Sepulang Saat Istirahat Membawa Bubur untuk Istrinya yang Demam, Ardi Membuka Pintu Kamar Mandi—Lalu Melihat Air Mengalir, Gelang Patah, dan Satu Amplop yang Mengubah Rumah Tangga Mereka Selamanya
Bagian 1 — Nisa Ditemukan Menggigil di Bawah Shower, tetapi Bukan Demam yang Membuat Ardi Tak Mampu Menggerakkan Kakinya Saat Melihat Bekas Cengkeraman di Pergelangan Tangannya
Ardi bahkan belum sempat mematikan mesin motornya dengan benar ketika melihat pintu kontrakan mereka terbuka selebar telapak tangan.
Padahal sebelum berangkat kerja pagi tadi, dia yakin sudah menguncinya.
“Nisa?”
Tidak ada jawaban.
Udara Bekasi siang itu panas seperti keluar dari oven. Kaus kerja Ardi masih berbau oli dan besi dari bengkel tempatnya bekerja. Di tangan kirinya tergantung kantong berisi bubur ayam tanpa sambal, jahe, obat penurun panas, dan dua botol air mineral.
Sejak malam, istrinya demam.
Pagi tadi Nisa bahkan harus berpegangan pada dinding ketika berjalan ke dapur.
Namun perempuan itu tetap tersenyum.
“Mas kerja saja. Aku cuma demam biasa.”
Ardi tidak percaya.
Karena itulah saat jam istirahat tiba, dia meminta izin kepada kepala bengkel untuk pulang sebentar.
Dia membayangkan Nisa sedang tidur ketika dirinya sampai.
Yang ditemukannya justru rumah sunyi.
Televisi mati.
Kipas angin berputar pelan.
Satu gelas teh yang pagi tadi diletakkan di atas meja kini pecah di lantai.
Jantung Ardi langsung berdegup lebih cepat.
“Nisa!”
Kali ini suaranya lebih keras.
Dari ujung lorong terdengar suara air.
Shower kamar mandi.
Ardi berjalan cepat.
Pintunya tidak terkunci.
Begitu didorong, napasnya seolah berhenti.
Nisa duduk di lantai kamar mandi dengan pakaian rumah masih lengkap.
Air dingin mengalir dari rambut hingga tubuhnya.
Bibirnya pucat.
Kedua bahunya bergetar hebat.
“Nisa!”
Ardi menerobos masuk dan mematikan shower.
Dia berjongkok, menarik handuk, lalu membungkus tubuh istrinya.
“Astaga, kamu ngapain? Kamu demam! Kenapa mandi pakai air dingin begini?”
Nisa tidak langsung menjawab.
Tatapannya kosong.
Kemudian Ardi melihat tangan kanannya.
Ada bekas merah mengelilingi pergelangan tangan seperti seseorang baru saja mencengkeramnya kuat-kuat.
Gelang perak yang biasa dipakai Nisa sudah patah.
Lebih aneh lagi, ibu jarinya berwarna biru tua.
Seperti baru dicelupkan ke bantalan tinta stempel.
Ardi membeku.
“Nisa.”
Nada suaranya berubah.
“Siapa yang datang ke sini?”
Nisa langsung menarik tangannya.
“Nggak ada.”
“Jangan bohong.”
“Aku cuma jatuh.”
“Orang jatuh nggak bikin ibu jarinya penuh tinta.”
Nisa menunduk.
Ardi baru menyadari sebuah amplop cokelat tergeletak di dekat ember.
Separuhnya sudah basah.
Dia mengambilnya.
Begitu kertas-kertas di dalamnya dibuka, wajahnya mengeras.
Di bagian atas tertulis:
Surat Persetujuan Penjualan Rumah Keluarga.
Di bawahnya tercantum nama almarhum ayah Nisa.
Rumah lama keluarga mereka di Tambun.
Ada nama Bu Marni, ibu Nisa.
Ada nama Bayu, kakak laki-lakinya.
Dan di ruang tanda tangan ketiga—
nama Nisa.
Belum ada tanda tangan.
Namun di sebelahnya terlihat bekas sidik jari biru yang berantakan, seperti sempat ditekan lalu kertasnya ditarik paksa.
Di dalam amplop juga ada fotokopi KTP Nisa.
Serta sebuah kuitansi.
Ardi membacanya pelan.
Uang tanda jadi penjualan rumah: Rp75.000.000.
Penerima: Bayu Prasetyo.
Tanggalnya tiga hari lalu.
Ardi menatap istrinya.
“Keluargamu mau jual rumah peninggalan Bapak?”
Air mata Nisa akhirnya jatuh.
“Mas…”
“Kamu tahu?”
Nisa menggeleng.
“Aku baru tahu tadi.”
“Siapa yang datang?”
Nisa tidak menjawab.
Ardi memegang bahunya.
Tidak kasar.
Tetapi tegas.
“Lihat aku.”
Perempuan itu mengangkat wajah.
“Mama.”
Ardi diam.
Nisa menarik napas.
“Sama Mas Bayu.”
Ada beberapa detik ketika satu-satunya suara hanyalah tetesan air dari ujung rambut Nisa.
Ardi mengenal Bayu.
Kakak iparnya itu pernah membuka usaha laundry, kemudian jual beli motor bekas, lalu bisnis makanan beku.
Semuanya berhenti di tengah jalan.
Setiap usahanya gagal, selalu ada alasan.
Temannya menipu.
Pasarnya sepi.
Karyawan tidak jujur.
Modal kurang.
Dan hampir setiap beberapa bulan, telepon Nisa akan berbunyi.
“Nis, pinjam dulu.”
“Nis, Mama perlu uang.”
“Nis, cuma sampai akhir bulan.”
Ardi tidak pernah melarang istrinya membantu keluarga.
Selama mereka mampu.
Masalahnya, permintaan itu tidak pernah benar-benar berhenti.
“Tadi mereka minta kamu tanda tangan?”
Nisa mengangguk.
“Mas Bayu bilang rumah itu sudah ada pembelinya. Katanya semua sudah setuju.”
“Termasuk kamu?”
“Aku bahkan nggak pernah diajak bicara.”
“Terus kenapa tanganmu begini?”
Nisa kembali diam.
Ardi menunggu.
Akhirnya suaranya keluar, kecil sekali.
“Aku bilang aku mau baca dulu. Aku juga bilang penjualan rumah peninggalan Bapak harus dibicarakan baik-baik.”
“Mama marah?”
Nisa mengangguk.
“Mama bilang aku berubah sejak menikah. Katanya aku sekarang lebih membela suami daripada keluarga sendiri.”
Ardi mengepalkan tangan.
“Terus Bayu?”
“Dia bilang mereka sudah ambil uang dari pembeli.”
Nisa mengusap wajahnya.
“Kalau aku nggak tanda tangan, mereka harus mengembalikan uang itu.”
“Ya memang harus.”
Nisa menangis semakin keras.
“Uangnya sudah nggak ada, Mas.”
Ardi menatap kuitansi.
“Rp75 juta habis dalam tiga hari?”
“Aku nggak tahu.”
Lalu sesuatu yang lebih buruk keluar dari mulut Nisa.
“Mas Bayu bilang kalau aku nggak mau tanda tangan, aku harus mengganti uangnya.”
Ardi sampai tertawa pendek karena tidak percaya.
“Kamu?”
Nisa mengangguk.
“Dia bilang bagian warisanku toh nanti juga dari rumah itu. Jadi katanya sama saja.”
“Bukan sama saja.”
Nada Ardi mulai meninggi.
“Itu namanya mereka membuat keputusan pakai nama kamu, menerima uang tanpa izin kamu, lalu memaksa kamu menanggung akibatnya.”
Nisa memejamkan mata.
“Mama pegang tanganku.”
Ardi langsung terdiam.
“Bayu menekan jariku ke tinta.”
Kalimat itu membuat seluruh tubuh Ardi menegang.
“Aku tarik tanganku. Kertasnya robek sedikit. Aku dorong kursi lalu lari ke kamar mandi.”
“Terus?”
“Mereka gedor pintu.”
Nisa mulai terisak.
“Mas Bayu bilang aku akan bikin Mama kehilangan rumah.”
Ardi menatap bekas merah di pergelangan istrinya.
“Kamu nyalakan shower karena apa?”
“Aku gemetar. Panas sekali. Aku nggak bisa mikir.”
Suaranya patah.
“Setelah mereka pergi, aku mau cuci tinta di tangan. Tapi kepalaku pusing. Aku duduk. Aku bahkan nggak sadar airnya masih hidup.”
Ardi langsung memeluknya.
Untuk beberapa menit, dia tidak mengatakan apa-apa.
Setelah mengganti pakaian Nisa, memberinya obat, dan memaksanya minum air hangat, Ardi mengumpulkan semua kertas.
Dia juga mengambil foto bekas cengkeraman di tangan istrinya.
Bukan untuk menyebarkannya.
Untuk bukti.
“Mas, jangan bikin masalah tambah besar.”
Nisa masih takut.
Ardi menatapnya.
“Masalah ini sudah besar sebelum aku pulang.”
Tiba-tiba terdengar ketukan dari luar.
Pak Darto, tetangga depan rumah mereka, berdiri di teras.
“Di, tadi ada keluarga Nisa ke sini?”
Ardi langsung menoleh.
“Bapak lihat?”
Pak Darto mengangguk.
“Saya bukan mau ikut campur. Tapi mereka datang bertiga. Waktu keluar, yang laki-laki sempat teriak-teriak di depan rumah.”
“Bertiga?”
Nisa yang mendengar dari kamar langsung duduk tegak.
“Mama sama Mas Bayu cuma berdua waktu masuk.”
Pak Darto mengerutkan dahi.
“Tidak. Ada satu laki-laki lagi. Kemeja hitam. Bawa map.”
Kemudian Pak Darto menunjuk kamera kecil yang terpasang di depan tokonya.
“Kalau kalian perlu, CCTV saya mengarah ke jalan dan pintu rumah kalian.”
Lima menit kemudian Ardi berdiri di depan layar komputer kecil milik Pak Darto.
Rekaman menunjukkan Bu Marni datang bersama Bayu pukul 10.47.
Tujuh menit kemudian seorang laki-laki berkemeja hitam menyusul.
Dia membawa tas selempang dan sebuah map.
Saat Ardi memperbesar wajahnya, Nisa yang berdiri di belakang mendadak pucat.
“Itu Rendi.”
“Siapa?”
Nisa menelan ludah.
“Teman bisnis Mas Bayu.”
Kemudian rekaman bergerak ke pukul 11.36.
Mereka bertiga keluar.
Mikrofon kamera menangkap suara Bayu cukup jelas.
“Kalau Nisa tetap keras kepala, pakai saja salinan yang kemarin. Yang penting berkas kelihatan lengkap.”
Rendi menjawab sesuatu yang nyaris tak terdengar.
Lalu Bayu berkata lagi—
“Pembeli sudah transfer. Sekarang kita nggak mungkin mundur.”
Ardi menatap istrinya.
Namun Nisa justru semakin ketakutan.
Karena dia baru teringat sesuatu.
“Mas…”
“Apa?”
“Dua bulan lalu, Mama pernah minta foto KTP-ku.”
“Buat apa?”
Nisa memandang kuitansi basah di tangannya.
“Katanya untuk mengurus BPJS.”
Tangannya mulai gemetar lagi.
“Tapi sekarang aku nggak yakin KTP itu pernah dipakai untuk BPJS.”
#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #CeritaIndonesia #KonflikKeluarga #KisahPenuhEmosi
Bagian 2 — Rekaman Kamera Tetangga Membuktikan Seseorang Masuk Saat Ardi Bekerja, dan Nama di Amplop Membuat Nisa Akhirnya Bicara Tentang Utang Keluarganya yang Disembunyikan
Malam itu Ardi tidak langsung mendatangi rumah mertuanya.
Hal pertama yang dia lakukan adalah membawa Nisa ke klinik.
Dokter mengatakan demamnya diperparah oleh kelelahan, kurang minum, dan stres.
Bekas di pergelangan tangannya juga dicatat dalam pemeriksaan.
Sepulang dari klinik, Ardi menyimpan salinan CCTV dari Pak Darto.
Baru setelah Nisa tidur, dia memeriksa kembali dokumen dalam amplop.
Ada nomor telepon di kuitansi.
Nama pembeli tertulis: Yusuf Hidayat.
Keesokan paginya Ardi menelepon nomor itu di depan Nisa.
“Pak Yusuf? Saya Ardi, suaminya Nisa. Saya mau memastikan soal pembelian rumah milik keluarga almarhum Pak Harun.”
Orang di seberang langsung menjawab.
“Oh, adiknya Pak Bayu?”
Ardi dan Nisa saling pandang.
“Bapak pernah bertemu Nisa?”
“Belum. Pak Bayu bilang adiknya tinggal jauh dan sudah setuju.”
Nisa menutup mulutnya.
Ardi menahan emosi.
“Bapak sudah membayar berapa?”
Jawaban Pak Yusuf membuat keduanya terdiam.
“Seratus tiga puluh lima juta.”
Ardi melihat kembali kuitansi.
Di sana tertulis Rp75 juta.
“Bukan tujuh puluh lima?”
“Bukan. Transfer pertama tujuh puluh lima. Minggu berikutnya enam puluh juta lagi karena Pak Bayu bilang keluarganya butuh cepat.”
Wajah Nisa kehilangan warna.
“Transfer kedua ke rekening siapa?”
“Rekening Pak Bayu.”
Ardi memejamkan mata sebentar.
Berarti bukan hanya Nisa yang dibohongi.
Kemungkinan besar Bu Marni pun tidak tahu jumlah sebenarnya.
Pak Yusuf akhirnya setuju bertemu sore itu di sebuah warung kopi dekat jalan utama Tambun.
Dia membawa bukti transfer dan percakapan WhatsApp dengan Bayu.
Di salah satu pesan, Bayu mengirim foto KTP Nisa.
Di pesan lain ada gambar tanda tangan yang diklaim sebagai persetujuan Nisa.
Nisa melihat gambar itu lama.
“Itu bukan tanda tanganku.”
Pak Yusuf langsung terdiam.
“Saya dikasih tahu semua ahli waris sudah setuju.”
Nisa menatapnya.
“Saya baru tahu rumah itu mau dijual kemarin.”
Pak Yusuf mengusap wajah.
Untuk pertama kalinya, dia tampak sama paniknya dengan mereka.
“Saya juga nggak mau beli tanah bermasalah.”
Dia mengambil kembali ponselnya.
“Kalau begini, saya batalkan sampai semuanya jelas. Uang saya harus dikembalikan.”
Dalam perjalanan pulang, Ardi tidak berkata banyak.
Namun Nisa tahu masih ada satu rahasia yang belum dia ceritakan.
Akhirnya di lampu merah, dia berkata pelan.
“Mas.”
“Hm?”
“Aku pernah kasih uang ke Mas Bayu.”
Ardi menoleh.
“Berapa?”
Nisa sulit menjawab.
“Dua puluh delapan juta.”
Motor di depan mereka mulai bergerak, tetapi Ardi tetap diam beberapa detik.
“Dari tabungan kita?”
“Iya.”
Ardi menarik napas panjang.
Uang itu mereka kumpulkan hampir dua tahun.
Untuk uang muka rumah kecil.
“Aku minta maaf.”
Nisa menangis.
“Waktu itu Mama telepon sambil menangis. Katanya Bayu dikejar utang supplier. Aku takut kalau aku cerita, kamu bakal bilang jangan.”
“Aku memang mungkin akan bilang jangan.”
Nisa menunduk.
“Tapi bukan berarti kamu harus sembunyikan.”
“Aku tahu.”
Ardi sakit hati.
Tetapi ketika melihat bekas merah di tangan istrinya, kemarahannya tidak berubah menjadi penghinaan.
“Aku marah karena kamu bohong soal uang kita.”
Nisa menangis semakin keras.
“Tapi itu urusan antara kamu dan aku. Bukan alasan buat keluargamu menyentuh kamu, memaksa kamu tanda tangan, atau memakai identitasmu.”
Nisa menatap suaminya.
Itulah pertama kalinya sejak kemarin dia merasa masih punya tempat untuk pulang.
Malamnya, Bayu menelepon.
Tidak ada permintaan maaf.
Tidak ada pertanyaan tentang kondisi adiknya.
Kalimat pertama yang keluar justru:
“Kalian ngapain hubungi Pak Yusuf?”
Ardi menyalakan pengeras suara.
“Karena nama istri saya dipakai.”
Bayu tertawa sinis.
“Jangan sok jadi pahlawan. Itu rumah keluarga kami.”
Nisa menjawab sendiri.
“Kalau rumah keluarga, kenapa aku tidak pernah diajak bicara?”
Bayu diam sebentar.
Lalu suaranya berubah keras.
“Sekarang gara-gara kamu, Yusuf minta uangnya balik!”
“Itu urusan orang yang menerima uang.”
“Uangnya sudah dipakai!”
“Untuk apa?”
Bayu tidak menjawab.
Terdengar suara Bu Marni dari belakang.
“Nisa, kamu tega lihat kakakmu masuk masalah cuma gara-gara tanda tangan?”
Mata Nisa langsung berkaca-kaca.
Dulu kalimat seperti itu selalu berhasil.
Namun kali ini dia melihat pergelangan tangannya sendiri.
“Mama juga pegang tanganku kemarin.”
Telepon mendadak sunyi.
Lalu Bayu mengambil alih.
“Besok kami datang. Kita selesaikan. Jangan bawa orang luar.”
Sebelum Ardi menjawab, sambungan diputus.
Lima menit kemudian Pak Yusuf mengirim pesan.
Bukan kepada Bayu.
Kepada Ardi.
Sebuah tangkapan layar transfer kedua Rp60 juta.
Di bawahnya ada pesan Bayu beberapa minggu lalu:
“Jangan bilang Ibu saya soal tambahan 60 juta. Saya yang urus. Yang penting transaksi jalan.”
Nisa membaca kalimat itu dua kali.
Kemudian menatap suaminya.
Jadi ibunya memang ikut menekan dirinya demi penjualan rumah.
Tetapi Bayu ternyata juga sedang menipu ibu mereka sendiri.
Dan besok pagi—
orang yang menyembunyikan Rp60 juta itu mengatakan akan datang ke rumah mereka untuk “menyelesaikan semuanya”.
Bagian 3 — Ketika Keluarga Nisa Datang Menuntut Uang Terakhir, Ardi Menyalakan Rekaman, dan Orang yang Paling Keras Mengancam Justru Kehilangan Segalanya di Depan Warga
Pukul sembilan pagi, Bayu datang.
Bu Marni bersamanya.
Di belakang mereka ada Sari, istri Bayu.
Namun mereka tidak menemukan Nisa sendirian.
Pak Darto duduk di teras.
Pak Yusuf juga ada di sana.
Dan Ketua RT, Pak Hendra, telah diminta menjadi saksi karena Nisa tidak ingin percakapan itu kembali berubah menjadi ancaman.
Bayu berhenti di depan pagar.
“Apa-apaan ini?”
Nisa keluar dari dalam rumah.
Wajahnya masih pucat, tetapi suaranya tidak lagi bergetar.
“Aku cuma mau semua dibicarakan di depan saksi.”
Bu Marni langsung menangis.
“Kamu sekarang mempermalukan keluarga sendiri?”
Nisa memandang ibunya.
“Yang mempermalukan keluarga bukan orang yang minta kebenaran, Ma.”
Bayu membanting map ke meja.
“Pokoknya tanda tangan. Setelah rumah terjual, uang Yusuf bisa dibereskan.”
Pak Yusuf berdiri.
“Tidak ada penjualan sebelum uang saya dikembalikan dan status dokumennya jelas.”
Bayu langsung menunjuknya.
“Bapak jangan ikut campur urusan keluarga!”
Pak Yusuf hampir tertawa.
“Uang saya seratus tiga puluh lima juta ada di tangan Anda. Bagaimana saya tidak ikut campur?”
Bu Marni menoleh cepat.
“Seratus tiga puluh lima?”
Bayu membeku.
Sari ikut menatap suaminya.
“Maksudnya apa?”
Bu Marni maju.
“Bayu bilang uang mukanya tujuh puluh lima juta.”
Tidak ada yang menjawab.
Ardi kemudian meletakkan salinan bukti transfer di atas meja.
“Transfer kedua enam puluh juta masuk ke rekening Mas Bayu.”
Bu Marni meraih kertas itu.
Tangannya gemetar.
“Bayu?”
“Ma, itu buat biaya mengurus—”
“Jangan bohong!”
Untuk pertama kalinya suara Bu Marni terdengar lebih keras kepada anak laki-lakinya daripada kepada Nisa.
“Uangnya mana?”
Bayu terdiam.
Sari justru semakin panik.
“Bayu, uang enam puluh juta itu yang kamu bilang dari keuntungan proyek?”
Semua mata beralih kepadanya.
Bayu membentak.
“Diam kamu!”
Kalimat itu justru menjelaskan semuanya.
Sebagian uang ternyata dipakai membayar utang lama Bayu.
Sebagian lagi menjadi uang muka mobil bekas yang baru dibeli atas nama Sari.
Sementara kepada ibunya, Bayu mengaku seluruh Rp75 juta pertama habis untuk menutup kewajiban bisnis.
Bu Marni terduduk.
Selama ini dia mengira dirinya sedang menyelamatkan anak sulungnya dari satu utang.
Ternyata Bayu menutup satu lubang dengan menggali tiga lubang baru.
Bayu masih mencoba menyerang balik.
Dia menunjuk Nisa.
“Kalau dia dari awal mau tanda tangan, semua nggak akan begini!”
Ardi menyalakan laptop.
Rekaman CCTV diputar.
Suara Bayu terdengar jelas.
“Kalau Nisa tetap keras kepala, pakai saja salinan yang kemarin.”
Kemudian Ardi menampilkan foto dokumen dengan tanda tangan yang bukan milik Nisa.
Terakhir, Nisa meletakkan hasil pemeriksaan klinik dan foto pergelangan tangannya di meja.
“Aku sudah membuat laporan.”
Bayu langsung kehilangan ekspresi angkuhnya.
“Laporan apa?”
“Tentang pemaksaan kemarin dan penggunaan dokumen atas namaku tanpa izin.”
Bu Marni menatap putrinya.
“Kamu melaporkan kakakmu sendiri?”
Nisa menatap ibunya lama.
“Kalau kemarin Mama berhenti saat aku bilang tidak, semua ini tidak perlu terjadi.”
Bu Marni menangis.
“Nisa…”
“Aku masih anak Mama.”
Suara Nisa mulai pecah.
“Tapi aku bukan rekening darurat keluarga.”
Tidak ada yang menyela.
“Aku juga bukan tanda tangan yang bisa dipakai kapan saja Mas Bayu butuh uang.”
Kemudian dia menatap kakaknya.
“Rp28 juta tabunganku yang dulu kuberikan, aku anggap pelajaran terakhir.”
Ardi menoleh, tetapi tidak menghentikannya.
“Setelah hari ini, aku tidak akan membayar utangmu lagi.”
Pak Yusuf memberi Bayu tenggat resmi untuk mengembalikan uangnya.
Karena transaksi tidak dilanjutkan, Bayu akhirnya menjual mobil yang baru dibelinya.
Peralatan dari usaha lamanya juga dilepas.
Sisanya dicicil melalui perjanjian tertulis.
Proses atas dokumen palsu dan pemaksaan tidak hilang begitu saja. Bayu harus menghadapi pemeriksaan dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.
Bu Marni beberapa kali meminta Nisa mencabut semuanya.
Nisa menolak.
Bukan karena membenci ibunya.
Justru karena dia akhirnya mengerti satu hal:
memaafkan seseorang tidak berarti membiarkannya mengulangi perbuatan yang sama.
Tiga bulan kemudian, urusan rumah peninggalan ayah mereka dibicarakan kembali.
Kali ini bukan melalui map rahasia.
Semua pihak duduk bersama dan menggunakan jalur resmi.
Tidak ada tanda tangan palsu.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada uang yang diterima diam-diam.
Nisa memilih tidak menjual bagiannya saat itu.
Dia ingin keputusan sebesar itu dibuat saat semua orang sudah tenang.
Hubungannya dengan Bu Marni belum kembali seperti dulu.
Mereka masih berbicara.
Namun Nisa berhenti menjawab setiap telepon dengan rasa bersalah.
Jika ibunya meminta sesuatu yang tidak mampu dia berikan, jawabannya sederhana.
“Maaf, Ma. Aku tidak bisa.”
Tanpa penjelasan panjang.
Tanpa menangis.
Tanpa berutang demi menyelamatkan orang lain.
Sedangkan dengan Ardi, ada satu masalah yang tetap harus mereka selesaikan: uang Rp28 juta yang pernah diberikan Nisa secara diam-diam.
Mereka membicarakannya berkali-kali.
Kadang sampai larut malam.
Kadang membuat keduanya kesal.
Tetapi untuk pertama kalinya, Nisa tidak menyembunyikan apa pun.
Mereka mulai menabung lagi dari nol.
Enam bulan kemudian, tabungan mereka memang belum cukup untuk membeli rumah.
Namun di atas kulkas sudah ada sebuah amplop baru.
Bukan surat penjualan.
Bukan kuitansi utang.
Di depan amplop itu Nisa menulis dengan spidol:
“Rumah Ardi & Nisa.”
Setiap tanggal gajian mereka memasukkan uang bersama-sama.
Tidak banyak.
Tetapi semuanya milik mereka.
Suatu malam Ardi bercanda sambil memasukkan dua lembar uang ke dalamnya.
“Jangan sampai ada yang minta sidik jari, ya.”
Nisa tertawa.
Tawa yang selama berbulan-bulan hampir tidak pernah terdengar.
Dia memandang suaminya lalu berkata:
“Sekarang kalau aku bilang tidak, ya berarti tidak.”
Ardi mengangguk.
“Memang seharusnya begitu.”
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nisa sadar bahwa menjaga keluarga tidak selalu berarti terus memberi.
Kadang-kadang, cara paling sehat menyelamatkan sebuah keluarga adalah berani menutup pintu ketika seseorang datang membawa rasa bersalah sebagai senjata.

