IBU MEMBUANG SUP ANAKKU DAN MENGUSIRKU—BESOKNYA, PENGACARA MEMBUKA AKTA RUMAH YANG TERNYATA ATAS NAMAKU

Avatar penulis
Cerita 04
21 menit baca 657 tayangan
IBU MEMBUANG SUP ANAKKU DAN MENGUSIRKU—BESOKNYA, PENGACARA MEMBUKA AKTA RUMAH YANG TERNYATA ATAS NAMAKU
Indeks

IBU MEMBUANG SUP ANAKKU DAN MENGUSIRKU—BESOKNYA, PENGACARA MEMBUKA AKTA RUMAH YANG TERNYATA ATAS NAMAKU

Setelah membuang sup milik putriku, Ibu menunjuk ke arah pintu dan berkata,

“Begitu kamu sadar tidak sanggup bayar kontrakan, kamu pasti pulang ke sini sambil minta maaf.”

Ayah diam saja.

Adikku bahkan tersenyum kecil, seolah sudah yakin aku tidak akan mampu hidup tanpa mereka.

Aku tidak membantah.

Aku hanya menggendong putriku, mengambil tas kami, lalu pergi.

Keesokan paginya, aku menyerahkan sebuah akta kepada seorang pengacara.

Akta yang ditandatangani sendiri oleh kedua orang tuaku.

Dan isi dokumen itu bisa membuat mereka kehilangan rumah yang baru saja mereka gunakan untuk mengusirku.

IBU MEMBUANG SUP ANAKKU DAN MENGUSIRKU—BESOKNYA, PENGACARA MEMBUKA AKTA RUMAH YANG TERNYATA ATAS NAMAKU

“Umurmu sudah tiga puluh empat tahun, Nadira. Berhentilah hidup seperti orang yang terus bergantung pada keluarga. Kalau merasa hebat, cari tempat tinggal sendiri bersama anakmu.”

Ibu mengatakan itu sambil memegang mangkuk sup milik Alya, putriku yang baru berusia dua tahun.

Aku bahkan belum sempat menjawab ketika Ibu berjalan menuju wastafel dapur.

Lalu dia menuangkan seluruh isi mangkuk itu.

Kuah sop ayam mengalir di atas wastafel stainless steel.

Mi dan potongan kentang menempel di saringan.

Seiris wortel kecil berputar sebelum akhirnya ikut hanyut bersama air.

Alya menatap mangkuk kosong di tangan neneknya.

Bibir kecilnya bergetar.

“Nenek… sup Alya…”

Suara itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua penghinaan yang baru saja kudengar.

Di dekat jendela ruang makan, adikku, Rani, masih sibuk menggulir layar ponselnya.

Dia bahkan tidak mengangkat kepala.

“Ibu benar, Mbak,” katanya santai. “Sudah cukup tinggal di sini seolah-olah rumah ini hotel. Semua orang juga kerja.”

Aku menoleh kepadanya.

Rani berusia dua puluh sembilan tahun.

Dia tinggal di sebuah apartemen kecil di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Selama hampir empat tahun terakhir, setiap bulan aku mentransfer uang kepadanya untuk membantu membayar cicilan apartemen itu.

Rp9.200.000.

Setiap bulan.

Namun di depan pacarnya dan teman-temannya, Rani selalu bercerita bahwa dia perempuan mandiri yang tidak pernah meminta bantuan siapa pun.

Tentu saja dia tidak pernah menceritakan tentang transfer dariku.

Aku kemudian menatap Ayah.

Namanya Hendra Pratama.

Dia duduk di kursi dekat meja makan dengan koran terbuka di tangannya.

Perlahan-lahan, Ayah melipat koran itu.

Untuk sesaat, aku benar-benar berpikir dia akhirnya akan mengatakan sesuatu.

Mungkin membela Alya.

Mungkin mengatakan kepada Ibu bahwa membuang makanan cucunya sudah keterlaluan.

Ternyata tidak.

Ayah berdiri.

Dia mengambil stroller Alya yang terlipat di dekat lemari.

Kemudian membuka pintu depan.

Tanpa menatapku, Ayah meletakkan stroller itu di teras.

Di samping sandal-sandal kami.

Pesannya jelas.

Pergilah.

Enam bulan sebelumnya, setelah perceraianku selesai, justru Ayah dan Ibu yang memaksaku kembali tinggal bersama mereka di rumah dua lantai di Bintaro, Tangerang Selatan.

Mantan suamiku pergi setelah aku mengetahui dia memiliki perempuan lain.

Aku hanya membawa Alya, beberapa koper pakaian, pekerjaanku sebagai editor lepas, dan tabungan yang cukup untuk bertahan beberapa bulan.

Saat itu Ibu memelukku sambil menangis.

“Rumah ini akan selalu menjadi rumahmu, Nadira.”

Aku mempercayainya.

Mungkin itu kesalahanku.

Sejak pindah kembali, aku tidak pernah tinggal gratis.

Aku membeli kebutuhan dapur.

Aku membayar internet dan sebagian tagihan listrik.

Obat tekanan darah dan kolesterol Ayah hampir selalu kubeli.

Setiap akhir pekan aku membersihkan rumah sementara Ibu pergi arisan atau menghadiri pengajian bersama teman-temannya.

Awalnya, aku menganggap semuanya wajar.

Aku tinggal bersama mereka.

Tentu aku harus membantu.

Namun perlahan, bantuan berubah menjadi kewajiban.

Kalau aku membeli beras, Ibu bertanya kenapa belum membeli minyak.

Kalau aku membayar listrik, dia mengingatkan bahwa tabung gas hampir habis.

Kalau aku membawa ayam dan sayuran untuk seminggu, Rani datang pada hari Minggu, makan bersama kami, lalu membawa pulang tiga atau empat kotak makanan.

Dan entah bagaimana…

Akulah yang mereka sebut beban keluarga.

Alya mulai menangis.

Aku berjongkok di depannya.

Kusaput sedikit kuah yang masih menempel di sudut bibirnya.

Kupakaikan jaket kuning kesayangannya.

Aku memasukkan botol minumnya ke dalam tas.

Lalu aku menggendongnya.

“Terima kasih untuk makanannya, Bu,” kataku.

Ibu tertawa pendek.

“Tidak usah sok punya harga diri.”

Aku berhenti di dekat pintu.

Ibu melipat kedua tangannya.

“Nanti kalau kamu sudah tahu berapa mahalnya hidup sendirian di Jakarta, kamu pasti pulang.”

Rani akhirnya mengangkat wajah dari ponselnya.

Senyumnya tipis.

Ibu melanjutkan,

“Dan saat itu, jangan harap bisa masuk begitu saja. Kamu harus minta maaf dulu.”

Aku menatap mereka satu per satu.

Ibu.

Ayah.

Rani.

Lalu aku tersenyum kecil.

“Baik.”

Hanya itu.

Aku pergi.


Malam itu, Alya dan aku tidak tidur di hotel mewah.

Kami juga belum punya apartemen baru.

Aku membawa Alya ke sebuah rumah kos sederhana dekat Stasiun Jurangmangu.

Kamar kami hanya cukup untuk satu tempat tidur, lemari kecil, meja plastik, dan kamar mandi di luar.

Bu Sari, pemilik kos, melihat Alya yang sudah mengantuk dalam gendonganku.

Dia tidak banyak bertanya.

“Bayar mingguan dulu juga boleh, Mbak.”

“Terima kasih, Bu.”

Malam itu, setelah Alya tertidur dengan boneka kelincinya di dada, aku duduk di tepi tempat tidur.

Aku membuka ponsel.

Kemudian masuk ke sebuah catatan yang sudah kusimpan selama bertahun-tahun.

Judulnya hanya dua kata.

PLAN B.

Aku membacanya beberapa detik.

Lalu mengetik satu kalimat baru.

Minggu: diaktifkan.

Setelah itu, aku membuka aplikasi mobile banking.

Aku masuk ke bagian transfer terjadwal.

Di sana masih tercantum nama Rani Prameswari.

Transfer otomatis setiap tanggal 15.

Rp9.200.000.

Aku menekan:

Batalkan transfer rutin.

Aplikasi meminta konfirmasi.

Aku menekan sekali.

Kemudian sekali lagi.

Selesai.

Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, cicilan apartemen Rani bulan depan bukan lagi urusanku.

Namun itu baru langkah pertama.

Aku membuka folder lain di ponsel.

Folder itu tidak memiliki nama keluarga.

Aku hanya menamainya:

DOKUMEN.

Di dalamnya ada puluhan foto dan hasil scan.

Akta.

Bukti pembayaran pajak.

Bukti transfer.

Tagihan renovasi.

Kuitansi rumah sakit.

Resep dan pembelian obat Ayah.

Dan sebuah dokumen yang tampaknya sudah benar-benar dilupakan keluargaku.

Lima tahun sebelumnya, Ayah dan Ibu pernah menghadapi masalah keuangan besar.

Usaha distribusi bahan bangunan milik Ayah hampir bangkrut setelah salah satu mitranya gagal membayar utang dalam jumlah besar.

Saat itu, mereka takut rumah di Bintaro ikut terseret dalam persoalan tersebut.

Atas saran seorang notaris kenalan keluarga, mereka mengambil keputusan.

Rumah dipindahkan secara legal.

Atas namaku.

Aku masih ingat Ibu duduk di kantor notaris sambil berkata,

“Kamu anak pertama kami. Kami percaya sama kamu. Nanti kalau semuanya sudah aman, kita pikirkan lagi.”

Aku tidak pernah meminta rumah itu.

Aku bahkan sempat menolak.

Tetapi Ayah bersikeras.

Semua dokumen ditandatangani.

Proses balik nama selesai.

Beberapa tahun kemudian, usaha Ayah membaik.

Kehidupan kembali normal.

Dan sejak itu, tidak seorang pun pernah membicarakan dokumen tersebut lagi.

Mereka mungkin berpikir aku telah lupa.

Aku tidak lupa.

Aku hanya tidak pernah berniat menggunakannya untuk melawan mereka.

Sampai mereka membuang makanan anakku ke wastafel.

Sampai Ayah sendiri meletakkan stroller cucunya di luar rumah.

Sampai Ibu mengatakan aku harus merangkak kembali dan meminta maaf kalau ingin punya tempat tinggal.

Pagi berikutnya, pukul sembilan lewat sedikit, aku duduk di sebuah kantor hukum kecil di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Di depanku duduk seorang pengacara bernama Arif Wibowo.

Aku menyerahkan salinan akta kepadanya.

Pak Arif membukanya.

Dia membaca halaman pertama.

Kemudian halaman kedua.

Matanya berhenti pada bagian nama pemilik.

Dia melihat kartu identitasku.

Lalu kembali melihat dokumen.

“Bu Nadira…”

Aku diam.

Dia membalik beberapa halaman lagi.

Memeriksa tanda tangan.

Memeriksa nomor akta.

Memeriksa dokumen pendukung yang kubawa.

Setelah hampir sepuluh menit, Pak Arif meletakkan kacamatanya di atas meja.

“Orang tua Ibu masih tinggal di rumah ini?”

“Ya.”

“Dan mereka yang meminta Ibu pergi?”

Aku mengangguk.

“Semalam.”

“Apakah mereka sadar status kepemilikan rumah sekarang?”

Aku menatap akta itu.

“Menurut saya… mereka sudah lupa.”

Pak Arif bersandar di kursinya.

“Bu Nadira, saya ingin memastikan satu hal sebelum kita melangkah lebih jauh.”

Aku menatapnya.

Dia menunjuk nama yang tercetak jelas dalam dokumen.

“Secara hukum, berdasarkan dokumen yang Ibu berikan kepada saya, rumah itu bukan milik orang tua Ibu.”

Ruangan terasa sangat sunyi.

Pak Arif melanjutkan,

“Rumah itu milik Ibu.”

Tanganku perlahan mengepal di atas pangkuan.

Aku teringat mangkuk Alya.

Sup yang dibuang.

Stroller yang diletakkan di luar.

Dan kalimat Ibu:

“Kalau tidak sanggup bayar kontrakan, kamu akan pulang meminta maaf.”

Aku menarik napas panjang.

Kemudian aku mendorong akta itu ke arah Pak Arif.

“Kalau begitu,” kataku pelan, “saya ingin tahu apa saja hak saya sebagai pemilik.”

Dia mengambil dokumen itu.

Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah malam sebelumnya…

aku tersenyum.

Karena keluargaku mengira aku sedang mencari tempat untuk tinggal.

Mereka belum menyadari satu hal.

Orang yang sebenarnya harus mulai mencari rumah baru…

mungkin bukan aku.

──────────────────────

Tulis RUMAH untuk lanjut ke bagian berikutnya.

Karena ketika Rani mengetahui transfer Rp9,2 juta miliknya dihentikan, dia langsung menelepon Ibu dengan panik.

Namun kekacauan sebenarnya baru dimulai tiga hari kemudian, ketika sebuah surat resmi dari pengacara tiba di rumah Bintaro.

Saat Ayah membuka amplop itu dan melihat nama pemilik yang tercetak di halaman pertama…

wajahnya langsung pucat.

Tiga hari setelah surat dari pengacara tiba di rumah Bintaro, Ibu meneleponku pada pukul 05.43 pagi.

Aku hampir tidak mengangkatnya.

Alya masih tidur di sampingku di kamar kos. Satu tangannya memeluk boneka kelinci, sementara kaki kecilnya menendang selimut hingga jatuh ke lantai.

Ponselku bergetar untuk keenam kalinya.

Akhirnya kujawab.

“Ada apa, Bu?”

Tidak ada bentakan.

Tidak ada sindiran.

Yang kudengar justru napas Ibu yang tidak teratur.

“Nadira… pulang sekarang.”

Aku langsung duduk.

“Kenapa?”

“Ayahmu pergi.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Apa maksud Ibu pergi?”

“Dia meninggalkan rumah sebelum Subuh. Ponselnya ada di meja. Dompetnya juga.”

Aku turun dari tempat tidur.

“Sudah dicari?”

“Rani sedang cari.”

Kemudian suara Ibu pecah.

“Tapi sebelum pergi, Ayah meninggalkan sesuatu untukmu.”

Aku menatap Alya.

“Apa?”

“Sebuah kunci.”


Empat puluh menit kemudian aku sampai di Bintaro bersama Alya.

Pak Arif juga kuhubungi dalam perjalanan.

Rumah yang beberapa hari sebelumnya terasa seperti medan perang kini sangat sunyi.

Ibu duduk di sofa dengan wajah pucat.

Rani mondar-mandir sambil menelepon beberapa kenalan Ayah.

Begitu melihatku, Ibu tidak mengatakan apa-apa.

Dia hanya menunjuk meja.

Di sana ada sebuah kunci kecil berwarna perak.

Di bawahnya terdapat secarik kertas.

Tulisan tangan Ayah.

Untuk lemari besi di gudang belakan

Tiga hari setelah surat dari pengacara tiba di rumah Bintaro, Ibu meneleponku pada pukul 05.43 pagi.

Aku hampir tidak mengangkatnya.

Alya masih tidur di sampingku di kamar kos. Satu tangannya memeluk boneka kelinci, sementara kaki kecilnya menendang selimut hingga jatuh ke lantai.

Ponselku bergetar untuk keenam kalinya.

Akhirnya kujawab.

“Ada apa, Bu?”

Tidak ada bentakan.

Tidak ada sindiran.

Yang kudengar justru napas Ibu yang tidak teratur.

“Nadira… pulang sekarang.”

Aku langsung duduk.

“Kenapa?”

“Ayahmu pergi.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Apa maksud Ibu pergi?”

“Dia meninggalkan rumah sebelum Subuh. Ponselnya ada di meja. Dompetnya juga.”

Aku turun dari tempat tidur.

“Sudah dicari?”

“Rani sedang cari.”

Kemudian suara Ibu pecah.

“Tapi sebelum pergi, Ayah meninggalkan sesuatu untukmu.”

Aku menatap Alya.

“Apa?”

“Sebuah kunci.”


Empat puluh menit kemudian aku sampai di Bintaro bersama Alya.

Pak Arif juga kuhubungi dalam perjalanan.

Rumah yang beberapa hari sebelumnya terasa seperti medan perang kini sangat sunyi.

Ibu duduk di sofa dengan wajah pucat.

Rani mondar-mandir sambil menelepon beberapa kenalan Ayah.

Begitu melihatku, Ibu tidak mengatakan apa-apa.

Dia hanya menunjuk meja.

Di sana ada sebuah kunci kecil berwarna perak.

Di bawahnya terdapat secarik kertas.

Tulisan tangan Ayah.

Untuk lemari besi di gudang belakang. Nadira harus membukanya sendiri.

Aku memandang Ibu.

“Ibu tahu isinya?”

Dia menggeleng.

Untuk pertama kalinya, aku percaya dia benar-benar tidak tahu.

Aku membawa kunci itu ke gudang belakang.

Ruangan itu penuh barang lama: kardus, kipas rusak, koper, album foto, dan lemari kayu peninggalan Nenek Ratih.

Di belakang lemari itulah aku menemukan sebuah kotak besi kecil.

Tanganku gemetar ketika memasukkan kunci.

Klik.

Di dalamnya ada tiga benda.

Sebuah buku tabungan lama.

Satu amplop cokelat.

Dan sebuah kotak beludru biru.

Aku membuka amplop terlebih dahulu.

Namaku tertulis di sana.

Nadira.

Aku mengenali tulisan Ayah.

Surat itu hanya terdiri dari dua halaman.

Namun kalimat pertama membuat kakiku lemas.

Nadira, kalau kamu membaca ini, berarti Ayah akhirnya tidak punya keberanian untuk mengatakan semuanya langsung kepadamu.

Aku duduk di lantai gudang.

Aku membaca.

Rumah itu memang milikmu.

Bukan karena Ayah memberikannya kepadamu.

Rumah itu dibayar menggunakan uang yang sejak awal memang milikmu.

Aku sudah mengetahui soal Rp1,85 miliar warisan Nenek.

Namun kalimat berikutnya membuatku berhenti bernapas.

Dan uang warisan itu bukan satu-satunya uangmu yang kami gunakan.

Aku membaca lagi.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian membuka buku tabungan.

Rekening lama atas namaku.

Ada transaksi bertahun-tahun sebelumnya.

Setoran.

Penarikan.

Transfer.

Jumlahnya membuat tanganku dingin.

Rp620 juta.

Aku berlari kembali ke ruang tamu.

“Apa ini?”

Ibu menatap buku itu.

Wajahnya berubah.

“Aku tanya, apa ini?”

Ibu berdiri perlahan.

“Nadira…”

“Uang apa?”

Rani berhenti menelepon.

Ruangan menjadi sunyi.

Ibu akhirnya duduk kembali.

“Itu uang asuransi.”

“Asuransi siapa?”

Ibu menatapku.

“Suamimu.”

Aku merasa seperti salah dengar.

“Mantan suamiku masih hidup.”

“Bukan dia.”

Aku membeku.

Rani juga menatap Ibu.

“Maksud Ibu apa?”

Bibir Ibu bergetar.

Lalu dia mengatakan kalimat yang menghancurkan seluruh cerita tentang hidupku yang selama ini kupercaya.

“Ayah kandung Alya.”

Aku tidak bergerak.

“Apa?”

Ibu menangis.

“Nadira… mantan suamimu bukan ayah biologis Alya.”

Aku berdiri begitu cepat sampai kursi di belakangku jatuh.

“Jangan bohong.”

“Ibu tidak bohong.”

“Jangan gunakan anakku untuk—”

“Namanya Damar.”

Nama itu membuat seluruh tubuhku membeku.

Damar.

Aku tidak mendengar nama itu selama hampir empat tahun.

Damar Aditya adalah tunanganku sebelum aku menikah dengan mantan suamiku.

Kami bersama selama enam tahun.

Kami merencanakan pernikahan.

Lalu suatu malam, Damar meninggal dalam kecelakaan di Tol Jagorawi.

Dunia berhenti bagiku saat itu.

Tiga bulan setelah kematiannya, aku mengetahui aku hamil.

Namun saat itu dokter memperkirakan usia kehamilanku lebih muda daripada yang kuhitung.

Aku ketakutan.

Aku berantakan.

Beberapa bulan kemudian, seorang teman lama bernama Reza muncul kembali dalam hidupku.

Dia menerima kehamilanku.

Dia mengatakan akan menjadi ayah bagi bayiku.

Setahun setelah Alya lahir, kami menikah.

Aku selalu mengira kemungkinan Damar adalah ayah Alya hanyalah harapan bodoh seorang perempuan yang belum bisa melepaskan orang yang dicintainya.

Aku pernah ingin melakukan tes.

Tapi Ibu melarang.

“Jangan bongkar masa lalu,” katanya waktu itu.

Aku menatapnya sekarang.

“Ibu tahu?”

Tangisnya semakin keras.

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak Alya lahir.”

Aku merasa mual.

“Bagaimana?”

Ibu menutup wajah.

“Nenek Ratih yang melakukan tesnya.”

Aku hampir tidak mampu berdiri.

“Nenek?”

“Nenekmu melihat Alya dan curiga. Bentuk telinganya, tanda lahir kecil di bahunya… semuanya mirip Damar.”

Ibu menarik napas.

“Dia meminta izin mengambil sampel untuk tes DNA dengan barang pribadi Damar yang masih disimpan keluarganya.”

“Tanpa izinku?”

Ibu tidak menjawab.

Aku berteriak.

“Tanpa izinku?!”

Alya yang sedang bermain di teras langsung menangis.

Aku berhenti.

Rani buru-buru menggendongnya.

Dadaku naik turun.

Ibu berkata pelan,

“Hasilnya menunjukkan Damar memang ayah Alya.”

Aku tidak bisa bicara.

“Lalu uang Rp620 juta?”

“Asuransi kecelakaan dan dana yang sebelumnya sudah Damar tetapkan untukmu sebagai penerima manfaat. Setelah Alya terbukti anaknya, keluarga Damar juga menyerahkan bagian tertentu untuk Alya.”

Aku memegang ujung meja agar tidak jatuh.

“Dan kalian mengambilnya.”

Ibu menangis.

“Ayahmu sedang terlilit utang.”

“Kalian mengambil uang anakku.”

“Kami berniat mengembalikannya.”

“BERHENTI!”

Itu pertama kalinya aku berteriak kepada Ibu seperti itu.

Alya menangis lebih keras di luar.

Aku langsung menurunkan suara.

“Jadi rumah itu bukan hanya dibayar dari warisanku.”

Ibu menggeleng sambil menangis.

“Sebagian uang Damar juga masuk ke penyelesaian utang usaha.”

Aku tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena kalau aku tidak tertawa, mungkin aku akan hancur.

Mereka mengusirku dari rumah yang dibayar dengan uangku.

Dan sebagian uang itu sebenarnya milik anak yang supnya dibuang Ibu ke wastafel.


Pak Arif datang dua puluh menit kemudian.

Setelah membaca dokumen, ekspresinya berubah.

“Ini harus diperiksa menyeluruh.”

Aku mengangguk.

“Lakukan.”

Ibu menatapku.

“Kamu mau laporkan kami?”

Aku tidak menjawab.

Saat itulah Rani masuk dari teras.

“Ayah ketemu.”

Kami semua berdiri.

“Di mana?”

“Rumah Nenek di Bogor.”

Rumah lama Nenek Ratih sudah kosong bertahun-tahun.

Aku membawa Alya bersama Rani. Ibu ikut.

Pak Arif tetap di Bintaro untuk mengamankan dokumen.

Perjalanan terasa seperti berjam-jam meski sebenarnya tidak.

Ketika kami tiba, Ayah duduk sendirian di teras rumah tua itu.

Tidak ada drama.

Tidak ada usaha kabur.

Dia hanya duduk di kursi rotan dengan sebuah album foto di pangkuannya.

Aku turun dari mobil.

Ayah melihatku.

“Kamu sudah tahu.”

Aku berhenti beberapa meter darinya.

“Iya.”

Dia mengangguk.

“Maaf.”

Aku ingin marah.

Aku ingin menuntut penjelasan.

Namun ketika melihat Ayah, aku melihat seorang laki-laki berusia enam puluhan yang akhirnya terlihat seperti sedang menanggung berat seluruh kebohongannya.

“Kenapa, Yah?”

Dia menatap halaman.

“Karena Ayah gagal.”

“Itu bukan jawaban.”

“Usaha Ayah hampir bangkrut. Ada utang. Ada karyawan yang belum digaji. Rumah hampir disita.”

“Jadi Ayah mengambil uangku?”

“Iya.”

“Uang Alya?”

Air matanya jatuh.

“Iya.”

“Lalu setelah semua itu, Ayah masih membiarkan aku membayar obat Ayah setiap bulan?”

Dia menutup mata.

“Iya.”

Satu kata itu menghancurkanku lebih daripada seribu alasan.

Aku duduk di kursi seberangnya.

“Kenapa tidak pernah jujur?”

“Karena setiap tahun semakin sulit.”

Ayah menatapku.

“Tahun pertama Ayah pikir akan mengembalikannya.”

“Tahun kedua?”

“Ayah malu.”

“Tahun ketiga?”

“Takut.”

“Tahun keempat?”

Dia menangis.

“Sudah terlalu banyak kebohongan.”

Aku menggeleng.

“Lalu malam itu?”

Ayah tahu maksudku.

“Malam ketika Ibu membuang sup Alya.”

Dia menunduk.

“Ayah melihat stroller itu.”

“Bukan melihat. Ayah yang membawanya keluar.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dia terdiam lama.

“Karena kalau Ayah membelamu, ibumu mungkin akan mengatakan soal rumah di depan Rani.”

Aku membeku.

“Jadi Ayah mengusirku supaya rahasianya tetap aman.”

Air matanya jatuh.

“Iya.”

Aku berdiri.

Tidak ada lagi yang perlu kudengar.

Namun saat hendak pergi, Ayah memanggil.

“Nadira.”

Aku menoleh.

Dia membuka album di pangkuannya.

Mengambil sebuah foto.

Lalu menyerahkannya kepadaku.

Damar.

Dia sedang berdiri di samping motor tua, tersenyum lebar.

Di belakang foto ada tulisan tangan.

Kalau nanti kita punya anak perempuan, semoga keras kepalanya seperti kamu.

Aku tidak berhasil menahan tangis.

Aku duduk di anak tangga.

Foto itu menempel di dadaku.

Damar tidak pernah tahu aku hamil.

Dia meninggal sebelum aku mengetahuinya.

Selama ini aku berpikir Alya adalah satu-satunya bagian dari hidupku setelah Damar.

Ternyata dia adalah bagian dari Damar juga.

Alya berjalan mendekat.

“Mama?”

Aku cepat-cepat menyeka air mata.

Dia melihat foto.

“Siapa?”

Aku menatap wajah Damar.

Lalu wajah putriku.

Untuk pertama kalinya, kemiripan itu terasa begitu jelas.

Cara matanya menyipit ketika bingung.

Bentuk dagu.

Senyumnya.

Aku memeluk Alya.

“Nanti Mama ceritakan.”


Dua minggu berikutnya adalah masa paling sulit dalam hidupku.

Pak Arif memeriksa semuanya.

Ada kabar yang mengejutkan.

Secara dokumen, uang yang digunakan orang tuaku memang bermasalah secara moral dan beberapa transaksi perlu dibereskan, tetapi rumah telah dialihkan secara sah kepadaku sebagai kompensasi.

Nilai rumah sekarang bahkan lebih tinggi daripada jumlah dana yang pernah digunakan.

Aku punya pilihan.

Menjualnya.

Mengusir mereka.

Membawa persoalan tertentu ke proses hukum lebih jauh.

Atau membuat kesepakatan baru.

Ibu yakin aku akan menghancurkan mereka.

Rani bahkan mulai mencari rumah kontrakan untuk Ayah dan Ibu.

Aku meminta seluruh keluarga berkumpul.

Mereka duduk di ruang tamu Bintaro.

Aku berdiri dengan Pak Arif di sampingku.

“Aku sudah membuat keputusan.”

Ibu memegang tangan Ayah.

“Aku tidak akan menjual rumah ini.”

Mereka menatapku.

“Ayah dan Ibu boleh tinggal di sini.”

Ibu mulai menangis.

“Tapi rumah ini tidak akan menjadi milik kalian lagi. Tidak akan diwariskan ke Rani. Tidak akan diagunkan.”

Aku meletakkan dokumen di meja.

“Rumah ini akan masuk ke perencanaan aset untuk Alya.”

Ibu menutup mulut.

Aku melanjutkan.

“Uang yang berasal dari hak Alya akan dihitung ulang. Apa pun yang masih menjadi kewajiban akan diselesaikan secara resmi.”

Ayah mengangguk.

“Ayah setuju.”

“Aku belum selesai.”

Aku menatap Ibu.

“Tidak ada lagi penghinaan.”

Dia menunduk.

“Tidak ada lagi menyebutku beban.”

Aku menatap Rani.

“Tidak ada lagi transfer Rp9,2 juta.”

Rani mengangguk.

“Aku mengerti.”

“Dan satu hal terakhir.”

Aku menatap Ibu.

“Ibu harus meminta maaf kepada Alya.”

Ibu mengangkat wajah.

“Sekarang?”

“Iya.”

Alya sedang duduk di karpet memainkan bonekanya.

Ibu perlahan turun dari sofa.

Dia berjongkok.

“Alya.”

Putriku menatapnya.

“Nenek salah.”

Alya diam.

“Nenek tidak seharusnya membuang sup Alya. Dan Nenek tidak seharusnya membuat Mama Alya pergi.”

Air mata Ibu jatuh.

“Maafkan Nenek.”

Alya menatapnya lama.

Kemudian mengatakan sesuatu yang membuat seluruh ruangan sunyi.

“Nenek lapar?”

Ibu tampak bingung.

Alya mengambil biskuit kecil dari mangkuknya.

Lalu mengulurkannya.

“Kalau lapar, makan. Jangan buang.”

Ibu langsung menangis.

Bukan tangisan pelan.

Dia menutup wajah dan menangis seperti anak kecil.

Aku juga menangis.

Karena anak berusia dua tahun yang pernah kehilangan semangkuk sup ternyata memiliki sesuatu yang selama bertahun-tahun gagal dimiliki orang dewasa di rumah itu.

Kemampuan memberi tanpa merendahkan.


Empat bulan kemudian, aku membeli sebuah apartemen sederhana di Bintaro.

Bukan dari hasil menjual rumah.

Aku mendapat kontrak tetap sebagai editor senior di sebuah penerbit besar, dan tabunganku cukup untuk uang muka.

Tidak luas.

Dua kamar.

Tapi ketika aku menerima kuncinya, Alya berlari dari ruang tamu ke kamar sambil tertawa.

“Ini rumah kita?”

“Iya.”

“Tidak ada yang suruh Mama pergi?”

Aku membeku.

Ternyata dia ingat.

Aku berjongkok.

“Tidak.”

“Selamanya?”

Aku memegang kedua tangannya.

“Selama Mama ada, kamu selalu punya tempat pulang.”

Dia memelukku.

Malam pertama di apartemen, kami makan sop ayam.

Alya menghabiskan dua mangkuk kecil.


Setahun kemudian, Ayah menjual sisa sahamnya di usaha lama.

Sebagian uang digunakan untuk menyelesaikan kewajiban yang telah dihitung Pak Arif.

Dia tidak pernah meminta aku menghapus masa lalu.

Ibu juga tidak berubah menjadi sempurna.

Kadang sifat lamanya muncul.

Bedanya, sekarang aku bisa berkata,

“Bu, cukup.”

Dan dia berhenti.

Rani mendapat promosi.

Suatu hari dia mengirim bukti pembayaran cicilan apartemennya.

Bulan ke-8 bayar sendiri. Ternyata aku bisa, Mbak.

Aku membalas:

Memang dari dulu kamu bisa.

Hubungan kami tidak kembali seperti dulu.

Mungkin memang tidak perlu.

Kami membangun hubungan baru.

Lebih jujur.

Lebih berjarak.

Tapi lebih sehat.


Pada ulang tahun Alya yang keempat, sebuah paket tiba.

Pengirimnya seorang perempuan bernama Maya Aditya.

Kakak Damar.

Tanganku gemetar ketika membaca nama itu.

Aku belum pernah bertemu keluarganya sejak pemakaman.

Di dalam paket ada sebuah kotak kayu kecil.

Dan surat.

Nadira,

kami baru tahu beberapa bulan lalu bahwa Alya adalah anak Damar.

Awalnya kami marah karena kehilangan empat tahun bersamanya.

Tapi kemudian kami tahu kamu sendiri tidak pernah diberi kebenaran.

Jadi kami tidak ingin memulai hubungan dengan kemarahan.

Aku berhenti membaca.

Ada sebuah flashdisk di dalam kotak.

Malam itu, setelah Alya tidur, aku membukanya.

Isinya video-video lama Damar.

Salah satunya direkam dua minggu sebelum kecelakaan.

Damar sedang duduk di sebuah warung kopi.

Temannya bertanya dari belakang kamera,

“Kalau nanti nikah sama Nadira, mau punya anak berapa?”

Damar tertawa.

“Dua.”

“Cowok semua?”

“Enggak.”

Dia menggeleng.

“Gue pengin anak perempuan dulu.”

“Kenapa?”

Damar melihat kamera.

Senyumnya lembut.

“Biar ada Nadira versi kecil yang bisa gue sayang dari awal.”

Aku menghentikan video.

Aku menangis begitu keras sampai harus menutup mulut agar Alya tidak terbangun.

Empat tahun.

Selama empat tahun aku mengira Damar meninggalkan dunia tanpa pernah meninggalkan apa pun untukku selain kenangan.

Ternyata setiap pagi, peninggalan terbesarnya bangun di kamar sebelah dan memanggilku Mama.


Beberapa minggu kemudian, aku membawa Alya bertemu keluarga Damar.

Maya berlutut begitu melihatnya.

Dia tidak langsung memeluk Alya.

Dia hanya menangis.

Alya menatapku bingung.

“Kenapa Tante nangis?”

Maya tertawa di antara air mata.

“Karena kamu mirip seseorang yang Tante sayang sekali.”

Alya menunjuk foto Damar di dinding.

“Yang itu?”

Kami semua terdiam.

Aku mengangguk.

“Iya.”

Alya berjalan mendekati foto.

Lalu tersenyum.

“Dia papaku?”

Dadaku terasa sesak.

Aku duduk di sampingnya.

“Namanya Damar. Dia ayah kandung Alya.”

“Dia di mana?”

Aku menarik napas.

“Dia sudah meninggal sebelum tahu Alya ada.”

Alya berpikir beberapa detik.

Kemudian pertanyaan berikutnya sederhana sekali.

“Dia sayang Alya?”

Aku hampir tidak sanggup menjawab.

Maya berjongkok di sisi lain.

Dia mengambil ponsel dan memutar video Damar.

Video yang sama.

Suara Damar memenuhi ruang tamu.

Gue pengin anak perempuan dulu.

Alya menonton.

Lalu menatapku.

“Itu suara Papa?”

Aku mengangguk sambil menangis.

“Iya.”

Alya tersenyum.

Kemudian dia melambaikan tangan kecilnya ke layar.

“Halo, Papa.”

Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang mampu menahan air mata.


Malamnya, saat kami pulang, Alya tertidur di mobil sambil memeluk foto kecil Damar yang diberikan Maya.

Aku memarkir mobil di depan apartemen.

Untuk beberapa menit, aku hanya duduk.

Aku memikirkan malam ketika Ibu membuang sup Alya.

Saat itu aku mengira aku kehilangan rumah.

Ternyata malam itu justru memaksaku membuka pintu menuju seluruh kebenaran.

Tentang uang Nenek.

Tentang rumah.

Tentang Ayah.

Tentang Ibu.

Tentang Damar.

Dan tentang Alya.

Aku menatap anakku melalui kaca spion.

Dulu Ibu berkata aku akan kembali meminta maaf ketika tidak sanggup membayar tempat tinggal.

Dia salah.

Aku tidak pernah kembali untuk meminta tempat.

Aku kembali untuk mengambil kebenaran yang selama bertahun-tahun menjadi hakku.

Dan pada akhirnya, aku bahkan tidak mengambil rumah itu dari mereka.

Karena Nenek ternyata benar.

Rumah bukan sekadar bangunan yang namanya tercetak di atas akta.

Rumah adalah tempat seorang anak bisa menghabiskan semangkuk sup tanpa takut seseorang akan membuangnya.

Tempat dia boleh bertanya tentang ayahnya.

Tempat ibunya tidak perlu membayar harga dirinya sebagai uang sewa.

Aku mengangkat Alya dari kursi mobil.

Dia setengah terbangun dan melingkarkan tangan di leherku.

“Mama…”

“Iya, Sayang?”

“Kita sudah pulang?”

Aku menatap jendela apartemen kami yang bercahaya di lantai atas.

Lalu mengecup keningnya.

“Iya.”

Aku tersenyum.

“Kita sudah pulang.”

Dan kali ini, aku tahu tidak ada seorang pun yang bisa menunjuk pintu dan mengatakan bahwa kami tidak pantas berada di sana.

Karena akhirnya aku mengerti sesuatu yang seharusnya kupahami sejak lama.

Aku tidak membutuhkan izin siapa pun untuk membangun rumah bagi anakku.

Aku hanya perlu berhenti menyerahkan kuncinya kepada orang-orang yang membuatku merasa tidak layak memilikinya.

SELESAI.