Suamiku Menyembunyikan Perempuan Lain di Bagasi Mobil Selama Perjalanan Tahun Baru, Lalu Aku Membukanya di Depan Keluarganya

Avatar penulis
Cerita 01
26 menit baca 728 tayangan
Suamiku Menyembunyikan Perempuan Lain di Bagasi Mobil Selama Perjalanan Tahun Baru, Lalu Aku Membukanya di Depan Keluarganya
Indeks

Suamiku Menyembunyikan Perempuan Lain di Bagasi Mobil Selama Perjalanan Tahun Baru, Lalu Aku Membukanya di Depan Keluarganya

Bagian 1

Begitu duduk di kursi penumpang, aku mendengar suara pelan dari bagasi belakang mobil kami.

Bukan suara kardus bergeser.

Seseorang bergerak.

Dimas langsung menyalakan musik dan menaikkan volumenya sampai percakapan biasa pun nyaris tak mungkin dilakukan.

Aku menoleh sebentar kepadanya.

Tangannya tetap memegang kemudi, tetapi ruas jarinya memutih.

Aku memasang sabuk pengaman.

Suamiku Menyembunyikan Perempuan Lain di Bagasi Mobil Selama Perjalanan Tahun Baru, Lalu Aku Membukanya di Depan Keluarganya

“Pelan-pelan saja. Oleh-oleh di belakang banyak yang mudah pecah.”

Jari Dimas bergerak sedikit di atas kemudi.

“Sudah kuatur semua. Aman.”

“Bagus.”

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi.

Mobil keluarga kami melaju keluar dari Bandung menuju kampung orang tua Dimas di Jawa Tengah untuk berkumpul menjelang Tahun Baru. Biasanya perjalanan itu kujalani dengan membawa dua hal: makanan yang dipesan ibunya dan perasaan tidak enak karena tahu akan ada permintaan baru sebelum kami pulang.

Tahun itu aku membawa sesuatu yang berbeda.

Aku membawa bukti.

Kami sudah menikah tiga tahun, tetapi aku mengenal Dimas hampir lima tahun. Selama itu pula aku menyimpan banyak sekali transaksi yang dulu kupandang sebagai bagian dari membantu keluarga.

Rp7 juta untuk memperbaiki atap rumah ibunya.

Rp12 juta untuk uang muka sepeda motor adiknya karena katanya dibutuhkan untuk bekerja.

Rp18 juta untuk biaya rumah sakit yang kemudian baru kuketahui sebagian sudah ditanggung asuransi.

Rp35 juta untuk renovasi dapur.

Belum lagi transfer kecil Rp1 juta, Rp2 juta, Rp4 juta yang selalu disertai alasan serupa.

“Nanti diganti.”

“Cuma kali ini.”

“Ibu tidak enak minta ke anak lain.”

“Kita kan keluarga.”

Aku memiliki usaha katering kantor yang kubangun sebelum menikah dengan Dimas. Penghasilannya tidak selalu sama setiap bulan, tetapi cukup stabil.

Itulah masalahnya.

Di mata keluarga Dimas, “cukup stabil” perlahan berubah menjadi “Ratih pasti punya uang”.

Awalnya aku tidak keberatan.

Aku bahkan pernah membela mereka ketika kakakku, Arif, mengatakan aku terlalu gampang mengeluarkan uang.

“Mereka keluarga Dimas. Sama saja keluargaku.”

Arif hanya berkata, “Membantu boleh. Tapi jangan sampai semua masalah mereka berubah jadi tagihan buat kamu.”

Saat itu aku tersinggung.

Sekarang aku sadar dia tidak salah.

Mobil memasuki tol.

Aku membuka ponsel tanpa suara.

Folder yang kususun sejak beberapa minggu terakhir sudah lengkap.

Mutasi rekening.

Bukti transfer.

Tangkapan layar percakapan.

Nota pembayaran hotel yang tidak pernah diinapi bersamaku.

Pesan dari Dimas kepada seorang perempuan bernama Nadia Pramesti.

Namanya bukan nama baru.

Aku pertama kali mendengarnya hampir setahun lalu ketika Dimas berkata Nadia adalah rekan kerja baru yang sering bertanya soal proyek.

Lalu nama itu muncul terlalu sering.

Di restoran.

Di riwayat pemesanan.

Di transfer.

Di percakapan yang menurut Dimas “cuma urusan kantor”.

Aku sempat mempercayainya.

Sampai suatu malam Dimas tertidur di sofa dan notifikasi muncul di layar tabletnya yang tersambung ke akun pesan miliknya.

Aku tidak membaca seluruh percakapan.

Aku hanya perlu membaca beberapa baris.

Nadia: “Kapan kamu benar-benar bicara sama istrimu?”

Dimas: “Setelah Tahun Baru.”

Nadia: “Ibumu serius tidak masalah?”

Dimas: “Ibu sudah tahu. Dia bilang aku jangan buru-buru, Ratih masih harus bantu urusan rumah dulu.”

Aku ingat duduk hampir satu jam tanpa bergerak.

Bukan karena kalimat tentang Nadia yang paling membuatku terdiam.

Melainkan bagian terakhir.

Ratih masih harus bantu urusan rumah dulu.

Sejak malam itu aku berhenti bertanya dan mulai memeriksa apa yang memang berhak kuperiksa.

Rekening bersama kami.

Transfer dari rekening itu ke rekening Bu Sulastri, ibu Dimas.

Permintaan uang yang dikirim kepadaku langsung.

Percakapan keluarga yang pernah dikirim Dimas ke ponselku karena ingin aku melakukan transfer.

Dalam lima tahun, jumlahnya jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.

Sebagian memang bantuan yang kuberikan dengan sadar.

Tetapi sebagian lain berasal dari rekening bersama tanpa pembicaraan denganku.

Dan tiga bulan terakhir jumlahnya melonjak.

Di dalam mobil, Dimas beberapa kali melirikku.

Aku tetap menatap layar.

Folder terakhir kuberi nama sederhana: TAHUN BARU.

Di dalamnya ada salinan seluruh bukti yang menurutku paling penting.

Aku mengirimkan salinannya ke alamat emailku sendiri dan ke Arif.

Kemudian kusimpan satu salinan lagi di penyimpanan daring dengan kata sandi baru.

Dari bagasi terdengar bunyi kecil.

Seperti lutut atau siku menyentuh sisi interior.

Dimas langsung menaikkan musik satu tingkat lagi.

Aku memandang jalan.

Mobil kami adalah MPV dengan ruang bagasi yang menyatu dengan kabin di belakang baris ketiga, jadi seseorang bisa bersembunyi di sana tanpa benar-benar terkurung di ruang tertutup seperti bagasi sedan.

Tetap saja, aku tidak pernah membayangkan suamiku akan membawa perempuan lain sejauh itu sambil mendudukkanku di kursi depan.

Aku hampir ingin tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena rupanya setelah bertahun-tahun aku menganggap diriku terlalu naif, Dimas ternyata lebih naif lagi.

Dia benar-benar mengira musik keras cukup untuk membuatku tidak mendengar.

Lima jam kemudian kami keluar dari tol dan memasuki jalan menuju desa tempat Bu Sulastri tinggal.

Rumah dua lantai itu terlihat dari ujung jalan.

Aku mengenalnya dengan baik.

Aku ikut membayar sebagian gentingnya.

Sebagian lantai atasnya.

Kulkas besar di dapurnya.

Pompa airnya.

Bahkan pagar depan yang tahun lalu dipuji semua tetangga sebagai hasil kerja keras Dimas.

Bu Sulastri sudah berdiri di depan rumah ketika mobil berhenti.

Begitu melihat kami, wajahnya langsung cerah.

“Dimas!”

Dimas turun cepat dan memasang senyum yang sudah sangat kukenal.

“Ibu sudah nunggu lama?”

“Dari tadi. Capek tidak? Bawa apa saja tahun ini?”

Matanya tidak melihatku lebih dulu.

Matanya melihat bagian belakang mobil.

Dimas menjawab, “Banyak, Bu.”

Aku masih duduk di kursi penumpang.

Dari jendela, aku melihat ruang tamu rumah itu penuh orang. Paman, bibi, sepupu, beberapa keponakan, juga orang-orang yang hanya kutemui setahun sekali tetapi selalu tahu persis berapa omzet usahaku menurut versi Bu Sulastri.

Dimas membukakan pintuku.

“Ratih, ayo turun.”

Nada suaranya terlalu lembut.

Aku mengangkat wajah.

“Kenapa?”

Dia terlihat bingung.

“Ya masuk. Semua orang nunggu.”

Aku tersenyum.

Dimas justru menelan ludah.

Aku turun.

Bu Sulastri mendekat, lalu berkata, “Nanti barangnya diturunkan saja setelah kalian makan. Dimas pasti capek.”

Aku melihatnya.

“Tidak apa-apa, Bu. Sebentar lagi kita cek bersama.”

Wajahnya berubah sepersekian detik.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi aku melihatnya.

Aku tidak masuk.

Aku berdiri tepat di teras dan mengeluarkan ponsel.

Telepon pertama kutujukan kepada Pak Harun, mantan bendahara desa yang sudah lama dikenal keluarga Dimas dan sering diminta menjadi saksi kalau ada urusan keluarga atau transaksi tanah.

“Pak Harun, selamat Tahun Baru. Maaf mengganggu. Saya Ratih, istrinya Dimas.”

“Iya, Ratih. Kalian sudah sampai?”

“Sudah. Saya mau minta bantuan Bapak datang sebentar. Ada masalah dengan barang yang kami bawa. Saya ingin ada orang netral yang melihat langsung.”

Pak Harun sempat diam.

“Masalah serius?”

“Lebih baik Bapak lihat sendiri.”

Dia mengatakan akan datang.

Telepon kedua untuk Arif.

“Mas, aku sudah sampai.”

“Kamu aman?”

“Aman. Tolong datang sekarang. Bawa dua orang yang tadi sudah kita bicarakan.”

“Dimas tahu?”

“Sebentar lagi.”

Aku menutup sambungan.

Dimas berdiri beberapa langkah dariku. Wajahnya mulai pucat.

“Ratih, kamu ngapain?”

Aku mengangkat satu jari, meminta dia menunggu.

Telepon ketiga adalah nomor yang sudah kusimpan berbulan-bulan tetapi belum pernah kuhubungi.

Pak Bowo Pramesti.

Ayah Nadia.

Aku mendapatkan nomor itu dari kartu nama yang pernah ditinggalkan di acara kantor Dimas. Waktu itu Pak Bowo datang menjemput putrinya dan Dimas memperkenalkan kami sebentar.

Sekarang dia mengangkat pada dering kedua.

“Halo?”

“Selamat Tahun Baru, Pak Bowo. Saya Ratih.”

Ada jeda.

“Ratih… istrinya Dimas?”

“Iya.”

Dimas melangkah mendekat.

Aku mundur satu langkah.

“Saya menelepon karena sebaiknya Bapak datang ke rumah keluarga Dimas. Nadia ada di sini.”

Pak Bowo diam.

Aku melanjutkan sebelum dia sempat bertanya.

“Lebih tepatnya, dia sedang berada di bagasi belakang mobil kami.”

“Apa?”

“Saya kirim alamatnya sekarang.”

Aku menutup telepon.

Wajah Dimas sudah kehilangan warnanya.

Bu Sulastri mendekat cepat.

“Ratih, sebenarnya kamu mau bikin apa?”

Aku memasukkan ponsel ke tas.

“Tidak bikin apa-apa, Bu.”

Aku melangkah ke ruang tamu.

Percakapan di dalam mulai berhenti satu per satu ketika orang melihat wajah Dimas dan Bu Sulastri.

Aku berdiri dekat pintu dan menatap mereka.

“Jangan ada yang menyentuh mobil atau barang di belakang dulu.”

Seorang paman bertanya, “Kenapa, Tih?”

Aku menjawab dengan suara biasa.

“Karena tahun ini ternyata Dimas membawa oleh-oleh tambahan tanpa bilang ke saya.”

Beberapa orang tertawa kecil, mengira aku sedang bercanda.

Aku tidak ikut tertawa.

“Nanti kita buka bersama.”

Bu Sulastri tiba-tiba bergerak menuju pintu.

“Sudah, sudah. Tidak usah bikin ribut. Dimas capek. Barang nanti saja.”

Aku menghalangi jalannya.

“Kenapa harus nanti?”

“Karena ini rumah Ibu!”

“Betul. Makanya saya pikir lebih baik semuanya jelas di sini.”

Bu Sulastri menatap Dimas.

Dimas tidak berani melihat siapa pun.

Saat itulah Bu Sulastri benar-benar panik.

Dia berbalik, berniat keluar menuju mobil.

Aku tidak mengejarnya.

Aku hanya berdiri di tempat dan berkata pelan,

“Sudah terlambat, Bu.”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Pak Harun tiba lebih dulu.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Arif datang bersama dua sepupu kami yang memang kuminta ikut sebagai saksi. Aku tidak ingin siapa pun bisa berkata nanti bahwa aku membawa orang untuk mengancam keluarga Dimas.

Ketika Arif melihat wajahku, dia tidak bertanya apa-apa.

Dia hanya berdiri di sampingku.

Aku menatap Dimas.

“Buka bagasinya.”

Dimas menggeleng.

“Ratih, kita ngomong berdua dulu.”

“Kalau memang tidak ada apa-apa, buka.”

Bu Sulastri langsung menyela.

“Tidak usah! Kalian suami istri kalau ada masalah selesaikan di kamar. Jangan mempermalukan keluarga.”

Pak Harun menatap Dimas.

“Mas Dimas, istrimu cuma minta bagasi dibuka.”

Tidak ada jalan lain.

Dimas mengambil kunci dari sakunya.

Pintu bagasi belakang terbuka perlahan.

Di antara kardus makanan, koper, dan dua tas besar, seorang perempuan duduk meringkuk dengan jaket abu-abu.

Nadia.

Wajahnya merah dan rambutnya berantakan.

Tidak ada seorang pun di halaman yang bersuara selama beberapa detik.

Nadia turun sambil memegangi lengannya.

Bu Sulastri langsung mendekat.

“Nadia, kamu tidak apa-apa?”

Aku menoleh kepadanya.

Bukan “siapa perempuan ini”.

Bukan “kenapa dia ada di situ”.

Pertanyaan pertama Bu Sulastri adalah apakah Nadia baik-baik saja.

Jadi benar.

Dia sudah tahu.

Dimas akhirnya berkata, “Ratih, jangan salah paham.”

Aku hampir tertawa.

“Kalau teman kantormu biasa bepergian lima jam bersembunyi di bagasi supaya istrimu tidak tahu, aku memang perlu penjelasan yang sangat bagus.”

Nadia menatap Dimas.

“Kamu bilang dia sudah tahu kita akan pisah.”

Dimas langsung menjawab, “Nad, jangan sekarang.”

Kalimat itu justru menjelaskan lebih banyak daripada seribu alasan.

Bu Sulastri mencoba menarik Nadia masuk ke rumah.

Aku berkata, “Tunggu.”

Dia berbalik.

“Untuk apa lagi? Kamu sudah lihat, kan?”

“Belum semuanya.”

Dimas mendekatiku.

“Ratih, tolong. Kita bisa selesaikan setelah semua orang pulang.”

Aku membuka ponsel.

“Aku sudah menyelesaikan bagian tersulitnya selama lima jam di mobil.”

Aku menunjukkan satu tangkapan layar.

Bukan foto mesra.

Bukan pesan romantis.

Percakapan antara Dimas dan ibunya.

Dimas: “Nadia ikut nanti. Jangan sampai Ratih curiga sebelum uang untuk rumah selesai.”

Bu Sulastri: “Ibu urus. Yang penting dia transfer dulu. Setelah itu urusan rumah tanggamu terserah.”

Wajah Bu Sulastri berubah.

Dimas mencoba mengambil ponselku.

Arif langsung berdiri di tengah.

“Jangan sentuh barang adikku.”

Pak Harun menghela napas panjang.

“Ini bukan cuma soal perempuan, ya?”

Aku menggeleng.

“Bukan.”

Aku membuka mutasi rekening bersama kami.

Dalam tiga bulan terakhir, Dimas telah mentransfer total Rp96 juta kepada ibunya.

Sebagian berasal dari uang yang kami sisihkan untuk kebutuhan usaha dan dana darurat rumah tangga.

Aku tidak pernah menyetujui transfer itu.

Bu Sulastri berkata cepat, “Itu uang Dimas juga!”

“Sebagian iya.”

Aku menatapnya.

“Makanya saya tidak bilang semua uang itu milik saya. Tapi kalau rekening dipakai bersama, keputusan sebesar ini seharusnya dibicarakan.”

Dimas mulai meninggikan suara.

“Aku cuma bantu Ibu!”

“Lalu kenapa aku tidak boleh tahu?”

Dia diam.

Aku membuka tangkapan layar kedua.

Tiga hari sebelumnya, Bu Sulastri mengirim pesan:

“Kurang Rp180 juta lagi. Kalau Ratih transfer setelah sampai, renovasi lantai atas dan utang adikmu bisa selesai.”

Dimas menjawab:

“Biar dia senang dulu di rumah. Setelah transfer, baru aku bicara soal cerai.”

Tidak ada yang tertawa lagi.

Saat itulah sebuah mobil berhenti di depan pagar.

Pak Bowo turun.

Nadia langsung menunduk.

Ayahnya tidak berteriak. Dia hanya berjalan mendekat, melihat putrinya, lalu melihat Dimas.

“Kamu bilang kepada anak saya proses perceraianmu sudah berjalan.”

Dimas membuka mulut.

Pak Bowo mengangkat tangan.

“Saya cuma ingin satu jawaban. Sudah atau belum?”

Belum.

Semua orang mengetahuinya dari diam Dimas.

Pak Bowo meminta Nadia mengambil tasnya dan ikut pulang.

Sebelum masuk mobil, Nadia menatapku.

“Aku tahu dia masih menikah. Tapi dia bilang kalian sudah sepakat pisah.”

Aku menjawab, “Sekarang kamu tahu dia berbohong kepada lebih dari satu orang.”

Nadia tidak membalas.

Setelah mobil mereka pergi, aku menoleh kepada Dimas dan ibunya.

Lalu kubuka pesan terakhir yang kusimpan.

Pesan yang membuatku berhenti mempertanyakan apakah masih ada pernikahan yang layak diselamatkan.

Dimas menulis kepada ibunya:

“Kalau Ratih sudah kirim Rp180 juta, minggu depan aku ajukan cerai. Jangan sampai dia berhenti bantu sebelum itu.”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku tidak langsung mengatakan ingin bercerai.

Bukan karena masih ragu terhadap apa yang kulihat.

Aku hanya tidak mau membuat keputusan sebesar itu sambil berdiri di halaman rumah yang dipenuhi orang.

Dimas sudah cukup lama mengatur waktu, uang, dan informasi supaya semuanya menguntungkan dirinya.

Aku tidak mau keputusan terakhirku tentang pernikahan kami juga terjadi sesuai panggung yang dia ciptakan.

Aku memasukkan ponsel ke tas.

“Mas Arif, kita pulang.”

Bu Sulastri langsung berkata, “Pulang ke mana? Kamu baru sampai.”

Aku menatapnya.

“Bukan ke Bandung malam ini. Saya menginap di rumah saudara Arif di kota.”

“Ratih, jangan kekanak-kanakan.”

Aku hampir menjawab, tetapi urung.

Aku melihat rumah itu sekali lagi.

Dinding depan baru dicat enam bulan sebelumnya.

Sebagian uang catnya berasal dariku.

Lampu teras yang dipuji Bu Sulastri juga kubeli.

Entah kenapa, hal-hal kecil itu sekarang justru membuat semuanya terasa sederhana.

Selama bertahun-tahun aku mengira karena aku sudah banyak membantu, aku harus terus membantu agar pengorbanan sebelumnya tidak sia-sia.

Padahal uang yang sudah keluar tidak akan kembali hanya karena aku mengeluarkan lebih banyak.

Aku mengambil koperku dari mobil.

Dimas mengejar.

“Ratih.”

Aku terus berjalan.

“Ratih, aku ikut.”

“Tidak.”

Dia berhenti.

“Kita suami istri.”

Aku menoleh.

“Itu seharusnya kamu ingat sebelum menyuruh orang lain bersembunyi di belakang mobil kita.”

Dimas melihat ke arah kerabatnya.

Mungkin untuk pertama kalinya malam itu dia sadar tak ada kalimat yang bisa memperbaiki pemandangan yang baru saja mereka lihat.

Pak Harun mendekat sebelum aku pergi.

“Ratih, semua yang kami lihat tadi, kalau nanti kamu perlu saya menjelaskan sebagai saksi, saya akan bicara sesuai yang saya lihat.”

“Terima kasih, Pak.”

Dia mengangguk.

Tidak lebih.

Aku menyukai itu.

Tidak ada pidato tentang sabar.

Tidak ada nasihat supaya memikirkan nama baik.

Tidak ada kalimat bahwa perempuan seharusnya mempertahankan rumah tangga apa pun yang terjadi.

Hanya seseorang yang bersedia mengatakan apa yang memang dia lihat.

Malam itu aku tidur di kamar tamu rumah sepupu Arif.

Atau lebih tepatnya, aku berbaring di sana.

Sekitar pukul satu dini hari, Dimas menelepon.

Aku tidak mengangkat.

Dia menelepon lagi.

Kemudian pesan masuk.

“Aku bisa jelaskan.”

Lima menit kemudian:

“Nadia tidak berarti seperti yang kamu pikir.”

Lalu:

“Uang ke Ibu akan kukembalikan.”

Kemudian:

“Jangan libatkan keluarga.”

Aku membaca pesan terakhir itu dua kali.

Jangan libatkan keluarga.

Selama lima tahun, hampir setiap kali dia membutuhkan uang dariku, alasannya keluarga.

Saat ibunya perlu renovasi, keluarga.

Saat adiknya menunggak cicilan motor, keluarga.

Saat kakaknya ingin menambah modal toko, keluarga.

Saat kami membatalkan liburan karena harus membantu biaya acara keluarga, aku diminta memahami arti keluarga.

Sekarang, ketika keluarganya melihat akibat dari keputusan Dimas sendiri, tiba-tiba aku diminta tidak melibatkan keluarga.

Aku mematikan suara ponsel.

Pagi harinya Arif sudah menunggu di meja makan.

Dia tidak bertanya apakah aku baik-baik saja.

Dia mendorong secangkir teh ke arahku.

“Sekarang mau ngapain?”

“Aku belum tahu semuanya.”

“Itu jawaban yang lebih bagus daripada pura-pura sudah tahu.”

Aku membuka laptop.

Ada tiga hal yang harus kulakukan sebelum membicarakan apa pun dengan Dimas.

Pertama, memastikan rekening usahaku tidak bisa dia akses.

Dimas tidak pernah menjadi pemilik usahaku, tetapi beberapa tahun terakhir aku memberinya akses administratif untuk membantu pembayaran tertentu ketika aku sibuk.

Aku mencabut akses itu.

Aku mengganti kata sandi email bisnis, penyimpanan dokumen, dan akun pembayaran.

Aku tidak mengambil uang yang bukan milikku.

Aku juga tidak mengosongkan rekening bersama.

Aku hanya memastikan uang usaha tidak lagi bisa dipindahkan tanpa sepengetahuanku.

Kedua, aku menyimpan seluruh dokumen penting.

Akta usaha.

Kontrak katering.

Dokumen kendaraan yang atas namaku.

Bukti cicilan rumah yang kami tempati di Bandung.

Mutasi rekening.

Bukti transfer ke keluarga Dimas.

Aku membuat dua salinan digital dan satu salinan fisik.

Ketiga, aku membuat daftar.

Bukan daftar semua uang yang pernah kuberikan.

Itu akan terlalu panjang dan sebagian memang kuberikan dengan sadar.

Aku hanya mencatat uang yang dipindahkan tanpa sepengetahuanku atau diberikan berdasarkan alasan yang belakangan terbukti tidak benar.

Jumlahnya tetap membuat tanganku berhenti di keyboard.

Rp143.500.000.

Bukan seluruh pengorbananku selama lima tahun.

Hanya bagian yang menurutku bermasalah.

Arif melihat angka itu.

“Sebesar itu?”

“Yang bisa kubuktikan.”

Dia tidak berkata apa-apa lagi.

Menjelang siang, Dimas datang.

Aku tidak menemuinya sendirian.

Kami duduk di ruang depan rumah sepupu Arif. Arif berada di ruangan sebelah, bukan ikut campur, hanya cukup dekat jika aku membutuhkannya.

Dimas terlihat tidak tidur.

Dia duduk di kursi seberangku.

“Boleh aku bicara?”

“Boleh.”

Dia mengusap wajah.

“Aku salah soal Nadia.”

Aku menunggu.

“Aku tidak akan bilang itu cuma teman. Aku tahu kamu sudah lihat pesannya.”

Masih belum ada alasan bagiku untuk menjawab.

Dimas melanjutkan, “Kami dekat sekitar delapan bulan.”

“Hubungan fisik?”

Dia menunduk.

“Aku tidak akan membahas detail itu. Aku cuma perlu tahu apakah kalian punya hubungan.”

“Iya.”

Satu kata.

Tiga tahun pernikahan.

Lima tahun kebersamaan.

Dan satu kata itu cukup.

Aku mengangguk.

“Kenapa dibawa pulang?”

Dimas tampak sangat malu menjawabnya.

“Nadia juga mau pulang ke rumah ayahnya. Jalurnya hampir sama.”

“Lalu kenapa masuk bagasi?”

“Dia sudah telanjur ada di parkiran ketika kamu bilang jadi ikut pulang.”

Aku mengerutkan kening.

Rencana awal Dimas sebenarnya berangkat sehari lebih dulu dengan alasan harus membantu ibunya menyiapkan rumah. Aku semula berniat menyusul bersama Arif karena ada urusan katering yang belum selesai.

Pagi itu pekerjaanku selesai lebih cepat.

Aku memutuskan ikut Dimas.

Rupanya Nadia sudah menunggunya.

“Jadi bukannya menyuruh dia pulang sendiri, kamu menyembunyikannya?”

Dimas memegang kedua tangannya.

“Aku panik. Aku pikir nanti di rest area ada kesempatan menurunkannya.”

“Kamu punya lima jam.”

Dia tidak menjawab.

Aku tahu alasan sebenarnya.

Dia tidak sekadar panik.

Dia sudah terlalu terbiasa melakukan sesuatu tanpa memikirkan bagaimana rasanya jika aku mengetahuinya.

“Apa Ibumu tahu Nadia akan datang?”

Dimas mengangguk pelan.

“Sejak kapan?”

“Beberapa bulan.”

Aku menatapnya.

“Dan Ibumu juga tahu kamu belum pernah bicara kepadaku tentang perceraian?”

Dimas tidak langsung menjawab.

“Dimas.”

“Iya.”

Itulah bagian yang paling sulit kuterima.

Bu Sulastri tidak sekadar membela anaknya setelah ketahuan.

Dia tahu sejak sebelum aku datang.

Dia tahu anaknya memiliki perempuan lain.

Dia tahu Dimas berencana meninggalkanku.

Dan pada saat yang sama dia masih menunggu Rp180 juta dariku.

“Kenapa Rp180 juta?”

Dimas menatap lantai.

“Ibu punya utang renovasi. Sebagian untuk menutup pinjaman adikku.”

“Dan kamu pikir aku akan bayar?”

“Aku pikir… kamu biasanya membantu.”

Aku tertawa kecil.

Tidak ada yang lucu.

Hanya saja itulah kalimat paling jujur yang keluar dari mulutnya.

Bukan karena dia membenciku.

Bukan karena dia punya rencana besar menghancurkanku.

Dia melakukannya karena dia pikir aku biasanya membantu.

Dia menganggap kesediaanku sesuatu yang otomatis.

“Setelah aku transfer, kamu mau mengajukan cerai?”

Dimas menutup mata sebentar.

“Iya.”

“Lalu kalau aku menolak transfer?”

“Aku tidak tahu.”

“Aku tahu.”

Dia menatapku.

“Kamu akan bilang ibumu sakit. Atau utangnya jatuh tempo. Atau adikmu terancam kehilangan sesuatu. Kamu akan cari alasan sampai aku merasa bersalah.”

Dimas tidak menyangkal.

Aku mendorong selembar kertas ke arahnya.

Daftar transfer Rp143,5 juta.

“Aku tidak menuntut semua uang yang pernah kuberikan kepada keluargamu. Banyak yang memang kuberikan dengan sadar.”

Dimas membaca angka-angka itu.

“Tapi yang ini harus dijelaskan satu per satu.”

“Ratih…”

“Rp38 juta dari rekening bersama bulan Agustus. Katamu untuk pembayaran rumah kita.”

Dia diam.

“Rp27,5 juta bulan Oktober.”

“Ibu butuh.”

“Itu bukan jawaban.”

Dia menghela napas.

“Untuk utang renovasi.”

“Rp42 juta bulan November.”

“Untuk adikku.”

“Dan Rp36 juta bulan Desember?”

Dimas semakin sulit menatapku.

“Sebagian untuk Ibu. Sebagian…”

“Nadia?”

Dia mengangguk.

Aku tidak perlu tahu lebih rinci.

Aku mengambil kertas itu kembali.

“Mulai sekarang, tidak ada lagi transfer dari rekeningku atau usaha tanpa izinku. Aksesmu sudah kucabut.”

Wajahnya terangkat.

“Kamu mencabut akses?”

“Iya.”

“Ratih, aku biasa bantu pembayaran vendor.”

“Sekarang staf administrasiku yang akan urus.”

“Kamu tidak percaya aku sama sekali?”

Pertanyaan itu hampir membuatku marah.

Tetapi justru karena terlalu jelas, aku tidak perlu meninggikan suara.

“Menurutmu kenapa?”

Dimas menunduk lagi.

Hari itu aku belum memberinya jawaban tentang perceraian.

Aku hanya berkata aku akan kembali ke Bandung bersama Arif dan Dimas tidak perlu ikut.

Dia keberatan.

Aku tidak berubah pikiran.

Ketika sampai di rumah kami dua hari kemudian, aku memintanya tinggal sementara di apartemen sewaan dekat kantornya yang dulu kadang digunakan timnya untuk proyek.

Rumah yang kami tempati masih memiliki cicilan dan urusan kepemilikannya tidak sesederhana mengusir seseorang begitu saja.

Aku tidak berpura-pura bisa menyelesaikan semuanya dengan satu kalimat.

Dimas akhirnya membawa satu koper.

Sebelum pergi dia berdiri dekat pintu cukup lama.

“Aku masih sayang kamu.”

Aku menatapnya.

“Aku percaya kamu mungkin merasa begitu.”

Dia terlihat terkejut.

“Tapi rasa sayang yang membuatmu menyembunyikan orang di mobil, mengatur uang di belakangku, lalu menunggu aku membayar keluargamu sebelum kamu pergi, tidak cukup untuk membuatku tetap di sini.”

Dia pergi tanpa membanting pintu.

Aneh, tetapi keheningan setelah pintu tertutup justru jauh lebih berat daripada semua keributan di rumah Bu Sulastri.

Beberapa hari berikutnya aku bekerja seperti biasa.

Aku bangun.

Memeriksa pesanan.

Mengecek stok.

Mengurus dua klien kantor.

Menjawab pertanyaan pegawai.

Di sela pekerjaan itu, sesekali aku membuka ponsel dan ingin menelepon Dimas.

Bukan karena aku ingin memaafkan.

Karena lima tahun menciptakan kebiasaan.

Kalau ada mesin katering rusak, aku terbiasa mengeluh kepadanya.

Kalau hujan terlalu deras dan aku pulang terlambat, dia biasa bertanya aku sudah sampai mana.

Kalau mendapat kontrak baru, dialah orang pertama yang kuberi tahu.

Seseorang bisa menyakitimu dengan sangat jelas dan tetap meninggalkan ruang kosong ketika dia pergi.

Aku tidak mencoba menyangkal itu.

Seminggu kemudian aku bertemu pegawai bank untuk memastikan seluruh pengaturan rekening yang atas namaku dan rekening usaha sudah sesuai.

Aku juga berkonsultasi dengan seorang advokat mengenai kondisi pernikahan kami, rekening bersama, cicilan rumah, serta bukti transaksi.

Aku datang bukan untuk mencari seseorang yang menjanjikan aku pasti mendapatkan semuanya.

Justru penjelasan yang kuterima lebih sederhana.

Tidak semua uang yang pernah kuberikan bisa diminta kembali hanya karena sekarang aku menyesal.

Tidak setiap transfer dari rekening bersama otomatis menjadi pelanggaran hukum.

Tidak semua persoalan rumah tangga bisa diselesaikan dengan laporan polisi.

Tetapi aku tetap bisa melindungi akses yang memang milikku, mendokumentasikan transaksi, menghentikan transfer baru, dan membahas pembagian kewajiban serta aset melalui proses yang benar jika aku memilih bercerai.

Untuk pertama kali setelah berminggu-minggu, aku merasa lebih tenang.

Bukan karena semuanya mudah.

Karena seseorang akhirnya mengatakan dengan jelas mana yang bisa kulakukan dan mana yang tidak.

Bu Sulastri mulai menelepon pada minggu kedua.

Panggilan pertama tidak kuangkat.

Panggilan kedua juga tidak.

Pada panggilan ketiga aku menjawab.

“Ratih.”

“Iya, Bu.”

Nada suaranya jauh berbeda dari malam Tahun Baru.

“Ibu mau bicara baik-baik.”

“Saya dengar.”

“Kamu sama Dimas jangan langsung memikirkan cerai. Semua rumah tangga ada masalah.”

Aku menunggu.

“Nadia juga sudah tidak ada hubungannya. Dimas bilang sudah selesai.”

“Baik.”

Bu Sulastri tampaknya mengira itu tanda aku mulai lunak.

“Makanya kamu pulang saja. Bicarakan pelan-pelan. Soal uang juga nanti kita hitung.”

Aku bertanya, “Ibu tahu hubungan Dimas dan Nadia sebelum saya datang, kan?”

Telepon sunyi.

“Ratih, Ibu cuma…”

“Tahu atau tidak?”

“Tahu.”

“Dan Ibu tahu Dimas berniat bicara perceraian setelah saya mengirim Rp180 juta?”

Dia kembali diam.

Akhirnya dia berkata, “Ibu pikir Dimas cuma marah. Ibu tidak yakin dia sungguh-sungguh mau cerai.”

“Tapi Ibu tetap mau saya kirim uang.”

“Itu utang keluarga. Mau kalian bagaimana pun, rumah ini kan rumah orang tuanya Dimas.”

Aku memejamkan mata.

Di situlah semuanya menjadi sangat jelas.

Bukan hanya Dimas yang sudah terbiasa menganggap aku akan selalu membantu.

Bu Sulastri juga.

Dia benar-benar menganggap masalah pernikahanku dan kebutuhan uang keluarganya adalah dua hal terpisah.

Selama aku masih mampu membayar, menurutnya aku seharusnya tetap membayar.

“Bu, mulai sekarang saya tidak akan menanggung utang rumah Ibu atau utang saudara Dimas.”

“Jangan ngomong begitu. Kamu masih menantu Ibu.”

“Betul. Dan menantu bukan berarti semua tagihan keluarga menjadi tanggung jawab saya.”

“Jadi kamu mau membiarkan Ibu kesulitan?”

“Bukan saya yang mengambil pinjaman renovasi.”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan, “Kalau ada cicilan atau utang yang perlu dibayar, bicarakan dengan anak-anak Ibu dan orang yang menandatangani pinjamannya.”

Nada suaranya meninggi.

“Selama ini kamu tidak pernah hitung-hitungan!”

“Sekarang saya perlu mulai.”

Aku mengakhiri telepon setelah mengatakan aku tidak akan membicarakan uang lagi lewat telepon.

Tanganku gemetar beberapa menit setelahnya.

Itu bukan percakapan yang membuatku merasa hebat.

Aku bahkan duduk cukup lama di lantai ruang kerja karena lututku lemas.

Menetapkan batas ternyata tidak membuat rasa bersalah otomatis hilang.

Aku masih membayangkan Bu Sulastri harus mencari uang.

Aku masih berpikir tentang adik Dimas.

Aku masih bertanya apakah aku terlalu keras.

Lalu aku membuka kembali pesan:

“Yang penting dia transfer dulu. Setelah itu urusan rumah tanggamu terserah.”

Rasa bersalah itu tidak hilang seluruhnya.

Tetapi aku tidak lagi membiarkannya menentukan keputusan.

Dimas datang lagi akhir bulan itu.

Kali ini kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat kantor advokatku.

Dia terlihat lebih kurus.

“Aku sudah putus kontak dengan Nadia.”

Aku mengangguk.

“Ayahnya juga meminta dia pindah tim kalau memungkinkan.”

“Itu urusan kalian.”

Dimas memandangku lama.

“Aku tahu maaf tidak cukup.”

Untuk pertama kalinya dia tidak memulai dengan alasan.

“Aku terlalu lama membiarkan keluargaku menganggap uangmu bisa dipakai kalau ada kebutuhan. Terus aku juga mulai merasa… selama kebutuhan rumah kita masih jalan, berarti tidak masalah.”

Aku mendengarkan.

“Waktu dekat dengan Nadia, aku bilang rumah tangga kita sudah tidak sehat. Padahal aku sendiri tidak pernah bicara jujur kepadamu.”

Aku bertanya, “Kenapa?”

Dimas memutar gelas airnya.

“Karena kalau bicara jujur, aku harus mengakui aku yang salah.”

Jawabannya menyakitkan justru karena masuk akal.

Bukan sebuah pengakuan besar.

Hanya sifat pengecut yang dibiarkan terlalu lama.

Dia melanjutkan, “Ibu juga selalu bilang kamu orangnya baik. Kamu pasti mengerti. Aku terus pakai kalimat itu.”

Aku tersenyum tipis.

“Baik bukan berarti tidak punya batas.”

Dimas mengangguk.

“Aku tahu sekarang.”

Kemudian dia mendorong sebuah map kepadaku.

Di dalamnya ada catatan transfer yang sudah dia cocokkan dengan mutasi rekening.

Dia mengakui Rp96 juta yang dikirim ke ibunya tanpa persetujuanku dalam tiga bulan terakhir.

Dia juga mencatat Rp36 juta yang digunakannya untuk pengeluaran pribadi terkait hubungannya dengan Nadia dan beberapa kebutuhan yang selama ini dia sembunyikan.

“Aku tidak bisa mengembalikan semuanya sekarang.”

“Aku juga tidak berharap kamu bisa.”

“Aku bisa mencicil dari gajiku.”

Aku tidak langsung menyetujui apa pun.

“Kita masukkan ke pembicaraan resmi. Jangan janji lisan lagi.”

Dia tampak sedih mendengar kalimat itu.

Dulu hampir semua urusan kami diselesaikan dengan kepercayaan.

Sekarang bahkan niat mengembalikan uang harus tertulis.

Namun itulah akibat dari sesuatu yang rusak berkali-kali.

Dimas kemudian bertanya pertanyaan yang sejak awal pasti ingin dia tanyakan.

“Masih ada kemungkinan kita tidak cerai?”

Aku tidak segera menjawab.

Sebagian diriku ingin mengatakan tidak saat itu juga.

Sebagian lain masih memikirkan lima tahun kehidupan bersama.

Aku tidak ingin bertahan hanya karena masa lalu kami panjang.

Tetapi aku juga tidak ingin membuat keputusan hanya supaya terlihat tegas.

“Aku butuh waktu.”

Dimas mengangguk.

“Berapa lama?”

“Aku tidak tahu.”

Kali ini dia tidak mendesak.

Selama dua bulan berikutnya kami hidup terpisah.

Dimas mulai mengembalikan sebagian uang setiap bulan sesuai kesepakatan sementara yang dicatat dalam proses mediasi kami.

Bu Sulastri tidak lagi menerima transfer dariku.

Akibatnya tidak dramatis.

Rumahnya tidak disita.

Dia tidak jatuh miskin.

Tidak ada keluarga yang mendadak kehilangan semuanya.

Mereka hanya terpaksa melakukan sesuatu yang selama ini jarang mereka lakukan.

Membagi tanggung jawab.

Kakak Dimas menanggung sebagian cicilan renovasi.

Adiknya menjual sepeda motor kedua yang sebenarnya jarang dipakai dan mulai mencicil utangnya sendiri.

Renovasi lantai atas dihentikan.

Beberapa rencana Tahun Baru yang dulu dianggap mendesak ternyata bisa ditunda.

Saat mengetahui itu, aku tidak merasa menang.

Aku hanya bertanya-tanya berapa banyak uang yang seharusnya tidak pernah kumasukkan ke sana sejak awal.

Pak Bowo tidak pernah menghubungiku lagi.

Nadia juga tidak.

Aku mendengar dari Dimas bahwa Nadia meminta pindah dari proyek yang membuat mereka sering bekerja bersama.

Aku tidak mencari tahu lebih jauh.

Aku tidak membutuhkan hidup Nadia untuk hancur agar hidupku bisa maju.

Masalahku adalah pernikahanku.

Dan keputusan Dimas.

Memasuki bulan ketiga, aku akhirnya tahu jawabanku.

Bukan karena ada bukti baru.

Justru karena tidak ada.

Tidak ada lagi kejutan.

Tidak ada lagi pesan rahasia.

Tidak ada lagi orang bersembunyi di mobil.

Hanya aku, Dimas, dan pertanyaan paling sederhana:

Bisakah aku hidup bertahun-tahun lagi bersamanya tanpa terus memeriksa apakah ada sesuatu di belakangku?

Jawabannya tidak.

Aku meminta bertemu.

Kami duduk di meja makan rumah Bandung yang dulu kami pilih bersama.

Dimas tampak sudah mengerti bahkan sebelum aku bicara.

“Aku mau melanjutkan proses perceraian.”

Dia menunduk.

Aku menunggu bantahan.

Tidak ada.

Setelah beberapa saat dia bertanya, “Karena Nadia?”

“Bukan cuma Nadia.”

“Uang?”

“Bukan cuma uang.”

Dia mengangguk pelan.

“Aku paham.”

Aku menatap meja.

“Yang paling sulit buatku adalah menyadari kamu sudah merencanakan hidup setelah pernikahan kita, sementara masih memakai aku untuk menyelesaikan masalah keluargamu.”

Dimas menutup wajah dengan kedua tangan.

“Aku malu.”

“Aku tahu.”

“Aku benar-benar minta maaf.”

Aku percaya dia menyesal.

Tetapi penyesalan tidak selalu berarti hubungan harus disambung kembali.

Kadang penyesalan hanya berarti seseorang akhirnya memahami harga dari pilihannya.

Proses setelah itu tidak selesai dalam sehari.

Kami masih harus membahas rumah.

Cicilan.

Barang.

Rekening bersama.

Pembayaran kembali beberapa transfer.

Aku juga masih harus menjawab pertanyaan keluarga.

Ada kerabat Dimas yang menganggap aku seharusnya memberi kesempatan kedua.

Ada pula yang diam-diam meminta maaf karena selama bertahun-tahun ikut bercanda bahwa aku “menantu paling gampang dimintai bantuan”.

Arif tidak pernah bilang, “Kan aku sudah bilang.”

Aku menghargainya untuk itu.

Enam bulan kemudian, kehidupan kami belum sempurna.

Proses perceraian masih berjalan menuju penyelesaian akhirnya.

Rumah Bandung masih dalam pengaturan pembagian kewajiban.

Dimas membayar cicilan pengembalian sesuai kesepakatan.

Hubunganku dengan Bu Sulastri praktis berhenti.

Kadang dia mengirim pesan singkat saat hari besar.

Aku membalas seperlunya.

Usaha kateringku tetap sama sibuknya.

Tidak mendadak menjadi sepuluh kali lebih besar hanya karena aku berpisah.

Masih ada klien yang terlambat membayar.

Masih ada pegawai yang izin mendadak.

Masih ada oven yang rusak ketika pesanan sedang banyak.

Tetapi satu hal berubah.

Setiap Jumat sore aku memeriksa rekening usahaku sendiri.

Bukan karena takut seseorang mencuri.

Karena aku ingin tahu ke mana uangku pergi.

Aku mulai membedakan membantu dengan menanggung.

Kalau Arif membutuhkan sesuatu, aku bertanya dulu.

Kalau orang tua kami perlu bantuan, kami membicarakannya bersama.

Aku tidak lagi mengatakan “iya” hanya supaya tidak dianggap pelit.

Suatu sore, ketika hendak pulang dari dapur produksi, salah satu pegawaiku menyerahkan satu amplop.

“Ada kiriman dokumen, Bu Ratih.”

Aku membuka.

Itu salinan bukti pembayaran cicilan terakhir bulan itu dari Dimas.

Tidak ada surat panjang.

Tidak ada permintaan bertemu.

Hanya satu catatan kecil.

“Aku akan selesaikan kewajibanku seperti yang sudah disepakati.”

Aku menyimpan kertas itu ke dalam map.

Lalu aku mematikan lampu kantor satu per satu.

Di depan pintu, tanganku sempat berhenti pada gantungan kunci.

Dulu Dimas juga memiliki satu set kunci kantor ini.

Kunci itu sudah dikembalikan tiga bulan lalu.

Aku mengunci pintu sendiri.

Memeriksa gagangnya sekali.

Lalu memasukkan kunci ke tas dan berjalan menuju mobil tanpa menoleh lagi.

Menurutmu, apakah Ratih masih perlu memberi Dimas kesempatan kedua setelah pengkhianatan dan rencana keuangannya terbongkar?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.