Suamiku membawa ibunya pulang tanpa memberitahuku, lalu membangunkanku pukul 04.40 hanya untuk membuatkan bubur oatmeal dan menyiapkan obatnya.
Aku mengambil koper dan pergi.
Tiga hari kemudian, suamiku menelepon dengan suara gemetar.
“Nadira, pulanglah… sesuatu yang mengerikan terjadi!”

Pukul 04.40 pagi, selimutku tiba-tiba ditarik sampai terlepas dari tubuhku.
Aku terbangun dengan kaget.
“Bangun, Nadira.”
Suara suamiku, Arga, terdengar tidak sabar.
Aku menyipitkan mata menatap jam digital di meja samping tempat tidur.
04.40.
Di luar jendela rumah kami di Bintaro, Tangerang Selatan, langit masih gelap. Bahkan azan Subuh belum lama terdengar dari masjid kompleks.
“Ada apa?” tanyaku dengan suara serak.
Arga berdiri di samping tempat tidur dengan tangan terlipat.
“Ibu harus minum obat pagi. Buatkan oatmeal dulu supaya perutnya nggak kosong.”
Aku mengira masih setengah bermimpi.
“Ibu?”
Arga bergeser sedikit.
Dan saat itulah aku melihat seseorang berdiri di ambang pintu kamar.
Ibu mertuaku.
Bu Ratna.
Dia mengenakan kimono rumah berwarna krem milikku, yang biasanya tergantung di kamar mandi.
Aku langsung duduk.
“Kapan Ibu datang?”
“Tadi malam,” jawab Arga santai.
Aku menatapnya.
“Tadi malam?”
“Iya.”
“Kenapa kamu nggak bilang?”
Arga menghela napas seolah-olah akulah orang yang sedang membuat masalah.
“Ibu akan tinggal di sini untuk sementara.”
“Berapa lama?”
“Mungkin dua atau tiga bulan.”
Aku terdiam.
Dua atau tiga bulan.
Dan suamiku baru memberitahuku pada pukul 04.40 pagi setelah ibunya sudah berada di rumah kami.
“Kamu membawa Ibu ke sini tanpa bicara denganku dulu?”
Bu Ratna tersenyum tipis dari ambang pintu.
“Namanya juga keluarga, Nadira. Masa seorang ibu harus minta izin kalau mau tinggal di rumah anaknya sendiri?”
Aku menatap perempuan itu.
Lalu menatap suamiku.
Selama enam tahun pernikahan kami, aku sudah terlalu sering menelan kalimat yang sebenarnya ingin kuucapkan.
Aku memasak.
Membersihkan rumah.
Mengatur tagihan listrik, internet, pajak, dan kebutuhan bulanan.
Aku mengingat jadwal rapat Arga ketika dia sendiri lupa.
Kalau Bu Ratna harus kontrol ke rumah sakit di Jakarta, akulah yang biasanya mengantarnya karena Arga selalu punya alasan.
“Ada meeting.”
“Ada klien.”
“Macet.”
“Nggak bisa ninggalin kantor.”
Bahkan dua tahun sebelumnya, aku pernah menolak kesempatan promosi di perusahaan konsultan tempatku bekerja.
Posisinya bagus.
Gajinya hampir dua kali lipat.
Tapi pekerjaan itu mengharuskanku beberapa kali bepergian ke Surabaya dan Singapura.
Arga keberatan.
“Kalau kamu sibuk terus, rumah bagaimana?”
Saat itu aku mengalah.
Arga menyebutnya pengorbanan dalam pernikahan.
Bu Ratna menyebutnya kewajiban seorang istri.
Dan sekarang…
Aku dibangunkan sebelum matahari terbit untuk menyiapkan sarapan dan obat yang bahkan anak kandungnya sendiri tidak mau repot mempelajari.
Arga menunjuk ke arah luar kamar.
“Obat Ibu ada di kotak biru di meja makan. Oatmeal jangan pakai gula. Setelah itu bikin kopi sekalian.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Kamu membangunkanku jam 04.40 cuma untuk melakukan itu?”
Arga memutar mata.
“Jangan semua dibikin drama, Nadira.”
Bu Ratna menyambung dengan suara tenang.
“Istri yang baik biasanya tahu apa yang harus dilakukan tanpa perlu disuruh.”
Aneh.
Kalimat itu seharusnya membuatku marah.
Tapi tidak.
Untuk pertama kalinya selama enam tahun, aku justru merasa sangat tenang.
Aku teringat semua ulang tahunku yang dilupakan Arga.
Semua makan malam yang kubuat lalu dibiarkan dingin karena dia pulang tanpa kabar.
Semua pertengkaran ketika pada akhirnya aku yang meminta maaf meskipun aku bukan orang yang memulainya.
Semua keputusan rumah tangga yang katanya harus kami buat bersama—sampai keputusan itu tidak sesuai dengan keinginannya.
Lalu aku tersenyum.
“Baik.”
Wajah Arga langsung berubah puas.
Dia pikir dia menang.
Aku turun dari tempat tidur.
Namun aku tidak menuju dapur.
Aku berjalan melewati Arga dan Bu Ratna, lalu masuk ke kamar tamu.
Di sana ada lemari besar.
Aku membuka pintunya dan menarik koper abu-abu dari bagian paling atas.
Arga mengikuti dari belakang.
“Kamu ngapain?”
Aku meletakkan koper di atas kasur.
“Mau pergi.”
Dia tertawa kecil.
Seolah-olah jawabanku terlalu konyol untuk dianggap serius.
“Pergi?”
“Iya.”
Aku membuka lemari pakaian.
Sepuluh kemeja.
Beberapa celana panjang.
Jeans.
Pakaian dalam.
Perlengkapan mandi.
Laptop kerja.
Charger.
Dokumen pribadi.
Semuanya masuk ke koper.
Arga akhirnya berhenti tertawa.
“Nadira, serius? Cuma gara-gara oatmeal?”
Tanganku berhenti.
Aku menoleh kepadanya.
“Bukan karena oatmeal.”
“Terus?”
“Karena enam tahun.”
Ekspresinya berubah.
“Apa maksudmu?”
Aku tidak menjawab.
Aku berjalan menuju ruang kerja kecil di lantai bawah.
Di sana ada meja kayu dengan tiga laci.
Laci paling bawah selalu kukunci.
Aku mengambil kunci kecil dari dompet.
Klik.
Laci terbuka.
Di dalamnya terdapat sebuah map merah.
Aku mengambilnya.
Arga berdiri di pintu.
“Apa itu?”
Aku memasukkan map tersebut ke tas laptop.
“Bukan urusanmu.”
Sekarang wajahnya benar-benar mengeras.
“Jangan kekanak-kanakan, Nadira. Ini rumahku juga. Kamu nggak bisa kabur cuma karena Ibuku butuh bantuan.”
Aku berhenti.
Perlahan aku menatapnya.
“Menarik.”
“Apa?”
“Pilihan kata-katamu.”
Arga mengernyit.
Dia tidak mengerti.
Mungkin karena selama bertahun-tahun dia tidak pernah merasa perlu memahami hal-hal seperti itu.
Rumah dua lantai di Bintaro yang selalu dia sebut rumah kita sebenarnya sudah menjadi milikku bahkan sebelum aku menikah dengannya.
Rumah itu diwariskan oleh almarhum Tante Mira kepadaku.
Lunas.
Tidak ada cicilan.
Tidak ada KPR.
Dan yang paling penting…
Nama Arga tidak pernah tercantum dalam sertifikat kepemilikan.
Tidak pernah.
Tapi bukan hanya rumah.
Perusahaan konsultan kecil yang sering Arga banggakan kepada teman-temannya sebagai bisnis yang dia “bangun dari nol”?
Ada sesuatu yang hampir tidak pernah dia ceritakan.
Modal awalnya berasal dariku.
Selama dua tahun pertama, ketika perusahaan itu bahkan belum mampu membayar biaya operasionalnya sendiri, aku menggunakan sebagian dana warisan yang kusimpan di rekening terpisah.
Transfer demi transfer.
Semuanya tercatat.
Tanggal.
Nominal.
Tujuan pembayaran.
Bukti rekening.
Dan beberapa bulan terakhir, aku mulai menemukan sesuatu yang lebih menarik.
Arga menggunakan rekening perusahaan untuk berbagai pengeluaran pribadi.
Hotel.
Restoran mahal.
Barang elektronik.
Tagihan kartu kredit.
Beberapa transaksi bahkan tidak bisa dia jelaskan ketika kutanya.
Dia mengira aku tidak memperhatikan.
Dia salah.
Semua bukti itu ada di dalam map merah yang baru saja kumasukkan ke tas.
Aku membawa koper menuju pintu depan.
Bu Ratna sudah berdiri di dekat dapur dengan wajah kesal.
“Kalau kamu keluar dari rumah ini sekarang, jangan harap Arga akan mengejarmu.”
Aku mengenakan sepatu.
“Nggak masalah.”
“Kamu pikir bisa hidup sendiri?”
Aku hampir tertawa.
Bu Ratna benar-benar tidak tahu.
Dia mungkin mengira penghasilan Arga selama ini menopang rumah tangga kami.
Padahal kenyataannya hampir terbalik.
Aku membuka pintu.
Udara pagi yang dingin menyentuh wajahku.
“Nadira!”
Arga memanggil dari belakang.
Aku menoleh untuk terakhir kalinya.
Dia berdiri di ruang tamu bersama ibunya.
Keduanya tampak yakin bahwa aku hanya sedang marah.
Bahwa dalam beberapa jam aku akan menelepon.
Minta maaf.
Pulang.
Lalu membuatkan oatmeal seperti biasanya.
Bu Ratna menyilangkan tangan.
“Kamu pasti pulang lagi.”
Aku tersenyum.
“Mungkin.”
Lalu aku menatap Arga.
“Tapi sebelum itu terjadi, kalian berdua sebaiknya belajar dulu oatmeal disimpan di mana.”
Aku menutup pintu.
Dan pergi.
Aku tidak pulang malam itu.
Aku menginap di apartemen sahabatku di Kuningan, Jakarta Selatan.
Hari pertama, Arga mengirim sebelas pesan.
Sebagian besar berisi kemarahan.
Hari kedua, nada pesannya berubah.
Dia mulai bertanya kapan aku pulang.
Aku tidak menjawab.
Hari ketiga…
Pukul 09.17 pagi, ponselku berdering.
Nama Arga muncul di layar.
Aku hampir membiarkannya.
Namun sesuatu membuatku mengangkat telepon.
“Halo?”
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada nada merendahkan.
Yang kudengar justru napas Arga yang berat.
“Nadira…”
Aku langsung duduk tegak.
“Ada apa?”
“Pulanglah.”
“Kenapa?”
Hening beberapa detik.
Lalu suaranya terdengar seperti seseorang yang baru saja melihat seluruh hidupnya runtuh di depan mata.
“Nadira… sesuatu yang mengerikan terjadi.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Apa yang terjadi?”
Arga menarik napas.
Kemudian dia mengucapkan satu kalimat yang membuatku langsung menatap map merah di atas meja.
Dan saat itulah aku sadar…
Kepergianku tiga hari lalu ternyata baru permulaan.
“Rumah kita mau dijual, Nadira.”
Aku terdiam.
Untuk beberapa detik, aku yakin aku salah dengar.
“Apa?”
Suara Arga di telepon terdengar kacau.
“Ada orang datang pagi ini. Dua orang dari bank dan seorang pria yang mengaku dari kantor notaris. Mereka bilang ada dokumen jaminan atas rumah ini.”
Aku berdiri begitu cepat sampai kursi di belakangku bergeser.
“Jaminan?”
“Iya.”
“Jaminan untuk apa?”
Arga tidak langsung menjawab.
Dan justru karena dia diam, perasaan dingin mulai merambat ke dadaku.
“Arga.”
“Nadira, pulang dulu. Kita bicara di rumah.”
“Jawab pertanyaanku.”
“Aku bisa jelaskan.”
Kalimat itu.
Aku sudah terlalu sering mendengarnya.
Aku bisa jelaskan.
Biasanya kalimat tersebut keluar tepat sebelum seseorang mencoba membuat kebohongan terdengar seperti kesalahpahaman.
Aku menatap map merah di meja apartemen sahabatku.
“Rumah itu atas namaku.”
“Aku tahu.”
“Tidak ada bank yang bisa menerima rumah itu sebagai jaminan tanpa tanda tanganku.”
Hening.
“Arga?”
“Aku bilang pulang dulu.”
“Apakah kamu memalsukan tanda tanganku?”
“Nggak!”
Jawabannya terlalu cepat.
“Lalu?”
Kali ini suara yang muncul bukan Arga.
Terdengar keributan dari kejauhan.
Kemudian suara Bu Ratna.
“Jangan bilang semuanya lewat telepon!”
Aku menutup mata.
Jadi dia tahu.
Entah apa yang terjadi, ibu mertuaku terlibat.
Aku mengambil kunci mobil.
“Aku ke sana.”
Arga mengembuskan napas lega.
“Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih dulu.”
Aku menutup telepon.
Empat puluh menit kemudian, mobilku memasuki kompleks perumahan di Bintaro.
Dari kejauhan aku sudah melihat sebuah mobil hitam terparkir di depan rumah.
Ada tiga orang di ruang tamu ketika aku masuk.
Arga berdiri dekat tangga.
Wajahnya pucat.
Bu Ratna duduk di sofa sambil memegang tas tangannya erat-erat.
Di seberang mereka duduk seorang pria berkacamata yang memperkenalkan diri sebagai Pak Yudi, konsultan hukum dari perusahaan pembiayaan.
Di sampingnya ada seorang perempuan bernama Siska.
Aku tidak duduk.
“Dokumennya.”
Pak Yudi menatap Arga sebentar sebelum menyerahkan beberapa lembar fotokopi kepadaku.
Aku membaca halaman pertama.
Lalu halaman kedua.
Dan darahku seperti berhenti mengalir.
Alamat rumahku tercetak jelas.
Namaku ada di sana.
Nadira Prameswari.
Di halaman terakhir terdapat tanda tangan.
Tanda tangan yang seharusnya milikku.
Tapi bukan.
Aku langsung tahu.
“Aku tidak pernah menandatangani ini.”
Ruangan menjadi sunyi.
Pak Yudi mengangguk.
“Kami juga menemukan beberapa ketidaksesuaian setelah melakukan pemeriksaan ulang.”
Aku menatap Arga.
“Siapa yang membuat tanda tangan ini?”
“Aku nggak tahu.”
Aku hampir tertawa.
“Rumahku dijadikan jaminan untuk pinjaman perusahaanmu dan kamu tidak tahu?”
“Itu bukan pinjaman perusahaanku.”
Aku berhenti.
“Apa?”
Arga memandang ibunya.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Bu Ratna menundukkan kepala.
Aku mengikuti tatapan itu.
“Bu?”
Tidak ada jawaban.
“Pinjaman siapa?”
Bu Ratna menggenggam tasnya semakin erat.
“Punya Ibu.”
Aku merasa seperti seseorang baru saja mengubah arah lantai di bawah kakiku.
“Apa maksud Ibu?”
Arga duduk perlahan.
“Dua bulan lalu Ibu pinjam uang.”
“Berapa?”
Bu Ratna tetap diam.
Aku menoleh kepada Pak Yudi.
Dia menyebut angkanya.
Rp1,8 miliar.
Aku menatap Bu Ratna.
“Untuk apa?”
“Usaha.”
“Usaha apa?”
Kali ini Arga yang menjawab.
“Ibu investasi ke bisnis katering temannya.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Rp1,8 miliar untuk katering?”
“Awalnya bukan sebanyak itu.”
Cerita mulai keluar sedikit demi sedikit.
Bu Ratna ternyata diperkenalkan kepada seseorang bernama Hendra oleh teman arisannya.
Hendra mengaku sedang mengembangkan jaringan katering untuk kantor dan sekolah swasta.
Dia menjanjikan keuntungan besar.
Bu Ratna memasukkan tabungan.
Lalu mengambil pinjaman.
Ketika bisnis itu mulai bermasalah, Hendra meminta tambahan modal dengan alasan kontrak besar akan segera cair.
Bu Ratna panik.
Dia takut kehilangan uang yang sudah masuk.
Jadi dia menambah lagi.
Dan lagi.
Sampai tabungannya habis.
“Lalu rumahku?” tanyaku.
Bu Ratna akhirnya menatapku.
Matanya merah.
“Hendra bilang dia bisa membantu pinjaman kalau ada jaminan.”
“Jadi Ibu memberikan rumah saya?”
“Ibu pikir Arga punya bagian di rumah ini.”
Aku menoleh kepada suamiku.
Dia tidak berani menatapku.
“Dia tahu rumah ini sepenuhnya milikku.”
Bu Ratna tampak bingung.
“Arga bilang setelah menikah semua aset kalian—”
“Arga bohong.”
Aku mengucapkannya tanpa berteriak.
Justru ketenanganku membuat wajah suamiku semakin pucat.
Aku membuka map merah.
Kukeluarkan fotokopi sertifikat rumah.
“Rumah ini warisan Tante Mira. Tidak pernah dialihkan. Tidak pernah dijadikan harta bersama.”
Pak Yudi mengangguk.
“Berdasarkan dokumen yang kami periksa, benar.”
Aku mengeluarkan lembar lain.
“Dan saya tidak pernah memberikan kuasa kepada siapa pun untuk menjaminkan rumah.”
Pak Yudi menerima dokumen itu.
“Kalau tanda tangan dalam perjanjian terbukti bukan milik Ibu Nadira, proses jaminan tersebut bisa dipersoalkan. Kami juga sedang menyelidiki pihak perantara yang memproses dokumen ini.”
Aku menatap Arga.
“Sekarang ceritakan bagian yang belum kamu ceritakan.”
“Apa lagi?”
“Jangan lakukan itu.”
“Aku benar-benar—”
“Arga.”
Aku menunjuk dokumen di tanganku.
“Ibumu tidak punya akses ke sertifikat rumahku.”
Dia membeku.
“Itu kusimpan di lemari dokumen kamar kerja.”
Tidak ada yang bicara.
“Dan lemari itu terkunci.”
Aku mendekatinya.
“Bagaimana ibumu mendapatkan salinannya?”
Arga menatap lantai.
Aku sudah tahu jawabannya sebelum dia membuka mulut.
“Aku yang kasih.”
Bu Ratna langsung berdiri.
“Arga!”
Aku menatap suamiku.
“Kamu?”
“Ibu cuma butuh salinan.”
“Kamu mengambil dokumenku tanpa izin?”
“Aku nggak tahu mereka akan memakainya seperti ini.”
“Tapi kamu memberikannya.”
“Aku cuma mau bantu Ibu!”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena akhirnya semuanya begitu jelas.
Selama enam tahun, setiap kali Arga mengabaikan kebutuhanku, selalu ada alasan mulia.
Demi keluarga.
Demi Ibu.
Demi pekerjaan.
Demi masa depan.
Anehnya, semua pengorbanan itu selalu dibayar olehku.
“Apa lagi yang kamu kasih?”
“Tidak ada.”
Aku membuka map merah dan mengeluarkan beberapa laporan rekening perusahaan.
“Kalau begitu jelaskan ini.”
Wajah Arga berubah.
Aku meletakkan tiga lembar di meja.
“Rp75 juta.”
Lembar berikutnya.
“Rp120 juta.”
Lembar berikutnya.
“Rp210 juta.”
Bu Ratna menatap anaknya.
“Itu apa?”
Aku menjawab untuknya.
“Transfer dari rekening perusahaan.”
Arga menelan ludah.
“Dana operasional.”
“Ke rekening pribadi ibumu?”
Bu Ratna terlihat kaget.
“Ibu nggak pernah menerima uang itu.”
Aku menoleh kepadanya.
“Apa?”
“Ibu tidak pernah menerima transfer dari perusahaan Arga.”
Aku melihat nomor rekening tujuan.
Tiba-tiba aku sadar.
Aku selama ini mengira rekening tersebut milik Bu Ratna karena Arga memberi label transaksi RTN.
Ratna.
Tapi aku belum pernah memverifikasinya.
Aku mengeluarkan ponsel dan membuka foto laporan rekening yang kusimpan.
Pak Yudi ikut memperhatikan.
“Boleh saya lihat nomor rekeningnya?”
Aku memberikannya.
Dia mengetik sesuatu di laptop.
Beberapa menit kemudian, ekspresinya berubah.
“Rekening ini bukan atas nama Bu Ratna.”
Arga langsung berdiri.
“Kita nggak perlu membahas itu sekarang.”
Aku menatapnya.
“Duduk.”
“Nadira—”
“Duduk.”
Entah karena nada suaraku atau karena dia sadar tidak ada lagi jalan keluar, Arga duduk kembali.
Pak Yudi menatapku.
“Nama penerimanya PT Sagara Kreasi Utama.”
Aku tidak mengenal nama itu.
Bu Ratna juga tidak.
Namun Siska tiba-tiba berkata, “Pak, bukankah itu perusahaan yang terkait dengan Hendra?”
Pak Yudi memeriksa laptopnya.
Ruangan menjadi begitu sunyi sampai aku bisa mendengar suara kulkas dari dapur.
“Benar.”
Aku menoleh perlahan kepada Arga.
Semua kepingan mulai tersusun.
“Kamu kenal Hendra sebelum Ibumu kenal dia?”
Arga tidak menjawab.
Bu Ratna berdiri.
“Arga?”
Anaknya menutup wajah dengan kedua tangan.
Dan ketika akhirnya dia berbicara, kalimatnya menghancurkan sesuatu yang bahkan tidak kukira masih bisa dihancurkan.
“Aku yang mengenalkan Hendra ke Bu Mira.”
Bu Ratna seperti kehilangan keseimbangan.
“Kamu bilang teman arisan Ibu yang—”
“Aku minta Bu Mira memperkenalkannya.”
“Kenapa?”
Arga tidak menjawab.
Aku menjawab untuknya.
“Karena dia butuh uang.”
Matanya bertemu denganku.
Aku tahu.
“Perusahaanmu sedang bermasalah, kan?”
Dia mulai menangis.
Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, aku melihat Arga benar-benar menangis.
Bukan marah.
Bukan frustrasi.
Takut.
“Setahun terakhir perusahaan hampir bangkrut.”
Aku tidak bergerak.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Karena aku malu.”
Arga mengaku kehilangan dua klien besar.
Dia mengambil proyek berisiko untuk menutup kerugian.
Proyek itu gagal.
Utang perusahaan bertambah.
Lalu dia bertemu Hendra.
Hendra menawarkan skema investasi yang menurutnya bisa menghasilkan uang cepat.
Arga memasukkan uang perusahaan.
Ketika rugi, dia memasukkan lebih banyak.
Lalu menggunakan uang pribadi.
Kemudian, tanpa memberitahuku, dia membawa ibunya masuk.
Bu Ratna bukan dalangnya.
Dia korban berikutnya.
Aku menatap perempuan yang tiga hari sebelumnya berdiri di kamarku mengenakan jubahku dan menyuruhku menjadi “istri yang baik.”
Sekarang dia duduk membungkuk seperti tiba-tiba bertambah tua sepuluh tahun.
“Kamu memakai Ibumu sendiri untuk menutup kerugian?”
Arga menggeleng.
“Aku pikir investasi itu akan balik.”
“Kamu tahu dia menggunakan tabungan pensiunnya?”
“Aku akan menggantinya.”
“Dengan apa?”
Dia tidak punya jawaban.
Bu Ratna berdiri.
Tangannya gemetar.
Lalu—
Plak.
Tamparannya mengenai pipi Arga.
Aku terpaku.
Bu Ratna menangis.
“Ibu menjual gelang peninggalan nenekmu.”
Arga menunduk.
“Ibu tahu.”
“Ibu menjual tanah kecil di Bogor.”
“Aku tahu.”
“Ibu bahkan bilang kepada Nadira bahwa seorang istri harus berkorban untuk keluarga.”
Suaranya pecah.
“Padahal
