Saat Aku Pergi Membawa Kehamilan yang Tak Dia Inginkan, Raka Membiarkanku Naik Bus Sendirian—Tiga Tahun Kemudian Ia Berlutut di Depan Bocah yang Wajahnya Persis Dirinya sambil Menangis Memanggilnya Anakku

Avatar penulis
Cerita 03
18 menit baca 1,124 tayangan
Auto Draft
Indeks

Saat Aku Pergi Membawa Kehamilan yang Tak Dia Inginkan, Raka Membiarkanku Naik Bus Sendirian—Tiga Tahun Kemudian Ia Berlutut di Depan Bocah yang Wajahnya Persis Dirinya sambil Menangis Memanggilnya Anakku

Bagian 1 — Aku Menunggu Raka Mengejarku di Terminal Sampai Bus Berangkat, tetapi yang Datang Hanya Pesan Singkat: Jangan Buat Keputusan Bodoh tentang Bayi

Saat dua garis merah muncul di alat tes kehamilan, hal pertama yang kulakukan bukan menangis.

Aku justru duduk di lantai kamar mandi kos selama hampir dua puluh menit sambil menghitung ulang saldo rekeningku.

Rp4.830.000.

Itulah seluruh tabunganku setelah hotel tempatku bekerja melakukan pengurangan pegawai.

Sementara kontrakan kamar akan jatuh tempo dua minggu lagi.

Namaku Alya Prameswari.

Saat itu usiaku dua puluh tujuh tahun, sudah berpacaran dengan Raka Mahendra hampir lima tahun, dan cukup bodoh untuk percaya satu kalimat yang selalu dia ulang setiap kali kami membicarakan pernikahan.

“Tunggu sedikit lagi, Ya. Begitu usaha ini stabil, aku akan melamar kamu.”

Masalahnya, kata sedikit lagi milik Raka ternyata bisa berarti apa saja.

Enam bulan.

Setahun.

Atau mungkin selamanya.

Aku memberi tahu Raka sore itu juga.

Kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil di Tebet yang dulu sering kami datangi ketika dia masih bekerja sebagai fotografer acara pernikahan.

Sekarang penampilannya berbeda.

Kemeja hitam rapi.

Jam tangan baru.

Laptop mahal terbuka di depannya.

Production house yang dia dirikan bersama dua temannya baru saja mendapatkan proyek besar pertamanya.

Raka sedang berbicara tentang klien ketika aku meletakkan hasil pemeriksaan dokter di atas meja.

“Aku hamil.”

Dia berhenti bicara.

Namun tidak langsung menyentuh kertas itu.

“Apa?”

“Enam minggu.”

Wajahnya berubah.

Bukan bahagia.

Bukan terkejut.

Lebih seperti seseorang yang baru diberi tahu bahwa mobilnya harus masuk bengkel tepat sebelum perjalanan penting.

Aku menarik napas.

“Raka, aku tidak meminta pesta besar.”

“Aku juga tidak perlu cincin mahal.”

“Kita bisa menikah sederhana dulu.”

Dia menyandarkan tubuh.

“Alya, jangan mulai.”

Dadaku langsung terasa dingin.

“Mulai apa?”

“Kita sudah bicara soal ini.”

“Dua tahun lagi.”

“Setelah usahaku benar-benar jalan.”

Aku menatapnya.

“Waktu kita membuat rencana dua tahun itu, aku belum hamil.”

“Justru karena itu.”

Nada suaranya naik.

“Aku baru keluar modal hampir seratus juta untuk perusahaan ini. Aku punya cicilan alat, gaji staf, sewa kantor.”

“Sekarang kamu datang membawa kabar seperti ini lalu bilang kita harus menikah?”

Meja sebelah mendadak sunyi.

Aku menurunkan suara.

“Aku tidak sengaja hamil sendirian, Raka.”

Rahangnya mengeras.

“Aku tidak bilang itu salahmu.”

“Tapi caramu melihatku seperti aku sedang menjebakmu.”

Dia diam.

Dan diamnya lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

Aku bertanya perlahan.

“Kalau anak ini lahir sekarang, kamu mau menjadi ayahnya atau tidak?”

Raka mengusap wajah.

“Kenapa semuanya harus hitam putih?”

“Karena aku yang akan mengandungnya sembilan bulan.”

Aku menunjuk perutku sendiri.

“Yang tubuhnya berubah aku.”

“Yang sekarang tidak punya pekerjaan tetap juga aku.”

“Jadi aku butuh jawaban yang jelas.”

Dia menoleh ke jendela.

Beberapa detik kemudian, dia berkata,

“Kamu bisa pulang ke Solo dulu.”

Aku mengira salah dengar.

“Apa?”

“Kakakmu masih tinggal di sana, kan?”

“Pulanglah.”

“Biar pengeluaranmu lebih ringan.”

“Nanti setelah proyek ini selesai aku datang.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena kalau tidak tertawa, aku takut akan menangis di depan orang-orang.

“Kapan?”

“Jangan sekarang, Alya.”

“Kapan, Raka?”

Dia membanting telapak tangan pelan ke meja.

“Dua tahun.”

“Tunggu aku dua tahun.”

Aku menatap laki-laki yang sudah kukenal hampir lima tahun itu.

Lalu untuk pertama kalinya aku sadar bahwa mungkin aku sebenarnya tidak mengenalnya sama sekali.

“Kalau aku memilih mempertahankan bayi ini?”

“Itu keputusanmu.”

Kalimat itu keluar begitu cepat.

Terlalu cepat.

Raka sendiri tampak menyesal sesaat setelah mengucapkannya.

Tetapi dia tidak menariknya kembali.

Aku melipat surat pemeriksaan dokter.

Memasukkannya ke tas.

Lalu berdiri.

“Aku mengerti.”

Raka ikut berdiri.

“Alya, jangan dramatis.”

“Aku cuma minta waktu.”

Aku mengangguk.

“Dan aku cuma butuh satu alasan untuk berhenti menunggu.”

Malam itu aku membeli tiket bus ke Solo.

Kakakku, Indah, berkali-kali bertanya apakah Raka akan ikut mengantar.

Aku berbohong.

“Kantornya sedang sibuk.”

Padahal sampai pukul sembilan malam aku duduk di bangku Terminal Kampung Rambutan sambil melihat setiap orang yang berjalan melewati pintu masuk.

Aku yakin Raka akan datang.

Mungkin terlambat.

Mungkin marah.

Mungkin tanpa bunga, tanpa cincin, tanpa permintaan maaf.

Aku tidak peduli.

Aku hanya ingin dia berdiri di depanku dan berkata,

“Jangan pergi sendiri.”

Bus mulai menyalakan mesin.

Aku masih menunggu.

Sopir memanggil penumpang terakhir.

Aku naik perlahan.

Duduk di dekat jendela.

Saat bus bergerak keluar terminal, ponselku akhirnya bergetar.

Pesan dari Raka.

Tanganku langsung dingin.

Aku membukanya.

Bukan,

“Kamu di mana?”

Bukan,

“Aku menyusul.”

Pesannya hanya berbunyi:

Jangan buat keputusan bodoh tentang bayi itu karena sedang marah. Kalau kamu tetap mau mempertahankannya, itu pilihanmu. Kita bicara setelah semuanya tenang.

Aku membaca pesan itu berulang kali.

Kemudian mematikan layar.

Malam itu aku tidak menangis.

Aku hanya meletakkan tangan di atas perut dan berbisik,

“Kalau cuma ada kita berdua, kita hidup berdua.”

Aku tidak tahu saat itu bahwa kalimat sederhana itu akan menjadi janjiku selama tiga tahun berikutnya.

Kehamilanku tidak mudah.

Pada bulan kelima aku mengalami perdarahan dan harus dirawat dua malam.

Indah meminta izin menelepon Raka.

Aku melarangnya.

Dia tetap menelepon.

Raka tidak datang.

Setelah anakku lahir, aku menamainya Aksa Pramana.

Aku tidak memasukkan nama Raka ke dalam namanya.

Aku juga tidak pernah menghubunginya untuk meminta uang.

Bukan karena aku kaya.

Aku pernah menjual gelang emas pemberian ibuku untuk membeli pompa ASI.

Pernah membawa Aksa yang demam sambil naik ojek pukul dua pagi karena tidak punya kendaraan.

Pernah membuat lima puluh kotak nasi sendirian sambil menggendongnya di kain jarik karena pengasuh mendadak tidak masuk.

Tetapi sedikit demi sedikit hidup kami berubah.

Usaha nasi kotak yang awalnya hanya pesanan tetangga berkembang menjadi katering kantor kecil.

Indah mengurus dapur.

Aku menangani pelanggan.

Ketika Aksa berusia dua tahun delapan bulan, kami mendapat kontrak rutin dari sebuah perusahaan di Jakarta.

Aku kembali.

Bukan untuk Raka.

Untuk masa depan anakku.

Tiga tahun setelah malam di terminal itu, aku berdiri di depan sebuah TK swasta di Depok menunggu Aksa pulang.

Pintu kelas terbuka.

Anak-anak berlarian keluar.

Lalu kudengar suara yang paling kusukai di dunia.

“Bundaaaa!”

Aksa berlari ke arahku membawa gambar dinosaurus.

Aku berjongkok.

Namun sebelum sempat memeluknya, aku melihat seseorang berdiri tidak jauh di belakangnya.

Raka.

Ternyata production house miliknya sedang menangani acara ulang tahun sekolah.

Dia tidak menatapku.

Tatapannya terkunci pada Aksa.

Wajah Raka pucat.

Karena Aksa memiliki bentuk mata yang sama dengannya.

Alis yang sama.

Bahkan kebiasaan mengerutkan hidung ketika tersenyum pun sama persis dengan foto masa kecil Raka yang dulu pernah ditunjukkan ibunya kepadaku.

Raka berjalan mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

“Alya…”

Aku menggendong Aksa.

“Mari pulang.”

Tangannya tiba-tiba menahan setang motorku.

“Anak itu siapa?”

Aku menatap tangannya.

“Lepaskan.”

“Alya.”

Suaranya bergetar.

“Berapa usianya?”

Aku tidak menjawab.

Aksa memeluk leherku.

“Bunda, Om ini siapa?”

Raka seperti kehilangan napas.

Dia berjongkok tepat di depan Aksa.

“Namamu siapa?”

Aksa menyembunyikan wajah di bahuku.

Aku mundur.

“Jangan mendekatinya.”

Raka berdiri lagi.

Matanya merah.

“Dia anakku?”

Aku tersenyum tipis.

“Lucu.”

“Tiga tahun lalu ketika aku bertanya apakah kamu mau menjadi ayahnya, kamu tidak bisa menjawab.”

“Sekarang setelah melihat wajahnya, tiba-tiba kamu tahu dia anakmu?”

“Aku tidak pernah bilang aku tidak menginginkannya!”

“Kamu bilang kalau aku mempertahankannya, itu pilihanku.”

“Aku sedang panik!”

“Aku juga panik.”

“Tapi aku tetap melahirkan dia.”

Raka terdiam.

Aku memasangkan helm kecil pada Aksa.

Namun sebelum aku naik motor, dia berkata,

“Aku berhak mengenalnya.”

Aku menoleh.

“Seorang anak bukan proyek yang bisa kamu tinggalkan tiga tahun lalu lalu kamu ambil lagi ketika jadwalmu sudah longgar.”

Hari berikutnya Raka datang lagi.

Hari berikutnya juga.

Dia membawa mobil-mobilan.

Buku dinosaurus.

Sepatu kecil.

Semua kutolak.

Pada hari kelima, aku mendapat telepon dari kepala sekolah.

Raka ternyata mendatangi administrasi.

Mengaku sebagai ayah biologis Aksa.

Dan meminta namanya dimasukkan sebagai orang yang boleh menjemput anakku.

Aku datang ke sekolah dengan tangan gemetar.

Di depan ruang kepala sekolah, Raka sudah menunggu.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Aku ayahnya.”

“Kamu orang asing bagi Aksa.”

“Aku bisa tes DNA.”

Aku tertawa tanpa humor.

“Silakan.”

Raka menatapku tajam.

“Dan kalau terbukti dia anakku, aku tidak akan membiarkan kamu menjauhkan dia lagi.”

Sebelum aku sempat menjawab, sebuah suara perempuan terdengar dari belakang.

“Akhirnya ketemu juga.”

Aku membeku.

Bu Ratih.

Ibu Raka.

Dia berjalan ke arah kami, memandang Aksa dari kepala sampai kaki, lalu tanpa meminta izin mencoba menyentuh pipinya.

Aku langsung menarik anakku ke belakang.

Bu Ratih mendecakkan lidah.

“Tiga tahun kamu sembunyikan cucu keluarga Mahendra.”

Lalu dia menatapku seolah aku seorang pencuri.

“Sekarang jangan berharap kami akan diam saja.”

Dan pada saat itulah aku sadar.

Masalah sebenarnya baru saja dimulai.

Menurut kalian, setelah tiga tahun membesarkan anak sendirian, apakah Alya masih wajib memberi Raka hak masuk sesuka hati ke kehidupan Aksa?

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #CeritaIndonesia #KonflikKeluarga #KisahIbuAnak

Bagian 2 — Setelah Menemukan Putranya, Raka Datang Setiap Hari Membawa Mainan—Lalu Ibunya Muncul dan Menuduhku Sengaja Menyembunyikan Pewaris Keluarga selama Tiga Tahun

“Cucu keluarga Mahendra?”

Aku mengulang kata-kata Bu Ratih.

“Selama tiga tahun anak ini demam, kalian di mana?”

Bu Ratih mengangkat dagu.

“Kami tidak tahu dia ada.”

“Raka tahu aku hamil.”

“Itu beda.”

Aku hampir tertawa.

Ternyata dalam keluarga mereka, mengetahui seorang perempuan sedang mengandung anakmu dan mengetahui anak itu ada dianggap dua hal berbeda.

Bu Ratih kemudian mengatakan sesuatu yang membuat darahku mendidih.

“Kalau dari awal kamu memang berniat melahirkan, seharusnya kamu menghubungi keluarga kami.”

“Aku menghubungi.”

Wajahnya berubah.

“Apa?”

“Bukan aku.”

“Indah.”

Aku masih mengingat malam itu.

Usia kandunganku lima bulan.

Aku terbangun dan melihat darah membasahi pakaian.

Indah membawaku ke rumah sakit dengan mobil tetangga.

Setelah dokter mengatakan kehamilanku harus dipantau ketat, kakakku keluar kamar.

Tanpa sepengetahuanku dia menelepon Raka.

Tidak diangkat.

Dia menelepon lagi.

Tetap tidak diangkat.

Baru pada panggilan keenam seseorang menjawab.

Seorang perempuan.

Bu Ratih.

Aku menatapnya.

“Kakakku bilang aku masuk rumah sakit.”

“Kakakku bahkan mengirim nama rumah sakit dan nomor kamar.”

Bu Ratih memalingkan wajah.

Raka menoleh cepat kepada ibunya.

“Ibu?”

“Aku tidak ingat.”

“Kamu ingat.”

Suaraku datar.

“Karena setelah telepon itu, Indah masuk kamar sambil menangis.”

Bu Ratih mulai gelisah.

“Waktu itu Raka sedang mengejar proyek besar. Saya mungkin cuma bilang jangan mengganggunya dulu.”

Aku mengangguk.

“Benar.”

“Dan ada satu kalimat lagi.”

Raka menatapku.

“Apa?”

Aku menirukan ucapan Bu Ratih yang diceritakan Indah kepadaku malam itu.

“Kalau adikmu memilih melahirkan, ya tanggung sendiri. Jangan setiap ada masalah mencari Raka.”

Wajah Raka kehilangan warna.

“Ibu bilang begitu?”

Bu Ratih langsung membela diri.

“Saya cuma menjaga masa depanmu!”

“Waktu itu perusahaanmu hampir bangkrut!”

“Kamu pikir kalau dia datang membawa bayi, kamu bisa fokus bekerja?”

Aku melihat Raka menunggu sesuatu.

Mungkin dia berharap aku merasa lega karena akhirnya ada orang lain yang bisa disalahkan.

Aku tidak memberinya itu.

“Jangan lihat aku seperti itu.”

“Yang meninggalkanku bukan ibumu.”

“Kamu.”

“Alya…”

“Nomorku tidak pernah berubah.”

“Alamat rumah Indah masih sama sampai sekarang.”

“Akun media sosialku tidak pernah hilang.”

“Kamu bisa datang kapan saja selama tiga tahun.”

“Kenapa tidak?”

Raka membuka mulut.

Tidak ada jawaban.

Karena kami berdua tahu jawabannya.

Dia tidak mencari.

Sebab hidupnya sedang berjalan baik tanpa kami.

Malam itu dia datang ke rumah kontrakanku sendirian.

Aku tidak mempersilahkannya masuk.

Kami berbicara di teras.

“Aku salah.”

Itu pertama kalinya sejak kami bertemu lagi dia mengatakan kalimat itu.

“Aku pikir kamu akan menghubungiku lagi setelah marahmu reda.”

Aku menatapnya lama.

“Dan aku pikir kamu akan mengejarku ke terminal.”

Kami sama-sama diam.

Mungkin itulah tragedi paling sederhana dari hubungan kami.

Dia yakin aku tidak akan benar-benar pergi.

Aku yakin dia tidak akan benar-benar membiarkanku pergi.

Ternyata kami sama-sama salah.

Raka mengusap wajah.

“Aku mau memperbaiki semuanya.”

“Tidak semuanya bisa diperbaiki.”

“Setidaknya kasih aku kesempatan mengenal Aksa.”

“Aksa bukan kesempatan kedua untuk hubungan kita.”

“Aku tahu.”

“Benarkah?”

Aku menatap tas besar berisi mainan yang dibawanya.

“Karena selama lima hari kamu datang seolah hadiah bisa mengejar tiga tahun yang hilang.”

Sejak malam itu aku membuat aturan.

Raka boleh bertemu Aksa hanya bersamaku.

Tidak boleh menjemput dari sekolah.

Tidak boleh memperkenalkan diri sebagai ayah sebelum anakku siap.

Tidak boleh membawa Aksa ke rumah keluarganya.

Raka awalnya setuju.

Bu Ratih tidak.

Dua hari kemudian dia datang ke tempat kateringku bersama seorang pengacara keluarga.

Di depan Indah dan tiga karyawanku, dia meletakkan map cokelat di meja.

“Kami ingin semuanya jelas.”

Aku membuka map.

Surat permintaan tes DNA.

Permohonan pertemuan rutin.

Dan ancaman bahwa bila aku terus “menghalangi hubungan ayah dan anak”, mereka akan menempuh jalur hukum.

Aku mengangkat wajah.

“Raka tahu?”

Bu Ratih tersenyum kecil.

“Dia anak saya.”

“Tentu dia tahu.”

Malam itu aku menelepon Raka.

“Besok datang.”

“Ada apa?”

“Kamu mau membuktikan kamu ayah Aksa, kan?”

Aku memandang map di meja.

“Bawa pengacaramu sekalian.”

Besoknya Raka datang bersama Bu Ratih dan pengacara mereka.

Indah duduk di sampingku.

Tidak ada yang berteriak.

Aku bahkan menyediakan teh.

Pengacara Raka menjelaskan panjang lebar tentang hak seorang ayah.

Aku menunggu sampai dia selesai.

Lalu kubuka laptop.

“Aku tidak pernah melarang tes DNA.”

“Silakan.”

“Tapi kalau kalian mau membicarakan hak, kita juga akan membicarakan kewajiban.”

Bu Ratih mendengus.

“Kewajiban apa? Kamu tidak pernah minta uang.”

“Betul.”

“Karena waktu aku masih hamil, aku sudah diberi tahu bagaimana posisi kami.”

Aku menatap Indah.

Kakakku mengeluarkan ponsel lamanya.

Raka mengernyit.

“Itu apa?”

Indah menjawab,

“Rekaman malam ketika Alya masuk rumah sakit.”

Wajah Bu Ratih langsung berubah.

Indah menekan tombol putar.

Suara berisik sebuah lorong terdengar lebih dulu.

Lalu suara Indah yang menangis.

“Mas Raka, Alya perdarahan. Dokter bilang kandungannya harus dijaga. Tolong datang atau setidaknya telepon dia.”

Kemudian terdengar suara Raka.

Jelas.

Tidak mungkin salah.

“Aku besok ada presentasi penting.”

“Kalau Alya tetap memilih melahirkan bayi itu, berarti dia juga harus siap menanggung konsekuensinya.”

“Aku tidak bisa meninggalkan semuanya setiap kali dia panik.”

Ruangan mendadak sunyi.

Raka membeku.

Bu Ratih berhenti bernapas sesaat.

Aku hanya menatap laki-laki di depanku.

“Tiga tahun lalu,” kataku pelan, “aku hampir kehilangan Aksa.”

“Dan itu jawabanmu.”

Pengacara Raka menutup mapnya perlahan.

Tetapi belum selesai.

Indah menggeser satu lembar kertas lain ke tengah meja.

Catatan panggilan dari rumah sakit.

Tujuh panggilan ke nomor Raka malam itu.

Enam tidak dijawab.

Satu berlangsung sebelas detik.

Raka menatap bukti itu dengan tangan gemetar.

Lalu untuk pertama kalinya sejak kembali ke hidupku, dia tidak menuntut apa pun.

Dia hanya bertanya,

“Alya… setelah semua ini, kenapa kamu sama sekali tidak membenciku di depan Aksa?”

Aku menjawab,

“Karena aku tidak mau anakku tumbuh membawa kebencian yang kamu tinggalkan untukku.”

Bu Ratih mendadak berdiri.

“Cukup.”

Dia meraih map.

“Kalau begini, biar pengadilan saja yang menentukan.”

Raka langsung menoleh.

“Ibu…”

Namun Bu Ratih sudah menatapku dengan dingin.

“Kita lihat apakah seorang ibu bisa terus menentukan semuanya sendiri.”

Tiga hari kemudian, surat resmi dari kantor hukum mereka benar-benar tiba di tempat usahaku.

Dan kali ini, di bawah nama Bu Ratih, ada tanda tangan Raka sendiri.

Bagian 3 — Ketika Raka Mengancam Membawa Hak Asuh ke Pengadilan, Satu Rekaman Lama Membuktikan Siapa yang Sebenarnya Meninggalkan Anak Itu Terlebih Dahulu

Aku menatap tanda tangan Raka hampir satu menit.

Aneh.

Aku tidak marah.

Mungkin karena setelah tiga tahun mengurus seorang anak sendirian, ada titik ketika rasa takut berhenti menjadi sesuatu yang menakutkan.

Aku menelepon seorang pengacara yang direkomendasikan pelanggan kateringku.

Aku membawa semuanya.

Catatan pemeriksaan kehamilan.

Biaya rumah sakit.

Dokumen kelahiran Aksa.

Riwayat pembayaran sekolah.

Pesan lama Raka.

Rekaman suara.

Bahkan kuitansi kecil dari apotek yang selama ini kusimpan tanpa alasan jelas.

Pengacaraku membaca semuanya.

Kemudian berkata,

“Yang mereka inginkan mungkin bukan hak asuh penuh.”

“Mereka ingin posisi.”

Dan dia benar.

Pada pertemuan mediasi pertama, Bu Ratih lebih banyak berbicara daripada Raka.

Dia menuntut nama keluarga mereka dicantumkan.

Meminta akses akhir pekan.

Bahkan mengusulkan agar Aksa beberapa kali dalam sebulan menginap di rumahnya supaya “mengenal keluarga ayah”.

Aku menolak.

“Aksa bahkan belum memanggil Raka dengan sebutan Papa.”

Bu Ratih langsung menjawab,

“Karena kamu tidak mengajarinya.”

Aku tersenyum.

“Seorang anak belajar memanggil seseorang Papa karena orang itu hadir.”

“Bukan karena disuruh.”

Raka menunduk.

Lalu pengacaraku memutar rekaman yang sudah pernah didengar mereka.

Bedanya, kali ini kami memutarnya sampai selesai.

Selama ini rekaman Indah berhenti pada kalimat Raka soal “menanggung konsekuensi”.

Ternyata masih ada hampir satu menit percakapan setelahnya.

Suara Indah terdengar berkata,

“Mas, kalau suatu hari anak itu besar dan bertanya ayahnya di mana, saya harus jawab apa?”

Ada jeda.

Kemudian suara Raka menjawab,

“Bilang saja ayahnya belum siap.”

“Kalau Alya memang mau pergi dari hidupku karena ini, aku juga tidak akan menahannya.”

Raka menutup mata.

Bu Ratih tidak lagi bicara.

Aku sendiri belum pernah mendengar bagian terakhir itu.

Indah rupanya sengaja tidak pernah memperdengarkannya kepadaku.

Dalam perjalanan pulang dia menjelaskan,

“Waktu itu kamu baru melahirkan.”

“Aku takut kalau kamu dengar, kamu akan makin hancur.”

Pertemuan kedua berlangsung jauh lebih pendek.

Kali ini Raka datang tanpa ibunya.

Dia mencabut tuntutan agresif tentang hak membawa Aksa menginap.

Dia juga meminta pengacaranya mengubah seluruh pendekatan.

Di lorong gedung, dia menghentikanku.

“Alya.”

Aku berhenti.

“Aku menandatangani surat itu karena Ibu terus bilang kamu akan membawa Aksa pergi lagi.”

Aku mengangguk.

“Dan lagi-lagi kamu memilih percaya bahwa semua keputusanmu adalah akibat tindakan orang lain.”

Dia terdiam.

“Aku menandatanganinya sendiri, Raka.”

“Bukan tangan ibumu.”

Wajahnya memerah.

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya dia tidak berusaha menjelaskan.

“Aku tidak akan minta kamu memaafkanku.”

“Aku cuma minta satu hal.”

“Apa?”

“Biarkan aku membuktikan kepada Aksa bahwa aku bisa hadir.”

Aku menatapnya.

“Bukan kepadaku.”

“Buktikan kepadanya.”

Setelah berkonsultasi, kami menyepakati aturan tertulis.

Raka boleh menemui Aksa dua kali seminggu pada masa awal.

Pertemuan dilakukan di tempat yang dikenal Aksa dan salah satu dari kami harus mendampingi.

Dia tidak boleh mengambil keputusan soal sekolah, kesehatan, atau membawa Aksa keluar kota tanpa persetujuanku.

Namanya tidak otomatis dimasukkan dalam daftar penjemput sekolah.

Dan yang paling membuat Bu Ratih marah, nama Aksa tidak diubah.

“Kenapa harus mempertahankan nama Pramana?”

Dia memprotes ketika mendengar keputusan itu.

Raka menjawab ibunya sendiri.

“Karena nama itu diberikan orang yang membesarkannya saat aku tidak ada.”

Bu Ratih membisu.

Itulah pertama kalinya aku melihat Raka benar-benar berdiri melawan ibunya.

Namun aku tidak menganggapnya sebagai kemenangan.

Terlambat tiga tahun tetaplah terlambat tiga tahun.

Raka juga membuka rekening pendidikan atas nama Aksa dan mulai memenuhi kewajiban finansialnya secara teratur.

Aku tidak pernah menggunakan uang itu untuk kebutuhan sehari-hari.

Semua kusimpan untuk pendidikan anakku.

Karena aku ingin Raka mengerti satu hal.

Uang bisa membayar sekolah.

Tetapi uang tidak bisa membeli kembali ulang tahun pertama yang dia lewatkan.

Tidak bisa membeli malam ketika Aksa demam empat puluh derajat dan aku duduk sendirian di IGD.

Tidak bisa membeli kata pertama.

Langkah pertama.

Hari pertama sekolah.

Semua itu sudah berlalu.

Dan itulah harga terbesar yang harus dibayar Raka.

Bukan kehilangan perusahaan.

Bukan kehilangan uang.

Melainkan menyadari bahwa hidup anaknya sudah memiliki tiga tahun kenangan tanpa dirinya.

Pada bulan pertama, Aksa tetap memanggilnya “Om Raka”.

Raka tidak pernah memaksa.

Dia datang membawa buku, bukan mainan mahal.

Kadang membantu Aksa menggambar.

Kadang hanya duduk mendengarkan anak itu bercerita tentang dinosaurus.

Suatu sore setelah hampir enam bulan, aku sedang menutup kotak pesanan katering ketika Aksa berlari keluar rumah.

Raka baru datang.

Anakku berhenti di depan pagar.

Kemudian berteriak,

“Papa Raka!”

Raka membeku.

Aku juga.

Dia berjongkok.

Aksa berlari dan memeluknya.

Raka langsung menutupi wajah.

Bahu laki-laki itu bergetar.

Dia menangis tanpa suara sambil memeluk anak yang tiga tahun sebelumnya dia pikir bisa menunggunya sampai dirinya siap.

Aku berdiri di pintu.

Tidak cemburu.

Tidak marah.

Juga tidak berharap kami akan kembali bersama.

Karena beberapa hubungan memang bisa diperbaiki.

Tetapi tidak harus dikembalikan ke bentuk semula.

Setahun kemudian usahaku berkembang.

Dapur kecil yang dulu hanya menerima dua puluh kotak nasi sehari sudah memiliki dua belas karyawan tetap.

Aku dan Indah akhirnya mampu menyewa tempat produksi sendiri.

Beberapa bulan kemudian aku mengambil cicilan rumah kecil di pinggir Depok.

Pada malam pertama kami tidur di rumah itu, Aksa berlari dari kamar ke kamar sambil tertawa.

“Bunda, ini rumah kita?”

Aku mengangguk.

“Rumah kita.”

Dia melompat ke kasur dan memelukku.

“Berarti kita nggak pindah lagi?”

Aku menahan air mata.

“Tidak.”

“Ini rumah Aksa.”

Di atas meja ruang tamu ada foto kami bertiga dari acara sekolah.

Aku.

Aksa.

Dan Raka.

Bukan sebagai pasangan.

Bukan sebagai keluarga yang kembali seperti dulu.

Tetapi sebagai tiga orang yang akhirnya belajar menerima kenyataan.

Raka kehilangan hak untuk menjadi bagian dari tiga tahun pertama hidup anaknya karena pilihannya sendiri.

Aku kehilangan laki-laki yang dulu kupikir akan menjadi suamiku.

Namun aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih penting.

Kehidupan yang tidak lagi dibangun dari janji seseorang.

Dan Aksa mendapatkan ayah yang akhirnya memahami bahwa menjadi orang tua bukan soal darah.

Bukan soal nama keluarga.

Bukan pula soal siapa yang paling keras menuntut hak.

Menjadi orang tua berarti datang.

Lalu datang lagi.

Dan tetap datang bahkan ketika tidak ada seorang pun yang berjanji akan menunggumu.

Suatu malam sebelum tidur, Aksa bertanya,

“Bunda dulu sayang Papa Raka?”

Aku tersenyum.

“Pernah.”

“Sekarang?”

Aku mencium keningnya.

“Sekarang Bunda senang Papa sayang sama Aksa.”

Anakku mengangguk puas lalu memejamkan mata.

Aku mematikan lampu.

Di luar jendela hujan turun perlahan.

Tiga tahun sebelumnya, aku pernah meninggalkan Jakarta sambil membawa satu bayi dalam kandungan dan satu hati yang hancur.

Aku pikir aku telah kehilangan keluarga.

Ternyata aku hanya sedang membangun keluarga dalam bentuk yang berbeda.

Dan kali ini, tidak ada seorang pun yang perlu menunggu untuk dipilih.