Ayah Menyuruh Ibu Memasak Sup Ikan untuk Teman Masa Kecilnya. Tiga Hari Kemudian, Ia Baru Sadar Ibu Sudah Pergi
Bagian 1
Tiga hari setelah Ibu pergi, Ayah akhirnya menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Sebelumnya ia masih bicara seolah semua ada dalam kendalinya.
“Paling ibumu ngambek,” katanya ketika aku bertanya apakah ia tidak heran rumah begitu sepi. “Mau pergi ke mana juga? Nanti pulang sendiri.”
Ia benar-benar mengira Ibu masih menjadi perempuan yang sama seperti selama hampir tiga puluh tahun pernikahan mereka.
Perempuan yang takut didiamkan.
Takut Ayah marah.
Takut diminta keluar dari rumah.

Dan, yang paling penting, takut tidak punya tempat lain untuk dituju.
Ayah tidak tahu bahwa perjalanan kali ini sudah Ibu persiapkan selama bertahun-tahun.
Karena itu, pada hari pertama Ibu pergi, ia bahkan tidak sadar.
Laras, teman masa kecil Ayah yang dulu sangat dekat dengannya, baru saja resmi bercerai. Sejak kabar itu datang, Ayah hampir setiap hari berada di rumah Laras.
Katanya Laras sedang rapuh.
Katanya ia takut Laras melakukan sesuatu yang bodoh kalau ditinggal sendirian.
Ayah pulang hanya untuk mandi atau mengambil pakaian. Dua malam pertama setelah Ibu pergi, bahkan itu pun tidak ia lakukan.
Menjelang makan malam hari pertama, telepon rumah berdering.
Aku yang mengangkat.
“Suruh ibumu bikin sup ikan,” kata Ayah tanpa salam. “Laras lagi pengin makan yang dulu pernah dimasak ibumu. Jangan terlalu pedas. Antar ke sini sebelum jam tujuh.”
Aku menahan tawa yang hampir keluar.
“Kenapa tidak Ayah bikin sendiri?”
Di seberang sana hening sebentar.
“Ratna mana?”
Itu nama Ibu.
“Ayah tanya aku?”
Ayah mendecakkan lidah.
“Sudahlah.”
Telepon ditutup.
Beberapa menit kemudian, ponsel lama Ibu yang tertinggal di meja ruang keluarga mulai bergetar.
Ayah mengirim pesan ke nomor itu.
Aku tidak membuka percakapan lain. Notifikasi pesannya muncul begitu saja di layar.
Aku cuma ingin sup ikan yang terakhir kamu buat itu.
Antar sebelum jam tujuh.
Di bawahnya ada lokasi rumah Laras.
Aku memandangi layar beberapa detik, lalu membalik ponsel itu.
Ibu mungkin sedang berada ribuan kilometer dari Surabaya saat Ayah memerintahkannya membersihkan ikan.
Menjelang pukul tujuh, pesan baru masuk.
Sudah jalan?
Beberapa menit kemudian:
Kalau masih di rumah, berhenti ngambek. Aku ambil sendiri.
Lalu satu pesan lagi.
???
Sekitar lima belas menit setelahnya, suara mobil berhenti di halaman.
Pintu depan dibuka keras.
Ayah masuk dengan langkah tergesa. Sepatunya bahkan belum dilepas ketika ia langsung berteriak dari ruang tengah.
“Ratna!”
Tak ada jawaban.
“Supnya mana?”
Suara itu memantul di rumah besar yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar terasa kosong karena selalu ada Ibu.
Ayah melihat ke arah dapur.
“Ratna, kamu sengaja, ya?”
Masih tidak ada siapa-siapa.
“Di saat seperti ini malah cari masalah.”
Ponsel Ibu kembali bergetar.
Ayah ternyata sudah pergi lagi sambil terus mengirim pesan.
Laras sedang berada di masa paling berat dalam hidupnya. Kamu kok tidak punya empati sama sekali?
Cuma sup ikan. Kalau kamu tidak mau bikin, banyak orang lain yang bisa.
Setelah itu tak ada kabar lagi dari Ayah sampai dua hari berikutnya.
Aku tahu pola ini.
Ibu bahkan punya nama sendiri untuk kebiasaan Ayah: hukuman diam-diam.
Setiap kali ada sesuatu yang tidak sesuai keinginannya, Ayah akan berhenti berbicara pada Ibu.
Dulu efeknya hampir selalu sama.
Beberapa jam pertama Ibu akan mencoba bersikap normal.
Setelah itu ia mulai gelisah.
Menjelang malam ia biasanya mengetuk pintu ruang kerja Ayah, membawa teh atau buah, lalu mencari cara meminta maaf sekalipun sebenarnya ia tidak melakukan kesalahan.
Ayah akan membiarkannya menunggu.
Kadang sehari.
Kadang dua hari.
Ibu selalu menyerah lebih dulu.
Namun kali ini tidak ada orang yang sedang menunggu Ayah berhenti marah.
Sore setelah keberangkatannya, sebuah pesan singkat masuk ke nomor yang hanya dipakai Ibu untuk menghubungiku.
Aku sudah tiba.
Hotelnya sesuai.
Besok urus pendaftaran kampus dan mulai lihat beberapa tempat tinggal.
Jangan khawatir.
Tidak ada alamat.
Tidak ada foto gedung.
Kami memang sudah sepakat begitu.
Aku hanya membalas satu kalimat.
Baik. Istirahat dulu.
Ibu tidak bertanya tentang Ayah.
Aku juga tidak menceritakan soal sup ikan.
Pagi hari ketiga, mobil Ayah masuk ke halaman sekitar pukul tujuh.
Pak Darto, sopir keluarga kami, membukakan pintu.
Ayah turun dengan kemeja yang sama seperti dua hari sebelumnya. Rambutnya berminyak. Matanya merah karena kurang tidur.
Begitu melewati pintu, ia mengernyit.
Mungkin baru saat itu ia mencium rumahnya sendiri.
Tempat sampah dapur belum dibuang.
Ada cangkir di meja makan.
Kemeja yang ditinggalkannya tiga hari lalu masih tergantung di sandaran kursi.
Dulu hal-hal semacam itu tidak pernah bertahan lebih dari beberapa jam.
Ayah langsung menuju kamar mandi.
Tak sampai sepuluh menit, terdengar teriakannya.
“Ratna!”
Aku yang sedang membuat kopi di dapur tidak menjawab.
“Handuknya mana?”
Beberapa detik hening.
“Ratna! Bajuku juga tidak disiapkan?”
Nada suaranya semakin tinggi.
Tak ada langkah kaki tergesa dari kamar sebelah.
Tak ada suara Ibu menjawab, “Iya, sebentar.”
Ayah membuka pintu kamar mandi sedikit dan menjulurkan kepalanya.
“Ratna!”
Aku menatap cangkirku.
Kadang manusia baru memahami berapa banyak pekerjaan orang lain setelah pekerjaan itu berhenti dilakukan.
Ayah dan Nenek dari pihaknya selalu memandang rendah keluarga Ibu.
Sejak menikah, mereka juga tidak pernah setuju ada asisten rumah tangga yang tinggal bersama kami.
Nenek sering berkata perempuan yang tidak bekerja di kantor setidaknya harus tahu mengurus rumah.
Anehnya, Ibu benar-benar mengurus semuanya.
Terlalu baik, malah.
Waktu kecil, aku pernah mengira handuk bersih memang selalu muncul dengan sendirinya di kamar mandi.
Beras, sabun, tisu, pasta gigi, air galon, bumbu dapur, pakaian yang sudah disetrika, obat di kotak P3K, semua seolah memiliki kaki sendiri.
Baru setelah besar aku paham kaki itu milik Ibu.
Pintu kamar mandi akhirnya terbuka lebar.
Ayah keluar dengan rambut masih basah dan hanya mengenakan celana panjang yang tampaknya ia ambil dari tumpukan pakaian bersih lama.
Ia masuk ke kamar utama.
Tak lama terdengar lemari dibuka dan ditutup.
“Ratna!”
Ia keluar lagi.
Kali ini benar-benar marah.
“Orangnya ke mana?”
Ayah mendorong pintu kamar demi kamar.
Kamar tamu.
Ruang baca.
Kamar kecil dekat tangga.
Kosong.
“Sudah berani sekarang?”
Ia berdiri di lorong sambil berteriak.
“Disuruh bikin satu sup saja sampai begini?”
Tak ada jawaban.
Ayah berjalan ke lantai bawah.
“Kalau tidak mau keluar, jangan tinggal di rumah ini sekalian!”
Aku menghentikan gerakan tanganku.
Kalimat itu adalah senjata terakhir yang selalu dipakai Ayah.
Dulu hasilnya pasti.
Seberapa marah atau terlukanya Ibu, ia akan diam setelah mendengarnya.
Orang tua Ibu sudah lama meninggal.
Rumah masa kecilnya sudah dijual bertahun-tahun lalu.
Setelah hampir tiga puluh tahun hidup di rumah ini, Ayah tahu persis ketakutan terbesarnya.
Tidak punya tempat pulang.
Namun pagi itu rumah tetap diam.
Ayah menunggu beberapa saat.
Kemarahannya perlahan berubah menjadi bingung.
“Keluar?”
Ia berjalan menuju kursi tempat pakaian kotornya menumpuk, mencari ponsel.
“Pagi-pagi begini pergi apa?”
Ia menggerutu sambil menekan layar.
“Sekarang apa-apa bisa dipesan. Sayur bisa diantar, makanan bisa diantar. Selalu saja cari capek sendiri.”
Nama Ibu dipanggil.
Beberapa detik kemudian terdengar nada dering.
Bukan dari luar rumah.
Bukan dari lantai atas.
Nada itu berbunyi tepat di ruang keluarga.
Ayah berhenti bicara.
Ia menoleh perlahan.
Ponsel lama Ibu tergeletak sendirian di atas meja.
Layar kecilnya menyala.
Nama Ayah terpampang di sana.
Untuk pertama kalinya sejak masuk rumah, wajah Ayah benar-benar kehilangan ekspresi.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Ayah tidak langsung mengambil ponsel itu.
Ia hanya berdiri beberapa langkah dari meja, seolah benda kecil itu bisa menjelaskan sendiri ke mana pemiliknya pergi.
Ketika panggilannya berhenti, layar kembali gelap.
“Apa-apaan ini?”
Ayah menoleh kepadaku.
“Ibumu ke mana?”
Aku mengangkat cangkir.
“Baru sekarang tanya?”
“Rani.”
Nada suaranya berubah.
Bukan lagi marah. Belum takut juga.
Masih seperti orang yang yakin masalah akan selesai kalau orang lain memberikan jawaban yang ia mau.
“Ibu pergi.”
“Pergi ke mana?”
“Aku tidak akan kasih tahu.”
Alis Ayah terangkat.
“Kamu tahu?”
Aku tidak menjawab.
Ia mengambil ponsel Ibu, mencoba membukanya, lalu menggerutu ketika kode yang biasa dipakainya tidak berfungsi.
“Sejak kapan sandinya diganti?”
“Entahlah.”
Ayah naik lagi ke kamar utama.
Kali ini aku mendengar pintu lemari dibuka lebih lama.
Laci ditarik satu per satu.
Sekitar sepuluh menit kemudian ia memanggilku.
Aku masuk dan melihat isi kamar berantakan.
Sebagian besar pakaian Ibu masih tergantung rapi.
Namun sebuah koper kabin berwarna cokelat sudah tidak ada.
Map berisi paspor, ijazah, akta kelahiran, dan beberapa dokumen pribadi yang biasa disimpan di laci bawah juga hilang.
Ayah berdiri di depan laci kosong itu.
“Kapan?”
Aku bersandar di ambang pintu.
“Tiga hari lalu.”
Wajahnya menegang.
“Hari aku ke rumah Laras?”
Aku diam.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
Aku hampir tertawa.
“Ayah tidak pernah tanya.”
Ia menatapku lama.
“Ini gara-gara Laras?”
“Ayah harus tanya Ibu.”
“Jadi memang gara-gara cemburu.”
Ia seolah menemukan penjelasan yang membuatnya nyaman.
“Aku sudah bilang sama ibumu berkali-kali. Laras sedang dalam masalah. Aku cuma bantu teman lama.”
Aku memandang tumpukan kaus kotor di lantai.
“Kalau Ayah yakin begitu, kenapa panik?”
Ayah tidak menjawab.
Siang itu ia mulai menelepon semua orang yang mungkin mengenal Ibu.
Tante jauh.
Bekas tetangga.
Teman SMA yang nomornya masih ia punya.
Seorang saudara Ibu di Kediri yang hampir tidak pernah ia hubungi selama belasan tahun.
Jawabannya sama.
Tidak tahu.
Menjelang sore, Nenek datang.
Ayah rupanya menghubunginya.
Begitu masuk kamar, Nenek langsung berkata, “Perempuan seusianya mau ke mana? Paling menginap di rumah orang supaya Hendra mencarinya.”
Aku berdiri di luar pintu dan mendengar semuanya.
“Teleponnya ditinggal,” kata Ayah.
“Supaya dramatis.”
“Paspor sama dokumennya tidak ada.”
Baru kali itu Nenek terdiam.
Beberapa saat kemudian ia berkata, “Kalau begitu cek uangnya. Jangan-jangan dia bawa uang rumah.”
Aku masuk sebelum bisa menahan diri.
“Ibu tidak mengambil uang Ayah.”
Nenek memandangku tajam.
“Kamu tahu dari mana?”
“Karena kartu tambahan dari rekening rumah ada di sini.”
Aku mengambil sebuah amplop yang Ibu minta kusimpan sebelum pergi.
Di dalamnya ada kartu debit tambahan dan kartu kredit keluarga atas namanya.
Keduanya sudah dipotong pada bagian chip.
Ayah mengambil amplop itu.
Tak ada surat panjang.
Hanya secarik kertas dengan tulisan tangan Ibu.
Kartu yang berasal dari rekeningmu kutinggalkan. Tagihan rumah sampai hari keberangkatanku sudah kubayar. Setelah ini, urus kebutuhanmu sendiri.
Jari Ayah berhenti pada kalimat terakhir.
Nenek mendengus.
“Dia punya uang dari mana?”
Aku menatap Ayah.
Tiga tahun sebelumnya, Ibu pernah meminta izin memakai ruang kerja kecil di belakang untuk menerima pekerjaan pembukuan dari rumah.
Ayah bahkan tidak mengangkat kepala dari ponselnya.
“Kalau cuma buat mengisi waktu, terserah.”
Ternyata Ibu benar-benar melakukannya.
Malam hari setelah semua tidur, ia mencatat transaksi dua toko milik kenalannya, kemudian mendapat klien lain dari rekomendasi.
Tidak banyak.
Namun uang itu miliknya.
Dan Ayah tidak pernah sekalipun bertanya berapa penghasilannya.
“Ayah pernah tanya apa yang Ibu kerjakan setiap malam?”
Ia menatapku.
Aku melanjutkan.
“Pernah tanya kenapa dua tahun terakhir dia belajar bahasa Inggris lagi?”
Wajahnya mulai berubah.
“Nggak.”
“Pernah tanya kenapa dia minta legalisir ijazah?”
Tidak ada jawaban.
Aku melihat secarik kertas di tangan Ayah.
“Ibu tidak pergi karena satu mangkuk sup.”
Untuk pertama kalinya, ia tidak menyela.
“Ibu sudah menyiapkan kepergiannya bertahun-tahun.”
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Malam itu Ayah tidak pergi ke rumah Laras.
Ia juga tidak makan.
Untuk seseorang yang selama bertahun-tahun menganggap rumah akan berjalan sendiri, dapur kami ternyata membingungkannya.
Ia membuka kulkas, menutupnya lagi, lalu bertanya apakah masih ada nasi.
Aku menunjuk rice cooker.
Ia membukanya dan menemukan nasi yang sudah mengering sejak kemarin.
“Ayah bisa pesan makanan,” kataku.
Kalimat itu persis seperti omelannya pagi tadi.
Ia menatapku, tahu aku sengaja mengulang kata-katanya, tetapi tidak membalas.
Sekitar pukul sembilan, Laras menelepon.
Nama itu muncul di layar ponsel Ayah ketika ia sedang duduk di meja makan dengan sebungkus nasi yang baru datang.
Ayah memandangi layar beberapa detik sebelum mengangkat.
Aku tidak mendengar seluruh percakapan. Hanya bagian-bagian pendek.
“Iya.”
“Nggak, aku di rumah.”
“Nanti saja.”
Lalu ia terdiam cukup lama.
“Aku bilang nanti.”
Telepon ditutup.
Ia tidak pergi.
Keesokan paginya, aku menemukan Ayah duduk di ruang keluarga memakai kemeja kusut.
Ponsel Ibu masih berada di meja.
“Nomor yang kamu pakai untuk bicara sama Ibu apa?”
Aku duduk di seberangnya.
“Aku tidak akan kasih.”
“Aku suaminya.”
“Ibu sengaja tidak membawa nomor yang Ayah punya.”
Wajah Ayah mengeras.
“Rani, jangan ikut campur urusan orang tua.”
“Aku tidak ikut campur. Justru aku sedang mengikuti permintaan Ibu.”
Ia menarik napas panjang.
“Setidaknya bilang aku mau bicara.”
“Itu bisa.”
Aku mengirim satu pesan tanpa menyebut lokasi apa pun.
Ayah ingin bicara. Aku tidak memberikan nomormu. Kalau Ibu mau, nanti Ibu sendiri yang menghubungi.
Balasan baru datang empat jam kemudian.
Belum.
Hanya satu kata.
Aku menunjukkan pesan itu.
Ayah membacanya dua kali.
“Belum?”
“Belum.”
“Berarti nanti dia mau bicara.”
Aku tidak menjawab.
Aku tahu Ayah masih mencari celah untuk meyakinkan dirinya bahwa semuanya bisa kembali seperti semula.
Beberapa hari berikutnya menjadi masa paling aneh di rumah kami.
Ayah mulai pulang setiap malam.
Bukan karena Ibu sudah kembali.
Justru karena ia belum kembali.
Ia menelepon orang-orang yang mungkin tahu sesuatu. Mencari dokumen lama. Menanyai Pak Darto apakah pernah mengantar Ibu ke tempat tertentu.
Pak Darto hanya berkata beberapa bulan terakhir ia pernah mengantar Ibu ke tempat penerjemah tersumpah dan sebuah kantor layanan visa.
Ayah langsung menoleh padaku.
“Visa?”
Aku menutup laptop.
“Ayah tidak pernah tanya dia pergi ke mana hari itu?”
Ayah menatap Pak Darto lagi.
Sopir kami kelihatan serba salah.
“Waktu itu Ibu bilang urusan dokumen, Pak.”
Ayah mengusap wajah.
Aku melihat satu hal berubah.
Ia mulai berhenti mengatakan Ibu sedang ngambek.
Nenek, sebaliknya, masih yakin ini bisa diselesaikan dengan tekanan keluarga.
Pada hari keenam, ia datang lagi dan menyuruhku menghubungi Ibu.
“Katakan pulang baik-baik. Jangan mempermalukan suami.”
Aku menatapnya.
“Yang tahu Ibu pergi cuma keluarga dekat.”
“Justru nanti kalau orang tahu bagaimana?”
“Memangnya apa yang harus dipermalukan?”
Nenek langsung meninggikan suara.
“Perempuan menikah pergi tanpa suami itu pantas?”
Aku menunggu Ayah membela kebiasaan lama mereka.
Dulu ia hampir pasti akan diam.
Kali ini ia berkata, “Bu, cukup.”
Nenek menoleh, tidak percaya.
“Apa?”
“Jangan tekan Rani.”
“Ini semua karena kamu terlalu memanjakan Ratna belakangan.”
Aku hampir tersedak mendengarnya.
Ayah justru tertawa pendek.
Bukan tawa lucu.
“Memanjakan?”
Ia melihat ke arah dapur.
“Aku bahkan tidak tahu di mana dia menyimpan deterjen.”
Nenek tidak menyukai jawaban itu.
Mereka bertengkar kecil.
Bukan tentang Ibu sebagai orang, melainkan tentang siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas kepergiannya.
Nenek mengatakan Ibu terlalu sensitif.
Ayah mengatakan Nenek seharusnya tidak selalu merendahkannya.
Nenek membalas bahwa Ayah sendiri yang membiarkan.
Kalimat terakhir membuat rumah mendadak sunyi.
Aku masuk kamar dan membiarkan mereka menyelesaikan bagian itu sendiri.
Satu minggu setelah Ibu pergi, Laras datang.
Aku yang membukakan pintu.
Ia berdiri di depan rumah dengan wajah lelah, tetapi jauh lebih tenang dibanding saat pertama kali kabar perceraiannya sampai kepada kami.
“Hendra ada?”
Aku mengangguk.
Ayah keluar dari ruang kerja.
Begitu melihat Laras, ia tampak terkejut.
“Kok ke sini?”
“Kamu nggak angkat telepon.”
“Aku lagi banyak urusan.”
Laras melihat ke belakangnya.
“Ratna belum pulang?”
Ayah diam.
Mungkin jawabannya sudah terbaca di wajahnya.
Laras duduk di ruang tamu dan meminta bicara berdua. Aku hendak naik, tetapi ia justru berkata, “Rani tidak perlu pergi. Dia sudah dewasa.”
Aku tetap berdiri di dekat tangga.
Laras memulai dengan kalimat yang tidak kuduga.
“Aku mau minta maaf.”
Ayah mengernyit.
“Kamu nggak salah.”
“Aku memang tidak menyuruhmu meninggalkan rumah dua malam.”
Ia berhenti.
“Tapi waktu aku bilang kangen sup ikan buatan Ratna, aku juga tidak berpikir kamu akan menyuruh dia mengantar ke rumahku.”
Ayah menunduk sedikit.
“Aku cuma berusaha bantu kamu.”
“Aku tahu.”
“Jadi?”
Laras menatapnya lama.
“Perceraianku terjadi karena Arief selalu menganggap aku akan ada, apa pun yang dia lakukan.”
Ayah diam.
Laras tersenyum tipis, pahit.
“Aneh ya. Setelah berbulan-bulan mengeluh soal itu ke kamu, aku malah melihat kamu memperlakukan istrimu dengan cara yang hampir sama.”
Wajah Ayah langsung menegang.
“Jangan samakan aku sama dia.”
“Aku tidak bilang sama.”
“Arief selingkuh.”
“Dan aku tidak pernah bilang kamu selingkuh.”
Laras menjawab tenang.
“Tapi Ratna meneleponku dua bulan lalu.”
Aku tidak tahu soal itu.
Ayah juga jelas tidak tahu.
“Ngomong apa?”
“Dia tanya apakah kamu dan aku punya hubungan.”
Ayah duduk lebih tegak.
“Kamu jawab apa?”
“Aku jawab tidak.”
Memang itu jawabannya.
Laras tidak menjadi perempuan jahat dalam cerita ini.
Ia pernah sangat dekat dengan Ayah ketika mereka muda. Setelah menikah dengan orang lain, mereka tetap berhubungan sebagai teman keluarga.
Masalahnya bukan keberadaan Laras.
Masalahnya adalah setiap kali Laras membutuhkan sesuatu, Ayah merasa semua orang lain harus mundur.
“Ratna percaya?” tanya Ayah.
“Dia bilang dia percaya.”
Laras menarik napas.
“Yang membuat dia sedih ternyata bukan karena dia mengira kita tidur bersama.”
Kalimat itu membuat Ayah terdiam.
“Dia bilang begini: ‘Kalau setiap kali Laras butuh dia, suamiku meninggalkan semuanya untuk datang, sementara aku harus menunggu sampai dia punya waktu, apa bedanya bagiku?’”
Aku menatap Ayah.
Ia tidak bergerak.
Laras berdiri.
“Aku datang bukan untuk menyuruhmu mengejarnya. Aku cuma tidak mau namaku kamu pakai sebagai alasan supaya tidak melihat masalah sebenarnya.”
Setelah ia pergi, Ayah tetap duduk.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada bantahan.
Ia hanya memandangi pintu yang sudah tertutup.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Ayah bertanya tentang kehidupan Ibu bukan untuk mencari lokasinya.
“Kapan ibumu mulai ambil pekerjaan pembukuan?”
“Tiga tahun lalu.”
“Berapa lama dia belajar bahasa Inggris?”
“Hampir dua tahun.”
“Dia mau kuliah apa?”
Aku menggeleng.
“Bukan hakku cerita semuanya.”
“Aku cuma tanya.”
“Dulu juga Ibu cuma ingin Ayah tanya.”
Ia diam lagi.
Dua minggu berlalu.
Ibu mengirimiku foto pertamanya sejak berangkat.
Bukan foto pemandangan.
Bukan landmark.
Hanya sebuah meja kecil di kamar sewaan yang akhirnya ia dapatkan.
Ada laptop, mug putih, dua buku catatan, dan lampu baca murah.
Pesannya sederhana.
Sudah pindah.
Registrasi kampus selesai.
Senin mulai orientasi.
Aku menatap foto itu lama.
Kamarnya bahkan jauh lebih sempit dari kamar mandi utama di rumah kami.
Namun aku tahu Ibu bahagia.
Ia sudah diterima di program diploma lanjutan bidang administrasi layanan kesehatan di Vancouver.
Sebelum menikah, Ibu pernah bekerja sebagai staf administrasi sebuah klinik kecil.
Karier itu berhenti setelah aku lahir.
Awalnya ia sendiri yang memilih berhenti sementara.
Masalahnya, sementara berubah menjadi hampir tiga dekade.
Setiap kali ia pernah menyebut ingin kembali bekerja, selalu ada alasan.
Aku masih kecil.
Ayah sibuk.
Nenek mulai sakit.
Rumah membutuhkan orang.
Kemudian ketika aku sudah besar, alasannya berubah.
Untuk apa bekerja di usia segitu?
Bukankah kebutuhanmu sudah cukup?
Siapa nanti yang mengurus rumah?
Ibu berhenti meminta izin beberapa tahun lalu.
Ia mulai menyiapkan jalan sendiri.
Kursus bahasa Inggris dibayar dari penghasilan pembukuan.
Biaya dokumen dari tabungan pribadinya.
Ia mendapat bantuan biaya pendidikan sebagian setelah melewati proses seleksi, lalu menggunakan simpanannya untuk kebutuhan awal.
Tidak ada warisan besar.
Tidak ada orang kaya yang menolong.
Tidak ada keajaiban.
Hanya pekerjaan kecil yang dikumpulkan lama sekali.
Ia tidak sedang membangun kehidupan mewah.
Ia sedang membeli hak untuk membuat keputusan tanpa bertanya kepada orang yang selalu menjawab tidak.
Aku tidak memberitahukan semua itu kepada Ayah.
Setidaknya belum.
Namun beberapa hari kemudian Ibu sendiri mengirim email kepadanya.
Bukan dari alamat rahasia yang ia gunakan untukku.
Ia membuat alamat baru khusus untuk urusan administrasi.
Isinya pendek.
Aku aman.
Aku tidak diculik, tidak sakit, dan tidak tinggal dengan laki-laki lain.
Aku sengaja pergi.
Untuk sementara, jangan cari alamatku.
Aku perlu hidup tanpa harus mengantisipasi kemarahanmu setiap hari.
Kalau ada urusan penting tentang dokumen pernikahan atau hal lain yang membutuhkan jawabanku, kirim ke email ini.
Aku akan menjawab kalau diperlukan.
Ayah membacanya di meja makan.
Ia tidak pernah menunjukkan email itu kepadaku.
Aku tahu isinya karena Ibu mengirim salinannya kepadaku.
Hari itu Ayah mengetik balasan hampir satu jam.
Pada akhirnya ia hanya menulis:
Pulanglah. Kita bicara.
Ibu membalas keesokan harinya.
Selama hampir tiga puluh tahun aku selalu yang datang duluan untuk bicara.
Kali ini tidak.
Setelah itu Ayah benar-benar mulai berubah, meskipun bukan dengan cara dramatis.
Ia belajar menyalakan mesin cuci.
Dua kaus putih berubah agak merah muda karena tercampur pakaian lain.
Aku tidak menolong.
Ia bertanya berapa sering kamar mandi harus dibersihkan.
Aku menjawab, “Kalau kotor, bersihkan.”
Ia mulai membayar orang datang dua kali seminggu untuk pekerjaan berat.
Ketika Nenek memprotes karena menganggap itu pemborosan, Ayah berkata, “Berarti selama ini kerja Ratna memang kerja. Bukan sesuatu yang terjadi sendiri.”
Aku tidak memujinya.
Menyadari pekerjaan rumah adalah pekerjaan bukan prestasi luar biasa.
Namun setidaknya ia mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tidak ingin dilihat.
Satu bulan setelah kepergian Ibu, Ayah meminta aku menyampaikan permintaan untuk video call.
Kali ini Ibu menjawab:
Hari Minggu, jam delapan malam waktu Surabaya. Tiga puluh menit.
Ia tidak menyuruhku ikut.
Tetapi sebelum panggilan dimulai, Ayah meminta aku duduk di dekatnya.
“Aku takut salah bicara.”
Aku menatapnya.
“Kalau Ayah bicara untuk membuat Ibu pulang, kemungkinan besar salah.”
Ia menghela napas.
Layar laptop menyala tepat pukul delapan.
Wajah Ibu muncul.
Rambutnya lebih pendek.
Di belakangnya hanya ada dinding krem dan sebuah rak kecil.
Ayah menatap beberapa detik terlalu lama.
“Ratna.”
“Iya.”
“Kamu sehat?”
“Sehat.”
“Makannya?”
Ibu hampir tersenyum.
“Teratur.”
Percakapan kemudian macet.
Ayah mungkin baru sadar bahwa setelah tiga puluh tahun menikah, ia tidak tahu bagaimana berbicara kepada istrinya kalau tidak sedang meminta sesuatu.
Akhirnya ia berkata, “Kapan pulang?”
Wajah Ibu tidak berubah.
“Aku belum berencana pulang.”
Ayah menelan ludah.
“Aku sudah tahu soal kuliahmu.”
Ibu melirikku sebentar di layar.
Aku menggeleng kecil.
Bukan aku yang memberi tahu.
“Aku lihat salinan dokumen di email lama komputer,” kata Ayah. “Akunmu masih pernah login.”
Ibu mengangguk.
“Aku sudah ganti password.”
“Aku nggak masuk lagi.”
Hening.
Lalu Ayah berkata sesuatu yang selama ini mungkin paling sulit keluar dari mulutnya.
“Aku minta maaf.”
Ibu tidak langsung menjawab.
“Aku bukan pergi untuk dengar permintaan maaf.”
“Aku tahu.”
“Benarkah?”
Ayah menunduk.
“Aku sedang mencoba tahu.”
Kalimat itu jauh lebih masuk akal daripada pidato panjang.
Ibu menyandarkan tubuh ke kursi.
“Apa yang kamu pahami sekarang?”
Ayah terdiam lama.
Ia kemudian berkata, “Aku kira selama ini kamu bergantung sama aku.”
Ibu mendengarkan.
“Ternyata aku yang banyak bergantung sama kamu.”
Ia mengusap tangannya.
“Bukan cuma urusan makan, baju, rumah. Aku selalu yakin kalau aku marah, kamu yang akan datang duluan. Kalau aku mendiamkanmu, kamu yang minta maaf. Kalau aku bilang keluar dari rumah, kamu takut.”
Ibu menatapnya.
“Aku memang takut.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Dulu kamu tidak tahu.”
Ayah menerima koreksi itu.
“Iya. Dulu aku tidak mau tahu.”
Aku duduk beberapa meter dari laptop, berusaha tidak ikut bicara.
Ayah melanjutkan.
“Soal Laras….”
Ibu langsung mengangkat tangan.
“Aku tidak mau bahas Laras terlalu lama.”
“Tidak ada apa-apa antara aku dan dia.”
“Aku tahu.”
Ayah tampak bingung.
“Kalau tahu, kenapa….”
“Karena masalahnya bukan cuma selingkuh atau tidak.”
Suara Ibu tetap datar.
“Kalau aku masuk rumah sakit dan Laras menelepon karena sedang sedih, aku tidak yakin siapa yang akan kamu datangi dulu.”
Ayah membuka mulut.
Tidak ada suara keluar.
Aku pikir ia ingin menyangkal.
Ia tidak jadi.
Ibu melanjutkan.
“Aku capek menjadi orang yang selalu dianggap bisa menunggu.”
Tidak ada slogan.
Tidak ada tangisan besar.
Justru itu yang membuat kalimatnya terasa berat.
“Aku tidak pernah minta kamu memutus pertemanan. Aku cuma ingin menjadi pasanganmu, bukan orang yang menjaga rumah sementara kamu menjalani hidup sesukamu.”
Ayah memijat dahinya.
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
“Kamu tidak percaya?”
“Aku percaya orang bisa berubah.”
Ibu berhenti sebentar.
“Tapi aku tidak mau pulang hanya untuk menguji apakah kamu benar-benar berubah.”
Ayah tidak punya jawaban.
Panggilan itu berakhir setelah dua puluh tujuh menit.
Tiga menit masih tersisa dari batas yang Ibu berikan.
Setelah layar gelap, Ayah duduk lama.
Lalu ia bertanya, “Menurutmu dia akan pulang?”
Aku menjawab sejujurnya.
“Aku tidak tahu.”
Dua bulan kemudian, Ibu mengambil keputusan yang lebih jelas.
Ia mengirim email bahwa setelah mempertimbangkan semuanya, ia ingin menjalani proses perpisahan secara resmi.
Tidak terburu-buru.
Tidak ada ancaman.
Ia ingin membicarakan pembagian tanggung jawab dan hak dengan baik ketika waktunya memungkinkan, melalui jalur yang benar.
Rumah yang kami tinggali memang milik Ayah sejak sebelum menikah.
Ibu tidak menuntut rumah itu.
Namun ada beberapa aset dan tabungan yang terkumpul selama pernikahan yang perlu dibicarakan.
Untuk bagian itu, masing-masing berkonsultasi dengan pihak yang memahami prosedurnya.
Tidak ada seorang profesional yang datang membawa solusi ajaib.
Tidak ada dokumen yang membuat masalah selesai dalam sehari.
Yang berubah terlebih dahulu justru keputusan mereka.
Ayah sempat mengatakan kepada Ibu lewat panggilan berikutnya bahwa ia bersedia melakukan apa saja asal Ibu kembali.
Ibu menjawab, “Kalau kamu melakukan semuanya supaya aku pulang, nanti kalau aku tidak pulang kamu akan berhenti.”
Kalimat itu membuat Ayah diam.
Beberapa minggu kemudian ia mulai menemui konselor pernikahan sendirian.
Bukan untuk mendapatkan surat bahwa ia sudah berubah.
Bukan supaya Ibu terkesan.
Ia tidak pernah membahas detail sesi denganku.
Yang kutahu, ia berhenti menyuruhku menjadi perantara.
Jika ingin mengatakan sesuatu kepada Ibu, ia menggunakan email yang memang disediakan Ibu.
Jika Ibu tidak menjawab, ia menunggu.
Itu terlihat sederhana.
Bagi Ayah, kemampuan menerima bahwa orang lain tidak wajib segera merespons adalah perubahan besar.
Nenek paling sulit menerima keadaan.
Ia beberapa kali menghubungiku dan bertanya alamat Ibu.
Aku selalu menolak.
Akhirnya ia mencoba menulis email sendiri melalui Ayah.
Isinya pada awalnya penuh kalimat tentang kewajiban istri dan nama baik keluarga.
Ayah tidak mengirimkannya.
“Kenapa?” tanya Nenek.
“Aku sudah cukup lama bicara seolah Ratna berutang hidupnya pada keluarga ini.”
Mereka bertengkar lagi.
Kali ini Ayah tidak menyerah hanya supaya suasana cepat tenang.
Hubungannya dengan Nenek menjadi sedikit lebih berjarak.
Bukan putus.
Bukan permusuhan.
Cuma ada batas yang dulu tidak pernah dibuat.
Laras juga tidak lagi datang setiap kali merasa kesepian.
Bukan karena Ayah membencinya.
Mereka tetap berteman.
Tetapi ketika Laras menelepon tengah malam hanya untuk mengobrol, Ayah pernah berkata, “Kalau bukan darurat, besok saja.”
Mungkin kalimat itu seharusnya sudah ada sejak lama.
Lima bulan setelah Ibu pergi, aku terbang menemuinya.
Itu pertama kalinya aku melihat tempat tinggalnya secara langsung.
Apartemennya kecil.
Satu kamar.
Dapurnya bahkan tidak cukup untuk dua orang berdiri berdampingan.
Di atas kulkas ada tiga wadah makanan.
Di meja dekat jendela ada tumpukan modul kuliah.
Aku bertanya apakah ia merindukan rumah.
Ibu mengaduk teh.
“Kadang.”
“Ayah?”
Ia tidak langsung menjawab.
“Tentu.”
Aku menatapnya.
“Kok bisa?”
Ibu tertawa kecil.
“Rani, meninggalkan seseorang bukan berarti semua perasaan hilang hari itu juga.”
Ia memandang keluar jendela.
“Aku menikah dengan ayahmu hampir tiga puluh tahun. Ada banyak hal baik juga. Kalau semuanya buruk, mungkin aku sudah pergi jauh lebih cepat.”
“Lalu kenapa tidak coba lagi?”
“Karena merindukan seseorang berbeda dengan sanggup kembali hidup dengan pola yang sama.”
Ibu tidak terdengar marah.
Justru untuk pertama kalinya ia terdengar tidak perlu membuktikan apa pun.
“Kalau Ayah benar-benar berubah?”
“Bagus.”
“Terus?”
“Perubahannya tetap berguna untuk dirinya sendiri.”
Aku tersenyum.
Jawaban itu membuatku mengerti bahwa kepergian Ibu bukan sebuah ujian yang harus Ayah menangkan.
Ia tidak sedang berdiri di ujung jalan dengan hadiah bernama rekonsiliasi.
Ibu memang sudah memilih arah hidupnya.
Proses perpisahan mereka berjalan beberapa bulan berikutnya.
Ada hal-hal yang harus dibicarakan.
Ada angka yang perlu diperiksa.
Ada dokumen yang perlu ditandatangani.
Kadang mereka berbeda pendapat.
Sekali waktu percakapan berakhir buruk dan Ibu tidak menjawab email Ayah selama hampir dua minggu.
Namun tidak ada lagi ancaman.
Tidak ada kalimat, “Kalau begitu keluar dari rumah.”
Ibu sudah keluar.
Ancaman itu kehilangan seluruh kekuatannya.
Hampir setahun setelah hari sup ikan itu, program kuliah Ibu mendekati akhir.
Ia belum memutuskan apakah akan tinggal lebih lama di Kanada atau pulang ke Indonesia dan bekerja lagi di sini.
Untuk pertama kalinya, keputusan semacam itu benar-benar miliknya.
Aku kembali ke Surabaya beberapa minggu sebelum kelulusannya.
Ayah menjemputku sendiri di bandara.
Pak Darto sudah pensiun tiga bulan sebelumnya.
Di perjalanan, aku memperhatikan Ayah menyimpan dua tas belanja di bagasi.
“Belanja sendiri?”
“Iya.”
Aku mengangkat alis.
“Hebat.”
“Jangan mengejek.”
Aku tertawa.
Ketika sampai rumah, banyak hal masih sama.
Sofa lama.
Meja makan.
Foto keluarga di lorong.
Namun rumah itu tidak lagi tampak seperti panggung yang menunggu Ibu kembali dan memulai semua pekerjaan dari awal.
Ada seorang pekerja yang datang tiga kali seminggu.
Ayah mencuci pakaian pribadinya sendiri.
Ia juga sudah tahu kapan sabun cuci hampir habis.
Hal kecil.
Tapi kehidupan memang sering berubah lewat hal-hal kecil.
Di meja ruang keluarga, aku melihat ponsel lama Ibu.
Benda itu masih ada.
Baterainya sudah lama dilepas.
“Kenapa belum dibuang?” tanyaku.
Ayah mengambilnya.
“Entahlah.”
Ia membalik benda itu beberapa kali.
“Dulu aku pikir hari paling buruk adalah waktu menemukan ponsel ini dan sadar ibumu pergi.”
Aku menunggu.
“Ternyata itu cuma hari pertama aku sadar ada banyak hal yang selama ini tidak kulihat.”
Ia membuka laci meja.
Ponsel itu dimasukkan ke dalam.
Tidak dipajang seperti benda keramat.
Tidak juga dibuang dengan marah.
Hanya disimpan.
Malamnya, Ibu meneleponku.
Kami bicara tentang jadwal kelulusannya.
Tentang tugas terakhir.
Tentang rencana mencari pekerjaan.
Ayah lewat di belakangku sambil membawa cucian bersih.
Ia berhenti sebentar.
Aku bertanya dengan mata apakah ia ingin bicara.
Ayah menggeleng.
“Ibumu lagi sibuk,” katanya pelan.
Lalu ia terus berjalan.
Aku tidak tahu apakah suatu hari mereka akan duduk di meja yang sama tanpa rasa canggung.
Aku juga tidak tahu apakah setelah semuanya selesai mereka akan menjadi teman, hanya dua orang tua yang saling menghormati dari kejauhan, atau hampir tidak berhubungan sama sekali.
Tidak semua akhir harus menjawab itu.
Yang kutahu, Ibu tidak lagi hidup dalam ketakutan bahwa satu kalimat bisa membuatnya kehilangan tempat tinggal.
Dan Ayah akhirnya belajar bahwa seseorang yang terus mengalah bukan berarti tidak punya batas.
Kadang batas itu sedang dibangun diam-diam.
Sedikit demi sedikit.
Sampai suatu pagi, yang tertinggal di ruang keluarga hanya sebuah ponsel lama yang terus berdering untuk seseorang yang sudah memilih pergi.
Menurutmu, apakah Ratna masih perlu memberi Hendra kesempatan sebagai pasangan setelah perubahan yang ia lakukan?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
