Di Hari Pernikahan Putraku, Calon Menantu Mengubah Mahar di Menit Terakhir—Lalu Satu Pesan Suara Membongkar Alasan Sebenarnya di Depan Dua Ratus Tamu yang Menunggu dengan Tegang di Aula

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 4,668 tayangan
Indeks

Di Hari Pernikahan Putraku, Calon Menantu Mengubah Mahar di Menit Terakhir—Lalu Satu Pesan Suara Membongkar Alasan Sebenarnya di Depan Dua Ratus Tamu yang Menunggu dengan Tegang di Aula

Bagian 1 — Di Depan Meja Akad yang Sudah Siap, Nabila Menolak Keluar dari Ruang Rias Sebelum Satu Syarat Baru Dipenuhi oleh Kami

“Berapa?”

Aku menatap putraku, Arga, sambil memastikan bahwa telingaku tidak salah mendengar.

Arga berdiri di lorong menuju ruang rias pengantin perempuan. Jas krem yang sejak pagi sudah tiga kali ia rapikan kini tampak kusut di bagian bahu.

Wajahnya pucat.

“Bukan uang, Bu.”

Ia menelan ludah.

“Mereka minta sertifikat ruko Ibu.”

Untuk beberapa detik, aku tidak mampu menjawab.

Di ujung lorong, musik instrumental terus mengalun dari aula pernikahan.

Dua ratus lebih tamu sudah duduk.

Penghulu dari KUA sudah berada di meja akad.

Keluarga kami dari Klaten bahkan datang sejak pukul tujuh pagi.

Dan lima belas menit sebelum ijab kabul dimulai, calon menantuku tiba-tiba menolak keluar dari ruang rias karena ingin memiliki rukoku.

Namaku Sri Lestari.

Usiaku lima puluh tiga tahun.

Suamiku meninggal sebelas tahun lalu akibat serangan jantung. Sejak saat itu, aku membesarkan Arga sendirian sambil mengelola sebuah toko alat listrik dan satu ruko kecil di daerah Condongcatur, Sleman.

Ruko itulah yang sekarang mereka minta.

Nilainya sekitar Rp1,3 miliar.

Aku membelinya sedikit demi sedikit dari keuntungan toko, setelah bertahun-tahun bangun pukul empat pagi dan pulang hampir setiap malam setelah toko tutup.

Aku menatap Arga.

“Siapa yang minta?”

Arga mengusap wajahnya.

“Nabila.”

Aku langsung berjalan menuju ruang rias.

Pintu tertutup.

Di depannya berdiri dua sepupu Nabila dengan ekspresi canggung.

Saat melihatku, salah seorang dari mereka segera menunduk.

Aku mengetuk.

“Nabila, Tante boleh masuk?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengetuk lagi.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

Ibu Nabila, Bu Ratna, muncul dengan kebaya hijau tua dan sanggul tinggi yang penuh aksesori emas.

Ia tidak mempersilahkanku masuk.

“Sri, kita bicara di sini saja.”

Aku menatap melewati bahunya.

Nabila duduk di depan cermin.

Ia memang cantik hari itu.

Kebaya putih gading membungkus tubuhnya dengan sempurna. Riasannya lembut, rambutnya tertata rapi, dan veil panjang menjuntai hingga kursi.

Namun matanya menatap pantulan diriku di cermin tanpa sedikit pun senyum.

Aku menarik napas.

“Saya dengar ada perubahan soal mahar.”

Bu Ratna tersenyum tipis.

“Bukan perubahan mahar.”

“Lalu?”

“Jaminan.”

Aku hampir tertawa karena tidak percaya.

“Jaminan apa?”

Kini Nabila sendiri yang menjawab.

“Tante tahu kan saya meninggalkan pekerjaan setelah menikah nanti?”

Aku mengangguk.

Itu pun keputusan Nabila sendiri.

Ia bekerja sebagai staf administrasi sebuah klinik gigi. Tiga bulan lalu, ia mengatakan ingin berhenti sementara karena ingin fokus membangun rumah tangga.

Tidak pernah sekali pun kami memintanya berhenti.

Nabila melanjutkan dengan suara sangat tenang.

“Mama cuma ingin saya punya pegangan. Jadi sebelum akad, sertifikat ruko Tante dialihkan dulu ke nama saya.”

Aku memandangnya lama.

“Nabila, mahar kalian sudah disepakati sejak dua bulan lalu. Dua puluh lima gram emas dan uang tunai Rp25.525.000.”

“Iya.”

“Kami juga sudah menanggung sebagian besar biaya acara.”

“Iya.”

“DP rumah Arga juga saya bantu.”

Nabila tidak menjawab.

Aku menahan nada suaraku agar tetap rendah.

“Lalu dari mana tiba-tiba muncul permintaan sertifikat ruko?”

Bu Ratna menyilangkan tangan.

“Di keluarga kami, perempuan harus punya jaminan setelah menikah.”

Aku menoleh padanya.

“Kenapa baru disampaikan sekarang?”

“Karena kalau disampaikan jauh-jauh hari, pembahasannya bisa panjang.”

Jawaban itu begitu santai sampai dadaku terasa panas.

Aku akhirnya mengerti.

Mereka sengaja menunggu.

Mereka menunggu penghulu datang.

Menunggu tamu memenuhi aula.

Menunggu katering tersaji.

Menunggu keluarga besar kami duduk.

Menunggu hingga Arga mengenakan jas pengantin dan tidak punya banyak pilihan selain menuruti mereka.

Aku kembali memandang Nabila.

“Kalau sertifikat itu tidak diberikan?”

Nabila mengangkat wajah.

“Akadnya ditunda.”

Kata-kata itu keluar tanpa sedikit pun keraguan.

Dari luar terdengar seseorang memanggil Arga karena penghulu bertanya kapan acara dimulai.

Aku menutup mata sesaat.

Pagi tadi aku masih begitu bahagia.

Sejak pukul lima, aku sudah sibuk memastikan kotak mahar, cincin, dokumen KUA, konsumsi keluarga, hingga kendaraan para orang tua tertata dengan benar.

Bahkan ketika keluarga Nabila mendadak meminta tambahan enam meja tamu malam sebelumnya, aku tidak mengeluh.

Ketika dekorasi pilihan mereka membuat biaya naik hampir Rp18 juta, aku juga diam.

Ketika Bu Ratna mengatakan keluarga perempuan harus mendapatkan kamar hotel tambahan untuk delapan orang, aku membayarnya.

Hari bahagia anakku hanya terjadi sekali, pikirku.

Selama masih masuk akal, biarlah.

Tetapi memberikan aset senilai lebih dari satu miliar rupiah karena ditodong lima belas menit sebelum akad bukan lagi soal menjaga suasana.

Itu pemaksaan.

“Nabila,” kataku, “kalau memang kalian membutuhkan jaminan masa depan, kita bisa membahasnya setelah pernikahan. Bisa dibuat perjanjian secara hukum. Bisa duduk bersama notaris.”

Wajah Nabila berubah dingin.

“Kalau setelah menikah, posisi saya sudah beda.”

“Maksudmu?”

Ia menatapku melalui cermin.

“Sekarang Tante masih butuh saya keluar dari ruangan ini.”

Aku terdiam.

Kalimat itu pendek.

Namun justru itulah yang membuatku merasa lebih dingin daripada marah.

Bu Ratna buru-buru berkata, “Jangan dibuat seolah-olah Nabila mengancam. Kami cuma ingin kepastian.”

Aku mengangguk perlahan.

“Baik.”

Arga langsung memegang lenganku ketika aku keluar.

“Bu?”

Aku memintanya berjalan beberapa meter menjauh.

“Arga, kamu tahu soal permintaan ini sebelumnya?”

“Demi Allah, enggak.”

“Pernah menjanjikan ruko Ibu kepada Nabila?”

“Enggak pernah.”

“Pernah bilang ruko itu nanti akan jadi milikmu?”

Arga menggeleng cepat.

“Itu tabungan Ibu. Aku enggak pernah ngomong begitu.”

Aku melihat wajah anakku.

Ada rasa malu.

Ada panik.

Dan yang paling membuatku sakit, ada ketakutan kehilangan perempuan yang sebentar lagi seharusnya menjadi istrinya.

“Bu,” katanya pelan, “aku bicara lagi sama Nabila. Mungkin dia cuma tertekan sama mamanya.”

Aku tidak mencegahnya.

Arga masuk ke ruang rias.

Aku berjalan ke ujung lorong, duduk di kursi dekat pintu darurat, lalu membuka tas.

Di dalamnya ada map merah.

Aku memang membawa fotokopi sertifikat ruko karena setelah acara rencananya aku ingin bertemu adikku yang seorang notaris untuk membicarakan penyewaan bangunan itu.

Tangan kiriku sempat berhenti di atas map.

Bayangkan.

Kalau aku takut dipermalukan hari itu, mungkin hanya dengan satu tanda tangan semuanya bisa selesai.

Akad berlangsung.

Tamu bertepuk tangan.

Foto keluarga dibuat.

Semua orang pulang dengan senang.

Tetapi aku harus menyerahkan hasil kerja puluhan tahun kepada seorang perempuan yang menggunakan pernikahannya sendiri sebagai alat tawar.

Ponselku tiba-tiba bergetar.

Grup WhatsApp bernama “Koordinasi Akad Arga–Nabila” mendapat pesan baru.

Pengirimnya: Rani, adik sepupu Nabila.

Sebuah voice note berdurasi 37 detik.

Aku mengenakan earphone.

Lalu menekan tombol putar.

Suara pertama yang kudengar adalah suara Bu Ratna.

Jernih sekali.

“Pokoknya jangan keluar dulu sebelum ruko itu aman. Kalau sertifikat sudah atas nama Nabila, nanti baru kita urus pinjaman bank buat nutup utangnya. Arga gampang diarahkan. Yang susah itu ibunya. Makanya harus sekarang, waktu tamunya sudah penuh. Masa dia berani batalin nikahan anak tunggalnya?”

Kemudian terdengar suara perempuan lain tertawa.

“Kalau rukonya sudah dapat, utang Nabila yang sembilan puluh jutaan bisa beres semua, kan?”

Suara Bu Ratna kembali terdengar.

“Makanya jangan lembek.”

Aku tidak sadar kapan aku berdiri.

Beberapa detik kemudian voice note itu dihapus.

Terlambat.

Aku sudah mengunduhnya.

Aku menatap pintu ruang rias.

Jadi ini bukan soal tradisi.

Bukan jaminan perempuan.

Bukan harga diri keluarga.

Mereka ingin asetku untuk menutup utang yang bahkan tidak pernah diberitahukan kepada Arga.

Aku memasukkan ponsel ke tas.

Lalu berjalan menuju aula.

Di depan pintu, koordinator acara buru-buru menghampiriku.

“Bu Sri, penghulu sudah menunggu. Kita mulai lima menit lagi?”

Aku melihat meja akad.

Melihat keluarga kami.

Melihat kursi yang sudah dipenuhi tamu.

Lalu aku berkata pelan,

“Tidak.”

Wajahnya bingung.

Aku melanjutkan,

“Tolong matikan musiknya.”

“Bu?”

“Dan beri tahu penghulu…”

Aku menoleh ke arah lorong ketika Arga keluar dari ruang rias dengan wajah lebih pucat daripada sebelumnya.

“…akad hari ini tidak jadi.”

#DramaKeluarga #KisahPernikahan #CeritaIndonesia #KisahKehidupan #CeritaViral

Bagian 2 — Pesan Suara Tiga Puluh Tujuh Detik Membongkar Rencana Sebenarnya, dan Arga Akhirnya Mendengar Bagaimana Ibunya Hendak Diperas Setelah Menikah Nanti Malam

“IBU!”

Arga mengejarku sebelum aku sampai ke meja akad.

Tangannya menarik lenganku.

“Apa maksud Ibu tidak jadi?”

Aku tidak menjawab di sana.

Aku membawanya masuk ke ruang kecil di samping aula yang sejak pagi digunakan panitia menyimpan kotak suvenir.

Begitu pintu tertutup, aku menyerahkan earphone kepadanya.

“Dengar.”

Arga tampak bingung.

“Apa?”

“Dengar sampai selesai.”

Aku memutar rekaman.

Baru sepuluh detik, wajah Arga sudah berubah.

Pada detik kedua puluh, tangannya mulai gemetar.

Ketika rekaman selesai, ia tidak segera melepas earphone.

“Utang?”

Suaranya hampir seperti bisikan.

“Ibu juga baru tahu.”

“Sembilan puluh juta?”

Aku mengangguk.

Arga membuka ponselnya lalu mencoba menelepon Nabila.

Tidak diangkat.

Ia menelepon lagi.

Tetap tidak diangkat.

Untuk ketiga kalinya, panggilannya ditolak.

Saat itulah pintu terbuka keras.

Bu Ratna masuk bersama suaminya, Pak Hendra, dan dua kerabat mereka.

“Apa-apaan ini?” katanya. “Katanya acara dibatalkan?”

Aku berdiri.

“Betul.”

“Karena sertifikat?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Aku mengangkat ponsel.

“Karena saya akhirnya tahu untuk apa kalian menginginkannya.”

Wajah Bu Ratna berubah sepersekian detik.

Itu cukup.

Aku memutar voice note tersebut menggunakan speaker.

Ruangan menjadi sunyi.

Pak Hendra menatap istrinya.

“Apa ini, Ratna?”

Bu Ratna buru-buru menjawab, “Itu percakapan yang dipotong-potong.”

Aku hampir tersenyum.

“Pesannya baru dikirim tujuh menit lalu.”

“Nabila memang punya utang,” katanya cepat. “Tapi itu bukan kejahatan.”

Arga akhirnya bicara.

“Kenapa aku tidak tahu?”

Bu Ratna menatap calon menantunya sendiri.

“Karena setelah menikah kalian akan menjadi satu keluarga. Utang istri ya tanggung jawab suami.”

Arga seperti baru saja ditampar.

“Utang apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku bertanya lagi.

“Utang apa sampai perlu sertifikat ruko?”

Pak Hendra menoleh tajam kepada istrinya.

“Ratna?”

Perempuan itu akhirnya menghela napas kasar.

“Nabila sempat buka usaha skincare dengan temannya. Gagal. Ada pinjaman.”

“Berapa?” tanya Arga.

“Tidak sampai seratus juta.”

“Berapa?”

“Sekitar sembilan puluh enam.”

Arga mundur satu langkah.

Enam bulan sebelumnya, Nabila pernah mengatakan kepadanya bahwa tabungannya masih Rp70 juta.

Bahkan bulan lalu, ketika Arga menawarkan membayar biaya bulan madu seluruhnya, Nabila mengatakan uangnya ingin disimpan sebagai dana darurat.

Ternyata bukan memiliki dana darurat.

Ia memiliki utang.

Dan selama berbulan-bulan, seluruh keluarganya menyembunyikannya.

Belum sempat Arga berbicara, suara gaduh muncul dari lorong.

Nabila datang.

Ia masih mengenakan kebaya pengantin.

Veil-nya sudah dilepas.

“Aku bisa jelasin.”

Arga menatapnya.

“Jelaskan.”

“Aku takut kamu mundur kalau tahu.”

“Jadi kamu memilih menikah dulu, lalu menjadikan ruko Ibu jaminan?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Nabila mulai menangis.

Tetapi untuk pertama kalinya hari itu, tangisnya tidak membuat Arga mendekat.

“Aku cuma ingin masalahku selesai sebelum kita memulai rumah tangga.”

Arga tertawa pendek.

“Dengan mengambil aset ibuku?”

“Mama yang kasih ide!”

Bu Ratna langsung memotong.

“Nabila!”

Aku menatap mereka.

Baru lima menit yang lalu mereka berdiri sebagai satu kubu.

Sekarang, begitu rencana terbongkar, mereka mulai saling melempar kesalahan.

Nabila menunjuk ibunya.

“Mama bilang kalau minta sekarang Tante Sri pasti enggak berani nolak!”

Bu Ratna membalas keras.

“Kamu sendiri yang bilang tidak mungkin hidup dari gaji Arga kalau masih punya cicilan!”

“Karena Mama yang suruh aku ambil pinjaman waktu buka usaha!”

Pak Hendra menghantam meja kecil dengan telapak tangan.

“Cukup!”

Semua terdiam.

Dari aula terdengar suara tamu mulai berbisik-bisik.

Aku tahu kami tidak bisa menyembunyikan pembatalan terlalu lama.

Karena itu aku meminta wedding organizer mengumumkan bahwa akad ditunda karena “persoalan keluarga yang tidak dapat diselesaikan hari itu”.

Tidak ada detail.

Tidak ada penghinaan.

Aku bahkan meminta makanan tetap dibagikan kepada seluruh tamu.

Kalau semuanya sudah dibayar, setidaknya jangan ada makanan terbuang.

Penghulu berpamitan setelah memastikan keputusan berasal dari kedua pihak.

Saat itulah Bu Ratna mendekat kepadaku.

Wajahnya tidak lagi ramah.

“Sri, pikir baik-baik.”

“Saya sudah berpikir.”

“Kalau acara ini batal, keluarga saya dipermalukan.”

“Saya juga.”

“Orang akan bertanya.”

“Biarkan.”

Tatapannya mengeras.

“Kalau begitu semua biaya yang kami keluarkan harus diganti.”

Aku menatapnya.

“Biaya apa?”

“Rias, keluarga yang datang dari luar kota, baju, seserahan kami, fotografer tambahan. Minimal Rp120 juta.”

Aku benar-benar tidak percaya.

Mereka mencoba mengambil ruko.

Gagal.

Sekarang mereka meminta ganti rugi.

“Saya tidak akan membayar.”

Bu Ratna mendekat hingga hanya satu langkah dariku.

“Kalau begitu jangan salahkan kami kalau cerita yang keluar berbeda.”

“Maksud Ibu?”

“Kami bisa bilang keluarga kalian membatalkan akad karena mahar tidak sanggup.”

Aku belum sempat menjawab ketika Nabila berkata dari belakang,

“Mama punya foto chat Arga soal uang. Bisa dibuat seolah-olah dia memang tidak siap menikah.”

Arga mengangkat kepala.

“Dibuat seolah-olah?”

Nabila seketika diam.

Salah bicara.

Terlambat lagi.

Arga mengeluarkan ponselnya.

“Jadi sekarang kalian mau memfitnah kami?”

Bu Ratna mengambil tasnya.

“Saya kasih waktu sampai besok sore. Ganti biaya kami, atau kami bicara ke semua orang.”

Mereka keluar.

Nabila ikut bersama mereka.

Sebelum pintu tertutup, ia sempat menatap Arga.

“Kalau kamu masih mau selamatkan hubungan ini, datang ke rumahku malam ini.”

Arga tidak menjawab.

Malam itu rumah kami sunyi.

Tidak ada pesta.

Tidak ada foto pengantin.

Tidak ada pasangan baru membuka hadiah.

Hanya aku dan anakku duduk di meja makan dengan dua cangkir teh yang sudah dingin.

Pukul 22.14, ponsel Arga berbunyi.

Pesan dari nomor tak dikenal.

Isinya foto sebuah lembar tagihan.

Lalu foto kedua.

Ketiga.

Keempat.

Di bawahnya hanya ada satu kalimat:

“Mas Arga, saya teman lama Nabila. Sebelum Mas mengambil keputusan apa pun, tolong cek sendiri. Utangnya bukan Rp96 juta.”

Arga memperbesar foto terakhir.

Aku ikut melihat.

Total kewajiban yang tercatat di sana membuat tenggorokanku mengering.

Rp238.740.000.

Dan beberapa pinjaman ternyata dibuat hanya dua bulan sebelum tanggal pernikahan kami ditentukan.

Bagian 3 — Ketika Keluarga Nabila Menuntut Ganti Rugi dan Mengancam Membuka Aib, Kami Membawa Bukti yang Membuat Tuduhan Mereka Berbalik Arah di Depan Keluarga Besar

Keesokan paginya, Arga tidak pergi ke rumah Nabila.

Ia pergi ke bank.

Setelah itu ia menemui seorang teman kuliahnya yang bekerja di bidang hukum, lalu meminta bantuan memeriksa seluruh bukti yang masuk.

Kami tidak menyebarkan apa pun.

Tidak membuat unggahan.

Tidak membalas sindiran keluarga Nabila di media sosial.

Kami hanya mengumpulkan bukti.

Sore harinya, cerita mulai beredar.

Versi mereka persis seperti ancaman Bu Ratna.

“Keluarga laki-laki membatalkan pernikahan karena tidak sanggup memenuhi mahar.”

Beberapa orang bahkan menulis bahwa aku ibu mertua pelit yang terlalu ikut campur rumah tangga anak.

Arga membacanya tanpa bicara.

Aku mengambil ponsel dari tangannya.

“Jangan jawab dalam keadaan marah.”

“Tapi mereka bohong, Bu.”

“Kebenaran tidak akan lari.”

Tiga hari kemudian, keluarga Nabila meminta pertemuan.

Bukan di rumah mereka.

Mereka memilih rumah Pak Daryono, paman tertua Nabila yang selama ini dianggap sesepuh keluarga.

Aku datang bersama Arga, adikku, dan seorang kerabat yang memahami masalah hukum.

Bu Ratna langsung mengeluarkan daftar biaya.

Total tuntutan mereka Rp127 juta.

Aku bahkan tidak menyentuh kertas itu.

“Sebelum membahas uang, saya ingin meluruskan alasan akad dibatalkan.”

Bu Ratna mendengus.

“Kami semua sudah tahu.”

“Belum.”

Aku meletakkan ponsel di meja.

Lalu memutar voice note 37 detik itu.

Ruangan langsung sunyi.

Wajah Pak Daryono berubah.

Setelah rekaman selesai, Arga mengeluarkan beberapa lembar cetakan.

“Ini bukti utang yang baru saya ketahui setelah pernikahan dibatalkan.”

Nabila yang sejak tadi duduk di samping ayahnya langsung berkata,

“Itu urusan pribadi saya.”

Arga menatapnya.

“Kalau pribadi, kenapa ruko ibu saya harus digunakan untuk melunasinya?”

Nabila terdiam.

Kami tidak menuduh semua utang itu ilegal.

Tidak perlu.

Masalahnya bukan seseorang pernah gagal berbisnis.

Orang bisa rugi.

Orang bisa terlilit cicilan.

Orang bisa salah mengambil keputusan.

Yang tidak bisa diterima adalah menyembunyikannya dari calon pasangan, lalu menggunakan tekanan pada hari pernikahan untuk memperoleh aset keluarganya.

Kemudian Arga memperlihatkan percakapannya dengan Nabila selama enam bulan terakhir.

Dalam beberapa chat, Nabila berkali-kali mengatakan tidak mempunyai tanggungan besar.

Bahkan pernah menulis:

“Aku enggak mau mulai pernikahan dengan rahasia soal uang.”

Kalimat itu membuat beberapa kerabat Nabila saling pandang.

Pak Daryono akhirnya bertanya,

“Ratna, kamu tahu semua utang ini?”

Bu Ratna menjawab pelan.

“Tahu sebagian.”

“Dan kamu memang berniat meminta sertifikat ruko?”

Ia tidak menjawab.

“Jawab.”

“Iya.”

“Kenapa tidak dibicarakan sebelum hari akad?”

Bu Ratna mulai menangis.

“Kami takut mereka menolak.”

Pak Daryono menggeleng.

“Kalau sesuatu harus disembunyikan karena takut ditolak, berarti kamu sendiri tahu itu bukan kesepakatan.”

Tidak ada lagi yang bisa mereka katakan.

Soal tuntutan Rp127 juta juga selesai lebih cepat daripada dugaan kami.

Sebagian besar pengeluaran merupakan pilihan keluarga Nabila sendiri.

Sedangkan biaya gedung, katering, dekorasi utama, dokumentasi, dan administrasi justru sebagian besar sudah kami bayar.

Aku tidak meminta mereka mengganti satu rupiah pun.

“Apa yang sudah kami keluarkan untuk acara, biarlah,” kataku. “Saya tidak ingin memperpanjang masalah. Tapi jangan minta kami membayar sesuatu yang bukan tanggung jawab kami.”

Lalu aku menatap Bu Ratna.

“Dan hentikan cerita bahwa akad batal karena kami tidak mampu membayar mahar.”

Pak Daryono langsung berkata,

“Saya yang akan bicara kepada keluarga.”

Nabila tiba-tiba berdiri.

Matanya merah.

Ia melihat Arga.

“Jadi benar-benar selesai?”

Arga diam beberapa detik.

Aku tidak ikut menjawab.

Itu keputusan anakku.

Akhirnya Arga berkata,

“Kalau kamu jujur soal utang sejak awal, mungkin kita masih bisa mencari jalan.”

Nabila mulai menangis.

“Aku takut.”

“Aku bisa memahami takut.”

Suara Arga serak.

“Tapi kamu bukan cuma berbohong. Kamu ikut membuat situasi di mana ibuku dipaksa menyerahkan asetnya karena kalian yakin dia malu membatalkan acara.”

Nabila menunduk.

“Aku salah.”

“Iya.”

“Aku bisa berubah.”

Arga mengangguk kecil.

“Aku harap begitu.”

Nabila menatapnya penuh harap.

Namun Arga melanjutkan,

“Tapi bukan sebagai istriku.”

Hari itu hubungan mereka benar-benar berakhir.

Tidak ada pernikahan yang ditunda.

Tidak ada rencana akad ulang.

Tidak ada syarat tambahan.

Selesai.

Enam bulan berikutnya tidak mudah bagi Arga.

Ia pernah menyalahkan dirinya sendiri karena merasa seharusnya mampu melihat tanda-tanda sejak awal.

Aku tidak pernah mengatakan, “Ibu sudah bilang.”

Aku hanya membiarkannya pulih.

Sementara itu aku menyewakan ruko yang hampir saja berpindah tangan pada hari pernikahan tersebut.

Penyewanya adalah pasangan muda yang membuka toko perlengkapan bayi.

Dari uang sewa itu, aku memperbaiki toko lamaku dan mulai mengurangi jam kerja.

Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, aku bisa pulang sebelum matahari terbenam.

Setahun kemudian Arga mendapat promosi di kantornya.

Ia mulai tersenyum lebih sering.

Mulai kembali berkumpul dengan teman-temannya.

Dan yang paling membuatku lega, ia tidak menjadi pahit karena pengalaman itu.

Dua tahun setelah akad yang batal tersebut, Arga mengenalkan seorang perempuan bernama Maya.

Ia guru sekolah dasar.

Pertemuan pertama kami bahkan tidak membahas pernikahan.

Kami makan soto di warung dekat rumah.

Maya membayar es tehnya sendiri karena Arga lupa membawa uang kecil.

Aku langsung tertawa.

Beberapa bulan kemudian, ketika hubungan mereka serius, justru Maya yang mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

“Bu Sri, kalau nanti kami menikah, soal uang dan aset harus dibicarakan terbuka sebelum hari H. Jangan sampai ada kejutan.”

Aku menatap Arga.

Ia tersenyum.

Akad mereka berlangsung sederhana.

Tidak di ballroom.

Tidak ada ratusan tamu.

Hanya keluarga, beberapa sahabat, dan meja akad di aula kecil dekat rumah Maya.

Mahar disepakati jauh-jauh hari.

Tidak berubah satu rupiah pun.

Lima menit sebelum akad, aku sempat melihat Arga berdiri sendirian di halaman.

Aku menghampirinya.

“Gugup?”

Ia mengangguk.

Lalu tertawa.

“Sedikit.”

Aku merapikan kerah bajunya seperti ketika ia masih kecil.

Tiba-tiba Arga memegang tanganku.

“Bu.”

“Hmm?”

“Terima kasih waktu itu Ibu berani membatalkan semuanya.”

Aku diam.

“Kalau Ibu waktu itu malu sama tamu dan menyerah, mungkin hidup kita sekarang beda.”

Aku menepuk tangannya.

“Hari itu Ibu memang kehilangan pesta.”

Aku melihat Maya keluar bersama keluarganya.

Wajahnya tenang.

Tidak ada pintu yang dikunci.

Tidak ada syarat mendadak.

Tidak ada ancaman.

“Tapi untungnya,” kataku, “kita tidak kehilangan masa depan.”

Beberapa menit kemudian, Arga mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas.

Sah.

Semua orang mengucapkan syukur.

Aku ikut bertepuk tangan sambil menahan air mata.

Dan saat itulah aku akhirnya mengerti satu hal.

Membatalkan sebuah pernikahan memang bisa membuat kita malu selama beberapa hari.

Tetapi memaksakan pernikahan yang dibangun di atas kebohongan bisa membuat seseorang menyesal bertahun-tahun.

Hari itu, dua tahun lalu, aku bukan menghancurkan pernikahan anakku.

Aku menyelamatkannya sebelum semuanya terlambat.

#DramaKeluarga #KisahPernikahan #CeritaIndonesia #KisahKehidupan #CeritaViral