Tujuh Hari Setelah Cerai, Mantan Suamiku Membawa Istri Barunya Pulang—Lalu Ibunya Menyuruhku Membatalkan Perjalanan karena Katanya Hanya Aku yang Pantas Merawatnya Saat Ia Masuk Rumah Sakit di Malam Pertama Mereka
Bagian 1 — Baru Tujuh Hari Kami Resmi Bercerai, Tetapi Keluarganya Menuntutku Pulang karena Istri Barunya Katanya Tak Bisa Menjaganya di Rumah Sakit
Tujuh hari setelah putusan cerai kami resmi berkekuatan hukum, mantan suamiku menikah lagi.
Aku mengetahui kabar itu bukan dari Raka.
Bukan pula dari teman.
Aku melihatnya dari grup WhatsApp keluarga yang belum sempat kuhapus.
Saat itu aku sedang duduk di kereta Lodaya menuju Yogyakarta. Kopi yang kubeli di Stasiun Bandung masih hangat ketika layar ponselku menampilkan foto dua buku nikah berdampingan.
Di belakangnya terlihat Raka Mahendra memakai kemeja putih, sementara perempuan di sebelahnya—Selvi Anindita—tersenyum sambil memegang perut.
Bu Ratna, mantan ibu mertuaku, menulis di bawah foto itu:
“Alhamdulillah. Akhirnya keluarga kami lengkap. Sebentar lagi ada cucu juga.”
Aku membaca kalimat itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Selvi hamil.
Dan sekarang aku akhirnya mengerti mengapa tiga bulan terakhir sebelum perceraian, Raka semakin sering pulang setelah tengah malam sambil membawa alasan rapat proyek.
Aku tidak menangis.
Mungkin karena tangisku sudah habis jauh sebelum kami duduk di depan hakim.
Aku keluar dari grup keluarga, mematikan notifikasi, lalu menaruh ponsel ke dalam tas.
Di dalam tas itu ada map berisi surat putusan cerai dan bukti transfer Rp486 juta hasil pembagian harta bersama.
Rp176 juta adalah separuh tabungan kami.
Sisanya merupakan penggantian bagian milikku dari rumah di Antapani yang tetap dikuasai Raka.
Aku sudah merencanakan perjalanan sepuluh hari ke Yogyakarta, Solo, dan Banyuwangi sejak berbulan-bulan lalu.
Bukan untuk “menyembuhkan luka”.
Aku hanya ingin menikmati beberapa hari tanpa ada orang yang bertanya di mana kaus kaki Raka, obat darah tinggi ayahnya, jadwal kontrol ibunya, tagihan listrik rumah, sampai lokasi dokumen pajak keluarga.
Selama tujuh tahun pernikahan, aku menjadi pusat informasi untuk seluruh keluarga itu.
Dan sekarang semuanya sudah selesai.
Setidaknya, itulah yang kupikirkan.
Kereta baru melewati Tasikmalaya ketika ponselku bergetar berkali-kali.
Nomor Bu Ratna.
Sembilan pesan masuk sekaligus.
Pesan pertama berbunyi:
“Nadira, Raka kecelakaan.”
Pesan berikutnya:
“Dia jatuh dari motor ketika membawa barang ke rumah baru.”
“Bahu kirinya patah dan pergelangan tangannya retak. Dokter bilang kemungkinan harus dioperasi.”
Lalu datang kalimat yang membuatku mengernyit.
“Kamu turun saja di stasiun berikutnya lalu pulang.”
Aku menatap layar cukup lama.
Pesan lain langsung menyusul.
“Selvi sedang hamil sebelas minggu. Dia mual parah dan dokter melarang terlalu capek.”
“Ayahnya Raka juga tidak kuat berjaga.”
“Kamu paling tahu kebiasaan Raka. Kamu juga tahu obat apa yang cocok untuk dia.”
“Kamu kan pernah jadi istrinya.”
Aku menarik napas.
Kemudian mengetik:
“Bu Ratna, saya sudah bukan istrinya.”
Tiga detik kemudian tanda centang biru muncul.
Balasan datang cepat.
“Jangan bicara soal status dulu. Ini keadaan darurat.”
Aku menjawab:
“Kalau keadaan darurat, rumah sakit punya dokter dan perawat.”
Bu Ratna langsung menelepon.
Aku menolak.
Beliau menelepon lagi.
Aku menolak lagi.
Akhirnya aku menerima panggilan ketiga.
Belum sempat mengucapkan halo, suaranya sudah meninggi.
“Kamu itu bagaimana, Nadira? Mantan suamimu masuk rumah sakit, kok masih bisa jalan-jalan?”
Aku menoleh ke jendela.
Sawah bergerak mundur di balik kaca.
“Karena dia mantan suami saya.”
“Jangan kejam begitu!”
“Saya tidak kejam. Saya hanya sudah tidak punya kewajiban.”
Bu Ratna mendengus.
“Selvi hamil! Masa kamu tega menyuruh perempuan hamil mengangkat badan Raka kalau mau ke toilet?”
“Tidak ada yang menyuruh Selvi melakukannya. Bisa pakai perawat pendamping.”
“Bayarnya pakai apa?”
Pertanyaan itu begitu spontan sampai aku hampir tertawa.
“Gaji Raka hampir Rp28 juta sebulan.”
“Sekarang banyak pengeluaran!”
“Kalau begitu itu urusan rumah tangga mereka.”
Suara Bu Ratna berubah dingin.
“Kamu gampang bicara karena sudah membawa hampir lima ratus juta dari Raka.”
Aku langsung duduk lebih tegak.
“Uang itu hasil pembagian harta bersama.”
“Kalau Raka tidak baik, mana mungkin kamu diberi sebanyak itu?”
Diberi?
Selama tujuh tahun, hampir separuh cicilan rumah dibayar dari rekeningku.
Ketika Raka kehilangan pekerjaannya selama delapan bulan setelah pandemi, aku yang membayar angsuran, listrik, kebutuhan rumah, bahkan premi asuransi orang tuanya.
Tapi rupanya semua itu sudah dilupakan.
“Bu Ratna,” kataku pelan, “jangan pernah bilang uang itu pemberian Raka lagi.”
Beliau terdiam.
Aku melanjutkan.
“Semua dihitung oleh pengacara dan tercantum dalam kesepakatan resmi. Kalau Ibu menyebarkan cerita bahwa saya mengambil uang milik keluarga, saya akan meminta pengacara saya menjelaskan langsung.”
Bu Ratna menutup telepon.
Kupikir selesai.
Ternyata belum.
Sekitar setengah jam kemudian sebuah nomor rumah sakit menelepon.
Seorang petugas memperkenalkan diri dari salah satu rumah sakit swasta di Bandung.
“Nyonya Nadira Prameswari?”
“Ya.”
“Kami menghubungi Anda karena nama Anda masih tercatat sebagai kontak darurat Bapak Raka Mahendra.”
Aku memejamkan mata sesaat.
Tentu saja.
Bahkan setelah bercerai, rupanya satu lagi urusan Raka masih tertinggal atas namaku.
Petugas menjelaskan Raka mengalami fraktur tulang selangka serta cedera pergelangan tangan. Mereka sedang menyiapkan pemeriksaan lanjutan untuk menentukan tindakan operasi.
“Keluarganya mengatakan Anda mengetahui riwayat alergi pasien.”
Aku memang tahu.
Tiga tahun lalu, setelah cabut gigi bungsu, Raka mengalami ruam berat setelah mengonsumsi antibiotik tertentu.
Aku memberikan nama obat dan rumah sakit tempat catatan medis lama tersimpan.
Petugas berterima kasih.
Kemudian ia berkata:
“Keluarga juga mengatakan Ibu akan datang malam ini.”
Aku langsung menjawab:
“Tidak.”
Nada suara petugas itu berhenti sepersekian detik.
“Saya sudah bercerai dengan Bapak Raka. Istrinya sekarang bernama Selvi Anindita. Mereka menikah hari ini.”
“Oh… baik, Bu. Kami mengerti.”
Aku memberikan semua informasi medis yang memang kuketahui.
Setelah itu tugasku selesai.
Namun dua jam kemudian, tepat ketika kereta mendekati Yogyakarta, Raka sendiri mengirim pesan.
“Maaf kalau Mama ngomong macam-macam.”
Pesan kedua muncul.
“Kamu lanjut liburan saja.”
Aku tersenyum tipis.
Itulah Raka yang kukenal.
Dia tidak pernah benar-benar menghentikan ibunya.
Dia hanya menunggu ibunya selesai menyakitiku, kemudian datang membawa kalimat lembut agar dirinya tetap terlihat sebagai laki-laki yang masuk akal.
Aku menjawab singkat:
“Baik.”
Lima menit kemudian pesan baru muncul.
“Tapi kalau bisa, aku minta satu bantuan.”
Aku sudah bisa menebak.
“Dokumen polis asuransi kesehatan tambahan sama hasil medical check-up tahun lalu masih kamu simpan, kan?”
Aku membuka galeri.
Dua bulan sebelum kami resmi berpisah rumah, aku sudah memotret sebuah kotak arsip abu-abu di lemari ruang kerja.
Semua dokumen Raka ada di sana.
Aku mengirim fotonya.
“Masih di rumah Antapani. Rak kedua lemari kerja.”
Kemudian kutambahkan:
“Sekarang istrimu tinggal di sana. Minta dia cari.”
Raka hanya menjawab:
“Oke.”
Aku tiba di penginapan sekitar pukul tujuh malam.
Baru saja hendak mandi, muncul permintaan pertemanan dari akun bernama Selvi Anindita.
Aku mengabaikannya.
Lima menit kemudian dia mengirim lagi.
Kali ini ada pesan.
“Kak Nadira, maaf mengganggu. Saya cuma mau bicara soal Mas Raka.”
Aku akhirnya menerima.
Selvi langsung mengirim foto hasil pemeriksaan kandungan.
“Aku sedang hamil sebelas minggu dan sering muntah sampai lemas.”
“Dokter menyuruhku banyak istirahat.”
Aku menjawab:
“Semoga kehamilannya sehat.”
Kemudian dia menulis sesuatu yang sudah bisa kuduga.
“Bu Ratna bilang Kak Nadira mungkin bisa bantu berjaga dua atau tiga malam sampai kondisi Mas Raka stabil.”
Aku mengetik:
“Kalian bisa menyewa perawat pendamping.”
“Sudah tanya.”
“Berapa?”
“Rp650 ribu untuk 24 jam.”
Aku hampir menghela napas.
“Raka mampu.”
Selvi lama tidak menjawab.
Kemudian dia mengirim voice note.
Suaranya pelan.
Seolah tidak ingin didengar orang lain.
“Kak… aku sebenarnya bingung.”
“Mas Raka bilang dari sebelum kami menikah, Kak Nadira sudah setuju kalau urusan Mama, Papa, atau rumah sakit, Kakak masih akan membantu karena kalian berpisah baik-baik.”
Tanganku berhenti di atas layar.
Aku memutar rekaman itu sekali lagi.
Bukan karena tidak mendengar.
Tapi karena aku ingin memastikan aku tidak salah memahami.
Selvi melanjutkan lewat pesan teks.
“Dia juga bilang Kakak tidak keberatan karena selama menikah memang Kakak yang biasa mengurus semuanya.”
Aku duduk di tepi tempat tidur.
Tiba-tiba seluruh tubuhku terasa dingin.
Jadi bukan hanya Bu Ratna yang masih menganggapku bisa dipanggil kapan saja.
Raka ternyata sudah menjual sebuah janji atas namaku.
Janji yang tidak pernah kubuat.
Aku baru hendak membalas ketika Selvi mengirim satu kalimat lagi.
“Katanya, kalau benar-benar darurat, Kak Nadira pasti pulang karena Kakak bukan orang yang tega.”
Saat itulah aku sadar.
Mereka bukan sedang meminta tolong.
Mereka sedang menguji apakah aku masih bisa dikendalikan seperti dulu.
Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, jawabanku tidak akan seperti yang mereka harapkan.
#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PerempuanBerani #CeritaKehidupan #KisahIndonesia
Bagian 2 — Ketika Mereka Menuduhku Membawa Kabur Uang Keluarga, Aku Membuka Satu Catatan Utang yang Selama Ini Sengaja Kubiarkan Diam demi Menjaga Harga Diri Mereka
Aku tidak membalas Selvi malam itu.
Aku justru membuka laptop.
Lalu mencari satu folder lama bernama:
“Keluarga Raka.”
Dulu folder itu berisi hampir semua urusan yang tidak pernah dianggap pekerjaan oleh siapa pun.
Jadwal kontrol Bu Ratna.
Kwitansi terapi Pak Hendra.
Tagihan rumah.
Bukti transfer.
Nomor teknisi AC.
Salinan polis.
Daftar obat.
Sampai kuitansi katering acara keluarga.
Aku menatap folder itu lama.
Selama bertahun-tahun mereka mengatakan aku “pandai mengurus rumah”.
Padahal kenyataannya, aku melakukan pekerjaan administratif, finansial, dan perawatan untuk empat orang dewasa tanpa dibayar dan hampir tanpa dihargai.
Pagi berikutnya, sebuah pesan masuk dari adik perempuan Raka, Maya.
Dia tidak menanyakan kabarku.
Dia hanya mengirim screenshot grup keluarga besar.
Di sana Bu Ratna menulis:
“Nadira sudah dapat uang hampir Rp500 juta, tetapi ketika Raka kecelakaan dia malah liburan.”
Seorang tante membalas:
“Zaman sekarang orang kalau sudah pegang uang memang cepat lupa keluarga.”
Sepupu lain menambahkan:
“Padahal dulu Raka baik sekali sama dia.”
Aku membaca semuanya tanpa marah.
Anehnya, justru terasa sangat jelas.
Tujuh tahun aku membungkam diri supaya keluarga itu tetap terlihat harmonis.
Sekarang mereka menggunakan diamku sebagai bukti bahwa versi mereka benar.
Aku membuka chat Bu Ratna.
Lalu mengetik:
“Bu, saya minta Ibu menghapus pernyataan bahwa saya membawa uang Raka.”
Tidak ada jawaban.
Satu jam kemudian, beliau membalas:
“Memangnya salah?”
Aku mengambil foto kesepakatan pembagian aset.
Kukirim halaman yang menunjukkan perhitungan secara rinci.
Rp176 juta: setengah tabungan bersama.
Rp310 juta: nilai bagian kepemilikanku atas rumah.
Lalu kutulis:
“Ini dokumen hukumnya.”
Bu Ratna membalas dengan emoji tertawa.
“Ya tetap saja uang keluarga kami.”
Saat membaca kalimat itu, sesuatu di dalam diriku akhirnya putus.
Bukan kesabaran.
Rasa sungkanku.
Aku membuka folder lain.
Nama filenya:
“Pinjaman Bu Ratna.”
Empat tahun lalu, usaha katering kecil miliknya hampir tutup karena kehilangan dua pelanggan besar.
Beliau datang kepadaku sambil menangis.
Raka sedang punya banyak utang kartu kredit sehingga tidak bisa membantu.
Aku mentransfer Rp47 juta dari tabunganku sebelum menikah.
Bu Ratna bahkan menandatangani surat sederhana karena saat itu aku bilang uang tersebut bagian dari dana darurat pribadi.
Beliau berjanji mengembalikannya dalam dua tahun.
Aku tidak pernah menagih.
Ketika dua tahun berlalu, Raka berkata:
“Sudahlah. Mama malu kalau ditanya terus.”
Maka aku diam.
Sekarang sudah empat tahun.
Aku memotret bukti transfer dan surat pengakuan utang.
Lalu mengirimkannya kepada pengacaraku.
“Apa masih bisa ditagih?”
Jawabannya datang dua puluh menit kemudian.
“Bisa. Buktinya cukup kuat. Kita kirim somasi dulu.”
Aku mengetik:
“Kirim.”
Sore harinya Raka menelepon.
Aku mengangkat karena ingin mendengar sendiri apa yang akan dia katakan.
“Nadira, kamu kirim somasi ke Mama?”
“Iya.”
“Kenapa sekarang?”
Aku tertawa kecil.
“Karena sekarang keluargamu suka membicarakan uang.”
“Nadira…”
“Kalau mau menghitung siapa membawa uang siapa, mari kita hitung semuanya.”
Raka diam.
Aku melanjutkan.
“Dan satu hal lagi. Kenapa kamu bilang ke Selvi bahwa aku sudah setuju tetap membantu keluargamu setelah kita bercerai?”
Nada suaranya berubah.
“Aku cuma bilang kalau darurat mungkin kamu tidak keberatan.”
“Tidak.”
“Dulu kamu memang selalu bantu.”
“Itu dulu.”
“Kita berpisah baik-baik, Nad.”
“Berpisah baik-baik bukan berarti aku menjadi layanan purnajual untuk keluargamu.”
Dia terdiam.
Untuk pertama kali, aku mendengar Raka tidak punya kalimat lembut untuk menyelamatkan citranya sendiri.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang jauh lebih buruk.
“Kalau kamu tidak mau datang, paling tidak bantu biaya perawat beberapa hari.”
Aku hampir tidak percaya.
“Kenapa saya?”
“Asuransi kantor belum jelas cover semuanya. Renovasi rumah juga baru selesai. Uang kami sedang ketat.”
Aku tertawa.
Benar-benar tertawa kali ini.
“Tujuh hari lalu kita menyelesaikan pembagian aset.”
“Hari ini kamu menikah.”
“Dan malam ini kamu meminta mantan istrimu membiayai perawat untuk bulan madu rumah sakitmu?”
“Nadira, jangan ngomong begitu.”
“Lalu bagaimana saya harus menyebutnya?”
Raka tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian terdengar suara Bu Ratna di belakang.
“Katakan saja dia tidak punya hati!”
Aku menutup telepon.
Dua jam kemudian, pengacaraku mengirim bukti bahwa somasi sudah diterima.
Batas pembayaran diberikan tujuh hari.
Malam itu Selvi kembali mengirim pesan.
Kali ini bukan meminta bantuanku.
Dia bertanya:
“Kak Nadira, maaf… boleh aku tanya sesuatu?”
“Tanya.”
“Mas Raka bilang uang Rp486 juta itu sebenarnya dia berikan supaya proses cerai cepat selesai.”
Aku menatap layar.
Jadi kebohongannya tidak berhenti pada satu hal.
Aku mengirimkan halaman kesepakatan pembagian aset yang sama.
Selvi membacanya.
Lalu menghilang hampir satu jam.
Ketika dia kembali, pesannya hanya satu.
“Aku baru tahu rumah ini ternyata dibangun dari uang kalian berdua.”
Aku belum sempat menjawab ketika tiga titik muncul lagi.
“Kak…”
“Kalau begitu, utang kartu kredit Rp93 juta yang katanya berasal dari biaya perceraian itu sebenarnya utang apa?”
Aku diam.
Karena untuk pertama kalinya, ada satu angka yang bahkan aku sendiri belum pernah dengar.
Dan aku mulai mengerti mengapa Raka begitu panik soal Rp650 ribu sehari untuk perawat.
Bagian 3 — Mereka Memintaku Menghapus Somasi dan Kembali Membantu, Tetapi Kali Ini Aku Membiarkan Mereka Membayar Semua Harga yang Selama Ini Kusediakan Gratis
Keesokan paginya, Raka mengirim enam pesan.
Aku tidak langsung membacanya.
Aku sedang sarapan gudeg di dekat penginapan ketika akhirnya membuka ponsel.
Pesan pertama:
“Jangan bahas masalah kartu kredit sama Selvi.”
Pesan kedua:
“Itu urusan rumah tangga kami.”
Aku tersenyum.
Lucu.
Ketika mereka membutuhkan tenaga dan uangku, aku masih dianggap bagian keluarga.
Begitu menyangkut kebohongan Raka, tiba-tiba aku orang luar.
Aku menjawab:
“Benar. Itu urusan rumah tangga kalian.”
“Jadi tolong jangan libatkan saya lagi dalam urusan rumah sakit kalian.”
Setelah itu aku memblokir Raka selama sehari penuh.
Selvi tidak menghubungiku lagi sampai malam.
Ketika akhirnya pesan datang, nadanya jauh berbeda.
“Aku sudah bicara dengan Mas Raka.”
Ternyata Rp93 juta itu bukan biaya perceraian.
Sebagian merupakan utang renovasi.
Sebagian lagi berasal dari cicilan kartu kredit untuk membayar resepsi kecil mereka, uang muka furnitur baru, dan beberapa kebutuhan yang Raka tidak pernah ceritakan kepada Selvi.
Lebih buruk lagi, Raka selama ini membuat Selvi percaya bahwa setelah perceraian dia masih memiliki tabungan besar.
Padahal sebagian besar uang tunainya sudah habis untuk membayar bagianku atas rumah.
Aku tidak ikut campur.
Aku hanya berkata:
“Bicarakan semua keuangan kalian sebelum anak kalian lahir.”
Selvi menjawab:
“Aku akan lakukan.”
Kemudian dia menulis satu kalimat yang membuatku terdiam beberapa saat.
“Sekarang aku mengerti kenapa semua orang di rumah ini terus menyebut nama Kak Nadira setiap kali ada masalah.”
Aku bertanya:
“Kenapa?”
“Karena selama ini Kakak menyelesaikan terlalu banyak hal untuk mereka.”
Aku tidak tahu apakah itu pujian.
Bagiku, itu lebih terdengar seperti diagnosis.
Hari keenam setelah kecelakaan, Raka akhirnya menjalani operasi.
Mereka menyewa perawat pendamping.
Bukan satu shift.
Dua shift.
Biayanya lebih dari Rp700 ribu per hari.
Dan ternyata dunia tidak kiamat hanya karena aku tidak berada di samping ranjangnya.
Bu Ratna belajar menelepon perusahaan asuransi sendiri.
Maya datang membantu mengurus dokumen.
Selvi menghubungi bagian HR kantor Raka untuk memahami manfaat kesehatan suaminya.
Semua pekerjaan yang dulu otomatis dilempar kepadaku ternyata bisa dilakukan orang lain ketika mereka tidak lagi punya pilihan.
Masalah berikutnya adalah somasi.
Sehari sebelum tenggat berakhir, Bu Ratna menelepon dari nomor Maya.
Aku mengangkat.
Suaranya tidak lagi keras.
“Nadira… soal Rp47 juta itu, apa harus begini?”
“Apa maksud Ibu?”
“Pakai pengacara segala.”
“Saya sudah menunggu empat tahun.”
“Kita pernah keluarga.”
“Waktu Ibu menulis saya mengambil uang keluarga, Ibu juga ingat kita pernah keluarga?”
Beliau terdiam.
Kemudian berkata:
“Kalau uang itu dikembalikan, somasinya selesai?”
“Kalau lunas, selesai.”
“Tidak bisa dicicil?”
Aku melihat jadwal perjalananku.
Besok pagi aku akan berangkat ke Banyuwangi.
Dulu, setiap Bu Ratna bicara dengan nada seperti itu, aku akan langsung merasa bersalah.
Sekarang tidak.
“Bisa dibicarakan melalui pengacara saya.”
Aku menutup telepon.
Tiga hari kemudian Rp47 juta masuk ke rekeningku.
Ternyata Bu Ratna mengambil sebagian deposito yang selama ini katanya “tidak boleh disentuh karena untuk masa tua”.
Aku tidak merasa menang karena perempuan tua harus membuka deposito.
Aku merasa lega karena untuk pertama kali, masalah keuangannya bukan lagi diselesaikan dengan mengorbankan milikku.
Raka juga akhirnya menjual motor keduanya untuk melunasi sebagian kartu kredit.
Selvi tidak meninggalkannya.
Tapi dia pindah sementara ke rumah orang tuanya sampai Raka bersedia membuka seluruh utang, tabungan, cicilan, dan kewajiban finansialnya.
Dia bilang tidak mau membesarkan anak dalam rumah yang dibangun dari kebohongan.
Aku menghormati keputusan itu.
Namun aku tidak ikut campur lebih jauh.
Dua minggu setelah operasinya, Raka mengirim email karena nomornya masih kublokir.
Isinya panjang.
Dia meminta maaf.
Bukan hanya karena masalah rumah sakit.
Dia mengakui satu hal yang sebenarnya sudah lama kuketahui.
“Aku terlalu terbiasa kamu menyelesaikan semuanya.”
Dia menulis:
“Waktu kita bercerai, aku pikir yang hilang cuma pernikahan kita.”
“Ternyata aku juga kehilangan orang yang selama ini membuat hidupku berjalan tanpa aku sadari.”
Aku membaca sampai selesai.
Lalu menutup email.
Aku tidak membalas.
Beberapa permintaan maaf tidak membutuhkan balasan.
Cukup diterima sebagai konfirmasi bahwa keputusan kita meninggalkan seseorang memang benar.
Perjalananku akhirnya berlangsung sebelas hari.
Aku melihat matahari terbit dari pinggir kawah Ijen.
Aku makan sendirian di warung kecil tanpa harus memesan makanan untuk siapa pun.
Aku naik kereta tanpa ada yang bertanya kapan aku pulang untuk mengurus tagihan, jadwal dokter, atau dokumen seseorang.
Enam bulan kemudian, aku menggunakan sebagian uang pembagian aset untuk uang muka sebuah apartemen kecil di Bandung.
Bukan apartemen mewah.
Hanya dua kamar dengan jendela besar menghadap ke arah gunung saat langit sedang cerah.
Di hari pertama pindah, aku membeli sebuah kotak arsip baru.
Aku menempelkan label di depannya:
“Dokumen Nadira.”
Hanya namaku.
Tidak ada polis Raka.
Tidak ada kuitansi Bu Ratna.
Tidak ada jadwal kontrol Pak Hendra.
Tidak ada utang keluarga orang lain.
Malam itu aku duduk di lantai karena sofa belum datang.
Aku makan nasi goreng langsung dari bungkus kertas sambil melihat lampu kota.
Ponselku sangat sepi.
Dulu kesunyian seperti itu membuatku takut.
Sekarang rasanya seperti kemewahan.
Aku akhirnya memahami satu hal.
Selama bertahun-tahun mereka menyebutku “istri yang paling mengerti keluarga”.
Padahal yang sebenarnya mereka sukai bukan pengertianku.
Mereka menyukai kenyataan bahwa aku selalu bersedia mengorbankan waktu, uang, tenaga, dan harga diriku agar hidup mereka tetap nyaman.
Ketika aku berhenti melakukannya, mereka menyebutku kejam.
Tidak apa-apa.
Karena terkadang, orang yang paling marah ketika kita membuat batas adalah orang yang paling banyak menikmati hidup tanpa batas itu.
Dan sejak hari itu, aku tidak pernah lagi menerima telepon yang dimulai dengan:
“Nadira, kamu harus pulang.”
Sebab akhirnya mereka paham.
Aku tidak sedang pergi sementara.
Aku benar-benar sudah selesai.

