Di Acara Lamaran Kami, Tunanganku Menjanjikan Rp480 Juta untuk Sahabat Masa Kecilnya—Lalu Kutemukan Namaku di Dokumen yang Tak Pernah Kutandatangani

Avatar penulis
Cerita 03
14 menit baca 2,800 tayangan
Indeks

Di Acara Lamaran Kami, Tunanganku Menjanjikan Rp480 Juta untuk Sahabat Masa Kecilnya—Lalu Kutemukan Namaku di Dokumen yang Tak Pernah Kutandatangani

Bagian 1 — Di Depan Dua Keluarga, Arga Menjanjikan Rp480 Juta untuk Naila, Sementara Uang Rumah Kami Diam-diam Sudah Mengalir ke Tempat Lain

Arga mengetuk mikrofon dua kali.

“Tes… tes…”

Suara kecil itu membuat percakapan di ballroom hotel perlahan mereda.

Aku berdiri di sampingnya dengan kebaya sage yang dipilih Ibu tiga bulan lalu. Di jari manisku sudah terpasang cincin tunangan yang baru beberapa menit sebelumnya dikenakan Arga di depan kedua keluarga.

Semua seharusnya selesai dengan sederhana.

Ucapan terima kasih.

Foto bersama.

Makan malam.

Lalu kami pulang sebagai dua orang yang tinggal menunggu hari pernikahan.

Namun Arga tidak menurunkan mikrofon.

Ia justru menatap ke salah satu meja di dekat jendela.

“Sebelum acara dilanjutkan, aku ingin menyampaikan satu hal penting.”

Tanganku yang memegang buket bunga langsung terasa kaku.

Kalimat itu tidak ada dalam susunan acara.

Arga dan aku sudah memeriksa rundown tiga kali.

Aku menoleh.

Dia tersenyum tenang.

“Ada seseorang yang sudah kukenal sejak kami masih pakai seragam putih biru. Namanya Naila.”

Beberapa kepala menoleh.

Aku ikut mengikuti arah pandang mereka.

Di meja paling ujung duduk seorang perempuan berambut sebahu dengan gaun krem sederhana.

Naila.

Aku pernah melihat wajahnya.

Bukan sekali.

Puluhan kali.

Dua tahun lalu, saat Arga memintaku mencarikan foto lama di laptopnya untuk bahan reuni sekolah, aku tanpa sengaja membuka sebuah folder bernama “SMA 2012”.

Hampir separuh foto di dalamnya memperlihatkan Arga bersama perempuan yang sama.

Di kantin.

Di lapangan basket.

Di halte.

Di acara perpisahan sekolah.

Arga pernah menjelaskan singkat.

“Teman lama.”

Aku mempercayainya.

Malam itu, di acara lamaran kami sendiri, ternyata “teman lama” tersebut duduk hanya beberapa meter dariku.

Arga kembali berbicara.

“Naila sedang membangun pusat tumbuh kembang anak. Dia sudah menyewa tempat, punya tim kecil, tetapi masih kekurangan modal cukup besar.”

Dadaku mulai terasa tidak nyaman.

Kemudian Arga mengatakan angka yang membuat ayahku berhenti mengangkat gelas.

“Aku memutuskan memberikan dukungan modal sebesar empat ratus delapan puluh juta rupiah.”

Suasana ballroom mendadak sunyi.

Bahkan suara sendok yang jatuh dari meja belakang terdengar jelas.

Aku menatap profil wajah Arga.

Rp480 juta.

Enam bulan sebelumnya, Arga mengatakan kami harus segera membayar uang muka rumah.

Harga rumah yang kami incar di daerah Kota Baru Parahyangan hampir Rp2,3 miliar.

Menurut Arga, kami harus menyediakan Rp620 juta untuk uang muka dan biaya awal.

Tabunganku setelah bekerja hampir tujuh tahun sebagai dosen bahasa Inggris berjumlah sekitar Rp510 juta.

Ditambah Rp110 juta yang diberikan Ayah dari deposito atas namaku.

Aku menyerahkan semuanya kepada Arga.

Rp620 juta.

Dia memelukku waktu itu.

“Nanti rumahnya atas nama kita berdua.”

Aku bahkan tidak meminta kuitansi darinya.

Karena kupikir sebentar lagi kami menikah.

Di hadapan hampir seratus orang, Arga masih berbicara.

“Aku percaya orang yang punya kesempatan harus membantu orang lain berdiri.”

Beberapa tamu mulai bertepuk tangan ragu-ragu.

Lalu kalimat yang paling kutunggu akhirnya datang.

“Laras pasti mengerti.”

Arga menoleh kepadaku.

“Benar, kan?”

Semua mata berpindah kepadaku.

Ibuku sudah tidak tersenyum.

Kakakku, Sinta, menatapku seolah ingin langsung menyeretku turun dari panggung.

Sementara ibu Arga memijat pelipisnya.

Aku tahu apa yang sedang dilakukan Arga.

Dia telah membuat keputusan sendiri, tetapi meminta persetujuanku setelah keputusan itu diumumkan.

Kalau aku marah, aku menjadi perempuan pencemburu.

Kalau aku menolak, aku terlihat menghalangi seseorang membangun masa depan.

Kalau aku tersenyum, dia mendapat semua yang diinginkan.

Aku menatap Naila.

Dia juga menatapku.

Anehnya, wajahnya tidak terlihat menang.

Justru sedikit pucat.

Aku mengambil mikrofon dari tangan Arga.

“Rp480 juta bukan angka kecil.”

Senyum Arga membeku sepersekian detik.

Beberapa orang langsung diam.

Aku melanjutkan.

“Jadi semoga benar-benar digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat.”

Kemudian aku tersenyum.

“Selamat, Naila.”

Tepuk tangan terdengar.

Arga mengembuskan napas lega.

Tangannya melingkari pinggangku.

“Terima kasih,” bisiknya. “Aku tahu kamu paling mengerti aku.”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya menatap kamera di depan kami sambil tersenyum.

Foto-foto malam itu pasti bagus.

Tak seorang pun akan tahu bahwa saat kamera menangkap kami berdampingan, aku sedang menghitung sesuatu di kepala.

Rp620 juta milikku.

Rp480 juta untuk Naila.

Sisa Rp140 juta.

Di mana rumah kami?

Setelah turun dari panggung, Sinta langsung menarik lenganku ke lorong menuju toilet.

“Kamu mau bilang apa sebenarnya?”

“Tidak ada.”

“Laras!”

Suaranya nyaris meledak.

“Calon suamimu baru memberi hampir setengah miliar kepada perempuan lain di acara lamaran kalian!”

Aku bersandar ke dinding.

“Kalau aku melempar gelas tadi, uangku tetap tidak kembali.”

Sinta terdiam.

Aku membuka ponsel.

“Yang perlu aku tahu cuma satu.”

“Apa?”

“Rp620 juta itu sebenarnya ke mana.”

Sepanjang sisa acara, aku bertingkah normal.

Aku menyapa tamu.

Berfoto dengan keluarga.

Memotong kue.

Bahkan membantu ibu Arga membungkus beberapa kotak makanan.

Namun mataku beberapa kali bertemu dengan mata Naila.

Menjelang pukul sepuluh, dia berjalan mendekat.

“Laras.”

Arga saat itu sedang berbicara dengan pamannya.

Naila meremas tali tasnya.

“Aku cuma mau bilang… terima kasih.”

“Untuk?”

Wajahnya semakin canggung.

“Karena mengizinkan Arga membantu proyekku.”

Aku tersenyum tipis.

“Kapan aku mengizinkan?”

Naila membeku.

Sebelum dia sempat menjawab, Arga muncul.

“Naila.”

Suaranya cepat.

Terlalu cepat.

Dia berdiri di antara kami.

“Tim kamu sudah menunggu di bawah, kan?”

Naila menatap Arga.

Lalu menatapku.

Ada sesuatu di wajahnya yang berubah.

Tetapi dia akhirnya hanya mengangguk.

“Selamat atas lamarannya.”

Dia pergi.

Dalam perjalanan pulang, Arga berkali-kali membicarakan pusat tumbuh kembang milik Naila.

Aku hanya menjawab pendek.

Sesampainya di apartemen, dia mandi lalu tertidur hampir seketika.

Aku tidak tidur.

Pukul 01.17, aku membuka laptop.

Semua dokumen pembelian rumah selama ini disimpan Arga di folder cloud bersama.

Aku memasukkan kata kunci nama pengembang.

Tidak ada surat pemesanan final.

Tidak ada jadwal akad.

Yang ada hanya sebuah kuitansi booking fee Rp50 juta.

Dibayar lima bulan lalu.

Aku menatap layar.

Jadi dari Rp620 juta yang kuberikan, hanya Rp50 juta yang pernah sampai ke pengembang.

Jantungku mulai berdetak keras.

Aku mencari nama Naila.

Muncul tiga dokumen.

Dokumen pertama berupa proposal usaha bernama Ruang Bertumbuh.

Dokumen kedua adalah bukti transfer bertahap.

Rp120 juta.

Rp150 juta.

Rp90 juta.

Total Rp360 juta.

Semuanya berasal dari rekening Arga.

Tanggal transfer pertama hanya dua hari setelah aku mengirim Rp620 juta kepadanya.

Tanganku mulai dingin.

Lalu kubuka dokumen terakhir.

Judulnya:

PERSETUJUAN PENGGUNAAN DANA KELUARGA.

Di bawah nama Arga Pradipta tertulis namaku.

Laras Maheswari.

Nomor identitasku benar.

Alamatku benar.

Bahkan pekerjaan dan nama kampusku benar.

Kemudian mataku turun ke bagian paling bawah.

Di sana terdapat sebuah tanda tangan.

Tanda tanganku.

Sangat mirip.

Namun bukan milikku.

Aku memperbesar layar.

Di bawahnya terdapat kalimat:

“Pihak pasangan mengetahui serta menyetujui penggunaan dana sebesar Rp480.000.000 untuk penyertaan modal usaha.”

Aku menatap dokumen itu lama sekali.

Kemudian terdengar suara Arga dari kamar.

“Laras?”

Aku buru-buru menutup laptop.

Dia berdiri di pintu dengan mata setengah terbuka.

“Kok belum tidur?”

Aku menatap laki-laki yang baru beberapa jam lalu memasangkan cincin di jariku.

Lalu untuk pertama kalinya malam itu aku memahami sesuatu dengan sangat jelas.

Masalahku bukan Naila.

Masalahku adalah laki-laki yang tidur sekasur denganku telah memalsukan persetujuanku untuk mengambil uangku sendiri.

Dan dia masih mengira aku belum tahu apa-apa.

#DramaKeluarga #KisahPengkhianatan #CeritaIndonesia #HubunganToxic #KisahViral

Bagian 2 — Ketika Aku Menelusuri Bukti Transfer, Tanda Tanganku Muncul di Dokumen Palsu dan Naila Mengirim Satu Rekaman yang Membongkar Semuanya Malam Itu

“Cuma mengecek bahan kuliah.”

Aku menutup laptop.

Arga mengangguk dan kembali tidur.

Pagi harinya aku mengajar seperti biasa.

Tiga kelas.

Hampir dua ratus mahasiswa.

Tidak seorang pun tahu bahwa setiap kali ponselku bergetar, aku merasa seolah hidupku sedang retak sedikit demi sedikit.

Saat jam makan siang, aku mengirim satu pesan kepada Naila.

Kita perlu bicara tanpa Arga.

Balasannya datang tiga menit kemudian.

Aku juga ingin bicara denganmu.

Kami bertemu sore itu di sebuah kedai kopi dekat kampus.

Begitu duduk, aku meletakkan salinan dokumen di meja.

Wajah Naila langsung berubah.

“Kamu pernah melihat ini?”

Dia mengambil kertas tersebut.

Beberapa detik kemudian, tangannya ikut gemetar.

“Arga bilang kamu yang menandatangani.”

“Aku bahkan baru melihatnya tadi malam.”

Naila menutup mulut.

Aku tidak meninggikan suara.

“Uang Rp480 juta itu sebenarnya hibah?”

Dia menggeleng perlahan.

“Bukan.”

Dadaku terasa kosong.

“Lalu?”

“Investasi.”

Naila membuka tablet.

Arga akan memperoleh empat puluh persen kepemilikan Ruang Bertumbuh.

Jadi pidato tentang membantu sahabat lama tadi malam hanyalah setengah kebenaran.

Dia bukan dermawan.

Dia sedang membeli bagian bisnis memakai uangku.

Naila lalu mengatakan sesuatu yang lebih buruk.

“Aku pikir uang itu milik Arga.”

“Kenapa?”

“Karena dia bilang kalian punya keuangan masing-masing.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Justru karena rasanya terlalu memalukan.

Naila membuka percakapan mereka.

Di salah satu pesan, Arga menulis:

Laras tahu semuanya. Dia cuma tidak suka ikut urusan bisnis.

Pesan lain berbunyi:

Lamaran itu lebih untuk keluarga. Setelah menikah pun aku tetap bebas menentukan uangku sendiri.

Lalu Naila menatapku.

“Ada satu lagi.”

Dia memutar sebuah voice note.

Suara Arga memenuhi meja kecil kami.

“Kalau proyek ini berhasil, nanti baru kita pikirkan langkah berikutnya. Aku juga belum tahu pernikahan ini benar-benar akan jalan sampai mana. Keluargaku yang paling mendorong.”

Aku tidak bergerak.

Naila segera mematikan rekaman.

“Aku minta maaf.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya, aku sadar perempuan di depanku mungkin bukan lawanku.

Dia juga sedang dibohongi.

Malam itu juga aku menemui seorang advokat yang direkomendasikan Kak Sinta.

Aku membawa seluruh bukti.

Transfer Rp620 juta.

Percakapan Arga yang sebelumnya mengakui uang tersebut untuk pembayaran rumah.

Dokumen persetujuan palsu.

Bukti transaksi menuju usaha Naila.

Pengacara itu membaca semuanya hampir satu jam.

“Kita jangan membuat keributan dulu.”

Katanya tenang.

“Amankan uang yang masih bisa diamankan.”

Untungnya, dari Rp480 juta, sebagian belum digunakan.

Modal tersebut masih berada di rekening perusahaan karena proses pembukaan cabang belum selesai.

Naila setuju menghentikan seluruh transaksi.

Dia juga bersedia memberikan pernyataan tertulis bahwa dirinya tidak pernah melihatku menandatangani dokumen tersebut.

Sementara itu aku menghubungi pengembang.

Ternyata rumah yang kami pesan bahkan hampir dibatalkan karena Arga tidak pernah melunasi cicilan uang muka kedua.

Rp50 juta booking fee masih tercatat.

Sisanya?

Tidak pernah masuk.

Ketika aku pulang pukul sembilan malam, Arga sudah menunggu.

“Kamu bertemu Naila?”

Rupanya Naila sudah memberitahunya bahwa kerja sama dihentikan.

Aku meletakkan tas.

“Iya.”

Arga berdiri.

“Kenapa kamu ikut campur urusan bisnisku?”

Aku hampir tertawa.

“Bisnismu?”

“Laras, jangan mulai.”

Aku mengeluarkan dokumen palsu.

Kutaruh di meja makan.

Untuk pertama kalinya wajahnya benar-benar kehilangan warna.

“Kamu mau jelaskan tanda tangan ini?”

Dia diam.

“Arga.”

“Dengar dulu.”

“Aku sedang mendengarkan.”

Dia menarik napas.

“Aku cuma ingin semuanya lebih mudah.”

“Dengan memalsukan tanda tanganku?”

“Aku tahu kamu akhirnya akan setuju.”

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada pengakuan bersalah.

Karena menurut Arga, persetujuanku tidak penting.

Dia merasa cukup mengenalku untuk mengambil keputusan atas namaku.

“Aku tidak mencuri uangmu.”

“Rp620 juta yang kamu bilang untuk rumah, ke mana?”

“Nanti aku kembalikan.”

“Kapan?”

“Setelah bisnis Naila jalan.”

Aku akhirnya tertawa.

“Jadi rumah kita cuma ada kalau bisnis perempuan lain berhasil?”

Arga mengusap wajah.

“Kamu membuat ini terdengar buruk.”

“Aku tidak perlu membuat apa pun terdengar buruk. Kamu sudah mengerjakannya sendiri.”

Tiba-tiba pintu dibuka.

Ibu Arga masuk bersama ayahnya.

Rupanya Arga telah menelepon mereka.

Ibunya langsung berkata, “Laras, Tante tahu kamu marah, tapi jangan menghancurkan masa depan Arga cuma karena cemburu kepada Naila.”

Aku menatap perempuan itu.

Jadi begitulah narasinya.

Aku yang cemburu.

Bukan Arga yang memalsukan dokumen.

Aku yang merusak masa depan.

Bukan Arga yang mengambil uang.

Aku mengambil ponsel.

“Baik.”

Aku menekan layar.

“Ayo kita dengarkan orang yang masa depannya sedang saya rusak.”

Rekaman suara Arga terdengar memenuhi ruang makan.

Aku juga belum tahu pernikahan ini benar-benar akan jalan sampai mana. Keluargaku yang paling mendorong.

Tak seorang pun bicara.

Wajah ayah Arga berubah keras.

Namun rekamannya belum selesai.

Suara Arga kembali terdengar.

Kalau investasi ini berhasil, setidaknya aku punya sesuatu sendiri. Kalau akhirnya aku memilih hidup berbeda, aku tidak mulai dari nol.

Aku menghentikan rekaman.

Lalu kutatap cincin di jariku.

Aku melepasnya.

Meletakkannya tepat di atas dokumen palsu.

“Sekarang,” kataku pelan, “kita bisa bicara tentang siapa sebenarnya yang menghancurkan masa depan siapa.”

Bagian 3 — Arga Memohon Setelah Uangnya Dibekukan dan Kedua Keluarga Tahu Kebenaran, tetapi Aku Sudah Memilih Masa Depan yang Tidak Lagi Memuat Namanya

Malam itu pertunangan kami berakhir.

Tidak ada piring pecah.

Tidak ada tamparan.

Tidak ada teriakan.

Aku hanya meminta Arga meninggalkan apartemen yang kontraknya atas namaku.

Ayahnya tidak membela.

Sebelum pergi, beliau berdiri di depan pintu dan berkata kepadaku, “Om minta maaf. Om tidak tahu dia sejauh ini.”

Ibunya masih menangis.

Namun kali ini aku tidak lagi tertarik menjelaskan apa pun.

Dua hari kemudian, surat resmi dari pengacaraku dikirim.

Isinya sederhana.

Rp620 juta adalah dana milikku yang diberikan untuk tujuan pembelian rumah.

Penggunaan dana untuk tujuan lain tanpa persetujuanku harus dipertanggungjawabkan.

Dokumen dengan tanda tangan palsu juga dicantumkan.

Naila memenuhi janjinya.

Rp355 juta yang masih berada di rekening usaha dikembalikan.

Ditambah Rp50 juta dari pembatalan booking rumah setelah dipotong biaya administrasi.

Masih ada selisih lebih dari Rp200 juta.

Arga mencoba bernegosiasi.

Kemudian mencoba memohon.

Lalu marah.

Terakhir, dia menangis.

Suatu malam dia menungguku di area parkir kampus.

“Laras.”

Aku berjalan melewatinya.

Dia menahan diri agar tidak menyentuh lenganku.

“Aku jual mobil.”

Aku berhenti.

“Aku akan kembalikan semuanya.”

“Bagus.”

“Apa setelah itu kita bisa bicara lagi?”

“Tidak.”

Wajahnya langsung jatuh.

“Aku melakukan kesalahan.”

“Bukan satu.”

Aku menatapnya.

“Kamu berbohong soal rumah.”

“Kamu menggunakan uangku.”

“Kamu membuat dokumen palsu.”

“Kamu mengumumkan keputusan itu di depan keluarga supaya aku sulit menolak.”

“Dan kamu mengatakan kepada perempuan lain bahwa pernikahan kita mungkin tidak akan terjadi.”

Arga menunduk.

“Aku panik.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Kamu nyaman.”

Dia menatapku.

“Kamu nyaman karena selama ini setiap kali ada masalah, aku yang mengerti. Aku yang mengalah. Aku yang bilang tidak apa-apa.”

Aku menunjuk diriku sendiri.

“Sekarang aku sudah berhenti menjadi orang itu.”

Aku meninggalkannya di parkiran.

Tiga bulan kemudian, seluruh uangku akhirnya kembali.

Sebagian berasal dari penjualan mobil Arga.

Sebagian dari tabungannya.

Sisanya dia pinjam dari keluarganya.

Aku tidak peduli dari mana asalnya.

Begitu pembayaran terakhir masuk, pengacaraku mengirim surat penyelesaian.

Hubunganku dengan keluarga Arga selesai di sana.

Naila juga memutus kerja sama dengannya.

Dia tetap membuka Ruang Bertumbuh, tetapi dengan investor lain.

Beberapa minggu setelah semuanya berakhir, dia mengirimiku pesan.

Aku tidak tahu apa kita bisa disebut teman. Tapi aku benar-benar minta maaf.

Aku menjawab:

Kita sama-sama percaya pada orang yang salah. Semoga usahamu berhasil.

Setelah itu kami tidak pernah berbicara lagi.

Aku tidak membutuhkannya sebagai teman.

Tapi aku juga tidak membutuhkannya sebagai musuh.

Ada hal lain yang lebih penting.

Malam setelah acara lamaran itu, sebelum aku menemukan dokumen palsu, sebenarnya aku sempat membuka sebuah surel lama dari kepala program studiku.

Isinya tentang program visiting lecturer selama enam bulan di Singapura.

Dulu aku menolaknya.

Alasanku sederhana.

Aku sedang menyiapkan pernikahan.

Setelah pertunangan batal, aku mengirim satu surel.

Apakah kesempatan ini masih tersedia?

Ternyata masih.

Empat bulan kemudian aku berdiri di Bandara Soekarno-Hatta dengan satu koper besar, sebuah ransel, dan Ibu yang menangis lebih keras daripada ketika aku bertunangan.

Ayah memasukkan amplop ke tanganku.

“Apa ini?”

“Buat makan.”

Aku tertawa.

“Ayah, aku dapat tunjangan.”

“Kalau begitu buat makan yang enak.”

Enam bulan di luar Indonesia terasa seperti membuka jendela setelah bertahun-tahun tinggal di kamar yang sama.

Aku mengajar.

Menulis penelitian.

Bertemu banyak orang.

Pergi ke museum sendirian.

Makan malam sendirian.

Naik kereta sendirian.

Dan pelan-pelan aku sadar bahwa sendirian tidak sama dengan kesepian.

Setahun setelah acara lamaran itu, aku kembali ke Bandung.

Kampus memberiku posisi baru sebagai koordinator program internasional.

Aku juga membeli sebuah apartemen kecil.

Bukan mewah.

Dua kamar tidur.

Balkonnya sempit.

Dapurnya bahkan lebih kecil daripada dapur apartemen lamaku.

Tetapi uang mukanya kubayar sendiri.

Akadnya kutandatangani sendiri.

Dan hanya ada satu nama pada sertifikat kepemilikannya.

Namaku.

Hari pertama Ibu datang, dia berjalan dari ruang tamu ke balkon berkali-kali.

Kemudian dia menyalakan dan mematikan lampu.

Aku tertawa.

“Kenapa sih, Bu?”

Ibu menatapku.

“Dulu waktu kamu pulang dari acara lamaran itu, wajahmu seperti orang yang tidak punya rumah.”

Senyumku perlahan hilang.

Ibu menyalakan lampu ruang tamu sekali lagi.

“Sekarang lihat.”

Ruangan kecil itu langsung terang.

“Lampu ini milikmu.”

Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat mataku panas.

Aku pernah mengira Rp620 juta adalah harga sebuah rumah.

Ternyata bukan.

Harga paling mahal yang pernah kubayar adalah kepercayaan kepada seseorang yang merasa cintaku memberinya hak untuk mengambil keputusan atas hidupku.

Untungnya, aku masih bisa membeli kembali hidupku.

Bukan dengan uang.

Dengan keberanian untuk pergi sebelum terlambat.

Malam itu aku berdiri di balkon sambil melihat lampu-lampu Bandung menyala satu per satu.

Ponselku bergetar.

Pesan terakhir dari Arga muncul.

Selamat atas rumah barumu. Aku benar-benar menyesal kehilanganmu.

Aku membacanya sekali.

Tidak membalas.

Lalu kuhapus percakapan kami.

Aku masuk ke ruang tamu dan menutup pintu balkon.

Di belakangku, lampu rumahku tetap menyala.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tahu pasti:

Aku tidak kehilangan masa depan ketika meninggalkan Arga.

Aku justru mendapatkannya kembali.