Di Pesta Lamaran, Calon Mertua Menertawakan Aku Karena Membeli Rumah Sendiri; Saat Arga Menyuruhku Diam, Aku Membuka Satu Bukti yang Membuat Keluarganya Membeku di Depan Ratusan Tamu dan Pengurus Perusahaan Mereka
Bagian 1 — Ia Menyebutku Perempuan yang Mengejar Keluarga Kaya, Padahal Rumah Itu Dibeli dari Uangku dan Arga Menyimpan Rahasia di Baliknya Selama Ini
“Ada perempuan yang dilamar dengan rumah.”
Calon ibu mertuaku tersenyum sambil mengangkat mikrofon.
“Kalau Nadira berbeda. Dia justru membeli rumah sendiri supaya anak saya mau menikah dengannya.”
Tawa kecil langsung terdengar dari beberapa meja.
Aku masih berdiri di samping Arga ketika kalimat itu meluncur di ballroom sebuah hotel di kawasan Senayan, Jakarta.
Tangan kiriku memegang buket kecil bunga melati.
Tangan kananku langsung dingin.
Di depan kami ada hampir dua ratus tamu—keluarga besar, rekan bisnis, sahabat orang tua, sampai beberapa pengurus perusahaan keluarga Arga.
Semua menatap ke arahku.
Bu Ratna, ibu Arga, berdiri di panggung dengan kebaya brokat hijau zamrud, kalung mutiara bertingkat, dan senyum seseorang yang yakin tak ada siapa pun di ruangan itu yang berani membantahnya.
“Jangan salah paham,” lanjutnya.
“Kami keluarga Mahendra sebenarnya tidak menuntut calon menantu membawa apa-apa.”
Ia sengaja berhenti.
Lalu matanya menatapku dari kepala sampai kaki.
“Tapi kalau perempuan sudah terlalu ingin masuk keluarga orang, ya kadang dia sendiri yang sibuk menyiapkan semuanya.”
Beberapa orang tersenyum kikuk.
Yang lain mulai berbisik.
Aku mendengar seorang tante di belakangku berkata pelan,
“Jadi rumah Bintaro itu Nadira yang beli?”
Temannya menjawab,
“Katanya lebih dari tiga miliar.”
“Wah… Arga enak sekali.”
“Tapi perempuan sampai beli rumah sendiri sebelum menikah… takut nggak jadi dinikahi kali.”
Dadaku terasa panas.
Rumah yang mereka bicarakan adalah rumah dua lantai di Bintaro Jaya yang kubeli delapan bulan lalu seharga Rp3,45 miliar.
Uang mukanya berasal dari tabunganku selama bekerja hampir tujuh tahun.
Sisanya dari deposito yang ditinggalkan almarhum ibuku.
Tidak ada satu rupiah pun dari Arga.
Tidak ada satu rupiah pun dari keluarga Mahendra.
Bahkan biaya renovasinya seharusnya juga milikku.
Kata “seharusnya” itulah yang membuatku tetap berdiri diam malam itu.
Karena tiga hari sebelum pesta lamaran, aku menemukan sesuatu.
Sesuatu yang membuatku membawa sebuah flashdisk kecil di dalam tas tanganku.
Dan sejak sore tadi, aku sudah meminta operator ballroom menyiapkan satu file tambahan.
Arga belum mengetahuinya.
Bu Ratna juga belum.
Mereka masih merasa malam itu adalah panggung mereka.
Padahal sejak tiga hari lalu, aku sudah tahu panggung ini mungkin akan menjadi tempat hubungan kami berakhir.
Namaku Nadira Prameswari.
Aku berusia dua puluh delapan tahun dan bekerja sebagai project control manager di sebuah perusahaan pengembang properti di Jakarta.
Aku mengenal Arga Mahendra hampir empat tahun.
Di awal hubungan, Arga bukan lelaki yang suka memamerkan keluarganya.
Ia sederhana.
Setidaknya itulah yang kutahu.
Ia menjemputku dengan mobil sendiri, makan bersamaku di warung soto dekat kantor, bahkan pernah duduk berjam-jam di IGD ketika ayahku jatuh karena tekanan darahnya turun.
Aku percaya padanya.
Karena itu, ketika kami membicarakan pernikahan dan aku mengatakan ingin membeli rumah sebelum harga properti semakin tinggi, aku tidak keberatan menjadikannya tempat tinggal kami setelah menikah.
“Aku urus renovasinya,” kata Arga waktu itu.
“Kamu sudah beli rumahnya. Masa semuanya kamu kerjakan sendiri?”
Aku terharu.
Betapa bodohnya aku sekarang ketika mengingatnya.
Dalam empat bulan berikutnya, aku mentransfer total Rp612 juta ke rekening Arga.
Katanya untuk kontraktor, kitchen set, perangkat listrik, furnitur, dan uang muka interior.
Setiap kali aku bertanya, selalu ada invoice.
Selalu ada foto progres.
Selalu ada alasan mengapa aku belum boleh datang.
“Debunya parah.”
“Lantai sedang dilapisi.”
“Besok tukang cat datang.”
“Surprise saja pas hampir selesai.”
Aku mempercayainya sampai tiga hari lalu.
Sore itu seorang pria bernama Pak Heru Santoso menghubungiku lewat kantor.
Ia memperkenalkan diri sebagai pemilik perusahaan distribusi bahan bangunan di Bekasi.
Pertanyaan pertamanya membuat tengkukku dingin.
“Bu Nadira, mohon maaf, apakah rumah Ibu di Bintaro memang dijadikan aset pendukung kerja sama Mahendra Living?”
Aku pikir ia salah orang.
“Aset pendukung apa, Pak?”
Telepon mendadak sunyi.
Pak Heru kemudian mengirimiku sebuah PDF.
Di halaman dua belas presentasi perusahaan keluarga Arga terdapat foto rumahku.
Alamatnya.
Luas tanahnya.
Nilai estimasinya.
Bahkan salinan halaman depan dokumen kepemilikannya.
Di bawahnya tertulis:
Aset residensial keluarga Mahendra — estimasi nilai Rp3,8 miliar.
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Rumah itu tidak pernah menjadi aset keluarga Mahendra.
Aku bahkan belum menjadi bagian keluarga mereka.
Lebih buruk lagi, di halaman terakhir terdapat surat pernyataan persetujuan pemanfaatan aset.
Namaku tercetak di sana.
Di bawahnya ada tanda tangan.
Mirip tanda tanganku.
Tapi bukan milikku.
Aku langsung memeriksa semua transaksi renovasi.
Malam itu juga salah seorang teman lamaku yang bekerja di bagian keuangan membantuku mencocokkan invoice.
Dua nomor faktur tidak valid.
Salah satu rekening vendor ternyata rekening perusahaan yang direkturnya adalah sepupu Bu Ratna.
Dari Rp612 juta yang kuberikan kepada Arga, setidaknya Rp487 juta tidak pernah masuk ke kontraktor sebagaimana yang ia katakan.
Uang itu mengalir ke beberapa rekening keluarga Mahendra.
Aku belum menuduh apa pun malam itu.
Aku masih ingin mendengar penjelasan Arga.
Sampai Bu Ratna berdiri di panggung pesta lamaran kami dan mempermalukanku.
“Masih ada lagi yang ingin saya sampaikan,” katanya.
Ia tersenyum kepada tamu.
“Orang tua sekarang harus hati-hati mendidik anak perempuan. Jangan sampai karena ingin cepat menikah, semua diberikan kepada laki-laki.”
Beberapa orang tertawa.
Aku menatap Arga.
Ia berdiri kurang dari setengah meter dariku.
“Ga.”
Ia tidak menjawab.
“Bilang sesuatu.”
Arga justru mencengkeram pergelangan tanganku.
“Nad.”
Suaranya sangat rendah.
“Sudah.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Ibumu mempermalukanku.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu?”
“Nanti aku bicara sama Mama.”
Aku hampir tertawa.
“Nanti?”
Arga mendekat.
“Nadira, please. Banyak relasi bisnis Papa di sini.”
Jadi itu yang ia pikirkan.
Bukan aku.
Bukan kebohongan ibunya.
Bukan nama almarhum ibuku yang ikut dibawa-bawa karena sebagian uang rumah berasal dari peninggalannya.
Yang ia pikirkan adalah tamu.
Nama baik.
Bisnis keluarganya.
Bu Ratna kembali mengangkat suara.
“Sayangnya ayah Nadira juga tidak bisa hadir malam ini. Jadi urusan seserahan dan pembicaraan keluarga praktis kami yang harus mengerti keadaan.”
Ayahku tidak hadir karena sedang berada di Yogyakarta menjalani pemulihan setelah operasi lutut.
Bu Ratna tahu itu.
Undangannya bahkan pernah kukirim sendiri.
Namun ia membuatnya terdengar seolah keluargaku terlalu malu atau terlalu miskin untuk datang.
Aku menarik tanganku dari genggaman Arga.
Arga langsung panik.
“Nadira.”
“Jangan.”
“Nad, dengarkan aku. Mama memang mulutnya begitu.”
Aku menatap lelaki yang empat tahun terakhir kupikir akan menjadi suamiku.
“Dan kamu selalu seperti ini?”
“Apa?”
“Diam.”
Wajahnya berubah.
“Jangan bikin keributan malam ini.”
Aku hampir tidak percaya kalimat berikutnya keluar dari mulutnya.
“Kalau kamu memang mau jadi istriku, sesekali kamu harus belajar mengalah sama keluargaku.”
Sesuatu di dalam diriku mendadak tenang.
Bukan karena aku memaafkannya.
Justru karena harapanku habis.
Aku mengangkat tas kecilku.
Mengeluarkan ponsel.
Lalu berjalan ke arah panggung.
“Nadira!”
Arga mengejarku.
Aku lebih cepat.
MC yang berdiri di samping Bu Ratna membeku saat aku mengulurkan tangan.
“Mikrofonnya boleh saya pinjam?”
Bu Ratna tertawa pendek.
“Mau menjelaskan soal rumah?”
Aku menatapnya.
“Justru itu.”
Aku mengambil mikrofon.
Ruangan perlahan senyap.
Arga berdiri di bawah panggung dengan wajah pucat.
Aku menoleh kepada operator audiovisual.
“Mas, file yang saya kirim tadi, tolong tampilkan sekarang.”
Layar LED besar di belakang kami berubah.
Foto pertunanganku dan Arga menghilang.
Digantikan foto rumahku di Bintaro.
Lalu sebuah halaman presentasi bisnis muncul.
Logo Mahendra Living terlihat jelas di bagian atas.
Di bawah foto rumahku tertulis:
ASET RESIDENSIAL KELUARGA MAHENDRA — NILAI ESTIMASI Rp3,8 MILIAR.
Suasana ballroom langsung berubah.
Tak ada lagi yang tertawa.
Bu Ratna berbalik menatap layar.
Wajahnya seketika kehilangan warna.
Arga berteriak dari bawah.
“Nadira, matikan itu!”
Aku menatap Bu Ratna, lalu mengangkat mikrofon.
“Bu Ratna tadi bilang saya terlalu ingin masuk keluarga Mahendra sampai membeli rumah sendiri.”
Aku berhenti sebentar.
“Kalau begitu, mungkin Ibu bisa menjelaskan kepada semua orang kenapa rumah saya sudah dipakai keluarga Ibu untuk mencari uang bahkan sebelum saya resmi menjadi menantu?”
Terdengar suara gelas jatuh dari salah satu meja.
Namun sebelum Bu Ratna sempat menjawab, seorang pria dari meja tamu bisnis tiba-tiba berdiri.
Pak Heru.
Tangannya memegang ponsel.
Ia menatap Arga.
“Kalau rumah itu bukan milik keluarga kalian…”
Suaranya keras.
“…lalu Rp750 juta yang saya transfer bulan lalu sebenarnya dijamin dengan apa?”
Arga membeku.
Dan dari meja berbeda, orang kedua ikut berdiri.
Lalu orang ketiga.
Saat itulah aku sadar satu hal yang bahkan belum kuketahui sebelumnya.
Ternyata rumahku bukan satu-satunya kebohongan yang mereka jual malam itu.
Kebohongan yang mereka bangun bertahun-tahun baru saja mulai runtuh, dan tiga orang di ruangan itu ternyata membawa bukti masing-masing.
#KisahKeluarga #DramaKeluarga #CeritaIndonesia #PengkhianatanCinta #KisahViral
Bagian 2 — Satu Slide di Layar Membuka Aliran Uang Ratusan Juta, Lalu Tiga Tamu Berdiri dan Menuntut Penjelasan dari Keluarga Arga Malam Itu
Pak Heru berjalan mendekati panggung.
Aku mengenalinya dari foto profil WhatsApp.
Tetapi dua orang lain yang berdiri tidak kukenal.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun memperkenalkan diri sebagai Fajar.
Seorang perempuan berjilbab krem bernama Meilani berdiri beberapa meja di belakangnya.
Keduanya ternyata investor proyek ekspansi Mahendra Living.
Pak Heru membuka ponselnya.
“Saya masuk kerja sama karena presentasi kalian menyebut ada aset keluarga senilai hampir empat miliar sebagai bentuk komitmen pemilik.”
Arga mencoba mendekat.
“Pak Heru, itu bisa kami jelaskan.”
“Jelaskan sekarang.”
Bu Ratna tiba-tiba merebut mikrofon dari tanganku.
“Ini acara keluarga!”
Pak Heru tertawa tanpa humor.
“Uang saya bukan urusan keluarga, Bu.”
Ballroom semakin gaduh.
Pak Fajar ikut maju.
“Saya Rp500 juta.”
Bu Meilani mengangkat tangannya.
“Saya Rp300 juta.”
Aku sendiri terkejut.
Aku hanya mengetahui dokumen Pak Heru.
Aku tidak tahu ternyata materi serupa sudah digunakan kepada beberapa orang.
Arga menatapku tajam.
“Kamu sengaja mengundang mereka?”
“Tidak.”
Dan itu kebenaran.
Mereka memang tamu keluarga Mahendra.
Rupanya pesta lamaran kami sejak awal juga dipakai sebagai tempat menjamu orang-orang yang sedang mereka dekati secara bisnis.
Bu Ratna mencoba tersenyum.
“Jangan percaya potongan dokumen tanpa konteks. Rumah itu sebentar lagi juga menjadi rumah anak saya.”
Aku mengambil kembali mikrofon.
“Menjadi tempat tinggal kami tidak pernah membuatnya menjadi aset perusahaan Ibu.”
Aku kemudian membuka slide berikutnya.
Tabel transaksi muncul.
Tanggal.
Nominal.
Rekening tujuan.
Rp85 juta.
Rp120 juta.
Rp67 juta.
Rp95 juta.
Rp120 juta.
Total Rp487 juta.
“Ini sebagian uang renovasi yang saya transfer kepada Arga.”
Aku menunjuk salah satu kolom.
“Sebagian besar tidak masuk ke kontraktor yang disebut dalam invoice. Uang tersebut masuk ke rekening perusahaan keluarga kalian dan dua rekening lain yang masih terhubung.”
Bu Ratna langsung menoleh kepada anaknya.
Untuk pertama kalinya malam itu, kesombongannya benar-benar pecah.
“Arga?”
Arga mendesis kepadaku.
“Kamu periksa rekeningku?”
“Aku memeriksa uangku.”
“Itu untuk sementara!”
“Kenapa harus memakai invoice palsu?”
Arga diam.
Aku melanjutkan.
“Kenapa tanda tanganku ada di surat persetujuan yang tidak pernah kutandatangani?”
Seisi ruangan kembali gaduh.
Kata tanda tangan mengubah suasana.
Ini bukan lagi pertengkaran calon menantu dan calon mertua.
Bu Meilani langsung mengeluarkan salinan dokumen dari tasnya.
“Di berkas saya juga ada.”
Ia menyerahkannya kepadaku.
Aku melihat bagian bawah.
Nama yang sama.
Tanda tangan yang sama.
Palsu.
Arga akhirnya naik ke panggung.
Ia mencoba mengecilkan suara.
“Nadira, kita selesaikan di rumah.”
Aku mundur satu langkah.
“Rumah siapa?”
Wajahnya menegang.
“Jangan begini.”
“Kamu baru saja membiarkan ibumu mengatakan aku membeli rumah supaya kamu mau menikahiku.”
“Nad—”
“Padahal diam-diam kamu menggunakan rumah itu agar keluargamu terlihat punya aset lebih besar.”
Arga tak mampu menjawab.
Bu Ratna justru berubah menyerang.
“Kamu juga jangan sok suci!”
Ia menunjuk wajahku.
“Kalau bukan karena mau menikah dengan Arga, memang untuk apa kamu beli rumah sebesar itu?”
Beberapa orang terdengar menarik napas.
Aku menatapnya beberapa detik.
“Karena saya mampu.”
Hanya itu.
Tidak perlu penjelasan lain.
Aku bekerja.
Aku menabung.
Aku menerima warisan dari ibuku.
Aku tidak membutuhkan izin keluarga Mahendra untuk memiliki rumah.
Pak Heru kemudian menoleh kepada ayah Arga, Pak Damar, yang sejak tadi duduk pucat di meja utama.
“Pak Damar, Anda tahu soal dokumen ini?”
Pak Damar berdiri perlahan.
“Saya… hanya tahu Arga sedang mencari modal tambahan.”
Arga langsung memotong.
“Papa juga setuju!”
Ruangan seketika hening.
Pak Damar menatap anaknya.
“Apa?”
“Kalian semua tahu perusahaan sedang kesulitan!”
Arga mulai kehilangan kendali.
“Tagihan supplier jatuh tempo. Gaji karyawan tertunda. Mama minta aku cari jalan. Papa juga bilang jangan sampai perusahaan kelihatan sedang kesulitan di depan investor!”
Bu Ratna buru-buru menarik lengannya.
“Diam!”
Namun Arga sudah terlanjur bicara.
Dan akhirnya semuanya menjadi jelas.
Mahendra Living sedang mengalami masalah arus kas selama hampir satu tahun.
Mereka membutuhkan modal baru.
Tapi tidak mau calon investor melihat kondisi sebenarnya.
Maka mereka mempercantik presentasi perusahaan.
Salah satunya dengan memasukkan rumahku sebagai “aset keluarga”.
Sedangkan uang renovasiku?
Arga memakainya untuk menutup pembayaran supplier sementara.
“Aku mau balikin setelah investasi masuk!”
Ia menatapku seperti orang yang masih menganggap penjelasan itu bisa menyelesaikan semuanya.
“Aku melakukan ini untuk masa depan kita juga!”
Aku merasa mual mendengarnya.
“Masa depan kita?”
“Nanti perusahaan pulih. Kita menikah. Rumah itu juga kita tinggali bersama. Bedanya apa?”
Aku menatapnya lama.
Di situlah aku akhirnya memahami logika Arga.
Ia benar-benar tidak merasa telah mencuri kepercayaanku.
Karena dalam pikirannya, setelah menikah nanti, milikku otomatis menjadi miliknya.
Masalahnya hanya satu.
Kami belum menikah.
Dan sekarang kami tidak akan pernah menikah.
Aku mencabut cincin pertunangan dari jariku.
Meletakkannya di meja kecil dekat mikrofon.
“Aku batalkan lamaran ini.”
Bu Ratna langsung berteriak.
“Kamu pikir kamu siapa?”
Aku turun dari panggung.
Namun sebelum mencapai pintu ballroom, Bu Meilani memanggilku.
“Nadira.”
Aku berhenti.
Ia berjalan mendekat sambil membawa map.
“Ada satu hal lagi yang sebaiknya kamu lihat.”
Ia membuka lembar terakhir dokumen investasinya.
Bukan foto rumah.
Bukan laporan perusahaan.
Sebuah surat pernyataan.
Di sana tertulis bahwa setelah pernikahan, pemilik rumah—atas namaku—setuju menjadikan properti tersebut sebagai jaminan tambahan jika perusahaan gagal memenuhi kewajiban investasi tertentu.
Di bawahnya terdapat tanda tangan palsuku.
Tanggal dokumennya dua minggu lalu.
Tanganku langsung gemetar.
Dua minggu lalu Arga mengajakku makan malam.
Malam itu ia memelukku sambil berkata,
“Sebentar lagi semuanya benar-benar jadi milik kita berdua.”
Sekarang aku mengerti maksudnya.
Aku mengangkat lembar tersebut.
“Arga.”
Ia tidak berani menatapku.
Aku bertanya pelan,
“Setelah kita menikah, apa sebenarnya yang kamu rencanakan terhadap rumahku?”
Tak ada jawaban.
Tapi wajahnya sudah memberiku jawaban yang jauh lebih buruk daripada kata-kata.
Bagian 3 — Mereka Datang Membawa Surat Damai dan Air Mata, Tapi Aku Memilih Jalur Hukum, Rumahku, dan Hidup yang Tak Lagi Bisa Mereka Atur
Aku meninggalkan hotel malam itu tanpa membawa cincin.
Yang kubawa hanya tas, ponsel, flashdisk, dan salinan dokumen dari Bu Meilani.
Keesokan paginya aku melakukan tiga hal.
Pertama, mengganti seluruh akses rumah Bintaro.
Kedua, menghubungi notaris yang menangani pembelianku.
Ketiga, menemui pengacara.
Kami memastikan tidak pernah ada hak tanggungan resmi yang dibebankan atas rumah tersebut.
Dokumen yang digunakan Arga hanyalah salinan yang dipadukan dengan surat persetujuan bertanda tangan palsu.
Itu melegakan.
Setidaknya rumahku aman.
Tetapi masalah uang dan dokumen tidak bisa dianggap selesai hanya karena lamaran dibatalkan.
Aku mengumpulkan bukti transfer Rp612 juta.
Invoice.
Percakapan WhatsApp.
File presentasi.
Surat dengan tanda tangan palsu.
Semua kuserahkan kepada kuasa hukum untuk diproses sesuai jalur yang berlaku.
Pak Heru, Pak Fajar, dan Bu Meilani melakukan hal serupa untuk uang mereka masing-masing.
Tiga hari kemudian Arga datang ke apartemenku.
Aku tidak membukakan pintu.
Ia menelepon dari lobby.
“Nadira, kita empat tahun bersama.”
Aku berdiri di dekat jendela sambil mendengarkan.
“Aku salah.”
Aku diam.
“Aku panik karena perusahaan Papa hampir jatuh.”
“Itu bukan alasan memalsukan tanda tanganku.”
“Aku akan ganti semuanya.”
“Kamu seharusnya mengatakan itu sebelum ketahuan.”
Arga terdiam.
Lalu ia menggunakan kalimat yang dulu selalu berhasil membuatku melunak.
“Aku sayang kamu.”
Kali ini tidak bekerja.
“Kalau kamu sayang aku, kamu tidak akan menjadikan kepercayaanku sebagai jaminan utang.”
Aku menutup telepon.
Seminggu kemudian giliran Bu Ratna datang.
Tidak ada lagi kebaya mahal.
Tidak ada kalung mutiara.
Ia memakai blus sederhana dan membawa sebuah map.
Aku menemuinya di ruang rapat kantor pengacaraku.
Begitu duduk, ia langsung menangis.
“Nadira, Tante minta maaf.”
Aku hampir tidak mengenali perempuan yang seminggu sebelumnya mempermalukanku di depan dua ratus orang.
“Kami akan mengembalikan uang renovasi kamu.”
Ia mendorong map ke arahku.
Isinya rancangan kesepakatan damai.
Syaratnya sederhana.
Aku menghentikan persoalan hukum yang berkaitan dengan Arga setelah dana tertentu dikembalikan.
Aku tidak langsung menjawab.
Bu Ratna menggenggam tangannya sendiri.
“Arga bisa kehilangan kariernya.”
Aku menatapnya.
“Waktu dia memalsukan tanda tangan saya, apakah Ibu memikirkan karier saya?”
“Nadira…”
“Waktu Ibu menggunakan rumah saya untuk meyakinkan investor, apakah Ibu memikirkan nama saya?”
Ia menangis lagi.
Aku tidak menikmati pemandangan itu.
Tapi aku juga tidak merasa bersalah.
Ada perbedaan besar antara memaafkan seseorang dan membiarkan orang itu bebas dari konsekuensi.
Aku menolak menandatangani kesepakatan hari itu.
Proses penyelesaian kemudian berjalan berbulan-bulan.
Karena bukti transaksi dan dokumen sudah tersebar di tangan beberapa pihak, keluarga Mahendra tidak bisa lagi menyelesaikan semuanya dengan satu permintaan maaf.
Perusahaan mereka harus membuka catatan transaksi kepada para pihak yang berkepentingan.
Beberapa rencana investasi dibatalkan.
Mereka menjual dua mobil perusahaan dan salah satu ruko untuk menyelesaikan sebagian kewajiban.
Uangku dikembalikan bertahap.
Rp300 juta pertama datang dari penjualan mobil Arga.
Sisanya dibayar melalui kesepakatan pengembalian yang dibuat secara resmi dan diawasi kuasa hukum.
Aku tidak menerima satu rupiah lebih dari yang menjadi hakku.
Aku hanya mengambil kembali milikku.
Hubunganku dengan Arga selesai.
Benar-benar selesai.
Nomornya kublokir setelah seluruh urusan yang membutuhkan komunikasi dialihkan melalui pengacara.
Enam bulan kemudian aku akhirnya menyelesaikan renovasi rumah Bintaro.
Kali ini aku memilih kontraktor sendiri.
Setiap invoice kuperiksa.
Setiap pembayaran langsung kukirim ke rekening perusahaan.
Ayah datang dari Yogyakarta saat rumah itu selesai.
Ia berdiri lama di ruang keluarga sambil melihat foto ibu yang kupasang di rak kayu.
“Ini rumah yang kamu beli dari uang Mama juga?”
Aku mengangguk.
Ayah tersenyum.
“Berarti jangan pernah biarkan orang lain membuatmu merasa kamu mendapatkannya karena belas kasihan mereka.”
Aku memeluknya.
Untuk pertama kalinya sejak pesta lamaran itu, aku menangis tanpa rasa marah.
Setahun kemudian, kehidupan keluarga Mahendra sudah tidak ada hubungannya lagi denganku.
Aku sesekali mendengar kabar dari teman.
Mahendra Living tetap berjalan, tetapi dalam skala jauh lebih kecil setelah restrukturisasi.
Pak Damar mundur dari beberapa kegiatan perusahaan.
Bu Ratna hampir tidak pernah lagi muncul di acara sosial tempat dahulu ia gemar memamerkan status keluarganya.
Sedangkan Arga bekerja di perusahaan lain setelah melepaskan jabatannya dalam bisnis keluarga.
Aku tidak tahu apakah ia menyesal.
Dan aku tidak lagi membutuhkan jawabannya.
Aku sendiri mendapat promosi di kantor.
Rumah Bintaro itu tidak kujual.
Aku menanam pohon kamboja di halaman kecil yang dulu ingin diubah Bu Ratna menjadi tempat parkir tambahan.
Kamar yang dulu disebut Arga sebagai “ruang kerja kita” kujadikan ruang baca.
Di dinding dekat meja kerja, aku menyimpan satu benda dari malam lamaran.
Bukan cincin.
Bukan foto.
Hanya salinan halaman presentasi yang dulu memuat foto rumahku sebagai “aset keluarga Mahendra”.
Aku membingkainya.
Bukan karena ingin terus mengingat penghinaan itu.
Melainkan untuk mengingat satu pelajaran.
Ada orang yang melihat kebaikan sebagai kasih sayang.
Ada pula yang melihatnya sebagai kesempatan mengambil lebih banyak.
Dan kadang kita baru mengetahui perbedaannya ketika kita akhirnya berani berkata cukup.
Beberapa bulan kemudian, seorang rekan kantor bertanya kepadaku saat makan siang,
“Kalau nanti menikah lagi, kamu masih mau tinggal di rumah itu?”
Aku tersenyum.
“Kalau aku menikah lagi, orang itu boleh tinggal bersamaku.”
Aku mengaduk es kopi di depanku.
“Tapi rumah itu tetap rumahku.”
Kami tertawa.
Malam itu aku pulang ke Bintaro.
Aku membuka pagar sendiri.
Menyalakan lampu teras sendiri.
Dan ketika berdiri di ruang keluarga yang tenang, aku baru menyadari sesuatu.
Dulu aku membeli rumah itu karena membayangkan akan membangun keluarga bersama Arga.
Ternyata rumah tersebut memberiku sesuatu yang jauh lebih penting.
Sebuah tempat di mana tidak ada seorang pun yang bisa memintaku merendahkan kepala hanya demi menjaga “nama baik keluarga”.
Sebuah tempat di mana suaraku tidak perlu dikecilkan agar orang lain terlihat lebih terhormat.
Dan sebuah kehidupan yang, akhirnya, sepenuhnya kembali menjadi milikku.

