Hari Kelima Menikah, Kakak Iparku Menampar Tanganku di Meja Makan—Besoknya Dia Tahu Siapa Aku Sebenarnya

Avatar penulis
Cerita 04
15 menit baca 1,135 tayangan
Auto Draft
Indeks

Hari Kelima Menikah, Kakak Iparku Menampar Tanganku di Meja Makan—Besoknya Dia Tahu Siapa Aku Sebenarnya

Pada hari kelima setelah menikah, aku menghadiri makan malam keluarga suamiku untuk pertama kalinya.

Aku baru saja mengulurkan tangan untuk mengambil sepotong ayam panggang ketika sebuah tangan menepuk tanganku dengan keras.

Plak!

Aku langsung menarik tangan.

Auto Draft

Belum genap lima hari menjadi istri, aku akhirnya sadar bahwa keluarga suamiku mengundangku makan malam bukan untuk menyambutku sebagai anggota keluarga baru.

Mereka ingin menunjukkan posisiku.

Aku menatap perempuan yang duduk di seberang meja.

Namanya Rani, kakak perempuan suamiku.

Usianya tiga puluh dua tahun. Penampilannya selalu sempurna, dari rambut yang tertata rapi sampai gelang emas di pergelangan tangannya.

Namun malam itu, yang paling kuingat adalah senyumnya.

Seolah-olah dia memang sudah menunggu kesempatan ini.

“Kamu masih orang baru di keluarga ini, Nadira,” katanya tajam. “Belajar dulu aturannya.”

Punggung tanganku masih terasa panas.

Aku menoleh kepada suamiku, Arga.

Dia duduk tepat di sampingku.

Dan dia melihat semuanya.

Tetapi bukannya membelaku, Arga justru menundukkan kepala dan pura-pura sibuk dengan piringnya.

Entah kenapa, sikapnya terasa jauh lebih menyakitkan daripada tepukan Rani.

Ibu mertuaku, Bu Ratna, malah tertawa kecil.

“Jangan terlalu dimasukkan ke hati, Nadira,” katanya santai. “Rani cuma mengajarimu kebiasaan keluarga ini.”

Kebiasaan?

Aku memandang meja makan panjang di rumah mewah mereka di Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Ternyata ada aturan tidak tertulis mengenai siapa yang boleh mengambil makanan lebih dulu.

Bu Ratna harus dilayani pertama.

Kemudian Rani.

Setelah itu Pak Hendra, ayah mertuaku.

Baru Arga.

Dan orang yang dianggap memiliki posisi paling rendah harus menunggu sampai semuanya selesai mengambil makanan.

Malam itu, orang tersebut adalah aku.

Rani tersenyum puas lalu mengulurkan tangan untuk mengambil gelasnya.

Aku menepuk tangannya menjauh dengan kekuatan yang hampir sama seperti yang dia lakukan kepadaku.

Gelasnya bergeser dan hampir tumpah.

Rani tersentak.

Matanya membesar.

Aku menatap lurus ke arahnya.

“Memangnya kamu pikir kamu siapa?”

Arga langsung berdiri.

“Nadira!”

Aku hampir tertawa.

Menarik sekali.

Ternyata suamiku masih punya suara.

Hanya saja suara itu baru muncul ketika kakaknya diperlakukan seperti tadi.

Wajah Rani memerah.

“Dia menampar tanganku!”

“Kamu melakukannya lebih dulu.”

“Itu beda!”

Aku mengangkat alis.

“Bedanya apa?”

Bu Ratna meletakkan garpunya dengan keras.

“Nadira, jaga sikapmu! Kamu tamu di rumah kami.”

Aku perlahan melihat sekeliling.

Ruang makan itu begitu besar sampai apartemen lamaku mungkin bisa masuk ke dalamnya.

Dinding kayu mahal.

Lampu gantung kristal.

Meja makan panjang yang dibuat khusus.

Lantai marmer mengilap.

Semua benda di rumah itu seolah sengaja dipamerkan untuk mengingatkan siapa pun yang datang bahwa keluarga Arga memiliki uang.

Dan rupanya mereka juga percaya bahwa uang membuat penghinaan terdengar lebih berkelas.

Arga membungkuk sedikit ke arahku dan berbisik.

“Minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Rahangnya mengeras.

“Nadira, jangan bikin masalah.”

Aku hampir tidak percaya mendengarnya.

“Aku yang bikin masalah?”

Dia diam.

Dan pada saat itulah sesuatu di dalam diriku berubah.

Sebelum menikah, Arga bukan lelaki seperti ini.

Setidaknya, itulah yang kukira.

Selama kami pacaran, dia perhatian, romantis, bahkan terkadang terlalu protektif.

Dia selalu membukakan pintu untukku.

Selalu memastikan aku sampai rumah dengan selamat.

Kalau aku lembur, dia mengirim makanan ke kantor.

Dan setiap kali membicarakan keluarganya, Arga hanya mengatakan satu hal.

“Keluargaku agak tradisional.”

Aku pikir maksudnya mereka memiliki kebiasaan keluarga tertentu.

Mungkin harus berkumpul setiap akhir pekan.

Mungkin menantu perempuan diharapkan membantu di dapur saat Lebaran.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa “tradisional” berarti mempermalukan menantu baru di meja makan untuk melihat apakah dia cukup patuh.

Sekarang aku mengerti kenapa Arga tidak pernah menjelaskannya dengan jelas.

Dia mungkin berharap setelah cincin terpasang di jariku, aku akan merasa terlalu sulit untuk pergi.

Rani bersandar di kursinya.

Senyum puas kembali muncul.

“Kamu menikah masuk ke keluarga kami, Nadira,” katanya. “Harusnya kamu tahu diri dan bersyukur.”

Aku hampir tertawa.

Mereka tahu aku bekerja di bidang kepatuhan perusahaan dan manajemen risiko.

Tapi mereka tidak benar-benar tahu di mana aku bekerja.

Arga selalu memperkenalkan pekerjaanku kepada keluarganya dengan kalimat sederhana.

“Nadira semacam auditor kantoran.”

Semacam auditor kantoran.

Aku tidak pernah mengoreksinya.

Aku juga tidak pernah merasa perlu menjelaskan jabatan lengkapku kepada keluarganya.

Aku adalah Direktur Etika dan Manajemen Risiko di Pratama Capital, sebuah perusahaan investasi swasta di Jakarta yang dalam beberapa bulan terakhir diam-diam membeli sebagian besar piutang dan mengambil posisi pengendali atas beberapa perusahaan yang sedang mengalami masalah keuangan.

Termasuk satu perusahaan yang dimiliki keluarga Arga.

Mahardika Living.

Bisnis desain interior dan furnitur premium milik Bu Ratna dan Rani.

Perusahaan yang selama tiga minggu terakhir laporan keuangannya berada di mejaku.

Ironisnya, ketika pertama kali menerima berkas Mahardika Living, aku belum tahu siapa pemilik sebenarnya.

Nama perusahaan induk dan struktur kepemilikannya cukup rumit.

Aku baru menemukan hubungan itu…

kemarin.

Dan ada alasan lain mengapa berkas perusahaan tersebut sampai ke divisi etika dan risiko.

Sebuah alasan yang jauh lebih serius daripada sekadar utang.

Ada transaksi yang tidak cocok.

Invoice dari vendor yang alamatnya tidak jelas.

Pembayaran konsultasi bernilai miliaran rupiah.

Dan beberapa transfer yang membutuhkan penjelasan langsung dari direksi.

Salah satu nama yang muncul berulang kali dalam dokumen itu?

Rani Mahardika.

Aku memandang perempuan yang baru saja menepuk tanganku karena merasa aku belum memahami “posisiku”.

Kemudian aku menoleh kepada Bu Ratna.

Terakhir, aku menatap suamiku.

Arga masih berdiri di samping kursinya.

“Kamu akan minta maaf atau tidak?” tanyanya.

Aku tidak menjawab pertanyaannya.

Sebaliknya, aku bertanya pelan,

“Arga, ada hal lain tentang keluargamu yang lupa kamu ceritakan kepadaku?”

Ruangan mendadak sunyi.

“Apa maksudmu?”

Aku memperhatikan wajahnya.

Dan selama kurang dari satu detik, ekspresinya berubah.

Bukan marah.

Bukan bingung.

Takut.

Sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

Tapi pekerjaanku selama bertahun-tahun adalah memperhatikan detail yang ingin disembunyikan orang lain.

Aku melihatnya.

Aku tahu ekspresi itu.

Dan tiba-tiba aku sadar sesuatu.

Arga mungkin tahu lebih banyak tentang masalah Mahardika Living daripada yang selama ini dia akui.

Aku menyandarkan punggung ke kursi.

Rasa panas di tanganku sudah tidak penting lagi.

Rani masih menatapku seolah aku hanyalah menantu baru yang harus diajari sopan santun.

Bu Ratna masih menungguku meminta maaf.

Mereka semua mengira malam ini adalah kesempatan untuk mengajariku siapa yang berkuasa di keluarga ini.

Mereka belum tahu bahwa besok pagi, sebuah rapat khusus akan berlangsung di kantor Pratama Capital.

Di atas meja rapat itu akan ada satu map tebal.

Di sampulnya tertulis:

MAHARDIKA LIVING — PENINJAUAN RISIKO KHUSUS.

Dan orang yang akan memimpin rapat itu…

adalah aku.

Aku menatap Rani sekali lagi.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku tersenyum.

Mungkin dia benar tentang satu hal.

Aku memang masih baru di keluarga ini.

Dan sepertinya aku masih harus belajar banyak tentang mereka.

Tapi besok pagi…

merekalah yang akan belajar siapa sebenarnya menantu yang baru saja mereka permalukan di meja makan.

BAGIAN 2

Mereka Mengira Aku Hanya Menantu Baru, Sampai Pintu Ruang Rapat Terbuka—Tapi Rahasia Terbesar Justru Datang dari Suamiku

Keesokan paginya, pukul sembilan kurang sepuluh menit, aku sudah duduk di ruang rapat lantai dua puluh tiga kantor Pratama Capital di kawasan Sudirman.

Di depanku ada sebuah map tebal.

MAHARDIKA LIVING — PENINJAUAN RISIKO KHUSUS.

Semalam, setelah pulang dari rumah mertuaku, aku hampir tidak tidur.

Bukan karena Rani.

Bukan pula karena Bu Ratna.

Aku terus memikirkan satu hal.

Wajah Arga.

Ketakutan kecil yang muncul ketika aku bertanya apakah masih ada sesuatu tentang keluarganya yang belum dia ceritakan kepadaku.

Aku mengenal ekspresi orang yang menyembunyikan sesuatu.

Pekerjaanku membuatku melihatnya hampir setiap hari.

Namun selama ini aku tidak pernah berpikir harus mencarinya di wajah suamiku sendiri.

Pintu ruang rapat terbuka.

Atasanku, Pak Surya Adinata, masuk membawa laptop.

“Nadira.”

“Pagi, Pak.”

Dia duduk di sebelahku.

“Kamu yakin mau memimpin rapat ini?”

Aku tahu maksud pertanyaannya.

Kemarin sore aku sudah melaporkan hubungan pribadiku dengan pemilik Mahardika Living.

Aku tidak menyembunyikan bahwa mereka adalah keluarga suamiku.

Bahkan aku menawarkan diri untuk mundur dari pemeriksaan.

Namun tim legal memutuskan aku tetap boleh mempresentasikan temuan awal karena hampir seluruh analisis dilakukan sebelum aku mengetahui hubungan tersebut. Setelah itu, keputusan akan diambil oleh komite independen.

Aku mengangguk.

“Saya hanya akan menyampaikan fakta. Keputusan selanjutnya bukan di tangan saya.”

Pak Surya menatapku beberapa detik.

“Bagus.”

Pukul sembilan tepat, pintu kembali terbuka.

Rani masuk lebih dulu.

Di belakangnya ada Bu Ratna.

Dan beberapa langkah kemudian…

Arga.

Rani sedang berbicara kepada seorang pengacara ketika matanya menemukan wajahku.

Langkahnya berhenti.

Bu Ratna hampir menabraknya dari belakang.

“Nadira?”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya berdiri dan menunjuk kursi di seberang meja.

“Silakan duduk.”

Wajah Rani kehilangan warna.

Bu Ratna memandangku, kemudian Pak Surya, lalu layar besar di belakangku.

Nama Mahardika Living terpampang di sana.

Arga tidak mengatakan apa-apa.

Dia hanya menatapku.

Sekarang aku melihat ketakutan yang sama seperti semalam.

Bedanya, kali ini dia tidak bisa menyembunyikannya.

Rani akhirnya bersuara.

“Kamu ngapain di sini?”

Pak Surya menjawab sebelum aku sempat membuka mulut.

“Bu Nadira adalah Direktur Etika dan Manajemen Risiko Pratama Capital.”

Rani berkedip.

Bu Ratna membeku.

“Apa?”

Pak Surya melanjutkan dengan tenang.

“Beliau memimpin tim yang melakukan peninjauan awal terhadap transaksi Mahardika Living selama tiga minggu terakhir.”

Aku melihat mata Rani perlahan beralih kepada Arga.

“Katanya dia auditor biasa.”

Arga menelan ludah.

Aku hampir tersenyum.

Bahkan sekarang, itulah yang paling membuat Rani terkejut.

Bukan pemeriksaan perusahaannya.

Melainkan fakta bahwa menantu yang dia anggap lebih rendah ternyata memiliki jabatan yang tidak bisa dia remehkan.

Aku menyalakan presentasi.

“Kita mulai?”

Bu Ratna memotong.

“Tunggu dulu. Ini tidak pantas. Dia keluarga kami.”

“Justru karena itu,” jawabku, “semua keputusan akhir akan dibuat oleh komite independen. Saya hanya akan mempresentasikan temuan yang sudah terdokumentasi sebelum hubungan keluarga ini diketahui.”

Aku melihat langsung kepada Rani.

“Tidak ada masalah pribadi yang akan dibahas di ruangan ini.”

Rani mengepalkan tangannya.

Aku melanjutkan.

Dalam dua puluh menit berikutnya, suasana berubah total.

Ada pembayaran kepada tiga vendor yang tidak memiliki kantor jelas.

Ada tagihan konsultasi dengan nilai hampir Rp4,8 miliar selama delapan belas bulan.

Ada pembelian material yang harganya dinaikkan jauh di atas harga pasar.

Dan yang paling mengkhawatirkan…

Ada transfer rutin ke sebuah perusahaan bernama PT Arunika Konsultan Mandiri.

Totalnya lebih dari Rp6,2 miliar.

“Siapa pemilik perusahaan itu?” tanya Pak Surya.

Rani langsung menjawab.

“Vendor eksternal.”

Aku menggeser satu halaman.

“Bukan.”

Wajahnya berubah.

“Berdasarkan dokumen administrasi perusahaan, pemilik manfaat akhirnya adalah seseorang bernama Dimas Prakoso.”

Rani menghela napas lega.

Hanya sepersekian detik.

Lalu aku menampilkan halaman berikutnya.

“Dimas Prakoso adalah teman kuliah Arga.”

Semua mata beralih kepada suamiku.

Arga memejamkan mata.

Dadaku terasa dingin.

Semalam aku belum mengetahui bagian ini.

Tim investigasi mengirimkan pembaruan lengkap kepadaku pukul enam pagi.

Aku bahkan sempat berharap mereka salah.

“Arga?” suara Bu Ratna bergetar.

Arga tidak menjawab.

Aku memandang lelaki yang baru lima hari menjadi suamiku.

“Apakah kamu mengenal PT Arunika?”

Dia membuka mata.

“Nadira…”

“Jawab pertanyaannya.”

Rani tiba-tiba berdiri.

“Ini sudah keterlaluan!”

Pak Surya menatapnya.

“Silakan duduk, Bu Rani.”

“Ini urusan keluarga!”

“Tidak,” kataku.

Suaraku tetap tenang.

“Enam koma dua miliar rupiah bukan urusan keluarga. Itu urusan perusahaan.”

Rani menatapku dengan kebencian.

Kemudian sesuatu yang aneh terjadi.

Arga tertawa kecil.

Bukan tawa bahagia.

Tawa seseorang yang akhirnya berhenti berusaha menahan beban terlalu berat.

“Aku kenal,” katanya.

Ruangan sunyi.

Bu Ratna menatap anaknya.

“Apa?”

Arga menunduk.

“Aku kenal perusahaan itu.”

Jantungku berdegup semakin cepat.

“Seberapa jauh kamu terlibat?”

Dia mengangkat wajah.

“Aku yang mendirikannya.”

Aku tidak langsung memahami kalimat itu.

Kemudian rasanya seperti lantai di bawah kakiku bergeser.

Rani berteriak.

“Arga, tutup mulut!”

Dan kalimat itu menjawab pertanyaan yang belum sempat kutanyakan.

Aku menatap Rani.

“Kamu tahu?”

Dia diam.

Bu Ratna berdiri perlahan.

“Rani?”

Tidak ada jawaban.

Arga mengambil napas panjang.

“Kak Rani menyuruhku mendirikan perusahaan atas nama Dimas tiga tahun lalu.”

Rani menghantam meja.

“Bohong!”

“Cukup, Kak.”

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenal Arga, dia berbicara kepada kakaknya tanpa ketakutan.

“Cukup.”

Dia mengeluarkan sebuah flashdisk hitam dari saku jasnya.

Tanganku langsung terasa dingin.

“Apa itu?” tanyaku.

Arga meletakkannya di meja.

“Semua yang kalian butuhkan.”

Rani langsung bergerak maju.

Pak Surya berdiri.

“Jangan sentuh.”

Arga mendorong flashdisk itu ke tengah meja.

“Ada salinan invoice, percakapan WhatsApp, instruksi transfer, dan rekaman beberapa rapat.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kamu sudah menyimpan semua itu?”

“Dua tahun.”

“Kenapa?”

Arga menatap ibunya.

Lalu dia mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuduga.

“Karena aku tahu suatu hari perusahaan ini akan hancur.”

Bu Ratna terduduk kembali.

Wajahnya pucat.

Arga mulai bercerita.

Tiga tahun sebelumnya, Mahardika Living mulai mengalami masalah arus kas setelah ekspansi besar-besaran.

Rani, yang memegang kendali operasional, membuat skema vendor untuk mengeluarkan uang perusahaan tanpa terlihat seperti penarikan langsung.

Awalnya Arga menolak membantu.

Namun Rani mengancam akan memberitahu ayah mereka bahwa Arga pernah menggunakan uang perusahaan untuk menutup utang pribadi saat masih muda.

“Berapa?” tanyaku.

“Seratus delapan puluh juta.”

Aku terdiam.

Bukan jumlah kecil.

Namun juga tidak menjelaskan miliaran rupiah yang mengalir setelahnya.

“Aku mengembalikannya dalam enam bulan,” kata Arga. “Tapi aku takut Ayah tahu.”

Jadi dia membantu Rani.

Sekali.

Lalu dua kali.

Kemudian dia terjebak.

Setiap kali ingin berhenti, Rani mengingatkan bahwa tanda tangannya sudah ada di dokumen awal.

Kalau semuanya terbongkar, dia juga akan jatuh.

“Lalu kenapa kamu menyimpan bukti?” tanyaku.

Arga menatapku.

“Karena dua tahun lalu Ayah menemukan sesuatu.”

Semua orang menoleh kepada Pak Hendra.

Baru saat itu aku sadar satu hal.

Ayah mertuaku tidak datang ke rapat.

“Di mana Ayah?” tanya Bu Ratna.

Arga menunduk.

“Di rumah sakit.”

Bu Ratna langsung berdiri.

“Apa?”

“Ayah masuk rumah sakit tadi subuh.”

Wajah Rani berubah.

Aku juga terkejut.

“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?” tanya Bu Ratna.

“Karena Ayah meminta begitu.”

Arga mengeluarkan ponselnya.

“Ayah juga meminta aku memutar ini kalau Rani menyangkal semuanya.”

Dia meletakkan ponsel di meja.

Sebuah rekaman suara diputar.

Suara Pak Hendra terdengar lemah tetapi jelas.

“Nadira, kalau kamu mendengar ini, berarti akhirnya semuanya terbuka.”

Aku menahan napas.

“Aku tahu tentang transaksi Rani sejak hampir dua tahun lalu. Aku juga tahu Arga ikut membantu pada awalnya. Aku marah. Tapi aku membuat kesalahan yang lebih besar.”

Suara itu berhenti beberapa detik.

“Aku menutupinya.”

Bu Ratna menutup mulutnya.

Pak Hendra melanjutkan.

“Aku takut nama keluarga hancur. Aku takut perusahaan yang kubangun tiga puluh tahun runtuh. Jadi aku memilih diam. Aku pikir aku sedang menyelamatkan keluarga.”

Kemudian suaranya berubah.

Lebih berat.

“Ternyata aku hanya mengajari anak-anakku bahwa selama nama keluarga terlindungi, kesalahan bisa disembunyikan.”

Aku menunduk.

Kalimat berikutnya membuat mataku panas.

“Semalam, setelah Nadira pulang, aku mendengar apa yang terjadi di meja makan.”

Aku menatap Arga.

“Aku mendengar istriku dan putriku mempermalukan seorang perempuan hanya karena dia baru masuk keluarga ini. Dan aku melihat putraku diam.”

Ruangan begitu sunyi hingga suara pendingin udara terdengar jelas.

“Untuk pertama kalinya aku sadar bahwa masalah keluarga kami bukan uang.”

“Masalah kami adalah kami sudah terlalu lama percaya bahwa menjadi Mahardika berarti kami selalu lebih tinggi daripada orang lain.”

Bu Ratna mulai menangis.

Kemudian rekaman itu sampai pada bagian terakhir.

“Nadira, jangan selamatkan perusahaan ini demi kami.”

Aku mengangkat kepala.

“Kalau perusahaan ini masih layak diselamatkan, selamatkan para karyawannya. Mereka tidak melakukan kesalahan.”

“Kalau tidak layak, biarkan jatuh.”

“Tapi jangan biarkan nama keluarga kami membeli kebenaran sekali lagi.”

Rekaman berhenti.

Tidak ada seorang pun berbicara.

Aku melihat Rani.

Semalam dia duduk di meja makan seperti seorang ratu.

Sekarang tangannya gemetar.

Namun anehnya, aku tidak merasa puas.

Aku hanya merasa sedih.

Karena di balik semua kesombongan itu ternyata ada keluarga yang sudah bertahun-tahun membusuk karena satu kebiasaan sederhana:

menutupi kesalahan demi menjaga penampilan.

Rapat dihentikan.

Semua bukti diserahkan kepada tim legal dan auditor forensik independen.

Aku mengundurkan diri sepenuhnya dari penanganan kasus itu setelah presentasi selesai.

Bukan karena takut.

Karena aku tidak ingin satu pun keputusan berikutnya bisa dianggap sebagai balas dendam seorang menantu.

Tiga minggu kemudian, hasil pemeriksaan keluar.

Rani dicopot dari seluruh jabatan manajemen.

Sejumlah transaksi diserahkan kepada pihak berwenang untuk proses lebih lanjut.

Arga juga tidak lolos begitu saja.

Karena keterlibatannya di awal skema, dia harus memberikan kesaksian dan mempertanggungjawabkan semua dokumen yang pernah dia tandatangani.

Mahardika Living hampir bangkrut.

Namun Pratama Capital menyetujui restrukturisasi dengan satu syarat penting:

keluarga Mahardika kehilangan kendali operasional.

Manajemen profesional masuk.

Aset pribadi tertentu dijual untuk membayar sebagian kewajiban.

Dan lebih dari seratus dua puluh karyawan tetap mempertahankan pekerjaan mereka.

Bu Ratna tidak pernah meminta maaf kepadaku selama berminggu-minggu.

Sampai suatu sore dia datang ke apartemenku.

Sendirian.

Tanpa sopir.

Tanpa perhiasan mahal.

Dia membawa sebuah kotak makanan.

“Aku bikin sendiri,” katanya.

Aku hampir tersenyum.

“Isinya apa?”

“Ayam panggang.”

Kami sama-sama terdiam.

Ironis sekali.

Makanan yang memulai semuanya.

Bu Ratna menaruh kotak itu di meja.

Kemudian dia berkata pelan,

“Nadira, aku minta maaf.”

Aku tidak langsung menjawab.

Dia menatap tangannya.

“Aku dibesarkan dengan aturan seperti itu. Ketika menikah dengan Hendra, ibu mertuaku memperlakukanku persis seperti aku memperlakukanmu.”

Aku menatapnya.

“Lalu kenapa Ibu meneruskannya?”

Air matanya jatuh.

“Karena setelah bertahun-tahun, aku berhenti menganggapnya salah. Aku malah menunggu giliran menjadi orang yang punya kuasa.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada yang kuduga.

Kadang-kadang orang yang disakiti tidak memutus rantai.

Mereka hanya menunggu sampai cukup kuat untuk berdiri di sisi lain rantai itu.

“Aku tidak bisa pura-pura malam itu tidak terjadi,” kataku.

“Aku tahu.”

“Tapi saya menghargai Ibu datang ke sini.”

Dia mengangguk.

Itu bukan pengampunan penuh.

Tapi mungkin itu awal.

Masalah terbesarku masih tersisa.

Arga.

Sebulan setelah pernikahan kami, kami duduk berdua di apartemen.

Cincin pernikahanku terletak di atas meja.

“Aku mencintaimu,” katanya.

“Aku tahu.”

“Aku tidak menikahimu karena jabatanmu.”

“Aku juga tahu.”

Dia tampak terkejut.

“Lalu kenapa…?”

“Karena masalahnya bukan apakah kamu mencintaiku.”

Aku menatapnya.

“Masalahnya adalah kamu melihat kakakmu mempermalukanku dan memilih diam.”

Arga menunduk.

“Aku takut.”

“Itulah masalahnya.”

Aku mendorong cincin itu perlahan ke arahnya.

“Aku tidak butuh suami yang tidak pernah takut, Arga. Aku butuh suami yang ketika takut tetap memilih berdiri di sampingku.”

Matanya merah.

“Apa ini berarti selesai?”

Aku menatap lelaki yang baru beberapa minggu sebelumnya kupikir akan menemaniku seumur hidup.

Dan hatiku sakit.

Sangat sakit.

Namun aku akhirnya memahami sesuatu.

Pernikahan bukan alasan untuk mempertahankan seseorang dengan harga kehilangan harga diri sendiri.

“Aku belum tahu,” kataku.

“Aku tidak mau mengambil keputusan hanya karena marah.”

Kami sepakat tinggal terpisah.

Arga mulai menjalani konselin