Suamiku Meminta Semua Biaya Dibagi Dua, Lalu Membawa Keluarganya Tinggal Bersama—Tapi Malam Saat Aku Menempelkan Enam Struk di Kulkas, Wajahnya Langsung Pucat dan Ibunya Langsung Berhenti Bicara

Avatar penulis
Cerita 03
14 menit baca 1,148 tayangan
Indeks

Suamiku Meminta Semua Biaya Dibagi Dua, Lalu Membawa Keluarganya Tinggal Bersama—Tapi Malam Saat Aku Menempelkan Enam Struk di Kulkas, Wajahnya Langsung Pucat dan Ibunya Langsung Berhenti Bicara

Bagian 1 — Ketika Suamiku Menuntut Semua Biaya Dibagi Dua, Aku Baru Sadar Selama Ini Akulah yang Diam-Diam Membayar Hampir Semua Kebutuhan Rumah

“Mulai bulan depan, semua pengeluaran rumah kita bagi dua.”

Kalimat itu keluar dari mulut suamiku, Arga, sambil ia memotong ayam bakar di piringnya seolah sedang membicarakan tagihan parkir.

Aku menatapnya beberapa detik.

Arga bekerja sebagai regional sales manager sebuah perusahaan bahan bangunan besar di Jakarta. Penghasilannya, termasuk bonus tahunan, bisa mencapai Rp1,7 miliar setahun.

Sedangkan aku?

Aku menjalankan studio desain interior kecil bersama sahabatku, Sinta, di daerah Bintaro.

Pendapatanku tidak tetap.

Ada bulan ketika aku membawa pulang Rp45 juta.

Ada juga bulan ketika setelah membayar freelancer, sewa studio, software, dan vendor, uang yang masuk ke rekening pribadiku bahkan tidak sampai Rp8 juta.

Mungkin karena itu Arga merasa sudah waktunya “mengajariku mandiri”.

“Bagi dua bagaimana?” tanyaku.

“Semuanya.”

Ia menyandarkan tubuh ke kursi.

“KPR, listrik, air, internet, groceries, iuran lingkungan, bensin kalau kita pergi bareng. Pokoknya jelas. Lima puluh-lima puluh.”

Aku tidak marah.

Tidak menangis.

Tidak bertanya kenapa setelah empat tahun menikah tiba-tiba ia bicara seperti kami dua orang asing yang menyewa apartemen bersama.

Aku hanya mengangguk.

“Baik.”

Arga malah terlihat bingung.

“Serius?”

“Iya.”

“Kamu nggak keberatan?”

Aku mengambil gelasku.

“Katamu itu adil.”

Wajahnya langsung lebih santai.

“Nah. Aku suka kalau kamu bisa berpikir dewasa.”

Malam itu, setelah Arga tidur, aku membuka folder transaksi di ponsel.

Lalu aku mulai menghitung.

Sofa ruang keluarga: aku.

Kulkas dua pintu: aku.

Mesin cuci: aku.

Renovasi dapur: aku.

Tirai seluruh rumah: aku.

Kasur kamar utama: aku.

Peralatan masak, rak sepatu, vacuum cleaner, purifier, dispenser, lampu gantung ruang makan, bahkan smart TV yang setiap malam ditonton Arga sampai tertidur—sebagian besar dibayar dari rekeningku.

Belum termasuk pengeluaran kecil.

Buah.

Kopi.

Sabun.

Tisu.

Deterjen.

Galon.

Daging.

Bumbu.

Hadiah untuk orang tuanya.

Makanan setiap kali adiknya datang.

Selama ini aku tidak pernah menghitung karena kupikir kami keluarga.

Arga membayar cicilan rumah lebih besar beberapa tahun pertama.

Aku mengisi hampir semua hal yang membuat rumah itu benar-benar bisa ditinggali.

Tetapi sekarang ia sendiri yang menarik garis.

Baiklah.

Aku tinggal mengikuti garis itu.

Empat hari kemudian, ketika pulang dari studio pukul setengah tujuh malam, aku mendapati sebuah Toyota Avanza terparkir di depan rumah.

Ada empat koper di teras.

Begitu pintu kubuka, seorang anak laki-laki berumur sekitar empat tahun berlari melewatiku sambil membawa keripik.

Remahannya jatuh sepanjang lantai.

Di sofa duduk ibu mertua, ayah mertua, dan adik perempuan Arga, Melati.

Melati sedang hamil enam bulan.

Anaknya, Rafi, baru saja menjadikan karpet ruang tamuku sebagai tempat makan.

Aku berhenti di depan pintu.

“Ibu? Bapak?”

Ibu mertuaku tersenyum.

“Nah, Nayla pulang.”

Arga keluar dari dapur membawa teh.

“Baru mau aku kabari.”

Aku menatap empat koper tadi.

“Mengabari apa?”

Melati tersenyum kecil.

“Aku lagi ada masalah sama Mas Fikri, Mbak.”

Ibu mertuaku langsung menyambung.

“Bapak juga minggu depan kontrol lutut di rumah sakit Jakarta. Daripada bolak-balik dari Cirebon, ya sekalian tinggal di sini.”

Aku melihat Arga.

“Berapa lama?”

Ia mengangkat bahu.

“Belum tahu. Mungkin beberapa minggu.”

“Dan Melati?”

“Sampai masalah rumah tangganya selesai.”

Aku diam.

Arga mendekat, merendahkan suara.

“Rumah kita tiga kamar. Jangan bikin mereka nggak nyaman.”

Aku hampir tertawa.

Rumah kita.

Ketika biaya dibicarakan, semuanya setengah-setengah.

Ketika keluarganya datang, tiba-tiba rumah itu sepenuhnya milik bersama.

Aku melepas sepatu.

“Baik.”

Arga terlihat lega.

Malam pertama, aku memasak sop iga, tumis buncis, telur balado, tempe goreng, dan sambal terasi.

Tujuh orang makan.

Rafi menumpahkan es teh.

Melati hanya menggeser kursinya.

Aku yang mengambil kain.

Setelah makan, ibu mertua masuk kamar karena katanya pinggangnya pegal.

Ayah mertua menonton pertandingan bola.

Melati berbaring sambil bermain ponsel.

Arga membuka laptop karena ada “email penting”.

Aku sendirian mencuci sebelas piring, tujuh gelas, dua panci, satu wajan, dan membersihkan nasi yang berserakan di bawah meja.

Hari kedua sama.

Hari ketiga lebih buruk.

Melati mulai menitip daftar belanja.

“Susu Rafi habis, Mbak.”

“Yogurt juga.”

“Oh iya, kalau lewat supermarket, belikan aku almond milk ya. Sekarang aku agak mual kalau minum susu biasa.”

Ibu mertua ikut menambahkan.

“Bapakmu sukanya apel Fuji. Jangan yang terlalu kecil.”

Arga tidak mengatakan apa-apa.

Aku membeli semuanya.

Bukan karena aku takut.

Aku hanya ingin melihat sejauh apa mereka akan berjalan jika tidak dihentikan.

Pada hari kelima, aku membuka aplikasi bank.

Dalam lima hari, tambahan belanja rumah mencapai Rp2.783.400.

Itu belum termasuk listrik.

AC kamar tamu menyala hampir dua puluh jam sehari.

Mesin cuci berputar dua sampai tiga kali.

Pemanas air dipakai terus.

Galon yang biasanya habis empat hari kini habis satu setengah hari.

Malam itu aku membuka spreadsheet.

Aku membuat kolom baru.

PENGHUNI TAMBAHAN.

Lalu aku memasukkan semuanya satu per satu.

Hari keenam, aku tidak pergi ke supermarket.

Aku juga tidak memasak.

Pukul enam sore, ibu mertua menelepon.

“Nayla, kamu pulang jam berapa?”

“Mungkin malam.”

“Makan malam bagaimana?”

“Di freezer masih ada nugget.”

“Bapakmu nggak bisa makan nugget terus.”

“Kalau begitu pesan lewat aplikasi, Bu.”

Ia terdiam.

“Arga biasanya pulang capek.”

“Ya, Bu.”

Aku menutup telepon.

Pukul delapan lewat dua puluh, aku sampai di rumah.

Di meja makan hanya ada mi instan, telur ceplok, dan sambal botolan.

Wajah Arga sudah gelap.

Begitu aku meletakkan tas, ia langsung bertanya,

“Kamu sengaja nggak belanja?”

Aku membuka jam tanganku.

“Iya.”

“Apa maksudmu?”

“Aku sedang menjalankan sistem yang kamu minta.”

Ia mengernyit.

“Jangan mulai lagi.”

Aku mengeluarkan enam struk belanja dari tas.

Satu per satu kutempelkan ke pintu kulkas menggunakan magnet.

Rp486.700.

Rp372.900.

Rp615.300.

Rp298.600.

Rp531.400.

Rp478.500.

Semua orang mulai melihat.

Aku menunjuk angka terakhir.

“Total tambahan kebutuhan enam hari, Rp2.783.400.”

Arga berdiri.

“Kamu serius menghitung makanan untuk orang tuaku?”

Aku tersenyum tipis.

“Bukan aku yang memulai hitung-hitungan.”

Ibu mertua keluar dari kamar.

“Nayla, keluarga kok pakai hitung-hitungan?”

Aku menoleh kepadanya.

“Saya juga dulu berpikir begitu, Bu.”

Lalu kutatap Arga.

“Sampai anak Ibu sendiri mengatakan setiap pengeluaran harus dibagi dua.”

Ruangan itu sunyi.

Aku membuka ponsel.

“Aku sudah bayar bagian keluargaku. Sekarang tinggal bagianmu.”

Arga tertawa pendek dengan wajah merah.

“Jadi karena aku bilang lima puluh-lima puluh, kamu mau mempermalukan keluargaku?”

“Belum.”

Aku menarik sebuah map bening dari tas.

“Yang ini baru biaya makan.”

Aku meletakkan map itu di atas meja.

“Belum biaya listrik, air, laundry, kebutuhan pribadi, transportasi kontrol Bapak, dan satu hal yang sejak mereka datang belum pernah kamu hitung sama sekali.”

“Apa?”

Aku menatap lurus kepadanya.

“Tenagaku.”

Untuk pertama kalinya malam itu, senyum Arga benar-benar hilang.

Jika seseorang meminta hidup serba 50:50, ia juga harus siap ketika semua hal yang selama ini dianggap gratis mulai dihitung.

#CeritaRumahTangga #DramaKeluarga #KisahPernikahan #PerempuanMandiri #CeritaIndonesia


Bagian 2 — Saat Keluarganya Mulai Menganggap Dapurku Sebagai Layanan Gratis, Aku Mengeluarkan Catatan Biaya yang Membuat Suamiku Kehilangan Suara di Depan Semua Orang

Arga mengambil map bening itu.

“Apa lagi ini?”

“Buka.”

Ia menarik beberapa lembar kertas.

Bukan tagihan.

Bukan surat hukum.

Hanya tabel sederhana yang kucetak dari spreadsheet.

Memasak: rata-rata 90 menit sehari.

Membersihkan dapur: 40 menit.

Mengepel dan menyapu tambahan: 35 menit.

Mencuci serta melipat pakaian: 60 menit.

Belanja kebutuhan rumah: 45 menit.

Mengantar ayah mertua kontrol ke klinik dua hari sebelumnya: tiga jam dua puluh menit.

Aku memang tidak memasukkan harga untuk setiap jam.

Aku sengaja membiarkan kolom nominal kosong.

Arga membaca sampai bawah.

“Apa-apaan ini?”

“Catatan.”

“Kamu sekarang mau menagih keluarga karena kamu masak?”

“Tidak.”

Aku menarik kursi.

“Aku hanya ingin tahu, dalam konsep lima puluh-lima puluhmu, pekerjaan rumah masuk bagian siapa?”

Arga membisu.

Aku melanjutkan.

“Kalau uang dibagi dua tetapi seluruh pekerjaan rumah tetap aku lakukan, itu bukan lima puluh-lima puluh.”

Melati tiba-tiba menyela.

“Mbak, aku kan hamil.”

Aku menatapnya.

“Aku tidak pernah menyuruh kamu mengepel.”

“Terus?”

“Tapi gelasmu bisa kamu bawa ke dapur. Piring anakmu bisa kamu angkat. Bungkus makanan bisa kamu masukkan ke tempat sampah.”

Wajah Melati berubah.

Ibu mertua langsung berkata,

“Jangan terlalu keras. Dia sedang ada masalah dengan suaminya.”

Aku mengangguk.

“Justru karena itu saya tidak ikut campur rumah tangga Melati. Saya juga berharap semua orang tidak ikut mengatur bagaimana saya dan Arga membagi rumah tangga kami.”

Arga mengembuskan napas keras.

“Nayla, cukup.”

“Belum.”

Aku menggeser ponsel ke arahnya.

“Karena ada satu pembagian yang perlu diperbaiki.”

Aku menunjukkan tagihan KPR.

Rumah kami dibeli empat tahun sebelumnya.

Saat uang muka, Arga membayar Rp180 juta.

Aku membayar Rp310 juta dari tabungan dan uang proyekku.

Biaya renovasi awal Rp146 juta juga hampir seluruhnya berasal dari rekeningku.

Selama dua tahun terakhir, kami memang membayar cicilan dengan nominal yang hampir sama.

Tetapi Arga sering menceritakan kepada keluarganya bahwa “rumah Jakarta itu hasil kerja kerasnya”.

Sekarang aku menampilkan seluruh transfer awal.

Satu demi satu.

Tanggal.

Jumlah.

Nomor rekening.

Ibu mertua berhenti bicara.

Arga memandangku seperti baru pertama kali melihat angka-angka itu.

“Kenapa kamu simpan semua?”

“Karena bank menyimpan riwayat transaksi.”

“Jadi kamu merencanakan ini?”

“Tidak.”

Aku tersenyum.

“Aku baru mencarinya setelah kamu mengajariku pentingnya pembukuan.”

Melati menunduk.

Ayah mertua yang sejak tadi diam akhirnya berdehem.

“Ga, memang uang muka rumah Nayla lebih besar?”

Arga tidak menjawab.

Aku menjawabkannya.

“Sekitar Rp130 juta lebih besar dari bagian Arga, Pak. Belum renovasi dan perabot.”

Wajah ayah mertua berubah canggung.

Arga berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

“Semua orang keluar dari meja. Aku mau bicara sama istriku.”

Aku justru tetap duduk.

“Tidak perlu.”

“Ini urusan kita.”

“Tadi ketika kamu menegurku soal tidak memasak, kamu melakukannya di depan semua orang.”

Ia mengepalkan tangan.

“Aku cuma minta kamu menghargai orang tuaku.”

“Aku menghargai mereka.”

Aku menunjuk dapur.

“Yang tidak akan kulakukan lagi adalah menjadi pembantu gratis hanya karena aku perempuan di rumah ini.”

Malam itu Arga mentransfer Rp1.500.000.

Keterangan transfernya hanya satu kata:

Belanja.

Aku mengembalikannya.

Lalu kukirim pesan:

Bagian tambahan enam hari: Rp2.783.400. Keluargamu empat orang dari total tujuh penghuni. Aku hanya minta kamu menanggung kebutuhan mereka, bukan setengahnya. Hitung lagi.

Sepuluh menit kemudian masuk transfer Rp2.000.000.

Aku tidak mengembalikannya.

Besok paginya aku berhenti mengurus semuanya.

Aku membuat sarapan untuk diriku sendiri.

Aku mencuci pakaianku sendiri.

Aku membersihkan kamar tidur dan area kerjaku.

Ketika Rafi menumpahkan susu di ruang keluarga, aku memberikan lap kepada Melati.

Ketika ibu mertua bertanya lauk makan siang, aku menunjukkan aplikasi pesan makanan.

Ketika Arga kehabisan kemeja bersih, aku menjawab,

“Mesin cucinya masih di tempat yang sama.”

Dalam tiga hari rumah berubah total.

Arga terlambat ke kantor karena harus mengantar ayahnya kontrol.

Melati marah karena stok susu anaknya habis.

Ibu mertua mulai memasak, tetapi kemudian mengeluh pinggang sakit.

Pada malam keempat, Arga masuk kamar dengan wajah lelah.

“Kita perlu bicara.”

Aku sedang memeriksa gambar kerja.

“Aku dengar.”

“Bisa nggak kamu kembali seperti dulu?”

Aku mengangkat wajah.

“Seperti dulu bagaimana?”

“Kamu tahu maksudku.”

“Tidak.”

Ia mengusap rambutnya.

“Aku kerja seharian. Pulang masih harus memikirkan makan, belanja, orang tua…”

Aku menutup laptop.

“Nah.”

“Apa?”

“Sekarang kamu tahu pekerjaan yang selama ini tidak kamu lihat.”

Arga menatapku lama.

Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuat seluruh sisa rasa hormatku kepadanya runtuh.

“Pendapatanmu juga nggak seberapa. Seharusnya kamu punya lebih banyak waktu mengurus rumah.”

Aku diam.

Ia mungkin mengira aku terluka.

Padahal yang kurasakan justru sangat tenang.

Sebab siang itu, tepat pukul 14.17, email yang kutunggu selama hampir empat bulan akhirnya masuk.

Studio kami memenangkan kontrak desain untuk dua belas cabang baru sebuah jaringan restoran nasional.

Nilai proyek: Rp2,48 miliar.

Setelah biaya vendor dan tim, bagian keuntungan yang menjadi milikku diperkirakan lebih dari Rp620 juta.

Aku belum mengatakan apa pun kepada Arga.

Tetapi setelah mendengar kalimatnya barusan, aku tahu satu hal.

Besok aku tidak hanya akan menunjukkan kontrak itu.

Aku juga akan mengambil keputusan yang selama empat tahun selalu kutunda.


Bagian 3 — Dia Mengira Aku Akan Menyerah karena Pendapatanku Tidak Tetap, Sampai Satu Kontrak Baru Membongkar Siapa yang Sebenarnya Menopang Rumah Tangga Kami

Keesokan harinya aku menemui notaris.

Bukan untuk langsung bercerai.

Aku tidak ingin mengambil keputusan besar hanya karena satu pertengkaran.

Aku datang membawa dokumen rumah, bukti pembayaran uang muka, catatan renovasi, serta transaksi selama empat tahun pernikahan.

Aku ingin tahu posisiku dengan jelas.

Sore harinya, aku pulang membawa satu map baru.

Arga sedang duduk bersama ibunya.

“Nayla.”

Ia bangkit.

“Kita makan di luar malam ini. Biar suasananya enak.”

Aku meletakkan map di meja.

“Aku tidak lapar.”

Ibu mertua tersenyum kaku.

“Kalau masalah uang, jangan dibesar-besarkan terus.”

“Saya setuju, Bu.”

Aku duduk.

“Makanya malam ini saya ingin semuanya selesai.”

Arga melihat map itu.

“Apa lagi?”

“Pertama.”

Aku meletakkan salinan kesepakatan pembagian pengeluaran.

“Kalau kita masih mau menjalankan lima puluh-lima puluh, pekerjaan domestik juga dibagi.”

Memasak bergantian.

Belanja bergantian.

Membersihkan rumah bergantian.

Kebutuhan keluarga yang menginap ditanggung pihak yang mengundang.

Kalau salah satu tidak bisa melakukan bagiannya, kami menggunakan jasa berbayar dan biayanya masuk ke bagian orang tersebut.

Arga tertawa sinis.

“Kamu bikin rumah tangga kayak perusahaan.”

Aku menatapnya.

“Karena kamu yang pertama kali menjadikan pernikahan seperti laporan keuangan.”

Ia langsung diam.

“Kedua.”

Aku mengeluarkan salinan dokumen rumah.

“Mulai sekarang jangan pernah mengatakan rumah ini hasil kerja kerasmu sendiri.”

Wajahnya menegang.

“Ketiga?”

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka email.

Lalu kuletakkan di depannya.

Arga membaca.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian memperbesar layar.

“Rp2,48 miliar?”

“Nilai proyek.”

“Studio kamu?”

“Iya.”

“Keuntunganmu berapa?”

Aku tersenyum.

“Kenapa?”

Ia tidak menjawab.

“Mau dibagi dua juga?”

Ayah mertua yang duduk di ujung sofa menahan senyum.

Ibu mertua terlihat salah tingkah.

Aku lalu menjelaskan sesuatu yang ternyata tidak pernah benar-benar diketahui suamiku.

Selama dua tahun terakhir studionya bukan sedang “main desain kecil-kecilan”.

Kami mengerjakan butik, klinik, kantor startup, dua restoran, dan sebuah vila di Lombok.

Aku sengaja mengambil gaji kecil karena sebagian keuntungan diputar kembali untuk membangun tim.

Arga hanya melihat uang yang kubawa pulang.

Ia tidak pernah bertanya berapa nilai perusahaan yang sedang kubangun.

Namun masalah sebenarnya bukan karena ia meremehkan penghasilanku.

Masalahnya adalah ia menganggap semakin sedikit uang yang kuhasilkan, semakin wajib aku melayaninya.

“Aku tidak butuh suami yang kagum karena sekarang aku dapat proyek besar,” kataku.

“Aku butuh pasangan yang tetap menghormatiku ketika pendapatanku sedang kecil.”

Arga menunduk.

Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban.

Malam itu ayah mertua justru menjadi orang pertama yang bicara.

“Arga, minta maaf.”

Arga menatap ayahnya.

“Pak…”

“Bapak tinggal di sini hampir dua minggu. Bapak lihat sendiri siapa yang paling banyak bekerja.”

Ibu mertua hendak menyela, tetapi ayah mertua mengangkat tangan.

“Kita juga salah. Datang ke rumah anak lalu semuanya dibebankan ke menantu.”

Melati menangis malam itu.

Bukan karena aku mengusirnya.

Aku tidak pernah mengusir siapa pun.

Tetapi aku menghubungi suaminya, Fikri, setelah mendapat izin darinya dan meminta mereka menyelesaikan masalah tanpa menjadikan rumahku tempat pelarian tanpa batas.

Dua hari kemudian, Fikri datang.

Mereka sepakat mengikuti konseling pernikahan.

Melati dan Rafi pulang bersamanya.

Ayah dan ibu mertua kembali ke Cirebon setelah kontrol berikutnya.

Sebelum masuk mobil, ibu mertua menghampiriku.

Ia memberikan sebuah amplop.

Di dalamnya ada Rp1.500.000.

“Untuk makan kami kemarin.”

Aku mencoba mengembalikan.

Ia menahan tanganku.

“Ambil. Biar Ibu juga belajar bahwa terima kasih tidak cukup hanya diucapkan.”

Aku menerimanya.

Masalah dengan Arga lebih sulit.

Ia meminta maaf.

Bukan sekali.

Tetapi aku tidak langsung memaafkan semuanya.

Selama tiga bulan berikutnya, kami menjalani konseling pasangan.

Kami membuka seluruh keuangan masing-masing.

Akhirnya aku baru tahu Arga selama ini menyimpan hampir seluruh bonus tahunannya dalam investasi pribadi karena ia merasa suatu hari harus menjadi “penyelamat finansial keluarga”.

Ironisnya, keinginan menjadi penyelamat itu membuatnya tidak pernah melihat siapa yang sebenarnya sedang berkorban di sampingnya.

Kami mengubah sistem.

Bukan lagi lima puluh-lima puluh.

Kami membuat rekening rumah tangga berdasarkan persentase pendapatan bersih.

Pekerjaan rumah dibagi berdasarkan waktu dan kemampuan.

Untuk pekerjaan yang sama-sama tidak sempat kami lakukan, kami membayar jasa bantuan rumah tangga.

Enam bulan kemudian, kontrak dua belas restoran selesai.

Studio kami merekrut lima pegawai baru.

Aku tidak menjadi miliarder mendadak.

Arga juga tidak kehilangan pekerjaannya.

Tidak ada keajaiban.

Tidak ada kemenangan dramatis seperti di film.

Yang berubah justru sesuatu yang jauh lebih penting.

Setiap Jumat malam, Arga membuka spreadsheet rumah tangga bersamaku.

Setiap Sabtu pagi, ia pergi membeli groceries.

Ketika orang tuanya berkunjung lagi, ia sendiri yang mengganti seprai kamar tamu dan menyiapkan kebutuhan mereka.

Suatu sore aku melihat enam struk lama yang dulu kutempelkan di kulkas.

Aku masih menyimpannya dalam laci.

Arga melihatnya.

“Kamu belum buang?”

“Belum.”

Ia tertawa kecil.

“Buat apa?”

Aku menutup laci.

“Pengingat.”

“Untuk aku?”

“Untuk kita.”

Karena malam ketika aku menempelkan enam struk itu, yang kuhitung sebenarnya bukan harga daging, susu, listrik, atau deterjen.

Aku sedang menghitung berapa lama seseorang bisa terus memberi sebelum pemberiannya dianggap kewajiban.

Dan Arga akhirnya memahami satu hal yang seharusnya sederhana sejak awal:

Keadilan dalam pernikahan bukan berarti membelah semua angka tepat di tengah.

Keadilan berarti tidak membiarkan satu orang membayar dengan uang, waktu, tenaga, dan harga dirinya sekaligus—sementara orang lain hanya membawa kalkulator.