Suamiku Menamparku di Depan Tamu dan Menyebutku Orang Ketiga, Lalu Tiga Hari Kemudian Ia Memintaku Menyelamatkan Nyawanya
Bagian 1
Tamparan Arga mendarat di pipi kiriku tepat ketika pelayan sedang menuangkan minuman untuk meja utama.
Suara itu tidak terlalu keras dibandingkan musik di ballroom, tetapi cukup membuat percakapan di tiga meja terdekat berhenti.
“Sekarang jelaskan di depan semua orang,” katanya. “Siapa sebenarnya yang masuk ke hubungan siapa?”
Aku berdiri tanpa bergerak.
Di kursi utama yang seharusnya ditempati istri Arga Wijaya, Raline Hartono mengangkat gelasnya perlahan.
Ia tidak tertawa keras. Hanya tersenyum tipis, seolah apa yang baru terjadi adalah jawaban atas sebuah persoalan lama.
Padahal akulah istri Arga.
Sudah tiga tahun.
Arga menunjuk ke arahku.

“Katakan sendiri, Nadia. Kamu yang datang ketika aku dan Raline belum selesai.”
Beberapa tamu menunduk. Beberapa lainnya terang-terangan memandangku.
Aku mengenal banyak dari mereka.
Rekan bisnis Arga.
Saudara jauh keluarganya.
Orang-orang yang selama tiga tahun terakhir kusambut di rumah, kutemani makan malam, bahkan pernah kubantu ketika anggota keluarganya membutuhkan rujukan dokter.
Malam itu mereka melihatku seperti sedang menunggu bagian berikutnya dari sebuah acara.
Tanganku naik ke pipi secara refleks.
Panas.
Telingaku masih berdenging.
Tapi anehnya, aku tidak menangis.
Tiga tahun sebelumnya aku masih bekerja penuh waktu sebagai dokter bedah saraf.
Aku punya jadwal operasi, pasien, tim, dan kehidupan yang hampir seluruhnya berputar di rumah sakit.
Arga masuk ke hidupku bukan lewat makan malam romantis.
Ia dibawa ke ruang operasi setelah ledakan di salah satu gudang perusahaan keluarganya.
Sebagian besar lukanya dapat ditangani.
Satu fragmen logam kecil di kepalanya tidak.
Letaknya terlalu dekat dengan pembuluh dan jaringan penting. Saat itu, risiko memaksakan pengangkatan jauh lebih besar daripada membiarkannya.
Akulah dokter utama yang menangani operasi pertamanya.
Setelah kondisi Arga membaik, ia mulai datang untuk kontrol.
Lalu mengirim kopi.
Kemudian menunggu sampai aku selesai jaga malam.
Ketika ia mulai mendekatiku, aku pernah bertanya tentang Raline karena aku pernah melihat nama perempuan itu di antara orang-orang yang menghubunginya selama masa pemulihan.
Arga menjawab pendek.
“Kami sudah selesai.”
Aku mempercayainya.
Setahun kemudian kami menikah.
Sesudah menikah, sedikit demi sedikit aku mengurangi pekerjaan.
Bukan karena Arga memaksaku dengan ancaman.
Justru lebih rumit daripada itu.
Setiap kali aku pulang terlambat, ia berkata rumah terasa kosong.
Setiap kali ada acara perusahaan yang kulewatkan karena operasi, ibunya mengatakan seorang istri juga punya tanggung jawab mendampingi suami.
Ketika aku mendapat kesempatan mengikuti program klinis di luar kota selama beberapa bulan, Arga bertanya apakah karier selalu harus menjadi prioritas.
Aku mengalah sekali.
Lalu dua kali.
Sampai akhirnya aku keluar dari jadwal operasi rutin dan hanya menyisakan beberapa kegiatan akademik.
Kupikir itu harga yang masih bisa kubayar untuk rumah tangga.
Ternyata orang memang bisa terlalu lama mengalah sampai lupa kapan keputusan terakhir yang benar-benar ia buat sendiri.
Enam bulan lalu Raline kembali ke Surabaya.
Sejak itu Arga berubah.
Awalnya hanya pesan yang dibalas sambil tersenyum.
Kemudian makan malam bisnis yang ternyata dihadiri Raline.
Lalu percakapan yang berhenti ketika aku masuk ruangan.
Aku menanyakan semuanya.
Arga selalu mengatakan hal yang sama.
“Jangan membuat masalah dari sesuatu yang tidak ada.”
Malam itu akhirnya ia membuat sesuatu yang “tidak ada” menjadi tontonan satu ballroom.
“Kenapa diam?” tanyanya.
Aku menatap wajah laki-laki yang tiga tahun lalu pernah menggenggam tanganku di ruang pemulihan dan berkata ia tidak tahu bagaimana membalas hidup yang kuselamatkan.
Sekarang tangan yang sama baru saja menamparku.
Aku memandang Raline.
Ia masih duduk di kursi utama.
Gelas di tangannya belum turun.
Baru saat itu aku mengerti bahwa persoalannya bukan lagi siapa yang dicintai Arga.
Persoalannya adalah Arga sudah memilih mempermalukanku agar ia tidak perlu merasa bersalah atas pilihannya sendiri.
Aku menurunkan tangan dari pipi.
“Arga.”
Ia mengangkat dagu.
Mungkin mengira aku akan membela diri.
Mungkin menungguku menangis.
Aku tidak melakukan keduanya.
“Kamu bebas.”
Keningnya berkerut.
Aku tidak menunggu pertanyaan berikutnya.
Aku mengambil tas dari kursi, berbalik, lalu berjalan keluar dari ballroom.
Tidak ada yang mengejarku.
Termasuk Arga.
Aku tidak terkejut.
Malam itu memang bukan tentang mempertahankan pernikahan.
Ia sudah menentukan siapa yang ingin duduk di sampingnya sebelum aku datang.
Aku hanya orang terakhir yang diberi tahu.
Aku pulang ke apartemen yang kubeli beberapa tahun sebelum menikah.
Unitnya tidak besar.
Dua kamar, dapur kecil, balkon sempit yang menghadap deretan gedung.
Tapi sertifikatnya atas namaku, cicilannya sudah lunas sebelum aku menikah, dan malam itu untuk pertama kalinya tempat tersebut terasa lebih seperti rumah daripada rumah besar yang kutinggali bersama Arga.
Aku melepas gaun, mencuci wajah, lalu berdiri lama di depan cermin kamar mandi.
Bekas tamparan masih terlihat jelas.
Aku membuka kotak perhiasan yang kubawa dari rumah.
Cincin pernikahanku tergeletak di atas lapisan beludru.
Dulu Arga memasangkannya sambil berjanji bahwa aku tidak perlu memilih antara dirinya dan hidupku sendiri.
Entah kapan kalimat itu berhenti berlaku.
Aku menggenggam cincin itu beberapa detik.
Lalu meletakkannya kembali dan menutup kotaknya.
Aku sudah cukup membuat keputusan besar dalam keadaan marah.
Ponselku berdering dari ruang tengah.
Nama Raka muncul di layar.
Asisten Arga.
Aku membiarkannya berdering sekali.
Dua kali.
Ketiga kalinya aku mengangkat.
“Dokter Nadia?”
Ia jarang memanggilku begitu sejak aku menikah.
Biasanya “Bu Arga” atau “Ibu”.
“Ada apa?”
“Pak Arga pingsan.”
Aku duduk di tepi sofa.
“Bawa ke rumah sakit.”
“Sudah. Kami di rumah sakit tempat Dokter dulu bekerja.”
Suara di seberang terdengar terburu-buru.
“Dokter Nadia, hasil CT menunjukkan ada perubahan di sekitar fragmen logam yang dulu tertinggal.”
Tanganku yang memegang ponsel menegang.
Fragmen itu.
Aku masih bisa mengingat gambar radiologinya.
Kecil.
Tidak lebih besar dari ujung kuku.
Tapi berada di tempat yang membuat beberapa milimeter terasa seperti jurang.
“Siapa yang menangani?”
“Dokter Bima dan tim bedah saraf.”
Aku mengenal nama itu.
Dokter Bima adalah senior yang dahulu mendampingiku dalam operasi pertama Arga.
“Kalau begitu dia sudah ditangani.”
Raka menarik napas.
“Dokter Bima bilang ada pembengkakan dan perdarahan kecil di sekitar lokasi lama. Posisi fragmennya ikut berubah.”
Aku berdiri.
“Berapa kesadarannya?”
“Naik turun.”
Aku memejamkan mata.
Dulu kami sudah menjelaskan kepada Arga bahwa fragmen tersebut dapat dipantau selama stabil.
Ia harus disiplin kontrol.
Menghindari benturan kepala.
Menjaga tekanan darah.
Memeriksakan diri jika muncul sakit kepala baru, gangguan keseimbangan, atau perubahan penglihatan.
Belakangan Arga beberapa kali mengeluh pusing.
Setiap kali aku menyuruhnya kontrol, jawabannya selalu sama.
“Nanti.”
Aku tidak tahu kapan “nanti” itu berubah menjadi malam ini.
“Dokter Nadia,” kata Raka pelan, “mereka bilang kasus ini sulit sekali.”
“Itu bukan hal baru.”
“Dokter Bima bilang… karena Dokter yang menangani operasi pertamanya, Dokter paling mengenal jalur dan kondisi jaringan di sekitar fragmen itu.”
Aku tidak menjawab.
“Raka, aku sudah tiga tahun tidak memegang operasi besar sebagai operator utama.”
“Saya tahu.”
“Kalau ada yang bilang hanya aku yang bisa menyelamatkannya, itu bukan cara kerja kedokteran.”
“Saya juga tahu.”
Suaranya pecah.
“Tapi tim bilang kalau kondisinya terus memburuk, mereka mungkin harus mengambil keputusan dalam waktu dekat. Mereka ingin Dokter setidaknya melihat hasil pemeriksaannya.”
Aku menatap kotak perhiasan di meja.
Beberapa jam sebelumnya Arga baru saja membuat satu ruangan penuh orang percaya aku merebutnya dari perempuan lain.
Sekarang hidupnya kembali bersinggungan dengan profesi yang kutinggalkan setelah menikah dengannya.
Ironisnya terlalu rapi sampai hampir terasa kejam.
“Aku tidak datang malam ini,” kataku.
Raka terdiam.
“Dokter…”
“Dia sudah berada di tempat yang benar. Dengarkan tim yang menangani.”
Aku menutup telepon.
Pagi berikutnya aku menghubungi bagian medis rumah sakit.
Bukan untuk menanyakan Arga.
Aku menanyakan prosedur kembali bekerja.
Surat registrasiku masih berlaku. Kredensial klinisku perlu diperbarui. Karena tiga tahun terakhir aku tetap mengikuti kegiatan ilmiah dan beberapa pelatihan, prosesnya tidak dimulai dari nol, tetapi aku tetap harus menjalani penilaian kompetensi sebelum kembali ke jadwal operasi.
Aku menyelesaikan satu tahap demi satu tahap.
Hari pertama mengenakan jas dokter lagi, tanganku sempat berhenti di depan papan nama ruang kerja.
dr. Nadia Pramesti.
Sudah lama aku tidak melihat namaku tanpa tambahan apa pun di belakangnya.
Bukan istri Arga.
Bukan nyonya direktur.
Hanya namaku.
Tiga hari setelah pesta, aku sedang membaca berkas pasien ketika ponsel bergetar.
Raka lagi.
Aku sudah mengabaikan belasan panggilannya.
Kali ini aku mengangkat.
“Dokter Nadia.”
Suaranya terdengar serak karena kurang tidur.
“Tolong datang sebentar saja.”
Aku bersandar ke kursi.
“Untuk apa?”
“Pak Arga sadar sebentar tadi. Dia meminta bertemu Dokter.”
Aku memandang keluar jendela.
Langit Surabaya pucat menjelang sore.
“Bukankah dia sudah ditemani Raline?”
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Raka tidak langsung menjawab.
Aku mendengar suara roda troli dari ujung sana dan seseorang memanggil nama pasien.
Akhirnya ia berkata, “Bu Raline sudah pulang sejak kemarin.”
Aku menatap berkas di meja.
“Kenapa?”
“Saya tidak tahu persis. Mereka sempat bicara di kamar pasien. Setelah itu Bu Raline keluar.”
“Itu urusan mereka.”
“Dokter Nadia…”
“Apa kondisi Arga memburuk?”
“Iya.”
Nada suaraku berubah.
Bukan karena aku kembali menjadi istrinya.
Karena aku dokter.
“Apa kata Dokter Bima?”
“Mereka sedang mempertimbangkan operasi.”
“Kalau begitu ikuti keputusan tim.”
Raka menarik napas panjang.
“Pak Arga cuma ingin bertemu Dokter.”
Aku diam tiga detik.
Lalu kukatakan hal yang seharusnya sudah jelas sejak pesta itu.
“Kalau yang dia butuhkan dokter, minta Dokter Bima menghubungiku lewat jalur profesional. Kalau yang dia butuhkan perempuan yang dia cintai, cari Raline.”
Aku menutup telepon.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian telepon internal di mejaku berdering.
Dokter Bima.
“Nadia, ada waktu?”
“Ada.”
“Datang ke ruang diskusi radiologi.”
Aku pergi.
Tidak ada keluarga Arga di sana.
Hanya Dokter Bima, seorang dokter anestesi, seorang ahli radiologi, dan dua dokter bedah saraf lain.
Itu membuatku lebih tenang.
Dokter Bima menyalakan layar.
“Lupakan dulu bahwa pasien ini suamimu.”
“Sedang kuproses untuk jadi mantan suami.”
Ia menatapku sebentar, lalu mengangguk.
“Baik. Berarti lebih mudah. Lihat ini.”
Gambar pertama adalah pemeriksaan tiga tahun lalu.
Gambar kedua dari malam setelah pesta.
Gambar ketiga pagi itu.
Perubahannya kecil bagi mata orang awam.
Bagi kami, cukup untuk membuat ruangan terasa lebih sunyi.
Ada pembengkakan baru.
Tekanan di jaringan sekitar meningkat.
Fragmen lama tidak lagi berada persis di posisi yang sama.
“Bukan sekadar benda logamnya,” kata Dokter Bima. “Daerah sekitarnya yang menjadi masalah.”
“Ada defisit?”
“Intermiten. Tangan kanan melemah. Bicara kadang tidak jelas. Kesadarannya turun naik.”
Aku menatap layar.
“Kenapa belum dioperasi?”
Dokter Bima tidak tersinggung.
“Karena aksesnya sulit. Dan jalur dari operasi pertama adalah satu-satunya jalur yang paling kita pahami.”
Aku tahu apa maksudnya.
Operasi pertama dulu dilakukan saat kondisi Arga jauh lebih buruk.
Akulah orang yang membuat keputusan mikro di lapangan operasi itu.
Aku tahu daerah mana yang pernah bengkak, bagian mana yang saat itu sengaja tidak disentuh, dan perubahan anatomi yang tidak sepenuhnya bisa ditangkap oleh gambar.
Tetap saja, aku tidak bisa begitu saja masuk ke ruang operasi setelah tiga tahun menjauh dari kasus besar.
“Aku tidak akan menjadi operator tunggal.”
“Tidak ada yang meminta.”
“Aku ingin ada dua operator senior. Navigasi lengkap. Dan penilaian kompetensi formal sebelum namaku masuk tim.”
Dokter Bima mengangguk.
“Itu juga rencana saya.”
Aku menatapnya.
“Jangan masukkan urusan keluarga ke keputusan medis.”
“Tidak akan.”
“Kalau keluarganya menekan…”
“Saya yang keluarkan mereka dari ruang diskusi.”
Baru saat itu aku menarik kursi dan duduk lebih dekat ke layar.
Kami membahasnya hampir satu jam.
Ketika selesai, aku belum mengatakan akan mengoperasi.
Aku hanya sepakat ikut menilai kasus.
Saat hendak keluar, Dokter Bima memanggil.
“Nadia.”
Aku berhenti.
“Kamu tidak punya kewajiban menyelamatkan pernikahanmu.”
Aku menunggu.
“Tapi kalau setelah menilai semuanya kamu percaya kehadiranmu meningkatkan peluang pasien, keputusan itu harus kamu buat sebagai dokter. Bukan sebagai istri yang merasa berutang.”
Aku mengangguk.
Malamnya Arga mengalami penurunan kesadaran lagi.
Tim memutuskan operasi tidak boleh ditunda lama.
Aku kembali ke rumah sakit.
Bukan ke kamar VIP.
Ke ruang persiapan operasi.
Sebelum keputusan final, Dokter Bima mengatakan Arga sedang cukup sadar untuk menerima penjelasan singkat dan menandatangani beberapa dokumen.
Aku masuk bersama seorang dokter lain.
Wajah Arga pucat.
Tidak ada jas mahal.
Tidak ada ballroom.
Tidak ada tamu.
Hanya pasien dengan gelang identitas di pergelangan tangan.
Matanya bergerak ke arahku.
“Nadia.”
Aku berdiri di sisi tempat tidur.
“Aku ada di sini sebagai bagian dari tim medis.”
Ia menelan ludah.
“Aku tahu.”
Dokter Bima menjelaskan rencana operasi, risiko, dan pilihan yang tersedia.
Arga mendengarkan.
Tangannya sempat gemetar ketika menandatangani persetujuan.
Setelah dokter lain keluar, ia memanggilku lagi.
“Kalau aku selamat…”
Aku menatapnya.
“…kamu akan pulang?”
Untuk beberapa detik aku hanya mendengar bunyi monitor.
Lalu kujawab dengan suara yang sama tenangnya seperti ketika ia pernah menanyakan apakah aku mau menikah dengannya.
“Tidak.”
Arga menutup mata.
Aku mengira ia akan marah.
Sebaliknya ia berkata pelan, “Baik.”
Aku berbalik menuju pintu.
Di belakangku, suaranya terdengar lagi.
“Kalau begitu selamatkan aku karena kamu dokter. Jangan karena aku suamimu.”
Untuk pertama kalinya sejak pesta itu, Arga mengatakan sesuatu yang tidak membuatku ingin meninggalkan ruangan lebih cepat.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Operasi dimulai sebelum tengah malam.
Aku tidak masuk sebagai seseorang yang datang untuk membuktikan cinta.
Aku masuk setelah penilaian kompetensi, rapat tim, dan pembagian peran yang jelas.
Dokter Bima menjadi operator senior utama.
Aku berada di sisi lain meja operasi karena pengalamanku pada operasi pertama memberi kami peta yang tidak sepenuhnya tercatat di layar.
Tim lain mengawasi fungsi saraf dan navigasi.
Tidak ada satu orang yang “menyelamatkan” Arga.
Ada ruangan penuh orang yang masing-masing bertanggung jawab pada bagiannya.
Selama beberapa jam kami bekerja perlahan.
Jalur operasi lama memang membantu, tetapi jaringan di sekitarnya sudah berubah.
Kami berhenti beberapa kali untuk memeriksa posisi.
Fragmen itu akhirnya dapat dikeluarkan bersama penanganan pada area yang mengalami masalah.
Ketika operasi selesai, bahuku terasa kaku.
Dokter Bima melepas sarung tangannya.
“Sekarang kita tunggu.”
Aku mengangguk.
Raka menunggu di luar bersama ibu Arga dan beberapa anggota keluarga.
Saat aku keluar, ibu Arga langsung berdiri.
“Nadia.”
Aku sudah lama memanggilnya Ibu.
Malam itu aku tetap melakukannya karena hormat tidak harus ikut mati bersama pernikahan.
“Operasinya selesai, Bu. Dokter Bima akan menjelaskan kondisi dan pemantauan berikutnya.”
Ia meraih tanganku.
“Nadia, terima kasih.”
Aku menarik tanganku perlahan.
“Terima kasih untuk seluruh tim. Saya hanya salah satu orang di dalam.”
Wajahnya berubah.
Mungkin ia baru memahami bahwa aku tidak sedang kembali mengambil posisi sebagai menantu.
“Kamu tidak mau menunggu Arga sadar?”
“Aku ada jadwal pagi.”
“Setelah semua ini?”
Aku menatapnya.
“Justru setelah semua ini.”
Aku pergi ke ruang ganti.
Di depan loker, tanganku masih sedikit gemetar setelah operasi panjang.
Bukan karena Arga.
Karena sudah lama sekali aku tidak menjalani malam seperti itu.
Aku melepas penutup kepala, mencuci wajah, lalu memandang diriku di cermin.
Ada garis lelah di bawah mata.
Rambut berantakan.
Punggung pegal.
Aku tersenyum kecil.
Aku mengenali perempuan itu.
Dua hari kemudian Arga sadar lebih stabil.
Tidak sempurna.
Tangan kanannya masih lemah dan ia membutuhkan rehabilitasi.
Dokter menjelaskan bahwa pemulihan tidak bisa dipastikan hanya dalam beberapa hari.
Raka mengirim satu pesan kepadaku.
Pak Arga sadar penuh. Kondisinya membaik. Terima kasih, Dok.
Aku membalas:
Baik. Ikuti program rehabilitasi dan kontrol tim.
Itu saja.
Seminggu kemudian aku membuat janji dengan advokat untuk membicarakan perceraian.
Aku tidak berniat mengambil harta Arga.
Aku juga tidak mau menyerahkan hak yang memang menjadi milikku hanya karena ingin terlihat murah hati.
Apartemen tetap milikku.
Tabungan pribadiku tetap milikku.
Untuk rekening yang selama menikah digunakan bersama, aku meminta seluruh catatan diperiksa dan kemudian dipisahkan secara benar.
Rumah tempat kami tinggal selama tiga tahun merupakan aset Arga dan keluarganya.
Aku tidak memperebutkannya.
Beberapa barang pribadiku masih ada di sana.
Raka membantu mengatur pengambilan ketika Arga belum pulang dari rumah sakit.
Aku datang ditemani kakakku.
Tidak ada adegan besar.
Tidak ada orang melempar pakaian dari balkon.
Aku masuk, mengambil dokumen, buku, beberapa pakaian, dan alat-alat pribadi.
Di meja rias masih ada bingkai foto pernikahan kami.
Aku tidak menyentuhnya.
Kakakku bertanya, “Mau dibawa?”
Aku menggeleng.
“Itu rumahnya.”
“Foto itu juga ada kamu.”
“Biar.”
Aku menutup koper.
Saat hampir selesai, ibu Arga datang.
Ia berdiri di pintu kamar cukup lama.
“Kamu benar-benar akan pergi?”
Aku menutup resleting koper.
“Aku sudah pergi sejak malam pesta itu.”
“Nadia, Arga hampir meninggal.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu yang menyelamatkannya.”
“Tim dokter yang menangani.”
Ia menghela napas.
“Kalian sudah melalui sesuatu yang bahkan banyak pasangan tidak akan sanggup lewati.”
Aku berdiri.
“Bu, melewati sesuatu bersama tidak selalu berarti harus tetap hidup bersama setelahnya.”
Ia memandangku dengan mata merah.
“Arga melakukan kesalahan besar.”
“Betul.”
“Dia menyesal.”
“Mungkin.”
“Nadia…”
Aku mengangkat koper dari tempat tidur.
“Bu, kalau Arga menyesal karena saya pergi, itu berbeda dengan menyesal karena apa yang dia lakukan.”
Ia tidak langsung menjawab.
Aku melanjutkan, lebih pelan.
“Saya dipukul di depan orang banyak. Lalu dia meminta saya mengakui sesuatu yang tidak pernah saya lakukan. Dia tidak kehilangan kendali selama satu detik. Dia mengatur tempat duduk. Dia membiarkan Raline berada di kursi saya. Dia mengundang orang. Itu bukan pertengkaran spontan.”
Ibu Arga menunduk.
“Aku tidak tahu dia akan berbuat seperti itu.”
“Aku percaya Ibu tidak tahu.”
Aku tidak perlu membuatnya ikut menanggung kesalahan anaknya.
“Tapi saya juga tidak akan kembali hanya karena sekarang Arga sakit.”
Hari itu aku meninggalkan rumah dengan dua koper dan satu kotak dokumen.
Tidak ada rasa kemenangan.
Hanya kelelahan.
Ternyata membuat batas yang jelas tidak selalu terasa gagah.
Kadang hanya terasa seperti mengangkat koper terlalu berat sambil berusaha tidak kembali ke kamar untuk mengambil kenangan yang sebenarnya tidak lagi dibutuhkan.
Tiga minggu setelah operasi, Arga meminta bertemu.
Aku menolak bertemu berdua.
Kami akhirnya duduk di ruang konsultasi kantor advokat.
Arga datang dengan langkah pelan.
Tangan kanannya belum sepenuhnya pulih.
Raka menemaninya sampai pintu, lalu keluar.
Aku duduk di seberang meja.
Arga menatapku lama.
Bekas operasi tertutup rambut pendek yang mulai tumbuh.
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana.”
“Mulai dari hal yang perlu dibicarakan.”
Ia mengangguk.
“Aku setuju proses perceraiannya berjalan.”
Aku tidak menyangka kalimat pertama akan semudah itu.
“Baik.”
“Aku juga tidak akan mempermasalahkan apartemenmu atau barang pribadimu.”
“Apartemen itu memang milikku sebelum menikah.”
“Aku tahu.”
Ada sesuatu dalam caranya berkata “aku tahu” yang membuatku teringat pesta.
Aku mengeluarkan satu map.
“Aku ingin rekening bersama ditutup setelah kewajiban rutin terakhir selesai. Ini daftar pengeluaran yang selama ini lewat sana.”
Arga melihatnya.
“Boleh.”
Kami membahas hal-hal praktis selama hampir setengah jam.
Justru ketika urusan praktis selesai, ia tidak berdiri.
“Nadia.”
Aku menunggu.
“Aku mau bicara soal Raline.”
“Aku tidak perlu tahu apa yang terjadi antara kalian sekarang.”
“Bukan itu.”
Ia menatap meja.
“Aku mau bicara soal apa yang kulakukan kepadamu.”
Aku tidak menjawab.
Arga mengembuskan napas.
“Waktu Raline kembali, dia bilang satu hal yang terus terngiang di kepalaku.”
“Apa?”
“Dia bilang kalau setelah kecelakaan aku tidak menikahimu, mungkin kami masih punya kesempatan.”
Aku hampir tertawa, tetapi tidak ada yang lucu.
“Kalian sudah putus sebelum aku dan kamu mulai dekat.”
“Aku tahu.”
Aku menatapnya.
Kalimat itu lebih tajam daripada permintaan maaf apa pun.
“Kamu tahu?”
Arga mengangguk.
“Kami sudah putus.”
“Dan malam pesta itu kamu menyuruhku mengaku sebagai orang ketiga.”
“Aku tahu.”
Aku menutup map di depanku.
“Kenapa?”
Ia lama menjawab.
“Karena lebih mudah marah kepadamu.”
Aku tidak bergerak.
“Raline pergi ketika aku sedang dalam pemulihan. Setelah itu kamu selalu ada. Waktu itu aku mengira aku bisa memulai dari awal.”
“Lalu?”
“Ketika dia kembali, aku mulai bertanya-tanya bagaimana kalau dulu kami tidak benar-benar selesai.”
“Kalian memang selesai.”
“Iya.”
“Dan kamu tahu itu.”
“Iya.”
Aku bersandar.
“Aku ingin mendengarnya dari mulutmu sekali lagi. Apakah aku merebutmu dari Raline?”
Arga menatapku.
“Tidak.”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Aku tidak merasakan kelegaan.
Ternyata ketika sebuah fitnah akhirnya dicabut, rasa sakitnya tidak otomatis hilang.
“Jadi kamu mempermalukanku di depan satu ruangan penuh orang dengan kebohongan.”
“Aku marah.”
“Itu bukan jawaban.”
“Aku juga malu.”
“Karena apa?”
Ia menatap tangan kanannya yang masih sedikit kaku.
“Karena setiap kali melihatmu, aku selalu ingat aku berutang hidup padamu.”
Aku mengerutkan kening.
“Aku tidak pernah meminta pembayaran untuk itu.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Sepertinya kamu tidak tahu.”
Arga menutup mata sebentar.
“Aku membenci perasaan berutang.”
“Aku dokter, Arga. Menyelamatkanmu adalah pekerjaanku.”
“Tapi kemudian kita menikah. Kamu meninggalkan banyak hal. Setiap kali melihatmu mengalah, bukannya berterima kasih, aku malah merasa seolah aku semakin berutang.”
Aku mulai memahami, tetapi memahami tidak sama dengan membenarkan.
“Jadi ketika Raline kembali, kamu mengubah ceritanya.”
Arga mengangguk pelan.
“Kalau kamu adalah orang ketiga, berarti aku tidak bersalah karena masih memikirkan Raline.”
“Dan kalau aku perempuan licik yang mengambilmu saat kamu lemah, kamu tidak perlu mengakui bahwa kamu sendiri yang datang kepadaku, mengejarku, lalu memintaku menikah.”
Ia menunduk.
“Benar.”
Aku diam cukup lama.
Ini bukan pengakuan jahat dari seorang penjahat.
Justru jauh lebih menyedihkan.
Arga adalah laki-laki dewasa yang memilih sebuah kebohongan karena kebohongan itu membuatnya lebih nyaman dengan dirinya sendiri.
“Apakah Raline menyuruhmu menamparku?”
“Tidak.”
“Menyuruhmu mempermalukanku?”
“Tidak.”
“Apakah dia tahu kamu akan melakukan itu?”
“Tidak.”
Aku sedikit terkejut.
Arga melanjutkan.
“Dia tahu aku berniat membuat pernyataan tentang hubungan kami. Tapi dia bilang dia tidak tahu aku akan memukulmu.”
“Lalu kenapa dia tetap duduk di sana?”
Arga menggeleng.
“Kamu harus tanya dia kalau ingin tahu.”
“Aku tidak ingin tahu.”
Dan aku sungguh tidak ingin.
Raline bukan suamiku.
Raline tidak pernah berjanji apa pun kepadaku.
Aku bisa marah padanya karena ikut menikmati penghinaan itu, tetapi orang yang punya kewajiban menjaga pernikahan kami adalah Arga dan aku.
Bukan perempuan lain.
Arga menatapku.
“Aku minta maaf.”
“Aku dengar.”
“Aku benar-benar…”
Aku mengangkat tangan.
“Jangan membuat permintaan maafmu menjadi pekerjaan baru untukku.”
Ia berhenti.
“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan agar kamu percaya aku menyesal.”
“Kamu tidak perlu membuatku percaya.”
Wajahnya berubah.
“Apa?”
“Kalau kamu benar-benar menyesal, jalani akibatnya. Rehabilitasi. Bereskan proses perceraian. Jangan menjelek-jelekkan aku ke keluarga atau rekan bisnis. Kalau ada orang yang bertanya tentang malam itu, katakan bahwa tuduhanmu tidak benar.”
Ia mengangguk.
“Aku akan lakukan.”
“Dan jangan datang ke rumah sakit mencariku tanpa alasan medis.”
“Nadia…”
“Aku kembali bekerja dengan susah payah. Aku tidak mau rumah sakit menjadi tempat kita menyelesaikan urusan pribadi.”
Ia kembali mengangguk.
Kami berdiri.
Sebelum keluar, Arga berkata, “Kalau bukan karena operasi itu, mungkin aku tidak akan pernah mengerti apa yang sudah kulakukan.”
Aku menatapnya.
“Itulah masalahnya, Arga.”
Ia menunggu.
“Seharusnya aku tidak perlu hampir kehilangan suami supaya suamiku sadar aku manusia.”
Aku berjalan keluar lebih dulu.
Beberapa hari kemudian sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Raline menghubungiku.
Bukan melalui akun baru atau nomor asing.
Nomornya sudah ada di ponselku sejak bertahun-tahun lalu, meskipun kami hampir tidak pernah bicara.
Pesannya pendek.
Aku ingin meminta maaf. Kalau kamu tidak mau bertemu, aku mengerti.
Aku menatap layar cukup lama.
Lalu kubalas:
Kita tidak perlu bertemu.
Beberapa menit kemudian ia mengirim pesan lain.
Aku tidak tahu Arga akan memukulmu. Aku tetap salah karena duduk di sana dan membiarkan semuanya terjadi.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Ada masa ketika aku mungkin akan bertanya seratus hal.
Sejak kapan mereka dekat lagi.
Siapa menghubungi siapa.
Apa Arga pernah berjanji akan meninggalkanku.
Berapa kali mereka bertemu.
Tapi semua jawaban itu tidak akan mengubah keputusan utamaku.
Aku menulis:
Aku tidak akan membahas pernikahanku denganmu. Tapi terima kasih sudah mengakui bagianmu.
Raline membalas:
Aku mengerti.
Percakapan selesai.
Belakangan aku mengetahui dari Raka, tanpa pernah memintanya, bahwa Raline dan Arga tidak melanjutkan hubungan mereka seperti yang dibayangkan orang.
Aku memotong ketika Raka mulai menjelaskan.
“Aku tidak perlu tahu.”
Ia terdiam.
“Maaf, Dok.”
“Tidak apa-apa. Tapi mulai sekarang kalau menghubungiku, cukup soal pekerjaan atau hal administratif yang memang perlu.”
“Baik.”
Itu salah satu perubahan kecil yang paling sulit.
Berhenti mengumpulkan informasi tentang seseorang yang pernah menjadi pusat hidup kita.
Ada bagian dari diriku yang masih ingin tahu Arga sedang bersama siapa, apakah ia menyesal setiap malam, apakah Raline pergi karena merasa bersalah, apakah keluarganya menyalahkanku.
Tapi rasa ingin tahu bukan alasan untuk tetap terikat.
Di rumah sakit, hidup bergerak lebih cepat.
Aku menjalani asesmen tambahan sebelum kembali melakukan operasi secara rutin.
Beberapa kasus pertama tidak rumit.
Dokter Bima sengaja menempatkanku bersama tim senior.
Ia tidak pernah memperlakukanku seperti orang yang harus membuktikan sesuatu dalam sehari.
“Keahlian itu kembali lewat disiplin,” katanya. “Bukan lewat keberanian satu malam.”
Aku menyukai kalimat itu.
Berlaku untuk banyak hal.
Dua bulan setelah operasi Arga, aku menjadi operator pendamping untuk sebuah kasus yang sudah direncanakan sejak lama.
Saat keluar dari ruang operasi, seorang residen muda menyerahkan tablet berisi catatan pascaoperasi.
“Dok, besok jadwal rapat jam tujuh.”
Aku menerima tablet itu.
“Baik.”
Tidak ada yang bertanya siapa suamiku.
Tidak ada yang peduli meja mana yang kududuki di pesta perusahaan.
Mereka hanya ingin tahu apakah aku sudah membaca hasil laboratorium dan apakah rencana pasien berikutnya sudah jelas.
Ternyata ada ketenangan besar dalam dinilai berdasarkan pekerjaan sendiri.
Proses perceraian kami tidak selesai dalam satu minggu.
Ada jadwal, dokumen, dan beberapa pertemuan.
Kami tidak mengubahnya menjadi perang.
Arga menepati satu hal.
Ketika beberapa kenalan yang hadir di pesta mulai menyebarkan cerita bahwa aku memang merebutnya dari Raline, Arga mengirim klarifikasi kepada orang-orang yang relevan.
Bukan unggahan panjang di media sosial.
Bukan drama publik.
Ia hanya mengatakan bahwa tuduhan yang ia lontarkan malam itu tidak benar dan bahwa ia bertanggung jawab atas tindakannya.
Raka menunjukkan pesan itu kepadaku hanya karena namaku disebut.
Aku membacanya sekali.
Lalu berkata, “Cukup.”
Ibu Arga beberapa kali menghubungiku.
Awalnya ia masih mencoba membujuk.
Kemudian perlahan berhenti.
Suatu sore ia datang ke rumah sakit untuk kontrol kerabatnya dan kebetulan melihatku di kantin.
Ia menghampiri.
“Kamu sehat?”
“Sehat, Bu.”
“Arga juga semakin baik.”
“Syukurlah.”
Ia memegang tasnya dengan kedua tangan.
“Dia mulai bisa bekerja beberapa jam sehari.”
“Bagus.”
“Nadia…”
Aku menunggu.
“Saya dulu ikut meminta kamu mengurangi pekerjaan setelah menikah.”
Aku tidak menyangka ia akan membahas itu.
“Saya pikir saya sedang membantu rumah tangga kalian.”
“Aku tahu.”
“Sekarang saya pikir mungkin saya terlalu banyak ikut menentukan.”
Aku tidak mengatakan ia sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah.
Hidup jarang sesederhana itu.
“Aku juga yang menyetujui banyak hal, Bu. Tidak semuanya kesalahan orang lain.”
Ia menatapku.
“Kamu masih mau memanggil saya Ibu?”
Aku tersenyum tipis.
“Selama kita masih saling menghormati, kenapa tidak?”
Ia mengangguk.
Kami berpisah tanpa pelukan.
Aneh, tetapi rasanya lebih jujur daripada banyak percakapan kami ketika aku masih menjadi menantunya.
Enam bulan setelah malam pesta, perceraian kami akhirnya selesai.
Hari itu aku tidak merayakannya.
Aku tetap bekerja.
Sore harinya seorang petugas mengantar amplop ke ruanganku.
Tidak ada hadiah.
Tidak ada bunga.
Hanya satu lembar surat dari Arga.
Aku hampir tidak membukanya.
Akhirnya kubaca.
Isinya tidak panjang.
Ia menulis bahwa rehabilitasinya masih berjalan.
Tangan kanannya sudah jauh membaik tetapi belum kembali sepenuhnya.
Ia mulai mengikuti konseling karena selama pemulihan ia menyadari banyak keputusan buruknya tidak berasal dari cinta kepada Raline, melainkan dari kebiasaannya menghindari rasa bersalah dan tanggung jawab.
Ia tidak meminta aku kembali.
Tidak mengatakan kami ditakdirkan bersama.
Tidak meminta kesempatan kedua.
Pada bagian terakhir ia menulis:
Aku pernah mengira kamu menyelamatkan hidupku dua kali. Sekarang aku sadar yang pertama memang benar. Yang kedua tidak. Operasi kedua menyelamatkan tubuhku, tetapi hidup setelah itu tetap harus kubenahi sendiri.
Aku melipat suratnya.
Untuk pertama kalinya, permintaan maaf Arga tidak terasa seperti pintu yang harus kubuka.
Hanya pengakuan bahwa sebuah pintu memang sudah tertutup.
Malam itu aku pulang agak terlambat.
Apartemenku tidak berubah menjadi tempat mewah.
Dapur masih kecil.
Lampu balkon masih kadang berkedip kalau saklarnya ditekan terlalu pelan.
Di meja makan ada tumpukan jurnal medis dan satu cangkir yang belum sempat kucuci pagi tadi.
Aku membuka kotak perhiasan dari lemari.
Cincin pernikahan masih ada di sana.
Selama berbulan-bulan aku tidak menyentuhnya.
Aku memasukkannya ke amplop kecil bersama salinan dokumen perceraian, lalu menyimpan keduanya di bagian belakang laci.
Bukan untuk dikenang setiap hari.
Juga bukan untuk dibuang dengan marah.
Itu pernah menjadi bagian hidupku.
Sekarang tidak lagi memegang kendali atas apa pun.
Keesokan paginya aku tiba di rumah sakit sebelum pukul tujuh.
Di papan jadwal operasi, namaku tercetak sebagai salah satu operator untuk kasus pertama.
dr. Nadia Pramesti.
Aku membaca nama itu sebentar.
Kemudian mengenakan kartu identitas, mendorong pintu ruang persiapan, dan masuk.
Pintunya menutup sendiri di belakangku.
Menurutmu, apakah Nadia tepat menyelamatkan Arga sebagai dokter tetapi tetap mengakhiri pernikahan mereka?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
