Di Hari Foto Prewedding, Tunanganku Melepas Jas demi Menjadi “Ayah” Anak Sepupuku—Lalu Satu Notifikasi Sekolah Membongkar Dua Tahun Kebohongan yang Menghancurkan Rencana Pernikahan Kami dalam Satu Pagi
Bagian 1 — Saat Foto Prewedding Dibatalkan demi Lomba Sekolah, Aku Baru Sadar Tunanganku Sudah Lama Menjadi Ayah di Keluarga Orang Lain Diam-Diam
Dua tahun lalu, setelah perceraian sepupuku selesai, Rani pernah datang ke apartemenku sambil menangis.
Saat itu ia hanya meminta satu hal.
“Nad, boleh pinjam Raka sehari saja?”
Aku sampai mengira salah dengar.
Rani menjelaskan bahwa sekolah dasar Dimas sedang mengadakan acara Hari Ayah. Anak laki-lakinya yang baru berusia tujuh tahun menangis karena semua teman akan datang bersama ayah mereka.
Mantan suami Rani tinggal terpisah dan hubungan mereka sedang buruk.
Ia takut Dimas menjadi satu-satunya anak yang berdiri sendirian.
“Cuma sehari,” katanya sambil menggenggam tanganku.
“Setelah acara selesai, semuanya kembali seperti biasa.”
Aku percaya.
Ternyata satu hari itu tidak pernah benar-benar selesai.
Setelah Hari Ayah, ada acara membuat layang-layang bersama orang tua.
Raka datang.
Ada presentasi keluarga di kelas.
Raka datang.
Ada acara kemah akhir semester.
Raka juga datang.
Setiap kali aku bertanya kenapa harus selalu dia, jawabannya hampir sama.
“Kasihan Dimas.”
“Dia masih kecil.”
“Jangan jadikan masalah orang dewasa beban anak.”
Aku menelan keberatanku berkali-kali.
Sampai Sabtu pagi itu.
Hari ketika seharusnya aku dan Raka melakukan foto prewedding di Kemang sebelum melanjutkan sesi luar ruangan di Sentul.
Ibuku berangkat dari Semarang sejak malam sebelumnya.
Ayah bahkan membawa sendiri kebaya keluarga yang ingin kupakai untuk sesi terakhir karena takut rusak jika dimasukkan bagasi.
Aku sudah mengenakan gaun putih ketika pintu studio terbuka.
Rani masuk bersama Dimas.
Mereka memakai kaus olahraga abu-abu dengan garis biru tua.
Begitu melihat Raka, Dimas langsung berlari.
“Papa!”
Ia memeluk pinggang tunanganku.
“Cepat ganti baju! Tim kita harus daftar sebelum jam sembilan!”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku menatap Raka.
Laki-laki yang lima menit sebelumnya berdiri di sampingku mengenakan setelan krem untuk foto pertunangan mendadak terlihat gugup.
“Aku lupa bilang.”
Ia tertawa kecil.
“Hari ini sekolah Dimas ada Family Sports Day.”
Aku belum sempat menjawab ketika Rani mengeluarkan sebuah kantong kertas.
Dari dalamnya, ia mengambil kaus ketiga.
Warna.
Model.
Garis birunya.
Semuanya sama persis.
Raka menerima kaus itu tanpa bertanya.
Lalu, tepat di depan kedua orang tuaku, ia membuka jas prewedding-nya.
“Raka.”
Aku memanggil namanya.
Tangannya berhenti sebentar.
“Apa?”
“Hari ini jadwal kita.”
“Aku tahu.”
Ia tetap melepas kemeja luarnya.
“Cuma dua atau tiga jam.”
Aku melihat bagian belakang kaus yang diberikan Rani.
Di sana tercetak tiga nama.
MAMA RANI.
PAPA RAKA.
DIMAS.
Aku merasa sesuatu yang dingin merambat dari tengkuk sampai ujung jari.
Ini bukan kaus yang kebetulan dibeli pagi tadi.
Baju itu jelas dipesan jauh-jauh hari.
Aku menunjuk tulisan di punggungnya.
“Ini juga baru kamu tahu pagi ini?”
Raka terdiam.
Rani buru-buru menjawab.
“Aku yang pesan.”
“Biar seragam saja.”
“Raka sama sekali tidak tahu.”
Dimas menarik tangan Raka.
“Papa sudah tahu, kok.”
Rani langsung menegang.
Anak itu melanjutkan dengan polos.
“Minggu lalu Papa yang pilih ukuran.”
Tidak ada seorang pun bicara selama beberapa detik.
Raka akhirnya menghela napas.
“Nadira, jangan mulai.”
Kalimat itu justru membuat dadaku semakin dingin.
Jangan mulai?
Seolah-olah akulah orang yang sedang menciptakan masalah.
Ayah berdiri dari sofa.
“Raka.”
Suaranya tenang, tetapi aku tahu ayah sedang menahan marah.
“Kami datang jauh-jauh untuk acara anak saya.”
“Kalau kamu memang sudah punya janji lain sejak minggu lalu, kenapa tidak bicara?”
Raka memasukkan lengannya ke kaus olahraga.
“Om, acaranya sebentar.”
“Foto bisa dijadwalkan ulang.”
Fotografer kami yang sejak tadi diam akhirnya mendekat.
“Maaf, Mas.”
“Sesi Sentul tidak bisa digeser ke sore.”
“Kami sewa lokasi hanya sampai pukul dua belas.”
Rani langsung menunduk.
“Sudahlah.”
Ia meraih bahu Dimas.
“Kita pulang saja.”
“Memang dari awal aku seharusnya sadar.”
“Kami cuma ibu dan anak.”
Kalimatnya pelan.
Tetapi cukup keras untuk didengar semua orang.
Dimas langsung menatap Rani.
“Berarti kita tidak ikut lomba keluarga?”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Teman-temanku semua sama papanya.”
Raka berubah seketika.
Ia berjongkok di depan Dimas.
“Siapa bilang tidak ikut?”
“Papa sudah janji.”
Papa.
Lagi.
Dan Raka tidak pernah sekali pun mengoreksinya.
Ia bahkan mengusap kepala anak itu sambil tersenyum.
“Kita kejar juara satu.”
Dimas langsung tertawa.
Aku berdiri di depan cermin dengan gaun pengantin sementara tunanganku sedang berjanji memenangkan lomba keluarga bersama perempuan lain dan anaknya.
Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu.
Selama dua tahun aku terus diminta mengalah demi seorang anak.
Tetapi tidak pernah ada yang bertanya berapa banyak hal yang harus kukorbankan agar mereka bertiga bisa terus bermain keluarga.
Aku melepas antingku.
“Pergilah.”
Raka menoleh.
“Apa?”
“Aku bilang pergi.”
Ia terlihat lega.
Sampai aku melanjutkan.
“Tapi setelah keluar dari pintu itu, jangan kembali sebagai tunanganku.”
Raut wajahnya langsung berubah.
“Nadira.”
“Kamu serius?”
“Ya.”
Ia tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Karena kesal.
“Kamu mau membatalkan pernikahan cuma gara-gara acara sekolah?”
Aku menatapnya.
“Bukan karena acara sekolah.”
“Karena aku baru sadar dalam hubungan ini, semua hal tentang kita selalu boleh dibatalkan.”
“Sedangkan semua hal tentang mereka selalu darurat.”
Rani mulai menangis.
“Nad, jangan salahkan Raka.”
“Ini semua karena aku.”
Aku mengangguk.
“Aku tahu.”
“Makanya aku tidak akan berebut denganku sendiri lagi.”
Raka mengambil kunci mobil dari meja.
Mobil Honda HR-V itu kubeli setahun sebelumnya dengan uang bonus proyekku.
Karena kantor Raka lebih jauh, ia memang lebih sering memakainya.
Aku mengulurkan tangan.
“Kuncinya.”
“Nadira.”
“Kuncinya.”
“Sekolah Dimas di Depok.”
“Kalau pesan mobil sekarang kami bisa terlambat.”
“Itu bukan masalahku.”
Wajahnya mengeras.
“Kita sebentar lagi menikah.”
“Harus sampai hitung-hitungan begini?”
Aku mengambil kunci dari tangannya.
“Justru mulai hari ini semuanya harus dihitung.”
Ia menatapku beberapa detik.
Lalu mengangkat Dimas ke dalam gendongan.
“Baik.”
“Kalau kamu mau kekanak-kanakan, lanjutkan.”
“Nanti kalau sudah tenang, telepon aku.”
Rani mengikuti mereka.
Sebelum pintu lift tertutup, aku mendengar Dimas bertanya,
“Papa, habis lomba kita tetap makan ramen?”
Raka menjawab tanpa ragu.
“Tentu.”
“Hari ini Dimas boleh pilih apa saja.”
Pintu menutup.
Ibuku berjalan mendekat.
Ia memegang tanganku.
“Nangis saja kalau mau.”
Aneh sekali.
Aku tidak bisa menangis.
Aku hanya melepas veil dari kepalaku.
Lalu aku berkata,
“Bu.”
“Aku bukan sedih karena foto hari ini batal.”
“Aku cuma baru sadar aku hampir menikahi orang yang sudah punya keluarga emosional di tempat lain.”
Satu jam berikutnya kugunakan untuk membatalkan semuanya.
Foto prewedding.
Vendor dekorasi.
MC.
Catering.
Venue pernikahan di Bogor yang sudah dipesan untuk bulan berikutnya.
Semua kontrak yang masih bisa direfund langsung kuurus.
Ayah tidak membujukku.
Setelah aku menandatangani formulir pembatalan terakhir, ia cuma bertanya,
“Sudah yakin?”
“Sudah.”
Ayah mengangguk.
“Kalau begitu pulang.”
Kami hampir meninggalkan studio ketika salah satu staf memanggilku.
“Mbak Nadira.”
Ia membawa sebuah tablet.
“Ini tadi dipakai Mas Raka untuk memilih hasil foto.”
“Google account-nya masih login.”
“Mau dicek dulu sebelum kami logout?”
Aku sebenarnya hendak menyerahkannya kembali.
Namun tepat ketika layar menyala, sebuah notifikasi muncul.
Logo sekolah Dimas.
Pembaruan data wali murid berhasil diverifikasi.
Aku berhenti.
Jari-jariku menyentuh layar.
Nama wali utama yang tertera di sana bukan nama mantan suami Rani.
Bukan pula nama Rani.
Raka Aditya Pratama.
Di bawah kolom hubungan dengan siswa tertulis:
Ayah sambung.
Aku merasa napasku terhenti.
Raka dan Rani tidak pernah menikah.
Aku membuka riwayat pembaruan.
Data itu juga bukan dibuat minggu lalu.
Bukan bulan lalu.
Tanggal verifikasinya tercatat empat belas bulan sebelumnya.
Di bawahnya bahkan ada formulir elektronik yang ditandatangani Raka.
Wali utama yang dapat dihubungi untuk kegiatan sekolah dan keadaan darurat.
Saat itulah aku sadar.
Selama ini aku bukan sedang meminjamkan tunanganku menjadi ayah sehari.
Tanpa sepengetahuanku, seseorang sudah mendaftarkan calon suamiku sebagai ayah di kehidupan anak lain lebih dari setahun.
Dan ketika aku menggulir ke bawah, aku melihat satu folder tersinkron otomatis.
Namanya hanya dua kata.
Keluarga Dimas.
#KisahKeluarga #DramaIndonesia #CeritaKehidupan #PengkhianatanCinta #KisahViral
Bagian 2 — Satu Akun Sekolah yang Masih Terbuka Membawaku pada Foto, Tagihan, dan Kebohongan yang Selama Ini Disembunyikan Dariku dan Keluargaku Sendiri
Aku membuka folder itu.
Ada ratusan foto.
Foto Raka mengantar Dimas hari pertama sekolah.
Foto Raka membantu membuat miniatur rumah untuk tugas kelas.
Foto mereka bertiga makan bakso setelah pembagian rapor.
Bahkan ada foto ulang tahun Raka.
Rani berdiri membawa kue.
Dimas memeluknya dari belakang.
Di atas kue tertulis:
Papa Terbaik.
Tanganku mulai gemetar ketika melihat tanggalnya.
Ulang tahun Raka tahun lalu.
Hari itu ia mengatakan kepadaku bahwa kantor mengadakan makan malam mendadak dengan klien.
Aku menunggu sampai hampir tengah malam sambil membawa hadiah yang kubeli sejak dua minggu sebelumnya.
Ternyata ia sedang meniup lilin bersama Rani dan Dimas.
Aku terus menggulir.
Lalu satu foto membuat seluruh tubuhku kaku.
Tanggal 17 November.
Malam ketika ayahku masuk IGD karena gangguan irama jantung.
Aku menelepon Raka sebelas kali.
Ia baru membalas hampir pukul satu dini hari.
Katanya mobil kantor mengalami masalah di tol menuju Bekasi.
Ia tidak mungkin kembali cepat.
Malam itu aku sendirian mengurus administrasi rumah sakit.
Aku masih ingat duduk di lorong IGD sambil memegang map pemeriksaan ayah.
Namun pada foto bertanggal sama, pukul 21.47, Raka sedang duduk di depan tenda di sebuah area perkemahan Cibubur.
Dimas tertidur di pangkuannya.
Rani berada di sampingnya.
Spanduk di belakang mereka terbaca jelas.
Family Camp SD Harapan Bangsa.
Aku menutup mata.
Selama ini aku selalu mengira masalah kami hanya soal batasan yang terlalu longgar.
Ternyata itu jauh lebih buruk.
Raka berbohong.
Dengan sadar.
Berulang kali.
Ia bukan sekadar membantu Rani.
Ia menyusun hidup kedua dan memastikan aku tidak mengetahuinya.
Ada sebuah spreadsheet tersimpan di Drive.
Judulnya:
Kegiatan Dimas 2025–2026.
Nama Raka tercantum hampir di setiap kolom pendamping.
Field trip.
Family camp.
Hari profesi.
Pertandingan futsal.
Pertemuan wali murid.
Ia tahu jadwal sekolah Dimas lebih lengkap daripada jadwal pemeriksaan medis ayahku.
Lalu aku menemukan folder pembayaran.
Salah satu kuitansi berasal dari resort di Puncak.
Rp4.850.000.
Pembayaran untuk paket Family Camp tiga orang.
Metode pembayaran membuatku terdiam.
Rekening bersama pernikahan kami.
Aku langsung membuka aplikasi bank.
Selama tiga tahun, aku dan Raka memang mengumpulkan dana pernikahan di rekening terpisah.
Total saldo sebelum semua pembatalan adalah Rp287.500.000.
Catatan transfernya mudah diperiksa.
Kontribusiku: Rp228.000.000.
Kontribusi Raka: Rp59.500.000.
Aku menelepon bank, memblokir seluruh auto-debit yang terhubung dengan kartu tambahan, lalu memindahkan bagian uang milikku ke rekening pribadiku.
Tidak satu rupiah pun bagian Raka kusentuh.
Kurang dari dua menit kemudian ponselku berdering.
Raka.
Aku tidak menjawab.
Ia menelepon lagi.
Lalu lagi.
Pesan masuk.
Nadira, kenapa uang dipindahkan?
Pesan kedua.
Jangan buat keputusan waktu emosi.
Aku hampir tertawa.
Orang yang selama empat belas bulan menjadi “ayah sambung” diam-diam sedang menasihatiku agar tidak mengambil keputusan emosional.
Aku melanjutkan pemeriksaan.
Di browser tablet, WhatsApp Web Raka masih aktif.
Aku tidak perlu mencari lama.
Nama Rani ada hampir di paling atas.
Percakapan mereka tidak romantis seperti pasangan selingkuh.
Entah kenapa justru itu terasa lebih menyakitkan.
Mereka bicara seperti dua orang tua.
Rani: Dimas minta kamu datang pembagian rapor. Bisa?
Raka: Bisa. Jangan bilang Nadira dulu.
Pesan lain.
Rani: Kalau nanti kamu sudah menikah, apa semua ini harus berhenti?
Raka: Tidak perlu.
Raka: Dimas sudah menganggap aku ayahnya.
Rani: Aku takut Nadira suatu hari tidak terima.
Balasan Raka membuat dadaku seperti dipukul.
Raka: Nanti kalau sudah jadi istriku dia akan belajar menyesuaikan.**
Jadi itulah rencananya.
Bukan berhenti setelah kami menikah.
Aku justru diharapkan masuk ke sistem yang sudah mereka bangun.
Ada satu pesan yang lebih lama.
Rani menulis:
Mama kamu bilang Dimas sudah seperti cucu sendiri.
Raka menjawab:
Mama memang sayang dia. Biar saja.
Aku mematikan layar.
Tetapi ponselku kembali bergetar.
Kali ini nomor tidak dikenal.
“Bu Nadira?”
Suara laki-laki.
“Saya Fikri.”
Aku langsung mengenali nama itu.
Mantan suami Rani.
Ayah kandung Dimas.
“Saya dapat nomor Ibu dari teman sekolah Dimas.”
Ia terdiam sebentar.
“Saya mau tanya satu hal.”
“Kenapa di acara sekolah hari ini Raka dipanggil Papa?”
Aku tidak langsung menjawab.
Fikri melanjutkan.
“Rani selalu bilang Dimas tidak mau saya datang.”
“Saya percaya.”
“Tapi tadi seorang wali murid mengirim foto.”
Ia mengirim beberapa tangkapan layar.
Aku membukanya.
Selama hampir satu tahun Fikri ternyata berkali-kali meminta jadwal acara sekolah.
Aku mau datang Hari Ayah.
Rani menjawab:
Jangan. Dimas belum siap.
Bulan berikutnya.
Aku boleh datang pertandingan futsal?
Jawaban Rani:
Tidak usah membuat dia bingung.
Lalu ada pesan yang paling mengejutkan.
Dimas sudah punya figur ayah yang stabil sekarang. Tolong jangan rusak itu.
Fikri mengirim bukti transfer biaya sekolah.
Setiap bulan.
Teratur.
Ia memang pernah melakukan banyak kesalahan dalam pernikahan mereka.
Tetapi cerita bahwa Dimas “tidak punya ayah yang peduli” ternyata tidak pernah sepenuhnya benar.
Rani bukan sedang mencari sosok ayah karena tidak punya pilihan.
Ia memilih Raka.
Dan Raka setuju dipilih.
Saat itulah panggilan video masuk dari Raka.
Aku akhirnya mengangkatnya.
Di belakangnya terdengar suara musik dan anak-anak.
“Kamu gila?”
Itu kalimat pertamanya.
“Kenapa rekening pernikahan kamu kosongkan?”
“Aku ambil uangku.”
“Itu uang kita!”
“Kalau begitu besok kita ke bank.”
“Cetak seluruh mutasi.”
“Kita hitung rupiah demi rupiah.”
Wajahnya berubah.
Aku melanjutkan.
“Sekalian jelaskan Rp4,85 juta untuk Family Camp Dimas.”
Raka tidak bicara.
Untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya benar-benar pucat.
Lalu dari sisi layar muncul Rani.
“Nadira.”
Suaranya bergetar.
“Tolong.”
“Jangan libatkan sekolah.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Rani terdiam.
“Karena data wali Dimas…”
Ia menelan ludah.
“Bukan cuma Raka yang tanda tangan.”
Aku tidak mengatakan apa pun.
Rani menundukkan kepala.
“Aku memasukkan Raka sebagai ayah sambung atas permintaan sekolah.”
“Dan aku bilang kalian sudah menikah secara keluarga.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Raka memejamkan mata.
Berarti selama lebih dari setahun, mereka tidak hanya membiarkan seorang anak memanggil tunanganku Papa.
Mereka juga memberi tahu sekolah bahwa Raka adalah suami Rani.
Sementara tanggal pernikahan Raka denganku tinggal lima minggu lagi.
Aku mematikan panggilan.
Lalu mengirim satu pesan.
Besok pukul sepuluh datang ke rumah orang tuaku. Bawa orang tua kalian juga. Kita selesaikan semuanya sekali saja.
Kali ini bukan aku yang akan diminta mengalah agar seorang anak tidak terluka.
Kali ini semua orang dewasa yang membangun kebohongan itu harus menjelaskan sendiri apa yang sudah mereka lakukan.
Bagian 3 — Ketika Mereka Datang Memintaku Membatalkan Perpisahan, Aku Membuka Bukti Terakhir yang Membuat Semua Orang Berhenti Membela Mereka di Hadapan Keluarga Besar
Keesokan paginya, ruang tamu rumah orang tuaku penuh.
Raka datang bersama ayah dan ibunya.
Rani datang sekitar sepuluh menit kemudian.
Ia tidak membawa Dimas.
Itu satu-satunya keputusan benar yang ia buat sejak semua ini dimulai.
Begitu duduk, ibu Raka langsung memegang tanganku.
“Nadira.”
“Mama tahu kamu marah.”
“Tapi jangan langsung batalkan pernikahan.”
“Raka memang keterlaluan karena tidak jujur.”
“Tapi semua bermula karena kasihan pada Dimas.”
Aku menarik tanganku perlahan.
“Apakah Mama tahu Raka terdaftar sebagai ayah sambung Dimas?”
Wajah ibu Raka berubah.
Ia menoleh kepada anaknya.
“Ayah sambung?”
Raka langsung menjawab,
“Itu cuma administrasi sekolah.”
Aku membuka laptop.
“Kalau cuma administrasi, kenapa kalian mengatakan kepada sekolah bahwa kalian sudah menikah secara keluarga?”
Tidak ada jawaban.
Rani mulai menangis.
“Aku panik waktu diminta data.”
“Aku takut Dimas malu.”
Ayahku yang sejak tadi diam akhirnya bicara.
“Anak kecil tidak menulis data palsu.”
“Orang dewasa yang melakukannya.”
Ruangan langsung sunyi.
Raka mencoba mendekat.
“Nad.”
“Aku memang salah.”
“Tapi tidak pernah ada hubungan antara aku dan Rani.”
Aku mengangguk.
“Aku tahu.”
Ia terlihat lega.
Lalu aku berkata,
“Masalahnya bukan apakah kalian tidur bersama atau tidak.”
“Kamu memberikan sesuatu yang seharusnya paling mendasar dalam pernikahan kepadanya.”
“Waktu.”
“Loyalitas.”
“Kejujuran.”
“Dan hak untuk tahu kehidupan seperti apa yang akan dimasuki pasanganmu.”
Aku menampilkan spreadsheet kegiatan Dimas.
Lebih dari tiga puluh acara.
Nama Raka ada di hampir semuanya.
Kemudian foto ulang tahunnya.
Family Camp.
Pembagian rapor.
Kegiatan futsal.
Terakhir, foto pada malam ayahku masuk IGD.
Ibuku langsung menutup mulut.
Ayah menatap Raka tanpa berkedip.
“Kamu bilang malam itu ada masalah kendaraan kantor.”
Raka menunduk.
“Aku…”
“Tidak usah.”
Ayah mengangkat tangan.
“Aku cuma ingin tahu.”
“Ketika anak saya duduk sendirian di rumah sakit menunggu hasil pemeriksaan bapaknya, kamu sedang jadi ayah di keluarga mana?”
Tidak seorang pun menjawab.
Ibu Raka mulai menangis.
Ia menampar paha anaknya sendiri.
“Kenapa kamu bohong sampai seperti ini?”
Rani buru-buru berkata,
“Om, Tante, jangan salahkan Raka semua.”
“Saya yang sering minta bantuan.”
Aku mengangguk.
“Benar.”
“Kamu meminta.”
“Tapi dia selalu memilih mengatakan iya.”
Lalu kutampilkan percakapan terakhir.
Kalau nanti kamu sudah menikah, apa semua ini harus berhenti?
Tidak perlu.
Nanti kalau sudah jadi istriku dia akan belajar menyesuaikan.
Tidak ada lagi yang membela Raka.
Bahkan ibunya menundukkan kepala.
Tetapi masih ada satu hal.
Aku menatap Rani.
“Kamu bilang semua ini karena Dimas tidak punya ayah.”
Ia mengusap air matanya.
Aku membuka pesan dari Fikri.
Bukti transfer sekolah.
Permintaan menghadiri Hari Ayah.
Permintaan datang ke pertandingan.
Semua penolakan Rani.
Wajah Rani kehilangan warna.
Ayah Raka bertanya,
“Jadi ayah kandung anak itu masih meminta bertemu?”
Rani menjawab sangat pelan.
“Hubungan kami buruk.”
“Itu bukan pertanyaannya,” kataku.
“Kamu membuat semua orang percaya tidak ada laki-laki yang mau hadir untuk Dimas.”
“Padahal kamu sendiri yang menutup pintunya.”
Rani mulai menangis lebih keras.
“Aku cuma ingin Dimas punya contoh ayah yang baik.”
“Dan kamu memilih tunanganku?”
Ia tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya aku merasa semuanya benar-benar jelas.
Rani membutuhkan keluarga yang tampak utuh.
Raka menyukai perasaan dibutuhkan.
Keduanya mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Satu-satunya harga yang harus dibayar adalah perasaanku.
Karena selama ini mereka yakin aku akan selalu mengalah.
Raka berdiri.
“Nadira.”
“Aku akan berhenti.”
“Aku keluar dari grup sekolah.”
“Aku hapus semua data.”
“Aku tidak akan datang ke acara Dimas lagi.”
“Kita mulai dari awal.”
Aku menatap laki-laki yang hampir kunikahi.
“Apa kamu tahu kenapa terlambat?”
Ia diam.
“Karena kalau aku tidak menemukan semua ini, kamu tidak akan berhenti.”
“Kamu bahkan sudah merencanakan aku yang harus menyesuaikan setelah menikah.”
“Jadi perubahanmu sekarang bukan kesadaran.”
“Itu akibat ketahuan.”
Raka menangis.
Aku belum pernah melihatnya menangis selama enam tahun kami bersama.
Dulu mungkin aku akan goyah.
Hari itu tidak.
Aku mengambil sebuah amplop.
Di dalamnya ada daftar seluruh pembatalan vendor, perhitungan uang bersama, dan dokumen serah terima barang.
“Bagian uangmu di rekening tetap utuh.”
“Refund yang berasal dari pembayaranmu juga akan kembali kepadamu.”
“Tidak ada satu rupiah pun yang akan kuambil.”
“Kunci mobil dikembalikan.”
“Kartu akses apartemen dikembalikan.”
“Barang-barangmu sudah dikemas.”
“Pernikahan batal.”
Tidak ada ruang untuk salah paham.
Tidak ada ancaman kosong.
Tidak ada kesempatan kedua yang sengaja kubiarkan menggantung.
Semuanya selesai.
Dua hari kemudian pihak sekolah menghubungiku karena namaku sebelumnya tercantum sebagai kontak alternatif Raka.
Aku hanya mengatakan kebenaran.
Raka bukan suami Rani.
Bukan ayah sambung Dimas.
Sekolah kemudian meminta Rani memperbaiki seluruh data wali.
Fikri dan Rani akhirnya menjalani mediasi mengenai pola pertemuan dengan Dimas.
Aku tidak ikut campur.
Dimas tidak bersalah.
Aku bahkan meminta keluargaku berhenti membicarakan masalah tersebut di depan anak itu.
Orang dewasa yang menciptakan kekacauan.
Maka orang dewasa pula yang harus menanggung akibatnya.
Raka mengirim pesan hampir setiap hari selama satu bulan.
Aku tidak membalas.
Pada minggu keenam, pesannya berhenti.
Aku dengar dari teman bersama bahwa orang tuanya memintanya mengganti seluruh uang yang pernah ia ambil dari rekening pernikahan untuk kegiatan Dimas.
Ia juga pindah dari apartemen yang selama ini kami rencanakan menjadi rumah setelah menikah.
Rani menghapus semua unggahan yang menggambarkan mereka sebagai keluarga bertiga.
Bukan karena aku meminta.
Karena setelah data sekolah diperbaiki, beberapa wali murid mulai bertanya siapa sebenarnya “Papa Raka”.
Kebohongan yang selama bertahun-tahun terasa nyaman akhirnya tidak bisa lagi dipertahankan.
Delapan bulan berlalu.
Ayahku sehat setelah menjalani perawatan.
Ibuku menemaniku menggunakan sebagian uang refund pernikahan untuk membayar uang muka rumah kecil di daerah Bintaro.
Hari pertama menerima kunci, ayah berdiri di ruang tamu kosong sambil tertawa.
“Dulu Bapak kira tahun ini akan mengantar kamu ke pelaminan.”
Aku memeluk lengannya.
“Gagal, ya?”
Ayah menggeleng.
“Tidak.”
“Kamu tetap sampai ke tempat yang tepat.”
“Mungkin jalannya saja berubah.”
Sore itu kami makan nasi Padang langsung dari bungkus kertas karena rumah belum punya meja makan.
Tidak ada dekorasi mahal.
Tidak ada gaun putih.
Tidak ada fotografer.
Hanya aku, ayah, ibu, tiga bungkus rendang, dan rumah yang kuncinya sepenuhnya berada di tanganku sendiri.
Anehnya, aku jauh lebih bahagia daripada pagi ketika mengenakan gaun prewedding delapan bulan sebelumnya.
Saat itulah aku akhirnya memahami satu hal.
Aku tidak kehilangan calon suami pada hari Raka pergi ke acara sekolah.
Aku menyelamatkan diriku dari pernikahan di mana aku akan terus diminta menjadi orang paling pengertian setiap kali orang lain melewati batas.
Dan sejak hari itu, aku tidak pernah lagi meminjamkan tempatku di dalam sebuah hubungan hanya karena seseorang berkata,
“Cuma satu hari.”
Karena sekarang aku tahu.
Batas yang kita biarkan dilanggar sekali, bisa berubah menjadi rumah bagi orang lain jika kita terus diam.

