Bagian 3 — Ketika Bukti Terakhir Dibuka di Depan Polisi dan Pengacara, Keluargaku Kehilangan Segalanya, Sementara Aku Akhirnya Memilih Hidupku Sendiri Tanpa Rasa Takut Lagi
“Jangan biarkan dia pergi!”
Dito langsung mengejar Liana.
Ayah meneriakkan namanya, tetapi pintu lift sudah tertutup.
Aku tidak bergerak.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada mengejar perempuan itu.
Aku kembali menatap Mbah.
“Apa yang sebenarnya terjadi dua belas tahun lalu?”
Mbah menatap pintu kamar, lalu kepadaku.
“Nanti.”
“Tapi—”
“Bukan di sini.”
Beliau mengusap punggung tanganku.
“Dan bukan cuma kamu yang harus mendengar.”
Matanya berpindah kepada Arga.
“Dia juga.”
Aku tidak mengerti mengapa.
Namun kondisi Mbah tidak memungkinkan kami memaksanya bicara.
Dokter meminta kami keluar beberapa menit kemudian.
Di koridor, ayah sudah tidak ada.
Begitu juga Liana.
Yang tertinggal hanya Nabila.
Adik tiriku berdiri dekat mesin minuman dengan wajah pucat.
Ia menatapku berkali-kali, seperti ingin bicara tetapi tidak berani.
Aku berjalan mendekatinya.
“Nabila.”
Dia langsung mundur.
“Kak, aku…”
“Kamu yang memakai nomor lamaku?”
Air matanya jatuh.
“Aku disuruh Mama.”
Jawaban itu tidak membuatku lega.
“Kamu tahu apa akibatnya?”
“Aku tidak tahu akan separah ini.”
“Enam bulan aku hidup dengan seseorang yang mengira aku menjual diri demi uang.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu tidak tahu.”
Suaraku meninggi.
“Kamu tidak tahu rasanya tinggal serumah dengan orang yang bahkan tidak ingin duduk satu meja denganmu karena dia percaya kamu penipu.”
Nabila menangis.
Arga berdiri beberapa meter dari kami.
Ia tidak membela dirinya.
Tidak menyela.
Nabila menunduk.
“Awalnya Mama bilang cuma supaya keluarga Mahendra mau menikahkan Mas Arga dengan Kakak.”
Aku tertawa getir.
“Kenapa harus aku?”
Pertanyaan itu ternyata membuatnya membeku.
Aku langsung sadar.
“Kamu tahu sesuatu.”
“Nabila.”
Dia menggeleng.
“Katakan.”
“Aku benar-benar tidak tahu semuanya.”
“Apa yang kamu tahu?”
Dia menutup wajah dengan kedua tangan.
“Mama pernah bilang kalau Kakak tetap berada di rumah setelah umur delapan belas, akan sulit mengambil sesuatu yang seharusnya jadi milik Kakak.”
Aku berhenti bernapas.
“Apa?”
“Aku tidak tahu apa. Aku bersumpah.”
Dia membuka tas, mengambil sebuah flashdisk kecil.
“Aku mengambil ini dari komputer Mama tiga bulan lalu.”
“Kenapa?”
“Karena Mama mulai menyuruhku tanda tangan dokumen perusahaan. Aku takut nanti aku juga dijadikan seperti Kakak.”
Ia menyerahkan flashdisk itu kepadaku.
“Ada scan surat, rekaman, dan email lama.”
Aku belum sempat mengambilnya ketika Arga berkata:
“Jangan dibuka di laptop biasa.”
Aku menoleh.
“Tim hukumku bisa membuat salinan forensik. Kalau isinya penting, kita jaga supaya tidak bisa dituduh telah diubah.”
Aku ingin menolak bantuannya.
Namun kali ini ia benar.
Aku mengambil flashdisk itu.
“Bukan berarti aku memaafkanmu.”
Arga mengangguk.
“Aku tahu.”
“Dan jangan pikir karena tadi kamu membelaku, semuanya selesai.”
“Aku juga tahu.”
Jawabannya begitu tenang hingga kemarahanku sedikit kehilangan sasaran.
Arga menarik napas.
“Alya, aku percaya tangkapan layar tanpa pernah bertanya kepadamu.”
Aku diam.
“Aku menghukummu untuk sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan.”
Ia menatapku langsung.
“Aku tidak punya pembelaan untuk itu.”
Aku menahan air mata.
Selama enam bulan, aku berkali-kali membayangkan hari ketika ia mengetahui kebenaran.
Dalam bayanganku, aku akan merasa puas.
Ternyata tidak.
Yang tersisa hanya lelah.
“Bayar kesalahanmu dengan tindakan,” kataku.
“Bukan kalimat.”
Arga mengangguk.
“Baik.”
Pagi berikutnya, Mbah dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
Kondisinya membaik.
Aku, Arga, Dito, Nabila, dan seorang pengacara bernama Ratna Wirawan berangkat ke sebuah bank di pusat Yogyakarta.
Kotak penyimpanan yang dimaksud Mbah terdaftar atas namanya.
Karena beliau belum dapat datang, pengacara menggunakan surat kuasa khusus yang sebelumnya sudah dibuat.
Di dalam kotak itu tidak ada perhiasan.
Tidak ada uang tunai.
Hanya empat amplop plastik tebal.
Amplop pertama berisi sertifikat tanah.
Amplop kedua berisi dokumen waris.
Amplop ketiga berisi puluhan bukti pembayaran sekolahku sejak SD.
Aku tidak memahami mengapa Mbah menyimpannya.
Sampai Bu Ratna membuka amplop terakhir.
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan ibuku.
Namanya Dewi Larasati.
Aku mengenali tulisannya.
Huruf-hurufnya kecil dan sedikit miring ke kanan.
Surat itu dibuat empat bulan sebelum kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Untuk Alya, jika suatu hari kamu membaca ini ketika Ibu sudah tidak bisa menjelaskannya sendiri…
Aku berhenti membaca.
Tanganku gemetar.
Arga duduk diam di seberang.
Aku melanjutkan.
Ibu menjelaskan bahwa tanah di Bantul dibeli menggunakan uang warisan dari kakekku.
Tanah itu sengaja dihibahkan kepadaku.
Bukan hanya itu.
Ibuku juga memiliki 35 persen saham perusahaan tekstil yang kemudian dikelola ayah.
Jika Ibu meninggal sebelum aku dewasa, hak ekonomi dari saham tersebut seharusnya disimpan sampai aku berusia dua puluh satu tahun.
Aku mengangkat kepala.
“Perusahaan Ayah?”
Bu Ratna mengangguk pelan.
“Secara dokumen awal, benar.”
Aku membaca halaman berikutnya.
Kemudian menemukan sesuatu yang membuat tanganku membeku.
Ada salinan perjanjian pemegang saham.
Nama ibuku tercantum jelas.
Dewi Larasati Pranoto — 35%.
Namun ketika aku pernah melihat profil perusahaan beberapa tahun lalu, seluruh saham hanya mencantumkan nama ayah dan Liana.
“Bagaimana saham Ibu bisa hilang?”
Bu Ratna membuka dokumen lain.
“Karena ada akta pengalihan.”
Dia menaruhnya di meja.
Pengalihan itu terjadi tujuh bulan setelah ibuku meninggal.
Tanda tangan ahli waris tercantum di sana.
Atas namaku.
Aku saat itu berusia sebelas tahun.
Aku menatap Bu Ratna.
“Anak sebelas tahun bisa mengalihkan saham seperti ini?”
“Tidak dengan cara seperti yang tertulis di dokumen ini.”
Jantungku berdegup semakin kencang.
Ada pula surat persetujuan wali.
Ditandatangani ayah.
Dan sebuah surat yang menyatakan Mbah Rukmini telah menerima kompensasi untuk melepaskan segala tuntutan waris atas namaku.
Mbah tidak pernah menerima uang itu.
Karena di bawah dokumen asli terdapat surat keberatan yang pernah beliau kirim kepada kantor notaris dua belas tahun lalu.
Aku akhirnya mengerti mengapa Mbah menyimpan semuanya.
Beliau sudah tahu.
“Kenapa Mbah tidak melaporkannya waktu itu?”
Bu Ratna menemukan jawabannya dalam surat lain.
Ada salinan surat ancaman.
Tidak ditandatangani.
Namun isinya jelas.
Jika Rukmini terus mempermasalahkan kepemilikan saham, Surya akan membawa Alya kembali ke Surabaya dan memutus seluruh hubungan antara nenek dan cucunya.
Aku tidak sanggup membaca sampai selesai.
Dua belas tahun lalu, aku mengira ayah meninggalkanku karena tidak menyayangiku.
Ternyata Mbah juga hidup dalam ketakutan kehilangan aku.
Dan Liana ingin aku jauh dari rumah karena selama aku berada di sana, cepat atau lambat aku akan mengetahui bahwa sebagian perusahaan yang mereka nikmati berasal dari ibuku.
Nabila menangis di sudut ruangan.
“Aku tidak tahu, Kak.”
Aku tidak menjawab.
Arga bertanya kepada pengacara:
“Apakah dokumen ini cukup?”
“Belum untuk menyimpulkan semuanya.”
Bu Ratna menatap kami.
“Tapi cukup untuk membuka penyelidikan serius.”
Lalu ia menoleh kepada Nabila.
“Flashdisk.”
Tiga hari berikutnya mengubah hidup kami.
Tim digital forensik menemukan ratusan email.
Beberapa tidak penting.
Sebagian menghancurkan kebohongan yang sudah dibangun belasan tahun.
Ada email antara Liana dan seorang staf administrasi lama yang membahas cara membuat salinan tanda tangan ibuku.
Ada file hasil scan tanda tanganku dari formulir sekolah.
Ada template surat jaminan utang.
Ada pula percakapan mengenai ponsel lamaku.
Tetapi bukti paling mengerikan adalah sebuah rekaman suara dari dua bulan sebelum pernikahanku.
Suara ayah terdengar jelas.
“Alya pasti menolak.”
Liana menjawab:
“Tekan lewat neneknya.”
“Aku tidak mau orang tua itu benar-benar kenapa-kenapa.”
“Tidak perlu diapakan. Cukup bilang biaya operasi tidak akan dibayar kalau Alya tidak mau menikah.”
Kemudian ayah berkata sesuatu yang membuatku memejamkan mata.
“Kalau Mahendra setuju restrukturisasi, lakukan saja.”
Ia tahu.
Ayah tahu aku dipaksa.
Ia tidak pernah menjadi korban manipulasi Liana.
Ia ikut memilihnya.
Arga mendengar rekaman itu tanpa bergerak.
Sesudahnya ia berdiri menggunakan walker yang biasa dipakai saat terapi.
“Aku perlu menelepon seseorang.”
Aku menatapnya.
“Siapa?”
“Direktur keuangan perusahaan.”
“Untuk apa?”
“Memastikan tidak ada lagi satu rupiah pun fasilitas khusus diberikan kepada perusahaan ayahmu atas dasar hubungan keluarga.”
Aku langsung berkata:
“Jangan hancurkan perusahaan hanya karena aku.”
Arga menatapku.
“Aku tidak akan.”
Aku terkejut.
Ia melanjutkan.
“Ada karyawan yang tidak bersalah.”
“Saya hanya akan menghentikan perlakuan khusus. Utang mereka akan diproses profesional seperti debitur lain.”
Untuk pertama kalinya, aku merasa ia benar-benar mendengarkan apa yang kuinginkan.
Bukan bertindak atas nama harga diri.
Bukan atas nama balas dendam.
Polisi menerima laporan kami.
Pemeriksaan berjalan berminggu-minggu.
Aku harus datang berkali-kali.
Menjawab pertanyaan yang sama.
Melihat dokumen lama.
Mengingat kembali hal-hal yang selama bertahun-tahun sengaja kulupakan.
Ayah meneleponku dua puluh tujuh kali pada minggu pertama.
Aku tidak mengangkat.
Pada panggilan kedua puluh delapan, aku menjawab.
“Alya.”
Suaranya terdengar jauh lebih tua.
“Cabut laporan.”
Aku diam.
“Ayah akan mengembalikan semuanya.”
“Semua?”
“Iya.”
Aku tertawa kecil.
“Ayah bisa mengembalikan umurku sebelas tahun?”
Dia diam.
“Bisa mengembalikan malam ketika aku menunggu di depan pintu sampai jam dua belas karena Ayah berjanji menjemputku untuk Lebaran?”
“Alya…”
“Bisa mengembalikan saat Mbah menjual kalung karena uang sekolahku kurang?”
“Ayah salah.”
Aku memejamkan mata.
Itu pertama kalinya ia mengakuinya.
Namun anehnya, aku tidak merasa lega.
“Kenapa sekarang baru bilang?”
Ia tidak menjawab.
Aku tahu jawabannya.
Karena sekarang ada polisi.
Ada pengacara.
Ada bukti.
Ada konsekuensi.
“Ayah tidak menyesal ketika aku menangis.”
Aku berkata pelan.
“Ayah menyesal karena akhirnya harus membayar harga dari keputusan Ayah.”
Lalu aku memutus telepon.
Liana mencoba kabur ke Singapura.
Ia sudah membeli tiket dan membawa dua koper ketika dicegah di bandara karena status pemeriksaannya.
Kabar itu menyebar cepat.
Bukan karena aku membocorkannya.
Beberapa vendor perusahaan ayah sudah lebih dahulu mengetahui kasus pemalsuan dokumen.
Bank membekukan pengajuan kredit baru.
Mitra meminta audit.
Dari audit itulah ditemukan bahwa masalah perusahaan jauh lebih besar daripada utang kepada Mahendra Logistik.
Ada pembayaran fiktif.
Ada transaksi dengan perusahaan milik kerabat Liana.
Ada uang perusahaan yang digunakan membeli apartemen atas nama pihak lain.
Ayah selama bertahun-tahun tahu sebagian transaksi itu.
Ia membiarkannya.
Beberapa bahkan ia setujui.
Perusahaan tidak langsung bangkrut.
Arga menepati ucapannya.
Mahendra Logistik tidak melakukan tindakan balas dendam.
Mereka mengikuti restrukturisasi resmi bersama kreditur lain.
Pada akhirnya, ayah harus menjual rumah besar di Surabaya, dua mobil mewah, dan sebagian aset pribadinya untuk menutup kewajiban kepada karyawan serta pemasok.
Saham perusahaan direstrukturisasi.
Hak waris ibuku yang dapat dibuktikan dihitung kembali melalui proses hukum.
Aku tidak mengambil perusahaan.
Aku tidak menginginkannya.
Aku meminta bagian yang memang secara sah menjadi hakku diselesaikan, lalu melepaskan keterlibatanku dalam pengelolaan.
Nabila memilih bekerja sama dengan penyidik.
Ia menyerahkan semua percakapan yang masih tersimpan.
Itu meringankan posisinya, tetapi tidak menghapus tanggung jawabnya.
Ia tetap harus mengikuti proses hukum terkait penggunaan identitasku dan memberi ganti rugi sesuai putusan perdata.
Enam bulan kemudian, pengadilan menjatuhkan hukuman kepada Liana atas pemalsuan dokumen dan rangkaian penipuan yang terbukti.
Ayah juga dinyatakan bersalah atas keterlibatannya dalam dokumen tertentu dan penyalahgunaan kewenangan perusahaan.
Tidak ada adegan dramatis ketika palu hakim diketuk.
Tidak ada orang berteriak.
Tidak ada yang pingsan.
Ayah hanya duduk dengan bahu turun.
Liana menangis.
Aku sendiri merasa kosong.
Mungkin karena balas dendam yang sesungguhnya tidak pernah terasa seperti pesta.
Kadang ia hanya terasa seperti pintu yang akhirnya ditutup.
Hubunganku dengan Arga jauh lebih rumit.
Setelah Mbah pulang dari rumah sakit, aku tidak kembali ke kamar di rumah keluarga Mahendra.
Aku menyewa apartemen kecil dekat tempat kerjaku.
Arga tidak melarang.
Ia juga tidak memintaku kembali.
Pada malam pertama aku pindah, ia hanya mengirim satu pesan.
Aku akan memberimu ruang. Kalau ada sesuatu tentang Mbah yang perlu dibantu, hubungi aku. Tidak ada syarat.
Aku tidak membalas.
Dua hari kemudian aku mengetahui sesuatu dari bagian administrasi rumah sakit.
Orang yang diam-diam membayar sisa biaya operasi Mbah ternyata Arga.
Pembayaran dilakukan empat bulan sebelum kasus di koridor.
Aku langsung mendatanginya.
Ia sedang terapi berjalan.
Keringat membasahi kaus abu-abunya.
“Kamu yang bayar operasi Mbah?”
Arga berhenti.
“Iya.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Karena aku pikir kalau kubilang, kamu akan menganggapnya bagian dari kesepakatan pernikahan.”
“Kenapa kamu peduli?”
Ia terdiam cukup lama.
“Karena setiap malam kamu pulang dari rumah sakit dengan mata merah tetapi tetap bertanya apakah aku sudah minum obat.”
Aku tidak menyangka jawaban itu.
Ia melanjutkan.
“Aku membencimu karena kebohongan yang kupercaya.”
“Tapi bahkan ketika aku bersikap buruk, kamu tidak pernah sekali pun memperlakukan aku seperti orang cacat.”
“Kamu tetap memarahiku kalau aku melewatkan fisioterapi.”
Hampir tanpa sadar aku tersenyum.
“Hanya orang bodoh yang sengaja melewatkan terapi mahal.”
Dia ikut tersenyum.
Itu mungkin percakapan normal pertama kami sejak menikah.
Namun aku tetap berkata:
“Aku belum bisa kembali.”
“Aku tahu.”
“Aku juga belum bisa mencintaimu hanya karena sekarang kamu baik.”
“Aku tahu.”
“Kamu selalu bilang tahu.”
“Karena untuk pertama kalinya aku sedang belajar mendengarkan.”
Kalimat itu menetap di kepalaku lama sekali.
Kami tidak kembali menjadi pasangan dalam semalam.
Kami mulai dari hal yang jauh lebih sederhana.
Makan siang seminggu sekali.
Menemani Mbah kontrol.
Berbicara tanpa sekretaris.
Tanpa keluarga.
Tanpa perjanjian bisnis.
Arga juga mulai terapi psikologis.
Ia mengatakan kepadaku bahwa setelah kecelakaan, ia menjadi orang yang selalu menganggap motif buruk sebagai kebenaran paling aman.
Percaya kepada orang lain terasa lebih menakutkan daripada membenci mereka terlebih dahulu.
Aku tidak menjadikan traumanya alasan untuk memaafkan semua tindakannya.
Ia pun tidak memintaku melakukan itu.
Delapan bulan berlalu.
Arga sudah mampu berjalan dengan tongkat untuk jarak pendek.
Mbah mulai berkebun lagi.
Aku menggunakan sebagian uang ganti rugi tanah untuk membeli sebuah ruko kecil di Bantul.
Di lantai bawah, aku membuka apotek.
Di lantai atas, ada ruang konsultasi kecil untuk lansia dan layanan pengantaran obat bagi pasien yang tinggal sendirian.
Namanya:
Apotek Rukmini.
Pada hari pembukaan, Mbah berdiri lama di depan papan nama.
“Kenapa pakai nama Mbah?”
Aku tertawa.
“Karena investor pertama saya dulu menjual gelang emas buat bayar sekolah.”
Mbah langsung mencubit lenganku.
“Mulutmu.”
Kami tertawa.
Ketika aku menoleh, Arga berdiri di pintu.
Tanpa kursi roda.
Tanpa walker.
Hanya tongkat hitam sederhana di tangan kanan.
Ia membawa bunga.
“Selamat.”
Aku menerima bunganya.
“Terima kasih.”
Ia melihat ke dalam apotek.
“Aku bangga padamu.”
“Jangan mulai romantis di depan Mbah.”
Dari belakang terdengar suara Mbah:
“Biar saja!”
Aku menutup wajah.
Arga tertawa.
Malamnya, setelah semua tamu pulang, kami duduk di depan ruko.
Arga mengeluarkan sebuah map.
Aku langsung curiga.
“Apa lagi ini?”
“Bukan utang.”
Aku membukanya.
Dokumen itu adalah pernyataan pemisahan kepentingan bisnis kami serta perlindungan aset yang disusun melalui pengacara.
Tidak ada saham.
Tidak ada kewajiban.
Tidak ada klausul yang menguntungkan keluarganya.
“Kenapa?”
Arga menatap jalan.
“Pernikahan pertama kita dimulai dengan dokumen yang dibuat orang lain.”
Ia berhenti.
“Kalau kita lanjut, aku ingin tidak ada satu pun alasan bisnis yang mengikatmu.”
Aku menutup map.
“Kalau aku memilih pergi?”
“Aku akan mengantarmu sampai pintu.”
“Kalau aku memilih tinggal?”
Arga tersenyum kecil.
“Aku akan belajar menjadi alasan yang cukup baik untuk membuatmu mau tinggal.”
Dadaku menghangat.
Bukan karena kalimatnya sempurna.
Tapi karena kali ini aku benar-benar punya pilihan.
Aku menggenggam tangannya.
“Aku belum berjanji selamanya.”
“Tidak apa-apa.”
“Tapi besok malam kamu boleh makan di rumah.”
Dia menatapku.
“Rumah siapa?”
Aku tersenyum.
“Rumah kita.”
Setahun kemudian, Mbah berulang tahun ketujuh puluh dua.
Kami merayakannya sederhana di halaman belakang rumah barunya.
Nabila datang membawa kue.
Hubungan kami belum pulih sepenuhnya.
Mungkin tidak akan pernah seperti saudara kandung dalam cerita indah.
Namun ia bekerja, menjalani kewajibannya, dan beberapa kali meminta maaf tanpa memaksaku memaafkan.
Itu sudah lebih baik daripada kebohongan.
Tentang ayah, aku sesekali menerima surat.
Aku membacanya.
Tidak selalu membalas.
Memaafkan ternyata berbeda dengan membuka kembali semua pintu.
Aku bisa berhenti membenci seseorang tanpa memberi mereka akses ke hidupku.
Liana tidak pernah menghubungiku.
Dan aku tidak mencarinya.
Sore itu, Mbah meniup lilin.
Arga berdiri di sampingku.
Ia sekarang bisa berjalan tanpa tongkat di dalam rumah, meskipun untuk jarak jauh masih membutuhkannya.
Mbah memandang kami berdua.
“Kalian bahagia?”
Aku menoleh kepada Arga.
Lalu kepada apotek kecil yang terlihat dari kejauhan.
Kepada rumah sederhana yang kubeli sendiri.
Kepada perempuan tua yang membesarkanku ketika orang lain menganggapku beban.
Aku mengangguk.
“Iya, Mbah.”
“Sekarang bahagia.”
Dua belas tahun lalu, aku pergi dari rumah ayah hanya membawa dua koper.
Aku mengira itu bukti bahwa aku dibuang.
Hari ini aku mengerti sesuatu.
Tidak semua pintu yang tertutup berarti kita kehilangan rumah.
Kadang kita memang harus dikeluarkan dari tempat yang salah agar suatu hari berani membangun tempat yang benar.
Dulu namaku dipalsukan di dokumen utang.
Dipakai dalam kesepakatan.
Dijadikan alat untuk menyelamatkan bisnis orang lain.
Sekarang namaku berdiri di papan apotek yang kubangun sendiri.
Alya Prameswari.
Bukan anak yang harus membayar kesalahan ayahnya.
Bukan istri yang dibeli oleh perjanjian keluarga.
Bukan perempuan yang harus diam ketika dipukul atau dihina.
Hanya Alya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, itu sudah lebih dari cukup.

