Saat Tiga Unit Apartemen Ganti Rugi Dibagikan, Menantuku Mengancam Menghapus Marga Cucuku—Aku Malah Mengeluarkan Satu Map yang Membuat Wajahnya Pucat, dan untuk Pertama Kalinya Anakku Tak Berani Membelanya Lagi
Bagian 1 — Sejak Menantu Hamil, Kami Menjual Rumah Kota, Menguras Tabungan, dan Baru Sadar Semua Pengorbanan Dianggap Kewajiban oleh Mereka Berdua Setiap Hari
“Kalau Mama tetap memberikan satu unit kepada Nina, aku akan hapus Siregar dari nama Bimo.”
Maya, menantuku, mengucapkan kalimat itu di depan notaris tanpa sedikit pun menurunkan suara.
Tangannya bahkan masih memegang fotokopi dokumen tiga unit apartemen pengganti yang baru kami terima.
“Mulai nanti,” lanjutnya, “Bimo ikut keluarga saya. Dia akan lebih dekat dengan orang tua saya. Kalau perlu, nama keluarga ayahnya tidak usah dipakai lagi.”
Semua orang di ruangan itu menoleh kepadaku.
Mereka mungkin mengira aku akan panik.
Bagaimanapun, selama hampir lima tahun, ancaman tentang cucu adalah senjata paling ampuh yang digunakan Maya setiap kali keinginannya tidak kuturuti.
Namun hari itu aku justru tertawa.
Bukan tertawa sinis.
Aku benar-benar merasa lega.
“Silakan.”
Maya membeku.
Aku melanjutkan dengan tenang.
“Mau namanya Bimo Siregar, Bimo Siahaan, atau apa pun, urus sendiri. Dari awal dia juga bukan memakai margaku.”
Wajah Maya langsung berubah.
“Jadi Mama sudah tidak peduli cucu sendiri?”
Aku membuka tas, mengeluarkan sebuah map cokelat tebal, lalu meletakkannya di meja.
“Peduli.”
“Tapi mulai hari ini, aku berhenti membayar harga untuk mendapatkan hak mencintai cucuku sendiri.”
Lima tahun sebelumnya, aku tidak akan pernah berani mengatakan kalimat seperti itu.
Aku dan almarhum suamiku, Daniel Siregar, adalah tipe orang tua yang selalu takut merepotkan anak.
Raka, putra kami, menikahi Maya setelah berpacaran hampir empat tahun.
Adiknya, Nina, juga menikah dengan pilihannya sendiri.
Daniel selalu berkata kepadaku,
“Anak-anak sudah dewasa, Mar. Jangan sampai kita jadi mertua yang ikut campur semuanya.”
Aku setuju.
Karena itu setelah Raka menikah, kami menyerahkan penggunaan apartemen dua kamar kami di Bekasi kepada mereka.
Kami sendiri kembali ke rumah lama di pinggiran Pematangsiantar.
Kami pikir hidup sudah selesai dengan baik.
Anak-anak menikah.
Utang rumah lunas.
Tabungan pensiun ada sedikit.
Kami hanya perlu menjaga kesehatan dan menikmati usia tua.
Tiga bulan kemudian, Raka menelepon.
“Ma! Pa! Maya hamil!”
Daniel sampai berdiri dari kursinya.
Wajahnya berseri-seri seperti anak kecil.
“Kita jadi Opung!”
Aku tertawa sambil menangis.
Saat itu, kalau ada orang mengatakan cucu yang belum lahir itu akan menguras hampir seluruh tabungan kami, membuat suamiku bekerja malam pada usia hampir enam puluh tahun, bahkan menjadi alasan aku dihina di rumah yang kami biayai sendiri…
Aku pasti tidak percaya.
Seminggu setelah kabar kehamilan itu, Maya melakukan panggilan video.
Awalnya membahas pemeriksaan kandungan.
Lalu tiba-tiba ia menunjukkan iklan sebuah apartemen di Jakarta Timur.
“Ini dekat sekolah swasta yang bagus, Ma.”
Aku bingung.
“Anaknya bahkan belum lahir.”
Maya tertawa.
“Justru harus berpikir jauh. Sekarang masuk sekolah bagus susah. Kalau tinggal dekat sana, semuanya lebih gampang.”
Harga unitnya hampir Rp1,4 miliar.
Aku langsung menatap Daniel.
Raka bekerja sebagai supervisor logistik.
Maya mengurus toko daring dari rumah.
Penghasilan mereka cukup untuk hidup nyaman, tetapi jelas belum cukup untuk membeli apartemen seharga itu tanpa uang muka besar.
Benar saja.
Maya berkata,
“Papa sama Mama kan punya apartemen Bekasi. Kalau dijual, uangnya bisa dipakai DP.”
Aku terdiam.
Apartemen Bekasi itu kami beli sedikit demi sedikit selama hampir dua puluh tahun.
Daniel mengusap lututnya lama sebelum menjawab.
“Kalian sudah punya tempat tinggal. Kenapa harus buru-buru membeli lagi?”
Senyum Maya hilang.
“Karena saya sedang mengandung cucu keluarga Siregar.”
Kalimat itu pertama kali kudengar malam itu.
Dan setelahnya, aku mendengarnya puluhan kali.
“Aku yang hamil untuk keluarga Siregar.”
“Aku yang mempertaruhkan kesehatan demi cucu kalian.”
“Kalau Opung saja tidak mau berkorban untuk cucunya, siapa lagi?”
Dua minggu kemudian Raka meneleponku sendiri.
“Ma, Maya stres sampai susah tidur gara-gara masalah rumah.”
Akhirnya Daniel menyerah.
Apartemen Bekasi kami jual Rp920 juta.
Aku masih ingat saat menerima uang itu.
Aku berkata kepada Daniel,
“Kita beri Rp700 juta saja. Sisanya Rp220 juta simpan. Kita juga punya Nina.”
Daniel mengangguk.
Namun ketika Maya mengetahui jumlahnya, wajahnya langsung masam.
“Kenapa cuma Rp700 juta?”
Aku menjelaskan kami membutuhkan dana kesehatan dan sedikit tabungan.
Maya menatap Raka.
Raka justru berkata,
“Ma, sekalian saja semuanya. Cicilan kami nanti lebih ringan.”
Aku menatap anak laki-lakiku cukup lama.
Dia menghindari mataku.
Pada akhirnya, Rp920 juta berpindah ke rekening mereka.
Kupikir setelah itu kami bisa pulang dan hidup tenang.
Ternyata tidak.
Memasuki bulan kelima kehamilan, Maya menelepon lagi.
“Ma, aku tidak tahan bau masakan.”
Aku mengira dia hanya bercerita.
Ternyata kalimat berikutnya adalah,
“Mama ke Jakarta dulu ya sampai aku melahirkan.”
Aku berangkat dua hari kemudian.
Setiap pagi aku bangun pukul lima.
Membersihkan rumah.
Memasak.
Mencuci.
Menyiapkan buah.
Mengantar Maya kontrol bila Raka bekerja.
Bahan makanan biasa tidak boleh.
“Sayur harus organik.”
“Telur jangan yang pasar.”
“Ikan jangan yang beku.”
“Buah harus yang bagus karena ini untuk perkembangan otak bayi.”
Setiap tiga hari aku naik angkutan dan kemudian ojek menuju supermarket premium.
Tak pernah sekali pun Maya berkata,
“Ma, ini uang belanjanya.”
Uang pensiunku perlahan habis.
Menjelang persalinan, kukira kami cukup menyewa bidan pendamping dan pengasuh bayi beberapa minggu.
Maya menolak.
Ia memilih paket pemulihan ibu pascamelahirkan di sebuah klinik ibu dan bayi.
Biayanya hampir Rp38 juta.
“Ma, sekali seumur hidup.”
Aku mengatakan terlalu mahal.
Maya langsung menangis di depan Raka.
“Aku melahirkan anak untuk keluarga kalian, tetapi setelah lahir aku bahkan tidak pantas dirawat dengan baik?”
Daniel akhirnya mencairkan deposito kecil terakhir kami.
Bimo lahir dengan sehat.
Beratnya 3,5 kilogram.
Ketika aku pertama kali menggendongnya, semua rasa lelah seperti hilang.
Aku mencium rambutnya dan berbisik,
“Opung ada di sini.”
Sayangnya, menjadi Opung ternyata tidak berarti aku bebas menyayangi cucuku.
Sepulang dari klinik, Maya memberikan tiga lembar kertas yang ditempel di kulkas.
Aturan menjaga Bimo.
Cuci tangan minimal sekian detik.
Tidak boleh mencium bayi.
Tidak boleh memakai minyak kayu putih.
Botol harus disterilkan dengan cara tertentu.
Suhu air susu harus tepat.
Jam tidur harus mengikuti tabel.
Beberapa aturan masuk akal.
Aku berusaha mengikutinya.
Namun kesalahan kecil selalu berubah menjadi penghinaan.
Suatu malam Bimo menangis keras.
Aku refleks menggendongnya.
Maya keluar dari kamar.
“Mama!”
Aku terkejut.
“Kenapa?”
“Bimo sedang latihan tidur sendiri! Mama bikin semua jadwal berantakan!”
“Dia menangis sampai sesak—”
“Ini anak saya!”
Raka keluar beberapa detik kemudian.
Aku berharap dia akan menenangkan istrinya.
Sebaliknya dia berkata,
“Ma, ikut saja aturan Maya. Dia ibunya.”
Aku menurunkan pandangan.
“Baik.”
Begitulah aku hidup berbulan-bulan.
Menjadi pembantu.
Menjadi koki.
Menjadi pengasuh.
Sekaligus menjadi ATM.
Saat Bimo berusia tiga bulan, Maya memutuskan mengganti susu formula impor.
Satu kaleng harganya membuatku terdiam.
Ditambah popok, vitamin, perlengkapan bayi, biaya bulanannya hampir Rp4 juta.
Aku akhirnya berkata,
“Uang pensiun Mama sudah banyak habis. Untuk susu, mungkin kalian mulai tanggung sendiri.”
Maya menatapku seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang sangat kejam.
“Kalau biaya susu cucu saja dihitung, untuk apa punya Opung?”
Aku menarik napas.
“Papa juga butuh obat rutin.”
Maya menjawab tanpa ragu,
“Papa masih sehat. Kalau kurang uang, ya cari pekerjaan ringan.”
Malam itu aku menelepon Daniel.
Aku tidak sanggup mengatakan semuanya.
Hanya berkata,
“Pa, mereka butuh bantuan lagi.”
Dua minggu kemudian, suamiku yang berusia lima puluh delapan tahun mulai bekerja sebagai penjaga malam di sebuah gudang.
Dan setiap awal bulan, tepat tanggal dua…
Rp4 juta masuk ke rekening menantuku.
Sampai suatu malam Daniel meneleponku dari pos keamanan.
Napasnya terdengar berat.
“Mar…”
Aku langsung berdiri.
“Kamu kenapa?”
“Aku cuma sedikit pusing.”
“Pulang! Jangan lanjut kerja!”
Daniel tertawa kecil.
“Kalau aku pulang sekarang, uang susu Bimo bulan depan kurang.”
Aku menggenggam telepon erat-erat.
Lalu sebelum sambungan terputus, aku mendengar sesuatu jatuh keras dari sisi telepon.
“Daniel?”
Tidak ada jawaban.
“Daniel!”
Seseorang di kejauhan berteriak meminta ambulans.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyadari ada harga yang terlalu mahal untuk sekadar disebut “pengorbanan keluarga”.
Kalau kamu berada di posisiku saat itu, masihkah kamu akan bertahan demi cucu, atau berhenti sebelum semuanya benar-benar terlambat?
#DramaKeluarga #CeritaKehidupan #MenantuDanMertua #KisahRumahTangga #CeritaViral
Bagian 2 — Suamiku Bekerja Jaga Malam demi Susu Cucu, Lalu Meninggal—Tetapi Menantuku Masih Memakai Marga Anak sebagai Senjata untuk Memeras Kami Tanpa Malu
Daniel selamat malam itu.
Dokter mengatakan tekanan darahnya melonjak dan tubuhnya kelelahan berat.
Aku menangis sambil memarahinya.
“Berhenti kerja.”
Ia tersenyum.
“Sebulan lagi saja.”
Sebulan berubah menjadi enam bulan.
Setiap kali aku meminta Raka mengambil alih biaya susu anaknya, jawabannya sama.
“Gajiku dipegang Maya, Ma.”
Seolah kalimat itu menyelesaikan semuanya.
Suatu sore aku akhirnya bertanya langsung,
“Kamu ayah Bimo. Masa susu anakmu ditanggung bapakmu?”
Raka terlihat kesal.
“Papa juga kakeknya.”
“Papa punya obat jantung.”
“Semua keluarga sekarang susah, Ma.”
Aku masih ingin bicara ketika pintu kamar terbuka keras.
Maya berdiri di sana sambil menggendong Bimo.
“Jadi selama ini Mama menghasut Raka?”
Aku bangkit.
“Mama cuma bicara soal biaya.”
Maya tertawa pendek.
“Kalau keberatan keluar uang, bilang saja.”
Kemudian ia mengucapkan ancaman yang kelak diulang berkali-kali.
“Kalau keluarga Siregar tidak mau bertanggung jawab, anak ini tidak perlu pakai Siregar.”
Aku benar-benar terdiam waktu itu.
Maya melihat ketakutanku.
Sejak hari itulah dia tahu titik lemahnya.
Setiap kali kami menolak sesuatu, nama Bimo dijadikan senjata.
Saat biaya pesta ulang tahun pertama Bimo mencapai Rp18 juta dan aku mempertanyakan jumlahnya:
“Kalau keberatan, tidak usah datang. Sekalian Bimo lebih dekat saja dengan keluarga saya.”
Saat ia ingin memasukkan Bimo ke preschool mahal:
“Kalau Opung tidak ikut bayar, jangan nanti mengaku paling sayang cucu.”
Saat orang tuanya datang berkunjung dan aku diminta membiayai makan seluruh keluarga:
“Mama kan keluarga pihak ayah.”
Aku terus mengalah.
Bukan karena bodoh.
Aku takut kehilangan akses kepada Bimo.
Sementara Daniel selalu berkata,
“Sudahlah, Mar. Anak kecil tidak tahu apa-apa. Jangan sampai dia jadi korban.”
Mungkin itulah kesalahan kami.
Kami begitu takut seorang anak menjadi korban sampai tidak sadar kami sedang membiarkan dua orang dewasa memperlakukan kami semaunya.
Dua tahun kemudian, telepon dari rumah sakit datang pukul empat pagi.
Daniel terkena serangan jantung setelah pulang kerja.
Kali ini ia tidak kembali.
Aku duduk di lorong rumah sakit dengan tas obatnya masih di pangkuanku.
Di dalam tas itu ada struk apotek, kartu identitas, dan ponsel lama.
Ketika kubuka aplikasi bank untuk mengurus beberapa tagihan, aku melihat transfer terakhirnya.
Rp4.000.000.
Keterangan:
“Bimo — susu & popok.”
Dikirim tiga hari sebelum ia meninggal.
Aku menangis sampai tidak bisa bersuara.
Raka datang siang hari.
Ia memelukku.
Namun Maya baru muncul menjelang sore karena, katanya, Bimo sulit ditinggal.
Tiga minggu setelah pemakaman, aku masih tinggal di kampung.
Maya menelepon.
“Ma, kapan kembali?”
Aku tidak paham.
“Kembali ke mana?”
“Jakarta. Pengasuh Bimo berhenti.”
Aku menutup mata.
Suamiku belum genap sebulan dikuburkan.
Menantuku sudah menanyakan kapan aku kembali bekerja gratis.
Tetapi aku tetap pergi.
Bodoh?
Mungkin.
Aku hanya masih terikat oleh satu hal.
Bimo.
Tahun berganti.
Bimo masuk preschool.
Lalu datang kabar bahwa deretan rumah lama kami di pinggiran kota masuk program penataan kawasan oleh pengembang.
Setelah negosiasi panjang mengenai tanah, bangunan, dan kios kecil milik almarhum Daniel, kompensasi yang kudapat berupa tiga unit apartemen pengganti dengan nilai yang kurang lebih setara.
Saat menerima dokumen, hal pertama yang kupikirkan adalah Nina.
Putriku tidak pernah meminta apa pun.
Ketika ayahnya sakit, justru Nina yang sering mengirim uang obat.
Saat Daniel meninggal, Nina pulang hampir dua minggu meninggalkan pekerjaannya untuk menemaniku.
Aku memutuskan:
Satu unit untuk Nina.
Satu unit akan kusewakan untuk biaya hidupku.
Satu lagi tetap atas namaku sebagai tempat tinggal.
Aku memberitahu Raka saat makan malam.
Belum selesai kalimatku, sendok Maya jatuh ke meja.
“Satu unit diberikan ke Nina?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku sampai bingung.
“Karena dia anakku.”
Maya tertawa seolah jawabanku konyol.
“Raka anak laki-laki satu-satunya. Bimo juga penerus keluarga Siregar. Masa aset keluarga malah dibagi ke anak perempuan yang sudah ikut suami?”
Nina yang duduk di ujung meja langsung pucat.
Aku berkata,
“Tanah itu milikku dan almarhum bapaknya. Nina punya hak moral yang sama sebagai anak.”
Maya membanting telapak tangannya ke meja.
“Kalau Mama berani kasih satu unit ke Nina, saya akan urus supaya Bimo tidak lagi pakai Siregar!”
Aku diam.
Maya mengira aku takut.
Ia semakin keras.
“Mulai sekarang dia dekat dengan orang tua saya saja. Dia panggil mereka Opung. Mama tidak usah ikut campur!”
Raka duduk di sebelah istrinya.
Seperti biasa, dia tidak membelaku.
Bahkan berkata pelan,
“Ma… kenapa tidak kasih saja tiga-tiganya ke kami? Nina kan sudah punya suami.”
Pada detik itulah sesuatu di dalam diriku benar-benar putus.
Bukan amarah.
Bukan kesedihan.
Melainkan sisa rasa bersalah yang selama ini membuatku terus tunduk.
Aku masuk ke kamar.
Mengambil sebuah map yang selama dua tahun terakhir kususun diam-diam.
Di dalamnya ada bukti transfer, kuitansi, catatan biaya, surat penjualan apartemen Bekasi, sampai transfer terakhir Daniel sebelum meninggal.
Aku kembali ke ruang makan.
Maya menyilangkan tangan.
“Apa itu?”
Aku meletakkan map tersebut tepat di depannya.
“Karena mulai malam ini, kita hitung semuanya.”
Dan senyum di wajah menantuku hilang ketika ia melihat angka pertama yang kutulis di halaman depan:
Rp1.487.600.000.
Bagian 3 — Saat Ia Mengancam Mengganti Marga Cucu Lagi, Aku Menyerahkan Tagihan Bertahun-Tahun dan Mengambil Kembali Hidup yang Mereka Habiskan Sedikit demi Sedikit
Maya menatap angka itu cukup lama.
“Ini apa?”
“Uang kami.”
Aku membuka halaman pertama.
“Rp920 juta hasil penjualan apartemen Bekasi.”
Halaman kedua.
“Rp38 juta biaya pemulihan setelah melahirkan.”
Berikutnya.
Biaya belanja selama kehamilan.
Perlengkapan bayi.
Susu.
Popok.
Preschool.
Ulang tahun.
Biaya pengasuh sementara.
Transfer bulanan Daniel.
Belum termasuk tenagaku selama bertahun-tahun.
Aku menatap Maya.
“Kalau mau menghitung siapa keluarga siapa, mari hitung sampai selesai.”
Wajahnya merah.
“Siapa yang pernah minta Mama membuat catatan begini?”
Aku tersenyum.
“Tidak ada.”
“Dulu aku juga tidak berniat menagih.”
“Namun kamu sendiri yang mengajarkan bahwa hubungan keluarga harus dihitung berdasarkan siapa yang membayar.”
Raka mencoba menyela.
“Ma, sudah…”
Aku menoleh kepadanya.
“Belum.”
Untuk pertama kalinya, suaraku membuat anakku diam.
Aku mengambil bukti transfer terakhir Daniel.
“Kamu tahu tiga hari sebelum bapakmu meninggal dia mengirim berapa ke rumah ini?”
Raka menunduk.
“Rp4 juta.”
Aku meletakkan bukti itu di depannya.
“Untuk susu anakmu.”
“Bapakmu bekerja malam dengan penyakit jantung supaya anakmu minum susu impor, sementara kamu mengatakan tidak punya uang karena seluruh gajimu diberikan ke istrimu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Maya langsung berkata,
“Jangan salahkan saya atas kematian Papa!”
“Aku tidak menyalahkanmu atas kematiannya.”
Aku menatapnya lurus.
“Aku menyalahkan diriku sendiri karena terlalu lama membiarkan kalian merasa semua itu adalah kewajiban kami.”
Maya berdiri.
“Baik! Kalau begitu mulai sekarang Bimo tidak usah berhubungan dengan keluarga ini!”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Ia tampak tidak percaya.
“Mama serius?”
“Sangat.”
“Mau marganya diganti?”
“Silakan.”
“Mau saya bawa dan tidak pernah datang lagi?”
“Silakan.”
Aku menunjuk Raka.
“Sekalian suamimu bawa.”
Raka mengangkat kepala.
“Ma?”
Aku membuka dokumen lain.
“Apartemen yang kalian tempati sekarang memang dibeli dengan uang kami sebagai DP, tetapi kontraknya atas nama kalian. Aku tidak akan mengganggunya.”
Aku berhenti sebentar.
“Tetapi mulai hari ini, jangan pernah lagi meminta satu rupiah pun dariku.”
Maya tertawa sinis.
“Siapa juga yang butuh uang Mama?”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
“Berarti mulai bulan depan biaya preschool Bimo kalian bayar sendiri.”
Senyumnya menghilang.
“Termasuk asuransi kesehatan tambahan.”
Ia mulai pucat.
“Termasuk uang pengasuh.”
Aku memasukkan kembali semua berkas.
“Dan apartemen kompensasi tidak ada satu pun yang kuberikan kepada kalian.”
Raka langsung berdiri.
“Ma!”
Aku menatapnya.
“Satu untuk Nina.”
“Satu aku sewakan.”
“Satu untuk tempat tinggalku.”
“Tapi aku anak Mama juga!”
“Benar.”
“Karena itu selama tiga puluh tiga tahun aku membesarkanmu.”
Aku menunjuk pintu.
“Namun aku bukan rekening pensiunmu.”
Maya akhirnya kehilangan kendali.
Ia mengatakan aku pilih kasih.
Mengungkit Bimo.
Mengancam tidak mempertemukanku lagi dengan cucu.
Bahkan berkata akan menceritakan kepada seluruh keluarga besar bahwa aku nenek yang lebih mementingkan apartemen daripada cucu.
Aku hanya menjawab,
“Ceritakan semuanya.”
“Tapi jangan lupa ceritakan Rp1,4 miliar yang sudah kami keluarkan.”
Maya terdiam.
Malam itu aku mengemasi pakaianku.
Tidak banyak.
Dua koper.
Beberapa foto Daniel.
Obat-obatan.
Dan map cokelat itu.
Sebelum keluar, Raka mengejarku hingga lift.
“Ma.”
Aku berhenti.
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun wajah anakku benar-benar terlihat takut.
“Kalau Mama pergi, siapa yang bantu jaga Bimo?”
Kalimat itu menjawab semuanya.
Bukan:
“Mama tinggal saja.”
Bukan:
“Aku salah.”
Bukan pula:
“Bagaimana Mama hidup sendirian?”
Yang dia pikirkan tetap sama.
Siapa yang akan menjaga anaknya.
Aku tersenyum tipis.
“Ayah dan ibunya.”
Pintu lift menutup.
Dua bulan pertama setelah aku pergi, teleponku penuh pesan.
Awalnya kemarahan.
Kemudian keluhan.
Pengasuh mahal.
Uang sekolah jatuh tempo.
Cicilan apartemen naik.
Toko daring Maya sedang sepi.
Lalu nada mereka berubah.
“Ma, pinjam dulu lima juta.”
“Ma, cuma bulan ini.”
“Ma, demi Bimo.”
Aku tidak membalas.
Kemudian Nina memberitahuku sesuatu.
Selama bertahun-tahun Maya ternyata rutin membantu cicilan mobil ayahnya dan modal usaha adiknya menggunakan uang rumah tangga.
Tidak ada yang salah membantu keluarga sendiri.
Yang salah adalah ia melakukannya sambil membuat Daniel bekerja malam karena katanya susu anaknya tidak mampu dibeli.
Ketika Raka akhirnya mengetahui aliran uang itu, mereka bertengkar besar.
Aku tidak ikut campur.
Untuk pertama kalinya, masalah rumah tangga mereka menjadi benar-benar masalah mereka.
Enam bulan kemudian, Raka datang menemuiku seorang diri.
Tubuhnya terlihat lebih kurus.
Dia duduk cukup lama sebelum berkata,
“Ma, aku minta maaf.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Aku pengecut.”
Matanya memerah.
“Aku selalu menyuruh Mama mengalah karena lebih gampang meminta Mama diam daripada menghadapi Maya.”
Setidaknya kali ini dia tidak mencari alasan.
Aku menuangkan teh.
“Aku memaafkanmu sebagai anak.”
Dia mengangkat wajah.
“Tapi?”
“Tapi memaafkan bukan berarti aku kembali hidup seperti dulu.”
Raka mengangguk perlahan.
Aku juga menetapkan satu batas yang jelas.
Ia boleh datang.
Bimo boleh datang.
Maya pun boleh datang jika mampu bersikap sopan.
Namun tidak ada lagi uang bulanan.
Tidak ada lagi penjagaan anak setiap hari.
Tidak ada lagi ancaman cucu sebagai alat tawar.
Dan tiga apartemen itu?
Sesuai rencanaku.
Satu resmi kuberikan kepada Nina.
Bukan karena dia perempuan.
Bukan juga untuk menghukum Raka.
Melainkan karena sejak awal kedua anakku memang sama-sama anakku.
Satu unit kusewakan.
Setiap bulan uang sewanya masuk ke rekeningku sendiri.
Unit terakhir kutempati.
Di ruang tamunya kupasang satu foto besar Daniel.
Tidak ada rumah mewah.
Tidak ada furnitur mahal.
Tapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketika bangun pagi aku tidak perlu bertanya:
Hari ini siapa yang harus kulayani?
Suatu Minggu, bel apartemen berbunyi.
Ketika kubuka, Bimo berdiri membawa sekotak martabak kecil.
“Opung!”
Aku terdiam.
Raka berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Tidak ada Maya.
Tidak ada tas cucian.
Tidak ada daftar belanja.
Tidak ada permintaan uang.
Bimo memeluk pinggangku.
“Papa bilang Bimo boleh main dua jam.”
Aku membungkuk dan memeluknya.
Saat itulah aku akhirnya mengerti sesuatu.
Menyayangi cucu tidak berarti harus menyerahkan seluruh hidup kepada orang tuanya.
Menjadi ibu juga tidak berarti terus menebus kesalahan anak yang sudah dewasa.
Aku pernah takut jika berhenti memberi uang, aku akan kehilangan keluarga.
Ternyata setelah aku berhenti menjadi ATM, barulah aku mengetahui siapa yang benar-benar datang karena menginginkanku.
Dan soal ancaman mengganti marga itu?
Maya tidak pernah membicarakannya lagi.
Karena akhirnya dia sadar satu hal yang seharusnya sudah kusadari sejak dulu:
Sebuah nama keluarga tidak pernah bisa dijadikan tali untuk mengikat seorang nenek seumur hidup.
Apalagi setelah nenek itu akhirnya berani melepaskan tangannya sendiri.

