Pada Hari Ibuku Dimakamkan, Suamiku Melarang Putra Kami Pulang; Tujuh Hari Kemudian Aku Menemukan Perempuan Hamil Memakai Gelang Warisan Keluarganya sambil Dipanggil Calon Ibu Baru

Avatar penulis
Cerita 03
17 menit baca 741 tayangan
Pada Hari Ibuku Dimakamkan, Suamiku Melarang Putra Kami Pulang; Tujuh Hari Kemudian Aku Menemukan Perempuan Hamil Memakai Gelang Warisan Keluarganya sambil Dipanggil Calon Ibu Baru
Indeks

Pada Hari Ibuku Dimakamkan, Suamiku Melarang Putra Kami Pulang; Tujuh Hari Kemudian Aku Menemukan Perempuan Hamil Memakai Gelang Warisan Keluarganya sambil Dipanggil Calon Ibu Baru

Bagian 1 — Saat Aku Pulang Menguburkan Ibu Sendirian, Putraku Menyambut dengan Kabar Bahwa Neneknya Sudah Memilihkan Seorang Ibu Baru di Rumah Kami

“Faris tidak ikut ke Yogyakarta.”

Aku berhenti memasukkan pakaian hitam ke dalam koper.

Di ruang keluarga rumah kami di Jakarta Selatan, Bu Ratih—ibu mertuaku—berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wajahnya tenang, seolah yang baru saja dia larang bukan seorang cucu menghadiri pemakaman neneknya sendiri.

Di sampingnya berdiri suamiku, Raka.

Dia bahkan tidak berani menatapku.

Aku menggenggam ponsel begitu kuat sampai jemariku sakit.

Dua puluh menit sebelumnya, Tante Wening menelepon dari Bantul.

Ibuku meninggal.

Tiga bulan terakhir beliau keluar-masuk rumah sakit karena komplikasi diabetes. Aku sudah beberapa kali meminta Raka menemaniku pulang, tetapi selalu ada alasan.

Rapat.

Klien.

Presentasi.

Perjalanan dinas.

Sekarang bahkan setelah Ibu meninggal, aku masih harus berdebat hanya untuk membawa cucunya pulang.

“Faris cucu Ibu,” kataku. “Dia enam tahun. Selama ini setiap menelepon, hal pertama yang Ibu tanyakan selalu Faris.”

Bu Ratih menghela napas.

“Justru karena dia masih kecil, jangan dibawa ke rumah duka. Di keluarga kami ada pantangan. Anak laki-laki pertama tidak boleh masuk rumah yang sedang berkabung sebelum tujuh hari.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Pantangan siapa?”

“Sudah dari orang tua dulu.”

Aku menoleh kepada Raka.

“Dan kamu percaya itu?”

Raka akhirnya mengangkat wajah.

“Dira, jangan mulai.”

Aku hampir tertawa.

“Mulai apa?”

“Aku baru kehilangan ibu.”

Suaraku mulai bergetar.

“Aku tidak meminta pesta. Aku tidak meminta siapa-siapa mengeluarkan uang. Aku cuma mau membawa anakku supaya dia bisa melihat neneknya untuk terakhir kali.”

Bu Ratih langsung menyela.

“Anakmu?”

Nada suaranya meninggi.

“Faris juga cucu keluarga Pratama.”

Aku menatap perempuan itu lama.

Empat tahun lalu, ketika ayah Raka meninggal di Semarang, aku sedang demam tinggi.

Aku tetap ikut.

Aku menggendong Faris yang waktu itu baru dua tahun, membantu menerima tamu, menyiapkan makanan untuk keluarga, ikut pengajian, bahkan tidur hanya tiga jam semalam.

Tak sekalipun aku mengatakan rumah duka membawa sial.

Sekarang ibuku meninggal, mereka tiba-tiba memiliki aturan.

Aku menatap suamiku.

“Raka. Pilih.”

Dia terdiam.

“Antar aku dan Faris ke Yogyakarta, atau setidaknya izinkan aku membawanya sendiri.”

Bu Ratih menatap putranya.

Hanya satu tatapan.

Raka langsung mengambil jaket Faris dari tanganku dan meletakkannya kembali di sofa.

“Dira, kamu pulang saja dulu.”

Dadaku terasa kosong.

“Apa?”

“Hanya tujuh hari.”

Dia berbicara pelan.

“Faris tinggal di sini. Aku jaga.”

Aku menatap lelaki yang sudah delapan tahun tidur di sampingku.

Lelaki yang dulu menangis ketika melamar.

Lelaki yang berjanji akan menganggap ibuku sebagai ibunya sendiri.

Tiba-tiba aku merasa tidak mengenalnya.

Aku menarik koper.

“Baik.”

Raka terlihat lega.

Mungkin dia mengira pertengkaran selesai.

Sebelum keluar, aku berhenti di depan Bu Ratih.

“Semoga suatu hari nanti, ketika Ibu kehilangan orang yang paling Ibu sayangi, tidak ada yang memperlakukan Ibu seperti ini.”

Wajahnya langsung berubah.

Tetapi aku sudah menutup pintu.

Aku pulang ke Bantul sendirian.

Ibu disemayamkan di rumah tua yang juga menjadi tempat usaha batik kecil miliknya selama hampir tiga puluh tahun.

Ketika melihat wajahnya untuk terakhir kali, kakiku langsung lemas.

Tante Wening memelukku.

Aku menangis sampai hampir tidak bisa bernapas.

Di atas meja dekat foto Ibu terdapat satu foto Faris memakai seragam TK.

Di belakang foto itu ada tulisan tangan Ibu.

“Cucu Eyang paling ganteng.”

Aku menangis lagi.

Saat pemakaman, aku berdiri di depan liang lahat dengan kedua tangan kosong.

Tidak ada suami.

Tidak ada anak.

Hanya kerabat, tetangga, dan beberapa karyawan lama Ibu.

Malam setelah pemakaman, Tante Wening duduk di sampingku.

“Nadira.”

“Ya, Tante?”

“Ibumu beberapa hari sebelum meninggal sempat bilang sesuatu.”

Aku menoleh.

Tante Wening terlihat ragu.

“Dia bilang, kalau terjadi sesuatu padanya, jangan biarkan Raka menyentuh dokumen rumah ini.”

Aku membeku.

“Raka?”

Tante Wening baru mau menjelaskan ketika beberapa tamu datang untuk tahlilan.

Pembicaraan terputus.

Selama tujuh hari di Yogyakarta, Raka hanya menelepon dua kali.

Telepon pertama berlangsung kurang dari empat menit.

Katanya sedang sibuk mengejar target kantor.

Telepon kedua terjadi pada malam keenam.

Saat berbicara, aku mendengar suara perempuan tertawa di belakangnya.

Aku langsung bertanya.

“Itu siapa?”

Sunyi beberapa detik.

“Siapa apanya?”

“Perempuan yang tertawa.”

“Oh.”

Raka terdengar gugup.

“Maya. Teman kuliah. Dia sama tim lagi membahas proyek.”

“Di rumah?”

“Bukan. Di kafe.”

Aku percaya.

Atau mungkin saat itu aku terlalu lelah untuk curiga.

Hari ketujuh, aku memutuskan kembali ke Jakarta lebih cepat tanpa memberi tahu siapa pun.

Aku hanya ingin memeluk Faris.

Pukul lima lewat sedikit, taksi berhenti di depan rumah.

Aku membuka pintu memakai sidik jari.

Hal pertama yang kulihat adalah sepasang sandal perempuan berwarna krem.

Bukan milikku.

Dari ruang makan terdengar suara Bu Ratih tertawa.

Lalu suara Raka.

Dan satu suara perempuan.

Aku berjalan perlahan.

Di meja makan ada empat orang.

Bu Ratih.

Raka.

Faris.

Dan seorang perempuan berambut panjang memakai blus putih yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Dia sedang menuangkan sup ke mangkuk Raka.

Yang membuatku berhenti bukan itu.

Di pergelangan tangannya ada gelang emas dengan batu hijau kecil.

Aku mengenal gelang itu.

Bu Ratih pernah menunjukkannya kepadaku setelah aku melahirkan Faris.

Katanya gelang tersebut diwariskan kepada menantu perempuan yang dianggap mampu meneruskan keluarga Pratama.

Selama delapan tahun menikah, aku tak pernah diizinkan memakainya.

Sekarang gelang itu ada di tangan perempuan lain.

“Mama!”

Faris berlari menghampiriku.

Aku langsung berjongkok dan memeluknya.

Tubuh kecil itu terasa hangat.

Aku mencium rambutnya berkali-kali.

“Kamu kangen Mama?”

“Kangen.”

Dia tersenyum lebar.

Lalu dengan polos berbisik,

“Mama, Tante Maya tinggal di sini tiga malam.”

Tubuhku menegang.

“Menginap?”

Faris mengangguk.

“Nenek bilang Tante Maya nanti akan sering di sini.”

Aku berdiri perlahan.

Perempuan itu ikut berdiri.

“Nadira…”

Jadi dia mengenalku.

“Nama saya Maya,” katanya gugup. “Maya Anindita. Saya teman lama Raka.”

Aku melihat mangkuk, sandal, tas tangannya di sofa, lalu gelang di tangannya.

“Teman lama biasanya tidur tiga malam di rumah teman yang istrinya sedang menguburkan ibunya?”

Raka langsung berdiri.

“Dira, jangan bicara sembarangan di depan Faris.”

Aku tertawa kecil.

“Yang sembarangan saya?”

Bu Ratih mengetukkan sendok ke meja.

“Jangan bikin keributan. Baru pulang dari rumah duka seharusnya kamu menenangkan pikiran.”

Aku memandangnya.

“Ibu memakai kematian ibu saya untuk melarang Faris pulang.”

Lalu kutunjuk Maya.

“Tapi selama saya menguburkan Ibu, perempuan ini tidur di rumah saya?”

Bu Ratih tidak terlihat malu.

Sebaliknya, dia berkata tenang,

“Sekalian saja kita bicara sekarang.”

Maya menunduk.

Raka menutup mata sebentar.

Dan kalimat berikutnya membuat telingaku berdenging.

“Maya sedang hamil.”

Aku menatapnya.

Lalu Raka.

“Berapa bulan?”

Tak ada jawaban.

Maya akhirnya berbisik,

“Hampir tiga bulan.”

Aku merasa seperti seseorang baru saja mengosongkan seluruh udara dari ruangan.

“Anak siapa?”

“Dira…”

Raka maju.

Aku mundur.

“Jangan sentuh saya.”

Bu Ratih malah bersandar tenang.

“Kamu tidak perlu membuat drama. Yang terjadi sudah terjadi.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Dia melanjutkan,

“Faris memang cucu pertama kami. Tapi keluarga ini perlu lebih dari satu penerus.”

Aku menggigit bibir sampai terasa asin.

“Ibu saya baru tujuh hari meninggal.”

Bu Ratih menjawab tanpa berkedip.

“Orang meninggal tidak bisa menghentikan kehidupan orang yang masih hidup.”

Saat itu ponselku bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Tiga foto masuk.

Foto pertama menunjukkan Raka masuk ke kamar rawat Ibu di rumah sakit Yogyakarta.

Tanggalnya lima hari sebelum Ibu meninggal.

Foto kedua memperlihatkan dia keluar sekitar empat puluh menit kemudian.

Di tangannya ada map cokelat.

Foto ketiga memperlihatkan jelas tulisan pada map tersebut.

DOKUMEN TANAH.

Di bawah foto ada pesan.

“Bu Nadira, saya mantan pegawai administrasi Ibu Sulastri. Ibu Anda meminta saya menyimpan foto ini. Setelah kunjungan suami Anda, beliau sadar beberapa dokumen pribadinya hilang.”

Tanganku mulai dingin.

Aku mengangkat layar.

“Raka.”

Dia melihat foto itu.

Dalam satu detik wajahnya berubah.

“Dari mana kamu dapat itu?”

Bukan, “Kenapa ada foto seperti ini?”

Bukan, “Aku bisa jelaskan.”

Pertanyaan pertamanya justru:

Dari mana kamu dapat itu?

Aku belum sempat menjawab ketika bel rumah berbunyi.

Aku membuka pintu.

Tante Wening berdiri di sana, masih mengenakan kerudung perjalanan.

Di tangannya ada kotak kayu jati berukuran sebesar kotak sepatu.

“Nadira.”

Napasnya masih tersengal.

“Ibumu titip ini.”

Raka muncul di belakangku.

Ketika melihat kotak itu, dia langsung pucat.

“Jangan dibuka.”

Semua orang terdiam.

Aku menoleh.

Raka mengulangi, lebih keras.

“Dira, jangan buka kotak itu!”

Tante Wening langsung memeluk kotak tersebut erat-erat.

“Ibumu bilang, kalau setelah beliau meninggal ada perempuan bernama Maya berada di rumahmu…”

Matanya bergeser ke Maya.

“…kotak ini harus sampai ke tanganmu sebelum mereka sempat meminta tanda tangan apa pun.”

Bu Ratih berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

“Nadira, cukup!”

Aku memasukkan kunci kecil yang ditempel di bawah kotak.

Klik.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen, sebuah flashdisk, dan salinan surat berstempel notaris.

Aku mengambil lembar paling atas.

Judulnya:

SURAT KUASA PENJUALAN TANAH DAN BANGUNAN.

Nama pemberi kuasa: Sulastri Handayani.

Nama penerima kuasa: Raka Pratama.

Nilai transaksi: Rp1,45 miliar.

Padahal rumah dan workshop Ibu pernah ditawar lebih dari Rp5 miliar.

Tanganku bergetar saat melihat tanggalnya.

Surat itu dibuat dua hari setelah Ibu kehilangan kesadaran di ICU.

Dan di halaman terakhir…

ada tanda tangan ibuku.

Bu Ratih tiba-tiba berteriak:

“Jangan baca halaman berikutnya!”

Aku membalik kertas.

Di sana tercantum nama calon pembeli.

PT Arunika Properti.

Direkturnya adalah ayah Maya.


Bagian 2 — Kotak Kayu Peninggalan Ibu Membuka Bukti bahwa Suamiku Bukan Cuma Berselingkuh, tetapi Juga Mengincar Rumah Warisan Milik Keluargaku sejak Lama

Ruangan mendadak sunyi.

Aku menatap nama perusahaan itu berulang kali.

PT Arunika Properti.

Aku pernah mendengarnya.

Maya pernah muncul di unggahan media sosial perusahaan tersebut bersama ayahnya saat peresmian proyek vila di Bogor.

Aku mengangkat surat itu.

“Jadi ini kebetulan?”

Maya langsung menggeleng.

“Saya tidak tahu soal surat itu.”

“Benarkah?”

Aku menunjuk namanya.

“Perusahaan ayahmu membeli rumah ibu saya seperempat harga pasar, melalui surat kuasa yang dibuat saat ibu saya tidak sadar?”

Raka maju.

“Dira, dengar dulu.”

Aku menatapnya.

“Kamu datang ke rumah sakit tanpa memberi tahu saya.”

“Aku cuma menjenguk Ibu.”

“Lalu keluar membawa dokumen tanah?”

Dia terdiam.

Tante Wening mengambil satu amplop dari kotak.

“Buka ini.”

Di dalamnya ada bukti transfer.

Rp300 juta.

Dari rekening PT Arunika Properti ke sebuah rekening milik Raka.

Keterangan:

Uang muka pengalihan aset Bantul.

Transfer dilakukan empat hari sebelum Ibu meninggal.

Aku menunjukkan bukti itu ke wajah Raka.

“Ini juga karena menjenguk?”

Bu Ratih akhirnya angkat bicara.

“Uang itu untuk menyelamatkan usaha Raka.”

Aku menoleh perlahan.

Jadi dia tahu.

Wajahnya memang tegang, tetapi tidak terkejut.

“Berapa lama Ibu tahu?”

Bu Ratih membuang pandangan.

“Raka sedang kesulitan.”

“Berapa lama?”

“Jangan membentak orang tua!”

Aku tertawa pendek.

“Orang tua?”

“Ibu saya bahkan belum dingin di tanah ketika Ibu membantu anak Ibu menjual rumahnya.”

Raka berusaha mengambil dokumen itu.

Aku mundur.

“Jangan sentuh.”

Maya mulai menangis.

“Saya benar-benar tidak tahu Raka mengambil dokumen tanpa izin.”

Aku menatap gelang di tangannya.

“Tidak tahu soal rumah, tapi cukup tahu untuk tinggal di rumah saya ketika saya sedang berduka?”

Dia terdiam.

Aku mengambil flashdisk dari kotak.

Tante Wening berkata,

“Ibumu merekam percakapan terakhir mereka.”

Raka langsung bergerak.

Aku lebih cepat menyerahkan flashdisk kepada Tante Wening.

Dia memasangnya ke laptop.

Suara rekaman terdengar.

Suara Raka.

“Bu, cukup tanda tangan saja. Nanti urusan lain saya yang selesaikan.”

Lalu suara Ibu.

Lemah.

Tetapi jelas.

“Rumah itu bukan milikmu.”

Raka dalam rekaman terdengar menarik napas.

“Saya suami Nadira.”

“Justru itu masalahnya.”

Suara Ibu berhenti beberapa detik.

“Nadira terlalu percaya kepadamu.”

Tak seorang pun di ruang makan bergerak.

Rekaman berlanjut.

Ibu berkata,

“Kamu datang dua kali meminta sertifikat. Pertama kamu bilang untuk urusan pajak. Kedua kamu bilang Nadira sudah setuju menjual.”

Suara Raka meninggi.

“Kalau rumah ini dijual, semua orang untung.”

“Termasuk perempuan yang kamu hamili?”

Maya menutup mulut.

Bu Ratih langsung terduduk.

Aku merasa jantungku berhenti.

Ibu sudah tahu.

Sebelum meninggal, Ibu tahu suamiku berselingkuh.

Dan aku bahkan tidak sempat mendengar langsung darinya.

Dalam rekaman, Raka terdengar panik.

“Jangan bilang Dira.”

Ibu menjawab,

“Saya akan bilang sendiri.”

Lalu terdengar bunyi pintu.

Rekaman berhenti.

Aku tidak menangis.

Anehnya, setelah semua itu, air mataku justru hilang.

Tante Wening mengeluarkan dokumen terakhir.

“Ini yang paling penting.”

Sebuah surat dari kantor PPAT di Yogyakarta.

Ibu ternyata sudah memindahkan dokumen asli rumah dan workshop ke tempat penyimpanan resmi setelah mulai curiga kepada Raka.

Map yang dibawa Raka dari rumah sakit hanya berisi fotokopi, salinan KTP lama, dan beberapa dokumen administratif.

Dia tidak pernah mendapatkan sertifikat aslinya.

Lebih dari itu, Ibu sudah membuat laporan tertulis mengenai dugaan pemalsuan tanda tangan dan penyalahgunaan dokumen.

Saksi dan rekaman sudah disiapkan.

Aku memandang Raka.

“Kamu tidak berhasil menjual rumah itu.”

Raka mengusap wajah.

“Aku berniat mengembalikan uangnya.”

“Setelah apa?”

“Setelah proyekku cair.”

Aku menunjuk Maya.

“Dan dia?”

Tak ada jawaban.

Bu Ratih akhirnya berdiri.

“Sudahlah. Yang penting rumah itu belum benar-benar terjual.”

Aku menatapnya.

Sampai detik itu, perempuan tersebut masih merasa masalah ini bisa diselesaikan seperti pertengkaran keluarga biasa.

Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuatku benar-benar kehilangan sisa hormat.

“Kalaupun ibumu masih hidup, ujung-ujungnya rumah itu juga akan jatuh kepadamu. Kamu istri Raka. Apa salahnya suamimu memakai sebagian lebih dulu?”

Aku menatapnya selama beberapa detik.

Kemudian aku mengeluarkan cincin pernikahanku.

Kutaruh di meja.

“Mulai malam ini, jangan pernah sebut harta ibu saya sebagai milik anak Ibu.”

Raka memucat.

“Dira.”

“Aku mau cerai.”

Bu Ratih langsung berteriak.

“Kamu pikir gampang?”

Dia menunjuk Faris.

“Anak ini keluarga Pratama! Jangan harap kamu bisa membawanya begitu saja.”

Faris yang sejak tadi berdiri di ujung ruang makan mulai menangis.

Aku segera menghampirinya.

Tetapi sebelum kupeluk, dia berkata dengan suara kecil,

“Mama…”

“Ya, Sayang?”

“Ayah bilang nanti kita pindah ke rumah Eyang di Jogja.”

Aku membeku.

Faris mengusap matanya.

“Ayah bilang rumah Eyang akan dijual. Uangnya buat beli rumah baru untuk Ayah, Tante Maya, aku, sama adik bayi.”

Aku menoleh perlahan kepada Raka.

Anakku melanjutkan dengan polos,

“Nenek juga bilang kalau Mama marah, aku harus pilih tinggal sama Ayah… karena nanti Tante Maya bisa jadi Mama yang lebih baik.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Raka tidak punya satu kalimat pun untuk membela diri.


Bagian 3 — Mereka Datang Membawa Pengacara untuk Merebut Rumah Ibuku, tetapi Satu Rekaman Membuat Semua Kebohongan Mereka Runtuh di Hadapan Polisi dan Keluarganya

Malam itu aku membawa Faris ke hotel.

Aku tidak berteriak lagi.

Aku tidak memecahkan barang.

Aku tidak memohon Raka memilihku.

Ada titik tertentu ketika rasa sakit berhenti terasa seperti luka dan berubah menjadi keputusan.

Pukul tujuh pagi, aku menelepon pengacara keluarga yang nomornya diberikan Tante Wening.

Pukul sembilan, aku berbicara dengan PPAT yang selama ini membantu Ibu.

Barulah aku memahami mengapa Ibu begitu tenang dalam rekaman.

Tiga minggu sebelum meninggal, beliau sudah mencurigai Raka.

Dokumen asli rumah aman.

Tidak pernah ada persetujuan penjualan.

Tidak pernah ada kuasa resmi kepada Raka.

Dan uang Rp300 juta yang diterimanya justru menjadi salah satu bukti penting bahwa transaksi ilegal itu memang sedang diusahakan.

Siang harinya, Raka menelepon puluhan kali.

Aku tidak mengangkat.

Bu Ratih mengirim pesan.

“Kita selesaikan sebagai keluarga.”

Aku membalas satu kalimat.

“Keluarga tidak merencanakan mengganti seorang istri ketika ibunya sedang dimakamkan.”

Setelah itu aku memblokirnya.

Dua hari kemudian, kami kembali ke Yogyakarta.

Aku, pengacaraku, Tante Wening, dan Faris.

Di workshop Ibu sudah menunggu Raka, Bu Ratih, Maya, ayah Maya, serta seorang pengacara perusahaan.

Ayah Maya langsung bicara.

“Perusahaan kami sudah mengeluarkan uang muka. Kami datang untuk meminta kepastian.”

Pengacaraku meletakkan satu map di meja.

“Kepastiannya sederhana. Klien saya tidak pernah menjual properti ini.”

Raka mencoba menyela.

“Nadira, jangan diperbesar.”

Aku menatapnya.

“Kamu membawa pengacara perusahaan calon pembeli ke rumah ibu saya, lalu meminta saya tidak memperbesar masalah?”

Ayah Maya mulai terlihat gelisah.

Dia ternyata juga tidak mengetahui keseluruhan cerita.

Menurut penjelasannya, Raka mengaku Ibu sudah setuju menjual dan Nadira—aku—juga telah memberikan izin.

Maya menoleh tajam kepada Raka.

“Kamu bilang Nadira setuju.”

Raka diam.

“Kamu juga bilang kalian sudah sepakat bercerai sebelum aku hamil.”

Masih diam.

Maya mulai menangis.

Aku tidak membelanya.

Dia tetap perempuan yang bersedia tinggal di rumahku, memakai gelang keluarga suamiku, dan membiarkan anakku dipersiapkan memanggilnya ibu.

Tetapi pada hari itu, dia akhirnya menyadari bahwa lelaki yang mengkhianati istrinya ternyata juga membohongi selingkuhannya.

Beberapa menit kemudian, dua petugas datang bersama penyidik yang sebelumnya telah menerima laporan lanjutan dari pihak kami.

Wajah Bu Ratih berubah.

“Kenapa polisi?”

Pengacaraku menjawab,

“Karena ini tidak lagi sekadar persoalan rumah tangga.”

Ponsel Raka dan sejumlah dokumen diminta untuk pemeriksaan.

Lalu rekaman Ibu diputar lagi.

Kali ini di hadapan semua orang.

Ketika suara Raka terdengar meminta Ibu merahasiakan kehamilan Maya dariku, ayah Maya berdiri.

Dia menampar meja.

“Kamu bilang anak saya masuk hubungan ini setelah rumah tanggamu selesai!”

Raka tidak bisa menjawab.

Lebih buruk lagi, pemeriksaan pesan di ponselnya kemudian menemukan percakapan dengan Bu Ratih.

Pesan yang paling membuatku mual berbunyi:

“Biarkan Dira pulang sendiri. Tujuh hari cukup untuk membiasakan Faris dengan Maya.”

Jadi bukan pantangan.

Bukan tradisi.

Bukan takut cucunya membawa kesialan dari rumah duka.

Mereka sengaja menahan Faris di Jakarta agar Maya bisa masuk ke rumahku tanpa aku ada di sana.

Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Akhirnya aku menatap Bu Ratih.

“Jadi ini alasan sebenarnya Ibu melarang anak saya menghadiri pemakaman neneknya.”

Dia menangis.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia meminta maaf.

Aku tidak membalas.

Ada permintaan maaf yang datang terlalu terlambat.

Proses setelah itu tidak selesai dalam semalam.

Tetapi kali ini aku tidak sendirian.

Raka diperiksa atas dugaan pemalsuan dokumen dan penipuan terkait uang muka transaksi.

PT Arunika membatalkan seluruh rencana pembelian dan menuntut pengembalian dana.

Perusahaan tempat Raka bekerja juga memberhentikannya setelah mengetahui beberapa dokumen bisnis pribadinya menggunakan nama perusahaan tanpa izin.

Maya meninggalkan Jakarta dan kembali ke rumah orang tuanya.

Hubungannya dengan Raka berakhir bahkan sebelum anak mereka lahir.

Bu Ratih menjual sebagian aset pribadinya untuk membantu Raka mengembalikan uang muka yang sudah dia habiskan.

Gelang yang pernah dipakaikan kepada Maya dikembalikan kepadanya.

Aku tidak menginginkannya.

Aku tidak pernah membutuhkan gelang itu untuk membuktikan bahwa aku pantas menjadi bagian dari keluarga siapa pun.

Delapan bulan kemudian, pengadilan mengabulkan perceraian kami.

Faris tinggal bersamaku.

Raka tetap mendapat kesempatan bertemu anaknya sesuai pengaturan yang ditetapkan, tetapi satu hal kutegaskan sejak awal:

Tidak seorang pun boleh lagi menggunakan Faris untuk menghukum, menekan, atau menggantikan orang tuanya.

Rumah Ibu di Bantul tidak kujual.

Workshop batiknya juga tidak kututup.

Aku mengubah sebagian bangunan menjadi ruang pelatihan kecil untuk ibu-ibu di sekitar desa yang ingin belajar menjahit dan membatik.

Di dinding ruang utama, aku menggantung foto Ibu.

Faris memilih sendiri fotonya.

Foto Ibu sedang tertawa sambil memeluknya di halaman rumah.

Suatu sore, setelah kelas selesai, Faris berdiri lama di depan foto itu.

“Mama.”

“Hm?”

“Kalau waktu itu aku ikut pulang, aku masih bisa lihat Eyang terakhir kali, ya?”

Dadaku sesak.

Aku berjongkok di depannya.

“Iya.”

Dia menunduk.

“Kenapa Nenek bohong?”

Aku tidak mengatakan neneknya jahat.

Aku juga tidak mengatakan ayahnya tidak menyayanginya.

Aku hanya menjawab,

“Kadang orang dewasa membuat keputusan yang salah karena mereka lebih memikirkan keinginan sendiri daripada perasaan orang lain.”

Faris memandang foto Eyang.

Lalu dia mengambil selembar kertas dari tas sekolahnya.

Di situ ada gambar rumah, tiga orang berpegangan tangan, dan pohon mangga besar.

Dia menunjuk satu per satu.

“Ini Mama.”

“Ini aku.”

“Yang ini Eyang di foto.”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

“Kenapa Eyang digambar di depan rumah?”

Faris menjawab polos,

“Biar rumahnya tetap punya Eyang.”

Saat itulah aku akhirnya menangis.

Bukan karena Raka.

Bukan karena Maya.

Bukan karena rumah yang hampir dirampas.

Aku menangis karena akhirnya mengerti sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar kupahami.

Ibu tidak mempertahankan rumah itu karena bangunannya.

Ibu mempertahankannya karena dia tahu, suatu hari nanti, aku mungkin membutuhkan tempat untuk pulang.

Dan ternyata dia benar.

Aku memang pulang.

Hanya saja kali ini, aku pulang bukan sebagai istri yang meminta seseorang memilihku.

Aku pulang sebagai seorang ibu yang sudah belajar memilih dirinya sendiri dan melindungi anaknya.

Rumah itu tidak lagi menjadi saksi pengkhianatan.

Rumah itu menjadi awal hidup kami yang baru.

#DramaKeluarga #CeritaRumahTangga #PengkhianatanSuami #KisahPerempuan #CeritaViral