukan sebagai gangguan.

Beberapa hasil pemeriksaan membuat dokter memutuskan persalinan tidak boleh ditunda lagi.

Kondisi bayiku mulai tertekan.

Aku menjalani operasi darurat.

Ketika sadar beberapa jam kemudian, perutku terasa kosong dan tubuhku begitu lemah sampai mengangkat tangan saja sulit.

Ibu duduk di samping ranjang.

Aku langsung bertanya, “Bayiku?”

“Perempuan.”

Air mataku keluar sebelum Ibu menyelesaikan kalimatnya.

“Dia di ruang perawatan bayi. Prematur, tapi dokter bilang sekarang stabil.”

Aku menutup wajah.

Untuk beberapa menit kami berdua tidak berkata apa-apa.

Setelah napasku lebih tenang, Ayah masuk.

Raka berdiri di belakangnya.

“Aku sudah tahu nama semua orang di ruangan itu,” kata Raka.

Aku menatapnya.

“Lalu?”

“Kita bisa urus dengan cara kita.”

“Tidak.”

“Ratih, mereka hampir…”

“Aku bilang tidak.”

Raka terdiam.

Aku menatap Ayah dan Ibu satu per satu.

“Aku menekan alat itu supaya kalian menyelamatkanku. Bukan supaya kalian membunuh siapa pun.”

Ayah mengerutkan kening.

“Jadi kita diam saja?”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Kita simpan semua catatan rumah sakit. Kita minta rekam medis lengkap. Kita cari pengacara. Kita lapor secara resmi.”

Raka tampak hampir tertawa karena tidak percaya.

Tetapi aku tidak berubah pikiran.

“Aku sudah menghabiskan hidupku menjauh dari cara kalian menyelesaikan masalah. Jangan paksa anakku lahir ke dalam cara yang sama.”

Ruangan menjadi sunyi.

Akhirnya Ibu berkata, “Kalau itu yang kamu mau, kami ikut.”

Keesokan paginya perawat muda yang membelaku datang.

Namanya Nadia.

Tangannya gemetar saat menyerahkan selembar catatan.

“Saya sudah membuat laporan internal.”

Aku membacanya perlahan.

Ada satu kalimat yang membuatku berhenti.

Instruksi untuk menekan persalinanku tercatat berasal langsung dari Arman, disampaikan melalui telepon, tanpa pemeriksaan langsung saat kondisiku memburuk.

Di bawahnya terdapat waktu pemberian obat dan nama petugas yang hadir.

Aku menutup map itu.

Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, masalahku tidak lagi bergantung pada apakah orang percaya aku istri Arman.

Sekarang ada catatan tentang apa yang benar-benar ia lakukan.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Tiga hari setelah putriku lahir, Arman datang ke rumah sakit membawa sebuket bunga putih.

Aku sedang mencoba duduk lebih lama agar bisa mengunjungi ruang perawatan bayi ketika pintu dibuka.

Begitu melihatnya, tanganku langsung berhenti merapikan selimut.

Ibu yang duduk di sofa berdiri.

Raka ada di dekat jendela.

Aku tahu apa yang akan terjadi kalau kubiarkan mereka menentukan suasana ruangan.

“Keluar sebentar,” kataku.

Raka menatapku.

“Yakin?”

“Iya.”

Ibu menyentuh lenganku sebelum pergi.

Ayah tidak ada di sana. Aku sengaja memintanya pulang sejak pagi karena dia yang paling sulit menahan diri.

Setelah pintu tertutup, hanya aku dan Arman yang tersisa.

Dia menaruh bunga di meja.

“Aku datang untuk bicara.”

“Bicara.”

Arman menarik kursi, tetapi aku berkata, “Jangan duduk.”

Dia berhenti.

Aku tidak tahu kenapa hal kecil itu penting bagiku.

Mungkin karena selama tiga tahun aku selalu menyediakan tempat untuknya, selalu menggeser kebutuhanku agar dia nyaman.

Hari itu aku tidak ingin melakukannya.

“Aku salah,” katanya.

Aku menunggu.

“Aku benar-benar tidak tahu kondisi kamu akan berubah secepat itu.”

“Bagian mana yang tidak kamu tahu?”

Arman mengusap wajah.

“Aku pikir kontraksimu belum serius.”

“Ketubanku pecah.”

“Aku tahu.”

“Kamu bahkan tidak memeriksaku.”

Dia tidak menjawab.

Aku mengambil napas.

“Kenapa semua orang di rumah sakitmu mengenal Citra sebagai istrimu?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Selama tiga hari, pertanyaan tersebut lebih menggangguku daripada nyeri bekas operasi.

Arman menatap lantai.

“Citra dan aku sudah saling kenal sebelum aku bertemu kamu.”

“Itu aku tahu sekarang. Lima tahun, katanya.”

Dia mengangguk kecil.

“Kami pernah berencana menikah.”

“Pernah?”

“Keluarganya tidak setuju waktu itu. Banyak masalah.”

Aku hampir tersenyum, tetapi tidak ada bagian dari cerita itu yang lucu.

“Jadi kamu menikahiku.”

“Tidak sesederhana itu.”

“Kalau begitu buat sederhana.”

Arman menarik napas panjang.

“Aku mengenalmu saat hubungan kami sedang hancur. Aku pikir semuanya sudah selesai. Kita menikah. Beberapa bulan kemudian Citra kembali.”

“Dan kamu tidak pernah memberitahuku.”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Kamu pergi.”

Aku menatapnya lama.

“Jadi supaya aku tidak pergi, kamu punya dua kehidupan.”

Dia buru-buru berkata, “Citra juga tidak tahu seluruhnya.”

Kalimat itu membuatku diam.

“Apa maksudmu?”

“Aku bilang kepadanya pernikahan kita sudah bermasalah.”

“Bermasalah?”

“Aku bilang kami sedang mengurus perpisahan.”

“Kapan aku pernah setuju berpisah?”

Arman menekan bibirnya.

Tidak ada jawaban.

Aku mulai memahami bentuk kebohongan itu.

Kepada rumah sakit, aku tidak ada.

Kepada Citra, aku adalah istri yang sebentar lagi menjadi mantan.

Kepadaku, Citra bahkan tidak pernah disebut.

“Kenapa aku selalu disuruh kontrol tiga puluh kilometer dari sini?”

“Aku tidak mau kalian bertemu.”

Jawabannya sangat sederhana sampai menyakitkan.

Semua alasan tentang profesionalitas.

Semua kalimat tentang menjaga privasi.

Semua perjalanan jauh dengan perut besar.

Hanya karena dia ingin kebohongannya tetap berada di dua tempat berbeda.

“Citra hamil anakmu?”

Arman mengangguk.

Aku memalingkan wajah ke jendela.

Putriku berada beberapa lantai di bawah, bernapas dengan bantuan alat karena lahir sebelum waktunya.

Sementara perempuan lain yang sedang mengandung anak Arman dianggap sebagai istrinya oleh seluruh tempat kerjanya.

“Aku tidak membenci Citra,” kataku akhirnya.

Arman tampak terkejut.

“Aku bahkan belum tahu apa yang dia tahu dan apa yang kamu bohongi kepadanya.”

“Ratih…”

“Tapi tentang kita, aku sudah tahu cukup.”

Dia mendekat satu langkah.

“Aku akan memperbaiki semuanya.”

“Bagaimana?”

“Kita pulang dulu setelah kamu sembuh.”

“Aku tanya bagaimana.”

Dia tidak bisa menjawab.

Aku menunjuk bunga di meja.

“Bawa itu.”

“Ratih.”

“Bawa pulang.”

“Aku suamimu.”

“Kamu ingat itu sekarang?”

Wajahnya menegang.

“Aku tahu aku salah soal Citra. Tapi masalah di rumah sakit berbeda. Aku panik.”

“Panik karena melihat istrimu mau melahirkan?”

“Aku panik karena semua orang melihat.”

Itulah kalimat pertama yang benar-benar jujur darinya.

Aku mengangguk perlahan.

“Ya. Itu yang kupikir juga.”

Bukan aku yang dia lindungi.

Bukan bayi kami.

Reputasinya.

Arman pergi dengan bunga yang sama yang ia bawa.

Sore itu pengacara yang direkomendasikan keluarga datang.

Namanya Diah Wibisono.

Dia tidak membuat janji besar.

Tidak mengatakan semua orang akan langsung ditangkap, rumah sakit akan ditutup, atau Arman akan kehilangan izin praktik esok pagi.

Dia hanya meminta kami mengurutkan fakta.

“Yang paling penting sekarang jangan campur semua masalah menjadi satu,” katanya.

“Pernikahan Ibu, tindakan medis, perlakuan petugas rumah sakit, dan dugaan kekerasan terhadap pasien perlu dicatat terpisah. Bukti masing-masing berbeda.”

Aku menyukainya karena dia tidak bicara seperti sedang menjual kemenangan.

Aku memberikan apa yang kupunya.

Salinan dokumen perkawinanku dengan Arman.

Rekam medis dari rumah sakit pertama.

Catatan dari rumah sakit rujukan.

Daftar obat dan waktu pemberian.

Laporan internal Nadia.

Foto kondisi tubuhku yang diambil Ibu sesaat setelah aku dipindahkan, hanya sebatas yang diperlukan untuk dokumentasi medis.

Diah membaca semuanya.

“Pihak rumah sakit mungkin akan mengatakan staf mengikuti arahan dokter.”

“Memang begitu.”

“Dan itu tetap tidak menghapus tanggung jawab masing-masing.”

Aku mengangguk.

“Yang saya mau bukan membuat semua orang menderita.”

Diah menatapku.

“Saya mau mereka tidak bisa melakukan ini kepada pasien lain.”

“Kalau begitu kita fokus pada proses yang bisa dibuktikan.”

Kalimat itu membuatku lebih tenang daripada semua ancaman keluargaku.

Rumah sakit melakukan investigasi internal setelah keluarga kami mengirim pemberitahuan resmi.

Aku tidak pernah datang sambil membawa rombongan.

Aku juga menolak ide Raka untuk menghubungi kenalan lama Ayah.

“Kita sudah sepakat,” kataku.

Raka mendecakkan lidah.

“Kadang aku tidak mengerti kamu.”

“Tidak apa-apa.”

“Kalau aku jadi kamu…”

“Makanya yang hampir melahirkan waktu itu aku, bukan kamu.”

Dia menatapku sebentar, lalu tertawa kecil.

Itu mungkin pertama kalinya kami berbicara tanpa pertengkaran sejak aku meninggalkan rumah bertahun-tahun sebelumnya.

Putriku menghabiskan hampir tiga minggu dalam perawatan.

Aku memberinya nama Tara.

Arman beberapa kali meminta izin datang menemuinya.

Aku tidak melarang.

Aku tidak ingin konflik kami menghapus kenyataan bahwa dia ayah biologis Tara.

Tetapi aku menetapkan aturan.

Dia datang pada jam kunjungan.

Tidak membawa Citra.

Tidak mengajak bicara tentang pernikahan saat aku sedang bersama bayi.

Tidak mengambil keputusan medis tanpa persetujuan dan penjelasan dokter yang merawat.

Pertama kali mendengar aturan itu, Arman terlihat tersinggung.

“Kamu bicara seolah aku orang asing.”

Aku sedang berdiri di depan inkubator Tara.

“Aku bicara seperti ibu pasien.”

Dia terdiam.

Beberapa hari kemudian Citra meminta bertemu denganku.

Pesannya datang melalui Diah, bukan langsung ke ponselku.

Aku sempat ingin menolak.

Namun akhirnya kami bertemu di sebuah ruang konsultasi kecil di rumah sakit rujukan.

Citra datang sendirian.

Usia kandungannya sekitar enam bulan.

Dia tampak jauh berbeda dari perempuan yang kulihat berjalan di samping Arman hari itu.

Tidak ada pegawai yang tersenyum melihat mereka.

Tidak ada Arman yang memegang lengannya.

Dia duduk berhadapan denganku.

“Aku tidak tahu harus memanggilmu apa,” katanya.

“Ratih saja.”

Dia mengangguk.

“Aku tidak datang minta maaf atas nama Arman.”

“Bagus. Dia bisa melakukannya sendiri.”

Citra menatap kedua tangannya.

“Dia bilang kalian sudah lama pisah kamar.”

Aku diam.

“Dia bilang pernikahan kalian tinggal menunggu selesai secara resmi.”

“Kami tidak pernah membicarakan perceraian sebelum hari itu.”

Wajah Citra menegang.

“Aku curiga dia belum selesai denganmu. Tapi aku tidak tahu dia masih tinggal bersamamu seperti biasa.”

“Kamu tahu dia menikah?”

“Tahu.”

Kejujurannya membuatku menatapnya lebih lama.

Dia melanjutkan, “Itu tetap salahku. Aku percaya bagian yang ingin kupercaya.”

Aku tidak menyanggah.

Citra bukan korban sepenuhnya.

Tapi dia juga bukan orang yang memerintahkan dokter menahan persalinanku.

“Kenapa semua orang mengira kalian sudah menikah lima tahun?” tanyaku.

Citra memejamkan mata sebentar.

“Karena sebelum dia menikahimu, kami memang sudah bersama hampir dua tahun. Setelah kami dekat lagi, Arman tidak pernah mengoreksi orang-orang yang memanggilku istrinya.”

“Dan kamu juga tidak?”

Dia menggeleng.

“Tidak.”

Itu jawaban yang cukup.

Aku tidak membutuhkan pengakuan dramatis.

Tidak membutuhkan dia menangis atau berlutut.

Kami hanya dua perempuan yang akhirnya duduk di meja yang sama karena seorang laki-laki telah memberikan cerita berbeda kepada kami.

“Sekarang kamu mau bagaimana?” tanyaku.

Citra mengusap perutnya.

“Aku tidak tahu.”

“Itu urusanmu.”

Dia mengangguk.

Sebelum pergi, dia berkata, “Aku dengar kondisi bayimu membaik.”

“Sudah.”

“Syukurlah.”

Aku tidak menjawab.

Bukan karena aku ingin kasar.

Aku hanya tidak tahu hubungan seperti apa yang bisa kami miliki setelah itu.

Dan ternyata tidak semua hubungan harus diberi nama.

Dua minggu berikutnya membuat Arman semakin terdesak.

Bukan karena keluargaku melakukan sesuatu.

Justru karena kami tidak melakukannya.

Rumah sakit menemukan bahwa instruksi Arman memang diberikan tanpa pemeriksaan langsung terhadapku saat kondisi berubah.

Beberapa petugas mengaku mengambil keputusan berdasarkan posisi Arman sebagai kepala bagian.

Ada juga catatan bahwa aku berulang kali menolak tindakan dan meminta dokter lain.

Nadia memberikan keterangannya sendiri.

Aku tidak pernah meminta dia melebih-lebihkan apa pun.

“Apa yang kamu lihat, itu saja,” kataku.

Dia mengangguk.

“Aku seharusnya lebih cepat bertindak.”

“Kamu akhirnya memanggil dokter lain.”

“Tapi terlambat.”

“Kamu tidak perlu menjadikan dirimu pahlawan. Cukup jangan bohong.”

Rumah sakit menonaktifkan sementara Arman dari jabatan kepala bagian selama pemeriksaan berjalan.

Beberapa staf yang terlibat juga dikeluarkan dari pelayanan langsung kepada pasien sambil menunggu proses disiplin.

Aku tahu itu belum keputusan akhir.

Tetapi setidaknya tidak ada satu pun dari mereka yang bisa berpura-pura hari itu tidak pernah terjadi.

Sementara itu, aku mengajukan proses perceraian.

Ketika surat pemberitahuan sampai kepadanya, Arman menelepon berkali-kali.

Aku tidak mengangkat.

Malamnya dia datang ke rumah orang tuaku, tempat aku tinggal sementara setelah Tara keluar dari rumah sakit.

Ayah ingin mengusirnya.

Aku malah membuka pintu.

“Aku bicara lima menit,” kataku kepada Ayah.

“Pintu tetap terbuka,” jawabnya.

Aku hampir tertawa.

Dulu aku meninggalkan rumah ini karena setiap keputusan diatur Ayah.

Sekarang dia masih keras kepala, hanya saja untuk pertama kalinya dia belajar mendengar kata tidak dariku.

Arman berdiri di teras.

Wajahnya tampak lebih tua.

“Kamu benar-benar mengajukan cerai.”

“Iya.”

“Tara baru lahir.”

“Karena itu aku tidak mau menunda.”

“Kita bisa memperbaiki semuanya.”

“Apa yang mau diperbaiki dulu?”

“Kita.”

Aku menggeleng.

“Masalahnya kamu masih bicara seolah yang terjadi cuma soal perselingkuhan.”

Arman terdiam.

“Kalau kamu cuma berselingkuh, mungkin aku masih perlu waktu lebih lama untuk menentukan keputusan.”

Dia menatapku.

“Tapi kamu melihat aku kesakitan dan memilih menjaga kebohonganmu.”

“Itu bukan maksudku.”

“Kamu bilang jangan biarkan aku melahirkan.”

“Aku panik.”

“Lalu ketika dokter menelepon, kamu mengulangi perintah itu.”

Dia menutup mata sebentar.

Aku melanjutkan.

“Jangan bilang kamu cuma sekali salah bicara. Kamu diberi kesempatan kedua ketika mereka menelepon. Kamu tetap memilih hal yang sama.”

Arman mulai terlihat putus asa.

“Aku tidak berpikir jernih.”

“Dan sekarang aku berpikir jernih.”

Dia menatap ke dalam rumah.

Mungkin berharap melihat Tara.

“Aku tetap ayahnya.”

“Aku tidak pernah bilang kamu bukan.”

“Kalau begitu kenapa semuanya harus selesai?”

“Karena menjadi ayah Tara dan menjadi suamiku adalah dua hal berbeda.”

Untuk beberapa detik tidak ada yang bicara.

Kemudian Arman mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Sebuah amplop.

“Aku sudah menulis kronologi untuk rumah sakit.”

Aku tidak mengambilnya.

“Serahkan ke tim pemeriksa.”

“Aku mengakui instruksi itu dariku.”

Aku akhirnya menatapnya.

“Mereka memang sudah punya catatannya.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa bilang kepadaku?”

Dia menarik napas.

“Karena selama ini aku terus mencari cara menjelaskan semuanya supaya aku tidak terlihat terlalu salah.”

Setidaknya kali ini dia tidak memulai dengan alasan.

“Aku salah.”

Aku menunggu.

“Aku berbohong kepada kamu. Aku berbohong kepada Citra. Aku membiarkan teman-teman di rumah sakit menganggap dia istriku karena itu lebih mudah daripada menjelaskan hidupku sendiri.”

Dia menunduk.

“Waktu melihatmu di IGD, yang kupikirkan bukan keadaanmu. Aku cuma berpikir semuanya akan terbongkar.”

Aku menelan ludah.

Mendengar kebenaran ternyata tidak selalu terasa melegakan.

Kadang kebenaran hanya membuat luka memiliki bentuk yang jelas.

“Aku tidak minta kamu maafkan aku sekarang,” katanya.

“Aku juga tidak akan melakukannya sekarang.”

“Apa suatu hari nanti mungkin?”

Aku memandangnya.

“Aku tidak tahu.”

Itu jawaban paling jujur yang bisa kuberikan.

“Tapi perceraian tetap berjalan.”

Arman mengangguk pelan.

Dia tidak menangis.

Tidak berlutut.

Tidak meminta kesempatan di depan keluargaku.

Dia hanya berdiri beberapa detik, kemudian pergi.

Aku menutup pintu setelah mobilnya keluar dari halaman.

Raka muncul dari ruang makan.

“Sudah?”

“Sudah.”

“Cuma begitu?”

Aku menatapnya.

“Kamu berharap ada apa?”

“Entahlah. Dulu kalau ada orang menyakiti keluarga kita…”

Aku langsung mengangkat alis.

Dia menghela napas.

“Iya, iya. Cara lama.”

Aku duduk di kursi dekat pintu.

Raka ikut duduk.

Setelah beberapa saat dia berkata, “Aku masih marah.”

“Aku juga.”

“Terus kenapa rasanya kamu tenang?”

“Aku tidak tenang.”

Aku melihat ke arah kamar tempat Tara tidur.

“Aku cuma tidak mau kemarahanku menentukan semua keputusan.”

Raka tidak menjawab.

Tiga bulan kemudian, perceraian kami masih dalam proses.

Pemeriksaan rumah sakit juga belum seluruhnya selesai.

Aku belajar menerima bahwa dunia nyata jarang memberi penutup dalam satu hari.

Tidak ada hakim yang mengetuk meja lalu semua masalah hilang.

Tidak ada rumah sakit yang bisa mengembalikan tiga minggu pertama kehidupan Tara.

Tidak ada permintaan maaf yang bisa menghapus saat ketika aku berbaring ketakutan sementara suamiku menyuruh orang lain menahan persalinanku.

Namun beberapa hal sudah berubah.

Arman tidak lagi menjabat kepala bagian selama proses disiplin berlangsung.

Rumah sakit memperbaiki prosedur agar instruksi dari dokter yang memiliki hubungan pribadi dengan pasien harus ditinjau oleh dokter lain jika terjadi konflik kepentingan.

Nadia tetap bekerja di sana.

Dia pernah mengirim pesan singkat kepadaku setelah kebijakan baru diumumkan.

“Semoga ini mencegah kejadian serupa.”

Aku menjawab, “Semoga.”

Citra tidak pernah menghubungiku lagi.

Dari Diah aku hanya mendengar bahwa dia juga memisahkan urusan kehamilannya dari Arman dan memilih dokter lain.

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Hidupnya bukan lagi bagian yang perlu kuikuti.

Arman tetap datang menemui Tara sesuai jadwal yang kami sepakati.

Kadang dia hanya duduk dua puluh menit.

Kadang mengganti popok dengan gerakan kikuk.

Aku tidak membuatnya mudah.

Tapi aku juga tidak menggunakan Tara untuk menghukumnya.

Jika suatu hari dia ingin menjadi ayah yang baik, itu harus dibuktikan lewat tahun-tahun setelah ini, bukan lewat satu permintaan maaf kepadaku.

Perubahanku dengan keluargaku justru lebih aneh.

Aku yang selama bertahun-tahun menjaga jarak akhirnya tinggal sementara bersama mereka.

Ayah masih mudah marah.

Ibu masih sering ingin mengatur hal-hal kecil.

Raka masih beberapa kali menyarankan “cara cepat” jika proses hukum terasa terlalu lambat.

Setiap kali itu terjadi, aku menolak.

Dan perlahan mereka belajar bahwa menolongku tidak berarti mengambil alih hidupku.

Suatu malam Ibu berkata sambil melipat pakaian Tara, “Dulu kami pikir kamu pergi karena malu punya keluarga seperti kami.”

Aku sedang menyusun botol susu.

“Aku memang malu pada beberapa hal yang pernah kalian lakukan.”

Ibu berhenti.

“Tapi bukan berarti aku tidak sayang.”

Dia menatapku.

“Aku pergi karena aku ingin punya hidup yang berbeda.”

“Sekarang?”

Aku memandang Tara yang tertidur.

“Sekarang aku masih mau hidup berbeda.”

Ibu mengangguk.

Tidak ada pelukan dramatis.

Tidak ada janji bahwa masa lalu mereka akan lenyap.

Hanya satu percakapan yang sudah bertahun-tahun seharusnya terjadi.

Enam bulan setelah Tara lahir, aku kembali ke apartemenku.

Bukan apartemen yang kutinggali bersama Arman.

Aku menyewa tempat lebih kecil dekat tempat kerjaku dan rumah sakit anak.

Ayah membenci pilihan itu.

Katanya rumah keluarga jauh lebih besar.

Ibu bilang akan lebih mudah kalau aku tinggal bersama mereka.

Raka menawarkan memasang tiga orang penjaga.

Aku menolak semuanya.

“Kalau butuh bantuan, aku telepon.”

Anehnya, mereka akhirnya menerima.

Hari pertama di tempat baru, Raka datang membawa dua kardus pakaian bayi.

Sebelum pulang dia menunjuk ibu jariku.

“Alat itu masih aktif?”

Aku melihat titik kecil tempat pemancar darurat keluarga masih berada.

“Iya.”

“Kamu mau tetap pakai?”

Aku memikirkan pertanyaan itu.

Selama bertahun-tahun alat itu terasa seperti tali yang mengikatku kepada keluarga yang ingin kutinggalkan.

Hari ketika Tara lahir, alat itu menyelamatkan kami.

Tetapi aku juga tahu aku tidak ingin menghabiskan hidup menunggu keadaan buruk berikutnya.

“Aku akan minta dilepas setelah urusan ini selesai,” kataku.

Raka terkejut.

“Kenapa?”

“Karena kalau aku butuh kalian, aku bisa menelepon.”

Dia tersenyum tipis.

“Dulu kamu tidak pernah mau.”

“Dulu kalian juga tidak pernah mendengarkan.”

“Itu benar.”

Sebelum pergi, dia meletakkan kunci apartemen cadangan di atas meja.

“Ayah suruh simpan sama dia.”

Aku langsung mengambilnya.

“Tidak.”

Raka tertawa.

“Aku tahu.”

Aku memasukkan kunci itu ke amplop dan memberikannya kembali.

“Kunci cadangan kuberikan kalau aku memang mau. Tidak otomatis karena kalian keluarga.”

Raka mengangkat kedua tangan.

“Baik, Bu Ratih.”

“Pergi sana.”

Setelah pintu tertutup, aku mengecek Tara.

Dia sedang tertidur di boks kecil dekat kamarku, pipinya sudah jauh lebih berisi dibanding saat keluar dari ruang perawatan.

Di meja terdapat map berisi dokumen perceraian, salinan rekam medis, dan semua berkas proses rumah sakit.

Dulu setiap kali melihat map itu aku merasa mual.

Sekarang aku hanya menutupnya lalu memasukkannya ke laci.

Ada hal-hal yang masih harus diselesaikan.

Tetapi malam itu tidak ada lagi seseorang yang menentukan rumah sakit mana yang boleh kudatangi.

Tidak ada orang yang menyembunyikanku dari rekan kerjanya.

Tidak ada suami yang memutuskan kapan aku boleh sakit, kapan aku boleh marah, atau bahkan kapan aku boleh melahirkan.

Aku berjalan ke pintu depan dan memutar kuncinya dari dalam.

Untuk pertama kalinya, kunci rumahku hanya berada di tangan orang yang kupilih sendiri.

Menurutmu, apakah Ratih benar mempertahankan Arman sebagai ayah Tara sambil tetap mengakhiri pernikahan mereka?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.