MALAM SEBELUM TANAHKU DIREBUT, AKU MEMILIH TIDAK MELARIKAN DIRI DAN MENYIAPKAN SATU LANGKAH YANG TAK MEREKA DUGA

Avatar penulis
Cerita 05
5 menit baca 92 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — MALAM SEBELUM TANAHKU DIREBUT, AKU MEMILIH TIDAK MELARIKAN DIRI DAN MENYIAPKAN SATU LANGKAH YANG TAK MEREKA DUGA

Besok.

Aku terus menatap kata itu sampai huruf-hurufnya terasa kabur di depan mataku.

Selama enam puluh delapan tahun hidup, aku pernah menghadapi kematian suami, utang warung, sakit, dan hari-hari ketika aku hanya memiliki cukup uang untuk membeli beras bagi ketiga anakku. Namun tidak ada yang terasa sesakit melihat tanda tangan palsu atas namaku sendiri.

Sari mengambil dokumen itu dengan hati-hati.

—Bi, kita harus melapor malam ini.

Aku mengangguk.

Namun cucuku tiba-tiba menggenggam lenganku.

—Nenek, Ayah bilang besok pagi mereka semua akan bertemu seseorang.

—Di mana?

Dia menyebut sebuah kantor di pusat kota.

Aku langsung menelepon pengacara yang sebelumnya kutemui. Setelah mendengar tentang rekaman dan dokumen palsu itu, suaranya berubah serius.

—Jangan hubungi anak-anak Ibu. Jangan memberi tahu mereka bahwa Ibu memiliki bukti. Foto semua dokumen dan kirimkan kepada saya sekarang.

Malam itu, kami hampir tidak tidur.

Pengacara membantu menghubungi pihak yang berwenang dan memastikan sertifikat asli tetap aman. Ia juga menyarankan agar aku datang langsung ke kantor tempat transaksi dijadwalkan berlangsung.

—Mengapa saya harus datang?

—Karena selama keselamatan Ibu terjamin, kemunculan Ibu akan menghancurkan cerita bahwa Ibu tidak mampu mengambil keputusan sendiri.

Pukul delapan pagi keesokan harinya, aku mengenakan pakaian sederhana dan selendang yang diberikan putri bungsuku saat ulang tahunku.

Ironis.

Hadiah dari anak yang beberapa hari sebelumnya memelukku sambil berharap aku hidup seratus tahun.

Sari menemaniku.

Cucuku tetap berada di tempat aman bersama seseorang yang dipercaya Sari.

Ketika kami tiba, pengacaraku sudah menunggu.

—Siap?

Aku menarik napas panjang.

—Saya tidak tahu.

Dia menatapku.

—Ibu tidak perlu kuat. Ibu hanya perlu mengatakan yang sebenarnya.

Kami memasuki gedung.

Dari balik pintu kaca sebuah ruangan, aku melihat ketiga anakku.

Putra sulungku duduk paling dekat dengan meja. Putra keduaku memegang map. Putri bungsuku duduk di ujung dengan wajah gelisah.

Di seberang mereka ada seorang pria yang tidak kukenal.

Aku mengenali suaranya.

Pria dalam rekaman.

Aku membuka pintu.

Semua kepala menoleh.

Putra sulungku langsung berdiri.

—M-Mama?

Aku tersenyum tipis.

—Mengapa terkejut? Bukankah tanah yang kalian bicarakan milik Mama?

Wajah putra keduaku pucat.

Putriku menutup mulut.

Pria asing itu buru-buru merapikan dokumen.

—Maaf, Ibu siapa?

Aku menatapnya.

—Pemilik tanah yang hendak kalian jual.

Ruangan langsung hening.

Putra sulungku mendekat.

—Ma, dengarkan dulu. Ini salah paham.

—Bagian mana yang salah paham?

Aku meletakkan salinan dokumen di meja.

—Tanda tangan palsu ini?

Tidak ada jawaban.

—Atau cerita bahwa Mama sering tersesat dan tidak mengenali keluarga?

Putra keduaku berdiri.

—Kami cuma khawatir pada Mama.

Aku menatapnya lama.

—Kalau khawatir, mengapa kalian tidak bertanya apakah Mama sudah makan? Mengapa yang kalian tanyakan selalu sertifikat tanah?

Dia terdiam.

Pengacaraku kemudian masuk bersama dua petugas yang telah menunggu di luar.

Pria asing itu langsung berdiri.

—Saya tidak tahu ada masalah keluarga seperti ini.

Aku mengeluarkan ponsel lama milik cucuku.

—Tapi suara Anda ada di sini.

Untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar berubah.

Rekaman diputar.

“Kalau dia tetap tidak mau pulang, kita gunakan rencana kedua.”

Kemudian:

“Aku sudah menemukan orang yang bisa membuat dokumen penggantinya.”

Dan akhirnya suara pria itu:

“Saat dia mengetahuinya, tanah itu sudah selesai dibalik nama.”

Putri bungsuku mulai menangis.

—Mama…

Aku mengangkat tangan.

—Belum.

Aku tidak ingin mendengar permintaan maaf sebelum seluruh kebenaran keluar.

Pihak berwenang memeriksa dokumen. Transaksi dihentikan saat itu juga dan dokumen-dokumen yang mencurigakan diamankan untuk diperiksa lebih lanjut.

Pria asing tersebut dibawa untuk dimintai keterangan.

Sebelum keluar, putra sulungku berbisik:

—Ma, aku bisa jelaskan.

Aku menatap anak yang dulu kugendong sambil berjualan nasi.

—Kalau begitu jelaskan sekarang.

Dia menunduk.

Ternyata bisnisnya mengalami kerugian besar.

Putra keduaku juga terlilit utang setelah mengambil keputusan investasi yang buruk.

Mereka melihat tanahku sebagai jalan keluar.

Putri bungsuku awalnya menolak, tetapi akhirnya ikut karena dijanjikan bagian yang cukup untuk melunasi cicilan rumahnya.

—Kami berniat mengembalikan semuanya, Ma.

Aku hampir tertawa.

—Dengan menjual sesuatu yang bukan milik kalian?

Tidak seorang pun menjawab.

Lalu pintu terbuka.

Cucuku masuk ditemani Sari.

Putra sulungku membeku.

—Kenapa kamu ada di sini?

Anak itu berdiri di belakangku.

—Aku yang merekam semuanya, Yah.

Wajah putraku berubah.

—Kamu mengkhianati ayahmu sendiri?

Aku langsung berdiri di depan cucuku.

—Jangan.

Suaraku membuat seluruh ruangan diam.

—Dia tidak mengkhianati siapa pun. Dia melindungi neneknya dari orang dewasa yang seharusnya mengajarinya tentang benar dan salah.

Putraku menatap anaknya.

Cucuku menangis.

—Ayah selalu bilang jangan mengambil barang milik orang lain. Kenapa Ayah sendiri melakukannya?

Tidak ada jawaban.

Kalimat sederhana seorang anak tiga belas tahun ternyata jauh lebih tajam daripada semua tuduhanku.

Hari itu, aku tidak membawa ketiga anakku pulang.

Aku kembali ke rumah Sari.

Selama beberapa minggu berikutnya, proses pemeriksaan berjalan. Tanahku tetap aman. Rekeningku aman. Dua rumah kontrakan juga tidak tersentuh.

Namun aku membuat keputusan lain.

Aku mencabut semua kuasa yang pernah kuberikan kepada anak-anak.

Aku memperbarui dokumen warisan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku berhenti memikirkan apa yang akan kutinggalkan setelah mati.

Aku mulai memikirkan bagaimana aku ingin hidup sebelum mati.

Tetapi sebulan kemudian, seseorang mengetuk pintu rumah Sari.

Ketika kubuka, putri bungsuku berdiri di sana.

Sendirian.

Tidak membawa suami.

Tidak membawa kedua kakaknya.

Tidak membawa dokumen apa pun.

Dia hanya membawa sebuah kantong plastik kecil berisi tiga kotak makanan.

Matanya sembap.

—Mama… boleh aku masuk?

Aku tidak langsung menjawab.

Dia menunduk.

—Kalau Mama belum bisa memaafkanku, aku mengerti. Aku cuma ingin mengembalikan sesuatu.

Dia membuka tasnya.

Di dalamnya ada selendang yang kupakai pada hari kami menghentikan transaksi.

Dan di bawah selendang itu terdapat sebuah buku kecil yang sangat kukenal.

Buku catatan resep dari warung lamaku.

Putriku menggigit bibir sambil menangis.

—Mama pernah bilang, harta terbesar Mama bukan tanah.

Aku terdiam.

Dia melanjutkan:

—Mama bilang harta terbesar Mama adalah kemampuan memberi makan keluarga dari tangan Mama sendiri.

Lalu dia berlutut di depan pintu.

—Aku lupa itu, Ma.

Untuk pertama kalinya sejak semua kejadian tersebut, hatiku yang keras mulai bergetar.

Namun aku belum tahu bahwa kedatangannya hari itu akan menjadi awal dari perubahan yang jauh lebih besar bagi keluarga kami.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)