Bagian 3 — Mereka Datang Membawa Surat Kuasa Bermeterai dan Tekanan Keluarga, Tapi Rekaman, Dokumen Asli, dan Gugatan Membalik Seluruh Permainan Mereka Seketika

Avatar penulis
Cerita 02
19 menit baca 2,663 tayangan
Bagian 3 — Mereka Datang Membawa Surat Kuasa Bermeterai dan Tekanan Keluarga, Tapi Rekaman, Dokumen Asli, dan Gugatan Membalik Seluruh Permainan Mereka Seketika
Indeks

Bagian 3 — Mereka Datang Membawa Surat Kuasa Bermeterai dan Tekanan Keluarga, Tapi Rekaman, Dokumen Asli, dan Gugatan Membalik Seluruh Permainan Mereka Seketika

Aku menatap Bu Ratna selama beberapa detik.

Anehnya, aku tidak marah.

Mungkin ketika seseorang sudah melewati batas terlalu jauh, kemarahan justru berubah menjadi kejernihan.

Aku melihat satu per satu wajah di ruang tamuku.

Bu Ratna berdiri dengan dagu terangkat.

Fajar duduk sambil menggoyang-goyangkan lutut.

Pak Hendra memegang map merah.

Dua paman Dimas menghindari tatapanku.

Sedangkan suamiku sendiri duduk di ujung sofa seperti orang yang berharap tubuhnya bisa menyatu dengan dinding.

Aku mengulangi ucapan Bu Ratna.

“Utang Dimas akan menjadi masalahku?”

“Iya.”

Ia menjawab cepat.

“Kalian suami istri.”

“Jadi ketika Dimas meminjam uang untuk Fajar tanpa sepengetahuanku, itu tanggung jawabku?”

“Jangan dipelintir.”

“Aku bertanya.”

Bu Ratna menarik napas kasar.

“Kalau kamu dari awal mau membantu keluarga, semua ini tidak akan terjadi.”

Aku hampir tersenyum.

Begitulah selalu cara mereka bekerja.

Fajar memesan rumah sebelum punya uang.

Dimas meminjam uang tanpa memberitahuku.

Mereka mengambil dokumen milikku.

Seseorang meniru tanda tanganku.

Tapi penyebab semua masalah itu ternyata aku.

Karena aku belum menyerahkan Rp3,6 miliar.

Aku mengambil ponsel dari meja.

Dimas langsung melihat gerakanku.

“Ayu, mau ngapain?”

“Tidak ada.”

Aku membuka layar.

Lalu berkata kepada semua orang, “Silakan lanjutkan.”

Bu Ratna mengernyit.

“Apa lagi yang mau dibicarakan? Tinggal tanda tangan.”

Aku melihat Pak Hendra.

“Bapak tadi katanya paham urusan surat?”

Ia tersenyum kaku.

“Saya biasa bantu administrasi.”

“Notaris?”

“Bukan.”

“Pengacara?”

“Bukan juga.”

“PPAT?”

Ia berdeham.

“Bukan.”

Aku mengangguk.

“Berarti Bapak sendiri sebenarnya tidak punya kapasitas hukum untuk menjelaskan isi surat ini kepada saya.”

Wajahnya langsung merah.

Bu Ratna memukul meja.

“Kamu jangan mempermalukan orang!”

“Bu.”

Aku menatapnya.

“Ini rumah saya.”

“Rumah kontrakan.”

“Kontrakannya atas nama saya.”

Ia terdiam.

Aku melanjutkan.

“Jadi kalau Ibu merasa percakapan ini mempermalukan seseorang, Ibu boleh pulang.”

Fajar berdiri.

“Kak Ayu sekarang sombong gara-gara pegang uang.”

Aku melihatnya.

“Kalau aku sombong, dari kemarin aku sudah mengusir kalian.”

“Kami cuma minta hak keluarga.”

“Hak keluarga yang mana?”

“Mas Dimas suami Kakak!”

“Apa hubungannya dengan tanah nenekku?”

Fajar mendadak tidak bisa menjawab.

Aku membuka map yang sudah kusiapkan sejak pagi.

Pertama, salinan sertifikat.

Kedua, akta waris.

Ketiga, dokumen bahwa tanah tersebut sudah menjadi milikku sebelum pernikahan.

Keempat, surat pernyataan aset bawaan yang dulu pernah diketahui dan ditandatangani Dimas.

Aku meletakkannya satu per satu di meja.

Dimas mengenali dokumen terakhir itu.

Wajahnya berubah.

Delapan tahun lalu, sebelum menikah, aku sebenarnya tidak berniat membuat surat tersebut.

Ibuku yang memaksa.

Ia berkata, “Bukan karena kita menuduh calon suamimu. Dokumen dibuat justru ketika hubungan masih baik, supaya suatu hari ketika hubungan buruk, orang tidak saling mengarang cerita.”

Waktu itu Dimas tertawa.

Ia bahkan mencium keningku setelah menandatangani dokumen itu.

“Tanahmu ya tanahmu. Aku nggak akan menyentuh.”

Sekarang salinan kalimatnya sendiri tergeletak di atas meja.

“Ini tanda tangan kamu?” tanyaku.

Dimas menunduk.

“Iya.”

“Lebih keras.”

“Iya.”

Bu Ratna merebut kertas itu.

“Surat beginian bisa dibuat siapa saja.”

“Benar.”

Aku mengangguk.

“Makanya aslinya saya simpan. Dan sudah saya konsultasikan.”

“Konsultasi dengan siapa?”

“Pengacara.”

Ruangan mendadak diam.

Aku melihat sesuatu berubah pada wajah mereka.

Selama ini mereka mengira aku hanya perempuan yang bisa ditekan ramai-ramai.

Bawa dua puluh orang.

Bicara tentang bakti.

Bicara tentang keluarga.

Bicara tentang rasa malu.

Bicara tentang kewajiban istri.

Lalu tunggu sampai aku menyerah.

Mereka tidak pernah membayangkan aku akan berhenti berdebat tentang perasaan dan mulai berbicara menggunakan dokumen.

Bu Ratna menaruh kertas itu dengan kasar.

“Pengacara apa segala? Kita keluarga sendiri.”

Aku tersenyum.

“Justru karena keluarga sendiri mengambil fotokopi KTP saya tanpa izin, saya butuh pengacara.”

Fajar langsung menoleh kepada Dimas.

Dimas berdiri.

“Ayu.”

“Apa?”

“Jangan bawa-bawa soal itu.”

“Kenapa?”

“Kita bisa selesaikan baik-baik.”

“Baik.”

Aku mengambil satu lembar lagi.

Salinan formulir pembiayaan.

Kutatakkan di meja.

“Aku juga ingin menyelesaikannya baik-baik.”

Mata Dimas langsung membesar.

“Dari mana kamu dapat itu?”

Pertanyaan yang menarik.

Bukan “apa itu?”

Bukan “siapa yang membuat?”

Bukan “aku tidak tahu.”

Melainkan:

Dari mana kamu dapat itu?

Bu Ratna mengambil formulir tersebut.

Fajar melangkah mendekat.

“Apa ini?”

Aku menunjuk bagian tanda tangan.

“Itu bukan tanda tanganku.”

Pak Hendra tiba-tiba berdiri.

“Saya rasa saya pulang dulu.”

“Silakan.”

Ia langsung keluar.

Begitu pintu tertutup, aku menatap Dimas.

“Kamu mengambil fotokopi KTP dan kartu keluarga dari mapku?”

Ia mengusap wajah.

“Aku cuma pinjam.”

“Dokumen pribadi bukan pulpen.”

“Aku mau bantu Fajar.”

“Dengan mengajukan pinjaman memakai dokumen asetku?”

“Belum jadi!”

Nah.

Akhirnya.

Kalimat yang selalu digunakan orang ketika tertangkap sebelum berhasil.

Belum jadi.

Seolah percobaan tidak dihitung kalau gagal.

“Aku hanya tanya-tanya.”

Aku mengangkat formulir.

“Lalu siapa yang membuat tanda tangan ini?”

“Aku nggak tahu.”

Fajar menyela.

“Orang kantor mungkin.”

Aku menoleh tajam.

“Orang kantor pembiayaan meniru tanda tangan calon pemilik jaminan tanpa alasan?”

Fajar terdiam.

Aku membuka WhatsApp.

“Kemarin Rendi bilang berkas dibawa oleh dua orang. Dimas dan Fajar.”

Dimas membeku.

Bu Ratna menatap kedua anak laki-lakinya.

“Memangnya kalian bikin apa?”

Untuk pertama kalinya, aku sadar Bu Ratna mungkin tidak tahu detail rencana pinjaman itu.

Ia tahu anak-anaknya sedang “mengusahakan dana”.

Tapi mungkin tidak tahu bagaimana.

Fajar berkata cepat, “Cuma formulir awal.”

“Siapa yang tanda tangan?” tanyaku lagi.

Tidak ada jawaban.

Aku menunggu.

Sepuluh detik.

Dua puluh.

Lalu Dimas akhirnya berkata pelan.

“Fajar yang bikin.”

Fajar langsung melompat berdiri.

“Mas!”

Ruangan pecah.

“Aku cuma diminta contoh tanda tangan!”

“Mas yang kasih fotonya!”

“Kamu yang bilang gampang!”

“Karena Mas bilang Kak Ayu nanti setuju!”

Bu Ratna berteriak menyuruh mereka diam.

Aku justru duduk.

Dan membiarkan mereka saling membuka rahasia.

Ternyata lebih banyak dari yang kukira.

Dimas sudah memberi tahu keluarganya tentang nominal perkiraan ganti rugi sejak tiga bulan sebelumnya.

Bu Ratna lalu meminta Fajar mencari rumah.

Fajar menemukan rumah di daerah Gresik yang harganya hampir Rp2,9 miliar.

Tanpa bicara denganku, ia memberikan booking fee Rp150 juta.

Uang itu berasal dari pinjaman pribadi Dimas.

Tetapi bukan hanya itu.

Untuk meyakinkan penjual bahwa mereka serius, Fajar menjanjikan pembayaran uang muka Rp900 juta dalam waktu tiga minggu.

Ia mengira uangku pasti diberikan.

Ketika aku belum juga mentransfer, mereka panik.

Kemudian muncul ide mencari pinjaman jembatan Rp750 juta.

Dan untuk membuat pengajuan terlihat kuat, mereka menggunakan salinan dokumen asetku.

Semua terjadi tanpa satu kalimat pun kepadaku.

Aku menatap Dimas.

“Kamu bahkan sudah menjanjikan uangku sebelum uang itu masuk rekening.”

“Aku pikir kamu akan mengerti.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Kamu tidak berpikir aku akan mengerti.”

Aku mengangkat ponsel.

“Kamu bilang di grup keluarga: ‘Aku atur Ayu.’”

Dimas kehilangan warna wajahnya.

Bu Ratna langsung menoleh.

“Grup apa?”

Aku membacakan pesan itu.

Tidak semuanya.

Cukup bagian yang penting.

“Tanah Ayu dapat hampir enam M. Minimal tiga M aman untuk Fajar. Tinggal bikin Ayu jangan merasa ditekan.”

Aku menatap suamiku.

“Lalu Ibu menjawab: ‘Kalau perempuan terlalu banyak pegang uang nanti susah diatur.’”

Bu Ratna spontan berkata, “Itu cuma bercanda.”

Aku tertawa kecil.

Akhirnya aku benar-benar tertawa.

Aneh.

Selama delapan tahun aku sudah sering menangis karena keluarga ini.

Hari itu aku justru merasa tidak ada lagi yang perlu ditangisi.

Aku meletakkan ponsel.

“Sekarang dengarkan keputusan saya.”

Bu Ratna melipat tangan.

“Apa?”

“Pertama. Tidak ada satu rupiah pun dari uang ganti rugi itu yang akan diberikan untuk rumah Fajar.”

Fajar langsung menyahut.

“Kak!”

Aku mengangkat tangan.

“Belum selesai.”

“Kedua, utang Rp150 juta yang dibuat Dimas tanpa pengetahuan saya adalah urusan Dimas. Saya tidak akan membayarnya.”

Dimas menatapku.

“Yu…”

“Ketiga, semua salinan KTP, kartu keluarga, sertifikat, dan dokumen atas nama saya yang ada pada kalian harus dikembalikan.”

Bu Ratna mencibir.

“Kalau tidak?”

Aku menatap formulir pembiayaan.

“Besok pagi saya akan membuat laporan resmi mengenai penggunaan dokumen dan tanda tangan yang bukan milik saya.”

Fajar langsung pucat.

“Kak, jangan lebay.”

“Aku belum menentukan siapa pelakunya.”

Aku memandangnya.

“Kamu sendiri tadi yang mengaku.”

Ia terdiam.

Bu Ratna berubah panik.

“Kita keluarga!”

“Kalau begitu seharusnya jauh lebih mudah untuk tidak memalsukan tanda tangan keluarga sendiri.”

Aku lalu menatap Dimas.

“Terakhir.”

Ia seperti sudah tahu kalimat berikutnya akan menghancurkan sesuatu.

“Kita pisah dulu.”

“Ayu.”

“Aku dan Naya akan pindah.”

Dimas berdiri.

“Jangan bawa Naya.”

“Kenapa?”

“Aku bapaknya!”

“Betul.”

Aku mengangguk.

“Dan aku tidak pernah bilang kamu tidak boleh bertemu dia.”

Ia kehilangan kata-kata.

Aku sudah berbicara dengan pengacaraku tentang langkah yang harus kuambil.

Aku tidak ingin menggunakan anak sebagai senjata.

Apa pun yang Dimas lakukan kepadaku, Naya tetap berhak memiliki hubungan dengan ayahnya selama aman untuknya.

Tapi menjadi ayah tidak memberinya hak menggunakan anak untuk memaksaku tetap tinggal.

Malam itu aku tidur bersama Naya.

Dimas berada di ruang tamu.

Sekitar pukul satu, ia mengetuk pintu.

“Yu.”

Aku tidak menjawab.

“Aku mau bicara.”

Aku membuka pintu sedikit.

Dimas berdiri dengan mata merah.

“Aku salah.”

Aku menatapnya.

“Bagian mana?”

“Semuanya.”

Aku diam.

“Aku cuma…”

Ia mengusap rambut.

“Aku dari kecil memang nggak pernah bisa nolak Ibu.”

“Dan karena itu kamu belajar bilang ‘iya’ kepada ibumu dengan mengambil hak orang lain.”

“Aku takut mereka marah.”

“Jadi kamu memilih membuat aku yang menanggung akibatnya.”

Ia menangis.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku melihat Dimas menangis karena masalah kami.

Tapi anehnya aku tidak merasa lega.

Aku justru lelah.

“Delapan tahun, Mas.”

Suaraku pelan.

“Delapan tahun aku menunggu kamu sekali saja berdiri di sebelahku ketika keluargamu melewati batas.”

Ia menunduk.

“Waktu ibumu datang tanpa kabar dan membuka lemari kita, aku diam.”

“Waktu Fajar pinjam motor lalu mengembalikannya rusak, aku diam.”

“Waktu uang tabungan Lebaran dipakai membantu hutang kakakmu, aku juga diam.”

“Waktu Naya ulang tahun dan ibumu menyuruh kita membatalkan acara karena Fajar butuh uang servis mobil, aku bahkan yang minta maaf kepada Naya.”

Air mata turun di wajahku.

“Tapi sekarang kalian menyentuh sesuatu yang ditinggalkan nenekku untukku.”

Aku menatapnya.

“Dan kamu memberikan dokumen pribadiku kepada mereka.”

“Aku bisa berubah.”

“Mungkin.”

Aku mengangguk.

“Tapi perubahanmu tidak harus menungguku berdiri di sebelahmu.”

Tiga hari kemudian aku membawa Naya ke apartemen sewa sederhana dekat sekolahnya.

Bukan tempat mewah.

Dua kamar.

Satu meja makan kecil.

Balkon sempit yang menghadap deretan atap rumah.

Naya masuk sambil membawa kotak pensil.

“Ini rumah kita?”

“Untuk sementara.”

Ia melihat sekeliling.

“Boleh aku tempel gambar?”

Dadaku terasa hangat.

“Boleh.”

Ia mengambil gambar rumah kuning yang pernah diperlihatkannya kepadaku.

Lalu menempelkannya di dekat meja belajar dengan selotip.

“Mama.”

“Hm?”

“Nanti rumah kita harus ada jendelanya besar.”

“Kenapa?”

“Supaya Mama nggak kelihatan sedih kalau di rumah.”

Aku berbalik agar ia tidak melihat mataku basah.

Anak-anak sering tidak memahami masalah orang dewasa.

Tapi mereka selalu memahami suasana.

Dan saat itulah aku yakin.

Apa pun akibatnya, aku tidak akan membawa Naya kembali ke rumah yang mengajarinya bahwa seorang perempuan harus diam supaya disebut istri baik.

Seminggu setelah aku pindah, masalah rumah Fajar meledak.

Batas pembayaran uang muka jatuh tempo.

Uang tidak tersedia.

Penjual menolak memperpanjang waktu.

Booking fee Rp150 juta tidak bisa dikembalikan sesuai kesepakatan yang sudah ditandatangani Fajar.

Bu Ratna meneleponku dua belas kali.

Aku tidak mengangkat.

Dimas mengirim pesan.

“Bisakah kita pakai sebagian dulu? Nanti Fajar cicil.”

Aku membalas satu kalimat.

“Tidak.”

Dua menit kemudian Bu Ratna mengirim voice note hampir tiga menit.

Aku tidak membukanya.

Lalu bibi Dimas menelepon.

“Ayu, kasihan Fajar. Itu uang besar.”

Aku menjawab tenang.

“Karena itu seharusnya dia tidak memakai uang besar yang belum dia miliki.”

“Kalau keluarga saling bantu kan wajar.”

“Benar.”

Aku berkata.

“Bantu itu ketika orang yang punya sesuatu berkata iya. Kalau diambil keputusan tanpa izin, namanya bukan bantuan.”

Ia tidak menelepon lagi.

Dua hari kemudian aku menerima kabar dari Rika.

Ia meminta bertemu.

Aku sebenarnya tidak ingin terlibat.

Tapi ia berkata hanya perlu lima belas menit.

Kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat kantor.

Rika terlihat kelelahan.

“Kak.”

Ia memegang gelas dengan kedua tangan.

“Aku minta maaf.”

“Kamu tidak melakukan apa-apa.”

“Aku percaya Fajar.”

Aku diam.

“Ia bilang uang rumah itu pemberian dari keluarga.”

Rika tertawa getir.

“Bahkan Mama Papa-ku percaya keluarga Mas Fajar memang punya uang.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Rika melanjutkan.

“Setelah rumah batal, baru aku tahu dia juga punya cicilan kartu kredit dan utang aplikasi.”

Aku mengangkat kepala.

Ia mengangguk.

“Hampir Rp200 juta.”

Ternyata usaha-usaha Fajar yang “gagal” selama beberapa tahun meninggalkan utang yang tidak pernah diceritakan kepada calon istrinya.

Uang Rp3,6 miliar yang Bu Ratna minta dariku bukan semata-mata untuk rumah dan usaha.

Sebagian hendak dipakai membersihkan seluruh masalah keuangan Fajar sebelum menikah.

Rika menatapku.

“Kalau Kakak kemarin kasih uangnya, mungkin aku menikah tanpa pernah tahu.”

Aku memegang tangannya.

“Keputusan selanjutnya punya kamu.”

Sebulan kemudian, aku mendengar pertunangan mereka dibatalkan.

Aku tidak merasa senang.

Tapi aku juga tidak merasa bersalah.

Ada konsekuensi yang tidak lahir karena seseorang kejam.

Ada konsekuensi yang lahir karena kebohongan akhirnya berhenti dilindungi.

Sementara itu, kasus formulir pembiayaan berjalan berbeda dari yang diperkirakan keluarga Dimas.

Aku tidak langsung meminta siapa pun ditangkap.

Pengacaraku menyarankan semua bukti dikumpulkan dulu.

Pihak pembiayaan memberikan surat bahwa permohonan tidak pernah disetujui dan tidak ada pencairan dana.

Namun keberadaan tanda tangan yang bukan milikku dan penggunaan dokumen pribadi tetap tercatat.

Setelah menerima surat somasi dari pengacaraku, Fajar datang menemuiku.

Sendirian.

Tidak ada gaya santainya lagi.

Tidak ada kaki disilangkan.

Tidak ada kalimat tentang rumah tiga lantai.

“Kak.”

Ia duduk di depan meja.

“Aku salah.”

Aku diam.

“Aku yang bikin tanda tangan itu.”

Aku sudah tahu.

“Tapi Mas Dimas memang kasih contoh.”

“Aku juga tahu.”

“Kak mau aku bagaimana?”

Aku mendorong sebuah surat kepadanya.

Isinya sederhana.

Ia harus membuat pernyataan tertulis bahwa ia telah menggunakan salinan dokumen tanpa izinku, berjanji tidak menggunakan atau menyebarkannya lagi, mengembalikan semua salinan, dan menanggung sendiri seluruh kewajiban finansial yang timbul dari rencana pembelian rumah maupun pengajuan pembiayaan tersebut.

Tidak ada uang dariku.

Tidak ada penyelamatan.

Tidak ada transfer diam-diam.

Fajar membaca lama.

“Kalau aku tanda tangan ini, Kakak nggak lanjut?”

“Aku akan menggunakan hak hukummu sesuai tindakanmu selanjutnya.”

“Apa maksudnya?”

“Maksudnya jangan ulangi.”

Ia menandatangani.

Hari itu aku menyadari sesuatu.

Selama bertahun-tahun, orang-orang di keluarga Dimas bukan tidak tahu batas.

Mereka tahu.

Hanya saja tidak ada konsekuensi ketika mereka melewatinya.

Begitu konsekuensi muncul, mendadak semua orang bisa memahami batas dengan sangat cepat.

Dimas berbeda.

Ia tidak datang meminta uang lagi.

Ia juga tidak membela keluarganya lagi.

Tapi sesuatu di antara kami sudah terlanjur patah.

Selama dua bulan kami hidup terpisah.

Ia menemui Naya setiap akhir pekan.

Awalnya percakapan kami hanya seputar sekolah.

“Besok Naya ada les jam sepuluh.”

“Obat alerginya ada di tas.”

“Seragam olahraga Senin jangan tertinggal.”

Tidak lebih.

Suatu hari setelah mengantar Naya kembali, Dimas berdiri di depan pintu apartemen.

“Aku keluar dari grup keluarga.”

Aku hanya mengangguk.

“Aku juga sudah bilang ke Ibu, jangan hubungi kamu lagi soal uang.”

“Bagus.”

“Aku bayar utang Rp150 juta sendiri.”

“Memang seharusnya.”

Ia mengangguk.

Lalu tersenyum pahit.

“Kamu sekarang kalau bicara ke aku dingin sekali.”

Aku menatapnya.

“Karena dulu aku terlalu hangat sampai semua orang mengira aku bisa dibakar tanpa habis.”

Dimas menunduk.

Kami diam cukup lama.

“Ada kemungkinan kita mulai lagi?”

Pertanyaannya pelan.

Aku sudah memikirkan itu berminggu-minggu.

Jawabannya ternyata tidak sesulit yang kubayangkan.

“Tidak.”

Ia mengangkat wajah.

“Aku tidak membencimu.”

Aku berkata.

“Tapi aku juga tidak mau menghabiskan sisa hidupku untuk memeriksa apakah suamiku sedang berdiri di sisiku atau sedang bernegosiasi dengan keluarganya tentang berapa harga yang pantas untuk pengorbananku.”

Matanya merah.

“Aku akan berubah.”

“Aku harap begitu.”

“Untuk kita?”

Aku menggeleng.

“Untuk dirimu sendiri. Untuk Naya.”

Aku menarik napas.

“Kita selesai sebagai pasangan.”

Proses perceraian tidak secepat yang dibayangkan orang.

Ada mediasi.

Ada dokumen.

Ada pembicaraan mengenai hak asuh, nafkah, barang-barang rumah tangga, dan kewajiban Dimas terhadap Naya.

Bu Ratna sempat datang ke mediasi keluarga.

Ia menangis.

Katanya aku menghancurkan keluarga hanya karena uang.

Aku tidak menjawab panjang.

Aku hanya bertanya:

“Kalau masalahnya bukan uang, kenapa semuanya mulai ketika uang saya cair?”

Ia terdiam.

Dimas juga diam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak membela ibunya.

Keputusan akhirnya jelas.

Naya tinggal bersamaku.

Dimas tetap memiliki waktu bertemu secara teratur dan wajib memenuhi kebutuhan anak sesuai kesepakatan.

Uang ganti rugi tanah warisanku tetap berada di bawah kendaliku.

Utang yang dibuat Dimas untuk kepentingan Fajar tetap menjadi tanggungannya.

Tidak ada Rp3,6 miliar untuk rumah Fajar.

Tidak ada Rp1,4 miliar yang tiba-tiba menjadi “dana hari tua” mertua.

Tidak ada Rp800 juta “kebutuhan keluarga”.

Karena sejak awal tidak pernah ada pembagian.

Yang ada hanyalah sekelompok orang yang terlalu lama mengira keputusan mereka bisa mengubah kepemilikan orang lain.

Enam bulan kemudian, aku kembali ke Sukoharjo.

Tanah nenek sudah berubah.

Sebagian bangunan lama telah dibongkar.

Pohon mangga di belakang kios sudah tidak ada.

Untuk beberapa menit aku berdiri di sisi jalan sambil memandangi tempat yang dulu menjadi masa kecilku.

Aku menangis.

Bukan karena uang.

Aku merindukan nenek.

Aku merindukan bunyi pintu kios kayu yang selalu berderit.

Aku merindukan aroma kain baru.

Aku merindukan cara nenek memasukkan uang ke kaleng biskuit, lalu mencatat setiap rupiah di buku kecil.

Di situ aku akhirnya memahami pesan terakhirnya.

“Tanah ini adalah tempatmu berdiri.”

Tanah itu sudah hilang.

Tapi tempatku berdiri justru menjadi semakin jelas.

Aku tidak membeli rumah tiga lantai.

Tidak membeli mobil mewah.

Tidak juga menghabiskan uang untuk membuktikan apa pun kepada keluarga Dimas.

Sebagian besar uang kusimpan dan kuatur bersama perencana keuangan.

Aku menyiapkan dana pendidikan Naya.

Membeli sebuah rumah sederhana dengan halaman kecil setelah seluruh urusan hukumnya dipastikan rapi.

Dan menggunakan sebagian dana untuk membuka studio kecil bernama “Laras”.

Bukan restoran.

Bukan coffee shop.

Bukan bisnis besar.

Studio itu menjual batik dari perajin perempuan di Solo, Klaten, dan sekitarnya.

Aku mengambil nama nenek sebagai bagian dari mereknya.

Di dinding depan, aku memasang satu foto lama.

Nenek sedang duduk di kios.

Senyumnya kecil.

Tangannya memegang kalkulator.

Di bawah foto itu ada tulisan:

“Yang sedikit pun harus dihitung bila itu hasil kerja sendiri.”

Hari pertama studio dibuka, Naya datang memakai gaun kuning.

Ia berlari ke belakang sambil membawa sesuatu.

“Mama!”

“Apa?”

Ia mengeluarkan gambar lama.

Rumah kuning.

Pohon.

Tiga orang.

Aku terdiam.

Ia menunjuk sosok laki-laki dalam gambar.

“Yang ini aku hapus boleh?”

Aku jongkok di depannya.

“Kenapa?”

“Nanti aku gambar Papa di kertas lain.”

Hatiku tercekat.

Anak ini ternyata lebih memahami keadaan daripada yang kukira.

Aku mengusap pipinya.

“Tidak perlu dihapus.”

“Tapi Mama sama Papa sudah tidak tinggal bersama.”

“Betul.”

Aku menunjuk gambar itu.

“Tapi Papa tetap pernah jadi bagian dari rumah kita.”

Naya berpikir sebentar.

Lalu mengangguk.

Ia mengambil pensil.

Di samping gambar lama, ia membuat gambar baru.

Sebuah rumah dengan jendela besar.

Dua orang berdiri di halaman.

Aku dan dirinya.

Di sisi kanan kertas, agak jauh dari rumah, ia menggambar seorang laki-laki memegang es krim.

“Itu Papa.”

Aku tertawa.

“Kenapa di luar?”

“Karena Papa datang hari Sabtu.”

Jawaban paling sederhana.

Dan mungkin paling sehat.

Tidak semua keluarga harus tetap tinggal di bawah satu atap untuk disebut keluarga.

Kadang-kadang berpisah dengan jelas jauh lebih baik daripada tinggal bersama sambil terus saling melukai.

Setahun setelah malam “musyawarah pembagian uang” itu, Bu Ratna datang ke studio.

Sendirian.

Aku cukup terkejut.

Ia berdiri di depan rak batik hampir lima menit sebelum akhirnya berkata:

“Naya ada?”

“Sekolah.”

Ia mengangguk.

Lalu matanya menyapu ruangan.

“Bagus tempatnya.”

“Terima kasih.”

Kami tidak tahu harus bicara apa.

Akhirnya ia duduk.

Tubuhnya tampak lebih kecil daripada yang kuingat.

“Fajar sekarang kerja sama temannya.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

“Dia masih bayar utang.”

“Semoga cepat selesai.”

“Dimas pindah kos dekat kantornya.”

Aku sudah tahu.

“Iya.”

Bu Ratna meremas tas di pangkuan.

“Ayu.”

Aku menunggu.

“Ibu waktu itu keterlaluan.”

Aku tidak langsung menjawab.

Permintaan maaf tidak bisa menghapus kejadian.

Tapi bukan berarti kita harus menolaknya ketika akhirnya datang.

“Saya juga banyak diam terlalu lama, Bu.”

Ia mengangkat mata.

“Apa kamu benci Ibu?”

Aku berpikir sebentar.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena capek.”

Aku tersenyum tipis.

“Membenci orang terus-terusan membutuhkan tenaga. Saya lebih butuh tenaga itu untuk Naya dan hidup saya.”

Matanya basah.

Ia mengangguk.

Sebelum pulang, ia mengeluarkan sesuatu dari tas.

Sebuah kotak pensil.

“Buat Naya.”

Aku menerimanya.

“Terima kasih.”

Ia berjalan ke pintu.

Lalu berhenti.

“Ayu.”

“Ya?”

“Uang itu…”

Aku menatapnya.

Ia cepat-cepat menggeleng.

“Bukan. Ibu tidak mau minta.”

Untuk pertama kalinya aku tersenyum sungguhan.

“Baik.”

Bu Ratna tertawa kecil, malu.

Mungkin itulah bentuk perubahan paling sederhana.

Bukan ketika seseorang tiba-tiba menjadi orang baik.

Tetapi ketika ia akhirnya belajar bahwa ada pintu yang tidak boleh lagi ia buka tanpa izin.

Sore itu aku menjemput Naya.

Dalam perjalanan pulang, ia membuka kotak pensil pemberian neneknya.

“Bagus.”

“Iya.”

“Mama, nanti Nenek boleh datang ke rumah kita?”

Aku melihat lampu merah di depan.

“Boleh.”

“Asal tidak marah-marah?”

Aku tertawa.

“Asal tidak marah-marah.”

Lampu berubah hijau.

Aku menjalankan mobil lagi.

Di kursi belakang, Naya mulai bercerita tentang tugas menggambar keluarga.

Dulu mungkin aku akan takut mendengar tugas seperti itu.

Aku akan bertanya-tanya apa yang ia gambar.

Apakah perceraian membuatnya malu.

Apakah ia iri melihat keluarga lain.

Tapi sekarang aku tidak lagi merasa sebuah keluarga harus tampak sempurna agar seorang anak merasa aman.

Rumah kami lebih kecil daripada rumah tiga lantai yang pernah ingin dibeli Fajar.

Mobilku biasa saja.

Studio belum menghasilkan keuntungan besar.

Dan kehidupanku tidak berubah menjadi dongeng setelah perceraian.

Ada hari ketika aku sangat lelah.

Ada malam ketika aku takut.

Ada tagihan.

Ada urusan sekolah.

Ada jadwal kerja.

Ada kesepian yang kadang datang tanpa permisi.

Tapi ada satu hal yang tidak ada lagi.

Aku tidak bangun setiap pagi sambil bertanya-tanya apakah hari itu seseorang akan kembali memutuskan sesuatu tentang hidupku tanpa meminta persetujuanku.

Rp5,8 miliar memang menyelamatkan masa depan finansialku.

Tapi uang itu bukan hal terpenting yang kuterima dari tanah nenek.

Yang paling berharga justru sebuah pelajaran.

Bahwa perempuan yang terus mengalah tidak selalu sedang menjaga keluarga.

Kadang-kadang ia sedang mengajari orang lain bahwa batasnya boleh dilewati.

Bahwa diam tidak selalu berarti sabar.

Kadang-kadang diam hanya membuat orang yang salah semakin berani.

Dan bahwa berkata “tidak” kepada keluarga bukan berarti kita tidak punya hati.

Kadang-kadang itu satu-satunya cara agar mereka akhirnya belajar bahwa kita juga manusia.

Malam itu, setelah Naya tidur, aku berdiri di depan jendela rumah baru kami.

Jendelanya besar.

Persis seperti yang ia minta.

Cahaya dari ruang tamu jatuh ke halaman kecil.

Di dinding tergantung gambar baru buatan Naya.

Dua orang berdiri di depan rumah kuning.

Di sudut kanan ada matahari.

Dan di bawah gambar itu, dengan tulisan anak-anak yang masih tidak rata, ia menulis:

“Rumah Mama dan Naya. Di sini tidak ada yang boleh mengambil barang orang tanpa izin.”

Aku membacanya dua kali.

Lalu tertawa sampai air mataku keluar.

Ternyata pada akhirnya, nenek benar.

Setiap perempuan memang membutuhkan tempat untuk berdiri.

Hanya saja tempat itu tidak selalu berupa sebidang tanah.

Kadang-kadang tempat itu adalah keberanian untuk menutup pintu.

Dan untuk pertama kalinya, tidak merasa bersalah karena melakukannya.