Tiga Bulan Setelah Kakakku Dimakamkan, Kakak Iparku Memintaku Menjadi Ibu Anaknya—Lalu Rekaman Terakhir Kakakku Membongkar Alasan Sebenarnya Mereka Mengincar Hidupku di Meja Makan Keluarga
Bagian 1 — Di Meja Makan, Ayah Ibuku Memintaku Menunda Pernikahan Demi Nala—Lalu Dimas Menawarkan Status Istri Seolah Aku Sudah Menjadi Miliknya
Tiga bulan setelah kakakku dimakamkan, kakak iparku datang membawa putrinya ke rumah orang tuaku di Semarang.
Aku pikir kami hanya akan makan malam seperti biasa.
Aku bahkan membawakan Nala sekotak puding cokelat karena anak empat tahun itu sedang sulit makan sejak kehilangan ibunya.
Ternyata malam itu, tanpa sepengetahuanku, seluruh keluargaku sudah menyiapkan sebuah keputusan.
Tentang hidupku.
Tentang pernikahanku.
Dan tentang siapa yang harus menggantikan kakakku di ranjang suaminya.
Kami baru setengah makan ketika Dimas meletakkan sendoknya.
Ia menatap Nala yang duduk di sampingnya, lalu menghela napas panjang.
“Anak sekecil ini tidak mungkin tumbuh tanpa sosok ibu.”
Ibuku, Bu Ratih, langsung menyeka sudut matanya.
Ayahku menunduk.
Di dinding ruang makan masih tergantung foto Maya, kakakku, mengenakan kebaya hijau saat wisuda.
Aku menatap foto itu beberapa detik.
Entah mengapa tengkukku mendadak dingin.
Lalu Ibu memanggil namaku.
“Laras.”
Aku menoleh.
“Pernikahanmu dengan Bima masih lima bulan lagi, kan?”
Tanganku berhenti di atas piring.
“Kenapa?”
Ibu tidak langsung menjawab.
Ia justru melirik Dimas.
Dan saat itulah aku tahu ini bukan percakapan spontan.
Mereka sudah membahasnya sebelum aku datang.
“Kalau bisa…” suara Ibu mengecil, “jangan buru-buru menikah dulu.”
Aku tertawa kecil karena mengira aku salah dengar.
“Kenapa?”
“Nala masih membutuhkanmu.”
“Aku tetap bisa menjadi tantenya setelah menikah.”
Ibu menggeleng.
“Beda, Laras.”
Dimas akhirnya ikut bicara.
“Kalau kamu tinggal bersama kami, Nala pasti lebih tenang.”
Aku menatapnya.
“Tinggal bersama kalian?”
“Untuk sementara.”
“Berapa lama sementara?”
Dimas terdiam.
Ayah menyela.
“Sampai keadaan stabil.”
Aku hampir tersenyum.
Kalimat “sampai keadaan stabil” adalah kalimat paling berbahaya yang pernah diciptakan keluarga.
Bisa berarti tiga bulan.
Bisa tiga tahun.
Bisa sampai seseorang menghabiskan seluruh hidupnya.
Aku menaruh sendok.
“Lalu pekerjaanku?”
“Kamu tetap bekerja,” kata Ibu cepat. “Rumah Dimas kan hanya sekitar dua puluh menit dari kantormu.”
“Pernikahanku?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Aku menatap satu per satu wajah di meja.
Ayah menghindari mataku.
Ibu sibuk meremas tisu.
Sementara Dimas… justru terlihat sangat tenang.
Terlalu tenang untuk seorang lelaki yang katanya baru kehilangan istri.
Kemudian ia berkata,
“Kalau masalahnya status…”
Ia berhenti sejenak.
“…aku sebenarnya tidak keberatan menikah denganmu.”
Ruangan seperti kehilangan udara.
Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik.
Di depan kami, semangkuk sayur lodeh masih mengepul.
Nala sedang sibuk memecahkan kerupuk kecil-kecil tanpa mengerti bahwa ayahnya baru saja menawarkan pernikahan kepada adik kandung ibunya.
Aku menatap Dimas.
“Kamu bilang apa?”
Dimas menarik napas.
“Aku tidak bermaksud merendahkanmu.”
“Syukurlah. Karena dari sini kedengarannya memang sangat merendahkan.”
Wajah Ibu langsung berubah.
“Laras!”
Aku tidak memedulikannya.
Dimas melanjutkan dengan nada seolah sedang menjelaskan keputusan bisnis yang masuk akal.
“Kita sudah saling kenal bertahun-tahun. Nala juga dekat denganmu. Kamu menyayanginya. Daripada ada perempuan asing yang masuk ke hidupnya…”
“Jadi aku pilihan paling praktis?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Ia kehilangan kata-kata.
Ayah menghentakkan telapak tangannya pelan ke meja.
“Jangan bicara seperti sedang berdebat di kantor.”
Aku menoleh kepada Ayah.
“Karena mereka sedang membicarakan hidupku seolah aku barang inventaris keluarga.”
“Ini demi keponakanmu.”
“Sejak kapan mencintai keponakan berarti aku harus menikahi ayahnya?”
Ibu mulai menangis.
Dan seperti biasa, air mata Ibu langsung mengubah aku menjadi terdakwa.
“Maya baru meninggal tiga bulan, Laras.”
“Justru karena Maya baru meninggal tiga bulan, kenapa suaminya sudah membicarakan menikahi adiknya?”
Dimas langsung menunduk.
Ibu berkata cepat,
“Dia memikirkan anaknya!”
Aku tertawa tanpa suara.
Aku memang sangat menyayangi Nala.
Saat Maya sakit selama hampir delapan bulan, aku yang sering mengantar Nala ke TK.
Aku yang duduk di lorong rumah sakit sambil mengepang rambutnya ketika Dimas katanya sedang rapat.
Aku yang membelikannya sepatu baru setelah sepatunya kekecilan.
Aku yang menemaninya tidur di rumah orang tuaku pada malam pertama setelah pemakaman.
Aku melakukan semuanya karena Maya adalah kakakku.
Dan karena Nala adalah anak yang tidak memilih kehilangan ibunya.
Tetapi Maya pernah mengatakan sesuatu kepadaku, dua minggu sebelum meninggal.
Saat itu tubuhnya sudah sangat kurus.
Kami hanya berdua di kamar rumah sakit.
Ia memegang pergelangan tanganku dan berkata,
“Kalau aku tidak ada, sayangi Nala.”
Aku menangis dan mengangguk.
Lalu Maya menambahkan,
“Tapi jangan pernah membayar rasa sayangmu dengan hidupmu sendiri.”
Waktu itu aku mengira ia hanya khawatir aku terlalu banyak membantu.
Malam ini, untuk pertama kalinya, kalimat itu terdengar seperti peringatan.
Aku memandang Dimas.
“Aku mau tanya satu hal.”
“Silakan.”
“Kalau aku menikah denganmu, siapa yang akan mengurus rumah?”
Ia mengerutkan dahi.
“Ya… kita bersama-sama.”
“Antar Nala sekolah?”
“Kamu lebih fleksibel.”
“Kalau dia sakit?”
“Kamu kan lebih telaten.”
“Memasak?”
“Kamu biasa masak.”
“Mencuci?”
Dimas mulai gelisah.
“Bisa pakai laundry.”
“Biaya rumah?”
“Kita berdua bekerja.”
Nah.
Akhirnya keluar juga.
Bukan hanya ibu untuk Nala.
Bukan hanya istri untuk Dimas.
Tetapi juga pegawai bergaji yang membawa penghasilannya sendiri ke rumah.
Aku menatap Ibu.
“Ini yang Ibu maksud dengan membantu?”
Ibu memegang tanganku.
“Nak, jangan dilihat seperti itu. Kamu sekarang umur dua puluh sembilan. Dimas juga orang yang sudah kita kenal. Daripada nanti dapat laki-laki yang keluarganya belum jelas…”
Aku langsung menarik tanganku.
“Aku sudah punya Bima.”
Ibu terdiam.
Seolah baru ingat tunanganku benar-benar ada.
“Bima akan mengerti.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Mengerti bahwa calon istrinya diminta menikah dengan kakak iparnya?”
Ayah mendesis kesal.
“Jangan dilebih-lebihkan.”
“Bagian mana yang berlebihan?”
Saat itulah Nala tiba-tiba menarik ujung bajuku.
“Tante Laras.”
Aku langsung melembut.
“Iya, Sayang?”
“Kalau Tante tinggal di rumah Nala, Tante tidur di kamar Mama?”
Aku membeku.
Dimas cepat-cepat menyentuh bahu putrinya.
“Nala, makan dulu.”
Tetapi anak kecil tidak mengerti kapan orang dewasa ingin sebuah percakapan dihentikan.
Ia memandangku polos.
“Papa bilang kamar Mama nanti buat Tante.”
Tidak ada seorang pun bergerak.
Darahku seperti berhenti mengalir.
Aku perlahan menoleh kepada Dimas.
“Papa bilang begitu kapan?”
Nala berpikir.
“Pas Tante Rika datang.”
Tangan Dimas langsung menegang.
Ia hampir menjatuhkan gelas.
“Nala.”
Nada suaranya berubah.
Terlalu cepat.
Terlalu tajam.
Aku menangkapnya.
“Siapa Tante Rika?”
“Teman kantor,” jawab Dimas.
Cepat sekali.
Bahkan sebelum aku selesai bertanya.
Nala malah tersenyum.
“Tante Rika yang rambutnya panjang. Tante Rika bilang nanti kalau Nala sekolah, dia bisa datang lagi.”
Wajah Ibu memucat.
Aku melihatnya.
Ibu tahu nama itu.
Aku yakin.
“Bu?”
Ibu mengangkat gelas, tapi tangannya gemetar.
“Apa?”
“Ibu kenal Rika?”
“Tidak.”
Jawabannya datang terlambat dua detik.
Cukup untuk membuat semuanya menjadi jelas.
Aku merogoh tas, mengambil ponsel, lalu menyalakan perekam suara.
Aku meletakkannya tepat di tengah meja.
Dimas menatap layar ponsel itu.
“Apa-apaan ini?”
“Aku ingin semuanya jelas.”
“Laras…”
Aku menatapnya lurus-lurus.
“Kalau tujuanmu mencari pengasuh untuk Nala, katakan sekarang.”
Tidak ada jawaban.
“Kalau tujuanmu mencari istri, katakan.”
Diam.
“Kalau tujuanmu mencari perempuan yang bekerja, mengurus anakmu, memasak di rumahmu, menanggung separuh biaya hidup, lalu pura-pura tidak tahu ketika perempuan bernama Rika datang saat aku bekerja…”
Dimas langsung berdiri.
“Kamu menuduh tanpa bukti!”
Aku belum sempat menjawab.
Nala, yang masih memegang kerupuk di tangan kecilnya, berkata polos,
“Papa pernah bilang ke Tante Rika jangan marah. Tante Laras cuma dipakai dulu sampai Nala besar.”
Semua orang terdiam.
Aku menatap Dimas.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar kehilangan warna.
Dan yang lebih membuatku ngeri…
Ibuku tidak terlihat terkejut.
Dia hanya menundukkan kepala.
Seolah kalimat itu bukan pertama kalinya ia dengar.
Bagian 2 — Satu Folder Peninggalan Maya Membuktikan Dimas Sudah Menyusun Rencana Sebelum Pemakaman—Dan Ibuku Ternyata Memilih Diam Mengetahui Sebagian Kebenaran Itu
Makan malam berakhir tanpa ada yang menyentuh makanan lagi.
Dimas membawa Nala pulang sambil terus mengatakan anak kecil sering salah mengingat percakapan.
Ayah ikut menyalahkanku.
Katanya aku membuat suasana semakin buruk.
Tetapi Ibu sama sekali tidak membelaku.
Ia justru terus menghindari mataku.
Malam itu aku tidak tidur.
Sekitar pukul dua dini hari, aku teringat satu nama.
Sinta.
Sahabat Maya sejak kuliah.
Dua minggu sebelum meninggal, Maya pernah berkata kepadaku,
“Kalau suatu hari ada orang yang memintamu menggantikan posisiku, cari Sinta.”
Saat itu aku memarahinya.
Aku bilang jangan bicara aneh-aneh.
Maya hanya tersenyum.
Aku baru mengerti sekarang.
Pagi harinya aku menelepon Sinta.
Begitu mendengar ceritaku, ia diam cukup lama.
Kemudian berkata,
“Akhirnya kejadian juga.”
Aku merinding.
Dua jam kemudian kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil dekat Simpang Lima.
Sinta datang membawa amplop cokelat dan sebuah flashdisk.
“Maya menitipkan ini tiga minggu sebelum meninggal.”
Tanganku dingin saat menerimanya.
“Kenapa baru sekarang?”
“Karena pesannya jelas. Aku hanya boleh memberikannya kalau Dimas atau keluargamu mulai mendorongmu tinggal bersama dia atau menikah dengannya.”
Aku hampir tidak bisa bernapas.
Di dalam flashdisk itu ada tangkapan layar WhatsApp.
Ada rekaman suara.
Ada foto beberapa catatan rekening.
Dan ada satu video Maya.
Aku membuka tangkapan layar pertama.
Percakapan antara Dimas dan seseorang bernama Rika.
Tanggalnya hampir dua bulan sebelum Maya meninggal.
Dimas menulis:
Tunggu dulu. Aku tidak bisa meninggalkan Maya sekarang. Semua orang akan menghancurkanku.
Rika membalas:
Lalu setelah dia tidak ada?
Dimas:
Laras sayang sekali sama Nala. Keluarganya juga gampang merasa bersalah. Kalau Laras bisa tinggal di rumah dan urus Nala, semuanya jauh lebih mudah.
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Dadaku terasa terbakar.
Pesan berikutnya jauh lebih buruk.
Rika bertanya:
Kalau dia menikah dengan pacarnya bagaimana?
Dimas menjawab:
Ibunya bisa mengurus itu.
Tanganku mulai gemetar.
“Ada lagi,” kata Sinta pelan.
Ia membuka folder berbeda.
Tangkapan layar percakapan Dimas dengan ibuku.
Dimas:
Bu, nanti setelah Maya tidak ada, saya takut Nala tidak terurus. Laras paling dekat dengannya.
Ibu:
Jangan bicara begitu sekarang. Maya masih ada.
Dimas:
Saya cuma ingin siap-siap. Kalau Laras bisa menunda nikah satu atau dua tahun dulu, mungkin lebih baik.
Beberapa menit kemudian Ibu membalas:
Saya coba bicara pelan-pelan nanti.
Aku tidak menangis.
Entah kenapa justru tidak bisa.
Sakitnya terlalu besar untuk berubah menjadi air mata.
Aku langsung pulang menemui Ibu.
Aku meletakkan tangkapan layar itu di meja.
Ibu baru membaca dua halaman ketika wajahnya runtuh.
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan.”
“Ibu cuma berpikir tentang Nala.”
“Ketika Maya masih hidup?”
Ibu menangis.
“Dimas bilang kondisinya sudah tidak mungkin membaik.”
Aku menatapnya lama sekali.
“Jadi kalian sudah membagikan hidupku sebelum kakakku meninggal?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Ibu menutup wajah.
Kemudian kalimat yang keluar dari mulutnya membuat sisa rasa hormatku runtuh.
“Ibu takut setelah Maya meninggal, Dimas membawa Nala ke keluarga mereka di Kendal. Ibu takut kita kehilangan Nala.”
Aku akhirnya mengerti.
Mereka tidak sedang menyelamatkan aku.
Bahkan bukan sepenuhnya menyelamatkan Nala.
Mereka takut kehilangan akses kepada cucu.
Jadi hidupku dianggap harga yang pantas dibayar.
Aku berdiri.
Ibu menarik lenganku.
“Jangan kasih tahu Ayah dulu.”
Aku berhenti.
“Kenapa?”
Wajah Ibu berubah lagi.
Ada ketakutan lain di sana.
“Karena Ayah… sudah meminjamkan uang ke Dimas.”
“Berapa?”
Ibu berbisik,
“Seratus delapan puluh juta.”
Aku sampai tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena rasanya terlalu gila.
“Ternyata lengkap.”
“Laras…”
“Dimas kehilangan istri, punya utang ke Ayah, punya perempuan lain, butuh pengasuh untuk anak, dan butuh seseorang yang ikut menanggung biaya rumah.”
Aku menunjuk diriku sendiri.
“Lalu kalian melihat aku dan berpikir: selesai.”
Ibu menangis semakin keras.
Namun kali ini aku tidak memeluknya.
Ponselku bergetar.
Pesan dari Dimas.
Sebuah foto Nala sedang duduk di tangga rumah dengan mata sembap.
Di bawahnya ada satu kalimat:
Nala tidak mau makan sejak semalam. Kalau kamu masih punya hati sebagai tante, datanglah.
Aku menatap foto itu.
Kemudian pesan kedua masuk.
Kita selesaikan baik-baik. Jangan bikin masalah ini sampai diketahui keluarga besar.
Aku hampir membalas.
Tetapi Sinta yang masih berdiri di dekat pintu tiba-tiba berkata,
“Jangan dulu.”
Ia menunjuk flashdisk di tanganku.
“Kamu belum lihat video terakhir Maya.”
Aku membuka laptop.
Video itu berdurasi enam menit dua belas detik.
Maya muncul dengan wajah pucat, kepala dibungkus syal, duduk di ranjang rumah sakit.
Lalu kalimat pertamanya membuat lututku lemas.
“Laras, kalau kamu sedang menonton ini, berarti Dimas akhirnya melakukan persis seperti yang aku takutkan.”
Bagian 3 — Ketika Dimas Membawa Nala untuk Menekan Aku Sekali Lagi, Pesan Maya dan Rekaman Lama Membalikkan Seluruh Permainan Keluarga di Depan Semua Orang
Dalam video itu, Maya tidak menangis.
Justru itulah yang membuatnya terasa jauh lebih menyakitkan.
Ia berkata pelan,
“Aku tahu kamu menyayangi Nala. Karena itu aku takut mereka memakai Nala untuk mengikatmu.”
Maya menceritakan semuanya.
Tentang Rika.
Tentang pesan Dimas kepada Ibu.
Tentang bagaimana Dimas berkali-kali mengeluh bahwa mengurus anak akan menghancurkan kariernya.
Maya bahkan pernah mendengar Dimas berkata kepada temannya,
“Kalau ada Laras, urusan Nala aman.”
Lalu Maya menatap kamera.
“Dengar Kakak baik-baik.”
“Jangan menikahi seseorang karena kasihan pada anaknya.”
“Jangan menyerahkan hidupmu karena keluarga membuatmu merasa bersalah.”
“Dan jangan pernah membenci Nala karena kesalahan orang dewasa.”
Aku akhirnya menangis.
Bukan tangisan keras.
Air mataku hanya terus turun sementara layar laptop semakin buram.
Tiga hari kemudian aku mengundang semuanya ke rumah orang tuaku.
Dimas.
Orang tuanya dari Kendal.
Sinta.
Bima.
Ayah dan Ibu.
Aku meminta Nala bermain di kamar bersama sepupuku agar ia tidak mendengar pertengkaran orang dewasa.
Dimas datang dengan wajah penuh keyakinan.
“Aku harap setelah ini Laras berhenti membuat drama.”
Aku menyalakan televisi.
Lalu video Maya diputar.
Tidak ada seorang pun berani bicara.
Ketika video selesai, ayah Dimas memukul meja.
“Kamu melakukan semua ini ketika istrimu masih hidup?”
Dimas buru-buru membela diri.
“Itu cuma salah paham!”
Aku membuka tangkapan layar percakapannya dengan Rika.
Lalu percakapannya dengan Ibu.
Dimas diam.
Aku belum selesai.
“Pak.”
Aku menoleh kepada Ayah.
“Uang seratus delapan puluh juta itu sebenarnya untuk apa?”
Ayah memandang Dimas.
Dimas semakin pucat.
Ternyata uang itu bukan untuk pengobatan Maya seperti yang selama ini ia katakan.
Sebagian besar digunakan menutup kerugian bisnis daring Dimas yang gagal.
Ayah langsung berdiri.
“Kamu bilang uang itu untuk biaya rumah sakit!”
Dimas mencoba menjelaskan.
Tetapi tidak ada lagi yang mau mendengarkan.
Ayah memberinya waktu enam bulan mengembalikan uang dengan cicilan tertulis.
Rumah yang selama ini ditempati Dimas ternyata milik Ayah dan Ibu, dibeli sebelum Maya menikah dan dipinjamkan kepada pasangan itu.
Ayah memberi Dimas waktu satu bulan untuk mencari tempat tinggal baru.
Bukan sebagai balas dendam.
Tetapi karena, kata Ayah,
“Rumah itu kami berikan supaya anak kami punya tempat aman. Bukan supaya kamu bisa merencanakan penggantinya sebelum dia meninggal.”
Ibu menangis sambil meminta maaf kepadaku.
Aku menerimanya.
Tetapi menerima permintaan maaf bukan berarti berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa.
“Aku tetap anak Ibu,” kataku.
“Tapi mulai sekarang keputusan tentang hidupku bukan bahan rapat keluarga.”
Ibu mengangguk.
Dimas masih mencoba senjata terakhirnya.
“Nala bagaimana?”
Aku menatapnya.
“Nala punya ayah.”
Ia terdiam.
“Dia punya kakek-nenek dari dua keluarga. Dia punya tante. Dia punya sekolah. Kalau perlu, kamu membayar pengasuh.”
“Tapi Nala butuh sosok ibu.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Nala butuh orang dewasa yang jujur, stabil, dan tidak menjadikannya alat untuk memaksa perempuan lain.”
Ruangan benar-benar sunyi.
Aku tetap membantu Nala.
Tetapi dengan batas yang jelas.
Aku menjemputnya satu kali seminggu.
Kadang ia menginap di rumah orang tuaku saat akhir pekan.
Kalau sakit, aku datang menjenguk sebagai tante.
Bukan sebagai ibu pengganti.
Bukan sebagai istri Dimas.
Dan terutama bukan sebagai pembantu gratis yang kebetulan membawa gaji bulanan.
Rika?
Setelah melihat sebagian percakapan yang kukirim, ia ternyata baru tahu bahwa Dimas sedang berencana menjadikanku “solusi sementara”.
Ia memutuskan hubungan dengannya.
Aku tidak tahu apakah keputusan itu bertahan selamanya.
Dan terus terang, itu bukan lagi urusanku.
Dimas pindah ke rumah kontrakan kecil tidak jauh dari rumah orang tuanya.
Untuk pertama kalinya sejak Maya sakit, ia sendiri yang bangun pagi menyiapkan sarapan Nala.
Ia sendiri yang mengantar anaknya ke TK.
Ia sendiri yang mengatur jadwal kerja ketika Nala demam.
Aneh sekali.
Ternyata seorang ayah bisa belajar merawat anaknya ketika tidak ada lagi perempuan yang bersedia melakukan semuanya untuknya.
Enam bulan kemudian, aku menikah dengan Bima.
Kami tidak membuat pesta besar.
Hanya keluarga dekat dan teman-teman.
Nala menjadi pembawa bunga.
Sebelum berjalan menuju pelaminan, ia menarik tanganku.
“Tante Laras.”
“Iya?”
“Kalau Tante nikah, Tante masih sayang Nala?”
Aku berjongkok agar wajah kami sejajar.
“Dengar ya.”
Aku merapikan pita di rambutnya.
“Tante menikah bukan berarti Tante berhenti jadi tante.”
“Benarkah?”
“Benar.”
“Tante tidak jadi Mama Nala?”
Aku tersenyum sambil menahan air mata.
“Tidak.”
Aku menunjuk foto kecil Maya yang dipasang di meja keluarga.
“Mama Nala tetap Mama Maya.”
“Tidak ada yang perlu menggantikannya.”
Nala menatap foto ibunya, lalu mengangguk kecil.
Beberapa menit kemudian ia berjalan di depanku sambil menaburkan kelopak bunga.
Dan untuk pertama kalinya sejak Maya meninggal, aku merasa tidak sedang meninggalkannya.
Aku justru sedang menepati pesan terakhirnya.
Menyayangi anaknya.
Tanpa mengorbankan hidupku sendiri.
Karena keluarga yang benar-benar mencintaimu tidak akan meminta masa depanmu sebagai pembayaran atas rasa bersalah.
Dan seorang perempuan tidak pernah berkewajiban menghancurkan hidupnya hanya supaya seorang laki-laki tidak perlu belajar menjadi ayah.
#DramaKeluarga #KisahKehidupan #CeritaKeluarga #PerempuanBerani #KisahViralIndonesia

